Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Belajar Fisika secara Islami by riakkencana

VIEWS: 48 PAGES: 4

									Belajar Fisika secara Islami

Written By Adian Husaini

JURNAL Islamia-Republika, Kamis (19/8/2010) mengangkat tema menarik tentang
“Bagaimana Belajar Ilmu Fisika Secara Islami”. Sebagian orang menduga bahwa ilmu alam
bersifat netral agama. Siapa saja belajar fisika, beragama apa pun dia, hasilnya tetap sama.
Listrik akan tetap menyala, ketika saklar dipencet. Siapa pun yang memencet, apakah dia muslim
atau kafir, hasilnya tetap sama saja. Jadi, wajar jika ada yang bertanya, apa ada cara belajar Ilmu
Fisika yang Islami?

Pertanyaan itulah yang dijawab Usep Muhamamd Ishad, kandidat Doktor Ilmu Fisika di ITB
Bandung, yang juga peneliti INSISTS.

Dalam artikelnya, Usep menguraikan, bahwa yang sebenarnya perlu diislamkan saat belajar Ilmu
Fisika adalah pikiran pelajar, mahasiswa, atau peneliti saat menghadapi fenomena alam.

Seorang Muslim melihat alam semesta ini sebagai “ayat-ayat Allah”, karena itu saat mengamati
dan meneliti fenomena alam, mereka bukan saja berusaha mendapatkan temuan-temuan baru di
bidang sains, tetapi juga meyakini bahwa di balik alam semesta yang begitu teratur ini ada Yang
Maha Pencipta (Al-Khaliq).

Dalam Islam, tujuan utama dari setiap pendidikan dan ilmu adalah tercapainya ma‟rifatullah
(mengenal Allah, Sang Pencipta), serta lahirnya manusia beradab, yakni manusia yang mampu
mengenal segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah.

“Tak terkecuali saat seorang Muslim mempelajari Ilmu Fisika. Ia tak hanya bertujuan semata-
mata untuk menghasilkan terobosan-terobosan sains atau temuan-temuan ilmiah baru; bukan
pula menghasilkan tumpukan jurnal-jurnal ilmiah semata-mata atau gelimang harta kekayaan
saja. Tapi, lebih dari itu, seorang Muslim melihat alam semesta sebagai ayat-ayat Alllah.

“Ayat” adalah tanda.Tanda untuk menuntun kepada yang ditandai, yakni wujudnya al-Khaliq.
Allah menurunkan ayat-ayat-Nya kepada manusia dalam dua bentuk, yaitu ayat tanziliyah
(wahyu yang verbal, seperti al-Quran) dan ayat-ayat kauniyah, yakni alam semesta. Bahkan,
dalam tubuh manusia itu sendiri, terdapat ayat-ayat Allah,” tulis Usep yang pernah meraih juara I
dalam lomba penulisan buku Fisika untuk SLTA yang diselenggarakan oleh Departemen Agama.

Tujuan belajar untuk sampai pada „ma‟rifatullah‟ memang sangat ditekankan, sebab Allah
memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak mampu menggunakan potensi
inderawi dan akalnya untuk mengenal Sang Pencipta. Mereka disebut sebagai calon penghuni
neraka jahannam dan disejajarkan kedudukannya dengan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi
(QS 7:179).

Cobalah perhatikan sifat-sifat binatang ternak. Manusia yang pandai, tetapi tidak dapat mengenal
Tuhannya, akhirnya disamakan sifat-sifatnya dengan binatang! Mengapa? Sebab, pada
hakekatnya, jika manusia tidak mengenal Tuhan, maka perilakunya akan sama dengan binatang.
Mereka hanya akan menuruti syahwat demi syahwat dalam kehidupannya. Lihatlah, binatang
ternak, ia bekerja secara profesional sesuai bidangnya masing-masing. Dengan itu, ia mendapat
imbalan untuk menuruti syahwat-syahwatnya. Makan kenyang, bersenang-senang, istirahat, lalu
mati.

“Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan (di dunia) seperti layaknya
binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS 47:12).

                                              ****

Jadi, menurut pakar Fisika dari ITB ini, mempelajari Ilmu Fisika secara Islami harus dimulai dari
mengislamkan fikiran si fisikawan itu sendiri. Cara pandangnya terhadap alam harus
“diislamkan”. Ia tidak boleh memandang alam semesta ini sebagai objek yang netral dan bebas
dari unsur-unsur ketuhanan. Sebab, alam semesta ini adalah makhluk Allah, sehingga tidak dapat
diperlakukan semena-mena. Inilah yang dalam bahasa ilmiah, si fisikawan harus mempunyai
worldview (pandangan alam) yang Islami.

