tinjauan pustaka seksio sesarea

					BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Seksio sesarea 1. Defenisi Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. (Prawirohardjo. 2005: 810). Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan atau vagina atau seksio sesarea adalah suatu Histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar 1998: 133) dan pendapat lain seksio sesarea adalah persalinan dengan laparatomi dan histerektomi (Rabe 2001: 163) 2. Indikasi seksio sesarea Indikasi seksio sesarea menurut Rustam Mochtar (1998: 135) adalah : a. Plasenta Previa Sentralis dan Lateralis ( Posterior ) b. Panggul Sempit Holmer mengambil batas terendah untuk melahirkan janin Vias Naturalis ialah Conjungata Vera (CV) = 8 cm. Panggul CV = 8 cm dapat dipastikan tidak akan melahirkan janin yang normal, harus di selesaikan dengan seksio sesarea. CV antara 8 – 10 cm boleh di coba dengan partus percobaan, baru setelah gagal di lakukan seksio sesarea sekunder.

7

c. Disproporsi sefalo-pelvik: yaitu ketidak seimbangan kepala dan panggul. d. Ruptura Uteri mengancam. e. Partus lama (prolonged labor) Partus tak maju (obstructed labor) f. Distosia serviks g. Pre-eklamasi dan hipertensi h. Malpresentasi janin: 1) Letak lintang: Greenhill dan Eastman sama sependapat: a) Bila ada kesempitan panggul seksio sesarea adalah cara yang terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa. b) Semua primigravida dengan letak lintang harus di tolong dengan seksio sesarea, walau tidak ada sakaan panggul sempit. c) Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu ditolong dengan caracara lain. 2). Letak bokong Seksio sesarea dianjurkan pada letak bokong bila ada: a) Panggul sempit b) Primigravida c) janin besar dan berharga 3) Presentasi dahi dan muka (letak Defleksi) bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil.

8

4) Presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil. 5) Gameli, menurut Eastman seksio sesarea di anjurkan : a) Bila janin pertama letak letak lintang atau presentasi bahu b) Bila terjadi interlock (locking of the twins). j. Distosia oleh karena tumor. k. Gawat janin. l. Dan sebagainya, seperti: faktor umur, paritas, postmorterm dan indikasi sosial. Pada waktu sekarang ini terjadinya perluasan indikasi untuk melakukan seksio sesarea disebabkan karena makin kecilnya resiko dan mortalitas pada seksio sesarea karena kemajuan teknik operasi dan anestesi serta ampuhnya antibiotika dan kemoterapi. 3. Kontra indikasi seksio sesarea Menurut Sarwono Prawihardjo (1999: 134) seksio sesarea tidak dilakukan pada: a. Janin mati b. Syok, anemia berat sebelum diatasi c. Kelainan kongenital berat (monster). 4. Komplikasi seksio sesarea a. Pada ibu Komplikasi seksio sesarea pada ibu menurut Rustam Mochtar (1998: 137) adalah:

9

1) Infeksi puerperal.(nifas) 2) Perdarahan disebabkan: banyaknya pembuluh darah terputus dan terbuka, atomia uteri dan perdarahan pada placental bed. 3) Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kamih bila reperitonialisasi terlalu tinggi. 4) Kemungkinan rupture uteri spontanea pada kehamilan mendatang. b. Pada anak Seperti halnya dengan ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan seksio sesarea banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan seksio sesarea. Menurut statistik di negara-negara dengan pengawasan antenatal dan intra natal yang baik kematian perinatal pasca seksio sesarea berkisar antara 4 dan 7%. (Prawiroharjo. 2005: 817). Resiko komlikasi lain pada janin adalah depresi susunan saraf pusat akibat dari penggunaan obat-obatan anestesia (fetal narcosis) yang tidak akurat dan lamanya janin pasca induksi di dalam rahim yang pendistribusiannya melalui tali pusat (Marjono 1999: 118)

10

5. Tipe Operasi Seksio Sesarea Seksio Sesarea dapat dilakukan melalui: a. Abdomen (seksio sesarea abdominalis) 1) seksio sesarea transperitonealis: a) Seksio secara klasik atau korporal b) Seksio sesarea ismika atau profunda 2) seksio sesarea ekstraperitonealis b. Vagina (Seksio Sesarea Vaginalis) c. Menurut jurusan sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan sebagai berikut: 1) Sayatan memanjang 2) Sayatan melintang 3) Sayatan huruf T (T-Incision) 6. Prognosis Angka kematian ibu pada rumah–rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga–tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. sedangkan kematian perinatal dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna sekitar 4-7 % .

