ikatan ion by berbagi3

VIEWS: 7,453 PAGES: 18

									                                    IKATAN ION
A. PENDAHULUAN

  Pandangan mengenai teori ikatan ionis muncul berdasarkan berbagai fakta yang diperoleh
  pada eksperimen. Pada tahun 1808 Davy menemukan bahwa elektrolisis NaOH cair
  menghasilkan unsure Na dan O2. Pada elektrolisis berbagai senyawa, sekelompok unsur
  seperti O2 dan Cl2, selalu dihasilkan di anoda, sedangkan sekelompok unsur lain seperti H2,
  Na dan Cu siperoleh di katoda. Berdasarkan penemuan di atas, pada tahun 1812 Berzelius
  mengajukan hipotesis dualistic yang menyatakan bahwa dalam senyawanya atom-atom
  mempunyai kutub-kutub yang berlawanan tandanya, sebagai akibat kelebihan muatan listrik
  negative atau positif.

  PEMBENTUKAN SENYAWA ION

                           ikatan ion terbentuk antara atom yang melepaskan elektron dengan
                           atom yang menangkap elektron. Biasanya antara atom logam dan non
  logam. atom logam, setelah melepaskan elektron, berubah menjadi ion positif, elektron
  tersebut diterima oleh atom bukan logam, sehingga atom bukan logam menjadi ion negatif.
  Antara ion-ion yang berlawanan muatan ini terjadi tarik menarik (gaya elektrostatis) yang
  disebut ikatan ion.Untuk menjelaskan terbentuknya senyawa ionis, sebagai contoh dapat
  digunakan unsur-unsur Na dan Cl yang membentuk natrium klorida (NaCl).

  PENJELASAN :

  Pengaturan pada aton Na sebagai berikut:




                    konfigurasi atom Na : K = 2 , L = 8, M = 1
Natrium dapat dengan mudah melepaskan electron terluarnya membentuk ion dengan muatan
+1. ion ini stabil karena memiliki kulit terluar penuh.

konfigurasinya menjadi: K = 2, L = 8, M = 0

Pengaturan electron dari atom klor adalah sebagai berikut:




                 konfigurasi atom Cl : K = 2, L = 8, M = 7

Diperlukan satu electron tambahan untuk membentuk ion dengan kulit terluar penuh, electron
ini diperoleh dari atom natrium, sehingga dihasilkan ion dengan muatan -1.




                      konfigurasinya menjadi: K = 2, L = 8, M = 8

Pengaturan electron baru dari natrium dan klor adalah sebagai berikut:
B. ISI


   Pembentukan Dan Sifat-sifat Senyawa Ionis

  1. Struktur susunan kristal

     Dalam keadaan padat, senyawa ionis terdapat dalam bentuk kristal dengan susunan
     tertentu. Penafsiran terhadap hasil difraksi sinar-X pada senyawa ion dapat memberi
     petunjuk mengenai susunan internal dari kristal ion tersebut. Misalnya pada kristal NaCl
     dapat diketahui bahwa setiap ion Na+ dikelilingi oleh 6 ion Cl-, dan setiap ion Cl- juga
     dikelilingi oleh 6 ion Na+.




  2. Isomorf

     Senyawa-senyawa ion yang mempunyai susunan yang mirip satu sama lain seperti NaCl
     dan KNO3 mempunyai bentuk kristal yang sama yang disebut isomorf. Di samping itu
     terdapat pula senyawa-senyawa yang mempunyai muatan ion berbeda, tetapi mempunyai
     susunan kristal yang sama, misalnya NaF dan MgO, CaCl2 dan K2S masing-masing
     mempunyai susunan kristal yang sama. Fakta tersebut dapat dijelaskan dengan meninjau
     konfigurasi elektron ion-ion penyusun kristal tersebut.

  3. Daya hantar listrik

     Baik dalam keadaan cair (meleleh) maupun dalam larutannya senyawa ionis dapat
     menghantarkan arus listrik.
   Pada table 1.1 dapat dilihat daya hantar berbagai senyawa klorida dalam keadaan cair
   (meleleh) pada suhu titik lelehnya.




