banten nyepi by vaprakeswara

VIEWS: 1,875 PAGES: 4

									                                 RANGKAIAN PELAKSANAAN NYEPI


Dharma Wacana Tilem ka Sanga 15 Maret 2010, Menyambut Tahun Baru Saka 1932,
Pura Buana Agung Kota Bontang.

   1. MELASTI
      Melasti merupakan prosesi rangkaian Nyepi mencari sumber air atau lautan, sebagai salah satu upaya melebur
      kotoran dunia. Lautan adalah ciptaan Tuhan yang mempunyai kekuatan melebur segala kotoran secara nyata.
      Tuhan meresap dalam ciptaannya, dan dilautan beliau bergelar Varuna/ Baruna. Memohon anugrah kepada Sang
      Hyang Baruna agar kesengsaraan dunia dimusnahkan, penderitaan dan kecemaran dunia musnah, lebur dilautan.
      Memohon tirta kamandalu (air suci kehidupan).
      Waktu pelaksanaan tepatnya setiap pangelong ke-13 sasih ka sanga. Melasti merupakan pensucian bagi pratima
      (nyasa, pralingga) yang menjadi lambang atau simbul dari Sang Hyang Widdhi Wasa yang dilakukan di lautan.
      Mengapa harus dilakukan?
      Jika tidak maka akan dapat menimbulkan kacaunya dunia. Segala macam kekacauan akan semakin mengganas
      akibat buta kala yang meraja lela. Brahma sebagai pencipta akan menciptakan Buchari desa, teluh tranjana (yang
      menyebabkan kesedihan), Wisnu sebagai pemelihara berubah wujud kedewataannya menjadi Kala (waktu
      pemusnah), Iswara (bersifat menyempunakan) sehingga terwujud penyakit yang meraja lela dan mengerikan
      (Sundarigama hal. 7) Jadi terkandung doa yang amat mulia dimana umat Hindu tidak mendoakan dirinya sendiri
      tetapi mendoakan semua mahluk agar sehat & bahagia.
      Dalam kesempatan ini di larung berupa upakara suci yang melambangkan kesucian batin, ayam melambangkan
      ego yang harus dibuang atau dilebur, dan itik lambang kebijaksanaan. Dengan lenyapnya egoisme tumbuhlah
      kebijaksanaan, dengan kebijaksanaan manusia bisa mengarungi kehidupan ini dengan lebih baik demi
      tercapainya kebahagiaan dunia (jagadhita) dan kebagaiaan rohani (moksa).
   2. TAWUR
      Tawur kesanga dilaksanakan pada tilem ka sanga diperempatan jalan dengan menggunakan upakara berupa caru
      (disesuaikan dengan tingkatan), Caru meruapakan upakara dengan bahan dasar binatang korban berupa ayam,
      itik, anjing, sapi, atau kerbau tergantung tingkatannya. Untuk kota bontang tahun ini umat hindu menggunakan
      tawur (caru) lima ekor ayam/ panca sato, yang di olah sedemikian rupa yang menggambarkan urip dunia yaitu
      33, memohon kehadapan Hyang Widdhi agar para Bhuta menjadi somya (dari Bhuta kala menjadi Bhuta Hita). Ini
      merupakan suatu pesan moral agar umat manusia hidup harmonis dengan alam.
   3. NYEPI
      Intinya adalah menciptakan suasana sepi. Yang didukung oleh Catur Bratha Penyepian; amati gni/ tidak
      menyalakan api, amati karya/ tidak bekerja, amati lelanguan/ tidak menikmati hiburan, amati lelungaan/ tidak
      bepergian. Dilaksanakan dalam tiga tingakatan sesuai dengan kemampuan antara lain nista (jagra: melek),
      madya (jagra/ melek & upawasa/ berpuasa), utama (jagra/ melek, upawasa/ berpuasa, & monabrata/ tidak
      berbicara), dimulai ketika matahari belum terbit sampai keesokan harinya (24 jam).
   4. NGEMBAK GENI
      Menikmati hasil dari melaksanakan Bratha Nyepi, berupa redanya api hawa nafsu yang ada dalam diri manusia.
      Maaf-memaafkan satu dengan lainnya dengan saling mengunjungi.




