Evaluasi Pendidikan - Reliabilitas dan Taksonomi by puchelf

VIEWS: 7,056 PAGES: 23

									                                            BAB I
                                     PENDAHULUAN


       Dalam persyaratan sebuah tes, diterangkan bahwa reliabilitas berhubungan dengan
masalah kepercayaan. Suatu alat ukur dikatakan reliabel jika alat ukur tersebut menunjukkan
sejauh mana alat tersebut dapat dipercaya dari hasil pengukuran yang diperoleh. Maka
pengertian reliabilitas tes, berhubungan dnegan maslaah ketetapan hasil tes, atau jika
seandainya berubah-ubah, perubahan yang terjadi tidak berarti.
       Ketetapan dalam reliabilitas tidak harus tetap atau sama, tetapi mengikuti perubahan
secara ajeg. Jika nilai A lebih rendah dari nilai B, maka jika dilakukan pengetesan ulang, si A
mengalami kenaikan dalam nilai tapi tetap di bawah nilai si B. Inilah yang dinamakan tetap
atau ajeg. Tentu saja tidak dituntut semuanya tetap. Besarnya ketetapan itulah yang
menunjukkan tingginya reliabilitas instrumen.
       Reliabilitas alat ukur yang juga menunjukkan derajat kekeliruan pengukuran tak
dapat ditentukan dengan pasti, malainkan hanya dapat diestimasi. Ada tiga pendekatan
dalam mengestimasi relibilitas alat ukur itu, yaitu: Pendekatan tes ulang / Test-Retest
Method, Pendekatan dengan tes paralel / Parallel Form Method, metode belah dua / split
half Method. Penghitungan metode belah dua ini terdiri dari beberapa cara yaitu,
pembelahan ganjil – genap, pembelahan awal – akhir, penggunaan rumus Flanagan,
Penggunaan rumus Rulon, penggunaan rumus K-R. 20, dan K-R. 21, serta penggunaaan
rumus Hoyt. Sedangkan untuk mencari reliabilitas tes bentuk uraian digunakan rumus Alpha.

       Taksonomi menyangkut keberhasilan pendidikan dalam bentuk tingkah laku.
Taksonomi ini dicetuskan pada tingkatan kedua dalam tujuan pendidikan, yaitu “tujuan yang
didasarkan atas tingkah laku”. Ada 3 macam tingkah laku yang umum, yaitu kognitif, afektif
dan psikomotorik.

       Beberapa taksonomi pendidikan yang dicetuskan oleh para ahli adalah, taksonomi
Bloom yang meliputi ranah afektif, kognitif dan psikomotorik. Selain itu, Anita Harrow juga
mengemukakan teorinya tentang ranah pskomotorik. Taksonomi untuk bidang biologi
dikemukakan oleh Mc Guire dan Klickmann, sementara untuk matematika dikemukakan oleh
Leuis yaitu “National Longitudinal Study of Mathematical Abilities (NLSMA)”.

                                                1
       Taksonomi yang berbeda juga dikemukakan oleh Gagne dan Merill, di dalam bukunya
The Conditions of Learning, yang menyangkut delapan hierarki tingkah laku. Namun diantara
semua taksonomi-taksonomi tadi, yang paling sering diadopsi adalah taksonomi Bloom,
meskipun sebenarnya, taksonomi bloom ini sangat bersifat mental dan tidak menjelaskan
kepada para pendidik secara konkret dan dapat diamati.




                                            2
                                                BAB II
                                                  ISI
A. RELIABILITAS
   1. Arti Reliabilitas Bagi Sebuah Tes
             Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan
      mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang
      tetap. Maka pengertian reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetapan hasil
      tes.
             Sehubungan dengan reliabilitas ini, Scarvia B. Anderson dan kawan kawan
      menyatakan persyaratan bagi tes adalah validitas dan reliabilitas ini penting. Dalam hal
      ini validitas lebih penting, dan reliabilitas ini perlu, karena menyokong terbentuknya
      validitas. Sebuah tes mungkin reliabel tetapi tidak valid. Sebaliknya sebuah tes yang valid
      biasanya reliabel.
             Banyak hal yang mempengaruhi hasil tes, namun secara garis besar dapat
      dikelompokkan menjadi 3 hal :
      a. Hal yang berhubungan dengan tes itu sendiri, yaitu panjang tes dan kualitas butir
             butir soalnya.
                    Tes yang terdiri dari banyak butir tentu saja lebih valid dibandingkan dengan
             tes yang hanya terdiri dari beberapa butir soal. Besarnya reliabilitas dengan pengaruh
             banyaknya soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus dari Spearman dan
             Brown :



