Docstoc

Pembangunan manusia Berkelanjutan

Document Sample
Pembangunan manusia Berkelanjutan Powered By Docstoc
					                                                                               Posted : Oktober 2010
                                                                   http://wahyu-institute.blogspot.com
© Ade Wahyudiyanto 2010
TUGAS INDIVIDU
MATA KULIAH ILMU LINGKUNGAN
Program Studi Magister Ilmu Lingkungan/ S2
Universitas Padjadjaran Bandung
2010




            PEMBANGUNAN MANUSIA BERKELANJUTAN

                                             Oleh :


                                     ADE WAHYUDIYANTO
                                       2501-2010-0025
                                  adewahyudiyanto@yahoo.com


           Pembangunan manusia berkelanjutan tidak terlepas dari Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) sebagai sub-set dari sumber daya manusia. Didalam IPM telah disepakati
untuk memakai cara yang telah disepakati oleh UNDP. IPM menunjukkan pencapaian
pembangunan manusia dengan melihat (3) tiga komponen yaitu suatu indeks yang
menunjukkan status kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Ketiga komponen tersebut
merupakan unsur penting dalam mengukur pembangunan manusia.
           PBB menggunakan tiga komponen yang dianggap mendasar dan instrumental
dalam mengukur pencapaian pembangunan manusia. Ketiga unsur tersebut adalah Umur
(yang diukur secara proxy dengan angka harapan hidup), Pengetahuan (yang diukur
secara proxy dengan kemampuan membaca/ menulis, rata-rata lama sekolah) dan Standar
hidup layak (yang diukur dari GNP). Jadi ketiga komponen diatas secara sederhana dapat
disimpulkan bahwa pembangunan manusia berkelanjutan melibatkan 3 (tiga) unsur yaitu
kesehatan, pendidikan dan ekonomi. (Raharjo,1997)
           Pembangunan manusia berkelanjutan seperti yang telah dijelaskan diatas,
pada hakekatnya melibatkan 4 (empat) aspek yaitu :
    a. Aspek Sosial
    b. Aspek Lingkungan
    c. Aspek Ekonomi
    d. Aspek Politik (kerangka kerja institusi)
                                                                                                         Pembangunan Manusia Berkelanjutan




      No        ASPEK             TEMA                SUB TEMA              INDIKATOR
       6     Sosial          Kesehatan       Status Nutrisi     Status Nutrisi Anak
             Lingkungan      Air Bersih      Kualitas Air BersihKandungan       BOD
       15
                                                                dalam Air
             Ekonomi         Konsumsi dan Penggunaan Energi     Intensitas
       9
                             Produksi                           Penggunaan Energi
             Kerangka        Kebijakan    Strategi    Penerapan Strategi    Nasional
       1     Kerja           Institusi    Pembangunan           Pembangunan
             Institusi                    Berkelanjutan         Berkelanjutan



                                                                                                         1
Keempat Aspek yang disampaikan diatas, saling berkaitan satu dengan lainnya dalam
mewujudkan pembangunan manusia yang berkelanjutan.

a.   ASPEK SOSIAL

           Kita akan membahas tema Kesehatan dengan Status nutrisi sebagai
indikatornya. Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi
normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Nutrisi didapatkan dari
makanan dan cairan yang selanjutnya diasimilasi oleh tubuh.

            Penelitian di bidang nutrisi mempelajari hubungan antara makanan dan
minuman terhadap kesehatan dan penyakit, khususnya dalam menentukan diet yang
optimal. Pada masa lalu, penelitian mengenai nutrisi hanya terbatas pada pencegahan
penyakit kurang gizi dan menentukan standard kebutuhan dasar nutrisi pada makhluk
hidup. Angka kebutuhan nutrisi (zat gizi) dasar ini dikenal di dunia internasional dengan
istilah Recommended Daily Allowance (RDA). Seiring dengan perkembangan ilmiah di
bidang medis dan biologi molekular, bukti-bukti medis menunjukkan bahwa RDA belum
mencukupi untuk menjaga fungsi optimal tubuh dan mencegah atau membantu
penanganan penyakit kronis. Bukti-bukti medis menunjukkan bahwa akar dari banyak
penyakit kronis adalah stres oksidatif yang disebabkan oleh berlebihnya radikal bebas di
dalam tubuh. Penggunaan nutrisi dalam level yang optimal, dikenal dengan Optimal Daily
Allowance (ODA), terbukti dapat mencegah dan menangani stres oksidatif sehingga
membantu pencegahan penyakit kronis. Level optimal ini dapat dicapai bila jumlah dan
komposisi nutrisi yang digunakan tepat. Dalam penanganan penyakit, penggunaan nutrisi
sebagai pengobatan komplementer dapat membantu efektifitas dari pengobatan dan pada
saat yang bersamaan mengatasi efek samping dari pengobatan. Karena itu, nutrisi / gizi
sangat erat kaitannya dengan kesehatan yang optimal dan peningkatan kualitas hidup.
Hasil ukur bisa dilakukan dengan metode antropometri

