Docstoc

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

Document Sample
Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas Powered By Docstoc
					                        Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


                              I. PENDAHULUAN

             Usaha perunggasan (ayam ras) di Indonesia telah menjadi sebuah
      industri yang memiliki komponen lengkap dari sektor hulu sampai ke
      hilir, dimana perkembangan usaha ini memberikan kontribusi nyata
      dalam pembangunan pertanian. Industri perunggasan memiliki nilai
      strategis khususnya dalam penyediaan protein hewani untuk memenuhi
      kebutuhan dalam negeri dan peluang ekspor, disamping peranannya
      dalam memanfaatkan peluang kesempatan kerja. Saat ini diperkirakan
      terdapat sekitar 2 juta tenaga kerja yang dapat diserap oleh industri
      perunggasan, disamping mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi
      80 ribu peternak yang tersebar di seluruh Indonesia. Sumbangan produk
      domestik bruto (PDB) sub sektor peternakan terhadap pertanian adalah
      sebesar 12% (atas dasar harga berlaku), sedangkan untuk sektor
      pertanian terhadap PDB nasional adalah 17% pada tahun 2004. Hal ini
      menunjukkan bahwa peran sub sektor peternakan terhadap
      pembangunan pertanian cukup signifikan, dimana industri perunggasan
      merupakan pemicu utama perkembangan usaha di sub sektor
      peternakan.
            Industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan
      kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran
      mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, sehingga mampu
      bersaing dengan produk-produk unggas luar negeri. Produk unggas,
      yakni daging ayam dan telur, dapat menjadi lebih murah sehingga dapat
      menjangkau lebih luas masyarakat di Indonesia. Pembangunan industri
      perunggasan menghadapi tantangan yang cukup berat baik secara
      global maupun lokal karena dinamika lingkungan strategis di dalam
      negeri. Tantangan global ini mencakup kesiapan daya saing produk
      perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja
      penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan 60-70% dari biaya
      produksi karena sebagian besar masih sangat tergantung dari impor.
            Upaya meningkatkan daya saing produk perunggasan harus
      dilakukan secara simultan dengan mewujudkan harmonisasi kebijakan
      yang bersifat lintas departemen. Hal ini dilakukan dengan tetap
      memperhatikan faktor internal seperti menerapkan efisiensi usaha,
      meningkatkan kualitas produk, menjamin kontinuitas suplai dan sesuai



                                                                          
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
            Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


     dengan permintaan pasar. Terwujudnya industri perunggasan yang
     berdayasaing dicirikan oleh ketidaktergantungan terhadap komponen
     bahan baku impor dan terjadinya transformasi dari skala usaha yang
     subsisten ke skala menengah maupun skala besar.
           Dalam pembahasan ini istilah unggas akan dikelompokkan
     menjadi dua yakni unggas sebagai komoditas (ayam ras petelur dan
     pedaging) dan unggas sebagai sumberdaya (ayam lokal dan itik). Ternak
     ayam lokal dan itik dapat menjadi alternatif yang cukup menjanjikan
     dengan pangsa pasar tertentu. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan
     bahwa usaha peternakan ayam lokal dan itik cukup menguntungkan dan
     dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan keluarga. Mengingat
     kedua kelompok tersebut memiliki karakter yang berbeda dan guna
     memudahkan dalam pembahasan maka masing-masing komoditas akan
     diuraikan secara terpisah. Buku ini bertujuan memberikan deskripsi
     tentang prospek dan arah pengembangan agribisnis komoditas ternak
     unggas yang bermuara pada rencana kebutuhan investasi disertai
     dengan kebijakan pendukung beserta pelakunya.




     2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                       Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


               II. KONDISI AGRIBISNIS UNGGAS SAAT INI

      A. Usaha Budidaya

         1. Ayam ras pedaging
                   Populasi final stock ayam pedaging pada tahun 2004
            mencapai 895 juta ekor dengan wilayah terpadat di Jawa Barat
            (30%) dan Jawa Timur (15%) (Lampiran 1). Kapasitas produksi
            terpasang usaha pembibitan telah mencapai 30 - 36 juta d.o.c.
            per minggu, namun saat ini hanya berproduksi sekitar 20 juta
            ekor d.o.c. Populasi bibit induk (grand parent stock = GPS) ayam
            ras pedaging pada akhir tahun 2004 mencapai 300 ribu ekor,
            menurun sekitar 5% dibandingkan pada pertengahan tahun
            2004. Penurunan ini disebabkan oleh penambahan dari impor
            hanya sebesar 52%, sedangkan pengurangan karena culling
            (replacement) dan mati sebanyak 57%. Populasi bibit komersial
            (parent stock = PS) mencapai 10 juta ekor, meningkat 8%
            dibandingkan pada pertengahan tahun 2004. Peningkatan ini
            disebabkan penambahan produksi dalam negeri sebesar 25%,
            sedangkan pengurangan karena culling dan mati sebesar 17%.
            Perkembangan impor menunjukkan bahwa impor GPS ayam ras
            pedaging turun sebesar 25% pada akhir tahun 2004, saat ini
            tidak terdapat impor PS.

         2. Ayam ras petelur
                  Populasi final stock ayam petelur pada tahun 2004
            mencapai 80 juta ekor dengan Jawa Timur (17%) dan Sumatera
            Utara (16%) sebagai wilayah terpadat (Lampiran 2). Kapasitas
            produksi terpasang usaha budidaya dapat mencapai 3.500 ton
            telur per hari, sedangkan produksi saat ini hanya mencapai
            2.800 ton. Populasi GPS ayam petelur pada akhir tahun 2004
            mencapai 28 juta ekor atau menurun sebesar 16% dibandingkan
            pada pertengahan tahun 2004, yang disebabkan karena
            penambahan impor sebesar 19%, sedangkan pengurangan
            karena culling dan mati sebesar 35%. Populasi PS ayam petelur
            mencapai satu juta ekor pada periode yang sama atau menurun



                                                                          
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
             Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


             5% dibandingkan pada pertengahan tahun 2004. Hal ini
             disebabkan karena penambahan produksi dalam negeri yang
             hanya 5%, sedangkan pengurangan karena culling dan mati
             sebesar 10%. Perkembangan impor menunjukkan bahwa impor
             GPS ayam ras petelur mencapai 3.000 ekor atau turun 40%
             dibandingkan pada pertengahan tahun 2004. Hal yang sama
             seperti pada ayam ras pedaging, saat ini tidak terdapat impor PS
             untuk ayam petelur. Sehubungan Indonesia masih belum
             dinyatakan bebas penyakit Avian Influenza (AI), maka ekspor
             d.o.c. maupun hatching egg diberhentikan sementara.

         3. Ayam lokal
                   Populasi ayam lokal pada akhir tahun 2004 mencapai 271
             juta ekor dengan Jawa Timur (13%) dan Jawa Tengah (12%)
             sebagai wilayah terpadat (Lampiran 3). Produksi telur pada tahun
             2004 mencapai 191 ribu ton (Lampiran 4) dan produksi daging
             sebanyak 314 ribu ton (Lampiran 5). Usaha-usaha komersial
             sudah mulai berkembang di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa
             Barat. Peningkatan populasi ayam juga akan mengakibatkan
             melimpahnya hasil samping dari tindakan pemotongan yaitu
             berupa cakar ayam dan jeroan. Hasil samping ini belum
             dimanfaatkan secara optimal. Melalui teknologi yang sederhana,
             hal ini dapat menjadi peluang usaha untuk investasi di bidang
             pengolahan industri pangan (keripik cakar dan jeroan).

         4. Itik
                   Populasi ternak itik pada akhir tahun 2004 mencapai 35
             juta ekor dengan Jawa Barat sebagai wilayah terpadat (14%)
             (Lampiran 6). Produksi telur mencapai 194 ribu ton (Lampiran 7)
             dan produksi daging mencapai 22 ribu ton (Lampiran 8).
             Sebagian besar ternak itik dipelihara secara tradisional, namun
             di beberapa wilayah telah berkembang usaha-usaha komersial
             dengan sistem pemeliharaan yang intensif. Volume ekspor bulu
             itik pada akhir tahun 2004 mencapai 231,5 ton dengan nilai
             ekspor sebesar US$ 260 ribu. Hal ini menunjukkan masih
             banyak bulu itik yang belum dimanfaatkan untuk diolah sebagai
             komoditas ekspor yang bernilai. Dengan adanya teknologi



     
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                        Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


             separasi bulu diharapkan dapat meningkatkan mutu bulu itik
             yang dihasilkan dan harga menjadi relatif lebih tinggi.

      B. Profil Usaha Industri Perunggasan
             Usaha ayam ras dilihat dari sisi produksi telah mampu
      memanfaatkan peluang pasar yang ada. Peternakan ayam ras telah
      berkembang menjadi suatu industri yang terintegrasi secara vertikal dan
      sangat dinamis karena didukung oleh perusahaan yang padat modal
      dengan sistem manajemen yang modern. Pada segmen hulu,
      perusahaan besar tersebut mengembangkan dan menguasai industri
      mulai dari bibit, pakan dan obat serta vaksin, yang dalam peranannya
      bertindak sebagai motor penggerak pemasok input. Produk primer
      dalam bentuk karkas memang merupakan preferensi sebagian
      masyarakat Indonesia dengan harga terjangkau dan tidak memerlukan
      fasilitas pendingin (cold storage).
            Analisis ekonomi usaha peternakan unggas terdiri dari komponen
      penerimaan dan pengeluaran, sehingga diperoleh estimasi keuntungan
      maupun kerugian yang menjadi salah satu indikator dalam kelayakan
      usaha tersebut. Komponen penerimaan terdiri dari penjualan unggas
      hidup dan produksi telur, disamping produk samping seperti kotoran
      ternak. Komponen pengeluaran terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak
      tetap dalam suatu siklus produksi pada skala usaha tertentu.

      1. Ayam ras pedaging
                Kenyataan di lapang menunjukkan bahwa usaha peternakan
         ayam ras pedaging banyak dilakukan dalam bentuk pola-pola
         kemitraan, meskipun ada juga yang dilakukan secara mandiri.
         Beberapa pola kemitraan yang berlangsung adalah pola kemitraan
         inti-plasma, poultry shop, contract farming, dan sewa kandang.
         Naskah ini menyajikan analisis ekonomi usaha ayam ras pedaging
         secara mandiri, pola kemitraan inti-plasma dan pola kemitraan
         dengan poultry shop pada skala usaha 15.000 ekor. Masing-masing
         nilai B/C yang diperoleh secara berturut-turut adalah 1,16; 1,28 dan
         1,25 (Lampiran 9, 10 dan 11). Hal ini menunjukkan bahwa usaha
         ayam ras pedaging cukup memberikan peluang usaha yang baik,
         sepanjang manajemen pemeliharaan mengikuti prosedur dan
         ketetapan yang berlaku.


                                                                           
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
               Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


     2. Ayam ras petelur
               Usaha peternakan ayam petelur banyak dilakukan secara
         mandiri, meskipun ada juga yang dilaksanakan melalui pola
         kemitraan dengan poultry shop. Pada pemeliharaan pola mandiri
         ayam siap bertelur (pullet) lebih banyak dipergunakan oleh peternak,
         dibandingkan dengan penggunaan d.o.c. seperti pada pola kemitraan
         dengan poultry shop. Nilai B/C yang diperoleh dari hasil estimasi
         pada skala usaha 10.000 ekor adalah 1,29 dan 1,13 masing-masing
         untuk usaha mandiri dan pola kemitraan dengan poultry shop
         (Lampiran 12 dan 13). Hal ini memberikan indikasi bahwa usaha
         peternakan ayam ras petelur mempunyai keuntungan yang relatif
         baik bagi para peternak.

     3. Ayam lokal
               Usaha beternak ayam lokal merupakan bagian yang tidak
         dapat dipisahkan dalam kehidupan petani di perdesaan, sehingga
         jenis usaha ini pada umumnya tidak diutamakan bagi perolehan
         keuntungan, namun hanya bersifat tabungan. Estimasi perhitungan
         B/C pada skala usaha 1.000 ekor dilakukan dalam suatu kelompok
         peternak di wilayah Jombang, Jawa Timur dengan nilai 1,04
         (Lampiran 14). Hal ini dilakukan dengan pola semi intensif sebagai
         penghasil daging dengan rata-rata berat karkas 0,8 kg.