          Di mana :
          rnn = besarnya koefisien reliabilitas sesudah tes tersebut ditambah butir soal yang
                    baru
          n      = berapa kali butir soal itu ditambah
          r      = besarnya koefisien reliabilitas sebelum butir butir soalnya ditambah
                    Penambahan butir soal tidak selalu menambah reliabilitas, adakalanya tidak
          berarti dan bahkan adakalanya merugikan.



                                                   3
   b. Hal yang berhubungan dengan tercoba ( testee )
              Suatu tes yang dicobakan kepada kelompok yang terdiri dari banyak siswa
       akan memberikan keragaman hasil yang menggambarkan besar kecilnya reliabilitas
       tes.
   c. Berhubungan dengan penyelenggaraan tes
              Faktor penyelenggaraan tes yang bersifat administratif, sangat menentukan
       hasil tes. Contohnya pemberian petunjuk pengerjaan, pengawas yang tertib, dan
       suasana lingkungan dan tempat tes yang nyaman dan aman.


2. Cara - cara mencari reliabilitas
   a. Metode bentuk paralel
              Tes paralel atau tes ekuivalen adlah dua buah tes yang mempunyai kesamaan
       tujuan, tingkat kesukaran, dan susunan, tetapi butir butir soalnya berbeda. Dalam
       istilah inggris disebut alternate-forms method ( paralel forms ).
              Dengan menggunakan metode tes paralel ini pegetes harus menyiapkan dua
       buah tes, dan masing masing dicobkan kepada kelompok siswa yang sama. Oleh
       karena itu, ada orang yang menyebutnya sebagai double test-double-trial method.
       Penggunaan metode ini baik karena siswa dihadapkan pada dua macam tes sehingga
       tidak ada faktor “masih ingat soalnya” yang dalam evaluasi disebut adanya practice-
       effect dan carry-over effect, artinya ada faktor yang dibawa oleh pengikut tes karena
       sudah mengerjakan tes tersebut.
              Kelemahan dari metode ini adalah bahwa pengetes pekerjaannnya berat
       karena harus menyususn dua seri tes dan harus tersedia waktu yang lama untuk
       mencobakan dua kali tes.
   b. Metode tes ulang ( tes-retest method )
              Metode ini menggunakan satu tes tapi dicobakan dua kali, dapat disebut
       dengan single-test-double-trial method. Kemudian hasil dari kedua tes tersebut
       dihitung korelasinya.
              Pada umumnya hasil tes yang kedua cenderung lebih baik dari tes yang
       pertama. Hal ini tidak mengapa karena pengetes harus sadar akan adanya practice-
       effect dan carry-over effect. Yang penting adalah adanya kesejajaran hasil atau

                                               4
   ketetapan hasil yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi yang tinggi. Metode ini juga
   disebut self-correlation method ( korelasi diri sendiri ) karena mengkorelasikan hasil
   dari tes yang sama.
           Kelemahan dari metode ini adalah tenggang waktu pemberian soal pertama
   dengan soal kedua. Jika tenggang waktu terlalu sempit, siswa masih banyak ingat
   materi. Sebaliknya jika tenggang waktu terlalu lama, maka faktor faktor atau kondisi
   tes sudah akan berbeda, dan siswa sendiri barangkali sudah mempelajari materi yang
   baru.
c. Metode belah dua atau spilt-half method
           Metode menggunakan satu tes dan hanya dicobakan satu kali, disebut juga
   single-test-single-trial method.
           Berbeda dengan metode pertama dan kedua yang setelah diketemukan
   koefisien korelasi langsung ditafsirkan itulah koefisien reliabilitas, maka pada metode
   ketiga ini tidak dapat demikian. Pada waktu membelah dua dan mengkorelasikan dua
   belahan, baru diketahui reabilitas separo tes. Untuk mngetahui reabilitas seluruh tes
   harus digunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut :




           Dimana :
           R1/21/2 = korelasi antara skor skor setiap belahan tes
           R11    = koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan


           Banyak pemakai metode ini salah membelah hasil tes pada waktu
   menganalisis. Mereka mengelompokkan hasil separo subjek peserta tes dan separo
   yang lain kemudian hasil kedua kelompok ini dikorelasikan. Yang benar adalah
   membelah item atau butir soal. Untuk itu perlu diketahui bahwa jumlah soal harus
   genap agar dapat dibelah.


   Ada dua cara membelah butir soal ini yaitu :
   Membelah item-item genap dan item-item ganjil yang selanjutnya disebut belahan
   ganjil-genap, dan
                                           5
         Membelah atas item-item awal dan item-item akhir dari soal, yaitu separuh jumlah
soal pada nomor nomor awal dan separo jumlah soal pada nomor akhir yang selanjutnya
disebut belahan awal-akhir.
Contoh perhitungan reliabilitas dengan metode belah dua :
                                                           Skor   1,3,5,    2,4,6,   1,2,3,   6,7,8,
 No.     nama                   Nomor item
                                                           total 7,9        8,10     4,5      9,10
                   1 2     3 4 5 6 7 8 9 10                       ganjil    genap     awal    akhir
  1      Hartati 1 0       1 0 1 1 1 1 1              1     8       5         3         3       5
  2      Yoyok     0 0     1 0 1 0 0 1 1              1     5       3         2         2       3
  3      Oktaf     0 1     0 0 0 1 0 1 0              1     4       0         4         1       3
  4      Wendi 1 1         0 0 1 1 0 0 1              0     5       3         2         3       2
  5      Diana     1 1     1 1 1 1 0 0 0              0     6       3         3         5       1
  6         Paul   1 0     1 0 1 0 1 0 0              0     4       4         0         3       1
  7      Susana 1 1        1 1 1 1 1 0 0              0     7       4         3         5       2
  8      Helen     0 1     0 1 1 1 1 1 1              1     8       3         5         3       5


Penyajian contoh membelah di atas berarti bahwa perhitungan reliabilitas dilakukan dengan
membelah dengan dua cara. Pembelahan hanya memilih satu cara saja, untuk selanjutnya di
hitung dengan korelasi product moment.
1. Pembelahan ganjil-genap
      Tabel persiapan perhitungan reliabilitas dengan belah dua ganjil-genap sebagai berikut :
       No.            Nama                   Item Ganjil          Item Genap
                                             (1,3,5,7,9)          (2,4,6,8,10)
        1             Hartati                    5                      3
        2             Yoyok                      3                      2
        3             Oktaf                      0                      4
        4             Wendi                      3                      2
        5             Diana                      3                      3
        6                Paul                    4                      0
        7             Susana                     4                      3
        8             Helen                      3                      5

                                                 6
   Kelanjutan dari tabel ini adalah menghitung dengan rumus korelasi product moment.
   Dengan menggunakan kalkulator didapat bahwa :
   ∑X = 25            ∑X2 = 93                ∑Y = 22
   ∑Y2 = 76           ∑XY = 63
   Setelah di hitung dengan rumus korelasi product moment dengan angka kasar diketahui
   bahwa rxy = -0,3786. Harga tersebut baru menunjukkan reliabilitas separo tes. Untuk
   mencari reliabilitas seluruh tes digunakan rumus Spearman-Brown.




   *) pengurangan merupakan bilangan dengan harga mutlak, jadi tidak mengenal negatif
2. Pembelahan awal-akhir
                                 1,2,3,4,5   6,7,8,9,10
    No.        Nama
                                   awal        akhir
     1        Hartati               3               5
     2         Yoyok                2               3
     3         Oktaf                1               3
     4        Wendi                 3               2
     5         Diana                5               1
     6         Paul                 3               1
     7        Susana                5               2
     8         Helen                3               5
   Seperti halnya pada waktu menghitung dengan belahan ganjil-genap maka
   kelanjutannya adalah menghitung dengan korelasi product moment.


