Docstoc

HUBUNGAN ANTARA KEPRIBADIAN EKSTROVERT DENGAN KEHAROMONISAN KELUARGA

Document Sample
HUBUNGAN ANTARA KEPRIBADIAN EKSTROVERT DENGAN KEHAROMONISAN KELUARGA Powered By Docstoc
					                                          BAB I

                                  PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

        Dimasa-masa seperti sekarang ini keluarga dianggap sebagai lingkungan yang

sangat dekat bagi setiap individu, dimana setiap individu ingin selalu menjadi bagian

dalam keluarga, dan bukan hanya itu saja, setiap individu juga selalu mengharapkan

memiliki keluarga yang harmonis sehingga dapat membantu serta mendukung individu

tersebut dalam segala hal yang dilakukan maupun yang dialami oleh individu itu sendiri.

        Oleh karena itu keadaan dalam keluarga sudah selayaknya berjalan secara

harmonis sehingga keutuhan dalam keluarga pun dapat terjaga dengan baik. Gunarsa dan

Gunarsa, (2007) menyatakan keharmonisan keluarga merupakan keadaan yang utuh dan

bahagia yang di dalamnya ada ikatan kekeluargaan yang memberikan rasa aman dan

tentram bagi setiap anggotanya. Selain itu ada hubungan baik antara ayah-ibu, ayah-anak,

ibu-anak. Keharmonisan akan mudah terwujud apabila ada kesatuan yang harmonis

antara ayah dan ibu sebagai pasangan suami istri yaitu hubungan yang terlihat dalam

bentuk hubungan yang akrab diantara keduanya, Hawari (dalam Wahyuningsih 2004).

        Kenyataan sekarang masih sangat banyak di jumpai kasus-kasus kekerasan dalam

rumah     tangga   yang     diakibatkan    tidak   harmonisnya     keluarga    tersebut.

(www.siwalimanews.com) mengungkap adanya penyalahgunaan narkoba yang dilakukan

oleh anak dikarenakan adanya ketidakharmonisan dalam keluarga si anak. Hal ini perlu

diperhatikan dengan baik karena faktor sosial keluarga sangat berpengaruh pada

kepribadian anak yang di besarkan. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang baik
akan berperilaku baik pula, karena dalam keluarga yang memiliki latar belakang

lingkungan keluarga yang baik memiliki tatanan kehidupan yang baik sehingga akan

mempengaruhi kepribadian anggota keluarga tersebut, sehingga anak tersebut terhindar

dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

       Dalam (www.sumenep.go.id) beberapa faktor perceraian yang terjadi di Kabupaten

Sumenep, yang paling mendominasi yakni soal ketidak harmonisan dalam keluarga. Dari contoh

34 kasus cerai yang ditangani pada bulan tertentu, dari beberapa kasus perceraian yang terjadi

diantaranya, poligami tidak ada kasus, cemburu 2 kasus, kawin paksa 2 kasus, ekonomi 7 kasus,

tanggung 2, pihak ketiga 2, dan tidak harmonis mencapai 19 kasus. Menurut Ketua Pengadilan

Agama Kabupaten Sumenep, Drs. KH. Abdullah Cholil, M.Hum , mengungkapkan, ketidak

harmonisan dalam rumah tangga memang menjadi dominasi kasus perceraian. Itu sebabnya

mengapa keharmonisan keluarga sangatlah penting untuk tetap menjaga keutuhan serta

kesejahteraan dalam suatu keluarga. Sedangkan Soekirno (dalam Wahyuningsih, 2004)

menyatakan bahwa keluarga yang harmonis adalah keluarga yang menunjukan adanya

hubungan timbal balik antara anggota keluarga secara serasi, hubungan yang dimaksud

adalah hubungan yang didasari oleh adanya rasa saling pengertian dan toleransi pada

tugas setiap anggota keluarga yang di laksanakan atas kesadaran untuk kepentingan

bersama.

       Keharmonisan keluarga merupakan suatu hal yang sangat penting untuk

menciptakan keadaan yang nyaman serta bahagia, apabila dalam suatu keluarga tidak

ditemukan adanya keharmonisan maka akan berdampak buruk bagi setiap anggota

keluarga baik dalam hal komunikasi, tanggung jawab dan tidak adanya rasa saling

menghargai sesama anggota keluarga seperti yang di ungkapkan oleh Steinet dan de Frain

(dalam Hawari, 1996) ada enam karakteristik keluarga yang dapat dikategorikan sebagai
keluarga yang sehat dan bahagia, yaitu : kehidupan beragama dalam keluarga,

mempunyai waktu untuk bersama dalam keluarga, mempunyai pola komunikasi yang

baik sesama anggota keluarga (ayah-ibu-anak), saling menghargai sesama anggota

keluarga, keluarga sebagai ikatan kelompok, bila terjadi sesuatu permasalahan dalam

keluarga mampu menyelesaikan secara positif dan konstruktif.