     4. Itik
               Perkembangan usaha peternakan itik petelur dengan cepat
         mengarah pada pergeseran dari sistem pemeliharaan tradisional
         kepada sistem intensif yang sepenuhnya terkurung. Pergeseran ini
         menunjukkan bahwa usaha peternakan itik bukan saja hanya
         sekedar usaha sambilan, akan tetapi sudah memiliki orientasi
         komersial baik sebagai cabang usaha atau usaha pokok. Hal ini tidak
         terlepas dari kenyataan bahwa usaha peternakan itik adalah cukup
         menguntungkan dan dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan
         keluarga, disamping prospek pasar yang cukup bagus. Hasil
         perhitungan estimasi B/C didasarkan atas pemeliharaan ternak itik
         petelur secara kelompok pada skala usaha 1.000 ekor adalah 1,20
         (Lampiran 15). Saat ini perkembangan itik pedaging semakin
         digemari sebagai alternatif masakan daging ayam. Usaha itik


     
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                        Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


         pedaging secara komersial diwaktu yang akan datang diperkirakan
         akan meningkat.

      C. Pasar dan Harga
             Perkembangan pasar dan harga produk perunggasan untuk
      komoditas ayam ras, baik pedaging maupun petelur sangat berfluktuatif
      tergantung dari ketersediaan pasokan input dan output. Hal tersebut
      pada perunggasan ayam lokal dan itik tidak terlalu berpengaruh. Pada
      akhir tahun 2004 situasi pasar komoditas ayam ras cukup memberikan
      keuntungan yang relatif baik dibandingkan dengan periode tahun 2003
      akibat merebaknya wabah flu burung. Hal ini secara rinci disajikan
      masing-masing pada Lampiran 16 untuk produk daging ayam ras dan
      telur ayam ras di tingkat peternak. Kondisi harga daging ayam ras, telur
      ayam ras, telur ayam lokal dan telur itik pada tahun 2002 di tingkat
      konsumen ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan pada akhir tahun
      2004 (Lampiran 17).
             Harga rata-rata ayam hidup selama tahun 2004 adalah Rp. 7.383,-
      /kg dengan BEP dicapai pada tingkat harga Rp. 6800,-/kg, dimana
      peternak ayam ras pedaging memperoleh keuntungan rata-rata Rp.
      500,-/kg. Harga rata-rata telur adalah Rp. 6.465,-/kg, sedangkan BEP
      dicapai pada tingkat harga Rp. 7.030,-/kg. Peternak ayam petelur rata-
      rata mengalami kerugian Rp. 565,-/kg. Harga d.o.c. ayam ras pedaging
      rata-rata sebesar Rp. 2.560,-/ekor dengan rata-rata biaya produksi
      sekitar Rp. 2.100,-/ekor tanpa perlakuan vaksinasi AI pada PS. Harga
      d.o.c. ayam ras petelur rata-rata mencapai Rp. 5.000,-/ekor meskipun di
      wilayah Sumatera dapat mencapai Rp. 6.500,-/ekor.




                                                                            7
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
            Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


         III. PROSPEK, POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN

           Komoditas unggas (lebih dari 90% adalah kontribusi dari ayam ras)
     menduduki komoditas pertama untuk konsumsi daging di Indonesia
     yakni sebesar 56%. Meskipun demikian, sampai dengan akhir tahun
     2004, konsumsi daging ayam ras dan telur di Indonesia juga masih
     rendah dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya.
     Kenyataan bahwa telah terjadi pertambahan penduduk, peningkatan
     pendapatan, urbanisasi, perubahan gaya hidup, serta peningkatan
     kesadaran akan gizi seimbang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa
     memicu terjadinya lonjakan permintaan produk daging ayam dan telur
     setiap tahun. Selama periode 1985-2003, konsumsi produk daging
     ayam dan telur meningkat dengan pertumbuhan masing-masing sebesar
     5,31% dan 4,25% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa peluang pasar
     dalam negeri untuk pengembangan industri perunggasan masih cukup
     menjanjikan. Prospek pasar yang sangat baik ini didukung oleh
     karakteristik produk unggas yang dapat diterima oleh masyarakat
     Indonesia yang sebagian besar muslim, harga relatif murah dengan
     akses yang mudah diperoleh karena sudah merupakan barang publik.
           Dari uraian di atas dapat disebutkan bahwa unggas memiliki
     prospek pasar yang sangat baik dan merupakan pendorong utama
     penyediaan protein hewani nasional. Dari segi potensi dan kebutuhan
     terhadap protein hewani, ayam ras pedaging dan petelur memiliki
     prospek yang baik. Kemampuan ayam ras dalam mengkonversi protein
     kasar dari pakan ke protein yang dapat dimakan (edible protein) dalam
     bentuk daging adalah tertinggi dibandingkan dengan komoditas lainnya,
     yakni sebesar 23%. Sementara itu prospek untuk mengembangkan
     komoditas ayam dan itik lokal juga cukup baik, karena saat ini terdapat
     pangsa pasar tersendiri yang sudah berkembang dengan baik. Prospek
     ini harus dimanfaatkan untuk memberdayakan peternak di pedesaan
     melalui pemanfaatan sumberdaya secara lebih optimal.

     A. Potensi
            Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dalam komponen biaya
     input untuk tenaga kerja yang relatif lebih murah dibandingkan negara
     lain di ASEAN. Potensi dalam mengembangkan produksi jagung nasional



     
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                         Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


      dapat mengurangi ketergantungan impor dan menurunkan biaya
      produksi, sehingga mampu meningkatkan skala usaha yang optimal.
      Integrasi secara vertikal juga sudah mulai terlaksana dengan
      menerapkan pola-pola kemitraan, dimana peternak sudah banyak
      bergabung dengan perusahaan inti sehingga jumlah pemeliharaan ayam
      juga semakin meningkat. Faktor yang masih menjadi kendala di lapang
      adalah iklim usaha yang kurang kondusif. Permasalahan keamanan,
      sistim perbankan, serta tata ruang yang masih belum jelas sering
      menjadi penghambat dalam mengembangkan usaha peternakan
      unggas. Infrastruktur yang kurang memadai seperti tersedianya jalan
      yang memadai, kelayakan pelabuhan, maupun ketersediaan air juga
      dapat menciptakan permasalahan yang rumit bagi peternak disamping
      permasalahan ekonomi biaya tinggi akibat berbagai pungutan.
             Di Indonesia industri pembibitan menghasilkan d.o.c. PS atau final
      stock (FS), sedangkan untuk GPS masih diimpor. Impor ini dilakukan
      atas pertimbangan bahwa usaha tersebut lebih efisien dibandingkan
      dengan membangun usaha pembibitan di dalam negeri yang
      membutuhkan waktu dan biaya sangat besar. Industri penetasan
      umumnya menyatu dengan industri pembibitan yaitu menetaskan telur
      dari PS untuk menghasilkan d.o.c. FS yang siap didistribusikan. Usaha
      budidaya yang saat ini banyak dilakukan adalah melalui sistem
      kemitraan dan komersial farm dengan pengadaan sarana input (bibit,
      pakan, obat dan vaksin) yang dilakukan oleh pihak inti atau perusahaan.
      Hasil panen dibeli oleh pihak perusahaan melalui sistem kontrak
      berdasarkan kesepakatan. Industri obat hewan juga dilaksanakan oleh
      beberapa perusahaan di Indonesia, yang sebagian besar masih
      tergantung pada inovasi teknologi dan produk impor. Hasil inovasi Badan
      Litbang Pertanian berupa vaksin lokal merupakan salah satu prospek
      pasar baru yang dapat dikembangkan, mengingat vaksin tersebut telah
      dikembangkan sesuai dengan kondisi dan iklim di Indonesia. Industri
      pascapanen menghasilkan produk seperti chicken nugget, sosis ayam,
      corned chicken, roasted chicken, smoke chicken, chiken burger, dan
      lain-lain. Industri ini hanya dilakukan oleh beberapa perusahaan dengan
      menggunakan teknologi yang sangat maju, yang sebagian besar produk
      tersebut diserap oleh konsumen dalam negeri, namun ada juga yang
      diekspor.
           Salah satu prospek pasar yang menarik dan perlu dikembangkan
      adalah industri pakan unggas. Dayasaing produk perunggasan dinilai


                                                                             
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
             Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


     merupakan tantangan yang cukup kuat bagi perkembangan industri
     perunggasan, terlebih jika dikaitkan dengan pasar global. Komponen
     terbesar untuk memperoleh produk yang berdayasaing terletak pada
     aspek pakan. Biaya pakan merupakan komponen tertinggi dalam
     komposisi biaya produksi industri perunggasan, berkisar antara 60-70%.
     Bukti empiris menunjukkan bahwa lemahnya kinerja penyediaan bahan
     baku pakan menjadi salah satu kendala dalam menghasilkan produk
     unggas yang berdayasaing. Apalagi jika hal ini dikaitkan dengan bahan
     baku utama pakan unggas yang sebagian besar terdiri dari jagung,
     dimana impor jagung untuk kebutuhan pakan unggas terus meningkat
     dari tahun ke tahun. Pada akhir tahun 2004 impor jagung mencapai 1,7
     juta ton. Jika konsumsi pakan unggas mencapai 7,2 juta ton, maka
     diperlukan jagung sebesar 3,5 juta ton. Diproyeksikan masing-masing
     pada tahun 2010 dan tahun 2020, impor jagung dapat mencapai 4 juta
     ton dan 8 juta ton jika produksi jagung nasional tidak tumbuh. Jagung
     untuk pakan unggas memiliki prospek pasar yang sangat baik, yang
     dinyatakan bahwa jika industri unggas tumbuh dengan baik, maka
     kebutuhan akan jagung juga akan terus meningkat. Pengembangan
     komoditas jagung perlu mendapatkan perhatian baik oleh pemerintah,
     swasta maupun masyarakat petani. Sementara itu Indonesia mempunyai
     potensi bahan pakan lain yang berasal dari limbah agroindustri. Kajian
     awal menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut berpotensi untuk
     digunakan sebagai salah satu komponen sumber energi ayam dan itik.

     B. Arah Pengembangan
          1. Ayam Ras
                   Program ekstensifikasi berupa pembukaan perkebunan
             jagung dengan sistem PIR dapat dilakukan guna meningkatkan
             produksi nasional. Salah satu prospek pasar yang perlu
             dipertimbangkan adalah mendekatkan peternakan unggas
             dengan usaha pengembangan sapi potong di daerah perkebunan
             jagung. Pemanfaatan sarana transportasi jagung lewat sungai,
             seperti yang telah dikembangkan di Amerika melalui sungai
             Missisipi, terbukti sangat efisien dan menguntungkan. Dengan
             demikian ada jaminan kontinuitas suplai jagung yang sangat
             dibutuhkan oleh pabrik pakan.




     0
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                       Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


                   Pengembangan bahan pakan ini juga diarahkan pada
            optimalisasi pemanfaatan bahan baku lokal yang tersedia dalam
            jumlah besar. Limbah industri kelapa sawit, baik berupa lumpur
            sawit maupun bungkil inti sawit belum dimanfaatkan sebagai
            bahan pakan unggas. Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa
            kombinasi antara lumpur sawit yang difermentasi dengan bungkil
            inti sawit dan beberapa campuran vitamin dan mineral mampu
            menggantikan jagung hingga 30% pada ayam ras petelur.
            Penelitian pengembangan bahan baku pakan lokal terus
            dilakukan guna memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk
            pakan ternak.
                   Untuk     memantapkan         dan     memperluas    industri
            perunggasan dalam rangka merespon peningkatan permintaan
            di dalam negeri, beberapa pembenahan perlu dilakukan. Hal ini
            meliputi perbaikan sistem rantai pemasok sarana input yang
            integratif dari hulu ke hilir, sehingga terjadi kesinambungan dan
            sinergi antara kegiatan pra-budidaya, budidaya, sampai pada
            pemasaran. Pohon industri yang terkait dengan ayam ras ini
            antara lain industri pembibitan, penetasan, pakan, budidaya,
            obat hewan, dan pascapanen (Gambar 1). Masing-masing
            subsistem saat ini mengupayakan perolehan keuntungan
            maksimum, meskipun berada dalam satu pasar yang
            terintegrasi. Dalam hal ini pola kemitraan inti-plasma yang adil
            sangat diperlukan dan persaingan sehat harus terjadi antar
            rantai pemasok sarana input. Disinilah diperlukan inovasi agar
            terwujud peran pemerintah sebagai regulator, fasilitator dan
            dinamisator untuk membantu semua pihak dalam berusaha
            dengan memperhatikan azas efisiensi dan dayasaing.
                  Pengembangan unggas ke depan harus mulai dipikirkan di
            luar Jawa, dimana ketersediaan pasokan bahan pakan masih
            memungkinkan, serta prospek pemasaran yang baik.
            Pengalaman wabah Avian Influenza (AI) beberapa waktu yang
            lalu memberi pelajaran bahwa sudah saatnya dilakukan
            desentralisasi industri perunggasan nasional. Upaya ini akan
            sangat baik ditinjau dari berbagai aspek, baik teknis, ekonomis
            maupun sosial, dan dalam hal ini memerlukan dukungan
            kebijakan termasuk ketersediaan inovasi teknologi yang sesuai
            dengan perkembangan usaha.



