magnetic separator by imamfazri

VIEWS: 5,653 PAGES: 26

									                                                                                           1




                                            BAB I
                                   PENDAHULUAN




1.1       Latar Belakang
          Pengolahan Bahan Galian merupakan metode yang dilakukan untuk
meningkatkan mutu dan kualitas bahan galian. Karna umumnya material bahan
berharga pada saat proses penambangan masih belum bisa digunakan secara langsung
karna masih bercampur dengan impurutis atau zat pengotor (Tailing) yang umumnya
berasal dari material koalisinya. Setelah proses pengolahan awal, bahan galian utama
biasanya didapatkan dalam bentuk konsentrat bahan galian
          Adapun tahapan-tahapan awal dalam proses pengolahan bahan galian ini
adalah:
          1. Preparasi, ini adalah tahap persiapan sebelum tahap pengolahan awal
                 a. Kominusi
                 b. Sizing
          2. Konsentrasi, pada tahap ini konsentrat dipisahkan dari material koalisinya.
                 a. Aliran air Horizontal
                 b. Aliran air vertical
                 c. Berdasarkan Specific Grafity
                 d. Berdasarkan sifat kemagnetan (Magnetic Separation)
                 e. Berdasarkan sifat elektricity
                 f. Reaktifitas terhadap udara
          3. Dewatering, adalah proses Pemisanhan unsur padat dan cair.
                 a. Filtrasi
                 b. Drying
                 c. Thicktening




                                          111
                                                                                 2




1.2    Tujuan Percobaan
       Melakukan pemisahan mineral berdasarkan sifat kemagnetannya dengan
menggunakan alat magnetic separator.
1.3    Batasan Masalah
       Mengamati laju pengumpanan, banyaknya tailing, dan konsentrat hasil dari
pemisahan dengan magnetic separator.
1.4    Sistematka Pemisahan
       Penulisan dalam laporan praktikum ini berisi 5 bab, antara lain : Bab I
Pendahuluan membahas tentang latar belakang, tujuan percobaan dari praktikum ini,
ruang lingkup percobaan dari praktikum ini dan sistematika penulisan dari praktikum
ini. Bab II Tinjauan Pustaka membahas tentang bijih, pengolahan bahan galian, dan
mekanisme magnetic separator. Bab III Metode Penelitian membahas tentang
diagram alir percobaan, alat dan bahan, dan prosedur percobaan. Bab IV Data
Percobaan membahas tentang data hasil percobaan yang telah dilakukan dan disertai
dengan pembahasan hasil dari data yang didapat dari percobaan. Bab V. Kesimpulan
membahas tentang kesimpulan yang diambil dari praktikum yang dilakukan. Daftar
Pustaka membahas tentang referensi buku acuan yang digunakan praktikan dalam
menyusun laporan ini.
                                                                                3




                                     BAB II
                            TINJAUAN PUSTAKA




2.1    Bijih Besi
       Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari
endapan besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali
ditemukan berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai
kandungan logam tanah (residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis
tinggi. Endapan besi yang ekonomis umumnya berupa Magnetite, Hematite, Limonite
dan Siderite. Kadang kala dapat berupa mineral: Pyrite, Pyrhotite, Marcasite, dan
Chamosite.
       Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan endapan besi
bernilai ekonomis antara lain :
       1. Magmatik: Magnetite dan Titaniferous Magnetite
       2. Metasomatik kontak: Magnetite dan Specularite
       3. Pergantian/replacement: Magnetite dan Hematite
       4. Sedimentasi/placer: Hematite, Limonite, dan Siderite
       5. Konsentrasi mekanik dan residual: Hematite, Magnetite dan Limonite
       6. Oksidasi: Limonite dan Hematite
       7. Letusan Gunung Api
       Dari mineral-mineral bijih besi, magnetit adalah mineral dengan kandungan
Fe paling tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil. Sementara hematit merupakan
mineral bijih utama yang dibutuhkan dalam industri besi.
       Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari
endapan besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali
ditemukan berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai




