Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

kimia lipid

VIEWS: 6,403 PAGES: 11

									                                     ACARA II
                                  KIMIA LIPIDA
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
 a. Tujuan      :- Identifikasi senyawa lipid
                 - Penentuan bilangan penyabunan, bilangan asam, dan bilangan iod.
 b. Hari/tanggal: Selasa / 09 november 2010
 c. Tempat      : Laboratorium kimia lantai III fakultas MIPA Universitas Mataram.


B. LANDASAN TEORI
         Oksidasi dapat melibatkan lipid, protein, vitamin, pigmen, dan lebih spesifik lagi
  oksidasi melibatkan triasilgliserida yang umum terdapat pada bahan pangan atau
  fosfolipid yang ada di sebagian bahan pangan. Reaksi yang umum terjadi pada lipid
  selama pengolahan meliputi hidrolisis, oksidasi dan pirolisis. Oksidasi lipid biasanya
  melalui proses pembentukan radikal bebas yang terdiri dari tiga proses dasar yaitu
  inisiasi, propagasi dan terminasi (Apriyantono, 2001 dalam Anonim, 2010).
         Berdasarkan komponen dasarnya, lipid terbagi ke dalam lipid sederhana
  (simple lipid), lipid majemuk (compound lipid), dan lipid turunan (derived lipid).
  Berdasarkan sumbernya, lipid dikelompokkan sebagai lemak hewan (animal fst), lemak
  susu (milk fat), minyak ikan (fish oil), dan lain lain. Klasifikasi lipid ke dalam lipid
  majemuk karena lipid tersebut mengandung asam lemak yang dapat disabunkan,
  sedangkan lipid sederhana tidak mengandung asam lemak dan tidak dapat disabunkan
  (Anonim, 2010).
         Pada umumnya lemak tidak larut dalam air, yang berarti juga tidak larut dalam
  plasma darah. Agar lemak dapat diangkut ke dalam peredaran darah, maka lemak tersebut
  harus dibuat larut dengan cara mengikatkannya pada protein yang larut dalam air. Ikatan
  antara lemak (kolesterol, trigliserida, dan fosfolipid) dengan protein ini disebut
  Lipoprotein (dari kata Lipo=lemak, dan protein). Lipoprotein bertugas mengangkut
  lemak dari tempat pembentukannya menuju tempat penggunaannya (Anonim, 2010).
         Lipid (dari kata yunani lipos, lemak) merupakan penyusun tumbuhan atau hewan
  yang dicirikan oleh sifat kelarutannya. Terutama lipid tidak larut dalam air tetapi larut
  dalam pelarut organik nonpolar, seperti eter. Struktur kimia lipid dapat sangat beragam,
sekalipun sifat kelarutannya mirip. Beberapa di antaranya berupa ester, lainnya berupa
hidrokarbon, sebagian asiklik dan lainnya siklik, bahkan polisiklik (Hart, harold, at al.
2003).
         Bila lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali, ester terkonversi menjadi
gliserol dan garam dari asam lemak. Reaksi tersebut digambarkan dengan penyabunan
gliseril tripalmitat(Hart, harold, at al. 2003).

          O

    CH2OC(CH2)14CH3                                 CH2OH


           O

    CH2OC(CH2)14CH3        +   3   3
                                       Na+ - OH     CHOH    +   3 CH3(CH2)14CO2- Na+
                                                                natrium palmitrat

           O
                                                    CH2OH
     CH2OC(CH2)14CH3
gliseril tripalmitrat                               gliserol

         Asam palmitat adalah dua di antara asam lemak jenuh yang dapat diubah menjadi
asam lemak tak jenuh. Cara pengubahannya tergantung dari jenis jasad hidup. Pada
tanaman pembentukan asam lemak tak jenuh berlangsung seperti pada hewan, hanya ada
perbedaan pada rantai transpor elektron mikrosomalnya. Asam aplmitat yang dihasilkan
dalam sistem multienzim sintase dappat diperpanjang menjadi asam lemak yang lebih
panjang rantainya. Pemanjangan itu terjadi pada mithokondria dan pada endoplasmik
retikulum (Martoharsono, 1983).

      Salah satu pembangun khas lipid yaitu asam lemak. Asam lemak merupakan asam
organik berantai panjang yang mempunyai atom karbon dari 4 sampai 24. Asam lemak
mempunyai gugus hidrokarbon hidrofob yang banyak sekali dan hanya sedikit, jika ada,
gugus hidrokarbon hidrofil yang menyebabkan kebanyakan lipida bersifat tidak larut di
dalam air dan tampak berminyak atau berlemak. Asam lemak tidak terdapat secara bebas
atau berbentuk tunggal di dalam sel atau jaringan, tetapi terdapat dalam bentuk yang
terikat secara kovalen pada berbagai kelas lipida berbeda, asam lemak dapat dibebaskan
dari ikatan ini oleh hidrolisis kimia atau enzimatik. Trigliserida atau triasilgliserol
merupakan senyawa triester yang terbentuk dari triol gliserol dan dua atau tiga asam
  lemak yang berbeda, misalnya satu asam palmitat, satu asam stearat, dan satu asam oleat
  (Lehninger, 1982).


