; Penyakit sistemik _Jadi_
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Penyakit sistemik _Jadi_

VIEWS: 4,940 PAGES: 17

  • pg 1
									          EKSODONSI PADA PENDERITA DENGAN PENYAKIT SISTEMIK


       Pada tindakan ekstraksi gigi, pertama-tama operator harus memastikan keadaan umum
pasien, siap atau tidak untuk dilakukan tindakan. Kesiapan itu, dapat dinilai dari keadaan psikis
(tegang, takut, atau biasa), keadaan sistemik (terkontrol atau tidak), riwayat penyakit, dan juga
riwayat pengobatan.
       Pemeriksaan awal tersebut, sangat menentukan tingkat keberhasilan perawatan. Karena
kondisi pasien yang tidak normal, akan dapat mempersulit tindakan eksodonsi. Salah satunya
adalah adanya kelainan sistemik yang tidak terkontrol, maka dapat memici timbulnya komplikas
perioperatif maupun pasca operatif. Beberapa penyakit sistemik yang dapat menjadi penyulit
dalam tindakan eksodonsia, antara lain:
  1. Hipertensi
  2. Diabetes Mellitus
  3. Penyakit Kardivaskular
  4. Hipertiroidisme
  5. Gagal Ginjal Kronis
  6. Penyakit Hati Kronis
  7. Asma


1. HIPERTENSI
   Definisi:
            Hipertensi juga disebut sebagai tekanan darah tinggi (HTN atau HPN) adalah suatu
     kondisi medis di mana tekanan darah tinggi yang berkesinambungan atau menurut JNC-7
     (Joint National Comitte) hipertensi adalah kenaikan tekanan darah arteri yang tetap, yang
     mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke
     jaringan tubuh yang membutuhkan.
            Dalam penggunaan saat ini, kata "hipertensi" biasanya merujuk ke sistemik
     (hipertensi arterial). Sedangkan jenis lain adalah pulmonary hipertensi yang melibatkan
     sirkulasi paru-paru.



                                                                                               1
  Klasifikasi Tekanan Darah Dewasa
                   Klasifikasi                 SISTOL (mmHg)            DIASTOL (mmHg)
     Normal                                        < 130                        < 85
     Normal Tinggi                                130-139                       85-89
     Stadium 1 (Hipertensi ringan)                140-159                       90-99
     Stadium 2 (Hipertensi sedang)                160-179                      100-109
     Stadium 3 (Hipertensi berat)                 180-209                      110-119
     Stadium 4 (Hipertensi maligna)                ≥ 210                        ≥120

 Patofisiologi:
   a. Hipertensi       esensial   (Hipetensi    primer)      bersifat   idiopatik   yang     belum
        jelaspenyebabnya. Dipengaruhi usia, kelamin, merokok, kolesterol, berat badan.
   b. Hipertensi sekunder. Dipengaruhi oleh obat, penyakit ginjal, penyakit endokrin
        (diabetes melitus, tiroid, Cushing).
 Gejala dan Tanda-tanda Klinis:
         Biasanya tanpa menimbulkan gejala (asimtomatik). Namun biasanya disertai
  beberapa tanda-tanda klinis, yaitu: pusing prosimal, berkeringat, takikardia, palpitasi.
  Adapun tanda-tanda fisik yang terlihat, diantaranya adalah:
    •    Gelisah                                   •      Mudah lelah
    •    Mudah marah                               •      Mimisan
    •    Wajah kemerahan                           •      Telinga berdengung
    •    Lambat                                    •      Mata berkunang-kunang
    •    Obesitas                                  •      Pembesaran ginggiva dan xerostomia
    •    Sering tremor                                    (karena konsumsi obat antihipertensi)
    •    Sukar tidur
 Diagnosa:
  Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan:
  a. Anamnesa
  b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis
                                                                                                  2
  c. Pemeriksaan tekanan darah (sesuai dengan table diatas)
 Terapi:
  Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:2
  1. Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :
     a. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh
     b. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh. Nasehat pengurangan garam, harus
       memperhatikan kebiasaan makan penderita. Pengurangan asupan garam secara
       drastis akan sulit dilaksanakan. Cara pengobatan ini hendaknya tidak dipakai sebagai
       pengobatan tunggal, tetapi lebih baik digunakan sebagai pelengkap pada pengobatan
       farmakologis.
     c. Ciptakan keadaan rileks. Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis
       dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
     d. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit
       sebanyak 3-4 kali seminggu.
     e. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol
  2. Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)
      Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar
  saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter.
     a. Diuretik
       Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat
       kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya
       pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid.
     b. Penghambat Simpatetik
       Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang
       bekerja pada saat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin
       dan Reserpin.
     c. Betabloker. Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya
       pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui
       mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial. Contoh obatnya adalah :
       Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus harus hati-

