Docstoc

MAKALAH ANALISA BREAK EVEN POINT

Document Sample
MAKALAH ANALISA BREAK  EVEN POINT Powered By Docstoc
					http://www.spgumbrella.com/
                         TUGAS
     MAKALAH ANALISA BREAK EVEN POINT




                      Nama Kelompok :
                    Harri Prasetyo : 07.003505
                    Indah Suryani : 07.003513
                    Lisa Oktaviani : 07.003522



  SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI BULUNGAN TARAKAN
                            2010
http://www.spgumbrella.com/
                                     PENDAHULUAN



Dalam dunia bisnis, informasi merupakan alat yang penting bagi manajemen untuk membantu
menggerakkan dan mengembangkan kegiatan perusahaan. Kelangsungan hidup dan
pertumbuhan suatu perusahaan tergantung pada sistem informasi akuntansi manajemen
(Mulyadi, 1993). Dengan menggunakan informasi akutansi manajemen, maka akan akan
membantu manajemen dalam pengambilan keputusan secara efektif, mengurangi ketidakpastian
dan mengurangi resiko dalam memilih alternatif. Dengan menggunakan informasi manajemen
ini, bisa dilakukan pengendalian manajemen. Hal ini disebabkan informasi akuntansi manajemen
menekankan hubungan antara informasi keuangan dengan manajer yang bertanggung jawab
terhadap perencanaan dan pelaksanaannya.


Break Even Point yang biasa disingkat dengan BEP, yang di Indonesia kita kenal dengan TITIK
IMPAS adalah salah satu bentuk dari sekian banyak informasi akuntansi manajemen yang
dipakai menganalisa hubungan antara: Revenue/Sales, Cost, Volume & Profit.
Analisa break even point sangat penting bagi pimpinan perusahaan untuk mengetahui pada
tingkat produksi berapa jumlah biaya akan sama dengan jumlah penjualan atau dengan kata lain
dengan mengetahui break even point kita akan mengetahui hubungan antara penjualan, produksi,
harga jual, biaya, rugi atau laba, sehingga memudahkan bagi pimpinan untuk mengambil
kebijaksanaan.
Analisis Break Even Point berguna apabila beberapa asumsi dasar dipenuhui. Asumsi-asumsi
tersebut adalah :
1. Biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dikelompokan dalam biaya variabel dan
biaya tetap.
2.   Besarnya biaya variabel secara total berubah-ubah secara proporsional dengan volume
produksi atau penjualan. Ini berarti bahwa biaya variabel per unitnya adalah tetap.
3.   Besarnya biaya tetap secara total tidak berubah meskipun ada perubahan volume produksi
atau penjualan. Ini berarti bahwa biaya tetap per unitnya berubah-ubah karena adanya perubahan
volume kegiatan.
4.   Jumlah unit produk yang terjual sama dengan jumlah per unit produk yang diproduksi.
http://www.spgumbrella.com/
5.    Harga jual produk per unit tidak berubah dalam periode tertentu.
6.    Perusahaan hanya memproduksi satu jenis produk, apabila lebih dari satu jenis komposisi
masing-masing jenis produk dianggap konstan (tetap).




                            PERUMUSAN MASALAH


1.    Sejauh mana alat analisis ini bisa diterapkan dalam menjawab persoalan bisnis ?
2.    Apakah BEP memiliki suatu keterbatasan?
3.    Atau justru alat analysis ini bisa diaplikasikan untuk keperluan lain, tidak hanya sekedar
untuk mengetahui break even point (misalnya: untuk membidik tingkat profit tertentu?).




         PENGERTIAN DAN FORMULASI BREAK EVENT POIN (BEP)


     Break Even Point adalah titik dimana Entity/company/business dalam keadaan belum
memperoleh keuntungan, tetapi juga sudah tidak merugi. Jika dinyatakan dengan bahasa
akuntansi keuangan mungkin jadinya : Suatu keadaan dimana :
Revenue – COGS – EXPENSES = 0
       dengan ketentuan sebagai berikut :
1.    Jika REVENUE - COGS – EXPENSES = 1, berarti di atas break even point (untung)
2.    Jika REVENUE - COGS – EXPENSES = -1 berarti belum break even point (masih rugi ).


