inti Weda dalam Purana

Document Sample
inti Weda dalam Purana Powered By Docstoc
					                           “Memetik Buah Weda Dalam Pohon Purana”.

   Mimbar TVRI Kaltim 2 Juni 2010

   Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag

   PRAKATA

   Ketika film kartun bernuansa Hindu Krisna dan Ganesha di tayangkan di salah satu stasiun TV
   swasta banyak umat Hindu memberikan apreseasi acungan jempol untuk stasiun yang
   bersangkutan yang telah menyangkan film tersebut. Bahkan mungkin sebagaian besar umat
   Hindu yang ada di seluruhIndonesia menantikan tayangan film yang diambil dari kisah-kisah
   Purana ini. Hal ini menandakan bahwa umat amat rindu tayangan televisi yang bernuansa Hindu
   yang memang sangat jarang. Ada harapan putra putri Hindu lebih mengenal cerita Hindu yang
   latar belakang alamnya subur kekayaan alamnya yang melimpah.
   Namun demikian masih banyak umat yang belum tahu jika kisah itu diambil dari pustaka suci
   Hindu yaitu Purana. Dalam kesempatan ini kita akan membahas tema “Memetik Buah Weda
   Dalam Pohon Purana”.

A. Mohon dijelaskan apakah yang dimaksud dengan purana sebagai bagian pustaka suci Hindu!
   Purāṇa, berarti "cerita zaman dulu", adalah bagian dari kesusastraan Hindu yang memuat
   mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman dulu. Kata Purana berarti sejarah kuno atau cerita
   kuno. Ada 18 kitab Purana yang terkenal dengan sebutan “Mahapurana”. Penulisan kitab-kitab
   Purana diperkirakan dimulai pada tahun 500 SM. Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-
   cerita keagamaan yang menjelaskan tentang kebenaran, dalam bentuk mitologi-mitologi
   sehingga menarik orang kebanyakan untuk mendengarnya.

B. Bagaimakah kedudukan purana dalam pustaka suci Hindu?

   Keseluruhan pustaka suci Hindu adalah Weda. Weda terbagi atas Sruti dan smerti. Sruti terbagi
   atas Catur Weda Samhita, Brahmana dan Upanisad atau aranyaka. Smerti terdiri atas
   Wedangga, Upaweda dan Nibanda.
   Wedangga terdiri dari:
   1. Siksa ilmu tentang phonetics
   2. Wyakarana ilmu tata bahasa
   3. Chanda pengetahuan tentang lagu
   4. Nirukta pengetahuan tentang sinonim dan akronim
   5. Jyotisa ilmu astronomi
   6. Kalpa tentang ritual

   Upaweda terdiri dari:



                                             1
   1. Itihasa ceritera- ceritera kepahlawanan (epos) terdiri dari Mahabarata dan Ramayana
   2. Purana himpunan ceritera- ceritera (mirip sejarah) tentang peristiwa- peristiwa tertentu dan
      tentang tradisi.
      Enam Purana yang ditujukan kepada Wishnu adalah Wishnu Purana, Narada Purana, Srimad
      Bhawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana dan Waraha Purana.
      Enam Purana yang ditujukan kepada Siwa adalah Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga
      purana, Wayu Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.
      Enam Purana yang ditujukan kepada Brahma adalah Brahma Purana, Brahmanda Purana,
      Brahma-Waiwaswata atau Brahma-Waiwarta Purana, Markandeya Purana, Bhawishya
      Purana dan Wamana Purana.

   3. Arthasastra pengetahuan tentang pemerintahan.
   4. Ayurweda ilmu obat- obatan.
   5. Gandarwa Weda ilmu tentang seni
   6. Sarasamuçcaya dan Slokantara tentang etika dan tata susila.
   Baik sruti maupun smerti akan kebenarannya tidak diragukan lagi, hal ini ditegaskan oleh
   Bhagawan       Manu      didalam       kitabnya       Manawadharmaastra       II.    10.