          Kesehatan sangat berpengaruh pada tingkat kemampuan manusia untuk
meningkatkan kemampuan berfikir sehingga dapat meningkatkan kualitas pembangunan
manusia. Namun, aspek-aspek lain (aspek lingkungan, aspek ekonomi, aspek institusional)
sangat mempengaruhi tingkat kesehatan.

Pengelolaan Kesehatan Berkelanjutan
           Kesehatan dan pembangunan nasional berkelanjutan berhubungan erat.
Penyediaan yang aman terhadap air dan sanitasi, nutrisi yang tepat dan pasokan
pangan yang baik, penanganan pencemaran, pengendalian penyakit, dan akses ke
                                                                                            Pembangunan Manusia Berkelanjutan




layanan kesehatan semua berkontribusi terhadap           populasi sehat. Sebaliknya,
kemiskinan, kurangnya informasi dan pendidikan, bencana alam dan manusia yang
disebabkan, dan urbanisasi yang cepat bisa memperburuk masalah kesehatan.
Pengawasan Polusi, perlindungan dan pelayanan kesehatan seringkali tidak terus
berpacu dengan perkembangan ekonomi. Akibatnya, kesehatan yang buruk terkait dengan
penurunan produktivitas, terutama di sektor pertanian padat karya. Pembangunan tidak
dapat dicapai atau dipertahankan ketika tingginya proporsi penduduk dipengaruhi oleh
kesehatan yang buruk dan akses yang tidak memadai ke fasilitas perawatan kesehatan.
Sedangkan pertumbuhan ekonomi dan pengembangan dapat berkontribusi untuk



                                                                                            2
perbaikan kesehatan dan fasilitas perawatan, kesehatan yang lebih baik di negara
termiskin, dan negara berpenghasilan menengah di mana perbaikan lebih lanjut
diperlukan. Sebuah lingkungan yang bersih sangat penting untuk kesehatan warga negara
dan kesejahteraan. Tidak berkelanjutan pertumbuhan ekonomi juga dapat menyebabkan
degradasi lingkungan yang bersama-sama dengan tidak tepat konsumsi, buruk dapat
mempengaruhi kesehatan manusia. Melindungi dan meningkatkan kesehatan manusia di
Agenda 21 berfokus pada hal-hal berikut masalah yang saling terkait bidang:

 · Kebutuhan perawatan kesehatan primer, terutama di daerah pedesaan;
 · Pengendalian penyakit menular;
 · Melindungi kelompok rentan;
 · Kebutuhan kesehatan di daerah perkotaan dan
 · Mengurangi risiko kesehatan akibat polusi lingkungan dan limbah B3

           Dalam konteks ini, Komisi Pembangunan Berkelanjutan juga telah
mengidentifikasi prioritas daerah : efek kesehatan kumulatif bahan kimia di produk bagi
konsumen, tanaman dan makanan hewan, air, tanah dan udara; identifikasi dan kontrol
pada penyakit menular dan kemungkinan keterkaitan mereka dengan lingkungan dan
kesehatan serta implikasi dari penipisan lapisan ozon.

          Intervensi masyarakat ditujukan untuk memperkuat sistem pelayanan
kesehatan primer yang berhubungan dengan penyediaan air bersih, sanitasi yang
memadai, dan makanan yang aman melalui partisipasi masyarakat secara ilmiah, melalui
pendekatan sosial. Air, sanitasi, penggunaan vaksin, dan pendidikan diakui sebagai alat
utama untuk mengatasi penyakit menular seperti malaria, kolera, dan HIV / AIDS.

