Askep balita dan UKs
Document Sample


BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas
2.1.1. Pengertian
Kelompok sosial yang ditentukan oleh batas-batas wilayah, nilai-nilai
keyakinan dan minat yang sama serta adanya saling mengenal berinteraksi
antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lain (WHO, 1995).
Komunitas adalah suatu kesatuan hidup manusia, yang menempati suatu
wilayah nyata dan berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat serta terikat
oleh suatu rasa indentitas suatu komunitas (Koenjaranigrat, 1990).
Sedangkan keperawatan komunitas adalah suatu sintesa dari praktek
keperawatan dan praktek kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk
meningkatkan dan memelihara kesehatan penduduk (Ana, 1978).
Kesatuan yang unik dari praktek keperawatan dan kesejahteraan
masyarakat yang ditujukan kepada pengembangan dan peningkatan
kemampuan kesehatan baik diri sebagai perorangan maupun secara
kolektif, sebagai keluarga, kelompok khusus/masyarakat dan pelayanan
tersebut mencakup spektrum pelayanan kesehatan untuk masyarakat
(Ruth dan Freeman, 1981).
4
2.1.2. Tujuan
Tujuan keperawatan komunitas untuk mencegah dan peningkatan
kesehatan masyarakat melalui upaya :
1. Yankep secara langsung (direct care) terhadap individu, keluarga dan
kelompok dalam konteks komunitas.
2. Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat (healt general
community) dan mempertimbangkan bagaimana masalah issue kesehatan
masyarakat dapat mempengaruhi keluarga, individu dan kelompok.
Secara spesifik diharapkan individu, kelompok, keluarga dan masyarakat
mempunyai kemampuan untuk :
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami.
b. Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah tersebut.
c. Merumuskan serta memutuskan.
d. Menanggulangi kesehatan yang mereka hadapi.
e. Mengevaluasi sejauh mana pemecahan massalah yang mereka hadapi yang
akhirnya dapat meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan
secara mandiri (self care).
2.1.3. Sasaran
1. Individu
Anggota keluarga sebagai kesatuan yang utuh dari aspek biologi,
psikologi, sosial dan spiritual. Individu dibantu agar dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya karena adanya kelemahan fisik dan mental yang
5
dialami, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya pengetahuan atau
kemauan untuk menuju mandiri.
2. Keluarga
Merupakan fokus pelayanan kesehatan yang strategi, antara lain
sebagai berikut :
a. Keluarga sebagai lembaga yang diperlukan diperhitungkan.
b. Keluarga mempunyai peran utama dalam pemeliharaan kesehatan
seluruh anggota keluarga.
c. Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan.
d. Keluarga sebagai tempat pengambilan keputusan (dicision making)
dalam perawatan kesehatan.
e. Keluarga merupakan perantara yang efektif dalam bimbingan usaha
kemasyarakatan.
3. Kelompok Khusus
Sekumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis jelamin, umur,
permasalahan (problem) keluarga yang berorganisasi yang sangat rawan
terhadap masalah kesehatan antara lain :
a. Kelompok khusus yang butuh kesehatan sebagai akibat pengembangan
dan pertumbuhan (growth dan development) seperti: ibu hamil, BBL,
anak balita, anak usia sekolah dan usia lansia/lanjut usia.
b. Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan dan
bimbingan, antara lain khusus penyakit kelamin, TBC, kusta, dll.
6
2.1.4. Prinsip
1. Kemanfaatan
Intervensi/pelaksanaan yang dilakukan harus memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya: ada keseimbangan antara
manfaat dan kerugian.
2. Autonomi
Bebas untuk melakukan/memilih alternatif yang terbaik yang
tersediakan untuk komunitas.
3. Keadilan
Melakukan upaya/tindakan sesuai dengan kemampuan atau kapasitas
komunitas.
2.1.5. Tingkat Pencegahan
A. Intervensi keperawatan mencakup :
1. Penkes/keperawatan komunitas.
2. Mendemonstrasikan keterampilan dasar yang dapat dilakukan di
komunitas.
