Perkembangan Kaligrafi Islam di Sumatera Barat by irhash

VIEWS: 794 PAGES: 41

									Makalah, disampaikan pada Seminar Kebangsaan Tulisan Jawi
       Hotel Grand Blue Waves, Shah Alam, Selangor
                    25 - 27 Ogos 2008


                         irh@sh 2008
•   Tulisan-tulisan Arab Klasik (Naskhi lokal)
    diperkirakan telah tumbuh seiring dengan
    masuknya Islam ke Minangkabau
•   Tulisan Arab digunakan untuk penulisan
    naskah-naskah keagamaan tradisional
•   Tulisan Arab Melayu (Tulisan Jawi) telah
    digunakan oleh masyarakat semenjak
    masuknya agama Islam dan menggantikan
    peranan tulisan pallawa (tulisan kerajaan
    Hindu Budha yang tidak merata digunakan
    oleh rakyat awam kecuali oleh kerajaan)
•   Tulisan Arab Melayu (Tulisan Jawi)
    digunakan untuk naskah-naskah tradisional
    dalam bahasa daerah (Tulisan Arab
    Melayu/ Jawi)
                                    irh@sh 2008
• Penulisan mushaf Alquran
  menggunakan naskhi lokal
  seperti pada naskah tradisional,
  sudah menggunakan kalam
  sebagai alat tulis, namun tidak
  terlalu merujuk pada kaidah
  baku yang berkembang di dunia
  Islam lainnya.
• Mushaf-mushaf yang ditulis
  sekitar abad ke 18 sudah
  menggunakan iluminasi yang
  banyak dipengaruhi oleh tradisi
  ukir Minang, Jawa, dan Cina.

                          irh@sh 2008
Pengenalan/Penggunaan Tulisan Latin
(Rumi) adalah intervensi pemerintahan
jajahan (Belanda)
Menjelang pertengahan abad ke 19 hingga
awal abad ke 20 :
• Tulisan Latin (Rumi) diperkenalkan dan
  digunakan dalam transaksi-transaksi
  dagang Belanda dengan pribumi di pantai
  barat Sumatera
• Setelah Belanda menguasai wilayah
  teritorial, maka tulisan ini dipaksakan
  penggunaannya di sekolah-sekolah
  Belanda dan dalam sistem administrasi
  pemerintahan.
                             irh@sh 2008
Parohan pertama abad ke-20 :
Peningkatan status pribumi lulusan sekolah Belanda, menjadikan tulisan
Latin (Rumi) dan bahasa Belanda sebagai tulisan dan bahasa kalangan elit.
Akibat makin banyaknya kalangan pribumi yang berpendidikan barat
(Belanda), maka semakin menyurutkan pemakaian tulisan Arab Melayu di
kalangan masyarakat dan semakin meluaskan pemakaian tulisan Latin
Hingga pada tahun 1960an di madrasah-madrasah yang selama ini
konsisten menggunakan tulisan Arab Melayu (Jawi), secara berangsur
meninggalkan tulisan ini dan beralih ke tulisan Latin, kecuali tulisan Arab
yang digunakan untuk mata pelajaran agama yang berbahasa Arab.
Pelajaran membaca dan menulis tulisan Arab Melayu tetap diajarkan di
sekolah-sekolah agama dan umum, bahkan sampai pada dekade sekarang,
Pada tahun-tahun 1950an hingga tahun 1980an buku : “Bahtera” dan
“Purnama” menjadi bacaan wajib disekolah-sekolah Dasar dan Menengah
dan setelah tahun 1990an digunakan buku Baca “Tulis Arab Melayu”
(BTAM) di sekolah-sekolah dasar dan menengah di Sumatera Barat.
Namun demikian sejak masa itu, penggunaan tulisan Arab Melayu tidak
mengalami perkembangan di masyarakat, karena makin meluasnya
pemakaian tulisan Latin (Rumi)

                                  irh@sh 2008
Priode pertengahan abad ke-20 adalah tahap mulai
berkembangnya penulisan Arab berkaidah di Sumatera Barat
Pada tahun 1950an penggunaan kaidah penulisan (khat) masih
sangat langka, karena tidak banyak yang berkeahlian menulis khat
berkaidah.
Sekolah sekolah agama (madrasah) modern pada waktu ini telah
mengajarkan kaidah khat dalam kegiatan pelajarannya, namun mata
pelajaran khat (yang dimasukkan dalam mata pelajaran Imla` ini),
kurang diminati oleh kalangan pelajar-pelajar waktu itu.
Di madrasah-madrasah tradisional dan di kalangan masyarakat
awam sendiri masih banyak yang menggunakan tulisan Arab Melayu
(Jawi), namun tidak satupun dari madrasah tradisional yang
mengajarkan kaidah khat.
                             irh@sh 2008
Pada waktu ini terdapat masjid-masjid
yang dihiasi dengan seni khat, namun
tidak banyak tulisan yang benar-benar
memanut kepada kaidah baku (khat).
Terdapat lukisan-lukisan kaca yang
memadukan khat (ayat Al-Quran)
dengan lukisan-lukisan alam dan
dekorasi bunga-bungaan, tetapi tetap
minus kaidah




