SKRIPSI TARBIYAH

Document Sample
SKRIPSI TARBIYAH Powered By Docstoc
					                                                                             1




                                    BAB I

                             PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

          Madrasah adalah salah satu bentuk kelembagaan pendidikan Islam

   yang memiliki sejarah yang panjang pendidikan Islam sendiri dapat dikatakan

   muncul dan berkembang seiring dengan kumunculan Islam itu sendiri, yakni

   berawal dari pendidikan informal berupa dakwah islamiyah, kebangkitan

   madrasah merupakan pendidikan Islam secara formal.

          Pada era modern Madrasah masih tetap hidup, namun demikian,

   eksistensinya menjadi dipertanyakan, ketika kurikulumnya masih dimonopoli

   oleh Ulum Al-Naqliyah (Islamic Science), karena posisi Madrasah sering di

   sebut lembaga tradisional, kurikulum Madrasah yang membatasi diri pada

   ilmu-ilmu agama agaknya mengancam eksistensinya sendiri, meskipun

   demikian, jika dilakukan penyesuaian dengan kecendrungan pendidikan

   modern, Madrasah masih tetap di tuntut untuk menampilkan cirinya sendiri

   yang memperhatikan ilmu-ilmu agama secara proporsional. Madrasah dalam

   era modern berada dalam tarik menarik antara keharusan mempertahankan

   pengajaran   ilmu-ilmu   agama       secara   modern   disatu   pihak,   dan

   mengembangkan pengajaran ilmu-ilmu non-keagamaan dilain pihak. Sikap

   madrasah yang terlalu koservatif akan mendorong lembaga itu terasing bahkan

   lenyap dari perkembangan modern. Sebaliknya sikap akomodatif yang

   berlebihan terhadap kecendrungan pendidian modern (sekuler), akan




                                    1
                                                                                      2




      menjerumuskan madrasah dalam system pendidikan yang lepas dari nilai-nilai

      keislaman.1

               Madrasah sebagai institusi pendidikan tidak dapat mengelakkan dari

      kebijaksaan reformasi pendidikan yang bersifat desentralistik. Manajemen

      berbasis sekolah dilingkungan Madrasah merupakan bentuk pengelolaan

      pendidikan yang ditandai dengan otonomi yang luas pada tingkat madrasah di

      sertai semakin meningkatnya partisipasi masyarakat.

               Dengan manajemen berbasis sekolah, system pembinaan Madrasah

      yang bermula bersifat sentralistik bergeser didaerah dan bersifat otonom,

      setidaknya pada kelembagaan Madrasah.

               Dengan demikian, Madrasah akan ditempatkan sebagai institusi

      pendidikan yang memiliki kewibawaan dalam pengelolaan pendidikannya,

      dilingkungan madrasah perlu dibentuk komite madrasah yang berkewenangan

      untuk menentukan kebijaksaan pendidikan yang sesuai dengan visi, misi dan

      kebutuhannya masing-masing, dengan demikian, Madrasah akan menjadi

      lembaga pendidikan yang terhindar dari system birokrasi yang beku menjadi

      organisasi yang terbuka dengan system manajemen yang berusaha

      memberdayakan sumber dayanya sendiri guna meningkatkan kinerja yang

      lebih efektif dan bergerak lebih cepat kedepan, namun Madrasah harus pula

      ketat dalam system kontrolnya baik dari masyarakat maupun pemerintah.2

               Upaya meningkatkan kualitas pendidikan pada Madrasah, baik

      mengenai pengembangan kurikulum, peningkatan profesionalitas guru,

1
    Maksum Mukhtar, (Madrasah, sejarah dan perkembangannya, Jakarta 2001, hal. 7)
2
    Abdul Rahman Saleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Rajawali pres, hal. 27
                                                                                3




       pemenuhan kebutuhan sarana prasarana, dan pemberdayaan pendidikan telah,

       sedang dan akan dilaksanakan secara terus menerus. Apabila setiap lembaga

       pendidikan selalu berupaya untuk memberikan jaminan kualitas dan upaya ini

       terus menerus dilakukan maka diharapkan kualitas pendidikan pada Madrasah

       secara keseluruhan diseluruh Indonesia akan terus meningkat. Peningkatan

       kualitas pendidikan pada madrasah semacam itu akan berdampak pada

       peningkatan kualitas sumber daya manusia secara nasional.

                Kita menyadari kenyataan yang menunjukkan bahwa dewasa ini

       kualitas pendidikan di Madrasah sangat bervariasi dan sebagian besar sangat

       memprihatikan, hal ini dapat di amati dari berbagai aspek, baik yang

       berhubungan dengan instrumental input seperti kurikulum, tenaga pengajar,

       bahan ajar, maupun yang berkaitan dengan environmental, seperti kondisi

       lingkungan fisik dan administrasi sekolah, aspek-aspek yang terkait dengan

       proses, seperti proses pembelajaran dan sarana prasarana yang diperlukan

       maupun yang terkait dengan output dan outcome, seperti lulusan dan

       ketersrapannya oleh pasar tenaga kerja.3

                Agar kualitas pendidikan pada Madrasah sesuai dengan apa yang

       seharusnya dan apa yang diharapkan oleh masyarakat, maka diperlukan suatu

       standar nasional sebagai patokan (benchmark) agar pada gilirannya setiap

       Madrasah secara bertahap dibina untuk menuju tercapainya standar yang

       dijadikan patokan nasional tersebut.




3
    Ibid, hal. 30
                                                                                     4




                    Namun, penting untuk di perhatikan bahwa suatu ciri lain pendidikan

       madrasah adalah pembinaan jiwa agama dalam akhlak anak didik. Inilah yang

       menjadi identitas sebenarnya dari pendidikan Madrasah yang perlu

       diperhatikan oleh para pengelola dan guru lembaga pendidikan Islam itu.