4. Titik leleh dan titik didih

   Ion positif dan ion negative pada senyawa ionis, terikat satu sama lain oleh gaya
   elektrostatis yang sangat kuat. Untuk memisahkan ion-ion tersebut baik yang terdapat
   dalam bentuk kristal maupun dalam bentuk cairnya, diperlukan energy yang cukup besar,
   yang mengakibatkan       titik leleh dan titik didih senyawa ionis          juga tinggi.
   Pada table 1.2 dapat dilihat titik didih berbagai senyawa klorida.
5. Kelarutan

   Pada umumnya senyawa ionis larut dalam pelarut yang mengandung gugs OH- seperti
   H2O dan C2H5OH yang merupakan senyawa kovalen polar, sedangkan senyawa kovalen
   larut dalam pelarut nonpolar.




6. Reaksi ion

   Pada reaksi senyawa ionis, ion-ion tidak tergantung pada ion pasangannya, misalnya bila
   NaCl dan AgNO3 (dalam larutan) dicampurkan, maka segera terbentuk endapan AgCl.
   Reaksi yang terjadi adalah:

   Ag+(aq) + Cl-(aq)             AgCl (s)
  7. Keras, kaku dan rapuh




   Energi Kisi

Energi kisi kristal didefinisikan sebagai energi potensial total dari penataan muatan di dalam
struktur kristal. Energi kisi berasal dari energi ikat antara ion tak sejenis, energi tolak antar ion
sejenis serta energi tolakan jarak pendek karena overlap dari awan elektron.

Senyawa-senyawa ionik dari unsur-unsur logam golongan utama pada periode tiga (Na, Mg dan
Al) dengan unsur nonlogam pada periode dua (F, O dan N), seperti NaF, Na2O, MgF2, Na3N,
MgO, Mg2N3, AlF3, Al2O3 dan AlN adalah memiliki kation dan anion dengan kofigurasi 1s2 2s2
2p6, analog dengan konfigurasi elektron dari atom Ne (neon). Dengan kata lain, anion dan kation
memenuhi aturan oktet sehingga senyawa-senyawa tersebut bersifat stabil. Dari fakta ini dapat
disimpulkan bahwa senyawa-senyawa tersebut stabil karena terpenuhinya aturan oktet.

Untuk menguji anggapan ini, maka diperlukan energi ionisasi dari kation dan anion dan afinitas
elektron anion.

Na(g) → Na(g) + e               IE = 495,4 kJ/mol

Mg(g) → Mg2+(g) + 2e           IE = 2188,4 kJ/mol

Al(g) → Al3+(g) + 3e             IE = 5139,1 kJ/mol
F(g) + e → F‾                     EA = -328,0 kJ/mol

O(g) + 2e → O2‾(g)               EA = 603 kJ/mol

N(g) + 3e → N3‾(g)               EA = 1736 kj/mol

Keterangan

IE : energi ionisasi

EA : afinitas elektron

Berdasarkan data di atas, energi ionisasi (IE) pembentukan kation dari atom netralnya untuk
memenuhi aturan oktet selalu berlangsung secara endotermik. Sedangkan pembentukan anion
dari atomnya bisa berlangsung secara eksotermik atau endotermik.

Untuk memenuhi aturan oktet, maka terjadi transfer elektron dari atom logam ke atom nonlogam
sehingga diperoleh kation dan anion. Besarnya energi yang terlibat pada transfer elektron yang
terlibat dalam pembentukan beberapa senyawa ionik dapat di hitung sebagai berikut:

Na(g) → Na(g) + e                IE = 495,4 kJ/mol

F(g) + e → F‾                     EA = -328,0 kJ/mol

Na(g) + F(g) → Na+(g) + F‾(g)    ∆H = +167,4 kJ/mol

Mg(g) → Mg2+(g) + 2e                  IE = 2188,4 kJ/mol

F(g) + e → F‾                          EA = -328,0 kJ/mol

Mg(g) + O2(g) → Mg2+ + 2F‾            ∆H = 1532,4 kJ/mol

Jika dilakukan penjumlahan terhadapt energi ionisasi dan afinitas elektron maka akan diperoleh
harga ∆H yang bernilai positif, artinya reaksi pembentukan berlangsung secara endotermik. Oleh
sebab itu pembentukan kation dan anion yang memenuhi aturan oktet dari atom-atomnya bukan
merupakan sumber kestabilan senyawa ionik. Apabila kestabilan tersebut disebabkan oleh
terbentuknya kation dan anion yang memenuhi aturan oktet maka transfer elektron secara
sempurna dari atom logam ke atom non logam harus berlangsung secara eksotermik. Jika
demikian apa sumber kestabilan senyawa ionik?

