kebaktian dan manfaatnya

Document Sample
kebaktian dan manfaatnya Powered By Docstoc
					              Kebaktian Dan Manfaatnya
                                       oleh
                             UP Dharma Mitra (Peter Lim)


Salah satu dari sepuluh perbuatan baik, yang di ajarkan oleh Sang Buddha adalah
Veyyavaca (Berbhakti kepada nusa,bangsa dan agama. Berbhakti kepada nusa dan
bangsa, dalam hal ini adalah turut melindungi, membela, mempertahankan dan
memperjuangkan kemakmuran, demi nusa dan bangsa. Salah satu wujud nyata dari
kontribusi kemakmuran demi nusa dan bangsa adalah dengan membayar pajak yang
sejujurnya. Didalam kitab suci Anguttara Nikaya III : 45, Sang Buddha menyabdakan :
"Dengan harta kekayaan yang telah dikumpulkan dengan bersemangat, dengan
cara yang sah dan tanpa kekerasan, seseorang dapat membuat dirinya bahagia,
orang tuanya, istri dan anak anaknya, pelayan, bawahannya dan orang-orang lain
juga bahagia dapat mempertahankan kekayaanya memberikan hadiah kepada
sanak keluarga, tamu-tamu, arwah para leluhur dan para dewa. Membayar pajak
dan memberikan persembahan kepada orang suci, untuk mengumpulkan
pahala...." Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, sudah seharusnya kita
berbhakti kepada nusa dan bangsa. Coba direnungkan barang sejenak, apakah yang
bakal terjadi, jika seandainya kita hidup di dalam kekacauan, kerusuhan,
ketidakdamaian dan kekerasan…..? Pasti sungguh menderita sekali akibatnya. Tanpa
adanya bhakti yang mendalam terhadap nusa dan bangsa maka sifat memiliki (self of
belongings) untuk melindungi, menjaga dan mempertahankan nusa dan bangsa, akan
sirna segera. Jika kondisi ini sampai terjadi, maka penderitaan yang
berkepanjanganlah, yang akan dirasakan. Dan bagaimana pula, jika kita sebagai suatu
individu yang beragama….? Tanpa adanya bhakti yang mendalam terhadap agama
yang dianut maka sampai kapanpun, yang namanya kebahagiaan adalah bagaikan
angan angan, yang berada di angkasa luar. Salah satu wujud bhakti umat Buddha,
terhadap ajaran luhur Sang Buddha adalah dengan mau ikut berpartisipasi aktif,
disetiap aktivitas Vihara/Cetiya, baik di hari-hari besar agama Buddha, maupun disetiap
hari uposatha (kebhaktian). Umumnya, kita baru mau melaksanakan puja bhakti
(kebhaktian) jika ada masalah-masalah yang tidak terpecahkan, tertimpa musibah, ingin
mendapatkan berkahan ini dan itu, minta murah rezeki/umur yang panjang atau hanya
sekedar formalitas, agar tidak dikatakan "atheis : tidak beragama". Jika dikarenakan
oleh kondisi ini, kita baru mau ke Vihara/Cetiya, akan adakah manfaatnya…..? Sudah
pasti tidak. Ini bisa diibaratkan dengan, setelah kehujanan (basah), baru menyediakan
payung. Sebelum sakit, kesehatan tidak dijaga dengan baik, setelah sakit baru
kedokter. Bukankah ini suatu hal yg sudah terlambat…? Singkatnya, jika ada masalah,
Sang Buddha teringat tetapi jika lagi senang, Sang Buddha terlupakan. Inilah salah satu
contoh dari :" moha : kebodohan". Salah satu faktor yang menyebabkan, sampai
timbulnya keengganan untuk mau ke Vihara/Cetiya, mungkin saja karena tidak
dimilikinya pengertian yang baik, akan manfaat manfaat dari ke Vihara/Cetiaya.
Sehingga timbul suatu pandangan salah, yang menyatakan bahwa ke Vihara/Cetiya itu,
hanyalah membuang buang uang, waktu, tenaga dan perasaan (dicela atau
disepelekan) saja. Apakah benar adanya bahwa ke Vihara/Cetiya, tiada manfaatnya
sama sekali……? Nach, untuk lebih jelasnya, akan ada tidaknya manfaat manfaat ke
Vihara/Cetiaya, marilah kita renungkan sesaat, uraian yang tertera dibawah ini. Kalau
kita memiliki keseriusan dan keyakinan yang mendalam, di dalam pelaksanaan
kebhaktian maka secara tidak langsung kita telah :