                                                                                           3
       hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam
       darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya).
       Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan)
       sehingga pemberian obat harus hati-hati.
    d. Vasodilator
       Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos
       (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin,
       Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini
       adalah : sakit kepala dan pusing.
    e. Penghambat ensim konversi Angiotensin
       Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II
       (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang
       termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang mungkin timbul adalah :
       batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.
    f. Antagonis kalsium
       Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat
       kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah :
       Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul adalah :
       sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.
    g. Penghambat Reseptor Angiotensin II
       Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada
       reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang
       termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang
       mungkin timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan mual.
      Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko
  terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.
 Masalah:
  Pada pasien yang hipertensi beresiko terjadi:
  a. Perdarahan dan thrombosis



                                                                                       4
    b. Resiko terjadinya injeksi intravascular dan adrenalin pada obat anastesi lokal masuk ke
        dalam pembuluh darah, sehingga dapat menyebabkan takikardi, stroke volume
        meningkat, sehingga tekanan darah menjadi tinggi.
   Penatalaksanaan:
     Penggunaan anastesi lokal yang mengandung adrenalin perlu dipertimbangkan, juga
       pemberian obat-obatan dari golongan NSAID.
     Pemberian sedatif berupa N20 sebelum perawatan hanya bila diperlukan (sebagai
       kontrol kecemasan).
     Untuk pasien hipertensi pada tingkat normal tinggi, masih bisa dilakukan pemberian
       anastesi lokal yang mengandung vasokontriktor (adrenalin) dengan perbandingan
       1:200000. Atau bisa juga dilakukan pengenceran pehakain dengan mencampur 1ml
       pehakain 2% dengan 1ml lidocain 2% murni.
     Hindari waktu perawatan pada jam-jam sibuk dan cuaca yang tidak mendukung.
     Bila diperlukan perawatan gigi sebaiknya dikonsultasikan segera dan perawatan bedah
       dilakukan dalam kerja tim.


2. DIABETES MELLITUS
   Definisi:
          Diabetes mellitus yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang
    ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan
    bervariasi, terutama setelah makan. Semua jenis diabetes mellitus memiliki gejala yang
    mirip dan komplikasi pada tingkat lanjut. Hiperglikemia sendiri dapat menyebabkan
    dehidrasi dan ketoasidosis.
   Klasifikasi:
    1. DM Tipe 1 :
       Defisiensi Insulin absolute akibat dekstruksi sel beta pankreas. Penyebabnya bisa karena
       autoimmune dan juga idiopatik.