   Dengan kalkulator diketahui :
   ∑X = 25            ∑X2 = 91                ∑Y = 22
   ∑Y2 = 78           ∑XY = 63


                                                7
   Setelah dimasukkan pada rumus korelasi product moment dengan angka kasar
   diperoleh r1/2 1/2 = - 0,3831. Dengan rumus Spearman-Brown diperoleh r11 = -0,5538.
   Selain menggunakan rumus product moment, dapat digunakan rumus Flanagan untuk
   perhitungan menggunakan belah dua ganjil-genap, dan rumus Rulon yang rumusnya
   diterapkan pada data belahan awal-akhir.
3. Penggunaan rumus Flanagan




   Dimana :
   r11 = reliabilitas tes
      = varians belahan pertama (1) yang dalam hal ini varians skor item ganjil
      = varians belahan kedua (2) yaitu varians skor item genap
      = varians total yaitu varians skor total
      Secara sederhana dapat dipahami bahwa varians adalah standar deviasi kuadrat.
   Dengan     menggunakan      kalkulator   statistik,   varians   ini   dapat   dicari   dengan
   mengkuadratkan standar deviasi. Untuk yang tidak menggunakan kalkulator statistik,
   dapat menggunakan rumus :




      Standar Deviasi (SD) dapat disebut dengan istilah Indonesia yaitu Simpangan Baku
   (SB). Dalam kalkultor statistik, standar deviasi tertera dengan lambang σ.
   Bagi yang berminat mencari S dulu untuk mencari varians, dapat menggunakan rumus S,
   yaitu :




   S = standar deviasi
   X = simpangan            , yang dicari
   S2 = varians, selalu dituliskan dalam bentuk kuadrat, karena standar deviasi kuadrat
   N = banyaknya subjek pengikut tes
   Contoh soal :
   Berdasarkan data tabel belahan ganjil-genap perhitungannya adalah sebagai berikut :


                                                 8
     No.         Nama                   Item Ganjil         Item Genap
                                        (1,3,5,7,9)         (2,4,6,8,10)
                                              X                  Y
      1          Hartati                      5                  3
      2          Yoyok                        3                  2
      3           Oktaf                       0                  4
      4          Wendi                        3                  2
      5          Diana                        3                  3
      6           Paul                        4                  0
      7          Susana                       4                  3
      8          Helen                        3                  5
∑X = 25         ∑X2 = 93                ∑Y = 22
∑Y2 = 76        ∑XY = 63




Dimasukkan ke dalam rumus untuk mendapatkan reliabilitas tes :



                           = - 1, 218




                                          9
4. Penggunaan rumus Rulon




   Dimana :
        = varians beda ( varians different )
   d = difference yaitu perbedaan antara skor belahan pertama dengan skor belahan kedua
   contoh soal :
                                        1,2,3,4,5       6,7,8,9,10
          No.           Nama                                         d
                                          awal            akhir
           1           Hartati                 3            5        -2
           2           Yoyok                   2            3        -1
           3            Oktaf                  1            3        -2
           4           Wendi                   3            2        1
           5            Diana                  5            1        4
           6            Paul                   3            1        2
           7           Susana                  5            2        3
           8            Helen                  3            5        -2
   Dengan kalkulator atau hitungan biasa diketahui bahwa :
   ∑d           =3
   ∑d2          = 43
   Dicari standar deviasi :




   Dimasukkan ke dalam rumus Rulon :




                                                   10
   Dari perhitungan Flanegan maupun Rulon ternyata hasilnya sama, keduanya lebih besar
   dari 1. Secara teoritik koefisien ini salah tetapi karena pembulatan dalam perhitungan,
   hasil seperti ini dapat saja terjadi.
5). Penggunaan rumus K-R. 20
   Rumus:




