Docstoc

PENGARUH KEADAAN TANAH DALAM MEMILIH JENIS PONDASI PADA BANGUNAN GEDUNG

Document Sample
PENGARUH  KEADAAN TANAH DALAM MEMILIH JENIS PONDASI PADA BANGUNAN GEDUNG Powered By Docstoc
					                                                        1



PENGARUH KEADAAN TANAH DALAM MEMILIH JENIS PONDASI
             PADA BANGUNAN GEDUNG




                SEMINAR KONSTRUKSI




                          Oleh
                       Kelompok 1

                 1.   Resman Harefa
                 2.   Yusintra Wira Putra Zebua
                 3.   Asa’aro Harefa
                 4.   Paulus K Telambanua
                 5.   Titus Perubahan Jaya Putra Hulu




       INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                 (IKIP) GUNUNGSITOLI
    FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
     PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
                        April 2010
                                                                                  2




I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

       Dewasa ini, bangunan gedung yang menggunakan tembok merupakan

simbol kemakmuran dimana pun di negeri ini. Seakan-akan bangunan dari kayu

sudah tidak zamannya lagi, atau sudah ketinggalan model. Namun, pilihan ini bisa

mengancam keselamatan penghuninya, jika pembangunannya tidak mengikuti

aturan struktur bangunan yang benar. Apalagi, seperti kita ketahui bersama

Indonesia terletak pada jalur gempa, yang artinya wilayah Indonesia rentan terjadi

Gempa Bumi.

       Menurut Yuskar Lase (Kompas : 2009) mengatakan, “Pembangunan

rumah tahan gempa perlu mengacu pada konsep bahwa struktur harus menyatu,

cukup kaku, kuat, dan liat atau tidak getas diguncang gempa”. Jadi, dapat

disimpulkan bahwa seluruh bagian bangunan turut mempengaruhi ketahanan

bangunan, termasuk tanah yang menjadi tempat berdirinya bangunan tersebut.

       Perlu kita ketahui bersama, tanah mempunyai peranan yang sangat

penting, yakni mendukung atau menopang bangunan di atasnya, dimana beban-

beban yang bekerja pada bangunan diteruskan secara merata ke dalam tanah oleh

pondasi. Disamping itu, perlu juga bagi kita untuk mengetahui bahwa tanah

merupakan partikel-partikel (butiran kecil) yang terdiri dari kerikil, pasir, humus,

lanau, dan lempung, yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, yang

dapat kita klasifikasikan dalam 2 jenis, yaitu:
                                                                             3



   1. Tanah kohesif yaitu tanah yang yang terikat antara satu dengan yang
       lainnya,
   2. Tanah tak kohesif yaitu tanah yang tidak terikat antara satu dengan yang
       lainnya.

       Dengan memperhatikan karakteristik dari 2 jenis tanah tersebut maka kita

dapat merencanakan pondasi yang sesuai dengan keadaan tanah dari suatu

bangunan yang akan didirikan, tanpa melupakan aspek besarnya beban yang

bekerja pada bangunan, dan juga nilai ekonomis, serta efisiensi.

       Namun berdasarkan pengamatan pada saat terjadinya gempa bumi 28

Maret 2005 di Pulau Nias, khususnya di Kota Gunungsitoli, banyak bangunan

yang ambruk, rusak berat, rusak ringan, dan bahkan ada yang sampai terguling.

Tentu saja, hal ini tidak boleh dibiarkan saja, melainkan harus dicari penyebab

pasti yang menyebabkan tidak tahannya bangunan terhadap gempa bumi.

       Dari hasil wawancara kepada beberapa orang yang ahli bangunan, yang

juga merupakan dosen di Program Studi Teknik Bangunan, didapatkan informasi

awal antara lain:

       •   Struktur bangunannya tidak memenuhi aturan struktur bangunan tahan
           gempa yang benar, atau dengan kata lain asal-asalan.
       •   Penggunaan bahan-bahan bangunan yang tidak sesuai dengan standar.
       •   Denah bangunannya tidak simetris. Sebab, bentuk yang tidak simetris
           tidak stabil dalam menahan terjangan gelombang gempa.
       •   Pemilihan jenis pondasi yang tidak tepat.
       •   Keadaan tanah tempat berdirinya bangunan yang tidak mendukung.
       •   Beban yang bekerja pada bangunan berlebihan.

