BATIK SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL by AgusSoekoen

VIEWS: 5,756 PAGES: 24

									                 BATIK SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL


PENDAHULUAN
         Dewasa ini, masyarakat dunia dapat mengenali orang Indonesia, salah satunya
dari pakaian batik yang dikenakannya. Batik menjadi salah satu identitas bangsa
Indonesia yang juga telah diakui secara luas oleh masyarakat dunia.
         Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya.
Agar dapat memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas
Nasional Indonesia. Identitas berarti ciri-ciri, sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal
sehingga menunjukkan suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain.
Nasional berasal dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan
komunitas sosio-kultural tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi
bersama. Jadi, yang dimaksud dengan Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau
sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di
dunia.
         Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki beranekaragam sosial
budaya, yang satu sama lain berbeda serta memiliki ciri dan karakteristik sendiri.
Keragaman budaya tersebut meliputi etnik, agama, bahasa, adat istiadat, dan sebagainya
yang merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya. Keragaman ini diikat
oleh"Bhinneka Tunggal Ika', di dalam suatu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Batik adalah warisan budaya Bangsa Indonesia yang adiluhung. Hampir setiap daerah di
Indonesia memiliki seni dan motif batiknya sendiri.


PEMBAHASAN
Pengertian Identitas Nasional
Istilah identitas nasional dapat disamakan dengan identitas kebangsaan. Secara
etimologis, identitas nasional berasal dari kata “identitas” dan “ nasional”. Kata identitas
berasal dari bahasa Inggris identity yang memiliki pengertian harfiah; ciri, tanda atau jati
diri yang melekat pada seseorang, kelompok atau . sesuatu sehingga membedakan dengan
yang lain. Kata “nasional” merujuk pada konsep kebangsaan. Kata identitas berasal dari
bahasa Inggris identiti yang memiliki pengerian harfiah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri
yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Jadi,
pegertian Identitas Nsaional adalah pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, filsafat
pancasila dan juga sebagai Ideologi Negara sehingga mempunyai kedudukan paling
tinggi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk disini adalah tatanan
hukum yang berlaku di Indonesia, dalam arti lain juga sebagai Dasar Negara yang
merupakan norma peraturan yang harus dijnjung tinggi oleh semua warga Negara tanpa
kecuali “rule of law”, yang mengatur mengenai hak dan kewajiban warga Negara,
demokrasi serta hak asasi manusia yang berkembang semakin dinamis di Indonesia.
Identitas Nasional Indonesia :
   1. Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia
   2. Bendera negara yaitu Sang Merah Putih
   3. Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya
   4. Lambang Negara yaitu Pancasila
   5. Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika
   6. Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila\
   7. Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945
   8. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
   9. Konsepsi Wawasan Nusantara\
   10. Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional
   11. Pakaian nasional adalah Batik


Unsur-Unsur Identitas Nasional
Unsur-unsur pembentuk identitas yaitu:
   1. Suku bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada
       sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di
       Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak
       kurang 300 dialeg bangsa.
   2. Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-
       agama yan tumbuh dan berkembang di nusantara adalah agama Islam, Kristen,
       Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Agama Kong H Cu pada masa orde baru
       tidak diakui sebagai agama resmi negara. Namun sejak pemerintahan presiden
       Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara dihapuskan.
   3. Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk social yang isinya
       adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif
       digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami
       lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagi rujukan dan pedoman untuk
       bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan
       lingkungan yang dihadapi.
   4. Bahasa: merupakan unsure pendukung Identitas Nasonal yang lain. Bahsa
       dipahami sebagai system perlambang yang secara arbiter dientuk atas unsure-
       unsur ucapan manusia dan yang digunakan sebgai sarana berinteraksi antar
       manusia.
   Dari unsur-unsur Identitas Nasional tersebut dapat dirumuskan pembagiannya
   menjadi 3 bagian sebagai berikut :
       ·    Identitas Fundamental, yaitu pancasila merupakan falsafah bangsa, Dasar
            Negara, dan Ideologi Negara
       ·    Identitas Instrumental yang berisi UUD 1945 dan tata perundangannya,
            Bahasa Indonesia, Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan
            “Indonesia Raya”.
       ·    Identitas Alamiah, yang meliputi Negara kepulauan (Archipelago) dan
            pluralisme dalam suku, bahasa, budaya, dan agama, serta kepercayaan.


