Docstoc

Baayun Maulid

Document Sample
Baayun Maulid Powered By Docstoc
					              KEARIFAN LOKAL DAN AKULTURASI DAKWAH
                    DALAM TRADISI BAAYUN ANAK

                            Oleh Zulfa Jamalie
    (Pengurus elkisab: Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar)

         Kemaren, tanggal 12 Rabiul Awal 1427 H bertepatan dengan 11 April
2007, dalam rangka menyambut dan memperingati Maulid Rasul, masyarakat
Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara (khususnya) kembali menggelar
tradisi tahunan, yakni upacara Baayun Anak atau Baayun Maulid.

       Ketika masih kecil, dan berdiam di salah satu kampung di Kabupaten
Tapin Rantau, seingat saya upacara Baayun Anak belum sepopuler sekarang.
Boleh jadi tradisi ini mulai populer tahun 1990-an dan dilaksanakan secara
besar-besaran pada awal tahun 2000-an. Popularitas tradisi Baayun anak
ditandai dengan ditetapkannya upacara ini oleh Pemerintah Kabupaten Tapin
sebagai agenda tahunan pariwisata daerah, publikasi berbagai tulisan yang
mengungkap sejarah dan prosesi tradisi ini, serta berbagai penelitian yang
dilakukan oleh kalangan akademisi.

       Hal menarik yang perlu diungkap dalam kegiatan ini adalah apakah
Baayun Anak sebagai kegiatan ritual ataukah prosesi budaya? Jika kita
menyebutnya ritual Baayun Anak, berarti ia terkait dengan paham, ajaran,
keyakinan suatu agama, yang memiliki konsekuensi tertentu bagi mereka yang
melaksanakan atau tidak melaksanakannya, tetapi jika kita menyebutnya prosesi
budaya, maka ia hanyalah sebuah kegiatan budaya yang sudah mentradisi dan
biasa dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat.

       Sebagai sebuah tradisi yang saban tahun digelar, Baayun Anak sarat
dengan sejarah, muatan nilai, filosofis, akulturasi, dan prosesi budaya yang
berharga untuk dikaji secara komprehensif. Menurut catatan sejarah, Baayun
Anak semula adalah upacara peninggalan nenek moyang yang masih beragama
Kaharingan. Sejarawan Banjar, Gazali Usman menyatakan tradisi ini semula
hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan
Tapin Utara). Namun kemudian, berkembang dan dilaksanakan diberbagai
daerah di Kalimantan Selatan.

        Tradisi ini menjadi penanda konversi agama orang-orang Dayak yang
mendiami Banua Halat dan daerah sekitarnya, yang semula beragama
Kaharingan kemudian memeluk agama Islam. Karena itu upacara Baayun Anak
tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya Islam ke daerah ini.

        Sebagaimana diketahui, setelah Islam diterima dan dinyatakan sebagai
agama resmi kerajaan oleh pendiri kerajaan Islam Banjar, Sultan Suriansyah,
pada tanggal 24 September 1526, maka sejak itulah Islam dengan cepat
berkembang, terutama di daerah-daerah aliran pinggir sungai (DAS) sebagai
jalur utama transportasi dan perdagangan ketika itu. Jalur masuknya Islam ke
Banua Halat adalah, jalur lalu lintas sungai dari Banjarmasin ke Marabahan,
Margasari, terus ke Muara Muning, hingga Muara Tabirai sampai ke Banua
Gadang. Dari Banua Gadang dengan memudiki sungai Tapin sampailah ke
kampung Banua Halat. Besar kemungkinan Islam sudah masuk ke daerah ini
sekitar abad ke-16.
        Sebelum Islam masuk, orang-orang Dayak Kaharingan yang berdiam di
kampung Banua Halat biasanya melaksanakan acara Aruh Ganal. Upacara ini
dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika pahumaan menghasilkan
banyak padi, sehingga sebagai ungkapan rasa syukur sehabis panen mereka
pun melaksanakan Aruh Ganal, yang diisi oleh pembacaan mantra dari para
Balian. Tempat pelaksanaan upacara adalah Balai.

        Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah
para ulama, akhirnya upacara tersebut bisa “diislamisasikan”. Sehingga jika
sebelumnya upacara ini diisi dengan bacaan-bacaan balian, mantra-mantra, doa
dan persembahan kepada para dewa dan leluhur, nenek moyang di Balai,
akhirnya digantikan dengan pembacaan syair-syair maulud, yang berisi sejarah,
perjuangan, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, dilaksanakan di masjid,
sedangkan Sistem dan pola pelaksanaan upacara tetap. Akulturasi terhadap
tradisi ini terjadi secara damai dan harmonis serta menjadi substansi yang
berbeda dengan sebelumnya, karena ia berubah dan menjadi tradisi baru yang
bernafaskan Islam (Usman, 2000: 5)

        Realitas ini menandai dan menjadi pelajaran penting bagi juru dakwah
sekarang, bahwa kehadiran dakwah pada prinsipnya tidak hanya menjadikan
manusia yang didakwahi (mad’u) sebagai seorang Muslim, akan tetapi juga
menjadikan etos, budaya, adat-istiadat, semangat, prilaku, pola hidup, sistem,
dan semua yang melingkupi kehidupan masyarakat agar sesuai dengan ajaran
Islam. Karena itu, jika gerakan menyeru manusia kepada ajaran Islam agar
mereka menjadi seorang muslim diistilahkan dengan “dakwah”, sedangkan
gerakan untuk menjadikan Islam sebagai pola dasar serta pijakan bagi
kehidupan manusia disebut dengan istilah “Islamisasi”. Inilah yang disinggung
oleh Alquran dengan perintah agar kita masuk ke dalam Islam secara kaffah,
tidak hanya keyakinan (agama) akan tetapi juga sistem hidup.

       Nilai utama yang hendak ditanamkan oleh para ulama dalam upacara
Baayun Anak dan mengisinya dengan pembacaan syair-syair maulud di Desa
Banua Halat tersebut tidak lain sebagai bagian dari strategi dakwah kultural,
yakni bentuk dakwah yang dilakukan melalui pendekatan aspek penjelasan dan
tindakan yang bersifat sosiokultural dan keagamaan, jadi bukan dengan
pendekatan politik, salah satunya adalah dengan mengunakan medium seni
budaya (Azyumardi Azra, 2003). Atau oleh Hussein Umar (2003) dimaknai
sebagai suatu upaya menyampaikan ajaran Islam dengan mengakomodir
budaya lokal serta lebih menyatu dengan lingkungan hidup masyarakat
setempat. Karenanya pada akhirnya dakwah kultural menghendaki adanya
kecerdikan dalam memahami kondisi masyarakat dan kemudian mengemasnya
sesuai dengan pesan-pesan dakwah Islam (Munir Mulkhan, 2003).

       Sehingga dengan model dakwah itu mereka tetap menjaga dan
melestarikan sebuah tradisi dengan prinsip “setiap budaya yang tidak merusak
akidah dapat dibiarkan hidup”, sekaligus mewariskan dan menjaga nilai-nilai
dasar kecintaan umat kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan panutan
dan    teladan   dalam     kehidupan    berkeluarga,    bermasyarakat,   dan
berpemerintahan.

                                                 Negeri Banjar, 31 Maret 2006

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:619
posted:10/30/2010
language:Indonesian
pages:2
Description: Baayun Maulid adalah sebuah upacara khas masyarakat Banjar (terutama di Kabupaten Tapin) untuk memperingati hari kelahiran Nabi Saw sekaligus menyandingkannya dengan kegiatan Baayun anak, dengan harapan anak tersebut diberkati dan mampu meneladani akhlak dan perilaku Nabi Saw dalam kehidupan mereka.