Docstoc

kerusakan lingkungan

Document Sample
kerusakan lingkungan Powered By Docstoc
					                                                                           1


                          KATA PENGANTAR



       Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana telah
memberi kita taufiq dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW,
beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membimbing kita dari jalan
kegelapan menuju jalan yang terang benderang.
       Didalam penyusunan makalah ini kami mengucapkan banyak terima kasih
kepada Dra. Zuchrotus Salamah,M.Si.selaku Dosen dan pembimbing kami atas
segala kesabarannya dalam membimbing kami.
       Dan kami menyadari didalam makalah ini masih ada kekurangan. Oleh
karena itu dengan rendah hati kami mengharapkan saran dan kritik yang
membangun. Dan kami mengharap makalah ini dapat bermanfaat umumnya bagi
para pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.




                                          Yogyakarta, 21 Oktober 2010




                                                    Penulis
                                                                              2


                                   BAB I

                            PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

          Krisis lingkungan hidup yang dihadapi manusia modern merupakan
   akibat langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang “nir-etik”. Artinya,
   manusia melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tanpa peduli
   pada peran etika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa krisis ekologis
   yang dihadapi umat manusia berakar dalam krisis etika atau krisis moral.
   Umat manusia kurang peduli pada norma-norma kehidupan atau mengganti
   norma-norma     yang   seharusnya    dengan    norma-norma     ciptaan   dan
   kepentingannya sendiri. Manusia modern menghadapi alam hampir tanpa
   menggunakan hati nurani. Alam begitu saja dieksploitasi dan dicemari tanpa
   merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan secara drastis kualitas sumber
   daya alam seperti lenyapnya sebagian spesies dari muka bumi, yang diikuti
   pula penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya
   mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia.

          Manusia merupakan sumber kelestarian dan kerusakan lingkungan.
   YB Mangunwijaya memandangnya sebagai oposisi atau konflik antara
   manusia dan alam. Cara pandang dan sikap manusia terhadap lingkungan
   hidupnya menyangkut mentalitas manusia itu sendiri yang mempertanyakan
   eksistensinya di jaman modern ini dalam kaitannya dengan waktu, tujuan
   hidup, arti materi dan yang ada ”di atas” materi. Dengan demikian masalah
   lingkungan hidup tak lain adalah soal bagaimana mengembangkan falsafah
   hidup yang dapat mengatur dan mengembangkan eksistensi manusia dalam
   hubungannya dengan alam.

          Pemikiran tersebut mendorong kami untuk memilih dan membahas
   tema etika lingkungan dalam paparan ini. Pada awal tulisan ini, akan diangkat
   contoh kasus kerusakan lingkungan yang terjadi di Kalimantan Barat serta
                                                                          3


  dampak negatif yang ditimbulkannya. Kemudian kami akan membahas apa
  sebenarnya yang dimaksud dengan etika lingkungan hidup, beberapa
  pandangan yang mendasari etika lingkungan hidup tersebut. Pembahasan
  tentang etika lingkungan hidup, kami perdalam dengan mencari simpul-simpul
  pemikiran dalam sejarah filsafat barat dari Jaman Yunani Kuno sampai Jaman
  Modern yang memantapkan atau justru menantang etika lingkungan hidup.
  Selanjutnya kami akan melengkapinya dengan beberapa pada pandangan dan
  kesadaran baru dalam etika lingkungan yang mendukung perbaikan sikap kita
  atas lingkungan hidup.



B. Rumusan Masalah

         Dari uraian latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan
  permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana pengaruh kerusakan alam pada kehidupan manusia.

  2. Bagaimana cara menanggulangi kerusakan alam pada kehidupan manusia.
                                                                              4


                                    BAB II

                                PEMBAHASAN




A. Studi Kasus Kerusakan Lingkungan: Penebangan Hutan di Kalimantan

         Penebangan hutan secara ilegal (illegal logging) sebenarnya persoalan
   klasik bagi masyarakat Indonesia. Setiap hari, kegiatan tersebut marak
   dilakukan di sejumlah kawasan hutan dengan diketahui petugas instansi
   berwenang,    aparat   dan   masyarakat   setempat.   Meskipun   berkali-kali
   diberitakan bahwa penertiban terus diupayakan, namun penebangan dan
   perusakan hutan semakin merajalela.

         Di kabupaten Ketapang misalnya, sasaran penebangan liar adalah
   Taman Nasional Gunung Palung ( TNGP ). Sudah sekitar 5 tahun penjarahan
   itu berlangsung. Sekitar 80 % dari 90.000 ha luas TNGP sudah dirambah para
   penebang dan mengalami rusak berat. Para penebang yang dibayar untuk
   memotong pohon itu diperkirakan jumlahnya sebanyak 2000 orang dengan
   menggunakan motor pemotong chainsaw.

