Docstoc

anotasi:pembelajaran

Document Sample
anotasi:pembelajaran Powered By Docstoc
					                                                                          1




                      ANOTASI BIBLIOGRAFI
                  PELAKSANAAN PEMBELAJARAN




Disusun sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Interaksi Belajar Mengajar
              Pada Program Pengembangan Kurikulum
                        Program Doktor (S.3)




                                Dosen:
                  Dr. Hj. Hansiswany Kamarga, M.Pd.




                               Oleh:
                              Mukhsin
                            NIM. 0800844




                    SEKOLAH PASCASARJANA
               UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
                             2008
                                                                                      2




                                   Kata Pengantar



Puji syukur dipanjatkan ke haribaan Allah SWT yang senantiasa memberikan
segala kenikmatan taufiq dan hidayahnya. Alhamdulilah penyusunan anotasi
bibliografi ini selesai dengan baik menurut ukuran „ala al-istitha‟ah penulis.


Segala upaya telah dilakukan untuk menemukan artikel-artikel “pelaksanaan
pembelajaran”, namun apa daya artikel yang secara eksplisit berhubungan dengan
itu hanya ditemukan tujuah artikel.


Dengan segala kelemahan yang ada, penulis membuka saran dan kritik yang
konstruktif intuk perbaikan langkah selanjutnya.


Tiada gading yang tak retak. Kalau tidak retak bukanlah gading. Hanya kepada Allah
penulis mengharap keridhaannya.


                                                              Bandung, Oktober 2008
                                                              Penulis,




                                                              Mukhsin
                                                                                  3




Artikel 1:

KEVIN KRUSE: (2006). Gagne's Nine Events of Instruction: An Introduction.
Tersedia. (On Line). http://www.e-learningguru.com/articles/art3_3.htm. (24
Nopember 2008).

Artikel ini menjelaskan ketertarikan penulisnya terhadap langkah pembelajaran
Gagne. Ia menjelaskan bahwa langkah-langkah pembelajaran ala Gagne itu
sistematis dan mudah untuk diimplementasikan. Menurut Gagne ada sembilan
langkah dalam pelaksanaan pembelajaran, dan langkah-langkah ini disebut dengan
“the events of instruction” yang mengkorelasikan dan menentukan syarat-syarat
belajar. Langkah pertama, menarik perhatian siswa; guru memberikan stimulus
untuk membangkitkan reseptor siswa. Langkah kedua, menyampaikan kepada siswa
tujuan-tujuan pembelajaran; guru membuat tingkat-tingkat harapan belajar yang
ingin dicapai. Langkah ketiga, menstimulasi ingatan kembali belajar sebelumnya;
guru menggugah dan mengaktivasi memori jangka pendek siswa. Langkah keempat,
menyampaikan isi pembelajaran; persepsi yang selektif        terhadap isi. Langkah
kelima, memberikan bimbingan belajar; menyandikan hal-hal yang berkenaan
dengan arti kata untuk disimpan dalam memori jangka panajng siswa. Langkah
keenam, mendatangkan penampilan (praktik); merespons pertanyaan-pertanyaan
untuk mempertinggi encoding dan verifikasi. Langkah ketujuh, memberikan
feedback; melakukan reinforcement dan assessment terhadap performa yang benar.
Langkah kedelapan, menilai performa; menyampaikan dan me-reinforce isi sebagai
evaluasi akhir. Langkah kesembilan, mempertinggi retensi (ingatan) dan transfer
kepada pekerjaan; menggugah dan generalisasi terhadap keterampilan yang
dipelajari kepada situasi baru.

Artikel 2:
Stephen Bostock. (1996). Learning Technology Instructional Design - Robert
Gagné, The Conditions of Learning. Tersedia. (On Line). http://www.e-
learningguru.com/articles/art3_3.htm. (22 Oktober 2008).