   Srutistu wedo wijneyo
   dharmasastram tu wai smrtih.
   te sarwarthawam imamsye
   tathyam dharmahi nirbabhau.

   Artinya :
   Sesungguhnya Sruti (Wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah dharmastra, keduanya
   harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang
   menjadi sumber dan hukum suci itu. (dharma).

C. Tadi dijelaskan bahwa purana adalah bagian dari upaweda atau kitab bantu Weda. Apa
   maksud dari upaweda atau kitab bantu Weda?
   Karena Weda itu sulit dipelajari oleh orang yang belum melek spiritualnya, maka disusunlah
   beberapa pustaka untuk memudahkan seseorang untuk memahami isi Weda. Dalam
   Sarasamuscaya disebutkan:

   Ndan Sang Hyang Weda, paripurnakna sira makasadhana sang hyang itihasa, sang hyang
   purana, apan atakut, sang hyang weda ring akedik ajinya, ling nira, kamung hyang haiwa tiki
   umara ri kami, ling nira mangkana rakwa atakut. Sarassamuscaya sloka 9

   Artinya:
   Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna dengan jalan mempelajari itihasa dan purana,
   sebab weda merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya, sabdanya,”Wahai
   tuan-tuan janganlah mendekat padaku”. Demikian konon sabdanya karena takut.




                                             2
D. Mengapa Weda harus takut pada orang yang kurang berpengetahuan, apa dampaknya mohon
   dijelaskan!
   Tidak semua orang dapat menyimak, memahami dan memaknai Weda dengan baik dan benar.
   Misalnya ajaran Tat twam asi, yang mengandung pengertian itu adalah kamu dan ahimsa atau
   tidak menyakiti. Suatu ketika saya pernah menjelaskan konsep Weda ini kepada orang yang
   belum melek walaupun ia seorang Widyaiswara. Justru yang terjadi adalah saya menjadi bahan
   tertawaan. Untuk menjelaskan ini puarana melalui kisah Ganesha menganiyaya sekor kucing.
   Ketika ia pulang Dewi Parwati babak belur. Disini terjadi dialog tentang ahimsa, janganlah
   menyakiti semua mahluk.

E. Mengapa Purana justru mengambil contoh Dewa-Dewa sebagai tokoh yang bisa diteladani
   oleh manusia, bukankah antara manusia dan Dewa memiliki perbedaan yang jauh!

    Ada tiga kelompok manusia yaitu: Manawa-danawa atau manusia raksasa, Manawa-manawa
atau manusia manusia, & Manawa Madawa atau manusia Dewa. Disini manusia diharapkan
mengarah pada Manawa madawa. Artinya manusia yang mampu membangkitkan sifat
kedewataannya. Disni kita disadarkan bahwa manusia memiliki dua kecendrungan sifat yaitu daiwi
sampad atau sifat kedewataan dan asuri sampad atau sifat keraksasaan. Sifat kedewataan di
contohkan oleh tokoh Krisna dan Ganesha, dengan segala kebaikan dan kemulyaannya,
kecerdasannya, senantiasa membela yang lemah. Sementara para asura mewakili kecendrungan
negative dalam diri manusia yang mencerminkan dasa mala dan belenggu sad ripu yang
menimbulkan kegelapan. Kekerasan, keuatan, rakus, garang, kasar inilah sisi lain manusia yang
diwakili oleh para asura.

    Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa purana merupakan salah satu media untuk belajar Agama
Hindu. Sebagai media belajar purana perlu didiskusikan, dianalisa kemudian di ambil sari patinya
sehingga bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Dengan semakin sering melakukan dialog
melakukan perenungan maka hal ini akan mengarahkan seseorang mencapai kebijaksanaan berfikir
atau wiweka jnana. Weda amat takut pada orang yang sedikit pengetahuannya, merupakan isyarat
agar kita senatiasa menggali makna di balik kisah-kisah purana kemudian di sambung atau
dihubungkan dengan Weda.

