Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

Guru Sekumpul Martapura

Document Sample
Guru Sekumpul Martapura Powered By Docstoc
					    GURU SEKUMPUL DAN WACANA LOKALITAS TENTANG ‘NUR MUHAMMAD’
                                    Oleh Zulfa Jamalie
         (Pengurus elkisab: Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar)

Alimul Fadhil H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari (Guru Sekumpul) pernah
menyinggung dan menguraikan pembahasan tentang salah satu tema yang selalu aktual
diperbincangkan dalam dunia tasawuf, yakni wacana tentang ‘Nur Muhammad’ dalam
salah satu pengajian beliau di Komplek al-Raudah Sekumpul Martapura. Untuk membutiri
kembali pandangan tentang Nur Muhammad dimaksud seiring dengan peringatan haul
beliau yang ke-5 tahun ini (5 Rajab 1431 H ─ 17 Juni 2010 M) berikut tulisan ini dihadirkan
guna pencerahan. Apakah yang dimaksud dengan Nur Muhammad tersebut?
Dalam kitab Hikayat Nur Muhammad diceritakan bahwa tubuh manusia (anak Adam)
mengandungi tiga unsur, yakni jasad, hati dan roh. Di dalam roh terdapat hakikat, di dalam
hakikat tersimpan rahasia, rahasia itulah yang dinamakan makrifah Allah. Di dalam
makrifah pula ada zat yang tidak menyerupai sesuatu pun. Rahasia atau makrifah Allah ini
dinamakan Insan Kamil. Insan Kamil dijadikan dari Nur yang melimpah dari zat Haqq
Ta’ala.

Menurut riwayat, sumber cerita tentang kejadian Nur Muhammad ini bermula dari biografi
Nabi Muhammad yang ditulis oleh Ibnu Ishaq (sejarawan Islam). Dalam biografi tersebut,
Ibnu Ishaq ada mencatat riwayat yang menyatakan bahwa Allah telah menciptakan Nur
Muhammad dan Nur itu telah diwarisi melalui generasi nabi-nabi hingga ia sampai kepada
Abdullah bin Abdul Muthalib dan turun kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian terdapat
sejumlah hadis yang menerangkan tentang Nur tersebut, antaranya, “sesungguhnya yang
mula-mula dijadikan oleh Allah adalah cahaya-ku (Nur Muhammad)………”.

Beragam pandangan terhadap hadis ini, ada yang menyatakan maudhu’ (tertolak), dhaif
(lemah), bersumber dari falsafah Yunani, tetapi ada pula yang menyatakan bahwa riwayat
tersebut boleh diterima karenanya sanadnya bersambung.

Hadis tersebut cukup panjang matannya dan diringkas sebagai berikut: “Dan telah
meriwayatkan oleh Abdul Razak dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah ra, beliau
berkata: “Ya Rasulullah, demi bapaku, engkau dan ibuku, khabarkanlah daku berkenaan
awal-awal sesuatu yang Allah telah ciptakan sebelum sesuatu! Bersabda Nabi Saw: “Ya
Jabir, sesungguhnya Allah menciptakan sebelum sesuatu, Nur Nabi-mu daripada Nur-
Nya’. Maka jadilah Nur tersebut berkeliling dengan Qudrat-Nya sekira-kira yang dihendaki
Allah. Padahal tiada pada waktu itu lagi sesuatu pun; tidak ada lauh mahfuzh, qalam,
sorga, neraka, Malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia; tiada apa-apa
yang diciptakan, kecuali Nur ini. Dari nur inilah kemudian diciptakan-Nya qalam, lauh
mahfuzh dan Arsy. Allah kemudian memerintahkan qalam untuk menulis, dan qalam
bertanya, “Ya Allah, apa yang harus saya tulis?” Allah berfirman: “Tulislah La ilaha illallah
Muhammad Rasulullah.” Atas perintah itu qalam berseru: “Oh, betapa sebuah nama yang
indah dan agung Muhammad itu, bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, ya
Allah.” Allah kemudian berkata, “Wahai qalam, jagalah kelakuanmu ! Nama ini adalah
nama kekasih-Ku, dari Nur-nya Aku menciptakan arsy, qalam dan lauh mahfuzh; kamu,
juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apa
pun.” Ketika Allah telah mengatakan kalimat tersebut, qalam itu terbelah dua karena
takutnya akan Allah dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup,
sehingga sampai dengan hari ini ujung nya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga
dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung. Maka, jangan
seorangpun gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci, atau menjadi lalai
dalam mengikuti contohnya (Nabi) yang cemerlang, atau membangkang dan meninggal-
kan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.………dan seterusnya.

