Docstoc

kompetensi guru

Document Sample
kompetensi guru Powered By Docstoc
					                                                                             9




                                    BAB II

    TINJAUAN TENTANG KOMPETENSI GURU DALAM PROSES
                          BELAJAR MENGAJAR


A. Pengertian Tentang Kompetensi Guru Dalam Proses Belajar Mengajar

              Kata kompetensi berasal dari bahasa Inggris, competence, yang

   berarti “kecakapan, kemampuan, wewenang” .1

              Dalam bahasa Indonesia, kompetensi diartikan kewenangan

   (kekuasaan) untuk menentukan ( memutuskan sesuatu). Kompeten artinya

   orang yang cakap (mengetahui), berwenang, berkuasa (memutuskan,

   menentukan dan memutuskan) sesuatu. 2

              Dilihat dari sini, maka disegi bahasa kompetensi mengandung arti

   kemampuan, kecakapan atau kewenangan untuk menentukan dan memutuskan

   sesuatu.

              W. Rober Houston, sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri

   Djamarah menyatakan “competence ordinarily is defined as edaquacy for a

   task or possession of require knowledge, skil and abilities”, yang maksudnya

   kompetensi sebagai suatu tugas yang memadai, atau pemilikan pengetahuan,

   keterampilan yang dituntut oleh jabatan seseorang.3

              Moh Uzer Usman, menyatakan kompetensi guru merupakan

   “kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban serta

   bertanggung jawab dan layak”.4

              Jadi dapatlah dipahami bahwa kompetensi dengan profesi guru,

   berarti kemampuan, anak didiknya dari segi pengetahuan keterampilan dan
                                                                              10




kepribadian yang kecakapan atau keahlian guru dalam menjalankan profesinya

sebagai guru, yakni mendidik dan mengajar anak (peserta didik) sesuai dengan

tuntutan profesinya.

           Seorang guru dapat dikatakan memiliki kompetensi apabila

memiliki beberapa kriteria kompetensi, yaitu sebagaimana dikemukakan, yaitu

    1. Cognitive objective, yang mengkhususkan kemampuan memiliki

        pengetahuan dan kemampuan intelektual, seperti pengetahuan tentang

        psikologi.

    2. Performance objective yang menuntut siswa mampu menunjukkan

        beberapa kegiatan, mampu berbuat sesuatu, mampu memecahkan

        soal.

    3. Consequence objective, ditekankan dengan istilah hasil kegiatan

        belajar. Guru tidak hanya harus tahu tentang mengajar, tetapi juga

        dapat mengajar dan menghasilkan perubahan tingkah laku pada siswa.

    4. Affective objective, biasanya dihubungkan dengan kemunduran sosial

        yang terjadi pada pribadi anak, seperti sikap yang kongkrit, nilai-nilai,

        kepercayaan, persahabatan, membentuk sikap.

    5. Exploratory objective, khususnya kegiatan yang menimbulkan belajar

        menjadi bermakna, hal mana menuntut siswa untuk mengalami

        kegiatan yang spesifik, memiliki strategi belajar.

           Jadi kompetensi guru diukur dari sejauhmana ia memiliki

pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh profesinya dan agar

menjalankan profesi gurunya secara efektif, kemudian dapat pula dilihat
                                                                              11




  sejauhmana ia berhasil memajukan tampak dalam kehidupan sehari-hari anak

  didik, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

               Guru yang memiliki kompetensi di sini dapat dikatakan sebagai

  yang professional, yang menjadikan profesi keguruan sebagai bidang

  tugasnya, dan sesuai pula dengan keahlian yang dimiliki.

               Agus    F.Tamyong    sebagaiman     dikutip   oleh   Uzer   Usman

  mengatakan :

          Pengertian guru professional adalah yang memiliki kemampuan dan
          keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan
          tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal.
          Atau dengan kata lain, guru professional adalah orang yang terdidik dan
          terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya
          5
            .

