Maulid-Burdah

Document Sample
Maulid-Burdah Powered By Docstoc
					                MEWARISKAN CINTA RASUL LEWAT SYAIR MAULID
                         (BURDAH DAN BARZANJI)

                                   Zulfa Jamalie
                 (Akademisi Fak. Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin)


       Bagi komunitas pesantren ataupun mereka yang melazimkan membaca syair-
syair maulid, pasti mengetahui qasidah al-Burdah dan al-Barzanji, bahkan terasa belum
lengkap jika belum membaca keduanya.

        Pertama, qasidah al-Burdah ditulis oleh Muhammad bin Sa’ad bin Hammad bin
Abdullah bin Sanhaj, yang lebih populer dengan nama Syekh al-Bushiri. Al-Bushiri
dilahirkan di Abu Shir pada awal bulan Syawal 580 H. Kedua orangtuanya berasal dari
suku Barbar Afrika Utara. Al-Bushiri wafat pada tahun 674 H dan dimakamkan di salah
satu pemakaman kota Iskandariyah, Mesir.

       Menurut riwayat, qasidah al-Burdah ditulis Al-Bushiri ketika sedang sakit,
sehingga tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Dengan maksud memohon syafa’at
Nabi, Al-Bushiri kemudian menulis syair-syair yang berisikan pujian kepada Nabi Saw.
Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. Dilihat dan
dirasakannya, Nabi Saw menyapu wajah dan melemparkan burdah (selimut) kepadanya.
Sesudah itu, Al-Bushiri pun sembuh dari sakitnya tersebut.

        Riwayat ini oleh sebagian masyarakat kita dimaknai dan dijadikan tamsil sebagai
salah satu barakat (berkah) dari membaca al-Burdah. Mereka beranggapan bahwa
pembacaan Burdah (terutama untuk anak-anak yang baru lahir) akan membuat mereka
tidak mudah sakit, sebagai penerang hati, mencegah sakit mata, mata akan terang, dan
sebagainya. Itulah sebabnya pemberian nama (tasmiyah) terhadap anak yang baru lahir
atau dalam acara baayun anak, pembacaan qasidah al-Burdah (ditambah dengan syair
yang lain, seperti Syaraful Anam, al-Barzanji, atau Diba’) menjadi semacam keharusan,
yang tidak boleh tidak, harus dibaca. Artinya, menjadi semacam tawasul untuk
mendapakan berkahnya. Saya sendiri sering tercenung tatkala mendengar ibu-ibu
ataupun remaja putri membaca syair al-Burdah dengan suara yang dan lagu yang enak
didengar, walaupun dalam beberapa tahun terakhir pembacaan syair al-Burdah terasa
langka.

        Qasidah al-Burdah ini terdiri dari 162 bait, 10 bait tentang cinta kasih, 16 bait
tentang hawa nafsu, 30 bait tentang pujian terhadap Nabi Saw, 19 bait tentang kelahiran
Nabi Saw, 10 bait tentang doa, 10 bait tentang pujian terhadap Alquran, 3 bait tentang
Isra Mi’raj, 22 bait tentang jihad, 14 bait tentang istighfar dan selanjutnya tentang tawasul
(wasilah) dan munajat. Dalam bait-bait yang berisi pujian kepada Nabi Saw secara
khusus Al-Bushiri menunjukan berbagai macam keistimewaan Rasulullah Saw, baik
berkenaan dengan ibadat, shalat tahajud, kesabaran menahan lapar, kezuhudan,
kedudukan sebagai pemimpin kaunain dan tsaqalain, baik Arab maupum 'Ajam, pemberi
perintah dan larangan, jelas dan tegas dalam berkata, memberi syafaat, memiliki derajat
yang tinggi, baik asal kejadian, akhlak, ilmu, maupun kemulian beliau (Ensiklopedia
Islam, 2001).



                                                                                           1
       Al-Burdah sendiri diakui oleh banyak kalangan sebagai karya tulis yang
mengandung nilai sastra sangat tinggi, himpunan syair-syair yang yang sangat indah,
lengkap, dan berisi pujian yang layak pada Nabi Saw. Syair-syair dalam Burdah itu
menunjukan kerinduan dan rasa cintanya yang mendalam kepada Nabi Muhammad Saw.