                                                                                                                  1
                            BANTEN NGERUPUK UNTUK TINGKAT RUMAH TANGGA
Sesuai Dengan Kitab Sundarigama
Om Awignamastu Namo Siddham
Berikut ini merupakan petikan tatacara tawur ka sanga untuk tingkat rumah tangga yang dikutip dari kitab suci
Sundarigama. Kitab suci Sundarigama merupakan salah satu lontar indik yang erat kaitanya dengan bagian karma kanda
dari kitab Weda. Bagian Karma kanda mengutamakan korban yadnya sebagai sarana mendekatkan diri dengan Sang
Hyang Widdhi Wasa yang sangat populer pada jaman Brahmana.
1. Segehan Manca Warna 9 tanding, lauknya olahan ayam brumbun
      Cara membuat segehan manca warna yaitu disusun searah jarum jam mulai dari arah depan berturut-turut nasi
       putih, merah, kuning, hitam dan campuran keempat warna ditengah.
      Posisi mebanten nasi warna putih selalu didepan.
      Untuk olahan pada umumnya ayam dibuat lawar, sate, atau tum, atau disesuaikan dengan daerah.
2. segehan agung 1 tanding
           Cara membuat segehan agung secara filosofis adalah disesuaikan dengan urip dunia yaitu 33 atau 11.
   Segehan dibuat dari nasi (sego) lauknya bawang jahe. Jika sebanyak 33 tanding dengan posisi:
          Timur 5 tanding, Selatan 9 tanding, Barat 7 tanding, Utara 4 tanding, Tengah 8 tanding
          Di atasnya ditaruh canang sebanyak 33 buah
          Didepanya ditaruh daksina lepas (kelapa, beras, telor, pisang, benang tetebus, perlengkapan daksina)
3. Segehan sasah 108 tanding
       Cara membuat segehan yaitu dengan membuat alas untuk nasi sebanyak 108, lauknya jeroan mentah ditanding
       dalam satu tamas atau satu tempat, dilengkapi dengan sebuah canang.
       Tempat Upakara di muka pintu keluar masuk pekarangan, diberikan kepada Buta Raja, Buta kala, Kala Bala.
       Terlebih dahulu dipercikan tirta caru dari pura, setelah dihaturkan diperciki tirta Baruna (dari laut)
       Doa: Om pakulun sang Buta Raja, Buta kala, Kala Bala, iki ta manusanira angaturaken Segehan Manca Warna 9
       tanding, segehan agung, Segehan sasah 108, wusira mangan minum amukti sari sira, aja mewali muwah
       wehakena urip waras dirgaysa, Om Ing Namah.
5. Tatacara Ngerupuk:
   Setelah menghaturkan tawur didepan rumah kemudian dilanjutkan dengan mengelilingi rumah dengan membawa
   obor, sembar mesui atau tirta segara, dengan puja penolak bala.
   Setelah selesai ngerupuk maka setiap keluarga diharapkan dapat natab byakala (meminimalkan kekuatan negatif
   dalam diri), sesayut lara melaradan (mengusir penyakit) dan prayascita (menjadikan pikiran suci) atau sekurang-
   kurangnya melukat dan mebersih, yang semuanya dilakukan dihalaman rumah.
   Om Santih, santih, santih Om


                                                                  Bontang, 14 Maret 2010

       Mengetahui

       Parisada Hindu Dharma Indonesia                                     Pemangku

       Kota Bontang



       Agung Eka Purnawan                                                  I Gede Adnyana, S.Ag




                                                                                                                     2
SUSUNAN ACARA RANGKAIAN PERAYAAN NYEPI TAHUN BARU 1932 SAKA

  1. MELASTI
      Matur Piuning (mk. Gede)
      Nedunang Arca
      Ngiyas
      Mebakti
      Berangkat ke segara Tj. Limau
      Segehan agung (mk. Marsup)
      Dupa, tirta, senjata, rontek, penuntun, penglurah, saraswati & Padma

  2. Tiba di segara (mk. Ketut)
      Pralingga ida bhatara menghadap segara, surya menghadap umat.
      Matur Piuning Ke Surya / surya Stawa, Segara/ Baruna Stawa
      Ngelinggihang Ida Bhatara ring Banten
      Ngaturang banten suci, daksina, soda, canang, ayaban, sarwa sesayut, peras
      Sembahyang bersama
      Nunas Tirta segara dan mapakelem
      Mepamit menuju pura
      Segehan agung (mk. Marsup)

  3. Mendak di Nista mandala/ candi bentar
      Segehan Agung (mk. Marsup)
      Mendet
      Ngider buana
      Melinggih ring bale pelik

  4. Persembahayangan Tumpek landep & Pangelong ping 13
      Surya stawa, pertiwi stawa, padmasana stawa, pasupati stawa, saraswati stawa
      Ngelinggihang ida bhatara ring banten
      Ngayab banten suci, pejati, pasupati, soda, canang, ayaban
      Nunas penugrahan pasupati ke pusaka dan kendaraan umat
      Persembahayangan
      Nunas tirta

  5. Prani
      Minggu pagi (mk. Ketut)
      Minggu sore ( mk. Nyoman)
      Senin Pagi (mk. Gede)

  6. Ngerupuk / Tawur Ka-sanga (mk. Marsup)
      Mapiuning
      Surya, pertiwi, akasa, durga, kala
      Nunas tirta caru
      Ngundang bhuta
      Nganteb caru
      Ngayab caru
      Metabuh
      Ngelukat bhuta
      Nundung bhuta
      Maktiang caru, atma, surya, pertiwi, anugraha, acintya
      Prasawya caru

  7. Persembahyangan bersama (mk. Kembar)
      Melukat
      Sembahyang bersama
      Nunas tirtha
      Nyineb



                                                                                      3
Doa Bersama Untuk Kedamain (santih pata)

Om dyauh santir antariksam santih
prthivi santir apah santir
osadhayah santir vanaspatayah santir
brahma santih visvedevah santir
sarvam santih santireva santih
sa ma santire dhi

(Yayur Veda XXXVI.17)

Ya Tuhan……….semoga damai di langit, di udara, yang meliputi bumi (atmosfir) dan diatas bumi,
semoga air tumbuh2 an dan tanam2 an menjadi sumber kedamaian untuk semuanya, semoga
semua para Deva, Brahman menganugrahkan kepada kami, semoga kedamaian (ketentraman)
ada dimana mana, semoga kedamaian itu datang kepada kami




                                                                                               4

								
To top