Perbandingan energi yang diperlukan pada pembentukan kation dan anion yang memenuhi
aturan oktet (∆H) dan energi yang dilepaskan pada pembentukan kisi kristal (U) dapat dilihat
pada tabel


Senyawa      ∆H (kJ/mol)      U(kJ/mol)

NaF          167,4            -885

Na2O         1593,8           -2564

Na3N         3222,2           -5058

MgF2         1522,4           -2764

MgO          2791,4           -3817

Mg2N         10037,2          -14745

AlF3         4155,1           -6383

Al2O3        12087,2          -15438

AlN          6875,1           -9514


Dari data-data di atas dapat diketahui bahwa sumber kestabilan senyawa ionik bukan karena
terpenuhi aturan oktet oleh ion-ion yang ada di dalamnya. Kestabilan senyawa ionik ternyata
bersumber pada energi kisi kristal yang dilepaskan pada pembentukan kristal senyawa-
senyawa ionik dari ion-ionnya dalam fasa gas. Energi kisi tersebut mampu mengatasi energi
yang diperlukan untuk membentuk ion-ion yang memenuhi aturan oktet dari atom netralnya.
Selain itu energi kisi juga mampu mengatasi energi-energi yang lain yang terlibat dalam
pembentukan senyawa-senyawa ionik dari unsur-unsurnya seperti energi atomisasi dan enegi
disosiasi.

Senyawa NaF, Na2O, MgF2, Na3N, MgO, Mg3N2,, AlF3, Al2O3 dan AlN, energi pembentukan
senyawa ionik (∆Hf) dari unsur-unsurnya adalah paling menguntungkan apabila ion-ion yang ada
memenuhi aturan oktet, sedangkan pembentukan senyawa ionik yang kationnya tidak memenuhi
aturan oktet tidak menguntungkan secara enegitika. Misalnya senyawa, NaF2, NaO, Na3N,
Mg2O3, MgN, AlF4, AlO2 dan Al3N4.

Dari penjelesan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bawa sumber kestabilan senyawa ionik
adalah bersumber pada energi kisi kristal yang dilepaskan pada pembentukan kristal senyawa-
senyawa ionik dari ion-ionnya dalam fasa gas.

Pembentukan     senyawa     ionik   yang   kationnya    tidak   memenuhi      aturan   oktet   tidak
menguntungkan secara enegitika, karena bertambahnya muatan kation dapat menaikan energi
kisi kristal, akan tetapi pembentukan kation (Na2+, Mg3+, Al4+) yang tidak memenuhi aturan oktet
adalah memerlukan energi yang sangan tinggi yang tidak dapat diatasi oleh energi kisi kristal
yang ada. Akibatnya NaF2, NaO, Na3N, Mg2O3, MgN, AlF4, AlO2 dan Al3N4 bersifat tidak stabil.
Dan seandainya dapat disintesis segera berubah menjadi NaF, Na2O, MgF2, Na3N, MgO,
Mg3N2,, AlF3, Al2O3 dan AlN.


    Jari – jari Ion

Jari-jari atom adalah jarak dari inti atom sampai kulit terluar.Unsur-unsur yang segolongan, jari-
jari atom makin ke bawah makin besar sebab jumlah kulit yang dimiliki atom makin banyak,
sehingga kulit terluar makin jauh dari inti atom.Unsur-unsur yang seperiode, jari-jari atom makin
ke kanan makin kecil. Unsur-unsur yang seperiode memiliki jumlah kulit yang sama. Akan
tetapi, tidaklah berarti mereka memiliki jari-jari atom yang sama pula. Semakin ke kanan letak
unsur, proton dan elektron yang dimiliki makin banyak, sehingga tarik-menarik inti dengan
electron makin kuat. Akibatnya, elektron-elektron terluar tertarik lebih dekat ke arah inti Jari-jari
atom                                          makin                                            besar.
Kerapatan elektron dalam atom secara perlahan akan menuju, tetapi tidak pernah mencapai nol
ketika jarak dari inti meningkat. Oleh karena itu, secara ketat dapat dinyatakan bahwa jari-jari
atom atau ion tidak dapat ditentukan. Namun, secara eksperimen mungkin untuk menentukan
jarak antar inti atom. Jari-jari atomik yang ditentukan secara eksperimen merupakan salah satu
parameter atomik yang sangat penting untuk mendeskripsikan kimia struktural senyawa. Cukup
beralasan untuk mendefinisikan jari-jari logam sebagai separuh jarak atom logam. Separuh jarak
antar atom didefinisikan juga sebagai jari-jari kovalen zat elementer Karena kation dan anion
unsur yang berbeda dalam senyawa ion diikat dengan interaksi elektrostatik, jarak ikatan adalah
jumlah       jari-jari   ionik      yang      diberikan      untuk      kation     dan       anion.
Jari-jari ionik standar satu spesies ditetapkan terlebih dahulu dan kemudian dikurangkan dari
jarak antar ion untuk menentukan jari-jari ion partnernya. Sebagai standar, jari-jari ion O2-
dalam sejumlah oksida ditetapkan sebesar 140 pm (1 pm = 10-12 m) (R. D. Shannon). Jari-jari
kation dalam oksida adalah selisih dari jarak ikatan dan 140 pm. Setelah jari-jari kation dalam
oksida ditentukan, jari-jari anion lain dapat dihitung dengan mengurangkan jari-jari kation dari
jarak antar atom dalam senyawa ion. Dengan menerapkan metoda seperti ini untuk berbagai
senyawa ion, jari-jari ion telah dikompilasi dalam suatu cara sedemikian sehingga nilai
perhitungan dan percobaan umumnya konsisten.