Artikel ini menjelaskan bahwa Robert Gagne (1985) mengklasifikasi jenis-jenis hasil
belajar yang perlu dicapai setelah proses pembelajaran selesai sebagai berikut:
                                                                                      4




   1. keterampilan intelektual – berupa konsep (intellectual skills - concepts);
          didemonstrasikan melalui kemampuan labeling dan mengklasifikasi benda-
          benda.
   2. keterampilan intelektual – berupa aturan (intellectual skills - rules); diterapkan
          dan prinsip-prinsipnya didemonstrasikan.
   3. keterampilan intelektual – berupa pemecahan masalah (intellectual skills –
          problem solving); pemecahan masalah memungkinkan solusi-solusi atau
          prosedur yang menggeneralisir.
   4. Strategi kognitif; digunakan untuk belajar.
   5. Informasi verbal; ditentukan
   6. keterampilan mtor; memungkinkan penampilan fisik.
   7. Sikap; didemonstrasikan dengan memilih opsi

Hasil-hasil ini merupakan hasil-hasil dari proses belajar internal dalam diri individu
siswa. Hasil-hasil ini memberikan siswa kemampuan-kemampuan yang diinginkan
untuk diimprovisasi. Kondisi eksternal belajar (seperti pembelajaran) yang
menyebabkan belajar itu berbeda dengan jenis-jenis hasil belajar yang berbeda.
Misalnya, guru harus melakukan hal-hal yang berbeda untuk mempelajari sikap
belajar    siswa   dari   pada   untuk   mempelajari   keterampilan   intelektual   atau
keterampilan motor. Meskipun demikian, Gagne menyarankan bahwa walaupun
berbeda-beda dalam rinciannya, tipe-tipe aktivitas pembelajaran yang sama itu
diperlukan untuk semua proses belajar dan hasil-hasil belajar. Oleh karena itu ia
menyarankan untuk melakukan sembilan langkah pelaksanaan pembelajaran.

Artikel 3:

Linda Stolling: (2007). Robert Gagne's Nine Learning Events: Instructional
Design for Dummies. Tersedia. (On Line). http://www.gwu.edu/~tip/bruner.html.
(24 Oktober 2008).

Artikel ini menjelaskan teori Gagne tentang pelaksanaan pembelajaran. Si penulis
hanya menyampaikan tentang bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung
menurut pandangan Gagne. Pelaksanaan pembelajaran Gagne yang dikenal
dengan “the nine instructional events” didasarkan pada teori belajar behavioristik,
                                                                                             5




teori belajar “cognitive/information processing. Dengan kesederhanaan ini mampu
memberikan kerangka design yang dapat diterapkan di berbagai konteks
pendidikan. Juga, dengan imaginasi yang kuat, mereka dapat dikonseptualisasi
sebagai komponen-komponen gabungan teori konstruktifisme dan sosiokultural
untuk membuat sebuah lingkungan belajar eklektik. Menurut Linda Stolling,
menggunakan sembilan langkah pembelajaran dari Gagne untuk menciptakan menu
pembelajaran eklektik adalah sebagai berikut.

Pertama, membangkitkan perhatian dengan cara: menstimulasi kesadaran siswa
dengan     memberikan      pertanyaan-pertanyaan,        memberikan         tantangan     yang
bermakna     dan     relevan.   Kedua,      memberikan     kepada     siswa     tujuan-tujuan
pembelajaran yang hendak dicapai; tujuan ini bisa berupa tujuan umum yang
kemudian dipersonalisasi oleh siswa; dan langkah kedua ini bisa digunakan model
belajar   “problem    based     learning”    (belajar   berdasarkan        masalah).    Ketiga,
menstimulasi ingatan kembali; siswa dapat mengikat pengetahuan yang baru
dengan konstruksi pengetahuan masa lalu; usahakan untuk menggunakan konsep
pemetaan. Keempat, menyampaikan materi pembelajaran. Langkah ini dilakukan
dengan cara; memfasilitasi siswa memiliki materi pembelajaran; menyuruh siswa
menciptakan materi pembelajaran autentik seperti website, blog, hypertext; berikan
kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan; berikan model-
model belajar; buatkan dunia mikro; gunakan permainan. Kelima, membimbing
belajar siswa dengan cara: memberikan pertanyaan-pertanyaan bimbingan; buatlah
komunitas siswa; masukkan jaringan-jaringan pembangunan pengetahuan; berikan
tugas-tugas berdasarkan problem yang autentik di sekitar paket-paket software dan
bentuk-bentuk hiburan pendidikan; berikan kesempatan siswa untuk melakukan
inquiry. Keenam, lakukan performa dengan baik misalnya dengan cara mendorong
interaktivitas   melalui   penggunaan       software    sosial   seperti    skype.     Ketujuh,
memberikan feedback dengan cara membuat chat rooms untuk feedback pasangan,
dan izinkan siswa untuk merefleksikan belajar yang mereka miliki. Kedelapan,
menilai performa dengan cara: memonitor kemajuan siswa; menyuruh siswa menilai
                                                                                   6