                                    333
                                                                                  4




kandungan logam tanah (residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis
tinggi. Endapan besi yang ekonomis umumnya berupa Magnetite, Hematite, Limonite
dan Siderite. Kadang kala dapat berupa mineral: Pyrite, Pyrhotite, Marcasite, dan
Chamosite.
       Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan endapan besi
bernilai ekonomis antara lain :
       1. Magmatik: Magnetite dan Titaniferous Magnetite
       2. Metasomatik kontak: Magnetite dan Specularite
       3. Pergantian/replacement: Magnetite dan Hematite
       4. Sedimentasi/placer: Hematite, Limonite, dan Siderite
       5. Konsentrasi mekanik dan residual: Hematite, Magnetite dan Limonite
       6. Oksidasi: Limonite dan Hematite
       7. Letusan Gunung Api
       Placer residual. Partikel mineral/bijih pembentuk cebakan terakumulasi
langsung di atas batuan sumbernya (contoh : urat mengandung emas atau kasiterit)
yang telah mengalami pengrusakan/peng-hancuran kimiawi dan terpisah dari bahan-
bahan batuan yang lebih ringan. Jenis cebakan ini hanya terbentuk pada permukaan
tanah yang hampir rata, dimana didalamnya dapat juga ditemukan mineral-mineral
ringan yang tahan reaksi kimia (misal : beryl).
       Placer eluvial. Partikel mineral/bijih pembentuk jenis cebakan ini diendapkan
di atas lereng bukit suatu batuan sumber. Di beberapa daerah ditemukan placer
eluvial dengan bahan-bahan pembentuknya yang bernilai ekonomis terakumulasi
pada kantong-kantong (pockets) permukaan batuan dasar.
       Placer sungai atau aluvial. Jenis ini paling penting terutama yang berkaitan
dengan bijih emas yang umumnya berasosiasi dengan bijih besi, dimana konfigurasi
lapisan dan berat jenis partikel mineral/bijih menjadi faktor-faktor penting dalam
pembentukannya. Telah dikenal bahwa fraksi mineral berat dalam cebakan ini
berukuran lebih kecil daripada fraksi mineral ringan, sehubungan : Pertama, mineral
berat pada batuan sumber (beku dan malihan) terbentuk dalam ukuran lebih kecil
                                                                                  5




daripada mineral utama pembentuk batuan. Kedua, pemilahan dan susunan endapan
sedimen dikendalikan oleh berat jenis dan ukuran partikel (rasio hidraulik).
       Placer pantai. Cebakan ini terbentuk sepanjang garis pantai oleh pemusatan
gelombang dan arus air laut di sepanjang pantai. Gelombang melemparkan partikel-
partikel pembentuk cebakan ke pantai dimana air yang kembali membawa bahan-
bahan ringan untuk dipisahkan dari mineral berat. Bertambah besar dan berat partikel
akan diendapkan/terkonsentrasi di pantai, kemudian terakumulasi sebagai batas yang
jelas dan membentuk lapisan. Perlapisan menunjukkan urutan terbalik dari ukuran
dan berat partikel, dimana lapisan dasar berukuran halus dan/ atau kaya akan mineral
berat dan ke bagian atas berangsur menjadi lebih kasar dan/atau sedikit mengandung
mineral berat.
       Placer pantai (beach placer) terjadi pada kondisi topografi berbeda yang
disebabkan oleh perubahan muka air laut, dimana zona optimum pemisahan mineral
berat berada pada zona pasang-surut dari suatu pantai terbuka. Konsentrasi partikel
mineral/bijih juga dimungkinkan pada terrace hasil bentukan gelombang laut.
Mineral-mineral terpenting yang dikandung jenis cebakan ini adalah : magnetit,
ilmenit, emas, kasiterit, intan, monazit, rutil, xenotim dan zirkon.
       Mineral ikutan dalam endapan placer. Suatu cebakan pasir besi selain
mengandung mineral-mineral bijih besi utama tersebut dimungkinkan berasosiasi
dengan mineral-mineral mengandung Fe lainnya diantaranya : pirit (FeS2), markasit
(FeS), pirhotit (Fe1-xS), chamosit [Fe2Al2 SiO5(OH)4], ilmenit (FeTiO3), wolframit
[(Fe,Mn)WO4], kromit (FeCr2O4); atau juga mineral-mineral non-Fe yang dapat
memberikan nilai tambah seperti : rutil (TiO2), kasiterit (SnO2), monasit [Ce,La,Nd,
Th(PO4, SiO4)], intan, emas (Au), platinum (Pt), xenotim (YPO4), zirkon (ZrSiO4)
dan lain-lain. (id.wordpress.com, 2010)
2.2    Pengolahan Bahan Galian
       Yang dimaksud dengan bahan galian adalah bijih (ore), mineral industri
(industrial minerals) atau bahan galian Golongan C dan batu bara (coal).
(tamangeologi.blogspot.com, 2010)
                                                                                  6




