Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Pembangunan Ekonomi Daerah

VIEWS: 4,534 PAGES: 18

  • pg 1
									                                                Perekonomian Indonesia 1

                                           Pembangunan Ekonomi Daerah




           PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH


I. Pembangunan Ekonomi Regional


  Secara tradisional pembangunan memiliki arti peningkatan yang terus
  menerus pada Gross Domestic Product atau Produk Domestik Bruto suatu
  negara. Untuk daerah, makna pembangunan yang tradisional difokuskan
  pada peningkatan Produk Domestik Regional Bruto suatu provinsi,
  kabupaten, atau kota.
            Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana
  pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya yang ada dan
  membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor
  swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang
  perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah
  tersebut. (Lincolin Arsyad, 1999).
            Tujuan utama dari usaha-usaha pembangunan ekonomi selain
  menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, harus pula menghapus
  atau mengurangi tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan tingkat
  pengangguran. Kesempatan kerja bagi penduduk atau masyarakat akan
  memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Todaro,
  2000).
            Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada
  penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan
  pada kekhasan daerah yang bersangkutan dengan menggunakan potensi
  sumber daya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya fisik secara lokal
  (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada pengambilan inisiatif-
  inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan
  untuk mencipatakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan
  kegiatan ekonomi




                                       semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                   Perekonomian Indonesia 2

                                             Pembangunan Ekonomi Daerah



          Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses, yaitu proses
yang mencakup pembentukan institusi - institusi baru, pembangunan
indistri - industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada
untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-
pasar baru, alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan perusahaan-
perusahaan baru.
          Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan
utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk
masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut,
pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama
mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu pemerintah
daerah berserta pertisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan
sumber daya-sumber daya yang ada harus mampu menaksir potensi
sumber daya yang diperlukan untuk merancang dan membangun
perekonomian daerah.
          Pembangunan ekonomi nasional sejak PELITA I memang telah
memberi hasil positif bila dilihat pada tingkat makro. Tingkat pendapatan
riil masyarakat rata-rata per kapita mengalami peningkatan dari hanya
sekitar US$50 pada pertengahan dekade 1960-an menjadi lebih dari
US$1.000 pada pertengahan dekade 1990-an. Namun dilihat pada tingkat
meso dan mikro, pembangunan selama masa pemerintahan orde baru telah
menciptakan suatu kesenjangan yang besar, baik dalam bentuk personal
income, distribution, maupun dalam bentuk kesenjangan ekonomi atau
pendapatan antar daerah atau provinsi.


1.1.   Indikator Yang Digunakan Dalam Menganalisis Development
       gap
          Ada      sejumlah   indikator   yang   dapat   digunakan   dalam
menganalisis development gap antar provinsi. Diantaranya adalah PDRB,
konsumsi rumah tangga per kapita, HDI, kontribusi sektoral terhadap
PDRB, tingkat kemiskinan dan struktur fiskal.


                                          semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                  Perekonomian Indonesia 3

                                            Pembangunan Ekonomi Daerah




A. Distribusi PDB menurut propinsi
   Berdasarkan sumber dari BPS sebagian besar PDB nasional berasal
   dari Jawa. Sejak dekade 1970-an hingga saat ini sudah banyak studi
   empiris yang dilakukan dalam menganalisis ketimpangan ekonomi
   antarprovinsi. Diantaranya dari Sjafrizal tahun 1997 dan tahun 2000
   dengan memakai indeks Williamson. Indeks ini dapat dihitung dengan
   formula sebagai berikut.