                                                                            
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
             Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


                   Peranan pemerintah juga harus memperhatikan
             pengelolaan pasar, utamanya untuk: (a) melindungi industri
             ayam dalam negeri dari tekanan persaingan pasar global yang
             tidak adil, (b) mencegah persaingan tidak sehat antar
             perusahaan di pasar dalam negeri, (c) pengembangan sistem
             pencegahan dan penanggulangan wabah penyakit menular,
             serta (d) dukungan pembangunan infrastruktur penunjang
             lainnya. Untuk memberi kepastian berusaha pada peternakan
             mandiri perlu dibuat mekanisme yang menjamin transparansi
             dalam hal informasi produksi d.o.c., biaya bahan-bahan input,
             serta kondisi pasar (permintaan, produksi, dan harga).

          2. Ayam Lokal
                   Ayam lokal merupakan sumberdaya dalam negeri yang
             sudah beradaptasi dengan lingkungan di perdesaan selama
             berabad-abad. Mengingat populasinya yang cukup tinggi, maka
             secara nasional ayam lokal turut berperan sebagai penyedia
             protein hewani bagi masyarakat. Ayam lokal dipelihara dengan
             sistem tradisional dengan memanfaatkan sisa makanan dapur
             dan lainnya di sekitar pekarangan. Hampir setiap rumah tangga
             petani di perdesaan memiliki ayam lokal sebagai tabungan dan
             hanya mendapat perhatian sedikit dari pemiliknya. Petani yang
             membutuhkan uang tunai, baik untuk keperluan anak sekolah
             maupun kebutuhan yang mendesak lainnya, dengan mudah
             mendapatkannya dengan menjual ayam lokal. Dengan sistem
             pemeliharaan tersebut, maka ayam lokal sangat rentan terhadap
             serangan penyakit, khususnya penyakit tetelo (new castle
             diseases) dan AI.
                   Ayam lokal mempunyai pangsa pasar tersendiri seperti
             Ayam Suharti, Ayam Kalasan, Mbok Berek dll. yang hanya
             menggunakan ayam lokal, dengan harga jual yang lebih mahal
             dibandingkan dengan produk dari ayam ras. Potensi dan arah
             pengembangan ayam lokal ditujukan untuk (a) penyediaan
             daging dan telur ayam berkualitas tertentu serta (b) resistensi
             terhadap pengendalian dan pencegahan penyakit. Pembuatan
             vaksin yang mudah diaplikasikan oleh masyarakat dengan harga
             murah perlu terus dilakukan dalam upaya menekan angka
             kematian yang sangat tinggi.


     2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                        Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


         3. Itik
                    Di Indonesia itik umumnya diusahakan sebagai penghasil
             telur. Peternakan itik didominasi oleh peternakan rakyat dengan
             sistem pemeliharaan yang masih tradisional. Saat ini,
             pemeliharaan itik untuk bibit dan untuk produksi di tingkat
             masyarakat masih belum dapat dibedakan. Pembibit umumnya
             menetaskan telur dari induk yang biasanya digunakan untuk
             produksi dan seleksi hanya terbatas pada penampilan telur,
             seperti bobot, ketebalan kerabang, bentuk dan warna. Industri
             pembibitan itik merupakan salah satu yang memiliki propek
             pasar yang baik, mengingat permintaan bibit itik petelur di
             Indonesia cukup tinggi. Ditambah lagi bahwa pemeliharaan itik
             dengan sistem kering telah terbukti dapat dilakukan dengan
             hasil yang cukup baik, sehingga peternak dapat memelihara
             dalam skala usaha yang relatif banyak, dibandingkan dengan
             sistem gembala. Itik petelur unggul, persilangan itik Mojosari dan
             Alabio yang dihasilkan Balai Penelitian Ternak, ternyata mampu
             berproduksi rata-rata sebesar 70% dengan konversi pakan
             sebesar empat.
                    Potensi dan arah pengembangan itik dititikberatkan pada
             perbaikan bibit, sehingga terjadi perbedaan antara itik untuk
             bibit dan itik untuk produksi. Program intensifikasi itik, dengan
             merubah pola pemeliharaan tradisional menjadi pemeliharaan
             terkurung atau intensif perlu dipertimbangkan dalam arah
             pengembangan peternakan unggas ke depan. Keadaan sawah
             yang semakin intensif menyebabkan jarak antara panen dan
             tanam menjadi semakin sempit yang menyebabkan semakin
             terdesaknya itik gembala. Penggunaan pestisida yang kurang
             bijaksana dapat menyebabkan kematian itik secara langsung
             dan menurunnya ketersediaan pakan itik di sawah berupa ikan
             kecil, cacing, katak dll. secara tidak langsung.
                  Itik pedaging saat ini mulai digemari, terbukti dengan
             semakin banyaknya pedagang kaki lima yang menjajakan itik
             panggang/goreng. Ada dua segmen pasar daging itik, pertama
             adalah untuk golongan menengah ke bawah (itik lokal) dan
             kedua, golongan atas (itik impor Peking). Potensi dan arah
             pengembangan itik pedaging dititikberatkan pada pengembangan



                                                                            
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
              Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


              itik Serati putih yang merupakan persilangan antara induk
              petelur lokal dengan entog. Pangsa pasar itik ini adalah restoran-
              restoran besar dan hotel-hotel berbintang.
                                                                      HULU
                                                      1.   Industri Pakan
                                                      2.   Industri Obat dan Vaksin Hewan
                                                      3.   Industri Pembibitan
                                                      4.   Industri Peralatan Peternakan




                                                             BUDIDAYA UNGGAS
          1. Komersial Terintegrasi                   1.   Ayam ras pedaging
          2. Usaha Rakyat Bermitra                    2.   Ayam ras petelur
          3. Usaha Mandiri (Komersial dan             3.   Ayam Buras
             Usaha Rakyat).                           4.   Itik




                                                                      HILIR

             UNGGAS PEDAGING                                                                  UNGGAS PETELUR




                 INDUSTRI RPA



                   INDUSTRI                                                                      INDUSTRI
                 PENGOLAHAN                 DAGING SEGAR                    TELUR SEGAR        PENGOLAHAN
                  MAKANAN                                                                       MAKANAN


                                                   PRODUK
                                                   OLAHAN                      PRODUK
                                            1.   Bakso
                                                                               OLAHAN
                                            2.   Sosis
                                            3.   Corned
                                                                               Tepung Telur
                                            4.   Abon
                                                                                Telur Asin
                                            5.   Nugget
                                            6.   Burger




                                                                   p
                                                               KONSUMSI
                                                             RUMAH TANGGA



                                                                  PRODUK
                INDUSTRI                                                                          INDUSTRI
             PENGOLAHAN NON                                      Peralatan RT                 PENGOLAHAN NON
                                                             Peralatan Olah Raga                 MAKANAN
                MAKANAN                                   Bahan Baku Makanan Ternak




                    Gambar 1. Pohon industri agribisnis ternak unggas



     
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                        Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


                         IV. TUJUAN DAN SASARAN

           Pengembangan agribisnis komoditas ternak unggas diarahkan
      untuk (a) menghasilkan pangan protein hewani sebagai salah satu upaya
      dalam mempertahankan ketahanan pangan nasional, (b) meningkatkan
      kemandirian usaha, (c) melestarikan dan memanfaatkan secara sinergis
      keanekaragaman sumberdaya lokal untuk menjamin usaha peternakan
      yang berkelanjutan, dan (d) mendorong serta menciptakan produk yang
      berdayasaing dalam upaya meraih peluang ekspor.
            Tujuan pengembangan agribisnis komoditas unggas adalah (a)
      membangun kecerdasan dan menciptakan kesehatan masyarakat
      seiring dengan bergesernya permintaan terhadap produk yang aman dan
      berkualitas, (b) meningkatkan pendapatan peternak melalui peningkatan
      skala usaha yang optimal berdasarkan sumberdaya yang ada, (c)
      menciptakan lapangan kerja yang potensial dan tersebar hampir di
      seluruh wilayah, dan (d) meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan
      devisa negara.
             Sasaran pengembangan agribisnis komoditas unggas terbagi sesuai
      pengembangan komoditas yang terdiri dari ayam ras, ayam lokal dan itik.
      Sasaran pengembangan agribisnis komoditas ayam ras lebih ditujukan
      untuk (a) meningkatkan produktivitas dan produksi ayam pedaging dan
      petelur sehingga produknya dapat lebih terjangkau oleh masyarakat luas
      dari sisi harga dan akses perolehan, dan (b) mengurangi ketergantungan
      bahan baku impor, utamanya untuk komponen pakan. Sasaran
      pengembangan komoditas agribisnis ayam lokal adalah (a) menekan
      angka kematian melalui penyediaan obat hewan dan vaksin dalam jumlah
      yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat, (b) meningkatkan substitusi
      impor dan diversifikasi produk unggas, serta (c) menciptakan produk
      organik berdasarkan pangsa pasar tertentu. Sasaran pengembangan
      komoditas agribisnis itik adalah (a) meningkatkan produktivitas dan
      produksi itik lokal melalui program pembibitan yang terarah, dan (b)
      memenuhi respon permintaan agroindustri baik untuk produk telur
      maupun daging itik.




                                                                          
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
            Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


               V. KEBIJAKAN, STRATEGI DAN PROGRAM

           Memperhatikan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
     usaha pengembangan komoditas unggas di Indonesia, diperlukan suatu
     kerangka pikir (roadmap) untuk menjadi acuan dalam menentukan
     langkah-langkah operasional guna memecahkan permasalahan yang
     ada. Hal ini tertuang dalam penerapan program-program pembangunan
     jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang disertai
     dengan komponen pendukung mulai dari arah kebijakan dan
     pembiayaan       pengembangan     usaha    perunggasan.  Roadmap
     pengembangan komoditas unggas meliputi kondisi awal tahun 2005,
     strategi pengembangan untuk mencapai tujuan antara (2005 – 2010)
     dan target ideal pada tahun 2020 untuk ternak ayam ras, ayam lokal
     dan itik sebagai penghasil daging dan telur dalam rangka memenuhi
     kebutuhan protein hewani masyarakat (Gambar 2). Masing-masing
     komponen dikelompokkan dalam kegiatan on-farm, off-farm, kebijakan
     pendukung serta aspek pemasaran dan perdagangan.

     A. Kegiatan On-farm

           Usaha budidaya ayam ras pedaging dan petelur banyak dilakukan
     oleh peternakan rakyat dalam skala yang relatif kecil, sehingga efisiensi
     usaha dan keuntungan yang layak sulit dicapai. Disisi lain, sebagian
     besar peternak ayam ras sangat rentan terhadap gejolak perubahan
     harga. Pada saat harga output turun, biaya input produksi tidak otomatis
     turun, sehingga peternak benar-benar rugi. Strategi pengembangan
     usaha yang dianjurkan adalah melalui bentuk pola-pola kerjasama
     kemitraan yang berkeadilan secara bertahap, dan akan mengarah
     kepada usaha mandiri. Manajemen pemeliharaan pola usaha ini harus
     mengikuti prosedur dan ketetapan yang berlaku guna mencapai efisiensi
     usaha yang optimal. Usaha ini harus sudah mengarah kepada usaha
     yang berorientasi keuntungan berdasarkan skala ekonomi yang
     dianjurkan.
           Program kerjasama pola kemitraan merupakan salah satu
     alternatif pilihan yang dapat dijalankan secara obyektif dan harus
     menguntungkan kedua belah pihak, baik perusahaan sebagai inti
     maupun peternak sebagai plasma. Peraturan dan kesepakatan yang ada