Bagaimana penjelasan Guru Sekumpul tentang Nur Muhammad tersebut? Secara ringkas
penjelasan beliau sebagaimana konten materi pengajian yang bertemakan tentang
‘Kesempurnaan’ (penjelasan ini bahkan beliau ulang-ulang tidak kurang dari tiga kali)
boleh diringkaskan sebagai berikut:

Beliau memulai penjelasannya dengan ungkapan yang sangat dikenal dalam dunia
tasawuf, di mana untuk mengenal Tuhan seseorang harus terlebih dahulu mengenal akan
dirinya. Maksudnya, untuk sampai kepada pengenalan terhadap Tuhan, menurut Guru
Sekumpul haruslah terlebih dahulu dipahami dua hal. Pertama, ia harus terlebih dahulu
mengenal asal mula akan kejadian dirinya sendiri, dari mana, di mana dan bagaimana ia
dijadikan? Kedua, ia harus terlebih dahulu mengetahui apa sesuatu yang mula-mula
dijadikan oleh Allah Swt. Kedua perkara di atas menjadi prasyarat kesempurnaan bagi
para penuntut (salik) dalam mengenal (makrifah) kepada Allah.

Adapun yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah Nur Muhammad Saw yang
kemudiannya dari Nur Muhammad inilah Allah jadikan roh dan jasad alam semesta.
Bermula dari Nur Muhammad inilah maka sekalian roh (dan roh manusia) diciptakan Allah
sedangkan jasad manusia diciptakan mengikut kepada dan dari jasad Nabi Adam as.
Karena itu, Nabi Muhammad Saw adalah ‘nenek moyang roh’ sedangkan Nabi Adam as
adalah ‘nenek moyang jasad’. Hakikat dari penciptaan Adam as sendiri adalah berasal
dari tanah, tanah berasal dari air, air berasal dari angin, angin berasal dari api, dan api itu
sendiri berasal dari Nur Muhammad. Sehingga pada prinsipnya roh manusia diciptakan
berasal dari Nur Muhammad dan jasad atau tubuh manusia pun hakikatnya berasal dari
Nur Muhammad. Jadilah kemudian ‘cahaya di atas cahaya’ (QS. An-Nuur 35), di mana roh
yang mengandung Nur Muhammad ditiupkan kepada jasad yang juga mengandung Nur
Muhammad. Bertemu dan meleburlah kemudian roh dan jasad yang berisikan Nur
Muhammad ke dalam hakikat Nur Muhammad yang sebenarnya. Tersebab bersumber
pada satu wujud dan nama yang sama, maka roh dan jasad tersebut haruslah disatukan
dengan mesra menuju kepada pengenalan Yang Maha Mutlak, Zat Wajibul Wujud yang
memberi cahaya kepada langit dan bumi, dan yang semula menciptakan, sebagaimana
mesranya hubungan antara air dan tumbuhan, di mana ada air di situ ada tumbuhan, dan
dengan airlah segala makhluk dihidupkan (QS. Al-Anbiya 30). Pengenalan terhadap
hakikat Nur Muhammad inilah maqam atau stasiun yang terakhir dari pencarian akan
makrifah kepada Allah, Martabat Nur Muhammad inilah martabat yang paling tinggi, dan
pengenalan akan Nur Muhammad inilah yang menjadi ‘kesempurnaan ilmu atau ilmu yang
sempurna’.

