memaknai kewarganegaraan

Document Sample
memaknai kewarganegaraan Powered By Docstoc
					          TUGAS TERSTRUKTUR
     PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
 MEMAKNAI KEPAHLAWANAN DI ERA SEKARANG


                       DAFTAR ISI



Daftar Isi ………………………………………………………………… i

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………… 1

    A. Latar Belakang ….……………………………………………. 1

    B. Perumusan Masalah…………………………………………... 2



BAB II PEMBAHASAN...………………………………. …………….. 3

    Analisa …………….. …………………………………………… 3



BAB III Penutup .………………………………………………………. 9

    Kesimpulan………. ……………………………………………... 9

    Saran ……….……………………………………………………. 10



Daftar Pustaka ……………..…………………………………………….. 11
                                                      BAB I

                                              PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang
        Perkembangan globalisasi ditandai dengan kuatnya pengaruh lembaga-lembaga

kemasyarakatan internasional, negara-negara maju yang ikut mengatur pencaturan perpolitikan,

perekonomian, social budaya, dan pertahanan serta keamanan global. Kondisi ini akan

menumbuhkan berbagai konflik kepentingan, baik antara negara-negara maju dengan negara-

negara berkembang maupun antar sesama negara berkembang serta lembaga-lembaga

internasional. Di samping hal tersebut, adanya adanya isu global yang meliputi demokratisasi,

hak asasi manusia, dan lingkungan hidup turut pula mempengaruhi keadaan nasional.


        Untuk mengantisipasi perkembangan global ini diperlukan perjuangan non fisik sesuai

dengan profesi masing-masing yang dilandasi nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia sehingga

memiliki wawasan dan kesadaran bernegara, sikap dan prilaku cinta tanah air, mengutamakan

persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka bela negara demi tetap utuhnya negara kesatuan

republik Indonesia1.


        Setiap tahun bangsa kita selalu merayakan Hari Pahlawan pada 10 November untuk

mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun.

Kita sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang

cenderung bersifat seremonial, karena memang kita tidak ikut mengorbankan nyawa seperti para

pejuang di Surabaya pada waktu itu. Pada saat itulah kita mengenang jasa para pahlawan yang



1
 . Tim dosen mata kuliah pendidikan kewarganegaraan Universitas Jendral Soedirman, 2001, Pendidikan
kewarganegaraan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, hal 2.
telah bersedia mengorbankan harta dan nyawanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan

kemerdekaan.


      Akan tetapi kepahlawanan tidak hanya berhenti di sana. Dalam mengisi kemerdekaan pun

kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru

kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman.


   B. Perumusan Masalah


      Dari latar belakang diatas, dapat diambil perumusan masalah sebagai berikut:


      1. Apa makna kepahlawanan di era sekarang?

      2. Indikator apa yang dimiliki oleh mahasiswa untuk memiliki atribut kepahlawanan?
                                                        BAB II

                                                  PEMBAHASAN

       A. Analisa


           Perjuangan yang dilakukan terus menerus pada hakekatnya bertujuan untuk melenyapkan

penjajahan dari bumi Indonesia dan menghancurkan belenggu penjajahan itu. Perjuangan

tersebut mencapai titik puncak dan berhasil dengan baik yaitu mencapai kemerdekaan tanggal 17

Agustus 1945.


           Setelah bangsa Indonesia merdeka, sebagai generasi penerus, kita mempunyai hak,

kewajiban dan tanggung jawab yang tidak ringan. Oleh karena proklamasi kemerdekaan tanggal

17 Agustus 1945 adalah revolusi Pancasila, maka bengsa Indonesia wajib mengisi

kemerdekaannya berdasarkan Pancasila. Itulah sebabnya masyarakat yang kita dambakan tidak

dapat lain kecuali masyarakat yang berdasarkan Pancasila2.


