Docstoc

ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA RESIKO TINGGI PADA BAYI ”Y” DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH BBLR DE

Document Sample
ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA RESIKO TINGGI PADA BAYI ”Y” DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH BBLR DE Powered By Docstoc
					ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA RESIKO TINGGI
    PADA BAYI ”Y” DENGAN BERAT BADAN
          LAHIR RENDAH ( BBLR )
            DESA KANYORAN
               KEC. SEMEN
                 KEDIRI




                 OLEH :
            ANITA TRISNASARI
                 08610559




     PROGRAM STUDI KEBIDANAN D-III
       FAKULTAS ILMU KESEHATAN
           UNIVERSITAS KADIRI
                   2010


             LEMBAR PENGESAHAN
             ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA RESIKO TINGGI
                 PADA BAYI “ Y “ DENGAN BERAT BADAN
                           LAHIR RENDAH ( BBLR )
                            DI DESA KANYORAN
                                KEC. SEMEN
                                KAB. KEDIRI




             Telah di sahkan pada tanggal      November 2010


                                Mengetahui
                                Mahasiswa




                              (Anita Trisnasari)




Pembimbing Institusi                                    Pembimbing
Lahan




( Ratih Wibawanti, SST )                                ( Umayatus,
Amd. Keb )
                                  BAB I
                            PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
              WHO (1961) mengganti istilah bayi prematur dengan Bayi
 Berat Lahir Rendah (BBLR), karena disadari tidak semua bayi dengan berat
 badan kurang dari 2500 gr pada waktu lahir bukan bayi prematur.


          Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari
  seluruh seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih
  sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah.
  Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara
  berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada
  bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor
  utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus,
  bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap
  kehidupannya dimasa depan. Angka kejadian di Indonesia sangat
  bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-
  30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan
  rentang 2,1% - 17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI,
  angka BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang
  ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat
  2010 yakni maksimal 7%.
          Dari uraian di atas     penulis tertaik untuk membuat asuhan
  kebidanan pada
  by M. David gians dengan bayi berat nlahir rendah di desa kanyoran kec.
  Semen
  kab. Kediri.
1.1 TUJUAN
1.1.1 Tujuan Umum
      Dengan memberikan asuhan kebidanan pada keluarga, diharapkan dapat
      meningkatkan        kemampuan      keluarga    dalam     memelihara        dan
      meningkatkan derajat kesehatan setiap anggota keluarga.
1.1.2 Tujuan Khusus
   Diharapkan mahasiswa mampu :
          Melakukan pengkajian data pada keluarga
          Melakukan interpretasi data dasar
          Melakukan perumusan masalah
          Menyusun prioritas masalah
          Melakukan perencanaan dan tindakan




1.2 TEKNIK PENGUMPULAN DATA
        Anamnese atau pengumpulan data
           1. Auto anamnese yaitu mengadakan tanya jawab langsung dengan
               klien dan keluarga.
           2. Allo anamneses yaitu mengadakan tanya jawab langsung dengan
               orang terdekat klien.
        Studi Pustakan
       Pemeriksaan pengumpulan data dengan cara mengambil data yang ada
           direferensi.
        Pemeriksaan
           1. Pemerikasaan fisik : inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi.
           2. Pemeriksaan penunjang : lab, dll.
        Studi dokumentasi
       Teknik pengumpulan data dengan cara mengambil data yang ada.
1.3 TEKNIK PENULISAN
  Bab I Pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan, teknik pengumpulan
      data, dan teknik penulisan.
Bab II Tinjauan pustaka terdiri dari konsep keluarga dan konsep balita dengan
   BGM.
Bab III Tinjauan kasus terdiri dari pengkajian, interpretasi data dasar, intervensi,
   implementasi, dan evaluasi.
Bab IV Pembahasan
Bab V Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.
                                   BAB II
                           TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KONSEP KELUARGA
2.1.1 DEFINISI
   Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari atas kepala
   keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu
   tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan
   (Depkes.RI)
   Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui
   pertautan darah adaptasi atau perkawinan (WHO.1969)
   Keluarga adalah sekelompok manusia yang tinggal dalam suatu rumah
   tangga dalam kedekatan yang konsisten dan hubungan yang erat
   (Helvie.1981)


2.1.2 BENTUK-BENTUK KELUARGA
   a. Keluarga Inti (Nuclear Family) adalah Keluarga yang terdiri dari ayah,
      ibu dan anak-anak.
   b. Keluarga Besar (Extended Family) adalah Keluarga inti ditambah
      dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara
      sepupu, paman, bibi dsb.
   c. Keluarga Berantai (Serial Family) adalah Keluarga yang terdiri dari
      wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu
      keluarga inti.
   d. Keluarga Duda/Janda (Single Family) adalah Keluarga yang terjadi
      karena perceraian atau kematian.
   e. Keluarga     Berkomposisi    (Composite)     adalah    Keluarga    yang
      perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
    f.         Keluarga Mobitas (Cahabitation) adalah Dua orang yang
         menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.