3. Intervensi keperawatan yang memerlukan keahlian perawat, seperti:
melakukan konseling pada remaja, balita, usila, pasangan yang akan
menikah, dll.
4. Kerjasama lintas program dan linta ssektoral dalam mengatasi masalah
kesehatan di komunitas.
5. Rujukan keperawatan dan non keperawatan apabila diperlukan.
7
B. Leavgil dan Clark
1. Prepathogenesis phase (tahap sebelum terjadinya penyakit) keluarga
primary prevention.
a. Healt promotion/peningkatan kesehatan
- Penkes
- Penyuluhan kesehatan masyarakat (PKM)
- Pengamatan tumbang anak
- Pengadaan rumah sehat
- Konsultasi perkawinan
- Sek education
- Pengendalian lingkungan
- Program P2M melalui kegiatan keluarga imunisasi dan
pemberantasan vektor
- Stimulasi/bimbingan dini/awal dalam kesehatan keluarga askep
pada anak/balita dan penyuluhan tentang kecelakaan
- Askep pre natal
- Pelayanan KB
- Perlindungan gizi
b. General and specifik protection (perlindungan umum dan khusus)
- Imunisasi
- Hygiene perorangan
- Perlindungan diri dari kecelakaan
8
- Perlindungan diri dari lingkungan
- Pengendalian sumber pencemaran
C. Phatogenesis phese
1. Secondary prevention (pencegahan sekunder) melalui 2 kegiatan :
a. Early diagnosa dan promp treatment (diagnosis diri dan pengobatan
segera/adekuat) antara lain :
- Penemuan kasus secara dini
- Pemeriksaan umum lengkap
- Pemeriksaan missal (mass screning)
- Survey terhadap kontak, sekolah dan rumah
- Penanganan kasus
- Pengobatan adekuat
b. Disability limtation (pembatasan kecacatan)
- Penyempurnaan dan interaksi terapi lanjutan
- Pencegahan komplikasi
- Perbaikan fasilitas kesehatan
- Penurunan beban sosial penderita
- dll
2. Tertiary prevention (pencegahan tersier)
Usaha pencegahan terhadap masyarakat yang telah sembuh dari
sakit serta mengalami kecacatan, antara lain :
9
a. Pendidikan kesehatan lanjutan
b. Terapi kerja
c. Perkampungan rehabilitasi sosial
d. Penyadaran masyarakat
e. Lembaga rehabilitas dan partisipasi masyarakat
2.1.6. Peran dan Fungsi Perawat Komunitas
A. Definisi Peran
Seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap
seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem.
Dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan
bersifat stabil.
Bentuk dari prilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial
tertentu.
(Kozler Barbara, 1995)
B. Peran Perawat “Element Role” (Dolteny, 1987)
1. Care Giver
Perawat mampu :
a. Memberikan Yankep pada individu, keluarga, kelompok/
masyarakat sesuai diagnosa sifat sederhana sampai dengan
kompleks.
b. Memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan.
10
c. Menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi DP
fisik, psikologis.
2. Client Advocate
a. Bertujuan membantu klien dan keluarga dalam
menginterprestasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan
kesehatan yang diperlukan untuk informasi cancent atas tindakan
keperawatan yang diberikan kepadanya.
b. Mempertahankan dan melindugi hak-hak klien.
Hak-hak klien (Disparty, 1998: 140)
- Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
- Hak atas informasi tentang penyakitnya
- Hak atas privacy
- Hak untuk menentukan nasibnya sendiri, hak untuk menerima
ganti rugi akibat kelalaian tindakan.
Hak-hak tenaga kesehatan :
- Hak atas info yang benar
- Hak untuk bekerja sesuai dengan standar
- Hak untuk mengakhiri hubungan dengan klien
- Hak untuk menolak tindakan yang kurang cocok
- Hak atas rahasia pribadi
- Hak atas balas jasa
11
3. Concelor
Proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tekanan
psikologis/masalah sosial untuk membangun hubungan interpesonal
yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan seseorang
dukungan emosional dan intelektual.