11

B. Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Seksio Sesarea 1. Umur Definisi Umur adalah lamanya seseorang hidup sejak dilahirkan sampai pada saat sekarang dihitung dalam tahun (Depkes RI, 1998). Umur dikaitkan dengan Faktor Predisposisi (Predisposing) atau faktor yang mempermudah dan mendasari untuk terjadinya perilaku tertentu. Yang termasuk dalam faktor predisposisi ini adalah: Pengetahuan, Sikap, Nilai-nilai Budaya, Kepercayaan dari orang tersebut tentang dan terhadap perilaku tersebut serta beberapa karakteristik individu seperti: umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan. (Harbandinah. 2006) Umur juga merupakan variabel yang digunakan sebagai ukuran mutlak indikator fisiologis, dengan kata lain penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan akan berhubungan dengan umur. Dimana yang semakin tua mempunyai karakteristik fisiologis dan tanggung jawab tersendiri.

(Notoadmojo, 1996) 2. Paritas Paritas menunjukkan jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai viabilitas dan telah dilahirkan tanpa melihat jumlah anak. Kelahiran kembar hanya dihitung satu paritas (Oxorn, 2003). Paritas merupakan frekuensi ibu pernah melahirkan anak, hidup atau mati tetapi bukan aborsi, selanjutnya tingkat paritas dijelaskan sebagai

12

berikut: Primi Gravida yaitu ibu yang pernah hamil satu kali, Primi Para adalah ibu yang pernah melahirkan satu kali. Multi Gravida adalah ibu yang pernah hamil 2-4 kali sedangkan Multipara adalah ibu yang pernah melahirkan 2-4 kali dan Grande Multi Gravida adalah ibu yang pernah hamil 5 kali atau lebih, Grande Multi Para ibu yang pernah melahirkan 5 kali atau lebih (Salmah, 2006, 133). Tingkat paritas telah banyak menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan ibu dan anak. Dikatakan demikian karena terdapat kecendrungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari pada yang berparitas tinggi (Notoadmojo, 2003). 3. Pendidikan Tingkat pendidikan adalah tingkat pendidikan formal yang berhasil dilalui oleh seseorang. Tingkat pendidikan seseorang akan dapat memberikan pengaruh terhadap pemahaman tentang sebuah pengalaman dan rangsang yang diberikan melalui belajar dan media lainnya. Pengetahuan atau pendidikan tentang kesehatan akan berpengaruh terhadap prilaku sebagai hasil jangka menengah (Intermediate Inpact ) ((Notoadmojo, 2003) Selanjutnya Lewrence Green menjelaskan bahwa perilaku itu dilatar belakangi oleh 3 (tiga) faktor pokok yaitu: Faktor-faktor predisposisi (predisposing faktor), faktor yang mendukung (enabling faktor) dan faktor yang memperkuat (reinforcing faktor). Oleh sebab itu pendidikan kesehatan

13

sebagai usaha intervensi perilaku harus diarahkan pada ketiga faktor tersebut. (Notoadmojo, 2003) 4. Status Pembiayaan. Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia, biaya adalah uang yang dikeluarkan untuk mengadakan sesuatu atau ongkos. Membiayai didefinisikan sebagai mengeluarkan uang untuk biaya. (Poerwadarminta: 1984: 135) Dalam Manajemen Pelayanan Kesehatan biaya disamakan dengan tarif pelayanan, bagi pasien biaya adalah beban biaya yang harus dikeluarkan/ ditanggung sesuai dengan besaran tarif pelayanan yang telah ditetapkan dan dibayarkan sebagai kewajiban pasien setelah menerima pelayanan kesehatan. Sedangkan penjamin biaya adalah orang atau kelompok atau organisasi yang menjadi penanggungjawab pembiayaan dengan adanya kerjasama terlebih dahulu. Penjaminan pembiayaan atau penangung jawab pembayaran biaya perawatan di rumahsakit berdasarkan Perda Tarif No 21 tahun 2007 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan di RSU Mayjen HA. Thalib Kerinci

dikelompokkan atas: Umum, Askes, Jamkesmas, Askes Komersial dan Swasta.

14


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:13510
posted:5/22/2009
language:Indonesian
pages:8
Description: tinjauan pustaka faktor predisposisi terjadinya operasi seksio sesarea di rumah sakit, ada alasan yang bukan merupakan indikasi dilakukannya operasi, yaitu: alasan ekonomi dokter spesialis