Docstoc

TESIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP BAB 2

Document Sample
TESIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP BAB 2 Powered By Docstoc
					                                  BAB II

    KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS



2.1. Kajian Pustaka

2.1.1. Masalah Lingkungan dan Kependudukan

       Hasil penelitian terdahulu mengemukakan bahwa pertumbuhan dan

persebaran penduduk di Indonesia mengalami pertumbuhan dari 139 juta orang

(1979) menjadi 151 juta orang (1983), pada tahun 2005 dan mencapai 250 juta

orang (Siswanto Wunarso: 15) dan pada tahun 2010 pertumbuhan penduduk

diperkirakan mencapai 300 juta orang. Penduduk yang bertambah memerlukan

makan, pakaian, rumah, sarana kesehatan, sekolah dan lain-lain. Maka sumber

daya alam perlu diolah dan ini berarti perlu pelaksanaan pembangunan.

Pertambahan jumlah penduduk juga berakibat pada meningkatnya gaya hidup

yang menimbulkan tekanan pada sumber daya alam dan lingkungan.

Perkembangan jumlah manusia dan kemampuan teknologi telah melahirkan

berbagai lingkungan buatan (man made environment), seperti kota buatan, pulau

buatan, danau buatan dan lain-lain. Disamping itu timbul juga pencemaran

lingkungan sebagai dampak sampingan dari kemajuan teknologi.

       Adapun dampak kepadatan penduduk terhadap kerusakan lingkungan

adalah :

   a. Hilangnya lahan pertanian karena digunakan untuk pemukiman, serta

       berkurangnya luas hutan karena pembukaan ladang atau pemukiman.




                                     8
                                                                             9




   b. Pencemaran lingkungan yang telah mengakibatkan terancam punahnya

         ribuan jenis hewan dan tumbuhan.

   c. Buangan limbah industri yang menimbulkan gangguan berbagai penyakit

         manusia.

         Sejalan dengan berkembangnya kota, lahir pula pusat-pusat pemukiman

yang menimbulkan permasalah air, sampah, kebisingan dan udara kotor. Dalam

kondisi seperti itu, maka pikiran yang tumbuh di bidang lingkungan hidup adalah

bagaimana mengatasi berbagai kerusakan lahan dan pencemaran lingkungan.

         Sementara itu lahir pula yang keliru terhadap proses pembangunan dan

pengembangan lingkungan hidup dengan memisahkan antara pembangunan

dengan     pengembangan    lingkungan.   Mengusahakan   pembangunan     berarti

mengorbankan lingkungan, sebaliknya mengembangkan lingkungan hidup berarti

mengorbankan pembangunan.

         Pandangan seperti itu salah besar karena seharusnya ada keseimbangan

antara pembangunan dengan pelestarian lingkungan dengan kata lain :

Pembangunan diharuskan berwawasan lingkungan.

         Pelestarian terhadap masalah lingkungan hidup sangat kompleks, dimana

pemecahan masalahnya memerlukan perhatian yang bersifat komprehensif, dan

menjadi tanggungjawab antara pemerintah dan masyarakat. Masalah pengelolaan

lingkungan hidup mempunyai fungsi melestarikan lingkungan disamping

memanfaatkannya.

         Pembangunan pada hakikatnya merupakan proses perubahan lingkungan.

Pembangunan itu diharapkan tetap dapat menjaga kelestarian lingkungan dan
                                                                             10




tetap menjaga daya dukung lingkungan. Daya dukung lingkungan ditentukan oleh

faktor bio fisik, sosial, budaya dan ekonomi.

       Pembangunan      berkelanjutan    yang    berwawasan   lingkungan   hidup

merupakan upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan hidup

termasuk sumber daya ke dalam            proses pembangunan untuk menjamin

kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan masa depan.

       Terpilihnya    keberlanjutan     fungsi   lingkungan   hidup   merupakan

kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggungjawab, keterbukaan, dan peran

anggota masyarakat yang dapat disalurkan melalui perorangan, organisasi,

lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain untuk memelihara dan meningkatkan

daya dukung lingkungan.

       Masyarakat merupakan salah satu faktor penentu dalam membentuk

lingkungan yang seimbang perlu terus dibangun pemahaman dan kesadarannya.

Bila tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sudah cukup baik, maka

tidak mustahil segala bentuk kegiatan masyarakat akan memperhitungkan dampak

yang mungkin terjadi terhadap keseimbangan lingkungan.

       Oleh karena itu membangun pemahaman dan kesadaran masyarakat

terhadap pembentukan lingkungan yang berkualitas perlu diterapkan sejak dini

dan berkesinambungan, dengan mengunakan teknik dan metode yang efektif dan

terpadu. Sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai secara optimum.

       Penanaman konsep tentang lingkungan secara efektif, terpadu dan

berkesinambungan adalah melalui pembelajaran di sekolah. Pembelajaran tentang

lingkungan hidup harus dimulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah
                                                                             11




menengah, bahkan sampai perguruan tinggi sehingga konsep yang didapat

terpahami secara menyeluruh.