Peran Perawat :
a. Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan
sehat sakitnya.
b. Perubahan pola interaksi merupakan “dasar” dalam merencanakan
metode untuk meningkatkan adaptasinya.
c. Memberi bimbingan penyuluhan kepada individu, keluarga, dalam
mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalamannya.
d. Pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan.
e. Mengubah prilaku hidup sehat (perubahan pola interaksi).
4. Educator
Peran Perawat :
a. Dilakukan kepada klien/keluarga tim kesehatan lain baik secara
spontan pada saat berinteraksi maupun formal (sudah disiapkan
terlebih dahulu).
b. Membantu klien mempertinggi pengetahuan dalam upaya
meningkatkan kesehatan, gejala penyakitnya sesuai kondisi dan
tindakan spesifik.
12
c. Dasar pelaksanaan adalah intervensi dalam proses-proses
keperawatan.
5. Collaborator
Bekerjasama dengan tim kesehatan (dokter, ahli gizi, radiologi, dll)
dalam kaitannya membantu mempercepat proses penyembuhan klien.
6. Koordinator
Peran Perawat :
a. Mengarahkan.
b. Merencanakan.
c. Mengorganisasikan.
7. Change Agent
Pembawa perubahan adalah seseorang/kelompok yang berinisiatif
merubah/membantu orang lain membuat perubahan pada dirinya atau
pada sistem (Kemp, 1986). Mengidentifikasi masalah, mengkaji
motivasi dan kemampuan klien untuk berubah, menunjukkan
alternatif, menggali kemungkinan hasil dari alternatif, mengkaji
sumber daya, menunjukkan peran membantu, membina dan
mempertahankan hubungan membantu, membantu selama fase
dari proses perubahan dan membimbing klien melalui fase ini
(martiener Tarney).
8. Consultan
9. Interpersonal Program
13
C. Peran Perawat Menurut Konsarsium Ilmu Kesehatan Tahun 1989
1. Pemberi Asuhan Keperawatan.
2. Advocat.
3. Educator.
4. Koordinator.
5. Kolaborator.
6. Konsultan.
7. Pembaharu.
D. Peran Perawat Hasil Lokakarya Keperawatan Tahun 1983
1. Pelaksana pelayanan keperawatan.
2. Pengelolah pelayanan dan institusi keperawatan.
3. Pendidik dalam keperawatan.
4. Peneliti dan pengembang pelayanan keperawatan.
E. Fungsi Perawat
Adalah suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya.
Dapat berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain.
Fungsi perawat dalam melaksanakan perannya :
1. Fungsi Independent
- Dimana perawat melaksanakan perannya secara mandiri, tidak
tergantung pada orang lain/tim kesehatan lainnya.
14
- Memberikan bantuan terhadap adanya penyimpangan/tidak
terpenuhinya “KDM” baik bi-psiko-sosial/kultural maupun spiritual,
mulai dari tingkat individu-tingkat masyarakat.
- Kegiatan dilakukan dengan diprakarsai oleh perawat yang bertujuan
serta bertanggung gugat atas rencana dan keputusan tindakannya.
2. Fungsi Dependent
Kegiatan dilakukan dan dilaksanakan oleh perawat atas instruksi dari
tim kesehatan lainnya (dokter, ahli gizi, radiologi, dll).
3. Fungsi Interdependent
Ini berupa kerja tim yang sifatnya saling ketergantungan baik dalam
keperawatan maupun kesehatan.
F. Perawat Komunitas Dapat Bekerja Diberbagai Tatanan
1. Klinik Rawat Jalan.
2. Kantor Kesehatan.
3. Kesehatan Kerja.
4. Sekolah.
5. Rumah.
6. Perkemahan.
7. Institusi Pemeliharaan Kesehatan.
8. Tempat Pengungsian.
15
G. Perawat Dikomunitas Dapat Bekerja Sebagai
1. Perawat Keluarga
Keperawatan kesehatan keluarga adalah tingkat keperawatan
kesehatan masyarakat yang dipusatkan pada keluarga sebagai satu
kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan pelayanan dan
perawatan sebagai upaya (Bailon dan Maglaya, 1978).
Peran perawat keluarga adalah melaksanakan asuhan keperawatan
keluarga, berpartisipasi dan menggunakan hasil riset,
mengembangkan dan melaksanakan kebijakan di bidang kesehatan,
kepemimpinan, pendidikan, case management, dan konsultasi.