Perlu diruuskan oleh suku-suku tersebut. Istilah Identitas Nasional secara terminologis
adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan
bangsa tersebut dengan bangsa lain. Eksistensi suatu bangsa pada era globalisasi yang
sangat kuat terutama karena pengaruh kekuasaan internasional. Menurut Berger dalam
The Capitalist Revolution, era globalisasi dewasa ini, ideology kapitalisme yang akan
menguasai dunia. Kapitalisme telah mengubah masyarakat satu persatu dan menjadi
sistem internasional yang menentukan nasib ekonomi sebagian besar bangsa-bangsa di
dunia, dan secara tidak langsung juga nasib, social, politik dan kebudayaan. Perubahan
global ini menurut Fakuyama membawa perubahan suatu ideologi, yaitu dari ideologi
partikular kearah ideology universal dan dalam kondisi seperti ini kapitalismelah yang
akan menguasainya. Dalam kondisi seperti ini, negara nasional akan dikuasai oleh negara
transnasional yang lazimnya didasari oleh negara-negara dengan prinsip kapitalisme.
Konsekuensinya, negara-negara kebangsaan lambat laun akan semakin terdesak. Namun
demikian, dalam menghadapi proses perubahan tersebut sangat tergantung kepada
kemampuan bangsa itu sendiri. Menurut Toyenbee, cirri khas suatu bangsa yang
merupakan local genius dalam menghadapi pengaruh budaya asing akan menghadapi
Challence dan response. Jika Challence cukup besar sementara response kecil maka
bangsa tersebut akan punah dan hal ini sebagaimana terjadi pada bangsa Aborigin di
Australia dan bangfsa Indian di Amerika. Namun demikian jika Challance kecil
sementara response besar maka bangsa tersebut tidak akan berkembang menjadi bangsa
yang kreatif. Oleh karena itu agar bangsa Indonesia tetap eksis dalam menghadapi
globalisasi maka harus tetap meletakkan jati diri dan identitas nasional yang merupakan
kepribadian bangsa Indonesia sebagai dasar pengembangan kreatifitas budaya globalisasi.
Sebagaimana terjadi di berbagai negara di dunia, justru dalam era globalisasi dengan
penuh tantangan yang cenderung menghancurkan nasionalisme, muncullah kebangkitan
kembali kesadaran nasional.


Faktor-Faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional
   1. Faktor-faktor yang mendukung kelahiran identitas nasional bangsa Indonesia
       meliputi:
       · Faktor Objektif, yang meliputi faktor geografis-ekologis dan demografis
       · Faktor Subjektif, yaitu faktor historis, social, politik, dan kebudayaan yang
       dimiliki bangsa Indonesia (Suryo, 2002)
       Menurut Robert de Ventos, dikutip Manuel Castelles dalam bukunya “The Power
       of Identity” (Suryo, 2002), munculnya identitas nasional suatu bangsa sebagai
       hasil interaksi historis ada 4 faktor penting, yaitu:
              Faktor primer, mencakup etnisitas, territorial, bahasa, agama, dan yang
               sejenisnya.
              Faktor pendorong, meliputi pembangunan komunikasi dan teknologi,
               lahirnya angkatan bersenjata modern dan pembanguanan lainnya dalam
               kehidupan bernegara.
              Faktor penarik, mencakup modifikasi bahasa dalam gramatika yang resmi,
               tumbuhnya birokrasi, dan pemantapan sistem pendidikan nasional
              Faktor reaktif, pada dasarnya tercakup dalam proses pembentukan
               identitas nasional bangsa Indonesia yang telah berkembang dari masa
               sebelum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dari penjajahan bangsa
               lain.
              Faktor pembentukan Identitas Bersama. Proses pembentukan bangsa-
               negara membutuhkan identitas-identitas untuk menyataukan masyarakat
               bangsa yang bersangkutan. Faktor-faktor yang diperkirakan menjadi
               identitas bersama suatu bangsa, yaitu
                    Primordial
                    Sakral
                    Tokoh
                    Bhinneka Tunggal Ika
                    Sejarah
                    Perkembangan Ekonomi
                    Kelembagaan


