KTI Bayi Asfiksia

Document Sample
KTI Bayi Asfiksia Powered By Docstoc
					                                  BAB I

                            PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

       Asfiksia adalah keadaan dimana bayi yang baru dilahirkan tidak

  segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. Hal ini

  disebabkan oleh hipoksia janin dalam rahim yang berhubungan dengan

  faktor–faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, dan setelah

  kelahiran (Manuaba, 2002).

       Pembangunan sumber daya manusia tidak terlepas dari upaya

  kesehatan khususnya upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi

  baru lahir. Ibu pada prinsipnya memiliki peran ganda yaitu sebagai

  pengasuh anak yang secara makro akan ikut menentukan generasi

  bangsa yang akan datang maupun secara mikro akan ikut menentukan

  ekonomi keluarga. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia

  harus di mulai sejak dini yakni pada saat janin masih dalam kandungan

  ibu dari masa awal pertumbuhannya.

       Sementara    World      Health   Organization,   dalam   laporannya

  menjelaskan bahwa asfiksia neonatus merupakan urutan pertama

  penyebab kematian neonatus di Negara berkembang pada tahun 2007

  yaitu sebesar 21,1%, setelah itu pneumonia dan tetanus neonatorum

  masing-masing sebesar 19,0% dan 14,1%. Dilaporkan kematian neonatal

  adalah asfiksia neonatus (33%), prematuritas (10%), BBLR (19%).

       Menurut laporan kelompok kerja World Health Organization, dari 8

  juta kematian bayi di dunia, 48% adalah kematian neonatal. Dari seluruh
                                    1
                                                                    2




kematian neonatal, sekitar 60% merupakan kematian bayi umur  7 hari,

yang disebabkan oleh gangguan perinatal yang salah satunya adalah

asfiksia (Saifuddin, 2003).

      Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia menduduki peringkat

tertinggi ketiga diantara Negara-negara ASEAN. Walaupun demikian,

angka kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan

dengan Negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand,

dan Filipina. Tahun 2005 per 1000 kelahiran hidup sebesar 4 di

Singapura, sebesesar 12 di Malaysia, sebesar 38 di Filipina. Di

Indonesia, menurut SKRT tahun 2005, sekitar 54 per kelahiran hidup

(Depkes RI, 2007).Walaupun pada tahun 2003 angka tersebut mengalami

penurunan yaitu menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup, akan tetapi angka

ini masih jauh dari target pencapaian tahun 2010 yaitu 15 per 1000

kelahiran hidup (Saifuddin, 2003).

      Di Indonesia, angka kematian neonatal sebesar 25 per 1000

kelahiran hidup dan angka kematian neonatal dini (0-7 hari) sebesar 15

per 1000 kelahiran hidup. Dari hasil Survey Demografi Kesehatan

Indonesia pada tahun 2007 penyebab utama kematian neonatal dini

adalah BBLR (35%), asfiksia (33,6%), tetanus (31,4%). Angka tersebut

cukup memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap morbiditas dan

mortalitas bayi baru lahir (Wijaya, 2009).

      Di Negara berkembang, sekitar 3% dari semua bayi      baru lahir

mengalami asfiksia sedang atau berat (Depkes RI, 2007). Sekitar 15 -

45% diantaranya meninggal dan sejumlah kurang lebih yang sama
                                                                        3




menderita gejala sisa yang berat berupa epilepsi dan retardasi mental

(Manuaba, 2002).

     Sebagian kasus asfiksia pada bayi baru lahir merupakan kelanjutan

dari asfiksia intrauterin. Maka dari itu, diagnosa dini pada penderita

asfiksia mempunyai arti penting dalam merencanakan resusitasi yang

akan dilakukan. Setelah bayi lahir, diagnosis asfiksia dapat dilakukan

dengan menetapkan nilai APGAR. Penilaian menggunakan skor APGAR

masih digunakan karena dengan cara ini derajat asfiksia dapat ditentukan

sehingga penatalaksanaan pada bayi pun dapat disesuaikan dengan

keadaaan bayi (Mochtar, 2002).

     Dari sumber lain juga ditemukan bahwa prematuritas merupakan

salah satu faktor risiko terjadinya Asfiksia pada bayu baru lahir. Jadi,

terdapat hubungan yang erat antara persalinan preterm dengan kejadian

asfiksia. Usia bayi pada persalinan preterm menyebabkan fungsi organ-

organ bayi belum terbentuk secara sempurnan termasuk juga organ

pernapasan. Sehingga dapat menyebabkan bayi mengalami gangguan

nafas segera setelah lahir. Salah satu karakteristik bayi preterm ialah

pernafasan tak teratur dan dapat terjadi gagal nafas (Manuaba, 2002).