     Sumber www.organisasi.org, menyebutkan pengertian lainnya dari Break even point adalah
“adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual
kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta
mendapatkan keuntungan/profit.
http://www.spgumbrella.com/
Break Even point atau BEP dapat pula diartikan adalah suatu analisis untuk menentukan dan
mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk
menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit.

Analisis BEP bertujuan menemukan satu titik baik dalam unit maupun rupiah yang menunjukan
biaya sama dengan pendapatan. Dengan mengetahui titik tersebut, berarti dalam padanya belum
diperoleh keuntungan atau dengan kata lain tidak untung tidak rugi. Sehingga dikala penjualan
permisi lewat melebihi BEP maka mulailah keuntungan diperoleh. Sasaran analisis BEP tidak
lain mengetahui pada tingkat volume berapa titik impas berada. Dalam kondisi lain, analisis BEP
pun digunakan untuk membantu pemilihan jenis produk atau proses dengan mengidentifikasi
produk atau proses yang mempunyai total biaya terendah untuk suatu volume harapan.
Sedangkan dalam pemilihan lokasi, analisis BEP dipakai untuk menentukan lokasi berbiaya total
terendah, yang berarti total pendapatan tertunggi untuk kapasitas produksi yang ditentukan.
Analisis BEP dibedakan antara penggunaan untuk produk tunggal dan atau untuk beberapa
produk sekaligus. Mayoritas perusahaan memproduksi atau menjual lebih dari satu produk
menggunakan fasilitas yang sama.

Rumus Analisis Break Even :
BEP = Total Fixed Cost / (Harga perunit - Variabel Cost Perunit)

Keterangan :
- Fixed cost : biaya tetap yang nilainya cenderung stabil tanpa dipengaruhi unit yang diproduksi.
- Variable cost : biaya variabel yang besar nilainya tergantung pada benyak sedikit jumlah
barang yng diproduksi.

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI DASAR PERENCANAAN LABA DAN
PENENTUAN TINGKAT PENJUALAN

Perusahaan dapat menjaga tingkat profitabilitasnya apabila semua aktifitas yang ada dalam
perusahaan tersebut dilaksanakan secara terpadu dan terus menerus disertai dengan langkah dan
strategi yang terencana, terkoordinasi dan terkendali. Untuk pencapaian laba seperti yang
diharapkan, perlu disusun suatu perencanaan laba yang akurat. Salah satu alternalif dari analisis
perencanaan laba yang dapat digunakan dalam menetapkan tingkat penjualan adalah
http://www.spgumbrella.com/
menggunakan analisis break even point atau titik impas atau titik pulang pokok. Analisis break
even point adalah suatu teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya
variabel, harga jual dan volume penjualan. Perusahaan kopi bubuk Cap “NONGKO” merupakan
perusahaan kopi yang cukup lama berdiri yaitu pada tahun 1978 sampai sekarang. Penelitian ini
bertujuan untuk menentukan tingkat penjualan, harga jual dan laba tahun 2006, menentukan
jumlah maksimum penurunan penjualan agar perusahaan tidak mengalami kerugian, dan
menentukan produk yang harus ditingkatkan agar perusahaan mendapatkan keuntungan
maksimal. Setelah mengetahui hasil analisis break even point , terlihat bahwa perubahan laba
dan tingkat break evennya yang paling mengguntungkan bagi Perusahaan Kopi Bubuk Cap
“Nongko” Tuban adalah meningkatkan penjualan dan produksi produk III atau istimewa jika
dibandingkan dengan kedua produk lainnya.

Rumusnya adalah :


BEP = Total Fixed Cost
       Harga perunit – variable cost perunit


     dan atau :
BEP adalah Total Revenue sama dengan Total Cost


Contoh kasus yang diungkapkan :
"Misalnya ada perusahaan konveksi kaos kaki murah yang harga satu buah kaos kaki adalah Rp.
10.000 dengan biaya variabel sebesar Rp. 5.000 per kaos kaki dan biaya tetap sebesar Rp.
10.000.000
BEP = 10.000.000 / (10.000 – 5.000)
BEP = 20.000
Jadi diperlukan memproduksi 20.000 kaos kaki untuk mendapatkan kondisi seimbang antara
biaya dengan keuntungan/profit.