                                                                                             5
  2. DM Tipe 2 :
     Defisiensi insulin relatif. Disebabkan karena defek sekresi insulin lebih dominan
     daripada resistensi insulin dan resistensi insulin lebih dominan daripada defek sekresi
     insulin. Dibedakan menjadi tipe gemuk dan tidak gemuk.
 Gejala:
  Gejala khas dari penderita diabetes mellitus, adalah:
     Poliuria (sering buang air kecil)
     Polidipsi
     Polifagia
     BB menurun cepat tanpa penyebab yang jelas
  Sedangkan gejala yang tidak khas dari penderita diabetes mellitus, adalah:
     Kesemutan
     Gatal di daerah genital
     Infeksi yang sulit sembuh
     Bisul yang hilang timbul
     Penglihatan kabur
     Cepat lelah
     Mudah mengantuk, dll
 Tanda-tanda Klinis:
  Manifestasi rongga mulut pada penderita diabetes antara lain:
   Penyakit gusi yang semakin luas               Periodontitis, kehilangan gigi, luka sulit
   Gingivitis                                      sembuh
   Kandidiasis                                   Infeksi dan penyakit mulut gigi
   Lichen planus                                 Karies
   Ulserasi mukosa                               Sakit pada lidah
   Cheilosis angularis                           Mulut kering/xerostomia
   Penyakit periodontal progresif                Mulut terasa terbakar
                                                  Disfungsi pada pengecapan



                                                                                                6
 Diagnosa:
  Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan:
   a. Anamnesa
   b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis
   c. Pemeriksaan kadar gula darah:
            Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl
            Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl
 Terapi:
         Diet rendah gula
         Pemberian Insulin
         Obat Anti-diabetes, seperti: Tolbutamid, chlorpropamide, tolazamid, glipizid, dan
          glibenklamid.
 Masalah:
  a. Hilangnya pengendalian metabolik. Dapat disebabkan karena stress, obat anastesi lokal
        (terutama yang mengandung adrenalin atau vasokonstriktor lainnya), dan krisis
        hipoglikemik.
  b. Meningkatnya kemungkinan terjadinya infeksi. Disebabkan oleh terganggunya produksi
        antibodi yang diakibatkan oleh kurangnya glikogen, imunitas selular dan hormonal
        penderita diabetes mellitus menurun, fungsi leukosit terganggu dan kadar gula dalam
        darah tinggi.
  c. Pembekuan darah pada penderita diabetes mellitus, baik yang tipe 1 maupun tipe 2,
        sedikit terganggu. Artinya cloating time penderita tidak seperti orang non diabetes.
  d. Kecenderungan perdarahan yang meningkat. Hal tersebut berhubungan dengan vasopati
        dan infeksi yang sering kambuh pada mukosa mulut. Perdarahan selama dan setelah
        tindakan eksodonsi biasanya dapat dikendalikan melalui perawatan lokal.
  e. Salah satu komplikasi akut diabetes mellitus adalah koma hiperosmoler non ketotik.
        Penyakit ini disebabkan tingginya kadar gula darah melebihi 600 mg% yang
        mengakibatkan pasien mudah shock.
 Penatalaksanaan:
   Informasi riwayat kasus yang menyeluruh (anamnesa).

                                                                                               7
    Pemeriksaan kadar gula sebelum dan sesudah tindakan.
    Dilakukan penambahan insulin guna mencegah terjadinya shock.
    Anastesi lokal tanpa penambahan bahan vasokonstriktor. Karena adrenalin dapat
      meningkatkan kadar glukosa darah.
    Pada tindakan pembedahan, terdapat sedikit perbedaan antara penderita diabetes
      mellitus tipe 1 dan tipe 2. Pada penderita diabetes mellitus tipe 1, sebelum dilakukan
      pembedahan harus dilakukan terapi insulin, dengan memberikan suntikan insulin karena
      jumlah insulinnya tidak mencukupi kebutuhan. Sedangkan pada tipe 2, tidak perlu
      diberikan suntikan insulin.
    Teknik operasi konservatif dan drainasi luka, misalnya pemberian tampon selam 30
      menit setelah ekstraksi gigi.
    Mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi iatrogenik, gangguan lipid darah,
      peningkatan tekanan darah, hiperkoagulasi darah.
    Kemungkinan pemberian profilaksis antibiotik.
    Tindakan pencabutan atau operasi sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan setelah
      makan, karena pada waktu itu keadaan metabolic relatif stabil.