     Di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun

2009 persalinan sebanyak 1972 orang dimana pada tahun tersebut

terdapat 163 bayi yang lahir diantaranya mengalami asfiksia neonatorum,

dan 78 bayi lahir kurang bulan dan 85 (52,6 %) diantaranya mengalami

asfiksia neonatorum. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti

apakah ada hubungannya antara umur kehamilan ibu pada saat bayi lahir
                                                                        4




   dengan kejadian asfiksia di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi

   Tenggara pada tahun 2009.

B. Rumusan masalah

       Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan

   ”apakah ada hubungan antara umur kehamilan ibu pada saat bayi lahir

   dengan kejadian asfiksia di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi

   Tenggara pada tahun 2009”?

C. Tujuan Penelitian

   1. Tujuan umum

           Untuk mengetahui hubungan umur kehamilan ibu pada saat bayi

      di lahirkan dengan kejadian asfiksia di Rumah Sakit Umum Provinsi

      Sulawesi Tenggara pada tahun 2009?

   2. Tujuan khusus

      a. Untuk mengidentifikasi kejadian asfiksia pada bayi baru lahir di

        Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2009.

      b. Untuk mengidentifikasi umur kehamilan ibu saat bayi dilahirkan di

        Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2009.

      c. Untuk mengetahui hubungan umur kehamilan ibu saat bayi

        dilahirkan dengan kejadian asfiksia di Rumah Sakit Umum Provinsi

        Sulawesi Tenggara pada tahun 2009.

D. Manfaat Penelitian

   1. Sebagai bahan infomasi bagi instansi terkait dalam hal ini dinas

      kesehatan kota Kendari untuk dilakukan tindakan preventif dan

      meningkatkan pelayanan kesehatan bagi wanita.
                                                                        5




   2. Sebagai bahan informasi bayi masyarakat pada umumnya dan para

      wanita khususnya mengenai persalinan preterm dan asfiksia pada

      bayi baru lahir.

   3. Sebagai salah satu bahan referensi selanjutnya khususnya penelitian

      mengenai asfiksia.

E. Keaslian Penelitian

        Telah ada penelitian terdahulu yang mengkaji hal-hal yang

   menyangkut kejadian asfiksia, namun dalam penelitian ini memfokuskan

   hubungan umur kehamilan pada saat bayi dilahirkan dengan kejadian

   asfiksia. Adapun penelitian yang telah dilakukan :

   1. Penelitian Nurchotimah (2008), tentang Hubungan Anemia Pada Ibu

      Hamil Yang Menjalani Persalinan Spontan Dengan Angka Kejadian

      Asfiksia   Neonatorum        di   RSUD   Sragen   Tahun   2006-2007.

      Perbedaannya adalah jenis penelitian Nurchotimah yaitu Penelitian

      Analitik, Lokasi penelitian di RSUD Sragen Tahun 2006-2007 dan

      subyek penelitian yaitu semua ibu hamil yang mengalami anemia.

      Menggunakan Uji Statistik Chi2.

   2. Penelitian Margarets (2008), tentang Hubungan antara Faktor Ibu

      Dengan Angka Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Banjarnegara

      Kabupaten Banjarnegara Tahun 2005. Perbedaannya adalah jenis

      penelitian Helmy Margarets yaitu Penelitian Explanatory Survey

      dengan Pendekatan Cross Sectional, menggunakan Uji Statistik Chi2.

      Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada design penelitian,

   tempat dan lokasi penelitian.
                                                                           6




                                    BAB II

                           TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

  1. Tinjauan Tentang Asfiksia

      a. Definisi

              Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat

         bernafas secara spontan dan teratur (Rukiyah dan Yulianti). Dari

         sumber lain menyebutkan asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir

         tidak bernafas secara spontan dan teratur, sering kali bayi yang

         sebelumnya mengalami gawat janin akan mengalami asfiksia

         sesudah persalinan . Ada pula dari sumber lain disebutkan bahwa

         asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat

         bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O 2 dan

         makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam

         kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 2002).

      b. Penyebab asfiksia

              Beberapa       kondisi    tertentu   pada   ibu   hamil   dapat

         menyebabkan gangguan sirkulasi darah utero plasenter sehingga

         pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di

         dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut

         menjadi asfiksia bayi baru lahir.

              Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab

         terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor

         ibu, tali pusat dan bayi berikut ini:

                                       6
                                                              7




   1) Faktor ibu:

      a) Preeklamsia dan eklamsi

      b) Perdarahan abnormal

      c) Partus lama atau partus macet

      d) Demam selama persalinan

      e) Infeksi berat

      f) Kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu)

   2) Faktor tali pusat:

      a) Lilitan tali pusat

      b) Tali pusat pendek

      c) Simpul tali pusat

      d) Prolapsus tali pusat

   3) Faktor bayi:

      a) Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)

      b) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar,

          distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)

      c) Kelainan bawaan (kongenital)

      d) Air ketuban bercampur mekonium

c. Gejala dan tanda-tanda asfiksia

   1) Tidak bernafas atau bernafas megap-megap

   2) Warna kulit kebiruan

   3) Kejang

   4) Penurunan kesadaran
                                                                     8