1.    Bagaimana jika kaos kaki yang dibuat 1000 pasang?
2.    Bagimana jika pertanyaannya saya ubah: jika berproduksi 1000 pairs, pada harga berapa
http://www.spgumbrella.com/
seharunya kaos kaki tersebut dijual agar perusahaan mencapai break even point?
3.    Jika berproduksi 1000 pairs dengan harga Rp 10,000/pair, berapa fixed cost yang bisa
dialokasikan agar perusahaan mencapai break even?
4.    Jika berproduksi 5000 pairs, harga kaos kaki Rp 15,000/pair berapa lama perusahaan akan
mencapai BEP?
5.    Fixed Cost yang dimaksudkan pada contoh diatas meliputi apa saja? (walaupun sudah
diungkapkan di yahoo answer di atas bahwa fixed cost yang dimaksudkan disini adalah
pengeluaran-pengeluaran yang tidak dipengaruhi oleh aktivitas produksi) akan tetapi rasanya
tidak cukup specific.
6.    Yang dimaksudkan variable cost dari proses produksi kaos kaki disini apa saja?.
7.    Bagaimana jika ada mixed cost (cost yang sebagian tergolong fixed cost, sisanya tergolong
variable cost). Misal: Perusahaan menyewa genset untuk satu bulan Rp 10,000,000,- untuk
penggunaan 8 jam saja, sedangkan kelebihan jam penggunaan akan dihitung Rp 25,000/jam.
Perusahaan juga membayar gaji seorang salesman dengan Gaji Pokok Rp 2,000,000,- dan komisi
2% untuk setiap penjualan yang dihasilkan. Bagaimana menentukan BEP-nya?.
8.    Bagaimana jika perusahaan tidak hanya menjual kaos kaki, perusahaan juga menjual kaos
dalam dan celana dalam, bagaimana menghitung BEP-nya?


     Untuk menjawab tantangan business yang semakin berkembang,kita tidak bisa berpatokan
pada satu formualsi saja, formula harus lebih jauh lagi.
Dari logika diawal bahwa break even point adalah titik dimana perusahaan belum memperoleh
keuntungan tetapi juga tidak dalam kondisi rugi, maka Break Even Point dapat kita formulasikan
secara sederhana sebagai berikut:


BEP : TR = TC
Dimana      TR : Total revenue ;
      TC : Total Cost


Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan Sales, Cost, Volume, Profit termasuk
waktunya, kita coba kembangkan formula sederhana di atas sehingga menjadi lebih flexible dan
bisa beradaptasi dengan situasi yang berbeda-beda, yaitu dengan membentuk persamaan linear
http://www.spgumbrella.com/
sederhana seperti dibawah ini:


TR =TC
TR – TC = 0
Karena TR adalah untuk “Total Revenue” maka TR dapat kita turunkan menjadi :
TR = Unit Price x Qty
Sedangkan TC stand for “Total Cost”, yang mana kita semua tahu bahwa dalam Cost
Accounting, cost itu ada 2 macamnya, yaitu: “Variable Cost” dan “Fixed Cost”, maka
turunan dari TC adalah:


TC = Variable Cost + Fixed Cost


Dari formula di atas kita turunkan lagi menjadi:
TC = [Qty x Unit Variable Cost] + Fixed Cost


Selanjutnya kita akan membuat persamaan linear secara penuh untuk kondisi “Break Even
Point”:


TR - TC = 0


[Qty x Unit Price] - [(Qty x Unit VC) + Fixed Cost] = 0, atau


[Qty x Unit Price] - [Qty x Unit VC] - Fixed Cost = 0


Qty x [Unit Price - Unit Variable Cost] = Fixed Cost


Pertanyaan: Jika perusahaan berproduksi dalam jumlah tertentu, agar perusahaan bisa mencapai
break even point, berapakah unit price yang harus ditargetkan?.