3. PENYAKIT KARDIOVASKULAR
  Definisi:
         Penyakit kardiovaskular adalah penyakit sistemik yang melibatkan jantung dan
   pembuluh darah. Ada banyak penyebab penyakit kardiovaskular, antara lain: faktor
   keturunan, penyakit infeksi, gaya hidup yang tidak sehat, suka merokok, dan berbagai
   faktor resiko lainnya. Kadang-kadang, tindakan perawatan gigi dan pemakaian obat-obatan
   tertentu dapat mempengaruhi kondisi medis pasien dengan penyakit kardiovaskular.
  Gejala:
      Hipoksemia
      Sianosis
      Clubbing finger pada tangan dan kaki
      Polisitemia karena hipoksemia
  Tanda-tanda Klinis (intraoral):
      Erups igigi sulung dan permanen terlambat

                                                                                          8
    Hipoplasia enamel
    Vasodilatasi pulpa
    Gigi tampak putih kebiruan
    Karies dan penyakit periodontal
 Diagnosa:
  Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan:
  a. Anamnesa
  b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis
 Terapi:
  Pemberian obat anti konvulsi, seperti: aspirin, heparin, dll.
 Masalah:
      Komplikasi peredaran darah, seperti perdarahan dan trombosis
      Infeksi Endokarditis
 Penatalaksanaan:
   Harus menghindari penggunaan vasokonstriksi dalam anastesi lokal, karena dalam
     hubungannya dengan catecholamine            yang dilepaskan secara endogen, dapat
     menyebabkan komplikasi peredaran darah.
   Berhati-hati dalam melakukan tindakan perawatan gigi.
   Penggunaan profilaksis antibiotik.
   Sedangkan untuk tindakan operasi, sebaiknya operasi dilakuakn dengan monitor ECG
     dan disertai infuse IV dengan maksud untuk segera mengetahui komplikasi dan
     melakukan perawatan. Tindakan ini harus dilakukan di rumah sakit sehingga dapat
     dilakukan pengawasan oleh spesialis yang berwenang (Test and Wagner, 1992).
   Berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi rasa cemas pasien selama tindakan
     perawatan gigi dilakukan. Karena penderita penyakit kardiovaskular yang berat
     terkadang memiliki kondisi medis yang mudah sekali dipengaruhi oleh emosinya.
   Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter yang selama ini merawat pasien
     untuk mengetahui dengan jelas bagaimana kondisi medis pasien saat ini, obat-obat apa
     saja yang dipergunakan oleh pasien, dan apa saja yang harus dihindarkan selama
     dilakukan tindakan perawatan gigi pada pasien penderita penyakit kardiovaskular
     tersebut

                                                                                       9
4. HIPERTIROIDISME
   Definisi:
    Kerja kelenjar tiroid yang berlebihan. Sehingga produksi tiroksin jadi berlebihan.
   Gejala:
       Heat intolerance                           Kelemahan otot
       Gelisah                                    Diare
       Tremor                                     Peningkatan nafsu makan
       Keringat berlebihan                        Penurunan berat badan
       Pada orangtua bisa terjadi fibrilasiatrial, angina dan gagal jantung kongesti
   Tanda-tanda Klinis:
       Tremor dan takikardi
       Exophtalmos
       Pembesaran kelenjar tiroid
       Kulit tipis dan soft
       Refleks hiperaktif
   Diagnosa:
    Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan:
      a. Anamnesa
      b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis
      c. Pemeriksaan laboratorium:
           - Peningkatan T3 dan T4
           - Penurunan TSH
   Terapi:
          Penatalaksanaan hipertiroidisme secara farmakologi menggunakan empat kelompok
    obat ini yaitu: a) obat antitiroid, b) penghambat transport iodida, c) iodida dalam dosis
    besar menekan fungsi kelenjar tiroid, d) yodium radioaktif yang merusak sel-sel kelenjar
    tiroid. Obat antitiroid bekerja dengan cara menghambat pengikatan (inkorporasi) yodium
    pada TBG (thyroxine binding globulin) sehingga akan menghambat sekresi TSH (Thyreoid
    Stimulating Hormone) sehingga mengakibatkan berkurang produksi atau sekresi hormon
    tiroid. Antitiroid digunakan untuk :[1]