       Pengolahan Bahan Galian merupakan metode yang dilakukan untuk
meningkatkan mutu dan kualitas bahan galian. Karna umumnya material bahan
berharga pada saat proses penambangan masih belum bisa digunakan secara langsung
karna masih bercampur dengan impurutis atau zat pengotor (Tailing) yang umumnya
berasal dari material koalisinya. Setelah proses pengolahan awal, bahan galian utama
biasanya didapatkan dalam bentuk konsentrat bahan galian
       Dari segi ekonomis pengolahan ini bertujuan untuk :
1. Memudahkan dalam pengolahan lebih lanjut
       Umumnya, setelah ditambang, bahan galian tidak dapat langsung digunakan.
Namun kembali digunakan sebagai bahan baku dari industri lain dengan diadakannya
pengolahan awal. Maka hal ini akan memudahkan konsumen untuk langsung
menggunakan bahan galian tersebut tanpa harus mengeluarkan cost untuk pengolahan
awal, sehingga konsumen akan dapat membeli bahan galian dengan harga yang lebih
tinggi jika dibandingkan dengan sebelum pengolahan awal.
2. Memaksimalkan jumlah daya angkut
       Dengan dipisahkannya antara tailing dengan konsentrat, maka pada saat
proses pemindahan bahan galian, kita tidak perlu memindahkan zat pengotornya,
sehingga jumlah bahan galian yang dapat kita pindahkan menjadi maksimal dan hal
ini akan mempengaruhi pada cost transportasi pemindahan bahan galian (Hauling)
yang semakin rendah.
       Dari   segi   teknis,   pengolahan   awal   ini   juga   memliki    beberapa
keuntungan,diantaranya :
1. Memudahkan dalam pengolahan lanjutan
       Dengan sudah terpisahnya konsentrat dan tailing, maka pengolahan lanjutan
untuk konsentrat ini akan menjadi lebih mudah.
2. Kemungkinan mendapatkan mineral ikutan
       Pada saat pengolahan, proses utama yang dilakukan adalah memisahkan
bahan galian utama dengan material lain. Namun dalam beberapa kasus, material
                                                                                           7




tersebut juga dapat berupa bahan galian ekonomis,seperti adanya unsur emas pada
penambangan tembaga yang dilakukan PT Free Port Indonesia.
          Sebelum dilakukan pengolahan, ada beberapa faktor yang harus kita
perhatikan, antara lain :
          a. Kekerasan
          b. Warna dan Kilap
          c. Ikatan Mineral
          d. Berat Jenis dan Specific Grafity
          e. Sifat Kemagnetan
          f. Sifat Keradioaktifan
          g. Reaksi Terhadap Udara
          h. Sifat Elektricity
          Hal ini bertujuan untuk pengumpulan data dan penentuan jenis peralatan pada
saat pengolahan.
          Adapun tahapan-tahapan awal dalam proses pengolahan bahan galian ini
adalah:
          1. Preparasi, ini adalah tahap persiapan sebelum tahap pengolahan awal
          a. Kominusi
          b. Sizing
          2. Konsentrasi, pada tahap ini konsentrat dipisahkan dari material koalisinya.
          a. Aliran air Horizontal
          b. Aliran air vertical
          c. Berdasarkan Specific Grafity
          d. Berdasarkan sifat kemagnetan
          e. Berdasarkan sifat elektricity
          f. Reaktifitas terhadap udara
          3. Dewatering, adalah proses Pemisanhan unsur padat dan cair.
          a. Filtrasi
          b. Drying
                                                                                 8