2.1.2. Konsep Belajar

         Fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membantu

watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan

kehidupan bangsa, sedangkan tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan

potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri

dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.

         Berdasarkan data empirik dan hasil analisis potensi unggulan serta ciri

khas masing-masing kabupaten/kota di Propinsi Jawa Barat untuk mencapai Visi,

dan Misinya maka diperlukan Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan

Hidup.

         Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa

Barat bertujuan membentuk pribadi peserta didik yang harmonis dengan

memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai kecerdasan

intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, kecerdasan adpertensi,

kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional

dalam mengelola keseimbangan lingkungan.

         Belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang

yang belajar. Hal lain yang juga selalu terkait dengan belajar adalah pengalaman

yang berbentuk interaksi dengan orang lain atau lingkungannya.
                                                                              12




       Unsur perubahan dan pengalaman hampir selalu ditekankan dalam

rumusan atau definisi belajar. Menurut Hilgard (1962 : 252) “belajar adalah suatu

proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap

suatu situasi”. Sedangkan menurut Gage dan Berliner (1970 : 256) belajar adalah

“suatu proses perubahan tingkah laku yang muncul karena pengalaman”.

       Mengenai pengertian perubahan dalam rumusan-rumusan di atas dapat

menyangkut hal yang sangat luas dan menyangkut semua aspek kepribadian

individu. Perubahan tersebut dapat berkenaan dengan penguasaan dan menambah

pengetahuan, kecakapan, sikap, nilai, motivasi, kebiasaan, minat, apresiasi dsb.

Pengalaman berkenaan membaca, melihat, mendengar, merasakan, melakukan,

menghayati, membayangkan, merencanakan, menilai, mencoba, menganalisis,

memecahkan, dsb.

       Kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah bersifat formal, disengaja,

direncanakan, dengan bimbingan guru. Apa yang hendak dicapai dan dikuasai

siswa (tujuan pembelajaran), bahan apa yang harus dipelajari (materi

pembelajaran), bagaimana cara siswa mempelajarinya (metode pembelajaran),

serta bagaimana cara mengetahui kemajuan belajar siswa (evaluasi), telah

direncanakan dengan seksama dalam kurikulum sekolah. Kegiatan belajar di

sekolah benar-benar sengaja dan direncanakan.

       Ada dua pendekatan di dalam pengajaran di sekolah, yaitu pendekatan

yang mengutamakan hasil belajar dan yang mengutamakan pada proses belajar.

Sesungguhnya antara kedua pendekaan tersebut tidak terdapat perbedaan yang
                                                                              13




prinsipil, sebab suatu hasil belajar yang baik akan diperoleh melalui proses yang

baik.

        Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan siswa di sekolah sangat

ditentukan oleh model-model pengajaran yang diberikan oleh guru. Kegiatan

belajar yang dilakukan oleh siswa sebenarnya merupakan sisi lain dari kegiatan

mengajar yang dikerjakan oleh guru, sebab kegiatan belajar mengajar merupakan

dua aktivitas yang dilakukan oleh dua orang yang berbeda tapi dalam situasi yang

sama.

        Dalam menggunakan model mengajar, sudah tentu guru yang tidak

memahami tentang metode mengahar tentu tidak akan bisa melaksanakan proses

belajar mengajar dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu untuk mendorong

keberhasilan guru dalam proses belajar-mengajar guru harus mengerti fungsi dan

langkah-langkah pelaksanaan metode mengajar.

        Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan

dunia yang sangat cepat, UNESCO merumuskan empat pilar belajar, yaitu :

   a. Belajar mengetahui (learning to know)

          Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan

   pemanfaatan pengetahuan. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan

   pengetahuan. Hal ini bukan saja disebabkan oleh adanya perkembangan

   teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika yang

   memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan bisa diperoleh dan

   disebarkan secara cepat dan menjangkau hampir seluruh bagian bumi.
                                                                         14




b. Belajar berkarya (learning to do)

      Agar mampu menyesuaikan diri dan berpartisipasi dalam masyarakat

yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar

berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan

mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi UNESCO, belajar berkarya ini

memiliki makna khusus yang berkaitan dengan vokasional. Belajar berkarya

adalah berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan

tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan

kompetensi kerja juga berkembang semakin tinggi. Oleh karena itu setiap

individu harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).



c. Belajar Hidup Bersama (learning to live together)

      Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka

kelompok, daerah, budaya, ras, agama, profesi, tetapi juga hidup bersama dan

bekerjasama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi,

berkomunikasi dan bekerjasama antar kelompok, dituntut untuk belajar hidup

bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan,

tradisi dan tahap perkembangan yang berbeda. Agar bisa hidup bersama harus

banyak belajar hidup bersama, learning sociable (berusaha membina

kehidupan bersama).
                                                                             15




   d. Belajar Berkembang Utuh (learning to be)

          Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks

   menuntut perkembangan manusia secara utuh. Manusia yang utuh adalah

   manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan

   seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik maupun moral. Untuk

   mencapai sasaran demikian dituntut individu-individu yang banyak belajar

   mengembangkan       seluruh   aspek   kepribadiannya.   Sebenarnya   tuntutan

   kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara

   menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia yang utuh dan unggul. Untuk itu

   mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence) yang

   ditopang dengan keunggulan moral. Individu-individu global harus berupaya

   bermoral kuat atau being morally.