   Dimana:
       r11       : reliabilitas tes secara keseluruhan
       p         : proporsi subjek yag menjawab item dengan benar
       q         : proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q = 1 – p)
                 : jumlah hasil perkalian antara p dan q
       n         : banyaknya item
       S         : standar deviasi dan tes (standar deviasi adalah akar varians)
           Atau dalam buku lain, n kecil sering diganti dengan huruf k (kecil), yang juga
   melambangkan banyaknya item. Lambang S sebagai standar deviasi ditulis SB,
   “Simpangan Baku”. Maka rumus K-R. 20 menjadi:




   Contoh aplikasinya:
   10 orang peserta didik di tes dengan 10 butir soal bentuk obyektif. Hasil perhitungan
   adalah sebagai berikut:
           Na                            Nomor Soal
                                                                             X     X2
           ma       1     2     3    4     5     6       7   8    9    10
             A      0     0     1    1     1     1       1   1    0     1    7     49
             B      0     1     1    1     1     0       1   1    1     1    8     64
             C      1     1     0    1     1     1       1   1    1     1    9     81
             D      1     1     1    1     0     0       0   0    1     1    6     36
             E      1     0     1    0     1     1       0   1    1     1    7     49
             F      1     1     1    1     1     0       0   0    0     0    5     25
             G      1     1     0    0     0     0       1   1    1     1    6     36


                                                 11
            H     0     1     1     1     1     1     1     1     0     0     7    49
            I     1     0     1     0     0     0     0     0     1     1     4    16
            J     1     1     1     0     0     0     0     0     0     0     3     9
            ∑     7     7     8     6     6     4     5     6     6     7     62   414
            P    0,7   0,7   0,8    0,6   0,6   0,4   0,5   0,6   0,6   0,7
            Q    0,3   0,3   0,2    0,4   0,4   0,6   0,5   0,4   0,4   0,3
            Pq 0,21 0,21 0,16 0,24 0,24 0,24 0,25 0,24 0,24 0,21




    Dimasukkan ke dalam K-R. 20




       Teknik Kuder-Richardson biasanya hanya dapat digunakan pada data dikotomi
(pilihan ya dan tidak / 0 dan 1).


6). Penggunan rumus K-R.21
   Rumus:




   Keterangan:
   M : Mean atau rearata skor total
       Penghitungan reliabilitas menggunakan rumus K-R 21 cenderung lebih mudah
dibandingkan dengan menggunakan rumus K-R 20.
7). Penggunaan Rumus Hoyt



                                                12
  Keterangan:
      : Reliabilitas seluruh soal
  Vr : Varians responden
  Vs :Varians sisa

 Untuk mencari reliabilitas suatu soal dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  Langkah 1. Mencari jumlah kuadrat responden dengan rumus:




           Keterangan:
                   : Jumlah kuadrat responden
           Xt      : Skor total tiap responden
           k       : Banyanya item
           N       : Banyaknya responden atau subyek

    Langkah 2. Mencari jumlah kuadrat item dengan rumus:




           Keterangan:
                    : Jumlah kuadrat item
           ∑B2      : Jumlah kuadrat jawaban benar seluruh item
           (∑B2)    : kuadrat dari jumlah skor total



    Langkah 3. Mencari jumlah kuadrat total dengan rumus:




           Keterangan:
                     : Jumlah kuadrat total
           ∑B : Jumlah jawaban benar seluruh item
           ∑S : Jumlah jawaban salah seluruh item

    Langkah 4. Mencari jumlah kuadrat sisa, dengan rumus:


                                            13
                                 Jk(s) = Jk(t) - Jk(r) - Jk(i)
    Langkah 5. Mencari varians response dan variansi sisa dengan table F.
           Dalam mencari Varians ini diperlukan d.b (derajat kebebasan) dari masing-
           masing sumber varians kemudian d.b ini digunakan sebagai penyebut terhadap
           setiap jumlah kuadrat untuk memperoleh variansi.


           d. b = banyaknya N setiap sumber variansi dikurangi 1, jadi


               variansi = (            )