BATIK
       Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa
mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan
menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur
internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain
atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif
tertentu yang memiliki kekhasan.
       Batik sempat diklaim milik negara tetangga, Malaysia. Namun pada akhirnya,
kain khas Indonesia itu diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia. Proses
pengukuhan batik Indonesia cukup panjang, berawal pada 3 September 2008 yang
kemudian diterima secara resmi oleh UNESCO pada tanggal 9 Januari 2009. Tahap
selanjutnya adalah pengujian tertutup oleh UNESCO di Paris pada tanggal 11 hingga 14
Mei 2009.
       Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan
motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan
Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and
Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. [1] yang dilaksanakan di di Abu
Dhabi, Uni Emirat Arab.
       Untuk merayakan keberhasilan itu, lanjut dia, Presiden Yudhoyono mengimbau
kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenakan pakaian batik demi
penghargaan terhadap kebudayaan Indonesia tersebut. Presiden menyampaikan untuk
memelihara itu. Menbudpar sendiri telah memberikan jaminan bahwa batik akan terus
dibudayakan di Indonesia.
       Warisan budaya tak benda kemanusiaan merupakan satu dari tiga daftar yang
dibuat di bawah Konvensi UNESCO 2003 mengenai Perlindungan Warisan Budaya Tak
Benda untuk Kemanusiaan.Sejak 2008, pemerintah telah melakukan penelitian lapangan
dan melibatkan komunitas serta ahli batik di 19 provinsi di Indonesia untuk
menominasikan batik sebagai warisan budaya tak benda kemanusiaan dari UNESCO.
       Menurut Menko Kesra, UNESCO menilai batik sebagai ikon budaya bangsa yang
memiliki keunikan serta simbol dan filosofi yang mendalam mencakup siklus kehidupan
manusia. Batik bukan hanya dianggap budaya yang berasal dari Indonesia, tetapi diakui
sebagai satu representasi dari budaya tak benda dari kemanusiaan.
       Sebagai kain tradisional, batik kaya akan nilai budaya sebagai kerajinan
tradisional yang diwarisi secara turun temurun.Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero
Wacik mengatakan, sejak 2003 kebudayaan Indonesia telah diakui oleh UNESCO dengan
diraihnya sertifikat wayang sebagai warisan budaya tak benda dan keris sebagai warisan
budaya dunia dari Indonesia.
       Sebagaimana telah ditunggu-tunggu rakyat Indonesia, pada 2 Oktober 2009
UNESCO mengukuhkan Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia (World Culture
Heritage). Bentuk sukacita rakyat Indonesia diperagakan dalam berbagai bentuk, berupa
pengenaan busana batik pada hampir seluruh aktifitas, baik di perkantoran, dipanggung-
panggung hiburan, para presenter di layar televisi, bahkan ada yang melakukan sepeda
santai berbatik. Sebelumnya keris dan wayang telah mendapat pengakuan sebagai
warisan budaya dunia tak benda asal Indonesia.
       Rakyat Indonesia spontan berbondong-bondong mengenakan batik sebagai bentuk
apresiasi dalam mempertahankan jati diri budaya bangsa akibat klaim beberapa budaya
Indonesia oleh Negara Malaysia. Sebelumnya Malaysia telah mengklaim Reog Ponorogo,
Tari Pendet, termasuk Batik sebagai budaya Malaysia. Spontanitas rakyat Indonesia
berbusana batik sudah diinformasikan beberapa bulan sebelumnya dalam berbagai media
massa, dan media komunitas seperti milis, email, facebook, twitter, plurk, tagged dan
media jejaring sosial lainnya sebagai ekspresi patriotik untuk disajikan ke hadapan dunia.
Konsekwensi mendaftarkan batik sebagai warisan budaya dunia berarti bangsa Indonesia
telah ikhlas membagi salah satu warisan budaya bangsanya untuk seluruh umat manusia
di dunia. Dengan demikian, batik sudah berubah dari Permission Culture menjadi Free
Culture karena menjadi Warisan Budaya Dunia secara eksplisit maupun implisit
menghilangkan hak privilege atas batik. Konsekwensinya setiap orang berhak
menggunakan batik tanpa harus meminta izin pada negara atau badan apapun karena
telah kembali ke kodratnya sebagai Free Culture. Maka disini berlaku hukum “Ce qui
appartient à tous appartient à personne”.