Jadi alam semesta ini tidak dipelajari semata-mata karena alam itu sendiri, namun alam diteliti
karena ia menunjukkan pada sesuatu yang dituju yaitu mengenal Pencipta alam tersebut. Sebab
alam adalah “ayat” (tanda).

Fisikawan yang mempelajari alam lalu berhenti pada fakta-fakta dan data-data ilmiah, tak
ubahnya seperti pengendara yang memperhatikan petunjuk jalan, lalu ia hanya memperhatikan
detail-detail tulisan dan warna rambu-rambu itu. Ia lupa bahwa rambu-rambu itu sedang
menunjukkannya pada sesuatu.

Ketercerabutan “makna” dan peran alam sebagai “ayat”, sesungguhnya merupakan dampak dari
sekularisme sebagaimana disebutkan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam karya
besarnya, Islam and Secularism. Sekularisme telah menyebabkan dicabutnya kesakralan alam
dan hilangnya pesona dari alam tabii (disenchantment of nature). Akibatnya alam tak lebih dari
sekedar objek, tak punya makna dan tak ada nilai spiritual.

                                             *****

Para fisikawan Muslim – dan juga ilmuwan Muslim lainnya – wajib memiliki adab terhadap
alam. Adab terhadap alam lahir dari pandangan-alam Islam (Islamic worldview). Dengannya,
seorang saintis akan memperlakukan dan memanfaatkan alam dengan adab yang benar. Lalu
lahirlah konsep sikap ramah lingkungan yang Islami, yang didasarkan bukan semata-mata karena
alasan keterbatasan sumber daya alam, namun kesadaran bahwa alam ini bukanlah milik
manusia, namun ia adalah amanah dan sekaligus juga ayat-ayat Allah. Hanya dengan pandangan-
alam seperti inilah, akan lahir manusia beradab dan berakhlak, seperti yang dicita-citakan dalam
tujuan pendidikan kita saat ini.

Prof. Naquib al-Attas mengingatkan, hilangnya adab terhadap alam – sebagai ayat-ayat Allah –
inilah yang telah menyebabkan kerusakan besar di alam semesta. Belum pernah terjadi dalam
sejarah manusia, alam mengalami kerusakan seperti saat ini, di mana ilmu pengetahuan sekuler
merajai dunia ilmu pengetahuan. Akar kerusakan ini adalah ilmu pengetahuan (knowledge) yang
disebarkan Barat, yang telah kehilangan tujuan yang benar.
Ilmu yang salah itulah yang menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia,
ketimbang membawa perdamaian dan keadilan; ilmu yang seolah-olah benar, padahal
memproduksi kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism). Bahkan ilmu pengetahuan
sekuler ini untuk pertama kali dalam sejarah telah membawa kepada kekacauan dalam „the Three
Kingdom of Nature‟ yaitu dunia binatang, tumbuhan, dan mineral.

Menurut al-Attas, dalam peradaban Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar
teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian.
Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-
satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun
dimanusiakan. (Man is deified and Deity humanised). (Lihat, Jennifer M. Webb (ed.), Powerful
Ideas: Perspectives on the Good Society, (Victoria, The Cranlana Program, 2002), 2:231-240).

Sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan yang mengalami perkembangan sangat pesat, Ilmu
Fisika terbukti telah membawa banyak manfaat bagi umat manusia. Wajib sebagian kaum
Muslim menguasai ilmu ini. Tetapi, cara pandang dan cara belajar seorang Muslim akan berbeda
dengan yang lain. Sebab, bagi Muslim, alam semesta adalah ayat-ayat Allah, yang dipelajari –
bukan sekedar untuk mengungkap temuan-temuan baru – tetapi juga untuk mengenal Sang
Pancipta.

Demikian rangkuman pemikiran dari Usep Muhamamd Ishaq, pakar Fisika dari ITB, yang
sedang berjuang bersama teman-temannya untuk membudayakan bagaimana cara belajar Ilmu
Fisika secara islami.

