Docstoc

3 komponen filsafat kritis

Document Sample
3 komponen filsafat kritis Powered By Docstoc
					                                   Tiga Komponen Kritis Hermeneutik
                                             Oleh Faiz Manshur


Hermeneutik secara luas dikenal sebagai ilmu penafsiran/interpretasi terhadap teks pada khususnya dan
penafsiran bahasa pada umumnya. Istilah yang bermula dari bahasa Yunani kuno (hermeneuenin) ini
pada zaman sekarang sangat akrab digauli para intelektual. Salah satu alasan penting menerapkan
metode hermeneutik ini adalah objek (baca teks/bahasa) tidak memungkinkan diartikan tanpa melalui
metode penafsiran. Ketidakmungkinan tersebut selain disebabkan karena situasi bahasa yang berbeda
dan terus berubah, juga disebabkan alasan kesulitan para pembaca dalam memahami subtansi makna
yang terkandung dalam teks-teks dan bahasa yang dipelajari.
Hal yang paling tampak dari kesulitan atas subtansi makna tersebut pada dasarnya juga disebabkan oleh
realitas di mana tata bahasa tersebut ternyata mempunyai keterbatasan dalam menyaring inti dari teks-
teks yang terkandung di dalamnya.
Karena keterbatasan inilah kemudian untuk memahami suratan kata-kata seseorang harus melalui
pengkajian secara mendalam. Puisi, novel, dan karya tulisan lainnya yang bermaksud menafsirkan
totalitas dunia seorang pengarang, misalnya, tentu saja tidak akan mampu terapresiasikan secara
lengkap dalam kata-kata. Di sinilah fungsi hermeneutik diperlukan untuk menafsir bahasa.
Memang sebuah intrepretasi akan sarat dengan muatan tafsir, sengaja atau tidak sengaja, yang menjadi
persoalan dengan tafsir bahasa adalah pencarian hakekat kata-kata yang tersurat dan tersirat. Karena
hakekatnya adalah mencari kebenaran, dimensi filosofis tafsir sangat dibutuhkan. Namun, karena
hakekat filsafat itu sendiri adalah keseluruhan interpretasi dan tafsir, antara filsafat dan hermeneutik tidak
terlalu jauh dipersoalkan.
Dalam bidang hermeneutik ini hingga sekarang terdapat dua pendekatan yang bersumber dari dua aliran
yang berbeda. Pertama apa yang kita kenal aliran hermeneutik yang bersumber pada linguistik.
Tradisi ini dipelopori oleh karya revolusioner Ferdinand de Sausure yang dipengaruhi oleh kajian-kajian
formal sarjana Rusia dan Cekoslowakia, dan memiliki gaung yang simpatik dalam karya Noam Comsky.
Pendekatan ini biasanya tidak disebut sebagai ”hermeneutik”, melainkan ”strukturalisme”. Pendekatan
kedua berakar dari tradisi Hegel dan Marx, Fenomenologi, dan kajian linguistik sebagaimana yang
dipakai pendekatan pertama.
Dua aliran di atas ini banyak diamati oleh para pakar filsafat-hermeneutik sebagai kajian memungkinkan
terbukannya metode-metode baru dalam menafsirkan bidang-bidang yang kini terus bermunculan dalam
bentuk spesialisasi ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, jika pembaca ingin menaruh kajian hermeneutik
yang baru, buku ini layak disebut sebagai kecenderungan membuka metode penafsiran baru tersebut.
Lain dengan kedua metode di atas, buku yang ditulis oleh Roy J. Howard ini berhasil melebarkan teori
hermeneutik sebagai bagian dari filsafat gaya baru.
Ada tiga hal yang ditemukan oleh pemikir postmodernis ini. Pertama adalah ”hermeneutik analitis”.
Penambahan kata ”analitis” dalam ”hermeneutik” di sini dimaksudkan agar hermeneutika bukan hanya
menafsir teks-teks dalam batas kategori pemaknaan filosofis-historis seperti yang biasa dilakukan para
pemikir linguistik. Howard di sini menambahkan bahwa pendekatan logika intersubjektif, atau lebih
dikenal dengan istilah logika intensi atau juga memakai pendekatan silogisme praktis dan peran
eksplorasinya (hal 60).
Kedua, penulis memperkenalkan istilah ”hermeneutika psikososial”. Teori ini berangkat dari penolakan
atas kecenderungan hermeneutika mono—metodelogi baik dari positivisme maupun Marxisme Klasik
yang sering menyajikan spekluasi Marxisme yang telah berkembang dan cukup mengabungkan
beberapa prinsip metodelogi dari pemahaman simbol karya Freud (hal 12) dengan melakukan eksplorasi
atas filsafat kritis mazhab Frankfrut (Jurgen Habermas), Howard mencoba memberikan satu premis-
premis dasar bagaimana memahami bahasa dalam konteks psikososial masyarakat modern. Dan, ketiga,
Howard menyuguhkan satu teori baru hasil pengembangan teori Gadamer. Teori Gadamer yang
sebelumnya kritis dalam mengkritik filsafat hermeneutik perspektif humaniora dengan jalan ontologisnya
dipilih Howard sebagai pijakan dalam menganalisis bahasa. Dalam bagian ini, pembaca akan disuguhkan
bagaimana sebenarnya teori permainan bahasa Gadamer yang sebenarnya cukup kritis untuk menelaah
kondisi ruang dan waktu dalam kehidupan manusia.
Dalam konteks pelebaran metodelogi inilah, perkembangan selanjutnya hermeneutik ternyata sangat
dibutuhkan para pemikir bukan hanya dalam bidang sastra dan bahasa semata, melainkan juga melebar
pada studi bidang lain, misalnya humaniora, sains, sejarah, agama (kitab suci), dan lain-lain. Hal ini
disebabkan karena hampir semua bidang keilmuan tersebut dapat dipastikan berhubungan dengan teks-
teks bahasa. Buku ini tidak mengklaim diri sebagai laporan studi yang mendalam dan tidak pula
menampilkan semua bentuk paparan hermeneutika mutakhir. Namun dengan perhatian terhadap tiga
komponen hermeneutik tersebut, buku ini layak disebut sebagai satu penelaahan baru atas pemetaan
metodelogi hermeneutik model postmodernisme yang kini sedang berkembang.

Penulis pecinta buku tinggal di Bandung.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:625
posted:11/28/2010
language:Indonesian
pages:2
Description: 3 komponen filsafat kritis