SEPUTAR ILMU MEMANGGIL ARWAH

Document Sample
SEPUTAR ILMU MEMANGGIL ARWAH Powered By Docstoc
					       SEPUTAR ILMU MEMANGGIL ARWAH
Oleh Syiakh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah n
, keluarganya, shahabatnya serta orang-orang yang mengikuti petunjuknya.

Sungguh telah tersebar ditengah masyarakat, baik masyarakat penulis maupun
masyarakat bukan penulis, satu ilmu yang dinamakan ilmu memanggil arwah.
Mereka mengaku bisa memanggil arwah orang-orang mati dengan cara yang
ditemukan oleh para tukang sihir. Mereka bertanya kepada para arwah kabar
tentang nikmat dan siksa yang dialami oleh orang-orang mati serta masalah-
masalah lain yang kira-kira arwah dianggap mengetahuinya dalam kehidupan
mereka (di alam kubur).

Aku telah banyak meneliti (merenungi) permasalahan ini sehingga jelas bagiku
bahwa ilmu memanggil arwah adalah ilmu yang batil. Dan ilmu tersebut
merupakan permainan syetan yang bertujuan merusak aqidah dan akhlaq,
menipu kaum muslimin dan menyeret mereka hingga sampai pada sikap
mengaku tahu terhadap perkara ghaib dalam banyak masalah. Oleh sebab itu
aku merasa perlu menulis kalimat ringkas ini untuk menjelaskan kebenaran,
menasehati ummat serta menyingkap penipuan terhadap manusia.

Maka aku katakan, tidak diragukan lagi bahwa masalah ini sebagaimana
masalah-masalah yang lain harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah n .

Apa saja yang ditetapkan Al-Qur’an dan Sunnah atau salah satunya maka kita
harus menetapkannya dan apa saja yang dinafikan (ditiadakan) Al-Qur’an dan
Sunnah atau salah satunya maka kitapun harus menafikannya. Sebagaimana
firman Allah,

Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-nisa’ 59)

Masalah arwah merupakan perkara ghaib yang hakikatnya hanya diketahui Allah
saja. Orang tidak boleh sibuk membicarakannya kecuali berdasarkan dalil syar’i.
Allah berfirman,

(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan
kepada seorangpun tentang yang ghaib itu Kecuali kepada rasul yang diridhai-
Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka
dan di belakangnya (QS. Al-jin 26-27)

Katakanlah:"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui
perkara yang ghaib, kecuali Allah", (QS. An-Naml 56)

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami maksud arwah (arwah) yang
terdapat dalam QS. Al-Isra’ 85,

Dan mereka bertanya kepadamu tentang arwah. Katakanlah:"Arwah itu
termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit".



Sebagian ulama mengatakan, bahwa maksudnya adalah arwah yang ada pada
badan. Berdasarkan pendapat ini maka ayat diatas merupakan dalil bahwa
arwah termasuk urusan Allah, tidak diketahui oleh manusia sedikitpun kecuali
yang diberitahukan oleh Allah. Karena masalah arwah merupakan satu di antara
sekian banyak masalah yang khusus menjadi rahasia Allah. Dia menutup
persoalan ini terhadap makhluk-Nya.

Sementara itu Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih dari Rasullah n menunjukkan
bahwa arwah orang yang sudah meninggal dunia akan tetap hidup setelah
kematian jasad. Diantara yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah,
Allah memegang jiwa (arwah/nyawa seseorang) ketika matinya dan
(memegang) jiwa (arwah/nyawa seseorang) yang belum mati di waktu tidurnya;
maka Ia menahan jiwa (arwah/nyawa orang) yang telah ia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan lagi jiwa (nyawa/arwah) yang lain sampai
waktu yang ditentukan (QS. Az-Zumar 42)