       Pendidikan dan pengajaran dalam madrasah harus diarahkan kepada

       pembinaan keyakinan agama, sehingga hidupnya selalu berpedoman pada

       ajaran agama Islam. Disamping itu, perlu disadari bahwa tujuan hiup seorang

       muslim adalah bahagian dunia, bahagia diakhirat nanti, dan terhindar dari

       segala dosa yang akan membawa kepada kemurkaan Allah SWT.4

                    Karna itu, masalah yang perlu segera mendapatkan jawaban, terutama

       dari para guru pendidikan Agama Islam adalah “Mampukan kegiatan

       pendidikan Agama Islam itu berdialog dan berinteraksi dengan perkembangan

       zaman modern yang ditandai dengan kemajuan IPTEK dan informasi dan

       mampukah mengatasi dampak negatif dari kemajuan tersebut”?

                    Tantangan pendidikan ilmu agama Islam terkait dengan tantangan

       dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya, terutama dalam meningkatkan

       SDM yaitu:

       1. Era kompetitif yang disebabkan meningkatnya standar dunia kerja.

       2. Kemajuan teknologi informasi menyebabkan banjirnya informasi yang

            tidak terakses dengan baik oleh para pendidik.

       3. Dunia pendidikan tertinggal dalam hal metodologi.




4
    Ibid , hal. 7
                                                                                  5




               Berbagai macam tantangan pendidikan agama Islam tersebut

      sebenarnya dihadapi oleh semua pihak, baik keluarga, pemerintah maupun

      masyarakat, baik yang terkait langsung ataupun tidak langsung dengan

      kegiatan pendidikan agama islam. Namun demikian, GPAI disekolah yang

      terkait langsung dengan pelaksanaan pendidikan Islam dituntut untuk mampu

      mejawab dan mengantisipasi berbagai tantangan tersebut, dan untuk

      mengantisipasinya diperlukan adanya propil GPAI di sekolah yang mampu

      menampilkan sosok kualitas personal, sosial, dan profesionalisme dalam

      menjalankan tugasnya.5

B. Batasan Masalah

               Suatu tulisan akan dapat dikatakan ilmiyah jika mempunyai landasan,

      sumber dan prinsip, disamping itu pembahasan harus rasional dan sistematis

      serta mudah dipahami oleh para pembaca, oleh karena itu sebelum penulis

      menguraikan lebih lanjut permasalahan ini maka penulis menganggap penting

      untuk memberikan penjelasan secara rinci.

      Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan antara lain:

      1. Peran

                   Kata “peran” bisa berarti fungsi/manfaat, yang bisa diambil oleh

           suatu hal atau seseorang, tapi yang penulis maksudkan disini adalah peran

           Madrasah, yaitu sejauh mana fungsi Madrasah dalam menyebarkan

           pendidikan agama Islam.




5
    Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, hal. 83
                                                                         6




2. Madrasah

          Kata Madrasah berasal dari kata darosa (          ) yang artinya


   belajar, dan Madrasah adalah bentuk Isim makan yang berarti tempat

   belajar, sedang secara istilah Madrasah adalah salah satu jenis lembaga

   pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia yang di usahakan

   disamping masjid dan pesantren, dimana dalam proses pembelajarannya

   lebih di tekankan pada bidang ilmu agama Islam.

3. Transmisi

          Transmisi berasal dari kata trans yang berarti perpindahan, dan

   misi yang berarti tujuan/arah. Jadi, Transmisi bisa diartikan menerapkan

   atau proses pengembangan suatu hal/bidang untuk satu tujuan yang telah

   direncanakan.

4. Pendidikan Agama Islam

          Yaitu kajian ilmu pengetahuan yang membahas tentang kajian

   agama Islam dan syariat Islam yang mencakup bidang keimanan (tauhid),

   Fiqih, dan Akhlakul Karimah.

5. PPD NW

          Adalah pondok pesantren yang didirikan oleh KH. M. Zainuddin

   Abdul Majid di Pancor Lombok Timur, yang sekarang dipimpin oleh cucu

   beliau yaitu KH. M. Zainul Majdi, MA. Tapi disini kami batasi fokus

   penelian pada dua Madrasah induk yaitu MTs. Mu’allimin dan MTs.

   Mu’allimat NW Pancor agar proses penelitian lebih terfokus pada tujuan

   yang diinginkan.
                                                                              7




C. Rumusan Masalah

            Perumusan masalah dalam dunia penelitian sangat penting, sebab ia

   berfungsi sebagai pedoman penelitian, yang dapat mengarahkan subyek

   penelitian disamping dapat menentukan metode penelitian yang tepat dalam

   rangka membantu kelancaran kerja dilapangan (lokasi penelitian).

            Setelah diketahui beberapa masalah yang melatar belakangi penelitian

   ini, maka perlu dirumuskan persamalahan secara sistematis dalam rumus yang

   jelas kearah sasaran yang ingin dicapai dan terhindar dari perubahan yang

   menyimpang dari pokok permasalahan.

   Adapun masalah-masalah tersebut dirumuskan sebagai berikut:

   1. Bagaimanakah peran Madrasah dalam menstransmisikan pendidikan

      agama Islam di PPD NW?

   2. Bagaimanakah penerapan dan perkembangan pendidikan agama Islam di

      PPD NW Pancor?

D. Tujuan Penelitian

            Suatu pekerjaan tidak bisa dilakukan dengan baik apabila tujuan yang

   hendak di capai belum dipastikan, maka sehubungan dengan judul penelitian

   ini penyusun ingin mengemukakan tujuan pembahasan dari penelitian ini,

   yaitu:

   1. Untuk mengetahui sejauh mana peran Madrasah dalam mentransmisikan

      pendidikan agama Islam di PPD NW.

