mimbar hindu Siwa Tattwa
Shared by: vaprakeswara
-
Stats
- views:
- 987
- posted:
- 10/28/2010
- language:
- Indonesian
- pages:
- 10
Document Sample


SIWA TATTWA
OM AWIGNAMASTU NAMASIDHAM
I. PURWAKA
Agama merupakan ajaran yang bersumber dari penguasa Agung alam semesta, sebagai awal,
tengah dan akhir dari sarwabhawa (segala yang ada). Ia sangat sempurna, tanpa cacat, tanpa
noda, tanpa awal, tengah, dan akhir. Bagaimanapun kita memikirkan-Nya sangatlah tidak
mungkin membayangkan Ia yang Maha sempurna dengan pikiran yang sangat terbatas.
a. Tanya
menurut sebagian orang Hindu itu merupakan agama yang rumit, jika di bandingkan
dengan agama lainya khususnya dari sisi theologi. Bagaimanakah cara yang mudah untuk
memahami ajaran Hindu!
b. Jawab
Sebelum memasuki materi Siwa Tattwa perlu dipahami pola pikir yang akan mengantarkan
kita belajar Hindu secara benar. Menurut Drs. I Gede Sura, sedikitnya ada tiga po la pikir:
1. Pola pikir Ilmiah yaitu pola pikir yang didasarkan pada proses ilmiah atau dikenal juga
dengan kebenaran keilmuan. Pola pikir ini sangat berguna dalam penelitian-penelitian
ilmu pengetahuan yang lebih mengedepankan logika. Orang yang berhasil menerapkan
pola pikir ini dikenal dengan ilmuan. Misalnya Einstein, Thomas Alpha Edison, dsb.
2. Pola pikir Filsafat, didasarkan pada renungan secara mendalam oleh manusia sehingga
kebenaran yang diperoleh adalah kebenaran filsafati, sedangkan sang perenung yang
memperoleh jawaban atas pokok persoalan yang dipecahkan disebut Filosof atau filsuf.
Misalnya: Plato, Aristoteles, dsb.
3. Pola pikir Agama yang bersumber dari keyakinan. Karena bersumber dari keyakinan
maka pola pikir agama lebih mengutamakan rasa. Pola pikir agama sangat dipengaruhi
oleh ajaran dari masing-masing agama, karena itu agama yang berbeda memiliki pola
pikir yang berbeda pula. Pola pikir Agama Hindu akan berbeda dengan pola pikir Islam,
Kristen, Katolik maupun Buddha.
Untuk memperoleh cara berfikir yang sistematis, seseorang harus memilah-milah
sendiri dalam pikirannya apakah ini agama, apakah ini filsafat ataukan ilmiah. Namun
dalam kenyatannya terkadang ada kaitan antara satu pola pikir dengan pola pikir yang
lain, yang mana hal ini akan menimbulkan kerancuan apabila tidak didasari oleh
Wiweka. Campur aduk pola pikir agama-agama sangat sering terjadi sehingga terkesan
adanya pemaksaan atau penjajahan oleh satu agama terhadap agama yang lain.
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur
Tidak dapat dipungkiri bahwa ketidaktahuan alias kebodohanlah yang
menyebabkan terjadinya berbagai konflik agama. Bagi umat Hindu yang berada diluar
Bali pencampuradukan pola pikir agama sangat terasa. Kontaminasi Agama diluar Hindu
mulai mempengaruhi dan sangat terasa, misalnya kalau di agama A ada ini maka
seorang Hindu akan menjawab,”Ia dalam agama Hindu juga ada ini!” Walaupun
jawaban si Hindu tadi belum tentu benar.
a. Tanya
Dari apa yang disampaikan tadi menandakan bahwa setiap agama memiliki pola pikir yang
berbeda, Lalu darimanakah kita harus mulai mengenal ajaran theology Hindu?
b. Jawab
Untuk mengenal ajaran Hindu maka kita harus mulai dari kitab Suci Weda sebagai sumber
kebenaran. Reg Weda Sebagai Weda tertua merupakan rujukan yang mengunakan bahasa
syair yang kadandkala sulit dipahami, untuk itulan Weda hendakanya dipelajari melalui
itihasa dan purana. Itihasa dan purana merupakan kitab Bantu Weda yang cukup popular
dimasyarakat. Antara itihasa, purana dengan Reg Weda memiliki hubungan yang erat,
dimana itihasa & Puarana merupakan jembatan bagi mempelajari berbagai sari ajaran
Weda termasuk theology didalamnya. Bagaimanapun itihasa dan purana menyimpan
semangat Catur Weda di dalamnya.