         Selain itu di hutan Kapuas Hulu, penebangan hutan liar juga tak kalah
   mengerikan. Sasaran penebangan adalah pohon-pohon dengan jenis Kayu
   Ramin, Meranti, Klansau, Mabang, Bedaru, dan jenis Kayu Tengkawang yang
   termasuk jenis kayu dilindungi. Kayu-kayu gelondongan yang telah ditebang
   langsung diolah menjadi balok dalam berbagai ukuran antara lain: 24 cm x 24
   cm, 12 cm x 12 cm dengan panjang rata-rata 6 meter. Setiap hari jumlah truk
   yang mengangkut kayu ini ke wilayah Malaysia sekitar 50 –60 truk. Menurut
   Sekjen “Silva Indonesia”, pengangkutan ini berlangsung siang dan malam
   dihadapan mata aparat instansi berwenang tanpa ada pemungutan dana
   reboisasi dan pajak lainnya “.
                                                                           5


B. Dampak Kerusakan Alam

  1. Kerugian bidang Ekonomi

            Berdasarkan pada perkiraan Prof. Dr. Herujono Hadisuprapto,
     MSc, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, setiap hari
     kayu ilegal berbentuk balok yang diselundupkan dari Kal-Bar ke Serawak
     mencapai 10.000 m kubik. Kayu-kayu ini terbebas dari iuran resmi seperti
     dana reboisasi, provisi sumber daya hutan, dan pajak ekspor. Diprediksi
     kerugian negara mencapai Rp. 5,35 milyar per hari, atau sekitar Rp 160,5
     milyar perbulan.

            Maka sebenarnya sangat ironis jika kerugian ini dihubungkan
     dengan usaha mati-matian dari pemerintah Indonesia untuk mencari
     pinjaman dana dari IMF. Ketika pemerintah mengemis pada IMF dana
     senilai 400 juta $ AS, sebenarnya pemerintah kehilangan pendapatan atas
     pajak senilai 4 Milyar $ AS setiap tahunnya akibat penebangan hutan liar
     sejak 1998.



  2. Dampak kerusakan terhadap ekologi lingkungan

            Penebangan hutan secara ilegal ini juga menimbulkan akibat yang
     sangat merugikan bagi hutan itu sendiri maupun lingkungan di
     sekelilingnya. Secara umum, dampak penebangan hutan menyebabkan:
     pertama, masalah pemanasan global; kedua, masalah degradasi tanah; dan
     ketiga, mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati di dalamnya.



  3. Masalah pemanasan global

            Para ahli memperkirakan bahwa dampak dari pemanasan global
     akan sangat meningkat bila kelestarian dan keutuhan hutan tidak
     dipelihara. Ada beberapa akibat yang akan muncul akibat pemanasan
     global ini, antara lain terjadinya perubahan iklim. Hal ini akan
                                                                           6


   mempercepat penguapan air sehingga berpengaruh pada curah hujan dan
   distribusinya. Akibat selanjutnya adalah terjadinya banjir dan erosi di
   daerah-daerah tertentu. Seperti kasus yang terjadi di Pontianak
   ( Kalimantan Barat ) dan Nias ( Sumatra Utara ) yang menelan korban
   materi dan nyawa yang sangat besar. Musim kering yang berkepanjangan
   juga akan melanda daerah-daerah yang areal hutannya digunduli, bahkan
   dibakar. Sebagai contoh adalah kebakaran hutan Kalimantan Barat. Resiko
   yang timbul kemudian adalah banyaknya lahan yang dibiarkan kosong.



4. Masalah degradasi tanah

          Penebangan hutan secara tak terkendali pasti juga menyebabkan
   degradasi tanah dan berkurangnya kesuburan tanah. Data dari Biro Pusat
   Statistik menyebutkan bahwa lahan produktif yang telah diolah di
   Indonesia sebanyak 17.665.000 hektar. Sebesar 70 % dari lahan itu adalah
   lahan kering. Sisanya adalah lahan basah. Akibat penebangan liar yang
   terjadi banyak lahan kering yang tidak digarap. Akibatnya erosi menjadi
   mudah terjadi dan tanah berkurang kesuburannya.