Bahkan dalam senyawa ionik terdapat sumbangan kovalen dan tidak terlalu diharapkan nilai
jarak ikatan perhitungan dan percobaan akan tepat sama. Bahkan bila nilai jari-jari ion standar
diubah, kita dapat mengkompilasi jari-jari ion yang masih konsisten untuk banyak senyawa.
Contoh lain jari-jari yang diusulkan adalah jari-jari ion O2- adalah 132 pm (V. M. Goldschmidt)
atau 60 pm (J.C. Slater). Kita juga harus sadar bahwa jarak kation-anion pasangan ion yang
sama menjadi lebih besar ketika bilangan koordinasi ion lawannya meningkat.Oleh karena itu,
dalam diskusi sifat struktural senyawa ion apapun dari sudut pandang jari-jari ionik, set jari-jari
ionik yang dihitung dengan menggunakan jari-jari standar yang sama untuk ion dengan bilangan
koordinasi                yang                sama                harus                  digunakan.
Jari-jari logam dan kovalen, juga disebut jari-jari atomik, menjadi lebih kecil dalam periode yang
sama dari kiri ke kanan, kemudian meningkat lagi di periode selanjutnya. Kontraksi lantanoid
bertanggung jawab atas fakta bahwa unsur periode ke-5 (4d) memiliki jari-jari hampir sama
dengan unsur periode ke-6 (5d). Dalam sistem periodik, unsur-unsur lantanoid disisipkan
sebelum                                          unsur                                          5d.
Jari-jari atomik unsur lantanoid menurun dengan nyata dengan kenaikan muatan inti efektif
sebab efek perisai orbital 4f unsur lantanoid lemah, disebabkan bentuk orbitalnya. Akibatnya,
jari-jari atomik unsur setelah lantanoid sangat mirip dengan unsur-unsur 4d.

       Ukuran relatif dari atom pada senyawa mempunyai pengaruh yang besar terhadap
struktur yang diadopsi terutama untuk struktur ionik. Pada sistem periodik berlaku aturan-aturan
sebagai berikut:

       • Untuk unsur blok s dan p dalam satu golongan, jari-jari naik dengan kenaikan bilangan
atom

       • Untuk kation isoelektronik, jari-jari turun dengan kenaikan muatan

       • Untuk unsur yang sama, jari-jari turun dengan kenaikan bilangan oksidasi

       • Untuk unsur yang sama, jari-jari kation naik dengan kenaikan BK

       • Sepanjang deret lantanida, ion dengan muatan yang sama, kenaikan bilangan atom
menyebabkan penurunan ukuran karena orbital d kurang efektif dalam perisai. Efek yang sama
terjadi pada deret ion logam transisi

       • Jari-jari ion logam transisi lebih kecil daripada golongan utama

       • Pasangan unsur menempati posisi diagonal pada tabel periodik mempunyai ukuran
ionik yang sama