       Kedua, al-Barzanji, sebagaimana al-Burdah, al-Barzanji juga merupakan karya
sastra yang memuat biografi kehidupan Nabi Muhammad Saw. Karya sastra ini biasanya
dibaca dalam berbagai upacara keagamaan di tengah-tengah masyarakat kita, dan
dikatakan sebagai bagian yang cukup penting dalam kehidupan beragama “tradisional”.

       Nama lain dari kitab al-Barzanji ini aDalah ‘Iqd al-Jawahir (Kalung Permata). Al-
Barzanji ditulis oleh seorang ulama besar bernama Syekh Jakfar al-Barzanji bin Husin
bin Abdul Karim. Beliau dilahirkan di kota Madinah pada tahun 1690 M dan wafat juga di
Madinah pada tahun 1766 M. Penamaan al-Barzanji dinisbatkan langsung kepada nama
penulisnya yang berasal dari daerah Barzinj (Kurdistan).

       Sebagaimana ditulis dalam Ensiklopedia Islam, al-Barzanji ditulis oleh
pengarangnya dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan umat kepada Nabi
Muhammad Saw, sekaligus dorongan agar umat meneladani akhlak, perilaku, dan
kepribadian Nabi Saw. Di dalam kitab ini digambarkan dan diceritakan riwayat hidup Nabi
Saw dengan bahasa yang indah, berbentuk puisi dan prosa, serta qasidah yang menarik
perhatian orang untuk membaca ataupun mendengarkannya.

       Secara garis besar, kitab al-Barzanji berisikan penjelasan penting tentang riwayat
hidup Nabi Saw. Misalnya, berkenaan dengan silsilah dan keluarga Nabi, kehidupan
beliau dan berbagai kejadian luar biasa yang pernah dialami ketika masih kanak-kanak,
kehidupan pada masa remaja beliau, kehidupan pada masa berumah tangga, diangkat
menjadi rasul dan perjuangan dakwah menyiarkan agama Islam.

        Sebagaimana halnya dengan al-Burdah, pada saat sekarang (terutama di daerah
kita), pembacaan al-Barzanji sudah jarang terdengar. Karena itu ke depan, perlu upaya
menghidupkannya kembali sebagai bagian yang integral dari berbagai jenis syair yang
ada sebagai bagian dari khazanah Islam yang harus diwariskan dari generasi ke
generasi.

       Untuk itu, betapa terlihat kearifan para ulama kita, yang begitu telaten dan
bijaksana dalam mewariskan nilai-nilai akhlak dan perjuangan Nabi Saw, yang memang
harus sudah dimulai dari kecil (bayi dalam ayunan), agar terpatri dalam jiwa dan
perasaan mereka akan ajaran dan sosok seorang manusia yang luar biasa, rasul pilihan,
untuk menjadi teladan dalam kehidupan mereka kelak. Strategi pewarisan biografi Nabi
melalui berbagai syair maulid tersebut terus berjalan, ketika budaya kita belum
terdegradasi dan dipengaruhi oleh berbagai budaya dari luar. Syair maulud dengan
berbagai macam jenisnya menjadi “lagu” kesukaan banyak orang, yang biasa
didendangkan secara lirih maupun ramai-ramai. Keasyikan dan penghayatan yang
mendalam membuat tumbuhnya rasa kerinduan akan sosok Nabi Saw. Wajar jika Bimbo
mensyairkan lagu “rindu kami ya Rasul....” dengan sepenuh jiwa, sehingga menambah
kerinduan kita. Strategi pewarisan seperti ini harus tetap dilakukan dan menjadi benteng
untuk anak-anak dan remaja kita, dalam mengahadapi perang peradaban yang luar
biasa, penetrasi budaya yang sungguh menggoda, dan seribu satu macam tarikan
berbahaya yang siap memangsa dan mencari korbannya, berbagai dampak negatif

                                                                                       2
media hiburan serta kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi. Mereka harus
sejak dini dikenalkan dan ditanamkan perasaan cinta dan dorongan yang kuat untuk
meneladani figur teladan, sosok pilihan, pemberi syafaat di hari kemudian, Baginda
Rasul, Nabi Muhammad Saw. “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar
berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam 4).

                                                            Banjarmasin, 7 April 2006




                                                                                   3

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:685
posted:10/30/2010
language:Indonesian
pages:3
Description: Bagi komunitas pesantren ataupun mereka yang melazimkan membaca syair-syair maulid, pasti mengetahui qasidah al-Burdah dan al-Barzanji, bahkan terasa belum lengkap jika belum membaca keduanya.