2. Perawat Kesehatan Sekolah
Keperawatan sekolah adalah keperawatan yang difokuskan pada
anak di tatanan pendidikan guna memenuhi kebutuhan anak dengan
mengikutsertakan keluarga maupun masyarakat sekolah dalam
perencanaan pelayanan (Logan, BB, 1986).
Keperawatan kesehatan sekolah merupakan salah satu jenis
pelayanan kesehatan yang ditunjukkan untuk mewujudkan
kemandirian siswa untuk hidup sehat, menciptakan lingkungan dan
suasana sekolah yang sehat.
Fokus utamanya adalah siswa dan lingkungannya dan sasaran
penunjang adalah guru dan kader.
16
3. Perawat Kesehatan Kerja
Perawat kesehatan kerja adalah penerapan prinsip-prinsip
keperawatan dalam memelihara kelestarian kesehatan tenaga kerja
dalam segala bidang pekerjaan.
Aplikasi prakteknya untuk memenuhi kebutuhan unit individu,
kelompok dan masyarakat di tatanan industri, pabrik, tempat kerja,
tempat konstruksi, universitas, dll.
Lingkup praktek mencakup pengkajian riwayat keseahtan,
pengamatan, pelayanan kesehatan primer, konseling, promkes,
administrasi management quality asurance, peneliti dan kolaborasi
dengan komunikasi.
4. Perawat Gronologi/Gerontile
Memberikan pelayanan pada orang lanjut usia dalam berbagai
tatanan dan membantunya mencapai untuk mempertahankan fungsi
yang optimal.
Lingkup praktek, memberi asuhan keperawatan, advokasi,
melaksanakan kemandirian lanjut usia, meningkatkan dan
mempertahankan kesehatan, mencegah dan meminimalkan
kecacatan dan menunjang proses kematian dan bermartabat.
17
2.1.7. Standar Praktek Keperawatan Komunitas
A. Definisi Standar Praktik Keperawatan
Adalah norma atau penegasan tentang mutu pekerjaan seseorang
perawat yang dianggap baik, tepat dan benar yang dirumuskan dan
digunakan sebagai pedoman pemberian yang keperawatan serta
merupakan tolak ukur penilaian penampilan kerja perawat.
Menurut Ana (1974) Standar Praktek Keperawatan Komunitas
sebagai berikut :
- Pengumpulan data status kesehatan klien sistemik dan terus menerus.
- Menegakkan diagnosa dari data.
- Perencanaan, menentukan tujuan.
- Perencanaan di prioritaskan pemberian keperawatan.
- Pemberian tindakan keperawatan (promosi, menjaga dan perbaikan).
- Tindakan keperawatan dalam membantu klien meningkatkan kesehatan.
- Kemajuan klien terhadap pencapaian tujuan.
- Tindakan keperawatan pengkajian secara kontinue.
B. Standar Praktek Keperawatan
- DPPP, PPNI 1999
Standar Praktek Keperawatan merupakan komitmen profesi
keperawatan dalam melindungi masyarakat terhadap praktek yang
dilakukan anggota profesi.
18
- Steven 1993
1. Kriteria keberhasilan
2. Sebagai dasar untuk mengukur peristiwa
2.2. Konsep Dasar Komunitas Dengan Anak Usia Sekolah
2.2.1. Definisi
Komunitas dengan anak sekolah dimulai sejak keluarga tersebut
memiliki anak pertama berusia 6 tahun dan mulai masuk SD dan berakhir pada
usia 13 tahun awal masa remaja.
2.2.2. Tugas Perkembangan
1. Menyediakan aktifitas untuk anak
Untuk membantu kreativitas :
a. Menyediakan perlengkapan sekolah.
b. Mengikutsertakan anak pada ekstrakulikuler, les, kursus, dengan
pengarahan/bimbingan orang tua.
c. Memberikan sarana bermain yang sesuai usia.
d. Memberikan bimbingan rohani baik didalam maupun diluar rumah.
