Docstoc

Kapita Selecta Pend

Document Sample
Kapita Selecta Pend Powered By Docstoc
					PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM
(TUGAS MAKALAH Kapita selekta pendidikan islam)

            Dosen Pembimbing
        Amang Fatchurrahman, M.Pd


                 Disusun Oleh :
                 Irsyadus sifa’
                 Ifawati Nuzula
                    M. Afandi
                    Umi Hanik
               M. Tho’in Susanto




                Fakultas Agama Islam
           Program Studi Pendidikan Agama Islam
                   Angkatan Madin 2008
           UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN
   Jl. Pesantren Ngalah Sengonagung Kec. Purwosari
                   Kab. Pasuruan
                                  Kata Pengantar

          Puji   syukur   Alhamdulillah    kehadirat      Allah    Swt.   Yang    telah
menganugerahkan       akal   kepada   manusia      guna    untuk    mempelajari    dan
mengembangkan segala potensinya untuk menghadapi tantangan zaman.

          Shalawat serta salam semoga terhatur senantiasa kepada junjungan kita
Nabi Muhammad Saw, yang telah mengantarkan umat manusia menuju jalan
kebenaran dengan mewariskan budaya Islami untuk menuju kebahagiaan yang
hakiki.

          Makalah yang sangat singkat ini kami susun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Kapita Selekta Pendidikan Islam dengan dosen pembimbing Bapak Amang.
Makalah yang ada di hadapan saudara hanyalah merupakan secuil karya yang masih
banyak kekurangannya. Untuk itu kritik dan saran senantiasa kami harapkan untuk
menutupi segala keterbatasan pikiran yang kami miliki.

          Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Amang selaku dosen
mata kuliah      Kapita Selekta Pendidikan Islam    yang telah memberikan banyak
bimbingan yang tak ternilai bagi kami. Terima kasih pula kami sampaikan kepada
teman-teman Mahasiswa PAI Angkatan Madin 2008 yang senantiasa memberikan
support sehingga kami tetap semangat menjalankan aktivitas perkuliahan.

          Semoga secuil makalah ini memberikan tambahan ilmu bagi kami pada
khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.




                                                       Penyusun.
DAFTAR ISI




Kata Pengantar ………………………………………………………………………………….. i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………. ii

A. SEBUAH RASIONALITAS……………………………………………………………. 1

B. PROBLEMA KONSEPTUAL TEORITIK PENDIDIKAN ISLAM …….. 2

C. KRISIS PENDIDIKAN ISLAM.…………………….. ……………………………… 5

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………… 7
A. SEBUAH RASIONALITAS

Proses pembelajaran yang berkualitas adalah sebuah proses pembelajaran yang
mampu mengorkestrasi multiple intelligence yang dimiliki pembelajar. Sebuah
institusi pendidikan yang mampu menyelenggarakan proses pembelajaran
berkualitas, maka akan melahirkan output yang berkualitas pula. Jika hanya satu
kecerdasan yang ditumbuhkembangkan oleh sebuah institusi pendidikan, maka
institusi tersebut hanya memberikan sedikit bekal hidup kepada peserta didiknya.
Karena berdasarkan hasil temuan Daniel Goleman, bahwa kontribusi IQ terhadap
keberhasilan hidup seseorang paling banyak hanya 20 %, sementara 80 %
ditentukan oleh faktor lain yang terhimpun dalam kecerdasan emosional. (Gordon
Dryden & Jeannette Vos. Revolusi Cara Belajar I. Bandung: Kaifa, 2000)



Temuan lain berikutnya, yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, bahwa
ada kecerdasan yang dapat menjadikan hidup manusia lebih bermakna, yaitu
kecerdasan Spiritual. Sementara Ary Ginanjar mencoba untuk menggabungkan dua
kecerdasan tersebut (emosional dan Spiritual) menjadi sebuah energi yang luar biasa
guna membentuk kepribadian yang kamil. (Ary Ginanjar Agustian. ESQ –Emotional
Spiritual Quotient. Jakarta: Arga, 2002)



       Dengan demikian, paling tidak ada tiga kecerdasan yang harus diorkestrasi
dalam sebuah proses pembelajaran agar menghasilkan output yang berkualitas,
yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan anak yang menjadi bawaan lahir hanyalah kecerdasan Intelektual,
sementara kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual dapat ditumbuh-kembangkan
melalui pendidikan. Jika delapan puluh persen keberhasilan hidup seseorang
ditentukan oleh kecerdasan emosi dan spiritual, dan hanya dua puluh persen
ditentukan oleh kecerdasan intelektual, berarti kecerdasan intelektual hanya
sebagian kecil dari kunci keberhasilan hidup seseorang.