           Tujuan masyarakat Pancasila dapat dideskripsikan sebagai masyarakat adil dan makmur,

metirial-spritual, duniawi-ukrowi, berdasarkan pancasila. Ciri-cirinya adalah cukup pangan ,

cukup sandang, cukup perumahan, cukup terjamin kesehatannya, cukup terjamin hari tuanya,

cukup terjamin pendidikannya, dan cukup terjamin kebutuhan rokhaninya.


           Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala

bidang kehidupan. Dalam konteks ini kita dapat mengisi makna Hari Pahlawan yang kita

peringati setiap tahun pada 10 November. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan,




2
    H. Sunyoto, 1984, Filsafat Sosial dan Politik Pancasila, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, hal 44
pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan

meningkatkan kesejahteraan rakyat.


       Banyak frasa dan istilah yang beredar bebas di masyarakat Indonesia dengan kata utama

„pahlawan‟. Mulai dari pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan, serta pahlawan tanpa tanda

jasa. Frasa dan istilah mengenai „pahlawan‟ seperti demikian memberikan pengaruh untuk

terciptanya banyak pandangan yang melengkapi kata „pahlawan‟ tersebut dengan atribut-atribut

tertentu. Kebiasaan masyarakat untuk menambahkan atribut sebagai bumbu dalam pemaknaan

kata „pahlawan‟ inilah yang kemudian memberikan pandangan masing-masing kepada setiap

pemberi kata pahlawan tersebut.


       Sebenarnya pemberian atribut pada kata „pahlawan‟ dapat kita cari. Hal ini dapat menjadi

sebuah nilai yang mungkin saja dapat merubah kepribadian masyarakat Indonesia saat ini

menjadi lebih baik dalam menghadapi hari-hari ke depan. Kita dapat menempatkan sebuah kata

menjadi dilihat dari pemaknaan bagi kata yang lain dengan mengambil intisari. Intisari yang

sebenarnya layak melekat pada kata „pahlawan‟ adalah pengorbanan, prestasi yang lebih besar

dibanding orang-orang seusianya, serta ketulusan untuk mengaktualisasikan diri.


       Pengorbanan memberikan rasa yang elegan pada kata „pahlawan‟. Hal ini meliputi

sebuah keinginan dan kesanggupan untuk mendahulukan kepentingan orang lain daripada

kepentingannya sendiri. Penanaman atribut pengorbanan pada „pahlawan‟ dapat menggerakkan

hati para pencari hakikat kepahlawanan hingga dengan konkrit diwujudkan dengan amal yang

tak lagi mempertimbangkan keuntungan pribadi.
       Kedua, atribut prestasi yang lebih besar dibandngkan orang seusianya memberikan

nuansa yang lebih. Nuansa yang lebih ini tidak membatasi orang untuk melakukan hal terbaik.

Semangat ini menyentuh titik sensitif dari jiwa seseorang untuk terus menerus melakukan

pembaruan pikiran dan memandang segala hal dengan lebih positif. Kegagalan tak akan menjadi

batu penghalang, namun sebagai batu pijakan untuk lebih menyempurnakan prestasi dan

kemudian bertekad untuk menjadi yang terbaik.


       Ketiga, atribut ketulusan untuk mengaktualisasikan diri menggambarkan tentang

putihnya cita-cita pahlawan. Pemaknaan seperti ini membentuk sebuah prinsip yang tinggi.

Dalam perspektif spiritual, ketulusan dapat membuka hati. Hal ini senantiasa memberikan

pengaruh yang sangat baik dalam mengembangkan potensi hati, akal, dan jasadnya sehingga

dapat mengoptimalkannya menjadi sebuah kekuatan dalam merubah lingkungannya ke arah yang

lebih baik.