* Target nya adalah “Unit Price”, maka formulanya:
Qty x [Unit Price - Unit Variable Cost] = Fixed Cost
http://www.spgumbrella.com/

Unit Price = [Fixed Cost / Qty] + Unit Variable Cost


Pertanyaan: Jika perusahaan menyadari bahwa harga paling bersaing untuk produknya adalah Rp
tertentu, maka berapa pcs kah perusahaan harus berproduksi agar mencapai “break even point”?




maka formulanya:


Qty x [Unit Price - Unit Variable Cost] = Fixed Cost


Qty = Fixed Cost / [Unit Price - Unit Variable Cost]


Determinasi Elemen-Elemen Break Even Point


Elemen-elemenya BEP terdiri: Revenue (R), Quantity (Qty), Unit Price, Variable
Cost, Unit Variable Cost, dan Fixed Cost.


Revenue (R): adalah pendapatan, yang dalam perusahaan manufactur biasanya didominasi oleh
Sales, yang mana Sales adalah jumlah terjual (Qty=Quantity) dikalikan dengan unit price product
yang akan terjual.


Quantity (Qty): adalah jumlah barang yang akan dijual, yang dalam perusahaan manufactur
tentunya diproduksi terlebih dahulu.




Unit Price: adalah harga per unit dari barang yang akan dijual
Variable Cost: adalah cost yang timbul akibat diproduksinya suatu product (barang), artinya
segala yang cost yang terjadi untuk memproduksi suatu barang. Seperti sebutannya “Variable
Cost”, akan berubah-ubah mengikuti jumlah product yang akan diproduksi. Semakin banyak
http://www.spgumbrella.com/
jumlah yang diproduksi semakin bedar juga variable cost-nya, begitu juga sebaliknya. Jika kita
lihat pada Laporan Laba rugi nantinya, variable cost akan tergolong ke dalam kelompok “Cost of
Good Sales”, yang pada perusahaan manufacur umumnya terdiri dari: Bahan Baku (Raw
Material), Bahan Penolong, Cost Tenaga Kerja Langsung (Direct labor Cost) dan Ovear Head
Cost yang biasanya terdiri dari penyusutan Gedung Pabrik, Penyusutan Mesin (Machineries)
yang menggunakan unit production output, Maintenance, Listrik (electricity), Pengiriman
(Delivery & Services), dll.


Unit Variable Cost: adalah besarnya variable cost yang ditimbulkan untuk membuat satu unit
produk tertentu, yang besarnya diperoleh dengan cara membagi total variable cost (Variable
Cost) dengan jumlah product yang dibuat (qty).


Fixed Cost: adalah cost yang akan terjadi akibat penggunaan sumber daya tertentu yang
penggunaannya tanpa dipengaruhi oleh banyak sedikitnya produk yang diproduksi. Dengan kata
lain: berapapun jumlah product yang dibuat, fixed cost yang akan dibuat, costnya relative sama,
bahkan tidak berproduksi sekalipun cost ini akan tetap terjadi. Seperti sebutannya, fixed cost
sifatnya relative stabil, tidak dipengaruhi oleh production output. Adapun jenis-jenis cost yang
terjadi biasanya yang ada pada kelompok Biaya Operasional (Operating Expenses: Payroll,
Office Supplies), Lease Hold (Hak Sewa), termasuk penyusutan-penyusutan dan amortisasi yang
menggunakan metode garis lurus.




Aplikasi Break Even Point Analysis Pada Kasus


Kesuksesan PT. Royal Bali Cemerlang dalam memproduksi produk kaos kaki, membuat board
member berencana akan melakukan expansi usaha, yaitu dengan membuat pabrik pakaian jadi
yang akan memproduksi “women apparels” (Blouses, Skirts, Trousers & Short Pants). Untuk
http://www.spgumbrella.com/
maksud tersebut PT. Royal Bali Cemerlang akan membangun pabrik yang akan menggunakan
badan usaha sendiri yang akan diberi nama PT. Royal Bali Apparel, berikut adalah Investasi dan
budget yang akan dialokasikan:




Di bulan pertama operasi, PT. Royal Bali Apparel berencana akan mulai membuat jenis product
“Blouses”. Perusahaan belum tahu berapa volume (Qty) blouse yang akan diproduksi dan berapa
unit price yang akan di set untuk 1 piece blouse. Dari hasil research yang dilakukan, diketahui
bahwa harga pasaran 1 pc blouse kurang lebih Rp 60,000,-/pc.


