syafei-ibrahim-kewibawaan dalam pandangan masyarakat aceh by pustakanet

VIEWS: 2,667 PAGES: 19

									KEWIBAWAAN DALAM PANDANGAN MASYARAKAT ACEH
Syafei Ibrahim

Seperti masyarakat Indonesia lainya, masyarakat Aceh tumbuh dan berkembang atas tradisi lokal dan pengaruh dari luar. Kedua faktor ini menyatu dan menjelma dalam kehidupan masyarakat, tidak terlepas dari sitem dan budaya serta agama setempat. Demikian pula dengan lembaga kepemimipinan.

1. PENDAHULUAN Kepemimpinan merupakan kegiatan untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja sama dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Sejarah menunjukan bahwa banyak kejadian diwarnai dan dipengaruhi oleh kepemimpinan seorang tokoh masyarakat. Seperti masyarakat Indonesia lainnya, masyarakat Aceh tumbuh dan berkembang atas tradisi lokal dan pengaruh dari luar. Kedua faktor ini menyatu dan menjelma dalam kehidupan masyarakat, tidak terlepas dari sistem sosial dan budaya serta agama setempat. Demikian pula dengan lembaga kepemimpinan. ( Arifin Abdulrachman, 1970: 36 ) Apa saja yang menjadi ciri-ciri pemimpin yang baik telah dikaji dari berbagai segi. Namun sampai sekarang belum ada suatu jawaban yang memuaskan, karena ciri-ciri yang dikemukakan itu bersifat umum dan tidak menunjukan perbedaan dalam masyarakat.

Yang jelas adalah bahwa inti kepemimpinan ialah kepatuhan tanpa paksaan yang dilahirkan oleh kewibawaan pemimpin itu. Seorang pemimpin harus memiliki kelebihan atau keunggulan tertentu sebagi tumpuan kewibawaan yang dimilikanya di mata pengikutnya. Wewenang tanpa wibawa melahirkan pemimpin yang kurang ampuh, sedangkan wibawa tanpa wewenang masih memiliki kepatuhan dari masyarakat yang dipimpin. Kalau seorang pemimpin kehilangan kewibawaannya, masyarakatnya berada dalam krisis kepemimpinan. Negara kita sekarang berada dalam transisi, dari suatu masyarakat yang berdasar kebudayaan agraris ke masyarakat yang berdasarkan kebudayaan industri. Sistem kepemimpinan tradisional dalam masyarakat kita berada dalam proses pergantian ke sistem pemerintahan masa kini yang ditancapkan diatas masyarakat yang sebenarnya belum seluruhnya melepaskan diri dari sifatsifat tradisionalnya. Koentjaraningrat ( Miriam Budihardjo, 1991: 141 ) menyataka bahwa: “ Kita dapat membayangkan bahwa sistem kepemimpinan dimana komponen kekuasaan serta sifat-sifat kepemimipinan tradisional masih sangat kuat, terutama berada dikomunitas-komunitas tingkat bawah di desa-desa. Dibanyak daerah di Indonesia sistem kepemimpinan ditingkat pedesaan malah seluruhnya masih bersifat tradisional, ditingkat Kecamatan,

Kabupaten, dan Propinsi sifat-sifat kepemimpinan tradisional sering kali juga masih kuat, walaupun pada tingkat yang makin tinggi sifat itu mungkin makin berkurang, dan makin banyak terlihat sifat-sifat masa kininya.”