              Vw = ∑ (Yi – Y)2 fi , 0 < Vw < 1             (1)


   Nilai indeks ini antara 0 dan 1. Bila nilainya mendekati 0 berarti
   distribusi PDB menurut provinsi sangat merata dan sebaliknya bila
   nilainya mendekati 1 berarti tingkat disparitas sangat tinggi.
   Williamson menemukan bahwa dalam tahap awal pembangunan
   ekonomi disparitas dalam distribusi pendapatan akan membesar dan
   terkonsentrasi pada wilayah-wilayah tertentu yang pada awalnya sudah
   relatif maju. Kemudian pada tahap pertumbuhan ekonomi yang lebih
   besar   terjadi   konvergensi   dan    ketimpangan   dalam    distribusi
   pendapatan akan mengalami penurunan. Hasil studi indeks Williamson
   tahun 1997 memperlihatkan bahwa ketimpangan ekonomi daerah di
   wilayah Indonesia bagian timur lebih tinggi dan cenderung memburuk
   dibanding di wilayah Indonesia bagian barat.


B. Variasi Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Antarprovinsi
   Selain pendapatan, pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita
   juga merupakan salah satu alat ukur untuk melihat perbedaan tingkat
   pembangunan ekonomi atau kesejahteraan masyarakat antarprovinsi.
   Dapat dikatakan bahwa semakin tinggi pendapatan per kapita di suatu
   daerah, semakin tinggi pengeluaran konsumsi per kapita di daerah
   tersebut. Namun dengan dua asumsi. Pertama, saving behavior dari


                                         semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                 Perekonomian Indonesia 4

                                           Pembangunan Ekonomi Daerah



   masyarakat tidak berubah. Kedua, pangsa kredit didalam pengeluaran
   konsumsi rumah tangga juga konstan.
   Hasil studi dari ECONIT (1999) menunjukkan adanya suatu polarisasi
   dalam distribusi konsumsi per kapita antarprovinsi. Sebagian besar
   provinsi di Indonesia memiliki tingkat konsumsi rumah tangga per
   kapita rendah.


C. Human Development Indeks
   HDI dapat juga digunakan sebagai salah satu imdikator sosial untuk
   mengukur tingkat kesenjangan pembanguna antarprovinsi. Dapat
   dikatakan bahwa semakin baik pembangunan di suatu wilayah semakin
   tinggi HDI daerah tersebut.


D. Kontribusi Sektoral tehadap PDRB
   Perbedaan tingkat pembangunan dapat juga dilihat dari perbedaan
   peranan sektoral dalam pembentukan PDRB. Semakin besar peranan
   sektor ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi, seperti industri
   manufaktur, terhadap pembentukan atau pertumbuhan PDRB di suatu
   wilayah, semakin tinggi pertumbuhan PDRB wilayah tersebut.


E. Struktur Fiskal
   Ketimpangan ekonomi regional dapat juga dilihat dari ketimpangan
   dalam struktur fiskal pusat dan daerah antarprovinsi. Daerah yang
   tingkat pembangunannya tinggi, dilihat dari tingkat pendapatan riil per
   kapita yang tinggi, penerimaan pemerintah daerah tersebut (PAD) juga
   tinggi.


F. Tingkat Kemiskinan
   Presentase penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan juga bagus
   digunakan sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat ketimpangan
   ekonomi antardaerah. Terdapat suatu korelasi positif antara population


                                       semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                   Perekonomian Indonesia 5

                                            Pembangunan Ekonomi Daerah



       density dan tingkat kemiskinan di suatu wilayah. Semakin tinggi
       jumlah penduduk per km atau per hektar, semakin sempit ladang
       untuk bertani atau lokasi untuk membangun pabrik atau melakukan
       kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya, semakin kecil kesempatan kerja
       dan sumber pendapatan, yang berarti juga semakin besar persentase
       penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan.