2. Biaya Meningkat
Anak sudah sekolah membutuhkan biaya yang cukup besar anggaran
rumah tangga membengkak perlu pengaturan rumah tangga yang baik.
19
3. Kerjasama untuk penyelesaian kerja anak diajarkan untuk menyelesaikan
tugas-tugasnya (baik tugas sekolah maupun tugas rumah). Penting untuk
menumbuhkan kemandirian dan kedisiplinan anak.
4. Memperhatikan kepuasan anggota keluarga dan pasangan
Keharmonisan keluarga harus terjalin dengan baik, saling mengerti dan
perhatian, menghargai kepentingan orang lain dan belajar untuk dapat
mengenal orang lain.
5. Sistem komunikasi komunitas
- Diterapkan komunitas yang terbuka.
- Anak diberi kesempatan untuk berbicara mengungkapkan pendapatnya
penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga anak tidak
takut untuk bergabung dan dengan masyarakat.
6. Mensosialisasikan anak meningkatkan prestasi sekolah memupuk
hubungan sebaya.
Membina hubungan anak dengan teman akan meningkatkan pola adaptasi
anak terhadap lingkugan barunya.
7. Memelihara hubungan perkawinan yang memuaskan karena perkawinan
dapat menimbulkan konflik-konflik yang dapat menurunkan
keharmonisan.
Meningkatkan komunikasi yang terbuka dan saling mendukung dalam
hubungan suami istri.
20
8. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga
Harus mengecek kesehatan anak secara berkala misalnya: fungsi
pengliharan, pendengaran kemampuan berbicara. Tujuannya untuk
mengantisipasi akibat/keadaan yang mungkin terjadi.
2.2.3. Cara Mencapai Tugas Perkembangan
a. Anak diberi motivasi untuk belajar, memperhatikan kebutuhan sosial
anak.
b. Meningkatkan komunikasi yang terbuka dan mendukung hubungan suami
istri, rekreasi orang tua saja.
c. Mengajarkan dan membiasakan cara hidup sehat.
d. Memberikan tempat aktivitas yang nyaman.
2.2.4. Jenis Masalah Kesehatan Yang Sering Terjadi
a. 0 – 10 tahun
- Kecelakaan.
- Influenza (ISPA).
- Pneumonia.
- Malnutrisi.
- Gangguan gigi.
b. 13 – 19 tahun
- Kehamilan.
- Penyalahgunaan obat.
- Kecelakaan.
- Bunuh diri.
21
2.2.5. Penyebab Angka Kesakitan dan KF
a. Kecelakaan dan injuri.
b. Kanker.
c. Bunuh diri.
d. HIV, usia < 15 tahun.
2.2.6. Penyimpangan Lazim
a. Prestasi sekolah menurun.
b. Anak tidak mampu bersosialisasi.
c. Dapat terjadi perceraian.
d. Masalah kesehatan : penglihatan, pendengaran, pernafaasn.
e. Kesulitan belajar 10 – 30%.
2.2.7. Masalah Welnes
a. Meningkatnya kemampuan motorik.
b. Memulai fase industri.
c. Memulai pribadi yang berkemampuan.
d. Keinginan untuk aktivitas sosial.
e. Gembira dan puas dengan kemampuan diri.
f. Meningkatnya kemampuan berfikir kompleks.
g. Keberhasilan cita-cita di sekolah.
h. Meningkatkan kemampuan memilih alternatif.
i. Mulai bermain bekerja sama.
j. Meningkatnya interaksi sosial.
22
2.2.8. Terhadap Adaptasi
a. Mulai adaptasi di sekolah.
b. Bekerjasama dalam keluarga.
c. Adaptasi terhadap penyakit kronis.
d. Takut akan hospitalisasi.
e. Mulai menerima cara hidup terhadap perubahan fisik.
2.2.9. Masalah-masalah Pada Anak Usia Sekolah
Dipengaruhi oleh faktor :
a. Faktor internal anak.
b. Lingkungan rumah.
c. Lingkungan luar.
2.2.10. Masalah-masalah
1) Sulit Makan
Penyebabnya :
- Anak sakit.
- Bosan atau jenuh.
- Reaksi protes.