        Dari sumber lain disebutkan faktor-faktor yang juga dapat

   menyebabkan asfiksia. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan

   bersifat lebih mendadak dan hampir selalu mengakibatkan anoksia

   atau hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia bayi. Keadaan ini

   perlu dikenal, agar dapat dilakukan persiapan yang sempurna

   pada saat bayi lahir. Faktor-faktor yang mendadak terdiri atas:

   1) Faktor-faktor dari pihak janin, seperti: (1) gangguan aliran

      darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat, (2) depresi

      pernapasan karena obat-obat anastesi/analgetik yang diberikan

      pada ibu, perdarahan intrakranial, dan kelainan bawaan,

      hipoplasia paru-paru dan lain-lain.

   2) Faktor-faktor dari pihak ibu, seperti: (1) gangguan his, misalnya

      hipertoni dan tetani, (2) hipotensi mendadak pada ibu karena

      perdarahan misalnya pada plasenta previa, (3) hipertensi pada

      eklamsia, (4) gangguan mendadak pada plasenta seperti

      solusio plasenta (Prawirohardjo, 2007).

d. Patofisiologi

        Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat

   dibagi dalam dua golongan :

   1) Primer (akibat langsung dari asfiksia)

            Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak

      tergantung pada tipe dari asfiksia. Sel-sel otak sangat sensitif

      terhadap     kekurangan    O2.   Bagian-bagian    otak   tertentu

      membutuhkan lebih banyak O2, dengan demikian bagian
                                                                  9




  tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen. Perubahan

  yang karakteristik terlihat pada sel-sel serebrum, serebelum

  dan ganglia basalis. Di sini sel-sel otak yang mati akan

  digantikan oleh jaringan glial, sehingga pada organ tubuh yang

  lain yakni jantung, paru-paru, hati, ginjal dan yang lainnya

  perubahan akibat kekurangan O2 langsung atau primer tidak

  jelas.

2) Sekunder     (berhubungan    dengan    penyebab      dan   usaha

  kompensasi dari tubuh)

           Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan

  oksigen     yang   rendah    dengan    mempertinggi    outputnya,

  akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi. Karena oksigen

  dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja

  jantung maka terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung

  dengan cepat. Keadaan ini didapati pada :

  a) Penutupan mulut dan hidung (pembekapan).

  b) Obstruksi jalan nafas seperti pada mati gantung, penjeratan,

     pencekikan dan korpus alienum dalam saluran nafas atau

     pada tenggelam karena cairan menghalangi udara masuk

     ke paru-paru.

  c) Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau

     berdesakan (traumatic asphyxia).

  d) Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada

     pusat pernafasan, misalnya pada luka listrik dan beberapa

     bentuk keracunan (Prawirohardjo, 2007).
                                                                      10




e. Sikap bidan menghadapi asfiksia neonatus

        Bidan sebagai tenaga medis diharapkan peka terhadap

   pertolongan persalinan sehingga dapat mencapai well born baby

   dan well health mother. Oleh karena itu, bekal utama sebagai

   bidan adalah:

   1) Melakukan pengawasan hamil, sehingga kehamilan dengan

      risiko tinggi segera melakukan rujukan medis.

   2) Melakukan      pertolongan     hamil     risiko   rendah    dengan

      memanfaatkan partograf.

   3) Melakukan perawatan ibu dan janin baru lahir

        Untuk dapat mencapai tingkatan yang diharapkan perlu

   dilakukan usaha menghilangkan faktor risiko pada kehamilan

   sehingga memperkecil terjadinya asfiksia neonatorum. Dalam

   menghadapi      persalinan   normal       diharapkan   bidan    sudah

   mengatahui langkah pertolongan neonatus sebagai berikut:

   1) Tindakan pertolongan umum neonatus:

      a) Kepala bayi diletak pada posisi yang lebih rendah

      b) Bersihkan jalan nafas dari lendir, mulut dan tenggorokan,

         saluran nafas bagian atas.

      c) Mengurangi     kehilangan     panas      badan   bayi    dengan

         membungkus dan memandikan dengan air hangat.

      d) Memberikan rangsangan menangis, memukul telapak kai

         atau menekan tendon pada tumit bayi.

      e) Dalam ruang gawat darurat bayi selalu tersedia: penghisap

         lendir bayi dan O2 dengan maskernya.
                                                                     11




   2) Tindakan khusus asfiksia neonatus

           Menghadapi asfiksia neonatus memang di perlukan

      tindakan spesialis, sehingga diharapkan bidan dapat segera

      melakukan      rujukan   medis   ke   rumah     sakit.   Melakukan

      pertolongan persalinan dengan risiko rendah di daerah

      pedesaan sebagian besar berlangsung dengan aman dan baik.