a. Tanya
Didalam Veda kita bisa melihat begitu banyak nama Dewa yang seringkali bahkan tidak
kita temukan pemujaannya dewasa ini. Hal ini juga sering diperbincangkan dan bahkan
dikatakan Hindu sebagai agama Polytheis, bagaimana menurut pandangan anda apakah
Hindu intu polytheis atau monotheis?
b. Jawab
Dewa berasal dari kata Dev yang artinya sinar, Dewa dalam hal ini merupakan sinar suci
dari Sang Hyang Widhi Wasa. Semua Dewa-Dewa merupakan manifestasi dari Tuhan Yang
Tunggal, hal ini diuraikan dalam Reg Weda Mandala I Sukta 164 Mantra ke-46
yangmenyebutkan:
Indram Mitram Varuna Agni ahur atho divyah sasuparno garutman,
Ekam sad vipra bahudha vadhantyagnim yamam matarisvanam ahuh .
Artinya:
Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan dia yang bercahaya
yaitu Garutman yang bersayap elok.
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur
Satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti
Agni, Yama, Matarisvan.
Dalam komentarnya tentang Dewa-Dewa Drs. I Gede Sura memberikan
kesimpulan yang sangat kuat yang dapat dijadikan kesimpulan. Dewa merupakan
perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasi dari Yang Maha Tunggal.
Demikian pula Sri Aurobindo memaparkan tentang nama Dewa dengan tafsiran
yang menkajubkan; Agni berarti Tuhan yang Maha Mengetahui dan yang sangat
dimuliakan; Indra berarti Tuhan Yang Maha Cemerlang; Soma sebagai tuhan yang
layak kita cintai, dan kita abdi; Varuna adalah Tuhan Yang Maha Adil, Maha Mulia;
Savita, Tuhan Sang Pencipta; Visnu, Tuhan Maha Ada; Pusan, Tuhan sebagai
pemelihara; dan Marut adalah nafas vital.
Melalui kutipan diatas dapat kita simpulkan bahwa nama-nama Dewa sangat
populer pada Jaman Weda yang dikaitkan dengan alam pengalaman manusia. Dewa
yang berbeda dipandang memiliki fungsi yang berbeda, namun semuanya adalah
perwujudan dari Yang Esa. Dengan demikian maka ajaran Ketuhanan dalam Veda
adalah ajaran yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah Esa adanya, namun ia meliputi
segala mempunyai banyak nama. Ia yang esa berada pada semua yang ada dan semua
yang ada berada pada yang Esa.
a. Tanya
Disamping kitab Catur Weda yang sudah diuraikan tadi kita juga mengenal kitab Upanisad.
Apakah Kitab ini juga bias dijadikan rujukan dalam mempelajari theology Hindu?
b. Jawab
TUHAN DALAM UPANISAD
Upanisad artinya duduk di dekat guru untuk mendengarkan ajaran. Cara belajar
Upanisad banyak dilakukan diasrama-asrama dalam hutan-hutan (aranya) sehingga kitab
upanisad sering disebut juga Kitab Aranyaka. Lahirnya kitab Upanisad merupakan babak
baru bagi perkembangan Agama Hindu di India, yaitu peralihan dari Zaman Brahmana
yang lebih mengutamakan Yajnya sebagai jalan mendekatkan diri Kehadapan Sang Hyang
Widhi Wasa.
Secara tradisi kita mengenal 108 kitab Upanisad yang merupakan ulasan-ulasan dari
guru yang berbeda misalnya: Isa upanisad, Chandogya Upanisad, Brhadaranyaka
Upanisad, Kena Upanisad, Svetasvatara Upanisad, Maitri Upanisad, Prasna Upanisad, dan
sebagainya. Yang sangat menakjubkan dalam kitab Upanisad adalah ulasan-ulasan yang
begitu mendalam mengenai Brahman dan Atman, Maya dan penciptaan alam semesta,
karma dan penjelmaan serta ajaran tentang moksa.
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur
Istilah Brahman untuk menyebut Tuhan dalam kitab-kitab Upanisad sangatlah populer.
Brahman berasal dari akar kata “brh” yang artinya yang memberi hidup, menumbuhkan,
menjadikan hidup, menjadikan berkembang, meluap (Pudja, 1983: 14).