Budaya Rakyat
       Batik sebagai produk budaya rakyat Indonesia lebih banyak berpusat di Jawa
dengan titik pusat pada Jogja, Solo dan Pekalongan. Ketiganya memiliki ciri khas batik
masing-masing, seperti batik Jogja berlatarbelakang putih, batik Solo berlatar belakang
kuning, sedang batik Pekalongan lebih beraneka warna (colorfull) karena pengaruh
budaya pesisir yang banyak bergaul dengan dunia luar. Akibat akulturasi budaya,
batikpun tak lepas dari pengaruh dari luar sehingga mempengaruhi corak batik. Pengaruh
Tionghoa pada batik terletak pada corak merah dan corak Phoenix sedang pengaruh
Eropa yang pernah menjajah bumi nusantara terletak pada corak bebungaan dan
kecenderungan pada warna biru.. Meski demikian batik tradisonal tetap mempertahankan
coraknya karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing
dan mengandung nilai-nilai tertentu sehingga masih sering dipakai dalam upacara-
upacara                                     adat                                    Jawa.
Dilihat dari prosesnya, Batik dibedakan atas batik tulis dan batik cap. Batik tulis adalah
kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Lama
pembuatannya sekitar dua hingga tiga bulan. Sedang batik cap adalah kain yang dihias
dengan teksture dan corak batik dibentuk dengan cap. Proses pembuatannya memakan
waktu         hanya          sekitar         dua         hingga          tiga        hari.
Batik tulis biasanya lebih halus sehingga harganya lebih mahal daripada batik cap yang
dicetak. Batik sangat erat berhubungan dengan desain, motif dan proses pembuatannya
serta perawatannya yang menggunakan Lerak sehingga aroma Batik selalu khas; seluruh
prosesnya merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Batik bisa menggunakan
kain sutra atau kain tenun. Namun pada umumnya menggunakan kain tenun yang
diproses dengan parafin dan dirawat menggunakan lerak. Batik tulis halus merupakan
mahakarya maestro batik. Batik jenis ini hanya dapat dijangkau kalangan bangsawan dan
borjuis.
Meski batik cap mendominasi pasar karena harganya yang murah, bagi perajin batik
menganggap membatik bukanlah pekerjaan mudah. Batik cap biasanya diproduksi mesin
cetak secara missal sehingga berharga murah dan dinilai rendah kualitasnya. Tiap motif
mempunyai tata cara berbeda untuk mencantingnya, tidak asal memasang canting diatas
kain. Karena itu batik memiliki nilai tinggi dan keunikan tersendiri sehingga layak
menjadi warisan dunia. Batik cap juga memiliki aturan dalam pembuatannya karena
terkait dengan nilai yang telah diturunkan dari nenek moyang saat hendak membatik.
Keunikan pakem batik inilah yang tetap dipertahankan dan dilestarikan dalam keluarga
para perajin batik dalam proses transfer of knowledge secara turun temurun.
Merujuk pada Wikipedia, kata “batik” berasal dari bahasa Jawa “amba” dan “nitik” yang
berarti menulis. Menulis atau membatik merujuk pada teknik pembuatan corak dengan
menggunakan canting atau cap sedang pencelupan kain menggunakan bahan perintang
warna corak malam (wax) yang berfungsi menahan masuknya bahan pewarna. Teknik
semacam ini sering disebut dengan istilah wax-resist dyeing. Teknik inipun hanya bisa
digunakan pada kain dari serat alami seperti sutra, wol, katun dan tidak bisa dipakai
diatas kain serat buatan (polyester). Kain yang pembuatannya tidak menggunakan teknik
ini dan biasanya dibuat melalui teknik cetak (print) disebut bukan kain batik. Apalagi
batik yang didesaign menggunakan komputer yang disebut batik fraktal, bukanlah jenis
batik     jika      merujuk       pada      makna        batik         yang     sebenarnya.




Sejarah teknik batik




Tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok
Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah
salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah
dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang
juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan
di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode
Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria,
serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada
semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad
XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik
cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah
tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan
                                                          [2]
dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7.             Di sisi lain, J.L.A. Brandes
(arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik
adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa
wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui
memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di
Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk
dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di
Jawa pada masa sekitar itu.[4]
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana
Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar
mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap
lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain
itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu
membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa
penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of
Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur
Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar
Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat
berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah
batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle
di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik
jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional
yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut
batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga
membawa batik bersama mereka.


       Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan
Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan,
pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian
pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta. Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah
dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-
raja berikutnya. Meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia (khususnya
suku Jawa) mulai akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19.
       Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi
salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik
dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan
keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal di
luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan
di tempatnya masing-masing.
       Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas
menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang.
Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga keraton, kemudian menjadi
pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Zaman Majapahit
       Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di
daerah Mojokerto dan Tulunggung. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian
terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo. Pada saat
bekembangnya kerajaan Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati
Kalang yang tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.
       Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati,
Adipati Kalang tewas dalam pertempuran di sekitar desa yang sekarang bernama
Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit
yang menetap dan tinggal di wilayah Bonorowo (sekarang Tulungagung) antara lain juga
membawa kesenian membuat batik asli. Ciri khas batik Kalangbret hampir sama dengan
batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda
dan biru tua.
       Saat berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-
pasukan pangeran Diponegoro, sebagian dari pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke
arah timur (sekarang bernama Majan). Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman
kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala
desanya seorang kiyai yang statusnya tirun-temurun. Pembuatan batik Majan ini
merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.
Zaman Penyebaran Islam
       Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo. Seni batik
di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-
kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan
Majapahit yang namanya Raden Katong (adik dari Raden Patah). Batoro Katong inilah
yang membawa agama Islam ke Ponorogo yang salah satu petilasannya adalah masjid di
daerah Patihan Wetan.
       Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan keraton. Oleh karena putri
keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti
oleh pengiring-pengiringnya. Di samping itu banyak pula keluarga keraton Solo belajar di
pesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari keraton menuju ke
Ponorogo.
       Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia I yang
dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal
abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya
pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan
kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo.
Pembatikan di Jakarta
       Pembatikan di Jakarta dikenal dan berkembang bersamaan dengan daerah-daerah
pembatikan lainnya, yaitu kira-kira akhir abad ke-19. Pembatikan ini dibawa oleh
pendatang-pendatang dari Jawa Tengah yang bertempat tinggal di daerah-daerah
pembatikan. Daerah pembatikan yang dikenal di Jakarta tersebar di dekat Tanah Abang,
yaitu: Karet, Bendungan Ilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan
serta Tebet.
       Sejak zaman sebelum Perang Dunia I (PD I), Jakarta telah menjadi pusat
perdagangan antar daerah di Indonesia. Setelah PD I (saat proses pembatikan cap mulai
dikenal), produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah
pemasaran baru. Daerah pemasaran untuk tekstil dan batik di Jakarta yang terkenal ialah:
Tanah Abang, Jatinegara dan Jakarta Kota. Batik-batik produksi daerah Solo, Yogya,
Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon serta
lain-lain daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang. Dari sini baru dikirim ke daerah-daerah
di luar Jawa.
       Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Jakarta, khususnya Tanah
Abang, dan juga bahan-bahan baku batik diperdagangkan di tempat yang sama, maka
timbul pemikiran dari pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di
Jakarta. Tempat yang dipilih berdekatan dengan Tanah Abang. Pengusaha-pengusaha
batik yang muncul sesudah PD I, terdiri dari bangsa Cina, dan buruh-buruh batiknya
didatangkan dari daerah-daerah pembatikan Pekalongan, Yogya, dan Solo.
       Selain dari buruh batik luar Jakarta itu, diambil pula tenaga-tenaga setempat di
sekitar daerah pembatikan sebagai pembantunya. Melihat perkembangan pembatikan ini
membawa lapangan kerja baru, maka penduduk asli daerah tersebut juga membuka
perusahaan-perusahaan batik. Motif dan proses batik Jakarta sesuai dengan asal buruhnya
didatangkan yaitu: Pekalongan, Yogya, Solo, dan Banyumas.
Pembatikan di Luar Jawa
       Dari Jakarta, yang menjadi tujuan pedagang-pedagang di luar Jawa, batik
kemudian berkembang di seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar
Jawa. Sumatera Barat (khususnya daerah Padang) adalah daerah yang jauh dari pusat
pembatikan di kota-kota Jawa, tetapi pembatikan bisa berkembang di daerah ini.
       Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum PD I,
terutama batik-batik produksi Pekalongan, Solo, dan Yogya. Di Sumatera Barat yang
berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal tenun Silungkang
dan tenun Plekat. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang.
Sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa waktu pendudukan Jepang,
persediaan batik yang ada pada pedagang batik sudah habis. Ditambah lagi setelah
kemerdekaan Indonesia, hubungan antara kedua pulau bertambah sulit. Semua ini akibat
blokade-blokade Belanda. Maka pedagang-pedagang batik yang biasa berhubungan
dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri.
       Dengan hasil karya sendiri dan penelitian yang seksama, dari batik-batik yang
dibuat di Jawa, ditirulah pembuatan pola-polanya dan diterapkan pada kayu sebagai alat
cap. Obat-obat batik yang dipakai juga hasil buatan sendiri yaitu dari tumbuh-tumbuhan
seperti mengkudu, kunyit, gambir, dammar, dan sebagainya. Bahan kain putihnya
diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama
muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain;
Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh
tahun 1948 Sdr. Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab.
       Setelah Padang serta kota-kota lainnya menjadi daerah pendudukan tahun 1949,
banyak pedagang batik membuka perusahaan/bengkel batik dengan bahannya diperoleh
dari Singapura melalui pelabuhan Padang dan Pakanbaru. Tetapi, setelah hubungan
dengan pulau Jawa mulai terbuka kembali, mereka kembali berdagang dan
perusahaannya kemudian mati.


Batik Sebagai Budaya Nasional
       Menilik dari sejarahnya, batik telah mengakar dalam sejarah bangsa Indonesia.
Batik tidak hanya tumbuh dan berkembang di pulai Jawa, tetapi juga di luar pulai Jawa
seperti Padang di pulau Sumatera.
       Corak dan motif batik yang sangat beragam, menunjukkan kekhasan masing-
masing daerah. Motif-motif tersebut tidak hanya menjadi ciri khas daerah, tetapi juga
menjadi simbol budaya daerah tersebut. Di Jawa Timur saja, misalnya, motif dan warna
dasar batik Surabaya, berbeda dengan batik Malang atau Mojokerto. Motif-motif batik
Surabaya mewakili budaya Surabaya sebagai daerah pesisir, sementara batik Malang
tentu saja menggambarkan budaya masyarakat Malang yang sejuk.
       Batik telah mendarah daging dalam perjalanan bangsa Indonesia. Maka wajar jika
kemudian kita marah, bahkan sangat geram, terhadap klaim Malaysia atas batik kita (dan
juga klaim Malaysia atas kebudayaan kita yang lain, misalnya tari pendet, angklung,
reog, lagu rasasayange, dan sebagainya).