       c. Thicktening (laporanp.blogspot.com, 2010)
2.2.1 Kominusi
       Kominusi adalah proses mereduksi ukuran butir atau proses meliberasi bijih.
Yang dimaksud dengan proses meliberasi bijih adalah proses melepaskan bijih
tersebut dari ikatnnya yang merupakan gangue mineral dengan menggunakan alat
crusher atau grinding mill. Kominusi terbagi dalam 3 tahap, yaitu primary crushing,
secondary crushing dan fine crushing.
A. Primary Crushing
       Merupakan tahap penghancuran yang pertama, dimana umpan berupa
bongkah-bongkah besar yang berukuran +/- 84 x 60 inchi dan produkta berukuran 4
inchi. Beberapa alat untuk primary crushing antara lain :
1. Jaw Crusher
       Alat ini mempunyai dua jaw, yang satu dapat digerakkan (swing jaw) dan
yang lainnya tidak bergerak (fixed jaw). Berdasarkan porosnya jaw crusher terbagi
dalam dua macam :
       a. Blake Jaw Crusher, dengan poros di atas
       b. Dodge Jaw Crusher, dengan poros di bawah
Kapasitas jaw crusher dipengaruhi oleh :
       a. Gravitasi
       b. Kekerasan material
       c. Keliatan material
       d. Kandungan air/kelembaban
       2. Gyratory Crusher
       Crusher jenis ini mempunyai kapasitas yang lebih besar jika dibandingkan
dengan jaw crusher. Gerakan dari gyratory crusher ini berputar dan bergoyang
sehingga proses penghancuran berjalan terus menerus tanpa selang waktu. Berbeda
dengan jaw crusher yang proses penghancurannya tidak continue, yaitu pada waktu
swing jaw bergerak ke belakang sehingga ada material-material yang tidak
mengalami penggerusan.
                                                                                   9




B. Secondary Crushing
       Merupakan tahap penghancuran kelanjutan dari primary crushing, dimana
umpan berukuran lebih kecil dari 6 inchi produkta berukuran 0.5 inchi. Beberapa alat
untuk secondary crushing antara lain :
       1. Jaw Crusher (kecil)
       2. Gyratory Crusher (kecil)
       3. Cone Crusher
       Alat ini merupakan secondary crusher yang penggunaannya lebih ekonomis.
Cone crusher hampir sama dengan gyratory crusher, perbedaannya terletak pada :
a. crushing surface terluar bekerja sedemikian rupa sehingga luas lubang pengeluaran
dapat bertambah
b. crushing surface terluar bagian atasnya dapat diangkat sehingga material yang
tidak dapat dihancurkan dapat dikeluarkan
4. Hammer Mill
       Hammer mill dipakai dalam secondary crusher untuk memperkecil produk
dari primary crushing dengan ukuran umpan yang diperbolehkan adalah kurang dari
satu inch. Alat ini merupakan satu-satunya alat yang berbeda cara penghancurannya
dibandingkan alat secondary crushing lainnya. Pada hammer mill proses
penghancuran menggunakan shearing stress, sedangkan pada secondary crushing
lainnya menggunakan compressive stress
5. Roll Crusher
       Alat ini terdiri dari dua silinder baja dan masing-masing dihubungkan pada as
(poros) sendiri-sendiri. Silinder ini hanya satu saja yang berputar dan lainnya diam,
tapi karena adnya material yang masuk dan pengaruh silinder lainnya maka silinder
ini ikut berputar juga. Putaran masing-masing silinder tersebut berlawanan arah
sehingga material yang ada diatas roll akan terjepit dan hancur.
                                                                                    10