   Struktur Kristal Ionis

Dalam mineralogi dan kristalografi, struktur kristal adalah suatu susunan khas atom-atom
dalam suatu kristal. Suatu struktur kristal dibangun oleh sel unit, sekumpulan atom yang
tersusun secara khusus, yang secara periodik berulang dalam tiga dimensi dalam suatu kisi. Spasi
antar sel unit dalam segala arah disebut parameter kisi. Sifat simetri kristalnya terwadahi dalam
gugus spasinya. Struktur dan simetri suatu emmainkan peran penting dalam menentukan sifat-
sifatnya, seperti sifat pembelahan, struktur pita listrik, dan optiknya.
Senyawa ionik mempunyai kecenderungan membentuk struktur dengan simetri tinggi dan
volume maksimal. Elektronetralitas lokal berlaku pada senyawa ionik, artinya sejumlah muatan
positif akan dinetralkan oleh muatan negatif yang sama sehingga muatan total adalan nol. Ion
pada senyawa ionik adalah bola bermuatan, elastik dan dapat terpolarisasi. Gaya tarik antar ion
mematuhi hukum coulomb untuk dua ion bermuatan Z+ dan Z- yang terpisah dengan jarak r.

a) Struktur octahedral dengan bilangan koordinasi 6
   Struktur senyawa dengan atom pusat memiliki valensi lebih besar dari empat juga dapat
   dijelaskan dengan teori VSEPR. Senyawa pentavalen memiliki struktur trigonal bipiramidal.
   Senyawa khas jenis ini adalah fosfor pentakhlorida PCl5. Senyawa dengan atom pusat
   heksavalen berstruktur oktahedral, yang identik dengan bujur sangkar bipiramid. Contoh
   yang baik adalah belerang heksafluorida SF6. Dalam kasus senyawa heptavalen, situasinya
   sama dan strukturnya adalah pentagonal bipiramid.

   Ketika menggunakan teori ini, dalam senyawa yang strukturnya ditentukan pasangan
   elektron bebas harus diikutsertakan sebagai bagian pasangan elekron yang menentukan
   struktur. Misalnya untuk IF5 dan ICl4 hal ini sangat penting.




b) Struktur Segitiga Planar dengan bilangan koordinasi 3 pada kisi segitiga planar
   Bila teori VSEPR berlaku juga untuk senyawa dengan atom pusat trivalen seperti boron
   trikhlorida BCl3, sudut ikatan ∠Cl-B-Cl akan bernilai 120° dengan emapt atom itu berada
   dalam bidang yang sama. Struktur trigonal planar juga diamati di timah khlorida, SnCl3.
   Catat juga bahwa struktur segitiga juga diamati di etilena H2C=CH2, ion nitrat NO3 dan sulfur
   dioksida SO2.




   Keelektonegatifan

Afinitas elektron didefinisikan sebagai kalor reaksi saat elektron ditambahkan kepada atom
netral gas, yakni dalam reaksi.

F(g) + e¯ → F¯(g) (5.2)

Nilai positif mengindikasikan reaksi eksoterm, negatif menunjukkan reaksi endoterm. Karena
tidak terlalu banyak atom yang dapat ditambahi elektron pada fasa gas, data yang ada terbatas
jumlahnya dibandingkan jumlah data untuk energi ionisasi. Tabel 5.6 menunjukkan bahwa
afinitas elektron lebih besar untuk non logam daripada untuk logam.

Tabel 5.6 Afinitas elektron atom.



H               72,4            C                  122,5    F            322,3

Li              59,             O                  141,8    Cl           348,3

Na              54,0            P                  72,4     Br           324,2

K               48,2            S                  200,7    I            295,2



Besarnya kenegativan(elektron) yang didefinisikan dengan keelektronegatifan (Tabel 5.7), yang
merupakan ukuran kemampuan atom mengikat elektron. Kimiawan dari Amerika Robert
Sanderson Mulliken (1896-1986) mendefinisikan keelektronegativan sebanding dengan rata-rata
aritmatik energi ionisasi dan afinitas elektron.

Tabel 5.7 Keelektronegativitan unsur golongan utama elements (Pauling)

Pauling mendefinisikan perbedaan keelektronegativan antara dua atom A dan B sebagai
perbedaan energi ikatan molekul diatomik AB, AA dan BB. Anggap D(A-B), D(A-A) dan D(B-
B) adalah energi ikatan masing-masing untuk AB, AA dan BB. D(A-B) lebih besar daripada
rata-rata geometri D(A-A) dan D(B-B). Hal ini karena molekul hetero-diatomik lebih stabil
daripada molekul homo-diatomik karena kontribusi struktur ionik. Akibatnya, ∆(A-B), yang
didefinisikan sebagai berikut, akan bernilai positif:

    (A-B) = D(A-B) -√D(A-A)D(B-B) > 0 (5.3)

    (A-B) akan lebih besar dengan membesarnya karakter ionik. Dengan menggunakan nilai ini,
Pauling mendefinisikan keelektronegativan x sebagai ukuran atom menarik elektron.

|xA -xB|= √D(A-B) (5.4)
xA dan xB adalah keelektronegativan atom A dan B.