2.1.3. Kurikulum Terintegrasi

       Yang dimaksud dengan integrasi adalah perpaduan, koordinasi, harmoni,

kebulatan keseluruhan. Kurikulum terintegrasi meniadakan batas antara berbagai

mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau

keseluruhan. Dengan kebulatan bahan pelajaran diharapkan dapat membentuk

siswa menjadi pribadi utuh, yaitu manusia yang selaras dengan lingkungannya,

apa yang didapat di sekolah disesuaikan dengan kehidupan siswa di luar sekolah

(S. Nasution : 196).

       Kurikulum terintegrasi dilaksanakan melalui pengajaran unit. Suatu unit

mempunyai tujuan yang bermakna bagi siswa yang biasanya dituangkan dalam
                                                                               16




bentuk masalah. Untuk memecahkan masalah itu siswa melakukan serangkaian

kegiaan yang saling berkaitan. Menghadapkan siswa pada masalah berarti

merangsang untuk berpikir memecahkan masalah tersebut. Bila kita menggunakan

kurikulum terintegrasi berarti yang diutamakan adalah bagaimana siswa berpikir

sendiri atas masalah atau fakta yang dicari sendiri bukan sekedar menghapal

konsep.

       Dalam    pelaksanaannya,    kurikulum     di   setiap   satuan   pendidikan

menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :

   a. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan

       konsisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi

       dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan

       pendidikan   yang   bermutu,    serta    memperoleh     kesempatan   untuk

       mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.

   b. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu :

       (a) belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

       (b) belajar untuk memahami dan menghayati,

       (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,

       (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan

       (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses

          pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

   c. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan

       yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan

       potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap
                                                                          17




   memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang

   berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan dan moral.

d. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan

   pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan

   hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing media mangun karta, ing

   ngarsa sung tulade (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah

   membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan

   teladan).

e. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi

   dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan

   memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip

   alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang

   di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alat semesta

   dijadikan belajar, contoh dan teladan).

f. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial

   dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan

   muatan seluruh bahan kajian secara optimal.

g. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran,

   muatan      lokal   dan   pengembangan      diri   diselenggarakan   dalam

   keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai

   antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan.

   Manfaat kurikulum terintegrasi atau unit adalah sebagai berikut :
                                                                             18




Pertama, segala sesuatu yang dipelajari dalam unit berkaitan erat dan menjamin

integrasi bahan pelajaran. Siswa tidak lagi mempelajari fakta lepas yang segera

dapat dilupakan. Untuk memecahkan masalah digunakan bahan dari semua mata

peajaran karena mengadakan batas-batas yang tegas antara berbagai mata

pelajaran sering merugikan pembentukan pengertian yang luas dan mendalam.

Kedua, sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar. Siswa

dihadapkan pada masalah yang benar-benar berarti bagi kehidupan mereka serta

bertalian erat dengan pengalaman mereka.

Ketiga, memungkinkan hubungan yang erat antar sekolah dengan masyarakat.

Masyarakat dijadikan labolatorium tempat siswa mengumpulkan bahan untuk

menyelidiki suatu problema.

Keempat, sesuai dengan faham demokrasi. Siswa dirangsang untuk berpikir

sendiri, bekerja sendiri, memikul tanggungjawab, dan bekerjasama dalam

kelompok.

Kelima, mudah disesuaikan dengan minat. Kesanggupan siswa dalam menghadapi

mata pelajaran tidak akan sama, oleh karena itu guru harus secara jeli melihat

minat dan potensi yang ada dalam diri siswa terhadap suatu mata pelajaran.



2.1.4. Pendidikan Agama Islam

       Pendidikan Agama Islam aalah salah satu mata pelajaran yang ada dalam

setiap jenjang pendidikan, baik tingkat SD, SMP, maupun SMA. Adapun arti dari

Pendidikan Agama Islam adalah :
                                                                            19




-   Pendidikan adalah proses pembentukan sikap dan tata laku seseorang atau

    kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya

    pengajaran dan pelatihan.

-   Agama adalah sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran

    kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan

    itu.

-   Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW

    berpedoman terhadap kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia

    melalui wahyu Allah SWT. (Lukman Ali, 1997)

-   Jadi arti Pendidikan Agama Islam selengkapnya adalah proses pengubahan

    sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang melalui prinsip

    kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan ajaran yang dibawah

    oleh Nabi Muhammad SAW, berpedoman kepada kitab suci Al-Qur’an

    yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.