1.2.      Faktor Penyebab Ketimpangan


            Pembangunan ekonomi yang tidak merata antar propinsi
membuat sebagian masyarakat di banyak daerah di luar pulau Jawa, seperti
Aceh, Irian Jaya (Papua), dan Riau ingin melepaskan diri dari Indonesia.
Kemenangan        kelompok     pro   kemerdekaan     di   Timor    Timur
merepresentasikan kekecewaan bergabung dengan Indonesia selama Orde
Baru.
            Kesenjangan pembangunan ekonomi merupakan persoalan
penting dalam mengkaji pembangunan ekonomi daerah di Indonesia. Ada
dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur kesenjangan
pembangunan ekonomi antar daerah di Indonesia, yaitu dengan
menggunakan pendekatan pendapatan dan menggunakan pendekatan
pengeluaran konsumsi rumah tangga. Jika kita menggunakan pendekatan
pendapatan atau PDRB, maka diketahui bahwa propinsi-propinsi di Jawa
menyumbang lebih dari 60% terhadap pembentukan PDB Indonesia tahun
1990an. Daerah yang kaya sumberdaya manusia dan infrastruktur lebih
baik mempunyai kontribusi besar. DKI Jakarta menikmati 15%-16% dari
PDB nasional, Jawa Timur sebesar 15%, dan Jawa Tengah sebesar 10%.
Daerah kaya sumberdaya alam mempunyai kontribusi lebih kecil. DI Aceh
menyumbang 3% dari PDB nasional. Riau dan Kalimantan Timur
menyumbang 5%.




                                        semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                     Perekonomian Indonesia 6

                                              Pembangunan Ekonomi Daerah



          Jika kita mengukur kesenjangan pembangunan ekonomi daerah
di Indonesia dengan menggunakan pendekatan pengeluaran konsumsi
rumah tangga, maka dapat diketahui bahwa sebagian besar propinsi di
Indonesia memiliki tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita
yang rendah. Menurut BPS diketahui bahwa pengeluaran konsumsi rumah
tangga paling tinggi tercatat di Jakarta. Propinsi yang kaya sumberdaya
alam mempunyai pengeluaran konsumsi rumah tangga yang lebih rendah
dibandingkan propinsi yang mempunyai lebih banyak sumberdaya
manusia yang lebih berkualitas.

          Berbicara tentang kesenjangan pembangunan ekonomi antar
daerah di Indonesia, maka kita perlu melihat tentang apakah kemampuan
pembangunan ekonomi antar daerah juga senjang. Indikator kemampuan
daerah   antara   lain   dapat    diukur    dengan    menggunakan    Indeks
Pembangunan Manusia (IPM, atau Human Development Index), yang
mengukur tentang indikator kesehatan, pendidikan, dan standar hidup.
DKI Jakarta mempunyai IPM paling tinggi dibandingkan propinsi-propinsi
lainnya di Indonesia. Pembangunan pelayanan kesehatan dan pendidikan
lebih baik, ditunjang peran swasta. Investasi lebih banyak memusat di
Jabodetabek.

          Kesenjangan pembangunan ekonomi antar daerah berkaitan
dengan tingkat kemiskinan antar daerah. Pulau Jawa (Jawa Tengah dan DI
Yogyakarta) adalah pusat kemiskinan di Indonesia bagian barat, akibat
kepadatan penduduk. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur
pusat kemiskinan di Indonesia bagian timur, akibat tingkat pembangunan
rendah (tidak memiliki sumberdaya manusia, teknologi, infrastruktur, dan
entrepreneurship).

          Kesenjangan pembangunan ekonomi antar daerah juga berkaitan
erat dengan perbedaan pembangunan sektoral. Tingkat industrialisasi di
Indonesia bagian barat lebih tinggi dibandingkan di Indonesia bagian



                                           semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                      Perekonomian Indonesia 7

                                                Pembangunan Ekonomi Daerah



   timur, karena perbedaan SDM, teknologi, inovasi, infrastruktur, integrasi
   dengan wilayah luar, dan kebijakan daerah.

              Penyebab ketimpangan pembangunan ekonomi antar daerah di
   Indonesia antara lain karena:

   1.   Konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah.
        Pembangunan ekonomi terpusat di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
        Timur dan Sumatera, akibat ketersediaan infrastruktur, letak geografis,
        dan migrasi tenaga kerja.
   2.   Alokasi investasi.
        PMA dan PMDN lebih banyak melakukan investasi di pulau Jawa,
        karena ketersediaan tenaga kerja dan infrastruktur, terutama untuk
        industri tekstil, komputer dan mesin. Sektor pertanian dan
        pertambangan tetap berada di daerah.
   3.   Mobilitas faktor produksi rendah antar daerah.
   4.   Perbedaan SDA antar propinsi.
   5.   Perbedaan kondisi demografis antar wilayah.
   6.   Perdagangan antar propinsi kurang lancar.