      Penilaian bayi baru lahir dilakukan dengan mempergunakan

      sistem apgar score (Manuaba, 2002).

f. Langkah-langkah resusitasi

   1) Langkah awal:

      a) Jaga bayi tetap hangat

      b) Atur posisi bayi

      c) Isap lendir

      d) Keringkan dan rangsang taktil

      e) Reposisi

      f) Penilaian apakah bayi menangis atau bernafas spontan dan

         teratur, bila tidak lakukan tindakan ventilasi.

   2) Ventilasi:

      a) Pasang sungkup, perhatikan pelekatan

      b) Ventilasi 2 kali dengan tekanan 30 cm air, amati gerakan

         dada bayi

      c) Bila dada bayi mengembang, lakukan ventilasi 20 kali

         dengan tekanan 20 cm air dalam 30 detik.
                                                                            12




          d) Penilaian apakah bayi menangis atau bernafas spontan dan

              teratur. Bila tidak lanjutkan ventilasi tiap 30 detik. Perhatikan

              lagi apakah bayi bernafas spontan dan teratur. Bila tidak

              siapkan rujukan, bila bayi tidak bisa dirujuk dan tidak bisa

              bernafas spontan setelah 20 menit, pertimbangkan untuk

              menghentikan tindakan resusitasi.

2. Tinjauan tentang umur kehamilan ibu saat bayi dilahirkan

  a. Cukup bulan (aterm)

          Umur kehamilan atau umur gestasi dimulai sejak terjadinya

     konsepsi hingga lahirnya janin, yang dimaksud dengan umur

     kehamilan aterm yaitu apabila umur kehamilan antara 38 minggu

     sampai 42 minggu atau bayi dengan berat badan 2.500 gram atau

     lebih (Prawirohardjo, 2007). Kehamilan dengan cukup bulan dapat

     meminimalkan persalinan dengan risiko yang dapat terjadi. Hal

     tersebut karena sudah terjadi kematangan bentuk fisik janin dan hal

     merupakan yang mempunyai dampak potensial meningkatkan

     kematian bayi dapat dikurangi.

  b. Kurang bulan (Preterm)

          Umur kehamilan kurang dari 37 minggu termasuk dalam

     kategori risiko tinggi karena bayi akan lahir dalam keadaan BBLR

     sehingga sering menimbulkan gangguan pernafasan. Bayi yang lahir

     dari ibu dengan umur kehamilan yang kurang bulan adalah bayi yang

     lahir dengaan umur kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu

     (Prawirohardjo, 2007).
                                                                   13




       Kesulitan utama dalam persalinan kurang bulan adalah

  perawatan bayi preterm yang semakin muda usia kehamilan semakin

  besar morbiditas dan mortalitas, karena disamping harapan hidup

  perlu dipikirkan pula kualitas bayi tersebut. (Saifuddin, 2003).

  Persalinan kurang bulan menimbulkan resiko neonatal seperti

  gangguan pernapasan dan suhu tubuh yang tidak stabil. (Varney,

  2004:42). Hal tersebut merupakan hal yang berbahaya karena

  mempunyai dampak potensial meningkatkan kematian bayi.

       Melihat dampak negatif persalinan kurang bulan tidak saja

  terhadap kematian perinatal tetapi juga terhadap morbiditas, potensi

  generasi akan datang, kelainan mental dan beban ekonomi bagi

  keluarga dan bangsa. Maka Indonesia harus bertekad untuk

  menurunkan angka kejadian persalinan kurang bulan, yang bila

  berhasil akan mempengaruhi angka kematian bayi.

c. Lewat bulan (Posterm/serotinus)

       Kehamilan lewat waktu berlangsung 40 minggu atau 280 hari

  dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan yang melewati 294 hari

  atau lebih dari 42 minggu lengkap disebut sebagai post term atau

  kehamilan lewat waktu. Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-

  kira 10%; bervariasi antara 3,5-14%. Perbedaan yang lebar

  disebabkan perbedaan dalam menentukan usia kehamilan. Fungsi

  placenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan

  kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu, hal ini dapat

  dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan placental lactogen.

  Rendahnya fungsi placenta berkaitan dengan peningkatan kejadian

  gawat janin dengan resiko 3 kali (Winkjosastro, 2005).
                                                                            14




B. Landasan teori

       Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas

  secara spontan dan teratur (Prawirohardjo, 2007). Dari sumber lain

  menyebutkan asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernafas

  secara spontan dan teratur, sering kali bayi yang sebelumnya mengalami

  gawat janin akan mengalami asfiksia sesudah persalinan (Prawirohardjo,

  2006). Adapula dari sumber lain disebutkan bahwa asfiksia neonatorum

  adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur,

  sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang

  menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 2002).

       Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan

  gangguan sirkulasi darah utero plasenter sehingga pasokan oksigen ke

  bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan

  gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.