   2. Untuk      mengetahui   bagaimanakah     penerapan   dan   perkembangan

      pendidikan agama Islam di PPD NW.
                                                                                8




E. Manfaat Penelitian

          Manfaat penelitian adalah sesuatu yang ingin dan harus dicapai oleh

   orang yang bersangkutan, yang merupakan jawaban dari pertanyaan dalam

   rumusan masalah. Sehingga dengan mengetahui manfaat atau kegunaan suatu

   aktivitas penelitian akan memberikan motivasi dan mendorong semangat kerja

   secara efektif, karena itu manfaat dan kegunaan dari suatu aktivitas mutlak

   perlu diketahui, demikian pula halnya dengan penelitian ini mempunyai

   manfaat dan kegunaan tersendiri.

   Adapun manfaat atau kegunaannya ditinjau dari dua segi.

   1. Manfaat teoritis

             Kiranya dari hasil kajian penelitian ini akan dapat menambahkan

      cakrawala    berfikir    dalam    usaha   untuk   terus    berusaha   untuk

      mengembangkan           wawasan    tentang   peran        Madrasah    dalam

      mentransmisikan pendidikan Agama Islam.

   2. Manfaat praktis

      a. Untuk memperoleh gambaran atau deskripsi serta pengetahuan tentang

          peran/fungsi Madrasah dalam mentransmisikan pendidikan agama

          Islam.

      b. Sebagai bahan masukan bagi guru khususnya guru agama Islam untuk

          terus meningkatkan profesionalismenya dalam pengajaran dalam

          rangka mengembangkan pendidikan agama Islam.

      c. Sebagai sumbangsih pikiran penulis terhadap para mahasiswa cikal

          bakal guru Agama Islam dimasa mendatang.
                                                                            9




                                     BAB II

                              KAJIAN TEORITIS



A. Pengertian Madrasah

          Dalam Bahasa Arab, kata “Madrasah” bentuk kata keterangan tempat

   (Zharaf Makan) dari akar kata “darosa”. Secara harfiah Madrasah di artikan

   sebagai “tempat belajar para pelajar”, atau tempat untuk memberikan

   pelajaran. Kata Madrasah juga di temukan dalam bahasa Hebrew atau Aramy,

   dari kata yang sama yaitu “darasa, yang berarti membaca dan belajar”, dari

   kedua bahasa tersebut kata Madrasah mempunyai arti yang sama yaitu

   “tempat belajar” jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, kata Madrasah

   mempunyai arti “sekolah” kendati pada mulanya kata “sekolah” itu sendiri

   berasal dari bahasa asing yaitu school atau scola.

          Sungguh pun proses belajar mengajarnya dilakukan secara formal,

   namun di Indonesia Madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah,

   melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yakni sekolah Agama

   “tempat dimana anak-anak didik memperoleh pembelajaran hal ihwal atau

   seluk beluk agama dan keagamaan (Islam).

          Erat kaitannya dengan penggunaan istilah “Madrasah” yang menunjuk

   pada lembaga pendidikan, dalam perkembangannya kemudian istilah

   Madrasah juga mempunyai beberapa pengertian diantaranya, aliran, mazhab,

   kelompok atau golongan filosof, munculnya pengertian ini seiring dengan




                                      9
                                                                                 10




      perkembangan Madrasah diantaranya mengembangkan pandangan atau aliran

      dan mazhab tertentu.

              Sejauh ini tampaknya belum ada data yang pasti kapan istilah

      Madrasah yang mempunyai pengertian sebagai lembaga pendidikan mulai

      digunakan di Indonesia, disamping itu, kedekatan system belajar-mengajar ala

      Madrasah mulai bermunculan, memang sudah banyak berpandangan bahwa

      Madrasah sebenarnya merupakan bentuk lain dari sekolah hanya saja diberi

      muatan dan corak keislaman.6

              Karel Steenrink menjelaskan bahwa Madrasah dan sekolah mempunyai

      karakteristik atau ciri khas yang berbeda, Madrasah mempunyai kurikulum,

      metode dan cara mengajar sendiri yang berbeda dengan sekolah, meskipun

      mengajarkan ilmu pengetahuan umum sebagaimana yang diajarkan disekolah,

      Madrasah memiliki karakteristik tersendiri, yaitu sangat menonjolkan nilai

      religiutas masyarakatnya.

              Perbedaan karakter antara Madrasah dan sekolah itu dipengaruhi oleh

      perbedaan tujuan antara keduanya secara historis, tujuan dari pendiringan

      Madrasah ketika untuk pertama kalinya diadopsi di Indonesia ialah untuk

      mentransmisikan nilai-nilai Islam. Selain untuk memenuhi kebutuhan

      modernisasi pendidikan sebagai jawaban atau respon dalam menghadapi

      kolonialisme, dan Kristen, disamping untuk mencegah memudarnya semangat

      kekeragaman penduduk sebagai akibat meluasnya lembaga pendidikan

      Belanda.


6
    H. Masnun, Gagasan dan Pembaharuan Islam di NTB, Pustaka Almiqdad, hal. 37
                                                                                      11




                Pesantren memiliki tujuan yang lain lagi dari Madrasah. Menurut

       Mahmud Yunus, Djumhur, dan Steenbrink, pesantren didirikan untuk menjadi

       basis perjuangan rakyat dalam melawan penjajah. Pesantren merupakan upaya

       kalangan pribumi untuk mengembangkan sistem pendidikan sendiri yang

       sesuai dengan tuntunan agama untuk melindungi diri dari pengaruh system

       pendidikan kolonial (Belanda) saat itu melalui politik balas budi (politik etis).

                Lembaga pendidikan Madrasah ini secara berangsur-angsur diterima

       sebagai salah satu institusi pendidikan Islam yang juga berperan dalam

       perkembangan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.7

                Upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan umum di Madrasah

       sejak awal perkembangannya telah mengalami kegagalan, sebab penekanan

       pada ilmu-ilmu agama, terutama pada bidang fiqih, tafsir dan hadis ternyata

       lebih dominan sehingga ilmu-ilmu non agama tetap berada pada posisi

       pinggiran (marjinal). Hal itu berbeda dengan madrasah di Indonesia yang

       sejak awal menjatuhkan pilihan pada:

       a. Madrasah yang didirikan sebagai lembaga pendidikan yang semata-mata

            untuk mendalami agama (litafaquh fiddin) yang biasa disebut Madrasah

            Diniyah Salafiyah.

       b. Madrasah     yang didirikan tidak hanya untuk mengajarkan ilmu

            pengetahuan dan nilai-nilai Islam tapi juga memasukkan pelajaran yang

            diajarkan disekolah yang diselenggarakan pemerintah Belanda.