F. Jika kita membaca atau menyimak beberapa purana kita akan dapati bahwa musuh dari Para
   Dewa adalah Raksasa, bahkan kadang-kadang antara satu Dewa dengan Dewa yang lainnya
   berselisih! Mengapa Para Dewa Berselisih, dan apakah dampaknya terhadap Umat Hindu!

     Tentang pertanyaan mengapa dalam purana Dewa-Dewa sering berselisih antara satu dengan
yang lainnya? Perselisihan bukan hanya pada kekuasaan, keahlian, kemasyuran tetapi bahkan
berakhir dengan pertempuran yang dimenangkan salah satu Dewa. Dewa yang dikalahkan harus
mengakui keunggulan lawannya. Artinya Dewa-dewa mengalami persaingan yang mana persaingan
ini menimbulkan konflik diantara para Dewa.




                                             3
     Pada zaman perkembangan pustaka suci Purana umat Hindu mulai membangun kuil Dewa-Dewa
sesuai dengan nama Dewa yang di vaforitkan, berdasarkan pengalaman pribadi dari masing-masing
bhakta. Masing-masing mengagungkan Dewa pujaanya sehingga jika membaca beberapa Purana
terlihatlah sebagai satu perselisihan. Mengkultuskan salah satu Dewata merupakan sejarah yang
menghiasi Hindu pada zaman Purana yang melahirkan berbagai sampradaya atau aliran bahkan
hingga saat ini. Hal ini nampaknya dipandang efektif untuk menjaga Sraddha umat Hindu akan
ajaran Weda. Dalam purana semangat Weda di tanamkan, melalui kisah atau cerita-cerita yang
dikemas dengan sangat menarik yang mengandung unsur satyam siwam dan sundaram. Jadi para
Dewa tidak berselisih melainkan penggambaran dalam cerita masing-masing Purana agar para
bhakta menjadi kuat sradhanya terhadap agama Hindu, seperti yang ditegaskan dalam Mantra
Weda :

Om sam gacchadhvam sam vadadhvam sam vo manamsi janatam, devo bhagam yatha purve
samjanana upasate.
(Rg. Veda X.191.2)

    Artinya:

    (Ya Tuhan, hamba berkumpul di tempat ini hendak bicara satu dengan yang lain untuk
    menyatukan pikiran sebagai mana halnya para dewa selalu bersatu.

Kalimat “Selalu bersatu” haruslah kita maknai sebagai tanpa perselisihan, karena Dewa-Dewa
adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Ibarat Matahari dengan sinarnya yang tak dapat
dipisahkan atau di pertentangkan.

G. Dalam Purana Dewa-Dewa digambarkan seperti manusia, tetapi ketika kita sembah puyung
dalam kramaning sembah dijelaskan sembah kita pada Tuhan Yang Maha Gaib dan tak
terpikirkan. Ini terlihat ada pertentangan antara Tuhan yang berpribadi dan tak berpribadi

Umat Hindu meyakini Tuhan sebagai Beliau yang tidak berpribadi/tanpa kualitas (Nirguna) dan tak
terbagi atau gaib (Niskala), dan sekaligus juga sebagai Beliau Yang berpribadi atau dengan sifat
(Saguna) dan seolah-olah terbagai-bagi (Sakala). Dalam Lontar Jnanasiddhanta, 122 disebutkan :

Ekatwānekatwa swalaksana Bhattāra. Ekatwa ngaranya kahidep makalaksana ng Śiwatattwa. Ndan
tunggal, tan rwatiga kahidepnira. Mangekalaksana Śiwa-kārana juga, tan paprabheda. Aneka
ngaranya kahidepan Bhattāra makalaksana Caturdhā. Caturdhā ngaranya laksananiran sthūla
sūksma para-sūnya.

Artinya :

Sifat Bhattara adalah eka dan aneka. Eka (esa) artinya Ia yang dibayangkan bersifat Siwatattwa. Ia
hanya Esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat Esa saja sebagai Siwakarana           tiada



                                              4
perbedaan. Aneka artinya Bhattara dibayangkan bersifat Caturdha artinya sthula, suksma, para dan
sunya.