    Inti dari pengajaran ini adalah 5 aspek, yaitu :

    a. Aspek Al-Qur’an

           Al-Qur’an adalah kitab suci yang diterima oleh Nabi Muhammad

    SAW dari Allah SWT melalui perantaraan malaikat Jibril.

    b. Aspek Aqidah

           Aqidah adalah kepercayaan dasar, keyakinan total kepada Tuhan

    Yang Maha Esa.

    c. Aspek Akhlaq

           Akhlaq adalah budi pekerti, kelakuan, sikap atau perilaku seseorang.
                                                                        20




      d. Aspek Fiqih

            Fiqih adalah ilmu yang membahas tentang hukum-hukum Islam

      e. Aspek Tarikh

            Tarikh ialah ilmu yang membahas tentang sejarah Islam.

            Pendidikan Agama Islam adalah ilmu yang mempelajari berbagai

      macam baik urusan dunia maupun urusan akherat. Untuk urusan dunia pun

      dikembangkan lagi baik dilangit maupun di bumi. Sesuai dengan firman

      Allah SWT :




Artinya : Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.
          Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang
          memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (Q.S.
          Yunus : 101)

            Materi dari Pendidikan Agama Islam ini bisa dikolaborasikan dan

      integrasikan dengan berbagai mata pelajaran lain, salah satu mata

      pelajaran yang bisa berintegrasi dengan Pendidikan Agama Islam adalah

      Pendidikan Lingkungan Hidup.


2.1.5. Konsep Pengetahuan

      Dalam kepustakaan Indonesia istilah pengetahuan sering dicampuradukan

atau disetarakan dengan ilmu pengetahuan atau kadang-kadang sebagai ilmu

(sain). Hal ini disebabkan karena adanya salah pengertian antara ilmu

pengetahuan (knowledge) dengan ilmu (science), sebenarnya kedua istilah itu

mengacu pada realitas sendiri, sehingga seharusnya dibedakan. Namun apabila

kita hendak mengungkapkan apa sebenarnya pengetahuan, disinilah letaknya
                                                                               21




kesulitan atau bahkan dapat dikatakan sebagai hal yang misterius, dan memang

pengetahuan adalah misteri yang ada pada diri manusia sebagai misteri manusia

itu sendiri. Secara sederhana Jujun S. Suriasumantri (1987 : 40) dan Syamsuri SA.

(1989 : 2) menyatakan bahwa pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap

apa yang kita ketahui tentang suatu objek termasuk didalamnya ilmu. Bahkan I.R.

Poedjawinata (1983:4) mendefinisikan lebih sederhana lagi yaitu bahwa

pengetahuan tidak lain adalah hasil tahu.

       Pengetahuan yang diperoleh dan diproses melalui kesadaran akan berisi

kebenaran bahkan dapat memuaskan seluruh unsur hakikat kemanusiaan subjek

yang mengetahui itu. Jadi dapat dikatakan bahwa benar atau tidaknya pengetahuan

sesungguhnya amat tergantung pada kesadaran. Beberapa aktivitas kesadaran

yang menghasilkan pengetahuan itu antara lain adalah :

   1) pengetahuan merupakan hasil perbuatan sadar yang bertumpu pada

       kegiatan batin sendiri;

   2) pengetahuan merupakan hasil perbuatan sadar yang terarahkan pada

       sesuatu sebagai objek yang khas, pengetahuan tidak terjadi tanpa sesuatu;

   3) pengetahuan merupakan hasil perbuatan sadar yang terarahkan pada suatu

       isi mengenai objek yang dihadapi;

   4) pengetahuan merupakan hasil perbuatan sadar yang terarahkan pada suatu

       isi maupun kenyataan;

   5) pengetahuan merupakan hasil perbuatan sadar untuk mengenal yang

       diarahkan pada suatu isi maupun kenyataan yang bersifat pasif.

       Sifat kritis dan rasa ingin tahu yang ada dalam diri manusia telah

melahirkan berbagai pernyataan-pernyataan tentang hakikat hidup atau wujud
                                                                             22




suatu benda nyata. Berangkat dari masalah-masalah yang selalu dihadapi manusia

maka akan mendorong manusia untuk menggunakan segenap potensi yang ada

pada dirinya termasuk akal-pikir.

        Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung

atau tidak langsung memperkaya kehidupan manusia. Sukar dibayangkan

bagaimana kehidupan manusia berlangsung seandainya pengetahuan itu tidak ada,

sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban-jawaban dari segenap persoalan

atau pertanyaan yang muncul dalam kehidupan (Jujun S. Suriasumantri 1987 :

104).

        Rominowzki (1984) memandang bahwa pengetahuan pada umumnya

mengandung dua kategori kemampuan yakni mengingat dan memahami.

Sementara itu Gagne (1977:76) membedakan pengetahuan menjadi pengetahuan

prosedural (tentang bagaimana) dan pengetahuan deklaratif (tentang apa).