       Makna lain kepahlawanan pada era sekarang dapat diisi dengan berbagai hal, satu

diantaranya adalah dengan pembangunan. Pembangunan dalam melanjutkan perjuangan

pahlawan bukan hanya dilakukan dengan cara membangun gedung pemerintahan atau prasarana

saja. Namun disertai dengan dibangunnya sikap dan pola berpikir warga negara yang merdeka

dan terarah pada perbaikan bangsa diwaktu yang akan datang. Membangun pola pikir warga

negara yang merdeka dan terarah dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa yang

ada, warga negara dapat membentengi dari berbagai pengaruh buruk yang datang dari luar

maupun dari dalam negeri. Oleh karena itu warga negara dapat mandiri dan selanjutnya Negara

dengan sendirinya dapat mencapai tujuan nasional yang telah tercantum dalam pembukaan

Undang-undang Dasar 1945 alinea IV.
       Sebagai penerus generasi bangsa, pemuda dituntut memiliki kecerdikan dilengkapi

ketekunan dalam selain itu, pemuda juga dituntut memiliki kreatifitas dalam setiap menyajikan

inovasi yang baru ia temukan. Pasalnya, krestifitas merupakan bagian syarat untuk

mempopulerkan hasil penemuannya. Negara yang maju adalah Negara yang memperhatikan

pemuda-pemudinya sebagai generasi penerus bangsa, pemuda merupakan aset berharga dalam

sebuah Negara.


       Dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 30 disebutkan “ tiap-tiap warga Negara berhak

dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan Negara”. Pasal ini mengartikan

bahwa setiap warga Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk mempertahankan pertahanan

dan keamanan Negara sesuai dengan kemampuan serta kelebihannya masing-masing.


   mahasiswa sangat berpotensi untuk menikmati kepahlawanannya. Atribut tentang pahlawan

di atas bisa dengan cukup mudah dimiliki mahasiswa. Hal ini bisa kita analisis melalui beberapa

indikator, yaitu:


   1. Idealisme. Mahasiswa masih memiliki pemikiran tentang gambaran ideal dan cenderung

       lebih dalam mengkritisi lingkungan sosialnya. Sehingga seringkali pendapatnya sangat

       kritis dan mendasar dalam menganalisa suatu permasalahan sosial. Pemikiran seperti ini

       merupakan kemurnian dari suatu keadaan yang sempurna bagaikan air yang murni dan

       jauh dari keinginan-keinginan oportunis dan egois. Dengan indikator ini, mahasiswa

       memiliki kemauan untuk memberikan pengorbanan.

   2. Kecerdasan. Kebanyakan mahasiswa memiliki taraf kecerdasan yang relatif lebih tinggi

       dibandingkan kelompok masyarakat yang lain. Hal ini menjadi sebuah jaminan yang kuat

       untuk mengandalkan solusi yang diberikan mahasiswa terhadap berbagai masalah sosial
      yang ada. Analisis seperti ini memberikan petunjuk kepada kita tentang bagaimana

      seorang mahasiswa dapat berprestasi dengan maksimal bahkan bisa menjadi yang terbaik

      dibanding orang seusianya.

   3. Kekuatan. Tidak disangsikan lagi bahwa mahasiswa memiliki kekuatan fisik yang besar.

      Pada tahap ini perkembangan fisik seorang mahasiswa hampir menyentuh titik

      optimalnya dibanding perkembangan sepanjang kehidupannya. Kekuatan ini memberikan

      kecemerlangan dari pemfungsian segala potensi dasar yaitu hati dan akal yang kemudian

      disempurnakan oleh jasad yang prima.


      Hal yang terpenting untuk merubah suatu bangsa adalah dengan bersatu. Kepahlawanan

dari mahasiswa takkan mampu bermanfaat dan dirasakan masyarakat luas jika potensi yang ada

pada tiap orang tidak disinergiskan. Seorang mahasiswa yang bersinergis dengan seorang

mahasiswa lain dapat menghasilkan tidak hanya dua kekuatan, bahkan tiga dan seterusnya.

Bayangkan saja jika mahasiswa seluruh Indonesia yang berjumlah jutaan berhasil membentuk

persamaan pemikiran dan perjuangan yang baik. Mulailah dari bermimpi dan bercita dan

kemudian membentuk pribadi dan lingkungan yang penuh dengan pengorbanan, prestasi, dan

keikhlasan sebagai pahlawan. Sebagai contoh Mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas

ditembak dalam perjuangan reformasi 1998 lalu adalah pahlawan, meskipun negara belum

menobatkan mereka sebagai pahlawan.