5. Masalah kepunahan keranekaragaman hayati

          Masalah ini cukup mendapat perhatian penting saat ini. Berdasar
   penelitian para ahli, dikatakan bahwa jumlah spesies binatang atau spesies
   burung semakin berkurang, khususnya di Kalimantan Barat. Akibat
   penebangan hutan yang dilakukan terus menerus, banyak hewan yang
   menyingkir dan mencari habitat yang baru. Misalnya, harimau Kalimantan
   semakin terjepit karena tempat tinggalnya semakin sempit dan terus di
   babat. Bukan tidak mungkin bahwa tahun-tahun mendatang spesies
   harimau akan punah. Para ahli memperkirakan bahwa pada tahun 2015
   dengan penggundulan hutan tropis di Kalimantan akan menyebabkan
   punahnya 4-8% spesies dan 17,35 % pada tahun 2040.
                                                                             7


C. Sejarah, Pengertian dan Definisi Konservasi

         Pada awalnya, upaya konservasi di dunia ini telah dimulai sejak ribuan
   tahun yang lalu.     Naluri manusia untuk mempertahankan hidup dan
   berinteraksi dengan alam dilakukan antara lain dengan cara berburu, yang
   merupakan suatu kegiatan baik sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup,
   ataupun sebagai suatu hobi/hiburan.

         Di Asia Timur, konservasi sumberdaya alam hayati (KSDAH) dimulai
   saat Raja Asoka (252 SM) memerintah, dimana pada saat itu diumumkan
   bahwa perlu dilakukan perlindungan terhadap binatang liar, ikan dan hutan.
   Sedangkan di Inggris, Raja William I (1804 M) pada saat itu telah
   memerintahkan para pembantunya untuk mempersiapkan sebuah buku
   berjudul Doomsday Book yang berisi inventarisasi dari sumberdaya alam
   milik kerajaan.

         Kebijakan kedua raja tersebut dapat disimpulkan sebagai suatu bentuk
   konservasi sumberdaya alam hayati pada masa tersebut dimana Raja Asoka
   melakukan konservasi untuk kegiatan pengawetan, sedangkan Raja William I
   melakukan pengelolaan sumberdaya alam hayati atas dasar adanya data yang
   akurat. Namun dari sejarah tersebut, dapat dilihat bahwa bahkan sejak jaman
   dahulu, konsep konservasi telah ada dan diperkenalkan kepada manusia
   meskipun konsep konservasi tersebut masih bersifat konservatif dan eksklusif
   (kerajaan). Konsep tersebut adalah konsep kuno konservasi yang merupakan
   cikal bakal dari konsep modern konservasi dimana konsep modern konservasi
   menekankan pada upaya memelihara dan memanfaatkan sumberdaya alam
   secara bijaksana.

         Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang
   terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki
   pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what
   you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh
   Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang
   mengemukakan tentang konsep konservasi.
                                                                           8


        Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk
evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada
saat sekarang.    Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan
ekologi     dimana   konservasi    dari   segi   ekonomi   berarti   mencoba
mengalokasikan sumberdaya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi
ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan
masa yang akan datang.

        Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam
beberapa batasan, sebagai berikut :

1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi
    keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama
    (American Dictionary).

2. Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang
    optimal secara sosial (Randall, 1982).

3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme
    hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan
    manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah
    survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan
    latihan (IUCN, 1968).

4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga
    dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat
    diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).



        Secara keseluruhan, Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH)
adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan
secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap
memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.
Adapun prinsip dasar KSDAH dapat digambarkan melalui diagram berikut
ini :
                                                                          9


-   KSDAH ataupun konservasi biologi pada dasarnya merupakan bagian dari
    ilmu dasar dan ilmu terapan yang berasaskan pada pelestarian kemampuan
    dan pemanfaatannya secara serasi dan seimbang.        Adapun tujuan dari
    KSDAH adalah untuk terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati
    serta kesinambungan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung
    upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan
    manusia.

-   Untuk mewujudkan tujuan tersebut, perlu dilakukan strategi dan juga
    pelaksananya. Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan
    secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masyarakat
    umum, swasta, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, serta
    pihak-pihak lainnya.     Sedangkan strategi konservasi nasional telah
    dirumuskan ke dalam tiga hal berikut taktik pelaksanaannya, yaitu :

    1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK)

        a. Penetapan wilayah PSPK.

        b. Penetapan pola dasar pembinaan program PSPK.

        c. Pengaturan cara pemanfaatan wilayah PSPK.

        d. Penertiban penggunaan dan pengelolaan tanah dalam wilayah
            PSPK.

        e. Penertiban maksimal pengusahaan di perairan dalam wilayah
            PSPK.