    Langkah 6. Memasukan ke dalam rumus r11



TEKNIK PENGUJIAN RELIABILITAS HASIL BELAJAR BENTUK URAIAN
       Dalalm rangka menentukan apakah tes hasil belajar bentuk uraian yang disusun oleh
seorang staf pengajar telah memiliki daya reliabilitas yang tinggi ataukah belum, pada-
umumnya orang menggunakan sebuah rumus yang dikenal dengan nama Cronbach’s Alpha
atau Koefisien Alpha.
       Menilai soal bentuk uraian berbeda dengan tes bentuk obyektif, yaitu soal yang
terdiri dari butir-butir soal yang terdiri dari butir-butir soal yang dinilai hanya benar atau
salah. Tes bentuk uraian menghendaki gradulasi, misalnya untuk penilaian butir soal
nomer1, nilai terendah 0 tertinggi 30, tetapi butir soal nomer 2 nilai tertingginya adalah 45,
sementara butir soal nomer 3, nilai tertinggi 25, dan sebagainya.
       Untuk keperluan mencari reliablitas soal keseluruhan perlu juga dilakukan analisis
butir soal seperti halnya soal bentuk obyektif. Skor untuk masing-masing butir soal
dicantumkan pada kolom item. Rumus yang digunakan adalah rumus Alpha.
Adapun rumus alpha dimaksud adalah:



Di mana:
      : Koefisien reliabilitas tes
n     : Jumlah butir soal.
      : Jumlah varians skor tiap-tiap butir soal
      : Varians skor total
                                              14
Selanjutnya dalam pemberian interprestasi terhadap koefisien reliaBilitas tes (r11) pada
umumnya digunakan patokan sebagai sebagai berikut:
       Apabila r11≥0,07 berati tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan
telah memiliki reliabilitas yang tinggi.


Apabila r11<0,07 berati tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya belum dinyatakan
telah memiliki reliabilitas yang tinggi.




                                             15
I.   TAKSONOMI
     1. Arti dan Letak Taksonomi dalam Pendidikan
            Sejak lahirnya kurikulum proyek perintis sekolah pembangunan yang kemudian
       disusul oleh lahirnya kurikulum tahun 1975,telah mulai tertanam kesadaran pada para
       guru bahwa tujuan pelajaran harus dirumuskan sebelum proses belajar mengajar
       berlangsung.Apabila dalam pengajaran tidak disebutkan tujuannya,siswa tidak akan tahu
       mana pelajaran penting dab mana yang tidak.
            Kepentingan hubungan antara kegiatan belajar mengajar dengan tujuan,oleh seorang
       ahli bernama Scriven(1967) dikemukakan bahwa harus ada hubungan erat antara:
       1) Tujuan kurikulum dengan bahan pelajaran
       2) Bahan pelajaran dengan alat-alat evaluasi
       3) Tujuan kurikulum dengan alat-alat evaluasi
            Tujuan pendidikan dapat dirumuskan pada tiga tingkatan. Pertama, tujuan umum
       pendidikan. Tujuan ini menentukan perlu dan tidaknya sesuatu program pendidikan. Di
       dalam praktek sehari-hari di sekolah, tujuan ini dikenal sebagai tujuan instruksional
       umum. Kedua, taksonomi yaitu berhasilnya pendidikan dalam bentuk tingkah laku. Ketiga,
       tujuan yang lebih jelas yang dirumuskan secara operasional.
     2. Taksonomi Bloom
       Prinsip-prinsip dasar yang digunakan oleh Bloom dan Krathwohl ada 4 buah :
       a.   Prinsip metodologis
            Perbedaan-perbedaan yang besar telah merefleksi kepada cara-cara guru mengajar.
       b. Prinsip psikologis
            Taksonomi hendaknya konsisten dengan fenomena kejiwaan yang ada sekarang.
       c.   Prinsip logis
            Taksonomi hendaknya dikembangkan secara logis dan konsisten.
       d. Prinsip tujuan
            Tingkatan-tingkatan tujuan tidak selaras dengan tingkatan-tingkatan nilai-nilai.