        Selanjutnya Bloom, Englehart, Furs, Bill dan Krathwohi (1984 : 87) dalam

hubungannya dengan hasil belajar, memandang pengetahuan sebagai hasil dari

ranah kognitif. Dijelaskan bahwa ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar

intelektual yang terdiri dari enam jenjang yaitu :

   1) Pengetahuan (knowledge)

   2) Pemahaman (comprehension)

   3) Aplikasi (application)

   4) Analisis (analysis)

   5) Sintesis (synthesis)

   6) Evaluasi (evaluation)
                                                                              23




       Menurut Fishbein dan Ajzen (1975 : 72), pengetahuan yang dimiliki

seseorang mengenai suatu objek berfungsi membentuk suatu keyakinan mengenai

objek tersebut. Sedangkan keyakinan itu dapat berpengaruh terhadap sikap dan

perilaku yang bersangkutan. Hal ini tidak mengherankan sebab pengetahuan

seseorang pada dasarnya merupakan cerminan lingkungan, struktur psikologis,

keinginan atau tujuan dari segenap pengalaman masa lalu yang bersangkutan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perubahan pengetahuan seseorang

tersebut tentang objek dapat merupakan sikap dan perilaku orang tersebut

terhadap objek diketahuinya.



2.1.6. Pengertian dan Pengukuran Sikap

       Banyak sekali pengertian sikap yang dikemukakan oleh para ahli

diantaranya :

       Saifudin Azwar (1998 : 30) menyatakan bahwa sikap sosial terbentuk dari

adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Interaksi sosial mengandung

arti lebih dari sekedar adanya kontrak sosial dan hubungan antar individu sebagai

anggota kelompok sosial. Dalam interaksi sosial terjadi hubungan saling

mempengaruhi antara individu satu dengan lainnya.

       Dalam interaksi sosial individu beraksi membentuk pola sikap tertentu

terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor

yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan,

orang lain yang dianggap penting, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga

agama serta faktor emosi dalam diri individu itu sendiri.
                                                                              24




       Untuk menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah

meninggalkan kesan yang kuat. Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila

pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor

emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi pengalaman akan lebih terasa

mendalam dan lebih lama berbekas.

       Seseorang yang dianggap penting, yang diharapkan persetujuannya bagi

setiap gerak dan tingkah laku, akan banyak berpengaruh dalam pembentukan

sikap terhadap sesuatu. Misalnya orang yang dianggap penting itu adalah orang

tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman dekat, guru, dan lain-lain.

Pada umumnya individu akan lebih kompromis dengan orang yang dianggap

penting.

       Lembaga pendidikan serta lembaga keagamaan sebagai suatu sistem

mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakan

dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan lebih

buruk, boleh dan tidak boleh, diperoleh dari lembaga pendidikan dan lembaga

keagamaan. Karena konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem

kepercayaan, maka konsep tersebut akan ikut berperan dalam menentukan sikap

individu dan masyarakat terhadap sesuatu hal.

       Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap tidak dibawah

sejak lahir, tetapi dapat dibentuk sepanjang masa perkembangan individu yang

bersangkutan. Sikap yang ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor

internal, yaitu fisiologi dan psikologi, serta faktor eksternal yaitu norma dalam
                                                                           25




masyarakat, hambatan dan pendorong yang ada pada masyarakat. Semuanya akan

berpengaruh pada pembantukan sikap seseorang.

       Sikap dapat berubah. Perubahan sikap merupakan bidang yang paling

banyak dikaji oleh psikolog sosial. Banyak teori yang dapat menjelaskan

perubahan sikap diantaranya adalah teori social judgement (pengambilan

pertimbangan/keputusan). Menurut teori ini sikap seseorang bukan sekedar satu

titik melainkan merupakan satu area dari posisi-posisi atau dapat dikatakan

merupakan garis lintang menerima atau menolak. Kutub dari garis lintang lintas

menerima adalah menolak.




       Faktor internal :
          - psikologis
          - fisiologis


                                                                Objek
                                            sikap               sikap


       Faktor eksternal :                                        reaksi
          - pengalaman
          - situasi
          - norma-norma
          - hambatan
          - pendorong




                        Gambar 1 Proses Pembentukan Sikap
                                                                                        26




          Area Posisition Attitude                           Area Posisition Attitude
              Of Acceptance                                       Of Rejection
                (menerima)                                         (menolak)



                                     Gambar 2 Posisi Sikap

          Diantara kedua area tersebut terdapat area yang netral. Seseorang yang

akan mengambil keputusan akan berada diantara area menerima dan area menolak

sebagai dua kutub ruang gerak mengambil keputusan.

          Pada umumnya sikap manusia terhadap suatu objek dapat berubah bila

dari sudut pandang kita objek sikap telah berubah. Ada dua keadaan khusus

perubahan objek yang demikian. Mungkin objek itu sendiri telah berubah, atau

hanya informasi yang kita miliki tentang objek itu yang berubah. Dengan

demikian dapat dikatakan bahwa sikap terhadap sesuatu bisa berubah jika

memang lingkungan di sekitar manusia telah berubah atau pengetahuan manusia

tentang objek itu yang berubah.