Didalam masyarakat pedesaan yang tergabung dalam wilayah administratif Kecamatan terdapat pertemuan antara unsur administrasi pusat yang relatif modern dengan unsur administrasi masyarakat pedesaan yang tradisional. Pemimpin kedua unsur ini, yakni pemimpin yang mempunyai kekuasaan atas jalur kekuasaan formil dalam pemerintahan. Pemimpin dari administrasi pusat adalah pemimpin yang ditempatkan dari atas dengan ketentuan legitimasi yang lebih modern. Pemimpin tersebut adalah Camat, sedang dari unsur masyarakat pedesaan menjelma dalam bentuk tradisi mukim dan tradisi kampung (Desa). Diluar kedua macam bentuk kepemimpinan formal itu masih ditemui pula satu bentuk kepemimpinan lain, yaitu kepemimpinan yang dilahirkan masyarakat diluar jaringan kekuasaan tradisinya, yang kemudian disebut kepemimpinan informal. Dari beberpa hasil penelitian yang dilakukan PLPIIS Aceh (hasil penelitian Ja’cuba Karepesina, hasil penelitian Machdar Somadisastra, hasil penelitian M. Masyhur Amin, dan hasil penelitian Abdul Kappi) pada umumnya menyatakan bahwa pada masyarakat pedesaan Aceh, masyarakatnya berada dalam krisis kepemimpinan. Berhubung dengan ini timbul pertanyaan tentang tingkah laku pemimpin dalam menggunakan kekuasaanya dan dasar kewibawaannya menurut masyarakat, karena mungkin dasar-dasar kewibawaan itu tidak dipenuhi. Dengan demikian yang menjadi permasalahan ialah apakah memang ada kelunturan dasar-dasar kewibawaan itu dan kalau memang demikian keadaannya, mengapa kelunturan itu terjadi.

2. KERANGKA PEMIKIRAN Studi tentang kepemimpinan telah banyak dilakukan orang, namun studi tentang kewibawaan yang berkaitan erat dengan kepemimpinan belum banyak dijumpai. Koentjaraningrat (1967: 181) menyatakan bahwa kepemimpinan itu membutuhkan kekuasaan dan wibawa. Sementara Karyadi (1977: 25) menyatakan bahwa pemimpin yang ideal adalah orang yang berkuasa dan memiliki wibawa serta mempinyai kemampuan memimpin yang baik terhadap semua lapisan dari lapangan dimana nantinya ia akan bergerak. Kartini Kartono (1990: 31) menyatakan konsepsi mengenai kepemimpinan itu harus selalu dikaitkan dengan 3 hal penting yaitu (1) kekuasaan, (2) kewibawaan, (3) kemampuan. Kekuasaan merupakan kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain agar tunduk pada kehendak pemegang kekuasaan. Kekuatan ini kadang-kadang bersifat paksaan. Kekuasaan mempunyai kaitan erat dengan kepemimpinan. Pendapat beberapa tokoh tentang kekuasaan antara lain R. Beirsted menyatakan “kekuasaan merupakan alat untuk mempengaruhi”; Russel mengartikan kekuasaan sebagai suatu produksi dari akibat yang diinginkan”; dan Amitai Etziomi berpendapat “kekuasaan adalah kemampuan untuk membujuk atau mempengaruhi perilaku.” Pengertian kewibawaan tidak dapat dipisahkan dari pengertian kekuasaan (power) dan wewenang (authority). Ketiganya saling berkaitan. Kekuasaan merupakan unsur penting dalam kehidupan suatu masyarakat. Kekuasaan senantiasa ada, baik pada masyarakat yang susunannya sederhana maupun pada masyarakat yang kompleks. Manusia harus tunduk pada kenyataan ini.

Kekusaan tidak dapat dibagi rata kepada semua orang. Oleh karena itu (Soerjono Soekanto, 1973: 145) timbul makna pokok dari kekuasaan, yaitu kemampuan untuk mempengaruhi orang lain menurut kehendak pemegang kekuasaan. Kekuasaan selalu menjelma dalam berbagai bentuk dan sumber dengan perubahan masyarakat. Namun pola-pola baru yang muncul itu selalu bertumpu pada suatu pola umum yakni bentuk dan sistem kekuasan selalu mneyesuaikan dirinya dengan adat iatiadat dan pola-pola perilaku masyarakat. Dengan demikian kelas yang berkuasa tidak akan atau mungkin bertahan lama apabila kekuasaannya tidak mendapat dukungan masyarakat. Kekuasaan (power) akan mempunyai arti jika didukung oleh wewenang (authority) yaitu berupa hak untuk mengambil tindakan tertentu dalam rangka kekuasaan yang dimiliki. Hak ialah sesuatu yang diakui orang dan ia akan terwujud pabila ia diakui. Oleh karena itu wewenang lebih dari hanya kebolehan menggunakan kekuasaan; ia membawa arti bahwa hak padanya diakui umum (legitimate). Dengan demikian wewenang melibatkan sebuah sistem nilai sosial melalui mana wewenang digunakan. Disegi lain wewenang akan menjadi efektif apabila didukung kakuasaan yang nyata. Keduanya saling menunjang walaupun sering kali wewenang yang diakui masyarkat dan kekuasaan itu sendiri tidak berada dalam satu tangan. R. M. Maciver (1950: 83) seseorang yang mempunyai wewenang bertindak sebagai orang yang memimpin dan membimbing orang banyak. (M. Karyadi, 1977: 25) menyebutkan untuk dapat memimpin dengan baik, orang harus berwibawa,