       Asfiksia pada bayi baru lahir dapat disebabkan oleh umur kehamilan

  ibu pada saat bayi dilahirkan seperti kurang bulan. Usia bayi pada

  persalinan   preterm   menyebabkan      fungsi   organ-organ    bayi   belum

  terbentuk secara sempurnan termasuk juga organ pernapasan. Sehingga

  dapat menyebabkan bayi mengalami gangguan nafas segera setelah

  lahir. Salah satu karakteristik bayi preterm ialah pernafasan tak teratur dan

  dapat terjadi gagal nafas (Manuaba, 2002).

       Kehamilan lewat waktu berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari

  hari pertama haid terakhir. Kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih
                                                                  15




dari 42 minggu lengkap disebut sebagai post term atau kehamilan lewat

waktu. Fungsi placenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu

dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu, hal ini dapat

dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan placental lactogen.

Rendahnya fungsi placenta berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat

janin dengan resiko 3 kali (Winkjosastro, 2005).
                                                                           16




C. Kerangka Teori

    Faktor Ibu :
                                                  Faktor Talipusat :
    a. Preeklampsia dan
                                                  a. Lilitan talipusat
      eklampsia
                                                  b. Talipusat pendek
    b. Perdarahan Abnormal
                                                  c. Simpul talipusat
    c. Partus Lama atau partus
                                                  d. Prolapsus talipusat
      macet
    d. Demam selama persalinan
    e. Infeksi berat
    f. Kehamilan serotinus




                                  Asfiksia




                       Faktor Bayi :

                       a. Bayi premature
                       b. Persalinan dengan tindakan
                       c. Kelainan bawaan
                       d. Air ketuban bercampur
                          mekonium
                       e. Kehamilan lewat waktu
                       f. Bayi Dismature


        (Prawirohardjo, 2007, Winkjosastro, 2005, Manuaba, 2002)
                                                             17




D. Kerangka Konsep



     Umur kehamilan                      Kejadian asfiksia



  Keterangan :

  Variabel bebas : umur kehamilan

  Variabel terikat : kejadian asfiksia
                                                                    18




E. Hipotesis

  1. Hipotesis Null (Ho): Tidak ada hubungan antara umur kehamilan ibu

    dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir.

  2. Hipotesis alternative (Ha): Ada hubungan antara umur kehamilan ibu

    dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir.
                                                                          19




                                  BAB III

                          METODE PENELITIAN


A. Jenis dan Rancangan Penelitian

        Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik

   dengan pendekatan Case Control (retrospektif study yang dimaksudkan

   untuk mengkaji hubungan antara efek dapat berupa penyakit atau

   kondisi kesehatan) dengan faktor resiko tertentu.

   Rancangan penelitian


        Resiko (+)
   Preterm & serotinus



                           Retrospektif -     Efek+(Asfiksia)


          Resiko (-)
           aterm



                                                                   Semua Bayi
                                                                   Yang Lahir


       Resiko (+)
  Preterm & serotinus




                           Retrospektif -     Efek–(Bukan
                                                Asfiksia)

          Resiko (-)
           aterm




                                     19
                                                                       20




B. Waktu dan Tempat Penelitian

  1. Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16-22 Agustus 2010.

  2. Tempat Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Perinatologi Rumah Sakit Umum

    Provinsi Sulawesi Tenggara.

C. Populasi dan Sampel

  1.Populasi

    Populasi yaitu bayi yang lahir di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi

    Tenggara tahun 2009 sebanyak 1972 bayi.

  2.Sampel

    Sampel yaitu bayi lahir yang mengalami asfiksia dan yang tidak

    mengalami asfiksia yang tercatat dalam buku register (medical record)

    di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2009

    sejumlah 230 bayi.

    a. Kasus

       Bayi asfiksia yang tercatat dalam buku register di Rumah Sakit

       Umum Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak 115 bayi.

    b. Kontrol

       Bayi yang bukan asfiksia yang tercatat dalam buku register di Rumah

       Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak 115 bayi.

       Adapun teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling.

       Besaran sampel antara kasus dan kontrol dengan perbandingan. 1:1.

       kasus 115 dan kontrol 115 dengan menggunakan rumus jumlah

       populasi dibagi jumlah sampel diinginkan (1857 : 115 = 16) sehingga
                                                                       21




        didapatkan angka kelipatan 16 untuk memperoleh sampel kontrol

        sampai mencapai 115 (Notoatmodjo, 2005).

D. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif

  1. Asfiksia adalah suatu keadaan dimana bayi yang lahir baik bernafas

     spontan maupun tidak dapat bernafas spontan dan teratur memiliki

     Apgar score > 8. Kriteria objektif:

     a. Asfiksia          : Apgar score < 8

     b. Tidak asfiksia    : Apgar score 8 – 10

     (Manuaba, 2002)

  2. Umur kehamilan adalah lamanya ibu hamil dihitung sejak hari pertama

     haid terakhir sampai terjadinya persalinan.saat bayi dilahirkan

     Kriteria objektif:

     a. Beresiko          : Preterm (≤ 37 minggu) dan serotinus (>42

        minggu)

     b. Tidak beresiko    : Aterm (38 - 42 minggu)

     (Wiknjosastro, 2005)

E. Pengumpulan Data

        Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang

  diperoleh dari medical record Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi

  Tenggara yang meliputi data kejadian asfiksia dan tidak asfiksia.