C. ALAT DAN BAHAN
  1. ALAT
            Gelas arloji
            Neraca
            Erlenmeyer
            Pendingin tegak
            Penangas uap
            buret
            stopwatch.
  2. BAHAN
            Eter
            Kertas saring
            Minyak goreng
            KOH 0,5 N dalam etanol
            HCl 0,5 N
            Indikator PP
            Etanol
            KOH 0,1 N
            Kloroform
            Pereaksi Hanus
            Larutan KI 15 %
            Larutan Na-tiosulfat 0,1 N
            Indikator amilum.
            Aquades.
D. PROSEDUR PERCOBAAN
a. Grace spot test (tes noda asam lemak)
                  Senyawa + eter
                         Dikocok
                         Tuang dalam gelas arloji
                         Uapkan eternya
                         Usap gelas arloji dengan kertas saring atau kertas buram
                     Hasil
b. Penentuan bilangan penyabunan
                  4 gram minyak kotor(dalam erlenmeyer 250 ml)
                         + 50 ml KOH 0,5 N dalam etanol
                         Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin tegak dan didihkan
                         dengan penangas uap sampai semua minyak tersabunkan
                         + indikator pp
                         Titrasi dengan larutan standar HCl 0,5 N.
                      Hasil
c. Penentuan bilangan asam
                  20 gram minyak kotor + 50 ml alkohol 95%
                         Tutup erlenmeyer dengan pendingin balik
                         ∆ sampai mendidih
                         Kocok kuat-kuat
                         Setelah dingin, + indikator pp
                         titrasi dengan larutan satndar KOH 0,1 N
                     Hasil.
d. Penentuan bilangan peroksida.
                  0,5 gram minyak ke dalam erlenmeyer bertutup
                         +30 ml pelarut campuran kloroform : asam asetat glasial (2:3 V/V)
                         +0,5 ml larutan KI jenuh + dikocok
                         + 30 mL aquades
                         + 10 ml larutan KI 15 % dan 10 ml aquades
                         Titrasi dengan larutan Na. teosulfat 0,1 N + indikator amilum
                     Hasil
E. HASIL PENGAMATAN.
No Prosedur kerja                     Minyak goreng baru               Minyak goreng bekas
1   Grease Spot Test
      minyak + eter                   minyak dan eter sedikit         Minyak       &           eter
                                       ber-campur. Terlihat dua         bercampur.        Warna     =
                                       fase yang samar. Warna           merah kehitaman.
                                       minyak     menjadi      agak
      dituang pada gelas arloji,      bening.
      diuapkan eter.                   Terbentuk padatan putih         Minyak tetap cair, dan
      diusap      dengan    kertas                                     ber-warna            merah
      saring                                                            kehitaman
2   Penentuan bil. Penyabunan
      4 gr minyak + KOH 0.5 N         Tidak melarut. Ada              Minyak           bercampur
      dalam etanol                     gumpalan       minyak     di     dengan KOH. Larutan
                                       dasar erlenmeyer.                berwarna merah.
                                       Larutan berwarna merah.
      Dihubungkan              dgn    Larutan bercampur (tidak        Larutan          bercampur
      pendingin              tegak,    ada butiran minyak).             (tidak      ada      butiran
      kemudian Δ                       Larutan berwarna merah.          minyak).
                                       Warna semakin merah             Larutan              merah
      Didinginkan, + ind. pp          Warna               larutan:    kehitaman.
      Dititrasi    dengan      HCl    atas(oranye)                     Warna = merah darah
      standar 0.5 N                    tengah(merah),                   Warna larutan oranye.
                                       bawah(oranye).                   Volume titran = 8 mL
                                       Volume titran = 7 mL             Untuk blanko = 9 mL
                                                                        (warna               oranye
                                                                        kemerahan)
3   Penentuan bil. Asam
      Minyak + alkohol 95%            Terbentuk 2 fase. Larutan       Minyak           bercampur
                                       berwarna oranye, terdapat        dengan alkohol.
                                       bulir-bulir minyak.
       Dihubungkan              dgn     Terbentuk 2 fase,                Larutan keruh
        pendingin tegak, kemudian        atas       (kuning      keruh)
        Δ dan digo-jog kuat-kuat         bawah (lebih pekat).
       Didinginkan, + ind.pp
       Dititrasi   dengan     KOH       Larutan keruh.                   Warna larutan mjdi lebih
        standar 0.1 N                    Volume = 7.5 mL                   keruh. Volume = 13,7
                                                                           mL
4     Penentuan bil. Peroksida
       Minyak          +     pelarut    Minyak       larut     dalam     Larutan berwarna kuning
        campuran                         pelarut. Warna = kuning
                                         pudar.
       + 0.5 mL lar. KI jenuh +         Larutan     kuning     keruh,    Warna kuning keruh, ter-
        30 mL aquades                    ter-bentuk 2 fase                 bentuk 2 fase.
       + indikator amilum               Perbedaan fase semakin
                                         jelas, kuning (atas), putih
                                         (bawah)
       Dititrasi    dengan      lar.    Larutan menjadi kuning           Larutan 2 fase. Bawah
        Standar Na-tiosulfat 0.1 N       bening. Terdapat bulir-           (kuning    muda),    atas
                                         bulir minyak di bawah.            bening.
                                         Volume = 0.1 mL                   Volume = 5 mL