bukan karena kakuasaan atau ditakuti. Kekuasaan kadang-kadang mengandung kekerasan, namun bukan berarti kekuasaan adalah kekerasan, kakuasaan tidak perlu mengandung kekerasan jika masalahnya dihubungkan dengan wibawa (gezag). Wibawa menimbulkan pada orang yang dihadapi rasa segan, bukan takut, rasa hormat bukan kecut. Orang yang berwibawa mudah melaksanakan kehendaknya. Kartini Kartono (1990:105) kewibawaan berasal dari kata-kata “kawi” dan “bahwa”. Kawi berarti kuasa, kekuasaan yang lebih, kelebihan. Dan bahwa berarti kekuasaan, keutamaan, kelebihan, keunggulan. Jadi kewibawaan berarti kelebihan, keunggulan, keutamaan, sehingga seseorang mampu mangatur, membawa, memimpin, dan memerintah orang-orang lain. Konsep kewibawaan dari waktu kewaktu terus berubah. Pada masyarakat kuno, kewibawaan memiliki sifat-sifat sesuai dengan cita-cita dan keyakinan sebagian besar warga masyarakatnya, kemudian dalam masyarakat yang sedang berkembang konsep kewibawaan berkembang lagi dengan kepandaian berburu, berkebun, bertani, ketrampilan berpidato, kemahiran berdiplomasi. Menurut Koentjaraningrat (Miriam Budiardjo, 1991: 238) menyatakan bahwa dalam masyarakat modern sekarang ini konsep kewibawaan berkembang karena popularitas, memiliki kapasitas rasional untuk memecahkan masalah sosial, ekonimi, dan politik, kecendekiawanan, dan memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan cita-cita dan keyakinan dari sebagian warga masyarakatnya. Wibawa menandatangkan kapatuhan tanpa paksaan dari pihak lain kepatuhan seperti ini hanya dapat diperoleh jika kekuasaan itu selaras dengan nilai-nilai masyarakat. Dengan demikian

kewibawaan dapat didefinisikan sebagai kekuatan yang memancar dari diri seorang karena kelebihan yang dimilikinya sehingga mendatangkan kepatuhan tanpa paksaan kepadanya. Pembahasan tentang kewibawaan dalam pandangan masyarakat Aceh akan didasarkan kepada pengertian diatas, sedangkan kekuasaan diartikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak pamegang kekuasaan. Wewenang diartikan sebagai hak untuk mengambil tindakan tertentu dalam rangka kekuasaan yang dimiliki.

3. SUMBER KEWIBAWAAN Dalam masyarakat Aceh terdapat pemimpin resmi dan pemimpin tidak resmi. Walaupun kedua macam pemimpin ini berasal dari saluran yang berbeda, dasar kewibawaannya tidak jauh berbeda dalam pandangan masyarakat. Timbul pertanyaan, apa sajakah yang menyebabkan seorang pemimpin berwibawa dalam pandangan masyarakat Aceh?. Kajian yang menghasilkan jawaban atas masalah ini tidak dapat dipisahkan dari kultur masyarakat. Menurut Ja’cubi Karepesina (1987: 17) sumber-sumber kewibawaan itu dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Sakti (kesaktian). Sakti artinya (R. A. Husein Djajadininrat,1934: 682) “Kekuatan dan daya luar biasa atau kekuasaan untuk dapat melahirkan sesuatu yang luar biasa, juga kekuasaan untuk membuat sesuatu yang ganjil”.