II. Kasus Pembangunan Indonesia Bagian Timur

        Hasil pembangunan ekonomi nasional selama pemerintahan orde baru
        menunjukkan bahwa walaupun secara nasional laju pertumbuhan
        ekonomi nasional rata-rata per tahun tinggi namun pada tingkat
        regional proses pembangunan selama itu telah menimbulkan suatu
        ketidak seimbangan pembangunan yang menyolok antara indonesia
        bagian barat dan indonesia bagian timur. Dalam berbagai aspek
        pembangunan ekonomi dan sosial, indonesia bagian timur jauh
        tertinggal dibandingkan indonesia bagian barat.




                                            semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                   Perekonomian Indonesia 8

                                             Pembangunan Ekonomi Daerah



       Tahun 2001 merupakan tahun pertama pelaksanaan otonomi daerah
       yang dilakukan secara serentak diseluruh wilayah indonesia.
       Pelaksanaan otonomi daerah diharapakan dapat menjadi suatu langkah
       awal yang dapat mendorong proses pembangunan ekonomi di
       indonesia bagian timur yang jauh lebih baik dibanding pada masa orde
       baru. Hanya saja keberhasilan pembangunan ekonomi indonesia
       bagian timur sangat ditentukan oleh kondisi internal yang ada, yakni
       berupa sejumlah keunggunlan atau kekeuatan dan kelemahan yang
       dimiliki wilayah tersebut.

2.1.      Keunggulan wilayah Indonesia Bagian Timur

    Keunggulan atau kekeuatan yang dimiliki Indonesia bagian timur
    adalah sebagai berikut:

    1. Kekayaan sumber daya alam

    2. Posisi geografis yang strategis

    3. Potensi lahan pertanian yang cukup luas

    4. Potensi sumber daya manusia

    Sebenarnya dengan keunggulan-keunggulan yang dimiliki indonesia
    bagian timur tersebut, kawasan ini sudah lama harus menjadi suatu
    wilayah di Indonesia dimana masyarakatnya makmur dan memiliki
    sektor pertanian, sektor pertambangan, dan sektor industri manufaktur
    yang sangat kuat. Namun selama ini kekayaan tersebut disatu pihak
    tidak digunakan secara optimal dan dipihak lain kekayaan tersebut
    dieksploitasi oleh pihak luar yang tidak memberi keuntungan ekonomi
    yang berarti bagi indonesia bagian timur itu sendiri.

2.2.      Kelemahan Wilayah Indonesia Bagian Timur

    Indonesia bagian tinur juga memiliki bagian kelemahan yang
    membutuhkan sejumlah tindakan pembenahan dan perbaikan. Kalau


                                         semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                  Perekonomian Indonesia 9

                                              Pembangunan Ekonomi Daerah



    tidak, kelemahan-kelemahan tersebut akan menciptakan ancaman bagi
    kelangsungan pembangunan ekonomi di kawasan tersebut. Kelemahan
    yang dimiliki Indonesia bagian timur diantaranya adalah:

    1. Kualitas sumber daya manuasia yang masih rendah

    2. Keterbatasan sarana infrastruktur

    3. Kapasitas kelembagaan pemerintah dan publik masih lemah

    4. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan masih rendah

2.3.   Tantangan dan Peluang

    Pembanguanan ekonomi di Indonesia bagian timur juga menghadapai
    berbagai macam tantangan, yang apabila dapat diantisipasi dengan
    persiapan yang baik bisa berubah menjadi peluang besar. Salah satu
    peluang besar yang akan muncul di masa mendatang adalah akibat
    liberalisasi perdagangan dan investasi dunia (paling cepat adalah era
    AFTA tahun 2003). Liberalisasi ini akan membuka peluang bagi IBT,
    seperti juga IBB, untuk mengembangkan aktivitas ekonomi dan
    perdagangna yang ada di daerahnya masing- masing.