C. Fine Crushing (Grinding Mill)
          Milling merupakan proses kelanjutan dari primary crushing dan secondary
crushing. Proses penghancuran dalam milling menggunakan shearing stress.
          Istilah – istilah dalam grinding :
a. Kecepatan Kritis
          Yaitu kecepatan putar cell pada operasi milling dimana pada saat itu grinding
media menempel pada dinding cell sehingga tidak terjadi proses abrasi maupun
impact.
b. Cataracting
          Adalah kecepatan putar dari cell mill dimana grinding media akan
menimbukan impact yang lebih besar dibandingkan abrasi.
c. Cascading
          Yaitu kecepatan putar pada cell mill pada operasi milling yang mengakibatkan
grinding media lebih dominan bekerja secara abrasi maupun impact.
2.2.2 Klasifikasi dan Sizing
          Sizing dan Clasification adalah pengelompokan berdasarkan ukuran dengan
metoda pengayakan. Contoh alatnya adalah Grizzly, Vibration Screening dan Spiral
Clasifikator.
          Screening merupakan proses pemisahan bahan galian berdasarkan ukuran.
Berat atau ringannya ukuran material disebabkan karena berat jenis dari material itu
sendiri, dan juga gaya gravitasi yang mempengaruhinya. Mineral yang dapat
melewati lubang ayakan sering disebut oversize sedangkan mineral yang tidak lolos
dari lubang ayakan disebur undersize.
          Tujuan dari proses pengayakan ini adalah:
1. Mempersiapkan produk umpan (feed) yang ukurannya sesuai untuk beberapa
proses berikutnya.
2. Mencegah masuknya mineral yang tidak sempurna dalam peremukan (Primary
crushing) atau oversize ke dalam proses pengolahan berikutnya, sehingga dapat
dilakukan kembali proses peremukan tahap berikutnya (secondary crushing).
                                                                                  11




3. Untuk meningkatkan spesifikasi suatu material sebagai produk akhir.
4. Mencegah masuknya undersize ke permukaan.
       Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering untuk material kasar,
dapat optimal sampai dengan ukuran 10 # (10 mesh). Sedangkan pengayakan dalam
keadaan basah biasanya untuk material yang halus mulai dari ukuran 20 # sampai
dengan ukuran 35 #.
Pelolosan material dalam ayakan dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
       1. Ukuran material yang sesuai dengan lubang ayakan
       2. Ukuran rata-rata material yang menembus lubang ayakan
       3. Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel
       4. Komposisi air dalam material yang akan diayak
       5. Letak perlapisan material pada permukaan sebelum diayak
Kapasitas screen secara umum tergantung pada:
       1. Luas penampang screen
       2. Ukuran bukaan
       3. Sifat dari umpan seperti; berat jenis, kandungan air, temperature
       4. Tipe mechanical screen yang digunakan.
2.2.3 Konsentrasi
       Konsentrasi adalah klasifikasi mineral berdasarkan kelompoknya. Kelompok
ini dibagi menjadi dua yaitu mineral berat dan mineral ringan. Umumnya mineral
berat adalah mineral berharga dan mineral ringan adalah mineral tak berharga.
Produk dari konsentrasi adalah konsentrat dan tailing. Pada konsentrat persen mineral
berharganya lebih besar dibandingkan mineral tak berharga. Sedangkan pada tailing
persen mineral berharganya lebih kecil dibandingkan mineral tak berharga.
       Konsentrasi adalah tahap akhir dalam preparasi bijih secara fisik. Hasil dari
proses inilah yang akan digunakan dalam proses ekstraksi. Konsentrasi dibagi
menjadi lima bagian, yaitu:
       1. Ore Sorting
       2. Heavy media separator
                                                                                 12




       3. Pemisahan berdasarkan gravitasi (Gravity Concentration)
       4. Pemisahan berdasarkan sifat magnet (Magnetic Separation)
       5. Pemisahan berdasarkan sifat elektrostatis (Electrostatic Separation)
      6. Flotasi (brownharinto.blogspot.com, 2009)
2.2.4 Magnetic Separator
       Salah satu cara dalam proses konsentrasi adalah magnetic separation.
Magnetic separator adalah alat yang digunakan untuk memisahkan material padat
berdasarkan sifat kemagnetan suatu bahan. Alat ini terdiri dari pulley yang dilapisi
dengan magnet baik berupa magnet alami maupun magnet yang berada disekitar arus
listrik. Alat pemisah fase padat – padat ini memiliki prinsip kerja yaitu dengan
melewatkan suatu material campuran (padatan non-logam dan padatan logam) pada
suatu bagian dari magnetic separator yang diberi medan magnetik, maka padatan
logam akan menempel (tertarik) pada medan magnetik oleh karena adanya garis-garis
medan magnetik sehingga padatan logam akan terpisah dari campurannya.