Sakti bukan berarti kekebalan walupun kekebalan merupakan bagian dari sakti. Sakti dalam pandangan masyarakat Aceh bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia sesuatu yang konkrit dan manifestasinya terlihat dengan jelas. Sakti ada pada manusia yang memiliki kesuburan atau kemakmuran, kekebalan, dan kesucian. Di Aceh, kesucian seseorang merupakan petunjuk untuk mnegetahui kesaktianya. Robeert Wessing mengatakan bahwa adat dan agama kebudayaannya berpijak pada sesuatu yang dianggap suci. Ini berkaitan dengan kehidupan manusia. Sakti terdapat pula pada sebuah rencong (keris) yang mempunyai peungeulih, pada sebuah tongkat atau pada sebuah kuburan keramat. Pandangan bahwa kesaktian ada pada benda dapat dipahami apabila dikaitkan dengan religi atau agama asli bangsa Indonesia. Tiap benda dianggap mempunyai jiwa serta kekuatan yang berbeda. Semangat atau jiwa sesuatu benda dapat berpindah-pindah atau dipindah-oindahkan. Kekuatan ini dapat berpindah atau dipindahkan juga oleh manusia. Menurut Deliar Noer (1965: 82) manusia dapat memeperkuat dirinya dengan menguasai kekuatan dari benda-benda tadi. Konkritisasi pandangan ini jelas terlihat pada mitos tradisional tentang kesaktian tongkat Teungku Chik di Pasi, Teungku Chik di Rebee dan Teungku Chik di Treung Campli. Ketiganya dapat membangun leung (saluran irigasi) hanya menggariskan tongkat ditanah. Tokoh kharisnatik

Teungku M. Daud Beureueeh mempergunakan tongkat sebagai alat dalam usaha memimpin masyarakat. Kesaktian seorang Uleebalang, seorang Panglima perang dan seorang teungku keramat misalnya cerita mitos tentang kesaktian Tgk. Chik Di Tiro yang dapat membunuh lawannya (Tetara Belanda) dengan hanya menebas daun-daun talas dan kayu-kayu yang sudah lapuk. Kesaktian teungku-teungku keramat tercermin dalam penghargaan masyarakat kepada mereka dan pemujaan masyarakt terhadap kuburan mereka. Kuburan-kuburan keramat diziarahi dan merupakan tempat kenduri memohon berkat, pertanda penghargaan masyarakat terhadap kesaktian. Dalam pandangan masyarakat, orang-oarang keramat dekat dengan Tuhan dan dapat dijadikan penghubung dengan-Nya karena tidak ada dinding pemisah antara manusia dengan Tuhan. Jalan yang kedua untuk memperoleh kesaktian adalah melalui kaluet (tapa, khalwat atau tirakat). Menurut B. G. Anderson (1972: 9) proses ini berhubungan erat dengan gagasan tentang kesucian. Setelah masuknya agama islam ke Aceh, Islam mengambil alih peranan tradisional dari dukun dan sebagainya. Ajaran Islam menjadi dasar tingkah laku masyarakat Aceh. Adat dan agama berbaur menjadi satu sehingga nilai-nilai agama menjadi dasar dari adat. Oleh karena itu sorotan tentang kaluet sebagai jalan menuju kesaktian akan banyak bermuara ke mistik Islam. Dalam pandangan masyarakat Aceh, kesucian seseorang berarti kemampuan menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela (kesucian

lahir) dan selalu melakukan kebajikan (kesucian batin). Menurut masyarakat, pada masa lalu seseorang yang memiliki kesucian (keramat) jika sedang berjalan selalu memakai tutup kepala, menunduk, tidak pernah melihat kiri kanan supaya tidak melihat atau mendengar sesuatu yang tidak baik. Tandatanda kesucian seseorang merupakan keajaiban sebagai pertanda kesaktian yang tidak terdapat pada orang biasa. Misalnya Ulama Tgk. Umar Tiro (cucu Tgk. Chik Di Tiro) tidak akan basah disiram hujan walaupun berjalan tanpa payung. (Deliar Noer, 1965: 83) pertanda lain dari hanya kesaktian adalah kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan. Ini merupakan bahwa

kepercayaan asli dijumpai pada masyarakat sederhana yang bergemilang dengan kehidupan berburu, mengakap ikan, bertani dan sebagainya. Nilainilai masyarakatpun banyak berhubungan dengan keadaan seperti itu. Kesuburan tanah atau alam yang subur memikat hati. Demikian pula manusia. Jika seseorang beristri banyak, memiliki kekayaan dan sebaginya, ia dianggap sakti. Kesuburan, kemakmuran dan kesejahteraan ini dimiliki oleh sebagian uleebalang dan ulama.