       Dengan demikian maka dunia pendidikan memiliki peluang yang cukup
besar untuk mengantarkan keberhasilan hidup seseorang. Yang menjadi pertanyaan
adalah bagaimana meningkatkan dan mengembangkan kecerdasan emosional dan
kecerdasan spiritual, dengan tetap tidak mengabaikan peningkatan dan
pengembangan kecerdasan intelektual dalam sebuah proses pembelajaran, terutama
melalui Pendidikan Islam.

       Pada kenyataannya, pembelajaran materi pendidikan agama Islam di
lembaga-lembaga pendidikan, selama ini masih mengarah pada pengelolaan
kecerdasan intelektual pembelajar, dan belum menyentuh pada aspek kecerdasan
emosional dan spiritual. Proses pembelajaran materi Pendidikan Agama Islam lebih
menggunakan pendekatan doktriner melalui ceramah-ceramah, padahal kecerdasan
emosional dan spiritual tidak dapat ditumbuhkembangkan hanya dengan ceramah-
ceramah di kelas, namun melalui ajakan dan contoh konkrit, juga melalui
pembiasaan-pembiasaan.

       Bukti lain bahwa materi PAI hanya mengelolah kecerdasan intelektual saja
adalah dari hasil evaluasi hasil belajar yang dilakukan oleh para pengajar. Mereka
(para pengajar) memberikan nilai angka 7, 8, 9 atau bahkan 10 pada seorang
pembelajar berdasarkan mampu tidaknya para siswa menjawab soal-soal ujian yang
hanya mampu mengukur kecerdasan intelektual saja. Padahal tujuan utama
diberikannya pendidikan agama tidak terbatas pada pengembangan aspek
intelektual saja, tetapi menyeluruh meliputi tiga aspek kecerdasan tersebut.

       Oleh karena itu, perlu dicari sebuah model Pendidikan Islam yang mampu
mengorkestrasi tiga kecerdasan sekaligus, intelektual, emosional dan spiritual.

B. PROBLEMA KONSEPTUAL TEORITIK PENDIDIKAN ISLAM

       Agama Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad Saw.
Mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmat bagi
sekalian alam. Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu kepada
kedua fenomena perkembangan yaitu

1) Potensi Psikologis dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi
   pribadi yang berkualitas baik dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-
   makhluk lainnya
2) Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai khalifah di muka bumi yang
   dinamis dan kreatif serta responsive terhadap lingkungan sekitarnya.