Dengan demikian maka Brahman adalah nama Tuhan yang umum dalam Upanisad-
upanisad. Brahman Bukan hanya maha ada, ada dalam semua tetapi semua yang ada, ada
di dalam Brahman.
a. Tanya
Kita sudah secara panjang lebar membahas theology Hindu dalam kitab suci Weda dan
upanisad. Dari penjelasan tadi tidak satupun nama Bhatara dalam kitab suci. Apakah ini
berarti kita selama ini salah menyebut nama Tuhan dalam Hindu?
b. Jawab
TUHAN DALAM AGAMA HINDU DI INDONESIA (SIWA TATTWA)
Agama Hindu yang berkembang di Indonesia, secara umum disebut ajaran Hindu Saiwa
Sidhanta. Seperti dalam uraian di atas baik dalam Weda maupun upanisad Tuhan dipanggil
dengan sebutan yang berbeda. Di Nusantara juga ditemukan nama-nama Tuhan yang
berbeda. Jika di India nama-nama Tuhan lebih dikenal sebagai Dewa yang merupakan
sinar suci Sang Hyang Widhi, maka di Indonesia lebih populer dengan sebutan Bhatara.
Istilah Bhatara berasal dari akar kata bhatr yang artinya pelindung. Hal ini jelas
menunjukkan bahwa Tuhan yang menjadi obyek pemujaan sebagai aspek pelindung, artinya
keinginan rasa aman, nyaman sangat dibutuhkan bagi sebagian besar rakyat Nusantara.
Karena itu segala yang melindungi disebut dengan Bhatara. Misalnya Bhatara Brahma lebih
populer daripada Dewa Brahma, Bhatara Wisnu lebih populer dari Dewa Wisnu demikianlah
nama Bhatara itu menjadi sangat umum dalam Lontar-lontar Tattwa, yang merupakan sumber
ajaran Ketuhanan dalam Agama Hindu di Indonesia.
a. Tanya
Untuk umat Hindu di Indonesia menyebut nama tuhan itu Sang Hyang Widdhi Wasa,
namun dari tadi saya tidak melihat ada pembahasan tentang nama ini dalam Kitab Suci.
Dapatkah saudara berikan penjelasan tentang hal ini!
b. Jawab
Secara umum sebutan untuk Tuhan dalam masyarakat Indonesia adalah Sang Hyang
Widhi Wasa. Menurut Drs. I Gede Sura dan kawan-kawan Sang Hyang Widhi Wasa berarti
Yang Menakdirkan Yang Maha Kuasa, yang dalam bahasa Bali diterjemahkan dengan Sang
hyang Tuduh atau Sang hyang Titah. Namun istilah ini tidak secara tertulis
disebutkan dalam sumber lontar. Dalam Sastra lontar yang sebagian besar bercorak Siwa
yang ditemukan di Indonesia, Tuhan dipanggil dengan sebutan Bhatara Siwa. Dengan
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur
demikian maka agama Hindu di Indonesia secara umum memuja Bhatara Siwa sebagai
Sang Hyang Widhi Wasa.
a. Tanya
Sumber apakah yang digunakan oleh nenek moyang kita dalam mengahayati ajaran
Agama, yang kita terima sampai saat ini? Apakah ini tidak bertentanga denga Weda
maupun Upanisad?
b. Jawab
Seperti halnya Weda maupun Upanisad maka ajaran Ketuhanan dalam Siwa Tattwa
tidaklah berbeda, mengingat Weda sebagai Sumber tertinggi ajaran Dharma. Dalam lontar
Jnanasiddhanta kita dapati uraian tentang Tuhan yang senada dengan Weda maupun
Upanisad:
Sa Eko bhagawan sarwah
Siva karana karanam,
Aneko viditah sarwah
Catur vidhasya karanam
Ekatwanekatwa swalaksana Bhattara. Ekatwa ngaranya, kahidep maka
laksana ng Siwatatwa. Ndan tunggal, tan rwatiga kahidepanira,
Mangekalaksana Siwa karana juga, tan paprabedha.
Aneka Ngaranya kahidepan bhattara maka laksana caturdha. Caturdha
ngaranya laksananiran sthula, suksma, parasunya.
Artinya:
SifatBhatara adalah Eka dan aneka. Eka artinya Ia dibayangkan bersifat Siwa
Tattwa. Ia hanya Esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat Esa saja
sebagai Siwa karana (Siwa sebagai Pencipta)tiada perbedaan.