            Atas dasar prinsip ini maka taksonomi disusun menjadi suatu tingkatan yang
       menunjukkan tingkat kesulitan.Sebagai contoh,mengingat fakta lebih mudah daripada
       menarik     kesimpulan,atau     menghapal       lebih   mudah     daripada     memberikan

                                                  16
  pertimbangan.Secara garis besar,Bloom bersama kawan-kawan merumuskan tujuan-
  tujuan pendidikan pada 3 tingkatan:
  1.   Kategori tingkah laku yang masih verbal
  2.   Perluasan kategori menjadi sedertan tujuan
  3.   Tingkah laku konkret yang terdiri dari tugas-tugas dan soal.


       Ada 3 ranah atau domain besar, yang terletak pada tingkatan ke-2 yang selanjutnya
disebut taksonomi yaitu :
 Ranah kognitif
  Ranah kognitif dibagi menjadi 6 bagian diantaranya adalah :
  1) Pengetahuan (knowledge)
                Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi,
       fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar. Sebagai contoh, ketika
       diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yang berada di level ini bisa
       menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas,
       standar kualitas minimum untuk produk.
  2). Pemahaman (comprehension)
                Dengan pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memehami
       hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep
  3). Penerapan atau aplikasi (aplication)
                Untuk penerapan atau aplikasi ini siswa dituntut memiliki kemampuan untuk
       menyeleksi suatu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan gagasan, cara)
       secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara
       benar.
  4). Analisis
                Dalam tugas analisis siswa diminta untuk menganalisis suatu hubungan atau
       situasi yang kompleks atas konsep-konsep dasar.
  5). Sintesis
                Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu
       menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat,



                                             17
      dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan
      solusi yang dibutuhkan.
  6). Evaluasi
             Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi,
      gagasan, metodologi, dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang
      ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.
 Ranah afektif
  Pandangan atau pendapat (opinion)
  Apabila guru mau mengukur aspek afektif yang berhubungan dengan pandangan siswa
  maka pertanyaan disusun melibatkan ekspresi,perasaan atau pendapat pribadi siswa.
  Contoh : bagaimana pendapat Anda tentang keputusan yang diambil oleh Bapak Lurah
  dalam situasi begitu ?
  Sikap atau nilai (attitude,value)
  Dalam penilaian afektif tentang sikap ini,siswa ditanya mengenai responnya yang
  melibatkan sikap atau nilai.
 Ranah psikomotorik
      Psikomotor berhubungan dengan kata ”motor, sensory motor”. Jadi, ranah
  psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh
  atau bagian-bagiannya.Secara mendasar dibedakan antara dua hal yaitu keterampilan
  dan kemampuan.
  Contoh :
  ” Seberapa terampil para siswa dalam menyiapkan alat-alat. ”
  ” Seberapa terampil para siswa menggunakan alat-alat.”
      Taksonomi untuk ranah psikomotorik antara lain dikemukakan oleh Anita
  Harrow(1972). Menurut Harrow kebanyakan para guru tidak dapat menuntut pencapaian
  100 dari tujuan yang dirumuskan kecuali hanya berharap bahwa keterampilan yang
  dicapai oleh siswa-siswanya akan sangat mendukung memepelajari keterampilan lanjutan
  lainnya.




                                           18
Garis besar taksonomi yang dikemukakan oleh Harrow adalah sebagai berikut :


  NO.                Tingkat                              uraian dan contoh
  1.     Gerakan refleks                respon gerakan yang tidak disadari yang dimiliki sejak
                                        lahir.
  2      dasar gerakan-gerakan          gerakan-gerakan        yang      menuntun      kepada
                                        keterampilan yang sifatnya kompleks.
  3      perceptual abilities           kombinasi dari kemampuan kognitif dan gerakan.
  4      physical abilities             kemampuan yang diperlukan untuk mengembangkan
                                        gerakan-gerakan keterampilan tingkat tinggi.
  5      skilled movements              gerakan-gerakan yang memerlukan belajar misalnya
                                        keterampilan dalam menari,olahraga, dan rekreasi.
  6      Nondiscoursive                 kemampuan         untuk       berkomunikasi    dengan
         communication                  menggunakan        gerakan        misalnya     ekspresi
                                        wajah(mimik),postur.