                      Gambar 1. Prinsip kerja magnetic separator
       Magnetic separator merupakan pemisahan secara fisik untuk partikel dengan
perbedaan permeability dan susceptbility berdasarkan 3 cara, yaitu kekuatan tarikan
magnet(tractive magnetic forces), gravitasi, friksi dan inertial. Feed ke magnetic
separator terpecah menjadi dua atau lebih komponen . Jika separator digunakan
untuk memproduksi magnet konsentrat           dapat digunakan paramagnetik atau
                                                                                 13




diamagnetik. Setiap produk harus ditransportasikan melewati ke dalam sepanjang
magnet.
       Pemisahan menggunakan magnet bergantung pada besarnya daya magnet dari
bahan yang akan dipisahkan. Effesiensi dari pemisahan menggunakan magnet dapt
dilihat dengan adanya recovery dan tingkat magnetic concentrate.
       Berdasarkan sifat kemagnetan bahan terhadap tarikan ataupun tolakan garis –
garis medan magnetik, bahan digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu :
1.   Ferromagnetik
       Merupakan bahan yang sangat kuat menarik garis-garis medan magnetik.
Sebagai contoh, besi, nikel, kobalt, gadolinium dan baja. Sifat ferromagnetik timbul
apabila bahan berupa fasa padat. Sedangkan sifat ferromagnetik akan hilang apabila
bahan berupa fase cair maupun gas dan juga bahan berupa fasa padat yang memiliki
suhu yang tinggi di atas suhu batasnya atau yang disebut suhu curie.
2.   Paramagnetik
       Merupakan bahan yang sedikit menarik garis – garis medan magnetik.
Sebagai contoh, alumunium, platina dan lain – lain.
3.   Diamagnetik
       Merupakan bahan yang sedikit menolak garis – garis medan magnetik.
Sebagai contoh, tembaga, bismuth, emas, seng, dan lain – lain.
       (opsokisakti.blogspot.com, 2010)
                                                                                    14




                                             BAB III
                              METODE PENELITIAN




3.1   Diagram Alir Percobaan


       Ss       pasir kwarsa (30g)                    Ss    pasir besi (20g)

                                       Timbang lalu
                                         campurkan
                                                            Pengaturan tegangan
                                                            rotor dan pengumpanan
                                 Ff pengumpanan
                                       (waktu mulai
                                         dihitung)



                                      Pemisahan
                                      magnetik

            Timbang Konsentrat                             Timbang Tailing

                                     Ulangi dengan
                                      variable
                                      tegangan beda


                                          Data
            Literatur

                                       Pembahasan              Kesimpulan

              Gambar 2. Diagram alir percobaan magnetic separator




                                      1114
                                                                            15




3.2   Alat dan Bahan
3.2.1 Alat yang Digunakan
      1.Magnetic separator
      2. Neraca teknis
      3. Vibrating screen
      4. Wadah penampung
3.2.2 Bahan yang Digunakan
      1. Pasir kuarsa
      2. Pasir besi
3.3   Prosedur Percobaan
      1. Menimbang pasir kwarsa 30 g dan pasir besi 20 g.
      2. Menyiapkan magnetic separator dengan tegang rotor 9 volt, tegangan
          umpan I : 12 volt dan tegangan umpan II : 7,5, 9, dan 12 volt.
      3. Menyiapkan stop watch
      4. Melakukan proses pengumpanan dan mulai menghitung waktu.
      5. Melakukan proses separation
      6. Menimbang konsentrat dan tailing yang diperoleh dari hasil pengumpanan
          dan separasi.
      7. Mengulangi prosedur yang sama dengan komposisi yang sama dengan
          variabel tegangan yang berbeda.
                                                                                         16




                                   BAB IV
                            DATA DAN PEMBAHASAN




4.1       Data Percobaan
          Dari percobaan pemisahan konsentrat dengan menggunakan metode magnetic
separator hasilnya dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2.
Tabel 1. Hasil perhitungan laju pengumpanan

                 Feed           Tegangan          Teg. Umpan                     Laju
                                                                    Waktu
                (gram)           Rotor                 (volt)                 pengumpanan
                                                                    (menit)
                                 (volt)                                          (g/m)
                                                  I          II