sendiri kemajuannya; dan gunakan e-Portofolio. Kesembilan, kembangkan transfer
belajar dan retensi kepada siswa.

Artikel ke 4:

Renay M. Scott, Ph.D. (1995). http://www.ehhs.cmich.edu/~rmscott/gagne.html.
Tersedia (On Line). Robert Gagne's Events of Instruction. (24 Oktober 2008).

Menurut Renay M. Scott, bahwa langkah-langkah pembelajaran ala Gagne dapat
diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yakni (1) proses belajar internal, dan (2)
peristiwa pembelajaran eksternal. Proses belajar internal terdiri atas: (a) fase pra-
instruksional, (b) fase instruksional, dan (c) fase post-instruksional. Dan proses
pembelajaran eksternal terdiri atas: (a) perkenalan/pendahuluan, (b) tubuh/isi, (c)
kesimpulan/konklusi. Secara rinci lihat tabel berikut.

Fase pra-instruksional bertujuan untuk menyiapkan siswa memproses isi yang
mereka ingin capai. Siswa perlu memperhatikan, mengembangkan ekspektasinya,
dan mengingat kembali pengetahuan masa lalunya. Fase instruksional dari sekuens
pembelajaran adalah siswa menerima informasi baru. Ketika tujuan belajar
menghendakii presentasi pengetahuan deklaratif, maka siswa diperkenalkan kepada
sebuah ceramah, buku, video, atau web-page yang berisi informasi-informasi pokok
yang harus dipelajari. Ketika tujuan pembelajaran menghendaki penguasaan
terhadap sebuah aturan atau prosedur maka siswa diperkenalkan kepada aturan
dan prosedur dengan cara yang logis dan sekuensial. Ketika tujuan pembelajaran
menghendaki pemecahan masalah, maka siswa diperkenalkan pemecahan
masalah. Dalam masing-masing contoh di atas, apakah itu pengetahuan deklaratif,
aturan, prosedur, problem atau kemampuan-kemampuan lain yang dipelajari, maka
strategi-strategi perlu dimasukkan ke dalam sekuens instruksional atau sekuens
teknologi yang dapat membantu siswa dalam mempersepsi informasi apa yang
pnting dan kemudian menyimpan informasi itu untuk diingat kembali kemudian.

Fase post-instruksional menghendaki siswa untuk merespons kemampuan-
kemampuan yang dipelajari baik melalui praktik yang diperluas atau aktivitas yang
mendorong ingatan kembali. Ketika merencanakan fase instruksional, desainer
harus memperhatikan pembangunan aktivitas dimana siswa bisa mempraktikkan
aturan atau prosedur baru. Praktik ini kemudian harus memasukkan reinforcement
dan feedback sehingga siswa tahun kapan mereka menerapkan aturan atau
prosedur secara benar. Ketika siswa bisa mengaplikasikan aturan atau prosedur
dengan benar maka feedback harus bnear dan kesempatan lain untuk praktik harus
tersedia.
                                                                                    7