       Dari uraian di atas, tampak bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi

ketahanan suatu bangunan sangatlah kompleks. Oleh sebab itu, dari sejumlah
                                                                             4



permasalahan tersebut, peneliti merasa tertarik untuk melakukan satu penelitian

yang berjudul: “PENGARUH KEADAAN TANAH DALAM MEMILIH

JENIS PONDASI PADA BANGUNAN GEDUNG”.


B. Identifikasi Masalah

       Yang menjadi Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :

   1. Struktur bangunan tidak memenuhi aturan struktur bangunan tahan gempa

       yang benar, atau dengan kata lain asal-asalan.

   2. Penggunaan bahan-bahan bangunan yang tidak sesuai dengan standar.

   3. Denah bangunan yang tidak simetris.

   4. Pemilihan jenis pondasi yang tidak tepat.

   5. Keadaan tanah tempat berdirinya bangunan yang tidak mendukung.

   6. Beban yang bekerja pada bangunan berlebihan.


C. Batasan Masalah

       Mengingat ruang lingkup permasalahan di atas cukup luas, maka peneliti

perlu menentukan batasan masalah dengan tujuan agar penelitian dapat terarah

atau terfokus, sehingga dapat menghindari berbagai permasalahan baru yang

mungkin timbul.

       Maka yang menjadi batasan masalah pada penelitian ini yaitu:

   1. Pengaruh keadaan tanah.

   2. Pemilihan jenis pondasi yang tepat pada Bangunan gedung di kota

       Gunungsitoli.
                                                                                 5



D. Rumusan Masalah

        Rumusan Masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan rinci

mengenai masalah yang akan diteliti, berdasarkan Identifikasi dan Batasan

Masalah. Oleh sebab itu, yang menjadi Rumusan Masalah pada penelitian ini

adalah :”Adakah pengaruh keadaan tanah dalam memilih jenis pondasi pada

bangunan gedung”


E. Tujuan Penelitian

        Yang dimaksud dengan tujuan penelitian dalam melakukan penyelidikan

ini ialah produk atau hasil penelitian tentang apa dan untuk siapa produk

penelitian ini di sarankan.

        Menurut Surakhmad.winarno (1990:39) mengemukakan bahwa :

        Apabila telah di peroleh informasi yang cukup dari studi pendahuluan
        eksploritas,maka masalah yang di teliti menjadi jelas,agar penelitian dapat
        di laksanakan sebaik-baiknya, maka peneliti harus merumuskan masalah
        penelitian dimaksud sehingga akan tampak jelas dari mana harus di mulai,
        kemana harus pergi dan dengan apa.

        Dari uraian di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: “Untuk

mengetahui besarnya pengaruh keadaan tanah dalam memilih jenis pondasi pada

bangunan gedung”.


F. Hipotesis penelitian

        Hipotesis merupakan suatu jawaban atau kesimpulan sementara yang

harus di uji kebenarannya dengan data yang terkumpul melalui alat pengumpul

data.
                                                                                  6



       Maka hipotesis dari penelitian ini adalah: ”Ada pengaruh yang signifikan

antara keadaan tanah dengan pemilihan jenis pondasi pada bangunan gedung”.


G. Manfaat penelitian

       Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah :

   1. Manfaat Teoritis

       a. Sebagai landasan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.


   2. Manfaat Praktis

       a. Bagi Peneliti, sebagai sumber informasi dalam upaya menambah

           wawasan, pengetahuan, serta pengalaman yang kelak sangat berguna

           kelak.

       b. Bagi Institusi, sebagai Bahan Referensi.