F. ANALISIS DATA


    a. Persamaan reaksi
     Bilangan penyabunan




         (trigliserida)                             (gliserol)
 Bilangan asam
          O                                O




     (asam lemak)                        (garam)


 Bilangan peroksida
     2 I- H2O2     I2
     I2   + 2 S 2 O3 2       2 I- + S4O62-
b. Perhitungan
 1. Bilangan penyabunan

    Bilangan penyabunan (minyak baru) =

    Bilangan penyabunan (minyak bekas) =

    V1 = volume HCl untuk titrasi blanko
    V2 = volume HCl untuk titrasi contoh
 2. Bilangan asam

    Bilangan asam (minyak baru) =

    Bilangan asam (minyak bekas) =

 3. Bilangan peroksida

    Bilangan peroksida (minyak baru) =

                                     =              = 20

    Bilangan asam (minyak bekas) =

                                     =             = 1000
G. PEMBAHASAN
         Lipid merupakn senyawa yang berperan penting dalam komponen struktur
  membran sel. Termasuk di dalamnya lemak dan minyak dalam bentuk trigliserol sebagai
  sumber penyimpan energi, lapisan pelindung, dan insulator organ-organ tubuh beberapa
  jenis lipid berfungsi sebagai sinyal kimia, pigmen, juga sebagai vitamin, dan hormon.
         Lipid secara umum tidak latur dalam air namun larut dalam pelarut organik
  nonpolar dan semipolar seperti benzena, eter, dan kloroform. Berdasarkan komponen
  dasarnya    lipid   terbagi   dalam    komponen      sederhana    (simpel    lipid),   lipid
  majemuk(compound lipid), dan lipid turunan (derived lipid). Berdasarkan sumbernya,
  lipid dikelompokkan sebagai lemak hewan (animal fst), lemak susu (milk fat), minyak
  ikan (fish oil), dll. Klasifikasi lipid ke dalam lipid majemuk karena lipid tersebut
  mengandung asam lemak yang dapat disabunkan, sedangkan lipid sederhana tidak
  mengandung asam lemak dan tidak dapat disabunkan.
         Pada praktikum ini digunakan minyak seabagai sumber lipid dengan tujuan untuk
  mengidentifikasi kualitas lemak atau minyak dengan uji sifat fisika dan kimianya berupa
  indeks bias, viskositas, berat jenis, bilangan penyabunan, bilangan asam, bilangan iod
  dan bilangan peroksida. Namun di sini yang dilakukan hanya bilangan penyabunan,
  bilangan asam, dan bilangan peroksida.
         Pada uji noda lemak untuk minyak baru maupun minyak bekas bercampur dengan
  eter ini disebabkan karena sifat lipid yang larut dalam pelarut organik nonpolar. Peristiwa
  ini disebabkan karena struktur kimia lipid yang berupa rantai alkil panjang yang bersifat
  nonpolar yang mampu mengalahkan sifat polar dari gugus karboksilatnya. Sedangkan
  perbedaan warna tergantung dari tingkat kemurnian minyak, minyak bekas masih
  mengandung banyak kotoran-kotoran sehingga membuatnya menjadi merah kehitaman.
         Praktikum kedua yaitu penentuan bilangan sabun. Bilangan sabun merupakan
  jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan satu gram lemak atau
  minyak. Apabila sejumlah minyak disabunkan dengan larutan KOH berlebih, maka KOH
  akan bereaksi dengan trigliserida, yaitu tiga molekul KOH bereaksi dengan satu molekul
  minyak. Dalam praktikum ini diperoleh nilai bilangan penyabunan untuk minyak baru
  sebesar 14, 25 sedangkan yang bekas setengah dari yang baru yaitu 7, 125. Dari sini
  dapat diidentifikasi minyak yang masih baik dan yang sudah kurang baik. Karena
bilangan sabun ini menentukan jumlah alkali yang bereaksi. Semakin banyak yang
bereaksi maka kualitas minyak semakin baik, begitu juga sebaliknya. Pada minyak baru
jumlah alkali yang bereaksi lebih banyak karena tidak ada zat pengotor yang
menghalanginya untuk bereaksi dengan KOH. Pada saat minyak dipanaskan minyak dan
alkohol yang pada mulanya tidak bercampur menjadi bercampur, ini disebabkan karena