                     irh@sh 2008
Parohan Kedua Abad ke-20 hingga
awal abad ke-21 :
Era Kebangkitan Penggunaan Tulisan
Arab sebagai media seni dan
meningkatnya antusiasme
mempelajari kaidah khat
•   Hingga tahun 1970 sudah terdapat
    beberapa orang yang terampil
    menulis dengan kaidah khat, tetapi
    pada umumnya hanya kalangan
    tua (rata-rata diatas 50 tahun).
•   Dari kalangan seniman lukis juga
    terdapat karya-karya lukis yang
    dipadukan dengan khat yang
    mereka pelajari secara autodidak.



                              irh@sh 2008
• Tidak satupun tokoh-tokoh khattat dan
  pelukis Kaligrafi yang disebutkan terdahulu
  yang membuka lembaga pembinaan Khat,
  kecuali mengajari beberapa orang secara
  privat.

• Meskipun hingga tahun 1970 terdapat
  beberapa madrasah dan sekolah agama
  yang mengajarkan khat, namun mata
  pelajaran ini tetap kurang diminati.




                         irh@sh 2008
• Terdapat sedikit kalangan muda yang
  berminat mempelajari kaidah khat hingga
  pada akhir tahun 1970an. Diantaranya,
  beberapa waktu kemudian, mulai merintis
  pengembangan seni khat dengan
  mendirikan lembaga-lembaga pembinaan
  dan pelatihan khat dan kaligrafi yaitu :
  Sanggar Kaligrafi Al-Aqlam pada Fakultas
  Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol
  Padang.




                       irh@sh 2008
Sanggar ini menjadi satu-satunya
sentra pengembangan khat di
Sumatera Barat, dan hingga
sekarang tetap komit dengan
pengembangan kaligrafi yang
mengutamakan konsistensi
kepada kaidah baku, meski di
sanggar ini juga dikembangkan
seni lukis kaligrafi dan melahirkan
pelukis-pelukis kaligrafi yang
berbasis pengetahuan kaidah khat.



                            irh@sh 2008
•   Seiring dengan perkembangan ini
    bermunculan pula karya-karya dari pelukis
    umum (rata-rata dari kalangan akademisi
    Seni) yang mengembangkan karya lukis
    dengan memadukan ayat al-Quran ke
    dalam lukisan mereka. Karya-karya
    seniman ini lebih menonjolkan prinsip-
    prinsip kesenirupaan semata tanpa
    memperhatikan anatomi huruf Arab
•   Sejak awal tahun 1980an setidaknya ada
    dua kubu pelukis (seniman) kaligrafi
    Islam, yaitu : Pelukis Kaligrafi yang
    berbasis kaidah khat (umumnya dari
    sekolah-sekolah agama) dan Pelukis
    Kaligrafi yang berbasis seni rupa
    (umumnya berbasis sekolah-sekolah seni
    rupa)



                                    irh@sh 2008
•   Perkembangan Seni Tulisan Jawi
    (Seni Khat dan Seni Lukis Kaligrafi)
    pada dekade ini mengalami
    perkembangan yang pesat. Banyak
    kalangan muda yang antusias
    menggeluti kaligrafi Islam. Munculnya
    antusiasme ini lebih disebabkan oleh
    karena pada dekade 1980an ini
    kaligrafi Islam mulai diperlombakan
    dalam berbagai event nasional dan
    daerah, demikianpun seni lukis
    kaligrafi dan kaligrafi murni mulai pula
    memasuki ajang pemeran-pameran
    yang berskala daerah dan nasional
    seperti Pekan Budaya dan Pameran
    Pembangunan Daerah serta hari-hari
    besar Islam dan Nasional lainnya




                                   irh@sh 2008
Sanggar Kaligrafi Al-Aqlam yang dibentuk di Fakultas Adab IAIN
Imam Bonjol Padang ini menjadi pelopor pengembangan
kaligrafi Islam di Sumatera Barat. Sanggar ini selain melakukan
pembinaan dan pelatihan khat dan melatih kader-kader khattat
menjadi pelukis-pelukis kaligrafi, Para pelatih sanggar ini juga
melakukan pembinaan ke daerah-daerah.