Menarik untuk mengkaji ulang penjelasan Guru Sekumpul di atas dengan membanding-
kannya kepada penjelasan tokoh-tokoh tasawuf yang juga membahas dan menyinggung
tentang wacana ini.

Al-Hallaj yang mencetuskan teori hulul misalnya menyatakan bahwa Nur Muhammad
mempunyai dua bentuk, yakni Nabi Muhammad yang dilahirkan dan menjadi cahaya
rahmat bagi alam “tidaklah engkau diutus wahai (Muhammad Rasulullah Saw) melainkan
menjadi rahmat bagi seluruh alam” (martabat al-a’yanu’l Kharijiyyah) dan yang berbentuk
Nur (martabat a’yanu’l Thabitah). Nur Muhammad adalah cahaya semula yang melewati
dari Nabi Adam ke nabi yang lain bahkan berlanjut kepada para imam maupun wali;
cahaya melindungi mereka dari perbuatan dosa (maksum); dan mengaruniai mereka
dengan pengetahuan tentang rahasia-rahasia Illahi. Allah telah menciptakan Nur
Muhammad jauh sebelum diciptakan Adam as. Lalu, Allah menunjukkan kepada para
malaikat dan makhluk lainnya, bahwa: “Inilah makhluk Allah yang paling mulia”. Oleh itu,
harus dibedakan antara konsep Nur (Muhammad) sebagai manusia biasa (seorang Nabi)
dan Nur Muhammad secara dimensi spiritual yang tidak dapat digambarkan dalam
dimensi fisik dan realiti.

Menurut sufi, Muhyiddin Ibn Arabi, Nur Muhammad sebagai prinsip aktif di dalam semua
pewahyuan dan inspirasi. Melalui Nur ini pengetahuan yang kudus itu diturunkan kepada
semua nabi, tetapi hanya kepada Ruh Muhammad saja diberikan jawami al-qalim (firman
universal).

Sedangkan menurut pencetus teori ‘insan kamil’, Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-
1428 M) dalam karyanya, al-Insan al-Kamil fî Ma’rifat al-Awakhir wa al-Awa’il (Manusia
Sempurna dalam Mengetahui Allah Sejak Awal hingga Akhirnya), menyatakan bahwa Nur
Muhammad memiliki banyak nama sebanyak aspek yang dimilikinya. Ia disebut ruh dan
malak apabila dikaitkan dengan ketinggiannya. Tidak ada kekuasaan makhluk yang
melebihinya, semuanya tunduk mengitarinya, karena ia kutub dari segenap malak. Ia
disebut al-Haqq al Makhluq bih, (al-Haqq sebagai alat pencipta), hanya Allah yang tahu
hakikatnya secara pasti. Dia disebut al-Qalam al-A’la (pena tertinggi) dan al-Aql al-Awal
(akal pertama) karena wadah pengetahuan Tuhan terhadap alam maujud, dan Tuhanlah
yang menuangkan sebagian pengetahuannya kepada makhluk. Adapun disebut al-Ruh
al-Ilahi (ruh ketuhanan) karena ada kaitannya dengan ruh al-Quds (ruh Tuhan), al-Amin
(ruh yang jujur) adalah karena ia adalah perbendaharaan ilmu tuhan dan dapat dipercayai-
Nya. Oleh itu, menurut Al-Jili, lokus tajalli al-Haq yang paling sempurna adalah Nur
Muhammad. Nur Muhammad ini telah ada sejak sebelum alam ini ada, ia bersifat qadim
lagi azali. Nur Muhammad itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam
berbagai bentuk para nabi, yakni Adam, Nuh, Ibrahim, Musa hingga dalam bentuk nabi
penutup (khatamun nabiyyin), Muhammad Saw.