Ada riwayat yang shahih, bahwa pada perang Badar Nabi n memerintahkan
untuk mengurus 24 orang bangkai pemuka Quraisy , mereka dilemparkan
kedalam sebuah sumur busuk yang ada di Badar. Manakala beliau sudah
mengalahkan kaum (Musyrikin Quraisy), beliau tinggal di tanah Badar yang
menjadi lengang selama 3 malam. Setelelah beliau berada di sana pada hari
yang ketiga, beliau memerintahkan untuk mempersiapkan binatang
tungganngannya, lalu dipasang dan dikuatkanlah pelananya. Kemudian beliau
berjalan diiringi oleh para shahabatnya. Para shahabat berkata, “kami tidak
melihat beliau beranjak kecuali dengan maksud memenuhi sebagian
kebutuhannya. Sampai akhirnya beliau berdiri di sisi bibir sumur, kemudian
beliau memanggil bangkai-bangkai pembesar kafir Quraisy (yang terkubur di
dalam sumur) tersebut dengan menyebutkan nama-nama mereka dan nama
bapak-bapak mereka, “Wahai Fulan bin fulan, Wahai Fulan bin fulan, Bukankah
kalian akan senang jika kalian mentaati Allah dan rasulNya? Sesungguhnya kami
benar-benar telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Rabb kami kami,
bukankah kalian juga telah benar-benar mendapatkan apa yang dijanjikan oleh
Rabb kalian.” Umar berkata, “Wahai Rasulullah kenapa anda berbicara dengan
jasad-jasad yang tidak memiliki arwah ?” Rasulullah n menjawab, “Demi Dzat
yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, kalian tidak lebih baik pendengarannya
terhadap apa yang aku katakan dibanding mereka, hanya saja mereka tidak
mampu menjawab” (HR. Bukhari, Kitab al-Maghazi, no.3976. Fathul Bari VII/300-
301)

Juga terdapat riwayat yang shahih dari Rasulullah n bahwa mayit bisa
mendengar suara sandal (sepatu) orang-orang yang mengantarnya ketika
mereka meninggalkan (kuburan)nya.
Imam Al Allamah Ibnul Qayyim t berkata, “Kaum salaf telah bersepakat atas hal
ini. Atsar dari mereka sudah mutawatir bahwa mayit mengetahui jika ada orang
yang menziarahinya dan merasa bahagia dengan ziarah tersebut”.

Selanjutnya Ibnul Qayyim menukil perkataan Ibnu Abbas z dalam menafsirkan
firman Allah

Allah memegang jiwa (arwah seseorang) ketika matinya dan (memegang) jiwa
(seseorang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahan jiwa (arwah
orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan lagi jiwa/arwah
yang lain sampai waktu yang ditentukan (QS. Az-Zumar 42) :

“Telah sampai kepadaku bahwasanya arwah orang-orang yang masih hidup dan
yang sudah mati bisa bertemu didalam tidur (mimpi-red) kemudian mereka
saling bertanya, lalu Allah menahan arwah orang yang sudah mati dan
mengembalikan arwah orang yang masih hidup ke jasadnya.” Kemudian Ibnul
Qayyim berkata, “Sungguh pertemuan antara arwah orang-orang yang masih
hidup dengan arwah orang-orang yang sudah meninggal menunjukkan bahwa
orang yang masih hidup bisa melihat orang yang sudah meninggal dalam
mimpinya dan menanyainya hingga orang yang sudah mati menceritakan apa
yang tidak diketahui oleh yang masih hidup. Atas dasar inilah terkadang berita
orang yang hidup (tentang keadaan orang yang sudah mati) bisa pas sesuai
dengan kenyataan.”

Inilah yang dipegang oleh Salafus Shalih, yaitu arwah orang-orang yang sudah
mati tetap ada dan bisa mendengar sampai waktu yang dikehendaki Allah.
Tetapi tidak benar, kalau arwah-arwah itu bisa berhubungan dengan orang-
orang yang masih hidup selain dalam mimpi.