                                               ***

Artikel menarik lain yang terbit di Jurnal Islamia-Republika edisi tersebut ditulis oleh John
Adler, yang juga kandidat Doktor Ilmu Fisika dari ITB. Dalam artiikelnya yang berjudul
Fisikawan Muslim Mengukir Sejarah, John Adler menguraikan riwayat singkat dan prestasi
besar sejumlah Fisikawan Muslim yang sangat besar peranannya dalam pengembangan ilmu
Fisika. Bahkan, mereka menjadi sumber inspirasi dan ilmu bagi sejumlah ilmuwan Barat.

Sejarah membuktikan, kontribusi Ilmuwan Muslim dalam bidang Fisika sangatlah besar. Kaya-
karya ilmuwan Muslim dalam bidang Fisika, baik yang klasik maupun modern, bisa dikatakan
sangat melimpah. Cobalah renungkan, apa yang ada di benak Anda ketika mengenal "kamera"?

Banyak pelajar Muslim yang mungkin tak kenal sama sekali, bahwa perkembangan teknologi
kamera tak bisa dilepaskan dari jasa seorang ahli fisika eksperimentalis pada abad ke-11, yaitu
Ibn al-Haytham. Ia adalah seorang pakar optic, pencetus metode eksperimen. Bukunya tentang
teori optic, al-Manazir, khususnya dalam teori pembiasan, diadopsi oleh Snell dalam bentuk
yang lebih matematis.

Tak tertutup kemungkinan, teori Newton juga dipengaruhi oleh al-Haytham, sebab pada Abad
Pertengahan Eropa, teori optiknya sudah sangat dikenal. Karyanya banyak dikutip ilmuwan
Eropa. Selama abad ke-16 sampai 17, Isaac Newton dan Galileo Galilei, menggabungkan teori
al-Haytham dengan temuan mereka. Juga teori konvergensi cahaya tentang cahaya putih terdiri
dari beragam warna cahaya yang ditemukan oleh Newton, juga telah diungkap oleh al-Haytham
abad ke-11 dan muridnya Kamal ad-Din abad ke-14.

Al-Haytham dikenal juga sebagai pembuat perangkat yang disebut sebagai Camera Obscura atau
“pinhole camera”. Kata "kamera" sendiri, konon berasal dari kata "qamara", yang bermakna
"yang diterangi". Kamera al-Haytham memang berbentuk bilik gelam yang diterangi berkas
cahaya dari lubang di salah satu sisinya.

Dalam alat optik, ilmuwanInggris, Roger Bacon (1292) menyederhanakan bentuk hasil kerja al-
Haytham, tentang kegunaan lensa kaca untuk membantu penglihatan, dan pada waktu bersamaan
kacamata dibuat dan digunakan di Cina dan Eropa.

Faktanya, Ibn Firnas dari Spanyol sudah membuat kacamata dan menjualnya keseluruh Spanyol
pada abad ke-9. Christoper Colombus ternyata menggunakan kompas yang dibuat oleh para
ilmuwan Muslim Spanyol sebagai penunjuk arah saat menemukan benua Amerika.

Fisikawan lain, Abdurrahman Al-Khazini, saintis kelahiran Bizantium atau Yunani ini adalah
seorang penemu jam air sebagai alat pengukur waktu.

Para sejarawan sains telah menempatkan al-Khazini dalam posisi yang sangat terhormat. Ia
merupakan saintis Muslim serba bisa yang menguasai astronomi, fisika, biologi, kimia,
matematika dan filsafat. Sederet buah pikir yang dicetuskannya tetap abadi sepanjang zaman. Al-
Khazini juga seorang ilmuwan yang telah mencetuskan beragam teori penting dalam sains. Ia
hidup di masa Dinasti Seljuk Turki. Melalui karyanya, Kitab Mizan al-Hikmah, yang ditulis pada
tahun 1121-1122 M, ia menjelaskan perbedaan antara gaya, massa, dan berat, serta menunjukkan
bahwa berat udara berkurang menurut ketinggian.

Meski kepandaiannya sangat dikagumi dan berpengaruh, al-Khazini tak silau dengan kekayaan.
Zaimeche menyebutkan al-Khazini menolak dan mengembalikan hadiah 1.000 keping emas
(dinar) dari seorang istri Emir Seljuk. Ia hanya merasa cukup dengan uang 3 dinar dalam
setahun. Salah satu ilmuwan Barat yang banyak terpengaruh adalah Gregory Choniades,
astronom Yunani yang meninggal pada abad ke-13. Demikianlah fakta sejarah tentang prestasi
para ilmuwan Muslim yang dipaparkan oleh John Adler.

Begitu besar peranan mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sayang sekali, fakta
semacam ini, masih jarang diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

								
To top