F. Pengolahan dan Penyajian Data

  1. Pengolahan data

     Data yang diperoleh diolah secara manual dengan menggunakan

     kalkulator
                                                                      22




  2. Penyajian data

    Data disajikan dalam bentuk tabel yang dipersentasekan dan diuraikan

    dalam bentuk narasi.

G. Analisis Data

  1. Analisis Univariabel

    Untuk menguji hipotesis digunakan analisis univariat dengan formulasi

    tabel sebagai berikut :

    X2 =        N(ad-bc)
            (a+b)(c+d)(a+c)(b+d)

    Keterangan:

    N         : Jumlah sampel

    A,b,c,d : Sel-sel


  2. Analisis Bivariabel

                                    Bayi Yang Lahir
    Umur Kehamilan                                          Jumlah
                                Asfiksia        Bukan
           Preterm &               A           Asfiksia
                                                  B           A+B
           Serotinus               C              D           C+D
             Aterm
            Jumlah               A+C            B+D        A+B+C+D


  OR = AD
       BC


  Keterangan

  A : Jumlah kasus dengan resiko (+)

  B : Jumlah Kontrol dengan resiko (+)

  C : Jumlah kasus dengan resiko (-)

  D : Jumlah kontrol dengan resiko (-)
                                                                      23




     Estimasi koefisien interval (CI) ditetapkan pada tingkat kepercayaan

95% dengan interprestasi :

Jika OR > 1, merupakan faktor resiko terjadinya kasus.

Jika OR = 1, tidak ada hubungan faktor resiko kasus.

Jika OR < 1, merupakan faktor resiko proteksi/perlindungan terjadinya

kasus.

     Selanjutnya, hasil tersebut akan diolah untuk menentukan adanya

hubungan antara kedua variabel independent dengan variabel dependent

yang dihubungkan dengan menggunakan uji Chi-square test
                                                                       24




                                    BAB IV

                 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Lokasi Penelitian

            Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara, terletak di ibu

  Kota Provinsi yaitu Kota Kendari tepatnya di jalan Dr. Ratulangi No. 151

  Kelurahan Kemaraya Kecamatan Mandonga. Lokasi ini sangat strategis

  karena mudah dijangkau dengan kendaraan umum dengan batas sebagai

  berikut

  Sebelah Utara     : Jalan Dr. Ratulangi

  Sebelah Timur     : Perumahan Penduduk

  Sebelah Selatan : Jalan Bunga Kamboja

  Sebelah Barat     : Jalan Saranani

            Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara berdiri di atas

   tanah seluas 69.000 m2. Luas seluruh bangunan adalah 22.577,38 m 2.

   Halaman parkir seluas ± 1.500 m2. Semua bangunan mempunyai tingkat

   aktivitas yang sangat tinggi. Disamping kegiatan pelayanan kesehatan

   kepada pasien, kegiatan yang tidak kalah pentingnya adalah kegiatan

   administrasi, pengelolaan makanan, pemeliharaan/perbaikan instalasi

   listrik dan air, kebersihan dan lain-lain.

            Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara yang dibangun

   secara bertahap pada tahun anggaran 1969 / 1970 dengan sebutan “

   Perluasan Rumah Sakit Kendari” adalah milik pemerintah Provinsi

   Sulawesi Tenggara dengan klasifikasi type C berdasarkan SK Menkes

   N0.51/Menkes/II/1979 tanggal 22 Februari 1979. Susunan struktur

                                      24
                                                                  25




organisasi adalah berdasarkan SK Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara

No. 77 tahun 1983 tanggal 28 Maret 1983.

        Pada tanggal 21 Desember 1998, RSU Provinsi Sulawesi Tenggara

meningkat menjadi Type B (Non Pendidikan) sesuai dengan SK Menkes

No.1482/Menkes/SK/XII/1998, dan ditetapkan dengan perda No.3 tahun

1999 tanggal 8 Mei 1999. Kedudukan Rumah Sakit secara teknis berada

dibawah Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara dan secara taktis

operasional berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur.

        Sejak tanggal 18 januari 2005, RSU Provinsi Sulawesi Tenggara

telah terakreditasi untuk 5 pelayanan yaitu Administrasi Manajemen,

Pelayanan Medik, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan

dan Rekam Medis sesuai dengan SK Dirjen Yanmed No.HK.00.06.3.

5.139.