Begitu pula tidaklah benar pengakuan para tukang sihir tentang kemampuan
mereka mendatangkan arwah orang-orang mati yang diinginkan, lalu
mengajaknya berbicara dan bertanya-tanya (berbagai hal) kepadanya. Ini adalah
pengakuan yang batil, tidak ada dalil yang menguatkannya baik dalil naqli (Al-
Qur’an dan Hadits-pent) maupun dalil aqli. Allahlah yang Maha Mengetahui
masalah arwah. Dialah yang mengatur arwah. Dia pulalah yang berkuasa
mengembalikan arwah tersebut ke jasad manusia kapan saja Ia kehendaki.
Hanya Allah yang Maha mengatur kerajaanNya dan ciptaanNya, tidak ada yang
bisa menandingiNya.

Sedangkan orang yang beranggapan selain itu (tidak mengakui kekuasaan Allah-
pent) maka dia hanya beranggapan tanpa berdasarkan ilmu dan dia berdusta
kepada manusia tentang berita-berita arwah yang dia sebarkannya. Hal itu
mungkin untuk tujuan mendapatkan harta atau untuk menunjukkan
kemampuannya yang tidak dimiliki orang lain atau untuk menipu manusia
dengan maksud merusak agama dan akidah mereka.

Apa yang diaku-aku oleh para dajjal ini, yaitu memanggil arwah-arwah
sebenarnya adalah arwah-arwah syetan. Mereka memberikan pelayanan
kepada syetan-syetan itu dengan cara menyembahnya dan memenuhi
permintaannya. Arwah-arwah syetan tadi membantu para dajjal ini dengan
bantuan yang diminta dengan cara berdusta dan berbuat dosa dalam menjiplak
nama orang-orang mati yang dipanggil para dajjal itu. Allah berfirman,

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan
(dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada
sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu
(manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak
mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan
akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan
supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syetan) kerjakan. (QS. Al-An’am
112-113)

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan
Allah berfirman):"Hai golongan jin (syetan), sesungguhnya kamu telah banyak
(menyesatkan) manusia", lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan
manusia:"Ya Rabb kami, sesungguhnya sebahagian dari pada kami telah dapat
kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu
yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman:"Neraka itulah tempat
diam kamu, sedang kamu kekal didalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki
(yang lain)". Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS.
Al-An’am 128)

Para Ulama tafsir menyebutkan, kesenangan jin terhadap manusia ialah karena
pengabdian manusia kepada jin, dengan cara memberikan sesajian binatang
sembelihan, bernadzar dan meminta-minta kepada jin. Sedangkan kesenangan
manusia terhadap jin ialah karena pemenuhan jin terhadap kebutuhan yang
diminta manusia, dan juga karena pemberitaan jin kepada manusia tentang
beberapa perkara ghaib yang diketahuinya atau yang berhasil ia curi dengar atau
yang hanya sekedar kedustaan yang dibuat-buat mengenai banyak persoalan
yang rumit. Dan kedustaan inilah yang justeru paling banyak (dilakukan oleh jin).

Sekalipun sekiranya kita memastikan bahwa para tukang sihir itu tidak
mendekatkan diri kepada arwah (syetan) yang mereka datangkan dengan
suatupun dari bentuk peribadatan, tetap saja hal itu tidak menunjukkan halal
dan kebolehannya berhubungan dengan para arwah syetan tersebut. Karena
meminta kepada syetan, peramal, tukang tenung dan ahli nujum dilarang
menurut syari’i. Dan mempercayai apa yang mereka beritahukan merupakan
larangan yang paling keras dan dosa paling besar bahkan ini merupakan cabang
kekufuran, Berdasarkan sabda Rasulullah n ,

Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu bertanya tentang sesuatu, tidak
diterima shalatnya selama 40 malam