Dibawah ini adalah estimated consumption yang diperkirakan oleh Production Dept untuk 1
piece blouse:




On other hand, Marketing Dept merekomendasikan: agar produk blouse yang akan di launched
mendapat sambutan yang significant dari pasar, PT. Royal Bali Apparel hendaknya mematok
harga dibawah harga pasaran blouse saat ini (dibawah Rp 60,000/pc)


Pak Harri Prasetyo (Financial Controller) PT. Royal Bali Cemerlang yang sekaligus ditugaskan
sebagai CFO (Chief Financial Officer) di PT. Royal Bali Apparel mencoba mengira-ngira...


Jika kapasitas produksi adalah 2000 pcs blouse per bulan:


[1]. Berapa unit price yang harus direkomendasikan oleh Pak Harri Prasetyo agar perusahaan
bisa mencapai break even point dalam waktu 2 bulan?


[2]. Apakah target break even point dalam 2 bulan realistic? Apa langkah selanjutnya dari Pak
Harri Prasetyo?.


Kita ikuti langkah-langkah perhitungan yang dibuat oleh Pak Harri Prasetyo :
http://www.spgumbrella.com/

Langkah pertama : Determinasi Fixed Cost


Karena Pak Lie menargetkan lamanya break even point selama 2 bulan saja, maka: Semua
monthly expense dikalikan 2 (dua), sehingga Pak Lie memperoleh Fixed Cost seperti dibawah
ini:




Langkah dua : Determinasi Unit Variable Cost


Pak Harri Prasetyo menggunakan estimated consumption yang dibuat oleh Production Dept,
yaitu sebesar Rp 45,750/pc.


Langkah tiga : Penghitungan Break Even Point dengan Target “Unit Price”




Break Even Point -> TR=TC


TR-TC=0


TR - TC = 0


[Qty x Unit Price] - [(Qty x Unit VC) + Fixed Cost] = 0, atau


[Qty x Unit Price] - [Qty x Unit VC] - Fixed Cost = 0




Karena targetnya adalah “Unit Price”, maka:


Qty x [Unit Price - Unit Variable Cost] = Fixed Cost
Unit Price = [Fixed Cost / Qty] + Unit Variable Cost
http://www.spgumbrella.com/

Setelah angka-angka dimasukkan, maka Pak Lie memperoleh perhitungan seperti di bawah ini:



Fixed Cost: Pak lie membebankan 2 bulan payroll, 2 bulan office supplies dan 2 bulan telephone
expense, kelihatannya sudah benar juga. Tetapi coba kita lihat penyusutan dan amortisasi yang
dibebankan, kelihatannya ada yang aneh. Semuanya dibebankan sekaligus. Mana mungkin
company set-up yang umur ekonomisnya 30 tahun dibebankan dalam 2 bulan, mana mungkin
leasehold yang umur ekonomisnya 5 tahun dibebankan 2 bulan.
Sehingga kita memperoleh Fixed cost seperti dibawah ini:
Unit Variable Cost sudah benar, jadi tetap Rp 45,750/pc
Selanjutnya kita hitung Break Even Point dengan target “Unit Price” dengan cara memasukkan
semua elemen yang ada ke dalam formula yang sama seperti yang di pakai oleh Pak Harri
Prasetyo:


Unit Price = [Fixed Cost / Qty] + Unit Variable Cost.
Maka akan diperoleh :
Dengan kapasitas produksi 2000 sebulan dan dengan Variable cost yang ada, serta fixed cost
yang dialokasikan sesuai dengan umur ekonomisnya, PT. Royal Bali Apparel harus menjual
product blousenya seharga Rp 73,698,-/pc agar mencapai break even dalam waktu dua bulan.
http://www.spgumbrella.com/