        Sarana dan Prasarana di Ruang Perinatologi:

1. Kamar dan tempat tidur

   a.     Ruang Perawatan             : 25 Tempat tidur

   b.     Ruang Kepala Ruangan        : 1 kamar

   c.     Kamar jaga                  : 1 kamar

2. Ketenagaan

   a.     Dokter spesialis anak       : 3 orang

   b.     Bidan                       : 4 orang

   c.     Perawat                     : 16 orang

Sarana dan Prasarana di Ruang Kebidanan

1. Kamar dan tempat tidur
                                                                             26




       a.     Kelas III berjumlah              : 25 Tempat tidur

       b.     Kelas II berjumlah               : 9 Tempat tidur

       c.     Kalas I berjumlah                : 8 Tempat tidur

       d.     VIP                              : 3 Tempat tidur

       e.     VK                               : 1 kamar (6 tempat tidur)

       f.     Pasca bedah                      : 1 kamar ( 4 tempat tidur)

       g.     Bangsal                          : 1 kamar (6 tempat tidur)

       h.     Ruang isolasi                    : 1 kamar (1 tempat tidur)

   2. Ketenagaan

       a.     Dokter spesialis obsgyn          : 3 orang

       b.     Bidan                            : D-III (34 orang) dan D-I (16

              orang)

B. Hasil Penelitian

  1. Analisis Univariabel

     Tabel 1. Distribusi frekuensi kelahiran bayi di Rumah Sakit Umum
              Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009

              Kelahiran             Frekuensi                       %

               Asfiksia                 115                        5.8

            Tidak asfiksia              1587                       94.2

                Total                   1972                       100

     Data Sekunder, 2009

              Dari tabel 1 di atas, terlihat bahwa angka kejadian asfiksia pada

     bayi baru lahir selama tahun 2009 berjumlah 115 atau 5.8% dari

     keseluruhan persalinan yang terjadi.
                                                                        27




  Tabel 2. Distribusi berdasarkan umur Kehamilan di Rumah Sakit
           Umum Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009

            Umur Kehamilan               Frekuensi             %
    Berisiko (preterm & serotinus)           43               18.7
        Tidak berisiko (Aterm)              187               81.3
                 Total                      230               100
  Data Sekunder, 2009

           Tabel 2 menunjukkan bahwa kelahiran bayi yang asfiksia

  maupun tidak asfiksia yang terjadi paling banyak pada umur kehamilan

  tidak beresiko yakni sebanyak 187 orang (81.3%). Hanya 18.7% ibu-ibu

  yang melahirkan dengan umur kehamilan berisiko.

2. Analisis Bivariabel

       Analisis bivariabel untuk mengetahui hubungan variabel bebas

  yakni umur kehamilan dengan variabel terikat yaitu kelahiran asfiksia

  menggunakan uji chi kuadrat dan odds ratio (OR).

  Tabel 3. Hubungan umur kehamilan dengan kelahiran asfiksia di
           Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009
                                       Tidak
                          Asfiksia                   Total     Chi2
     Umur kehamilan                   Asfiksia                         OR
                                                              hitung
                             N (%)     N (%)       N (%)
   Berisiko
                          36 (31.3)    7 (6.1)    43 (18.7)
   (preterm&serotinus)
   Tidak berisiko                                             24.1     7
                          79 (68.7) 108 (93.9) 187(81.3)
   (aterm)
   Total                 115 (100) 115 (100) 230 (100)
  Sumber : data sekunder, 2009

       Berdasarkan tabel 3 diatas, terlihat bahwa kejadian asfiksia pada

  kelompok kasus (asfiksia) lebih banyak terjadi pada umur kehamilan

  tidak berisiko yakni sebanyak 79 (68.7 %). Sedangkan pada kelompok
                                                                            28




    kontrol (yang tidak asfiksia yang melahirkan dengan umur kehamilan

    baik preterm maupun aterm sebanyak 7 orang (6.1%). Berdasarkan

    hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi2 diperoleh chi2

    hitung > chi2 tabel (24.1 > 3.841) maka hipotesil null ditolak dan peneliti

    menerima hipotasis alternatif. Hasil analisis tersebut menunjukkan ada

    hubungan yang bermakna antara umur kehamilan dendan kelahiran

    bayi asfiksia. Hasil perhitungan nilai OR diperoleh OR sebesar 7 artinya

    bahwa ibu-ibu yang umur kehamilannya berisiko berpeluang mengalami

    risiko melahirkan bayi asfiksia sebesar 7 kali.

C. Pembahasan

       Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus asfiksia

  pada tahun 2009 di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara

  sebanyak 115 kasus dari keseluruhan jumlah kelahiran. Hasil analisis

  menunjukkan bahwa ada hubungan antara umur kehamilan dengan

  kelahiran bayi yang mengalami asfikisa. Ibu-ibu yang umur kehamilannya

  beresiko baik preterm maupun serotinus berpeluang melahirkan bayi

  asfiksia sebesar 7 kali. Hasil penelitian ini sejalan dengan yang ditemukan

  oleh Margarets (2008), bahwa ada hubungan antara umur kehamilan

  dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir.