2.1.3 FUNGSI KELUARGA
 Menurut WHO (1978)
1.Fungsi biologis
a. Untuk meneruskan keturunan
b. Memelihara dan membesarkan anak
c. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
d. Memelihara dan merawat anggota keluaraga
2. Fungsi psikologis
a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman
b. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
d. Memberikan identitas keluarga
3. Fungsi sosialisasi
a. Membina sosoialisasi pada anak
b. Membina       norma-norma     tingkah   laku   sesuai   dengan   tingkat
    perkembangan anak
c. Meneruskan nilai-nilai keluarga
4. Fungsi ekonomi
a. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
    keluarga
b. Pengaturan dan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi
    kebutuhan keluarga
c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa yang akan
    datang misalnya pendidikan anak,jaminan hari tua
5. Fungsi pendidikan
a. Menyekolahkan anak-anak memberikan pengetahuan,ketrampilan dan
    membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki
b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam
   memenuhi perannya sebagai orang dewasa
c. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangan


 Menurut Friedman (1998)
1.Fungsi offective
a. Menciptakan lingkungan yang menyenangakan dan sehat secara mental
   saling mengasuh,menghargai,terikat dan berhubungan
b. Mengenal identitas individu
c. Rasa aman
2. Fungsi sosialisasi peran
a. Proses perubahan dan perkembangan individu untuk menghasilkan
    interaksi sosial dan belajar berperan
b. Fungsi dan peran di masyarakat
c. Sasaran untuk kontak sosial di dalam atau di luar rumah
3. Fungsi reproduksi
 Menjamin kelangsungan keluarga generasi dan kelangsungan hidup
   masyarakat
4. Fungsi ekonomi
a. Memenuhi kebutuhan tiap anggota keluarga
b. Menambah penghasilan keluarga sampai dengan pengalokasian dana
c. Fungsi perawatan kesehatan
d. Konsep sehat sakit keluarga


2.1.4 TAHAP-TAHAP KEHIDUPAN KELUARGA
 Menurut Duvail adalah sebagai berikut :
1. Tahap pembentukan keluaraga,tahap ini dimulai dari pernikahan yang
   dilanjutkan dalam membentuk keluaraga
2. Tahap menjelang kelahiran anak,tugas keluarga yang utama untuk
   mendapatkan keturunan sebagai generasi penerus,melahirkan anak
   merupakan kebanggaan bagi keluarga yang merupakan saat-saat yang
   sangat dinantikan
3. Tahap menghadapi bayi dalam hal ini keluarga mengasuh,mendidik dan
   memberikan kasih sayang kepada anak,karena pada tahap ini bayi
   kehidupannya sangat tergantung kepada kedua orangtuanya,dan
   kondisinya masih sangat lemah
4. Tahap menghadapi anak prasekolah,pada tahap ini anak sudah mengenal
   kehidupan sosialnya,sudah mulai bergaul dengan teman sebaya,tetapi
   sangat rawan dalam masalah kesehatannya.Krena tidak mengetahui
   mana yang kotor mana yang bersih,dalam fase ini anak sangat sensitif
   terhadap pengaruh lingkungan dan tugas keluarga adalah mulai
   menanamkan norma-norma kehidupan,norma agama,norma sosial
5. Tahap menghadapi anak sekolah,dalam tahap ini tugas keluarganya
   adalah bagaimana mendidik anak,mengajari anak,untuk mempersiapkan
   masa depannya.Membiasakan anak belajar secara teratur,mengontrol
   tugas-tugas sekolah anak,dan meningkatkan pengetahuan anak
6. Tahap menghadapi anak remaja,tahap ini adalah tahap yang paling rawan
   karena dalam tahap ini anak akan mencari identitas diri dalam bentuk
   kepribadiannya,oleh karena itu suri tauladan dari kedua orangtua sangat
   diperlukan.Komunikasi dan saling pengertian antara kedua orangtua
   dengan anak perlu dipelihara dean dikembangkan
7. Tahap melepaskan anak ke masyarakat,setelah melalui tahap remaja dan
   anak telah dapat menyelesaikan pendidikannya,maka tahap selanjutnya
   adalah melepaskan anak ke dalam masyarakat dalam memulai
   kehidupannya yang seungguhnya dalam tahap ini akan memulai
   kehidupan berumah tangga
8. Tahap berdua kembali,setelah anak besar dan menempuh kehidupan
   keluarga sendiri-sendiri,tinggalah suami istri berdua saja.Dalam tahap ini
   keluarga akan merasa sepi dan bila tidak dapat menerima kenyataan akan
   dapat menimbulkan depresi dan stress
  9. Tahap masa tua,tahap ini masuk ke lanjut usia,dan kedua orangtua
     mempersiapkan diri untuk meninggalkan dunia yang fana ini