H. Asumsi penelitian

       Asumsi dari penelitian ini adalah : “Keadaan tanah menentukan jenis

pondasi yang sesuai pada bangunan gedung”


I. Keterbatasan penelitian

       Keterbatasan penelitian dapat juga di defenisikan sebagai hal-hal yang

membatasi penelitian.yang menjadi keterbatasan penelitian dalam hal ini adalah:

   1. Objek penelitian hanya terbatas pada keadaan dari tanah dalam pemilihan

       pondasi pada bangunan gedung.

   2. Penelitian ini hanya dilakukan di Kota Gunungsitoli.
                                                                            7



J. Batasan Operasional

       Batasan operasional disebut juga sebagai defenisi istilah,ini perlu di

lakukan dalam penelitian dengan tujuan agar tidak timbul perbedaan pengertian

atau kekurang jelasan dari pada makna.

       Maka batasan operasional ini adalah:

   1. Tanah merupakan kumpulan partikel-partikel yang ukurannya dapat

       mencakup rentang yang luas,yang merupakan bagian dari partikel-partikel

       yang terdiri atas kerikil,pasir,humus,lanau,lempung.

   2. Pondasi adalah suatu konstruksi yang menopang beban dari atas yang

       kemudian meneruskannya secara merata ke tanah dasar.
                                                                                8




II. KAJIAN PUSTAKA


A. Kerangka Teoritis

1. Pengertian Tanah

        Menurut Sosrodarsono (1980:1) “Tanah merupakan kumpulan partikel-

partikel yang ukurannya dapat mencakup tentang yang luas, yang sebagian dari

partikel-partikel di beri nama khusus seperti kerikil, pasir, humus, lanau. dan

lempung”.

        Mengingat hal tersebut diatas, maka di dalam perencanaan atau

pelaksanaan suatu bangunan, diperlukanlah pengertian yang mendalam mengenai

fungsi-fungsi serta sifat tanah itu bila dilakukan pembebanan terhadapnya, melalui

penelitian-penelitian di lokasi, ataupun di laboratorium, dengan melibatkan orang-

orang yang ahli di bidang itu.


2. Jenis-jenis/klasifikasi tanah

        Suatu klasifikasi mengenai tanah sangat perlu untuk memberikan
gambaran sepintas mengenai sifat-sifat tanah dalam menghadapi perencanaan dan
pelaksanaan. Menurut Sosrodarsono (2005:2) tentang perlunya klasifikasi tanah
antara lain bagi hal-hal berikut:
   a.   Perkiraan hasil eksplorasi tanah (Persiapan peta tanah, dan lain-lain).
   b.   Perkiraan standar kemiringan lereng dari penggalian tanah atau tebing.
   c.   Perkiraan pemilihan bahan (Penentuan tanah yang harus disingkirkan,
        pemilihan tanah dasar, bahan tanah timbunan, dan lain-lain).
   d.   Perkiraan persentasi muai dan susut.
   e.   Pemilihan jenis konstruksi dan peralatan untuk konstruksi (Pemilihan cara
        penggalian dan rancangan penggalian).
   f.   Perkiraan kemampuan peralatan untuk konstruksi.
   g.   Rencana pekerjaan/pembuatan lereng dan tembok penahan tanah, dan lain-
        lain (Pemilihan jenis konstruksi dan perhitungan tekanan tanah).
                                                                                9



       Menurut Bowles (1992 ; 34) jenis-jenis tanah terdiri dari:

  a.   Batuan dasar adalah semua batuan dan tanah akibat dan pendinginan
       magma beku dan pelapukan yang kemudian menghujam sangat jauh
       kebawah sampai ke magma cair dan meluas dalam ukuran yang besar.
  b.   Batu Bongkah adalah potongan-potongan besar batuan yang terpatahkan
       dari bahan induk atau termuntahkan dari gunung berapi yang bervolume
       dalam rentang mulai sekitar ½ m3 - 10 m3 dan beratnya sekitar ½ sampai
       beberapa ratus ton.
  c.   Kerikil dan yang lebih kecil adalah pecahan bebatuan yang lebih kecil dari
       batu bongkah yang di golongkan ke dalam batu bulat, kerikil, pasir, dan
       koloida.
  d.   Lanau dan Lempung adalah tepung batuan dalam rentang ukuran partikel
       0,074 mm sampai sehalus 0,001mm yang merupakan produk sampingan
       terhadap pelapukan batuan.