          Pembentukan atau perubahan sikap ditentukan oleh dua faktor pokok,

yaitu :

    a. Faktor individu atau faktor dalam,

    b. Faktor luar atau ekstern,

          Bagaimana individu menanggapi dunia luarnya bersifat selektif, ini berarti

bahwa apa yang datang dari luar tidak begitu saja diterima semuanya, tetapi

individu mengadakan seleksi mana yang diterima dan mana yang ditolaknya. Hal

ini berkaitan erat dengan apa yang ada dalam individu dalam menanggapi
                                                                               27




pengaruh dari luar, oleh karena itu faktor individu merupakan faktor penentu.

Sedangkan yang dimaksud dengan faktor luar adalah hal-hal yang berada di luar

individu yang merupakan stimulus untuk membentuk atau mengubah sikap. Hal

ini dapat terjadi secara langsung antara individu dengan individu lain atau secara

tidak langsung dengan perantaraan alat komunikasi misalnya mass media baik

elektronik maupun non elektronik.

       Beberapa faktor yang dapat mengubah sikap individu akan dijelaskan

dibawah ini :

   1) Faktor kekuatan atau force. Kekuatan ini dapat memberikan situasi yang

       dapat mengubah sikap. Kekuatan ini dapat bermacam-macam bentuk

       seperti kekuatan fisik, kekuaan ekonomi, kekuatan yang berwujud

       peraturan-peraturan dan sejenisnya. Peraturan tersebut perlu dilaksanakan

       sebaik-baiknya, serta perlu ada sangsi bagi pelanggar. Bila tidak ada

       sangsi atas tindakan pelanggaran maka akan terbentuk sikap bahwa

       melanggar peraturan adalah sesuatu yang biasa.

   2) Berubahnya norma kelompok. Bila seseorang telah menginternalisasikan

       norma kelompok, maka apa yang menjadi norma kelompok akan diadopsi

       sebagai normanya sendiri. Karena itu salah satu langkah yang dapat

       diambil untuk membentuk atau mengubah sikap dapat dengan cara

       mengubah norma kelompok.

   3) Berubahnya membership group (keanggotaan kelompok). Berubahnya

       keanggotaan kelompok akan mengubah sikap seseorang. Misalnya seorang

       petani dari desa pindah ke kota besar untuk mencari pekerjaan baru dan
                                                                       28




  kemudian bekerja sebagai buruh pabrik. Dengan berpindahnya orang

  tersebut ke kota dan menjadi buruh pabrik maka berubah pula keanggotaan

  kelompoknya dari anggota kelompok petani di desa menjadi anggota

  kelompok buruh pabrik yang tentu saja memiliki norma yang berlainan

  dengan norma kelompok petani. Maka keadaan ini akan menyebabkan si

  orang tersebut mengikuti norma-norma yang ada pada kelompok barunya,

  dan ini akan memberikan pengaruh dalam rangka terbentuknya sikap baru

  sesuai dengan norma-norma yang baru. Dengan kata lain sikap orang

  tersebut berubah karena keanggotaan kelompok berubah.

4) Berubahnya reference group (kelompok acuan). Ada kemungkinan

  membership group tidak berubah tetapi kelompok acuannya berubah, dan

  ini juga akan merubah sikap yang ada pada diri individu. Misalnya dengan

  masuknya teknologi komunikasi dan informasi seperti radio, televisi,

  telepon dan surat kabar ke desa-desa banyak memberikan pengaruh pada

  perubahan sikap orang-orang desa tersebut. Dengan menonton TV,

  mendengar radio atau membaca koran akan membentuk norma baru dan

  mungkin akan mendesak norma lama.

5) Membentuk kelompok baru. Dengan membentuk kelompok yang baru

  akan dapat pula mengubah atau membentuk sikap baru karena kelompok

  baru memiliki norma-norma yang baru pula. Dengan norma-norma yang

  baru itu masing-masing anggota diharapkan dapat menyesuaikan diri.

  Misalnya dengan dibangunnya kompleks perumahan akan membentuk

  kelompok baru yang terdiri dari individu yang memiliki sikap berbeda
                                                                                29




       antara satu dengan lainnya dan telah memiliki norma sendiri. Maka dengan

       berkumpulnya mereka menjadi satu kelompok maka terbentuklah norma

       baru yang sesuai dengan keadaan baru tersebut.

       Salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap dan perilaku

manusia.   Manusia    adalah    pengungkapan     (assessment)   dan    pengukuran

(measurement). Sikap merupakan respon evaluatif yang dapat berbentuk positif

atau negatif. Hal ini berarti dalam sikap terkandung adanya preferensi atau rasa

suka tidak suka terhadap sesuatu.

       Ada beberapa karakteristik dimensi sikap, yaitu arah, intensitas, keluasan

konsistensi dan spontanitas. Berikut akan diuraikan dimensi tersebut satu persatu.

       Sikap mempunyai arah, artinya sikap terpilah menjadi dua arah

persetujuan yaitu setuju atau tidak setuju, apakah mendukung atau tidak

mendukung, apakah memihak atau tidak memihak terhadap suatu objek. Orang

yang mendukung terhadap suatu objek artinya dia memiliki sikap yang arahnya

positif, sebaiknya orang yang tidak mendukung berarti memiliki sikap yang

arahnya negatif.