Mempatenkan Batik
       Menurut undang-undang nomor 14 tahun 2001 tentang Paten, Paten adalah hak
eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada inventor atas hasil penemuannya di bidang
teknologi. Paten diberikan untuk selama waktu tertentu karena melaksanakan sendiri
penemuannya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk
melaksanakannya.
       Kita sambut gembira masuknya batik Indonesia dalam 76 warisan budaya
nonbenda dunia. Hal ini memiliki makna bahwa kita telah mempatenkan batik sebagai
warisan budaya Indonesia. Meskipun dari 76 seni dan budaya warisan dunia yang diakui
Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Indonesia
hanya menyumbangkan satu, sementara China 21 dan Jepang 13 warisan. Jumlah ini
jangan menyurutkan rasa gembira dan rasa syukur kita.
        Semangat untuk mempatenkan motif batik di daerah-daerah harus terus didorong.
Teringatlah kita kepada Malaysia. Demi memiliki identitas, negara itu gencar mengklaim
batik, reog, tari pendet, beberapa judul lagu, dan angklung sebagai milik sendiri. Kita
desak Malaysia meminta maaf. Dengan bermacam dalih, mereka meminta maaf
walaupun pada saat bersamaan terus mencari celah kelalaian kita. Jajak pendapat Kompas
(31/8/2009) menunjukkan reaksi keras atas dipakainya simbol-simbol kebudayaan lokal
Indonesia dalam iklan pariwisata Malaysia. Kita bangga atas kekayaan budaya kita,
sebaliknya kita tidak mengenali dan memanfaatkannya.
        Kata kuncinya kelalaian. Kita lalai tidak mengenal budaya sendiri, alih-alih
mengurus hak kekayaan intelektual dan hak cipta. Sementara Malaysia, yang bangga atas
kemajuan ekonomi, bermasalah ketika tidak memiliki identitas budaya. Padahal sebuah
bangsa menjadi besar jika memiliki identitas yang kuat. Untuk menghindarkan klaim
negara lain terhadap produk budaya nasional, Indonesia perlu segera mematenkannya di
lembaga internasional. Kalau lalai, negara lain seperti Malaysia akan mengklaimnya
sebagai produk budaya mereka.
        Contoh-contoh di atas menunjukkan urgensi dan perlu proaktifnya pendataan dan
perlindungan hak cipta atas karya pribadi dan hak paten atas karya komunal. Kalau lalai,
tidak saja kekayaan budaya hilang, bahkan berakibat buruk hilangnya identitas budaya
kita.
        Prosedur yang ditempuh untuk pengakuan itu dilakukan sesuai Konvensi Unesco
tahun 2003 tentang Warisan Budaya Tak Benda. Konvensi Unesco tersebut telah
diratifikasi oleh pemerintah melalui PP Nomor 78 Tahun 2007 dan, terhitung 15 Januari
2008, Indonesia resmi menjadi Negara Pihak Konvensi. Dengan demikian, Indonesia
berhak menominasikan mata budayanya untuk dicantumkan dalam daftar representatif
Unesco.
        UU. Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta menjamin perlindungan hak
kekayaan intelektual komunal ataupun personal. Daerah diberi kebebasan mendaftarkan
agar mendapat perlindungan sebagai kekayaan budaya bangsa. Upaya itu sudah
dilakukan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Pemprov Bali.
DIY menyangkut batik gaya Yogyakarta, sedangkan Bali terkati dengan tarian dan
tetabuhan musik. Dalam UU ini, hak cipta didefinisikan sebagai, "Hak eksklusif bagi
pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau
memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku" (pasal 1 ayat 1).


Budaya batik




Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik. Batik motif parang yang
dipakai Kartini adalah pola untuk para bangsawan
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari
budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa
lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian,
sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai
ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.
Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis
maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa
daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang
kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik
dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik
tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.




Batik Cirebon bermotif mahluk laut
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih
ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang
pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Batik dipakai untuk membungkus seluruh tubuh oleh penari Tari Bedhoyo Ketawang di
keraton jawa.
[sunting] Corak batik
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik
memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai
oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti
para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti
merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa
penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak
bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda
yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna
kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya,
dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak
memiliki perlambangan masing-masing.
[sunting] Baju Batik di Indonesia
Pada awalnya baju batik kerap dikenakan pada acara acara resmi untuk menggantikan jas.
Tetapi dalam perkembangannya apda masa Orde Baru baju batik juga dipakai sebagai
pakaian resmi siswa sekolah dan pegawai negeri (batik Korpri) yang menggunakan
seragam batik pada hari Jumat. Perkembangan selanjutnya batik mulai bergeser menjadi
pakaian sehari-hari terutama digunakan oleh kaum wanita. Pegawai swasta biasanya
memakai batik pada hari kamis atau jumat.
[sunting] Baju batik Indonesia juga dikenakan di Malaysia
Setiap hari Kamis, semua pegawai negeri lelaki di Malaysia diharuskan memakai baju
batik mulai 17 Januari 2008. Ketua Pengarah Jabatan Perkhidmatan Awam Tan Sri Ismail
Adam telah membagikan kepada semua jabatan kerajaan.
Sebelum ini peraturan memakai baju batik hanya pada hari Sabtu saja. Kemudian diubah
kepada hari ke-1 dan hari ke-15 setiap bulan.
[sunting] Cara pembuatan
Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang
dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera,
poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin
dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk
motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah
dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai
dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna
lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik
dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.
[sunting] Jenis batik




Pembuatan batik cap
[sunting] Menurut teknik
      Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan
       tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
      Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk
       dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini
       membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
[sunting] Menurut asal pembuatan
Batik Jawa
       batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya
       daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa
       mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi
       dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah
       gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka,
        yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa
        banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.