- Tidak kenal rasa lapar.
- Tidak pernah belajar makan dengan benar.
- Menu tidak bervariasi.
23
Intervensi :
- Jangan memaksa.
- Fokuskan perhatian anak saat makan.
- Berikan porsi yang sesuai.
- Jangan memarahi anak.
2) Tidur Berjalan/Berbicara
Intervensi :
- Kunci pintu, jendela, amankan benda yang berharga.
- Panggil nama dengan lembut, orientasikan tempat saat itu.
- Beri penjelasan bahwa anak tidur berjalan.
- Beri keyakinan agar anak tenang, hindari anak dari kelelahan.
3) Motivasi Belajar Menurun
Penyebab :
- Harapan orang tua yang terlalu tinggi.
- Percaya diri anak kurang.
- Orang tua terlalu menuntut.
- Orang tua tidak berminat pada kehidupan anak.
- Orang tua permisif/serba boleh.
- Masalah fisik.
24
2.3. Konsep Dasar UKS
2.3.1. Pengertian
UKS adalah wahana untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan
derajat kesehatan peserta didik sedini mungkin (Purnomo Anantan, 2006).
2.3.2. Tujuan UKS
1. Meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik.
2. Meningkatkan perilaku sehat peserta didik.
3. Meningkatkan derajat kesehatan peserta didik maupun keluarga belajar dan
menciptakan lingkungan yang sehat.
4. Memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan
optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
2.3.3. Sasaran UKS
1. Sasaran UKS adalah pendidikan formal dan non formal pada setiap jalur
dan jenis pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah sampai sekolah
menengah atas termasuk perguruan agama serta lingkungannya.
2. Sasaran Pembinaan UKS
a. Peserta didik.
b. Pembina UKS :
1) Pembina teknis (guru dan petugas kesehatan).
2) Pembina non teknis (pengelola pendidikan dan karyawan sekolah).
c. Sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan.
25
d. Lingkungan
1) Lingkungan sekolah.
2) Lingkungan keluarga.
3) Lingkungan masyarakat.
2.3.4. Ruang Lingkup Pembinaan UKS
1. Ruang Lingkup UKS
Adalah ruang lingkup program yang tercermin dalam Tri Program UKS
(Trias UKS), yaitu sebagai berikut :
a. Penyelenggaraan pendidikan kesehatan yang meliputi :
- Pengetahuan tentang dasar-dasar pola hidup bersih dan sehat.
- Sikap tanggap terhadap persoalan kesehatan.
- Latihan atau praktik kebiasaan hidup sehat dalam kehidupan sehari-
hari.
b. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam bentuk :
- Pelayanan kesehatan.
- Pemeriksaan murid.
- Pengobatan ringan, P3K dan P3P.
- Pengawasan warung sekolah.
- Penetapan pelaporan tentang keadaan penyakit.
c. Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat, berupa :
- Penghijauan.
- Air bersih.
26
- Kebun atau apotek hidup.
- Halaman bersih.
- Pemberantasan sarang nyamuk.
2. Ruang Lingkup Pembinaan UKS
Meliputi :
a. Penyusunan rencana dan program UKS.
b. Pelaksanaan dan pengendalian program UKS.
c. Penelitian dan pengembangan.
d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
e. Pemanfaatan dan pengembangan teknologi.
f. Organisasi, ketenagaan, sarana dan prasarana serta pembiayaan.
2.3.5. Program Pokok UKS (Trias UKS)
Untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat dan derajat kesehatan peserta
didik, dilakukan upaya menanamkan prinsip hidup sehat sedini mungkin,
diantaranya adalah :
1. Pendidikan Kesehatan
Adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat
tumbuh kembang sesuai, selaras, seimbang dan sehat baik fisik, mental,
sosial dan lingkungan melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan
yang diperlukan bagi peranannya saat ini maupun di masa yang akan
datang.
27
a. Tujuan Pendidikan Kesehatan
- Mengetahui cara hidup sehat dan teratur.
- Memiliki prinsip hidup sehat.
- Memiliki kemampuan menalarkan prilaku untuk kehidupan sehari-
hari.
- Meningkatkan tumbang.