       Untuk mengaktualisasikan dan memfungsikan potensi tersebut di atas
diperlukan ikhtiar kependidikan yang sistematis berencana berdasarkan pendekatan
dan wawasan yang interdisipliner. Karena manusia semakin terlibat ke dalam proses
perkembangan social itu sendiri menunjukkan adanya interelasi dan interaksi dari
berbagai fungsi. Agama Islam yang membawa nilai-nilai dan norma-norma
kewahyuan bagi kepentingan hidup manusia di atas bumi, baru actual dan
fungsional bila diinternalisasikan ke dalam pribadi melalui proses kependidikan
yang konsisten, terarah pada tujuan. Karena itu proses kependidikan Islam
memerlukan konsep-konsep yang pada gilirannya dapat dikembangkan menjadi
teori-teori yang teruji dan praktis di lapangan operasional. Bangunan teoritis
kependidikan Islam itu akan berdiri tegak di atas fondasi pandangan dasar (filosofi)
yang telah digariskan oleh Tuhan dalam kitab suci. Bila pendidikan Islam telah
menjadi ilmu yang ilmiah dan amaliah maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana
pembudayaan manusia yang bernafaskan Islam yang lebih efektif dan efisien.
       Namun akhir-akhir ini, akibat timbulnya perubahan social di berbagai
sector kehidupan umat manusia, beserta nilai-nilainya ikut mengalami pergeseran
yang belum mapan. Pendidikan Islam seperti yang dikehendaki umat Islam, harus
mengubah strategi dan taktik operasional. Strategi dan taktik itu tak pelak lagi
menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya sehingga
lebih efektif dan efisien, dalam artian pedagogis, sosiologis, dan cultural.
       Pendidikan Islam masa kini dihadapkan kepada tantangan yang jauh lebih
berat dari tantangan yang dihadapi pada masa permulaan penyebaran Islam.
Tantangan tersebut berupa timbulnya aspirasi dan idealitas umat manusia yang
serba multiinteres yang berdimensi nilai ganda dengan tuntutan hidup yang
multikompleks pula. Tugas pendidikan Islam dalam proses pencapaian tujuannya
tidak lagi menghadapi problema kehidupan yang simplisistis, melainkan sangat
kompleks. Akibat permintaan yang bertambah (rising demand) manusia semakin
kompleks pula, hidup kejiwaannya semakin tidak mudah diberi nafas agama.
       Bagaikan obat pahit yang menyembuhkan, namun banyak orang yang tidak
mau menelannya. Karena itu diperlikan system dan metode yang menarik.
Orientasi pendidikan Islam dalam zaman teknologi masa depan perlu diubah pula.
Semula berorientasi pada kehidupan ukhrawi menjadi duniawi-ukhrawi bersamaan.
Orientasi ini menghendaki suatu rumusan tujuan pendidikan yang jelas, karena itu
program pembelajarannya harus lebih diproyeksikan ke masa depan dari pada masa
kini atau masa lampau. Meskipun masa lampau dan masa kini tetap dijadikan
khazanah kekayaan empiris yang amat berharga bagi batu loncatan ke depan,
sehingga nostalgia kembali pada masa keemasan dunia Islam di lampau (abad ke 7
– 14) tidak perlu lagi mengobsesi pemikiran kita. Lebih-lebih dalam menghadapi
pergeseran nilai-nilai cultural yang transisional dari dunia kehidupan, belum
menemukan pemukiman yang mapan. Pendidikan Islam dituntut untuk
menerapkan pendekatan dan orientasi baru yang relevan dengan tuntutan zaman.
Justru pendidikan Islam membawakan prinsip dan nilai-nilai absolutism yang
bersifat mengarahkan tren perubahan sosiokultural itu.
       Pengaruh sains dan teknologi canggih, sebagaimana yang kita ketahui
bahwa dampok positif dari kemajuan teknologi sampai kini adalah bersifat fasilitatif
(memudahkan). Memudahkan kehidupan manusia yang sehari-hari sibuk dengan
berbagai problema yang semakin rumit. Teknologi menawarkan berbagai macam
kesantaian dan kesenangan yang semakin luas, memasuki ruang-ruang dan celah-
celah kehidupan kita sampai yang remang-remang dan bahkan yang gelap pun
dapat dipenetrasi.
       Dampak negative dari tekniologi modern telah mulai menampakkan diri di
depan mata kita, Pada prinsipnya berkekuatan melemahkan daya mental-spiritual
atau jiwa yang sedang tumbuh berkembang dalam berbagai bentuk penampilan dan
gaya-gayanya. Tidak hanya nafsu muthmainnah yang dapat diperlemah oleh
rangsangan negative dari teknologi elektronika dan informatika, melainkan juga
fungsi-fungsi kejiwaan lainnya. Seperti kecerdasan pikiran, ingatan, kemauan, dan
perasaan (emosi) diperlemah. Kemampuan aktualnya dipermudah dengan alat-alat
teknologis-elektronis dan informatika seperti computer, foto kopi jarak jauh
(facsimile), dan sebagainya. Dalam waktu dekat, anak didik kita tidak perlu lagi
belajar bahasa asing atau keterampilan tangan, dan berfikir ilmiah tingkat tinggi,
karena alat-alat teknologi telah mampu menggantikannya dengan computer
penerjemah semua bahasa asing. Robot-robot telah siap mengerjakan tugas-tugas
yang harus dikerjakan dengan tangan dan mesin otak (computer generasi baru)
mampu berfikir lebih cepat dari otak manusia sendiri. Lalu, bagaimana tentang
proses menginternalisasikan dan mentransformasikan nilai-nilai iman dan takwa ke
dalam lubuk hati manusia. Sampai saat ini kita belum mendengar adanya teknologi
tranformasi nilai-nilai spiritual itu. Bukan tidak mungkin selepas abad ke-20 nanti
mesin itu akan diciptakan manusia.
       Permasalahan baru yang harus dipecahkan oleh pendidikan Islam
khususnya adalah dehumanisasi pendidikan, netralisasi nilai-nilai agama, atau
upaya pengendalian dan mengarahkan nilai-nilai transisional kepada suatu
pemukiman yang Ilahi, kokoh dan tahan banting. Baik dalam dimensi individual
maupun sosiokultural.