  2.1.5 PRINSIP-PRINSIP PERAWATAN KELUARGA
 Ada beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan
   asuhan keperawatan kesehatan keluarga :
  1. Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan
  2. Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan,keluarga sehat
     sebagai tujuan utama
  3. Asuhan keperwatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai
     peningkatan kesehatan keluarga
  4. Dalam memberikan asuahan keperwatan kesehatan keluarga perawat
     melibtakan peran aktif selruh keluarga dalam mengatasi masalah
     kesehatannya
  5. Lebih       mengutamakan            kegiatan-kegiatan      yang       bersifat
     promotif,preventif,serta    tidak     mengabaikan       upaya   kuratif   dan
     rehabilitatif
  6. Dalam     memberikan       asuhan      keperwatan       kesehatan    keluarga
     memanfaatkan sumber daya keluarga semaksimal mungkin
  7. Sasaran asuhan perawatan kesehatan keluarga adalah keluarga secara
     keseluruhan
  8. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pemecahan masalah
     dengan menggunakan proses keperwatan
  9. Kegiatan utama dalam memberikan asuhan keperwatan keluarga adalah
     penyuluhan kesehatan dan perwat dirumah
  10. Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk resiko tinggi
2.1.6      LANGAKAH-LANGKAH DALAM PERWATAN KESEHATAN
   KELUARGA
1. Membina hubungan kerjasama yang baik dalam keluarga
2. Merlaksanakan       peningkatan    untuk   menentukan   masalah-masalah
   kesehatan keluarga
3. Menganalisa      data keluarga     untuk menentukan     masalah-masalah
   kesehatan dan perawatan keluarga
4. Menggolongkan masalah kesehatan keluarga berdasarkan sifat masalah
   keluarga
5. Menentukan sifat dan luasnya masalah dan kesanggupan keluarga untuk
   melaksanakan tugas keluarga dalam bidang kesehatan
6. Menentukan atau menyusun skala prioritas masalah kesehatan dan
   keperawatan keluarga
7. Menyusun rencana asuhan keperawatan kesehatan keluarga sesuai
   dengan urutan prioritas.



                           TINJAUAN PUSTAKA




2.1 Definisi BBLR
                WHO (1961) mengganti istilah bayi prematur dengan Bayi
    Berat Lahir Rendah (BBRL), karena disadari tidak semua bayi dengan
    berat badan kurang dari 2500 gr pada waktu lahir bukan bayi prematur.
        a. Small for date (SFD) atau Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK)
          adalah bayi yang berat badannya kurang dari seharusnya umur
          kehamilan.
        b. Retasdasi pertumbuhan janin intrauterin
          Adalah bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai
          dengan tuanya kehamilan.
        c. Dismaturitas
         Adalah suatu sindroma klinik dimana terjadi ketidak seimbangan
         antara pertumbuhan janin dengan lanjutnya kehamilan.
         ( Rustam Mochtar, 1998: 448)


2.2 Etiologi
           Sering faktor penyebab tidak diketahui ataupun kalau diketahui
   factor penyebabnya tidaklah berdiri sendiri, antara lain:
    a. Faktor genetik atau kromosom
    b. Infeksi
    c. Bahan toksik
    d. Insufisiensi atau disfungsi plasenta
    e. Faktor nutrisi
    f. Faktor lainnya seperti merokok, peminum alcohol, bekerja berat masa
       hamil, plasenta previa, kehamilan ganda, obat-obatan, dan sebagainya.
   ( Rustam Mochtar, 1998: 449)
2.3 Diagnosa dan Gejala Klinik
    a. Sebelum bayi lahir
       1) Pada anamneses sering dijumpai adanya riwayat abortus bahkan
           lahir mati
       2) Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan
       3) Pergerakan janin yang pertama (quickening) terjadi lebih lambat,
           gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak
           lanjut
       4) Bertumbuhan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut
           yang seharusnya
       5) Sering dijumpai kehamilan dengan oligihidramnion atau bisa pula
           dengan hidramnion; hoperemesis grafidarum dan pada hamil lanjut
           dengan toksemia gravidarum, atau perdarahan anterpartum.
    b. Setelah lahir
       1) Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin
           Secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan. Tanda-tanda
           bayi ini adalah tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas, kulit
           tipis, kering, berlipat-lipat, mudah diangkat,jaringan lemak bawah
           kulit sedilit, tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan.
   ( Rustam Mochtar, 1998: 449-450)
2.3 Klasifikasi
           Berdasarkan dengan penanganan dan harapan hidupnya Bayi Berat
     Lahir Rendah dibedakan dalam :
     a. Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1500-2500 gr.
     b. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir < 1500 gr.
     c. Bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir < 1000 gr.
    (Sarwono Prawirohardjo, 2007: 376)