   1. Mengikis         ke    AKU      an    melalui  pelaksanaan       NAMASKARA.
           Pada dasarnya, kita ini termasuk manusia yang sombong dan angkuh. Mau
      tahu bukti nya…..? Disaat kita photo bersama dan setelah hasilnya didapatkan.
      Gambar siapakah yang pertama sekali dilihat…..? Pasti diri sendiri ! Mengapa
      bukan orang lain….? Inilah salah satu contoh dari ke Aku an. Contoh yang
      lainnya adalah apakah reaksi yang bakal timbul jika dikatakan cantik dan
      menawan…..?
           Pasti, bangganya luar biasa atau lupa diri barang sejenak. Dan bisa saja
      merasakan, seakan akan berada di angkasa, bagaikan burung yang terbang
      melayang layang kesana-kemari. Coba kalau kondisi sebaliknya yang terjadi,
      misalnya dikatakan jelek, jorok, menjengkelkan, kampungan, tidak bermoral dan
      membosankan. Reaksi apakah yang bakal timbul….? Pasti kesedihan yang
      berkepanjangan, bisa saja dicurahkan dalam wujud tangisan atau ratapan, yang
      ber episode lamanya. Baginya, hidup ini tiada artinya sama sekali. Makan tidak
      enak,      tidur     tidak     nyenyak    dan    pikiranpun     serba      ruwet.
           Ini adalah kondisi kondisi yang umumnya, membelenggu bathin kita. Kalau
      di puji, gembiranya luara bisa, dan bisa saja sampai lupa daratan tetapi jika
      dicela, sedihnya pun tak terkirakan, baginya hidup ini, tidaklah berarti lagi. Ciri
      khas orang orang yang ke Aku an nya sangat menonjol adalah sedih dikala
      dicela dan gembira (bangga) kalau dipuji. Sang Buddha menyabdakan :
      "Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai, demikian pula
      para bijaksana, tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian….."
           Jadi, bisa disimpulkan bahwa ke AKU an yang sangat menonjol, tidaklah
      berbeda dengan Si bodoh. Bodoh dalam hal ini adalah gampang (mudah)
      diombang ambing dan dipengaruhi, untuk mau melakukan perbuatan perbuatan,
      apapun       juga.    Selanjutnya,   bagaimana   caranya      agar   kita     bisa
      menekan/mengurangi ke AKU an di Vihara/Cetiya…..? Caranya yaitu melalui
      pelaksanaan Namaskara (berlutut dan bersujud) sebanyak tiga kali, dihadapan
      Buddha rupang (Arca/patung Nya, Sang Buddha). Dalam hal ini, apakah kita
      menyembah nyembah patung…? Pasti tidak ! Sang Buddha saja tidak kita
      sembah, apalagi patung Nya. Makna dari namaskara, merupakan salah satu
      wujud dari penghormatan dan rasa terima kasih kita, atas jasa jasa luhur Sang
      Buddha. Sikap namaskara, dalam hal ini, tidaklah difokuskan untuk menyembah
      nyembah patung. Semasa hidup Nya, Sang Buddha tidak pernah
      memperkenankan umat Nya, untuk menyembah nyembah beliau. Disetiap sabda
      Nya, Sang Buddha selalu menekankan bahwacara penghormatan yang benar
      terhadap beliau adalah dengan melaksanakan Dharma (kebenaran) di
      dalam kehidupan yang nyata. Jadi adalah suatu anggapan yang salah dan
      fatal sekali, jika mengatakan bahwa umat Buddha menyembah nyembah patung,
      di setiap kali kebhaktian. Sikap Namaskara/penghormatan umat Buddha di
      hadapan altar suci Sang Buddha, sama halnya dengan penghormatan, yang kita
   arahkan kepada bendera Merah Putih, yang merupakan lambang persatuan dan
   kesatuan negara Republik Indonesia. Umat Buddha menghormati dan
   menghargai bendera Merah Putih, juga atas dasar wujud terima kasih atas
   pengorbanan dan perjuangan para pahlawan terdahulu, dan demikan juga
   halnya dengan patungnya Sang Buddha. Pada waktu kita bernamaskara
   dihadapan altar suci Sang Buddha, disanalah kita merenungkan kembali, apalah
   artinya diriku ini jika tanpa bimbingan dan tuntunan Dharma (ajaran Nya
   Sang Buddha) Dari segi keagungan, aku sama sekali tiada artinya
   dibandingkan Sang Buddha, hidupku selalu terbelenggu oleh nafsu nafsu
   keduniawian, ingin makan yang enak, rumah yang indah, istri/suami yang
   cantik/gagah, ingin ini dan itu…akhirnya kabut avijja (ketidak tahuan)
   semakin tebal menyelimuti diriku…. Hanya, Sang Buddhalah yang bisa
   menerangi diriku agar terlepas dari "dukkha : derita" yang mendalam ini.
   Dengan selalu mengadakan perenungan perenungan ini, maka tanpa disadari,
   kita telah belajar menekan ke AKU an, yang begitu kentalnya, melekat di hati
   sanubari. Itulah salah satu manfaat yang di peroleh di Vihara/Cetiya.