bila lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali, ester terkonversi menjadi gliserol dan
garam dari asam lemak (Hart, harold, at al. 2003). Dengan adanya kalor akan
memberikan energi pada elektron pada gugus fungsi sehingga teraktifkan dengan
tereksitasi ke keadaan lumo dan dapat bereaksi dengan alkohol membentuk gliserol.
        Ditinjau dari reaksinya, minyak baru tidak bercampur dengan KOH disebabkan
karena KOH bersifat polar. Sedangkan pada minyak bekas KOH bercampur. Ini
disebabkan karena dalam minyak bekas kemungkinan terdapat partikel atau senyawa
pengotor polar yang terikat.
        Praktikum ketiga yaitu penentuan bilangan asam. Bilangan asam yaitu jumlah
miligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam-asam lemak bebas yang
terdapat pada satu gram minyak atau lemak. Hasil perhitungan menunjukkan bilangan
asam minyak bekas lebih besar dari minyak baru. Merujuk pada pengertiannya ini
disebabkan karena adanya kandungan pengotor menyebabkan KOH sukar menetralkan
asam-asam lemak bebas di dalamnya. Sedangkan pada minyak baru jalan KOH untuk
menetralkan asam lemak bebas lebih luas sehingga cepat dalam ternetralkan. Untuk
reaksinya mempunyai prinsip sama dengan penentuan bilangan penyabunan. Pengamatan
menunjukkan terbentuk 2 fase saat pencampuran minyak dengan alkohol, peristiwa ini
juga terjadi karena adanya perbedaan kepolaran dengan prinsip sebagaimana yang sudah
dijelaskan di bagian praktikum pertama.
        Praktikum acara terakhir yaitu penentuan bilangan peroksida dimana bilangan
peroksida menunjukkan banyaknya mg peroksida yang terbentuk dalam setiap 100 gram
minyak. Bilangan peroksida merupakan nilai terpenting untuk menentukan derajat
kerusakan pada minyak atau lemak. Asam lemak tak jenuh dapat ditentukan dengan
metode iodometri atas dasar reaksi antara alkali iodida dengan peroksida dalam suasana
asam.
         Dari hasil perhitungan menunjukkan perbedaan yang sangat sigifikan dimana
  bilangan peroksida dari minyak bekas jauh lebih besar melampaui minyak baru. Ini
  menunjukkan tingkat kerusakan minyak sangat besar pada minyak bekas. Pada
  pengamatannya minyak bercampur dengan pelarut campuran ini disebabkan karena
  campuran asam asetat glasial dan kloroform menghasilkan campuran yang semi-polar
  sehingga minyak dapat terlarut di dalamnya. Ketika ditambahkan larutan KI jenuh
  diperoleh 2 fase yang merupakan bentuk pembebasan iod dari reaksi oksidasi oleh
  peroksida.


H. KESIMPULAN
     a. Identifikasi adanya lipid dilakukan dengan uji noda lemak yang ditunjukkan
         dengan kelarutannya pada senyawa organik nonpolar dan semipolar.
     b. Kualitas suatu minyak dapat diidentifikasi dengan menetukan bilangan
         penyabunan, bilangan asam, dan bilangan peroksida.
     c. Semakin besar nilai bilangan penyabunan maka minyak semakin bagus.
     d. Semakin kecil bilangan asam kulaitas minyak semakin bagus.
     e. Semakin besar bilangan peroksida minyak semakin jelek karena bilangan
         peroksida menunjukkan banyaknya mg peroksida yang terbentuk dalam setiap
         100 gram minyak.
     f. Besar kecilnya bilangan peroksida menunjukkan tingkat kerusakan suatu minyak.
                                 DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. Didownload dari :
               http://www.scribd.com/document_downloads/direct/7674101?extension=p
               df&ft=1290043628&lt=1290047238&uahk=IOQt2Yt7hFwfvSc09+blTcy
               PpRU. Pada tanggal : 18 november 2010 pukul .
Hart, harold, at al. 2003. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Jakarta : penerbit
               Erlangga.



Martoharsono, soeharsono. 1983. Biokimia jilid II. Yogyakarta. Gajah Mada University
               Press.

								
To top