7
    Ibid, hal. 50
                                                                               12




          Kini Madrasah dipahami sebagai lembaga pendidikan Islam yang

   berada dibawah system pendidikan nasional dan Depag yang sampai saat ini

   sudah mampu membuktikan bahwa lembaga pendidikan Madrasah telah

   mampu bertahan dengan karakternya sendiri, yakni sebagai lembaga

   pendidikan untuk membina jiwa agama dan akhlak anak didik, karakter itulah

   yang membedakan Madrasah dengan sekolah umum.

B. Pengertian Pendidikan Agama Islam

          Didalam GBPP PAI disekolah umum, dijelaskan bahwa pendidikan

   agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini,

   memahami, dan mengamalkan agama islam melalui kegiatan bimbingan,

   pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntunan untuk menghormati

   agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam

   masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

          Dari pengertian tersebut ditemukan beberapa hal yang perlu

   diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama islam, sebagai berikut :

   a. Pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan

      bimbingan, pengajaran dan latihan yang dilakukan secara berencana dan

      sadar atas tujuan yang hendak dicapai.

   b. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan, dalam arti

      ada yang dibimbing, diajar dan dilatih dalam peningkatan keyakinan,

      pemahaman, penghayatan, dan pengamatan terhadap ajaran agama Islam.
                                                                                 13




       c. Pendidik atau guru PAI yang melakukan kegiatan bimbinganm pengajaran

            dan latihan secara sadar terhadap peserta didiknya untuk mencapai tujuan

            pendidikan agama Islam.

       d. Kegiatan pembelajaran PAI diarahkan untuk meningkatkan keyakinan

            pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam dari peserta

            didik, yang disamping untuk membentuk kesalihan atau kualitas ibadah,

            juga sekaligus untuk membentuk keshalihan sosial.

                Untuk pembelajaran pendidikan agama Islam disekolah diharapkan

       agar mampu membentuk keshalihan pribadi dan sosial, sehingga pendidikan

       agama diharapkan jangan sampai:

       a. Menumbuhkan semangat panatisme

       b. Menumbuhkan sikap intern dikalangan peserta didik dan masyarakat

            Indonesia

       c. Memperlemah kerukunan hidup beragama serta persatuan dan kesatuan.8

                Karena itu pembelajaran PAI diharapkan mampu mewujudkan ukhuah

       islamiyah dalam arti luas tersebut, sungguhpun masyarakat berbeda-beda,

       agama, ras, etnis, tradisi, dan budaya, tapi bagaimana melalui keragaman ini

       dapat dibangun suatu tatanan hidup yang rukun, damai, dan tercipta

       kebersamaan hidup serta toleransi yang dinamis dalam membangaun bangsa

       Indonesia.




8
    Ibid. hal. 78
                                                                             14




C. Pokok-Pokok Kandungan Pendidikan Agama Islam

         Selain berpegang pada prinsip-prinsip diatas, pendidikan agama Islam

  juga dicirikan oleh kandungannya yang merupakan refrensi dari ajaran Islam.

  Dalam hal ini, kandungan pendidikan agama Islam pada intinya bersumber

  pada semua aspek yang mengarah pada pemahaman dan pengamatan doktrin

  Islam secara menyeluruh.

  a. Aqidah Tauhid

            Fitrah bertauhid merupakan unsur orisinil yang melekat pada diri

     manusia, sejak penciptaannya, ajakan untuk mengikuti agama Allah

     muncul, misalnya pada Surat Al-Rum ayat 30:

                                         
         
                                           
         
                               
        
                                                               
     Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;

               (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia

               menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah.

               (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak

               mengetahui (Q.S. Al-Rum ayat 30).

     Jadi, pengajaran tauhid pada dasarnya adalah memenuhi fitrah manusia.

  b. Manusia

            Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk Allah yang

     paling sempurna, tidak ada yang lebih tinggi dari manusia kecuali Allah.

     Al-Qur’an menunjukkan hal itu melalui kisah sujudnya Malaikat kepada
                                                                                          15




          Adam. Akan tetapi, manusia juga memiliki potensi untuk menjadi

          makhluk yang paling rendah, bahkan lebih rendah dari binatang. Jadi,

          manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk baik dan jahat

          sekaligus kondisi seperti itu, adalah karena karakter unsure pembentukan

          manusia itu sendiri.

                  Manusia dalam pandangan islam, memiliki dua peran utama, yaitu

          peran sebagai khalifatullah dan sebagai “Abd”, kedua peran itu agaknya

          sejalan dengan dengan dua tahapan kehidupan, yaitu kehidupan di dunai

          dan kehidupan akhirat. Sesuai dengan doktrin tauhid, tuhan adalah

          pencipta dan pemilik alam semesta ini, termasuk manusia.

      c. Masyarakat

                  Masyarakat dalam pandangan Islam dilihat dalam prinsip

          persamaan (Al-Musawah). Prinsip itu dilahirkan dari ajaran keesaan tuhan

          (tauhid), sehingga seorang selalu merasa merdeka dan terbebas dari

          penghambaan antara yang satu dengan yang lain, dari prinsip inilah lahir

          prinsip kesetia kawanan social, mulai dari lingkup social yang paling kecil

          yaitu keluarga sampai yang paling besar yaitu ummat manusia umumnya. 9

      d. Alam semesta

                  Menurut Islam, tuhan adalah esa dalam esensinya, dalam sifat-

          sifatnya, dan dalam perbuatannya, banyak ayat dalam Al-Qur’an yang

          menegaskan hal itu, konsekwensi dari kesadaran tauhid seperti diatas

          adalah pengakuannya terhadap realitas obyektif kesatuan alam semesta.