     
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                        Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


      pada program tersebut sangat rumit pada taraf realisasinya, tetapi
      pemikirannya sangat bagus sehingga perlu terus disempurnakan dalam
      pelaksanaannya. Pola kerjasama kemitraan adalah suatu pola yang
      memerlukan kepercayaan dan suasana kekeluargaan diantara pelaku
      terkait. Oleh karenanya kesuksesan pola kerjasama kemitraan ini sangat
      dipengaruhi oleh keadaan lingkungan usaha, permodalan, kualitas
      sumberdaya manusia, penyuluhan dan pembinaan. Perlu dikembangkan
      secara jelas siapa pelaku, penjamin, pelaksana, pengawas dan evaluasi
      model kemitraan agar terdapat transparansi dalam pelaksanaannya di
      lapangan.
            Sebagian besar usaha budidaya ayam lokal dan itik masih
      dilakukan sebagai usaha sambilan dengan manajemen tradisional,
      meskipun terdapat perkembangan yang mengarah pada pergeseran dari
      sistem pemeliharaan ekstensif kepada sistem intensif yang sepenuhnya
      terkurung. Usaha kedua komoditas ini harus bersifat komplemen pada
      usaha peternakan ayam ras, karena sebagian besar komponen input
      mengandalkan penggunaan sumberdaya lokal. Strategi pengembangan
      usaha peternakan ayam lokal dan itik diarahkan pada usaha perbaikan
      bibit dalam upaya meningkatkan produktivitas itik dan pemanfaatan
      potensi genetik plasma nutfah lokal terhadap penyakit. Pola pembinaan
      peternak baik secara langsung maupun tidak langsung perlu dilakukan
      dengan teratur. Hal ini harus diarahkan pada aspek produksi,
      manajemen dan pemasaran (cara menjual hasil), agar peternak menjadi
      tangguh, efisien, kompetitif, tidak marjinal dan tidak konsumtif. Oleh
      karenanya perlu ditunjang dengan kelembagaan pembina dan informasi
      pasar, termasuk infrastruktur untuk stabilisasi produksi.
            Produksi jagung di dalam negeri dapat ditingkatkan melalui
      program intensifikasi, maupun ekstensifikasi. Beberapa strategi
      pengembangan produksi jagung sebagai penyediaan sumber energi
      dalam pakan dan untuk menurunkan ketergantungan terhadap impor
      jagung adalah:
      a. Peningkatan produksi jagung yang telah dicapai saat ini perlu
         dipertahankan dan dilakukan upaya-upaya perbaikan untuk
         ditingkatkan kembali. Sentra-sentra budidaya usaha jagung perlu
         dibentuk dalam suatu kawasan, sehingga dapat meminimalkan
         transaction cost yang pada akhirnya dapat mengurangi biaya
         produksi.



                                                                          7
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
            Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


     b. Beberapa langkah kebijakan operasional pengembangan produksi
        jagung untuk menstimulir peningkatan produksi harus dijalankan,
        diantaranya adalah (i) menyediakan kredit lunak dengan prosedur
        administrasi yang sederhana, (ii) membangun infrastruktur untuk
        menggerakkan agribisnis jagung, (iii) menggalakkan intensifikasi
        budidaya jagung, (iv) memperluas areal pertanaman jagung
        (ekstensifikasi) serta (v) mendorong keterlibatan peran swasta dalam
        budidaya jagung secara modern dalam skala komersial.

     B. Kegiatan Off-farm
           Industri pakan unggas dengan bahan baku utama yang sebagian
     besar terdiri dari jagung merupakan program yang perlu dibenahi dengan
     strategi pengembangan jagung secara berkelanjutan. Hal ini meliputi
     percepatan inovasi teknologi penggunaan jagung bibit unggul (hibrida
     dan komposit) dan distribusi benih agar sampai langsung ke pengguna
     dengan mudah. Produksi jagung dalam negeri sangat sulit diprediksi dan
     direncanakan, sehingga strategi pengembangan dalam penyediaan silo
     dan mesin pengering (dryer) dengan skala yang memadai sangat
     diperlukan.
           Industri obat hewan juga masih sepenuhnya tergantung dari
     komponen impor, yang sangat rentan terhadap faktor eksternal,
     terutama pengaruh nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
     Pengembangan dan pemanfaatan obat hewan serta vaksin lokal masih
     belum berjalan sesuai degan harapan. Perlu adanya dorongan dalam
     menggunakan produk obat hewan dan vaksin dalam negeri melalui
     program promosi yang harus digalakkan dalam upaya pemanfaatan dan
     pengembangannya. Hasil inovasi Badan Litbang Pertanian merupakan
     salah satu alternatif strategi pengembangan yang diusulkan, mengingat
     obat hewan dan vaksin tersebut telah dikembangkan sesuai dengan
     kondisi dan iklim di Indonesia.
           Dalam perkembangan sistem pangan, suatu perubahan akan terus
     menerus terjadi. Permintaan terhadap produk pangan terus meningkat,
     begitu pula dengan dimensi kualitas. Dalam perjalanannya, beberapa
     trend perubahan juga telah terjadi pada pengembangan industri
     perunggasan, antara lain adanya perubahan kegiatan kearah
     pengolahan, prosesing, dan packaging. Pentingnya mengkonsumsi
     produk unggas yang higienis perlu terus dilakukan, misalnya dorongan


     
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                         Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


      kepada masyarakat untuk juga dapat menerima produk ayam beku.
      Strategi pengembangan yang dilakukan adalah penyediaan fasilitas
      prosesing pemotongan ayam dan penyimpanan (cold storage) unit-unit
      kecil yang benar dan baik di pusat-pusat konsumen.

      C. Kebijakan Pemerintah
             Perlu adanya harmonisasi kebijakan antar lembaga (instansi)
      terkait dalam pengembangan perunggasan seperti kebijakan
      perpajakan, investasi, impor, ekspor, tarif, tata ruang dan perijinan. Saat
      ini diperoleh kesan saling berbenturan dengan kebutuhan masyarakat
      perunggasan dan tidak saling memperkuat (sinergis). Hal ini sangat
      penting untuk dilaksanakan agar struktur produksi dapat berjalan
      dengan lebih baik pada implementasinya. Pemerintah tetap harus
      berperan sebagai regulator yang bijaksana (adil, arif dan transparan),
      disamping perannya sebagai motivator, dinamisator dan fasilitator.
             Perlu adanya peningkatan efektivitas dan penajaman fungsi (tugas
      dan tanggung jawab) kelembagaan terkait, terutama dalam hal
      perencanaan, pengawasan, peningkatan sumberdaya manusia, evaluasi
      dan kontrol. Hendaknya setiap aspek yang mempengaruhi
      perkembangan industri perunggasan, perijinannya harus mendapat
      rekomendasi dari instansi teknis dan pelaku lainnya. Contohnya dalam
      perijinan mengenai investasi, tata ruang, impor, dan lain sebagainya.
      Peraturan pemerintah yang tidak operasional belum mendapatkan
      kontrol yang serius. Hal tersebut harus memperoleh perhatian yang lebih
      baik, dan diperlukan penegakan hukum atas sanksi yang dikenakan.
      Sanksi bagi yang melanggar peraturan yang ada perlu diatur dengan
      landasan hukum yang kuat.
            Kebijakan peternakan unggas diarahkan pada visi pemberdayaan
      peternak dan usaha agribisnis peternakan, peningkatan nilai tambah
      dan dayasaing dengan misi mendorong pembangunan peternakan
      unggas yang tangguh dan berkelanjutan. Salah satu kebijakan yang
      diperlukan dan berpengaruh efektif mencapai visi tersebut adalah
      kebijakan dalam memperluas dan meningkatkan basis produksi melalui
      peningkatan investasi swasta, pemerintah dan masyarakat, serta
      kebijakan pewilayahan komoditas dan peningkatkan penelitian,
      penyuluhan dan pendidikan bagi peternak disertai pengembangan
      kelembagaan.


                                                                              
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
            Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


     D. Pemasaran dan Perdagangan
            Terjaminnya aspek permintaan dan penawaran produk unggas
     merupakan tujuan dari usaha perunggasan yang dilakukan. Transparansi
     informasi dalam aspek produksi dan konsumsi produk unggas perlu
     dibenahi sehingga diperoleh data secara lengkap dan akurat. Perlu
     dibentuk forum informasi industri perunggasan yang independen dari
     berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah, yang pada intinya
     dapat lebih memberikan bantuan dan peran yang positif bagi PINSAR.
     Forum ini dapat membahas aturan main dalam hal pengembangan,
     pemantapan pasar/harga dan perluasan pasar baru dan dapat
     mengembangkan pusat informasi pasar dan dana pembinaan serta
     stabilisasi, terutama stabilisasi supply produk telur dan daging ayam.
     Untuk merealisir pemikiran tersebut diatas, pemerintah harus mampu
     membangun keadaan yang kondusif dengan instrumen: fiskal, moneter,
     perijinan dan membangun dayasaing yang kuat dengan instrumen tarif
     dan pajak. Tarif impor perlu diberlakukan dan bukan dibebaskan,
     sementara pajak ekspor harus diturunkan, dengan catatan perlu
     memperhatikan kesepakatan WTO yang ada.
           Diperlukan penyuluhan secara komprehensif dan menyeluruh
     kepada masyarakat mengenai ancaman dunia perdagangan bebas.
     Diharapkan terjalin jaringan kerjasama yang harmonis antar pelaku
     bisnis, sehingga persatuan yang solid merupakan kekuatan bersama
     untuk mengantisipasi era perdagangan bebas. Peluang pasar di dalam
     negeri maupun ekspor yang sangat besar dan ketersediaan tenaga kerja
     yang cukup belum mampu diwujudkan sebagai pemicu untuk
     mendorong perkembangan industri perunggasan di dalam negeri. Yang
     terjadi adalah ancaman yang berkaitan dengan kesepakatan WTO dan
     isu lingkungan, keamanan pangan, dan pemerataan kesempatan
     bekerja.
           Disamping kewajiban untuk mematuhi kesepakatan global (WTO),
     kiranya perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan UU Anti
     Monopoli dan UU Otonomi Daerah dalam mengembangkan strategi
     industri perunggasan di Indonesia di masa yang akan datang. Semua
     pihak harus mampu merebut dan menciptakan pasar di dalam maupun
     di luar negeri, serta mempertahankan dan menumbuhkembangkan
     pasar yang sudah ada, agar kekuatan dan energi yang dipergunakan
     untuk melakukan persaingan, pertentangan dan kompetisi tidak sehat



     20
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                        Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


      diubah menjadi bentuk kerjasama yang sinergis. Sistem perpajakan,
      perkreditan, penyangga harga dan pemasaran serta ketersediaan
      informasi yang akurat perlu secara terus menerus diperbaiki,
      disempurnakan dan disosialisasikan secara meluas. Kebijakan yang ada
      tentang hal-hal tersebut perlu secara konsisten dimonitor dan dievaluasi
      di dalam pelaksanaannya.

      E. Strategi
            Strategi untuk mencapai tujuan, sasaran dan efektivitas
      implementasi kebijakan tersebut adalah melalui pembangunan industri
      agribisnis komoditas ternak unggas, yang mencakup kegiatan-kegiatan
      dari sektor hulu sampai hilir. Hal ini sangat terkait dengan kunci
      dayasaing produk perunggasan yaitu efisiensi pada setiap segmen rantai
      pasokan dan keterkaitan fungsional antar segmen dalam memelihara
      konsistensi setiap pelaku usaha dalam memenuhi kesepakatan dan
      standar yang digunakan. Guna menciptakan hal tersebut diperlukan
      selain integrasi vertikal antar segmen rantai pasokan juga integrasi
      horizontal antar pelaku dalam satu segmen. Industri agribisnis dapat
      merupakan usaha berskala menengah dan besar. Pada dasarnya,
      perusahaan-perusahaan agribisnis yang didirikan diarahkan untuk
      berkembang secara terintegrasi baik secara individu (satu perusahaan)
      maupun banyak pelaku usaha ternak yang bergabung dalam satu wadah
      kelompok. Dengan pendekatan industri agribisnis maka program-
      program pembangunan peternakan unggas tidak hanya terfokus pada
      aspek produksi tetapi meliputi program-program yang terkait dalam
      sistem agribisnis mulai dari hulu sampai ke hilir. Program-program
      tersebut terdiri atas 3 kelompok yakni:

      1. Sektor hulu
            Program sektor hulu diutamakan untuk menjamin terpenuhinya
      penyediaan bibit berupa d.o.c., pakan, vaksin dan obat hewan serta
      peralatan. Program pembibitan lainnya diarahkan pada pengembangan
      ternak ayam lokal dan itik.

      2. Sektor budidaya
            Program peningkatan produktivitas dan produksi ayam ras lebih
      diarahkan pada pengembangan transformasi skala usaha rakyat



                                                                           2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
             Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


     mencapai skala menengah melalui pendekatan pola produksi yang lebih
     efisien dan kelembagaan. Program tersebut untuk unggas lokal
     ditujukan pada perbaikan manajemen usaha ternak mandiri sehubungan
     dengan pencegahan penyakit ternak dan peningkatan produktivitas dan
     produksi itik.