      Memang tidak mudah untuk menjadi pahlawan. Mungkin lebih mudah bagi kita menjadi

pahlawan bakiak, yaitu suami yang patuh (takut) kepada istrinya. Atau menjadi pahlawan

kesiangan, yakni orang yang baru mau bekerja (berjuang) setelah peperangan (masa sulit)
berakhir atau orang yang ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah

peperangan selesai menyatakan diri pejuang.


       Setiap tanggal 10 November kita merayakan Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para

pejuang pada masa silam. Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri

untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara

yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang.
                                          BAB III


                                         PENUTUP


A. Simpulan


  Dari analisa diatas dapat diambil simpulan sebagai berikut:


  1. Intisari yang sebenarnya layak melekat pada kata „pahlawan‟ adalah pengorbanan,

     prestasi yang lebih besar dibanding orang-orang seusianya, serta ketulusan untuk

     mengaktualisasikan diri.

  2. Sebagai penerus generasi bangsa, pemuda dituntut memiliki kecerdikan dilengkapi

     ketekunan dalam selain itu, pemuda juga dituntut memiliki kreatifitas dalam setiap

     menyajikan inovasi yang baru ia temukan. Pasalnya, krestifitas merupakan bagian

     syarat untuk mempopulerkan hasil penemuannya.

  3. Dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 30 disebutkan “ tiap-tiap warga Negara

     berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan Negara”. Pasal ini

     mengartikan bahwa setiap warga Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk

     mempertahankan pertahanan dan keamanan sesuai dengan kemampuan serta

     kelebihannya masing-masing.

   4. mahasiswa sangat berpotensi untuk menikmati kepahlawanannya. Ketiga atribut

      tentang pahlawan di atas bisa dengan cukup mudah dimiliki mahasiswa. Hal ini bisa

      kita analisis melalui beberapa indikator, yaitu: Idealisme, Kecerdasan dan Kekuatan.
      B. Saran


          Sebenarnya makna kepahlawanan adalah suatu perbuatan yang berguna, baik untuk

keluarga, masyarakat, maupun negara. Akan tetapi kepahlawanan yang dibutuhkan sekarang

adalah bagaimana usaha seseorang atau generasi sekarang dapat merubah kultur yang salah baik

dari segi aparatur maupun masyarakatnya dan membina generasi berikutnya agar tidak mengikuti

pendidikan dan gaya hidup yang salah. Karena pada dasarnya kesemerawutan yang terjadi

sekarang adalah kesalahan pemberian pendidikan (dalam arti luas) oleh generasi tua yang pada

akhirnya diikuti oleh generasi berikutnya. Pepatah mengatakan Petani salah menanam padi,

mungkin akan merugi satu musim, tetapi salah menanam generasi akan berimbas pada tiga

generasi berikutnya3




3
    Kuat Puji Prayitno, 2008, disampaikan pada perkuliahan kewaganegaraan Fakultas Hukum Unsoed
                                       DAFTAR PUSTAKA


       Tim Dosen Kewarganegaraan Unsoed . 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Universitas

Jendral Soedirman: Puwokerto.


       Pamuji, S. 1985. Demokrasi Pancasila dan Ketahanan Nasional. Bina Aksara; Jakarta.


       Sunoto, H. 1989. Filsafat Sosial dan Politik Pancasila. Andi Ofset: Yogyakarta.


       Bakry, N. 1991. Pancasila Yuridis Kenegaraan. Liberty: Yogyakarta.


       Wibajosoebroto, S. Dari hukum Kolonial Ke Hukum Nasional . Raja Grafindo Persada:

Jakarta.


       Undang-undang Dasar 1945 Setelah Amandemen ke IV.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Makalah
Stats:
views:191
posted:11/15/2010
language:Indonesian
pages:12