Dalam Musnad Imam Ahmad dan kitab-kitab Sunan, dari Nabi n , beliau
bersabda,

Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung dan membenarkan apa yang dia
ucapkan maka sesungguhnya dia telah kafir terhadap yang apa yang diturunkan
kepada Muhammad n
Banyak hadits serta atsar (perkataan shahabat-pent) yang semakna dengan ini.
Dan tidak diragukan lagi bahwa arwah-arwah yang –menurut prasangka mereka-
bisa mereka panggil, masuk dalam kategori yang dilarang oleh Nabi n . Sebab
arwah-arwah yang dipangggil itu sejenis dengan arwah-arwah syetan yang
menjadi pendamping tukang tenung dan tukang ramal, maka hukumnya sama.
Karena itu tidak boleh bertanya (meminta) kepadanya, memanggilnya dan
mempercayainya. Semua itu diharamkan dan termasuk kemungkaran. Bahkan
semua itu batil berdasarkan hadits-hadits serta atsar-atsar yang telah di dengar
di muka dalam masalah ini. Di samping itu juga karena berita yang mereka ambil
dari arwah-arwah ini termasuk perkara ghaib, padahal Allah berfirman,

Katakanlah:"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui
perkara yang ghaib, kecuali Allah", (QS. An-Naml 65)

Terkadang arwah-arwah yang mereka panggil ini adalah syetan yang menemani
orang mati yang dipanggil arwahnya. Lalu syetan ini memberitahukan apa yang
ia ketahui tentang mayit ini semasa hidupnya sambil mengaku bahwa dialah
arwah sang mayit. Oleh sebab itu tidak boleh mempercayainya, memanggilnya
dan menanyainya sebagaimana dalil yang telah disebutkan. Dan apa yang ia
panggil itu tidak lain hanyalah syetan dan jin yang membantu mereka sebagai
imbalan dari persembahan yang mereka berikan kepada syetan tersebut, berupa
peribadatan yang seharusnya tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Dengan
cara demikian maka ia (orang yang memanggil arwah) sampai pada batas syirik
akbar yang akan mengeluarkan sang pelaku dari Islam.

Lajnah Daimah (Dewan Tetap) Untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa Saudi
Arabia telah mengeluarkan fatwa tentang hipnotis yang merupakan salah satu
jenis mendatangkan arwah. Teks fatwa itu sebagai berikut;

“Hipnotis merupakan sebentuk praktek perdukunan dengan bantuan jin yang
dipasang oleh si penghipnotis pada orang yang di hipnotis. Lalu jin itu berbicara
dengan lidah orang yang dihipnotis dan memberinya kemampuan untuk
mengerjakan sebagian pekerjaan dengan kekuatan jin yang ada pada dirinya,
jika jin itu benar-benar patuh terhadap si penghipnotis, sebagai imbalan dari
ibadah penghipnotis kepada jin. Lalu jin itu membuat orang yang dihipnotis
mentaati kemauan si penghipnotis. Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang
dimaukan oleh sipenghipnotis karena adanya bantuan jin kerpadanya
(penghipnotis), jika jin tersebut berbuat jujur kepadanya.

Berdasarkan (uraian-red) itu, maka menggunakan hipnotis dan menjadikannya
sebagai cara untuk menunjukkan letak barang yang dicuri atau barang hilang
atau untuk mengobati orang sakit atau untuk melakukan pekerjaan apa saja
dengan perantara orang yang dihipnotis, hukumnya tidak boleh bahkan
termasuk syirik seperti penjelasan yang telah lewat. Di samping itu juga karena
termasuk berlindung kepada selain Allah, karena tidak mempergunakan sebab-
sebab (usaha-usaha) wajar yang dijadikan sebagai sebab oleh Allah yang
diperbolehkan bagi para makhlukNya. (Sampai disini fatwa Lajnah Daimah). *)
*)[anggota lajnah, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (ketua), Syaikh
Abdurrozaq Afifi (wakil), Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyan
(anggota) dan Syaikh Abdullah bin Sulaiman Al-Mani’ (anggota)]

Diantara orang yang membongkar hakikat anggapan bathil ini adalah Dr.
Muhammad Muhammad Husain dalam kitabnya Ar-Ruhiyyah al-Haditsah,
Haqiqatuha wa Ahdafuha. Dulunya, dia termasuk orang yang tertipu dengan
sulap (sihir) ini dalam waktu yang cukup lama kemudian Allah memberikan
petunjuk kepadanya menuju kebenaran. Kemudian dia membongkar
kebohongan anggapan tersebut setelah dia mendalami ilmu itu dan tidak
mendapatkan selain khurafat dan kebohongan.