       Sikap memiliki intensitas, artinya kedalaman atau kekuatan sikap terhadap

sesuatu belum tentu sama meskipun arahnya tidak berbeda. Dua orang yang sama

sukanya terhadap sesuatu sama-sama memiliki arah negatif, tetapi intensitasnya

belum tentu sama, orang pertama mungkin setuju dan orang kedua sangat setuju.

       Sikap memiliki keluasan, maksudnya setuju atau tidak setuju terhadap

suatu objek dapat mencakup banyak aspek pada suatu objek atau hanya terhadap

beberapa aspek yang spesifik. Misalnya seseorang dapat menerima program
                                                                              30




pengelolaan sampah secara menyeluruh sedangkan yang lain mungkin hanya

mempuyai sikap positif yang terbatas.

       Sikap juga mempunyai konsistensi, maksudnya adalah kesesuaian antara

pernyataan sikap yang dikemukakan dengan responnya terhadap objek yang

dimaksud. Untuk dapat konsisten sikap harus bertahan dalam diri individu untuk

waktu yang relatif panjang. Sikap yang cepat berubah, labil, dikatakan sebagai

sikap yang inkonsisten. Konsistensi juga diperlihatkan dengan tidak adanya

kebimbangan dalam bersikap. Harus dibedakan antara sikap yang inkonsisten

dengan sikap yang tidak memihak atau netral. Sikap yang tidak memihak atau

netral tetap disebut sikap walaupun arahnya tidak negatif atau positif.

       Karakteristis sikap yang terakhir adalah spontanitas. Hal ini menyangkut

sejauhmana kesiapan individu untuk menyatakan sikapnya secara spontan. Sikap

dinyatakan memiliki spontanitas yang tinggi apabila dapat dinyatakan secara

terbuka tanpa harus melakukan pengungkapan atau desakan terlebih dahulu agar

individu mau mengemukakannya.

       Pengukuran dan pemahaman terhadap sikap idealnya harus mencakup

semua dimensi tersebut diatas. Tapi tentu saja hal ini sangat sulit dilakukan.

Banyak skala sikap yang digunakan hanya mengungkapkan dimensi arah dan

dimensi intensitas sikap saja, yaitu dengan hanya menunjukan kecenderungan

sikap prositif-negatif dan memberikan tafsiran mengenai derajat setuju atau tidak

setuju terhadap respon individu.

       Meskipun pernyataan sikap (attitude expression) dari suatu skala sikap

merupakan indikator sikap yang paling dapat diandalkan namun tidak berarti
                                                                              31




bahwa skala itu selalu dapat dipercaya sepenuhnya atau praktis dapat

mencerminkan sikap yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan adanya berbagai

faktor yang menghambat penerjemahan individu yang sebenarnya kedalam

pernyataan-pernyataan yang terdiri atas kalimat-kalimat yang maknanya terbatas.

       Skala sikap yang banyak digunakan dan diadopsi untuk pengukuran adalah

model Likert. Model Likert diambil dari berkembangnya yaitu Rensis Likert.

Model Likert menggunakan skala deskriftif ; sangat setuju (SS), setuju (S), ragu-

ragu (R), dan tidak setuju (TS). Dasar dari skala deskriftif ini adalah respon

seseorang terhadap sesuatu dapat dinyatakan dengan pernyataan persetujuan

terhadap suatu objek. Sikap merupakan kecenderungan perbuatan dan respon

terhadap sesuatu objek. Kencederungan sikap dapat berbentuk penerimaan atau

penolakan terhadap objek tersebut. Penerimaan atau sikap positif dan penolakan

atau sikap negatif dapat dinyatakan dengan persetujuan atau tidak setuju terhadap

pernyataan tentang suatu objek. Bila subjek cenderung setujut terhadap

pernyataan yang bermuatan positif tentang objek, maka subjek mempunyai sikap

positif terhadap objek. Bila subjek cenderungan tidak setuju terhadap pernyataan

yang bermuatan positif tentang objek, maka subjek mempunyai sikap negatif

terhadap objek. Sebaliknya bila subjek cenderung setuju terhadap pernyataan yang

bermuatan negatif tentang objek, maka subjek mempunyai sikap negatif terhadap

objek. Dan bila subjek cenderung tidak setuju terhadap pernyataan yang

bermuatan negatif tentang objek, maka subjek mempunyai sikap positif terhadap

objek tersebut.
                                                                               32




       Dalam pemberian nilai, tentang skala pada dasarnya ganjil dengan tentang

3, positif (menerima), not (netral), negatif (menolak), karena tentang tersebut

membentuk suatu kontinum (garis bersambung), maka rentangnya bisa diperluas

menjadi 5 bahkan 7 atau 9. Sedangkan rentang yang biasa digunakan oleh Likert

adalah 5.