Artikel 5:
Drs. Arief A. Mangkoesapoetra, M.Pd. (2004). Model Pembelajaran Portofolio:
Sebuah      Tinjuan     Kritis.   Tersedia    (On     Line).  http://www.e-
learningguru.com/articles/art3_3.htm. (24 Oktober 2008)

Artikel ini diinspirasi dari kegelisahan penulisannya terhadap pembelajaran PPKn
selama ini. Penulis mengutarakan bahwa masalah utama dalam pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ialah penggunaan metode atau model
pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran secara tepat, yang memenuhi
muatan tatanan nilai, agar dapat diinternalisasikan pada diri siswa serta
mengimplementasikan hakekat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari-belum
memenuhi harapan seperti yang diinginkan. Hal ini berkaitan dengan kritik
masyarakat terhadap materi pelajaran PKn yang tidak bermuatan nilai-nilai praktis
tetapi hanya bersifat politis atau alat indoktrinasi untuk kepentingan kekuasaan
pemerintah. Metode pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) terkesan
sangat kaku, kurang fleksibel, kurang demokratis, dan guru cenderung lebih
dominan one way method. Guru PKn mengajar lebih banyak mengejar target yang
berorientasi pada nilai ujian akhir, di samping masih menggunakan model
konvensional yang monoton, aktivitas guru lebih dominan daripada siswa, akibatnya
guru seringkali mengabaikan proses pembinaan tatanan nilai, sikap, dan tindakan;
sehingga mata pelajaran PKn tidak dianggap sebagai mata pelajaran pembinaan
warga negara yang menekankan pada kesadaran akan hak dan kewajiban tetapi
lebih cenderung menjadi mata pelajaran yang jenuh dan membosankan.

Solusi yang ditawarkan penulis atas masalah tersebut adalah dengan menerapkan
suatu model pembelajaran yang efektif dan efisien sebagai alternatif, yaitu model
pembelajaran berbasis portofolio (porfolio based learning), yang diharapkan mampu
melibatkan siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran dan dapat melibatkan
seluruh aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa, serta secara fisik dan
mental melibatkan semua pihak dalam pembelajaran sehingga siswa memiliki suatu
kebebasan berpikir, berpendapat, aktif dan kreatif. Pembelajaran PKn merupakan
pendidikan nilai di tingkat persekolahan (SD, SLTP, dan SLTA). Dalam upaya
meningkatkan kinerja profesional guru, yaitu membelajarkan siswa dapat belajar ber-
                                                                                          8




PKn dalam laboratorium demokrasi, guru PKn dapat menggunakan pembelajaran
portofolio sebagai salah satu alternatif pemecahan pembelajaran yang inovatif, yang
secara langsung menjadi wahana pembinaan nilai kepemimpinan pada diri siswa
dan secara tidak langsung menjadi wahana implementasi pendidikan budi pekerti
bagi siswa.

Model pembelajaran portofolio, metode pemecahan masalah dapat digunakan untuk
mengembangkan berbagai potensi kebermaknaan siswa, baik berkenaan dengan
aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik siswa, terutama pembinaan tatanan
nilai, yaitu kepemimpinan diri pada siswa. Model ini sangat potensial dalam
meningkatkan motivasi atau semangat belajar siswa, dengan tujuan agar siswa
menjadi A Good Young Citizenship yang berkualitas sebagai warga negara yang
cerdas, kreatif, partisipatif, prospektif, dan bertanggung jawab. Penggunaan model
pembelajaran portofolio dalam pembelajaran PKn berimplikasi luas terhadap
khasanah piranti professional guru sebagai seorang fasilitator, director-motivator,
mediator, rekonstruktor pembelajaran bagi siswa, dalam upaya mengembangkan
dan membekali sejumlah keterampilan dan wawasan life skill kewarganegaraan
siswa, yaitu : civic life, civic skill, civic participation, yang wajib dimiliki oleh setiap
insan, agar siswa dapat hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sesuai
dengan hak dan kewajibannya.