Dr Muhammad Muhammad Husein menyebutkan, orang yang memanggil arwah
menempuh cara yang berbeda-beda. Di antaranya ada yang pemula, mereka
menggunakan gelas kecil atau cangkir yang digeser-geser diantara huruf-huruf
yang tertulis di meja. Menurut anggapan mereka, jawaban arwah yang dipanggil
itu tersusun dari kumpulan urut-urutan huruf yang tergeser oleh geseran gelas
atau cangkir tersebut. Di antaranya lagi lagi ada yang menggunakan keranjang.
mereka menaruh pena dibibir keranjang, pena ini akan menulis jawaban dari
soal yang diajukan penanya. Kemudian, di antaranya lagi ada yang bertumpu
pada perantara seperti halnya perantara pada ilmu hipnotis.

Dr Muhammad Muhammad Husein menyatakan bahwa ia meragukan
kebenaran orang yang mengaku mampu memanggil arwah. Kenyataannya, ada
orang dibelakang mereka yang mendorong mereka untuk berbuat semacam itu.
Buktinya, ada propaganda yang bekerja untuk mereka. Sehingga Koran-koran
dan majalah-majalah berlomba-lomba untuk mengikuti berita mereka dan
menyebarkan     pengakuan-pengakuan     (bohong-red)     mereka.    Padahal
sebelumnya media-media tersebut tidak bergairah untuk (memuat-red) berita
menyangkut arwah dan akhirat dan juga media-media itu tidak pernah menyeru
kepada agama atau keimanan kepada Allah walaupun hanya sehari.

Dia (Mumahammad Muhammad Husain) juga menyatakan bahwa mereka ini
sangat antusias untuk menghidupkan dakwah fir’aun dan dakwah-dakwah
jahiliyah lainnya. Dia juga menyebutkan, orang-orang yang mempromotori ide
ini merupakan orang yang sebenarnya tidak memiliki kedudukan atau
kehormatan lalu mereka mengangkat sendiri kemuliaan dirinya dengan
khayalan-khayalan. Orang yang paling terkenal mempromotori bid’ah ini adalah
Oliver Lordge yang kehilangan anaknya dalam perang dunia pertama. Demikian
juga pendiri lembaga Ruhiyah (menggeluti soal arwah) di Mesir; Ahmad Fahmi
Abul Khair yang anaknya meninggal 1937 M setelah melewati masa penantian
hadirnya anak tersebut dalam waktu cukup lama.

Dr Muhammad Muhammad Husein menyebutkan bahwa dia pernah melakukan
bid’ah ini, dimulai dengan cangkir dan meja akan tetapi dia tidak merasa puas,
sampai dengan menggunakan perantara dan dia berusaha melihat apa yang
mereka akui sebagai penjelmaan arwah atau suara dan mereka ceritakan
sebagai bukti pengakuan mereka, namun dia tidak berhasil dan begitu juga yang
yang lainnya. Karena memang sebenarnya tidak ada. Itu hanyalah permainan-
permainan bohong yang didasarkan pada tipu muslihat tersembunyi yang jitu
untuk menghancurkan agama. Sehingga tidak jauh beda dengan cara-cara
zionisme internasional.
Ketika Muhammad Muhammad Husein tidak puas dengan pemikiaran-pemikiran
(ide-ide) yang merusak itu, bahkan ia dapat membongkar kebohongannya, maka
ia mengundurkan diri darinya dan bertekad untuk menjelaskan hakikatnya
kepada manusia. Ia juga mangatakan bahwa orang-orang menyimpang ini akan
senantiasa menipu manusia sampai mereka berhasil mengeluarkan keimanan
dari dada mereka dan mengeluarkan akidah yang telah tertanam di dalam jiwa
mereka. Untuk selanjutnya mereka akan diseret menuju prasangka-prasangka
dan khayalan-khayalan kacau yang membingungkan.