  Banyak kritik telah dilemparkan kepada Bloom cs.tentang pembagian taksonomi
ini,sehingga timbul teori-teori sebagai adaptasi,modifikasi diantaranya :
  a.    Mc Guire (1963), Klickmann (1963) telah menyusun taksonomi untuk bidan biologi,
        Wood(1968) untuk matematika, Leuis( 1965) untuk ilmu pengetahuan alam. Sebagai
        contoh, dihasilkan oleh National Longitudinal Study of Mathematical Abilities
        (NLSMA)
        - Knowledge of facts
        - Computation
        - Comprehension
        - Application
        - Analysis
        Alasannya adalah :
        1) Computation (perhitungan) merupakan suatu keterampilan khusus yang tidak
          mempeunyai tempat dalam taksonomi Bloom.



                                                 19
   2) Syntesis and evaluation hanya sedikit mempunyai peranan di dalam kurikulum
        matematika.
b. Gagne dan Merrill juga mengemukakan taksonomi lain. Di dalam bukunya The
   Conditionsof Learning (1965). Delapan hierarki tingkah laku menurut gagne adalah :
   1.    Signal learning
   2.    Stimulus-response learning
   3.    Chaining
   4.    Verbal association
   5.    Discrimination learning
   6.    Concept learning
   7.    Rule learning
   8.    Problem solving




                                        20
                                      BAB III

                                   KESIMPULAN
I. Reliabilitas
   -   Pengertian reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetapan hasil,
       ataupun kalau terjadi perubahan tapi perubahan tersebut tidak signifikan.
   -   Secara umum, ada 3 hal yang mempengaruhi hasil tes yaitu
       a. Hal yang beruhubungan dengan tes itu sendiri (panjang tes dan kualitas tiap
          butir soalnya)
       b. Hal yang berhubungan dengan tercoba (testee)
       c. Hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan tes
   -   Ada tiga pendekatan dalam mengestimasi relibilitas alat ukur itu, yaitu metode
       bentuk paralel, metode tes ulang dan metode belah dua.
   -   Kelemahan kedua metode bentuk paralel dan metode tes ulang, diatasi dengan
       metode belah dua, karena pengets hanya menggunakan satu tes dan dilakukan
       satu kali saja.
   -   Untuk mengetahui reliabilitas seluruh tes harus digunakan rumus Spearman
       Brown:




   -   Rumus pembelahan ganjil genap:

   -   Perhitungan reliabilitas dengan rumus Flanagan menggunakan belah dua ganjil

       genap:

   -   Sementara perhitungan dengan rumus Rulon penerapannya pada data belahan

       awal-akhir:

   -   Diantara rumusan-rumusan sebelumnya, rumusan Kuder-Richardson yang paling
       memenuhi syarat penggunaan metode belah dua.

   -   Rumus K-R. 20 yaitu:

   -   Rumus K-R. 21 yaitu:



                                         21
   -   Rumus K-R, hanya dapat diterapkan pada data dikotomi (pilihan ya dan tidak / 0
       dan 1).
   -   Rumus Hoyt:



       dapat diterapkan untuk multiple choice (lebih dari dua pilihan, bisa sampai tujuh
       pilihan)
   -   Perhitungan relibialitas soal uraian dihitung dengan rumus alfa, yaitu:




II. Taksonomi
   -   Taksonomi merupakan tingkatan kedua dalam tujuan pendidikan yang
       menyangkut tingkah laku.
   -   Taksonomi Bloom meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik
   -   Ranah kognitif dibagi menjadi 6 aspek yaitu: mengenal, pemahaman, aplikasi,
       analisis, sintesis, dan evaluasi.
   -   Ada 8 hierarki tingkah laku yang dikemukakan oleh Gagne, yaitu Signal learning,
       Stimulus-response learning, Chaining, Verbal association, Discrimination learning,
       Concept learning, Rule learning, Problem solving.




                                           22
                                DAFTAR PUSTAKA

Arifi, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

http://yudhy91handsomemale.blogspot.com/2010/07/reliabilitas-tes.html

http://www.yaminsetiawan.com/cgi-bin/click.pl?id=tulisan17&url=/tulisan/tulisan17.html




                                            23

								
To top