     3. Sektor hilir
          Program peningkatan nilai tambah yang terkait dengan
     pascapanen dan proses pengolahan sehingga tercipta diversifikasi
     produk. Tujuan program ini adalah meningkatkan insentif bagi pelaku
     usaha, utamanya adalah peternak.

     F. Program
           Program utama pengembangan agribisnis komoditas unggas
     sangat terkait dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai. Guna
     menjamin penyediaan pasokan d.o.c. ayam ras yang akan merefleksikan
     kebutuhan pakan, maka transparansi dalam informasi produksi di sektor
     hulu sangat membantu peternak maupun pemerintah untuk
     menentukan langkah dan sikap bila terjadi kelangkaan atau kelebihan
     produk. Dorongan dan dukungan untuk pengembangan industri hilir,
     seperti pabrik tepung telur, cold storage, dan pabrik daging olahan
     diharapkan dapat membantu mengatasi bila terjadi fluktuasi harga dan
     pasokan yang berlebihan. Kesadaran masyarakat untuk meningkatkan
     konsumsi pangan protein hewani perlu dilakukan melalui dorongan
     program promosi yang terus menerus dan konsisten.
                                      Program peningkatan produktivitas
                               jagung di dalam negeri perlu dilakukan baik
                               secara intensifikasi maupun ekstensifikasi
                               dalam upaya meningkatkan dayasaing produk
                               perunggasan. Intensifikasi melalui penanaman
                               varietas unggul seperti jagung komposit,
                               hibrida atau transgenik yang mempunyai
                               produksi tinggi dapat dilakukan, dimana
                               penerapan inovasi varietas unggul mempunyai
                               peran yang sangat penting terhadap kontribusi
                               peningkatan produksi jagung nasional. Hal ini
                               sangat tergantung pada kesesuaian dengan


     22
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                        Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


      kondisi lingkungan (tanah dan iklim) serta preferensi petani terhadap
      warna biji, yaitu warna kuning kemerahan cenderung untuk pakan dan
      warna putih untuk pangan. Sampai saat ini sebagian besar pelepasan
      varietas jagung unggul diarahkan pada jagung kuning yang sesuai untuk
      pakan, sementara jagung dengan biji putih masih belum mendapat
      perhatian yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa selama 20 tahun
      terakhir pemanfaatan jagung di Indonesia telah bergeser dari pangan
      menjadi bahan industri terutama pakan.
            Varietas jagung unggul yang banyak berkembang di tingkat petani
      adalah Arjuna, Bisma dan Lamuru dengan potensi produksi rata-rata
      sekitar 7-8 ton/ha di Kawasan Timur Indonesia, seperti Gorontalo, Nusa
      Tenggara dan Sulawesi Selatan. Tingkat produktivitas jagung hibrida
      mulai menunjukkan perbaikan sejalan dengan semakin tingginya
      frekuensi pelepasan benih jagung hibrida. Program penanaman jagung
      hibrida masih perlu ditingkatkan karena hasil yang diperoleh selama ini
      masih relatif rendah dari total areal penanaman jagung yang diusahakan
      rakyat dengan skala luasan yang sangat sempit.
             Program ekstensifikasi dapat dilakukan dengan perluasan areal
      tanaman jagung, misalnya dengan memanfaatkan lahan “tidak
      berfungsi” yang relatif masih luas. Namun lahan seperti ini biasanya
      merupakan lahan marjinal yang penuh tantangan, baik dari segi
      kesuburan, ekologi, maupun ketersediaan sarana dan prasarana
      pendukung. Justru yang saat ini belum banyak diperhatikan adalah
      penanaman jagung di kawasan perkebunan melalui pola integrasi.
      Apabila setiap tahun terdapat peremajaan kebun sebesar 4%, dan
      penanaman tumpang sari dapat dilakukan selama 4 tahun sebelum
      canopy menutup permukaan lahan, maka setiap tahun tersedia sekitar
      16% areal perkebunan yang dapat dimanfaatkan untuk ekstensifikasi
      penanaman jagung. Dari kawasan perkebunan kelapa sawit saja, yang
      saat ini luasnya sekitar 5 juta ha, terdapat potensi untuk
      mengembangkan corn estate seluas hampir satu juta ha. Bila kawasan
      ini dimanfaatkan, maka akan tersedia tambahan jagung sedikitnya 3 juta
      ton, atau dua kali lipat dari total impor saat ini. Di kawasan ini sudah
      terbangun prasarana jalan yang sangat baik, serta manajemen yang
      relatif lebih mudah. Program diversifikasi penggunaan sumber energi
      selain jagung juga perlu mendapat perhatian.




                                                                           2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
            Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


           Program pembangunan komoditas ternak unggas lokal difokuskan
     pada usaha pencegahan penyakit dalam upaya melestarikan
     sumberdaya lokal. Program ini meliputi usaha pembibitan,
     mengoptimalkan pemanfaatan laboratorium kesehatan hewan,
     penelitian dan pengembangan serta pelatihan, penyuluhan dan
     penguatan kelembagaan petani.




     2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                                                                                 TUJUAN ANTARA
     KONDISI AWAL 2005              STRATEGI PENGEMBANGAN                                             KONDISI IDEAL 2020
                                                                                  (2005-2010)
                             Peningkatan skala
                             usaha yang optimal          Program kemitraan
                               untuk ayam ras
                                                                                     Peningkatan
                           Perbaikan bibit itik lokal   Program intensifikasi       efisiensi usaha
                                                                                    dan dayasaing
                             Konservasi plasma             Program seleksi               produk
                             nutfah ayam lokal          terhadap kerentanan
       ON-FARM                                              potensi genetik
                                                          terhadap penyakit
                            Peningkatan produksi        • Program                                       • Ketahanan
                                   jagung                 intensifikasi                                   pangan
                                                          tanaman jagung                                • Pelestarian
                                                                                                          keaneka
                                                        • Program integrasi                               ragaman
                                                          horizontal                  Peningkatan         sumberdaya
                                                                                      pengolahan          lokal
                                Industri pakan          • Penyediaan benih           dan prosesing
                                                          jagung unggul
     OFF-FARM                   Cold storage            • Silo dan alat
                                                          pengering jagung                               Kemandirian
        • Tingginya komponen impor                                                                         usaha
          untuk bahan pakan                                                                              peternakan
        • Lemahnya sarana                                                                                  unggas
          pengolahan dan prosesing
                                Investasi kondusif,       Pengembangan
        KEBIJAKAN           promosi produk unggas,         infrastruktur             Peningkatan
                            tata ruang dan lalulintas                               investasi dan
       PEMERINTAH              ternak, keswan dan                                     distribusi        • Pendapatan
                                    kesmavet             Kredit usaha UKM                                 peternak
                                                                                                          meningkat
                             Pengelolaan pasar                                       Terjaminnya        • Produk
                             secara vertikal dan                                    penawaran dan         unggas yang
     PEMASARAN DAN                                      Transparansi informasi
                                                                                                                           Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas




                                 horizontal                                           permintaan          berdayasaing
      PERDAGANGAN             Perlindungan pasar                                    produk unggas       • Peluang
                             global yang tidak adil                                                       ekspor

                              Gambar 2. Roadmap pengembangan komoditas unggas




2
            Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


                       VI. KEBUTUHAN INVESTASI

           Apabila sasaran pengembangan agribisnis komoditas ternak
     unggas ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan protein hewani
     pada 10 tahun mendatang, setara dengan 1.250 miliar ekor ayam
     pedaging dan 115 juta ekor ayam petelur, maka perkiraan kebutuhan
     investasi diestimasi berdasarkan nilai aset yang saat ini berputar dalam
     usaha tersebut. Pelaku investasi pengembangan agribisnis komoditas
     unggas dibedakan dalam tiga kelompok, yakni investasi yang dilakukan
     oleh rumah tangga peternak (masyarakat), swasta dan pemerintah.
     Masing-masing kelompok dibagi dalam investasi di sektor hulu, budidaya
     dan hilir, berturut-turut untuk komoditas ayam ras, ayam lokal dan itik.
     Estimasi kebutuhan investasi total mencapai Rp. 24,5 triliun.

     A. Investasi Masyarakat
            Kebutuhan investasi masyarakat untuk pengembangan agribisnis
     ayam ras pedaging dan petelur berkisar antara 10-20%, masing-masing
     sebesar Rp. 1 triliun untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur.
     Estimasi kebutuhan investasi masyarakat untuk pengembangan
     agribisnis komoditas ayam lokal dan itik adalah sekitar 60%, berturut-
     turut adalah sebesar Rp. 4,5 triliun dan Rp. 1,5 triliun.
          Investasi masyarakat dalam hal ini dapat berupa investasi
     sumberdaya dan produksi yang meliputi aset tetap seperti lahan,
     kandang dan tenaga kerja. Sumber pembiayaan dapat berupa kredit dari
     perbankan maupun lembaga keuangan formal lainnya, serta tidak
     menutup kemungkinan lembaga keuangan non-formal seperti pinjaman
     kelompok maupun koperasi bersama.

     B. Investasi Swasta
             Pangsa kebutuhan investasi swasta untuk pengembangan
     agribisnis komoditas ayam pedaging dan petelur rata-rata berkisar
     antara 80%, berturut-turut adalah sebesar Rp. 9,5 triliun dan Rp. 3,8
     triliun. Estimasi kebutuhan investasi swasta untuk pengembangan
     komoditas ayam lokal dan itik adalah sekitar 10%, dengan nilai Rp. 0,5
     triliun untuk ayam lokal dan Rp. 250 miliar untuk ternak itik.



     2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                                 Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


            Bentuk investasi swasta dapat berupa peningkatan penyediaan
      sarana input seperti peningkatan pasokan bibit, pabrik pakan, peralatan
      serta obat dan vaksin. Investasi di sektor hilir seperti pabrik pengolahan
      dan prosesing produk unggas seperti penyediaan sarana cold storage dan
      pembangunan pabrik tepung telur perlu mendapat perhatian yang serius.

      Tabel 1.       Estimasi kebutuhan investasi pengembangan agribisnis komoditas unggas
       Bidang Investasi           Masyarakat              Swasta             Pemerintah

       Ayam ras                Perkandangan        Pasokan bibit       Peningkatan luas
       pedaging                Ternak              Pabrik pakan          areal tanam jagung
       (Rp. 11 triliun)        Lahan               Kemitraan           Promosi
                               Pakan dan obat      Cold storage        Infrastruktur
                               Tenaga kerja        Pengolahan dan      Regulasi
                                                     prosesing
                                Rp. 1 triliun        Rp. 9,5 triliun     Rp. 500 miliar
       Ayam ras petelur      Perkandangan          Pasokan bibit       Peningkatan luas
       (Rp. 5 triliun)       Ternak                Pabrik pakan         areal jagung
                             Lahan                 Kemitraan           Promosi
                             Pakan dan obat        Pabrik tepung       Infrastruktur
                             Tenaga kerja           telur               Regulasi
                              Rp. 1 triliun          Rp. 3,8 triliun      Rp. 200 miliar
       Ayam lokal            Perkandangan          Pabrik pakan        Penggunaan
       (Rp. 6 triliun)       Penyediaan            Kemitraan            laboratorium keswan
                              bibit/ternak          Diversifikasi       Promosi
                             Lahan                  produk              Infrastruktur
                             Pakan dan obat        Pabrik              Penelitian dan
                             Tenaga kerja           pengolahan dan       pengembangan
                                                     prosesing
                              Rp. 4,5 triliun        Rp. 0,5 triliun      Rp. 1 triliun
       Itik                  Perkandangan          Pabrik pakan        Promosi
       (Rp. 2,5 triliun)     Penyediaan            Diversifikasi       Infrastruktur
                              bibit/ternak           produk              Penelitian dan
                             Lahan                                       pengembangan
                             Pakan dan obat
                             Tenaga kerja
                              Rp. 1,5 triliun          Rp. 250 miliar    Rp. 750 miliar
       Total
                                   Rp. 8 triliun   Rp. 14,05 triliun       Rp. 2,45 triliun
       (Rp. 24,5 triliun)




                                                                                              27
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
            Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


             Peran swasta dalam implementasi program kemitraan menjadi
     sangat penting, karena disamping dapat membantu meningkatkan skala
     usaha di sektor budidaya, juga dapat memberikan nilai tambah di sektor
     hilir. Hal ini dapat dilakukan melalui penciptaan struktur pasar terbuka
     berdasarkan efisiensi untuk memperoleh produk yang berdayasaing.