2. Keturunan Keturunan merupakan dasar kewibawaan tradisional. Seseorang yang berasal dari keluarga yan pernah memimpin dengan baik dianggap memiliki sesuatu “lambing” sebagai dasar kepemimpinannya. Dalam masyarakat Aceh,

orang demikian dianggap telah mewarisi darah kepemimpinan. Pandangan ini dilihat dari ungkapan lagee du meunan minyeuk, lagee du meunan aneuk; seperti kelapa begitu minyaknya, seperti ayahnya begitu anaknya. Kesaktian berhubungan erat dengan keturunan. Kesaktian dapat diwariskan melalui hubungan darah. Teuku Pakeh Mahmud (Uleebalang) Pidie memiliki kesaktian yang diwariskan oleh leluhurnya dalam bentuk kekebalan terhadap peluru, kecuali peluru bermata intan

3. Ilmu Yang dikaji dalam bagian ini adalah ilmu ynag menjadi sumber kewibawaan. Yang dimaksud disini ialah ilmu yang sifat dan isinya merupakan suatu kekuatan yang bermanfaat langsung dan dapat menunjang pelaksanaan nilai-nilai agama dan adat. Pola ini dipengaruhi oleh kualitas pengetahuan seseorang (dalam hal ini dulu adalah Ulama dan Uleebalang). Ilmu mereka mencerminkan kemakmuran dan kesejahteraan sehingga dengan demikian masyarakat menggantungkan diri padanya supaya mereka dapat mempercepat bagian dari kemakmuran kebahagiaan dan kesejahteraan. Ilmu pengetahuan agama belum tetentu menjadu sumber kewibawaan jika tidak disertai dengan kesucian. Demikian juda ilmu pengetahuan hasil pendidikan modern yang tidak disertai dengan martabat dan pembawaan diri yang disukai masyarakat serta tidak dapat menunjang pelaksanaan nilai-nilai agama dan adat tidak akan membawa serta kewibawaan bagi pemiliknya.

Pada masa dahulu sesuai sifat masyarakat asli yang dipengaruhi oleh kepercayaan asli, ilmu banyak berkaitan dengan praktek dukun dan kesaktian. Keadaan ini tidak hilang sama sekali dan peranannya beralih kepada ulama dan uleebalang pada periode berikutnya. Periode selanjutnya, ilmu sebagai kewibawaan mempunyai warna lain. Saat itu ulama merupakan elit yang memegang peranan pentingdalam masyarakat, mereka bukan saja sebagi Imeum meunasah atau Imeum masjid tetapi sekaligus sebagai pemuka agama, cendekiawan dan menjadi bagian penting dari pusat jaringan kekuasaan yang berhasil memimpin masyarakat.mereka mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan dan sebagian dari mereka menjadi guru terdekat. Karena pengetahuan agama mereka cukup tinggi, mereka mimilki pengaruh bukan saja dikalangan muridnya, tetapi juga dikalangan rakyat luas. Generasi sekarang yang merupakan hasil dari pendidikan modern, juga punya pernan dan pengaruh. Ad diantara mereka yang dijadikan tempat bertanya dan tumpuan harapan. Kewibawaan mereka bersumber dari ide pembaharuan yang lahir dari ilmu pengetahuannyasepanjang ide tersebut dapat menunjang pelaksanaan nila-nilai agama dan adat serta manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Dunia intelektual yang dulu berada pada ulama, secara perlahan sudah berpinah ketangan orang seperti ini. Mereka merupakan kekuatan pendorong dan bagian integral dari masyarakat.