    2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta
       ekosistemnya

        a. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta
            ekosistemnya

        b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa (in-situ dan eks-situ
            konservasi atau konservasi di dalam ekosistem dan di luar
            ekosistem).
                                                                              10


   3. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

           a. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.

           b. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (dalam bentuk :
              pengkajian,     penelitian    dan   pengembangan,      penangkaran,
              perdagangan, perburuan, peragaan, pertukaran, budidaya).



      Kawasan pelestarian alam ataupun kawasan dilindungi ditetapkan oleh
pemerintah      berdasarkan      berbagai    macam    kriteria    sesuai   dengan
kepentingannya. Hampir di setiap negara mempunyai kriteria/kategori sendiri
untuk penetapan kawasan dilindungi, dimana masing-masing negara
mempunyai tujuan yang berbeda dan perlakuan yang mungkin berbeda pula.

      Namun di level internasional seperti misalnya Commission on National
Park and Protected Areas (CNPPA) yaitu komisi untuk taman nasional dan
kawasan dilindungi yang berada di bawah IUCN memiliki tanggung jawab
khusus dalam pengelolaan kawasan yang dilindungi secara umum di dunia,
baik untuk kawasan daratan maupun perairan.

      Sedikitnya, sebanyak 124 negara di dunia telah menetapkan setidaknya
satu kawasan koservasinya sebagai taman nasional (bentuk kawasan
dilindungi yang populer dan dikenal luas). Walaupun tentu saja di antara
masing-masing negara, tingkat perlindungan yang legal dan tujuan
pengelolaannya beragam, demikian juga dasar penetapannya.

      Apabila suatu negara tidak memiliki kawasan dilindungi yang khusus
karena sulit untuk memenuhi standar yang ditetapkan, maka mereka dapat
mengelola kawasan alternatif seperti hutan produksi yang dialihkan sebagai
kawasan dilindungi sehingga penurunan/pengurangan plasma nutfah dapat
ditekan.
                                                                           11


      Kategori klasifikasi kawasan dilindungi, dimana kategori pegelolaan
harus dirancang agar pemanfaatan agar seimbang, tidak lebih mementingkan
salah satu fungsi dengan meninggalkan fungsi lainnya. Adapaun kategori
penetapan kawasan dilindungi yang tepat harus mempertimbangkan beberapa
hal, yaitu :

a. Karakteristik atau ciri khas kawasan yang didasarkan pada kajian ciri-ciri
    biologi dan ciri lain serta tujuan pengelolaan.

b. Kadar perlakuan pengelolaan yang diperlukan sesuai dengan tujuan
    pelestarian.

c. Kadar toleransi atau kerapuhan ekosistem atau spesies yang terdapat di
    dalamnya.

d. Kadar pemanfaatan kawasan yang sesuai dengan tujuan peruntukan
    kawasan tersebut.

e. Tingkat       permintaan   berbagai   tipe   penggunaan   dan   kepraktisan
    pengelolaan.



      Sedangkan secara umum, ciri-ciri suatu kawasan ditetapkan sebagai
kawasan dilindungi adalah :

1. Karakteristik/keunikan ekosistem, misalnya ekosistem hutan hujan dataran
    rendah, fauna endemik, ekosistem pegunungan tropika, dan lain-lain.

2. Spesies khusus yang diminati, mencakup nilai/potensi, kelangkaan atau
    terancam, misalnya menyangkut habitat jenis satwa seperti badak,
    harimau, beruang, dan lain-lain.

3. Tempat yang memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.

4. Lanskap/ciri geofisik yang bernilai estetik, dan penting untuk ilmu
    pengetahuan misalnya glasier, mata air panas, kawah gunung berapi dan
    lain-lain.
                                                                       12


5. Tempat yang berfungsi sebagai perlindungan hidrologi, tanah, air dan
    iklim mikro.

6. Tempat yang potensial untuk pengembangan rekreasi alam dan wisata,
    misalnya danau, pantai, pegunungan, satwa liar yang menarik, dan lain-
    lain.

7. Tempat peninggalan budaya, misalnya candi, galian purbakala, situs, dan
    lain-lain.



      Secara umum, tujuan utama dari pengelolaan kawasan dilindungi
adalah :

1. Penelitian ilmiah.

2. Perlindungan daerah liar/rimba.

3. Pelestarian keanekaragaman spesies dan genetic.

4. Pemeliharaan jasa-jasa lingkungan.

5. Perlindungan fenomena-fenomena alam dan budaya yang khusus.

6. Rekreasi dan wisata alam.

7. Pendidikan (lingkungan).

8. Penggunaan lestari dari sumberdaya alam yang berasal dari ekosistem
    alami.

9. Pemeliharaan karakteristik budaya dan tradisi.

      Berdasarkan tujuan manajemen tersebut, maka kawasan dilindungi
dikelola dalam berbagai kategori pengelolaan kawasn dilindungi yang
ditetapkan IUCN (1994) sebagai berikut :