                                         Batik     Buketan       asal
                    Batik Jawa Hokokai
Batik Tiga Negeri                        Pekalongan dengan desainBatik Buketan
                    1942-1945
                                         pengaruh Eropa




Batik Lasem


Batik                                                                           Fraktal
Batik fractal adalah seni membatik melalui pola yang diformulasikan dalam rumus
matematika dengan menggunakan teknologi komputer. Batik fraktal pertama kali
diperagakan dihadapan publik oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto
Kadiman pada Ritech Expo 2009 (09/08). Desain batik fraktal menggunakan computer
CAD (computer aided design) cukup dengan memasukkan sederet angka dan huruf untuk
menghasilkan gambar sekuntum melati. Lalu mengubah sedikit rumusan itu dan
menggandakan berlipat kali di sekeliling gambar asal kemudian dihasilkan suatu corak
batik. Kadiman juga memperkenalkan canting elektrik yang mampet hingga tak
memerlukan tiupan pada ujungnya untuk mengatasi kebuntuan lubang keluarnya tinta.
Sebenarnya Batik Fraktal secara khusus menyangkut motif atau disain dengan
menggunakan formulasi matematik. Sementara berbagai motif atau disain Batik yang
sudah ada bisa diturunkan formulasinya dan bisa pula menurunkan disain lain dengan
mudah dengan cara mengganti parameternya. Langkah Kadiman mensosialisasikan batik
fraktal agar mampu memperluas segmen penggemar di masyarakat luas hingga ke manca
negara, bukan untuk meremehkan atau menafikkan ketrampilan para perajin batik.
Pengenalan batik fraktal kepada publik dengan menggunakan teknologi komputer dapat
berguna sebagai alat bantu baru dalam mempermudah kreasi motif-motif baru dan
memperkaya motif batik yang sudah ada. Batik fraktal tidak bermaksud mengganti alat
membatik yang sudah dikenal seperti kompor kecil sebagai alat menghangatkan cairan
malam (wax). Bila hasil batik fraktal belum memuaskan, maka tugas para perancang
perangkat lunak (software) batik fraktal untuk memperbaiki karyanya sehingga dapat
berguna   membantu         mendapatkan     motif-motif    baru     bagi   para   perajin   batik.
Penemuan software batik fraktal dapat membantu para desaigner untuk mengekspresikan
idenya agar dapat menuangkannya secara lebih cepat dan lebih baik dibandingkan bila
dilakukan secara manual. Disini terjadi penyatuan ilmu pengetahuan dan seni sehingga
teknologi dapat berfungsi sebagai alat bantu menyusun imajinasi kreasi batik secara
cepat. Desain diatas Corel 3 D membantu simulasi pencahayaan dan bayangan kreasi
batik.              Geometri                  fraktal               dan               Computer
Aided Design banyak membantu para perancang untuk menghasilkan karya batik yang
spektakuler         karena       menemukan              dunia        kebebasan        berkreasi.
Penemuan kreasi baru batik fraktal bukan tanpa penentangan, utamanya dari para perajin
batik tradisional. Ada pandangan dari kalangan ini menyebutkan bahwa batik fraktal
hanyalah salah satu bentuk visual komputer dan akan merusak nilai-nilai batik. Batik
fractal tidak menjadi teknik produksi batik yang lebih cepat dan murah karena untuk
segmen        ini    ada      batik      print,    bukan         batik    fraktal     solusinya.
Sebagai jalan tengah, pemahaman bahwa teknologi dapat membawa kebaikan namun
dapat pula membawa efek samping keburukan. Antara batik tulis sebagai mahakarya
maestro perajin batik tradisional berhadapan batik fraktal yang lahir dari inovasi
teknologi akan memiliki manfaat masing-masing. Berkaca kepada Orang Jepang yang
telah menggunakan teknologi tinggi, masih menghormati budaya tradisionl dan
menempatkan lebih tinggi dari budaya teknologi tinggi yang mereka ciptakan sendiri.
BAB                                                                                    III
PENUTUP