               Dengan demikian dapat dikatakan guru yang professional adalah

  guru yang memiliki kompetensi, atau sebaliknya guru yang memiliki

  kompetensi dalam menjalankan tugasnya itu, dalam arti guru memang

  merupakan pekerjaaannya sehari-hari dan menjadi sumber penghidupannya.

  Jadi bukan menjadi guru sebagai profesi sambilan di samping pekerjaan lain.



B. Macam-macam Kompetensi Guru

     Banyak aspek yang menjadi tuntutan kompetensi guru. Menurut rumusan

  Tim Dosen Pembina Ilmu Keguruan IKIP Jakarta, kompotensi guru mestilah

  mencakup aspek-aspek :

     1.    Merumuskan tujuan instruksional;
     2.    Pemanfaatan sumber-sumber materi dan belajar;
     3.    Pengorganisasian materi;
     4.    Membuat, memilih dan menggunakan media pendidikan dengan tepat;
                                                                     12




   5. Menguasai, memilih dan melaksanakan metode penyampaian yang
      tepat untuk pelajaran tertentu ;
   6. Mengetahui dan menggunakan assessment siswa ;
   7. Memanage interaksi belajar mengajar, sehingga efektif dan tidak
      membosankan bagi siswa ;
   8. Mengevaluasi dan mengadministrasikan ;
   9. Mengembangkan kemamapuan yang telah dimilikinya ditingkat yang
      lebih berdayaguna dan berhasil guna. 6


          Sementara itu Syaiful Bahri Djamarah, dari berbagai sumber

   rujukan menyebutkan adanya 14 macam kompetensi guru yaitu :

       1. Kepribadian ;
       2. Penguasaan bahan ;
       3. Kesadaran waktu ;
       4. Penguasaan metiode ;
       5. Pengelolaan program belajar mengajar ;
       6. Penengelolaan kelas ;
       7. Penggunaan media ;
       8. Penguasaan landasan-landasan kependidikan ;
       9. Pengelolaan interaksi belajar mengajar ;
       10. Penilaian prestasi belajar anak didik ;
       11. Pengembangan keterampilan pribadi ;
       12. Pengenalan fungsi program bimbingan dan penyuluhan sekolah ;
       13. Penyelenggaraan administrasi sekolah ;
       14. Penyelenggaraan penelitian sederhana untuk kepentingan
       pengajaran 7

        Menurut Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru Dan

Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik,

kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional

yang diperoleh melalui pendidikan profesi.


1. Kompetensi Pedagogik
       Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

dikemukakan    kompetensi   pedagogik    adalah   “kemampuan   mengelola

pembelajaran peserta didik”. Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini
                                                                       13




dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini dapat dilihat

dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan

melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan

kemampuan     melakukan    penilaian.   Kompetensi   Menyusun    Rencana

Pembelajaran Menurut Joni (1984:12), kemampuan merencanakan program

belajar mengajar mencakup kemampuan:

(1) Merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran,
(2) Merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar,
(3) Merencanakan pengelolaan kelas,
(4) Merencanakan penggunaan media dan sumber pengajaran; dan
(5) Merencanakan penilaian prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
        Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi penyusunan rencana
pembelajaran meliputi :
(1) Mampu mendeskripsikan tujuan,
(2) Mampu memilih materi,
(3) Mampu mengorganisir materi,
(4) Mampu menentukan metode/strategi pembelajaran,
(5) Mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran,
(6) Mampu menyusun perangkat penilaian,
(7) Mampu menentukan teknik penilaian, dan
(8) Mampu mengalokasikan waktu.
        Berdasarkan uraian di atas, merencanakan program belajar mengajar

merupakan proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa

selama pembelajaran berlangsung, yang mencakup: merumuskan tujuan,

menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar,

memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan penilaian

penguasaan tujuan


2. Kompetensi Pribadi
       Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar,

memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap

keberhasilan pengembangan sumber daya manusia. Kepribadian yang mantap
                                                                         14




dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak

didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang

patut “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (di contoh

sikap dan perilakunya). Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi

keberhasilan belajar anak didik. Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat dalam Syah

(2000: halaman : 225-226) menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan

menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak

didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan

anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan

mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).

Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam

menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan

psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan

kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan

memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai

dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia memiliki

resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur

dalam pengamatan dan pengenalan.

          Dalam Undang-undang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi
kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia,
arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”. Surya (2003
halaman : 138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi
personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat
menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan
pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan
diri, dan perwujudan diri. Gumelar dan Dahyat (2002 halaman : 127) merujuk
pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan
kompetensi pribadi meliputi
                                                                        15




(1) pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama,
(2) pengetahuan tentang budaya dan tradisi,
(3) pengetahuan tentang inti demokrasi,
(4) pengetahuan tentang estetika,
(5) memiliki apresiasi dan kesadaran sosial,
(6) memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan,
(7) setia terhadap harkat dan martabat manusia.


3. Kompetensi Profesional
      Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,

kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran

secara luas dan mendalam”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi

profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat

mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Kompetensi profesional

meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan

yang harus diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan

tugasnya dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya.

          Gumelar dan Dahyat (2002 hal : 127) merujuk pada pendapat Asian
Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi profesional guru
mencakup kemampuan dalam hal :
(1) mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan baik filosofis,
psikologis, dan sebagainya,
(2) mengerti dan menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat
perkembangan perilaku peserta didik,
(3) mampu menangani mata pelajaran atau bidang studi yang ditugaskan
kepadanya,
(4) mengerti dan dapat menerapkan metode mengajar yang sesuai,
(5) mampu menggunakan berbagai alat pelajaran dan media serta fasilitas
belajar lain,
(6) mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pengajaran,
(7) mampu melaksanakan evaluasi belajar dan
(8) mampu menumbuhkan motivasi peserta didik.
        Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan
kemampuan profesional mencakup (1) penguasaan pelajaran yang terkini atas
penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan
bahan yang diajarkan tersebut, (2) penguasaan dan penghayatan atas landasan
                                                                             16




dan wawasan kependidikan dan keguruan, (3) penguasaan proses-proses
kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa.

4. Kompetensi Sosial
      Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya

dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas

merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Menurut

Undang-undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah “kemampuan

guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan

peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat

sekitar”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi sosial adalah

kemampuan     yang   diperlukan    oleh   seseorang     agar   berhasil   dalam

berhubungan dengan orang lain. Dalam kompetensi sosial ini termasuk

keterampilan dalam interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab

sosial.

        Arikunto      (1993:239)   mengemukakan   kompetensi     sosial
mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi sosial baik dengan
peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, bahkan
dengan anggota masyarakat.Berdasarkan uraian di atas, kompetensi sosial
guru tercermin melalui indikator
(1) interaksi guru dengan siswa,
(2) interaksi guru dengan kepala sekolah,
(3) interaksi guru dengan rekan kerja,
(4) interaksi guru dengan orang tua siswa, dan
(5) interaksi guru dengan masyarakat.8

          Adapun aspek-aspek kompetensi guru yang ditekankan dalam

penelitian ini ada 5 (lima) macam yaitu menguasai bahan, mengelola program

belajar mengajar, mengelola kelas, mengelola interaksi belajar mengajar,

menilai preastasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
                                                                            17




C. Kompetensi Guru Dalam Proses Belajar Mengajar

              Proses belajar mengajar merupakan interaksi semua komponen

   atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu dengan yang

   lainnya saling berhubungan dalam ikatan untuk mencapai tujuan.

              Guru sebagai tenaga profesioanl di bidang kependidikan,

   disamping memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual, harus

   juga mengetahui dan melaksanakan hal-hal yang bersifat teknis. Hal-hal yang

   bersipat teknis itu terutama kegiatan mengelola dan melaksanakan interaksi

   belajar mengajar, guru paling tidak memiliki dua modal dasar, yakni

   kemampuan mendesain program dan keterampilan mengkomunikasikannya

   kepada peserta didik. Mengelola interaksi belajar mengajar merupakan salah

   satu dari beberapa kompetensi guru yang harus ia miliki sebagai sumber dasar

   dan dasar umum atau sarana pendukung serta microteaching sebagai program

   latihan dan beberapa komponen keterampilan mengajar sebagai kegiatan

   pelaksanaan interaksi belajar mengajar.