Aneka artinya Bhattara dibayangkan bersifat Caturdha artinya adalah stula
suksma para sunya.
Uraian yang demikian akan banyak kita jumpai dalam sumber-sumber Siwatattwa yang
lain, yang pada akhirnya mengarahkan kita untuk menarik kesimpulan Tuhan Itu Satu.
Tuhan yang satu ada dalam yang banyak, dan yang banyak ada dalam yang satu. Atau
semua yang ada bersumber dari Tuhan, ada didalam Tuhan, diresapi oleh Tuhan.
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur
a. Tanya
Kita mengenal Tri Murti dalam beberapa sumber yang berbeda, ada yang menyebut
Brahma, Wisnu, Siwa, ada yang menyebut Brahma wisnu Iswara, yang manakah
yang benar!
b. Jawab
Nama Tuhan didasarkan pada sifat dan fungsi yang dilekatkan pada aspek kekuatan
Brahman. Hal ini dapat kita jumpai dalam lontar Bhuwanakosa Patalah III sloka76:
Brahma srjayate lokam
Visnuve palakastitam
Rudratve samharasceva
Tri murttih nama evaca
Artinya:
Adapun penampakan Bhatara Siwa dalam mencipta dunia ini adalah:
Brahma wujudNya waktu menciptadunia ini,
Wisnu wujudNya waktu memelihara dunia ini,
Rudra wujudnya waktu mempralina dunia ini,
Demikianlah tiga wujudNya (Tri Murti) hanya beda nama.
Sedangkan dalam puja kramaning sembah Tri Murti di sebut sebagai Brahma, Wisnu,
Isawara:
Om Brahma Wisnu Iswara Dewam, Jiwatmanam trilokanam
Sarwa jagat pratistanam, Sarwa roga winasanam
Sarwa wigna winasanam, Wigna desa winasanam
Om namasiwaya.
Dalam uraian diatas Bhatara Siwa sebagai Tri Murti, yang satu berwujud tiga sesuai
dengan fungsinya. Bhatara Siwa adalah Brahma Wisnu dan Iswara, maka Brahma
Wisnu dan Iswara adalah Bhatara Siwa. Yang satu berwujud tiga, maka yang tiga
itu sesungguhnya satu.
Dalam beberapa uraian Siwa Tattwa juga kita dapati ajaran yang menyatakan Tuhan
bersifat Imanen dan transenden. Imanen artinya hadir dimana-mana, transenden
artinya mengatasi pikiran dan indriya manusia. Berikut kutipan slokanya:
Sivas sarwagata suksmah
Bhutanam antariksavat
Acintya mahagrhyante
Na indriyam parigrhyante
Artinya:
Bhatara Siwa meresapi segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti
angkasa, tak terjangkau pikiran dan indriya.
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur
Dari kutipan sloka diatas disimpulkan bahwa Bhatara Siwa memiliki sifat meresapi
segala, artinya Ia hadir pula dalam setiap pikiran manusia maupun indria, namun Ia tak
dapat dijangkau oleh pikiran manusia, karena Ia mengatasi pikiran dan Indriya. Ia hadir
dalam diri kita namun tidak kita ketahui karena keterbatasan manusia. Karena Ia hadir
dan meresapi segala maka ia maha mengetahui, tidak ada satupun mahluk yang bisa
lepas dari pengamatannya. Segala tindakan manusia, semut dan kuman bahkan daun
yang jatuh sekalipun selalu ada dalam pengelihatannya.
Ia ada pada semua yang ada, semua yang ada berada dalam diri-Nya.
a. Tanya
Nampaknya kini telah ada titik terang mengenai perbadaan nama-nama Tuhan yang
berbeda sebagai manifestasi Sang Hyang Widdhi. Namun masih ada satu hal yang
mengganjal dalam pikiran saya yaitu nama-nama bhatara yang begitu banyak, antara satu
pura dengan pura lainya berbeda, atau bahkan di satu areal pura begitu banyak nama
nama bhatara yang harus di puja, mengapa nama seperti ratu nyoman yang kebali -balian
muncul juga sebagai salah satu dewa!
b. Jawab
Kehadiran Hindu tidak serta merta mengubah kepercayaan masyarakat Pra hindu. Ratu
anglurah, ratu wayan, made dst. Merupakan nama Tuhan dalam bahasa local yang tetap
terpelihara samapai saat ini. Inilah kearifan Hindu yang mampu mengangkat nilai -nilai
ataupun kepercayaan local yang bersifat positif. Lontar gong besi merupakan salah satu
rujukan yang dapat menjawab pertanyaan ini. Dalam lonatr Gong besi disebutkan bahwa
Tuhan yang satu berwujud banyak sesuai dengan tempat dan fungsinya.