Orang-orang yang mengaku bisa memanggil arwah ini tidak mengakui para rasul
kecuali hanya sebagai penghubung persoalan arwah saja. Sebagaimana
perkataan pemimpin mereka, Arthur Findlay dalam bukunya ala haafati al’alam
al-atsiiri tentang para nabi, “Mereka (para nabi) adalah perantara yang paling
tinggi derajatnya diantara derajat-derajat perantara lainnya. Dan mukjizat para
nabi itu tidak lain hanyalah fenomena-fenomena arwah, seperti fenomena-
fenomena yang terjadi di tempat pemanggilan arwah.”

Dr Muhammad Muhammad Husein selanjutnya mengatakan, “Jika mereka gagal
memanggil arwah, mereka akan mengatakan, ‘perantara ini tidak berhasil atau
tidak bersungguh-sungguh atau orang yang melihat tidak sepakat atau ada
diantara yang hadir masih bimbang atau menentang’.

Diantara anggapan mereka yang bathil adalah menganggap Jibril q datang
ditempat perkumpulan mereka dan mendo’akannya. Semoga Allah menjelekkan
mereka.

Demikianlah maksud dari penjelasan Dr. Muhammad Muhammad Husain.

Dari jawaban kami di muka dan dari penjelasan Lajnah Daimah serta penjelasan
Dr. Muhammad Muhammad Husain tentang hipnotis, jelaslah kebohongan para
pengaku pemanggil arwah tentang (kemampuan) mereka mendatangkan arwah
orang mati, untuk kemudian ditanyai tentang apa saja yang mereka inginkan.
Diketahui pula! bahwa semua ini merupakan perbuatan syetan dan permainan
sulap yang bathil, termasuk dalam perbuatan yang dilarang Nabi n yaitu
termasuk bertanya kepada tukang tenung, tukang ramal, ahli nujum dan orang
yang semisal mereka. Dan wajib atas semua yang bertanggung jawab di Negara
Islam untuk melarang kebathilan ini, memusnahkannya serta memberikan
hukuman terhadap orang yang melakukannya sehingga dia berhenti.
Sebagaimana juga wajib atas semua pemimpin redaksi majalah-majalah Islam
supaya tidak memuat dan mengotori lembaran-lembaran mereka dengan
kebathilan ini. Kalaupun terpaksa untuk memuatnya maka hendaklah sekedar
untuk membantah, memberitahukan kebatilannya serta memperingatkan
manusia terhadap permainan syetan baik yang berwujud manusia ataupun jin
serta memberi peringatan terhadap tipu daya mereka kepada manusia.

Allah Maha berkata benar, Dialah yang menunjukkan jalan kebenaran. Dan
hanya kepada Allahlah permohonan diajukan, agar hendaknya Dia memperbaiki
kondisi kaum muslimin serta menganugerahkan pemahaman yang baik dalam
masalah agama kepada mereka. Juga agar hendaknya Allah melindungi mereka
dari tipu daya orang-orang jahat dan tipu daya wali-wali syetan. Sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas semuanya.

*) *)[Diterjemahkan oleh Abu Zahra’ Marzuki Fauzi. Dari Mukhtarat Min Kitab
Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Bin Baz hal. 212 s/d 217.
Pernah dimuat di media-media setempat dan media-media Islam tahun 1395H.]

Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VII/1424H/2003

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:331
posted:11/30/2010
language:Indonesian
pages:11