              Selanjutnya, Sardiman AM mengklasifikasikan ada sepuluh

   kompetensi guru yang merupakan profil kemamapuan dasar bagi seorang

   guru. Sepuluh kompetensi itu meliputi : menguasai bahan, mengelola program

   belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media/sumber, menguasai

   landasan kependidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai

   preastasi siswa untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program

   layanan dan bimbingan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan
                                                                         18




administrasi sekolah, serta memahami prisip-prinsip dan hasil penelitian

pendidikan guna keperluan mengajara 11.

1. Menguasai bahan

          Sebelum guru itu tampil di depan kelas mengelola interaksi belajar

   mengajar, terlebih dahulu harus sudah menguasai bahan apa yang dapat

   mendukung jalannya proses belajar mengajar. Dengan modal penguasaan

   bahan, maka guru akan dapat menyampaikan materi pelajaran secara

   dinamis. Dalam hal ini yang dimaksud menguasai bahan bagi seorang guru

   akan mengandung dua lingkup penguasaan materi, yakni :

   1. menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah

   2. menguasai bahan pengayaan.penunjang bidang studi

          Menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah, yang

   dimaksudkan dalam hal ini guru harus menguasai bahan sesuai dengan

   materi atau cabang ilmu pengetahuan yang dipegangnya sesuai yang

   tertera dalam kurikulum sekolah. Kemudian untuk menyampaikan materi

   itu lebih mantap dan dinamis, guru harus juga menguasai bahan pelajaran

   lain yang dapat memberi pengayaan dan memperjelas dari bahan-bahan

   bidang studi yang dipegang guru tersebut. Guru juga harus mengetahui

   materi-materi lain, misalnya yang berkaitan dengan Proses Belajar

   Mengajar (PBM).
                                                                        19




2. Mengelola program belajar mengajar

          Guru yang berkompeten ia harus mampu mengelola program

   belajar mengajar. Dalam hal ini ada beberapa langkah yang harus

   ditempuh oleh guru. Langkah-langkah itu adalah :

   a. Merumuskan tujuan instruksional pembelajaran

          Sebelum mulai mengajar, guru perlu merumuskan tujuan yang

   akan dicapai. Tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran itu penting,

   karena dapat merupakan pedoman atau petunjuk praktis tentang sejauh

   mana kegiatan belajar mengajar itu harus dibawa. Dengan perumusan

   instruksional secara benar akan dapat memberikan pedoman atau arah bagi

   siswa atau warga belajar dalam menyelesaikan materi kegiatan belajarnya.

   Tujuan instruksional akan senantiasa merupakan hasil atau perubahan

   tingkah laku, kemampuan dan keterampilan yang diperoleh setelah siswa

   itu mengikuti kegiatan belajar. Oleh karena itu tugas guru harus dapat

   mermuskan tujuan instruksional itu secara jelas dan benar.

   b. Mengenal dan dapat menggunakan proses instruksional yang tepat.

      Guru yang akan mengajar biasanya menyiapkan segala sesuatunya

      secara tertulis dalam suatu persiapan mengajar, yang sering juga

      dikenal dengan PPSI. Dalam PPSI itu mengandung prosedur atau

      langkah-langkah yang harus ditempuh dalam kegiatan belajar

      mengajar. Guru harus dapat menggunakan dan memenuhi langkah-

      langkah dalam kegiatan belajar mengajar.

   c. Melaksanakan program belajar mengajar
                                                                         20




       Dalam hal ini guru berturut turut melakukan kegiatan pre–test.