2. Mendapat perlindungan melalui pembacaan PARITTA/MANTRAM suci.
        Setelah kita ber namaskara (berlutut dan bersujud), tahapan selanjutnya
   adalah kita ikut serta di dalam penglafalan/pengumandangan Paritta
   Paritta/Mantram Mantram atau Sutra Sutra suci. Secara garis besarnya, Paritta
   berarti perlindungan. Kalau kita menglafalkan Paritta dengan penuh ketenangan
   dan konsentrasi serta memancarkan getaran getaran cinta kasih, ke segala
   penjuru demi kebahagiaan semua makhluk. Maka dalam hal ini, kita telah
   membuat suatu perlindungan yang sejati, baik melalui pikiran, ucapan maupun
   tindakan badan jasmani. Pembacaan Paritta Paritta/Mantram Mantram suci,
   akan bisa meredakan dan menghilangkan sifat negatif dari diri kita, misalnya :
   membenci,                  serakah                 maupun               irihati.
   Dan semua isi dari Paritta Paritta/Mantram Mantram suci, hanya berpondasikan
   pada cinta kasih dan kasih sayang, untuk semua makhluk hidup, tanpa
   diboncengi oleh unsur diskriminasi. Dengan berhasilnya kita mengakhiri sifat-
   sifat jahat, maka kehidupan ini akan senantiasa dipenuhi oleh perbuatan-
   perbuatan baik.Terhindari dari perbuatan perbuatan jahat, sama artinya, hidup
   dengan penuh kedamaian dan ketentraman. Hidup yang dipenuhi oleh
   kedamaian dan ketentraman, akan mencegah tercetusnya karma karma jelek.

3. Keterangan pikiran melalui MEDITASI (Pengkonsentras-an / Pengontrolan
   Pikiran).
   Umumnya, disetiap kali kebhaktian di Vihara/Cetiya, setelah mengumamdangkan
   Paritta Paritta /Mantram Mantram suci, akan dilanjutkan dengan pelaksanaan
   "Metta Bhavana : Meditasi Cinta Kasih . Ditahapan ini, kita dilatih untuk
   mengkonsentrasikan pikiran pada hal hal yang baik, setelah itu dipancarkan
   kembali ke segala penjuru, baik kepada kedua orang tua yang dicintai, saudara/ri
   sedharma, semua manusia, dan semua makhluk (hewan), baik yang terlihat
   maupun tidak terlihat (misalnya : setan), dengan hanya satu doa dan
   pengharapan yang tulus ""Semoga semua makhluk hidup, hendaknya
   senantiasa hidup di dalam kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan "
   Adanya kemampuan untuk mengkonsentrasikan pikiran ke hal-hal yang baik,
   merupakan kunci utama bagi diri kita agar terbebaskan dari lingkaran derita.
   Orang yang memiliki ketenangan pikiran, tidak akan pernah merasa kecewa,
   frustasi,               stress                ataupun                 minder.
        Sang Buddha menyabdakan bahwa pikiran sangatlah dominan,
   menentukan bahagia tidaknya kehidupan kita ini. Di dalam kitab suci
   Dhammapada Citta Vagga III : 39, Sang Buddha bersabda : " Orang yang
   pikirannnya teguh, yang tiada tergoyahkan oleh nafsunya, yang tidak
   terangsang oleh kebencian, akan dapat mengatasi segala macam kejahatan
   dan kebaikan. Orang yang ulet dan sadar seperti itu, tiada lagi ketakutan
   yang akan menimpanya……." Itulah manfaat besar dari pelaksanaan meditasi
   yang benar dan baik, baik di Vihara maupun Cetiya. Manfaat-manfaat lain atas
   kemampuan meditasi, sebenarnya cukup banyak. Tetapi yang terpenting adalah
   orang yang mampu bermeditasi, tidak akan bisa di pengaruhi oleh orang-orang
   bodoh (hidup selalu diliputi oleh penderitaan karena ketidak-mampuan,
   membedakan mana yang baik dan salah), untuk mau melakukan perbuatan
   perbuatan tercela. Hidupnya akan senantiasa stabil dan tak tergoncangkan, baik
   ditimpa kemalangan maupun meraih kebahagiaan.