     C. Investasi Pemerintah
           Investasi produksi yang berupa infrastruktur oleh pemerintah
     sangat diperlukan seperti penyediaan benih jagung unggul, penanganan
     pascapanen berupa pembuatan silo dan sarana transportasi. Estimasi
     kebutuhan investasi pemerintah untuk pengembangan agribisnis
     komoditas ayam ras pedaging dan petelur masing-masing adalah
     sebesar 5%, yakni Rp. 500 miliar untuk ayam ras pedaging dan Rp. 200
     miliar untuk ayam ras petelur. Pada pengembangan komoditas ayam
     lokal dan itik, hal tersebut rata-rata berkisar antara 30%, dengan nilai
     berturut-turut Rp. 1 triliun dan Rp. 750 miliar.
            Investasi pemerintah utamanya terfokus pada kegiatan promosi
     dalam upaya meningkatkan konsumsi daging dan telur yang aman,
     sehat, utuh dan halal. Pelayanan penyuluhan dan pendidikan kepada
     masyarakat sejak usia dini tentang manfaat mengkonsumsi daging dan
     telur perlu dilakukan secara konsisten.
            Investasi oleh pemerintah juga diperlukan dalam upaya
     mengoptimalkan penggunaan laboratorium maupun pos kesehatan
     hewan yang tersebar di seluruh propinsi. Hal ini sangat terkait dengan
     lalu lintas ternak antara kabupaten/kota, propinsi maupun pulau serta
     pengawasan kesehatan hewan.
           Peran pemerintah juga diharapkan dalam aspek penelitian dan
     pengembangan, utamanya dalam hal menyediakan alternatif bahan
     baku pakan berdasarkan sumberdaya lokal. Demikian pula halnya
     dengan identifikasi dan evaluasi untuk pengembangan ayam lokal yang
     resisten terhadap penyakit, serta peningkatan mutu genetik itik.




     2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                        Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


                       VII. KEBIJAKAN PENDUKUNG

            Untuk mencapai visi, misi dan tujuan program pembangunan
      pertanian diperlukan kebijakan pendukung. Beberapa kebijakan
      pendukung yang diperlukan:
      1. Kebijakan pendukung dalam membentuk lingkungan investasi yang
         kondusif, utamanya dalam hal pelayanan investasi khususnya
         investasi di luar sektor pertanian. Sebagai contoh kebijakan
         pembangunan peternakan, pabrik pakan dan pemotongan ayam dan
         sebagainya berubah menjadi kebijakan agribisnis sehingga perijinan
         hanya melalui satu atap.
      2. Kebijakan dalam hal mempromosikan produk unggas. Kebijakan ini
         diperlukan mengingat konsumsi produk unggas yang belum merata
         di kalangan penduduk, sehingga diperlukan suatu promosi dalam
         kerangka keamanan pangan serta peningkatan konsumsi.
      3. Sementara itu untuk menjamin agar peternakan ayam dapat
         terhindar dari serangan wabah berbahaya, perlu dukungan kebijakan
         dan inovasi dalam hal tata ruang, kesehatan hewan dan kesehatan
         masyarakat veteriner, serta penegakan aturan yang terkait dengan
         lalu lintas ternak dalam kaitannya dengan pelaksanaan otonomi
         daerah dan perdagangan global. Kebijakan yang benar-benar
         mampu memberi perlindungan kepada peternak maupun konsumen
         dari ancaman wabah penyakit yang berpotensi menimbulkan
         kerugian ekonomi sangat besar.
      4. Kebijakan pendukung dalam rangka pencegahan penyakit
         diperlukan utamanya dalam memperkuat pelayanan laboratorium
         dan pos-pos kesehatan hewan, serta kebijakan penyuluhan tentang
         bahaya dan pencegahan penularan penyakit unggas. Kebijakan
         pendukung ini meliputi pengaturan keluar masuk ternak dan
         pengaturan impor ternak unggas beserta produk turunannya.
      5. Pemerintah perlu membuat kebijakan tentang kemitraan agribisnis
         perunggasan yang adil baik bagi mitra maupun bagi inti melalui
         pembagian resiko dan keuntungan yang adil.




                                                                          2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
     Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas




0
                              LAMPIRAN




                                                                   
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
               Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

      Lampiran 1.    Populasi ayam ras pedaging menurut propinsi tahun 2000-2004
                                                                                 (ekor)
                                                              Tahun
      No.            Propinsi
                                             2000              2002           2004
       1.   Nanggroe Aceh Darussalam           965.155           992.956       938.807
       2.   Sumatera Utara                  26.893.165        61.948.000    38.045.260
       3.   Sumatera Barat                  10.400.682        10.882.230     8.113.818
       4.   Riau                             8.427.829        24.107.034    25.768.981
       5.   Jambi                            4.793.997         5.424.441     6.980.903
       6.   Sumatera Selatan                15.500.000        17.000.000    17.061.000
       7.   Bengkulu                         2.453.080         2.996.897     2.092.289
       8.   Lampung                         23.929.600        23.640.000    23.650.000
       9.   DKI Jakarta                        889.000         1.455.000        95.354
      10.   Jawa Barat                     196.422.402       269.778.372   354.613.486
      11.   Jawa Tengah                     71.554.382        97.485.267    67.852.915
      12.   DI Yogyakarta                   12.431.023        30.582.672    16.861.326
      13.   Jawa Timur                      88.077.360       153.817.800   189.132.234
      14.   Bali                            18.646.404        16.137.695    25.771.505
      15.   Nusa Tenggara Barat              2.705.129         3.981.564     9.736.208
      16.   Nusa Tenggara Timur                354.313           452.500     2.763.318
      17.   Kalimantan Barat                15.787.359        15.324.493    14.118.120
      18.   Kalimantan Tengah                1.616.795         1.659.954     9.705.900
      19.   Kalimantan Selatan               6.145.602         8.583.756    14.999.349
      20.   Kalimantan Timur                14.306.200        20.624.500    22.182.042
      21.   Sulawesi Utara                   4.121.368         4.096.442     3.755.343
      22.   Sulawesi Tengah                    974.015         1.329.577     4.173.306
      23.   Sulawesi Selatan                 1.890.100        15.327.835    23.888.400
      24.   Sulawesi Tenggara                  152.420           682.100       750.030
      25.   Maluku                                    -           36.130        51.363
      26.   Papua                            1.433.677           479.676     1.119.510
      27.   Bangka Belitung                           -          401.067     4.274.655
      28.   Banten                                    -       55.725.252     6.502.274
      29.   Gorontalo                                 -           53.775        80.783
      30.   Maluku Utara                              -           67.800        77.006
                    Indonesia              530.874.057       865.074.785   895.155.485

      Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2004.




      2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                           Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

     Lampiran 2.    Populasi ayam ras petelur menurut propinsi tahun 2000-2004
                                                                                 (ekor)
                                                               Tahun
      No.              Propinsi
                                               2000            2002          2004
       1.   Nanggroe Aceh Darussalam            245.592          47.350       124.702
       2.   Sumatera Utara                   15.723.936      14.128.403    13.826.970
       3.   Sumatera Barat                    3.210.126       4.590.555     4.790.079
       4.   Riau                                683.667         636.813       582.012
       5.   Jambi                               268.497         445.253       848.989
       6.   Sumatera Selatan                  3.000.000       5.595.000     3.057.000
       7.   Bengkulu                             29.100          57.061        38.505
       8.   Lampung                           3.116.304       2.051.600     1.907.802
       9.   DKI Jakarta                             500                -             -
      10.   Jawa Barat                       12.432.950       8.588.803    10.901.145
      11.   Jawa Tengah                       6.730.818       7.368.333     8.697.289
      12.   DI Yogyakarta                     1.142.601       1.418.533     1.448.289
      13.   Jawa Timur                       14.358.602      14.702.644    14.607.181
      14.   Bali                              1.567.321       2.001.287     2.886.229
      15.   Nusa Tenggara Barat                  53.605          90.128        95.186
      16.   Nusa Tenggara Timur                  50.000          79.297        80.154
      17.   Kalimantan Barat                  1.710.550       2.015.910     2.054.930
      18.   Kalimantan Tengah                    19.162          16.834        16.160
      19.   Kalimantan Selatan                  549.527       1.255.017     1.234.284
      20.   Kalimantan Timur                    324.910         901.900       600.270
      21.   Sulawesi Utara                      631.592         500.698       677.811
      22.   Sulawesi Tengah                     395.507         462.877       387.496
      23.   Sulawesi Selatan                  2.787.881       3.196.835     4.795.530
      24.   Sulawesi Tenggara                    13.205          20.617        16.930
      25.   Maluku                                     -         47.749        52.246
      26.   Papua                               320.053         110.151       198.278
      27.   Bangka Belitung                            -        353.441       567.210
      28.   Banten                                     -      7.198.822     5.960.477
      29.   Gorontalo                                  -        156.954       178.594
      30.   Maluku Utara                               -               -        1.326
                      Indonesia              69.366.006      78.038.865    80.633.497

     Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2004.




                                                                                    
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
               Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

      Lampiran 3.    Populasi ayam lokal menurut propinsi tahun 2000-2004
                                                                                 (ekor)
                                                                Tahun
       No.              Propinsi
                                                2000            2002          2004
       1.    Nanggroe Aceh Darussalam         16.192.682      17.721.490    19.355.128
       2.    Sumatera Utara                   20.532.960      22.222.545     2.465.146
       3.    Sumatera Barat                    7.510.267       7.784.059     5.316.493
       4.    Riau                              7.994.993       6.475.273     7.428.062
       5.    Jambi                             4.195.949       3.439.967     4.190.853
       6.    Sumatera Selatan                 16.500.000      13.375.000    19.297.000
       7.    Bengkulu                          2.919.951       3.325.250     3.023.744
       8.    Lampung                          13.300.148      15.178.000    14.728.000
       9.    DKI Jakarta                         150.212          91.666        49.150
       10.   Jawa Barat                       34.091.782      30.273.580    34.488.965
       11.   Jawa Tengah                      31.970.524      34.174.515    34.362.276
       12.   DI Yogyakarta                     5.105.777       5.113.816     5.102.889
       13.   Jawa Timur                       37.176.008      37.766.677    38.613.195
       14.   Bali                              5.055.649       4.201.350     4.056.487
       15.   Nusa Tenggara Barat               3.325.722       3.973.925     4.547.448
       16.   Nusa Tenggara Timur               9.153.997       9.636.927    10.223.816
       17.   Kalimantan Barat                  3.841.321       3.798.480     4.804.450
       18.   Kalimantan Tengah                 3.150.775       3.431.072     4.246.950
       19.   Kalimantan Selatan                4.648.037       6.435.933     7.953.017
       20.   Kalimantan Timur                  3.048.600       3.315.800     3.178.422
       21.   Sulawesi Utara                    2.709.843       2.060.290     1.932.477
       22.   Sulawesi Tengah                   1.219.590       1.369.134     1.421.351
       23.   Sulawesi Selatan                 15.617.718      19.082.148    19.447.080
       24.   Sulawesi Tenggara                 6.165.289       6.331.450     6.836.270
       25.   Maluku                            2.140.392       1.037.677     1.172.107
       26.   Papua                             1.538.411       1.618.836     1.688.466
       27.   Bangka Belitung                            -      2.196.127     1.929.179
       28.   Banten                                     -      8.304.999     8.151.825
       29.   Gorontalo                                  -        803.319       836.296
       30.   Maluku Utara                               -        752.568     1.000.299
             Indonesia                       259.256.597     275.291.873   271.846.841

      Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2004.




      
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                           Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

     Lampiran 4.    Produksi telur ayam lokal menurut propinsi tahun 2000-2004
                                                                                (ton)
                                                                   Tahun
      No.               Propinsi
                                                  2000             2002      2004
      1.     Nanggroe Aceh Darussalam                6.801           7.443    12.194
      2.     Sumatera Utara                         16.129          17.456    18.893
      3.     Sumatera Barat                          3.239           3.269     3.349
      4.     Riau                                    4.811           3.108     3.565
      5.     Jambi                                   1.678           1.312     1.488
      6.     Sumatera Selatan                        9.792           4.988     5.302
      7.     Bengkulu                                1.160           1.260       414
      8.     Lampung                                 6.983          13.436    12.102
      9.     DKI Jakarta                                71              37        20
      10.    Jawa Barat                             20.908          18.566    27.232
      11.    Jawa Tengah                            22.570          27.124    29.228
      12.    DI Yogyakarta                           2.679           2.625     3.005
      13.    Jawa Timur                             15.614          20.640    29.345
      14.    Bali                                       35           2.891     2.002
      15.    Nusa Tenggara Barat                     1.257           1.669     1.910
      16.    Nusa Tenggara Timur                     3.891           4.101     4.351
      17.    Kalimantan Barat                        2.021           2.590     2.769
      18.    Kalimantan Tengah                       1.034           1.702     2.371
      19.    Kalimantan Selatan                      2.649           4.512     5.532
      20.    Kalimantan Timur                        2.056           2.139     2.327
      21.    Sulawesi Utara                          1.783           1.471     1.380
      22.    Sulawesi Tengah                           512             575       597
      23.    Sulawesi Selatan                        6.559           8.541     8.751
      24.    Sulawesi Tenggara                       3.118           3.188     3.294
      25.    Maluku                                    990              14       492
      26.    Papua                                     615             770       907
      27.    Bangka Belitung                              -            744     1.229
      28.    Banten                                       -          5.088     6.504
      29.    Gorontalo                                    -             23         3
      30.    Maluku Utara                                 -            409       424
                        Indonesia                  139.023         161.691   191.008

     Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2004.