4. Sifat-sifat kepribadian Salah satu langkah lagi kearah pembinaan kesaktian adalah penekanan hawa nafsu. Dengan demukuan kejujuran, ketidakadilan, korupsi, sifat kasar dan usaha-usaha lain untuk memperkaya diri sendiri yang ditempuh dengan jalan tidak wajar, merupakan pertanda tidak adanya kesucian karena hal tersebut menunjukkan bahwa hawa nafsu masih menguasai diri. Sifat kepribadian yang akan diuraikan berikut ini sebagian bersumber pada kesucian sebagai salah satu unsu kesaktian. a) Adil dan jujur Seorang pemimpin harus adil dan jujur dalam tindakannya. Sekarang sifat keadilan lebih nampak dalam penyelesaian sengketa. (M. Hisyam Safioeddin, 1982: 6) menyatakan setiap perselisihan biasanya didamaikan oleh keuchik, petua meunasah, tuha peuet dan cerdik pandai yang lain. Penyelesaian seperti ini adalah bagian dari adat istiadat. Pada masa pemerintahan uleebalang, keputusan keuchik dalam penyelesaian sengketa didukung oleh uleebalang Setiap penyelesaian yang tidak diselesaikan secara adil, apalagi kalau dibawa ke aparat tingkat atas, melemahkan wibawa keuchik dimata masyarakat b) Berani dan tegas Keberanian seorang pemimpin merupakan suatu sifat yang didambakan oleh masyarakat sejak seorang anak lahir, sifat ini sudah

ditanamkan. Pada umur 40 hari anak laki-laki diturunkan ke tanah. Beberapa upacara dilakukan saat ini untuk mengembangkan keberanian padanya. c) Dermawan Seorang hartawan belum tentu memilki pengaruh dan kewibawaan lantaran kekayaannya, apabila tidak memiliki sifat dermawan. Barangkali pandangan ini bersumber pada tingkat pendapatan masyarakat yang rendah. Hartawan merupakan tempat menggadaikan barang atau meminjam uang pada saat paceklik. Keadaan ini dapat dikaitkan pula dengann salah satu aspek dari kesaktian dimana kesuburan pada diri seseorang menyebabkan ketergantungan masyarakat kepadanya untuk memperoleh bagian dari kesuburan itu. Kemampuan berderma dalam suatu usaha atau kegiatan kemasyarakatan dapat menempatkan seseorang menjadi pemimpin. d) Ramah tamah Dengan ramah tamah disini dimaksudkan sifat yang tidak kasar atau lembut dalam mengahadapi pengikut. Bila memberi nasehat, tegoran atau peringatan jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Sikap ini delembagakan dalam ungakapan lemoh lembut meu sambot ngon bahagia, kreh ceukang bantahan ceulaka; orang yang lembut disambut bahagia, ketegangan, bantahan seperti tidak mendengar keluhan masyarakat bisa berakibat celaka.

4. KEWIBAWAAN DALAM MASYARAKAT PEDESAAN ACEH Berubahnya setruktur kekuasaan setelah kemerdekaan mambawa warna baru pada struktur kekuasaan dan pola kepemimpinan masayarakat Aceh, tetapi struktur kekuasan tradisional tidak ditinggalkan sama sekali. Sebagian hidup berdampingan dengan setruktur kekuasaan modern. Keuchik dan Kepala Mukim tetap memegang peranan sebagai pemimpin resmi tradisonal, hanya sekarang legitimasi kakuasaan mereka berdasarkan pemilihan oleh masyarakat dan peresmian dari atas. Jadi keturunan diganti oleh Camat. Tuha Peut tetap menjadi pemimpin digampong tetapi jabatan ini, yang dulu berdasarkan keturunan dan pengangkatan oleh uleebalang, sekarang ditunjuk oleh masyarakat.LKMD merupakan suatu lembaga baru untuk membantu pemerintah Gampong (desa) dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dimaksud untuk manggantikan tuha peut. Jadi tuha peut berubah fungsi menjadi LKMD sekarang. Putua Meunasah, masih tetap memegang peranan sebagai pembentuk euchik dalam urusan keagamaan. Ia masih tetap ditunjuk masyarakat, tetapi disahkan oleh Camat setelah mendengar pertimbangan dan saran-saran keuchik dan Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan. Pada sisi lain, birokrasi kekuasaan modern melahirkan pejabat-pejabat resmi ditingkat kabupaten dan kecamatan seperti bupati, camat, Dan Ramil, Kapolsek, Kuakec dan lain-lain. Sebenarnya struktur kekuasan tersebut tidak jauhbeda dengan struktur kekuasaan lama. Camat dapat disamakan dengan uleebalang dan Kuakec sebagai pengganti kadhi, hanya bupati merupakan posisi baru. Pada masa itu tiap

keulebalangan terdapat tentera yang dikepalai oleh pang (panglima) dan kepolisian untuk keamanan dalam negeri. Pertanian ditangani oleh keujruen biang. Yang membedakan struktur kekuasaan lama dan baru adalah legitimasi dari system itu dan bagian-bagiannya. Sejauh mana pemimpin-pemimpin gampong