4. Bertambah kebijaksanaan setelah DHARMASAVANA (mendengarkan
   khotbah                                                                 Dharma)
   . Kebhatian yang lengkap adalah selain adanya pembacaan Paritta Paritta atau
   Mantram Mantram suci dan meditasi, juga diisi dengan dharmasavana
   (Pembabaran Dharma atau penguraian ajaran ajaran luhur Sang Buddha). Ada
   empat manfaat yang bisa dipetik, disaat mendengarkan kotbah dharma. Pertama
   disebut dengan Assutam Sunati. Dapat mendengar dharma, yang sebelumnya
   belum tahu. Disini, terbukalah mata bathin kita bahwa yang dimaksud dengan
   dharma (kebenaran) adalah ini dan Adharma (bukan kebenaran) adalah itu.
   Dengan dimilikinya pengetahuan akan inilah kebenaran dan itulah
   ketidakbenaran, maka peluang untuk terjerumus ke liang dukkha (derita),
   persentasenya adalah nol koma nol nol nol persen. Disaat ini, kita sudah tahu,
   mana yang seharusnya di hindari dan mana yang seharusnya dilaksanakan, apa
   yang di maksud dengan perbuatan baik dan jahat, serta mana yang salah dan
   mana yang benar. Kedua disebut denganSuttam Pariyodapati. Setelah
   mengerti dharma (kebenaran) yang telah didengar maka kesalahpahaman yang
   terjadi selama ini, akan tersirnakan segera. Sebelumnya, mungkin saja kita
   beranggapan bahwa ke Vihara/Cetiya, tiadalah manfaatnya sama sekali, tetapi
   setelah dimilikinya pengertian benar ini, maka anggapan atau pandangan salah
   tersebut, sirnalah sudah. Dalam hal ini, dengan dimilikinya pengertian benar ini,
   juga akan memotivasi diri kita agar semakin giat dan ulet, di dalam penimbunan
   penimbunankebajikan. Ketiga disebut dengan Kankham vihanati. Di tahapan
   ini, keragu-raguan akan kebenaran Dharma, telah berhasil disingkirkan. Dalam
   hal ini, belenggu bathin (keragu-raguan) akan kebenaran Dharma, sudah
   terhapuskan sehingga setiap pikiran, ucapan maupun tindakan badan jasmani,
   telah terfilter dengan baik. Kita tak akan pernah kecewa, sedih ataupun sakit hati,
   seandainya dicela ataupun tidak di hargai. Mengapa..? Karena kita telah
   menyadari dengan baik bahwa kondisi apapun yg terjadi, tidaklah terlepas dari
      pada karma, yang sudah seharusnya diterima. Keempat disebut dengan Ditthim
      Ujum Karoti. Ditahapan ini, kita telah memiliki pandangan hidup yang benar.
      Dengan dimilikinya pandangan hidup yang benar, maka kita akan mampu
      melihat segala sesuatu, atas dasar apa adanya. Dan disaat memutuskan suatu
      prihal, tanpa lagi diboncengi oleh unsur kemelekatan. Dalam hal ini,
      kebijaksanaan sudah mulai meningkat. Hidup pun akan semakin semangat dan
      tidak akan pernah terpengaruh oleh hasutan maupun gosipan. Kelima disebut
      dengan Cittamassa Pasidati. Di tahapan ini, pikiran sudah terbersihkan dari
      kekotoran bathin. Kalau pikiran sudah terkontrol dengan baik maka segala
      tindakan maupun perbuatannya, tidak akan pernah lagi, menimbulkan
      penyesalan maupun penderitaan, bagi makhluk manapun yang ada di
      sekitarnya.
      Sang Buddha menyabdakan : " Orang yang dapat menghayati Dharma,
      hidupnya berbahagia, pikirannya selalu tenang dan seimbang. Seperti
      halnya orang bijaksana, yang selalu gembira dalam menghayati Dharma,
      yang di babarkan oleh para Ariya".