       Tetapi pada buku Ilmu Bangunan (1987 ; 16) tanah itu dapat dibedakan

menjadi:

  a.   Kerikil terdiri dari kerikil gunung dan kerikil sungai.

  b.   Pasir terdiri dari pasir sungai, pasir laut.

  c.   Tanah liat dan

  d.   Humus.


       Dalam hal menentukan atau mengklasifikasikan tanah, di perlukan suatu

pengamatan di lapangan yang sederhana. Namun, jika hanya mengandalkan

pengamatan di lapangan, maka kesalahan-kesalahan yang disebabkan perbedaan

pengamatan perorangan, akan menjadi sangat besar. Oleh sebab itu, untuk

memperoleh klasifikasi tanah yang objektif, maka tanah itu di analisis melalui uji

coba di laboratorim.
                                                                            10



3. Pengertian Pondasi

        Menurut pendapat Bowles (1992:1) “Pondasi adalah suatu konstruksi yang

menopang beban dari atas yang kemudian meneruskannya ke tanah atau batuan

yang terletak di sekitarnya”.

        Untuk itu, dalam hal ini dapat di katakan bahwa pondasi itu merupakan

bagian dari suatu konstruksi bangunan yang mempunyai bidang kontak langsung

dengan dasar tanah yang keras yang ada di bawahnya.


4. Jenis-jenis Pondasi

        Secara umum pondasi di golongkan atas dua bagian yaitu:

   a.   Pondasi langsung adalah pondasi yang di tempatkan di atas tanah dasar

        yang cukup keras yang kedalamannya tidak lebih dari 1 m yang terdiri

        dari:

        1) Pondasi dari pasangan batu-bata.
        2) Pondasi dan pasangan batu kali/gunung.
        3) Pondasi dari beton bertulang terdiri dari pondasi pias, pondasi plat
            kaki, pondasi balok sloof.

   b.   Pondasi tidak langsung adalah pondasi yang kedalamannya lebih dari 1 m

        dan konstruksinya tidak langsung pada penerimaan dinding atau gaya di

        atasnya, perencanaan ini di sesuaikan dengan lapisan tanah yang terdiri

        dari:

        1) Pondasi umpak.
        2) Pondasi umpak dengan plat kaki.
        3) Pondasi sumuran.
                                                                               11



       4) Pondasi tiang straus.
       5) Pondasi borect pile.
       6) Pondasi tiang pancang.


5. Syarat-syarat yang harus di penuhi dalam perencanaan pondasi

       Secara umum, pondasi harus memenuhi syarat stabilitas dan deformasi,

sebagai berikut:

  a.   Kedalaman pondasi harus memadai, untuk menghindari pergerakan lateral
       dari bawah pondasi, khususnya pada pondasi telapak.
  b.   Kedalaman harus berada di bawah daerah volume perubahan musiman
       yang disebabkan oleh pergeseran, pencairan, atau pertumbuhan tanaman.
  c.   Sistem harus tahan terhadap guling, rotasi, gelincir, atau kegagalan
       kekuatan geser.
  d.   Sistem harus tahan terhadap korosi atau bahan lainnya yang mengurangi
       daya dukung.
  e.   Sistem harus mampu beradaptasi terhadap perubahan geometri konstruksi,
       atau perubahan lapangan lainnya, dan mudah di modifikasi bila perlu
       perubahan.
  f.   Metode pelaksanaan pondasi sedapat mungkin dilaksanakan secara efisien
       dan ekonomis.

       Disamping itu, pondasi juga harus memenuhi persyaratan lainnya, yakni:
  a.   Bentuk dan konstruksinya harus menunjukkan konstruksi yang kokoh dan

       kuat untuk mendukung beban bangunan di atasnya.

  b.   Pondasi harus di buat dari bahan yang tahan lama, tidak mudah hancur

       sehingga kerusakan pondasi tidak mendahului kerusakan bangunan di

       atasnya.
                                                                            12



  c.   Tidak boleh terpengaruh oleh keadaan di luar pondasi misalnya air tanah,

       jenis tanah, zat-zat kimia yang di kandung tanah khususnya tempat

       pondasi.

  d.   Pondasi harus terletak di atas tanah dasar yang keras.