Apapun skala keelektronegativan yang dipilih, jelas bahwa keelektronegativan meningkat dari
kiri ke kanan dan menurun dari atas ke bawah. Keelketroegativan sangat bermanfaat untuk
memahami sifat kimia unsur.

Informasi lain yang bermanfaat dapat disimpulkan dari Tabel 5.7. Perbedaan keelektronegativan
antara dua atom yang berikatan, walaupun hanya semi kuantitatif, berhubungan erat dengan sifat
ikatan kimia seperti momen dipol dan energi ikatan..

Misalnya ada distribusi muatan yang tidak sama dalam ikatan A-B (xA > xB). Pasangan muatan
positif dan negatif ±q yang dipisahkan dengan jarak r akan membentuk dipol (listrik).

Arah dipol dapat direpresentasikan dengan panah yang mengarah ke pusat muatan negatif
dengan awal panah berpusat di pusat muatan positif. Besarnya dipol, rq, disebut momen dipol.
Momen dipol adalah besaran vektor dan besarnya adalah µ dan memiliki arah.

Besarnya momen dipol dapat ditentukan dengan percobaan tetapi arahnya tidak dapat. Momen
dipol suatu molekul (momen dipol molekul) adalah resultan vektor momen dipol ikatan-ikatan
yang ada dalam molekul. Bila ada simetri dalam molekul, momen dipol ikatan yang besar dapat
menghilangkan satu sama lain sehingga momen dipol molekul akan kecil atau bahkan nol.




C. PENUTUP

   KESIMPULAN

   Ikatan ionis atau ikatan kovalen adalah ikatan yang terbentuk karena adanya gaya
   elektrostatis antara ion ion yang berlawanan muatannya.

   Ionisasi potensial yang kecil, afinitas electron yang besar,dan energi kisi yang besar,
   merupakan faktor yang mempengaruhi terbentuknya senyawa ionis dari unsure-unsurnya.
Beberapa sifat senyawa ionis adalah dalam keadaan padat berbentuk Kristal, lelehan dan
larutannya dapat menghantarkan listrik, mempunyai titik leleh dan titik didih yang tinggi, dan
larutannya dalam pelarut polar.

Energi kisi dapat ditentukan melalui pendekatan matematis dengan memperhitungkan
antaraksi kesegala arah yang terdapat pada sel satuan Kristal, serta dengan cara Born-Haber
dengan menggunakan hukum Hess.

Panjang jari-jari ion ditentukan oleh gaya tarik antara muatan inti positif yang efektif dan
electron yang terdapat pada kulit terluar ion tersebut. Jarak antara ion positif dan ion negative
dalam kisi Kristal dapat ditentukan melalui eksperimen.

Pauling menentukan panjang jari-jari ion yang bermuatan tunggal dengan cara semiempiris
dengan mempergunakan senyawa – senyawa yang terdiri dari ion isoelektrik. Jari-jari ion
yang bermuatan ganda atau jari – jari Kristal dapat ditentukan dengan mempergunakan faktor
koreksi. Jari-jari ion berubah apabila bilangan koordinasi ion – ion dalam kisi kristalnya
berubah.

Bilangan koordinasi yang memungkinkan Kristal ionis menjadi stabil dengan struktur
tertentu, ditentukan oleh harga perbandingan ion positif dan ion negative.

Untuk menjelaskan senyawa kovalen yang mempunyai momen dipole, digunakan pengertian
keelektronegatifan unsure. Skala keelektronegatifan diperoleh dengan cara Pauling dan
dengan cara Mulliken.

Sifat atau karakter ion dari ikatan kovalen dapat ditentukan dengan mempergunakan skala
keelektronegatifan unsure-unsur yang membentuk ikatan.
                                      DAFTAR PUSTAKA

http://k12tiumb.blogspot.com/2009/09/struktur-molekul-sederhana-ikatan-ionik.html

http://risa.students-blog.undip.ac.id/2009/11/05/jari-jari-atomik-dan-ionik/

http://syamsiah-sunshine.blogspot.com/2009/10/ikatan-ion.html

http://wanibesak.wordpress.com/2010/09/22/kestabilan-senyawa-ionik-apakah-karena-
terpenuhinya-aturan-oktet/

http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/jari-jari-ionik/

								
To top