                                                                                  
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
               Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

      Lampiran 5.    Produksi daging ayam lokal menurut propinsi tahun 2000-2004
                                                                                  (ton)
                                                                    Tahun
       No.                Propinsi
                                                    2000            2002      2004
       1.     Nanggroe Aceh Darussalam               10.549          12.382    13.676
       2.     Sumatera Utara                         22.860          24.741    25.138
       3.     Sumatera Barat                          8.022           8.348     6.141
       4.     Riau                                    9.772           6.750     8.932
       5.     Jambi                                   4.451           1.756     3.228
       6.     Sumatera Selatan                       20.328          18.914    21.695
       7.     Bengkulu                                4.098           7.896     1.441
       8.     Lampung                                20.899          23.403    24.448
       9.     DKI Jakarta                               216           3.180     4.355
       10.    Jawa Barat                             31.558          28.024    33.568
       11.    Jawa Tengah                            34.476          36.851    39.151
       12.    DI Yogyakarta                           5.475           6.483     7.603
       13.    Jawa Timur                             42.651          47.662    60.673
       14.    Bali                                    5.536           4.600     4.426
       15.    Nusa Tenggara Barat                     1.892           2.617     2.999
       16.    Nusa Tenggara Timur                     6.408           9.107     9.662
       17.    Kalimantan Barat                        3.596           3.703     5.744
       18.    Kalimantan Tengah                       2.289           1.310     2.998
       19.    Kalimantan Selatan                      3.858           3.024     3.327
       20.    Kalimantan Timur                        3.272           3.404     3.703
       21.    Sulawesi Utara                          2.967           2.375     2.367
       22.    Sulawesi Tengah                         1.328           1.499     1.556
       23.    Sulawesi Selatan                        8.121           9.923     9.879
       24.    Sulawesi Tenggara                       6.801           6.609     6.853
       25.    Maluku                                  2.804             868     1.291
       26.    Papua                                     979           1.210     1.389
       27.    Bangka Belitung                              -          1.667     1.655
       28.    Banten                                       -          9.503     4.354
       29.    Gorontalo                                    -            381       465
       30.    Maluku Utara                                 -            150     1.777

              Indonesia                             265.206         288.340   314.494
      Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2004.




      
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                           Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

     Lampiran 6.    Populasi itik menurut propinsi tahun 2000-2004
                                                                               (ekor)
                                                              Tahun
      No.             Propinsi
                                              2000             2002         2004
       1.   Nanggroe Aceh Darussalam         3.314.103        3.358.861    3.439.278
       2.   Sumatera Utara                   2.223.951        2.250.717    2.277.806
       3.   Sumatera Barat                   1.711.790        1.795.425      778.717
       4.   Riau                               401.744          359.975      489.505
       5.   Jambi                              628.169          496.798      900.933
       6.   Sumatera Selatan                 2.198.000        2.063.000    2.419.000
       7.   Bengkulu                           225.650          256.786      176.551
       8.   Lampung                            559.827          515.927      641.427
       9.   DKI Jakarta                        140.144           57.203       43.320
      10.   Jawa Barat                       4.204.705        4.293.637    5.076.577
      11.   Jawa Tengah                      3.661.805        4.023.358    4.320.806
      12.   DI Yogyakarta                      227.476          211.590      220.738
      13.   Jawa Timur                       2.311.665       14.702.644    2.388.627
      14.   Bali                               616.460          924.749    1.047.222
      15.   Nusa Tenggara Barat                490.958          566.204      499.863
      16.   Nusa Tenggara Timur                191.653          210.291      233.321
      17.   Kalimantan Barat                   283.240          301.911      322.485
      18.   Kalimantan Tengah                  150.350          114.122      232.230
      19.   Kalimantan Selatan               2.316.779        2.611.321    3.272.537
      20.   Kalimantan Timur                   241.500          376.800      388.926
      21.   Sulawesi Utara                     106.264           57.386       65.860
      22.   Sulawesi Tengah                    151.285          204.601      210.472
      23.   Sulawesi Selatan                 2.243.335        4.113.486    4.123.070
      24.   Sulawesi Tenggara                  223.020          225.818      285.590
      25.   Maluku                             122.000           66.323       96.003
      26.   Papua                              116.449          163.796      258.120
      27.   Bangka Belitung                           -         175.592      174.612
      28.   Banten                                    -       1.379.820    1.023.978
      29.   Gorontalo                                 -          69.361       93.768
      30.   Maluku Utara                              -          53.380       27.501
                      Indonesia             29.035.322       46.000.882   35.528.843

     Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2004.




                                                                                  7
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
               Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

      Lampiran 7. Produksi telur itik menurut propinsi tahun 2000-2004
                                                                                   (ton)
                                                                     Tahun
       No.                Propinsi
                                                    2000             2002      2004
       1.    Nanggroe Aceh Darussalam                15.510           15.719    19.398
       2.    Sumatera Utara                          10.598           10.726    10.855
       3.    Sumatera Barat                           8.269            8.403     4.392
       4.    Riau                                     1.417            2.268     2.555
       5.    Jambi                                    2.928            2.057     2.581
       6.    Sumatera Selatan                        10.845            8.938     9.500
       7.    Bengkulu                                   859              936       213
       8.    Lampung                                  2.838            3.270     4.025
       9.    DKI Jakarta                                971              458       347
       10.   Jawa Barat                              27.492           28.073    37.447
       11.   Jawa Tengah                             15.974           15.919    17.202
       12.   DI Yogyakarta                            1.061              961     1.175
       13.   Jawa Timur                              10.819           16.384    17.004
       14.   Bali                                     3.000            4.974     5.463
       15.   Nusa Tenggara Barat                      2.068            2.649     2.339
       16.   Nusa Tenggara Timur                        901              991     1.100
       17.   Kalimantan Barat                         1.400            1.485     1.594
       18.   Kalimantan Tengah                          497              523       575
       19.   Kalimantan Selatan                      11.260           13.407    20.105
       20.   Kalimantan Timur                         1.238            1.434     2.082
       21.   Sulawesi Utara                             580              356       409
       22.   Sulawesi Tengah                            708              958       985
       23.   Sulawesi Selatan                        10.449           19.680    22.153
       24.   Sulawesi Tenggara                        1.540            1.540     1.371
       25.   Maluku                                     590               20       349
       26.   Papua                                      494              630       655
       27.   Bangka Belitung                               -             130       912
       28.   Banten                                        -           6.638     7.011
       29.   Gorontalo                                     -              67        76
       30.   Maluku Utara                                  -              57       130
                         Indonesia                  144.305          169.651   194.003

      Sumber : Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2004.




      
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                           Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

     Lampiran 8. Produksi daging itik menurut propinsi tahun 2000-2004
                                                                                 (ton)
                                                                   Tahun
      No.                Propinsi
                                                   2000            2002       2004
       1.    Nanggroe Aceh Darussalam                1.607           1.630      2.004
       2.    Sumatera Utara                          1.133           1.146      1.160
       3.    Sumatera Barat                            707             741        428
       4.    Riau                                      198             277        259
       5.    Jambi                                     294             170        331
       6.    Sumatera Selatan                          426             688        789
       7.    Bengkulu                                   63              72        139
       8.    Lampung                                   121             138         96
       9.    DKI Jakarta                                58           4.032      4.307
      10.    Jawa Barat                              2.634           2.689      3.180
      11.    Jawa Tengah                             2.535           4.044      3.049
      12.    DI Yogyakarta                              93             135        206
      13.    Jawa Timur                              1.194           1.170      1.349
      14.    Bali                                      256             384        410
      15.    Nusa Tenggara Barat                       133             228        405
      16.    Nusa Tenggara Timur                       134              66         74
      17.    Kalimantan Barat                          142             141        155
      18.    Kalimantan Tengah                          77              73         84
      19.    Kalimantan Selatan                        506             673        762
      20.    Kalimantan Timur                          107             110        159
      21.    Sulawesi Utara                             52              30         34
      22.    Sulawesi Tengah                            75             122        125
      23.    Sulawesi Selatan                        1.010           1.851      2.259
      24.    Sulawesi Tenggara                         134              95        126
      25.    Maluku                                     67                -        39
      26.    Papua                                      40              71         97
      27.    Bangka Belitung                              -            137         60
      28.    Banten                                       -            862        229
      29.    Gorontalo                                    -              4          4
      30.    Maluku Utara                                 -               -        15

                        Indonesia                   13.794          21.779    22.334

     Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2004.




                                                                                   
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
               Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

      Lampiran 9. Analisis usaha pemeliharaan ayam pedaging mandiri

      No                          Uraian                              Total
       Jumlah d.o.c (ekor)                                                    15.000
       Mortalitas (6%)                                                           900
       Jumlah ayam panen (ekor)                                               14.100
       Lama pemeliharaan (hari)                                                   40
       Rata-rata bobot badan saat panen (kg/ekor)                               1,77
       Total bobot badan saat panen (kg)                                      24.957
       FCR                                                                      1,72

         I Investasi:
               Lahan 0,5 ha @ Rp 50 Juta/ha                       25.000.000,00
               Kandang, gudang, peralatan 16 unit @ Rp 15 juta   240.000.000,00
           Total investasi                                       265.000.000,00
        II Biaya tetap:
               Penyusutan kandang, bangunan dan peralatan 10%         4.000.000,00
               per tahun
               Pemeliharaan/perbaikan 1% per tahun dari total          441.670,00
               investasi
               Gaji pegawai 3 orang @ Rp 1,2 juta/periode             3.600.000,00
           Total biaya tetap                                          8.041.670,00
       III Biaya tidak tetap:
               Pembelian d.o.c. @ Rp 2,250,-/ekor                 33.750.000,00
               Pakan starter @ Rp 2,600,-/kg                      49.140.000,00
               Pakan finisher@ Rp 2,500,-/kg                      57.750.000,00
               Obat-obatan dan vaksin: @ Rp 250,-/ekor             3.750.000,00
               Listrik, sekam, bahan bakar @ Rp 650,-/ekor         9.750.000,00
           Total biaya tidak tetap                               154.140.000,00
           Total biaya tetap dan tidak tetap                     162.181.670,00

       IV Penerimaan:
              Penjualan ayam @ Rp 7,500,-/kg                     187.177.500,00
              Penjualan pupuk @ Rp 2,000,-/kg                        360.000,00
              Penjualan karung pakan @ Rp 500,-/buah                 420.000,00
          Total penerimaan                                       189.957.500,00

           Pendapatan                                             25.775.830,00
           B/C                                                             1,16




      0
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                             Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

     Lampiran 10. Analisis usaha ayam pedaging pola inti-plasma

      No                               Uraian                      Total
             Jumlah d.o.c. (ekor)                                          15.000
             Mortalitas (3,2%)                                                450
             Jumlah ayam panen (ekor)                                      14.550
             Lama pemeliharaan (hari)                                          35
             Rata-rata bobot badan saat panen (kg/ekor)                      1,56
             Total bobot badan saat panen (kg)                             22.698
             FCR                                                             1,65

        I    Modal kerja:
             Kredit dari Inti:
                    d.o.c @ Rp 2.474,-/ekor                      37.110.000,00
                    Pakan starter @ Rp 2.500,-/kg                28.088.775,00
                    Pakan finisher @ Rp 2.400,-/kg               62.918.856,00
                    Obat-obatan @ Rp 120,-/ekor                   1.800.000,00
             Total modal kerja                                  129.917.631,00
        II   Biaya operasional:
                    Gas/brooder @ Rp.40,-/ekor                      600.000,00
                    Sekam @ Rp 25,-/ekor                            375.000,00
                    Listrik @ Rp 15,-/ekor                          225.000,00
                    Tenaga kerja @ Rp 125,-/ekor                  1.875.000,00
                    Penyusutan kandang dan alat                     280.000,00
             Total biaya operasional                              3.355.000,00
             Total modal Kerja dan biaya produksi               133.272.631,00