Upanisad mengajarkan Brahman memiliki dua aspek yaitu Saguna Brahman dan Nirguna
Brahman. Saguna Brahman adalah Tuhan yang memiliki sifat maha kuasa, Maha pencipta,
Maha Besar, Maha kecil, Maha ada dan seterusnya atau Tuhan yang telah dilekatkan
dengan berbagai penyifatan. Sedangkan nirguna Brahman adalah Tuhan yang tanpa sifat
apapun, tak dapat dipahami. Saguna Brahman disebut juga Apara Brahman, sedangkan
Nirguna Brahman disebut juga Para Brahman.
Ajaran Nirguna Brahman dan Saguna Brahman dalam Upanisad sejalan dengan ajaran
Siwa Tattwa dalam ajaran Ketuhanan Hindu di Indonesia. Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa
dan, Tattwa Jnana kita dapati ajaran Paramasiwatattwa, Sadasiwatattwa dan
Atmikatattwa. Dalam Tattwajnana disebutkan ada dua hakikat tertinggi yaitu Cetana dan
Acetana yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Kesadaran disebut juga Siwa Tattwa
sedangkan ketidaksadaran disebut Maya Tattwa. Dari Cetana lahirlah Purusa, dari Acetana
lahirlah Prakerti, pertemuan keduanya melahirkan ciptaan. Kesadaran atau Siwa Tattwa itu
bertingkat sesuai dengan besarnya pengaru Maya yang emelakt padanya.
Paramasiwatattwa adalah kesadaran Bhatara Siwa yang tertinggi yang tak tersentuh oleh
sifat apapun, sehingga tidak bisa untuk dibayangkan apalagi diarcakan. Ia tanpa bentuk,
tanpa sifat, beliau hanyalah kesadaran abadi.
Jenjang kedua adalah Sadasiwatattwa, yaitu Bhatara siwa yang telah terpengaruh maya,
namun intensitasnya tidak terlalu banyak. Pada tingkatan ini Bhatara Siwa dipenuhi oleh
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur
Sarwajna, memilki sifat dan kemahakuasaan Cadu Sakti yang dilambangkan dengan Asta
Dala. Ia menjadi obyek pemujaan manusia, karena Maha pengasih, Maha adil, Maha Bijak,
Maha pemurah, Maha penyayang, Maha Pencipta dan seterusnya.
Jenjang ketiga adalah Atmikatattwa, yaitu Bhatara Siwa telah benar-benar ditutupi Maya,
sehingga lupa akan kesejatiannya. Ia menjadi jiwa sekalian makhluk karena alpa inilah
menyebabkan Ia tidak lagi Sarwajna, tidak lagi Sarwakarya, semua sifat Cadu Sakti lenyap
karena ditutupi Maya.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan Tuhan Yang Maha Esa
(Brahman) dari tak terpikirkan, mengalami penurunan kesadaran menjadi Sadasiwatattwa,
memiliki banyak gelar dan fungsi yang berbeda. Maka dari itulah umat Hindu mendirikan
banyak pelinggih, arca (nyasa) untuk memulyakan sifat Tuhan sesuai dengan kebutuhan
maupun profesinya. Bagi petani Tuhan dihadirkan sebagai Dewi Sri, bagi pedagang Dewi
Melanting atau laksmi adalah pujaannya, sedangkan pelajar dan ilmuan maka Saraswati
adalah Sang Dewi pemberi anugrah, demikian seterusnya. Tuhan yang satu
dalam yang banyak, yang banyak dalam yang satu,
itulah monoteisme Hindu Saiwa Sidhanta.