      1        30 + 20 g           8          12             7.5     6.27        7.98

      2        30 + 20 g          10          12                9    6.29        7.95

      3        30 + 20 g          12          12             12      8.14        6.14


Tabel 2. Hasil perhitungan persen tailing dan konsentrat

          No      Konsentrat (gram)          Tailing (gram)            t(%)       k(%)
          1                17                         33               40          40
          2                5                          35                51         40
          3                8                          35.1              49         40
4.2       Pembahasan
          Dari pengamatan yang terlihat pada tabel 1 dan tabel 2 dapat diketahui bahwa
tegangan rotor sangat berpengaruh terhadap laju pengumpanan dan juga hasil dari
pemisahan.




                                           1116
                                                                                 17




                                        10




               Laju pengumpanan( g/m)
                                         8
                                         6
                                         4
                                         2
                                         0
                                             0    5               10     15
                                                 Tegangan Rotor (volt)




           Gambar 3. Grafik tegangan rotor terhadap laju pengumpanan
       Dari gambar 3 dapat terlihat bahwa semakin besar tegangan rotor semakin
rendah laju pengumpanannya. Jika dilihat secara prinsipnya seharusnya semakin
besar tegangan rotor semakin besar laju pengumpanannya. Dalam kasus ini,
melibatkan factor dari luar, seperti angin dan kesalahan operator. Sebab prinsipnya,
ketika tegangan rotor itu besar, maka perputaran drum dan conveyer akan semakin
cepat sehingga umpan pun akan lebih cepat bergeraknya menuju pemisahan.
       Pada percobaan ke II dan ke III jumlah feed tidak sama dengan konsentrat
ditambah tailing, ini diakibatkan adanya beberapa bijih yang yang terlempar keluar
karena terlalu kencangnya putaran rotor. Agar pemisahan dapat berlangsung efektif
maka tegangan rotor harus sesuai agar laju pengumpanan dapat dikendalikan
sehingga tidak banyak mineral yang lontarannya keluar dari jarak penampungan
tailing maupun kosentrat. (kuliahd3fatek.blogspot.com, 2009)
                                                                            18




                                     BAB V
                               KESIMPULAN




      Dari hasil percobaan dan pembahasan lebih lanjut maka dapat disimpulkan
bahwa :
      1. Pemisahan antara pasir besi dan pasir kuarsa dapat berlangsung sebab
          pasir besi memiliki sifat magnet sedangkan pasir kuarsa tidak
      2. Selain dari sifat kemagnetan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah
          tegangan rotor harus efektif agar pemisahan dapat beralangsung dengan
          baik.
      3. Tegangan rotor yang terlalu besar akan mengakibatkan drum dan conveyer
          berputar terlalu cepat sehingga menyebabkan umpan ada yang terlempar
          jauh melewati jarak penampungan. ( in ≠ out )




                                   1118
                                                                          19




                          DAFTAR PUSTAKA




1.   http://brownharinto.blogspot.com/
2.   http://id.wordpress.com/tag/artikel-tambang/
3.   http://kuliahd3fatek.blogspot.com/2009/05/bab-vi-pengolahan-bahan-
     galian.html
4.   http://laporanp.blogspot.com/2010/02/bab-i-pendahuluan-1_08.html
5.   http://opsokisakti.blogspot.com/2010/08/magnetik-separator.html
6.   http://tamangeologi.blogspot.com/search/label/Bahan%20Galian




                                 1119
           20




LAMPIRAN




 2220
                                 21




Lampiran 1. Contoh Perhitungan
22
                                                                                  23




Lampiran 2. Jawaban Pertanyaan dan Tugas
1. Hitung Laju pengumpanan yang terjadi ?
       Sampel 1