Menyampaikan materi pelajaran, mengadakan pos-test dan perbaikan

.Dalam kegiatan penyampaian materi guru perlu memperhatikan hal-hal

sebagai berikut :

 1)    Menyampaikan materi dan pelajaran dengan tepat dan jelas

 2)    Pertanyaan yang dilontarkan cukup merangsang untuk berfikir,

       mendidik dan mengenal sasaran

 3)    Memberi kesempatan atau menciptakan kondisi yang dapat

       memunculkan pertanyaan dari siswa

 4)    Terlihat adanya variasi dalam memberikan materi dan kegiatan

 5)    Guru    selalu    memperhatikan   reaksi     atau   tanggapan   yang

       berkembang pada diri siswa baik verbal maupun nonverbal

 6)    Memberikan pujian atau penghargaan bagi jawaban – jawaban

       yang tepat bagi siswa dan sebaliknya mengarahkan jawaban yang

       kurang tepat

d. Mengenal kemampuan anak didik

Dalam mengelola program belajar mengajar, guru perlu mengenal

kemampuan anak didik .Sebab bagaimanapun juga setiap anak didik

memiliki    perbedaan-perbedaan     karakteristik     tersendiri,   termasuk

kemampuannya          Dengan demikian dalam suatu kelas akan terdapat

bermacam macam kemampuan .Hal ini perlu dipahami oleh guru agar

dapat mengelola program belajar mengajar dengan tepat.

e. Merencanakan dan melaksanakan program remedial
                                                                        21




Dalam suatu proses belajar mengajar tentu saja di kandung suatu harapan

agar seluruh atau setidak-tidaknya sebagian besar siswa dapat berhasil

dengan baik. Namun kenyataannya sering tidak demikian. Salah satu

usaha untuk mencapai hal itu adalah dengan mengembangkan prinsip

belajar tuntas atau mastery learning. Belajar tuntas adalah suatu sistem

yang mengharapkan sebagian besar dapat menguasai tujuan instruksional

umum ( basic learning objectives ) dari suatu tujuan atau unit pelajaran

secara tuntas. Untuk dianggap tuntas diperlukan standar norma atau

ketentuan yang tertentu .Misalnya dalam sistem pengajaran modul

ditetapkan bahwa 85% dari populasi siswa harus menguasai sekurang

kurangnya     75% dari tujuan tujuan instruksional yang akan dicapai

Apabila standar norma itu sudah dipenuhi, maka modul dapat beralih

kenomor berikutnya

Dalam suatu proses belajar mengajar yang ideal akan mengandung dua

macam kegiatan yaitu, pengayaan bagi siswa yang sudah berhasil

menguasai suati satuan atau unit pelajaran disatu pihak ,dan perbaikan

bagi yang belum berhasil dilain pihak .

Kegiatan perbaikan biasanya dilaksanakan pada saat-saat setelah diadakan

evaluasi. Evaluasi itu sendiri dapat dilaksanakan pada :

1. Awal serangkaian pelajaran atau sebelum pelajaran dimulai

2. Bagian akhir pada serangkaian pelajaran atau suatu pelajaran pokok

3. Saat setelah suatu ujian yang terdiri dari beberapa satuan pelajaran

   selesai.
                                                                          22




      Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan perbaikan ialah :

   a. Sifat kegiatan perbaikan

   b. Jumlah siswa yang memerlukan

   c. Tempat untuk diberikan

   d. Waktu untuk diselenggarakan

   e. Orang yang harus memberikan

   f. Metode yang dipergunakan

   g. Tingkat kesulitan belajar siswa

          Langkah-langkah yang ditempuh dalam memecahkan kesulitan

      belajar secara umum ialah :

      (1) Diagnose, meliputi :

          (a) Identifikasi kasus

          (b) Lokalisasi jenis dan sifat kesulitan

          (c) Menetapkan faktor penyebab kesulitan

      (2) Prognose, yaitu mengadakan estimasi tentang kesulitan

      (3) Terapi, yaitu menemukan berbagai kemungkinan dalam rangka

            penyembuh kesulitan

3. Mengelola kelas

          Untuk mengajar suatu kelas, guru dituntut mampu mengelola kelas,

   yakni menyediakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya proses

   belajar mengajar. Kegiatan mengelola kelas akan menyangkut „mengatur‟

   tata ruang kelas yang memadai untuk pengajaran dan menciptakan iklim

   belajar mengajar yang serasi.
                                                                          23




              Mengatur tata ruang kelas maksudnya guru harus dapat mendesain

   dan mengatur ruang kelas sedemikian rupa sehingga guru dan anak didik

   kreatif, kerasan belajar di ruang itu.