Banyak lagi penjelasan dan pembahasan tentang Nur Muhammad dimaksud. Karena,
memang sejak awal kedatangan dan perkembangan Islam di ‘Bumi Nusantara’, wacana
Nur Muhammad dalam berbagai konteksnya sehingga sekarang, telah menarik perhatian
umat Islam. Hal ini paling tidak didukung oleh tiga faktor.

Pertama, terlihat dari banyaknya salinan yang beredar pada masa itu berkenaan dengan
‘Hikayat Nur Muhammad’ Misalnya, Hikayat Nur Muhammad naskah Betawi yang disalin
pada tahun 1668 M oleh Ahmad Syamsuddin Syah. Menurut Ali Ahmad (2005) sehingga
sekarang, sekurang-kurangnya terdapat tujuh versi Hikayat Nur Muhammad.

Kedua, apresiasi terhadap konsep Nur Muhammad telah mendorong lahirnya karya klasik
ulama Nusantara yang secara khusus berisikan pembahasan tentang teori ini. Antaranya
adalah kitab Asrar al-Insan fi Makrifah al-Ruh wa al-Rahman karya Nuruddin al-Raniri
(Aceh), tiga kitab karangan Hamzah Fansuri (Barus-Aceh); Asrar al-‘Arifin, Syarab al-
‘Asyiqin, dan al-Muntahi, serta Nur al-Daqa’iq oleh Syamsuddin al-Sumaterani (Pasai).
Dalam kitab Asrar al-Insan dijelaskan bahwa Allah menjadikan Nur Muhammad dari tajalli
(manifestasi) sifat Jamal-Nya dan Jalal-Nya, maka jadilah Nur Muhammad itu khalifah di
langit dan di bumi; Nur Muhammad adalah asal segala kejadian di langit dan di bumi. Di
dalam kitab Asrar al-’Arifin dibincangkan teori wahdah al-wujud yang semula
diperkenalkan oleh Abdullah Arif dalam Bahr al-Lahut dan Ibnu Arabi, kemudian
dikembangkan lagi oleh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri melalui teori Martabat
Tujuh dalam kitab Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Kemudian, dalam al-Muntahi,
Hamzah menyatakan bahwa wujud itu satu yaitu wujud Allah yang mutlak. Wujud itu
bertajalli dalam dua martabat; ahadiyah dan wahidiyah. Dalam kitab Nur al-Daqa’iq juga
dibahas tentang wujudiyah dan martabat tujuh.

Variasi teori Nur Muhammad dalam bentuk martabat tujuh boleh didapati pembahasannya
dalam beberapa kitab yang ditulis oleh ulama Melayu Nusantara, antaranya adalah
dibahas dalam kitab Siyarus Salikin yang dikarang oleh Syekh Abdul Shamad al-
Palimbani; kitab Manhalus Syafi (Uthman el-Muhammady, 2003) yang dikarang oleh
Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani; Pengenalan terhadap Ajaran Martabat Tujuh yang
dikarang atau dinukilkan kepada Syekh Abdul Muhyi Pamijahan; dan kitab al-Durr al-Nafis
yang di karang oleh Syekh Muhammad Nafis al-Banjari. Oleh itu, Syekh Muhammad Nafis
al-Banjari dengan kitabnya Al-Durr al-Nafis ditegaskan oleh Wan Mohd Shagir Abdullah
(2000) sebagai salah seorang ulama Banjar penganjur ajaran tasawuf Martabat Tujuh di
Nusantara.