            Dalam memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dasar, perhatian khusus
harus diberikan kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak, perempuan, masyarakat
adat, masyarakat miskin, tua dan cacat. Pertumbuhan pesat perkotaan dapat melampaui
kapasitas masyarakat untuk melindungi lingkungan dan menyediakan layanan kesehatan.
Pencemaran udara dan air di daerah perkotaan berhubungan dengan kelebihan morbiditas
dan kematian, sedangkan perumahan yang berlebihan dan tidak memadai berkontribusi
pada pernafasan dan penyakit lainnya. Polusi lingkungan sebagai akibat dari produksi
energi, transportasi, industri, atau gaya hidup pilihan buruk mempengaruhi kesehatan. Hal
ini termasuk faktor-faktor seperti ambien dan polusi udara dalam ruang, pencemaran air,
pengelolaan sampah yang tidak memadai, kebisingan, pestisida, dan radiasi. Selain itu,
pengungsi akibat perselisihan masyarakat atau bencana alam biasanya menghadapi
lingkungan yang rusak termasuk air minum sangat terbatas dan persediaan makanan, dan
sanitasi yang tidak memadai.
                                                                                            Pembangunan Manusia Berkelanjutan




            Indikator inti untuk kesehatan meliputi isu-isu kunci dengan langkah-langkah
yang secara luas diterima dan telah tersedia dan digunakan untuk beberapa waktu. Selain
itu, tujuan yang ditetapkan oleh masyarakat internasional tersedianya sebagian dari
indicator tersebut. Sehubungan dengan gizi, negara-negara didorong untuk mengurangi
gizi buruk dan moderat antara balita dan anak-anak dengan asumsi 50% pada tahun
1990-2000.




                                                                                            3
            Air minum, sanitasi, dan perawatan kesehatan primer adalah untuk
menyediakan akses universal. Beberapa tujuan spesifik yang berkaitan dengan penyakit
anak menular, termasuk di dalam Agenda 21 meliputi: pemberantasan polio pada tahun
2000; universal imunisasi campak, pengurangan kematian akibat diare oleh 50% pada
tahun 2000, dan pengurangan sepertiga dari kematian akibat infeksi saluran pernafasan
akut pada tahun 2000. Dalam jangka waktu perencanaan keluarga, tujuan internasional
adalah untuk menyediakan akses kesehatan reproduksi jasa untuk semua individu dari
usia yang tepat pada tahun 2015.



b.   ASPEK LINGKUNGAN

Kualitas Air Bersih
Kandungan BOD Dalam Air.

Pengertian BOD
            BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang
menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya
bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik alam kondisi aerobik
(Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991). Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa
bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap
terdekomposisi (readily decomposable organic matter). Mays (1996) mengartikan BOD
sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang
terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat
diurai. Dari pengertian pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD
menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai
gambaran jumlah bahan organik mudah urai ( biodegradable organics) yang ada di
perairan. (Haryadi, 2004)

           Meskipun ada kelemahan-kelemahan tersebut, BOD tetap digunakan sampai
sekarang. Hal ini menurut Metcalf & Eddy (1991) karena beberapa alasan, terutama dalam
hubungannya dengan pengolahan air limbah, yaitu
(1) BOD penting untuk mengetahui perkiraan jumlah oksigen yang akan diperlukan
     untuk menstabilkan bahan organik yang ada secara biologi;
(2) untuk mengetahui ukuran fasilitas unit pengolahan limbah;
(3) untuk mengukur efisiensi suatu proses perlakuan dalam pengolahan limbah;
(4) untuk mengetahui kesesuaiannya dengan batasan yang diperbolehkan bagi
     pembuangan air limbah.
                                                                                         Pembangunan Manusia Berkelanjutan




Pengelolaan Air Bersih Berkelanjutan
           Keberlanjutan jangka panjang dari air diragukan di banyak daerah di dunia.
Saat ini, manusia menggunakan sekitar setengah dari jumlah air yang tersedia.
Penggunaan Air telah meningkat lebih dari dua kali jumlah penduduk, dan sejumlah
daerah sudah krisis air. Sekitar sepertiga dari penduduk dunia hidup di negara-negara
dengan persediaan air yang terbatas. Dengan peningkatan populasi, pertumbuhan
ekonomi dan standar kehidupan yang lebih tinggi, sebanyak dua pertiga dari populasi
dunia hidup dalam krisis air, hal ini berimplikasi serius terhadap pembangunan sosial-
ekonomi, dalam produksi makanan tertentu di masa depan. Baik kuantitas air dan



                                                                                         4
kualitas air menjadi isu dominan di banyak negara. Masalah berhubungan dengan alokasi
air yang buruk, penggunaan yang tidak efisien, dan manajemen yang kurang memadai.
Penggunaan air untuk pertanian, industri, dan konsumsi domestic, sebagian besar air yang
digunakan oleh industri dan perkotaan sering dikembalikan ke sungai dengan kualitas air
yang telah menurun. Irigasi pertanian, bertanggung jawab sekitar 40%, dunia produksi
pangan menggunakan sekitar 70% dari total penggunaan air (90% di daerah tropis
kering) 0,84 Air tanah, yang memasok sepertiga dari populasi dunia, digunakan untuk
irigasi.