              Kemudian yang berkaitan dengan menciptakan iklim belajar

   mengajar yang serasi, maksudnya guru harus mampu menangani

   mengarahkan tingkah laku anak didiknya agar tidak merusak suasana

   belajar.

4. Mengelola interaksi belajar mengajar

              Didalam proses belajar mengajar, kegiatan interaksi antara guru

   dan siswa merupakan kegiatan yang cukup dominan. Kemudian didalam

   interaksi antara guru dan murid dalam rangka transfer of knowledge dan

   juga bahkan transfer of values akan senantiasa menuntut komponen yang

   serasi antara komponen yang satu dengan yang lain

         Ada beberapa komponen dalam interaksi belajar mengajar.

   Komponen komponen itu misalnya guru, siswa, metode, alat/teknologi,

   sarana, tujuan. Untuk mencapai instruksional , masing masing komponen

   itu akan merespon dan mempengaruhi antar yang satu dengan yang lain

   .Sehingga tugas guru adalah bagaimana harus mendesain masing masing

   komponen agar menciptakan proses belajar mengajar yang lebih optimal.

   Dengan demikian guru selanjutnya akan dapat mengembangkan interaksi

   belajar mengajar yang lebih dinamis untuk mencapai tujuan yang

   diharapkan

5. Menilai preastasi siswa untuk kepenti ngan pengajaran
                                                                    24




       Dengan mengetahui prestasi belajar siswa, apalagi secara

individual guru akan dapat mengambil langkah langkah instruksional yang

konstruktiv. Bagi guru yang bijaksana dan memahami karakteristik siswa

akan menciptakan kegiatan belajar mengajar yang lebih bervariasi serta

akan memberikan kegiatan belajar yang berbeda antara siswa yang

berprestasi tinggi dengan siswa yang berprestasi rendah.

       Dalam hal ini secara kongkrit guru mengambil langkah langkah

sebagai berikut :

   a. Mengumpulkan data hasil belajar siswa :

       1) Setiap kali ada usaha mengevaluasi selama pelajaran

       berlangsung

       2) Pada akhir pelajaran.

   b. Menganalisa data hasil belajar siswa. Dengan hal ini guru akan

       mengetahui :

       1) Siswa yang menemukan pola pola belajar yang lain.

       2) Keberhasilan atau tidaknya siswa dalam belajar.

   c. Menggunakan data hasil belajar siswa, dalam hal ini menyangkut :

       1) Lahirnya feed back untuk masing masing siswa dan ini perlu

           diketahui oleh guru.

       2) Adanya feed back itu maka guru akan menganalisa dengan

           tepat follow up atau kegiatan kegiatan berikutnya.
                                                                               25




                                 SUMBER KUTIPAN BAB II



         1
          Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris ( Jakarta
Gramedia 1984) hal. 132
         2
          Departemen P & K RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Jakarta Balai
Pustaka, 1990) hal. 453
         3
           Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru
(Surabaya, Usaha Nasional, 1994`), hal. 33
         4
          Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung Remaja
Rosdakarya, 1996) hal. 14
         5
             Moh Uzer Usman, op cit, hal. 15
         6
          Evaluasi Kemampuan Mengajar, (Jakarta : Proyek Pengembangan
Pendidikan Guru, 1980), hal. 16
         7
             Syaiful Bahri Djamarah, op cit, hal. 14
         8
             Moh Uzer Usman, op cit, hal. 15



         9
           Qur‟an Terjemah, Departemen Agama, Proyek Pengadaan Kitab Suci
Al Qur‟an, Jakarta, 1984/1985.
         10
           Al Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Iberahim Al
Bukhari, Shahih Bukhari, (Beirut : darul Fikr, 1401 H), Jilid IV, Juz 7, hal. 188.
         11
              Sardiman AM. Interaksi Dan Proses Belajar Mengajar, hal. 162