2.4.   Langkah – langkah yang Harus Dilakukan

    Pada era otonomi dan dalam menghadapi era perdagangan bebas nanti,
    IBT harus menerapkan suatu strategi pembangunan ekonomi yang
    berkelanjutan yang mendorong pemanfaatan sebaik-baiknya semua
    keunggulan–keunggulan yang dimiliki kawasan tersebut tanpa
    eksploitasi yang berlebihan yang dapat merusak lingkungan. Dalam
    new development paradigm ini, ada sejumlah langkah yang harus
    dilakukan, diantaranya sebagai berikut.

1. Kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan secara merata di
    seluruh daerah di IBT. Peningkatan kualitas sumber daya manusia
    harus merupakan prioritas utama dalam kebijakan pembangunan


                                        semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                         Perekonomian Indonesia 10

                                                 Pembangunan Ekonomi Daerah



         ekonomi dan sosial di IBT. Untuk maksud ini, kebijakan pendidikan,
         baik pada tingkat nasional maupun daerah, harus diarahkan pada
         penciptaan sumber daya manusia berkualitas tinggi sesuai kebutuhan
         setiap kawasan di Indonesia. IBT harus memiliki ahli-ahli khususnya
         dibidang kelautan, perhutanan, peternakan, pertambangan, industri,
         pertanian,dan perdagangan global.

      2. Pembangunan sarana infrastuktur juga harus merupakan prioritas
         utama, termasuk pembangunan sentra-sentra industri dan pelabuhan-
         pelabuhan laut dan udara di wilayah-wilayah IBT yang berdasarkan
         nilai ekonomi memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi
         entreport.

      3. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang memiliki keunggulan komparatif
         berdasarkan     kekayaan   sumber    daya      alam   yang   ada     harus
         dikembangkan seoptimal mungkin, di antaranya adalah sektor
         pertanian dan sektor industri manufaktur. Setiap daerah/provinsi IBT
         harus berspesialisasi dalam suatu kegiatan ekonomi yang sepenuhnya
         didasarkan pada keunggulan komparatif yang dimiliki oleh masing-
         masing daerah atau provinsi.

      4. Pembangunan ekonomi di IBT harus dimonitori oleh industrialisasi
         yang dilandasi oleh keterkaitan produksi yang kuat antara industri
         manufaktur    dan    sektor-sektor   primer,     yakni   pertanian    dan
         pertambangan.

   III. Teori dan Model Analisis Pembangunan Ekonomi Daerah

         Ada beberapa teori yang menerangkan tentang pembangunan daerah
         yaitu:

      3.1 Teori Basis Ekonomi

      Teori basis ekonomi menyatakan bahwa faktor penetu utama pertumbuhan
ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan barang


                                              semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                           Perekonomian Indonesia 11

                                                    Pembangunan Ekonomi Daerah



dan jasa dari luar daerah. Proses produksi di sektor industri di suatu daerah yang
menggunakan sumber daya produksi(SDP) lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan
baku, dan output-nya diekspor menghasilkan pertumbuhan ekonomi, peningkatan
pendapatan perkapita, dan menciptakan peluang kerja di daerah tersebut.

       3.2 Teori Lokasi

       Teori lokasi juga sering digunakan untuk penentuan atau pengembangan
kawasan industri di suatu daerah. Inti pemikiran teori ini didasarkan pada sifat
rasional pengusaha/perusahaan yang cenderung mencari keuntungan setinggi
mungkin dengan biaya serendah mungkin. Oleh karena itu, pengusaha akan
memilih    lokasi    usaha     yang      memaksimumkan       keuntungannya     dan
meminimalisasikan biaya usaha/produksinya, yakni lokasi yang dekat dengan
tempat bahan baku dan pasar.

       3.3 Teori Daya Tarik Industri

       Menurut Kotler dkk. (1997), ada beberapa faktor penentu pembangunan
industri di suatu daerah, yang terdiri atas faktor-faktor daya tarik industri dan
faktor-faktor daya saing daerah.

       a. Faktor-faktor daya tarik industri antara lain:

           1. Nilai Tambah yang Tinggi per Pekerja (Produktivitas)

               Ini berarti industri tersebut memiliki sumbangan yang penting tidak
               hanya terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga
               pembentukan PDRB.