9
    Maksum Mukhtar, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya, PT Logos Wacana Ilmu, hal. 52
                                                                          16




   Alam semesta, yang tidak hanya terdiri dari realitas fisik, sejalan dengan

   keyakinan diatas, memang harus mencerminkan manifestasi dari kesatuan

   sumber dan asal usul metafisik, yaitu tuhan yang satu, pada kenyataannya,

   al-Qur’an dengan tegas menekankan bahwa kesatuan komunis merupakan

   bukti yang jelas akan keesaan tuhan, hal itu seperti dapat dipahami dari

   Q.S. Al-Anbiya’ ayat: 22.

         

          

         

       

            Sekiranya ada dilangit dan dibumi tuhan-tuhan selain Allah,

   tentulah keduanya itu telah rusak binasa, maka maha suci Allah yang

   mempunyai Arsy dari pada apa yang mereka sifatkan.

            Islam juga mengajarkan bahwa alam semesta bukan sesuatu yang

   statis, melainkan memiliki potensi untuk berubah dan bertambah dengan

   demikian pencarian dan penguasaan terhadap ilmu tidak boleh berakhir,

   sebagaimana sabda Rasulullah SAW.



            Tuntutlah ilmu dari semenjak buaian ibunda sampai masuk keliang

   lahat.

e. Ilmu pengetahuan

            Ibadah dalam pengertian hakikinya tidak terbatas pada ibadah

   ritual saja. Majid Irasan membagi ibadah dalam tiga bentuk yang saling

   berkaitan yaitu: Ibadah Ritual, Ibadah Sosial dan Ibadah Kealaman, maka
                                                                                 17




            dapat ditegaskan dengan pasti bahwa tidak ada pemisahan antara Addin

            (agama) dan ilmu dapat pula ditegaskan bahwa tidak ada pemisahan antara

            apa yang disebut dengan ilmu agama dan ilmu umum seluruh ilmu adalah

            Islami, sepanjang berada dalam batas-batas yang digariskan Allah kepada

            kita.10

D. Reposisi dan Peran Madrasah Dalam Pendidikan

                 Apabila disimak sejarah dan perkembangan madrasah, dapat

       dikemukakan bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan yang lahir

       dari, oleh dan untuk masyarakat, dalam kaitan ini adalah sangat tepat seperti

       dikatakan Prof. Malik fajar, bahwa madrasah adalah madrasah, artinya

       lembaga madrasah tidak dapat digantikan dengan lembaga-lembaga lainnya,

       karena madrasah punya visi misi dan karakteristik yang sanga spesifik

       didalam masyarakat maupun kelembagannya, baik dilihat dari segi

       kebudayaan, sosial, politik maupun ekonomi.

                 Dalam rangka reposisi dan peran dunia madrasah dalam memasuki era

       Indonesia baru, maka dapat dicatat beberapa hal sebagai berikut:

       1. Pengembangan madrasah dalam mewujudkannya visinya, maka madrasah

            mengemban misi untuk menjadikan madrasah yang islami, populis, dan

            berkwalitas, dimaksudkan dengan islami, yaitu madrasah yang berciri khas

            agama Islam, yang mampu menciptakan anak bangsa yang beriman, dan

            bertaqwa kepaad Allah SWT, dan berakhlak mulia, dimaksudkan dengan

            populis, yakni madrasah yang selalu dicintai oleh masyarakat, karena


10
     Ibid, hal. 37
                                                                                            18




           tumbuh dan berkembang dari, oleh dan untuk masyarakat. Selanjutnya

           dimaksudkan dengan madrasah yang berkualitas, yaitu madrasah yang

           mampu mencetak anak bangsa yang memiliki kemampuan dan

           keterampilan yang cukup dan sanggup menghadapi tantangan zamannya.

       2. Madrasah atas dasar kelahirannya telah membawa misi teologis dengan

           menempatkan manusia sebagai khalifat Allah fil ardh. Oleh karena itu,

           parallel dengan tingkat kesadaran teologis masyarakat dan di landasi oleh

           kebutuhan memperdalam dan mengamalkan ilmu-ilmu agama, maka

           madrasah yang dikembangkan selain yang berciri khas agama Islam juga

           harus Tafakkuh fiddin.

       3. Hidup dan berkembangnya madrasah akan bergantung seberapa besar

           kesadaran umat Islam untuk memelihara kelangsungannya yang harus

           dibangun berbasis kekuatan masyarakat (community basid education).

           Sementara itu dalam penyelenggaraan madrasah menekankan tugas

           pembinaannya kearah school based management terbuka sesuai dengan

           tuntutan masyarakatnya yang semakin maju dan berkembang secara

           demokratis.

       4. Madrasah dalam posisinya memasuki era Indonesia baru menghadapi

           persaingan yang berorientasi kualitas kelulusan.11

               Oleh karena itu dunia madrasah memerlukan dinamika dibidang ilmu

       pengetahuan dan teknologi, madrasah harus mampu membekali lulusannya

       untuk terjun kemasyarakat. Selanjutnya dalam rangka menghadapi tantangan


11
     Abdul Rahman Saleh, 2005. Madrasah dan Pendidikan anak bangsa Rajawali. Pres hal. 67
                                                                                 19




       kedepan yang semakin kompleks, maka madrasah harus mampu beradaptasi

       dengan kecendrungan masyarakat nasional dan global.

       5. Penyelenggaraan madrasah pada gilirannya harus mampu memperbaiki

            system managerial kualitas sumber daya tenaga kerja pendidikan, sarana

            prasarananya    (perpustaakaan,    laboratorium    komputer,   workshop

            keterampilan dan meningkatkan sumber pembiayaan melalui peningkatan

            peran serta masyarakat pendukungnya).