       Pernyataan positif             SS      S     R      TS

                                       4      3     2      1

       Pernyataan negatif             SS      S     R      TS

                                       1      2     3      4



2.2. Kerangka Pemikiran

2.2.1. Hubungan Antar Pembelajaran Teritegrasi PLH dengan Pengetahuan

       Siswa dalam Pelestarian Lingkungan Hidup

       Pengetahuan      dapat    didapatkan   melalui   berbagai   cara,   melalui

pendengaran, penglihatan, pengalaman dan lain sebagainya. Dalam pembelajaran

di sekolah guru memegang peranan penting dalam mentransfer pengetahuan

terhadap siswa. Oleh karena itu untuk menanamkan pemahaman kepada siswa

mengenai pentingnya pelestarian lingkungan, maka guru perlu menyajikannya

dalam sebuah perencanaan yang matang agar pengetahuan yang diberikan kepada

siswa lebih jelas dan terarah.

       Pendidikan Lingkungan Hidup sangat penting untuk diberikan kepada

siswa agar siswa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai upaya-upaya yang

harus dilakukan agar lingkungan tetap lestari dan seimbang. Oleh karena itu
                                                                            33




penyajian materi Pendidikan Lingkungan Hidup harus tersusun dan terencana agar

hasil yang didapatkan lebih optimal.

       Siswa perlu mengetahui dan memahami persoalan lingkungan yang sedang

dan akan dihadapi, sehingga akan tumbuh kesadaran dan tanggung jawab dalam

dirinya terhadap permasalahan yang ada bahkan memiliki konsep tentang

penyelesaiannya. Untuk memaksimalkan pengetahuan dan pemahaman siswa

terhadap pelestarian lingkungan, maka penyajian materi Pendidikan Lingkungan

Hidup harus berlangsung secara berkesinambungan, yaitu salah satunya dengan

cara mengintegrasikan materi Pendidikan Lingkungan Hidup terhadap mata

pelajaran tertentu. Hal ini akan menanamkan kesadaran pada diri siswa bahwa

persoalan lingkungan memang sangat penting ditinjau dari berbagai sudut

pandang.

       Dengan mengitegrasikan materi Pendidikan Lingkungan Hidup terhadap

mata pelajaran tertentu maka pengetahuan siswa tentang pelestarian lingkungan

akan meningkat secara optimal.



2.2.2. Hubungan Antar Pembelajaran Terintegrasi PLH dengan Sikap

       Siswa dalam Pelestarian Lingkungan Hidup

       Dalam interaksi sosialnya individu bereaksi membantuk pola sikap

tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai

faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi,

kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan, lembaga agama serta faktor

emosi dalam diri individu.
                                                                                  34




       Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa sikap tidak dibawa sejak

lahir, tetapi dibentuk sepanjang perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh

karena itu proses pembelajaran di sekolah turut memegang peranan penting dalam

membantuk sikap siswa. Bagaimana sikap siswa terhadap suatu objek maka hal

itu akan ditentukan pula oleh nilai-nilai yang ditanamkan oleh guru di sekolah.

       Seperti juga dalam hal pengetahuan, penanaman sikap siswa dalam

pelestarian lingkungan perlu dirancang dan disajikan dengan program yang

terencana. Siswa perlu dibangun kesadaran dan tanggungjawabnya secara terus

menerus dan dibawah bimbingan guru, pemberian tugas atau bahkan sangsi bagi

pelanggaran disiplin lingkungan akan melahirkan kesadaran dan tanggungjawab

yang baik terhadap pelestarian lingkungan.

       Dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran yang baik tentang

lingkungan akan melahirkan sikap yang baik pula pada diri siswa dalam

memandang tentang pelestarian lingkungan.

       Untuk memberikan kejelasan abstraksi keterkaitan variabel yang diteliti

tersebut, dibuat alur pikir sistem sebagai berikut :


    Masukan :                        Proses :                  Keluaran :
    Kenyataan yang                   Pendidikan                Meningkatkan
    terjadi adalah                   lingkungan                pengetahuan
    timbulnya                        Hidup                     siswa, yang
    masalah-masalah                  diintegrasikan            diikuti dengan
    lingkungan                       pada mata                 perubahan sikap
                                     pelajaran                 dalam
                                     Pendidikan                melestarikan
                                     Agama Islam               lingkungan

                                       Gambar 3

                                   Model Penelitian
                                                                                 35




2.3. Hipotesis Penelitian

       Berdasarkan latar belakang dan kerangka pemikiran sebagaimana

diuraikan diatas, hipotesis utama yang peneliti ajukan dalam penelitian ini adalah :

“terdapat pengaruh dari pengintegrasi Pendidikan Lingkungan Hidup kedalam

mata pelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap pengetahuan dan sikap siswa

dalam pelestarian lingkungan”.

       Adapun sub-sub hipotesisnya adalah sebagai berikut :

   1) Terdapat pengaruh dari pengintegrasian Pendidikan Lingkungan Hidup

       dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap pengetahuan

       siswa dalam pelestarian lingkungan.

   2) Terdapat pengaruh dari pengintegrasian Pendidikan Lingkungan Hidup

       dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap sikap siswa

       dalam pelestarian lingkungan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:1436
posted:10/31/2010
language:Indonesian
pages:28