           2. Industri-industri Kaitan

               Ini   berarti   perkembangan     industri-industri   tersebut   akan
               meningkatkan total nilai tambah daerah atau mengurangi
               “kebocoran ekonomi” dan ketergantungan impor.

           3. Daya Saing di Masa Depan



                                                semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                    Perekonomian Indonesia 12

                                             Pembangunan Ekonomi Daerah



       Hal ini sangat menentukan prospek dari pengembangan industri
       yang bersangkutan.

   4. Spesialisasi Industri

       Sesuai dasar pemikiran teori-teori klasik mengenai perdagangan
       internasional, suatu daerah sebaiknya berspesialisasi pada industri-
       industri di mana daerah tersebut memiliki keunggulan komparatif
       sehingga daerah tersebut akan menikmati gain from trade.

   5. Potensi ekspor

   6. Prospek bagi Permintaan Domestik

       Dasar pemikirannya untuk memberikan suatu kontribusi yang
       berarti bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah melalui
       konsumsi lokal.

b. Faktor-faktor    penyumbang        pada   daya   tarik   industri   dapat
   dikelompokkan dalam 4 kelompok (Kotler dkk., 1997), yakni sebagai
   berikut.

   1. Faktor-faktor Pasar

       Faktor-faktor ini antara lain ukuran pasar, ukuran segmen kunci,
       laju pertumbuhan pasar, keragaman pasar, kepekaan terhadap harga
       dan faktor eksternal, siklus dan musim dan kemampuan tawar
       menawar.

   2. Faktor-faktor Persaingan

       Faktor-faktor ini antara lain tingkat pemusatan, substitusi
       disebabkan oleh progres teknologi, tingkat dan jenis integrasi, dan
       entry rates dan exist rates.

   3. Faktor-faktor Keungan dan Ekonomi




                                         semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                 Perekonomian Indonesia 13

                                           Pembangunan Ekonomi Daerah



       Faktor-faktor ini antara lain ilai tambah, kesempatan kerja,
       keamanan, stabilitas ekonomi, pemanfaatan kapasitas produksi,
       skala ekonomis, dan ketersediaan infrastruktur keuangan.

   4. Faktor-faktor Teknologi

       Faktor-faktor ini antara lain kompleksitas, diferensiasi, paten dan
       hak cipta, dan teknologi proses manufaktur yang diperlukan.

Berdasarkan pemikiran Doz dan Prohaald (1987), keunggulan kompetitif
yang ada atau yang potensial dari suatu daerah yang menentukan
kemampuan industri di daerah tersebut terghantung pada:

   1. Daya saing faktor-faktornya yakni, kekuatan relatif faktor-faktor
       produksinya yang mencakup sumber daya fisik, sumber daya
       manusia dan teknologinya.

   2. Daya saing atau kekuatan relatif perusahaan-perusahaan di daerah
       tersebut.

Selain itu, menurut Doz dan Prohalad ketika daya saing faktor-faktor suatu
daerah tinggi dan perusahaan-perusahaan lokalnya sangat kompetitif,
maka industri di daerah tersebut akan berkembang pesat. Apabila daya
saing perusahaan-perusahaan yang ada di daerah tinggi, namun daya saing
faktor-faktornya rendah, maka akan timbul tekanan bagi investasi ke luar
daera (outward investment), yakni inbvestasi ke daerah-daerah lain yang
memiliki daya saing faktor yang tinggi atau perusahaan-perusahaan di
suatu daerah rendah, sedangkan faktor-faktor yang dimiliki daerah tersebut
tinggi, maka akan timbul investasi ke dalam (inward investment) untuk
industri-industri di mana perusahaan-perusahaan tersebut berbeda.