       III   Penerimaan:
                    Penjualan ayam @ Rp 7.500,-/kg              170.235.000,00
                    Penjualan pupuk                                 548.000,00
             Total Penerimaan                                   170.783.000,00

             Pendapatan                                          37.510.369,00
             B/C                                                             1,28




                                                                                    
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
              Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

      Lampiran 11. Analisis usaha ayam pedaging pola poultry shop

      No                             Uraian                         Total
           Jumlah d.o.c.                                                15.000
           Mortalitas (4,7%)                                               705
           Jumlah ayam panen (ekor)                                     14.295
           Lama pemeliharaan (hari)                                         35
           Rata-rata bobot badan saat panen (kg/ekor)                       1,5
           Total bobot badan saat panen (kg)                           21.442,5
           FCR                                                              1,7

       I Modal kerja:
         Kredit dari Poultry Shop:
                  d.o.c. @ Rp 2.500,-/ekor                       37.500.000,00
                  Pakan starter @ Rp 2.525,-/kg                  27.612.579,38
                  Pakan finisher @ Rp2.425,-/kg                  61.877.694,38
                  Obat-obatan @ Rp100,-/ekor                      1.500.000,00
          Total modal kerja:                                    128.490.273,75
       II Biaya operasional:
                   Gas/brooder @ Rp 40,-/ekor                       600.000,00
                   Sekam @ Rp 25,-/ekor                             375.000,00
                    Listrik @ Rp 15,-/ekor                          225.000,00
                    Tenaga kerja @ Rp 100,-/ekor                  1.500.000,00
                     Penyusutan kandang dan alat                    250.000,00
           Total biaya operasional                                2.950.000,00
           Total modal kerja dan biaya produksi                 131.440.273,75

       III Penerimaan:
            - Penjualan ayam: @ Rp 7.500,-/kg                   164.035.125,00
            - Penjualan pupuk                                       578.000,00
           Total penerimaan                                     164.613.125,00

           Pendapatan                                            33.172.851,25
           B/C                                                            1,25




     2
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                             Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


     Lampiran 12. Analisis usaha pemeliharaan ayam layer mandiri

      No                             Uraian                                Total
       Skala usaha (ekor)                                                      10.000
       Umur ayam pullet (minggu)                                                   16
       Kebutuhan pakan (gram/ekor/hari)                                           115
       Tingkat produksi telur (%)                                                  78
       Populasi ayam petelur produktif                                             93
       Berat telur (gram/butir)                                                  62,5
       Mortalitas dan ayam afkir (%)                                                7
       Umur masa aktif produksi (minggu)                                        20-90
       Siklus produksi (bulan)                                                   16,5
        I    Investasi
                 Lahan 0,4 Ha, @ Rp 50 juta                             20.000.000,00
                 Kandang, gudang 3,4m x 30m dan peralatan 20
                 unit, @ Rp 20 Juta                                    400.000.000,00
                 Ayam pullet, @ Rp 26.000                              260.000.000,00
              Total investasi                                          680.000.000,00
       II    Biaya tetap
                 Penyusutan kandang dan peralatan, 10% per
                 tahun                                                  40.000.000,00
                 Penyusutan pullet @ Rp 14.000/ekor                    130.200.000,00
                 Pemeliharaan/perbaikan 1% per tahun dari investasi      6.800.000,00
                 Gaji karyawan, @ Rp 600.000/orang/bulan                59.400.000,00
                 Total biaya tetap                                     236.400.000,00
       III   Biaya tidak tetap
                 Pakan/konsentrat, @ Rp 1.800/kg                      1.072.260.000,00
                 Obat-obatan dan vaksin, @ Rp 1.000/ekor                 10.000.000,00
                 Listrik, bahan bakar, @ Rp 500/ekor                      5.000.000,00
              Total biaya tidak tetap                                 1.087.260.000,00
             Total biaya tetap dan tidak tetap                        1.323.660.000,00
       IV    Penerimaan
                  Penjualan telur,@ Rp 6.800/kg                       1.596.968.100,00
                  Penjualan ayam afkir, @ Rp 12.000/ekor                111.600.000,00
             Total penerimaan                                         1.708.568.100,00

             Pendapatan                                                384.908.100,00
             B/C                                                                 1,29




                                                                                         
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
             Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas

      Lampiran 13. Analisis usaha pemeliharaan ayam layer kemitraan dengan
                   poultry shop

       No                        Uraian                        Total
       Skala usaha (ekor)                                          10.000
       Tingkat produksi telur (%)                                      75
       Populasi ayam petelur produktif (%)                             93
       Berat telur (gram/butir)                                      62,5
       Mortalitas pra produksi (8,9%)                                  8,9
       Mortalitas saat produksi (%)                                    4,4
       Umur bertelur (bulan)                                         4,75
       Umur afkir (bulan)                                              20
         I Modal kerja
            Kredit dari Inti:
               d.o.c.@ Rp 5.000/ekor                         50.000.000,00
               Pakan starter @ Rp 1.900/kg                   55.860.000,00
               Pakan grower @ Rp 1.950/kg                   709.800.000,00
               Pakan finisher @ Rp 1.800/kg                 231.840.000,00
               Obat-obatan dan vaksin. @ Rp 240/ekor          2.400.000,00
             Total modal kerja                            1.049.900.000,00
        II Biaya operasional
               Listrik @ Rp 150/ekor                          1.500.000,00
               Sekam @ Rp 50/ekor                               500.000,00
               Bahan bakar @ Rp 50/ekor                         500.000,00
               Tenaga kerja @ Rp 500.000/bulan               48.000.000,00
               Penyusutan kandang dan alat                   20.000.000,00
             Total biaya operasional                         70.500.000,00
            Total modal kerja dan biaya operasional       1.120.400.000,00
       III Penerimaan
               Penjualan telur.@ Rp7.200/kg               1.161.993.498,75
               Penjualan ayam afkir. @ Rp 12.000/ekor       104.040.000,00
             Total penerimaan                             1.266.033.498,75
            Pendapatan                                      145.633.498,75
            B/C                                                       1,13




     
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                            Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


     Lampiran 14. Analisis usaha pemeliharaan ayam lokal penghasil
                  daging


      No                           Uraian                          Total

       Skala usaha (ekor)                                                  1.000
       Siklus produksi (bulan)                                                 4
       Konsumsi pakan (gram/ekor/hari)                                       100
       Kandang (ekor/m2)                                                      10
       Mortalitas (8%)                                                         8

        I    Investasi
               Kandang @ Rp 10.000/m2                            1.000.000,00
               Ayam (d.o.c)@ Rp 3.000/ekor                       3.000.000,00
               Peralatan. @ Rp 10.000/10 ekor                    1.000.000,00
             Total investasi                                     5.000.000,00
       II    Biaya tetap
               Penyusutan:
               Kandang. 10% per tahun                               33.333,33
               Peralatan 20% per tahun                              66.666,67
               Pemeliharaan/perbaikan 1% per tahun dari total
               investasi                                            16.666,67
               Gaji pegawai. @ Rp. 250.000/2 bulan                 500.000,00
             Total biaya tetap                                     616.666,67
       III   Biaya tidak tetap
               Pakan @ Rp 1.400/kg                              16.800.000,00
               Obat-obatan @ Rp 100/ekor                           100.000,00
               Listrik dan air @ Rp 100/ekor                       100.000,00
             Total biaya tidak tetap                            17.000.000,00
             Total biaya tetap dan tidak tetap                  17.616.666,67
       IV    Penerimaan
               Penjualan ayam @ Rp 20.000/ekor                  18.400.000,00
             Total penerimaan                                   18.400.000,00
             Pendapatan                                            783.333,33
             B/C                                                         1,04




                                                                                   
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
             Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


      Lampiran 15. Analisis usaha pemeliharaan itik

       No                         Uraian                              Total
       Skala usaha (ekor)                                                     1.000
       Tingkat produksi telur (%)                                                60
       Siklus produksi (bulan)                                                   12
       Lahan kandang (ekor/m2)                                                     2
       Konsumsi pakan (gram/ekor/hari)                                          160
       Kandang (ekor/m2)                                                           3
       FCR                                                                       3.5
       Bobot telur/butir (gram)                                                  70
       Mortalitas (%)                                                            6.3
         I Investasi
                 Itik @ Rp 22.000/ekor                             22.000.000,00
                 Lahan 500 m2; @ Rp 30.000/m2                      15.000.000,00
                 Kandang 300 m2; @ Rp 25.000/m2                     7.500.000,00
                 Peralatan @ Rp 400/ekor                              400.000,00
            Total investasi                                        44.900.000,00
        II Biaya tetap
                 Penyusutan:
                 Kandang 10% per tahun                               750.000,00
                 Peralatan 20% per tahun                              80.000,00
                 Pemeliharaan/perbaikan 1% per tahun dari total
                 investasi                                            449.000,00
            Total biaya tetap                                       1.279.000,00
       III Biaya tidak tetap
                 Pakan/konsentrat @ Rp 1.800/kg                   105.120.000,00
                 Obat-obatan dan vaksin @ Rp 100/ekor                 100.000,00
                 Tenaga kerja @ Rp 250.000/bulan                    3.000.000,00
                 Listrik. sekam. bahan bakar @ Rp 300/ekor            300.000,00
            Total biaya tidak tetap                               108.520.000,00
            Total biaya tetap dan tidak tetap                     109.799.000,00
       IV Penerimaan
                 Penjualan telur @ Rp 550/butir                   120.450.000,00
                 Penjualan itik afkir @ Rp 12.000/ekor             11.244.000,00
                 Total penerimaan                                 131.694.000,00
            Pendapatan                                             21.895.000,00
            B/C                                                             1,20




     
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
                         Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


      Lampiran 16. Rata-rata harga ayam pedaging dan telur nasional di
                   tingkat peternak tahun 2004 (Rp/kg)

               Bulan                  Ayam Pedaging               Telur
          Januari                         7.527                   6.061
          Februari                        4.328                   6.663
          Maret                           5.039                   5.310
          April                           7.352                   5.993
          Mei                             8.599                   6.313
          Juni                            8.239                   6.891
          Juli                            8.930                   7.184
          Agustus                         7.672                   6.659
          September                       6.441                   5.968
          Oktober                         8.616                   6.368
          November                        8.161                   6.955
          Desember                        7.693                   7.219
      Sumber: Pinsar Unggas Nasional (2004)




                                                                           7
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
             Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Unggas


     Lampiran 17. Harga daging ayam ras, telur ayam ras, telur ayam lokal
                  dan telur itik tahun 2002

                                  Daging    Telur   Telur ayam
     No.          Propinsi                                      Telur itik
                                 ayam ras ayam ras     buras
       1 Nanggroe Aceh Darussalam 14.604     7.333       1.000       925
       2 Sumatera Utara            11.375    6.658       1.000       800
       3 Sumatera Barat            11.375    6.416         740       700
       4 Riau                      10.583    6.733       1.000       900
       5 Jambi                     12.138    7.520         975       878
       6 Sumatera Selatan          11.872    6.569         923       815
       7 Bengkulu                        -        -           -           -
       8 Lampung                   12.800    6.796         858       692
       9 D.K.I Jakarta                   -        -           -           -
      10 Jawa Barat                      -        -           -           -
      11 Jawa Tengah               12.167    7.083         733       767
      12 D.I. Yogyakarta                 -        -           -           -
      13 Jawa Timur                11.516    7.176         679       664
      14 Bali                      40.313    7.104         733       787
      15 Nusa Tenggara Barat       13.300    8.400         780       730
      16 Nusa tenggara Timur       14.000    9.000       1.000            -
      17 Kalimantan Barat          12.389    8.368       1.000     1.000
      18 Kalimantan Tengah         12.900 10.080           900       890
      19 Kalimantan Selatan        12.500    8.044       1.002       955
      20 Kalimantan Timur          13.833    8.044         700       725
      21 Sulawesi Utara            12.188    9.680       1.500     1.000
      22 Sulawesi Tengah           13.583    9.333       1.000       927
      23 Sulawesi Selatan          12.292    7.950         825       800
      24 Sulawesi Tenggara               -   9.280         900       840
      25 Maluku                          -        -           -           -
      26 Papua                     23.981 15.200         2.500     1.306
      27 Bangka Belitung           12.979    8.796         792       950
      28 Banten                          -        -           -           -
      29 Gorontalo                       -        -           -           -
      30 Maluku Utara                    -        -           -           -
         Total                     15.134    8.313          979       860




     
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1765
posted:12/5/2010
language:Indonesian
pages:50