PERANG MELAWAN LOUDSPEAKER

					PERANG MELAWAN LOUDSPEAKER
Oleh: Jum’an

Loudspeaker merupakan penemuan teknologi yang membawa berkah bagi banyak
profesi. Khotib, dai, politisi dan penyanyi lumpuh tanpa loudspeaker. Sidang jum’at
akan mengantuk mendengarkan khotbah tanpa loudspeaker. Isi khotbah boleh berapi-
api, tapi tanpa bantuan loudspeaker ancaman kurang menakutkan himbauan kurang
menarik dan sindiran terasa hambar. Begitu juga suara raja dangdut Rhoma Irama
akan terdengar cempreng tanpa sound system yang menggelegar. Orasi Bung Karno
dan Bung Tomo kurang membakar semangat kalau disampaikan tanpa loudspeaker.
Tetapi seperti juga penemuan teknologi yang lainnya, selalu ibarat pisau bermata dua
yang dapat berfungsi sebagai alat bantu yang bisa juga mencelakai orang lain.

Saya sangat mengandalkan suara azan dari loudspeaker masjid dekat rumah. Kalau
terpaksa solat diperjalanan saya sering menilpun kerumah menanyakan apakah sudah
terdengar azan dari masjid sebelah. Tetapi loudspeaker itu pulalah yang telah menyiksa
saya selama bertahun-tahun. Setiap malam idul fitri maupun idul adha saya selalu tidak
bisa tidur, sering sampai subuh. Semalam suntuk loudspeaker dikuasai oleh anak-anak
yang bangga mendengar suara sendiri bisa begitu keras terdengar orang orang-orang
sekampung daripada keinginan untuk bertakbir. Belum lagi ceramah, puji-pujian serta
kaset pengajian yang disetel tanpa pertimbangan waktu. Walhasil tidak berlebihanlah
kalau saya mengatakan sering tersiksa oleh pengeras suara masjid ini. Seorang teman
pernah mengungsikan orang tuanya ke Bekasi ketika tetangganya membangun pentas
untuk joget dengan sound system yang dikawatirkan akan memutuskan jantung ibunya.

Mufti Taqiuddin Usmani cendekiawan dan ulama kondang Pakistan (Sunni, Hanafi)
pernah mengulas tentang “Merciless Use of Loudspeakers”. Menurut pendapat
beliau penggunaan loudspeaker yang tidak pada tempatnya adalah zalim. Penggunaan
apapun yang tidak pada tempatnya menimbulkan potensi mencelakai orang lain. Dosa
besar bila seseorang sampai benar-benar merasa teraniaya oleh tindakan itu. Beliau
mengutip beberapa hadis diantaranya tentang betapa Rasululloh selalu bangkit dari
tempat tidur dengan diam-diam agar isterinya yang masih tidur tidak terganggu.
Menggunakan loudspeaker masjid untuk mengumandangkan azan adalah pada
tempatnya, tetapi mendesakkan ceramah atau zikir kerumah semua orang melalui loud-
tidak bisa dibenarkan. Orang tua, orang sakit, balita, orang solat dan orang mengaji
semuanya tergaggu.

Menurut Hussain Zaidi seoang blogger muslim dari Islamabad, waktu pertama kali
pengeras suara diperkenalkan di Pakistan, yang paling menentang bukanlah orang-
orang tua atau ibu-ibu yang menyusui tetapi para ulama karena dianggapnya tidak
Islami. Sekarang justru merupakan senjata utama bagi para khotib dan da’i. Disana
bahkan tokoh-tokoh agama dari macam-macam aliran saling mengecam melalui
loudspeaker mereka dan telah mengakibatkan banyak insiden dan kerusuhan.
“Pakistan Declares War on Loudspeakers…” begitu berita beberapa surat kabar
Pakistan baru-baru ini. Pemerintah telah menerbitkan suatu peraturan baru tentang
penggunaan loudspeaker dan amplifier. Para pelanggar akan dihukum satu tahun
penjara atau denda sebesar sekitar 5 juta rupiah atau kedua-duanya. Undang-undang
ini dimaksudkan untuk mencegah kerusuhan serta perpecahan dikalangan masyarakat.
Omong-omong apakah kita sudah memiliki undang-undang loudspeaker?

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:15
posted:11/20/2010
language:Indonesian
pages:2
Description: TENTANG PENYALAHGUNAAN LOUDSPEAKER DAN AMPLIFIER