       6. Pembiayaan pendidikan bagi setiap anak Indonesia belum diberlakukan

            secara adil dalam memberi layanan pendidikan dan pengalokasian

            anggaran, antara lain adanya pembedaan pembiayaan pendidikan dan unit

            cost perkapita siswa antara siswa dari sekolah umum dan siswa dari

            madrasah, berkenaan dengan itu biaya pendidikan dan perbantuan

            madrasah perlu dipertimbangkan kembali yang bukan bersifat bantuan

            lepas didasarkan atas perhitungan perkapita siswa pertahun.

       7. Peningkatan kualitas mutu pendidikan pada madrasah dalam memasuki

            masyarakat pada era Indonesia baru harus dilaksanakan untuk memperkuat

            dan memperkokoh misi, fungsi, dan tugas pokokmadrasah setara (tidak

            perlu sama pada semua jenjang), dimasa mendatang pada era Indonesia

            baru harus dapat dihapuskan dikotomi antara sekolah swasta dan sekolah

            negeri. Kebijakan managerial pendidikan perlu diserahkan kepada sekolah,

            demikian pula dalam hal pembiayaan operasional pendidikan bagi

            sekolah.12


12
     Ibid, hal. 68
                                                                         20




E. Peranan Madrasah dalam Mentransmisikan Agama Islam Di Ponpes

  Darunnahdlatain NW Pancor

  1. Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor

            Pondok pesantren Darunnahdlatain NW Pancor (PPD NW) yang

     didirikan oleh TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid (Hamzanwadi) pada

     tanggal 15 Jumadil Akhir 1354 H atau 22 Agustus 1937, yang dikenal

     dengan nama Madrasah Nahdlatul Wathan Diniayah Islamiyah (NWDI),

     merupakan cikal bakal lahirnya madrasah di NTB.

            Madrasah NWDI yang diprakarsai oleh Hamzanwadi, juga

     merupakan bentuk pembaharuan (Modernisasi) pendidikan di NTB, yang

     sebelumnya hanya mengenal system tradisional, yakni para santri belajar

     di langgar-langgar atau masjid dengan sistem holaqoh, tidak menggunakan

     sistem klasikal.

            Kedatangan Hamzanwadi, Modernisasi lembaga pendidikan Islam

     memasuki babak baru, upaya Hamzanwadi untuk memodernkan lembaga

     pendidikan Islam dipengaruhi langsung dari Madrasah Shaulatiyah,

     Mekkah, tempat dimana beliau menuntut ilmu, dengan mendirikan

     Madrasah NWDI, yang mana sejak awal berdirinya Madrasah NWDI

     langsung menerapkan sistem klasikal yang dinilai lebih modern.
                                                                                          21




                    Terdapat dua faktor dominan yang mendorong kelahiran madrasah

           NWDI, yaitu:

           a. Penyebaran dan pengembangan ajaran Islam yang melalui jalur

               pendidikan, beliau beranggapan bahwa melalui pendidikan dakwah

               islamiyah dapat berkembang secara tepat.

           b. Kebodohan dan keterbelakangan yang melanda sebagian besar umat

               Islam didaerah Lombok, khususnya dikalangan generasi muda sasak

               akibat tekanan dari kolonial dan dari kerajaan Hindu Bali yang sudah

               ratusan tahun lamanya bercokol mengeksploitasi kekayaan alam pulau

               Lombok.

                    Setelah sukses mendirinya madrasah NWDI, kemudian beliau

           mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) paa

           tanggal 15-4-1362 H atau 21 April 1943 M, yang dikhususkan bagi

           wanita, munculnya ide pendirian NBDI juga disebabkan karna dua faktor,

           yaitu:

           1. Kekejaman pemerintah kolonial terhadap kaum wanita pada umumnya.

           2. Kebodohan dan keterbelakangan kaum wanita dalam bidang

               pendidikan ditambah dengan kebiadaban pemerintah Jepang yang

               memfungsikan kaum wanita sebagai pemuas nafsu belaka.13




13
     H. Masnun 27, Gagasan dan Gerakan Pembaharuan Islami di NTB. Pustaka Al-Miqdad. hal. 50
                                                                              22




2. Proses Transmisi Pendidikan Agama Islam

          Kyai Hamzanwadi mencoba memperkenalkan sistem pendidikan

   sebagaimana yang diperoleh dimadrasah As-Syaulatiyah Makkah dengan

   sistem klasikalnya, dimadrasah NWDI, ia membagi kelas menjadi 3 tingkat.

   a. Tingkat Ilzamiyah (persiapan) dengan masa belajar 1 tahuan, bagi anak-

      anak yang masih buta huruf al-Qur’an.

   b. Tingkat Tahdhiriyah, dengan lama belajar 3 tahun, bagi anak-anak yang

      sudah bisa membaca dan diberikan pelajaran mubtach seperti tauhid, fiqih,

      dan qawa’id.

   c. Tingkat Ibtida’iyah, dengan lama belajar 4 tahun, bagi santri yang sudah

      bisa membaca kitab kuning dan menguasai Nahwu Sharef.

          Pada tingkat Ibtida’iyah diberikan pelajaran Balagoh, yang mencakup

   ma’ani bayan, mantik, Ushul Fiqh dsb, khusus dikelas IBV Ibtida’iyah yang

   juga disebut rabi’ ibtida’iyah, semua pelajaran agama mengikuti kurikulum

   madrasah Sholatiyah Makkah, maka tidak heran jika tamatan Ibtida’iyah saat

   itu telah menguasai bahasa Arab beserta ilmu-ilmu keislaman lainnya.