                              irh@sh 2008
• Selain itu, sanggar Al-Aqlam menggalakkan
  penulisan Arab berkaidah bagi kalangan guru-
  guru agama pada sekolah menengah dengan
  mengadakan pelatihan khat bagi guru agama
  dengan kerjasama Pemerintah Daerah dan
  Departemen Agama
• Pada tahun 1998, untuk mengantisipasi
  perkembangan perkaligrafian, fakultas Adab
  membuka program professi (Diploma II) Seni
  Islam dan Kaligrafi (SIK). Program Diploma SIK
  ini pada tahun ini sedang dirancangkan untuk
  ditingkatkan menjadi Strata I
• Pelatihan Kaligrafi Islam yang dilaksanakan oleh
  sanggar Al-Aqlam dan program D.3 Seni Islam
  dan Kaligrafi (SIK) Fakultas Ilmu Budaya Adab
  telah melahirkan banyak khattat dan kaligrafer
  yang telah berkiprah di berbagai daerah di
  Indonesia dan aktif dalam berbagai kegiatan
  kaligrafi dan peraduan-peraduan menulis khat
  dan lukisan kaligrafi serta pameran-pameran
  yang berskala daerah, nasional, bahkan
  internasional
                         irh@sh 2008
•   Di dalam khazanah seni penulisan khat Arab telah dibakukan
    kaidah-kaidah penulisan untuk berbagai jenis khat seperti Naskhi,
    Tsuluts, Riq’ah Diwany, Farisi dan seterusnya.
•   Pada umumnya kaidah itu ditujukan untuk pembentukan anatomi
    huruf agar penulisannya memiliki keindahan disamping aspek
    keterbacaan tulisan itu dapat lebih terjaga secara konsisten.
•   Pembentukan anatomi huruf khat Arab pada umumnya didasarkan
    ukuran titik. Metode ini telah digunakan secara konvensional dan
    digunakan sejak awal perkembangannya (mulai masa Ibn Muqlah)
    dan dari masa ke masa mengalami perkembangan hingga ke punca
    penyempurnaan oleh Hasyim Muhammad Al-Baghdadi.
•   Metode belajar berazaskan titik juga digunakan di Sumatera Barat
    pada awal tumbuhnya minat generasi muda untuk belajar khat
    (1980an). Pada masa awal ini banyak pelajar dan belia ingin belajar
    khat, namun banyak pula yang berhenti di tengah jalan karena
    terbentur kerumitan titik-titik untuk mengukur setiap gerakan huruf.



                                irh@sh 2008
•   Kesulitan belajar khat dengan metode titik telah memperlebar jurang
    perbedaan antara para khattat dan seniman lukis kaligrafi. Kerumitan
    metode titik telah menyebabkan banyak para seniman lukis kaligrafi
    Islam enggan untuk belajar kaidah khat. Keengganan ini yang
    membuat seniman lukis bertahan dengan khat (tulisan) yang bebas
    kaidah, bahkan menuding karya lukis kaligrafi yang taat kaidah itu
    sebagai tidak ekspressiv, kering dan kaku.




                                  irh@sh 2008
Beberapa dekade terakhir, sanggar Al-Aqlam telah
mencoba mengembangkan metode belajar khat
dengan tidak berpandukan titik (metode titik) akan
tetapi menggunakan mizanul huruf Pelatihan-pe-
latihan lebih banyak dilakukan dengan mengasah
zauq terhadap bentuk anatomi huruf (unsur per-
bandingan garis/tarikan), bukan mengukurnya me-
lalui titik.




                              irh@sh 2008
Selain itu, untuk mengakomodasi
perkembangan lukisan kaligrafi,
telah pula dikembangkan desain-
desain kaligrafi berkaidah dengan
pola asimetris untuk lebih memberi
nuansa ekspressiv dan tidak kaku.




                              irh@sh 2008
irh@sh 2008
Ada tiga bentuk karya kaligrafi yang berkembang hingga saat ini di
Sumatera Barat :
1. Kaligrafi Murni yaitu Tulisan Arab yang ditulis dengan
   menggunakan kalam dan sangat memperhatikan kaidah khat (7
   jenis khat baku).
2. Kaligrafi Dekoratif. Jenis ini menekankan pada komposisi dan
   adakalanya ditulis dengan menggunakan kuas atau kalam
   disertai dokorasi yang artistik dan iluminasi (seperti ilmuniasi
   yang digunakan pada halaman pertama mushaf Al-Quran)
3. Lukisan Kaligrafi, yaitu karya seni rupa yang menyertakan khat
   (ayat Al-Quran/Hadits) dalam pengolahannya. Jenis inilah yang
   terpilah kepada dua kubu yang disebutkan terdahulu, yaitu :
   a. Karya lukisan yang penggunaan khatnya berdasarkan kaidah
       (khattiyah).
   b. Karya lukisan yang penggunaan khatnya tidak menghiraukan
       kaidah dasar khattiyahnya, bahkan juga kurang
       memperhatikan kaidah imlaiyyah (tata bahasa Arab).

                                irh@sh 2008
Contoh-contoh Karya Lukis Kaligrafi yang didasari kaidah khat :




                           irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
Contoh Karya Lukis Kaligrafi yang tidak didasari kaidah khat :




                           irh@sh 2008
Contoh karya kaligrafi dekoratif yang berkaidah :




                     irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
Gairah
kalangan belia
mengolah
karya kaligrafi
yang didasari
kaidah khat




         irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
irh@sh 2008
…………………..………………Siap bekerjasama dengan berbagai pihak
dalam rangka pembinaan dan
pengembangan seni menulis Arab (Kaligrafi) untuk kejayaan Islam
Nusantara…..



                             irh@sh 2008

								
To top