(desa) dan pejabat-pejabat resmi berwibawa akan dibahas pada bagian berikut ini. Masyarakat Aceh sedang mengalami perubahan sosial sehingga ada transisi nilai-nilai. Transisi ini agak kentara pada masyarakat yang lebih dipengaruhi oleh kehidupan perkotaan. Ini bukan berarti transisi ini tidak ada di Gampong-gampong, hanya kuantitasnya kurang. Perubahan terbesar terjadi dalam bidang ekonomi. Budaya, agama dan nilai-nilai tradisional yang bersumber pada adat dan agama tidak banyal mengalami perrubahan. Nilai-nilai ini masih berpengaruh dalam menuntun kehidupan masyarakat. Pandangan masyarakat tentang kewibawaan seotang pemimpin masih dipengaruhi oleh konsepsi tradisional. Kamakmuran, kesucian dan penekanan hawa nafsu masih menjadi tanda-tanda kesaktian. Saat sekarang, terutama karena perubahan sosial ekonomi, kemakmuran lebih banyak dikaitkan dengan tanggung jawab dan partisipasi aktif dalam usaha-usaha kemakmuran masyarakat. Pada dasarnya, pandangan bahwa pemimpin adalah “lambing” kemakmuran masih tatap ada. Didaerah pedesaan masih ada teungku yang ditunjuk untuk memulai pembajakan sawah dan memimpin kenduri-kenduri di sawah.

Kesucian banyak dikaitkan pada diri seorang ulama. Penekanan hawa nafsu yang berkaitan erat dengan kesucian, dihubungkan dengan sifat-sifat kepribadian seperti adil, jujur, dan peramah. Keturunan masih dipakai tetapi kurang nampak. Ini bukan berarti bahwa keturunan tidak lagi mempunyai pengaruh, hanya “lambing” dasar yang diinginkan masyarakat kurang dimiliki oleh orang-orang yang meneruskannya. Ilmu masih tetap berpengaruh selama manfaatnya masih diraskan langsung dan dapat menunjang pelaksanaan nilai-nilai agama da adat. Sifat-sifat kepribadian masih menunjukan pengaruh yang menonjol.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Alfian, 1977. Segi-segi sosial Budaya Masyarakat Aceh. LP3ES, Jakarta. Arifin Abdruachman, 1971. Teori Pengembangan dan Filosofi Kepemimpinan Kerja. Bharatara, Jakarta. Anderson, Benedict R.O.G., 1972. The Ide of Power in Javanese Culture. dalam Claire Holt (ed), Culture in Polotics in Indonesia. Cornell University Press. Budiardjo, Miriam, 1991. Aneka Pemikiran tentang Kuasa dan Wibawa. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Djajadiningrat, Husein, R.M., 1934. Atjehsh Nederlandsch Woodenboek, Jilid II, Landsdrukkerij, Batavia. Deliar, Noer, 1965. Pengantar Kepemikiran Politik. Jilid I, Dwipa, Medan. Kappi, abdul, 1987. Kelompok Elite di Pedesaan. Yayasan Ilmu-ilmu Sosial, Jakarta. Kartono, Kartini, 1990. Peimpin dan Kepemimpinan. Rajawali Pers, Jakarta Koentjaraningrat, 1974. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Gramedia, Jakarta. M. HisyamSyafioedin, 1982. Perdamaian Adat Dalam Masyarakat Aceh, PLPIISP, Banda Aceh. M. Karyadi, 1977. Kepemimpinan (Leadership). Politeia, Bogor. M. Masyhur Amin, 1986. Kedudukan Kelompok Elit Aceh Dalam Perspektif Sejarah. PLPIIPS, Banda Aceh.

Mac Iver, R.M., The Modern State. Oxford University Perss, London, 1950. Soekanto, Soerjono, 1969. Sosiologi Suatu Pengantar. Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta


								
To top