1. Konservasi ekosistem dan rekreasi, misalnya taman nasional.

2. Konservasi fenomena alam, misalnya monumen alam.
                                                                         13


3. Konservasi melalui kegiatan manajemen aktif misalnya kawasan
   pengelolaan habitat.

4. Konservasi bentang alam, laut dan rekreasi.

5. Pemanfaatan lestari ekosistem alam.



     Adapun kriteria umum bagi berbagai kawasan yang dilindungi adalah :

1. Taman Nasional, yaitu kawasan luas yang relatif tidak terganggu yang
   mempunyai nilai alam yang menonjol dengan kepentingan pelestarian
   yang tinggi, potensi rekreasi besar, mudah dicapai oleh pengunjung dan
   terdapat manfaat yang jelas bagi wilayah tersebut.

2. Cagar alam, umumnya kecil, dengan habitat rapuh yang tidak terganggu
   oleh kepentingan pelestarian yang tinggi, memiliki keunikan alam, habitat
   spesies langka tertentu, dan lain-lain.       Kawasan ini memerlukan
   perlindungan mutlak.

3. Suaka margasatwa, umumnya kawasan berukuran sedang atau luas dengan
   habitat stabil yang relatif utuh serta memiliki kepentingan pelestarian
   mulai sedang hingga tinggi.

4. Taman wisata, kawasan alam atau lanskap yang kecil atau tempat yang
   menarik dan mudah dicapai pengunjung, dimana nilai pelestarian rendah
   atau tidak akan terganggu oleh kegiatan pengunjung dan pengelolaan yang
   berorientasi rekreasi.

5. Taman buru, habitat alam atau semi alami berukuran sedang hingga besar,
   yang memiliki potensi satwa yang boleh diburu yaitu jenis satwa besar
   (babi hutan, rusa, sapi liar, ikan, dan lain-lain) yang populasinya cukup
   besar, dimana terdapat minat untuk berburu, tersedianya fasilitas buru
   yang memadai, dan lokasinya mudah dijangkau oleh pemburu. Cagar
   semacam ini harus memiliki kepentingan dan nilai pelestarian yang rendah
   yang tidak akan terancam oleh kegiatan perburuan atau pemancingan.
                                                                              14


6. Hutan lindung, kawasan alami atau hutan tanaman berukuran sedang
   hingga besar, pada lokasi yang curam, tinggi, mudah tererosi, serta tanah
   yang mudah terbasuh hujan, dimana penutup tanah berupa hutan adalah
   mutlak perlu untuk melindungi kawasan tangkapan air, mencegah longsor
   dan erosi. Prioritas pelestarian tidak begitu tinggi untuk dapat diberi status
   cagar.
                                                                                15


                                  BAB III

                                  PENUTUP


A. Kesimpulan

           Evolusi   etika lingkungan, merupakan proses        intelektual   dan
  emosional. Konservasi lingkungan yang berdasar maksud baik saja terbukti
  lemah bahkan berbahaya, karena mengabaikan pemahaman kritis baik
  terhadap alam maupun sisi ekonomis dari penggunaan alam. Muatan
  intelektual akan meningkat sejalan dengan meluasnya penghayatan etika
  pribadi ke komunitas. Mekanisme kerjanya sama untuk etika apapun juga:
  peneguhan sosial untuk tindakan-tindakan yang benar dan penolakan atas
  tindakan-tindakan yang salah.



B. Saran

           Kunci untuk melepas belenggu evolusi etika lingkungan adalah :

  1. Jangan pernah berpikir tentang penggunaan alam semata-mata sebagai
      masalah ekonomi.

  2. Uji setiap pernyataan sehubungan dengan kelayakan ekonomi dalam
      terminologi kebenaran etik dan estetis. Sesuatu adalah benar jika
      mempunyai kecenderungan mempertahankan integritas, stabilitas dan
      komunitas biotik. Sesuatu adalah salah jika condong ke arah sebaliknya.

  3. Tingkatkan pemanfaatan dan perluasan konservasi alam.
                                                                      16


                        DAFTAR PUSTAKA



Sony Keraf, Lingkugan Hidup, Melihat Dimensi Etisnya, Kompas, 6 Desember
        1999.

Tim Wartawan Kompas, Hutan Konservasi Dihabisi, Kompas, 5 Agustus 2006.

www.google.com//pengaruh_kerusakan_alam. Diakses Pebruari 2008.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:5630
posted:10/31/2010
language:Indonesian
pages:16