       Selain teori-teori di atas, ada beberapa metode yang umum
digunakan untuk menganalisis posisi relatif ekonomi suatu daerah,
diantaranya:



                                       semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                                Perekonomian Indonesia 14

                                          Pembangunan Ekonomi Daerah



a. Analisis Shift-Share (SS)

   Metode analisis ini bertitik tolak dari anggapan dasar bahwa
   pertumbuhan ekonomi suatu daerah dipengaruhi oleh tiga
   komponen utama yang saling berhubungan satu sama lainnya,
   yakni pertumbuhan ekonomi (national growth component),
   pertumbuhan      sektoral     (industrial   mix   component),     dan
   pertumbuhan daya saing wilayah (competitive effect component)
   (Tambunan, 1996). Pertumbuhan ekonomi suatu daerah diukur
   dengan cara menganalisis perubahan output agregat secara sektoral
   dibanding perubahan output dari sektor yang sama dari wilayah
   yang lebih besar yang digunakan sebagai acuan.

   Model analisis ini diawali dengan perubahan NT atau PDRB dari
   suatu sektor (i) di suatu provinsi (j) antara dua periode, yaitu
   periode dasar (t = 0) dan periode t = 1.

          Q1ij = Q0ij + DQ1ij                                  (2)

   Atau

          ∆Q1ij = Q1ij - DQ0ij

   Selanjutnya, persamaan (2) bisa diperluas menjadi:

          ∆Qij = Q0ij Y1 – 1 + Q0ij - Y1 + Q0ij Q1ij - Q1i     (3)
                      Y0       Q0i    Y0        Q0ij Q0i

   Persamaan (3) menandakan bahwa pertumbuhan output dari suatu
   sektor di suatu wilayah bisa dikategorikan ke dalam 3 komponen
   pertumbuhan yang telah dibahas sebelumnya
          PRij = Q0ij Y1 – 1       : pangsa regional                 (4)
                      Y0            (national growth component)


          PSij = Q0ij Q1i - Y1 : pergeseran proposional              (5)
                      Q0i Y0 (industry mix component)



                                      semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                             Perekonomian Indonesia 15

                                       Pembangunan Ekonomi Daerah




        DSij = Q0ij Q1ij - Q1i : pergeseran yang berbeda    (6)
                      0      0
                    Q ij Q i (competitive effect component)

Di mana:

Y0 dan Y1       = PDB (output nasional) masing-masing pada tahun
dasar (t = 0) dan periode t = 1

Q0ij dan Q1ij   = PDRB (output regional) dari sektor i di provinsi j,
masing-masing pada tahun dasar dan periode t = 1

Q0i dan Q1i     = output sektor i nasional (PDRB dari sektor i),
masing-masing pada periode dasar dan periode t = 1

        Secara statistik, persamaan (5) dan (6) adalah dalam bentuk
deviasi, dimana Y1 dan Y0 (atau rasio Y1/ Y0) dianggap sebagai
nilai rata-rata dari, masing-masing, Q1i dan Q0i (atau rasio Q1i /
Q0i); dan variabel-variabel terakhir ini sendiri sebagai nilai rata-rata
dari Q1i dan Q0i untuk setiap provinsi. Oleh sebab itu, jumlah setiap
persamaan (5) dan (6) untuk semua sektor dan provinsi di
Indonesia adalah nol.

        ∑ ∑ PSij = 0 dan ∑ ∑ DSij = 0                          (7)

Sedangkan penggabungan persamaan (9.4) sampai dengan
persamaan (9.6) menjadi:

        ∆S = PRij + PSij + DSij                                (8)

Maka dengan sendirinya:

        ∑ ∑ ∆Sij = ∑ ∑ PRij = ∑ ∑ Q0ij Y1 - 1                  (9)
                                       Y0
        Analisis SS bisa dibagi dalam dua bagian, yakni (1) analisis
pangsa pasar (share analysis) dengan memakai persamaan (4) dan



                                  semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                               Perekonomian Indonesia 16

                                           Pembangunan Ekonomi Daerah



   (2) analisis pergeseran (shift analysis) dengan menggunakan
   persamaan (5) dan (6).




b. Location Quotients (LQ)

   LQ adalah suatu teknik yang digunakan untuk memperluas metode
   analisis sebelumnya (SS), yaitu untuk mengukur konsentrasi suatu
   kegiatan ekonomi atau sektor di suatu daerah dengan cara
   membandingkan peranannya dalam perekonomian daerah tersebut
   dengan peranan dari kegiatan ekonomi/sektor yang sama pada
   tingkat nasional.