Dalam teori martabat tujuh dipahami bahwa dunia manusia merupakan dunia perubahan
dan pergantian, tidak ada sesuatu yang tetap di dalamnya. Segalanya akan selalu
berubah, memudar, dan setelah itu akan mati. Oleh karena itulah, manusia ingin berusaha
mengungkap hakikat dirinya agar dapat hidup kekal seperti Yang Menciptakannya. Untuk
mengungkap hakikat dirinya, manusia memerlukan seperangkat pengetahuan batin yang
hanya dapat dilihat dengan mata hati yang ada dalam sanubarinya. Seperangkat
pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu ma‘rifatullah. Ilmu ma’rifatullah merupakan suatu
pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk mengenal dan
mengetahui Allah. Ilmu ma‘rifatullah terbahagi menjadi dua macam, yaitu ilmu ‘makrifat
tanzih’ (transeden) dan ‘ilmu makrifat tasybih’ (imanen). Tuhan menyatakan diri-Nya dalam
Tujuh Martabat, yaitu martabat pertama disebut martabat tanzih (la ta‘ayyun atau martabat
tidak nyata, tak terinderawi) dan martabat kedua sampai dengan martabat ketujuh disebut
martabat tasybih (ta‘ayyun atau martabat nyata, terinderawi). Yakni, martabat Ahadiyyah
(ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat
Wahidiyyah (ke-’ada’-an asma yang meliputi hakikat realitas keesaan); Keempat, martabat
Alam Arwah; martabat Alam Mitsal; martabat Alam Ajsam (alam benda); dan martabat
Alam Insan.

Ketujuh proses perwujudan di atas, keberadaannya terjadi bukan melalui penciptaan,
tetapi melalui emanasi (pancaran). Untuk itulah, antara martabat tanzih (transenden atau
la ta‘ayyun atau martabat tidak nyata) dengan martabat tasybih (imanen atau ta‘ayyun
atau martabat nyata) secara lahiriah keduanya berbeda, tetapi pada hakikatnya keduanya
sama. Seorang Sâlik yang telah mengetahui kedua ilmu ma‘rifatullah, baik Ma‘rifah Tanzih
(ilmu yang tak terinderawi) maupun Ma‘rifah Tasybih (ilmu yang terinderawi), ia akan
sampai pada tataran tertinggi, yaitu tataran rasa bersatunya manusia dengan Tuhan atau
dikenal dengan sebutan Wahdatul-Wujûd. Huaian tersebut dapat dianalogikan dengan air
laut dan ombak. Air laut dan ombak secara lahiriah merupakan dua hal yang berbeda,
tetapi pada hakikatnya ombak itu berasal dari air laut sehingga keduanya merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat terpisah.

Ketiga, di Nusantara, Hikayat Nur Muhammad merupakan teks yang populer sekitar abad
ke-14 M. Ini dibuktikan dengan tersebar luasnya kitab yang berjudul Tarjamah Maulid al-
Mustafa bertahun 1351 M (Ali Ahmad, 2005), dan disinggungnya wacana ini dalam kitab
Taj al-Muluk, Qishah al-Anbiya, Bustan al-Salatin, atau Hikayat Ali Hanafiah.
Membandingkan apa-apa yang digambarkan oleh Guru Sekumpul berkenaan dengan Nur
Muhammad dengan uraian-uraian ulama terdahulu tampaknya tidak jauh berbeda
sebagaimana pandangan umum para sufi dalam melihat Nur Muhammad sebagai yang
terawal diciptakan dan kemudiannya menjadi sumber dari segala penciptaan.

Di samping itu, menurut Guru Sekumpul maqam Nur Muhammad adalah maqam paling
tinggi dari pencarian dan pendakian sufi menuju makrifah kepada Allah, tiada lagi maqam
atau stasiun paling tinggi sesudah ini. Kesimpulannya, berbahagialah orang-orang yang
dapat menyandingkan penyatuan sumber asal mula penciptaannya dalam satu harmoni,
yakni Nur Muhammad, sebab ia berada pada satu kedudukan yang tinggi dan terbukanya
segala hijab yang membatasinya.

Note:
1. Teriring Salam takzhim untuk Guru H. M. Irsyad Zein, Dalam Pagar Martapura.
2. Bagian dari tulisan ini dengan judul “Guru Sekumpul dan Wacana Nur Muhammad”
   telah dimuat di Surat Kabar Harian (SKH) Banjarmasin Post, edisi, Jumat 25 Juni 2010
   http://www.banjarmasinpost.co.id/read/ar…

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1520
posted:10/30/2010
language:Indonesian
pages:5