                                                                                          10
      a. mempertahankan remisi pada strauma dengan tirotoksikkosis
      b. mengendalikan kadar hormon pada pasien yang mendapat yodium radioaktif
      c. menjelang pengangkatan tiroid (Anonim, 2000).
           Adapun obat-obat yang temasuk obat antitiroid adalah Propiltiourasil, Methimazole,
    Karbimazol dan Tiamazole.
           Beta-adrenergic reseptor antagonist. Obat ini adalah untuk mengurangi gejala-gejala
    hipotiroidisme. Contoh : Propanolol
   Masalah:
    Resiko terjadinya krisis tiroid
   Penatalaksanaan:
         Hindari penambahan adrenalin pada pemberian anastesi lokal, karena adanya
          pelepasan adrenalin secara endogen sehingga dapat menyebabkan krisis tirotoksik.


5. ASMA
   Definisi:
           Asma diartikan sebagai penyakit radang kronis dari saluran pernafasan yang ditandai
    dengan meningkatnya respons cabang tracheobronchial terhadap stimulus yang berulang.
    Asma merupakan penyakit yang hilang – timbul, dengan eksaserbasi akut menyebar.
    Umumnya waktu serangan pendek, terjadi antara beberapa menit hingga beberapa jam, dan
    secara klinis pasien dapat pulih sempurna setelah serangan. Walaupun jarang terjadi,
    serangan akut dapat menimbulkan kematian
   Klasifikasi:
           Asma dibedakan jadi dua jenis, yakni asma bronkial dan kardial. Penderita asma
    bronkial, hipersensitif dan hiperaktif terhadap rangsangan dari luar, seperti debu rumah,
    bulu binatang, asap, dan bahan lain penyebab alergi. Gejala kemunculannya sangat
    mendadak, sehingga gangguan asma bisa datang secara tibatiba. Jika tidak mendapatkan
    pertolongan secepatnya, risiko kematian bisa datang. Gangguan asma bronkial juga bisa
    muncul lantaran adanya radang yang mengakibatkan penyempitan saluran pernapasan
    bagian bawah. Penyempitan ini akibat berkerutnya otot polos saluran pernapasan,
    pembengkakan selaput lendir, dan pembentukan timbunan lendir yang berlebihan.



                                                                                             11
        Sedangkan asma yang timbul akibat adanya kelainan jantung disebut asma kardial.
  Gejala asma kardial biasanya terjadi pada malam hari, disertai sesak napas yang hebat.
  Kejadian ini disebut nocturnal paroxymul dyspnea. Biasanya terjadi pada saat penderita
  sedang tidur.
 Gejala dan Tanda Klinis:
        Gejala dan tanda klinis sangat dipengaruhi oleh berat ringannya asma yang diderita.
  Bisa saja seorang penderita asma hampir-hampir tidak menunjukkan gejala yang spesifik
  sama sekali, di lain pihak ada juga yang sangat jelas gejalanya. Gejala dan tanda tersebut
  antara lain:
  · Batuk
  · Nafas sesak (dispnea) terlebih pada saat mengeluarkan nafas (ekspirasi)
  · Wheezing (mengi)
  · Nafas dangkal dan cepat
  · Ronkhi
  · Retraksi dinding dada
  · Pernafasan cuping hidung (menunjukkan telah digunakannya semua otot-otot
  bantu pernafasan dalam usaha mengatasi sesak yang terjadi)
  · Hiperinflasi toraks (dada seperti gentong)
        Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis,
  tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan
  menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras.
 Diagnosa:
  Penyakit asma dapat didiagnosis melalui metode berikut(www.nature.com):
  (a)Sebuah alat yang bernama ‘peak flow meter’/ pengukur aliran puncak dapat digunakan
  untuk mendiagnosis asma. Peak flow meter dapat mengukur seberapa banyak, dan
  seberapa cepat udara dapat dikeluarkan dari paru- paru/ pulmo. Alat ini juga dapat
  digunakan untuk menentukan terapi macam apa yang paling sesuai untuk perawatan asma
  di tiap kasus yang berbeda.
  (b)Test Spirometry dapat mengukur seberapa baik fungsi dari paru- paru, dan dapat
  memberikan informasi yang lebih lengkap dari peak flow meter.
  (c)X-ray rongga dada/ thoraxic cavity, tetapi metode ini agak kurang umum dilaksanakan.