          Sedangkan di Madrasah NBDI terdiri dari 2 tingkatan saja, yaitu:

   1. Tahdhiriyah, lama belajarnya 3 tahun, dan

   2. Ibtida’iyah, lama belajarnya 4 tahun

          Kitab-kitab yang disediakan pada tingkat ini meliputi syarah dan

   harfiyah fiqih, Balagah, Mantik, Usul Fiqh, Mazabil Al-Arba’ah, dan tasawuf,

   karna itu, tidaklah mengherankan kalau tamatan tingkat Ibtida’iyah ini sudah

   mampu membaca kitab-kitab kuning sebab bahasa Arabnya tergolong fasih.
                                                                               23




                Menurut Hamzanwadi tujuan pokok mempelajari Bahasa Arab selain

       untuk memahami literature, atau kitab kuning, juga untuk mencapai

       kemampuan dsar yaitu: kemampuan memahami tulisan dan percakapan

       (qudratul maqru’ wal masmu’, dan kemampuan berkomunikasi lisan dan

       tulisan (qudral al-ta’bir wa al-tahrir), untuk mewujudkan dua kemampuan ini

       harus digunakan metode qawa’id dan metode tarjamah.14




14
     Ibid hal. 57
                                                                                               24




                                            BAB III

                              METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

               Sesuai dengan judul dan permasalahan yang kami bahas, maka dalam

       penelitian ini penulis memakai jenis penelitian kualitatif yang lebih banyak

       menggunakan rumusan-rumusan logika, penjelasan-penjelasan serta data-data

       yang diteliti dilapangan.

               Dalam penelitian ini lebih ditonjolkan pada latar alamiyah, atau pada

       konteks dari suatu keutuhan (entity), hal ini dilakukan, menurut Lincoln dan

       Guba (1985 35), karna ontology alamiyah menghendaki adanya kenyataan-

       kenyataan sebegai keutuhan yang dapat dipahami jika dipisahkan dari

       konteksnya.

               Menurut mereka hal tersebut didasarkan atas beberapa Asumsi sebagai

       berikut:

       1. Tindakan pengamatan mempengaruhi apa yang dilihat, karna itu hubungan

           penelitian harus mengambil tempat pada keutuhan dalam konteks untuk

           keperluan pemahaman.

       2. Konteks sangat menentukan dalam menetapkan apakah suatu penemuan

           mempunyai arti bagi konteks lainnya, yang berarti bahwa suatu fenomena

           harus diteliti dalam keseluruhan pengaruh lapangan.

       3. Sebagai struktur nilai kontekstual bersifat determinatif terhadap apa yang

           akan dicari.15


15
     Molcong Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung Remaja Rosda Karya, 2005. hal.4


                                             24
                                                                             25




          Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka penulis dapat menyimpulkan

   bahwa penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan yang berdasarkan

   pada penjelasan dan data-data yang diambil langsung dari obyek penelitian

   secara menyeluruh.

          Adapun alasan peneliti menggunakan penelitian kualitatif adalah:

   1. Kualitatif lebih mudah mengadakan penelitian yang hanya berbentuk

      penjelasan dan data-data.

   2. Metode ini lebih mudah menyajikan hasil penelitian secara langsung

      antara peneliti dan responden.

   3. Metode ini peka terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

          Penelitian ini bertempat didua madrasah yaitu MTs. Mu’allimin NW

   Pancor dan MTs. Mu’allimat NW Pancor Lombok Timur, Provinsi NTB,

   tahun ajaran 2007/2008, dengan alasan karna kedua madrasah inilah yang

   menjadi madrasah induk dan pertama kali dibangun oleh pendirinya TGKH.

   M. Zainuddin Abdul Majid, dipondok pesantren Darunnahdlatain NW Pancor,

   pengumpulan datanya direncanakan pada bulan ………….. 2003, berdasarkan

   surat izin dari IAI Hamzanwadi NW Pancor.

C. Metode Penelitian

          Dalam penelitian ini digunakan metode observasi interview dan

   dokumentasi dengan pertimbangan bahwa gejala yang diteliti telah ada secara

   wajar tanpa adanya usaha manipulasi dari peneliti.
                                                                              26




1. Observasi / Pengamatan

           Alasan mengapa dalam penelitian kualitatif digunakan metode

   observasi yaitu:

    Teknik pengamatan ini didasarkan atas pengalaman secara langsung

    Teknik pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati

       sendiri, kemudian mencatat langsung peristiwanya.

    Pengamatan mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif,

       kepercayaan, perhatian, prilaku tak sadar, kebiasaan dan sebagainya.

2. Interview / Wawancara

           Wawancara / Interview adalah dialog secara langsung antara

   pewawancara        (interviewer)   dengan   orang   yang    diwawancarai

   (interviewee) untuk memperoleh data dan informasi tentang suatu masalah

   tertentu.

           Interview yang digunakan adalah interview bebas menanyakan apa

   saja yang sesuai dengan data yang ingin dijaring melalui interview ini,

   sedangkan terpimpin artinya pewawancara mempunyai pedoman atau

   ancer-ancer berkenaan dengan apa yang akan ditanyakan.

3. Dokumentasi

           Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data mengenai hal-hal atau

   variabel, yang bersumber dari catatan, transkrp, bukum surat kabar,

   majalah, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya (Suharsimi

   Arikunto, 1992: 200).
                                                                              27




              Dalam menggunakan dokumentasi, peneliti secara langsung

       menyelidiki data-data tertulis yang ada di MTs. Mu’allimat dan MTs.

       Mu’allimin NW Pancor. Selain itu juga penulis menggunakan aotobiografi

       tentang sejarah berdirinya NWDI, NBDI dan sejarah pendirinya yaitu

       TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid.

D. Analisis Data

           Menurut Bogdan dan Biklen, 1982, analisis data kualitatif adalah

   upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan

   data,   memilah-milahnya      menjadi     satuan   yang    dapat    dikelola,

   mensisntesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang

   penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan

   kepada orang lain.

           (Seddel, 1998) merumuskan tahapan analisis data sebagai berikut:

   1. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan.

   2. Mengumpulkan, memiliah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan,

       membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya.

   3. Berfikir dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna,

       mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan dan membuat

       temuan-temuan umum.