6. Pemilihan bentuk pondasi sesuai dengan keadaan tanah

       Dalam pemilihan bentuk pondasi yang akan digunakan, ada beberapa hal

yang harus dipertimbangkan, antara lain:

       a. Keadaan tanah pondasi
       b. Batasan-batasan akibat konstruksi di atasnya.
       c. Batasan-batasan dari sekelilingnya
       d. Waktu dan biaya pekerjaan.

       Bila keadaan tersebut ikut di pertimbangkan, maka kita dapat memilih

jenis-jenis pondasinya yaitu sebagai berikut:

       a. Bila tanah pendukung Pondasi terletak pada permukaan tanah 1 meter
          di bawah permukaan tanah, dalam hal ini pondasinya adalah pondasi
          pias.
       b. Bila tanah pendukung Pondasi terletak pada permukaan tanah atau 2-3
          meter di bawah permukaan tanah, dalam hal ini pondasinya adalah
          pondasi telapak.
       c. Bila tanah pendukung terletak pada kedalaman sekitar 10 meter di
          bawah permukaan tanah, dalam hal ini digunakan pondasi tiang apung
          (floating pile foundation).
       d. Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman sekitar 20 meter
          di bawah permukaan tanah ,dalam hal ini tergantung dari penurunan
          yang di izinkan, dapat di pakai jenis pondasi tiang pancang.
                                                                               13



       e. Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman sekitar 30 meter
           di bawah permukaan tanah biasanya di pakai pondasi kaison terbuka,
           tiang baja, atau tiang yang di cor di tempat.
       f. Bila tanah pendukung terletak pada kedalaman lebih dari 40 meter di
           permukaan tanah dalam hal ini yang paling baik digunakan adalah tiang
           baja dan tiang beton yang di cor di tempat.

       Adapun pemilihan jenis pondasi yang lain yang sesuai dengan

jenis/keadaan tanah antara lain:

   a. Pondasi dalam deposit / endapan pasir

       Pondasi di atas pasir akan memerlukan pertimbagan dan hal-hal sebagai

berikut:

       1) Daya dukung.

       2) Penurunan endapan lepas harus dipadatkan untuk mengendalikan

           penurunan.

       3) Penempatan pondasi telapak pada kedalaman yang mencukupi, supaya

           tanah dibawah pondasi telapak dibatasi. Jika pemampatan pasir dibatasi

           maka tanah tensebut akan menggulung keluar dari keliling pondasi.

       Pondasi di dalam pasir dapat terdiri dari pondasi telapak sebar, pondasi

rakit, pondasi tiang pancang bergantung pada kerapatan, tebal dan biaya

pemadatan endapan, dan beban bangunan.
                                                                               14



  b. Pondasi pada tanah lus dan tanah lain yang mudah runtuh

       Pada umunya tanah yang mudah runtuh adalah endapan yang dibawa oleh

retakan dari endapan jenis tanah taklus, pasir dan abu fulkanik. Secara khas tanah

tersebut longgar dan mengandung bahan perekat yang larut dalam air.

       Tanah lus adalah tanah mudah runtuh yang berciri khas dengan tidak

adanya sama sekali kerikil dan batu dengan kebanyakan bahan mampu lolos lewat

saringan/ayakan.

       Namun setelah di ketahui adanya keruntuhan, maka kita dapat

menggunakan pondasi telapak dengan cara:

       1) Pemampatan tanah (penggalian dan penggantian tanah),
       2) Mengunakan suatu bahan tambahan selama pemampatan yang berupa
          kapur atau semen Portland.
       3) Memakai suatu sarana untuk mencegah agar tanah yang mudah runtuh
          itu tidak menjadi basah.
       4) Memakai pondasi tiang pancang yang menembus tanah yang mudah
          runtuh sampai suatu lapisan bawah tanah yang keras.

  c. Pondasi diatas tanah ekspansif

       Tanah ekspansif adalah tanah yang mengalami perubahan volume karena

adanya pembasahan dan pengeringan. Tanah ini kebanyakan dijumpai didalam

daerah gersang.