   5. Bebas dari kemelekatan (keserakahan) melalui DANA PARAMITA.
      Didalam kitab suci Dhammapada Tanha Vagga XXIV : 338, Sang Buddha
      menyabdakan : "Sebatang pohon yang telah di tebang, masih akan dapat
      tumbuh dan bersemi lagi, apabila akar-akarnya masih kuat dan tidak di
      hancurkan. Begitu pula selama akar nafsu keinginan tidak dihancurkan
      maka penderitaan, akan tumbuh berulang kali". Dengan adanya pelaksanaan
      Dana Paramita (beramal) di Vihara/Cetiya, kita diajarkan untuk melepaskan
      kemelekatan, yang terdapat pada diri kita. Kemelekatan akan keduniawian ini
      jika sedikit demi sedikit dilatih atau dikikis, melalui pelaksanaan dana paramita
      maka akhirnya, kehidupan ini akan terbebas dari belenggu keserakahan. Adanya
      kemampuan untuk mau berdana dengan benar, tanpa paksaan serta ikhlas,
      secara tidak langsung, kita sudah menekan lobha (keserakahan) yang selama
      ini, membelenggu bathin kita. Orang yang telah terlepas dari belenggu
      (kemelekatan) duniawi, akan mampu (bisa) menikmati kehidupan ini dengan
      penuh kebahagiaan.

Kesimpulan                                                                            :
     Dengan demikian, secara garis besarnya, terdapat lima manfaat yang bisa raih, jika
kita rutin di dalam pelaksanaan kebhaktian. Manfaat manfaat tersebut adalah:

   a. Mengikis ke AKU an melalui pelaksanaan namaskara. Ditahapan ini, kita
      diajarkan untuk senantiasa rendah hati, tidak angkuh/sombong, serta memiliki
      keluhuran budi. Orang yang tidak sombong/angkuh akan selalu di cintai dan di
      hargai, di manapun dia berada. Hidupnya akan selalu terlindung, akibat dari
      kemuliaan sifat yang dimiliki.
   b. Mendapatkan perlindungan sejati, melalui penglafalan Paritta Paritta/Mantram
      Mantram suci.
   c. Pikiran menjadi tenang dan terkontrol dengan baik melalui pelaksanaan meditasi.
      Pikiran yang terkontrol dengan baik, tidak akan bisa tercemari oleh niat niat
      jahat. Terbebaskan dari niat niat jahat, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.
   d. Kebijaksanaan akan meningkat, melalui rutinnya mendengar dharma
      (dhammasavana). Orang bijaksana di dalam tutur kata maupun tindakannya,
      tidaklah akan menimbulkan kerugian maupun penderitaan, bagi siapapun juga.
      Dia bagaikan pelita yang menerangi kegelapan.
   e. Bebas dari kemelekatan, melalui pelaksanaan dana paramita. Orang yg bebas
      dari unsur kemelekatan, tidak akan frustasi atau kecewa, dikala tertimpah
      musibah maupun kemalangan. Kemelekatan akan apapun juga, itulah pencetus
      timbulnya dukkha (derita) yang sesungguhnya.

Semoga dengan adanya penjelasan yang singkat ini, keyakinan kita untuk mau
melaksanakan kebhaktian, akan semakin teguh dan baik. Kebhaktian bukan lagi
didasarkan pada pamrih akan ini dan itu, atau karena takut diberikan sanksi oleh guru
agamanya (bagi murid murid sekolah). Kebhaktian dalam hal ini, sudah merupakan
sesuatu yg disenangi dan dijadikan prioritas utama. "SEMOGA DENGAN
DIKETAHUINYA MANFAAT-MANFAAT KEBHAKTIAN DAN BERKAHNYA INI,
SEMBOYAN LIBUR SEKOLAH, LIBUR PULA KEBHAKTIAN, ATAU JIKA ADA
WAKTU, BARULAH KEBHAKTIAN, SUDAH TIDAK DIJUMPAI LAGI ".
Ingatlah selalu bahwa tanpa adanya penanaman bibit kebajikan maka yang namanya
kebahagiaan, tidaklah akan pernah dirasakan ! "Sabbe satta sabbadukkha pamuccantu-
Sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan
semoga semuanya senantiasa berbaha-gia…..Sa-dhu…..Sa-dhu…..Sa-dhu…..".

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:23
posted:11/30/2010
language:Indonesian
pages:6