                                                                                         12
  (d)Test alergi pada kulit, dan test darah, untuk mengetahui adakah alergi terhadap bahan-
  bahan tertentu.
 Terapi:
        Terapi medikasi asma dibagi menjadi 2 kategori, yaitu quick relief dan medikasi
  kontrol jangka panjang.
  Quick relief : - mengatasi eksaserbasi akut asma
                 - Beta agonis aksi pendek, antikolinergik dan kortikosteroid sistemik.
                 - Pemulihan cepat dari eksaserbasi akut
  Medikasi kontrol jangka panjang :
        - kortikosteroid inhalasi
        - cromolyn sodium
        - nedocromil
        - beta agonis jangka panjang
        - methylxantine
        - leukotrien antagonis
  Bronkodilator
        Merupakan pengobatan simptomatis dari bronkospasme pada eksaserbasi akut asma/
  kontrol gejala jangka panjang : Albuterol, levalbuterol, salmeterol, ipratropium (atrovent),
  teofilin.
  Antagonis reseptor leukotrien
        Antagonis direk dari mediator yang menyebabkan inflamasi jalan napas pada asma.
  Alternatif pengobatan jangka panjang selain kortikosteroid inhalasi dosis rendah :
  montelukast.
  Kortikosteroid
        Obat pilihan untuk pengobatan asma kronis dan pencegahan eksaserbasi akut asma.
  Beberapa kortikosteroid inhalasi yang digunakan pada asma : beclomethasone, budenoside,
  turbuhaler, flunisolide, fluticasone, triamcinolone.
  Mast cell stabilizer
        Mencegah pelepasan mediator dari sel mast yang menyebabkan inflamasi jalan napas
  dan bronkospasme. Diindikasikan untuk terapi rumatan untuk asma ringan hingga moderat
  : cromolyn


                                                                                           13
  Terapi asma kardial (gagal jantung):
   1) Pengobatan Aritmia :
        – Anti Aritmia : Diuretik, ACE inhibitor, Beta blocker, dll.
        – Pacu Jantung
   2) Pengobatan Bedah
   3) Transplantasi Jantung
   4) Pengobatan metabolik
  Masalah:
       Pasien mengalami kesulitan bernafas.
  Penatalaksanaan:
       Anamnesa tentang alergi obat.
       Hindari penggunaan obat-obat yang merangsang reaksi alergi pada pasien.
       Jika pasien mengalami serangan asma, maka: (Rylander, 1997)
        (a) Segera gunakan inhaler reliever dilengkapi spacer.
        (b) Duduk dan relax, jangan tidur telentang.
        (c) Tunggu 5-10 menit, jika serangan asma tidak reda juga, gunakan inhaler reliever
        tiap 1 menit sekali, selama 5 menit, hingga serangan asma tersebut reda.
        (d) Jika serangan asma masih tidak reda, segera panggil ambulance, dan tetap gunakan
        inhaler reliever 1x setiap menit.


6. GAGAL GINJAL KRONIS
  Definisi:
         Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami
   penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan
   pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti
   sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine.
  Gejala dan tanda-tanda klinis:
      Hipertonia
      Lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan, mual, muntah, bengkak, kencing berkurang,
        gatal, sesak napas, pucat/anemi.