             Masalah kualitas air sebagian besar berasal dari polusi air limbah, penggunaan
pertanian intensif pupuk dan pestisida, limbah industri, intrusi air asin, dan erosi tanah. Di
banyak negara-negara berkembang, hilir sungai kota-kota besar hanya sedikit lebih bersih
daripada got terbuka. Pencemaran Nitrat dari penggunaaan pupuk yang tinggi merupakan
masalah serius di negara maju dan berkembang. Sekitar 20% dari lahan irigasi di dunia
adalah penurunan kadar garam secara signifikan sehingga mengurangi produksi tanaman.
Intrusi air garam menjadi perhatian khusus untuk daerah kering dan daerah semi-kering,
serta pulau-pulau kecil. praktek-praktek penggunaan lahan yang tidak baik memperburuk
kondisi erosi tanah. Dunia menyerukan untuk mengelola sumber daya air terpadu, Agenda
21 juga menekankan untuk melindungi air, kualitas, dan fungsi ekosistem melalui
pemahaman yang baik serta tentang dampak perubahan iklim.

           Air Minum untuk penyediaan, produksi pangan, dan pembangunan perkotaan
dan pedesaan yang berkelanjutan telah diakui sebagai prioritas utama. Ada bukti dari
kemajuan dalam memperbaiki beberapa aspek sumber daya air tawar manajemen sejak
tahun 1992. Di daerah aliran sungai tertentu, kualitas air telah meningkat, penerapan
manajemen permintaan menaikkan tingkat efisiensi, dan upaya meningkatkan konservasi
ikan habitat. Namun, kemajuan secara keseluruhan telah memadai atau tidak cukup
komprehensif untuk mengurangi tren keseluruhan dari kekurangan air meningkat,
memburuknya kualitas air, dan tumbuh ekosistem stres. Untuk mengatasi kesenjangan ini,
Komisi Pembangunan Berkelanjutan telah mengidentifikasi bidang-bidang prioritas berikut:

        Akses untuk memasok air perkotaan dan pedesaan dan sanitasi;
        Air untuk produksi pangan yang berkelanjutan dan pembangunan pedesaan;
        Penggunaan teknologi air limbah bersih dan efisien untuk industri;
        Sebuah penghargaan yang lebih besar dari kebutuhan air sumberdaya
         ekosistem;
        Efisiensi penggunaan air berdasarkan nilai ekonomi dan
        Penguatan lembaga pengelolaan air.
                                                                                                 Pembangunan Manusia Berkelanjutan




           Indikator ini penting untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas air. Penarikan
air yang tersedia menuntut negara untuk memperhatikan kerentanan terhadap
kekurangan air. Pengukuran kebutuhan oksigen biologis (BOD) dan konsentrasi koliform
fekal masing-masing mencerminkan dua aspek penting dari kesehatan ekosistem dan
kesehatan manusia.




                                                                                                 5
c.   ASPEK EKONOMI

Penggunaan Energi
Intensitas Penggunaan Energi

            Sejak KTT Bumi, kemajuan telah dibuat sebatas dalam penyesuaian konsumsi
energi berkelanjutan dan pola produksi. Kemajuan telah dicapai dalam penggunaan bahan
lebih efisien, mengurangi permintaan energi dan limbah, dan menggunakan sistem
transportasi berkelanjutan. Di negara-negara industri, telah ada kemajuan dalam
mengurangi energi dan konsumsi bahan per unit produksi. Namun, Peningkatan efisiensi
belum diimbangi dengan peningkatan volume produksi dan konsumsi. Sementara itu,
negara-negara berkembang memerlukan kenaikan produksi dalam pelayanan energi untuk
meningkatkan standar hidup dari pertumbuhan populasi. Penggunaan energi komersial
dunia meningkat 74% antara tahun 1980 dan 1997, Selama waktu itu, transportasi
menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan permintaan dunia untuk energi. kini pola
transportasi dan kebutuhan energi mereka tidak berkelanjutan dan akan menjadi masalah
dalam bidang kesehatan lingkungan dan manusia masa datang.