- Memiliki prinsip kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan
sehari-hari.
- Memiliki daya tangkal dari luar.
b. Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan
- Kebersihan dan kesehatan pribadi, seperti: menjaga kebersihan kulit
dengan cara mandi dengan benar.
- Memelihara kebersihan kuku.
- Memelihara kebersihan rambut dengan cara pencucian rambut,
pemangkasan dan menyisir.
- Memelihara kebersihan dan kesehatan mata.
- Memelihara kebersihan mulut dan gigi.
- Memakai pakaian bersih dan serasi.
- Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
- Makan makanan yang bergizi.
28
c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan
- Keteladanan dan dorongan.
- Hubungan guru dan orang tua peserta didik.
2. Pelayanan Kesehatan
Yang biasanya dilakukan di sekolah, antara lain :
a. Promotif/Penyuluhan Kesehatan
Dengan cara latihan keterampilan peserta didik :
- Membentuk dokter kecil.
- Kader kesehatan anak sekolah.
- PMR.
- Saku Bhakti Husada/Pramuka.
- Pembinaan warung sehat sekolah.
- Lingkungan sekolah yang terpelihara dan PHBS.
b. Preventif/Pencegahan
- Penjaringan (screening) kesehatan bagi anak yang baru masuk
sekolah.
- Pemantauan peserta didik.
- Imunisasi peserta didik kelas 1 dan 6 SD.
- PHBS dan P2M.
c. Kuratif dan Rehabilitatif/Penyembuhan dan Pemulihan
- Diagnosa dini.
- Pengobatan ringan.
29
- Pertolongan pertama pada kecelakaan dan penyakit.
- Rujukan medis.
3. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat
a. Program Pembinaan Lingkungan Sehat
- Penyediaan air bersih.
- Pemeliharaan tempat penampungan air bersih.
- Pengadaan dan pemeliharaan tempat pembuangan sampah.
- Pengadaan dan pemeliharaan air limbah.
- Pemeliharaan WC/kakus/urinair.
- Pemeliharaan kamar mandi.
- Pemeliharaan kebersihan dan kerapian ruangan kelas, ruang
perpustakaan, ruang laboratorium, dan tempat ibadah.
- Pemeliharaan kebersihan dan keindahan halaman dan kebun sekolah
(termasuk penghijauan sekolah).
- Pengadaan dan pemeliharaan.
- Pengadaan dan pemeliharana pagar sekolah.
2.4. Konsep Dasar Tumbang Balita
2.4.1. Pengertian
Balita adalah anak-anak dibawah usia 5 tahun.
30
2.4.2. Faktor Yang Mempengaruhi Tumbang
a. Peran dalam kelompok/teman sebaya
- Mempengaruhi terbesar pada perkembangannya.
- Teman sebaya membolehkan individu untuk mencoba bahkan gagal
dalam keterampilan baru, mengesahkan pikiran-pikiran, perasaan-
perasaan, konsep dan konsep, menerima sambutan dan dukungan
sebagai pribadi yang unik oleh temannya.
- Sebaliknya teman sebaya bisa menekan individu menjadi tidak
bergembira, sehingga menimbulkan rendah diri.
b. Kondisi fisik yang sehat
Nutrisi mereka sangat berpengaruh terhadap tumbang anak.
c. Peran dalam keluarga
Nilai-nilai, norma-norma, ide-ide dalam keluarga akan membentuk
kepribadian anak sendiri.
2.4.3. Masalah Yang Sering Terjadi Pada Balita
a. Tumbuh kembang terganggu.
b. Gizi buruk sedang-berat.
c. Diare.
2.4.4. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul Pada Kelompok Balita
a. Kurang gizi/gizi kurang kurang-sedang berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang gizi balita.
31
b. Diare berhubungan dengan kurang pengetahuan keluarga tentang
perawatan balita dengan diare.
2.4.5. Rencana Kegiatan
a. Penyuluhan gizi balita.
b. Penyuluhan tumbang.
c. Pelatihan kader balita.
d. Lomba balita sehat.
e. Penyuluhan tentang diare.
f. Lomba konseling.
32
Related docs
Get documents about "