       Mengingat hal tersebut di atas maka kita dapat menggunakan pondasi

telapak dengan syarat:

       1) Mengubah tanah dengan cara penambahan campuran tanah yang lain.
                                                                                 15



       2) Mengendalikan air tanah dengan cara digali sampai pada suatu
            kedalaman tertentu.
       3) Menempatkan pondasi telapak pada suatu kedalaman yang mencukupi.

   d. Pondasi di atas tempat urugan tanah bersih.

       Karena tanah sulit di dapatkan di daerah perkotaan, maka mungkin

menggunakan urugan tanah bersih. Urugan tanah bersih juga dikatakan sebagai

onggokan sampah yang biasanya terdiri dan buangan sampah hasil penghancuran

konstruksi bangunan.

       Di dalam menggunakan suatu urugan tanah untuk bangunan di kemudian

hari, maka mungkin sangat sukar untuk menghindarkan adanya penurunan.

Penggunaan pondasi dapat memberikan dukungan yang memadai untuk tempat

yang berongga akibat-akibat dari tumpukan sampah hasil penghancuran

konstruksi    bangunan.    Maka   satu-satunya      upaya   yang   terakhir   adalah

menggunakan pondasi tiang pancang atau pilar (kaison) melalui urugan tanah

tersebut.


7. Masalah Penyebab Terjadinya Penurunan Pondasi

       Penurunan pondasi harus diperkirakan dengan sangat hati-hati untuk

berbagai konstruksi misalnya jembatan, menara, dan khususnya pada bangunan.

       Penurunan biasanya digolongkan sebagai berikut :

   a. Penurunan seketika yaitu penurunan yang terjadi pada waktu beban
      ditetapkan atau dalam suatu jangka waktu sekitar 7 hari biasanya terdapat
      pada tanah berbutir halus termasuk lanau dan lempung.
                                                                           16



   b. Penurunan konsolidasi yaitu: penurunan yang tergantung waktu dan
        berlangsung dalam beberapa bulan bahkan tahunan.

         Adapun masalah penurunan pondasi yang sering terjadi, akibat pengaruh

dari:

   a. Pengaruh kadar air tanah
   b. Keadaan tanah
   c. Terjadinya gempa bumi.

         Dalam menanggulangi penurunan ini, terkadang perbaikan tanah lebih

menguntungkan, yakni dengan menambah kerapatan tanah atau mengurangi

rongga/pori tanah. Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam memodifikasi

tanah, antara lain:

   a. Pemampatan
   b. Pra Pembebanan,
   c. Pembuatan Drainase,
   d. Pemadatan dengan Alat penggetar,
   e. Pengadukan Encer,
   f. Stabilisasi kimia,
   g. Geo-Tekstil.
                                                                         17



B. Kerangka Konseptual

        Untuk lebih memudahkan penelitian dalam melaksanakan penelitian,

   maka penulis merumuskan kerangka konseptual sebagai berikut :

                                      Bangunan
                                       Gedung


                                   Bangunan Bawah




          Keadaan Tanah                                Pemilihan jenis
                                                          Pondasi



               Tes                                          Tes



           Daya dukung                                  Daya dukung
              Tanah                                       Pondasi



                                          Uji
                                       Hipotesis

Keterangan :

                 : Alur berpikir

                 : Objek penelitian
                                                                               18




                             DAFTAR PUSTAKA



Bowles, Joseph E. 1992. Analisis dan Desain Pondasi, Erlangga Jakarta 1987.
       Ilmu Bangunan. Erlangga Jakarta
Subarkah, Iman, Ir. 1986. Teknik Pondasi suatu Ikhtisar Praktis, Erlangga Jakarta

Z.A. Rainal, 1993. Cara Terbaik Membangun Rumah, PT Gramedia Jakarta

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:9123
posted:11/8/2010
language:Indonesian
pages:18