Dalam penelitian ini digunakan metode analisis data yang ersifat induktif yaitu

cara pengolahan data yang dimulai dengan mengungkapkan pernyataan-
                                                                                28




pernyataan yang mempunyai ruang lingkup khusus dan terbatas dalam menyusun

argumentasi diakhir dengan penyimpulan yang bersifat umum.16

E. Keabsahan Data

                Yang di maksud dengan keabsahan data adalah, bahwa setiap keadaan

       harus memenuhi:

       1. Mendemonstrasikan nilai yang benar

       2. Menyediakan dasar agar hal itu dapat diterapkan, dan

       3. Memperbolehkan keputusan luar yang dapat dibuat tentang konsistensi

            dari prosedurnya dan kenetralan dari temuan dan keputusan-keputusannya.

                Keabsahan data juga merupakan konsep penting yang diperbaharui

       dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (realibitas) menurut versi

       positivisme dan disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan, criteria dan

       paradigmanya sendiri.

                Keabsahan data merupakan tujuan utama yang diperlukan dalam suatu

       penelitian yaitu memperoleh data yang valid, akurat dan otentik hingga

       memiliki kreadibilitas yang tinggi untuk dapat diperlihara dan dipertanggung

       jawabkan. Untuk menetapkan keabsahan (trust worlhiness) data diperlukan

       teknik pemeriksaan pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah

       kriteria tertentu, ada kriteria yang digunakan, yaitu:

       1. Derajat kepercayaan (creadibility)

       2. Keteralihan (Transferability)

       3. Ketergantungan (Dependability)


16
     Ibid. hal. 103
                                                                                            29




       4. Kepastian (confirmability)

               Keabsahan data bertujuan untuk membuktikan apakah yang diamati

       oleh penulis sendiri, sesuai dengan kenyataan dilapangan ataukah tidak.

       Sebagaimana yang dikatakan MOLEONG, ada beberapa teknik pemeriksaan

       keabsahan data, yaitu:

       1. Perpanjang keikutsertaan

       2. Ketekunan pengamatan

       3. Tringulasi

       4. Pemeriksaan sejawat melalui diskusi

       5. Analisis kasus negatif

       6. Pengecekan anggota

       7. Uraian rinci

       8. Auditing, 17




17
     Moleong Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung Remaja Rosda Karya, 2005 Hal. 326
                                                                         30




                            DAFTAR PUSTAKA


Depag RI, Al-Qur’an dan terjemah, Jakarta Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an,

        (PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri) 2007

H. Masnun MA. Dr, 2007. TGKH.M. Zainuddin Abdul Majid Gagasan dan

        Gerakan Pembaharuan Islam di NTB, Pustaka Al-Miqdad, Jakarta

Mukhtar, Maksum, Ma, DR, 2001, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya,

        PT Logos Wacana Ilmu, Ciputat-Jakarta.

Shaleh, Abdul Rahman, 2004, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, PT.

        Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Muhaimin, M.A, et.all. DR3, 2002, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya

        mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, PT. Remaja

        Rosda Karya, Bandung.

INSEP, BEP Depag, 2001, Majlis Madrasah, Fajar Baru Masyarakat

        Madrasah, INSEP dan BEP Depag, Jakarta

Moleong, Lexy, J, M.A, Prof. DR, 2006, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT.

        Remaja Rosda Karya, Bandung.

Mulyana, Deddi, MA, DR. 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja

        Rosda Karya, Bandung.

Qodri Abdillah Aziz, 2002, Dinamika Pesantren dan Madrasah, Pustaka Pelajar

        offset, Jakarta.
                                             31




        PROPOSAL PENELITIAN

 PERAN MADRASAH DALAM MENTRANSMISIKAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PONDOK PESANTREN
   DARUNNAHDLATAIN NAHDLATUL WATHAN
             (PPD NW) PANCOR




                   OLEH

         ABDURRAHMAN
               06.01.01.0095

 INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI PANCOR
            FAKULTAS TARBIYAH
     JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
                 2007/2008
                                                                                                                       32




                                                   DAFTAR ISI
Halaman Judul ................................................................................................. i
Kata Pengantar ................................................................................................ ii
Daftar Isi .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
        A.      Latar Belakang .............................................................................. 1
        B.      Batasan Masalah ............................................................................ 5
        C.      Rumusan Masalah ......................................................................... 7
        D.      Tujuan Penelitian .......................................................................... 7
        E.      Manfaat Penelitian ........................................................................ 8
                1. Manfaat Teoritis ...................................................................... 8
                2. Manfaat Praktis ....................................................................... 8
BAB II KAJIAN TEORITIS ........................................................................ 9
        A.      Pengertian Madrasah ..................................................................... 9
        B.      Pengertian Pendidikan Agama Islam ............................................ 12
        C.      Pokok-Pokok Kandungan Pendidikan Agama Islam .................... 14
                1. Aqidah Tauhid ......................................................................... 14
                2. Manusia ................................................................................... 14
                3. Masyarakat .............................................................................. 15
                4. Alam Semesta .......................................................................... 15
                5. Ilmu Pengetahuan .................................................................... 16
        D.      Reposisi dan Peran Madrasah Dalam Pendidikan ......................... 17
        E.      Peran Madrasah dalam Mentransmisikan Pendidikan Agama
                Islam di Pondok Pesantren Darunnahdlatain NW Pancor ............. 20
                3. Pondok Pesantren Darunnahdlatian NW Pancor...................... 22
                4. Proses Transmisi Pendidikan Agama Islam ............................ 22
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................... 24
        A.      Pendekatan Penelitian ................................................................... 24
        B.      Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................ 25
        C.      Metode Penelitian .......................................................................... 25
                1. Observasi/pengamatan ............................................................ 26

                                                          iii
                                                                                                               33




               2. Interview/wawancara .............................................................. 26
               3. Dokumentasi ........................................................................... 26
       D.      Analisis Data ................................................................................. 27
       E.      Keabsahan Data ............................................................................. 28
Daftar Pustaka ............................................................................................... 30

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:8465
posted:10/29/2010
language:Indonesian
pages:33