Artikel 6:

Huitt, W. (2003). A transactional model of the teaching/learning process. Educational
Psychology Interactive. Valdosta, GA: Valdosta State University. Tersedia [On Line]
.Retrieved [date] from http://chiron.valdosta.edu/whuitt/materials/tchlrnmd.html. (22
0ktober 2008).

Pada tahun 1963, John Carroll menulis sebuah artikel seminar yang memfokuskan
perhatiannya pada masalah observasi tingkah laku ruang kelas yakni guru dan
siswa. Studi sistematik dari proses ruang kelas ini ingin mempengaruhi pencapaian
belajar siswa yang terukur dalam tes-tes.
                                                                                    9




Pada tahun 1980an banyak peneliti mengembangkan model-model proses belajar
mengajar yang menyimpulkan banyak hal yang diketahui tentang cara meningkatkan
skor test. Pada saat yang sama para penelitian itu dipokuskan pada menghitung
sejumlah factor-faktor yang berhubungan dengan pencapaian belajar di sekolah,
sementara yang lain mengembangkan model-model tentang praktik guru yang
efektif. Sebuah problem utama yang menyelimuti semua model-model ini adalah
bahwa mereka memfokuskan pada cara meningkatkan skor tes. Dalam hal ini, public
kelihatannya lebih dapat diketahui dari pada para peneliti tentang indicator-indikator
kesuksesan orang dewasa dalam pencapaian siswa itu, tingkat pendidikan, atau
ukuran-ukuran intelegensi akademik yang dikatakan terbaik. Usaha-usaha terkini
untuk   menyelenggarakan      sekolah,   dan    khususnya    guru-guru,    betul-betul
bertanggung jawab     terhadap pencapaian belajar siswa. Dalam hal ini terdapat
masalah dimana ada berbagai factor yang tidak bisa dikontrol oleh pendidik tingkat
pembangunan yang berkontribusi terhadap pencapaian kependidikan. Model
pembelajaran yang ditawarkan penulis untuk meningkatkan skor tes itu adalah
dengan mengguanakan model pembelajaran transaksional. Model ini berisi empat
kategori, yakni kategori konteks, input, proses ruang kelas, dan output.       Model
pembelajaran transaksional dikembangkan dari perpektif teori system.

Artikel 7:
Carry Mone. (2004). A Reflexive Model for Teaching Instructional Design of
Neal Shambaugh and Susan Magliaro. Tersedia [On Line]. http://www.e-
learningguru.com/articles/art3_3.htm. (24 Oktober 2008).

Pendekatan pembelajaran refleksif digunakan dimana guru menguji sendiri
pengajarannya sedangkan siswa diberikan kesempatan untuk melakukan refleksi
atas belajar mereka. Dalam artikel ini, penulis menyimpulkan pandangannya tentang
belajar, mengajar, dan desain instruksional. Desain dan kerangka pengembangan
dari penelitian pengembangan digunakan untuk mendeskripsikan pengajarannya
dalam istilah-istilah keputusan desain, implementasi model, dan evaluasi model
lintas enam desain instruksional dari tahun 1994 – 19998. Model mengajar
merupakan sebuah rencana yang dapat digunakan untuk mendesain pengajaran di
dalam kelas atau tempat-tempat yang disetting untuk tutorial, dan untuk membentuk
materi-materi pembelajaran. Secara pragmatis, sebuah model adalah prosedur
selangkah demi selangkah yang membawa kepada hasil belajar yang spesifik.
Model memberikan kepada guru baru sebuah pendekatan baru dan memberikan
kepada guru-guru yang berpengalaman sebuah tempat loncat untuk memperluas
                                                                            10




repertoire-nya. Model mengajar memberikan guru sebuah teknologi konseptual juga
teknologi praktikal untuk mengajar. Memperhatikan dan mengimplementasikan
pendekatan pengajaran baru dapat membantu guru memahami pandangan
seseorang tentang isi yang diajarkan, juga merefleksikan pandangan seseorang
tentang belajar, siswa, dan aturan guru.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:849
posted:11/21/2010
language:Indonesian
pages:10