                                                                                         14
       Kelainan urin: Protein, Eritrosit, Lekosit. Kelainan hasil pemeriksaan Lab. lain:
           Creatinine darah naik, Hb turun, Urin: protein selalu positif
   Diagnosa:
    Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan:
         a. Anamnesa
         b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis
         c. Pada pemeriksaan darah dan urin akan ditemukan:
               Peningkatan kadar urea dan kreatinin
               Anemia
               Asidosis (peningkatan keasaman darah)
               Hipokalsemia (penurunan kadar kalsium)
               Hiperfosfatemia (peningkatan kadar fosfat)
               Peningkatan kadar hormon paratiroid
               Penurunan kadar vitamin D
               Kadar kalium normal atau sedikit meningkat
               Analisa air kemih menunjukkan berbagai kelainan, berupa ditemukannya sel-sel
                yang abnormal dan konsentrasi garam yang tinggi
   Masalah:
       Gangguan detoksifikasi obat
       Kecenderungan perdarahan
   Penatalaksanaan:
          Mempertimbangkan penggunaan obat-obatan yang sifatnya diekskresi oleh ginjal.
           Karena adanya bahaya akumulasi yang sangat tinggi.


7. PENYAKIT HATI KRONIS
   Definisi:
            Dalam kasus penyakit hati kronis, misalnya sirosis hati dan hepatitis. Terjadi
    gangguan terhadap fungsi hati. Dan hal itu dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya
    perdarahan.
   Gejala:
       Jaundice, edema, perdarahan lambung, mental confusion

                                                                                         15
    Hepar mengkerut dan keras, splenomegali
    Asites dan edema perifer (pembesaran yang nyeri pada perut region kanan atas)
    Manifestasi kulit : spider angioma/nevi, palmarerythema, ruam kulit dan urtikaria
 Diagnosis:
  Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan:
       d. Anamnesa
       e. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis
       f. Pemeriksaan laboratorium:
            - CT scan, USG abdomen, biopsihepar
            - Tes fungsi hepar (SGOT/AST dan SGPT/ALT) meningkat
            - Adanya antigen dan antibodi virus hepatitis
 Masalah:
    Gangguan detoksifikasi obat
    Kecenderungan perdarahan
    Resiko penularan infeksi viral hepatitis
 Penatalaksanaan:
        Pemeriksaan fungsi hati, untuk menghindari peningkatan perdarahan.
        Penggunaan anastesi lokal golongan ester, untuk mengurangi penimbunan obat dalam
         hati akibat pemecahan yang cukup banyak yang terjadi didalam jaringan dan darah.
        Jika menggunakan anastesi lokal golongan amida, maka dosis maksimum yang
         diperbolehkan harus dianggap sebagai dosis maksimum untuk hari ini.
        Penundaan perawatan pada pasien dengan peningkatan fungsi hepar
        Untuk pasien dengan infeksi aktif:
           - Perawatandilakukanterakhir
           - Universal precaution




                                                                                            16
REFERENCE:
Tetsch, Peter and Wilfried Wagner. 1992. Operative Extraction of Wisdom Teeth. Jakarta:
  EGC
Pedersen, GW. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC
Rylander R, Dahlberg C, Rubenowitz E. Magnesium supplementation decreases airway
  responsiveness among hyper-reactive subjects. Magnesium-Bulletin 1997;19:4–6.
Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson.1994. Patofisiologi konsep Klinis Proses-Proses
  Penyakit Edisi 4.Jakarta: EGC.
Kumar, Abbas, Fausto. 2005. Robin and Cotran Pathologic Basics of Disease 7th Edition :
  Elseiver Saunders
Kasper Dennis L. et.al. 2004. Harrison's Principles of Internal Medicine 16th Edition:
  McGraw-Hill Professional
Unknown(website Rumah Sakit Budi Kemuliaan).Darah tinggi/ Hipertensi. http://www.rsbk-
  batam.co.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=25. Accessed on: December,2008
www.pdgi-online.com
www.medicastore.com
http://www.nature.com/nrd/journal/v3/n10/abs/nrd1524.html




                                                                                    17

								
To top