        Menurut     Prawirohardjo    (2007)    bahwa     faktor   yang    bisa

   menyebabkan kejadian asfiksia adalah faktor kehamilan ibu yaitu

   kehamilan yang lewat waktu (serotinus/postterm) yaitu usia kehamilan

   yang melewati 42 minggu dan kelahiran prematur yakni bayi yang

   dilahirkan dengan usia kehamilan kurang dari 38 minggu. Hal ini
                                                                   29




disebabkan karena pada bayi yang lahir preterm (kurang bulan) organ-

organ tubuhnya belum mature hal ini menyebabkan sistem pernapasan

khususnya paru-paru bayi belum bekerja secara optimal akibatnya bayi

bisa mengalami asfiksia.

     Sedangkan pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan

umur kehamilan melebihi 42 minggu kejadian asfiksia bisa disebabkan

karena fungsi plasenta yang tidak maksimal lagi akibat proses penuaan

mengakibatkan transportasi oksigen dari ibu ke janin terganggu. Fungsi

plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan kemudian

mulai menurun terutama setelah 42 minggu, hal ini dapat dibuktikan

dengan penurunan kadar estriol dan plasental laktogen. Rendahnya

fungsi plasenta berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin

dengan risiko 3 kali (Wiknjosastro, 1998).
                                                                            30




                                   BAB V

                         KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

       Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan hubungan

  umur kehamilan ibu pada saat bayi di lahirkan dengan kejadian asfiksia di

  RSU Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2009, maka dapat

  disimpulkan : penelitian mengenai :

 1. Kejadian asfiksia pada tahun 2009 di RSU RSU Provinsi sebanyak 115

    atau 5.8%.

 2. Kejadian kelahiran bayi pada umur kehamilan beresiko (preterm dan

    serotinus) sebanyak 43 orang (18.7%).

 3. Ada hubungan yang bermakna antara umur kehamilan dengan

    kelahiran bayi asfiksia ( chi2 hitung > chi2 tabel (24.1 > 3.841)). Ibu-ibu

    yang umur kehamilannya beresiko (preterm dan serotinus) berpeluang

    mengalami resiko melahirkan bayi asfiksia sebesar 7 kali.

B. Saran

  1. Pada pengelola program kesehatan khususnya program ibu dan anak

     perlu   strategi   lain   dalam   merencanakan    program    penyuluhan

     kesehatan pada umumnya, khususnya mengenai komplikasi yang

     dapat terjadi pada kehamilan preterm dan serotinus agar ibu-ibu hamil

     dapat mewaspadai hal tersebut.

  2. Agar ibu-ibu hamil sering memeriksakan kehamilan ke tenaga

     kesehatan secara teratur untuk mendeteksi adanya kelainan yang

     membahayakan ibu dan janinnya.

  3. Agar persalinan dilakukan di tempat pelayanan kesehatan dan di

     tolong oleh tenaga kesehatan.

                                       30
                                                                      31




                            DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, 2002. Proses Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
       Rineka cipta.
Cunningham FG, 2006. Obstetri william. Ed 21 (Edisi Bahasa Indonesia).
      Jakarta : EGC.
Dinkes Provinsi Sulawesi Tenggara, 2008. Kesehatan Provinsi Sulawesi
       Tenggara : Kendari.
Dinkes RI, 2007. Profil Kesehatan Reproduksi Indonesia 2003. Jakarta :
       World Health Organization.
Margarets, 2008. Kejadian Asfiksia Neonatorum. Internet : www.tanyadokter
      anda.com. Diakses tanggal 21 Juni 2010.
Manuaba IBG. 2002. Ilmu Kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga
      berencana untuk pendidikan bidan. Jakarta : EGC.
Mochtar R. 2002. Sinopsis obstetri. ed 3. Jakarta : EGC.
Notoatomodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta :
       Jakarta.
Nurchotimah, 2008. Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir . http: www.kalbe.co.id.
       Tanggal di akses 15 Februari 2008.
Prawirohardjo, S. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta. YBP-SP.
Saifuddin AB, 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
       dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo.
Utomo MT. Asfiksia Neonatorum. http://www.pediatrik.com. (diakses tanggal
      12 Januari 2008).
Wijaya, 2009. Kondisi Angka Kematian Neonatal-Angka Kematian Bayi.
       http://www.infodokter.com/index.php?optio=com-content8.id=92.
Wiknjosastro H, 2005. Ilmu Kebidanan. Ed 3 Cetakan Keenam. Jakarta:
       Tridasa Printer.
Wiknjosastro H, 1998. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina
       Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Varney H, 2004. Ilmu Kebidanan Varney. Edi ke 3. Bandung : Eleman.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: Asfiksia, Bayi
Stats:
views:33528
posted:11/27/2010
language:Malay
pages:31