C. KRISIS PENDIDIKAN ISLAM
       Hubungan antara pendidikan dengan masyarakat erat sekali, maka dalam
proses pengembangannya saling mempengaruhi. Mesin pendidikan yang kita
namakan sekolah dalam proses pengembangannya tidak terlepas dari mesin social.
Mesin social menggerakkan segenap komponen kehidupan manusia, terdiri dari
sector-sektor social, politik dan agama. Masing-masing sector ini bergerak dan
berkembang saling mempengaruhi menuju kearah tujuan social yang telah
ditetapkan. Bilamana kesemuanya berada di dalam pola yang harmonis dan serasi,
maka masyarakat pun bergerak dan bergerak secara harmonis. Akan tetapi, jika
salah satu atau beberapa sektornya mengalami ketidakharmonisan, maka sektor-
sektor lainnya akan terpengaruh. Dari sinilah awal dari terjadinya krisis kehidupan
masyarakat yang pada gilirannya melanda sekolah, bahkan sekolah ditekan dan
dibebani tugas untuk memberikan konsep-konsep penyelesaiannya.
       Fenomena sosial yang telah diteliti oleh para ahli perencanaan kebijakan
pendidikan misalnya, menunjukkan bukti bahwa setiap tahap kemajuan ilmu dan
teknologi canggih, selalu membawa perubahan sosial yang sepadan atau bahkan
lebih besar dari pada perkiraan atau peramalan mereka. Dampak positif dan
negatifnya terhadap kehidupan manusia kadang-kadang tidak dapat lagi dikontrol
atau diarahkan oleh lembaga-lembaga social dan cultural atau moral yang sengaja
dibangun oleh masyarakat sepeerti sekolah. Dalam arena kehidupan masyarakat
yang dipetakan oleh para ahli sebagai suatu kesuraman dan kekusutan karena
berbagai dampak iptek yang mengerosi nilai-nilai seluruh bidang-bidang kehidupan,
maka apa dan bagaimana lembaga-lembaga pendidikan Islam pada khususnya dan
lembaga pendidikan pada umumnya harus berperan yang paling baik ? Inilah
pertanyaan yang layak diajukan kepada umat Islam yang kedudukannya sebagai
umat di tengah-tengah masyarakat.
         Pendidikan baru dari berbagai disiplin keilmuan yang dilakukan secara
integralistik amat diperlukan, untuk mendorong pendidikan Islam yang mampu
menghadapi masyarakat teknologi masa depan yang makin teknologis. Barangsiapa
yang menguasai iptek, ia akan dipertahankan dengan system pendidikannya di masa
depan.      Beberapa     ahli   perencanaan   kependidikan   masa   depan    telah
mengidentifikasikan krisis pendidikan yang bersumber dari krisis orientasi
masyarakat masa kini, dapat pula dijadikan wawasan perubahan system pendidikan
Islam, yang mencakup fenomena-fenomena antara lain sebagai berikut :
1. Krisis nilai-nilai.
   Krisis nilai berkaitan dengan masalah sikap menilai sesuatu perbuatan tentang
   baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, benar dan salah, dan hal-hal lain yang
   menyangkut perilaku etis individual dan sosial. Sikap penilaian yang dahulu
   diterapkan sebagai “benar, baik, sopan, atau salah, buruk, tak sopan” mengalami
   perubahan drastis       menjadi ditoleransi, sekurang-kurangnya tak diacuhkan
   orang.
2. Krisis Konsep tentang kesepakatan arti hidup yang baik
   Masyarakat mulai mengubah pandangan tentang cara hidup bermasyarakat yang
   baik dalam bidang ekonomi, politik, kemasyarakatan, dan implikasinya terhadap
   kehidupan individual. Nilai-nilai apa yang dijadikan ukuran, menjadi kabur.
   Sekolah yang menjadikan cermin idealitas masyarakat, risau tentang adanya
   kekaburan konsep tersebut, sehingga sulit untuk dipantulkan ke dalam program-
   program kependidikan. Kalau mau mengambil konsep etika Islam, sekolah kita
   tidak akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya
   sebagai sarana pembudidayaan manusia.
3. Adanya kesenjangan kredibilitas
   Dalam masyarakat manusia saat ini dirasakan adanya erosi kepercayaan di
   kalangan kelompok penguasa dan penanggung jawab social. Di kalangan orang
   tua, guru, penegak hukuim dan sebagainya mengalami keguncangan jiwa, mulai
   diremehkan orang yang semestinya manaati atau mengikuti petuahnya
4. Kurang sensitif terhadap kelangsungan masa depan
   Falsafah hidup yang dogmatis dan statis yang tidak mengacu kepada
   kelangsungan hidup masa depan, tidak lagi dapat diandalkan untuk menjadi
   landasan sikap sekolah masa kini. Tradisi-tradisi yang membelenggu kebebasan
   berfikir dan berkreasi anak didik harus dibuang jauh, sehingga sekolah kita akan
   menjadi institusi kependidikan yang dinamis. Ini mendorong anak didik belajar
   secara intensif berorientasi kearah masa depan tekno, sosio, dan bio yang
   realistis, tapi moralistis.(Prof. H. Muzayyin Arifin,M.Ed. Kapita Selekta Pendidikan
   Islam, Jakarta .Bumi Aksara, 2008, hal : 38-39)


DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Ari Ginanjar. ESQ –Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga, 2002



Arifin. Muzayyin,Prof.M.Ed, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta .Bumi Aksara,
        2008

Gordon Dryden & Jeannette Vos. Revolusi Cara Belajar I. Bandung: Kaifa, 2000

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:1829
posted:11/21/2010
language:Indonesian
pages:10