Samarinda, 6 Desember 2009
Mengetahui
Bagian Penyiaran TVRI Kaltim Narasumber
……………………….. I Gede Adnyana, S.Ag
NIP. 150324694
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur
E. SENI MENGALIR DARI VEDA
Dalam hal menghubungkan diri dengan sang Maha pencipta atau yang dikenal dengan
“Yuj”, yang menjadi Yoga, Veda mengajarkan tiga esensi dasar, yang merupakan sadhana,
antara lain:
1. Mudra, yang berasal dari urat kata Mud, yang artinya membuat senang. Mudra adalah
gerakan-gerakan atau sikap tangan yang menyenangkan para Dewa. Gerakan Mudra ini
sangat beragam yang biasanya dilskuksn oleh Sulinggih saat mapuja. Mudra merupakan
gerakan tangan yang sangat rahasia yang mengandung aspek Satyam yaitu kebenaran,
Siwam yaitu kesucian, dan Sundaram atau keindahan. Karena itulah tidak sembarang
orang boleh menggunakan Mudra. Hanya orang-orang sucilah yang boleh
menggunakannya. Masyarakat secara umum memiliki penggunaan yang terbatas seperti
Anjali yang merupakan simbul dari lahir batin, dan amusti karana yang merupakan
simbuldari Tri kona dan Tri Murti. Dari Mudra munculah berbagai seni tari yang terdiri dari
seni tari sakral dan seni tari propan. Seni tari sakral seperti rejang Dewa, Sang Hyang
Jaran, sang Hyang dedari dan sebagainya hanya boleh diperuntukkan bagi persembahan
kepada para Dewa yang merupakan manifestasi Sang Hyang Widhi.
2. Mantra, merupakan lagu pujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala
manifestasinya. Mantra adalah sarana menghubungkan diri dengan Sang Maha Pencipta
dalam bentuk bahasa. Dari Mantra menimbulkan seni suara, seperti kakawin, kidung,
macapat, bahkan sampai pada lagu-lagu modern dewasa ini. Seni suara dalam agama
Hindu dipersembahkan kepada Tuhan. Mantra inipun memiliki tiga aspek yaitu Satyam,
siwam dan sundaram. Karena itulah ada Kuta Mantra atau pusat dari mantra adalah
sesuatu yang sangat sakral dan tidak boleh sembarang orang mengucapkan. Janganlah hal
ini dianggap sebagai sesuatu yang menghambat kemajuan dunia spiritual Hindu. Justru
rambu-rambu ini merupakan suatu upaya untuk menjaga aspek Siwam atau kesucian dari
Mantra. Kuta mantra ibarat pintu rahasia untuk membuka kekuatan Tuhan, sehingga
hanya orang-orang yang mampulah yang berhak membuka pintu rahasia ini.
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur
3. Yantra, merupakan kiblat atau arah kemana kita menstanakan Sang Hyang widhi Wasa.
Yantra dapat berupa gambar atau seni dua dimensi dan seni ukir atau gambar tiga
dimensi. Atau dengan kata lain Yantra menimbulkan seni rupa yang dalam agama Hindu
seni rupa juga di persembahkan kepada Tuhan. Pada akhirnya selain seni lukis, seni
patung atau arca, maka berkembang pula banten yang juga merupakan simbul -simbul
kebesaran Tuhan. Di samping itu juga munculnya aksara yang juga digunakan sebagai
simbul atau stana dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam manifestasinya sebagai Dewi Ilmu
pengetahuan. Karena itu dalam Agama Hindu barang siapa menggunakan tulisan untuk
hal-hal yang tidak baik maka itu adalah dosa, terlebih lagi aksara itu di gunakan tidak pada
tempatnya, misalnya gambar-gambar Dewa Krisna yang banyak dicetak pada kaos, atau
aksara sebagai simbul Tuhan seperti aksara Om di cetak dalam baju kaos. Maksudnya
mungkin baik tetapi bayangkan ketika hendak mencuci baju, pakaian ini berbaur dengan
pakaian dalam. Bukankah ini merupakan pelecehan terhadap agama sendiri? Gambar
Dewa yang seharusnya di sakralkan tetapi malah dicampur dengan pakaian dalam.
Terlebih lagi tudingan Politheis, Agama bumi, penyembah berhala, sangat mungkin itu
ditujukan pada orang Hindu, karena dalam kenyataanya orang Hindu sendiri tidak mengetahui
Tattwa, yang merupakan ajaran dasar dari keyakinan yang mahabenar. Karena itulah Tatwa
sebagai dasar pondasi untuk membangun Sraddha yang kuat bagi generasi Hindu ke depan
sangat perlu diketahui.
Oleh: I GEDE ADNYANA, S.Ag, Mimbar Agama Hindu TVRI Kalimantan Timur