                                       KESIMPULAN


     Teknik analisis titik impas sudah umum bagi segenap pelaku bisnis. Hal ini sangat berguna
di dalam pengaturan bisnis dalam cakupan yang luas,termasuk organisasi yang kecil dan besar.
Ada 2 (dua) alasan mengapa para pelaku bisnis menerima alasan ini :
1.   Analisis ini berdasarkan pada asumsi yang lugas.
2.   Perusahaan-perusahaan telah menemukan bahwa informasi yang didapat dari metode titik
impas ini sangat menguntungkan di dalam pengambilan keputusan.
Break Even Point adalah suatu keadaan dimana perusahaan dalam operasinya tidak memperoleh
laba dan juga tidak menderita kerugian atau dengan kata lain total biaya sama dengan total
penjualan sehingga tidak ada laba dan tidak ada rugi. Hal ini bisa terjadi apabila perusahaan di
dalam operasinya menggunakan biaya tetap dan biaya variabel, dan volume penjualannya hanya
cukup menutupi biaya tetap dan biaya variabel. Apabila penjualan hanya cukup menutupi biaya
variabel dan sebagian biaya tetap, maka perusahaan menderita kerugian.
Sebaliknya, perusahaan akan memperoleh keuntungan, apabila penjualan melebihi biaya variabel
dan biaya tetap yang harus dikeluarkan.
Salah satu tujuan perusahaan adalah mencapai laba atau keuntungan sesuai dengan pertumbuhan
perusahaan. Untuk mencapai laba yang semaksimal mungkin dapat dilakukan dengan tiga
langkah sebagai berikut, yaitu :
1.   Menekan biaya produksi maupun biaya operasional serendah-rendahnya dengan
mempertahankan tingkat harga, kualitas dan kunatitas.
2.   Menentukan harga dengan sedemikian rupa sesuai dengan laba yang dikehendaki.
3.   Meningkatkan volume kegitan semaksimal mungkin.
Dari ketiga langkah-langkah tersebut diatas tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah karena
tiga faktor tersebut mempunyai hubungan yang erat dan saling berkaitan. Pengaruh salah satu
faktor akan membawa akibat terhadap seluruh kegiatan operasi. Oleh karena itu struktur laba dari
sebuah perusahaan sering dilukiskan dalam break even point, sehingga mudah untuk memahami
hubungan antara biaya, volume kegiatan dan laba.
Namun ada juga yang membuat pengertian break even point sebagai berikut :
http://www.spgumbrella.com/
1.   Menurut S. Munawir (2002) Titik break even point atau titik pulang pokok dapat diartika
sebagai suatu keadaan dimana dalam operasinya perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak
menderita rugi (total penghasilan = Total biaya).
2.   Menurut Abdullah (2004) Analisis Break even point disebut juga Cost Volume Profit
Analysis. Arti penting analisis break even point bagi menejer perusahaan dalam pengambilan
keputusan keuangan adalah sebagai berikut, yaitu :
1.   Guna menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak mengalami
kerugian.
2.   Penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba tertentu.
3.   Penetapan seberapa jauhkan menurunnya penjualan bisa ditolerir agar perusahaan tidak
menderita rugi.
Apabila perusahaan mempunyai biaya variabel saja, maka tidak akan muncul masalah break
even point dalam perusahaan tersebut. Masalah break even point baru akan muncul apabila suatu
perusahaan disamping mempunyai biaya variabel juga mempunyai biaya tetap. Besarnya biaya
variabel secara totalitas akan berubah-ubah sesuai dengan volume produksi perusahaan,
sedangkan besarnya biaya tetap sacara totalitas tidak mengalami perubahan meskipun ada
perubahan volume produksi.
Karena adanya unsur biaya variabel disuatu sisi dan unsur biaya tetap disisi lain maka suatu
perusahaan dengan volume produksi tertentu menderita kerugian karena penjualan hanya
menutupi biaya tetap. Ini berarti bahwa bagian dari hasil penghasilan penjualan yang tersedia
hanya cukup untuk menutupi biaya tetap tetapi tidak cukup menutupi biaya variabelnya.
Volume penjualan dimana penghasilan total sama besarnya dengan biaya totalnya, sehingga
perusahaan tidak mencapai laba atau keuntungan dan tidak menderita kerugian disebut Break
Even Point.
Analisa break even point memberikan penerapan yang luas untuk menguji tindakan-tindakan
yang diusulkan dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif atau tujuan pengambilan
keputusan yang lain. Analisa break even point tidak hanya semata-mata untuk mengetahui
keadaan perusahaan yang break even saja, akan tetapi analisa break even point mampu
memeberikan informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume
penjualan, serta hubungan dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan
yang bersangkutan.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:13088
posted:11/1/2010
language:Indonesian
pages:14