3.1                                                                          Kesimpulan
Sekilas kata-kata diatas memang membuat tanda tanya besar dalam memaknainya.
Beribu-ribu kemungkinan yang terus melintas dibenak pikiran, untuk menjawab sebuah
pertanyaan yang membahas tentang identitas nasional.Kendatipun, dalam hidup
keseharian yang mencakup suatu negara berdaulat, Indonesia sendiri sudah menganggap
bahwa dirinya memiliki identitas nasional. Identitas nasional merupakan pandangan
hidup bangsa, kepribadian bangsa, filsafat pancasila dan juga sebagai Ideologi Negara
sehingga mempunyai kedudukan paling tinggi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Unsur-unsur dari identitas nasional adalah Suku Bangsa: gol sosial (askriptif :
asal lhr), golongan,umur. Agama : sistem keyakinan dan kepercayaan. Kebudayaan:
pengetahuan manusia sebagai pedoman nilai,moral, das sein das sollen,dlm kehidupan
aktual. Bahasa : Bahasa Melayu-penghubung (linguafranca). Faktor-faktor kelahiran
identitas nasional adalah Faktor-faktor yang mendukung kelahiran identitas nasional
bangsa Indonesia meliputi faktor subjektif dan factor objektif, Faktor primer, mencakup
etnisitas, territorial, bahasa, agama, dan yang sejenisnya. Faktor pendorong, meliputi
pembangunan komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata modern dan
pembanguanan lainnya dalam kehidupan bernegara. Faktor penarik, mencakup
modifikasi bahasa dalam gramatika yang resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantapan
sistem pendidikan nasional. Faktor reaktif, pada dasarnya tercakup dalam proses
pembentukan identitas nasional bangsa Indonesia yang telah berkembang dari masa
sebelum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain.


3.2 Saran


Identitas nasional merupakan suatu ciri yang dimiliki oleh bangsa kita untuk dapat
membedakannya dengan bangsa lain. Jadi, untuk dapat mempertahankan keunika-
keunikan dari bangsa Indonesia itu sendiri maka kita harus menanamkan akan cinta tanah
air yang diwujudkan dalam bentuk ketaatan dan kepatuhan terhadap atura-aturan yang
telah ditetapkan serta mengamalkan nilai-nilai yang sudah tertera dengan jelas di dalam
pancasila yang dijadikan sebagai falsafah dan dasar hidup bangsa Indonesia. Dengan
keunikan inilah, Indonesia menjadi suatu bangsa yang tidak dapat disamakan dengan
bangsa lain dan itu semua tidak akan pernah lepas dari tanggung jawab dan perjuangan
dari warga Indonesia itu sendiri untuk tetap menjaga nama baik bangsanya.




Sumber


Anonim. “Batik Milik Dunia”, Kompas, 3 Oktober 2009.


__________.       “Industri Batik Indonesia Dihadapkan Tantangan Besar”. dalam
     www.kapanlagi.com diakses 3 Agustus 2010, diakses jam 14.00 WIB.


__________. “Batik, Jangan Cuma Puas Diakui UNESCO” dalam www.kompas.com
     diakses 3 Agustus 2010 jam 15.30 WIB.


__________. “Mengangkat Pamor Batik sekaligus Membangun Pilar Ekonomi Rakyat”.
     Kontan, 3 Agustus 2010.


__________. “Kadin: Pengembangan Batik Memerlukan Stragedi Besar” dalam
     www.kapanlagi.com diakses 3 Agustus 2010 jam 09.35 WIB.


__________. “Menperin Targetkan Ekspor Tekstil 2009 US$11,8 Miliar” dalam
     www.kapanlagi.com diakses 3 Agustus 2010 jam 17.15 WIB.


__________. “Sejarah Batik Indonesia” dalam www.batikmarket.com diakses 3 Agustus
     2010 jam 15.24 WIB.
__________. http://aktrismonika.blogspot.com/2009/05/identitas-nasional.html, diakses 3
     Agustus 2010 jam 15.30 WIB.
__________.            http://id.shvoong.com/social-sciences/1747413-identitas-nasional-
indonesia/
__________. http://eprints.undip.ac.id/1397/2/AYU_KUSUMA_DEWI.pdf
__________. http://id.wikipedia.org/wiki/Batik
   4. wan Tirta, Gareth L. Steen, Deborah M. Urso, Mario Alisjahbana, 'Batik: a play
       of lights and shades, Volume 1', By Gaya Favorit Press, 1996, ISBN 979-515-
       313-7, 9789795153139
   5. ^ Dewan sastera, Volume 31, Issues 1-6 By Dewan Bahasa dan Pustaka
      Pogadaev, Victor (2002). "The Magic of Batik" in "Vostochnaya Kollektsiya"
       (Oriental Collection), Spring 2002, p. 71-74
__________. http://www.unesco.org/culture/ich/index.php?RL=00170
“Tetapkan Batik sebagai Warisan Budaya Indonesia”, Harian Fajar, Rabu, 07 September
2009, Penulis, Muslimin B.Putra, Pemerhati Politik Budaya dan Kebijakan Publik pada
CEPSIS, Makassar
__________.,    http://ksupointer.com/2009/sejarah-perkembangan-dan-penetapan-batik-
sebagai-warisan-budaya-indonesia-oleh-unesco

								
To top