2.4 Frekuensi
           Frekuensi BBLR di Negara maju berkisar antara 3,6-10,8%, di
   Negara berkembang berkisar antara 10-43%. Rasio antara Negara maju
   dan Negara berkembang adalah 1:4.
   ( Rustam Mochtar, 1998: 449)


2.5 Prognosis BBLR
           Kematian perinatal pada berat bayi lahir rendah 8 kali lebih besar
   dari pada bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis akan
   lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang
   tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi
   neonatal. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada
   syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah, dan gangguan
   lainnya.
   ( Rustam Mochtar, 1998: 150-152)


2.6 Diatetik
          Pada BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks
   menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI
   dikeluarkan dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan
   pipa lambung atau pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah
   dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap sementara ASI yang telah
   dikeluarkan yang diberikan dengan pipet atau selang kecil yang menempel
   pada puting. ASI merupakan pilihan utama:
    a. Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang
       cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai
       kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali.
    b. Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20
       g/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.


2.7 Perawatan BBLR
          Yang perlu diperhatikan adalah pengaturan suhu lingkungan,
   pemberian makanan, dan siap sedia dengan tabung oksigen.
   a. Pengaturan suhu lingkungan
      Bayi dimasukkan dalam incubator dengan suhu yang diatur:
      1) Berat badan bayi dibawah 2 kg 35°C
      2) Berat badan bayi 2 kg sampai 2,5 kg 34°C
      Suhu incubator diturunkan 1°C setiap minggu sampai bayi dapat
      ditempatkan pada suhu lingkungan sekitar 24-27°C.
   b. Makanan pada bayi berat lahir rendah
          Pada bayi yang lahir berat badannya kurang terlihat seperti orang
      kelaparan, rakus minum dan makan. Yang harus diperhatikan adalah
      terhadap kemungkinan terjadinya pneumonia aspirasi.
   ( Rustam Mochtar, 1998: 450)


2.8 Penanganan
   a. Mempertahankan suhu dengan ketat
       BBLR mudah mengalami hipotermi, oleh sebab itu suhu tubuhnya
       harus   dipertahankan dengan ketat.
   b. Mencegah infeksi dengan ketat
      BBLR akan rentan terhadap infeksi, perhatikan prinsip-prinsip infeksi
      termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi.
   c. Mengawasi nutrisi/ ASI
       Reflex menelan BBLR belum sempurna, oleh sebab itu pemberian
       nutrisi harus dilakukan dengan cermat.
   d. Penimbangan ketat
       Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi/ nutrisi bayi dan
       erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan
       berat badan harus dilakukan dengan ketat.
          Kebutuhan cairan untuk bayi baru lahir 120-150 ml/kg/hari atau
  100-120 cal/kg/hari. Pemberian dilakukan secara bertahap sesuai
  kemampuan        bayi   untuk   sesegeramungkin      mencukupi   kebutuhan
  cairan/kalori.
  (Sarwono Prawirohardjo, 2007: 377)


2.11      Pencegahan
       Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif
    adalah langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan:
       a. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4
          kali selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan
          muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang
          mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau
          dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu
       b. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan
          janin dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan
          perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga
          kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik
       c. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun
          umur reproduksi sehat (20-34 tahun)
       d. Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam
          meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar
          mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan
          antenatal dan status gizi ibu selama hamil


2.12       Pemeriksaan Penunjang
   Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain :
a. Pemeriksaan skor ballard
b. Tes kocok (shake test), dianjur untuk bayi kurang bulan
c. Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas
   diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah.
d. Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir
   dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam
   atau didapat/diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas.
e. USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan.
indrom gawat nafas.
e. USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:3573
posted:11/30/2010
language:Indonesian
pages:16