            Meskipun ada telah kemajuan dalam efisiensi bahan bakar dan emisi
kendaraan, namun jumlah kendaraan telah meningkat secara dramatis. Prediksi
memperkirakan peningkatan limbah lima kali lipat dalam generasi global pada tahun 2025.
Di negara maju, limbah per kapita generasi meningkat tiga kali lipat antara tahun 1977
dan 1997 dan sekitar lima sampai enam kali lebih tinggi daripada di negara berkembang.
Majelis Umum PBB telah menganjurkan bahwa pola konsumsi dan produksi merupakan
indicator penggunaan energi.

           Indikator-indikator energi menyediakan cakupan yang baik dari sub-tema
penting pola konsumsi dan produksi; yaitu konsumsi material, penggunaan energi, limbah
generasi dan manajemen, dan transportasi. Indikator-indikator utama, kecuali bagi
mereka untuk limbah, termasuk dalam set dianjurkan konsumsi dan produksi indikator
yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di 1998. Hal ini akan berhubungan
dengan limbah padat dan daur ulang untuk pengurangan limbah nasional di negara-
negara berkembang sesuai dengan sasaran pembangunan yang telah ditetapkan. Perlu
dicatat bahwa indikator lain dalam lingkungan dimensi ini saling mempengaruhi konsumsi
dan tema produksi, meliputi, emisi gas rumah kaca, penggunaan pupuk, intensitas
pemanenan kayu, dan penarikan tanah dan air permukaan tahunan.

d.   ASPEK INSTITUSI
                                                                                          Pembangunan Manusia Berkelanjutan




Strategi Nasional Pembangunan Berkelanjutan
            Instrumen hukum dan kebijakan yang tepat diperlukan sebagai kerangka kerja
pemerintah untuk mendorong dan melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Integrasi
sosial, ekonomi, dan faktor lingkungan adalah faktor penting dalam instrumen tersebut.
Pelaksanaan strategi pembangunan berkelanjutan dan perjanjian internasional oleh
negara-negara harus berkontribusi terhadap kondisi sosial ekonomi dan lingkungan yang
membaik, dan membantu mengurangi potensi sumber konflik antar negara. (Agenda 21,
1992) menyerukan penerapan strategi nasional pembangunan berkelanjutan.




                                                                                          6
            Tujuan dari strategi tersebut harus dapat menjamin pembangunan ekonomi
sosial yang bertanggung jawab sementara melindungi lingkungan dan sumber daya alam
untuk geneasi berikutnya. Strategi kedepan harus dibangun dari inisiatif yang ada, seperti
rencana aksi lingkungan, mencerminkan prioritas saat ini, dan memperhatikan isu-isu yang
muncul. Strategi tersebut harus didasarkan pada seluas mungkin partisipasi dan
keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Agenda 21 juga melakukan advokasi untuk
meningkatkan efektivitas instrumen hukum nasional dan internasional serta mekanisme
yang berkaitan dengan pencapaian pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks ini,
rencana aksi dalam mendukung partisipasi negara-negara berkembang dalam
merumuskan hukum internasional, koordinasi dan konsistensi antara instrumen hukum
internasional, dan identifikasi isu-isu baru dan muncul di bidang relevan dengan hukum
internasional pembangunan berkelanjutan. Sejak KTT Bumi, negara-negara telah
membuat kemajuan dalam membangun sebuah kerangka kelembagaan yang tepat untuk
implementasi pembangunan berkelanjutan.




Referensi :

Anonim, 1992. “United Nations Conference on Environment & Development“ Rio de
                  Janerio, Brazil, 3 to 14 June 1992, AGENDA 21

Di Sano, Jo Anne Director Division for Sustainable Development “INDICATORS OF
                     SUSTAINABLE    DEVELOPMENT:                 GUIDELINES          AND
                     METHODOLOGIES”

Hariyadi, Sigid. 2004 BOD DAN COD SEBAGAI PARAMETER PENCEMARAN AIR DAN BAKU
                     MUTU AIR LIMBAH . Pengantar Falsafah Sains (PPS 702).

Raharjo, Yulfita. 1997. “Prosiding Pembangunan Manusia Berkualitas di Kawasan Timur
                     Indonesia menghadapi Era Globalisasi”
                                                                                             Pembangunan Manusia Berkelanjutan




                                                                                             7

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:449
posted:11/29/2010
language:Slovenian
pages:7
Description: Sebuah pengantar, Pembangunan Manusia Berkelanjutan
Ade Wahyudiyanto Ade Wahyudiyanto
About