       Menurut hawari (1996), keharmonisan keluarga dapat dilihat dari baik atau

tidaknya hubungan antar anggota keluarga, ayah dan ibu, orang tua dengan anak-

anaknya, dan anak dengan saudaranya. Jika hubungan hubungan orang tua dengan anak-

anaknya berjalan dengan baik, maka akan muncul komunikasi dua arah antara kedua

belah pihak. Cole, (1963) menyatakan bahwa keharmonisan juga memberi rasa aman

bagi para anggotanya untuk berkembang secara wajar dan menerima pengalaman sebagai

bekal kehidupan didalam masyarakat dan untuk menuju rumah tangga yang harmonis

harus memiliki iman yang kuat, sifat kedewasaan, rasa tanggung jawab, saling

pengertian, menerima kenyataan dengan ikhlas dan saling memaafkan, faktor-faktor yang

dapat mempengaruhi keharmonisan keluarga adalah faktor usia, faktor fisik, faktor

kepribadian, faktor sosial keluarga, faktor agama, pekerjaan dan materi lainya.

       Seperti beberapa fakta-fakta yang telah di uraikan di atas sudah seharusnya dalam

keluarga tercipta hubungan yang harmonis pada setiap anggotanya, selain untuk

mempertahankan sebuah keluarga, juga memberikan rasa aman pada setiap anggotanya

baik itu ayah, ibu, maupun anak sehingga anatr sesama anggota keluarga dapat saling

mendukung, menjaga, melindungi bahkan memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan

setiap anggota keluarga lebih banyak.
       Dengan demikian perlu adanya perubahan atau penanganan untuk kasus-kasus

yang saat ini dengan mudah di temukan di tengah-tengah masyarakat Indonesia pada

umumnya seperti perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga dengan cara

menciptakan suatu kondisi yang harmonis dalam lingkungan keluarga seperti yang

dikemukakan oleh, Hawari (2004) ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi

keharmonisan keluarga antara lain faktor usia ideal untuk melangsungkan pernikahan dan

untuk berumah tangga karena secara psikologis dan sosial sudah matang, sehingga

diharapkan akan lebih mudah dalam menciptakan sebuah keluarga yang harmonis,

kondisi fisik yang sehat baik jasmani dan rohani, selanjutnya faktor kepribadaian

terutama kematangan kepribadian ekstrovert merupakan hal yang utama, kesamaan

agama yang dianut orang tua sangat penting bagi stabilitas rumah tangga dan yang

terakhir pekerjaan dan materi lainnya karena suatu ikatan perkawinan tidak akan bertahan

hanya dengan ikatan cinta dan kasih sayang semata. Kebutuhan materi juga perlu

diperhatikan seperti sandang, pangan, papan.

       Menurut Hawari (dalam Wahyuningsih, 2004) Salah satu faktor penyebab

munculnya keharmonisan keluarga adalah kematangan kepribadian untuk saling

memberikan kebutuhan afeksional dan toleransi yang tinggi, dan adanya penyesuaian

diharapkan dapat saling mengisi dan melengkapi. Kepribadian menurut Koswara (1991)

adalah suatu istilah yang mengacu pada gambaran social tertentu yang diterima oleh

individu dari kelompok atau masyarakatnya kemudian individu tersebut diharapkan

bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial       yang diterimanya.

Allport (dalam Sobur, 2003) mendefinisikan kepribadian adalah organisasi-organisasi
dinamis dari system-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-

caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

         Jung (dalam Sobur, 2003) mengatakan tipe kepribadian ekstrovert yaitu orang-

orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya, kepada orang-orang lain dan

kepada masyarakat. Dapat dilihat bahwa jika dalam keluarga dilakukan mengadakan

pembentukan tipe kepribadian ekstrovert maka apabila ada suatu permasalahan yang

muncul akan mudah dikomunikasikan kepada anggota keluarga yang lain (ayah, ibu dan

anak).

         Dengan demikan pembentukan kepribadian ekstrovert sangatlah penting karena

dengan pembentukan kepribadian ekstorvert tersebutlah pola komunikasi dalam keluarga

akan lebih baik, ada toleransi pada setiap anggotanya sehingga disaat keluarga memiliki

suatu permasalahan akan dengan cepat dikomunikasikan kepada tiap-taip anggotanya

untuk menciptakan suatu hubungan keluarga yang harmonis.



B. Rumusan Masalah

         Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah “ Apakah ada hubungan antara pembentukan kepribadaian ekstrovert

pada remaja dengan keharmonisan keluarga?”.
”.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:636
posted:11/22/2010
language:Indonesian
pages:5