        Laju Pengumpanan =                  =



                                            = 7,98 g/m
       Sampel 2


        Laju pengumpanan =                      =



                                                = 7,95 g/m
       Sampel 3


         Laju pengumpanan =                         =



                                                    = 6.14 g/m
2. Sebutkan dan jelaskan apa saja yang dapat mempengaruhi suatu proses
   Magnetic Separator?
        a. Gaya magnet : merupakan gaya yang paling banyak terdapat dalam
           pemisahan secara magnetik. Medan magnet yang ditimbulkan akan
           langsung menarik atau menolak partikel. Ketika partikel magnet
           diletakkan pada medan magnet yang berada pada permukaan drum maka
           mineral tersebut akan mengalami gaya magnet.
        b. Competing Force : Pada setiap partkel juga bekerja gaya-gaya lain yang
           cenderung bertolak belakang dengan gaya magnet. Gaya ini disebut
           dengan competing force. Competing force ini antara lain gaya
           sentrifugal,gaya gravitasi, gaya gesek hidrodinamik dan gaya inersia. Jika
                                                                                 24




          pemisahan dilakukan pada drum yang berputar maka gaya yang paling
          berpengaruh adalah gaya sentrifugal.
       c. Gaya tarik atau tolak antar partikel : gaya ini sangat berpengaruh, karena
          di magnetic separator ini merupakam metode pemisahan mineral besi dari
          mineral pengotornya dengan memanfaatkan sifat kemagnetannya. Yang
          mana, jika kita memanfaatkan sifat magnet erat sekali hubungannya
          dengan gaya tarik atau tolak antar partikel.
3. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis magnetic separator ?
   Secara umum magnetic separator dibedakan menjadi 2 type yaitu :
   1. Prymary Magnet Type
          Dalam Primary Magnet Type ini magnet yang digunakan adalah magnet
   langsung yang dipasang pada alat tersebut.Yang termasuk dalam jenis ini adalah:
          a. Magnet Pulley
                  Mineral non magnetic akan terjatuh karena tidak tertarik oleh
          magnet pada separator dan karena gaya gravitasinya sendiri. Sementara
          mineral magnetic akan terus menempel pada belt conveyor sampai pada
          suatu titik saat gaya magnet sudah tidak menjangkau lagi dan akhirnya
          akan jatuh ditempat yang sudah tersedia
           b. Drum Type Magnetic Separator
                 Alat ini terdiridari kumparan kawat (coil) yang diberi arus listrik
          sehingga menimbulkan gaya-gaya magnet, yang selanjutnya menimbulkan
          juga medan magnett. Medan magnet ini yang menginduksi rotor sehingga
          rotor tersebut bersifat magnetik. Alat ini digolongkan dalam induksi
          magnet separator/secondary magnet separator type. Contohnya Dings
          Incuded-roll Separator.
          c. Belt Magnetic Separator
                      Alat ini dipergunakan untuk material yang gaya kemagnetanya
          lemah dengan proses kering sedangkan yang gaya kemagnetannya kuat
                                                                                     25




           dengan proses basah. Contoh dari alat ini adalah Wetherill Rowans Cross-
           Belt.
       2. Induksi Magnetic Type
          Alat ini terdiridari kumparan kawat (coil) yang diberi arus listrik sehingga
       menimbulkan gaya-gaya magnet, yang selanjutnya menimbulkan juga medan
       magnett. Medan magnet ini yang menginduksi rotor sehingga rotor tersebut
       bersifat     magnetik.   Alat     ini   digolongkan   dalam    induksi    magnet
       separator/secondary magnet separator type. Contohnya Dings Incuded-roll
       Separator.
4. Tentukan % berat yang hilang?
   Sampel 1 = 0%

   Sampel 2 =                          100 %

              =      100 %

              = 20%

   Sampel 3 =                          100

              =      100%

              = 6.2 %
5. Hitung Recovery yang diperoleh?
   SampleI                   SampleII                 SampleIII

             x100%                   x100%                  x100% 
        K .k                      K .k                     K .k
   R                        R                       R
       F. f                      F. f                     F. f

   R
       170.4 x100%     R
                                   50,4
                                           x100%    R
                                                          11.80,4 x100% 
        500,4                  500,4                 500,4
   R  34%                   R  10%                  R  23.6%
                                                     26




Lampiran 3. Gambar Bahan dan Alat




                      Gambar 4. Magnetic separator




                        Gambar 5. Neraca teknis




                         Gambar 6. Pasir kuarsa




                          Gambar 7. Pasir besi

								
To top