   Rumus menghitung LQ adalah sebagai berikut:

          LQ = v1 / vt                              (10)
               Vi / Vt

c. Analisis Input-Output (I-O)

   Analisis I-O merupakan salah satu metode analisis yang sering
   digunakan untuk mengukur perekonomian suatu daerah dengan
   melihat   keterkaitan     antarsektor    dalam     usaha   memahami
   kompleksitas perekonomian daerah tersebut serta kondisi yang
   diperlukan    untuk      mempertahankan      keseimbangan     antara
   penawaran agregat (AS) dan permintaan agregat (AD).

   Analisis I-O menunjukkan bahwa di dalam suatu perekonomian
   terdapat keterkaitan produksi (production linkages) antarsektor.
   Input suatu sektor merupakan output sektor lainnya dan sebaliknya.
   Pada akhirnya keterkaitan produksi antarsektor tersebut akan
   menyebabkan terjadinya keseimbangan antara penawaran dan
   permintaan antarsektor. Dalam keadaan keseimbangan, jumlah
   nilai output agregat (dalam unit moneter) dari perekonomian secara



                                     semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                             Perekonomian Indonesia 17

                                         Pembangunan Ekonomi Daerah



   keseluruhan harus sama dengan jumlah nilai input antarsektor
   (dalam nilai moneter) dan jumlah nilai output antarsektor (dalam
   nilai moneter).

   Persamaan keseimbangan input-output adalah sebagai berikut:

          X1 = X11 + X12 + D1                          (12)

          X2 = X21 + X22 + D2

   Dimana : X1 = total output sektor 1

            X2 = total output sektor 2

            X11 = output sektor 1 sebagai inputnya

            X12 = output sektor 1 sebagai input sektor 2

            X21 = output sektor 2 sebagai input sektor 1

            X22 = output sektor 2 sebagai inputnya

            D1 = output sektor 1 untuk permintaan akhir (konsumsi)

            D2 = output sektor 2 untuk permintaan akhir

d. Model Pertumbuhan Harrod-Domar

   Inti dari model pertumbuhan Harrod-Domar H-O adalah suatu
   relasi jangka panjang pendek antara peningkatan investasi dan
   pertumbuhan ekonomi. Model H-O ini memiliki dua variabel
   fundamental, yakni pembentukan modal tetap (investasi) dan ICOR
   (incremental capital output ratio). Secara lengkap model H-O
   terdiri atas sejumlah persamaan sebagai berikut.

          S = s.Y                                             (9.15)




                                   semutkecil91@ymail.com / ama chee
                                         Perekonomian Indonesia 18

                                   Pembangunan Ekonomi Daerah



Tabungan (S) terdiri atas tabungan masyarakat, perusahaan, dan
pemerintah, yang merupakan suatu proporsi (s) dari total output
atau pendapatan (Y).

       I = ΔK                                             (16)

Investasi (I) didefinisikan sebagai perubahan stok modal (K). Stok
modal mempunyai hubungan langsung dengan total output (Y),
seperti yang ditunjukkan oleh COR (Capital Output Ratio) atau k.

       K=k                                                (17)
       Y

Atau

       ΔK = k. ΔY

Dalam ekonomi ekonomi yang seimbang (salah satu asumsi
penting dari model H-O):

       S=I                                                (18)

Maka didapat:

       s.Y = k. ΔY                                        (19)

dan akhirnya pertumbuhan ekonomi (Y/ ΔY) ditentukan secara
bersamaan oleh rasio tabungan (s) dan rasio modal-output (COR =
k).

       Y/ ΔY = s/k                                        (20)




                               semutkecil91@ymail.com / ama chee

								
To top