Ketika umat Hindu ingin melakukan hubungan dengan Tuhan (Sanghyang Widhi, secara umum
ditempuh dengan cara sembahyang. Dengan melakukan hubungan dengan sembahyang kepada
Sanghyang Widhi terjadi interaksi antara penyembah (Umat) dengan yang disembah (Sanghyang
Widhi). Maka dengan demikian yang disembah adalah Tuhan yang berpribadi (Saguna, Sakala).
Namun kadang-kadang oleh orang-orang tertentu Sanghyang Widhi dipuja sebagai Tuhan yang tidak
berpribadi (Nirguna, Niskala). Hal ini adalah dalam kerangka memenuhi rasa filosofis seseorang.
Maka dalam berhubungan dengan Sanghyang Widhi, umat Hindu mengenal jalan yang disebut 1)
Nirwrtti Marga yaitu jalan kelepasan dengan merealisasikan Sanghyang Widhi sebagai sunya dalam
dirinya (jnana dan raja marga dalam catur marga), dan 2) Prawrtti Marga yaitu jalan bakti dan karma
dengan melaksanakan kewajiban hidup sebaik-baiknya sebagai persembahan kepada Sanghyang
Widhi, dimana Sanghyang Widhi dipuja sebagai Ista Dewata yang direalisasikan dalam berbagai
bentuk, umumnya dalam bentuk yadnya dengan berbagai aktifitas ritual/upacara dengan berbagai
upakaranya.

H. Bagaimana jika anak-anak bertanya Apakah Krisna & Ganesha Sama Dengan Superman?
    Superman adalah kisah fantasi yang di buat manusia sebagai hiburan yang sifatnya fiksi alias
hayalan belaka dan tidak bersumber dari kitab suci. Berbeda halnya dengan Krisna atau Ganesha
merupakan kisah yang diambil dari Pustaka suci Itihasa dan Purana bagian dari Weda Smerti. Krisna
adalah awatara Wisnu yang ke-8 yang turun kedunia guna menyelamatkan Dharma dari adharma.
Krisna memiliki tujuan sangat mulia dengan membawa sifat kemahakuaan-Nya atau Asta Iswarya
memerangi kejahatan raja Kamsa serta dalam perang Mahabharata memabawa pesan Bhagawad
Gita bagi seluruh umat manusia. Delapan kemahakuasaan Sang Hyang Widdhi inilah yang
digambarkan dalam berbagai adegan Krishna melawan para raksasa atau asura yang di utus prabu
Kamsa.
    Ganesha adalah Putra Hyang Siwa yang sangat cerdas dan penghilang segala rintangan. Ganesha
adalah Sinar suci Sang Hyang Widdhi yang merupakan salah satu perwujudan dari kemakuasan-Nya.
Dengan demikian dapat diartikan Ganesha sebagai salah satu aspek Hyang Widdhi memberikan
perlindungan pada manusia dari kegagalan baik dalam kehidupan di dunia maupaun kebahagiaan
rohani (Moksartham jagadhita). Dengan melakukan pemujaan pada Ganesha ataupun awatara
Krisna diharapkan manusia mendekatkan dan membangkitkan sifat-sifat posistif dan menekan sifat
negative yang ada pada manusia.

I.   Apakah yang bisa kita petik dari kisah-kisah dalam kitab purana?
     1. Purana adalah kisah-kisah jaman dahulu yang disusun untuk memudahkan belajar Weda.


                                              5
2. Purana sarat dengan nilai Tattwa, pesan moral dan etika yang bersumber dari ajaran
   Weda
3. Purana mendekatkan Weda pada masyarakat awam/ kebanyakan
4. Semakin sering mendengar kisah purana diharapkan orang menjadi semakin baik, welas
   asih, menghindari tindak kekerasan dan membangkitkan sifat kedewataan dengan
   menekan sifat asura.
5. Melalui purana Weda dapat diajarkan sejak usia dini.
6. Purana mengarahkan seseorang mencapai kebijaksanaan berfikir atau wiweka jnana
7. Dengan semakin banyak mendengar atau melihat kisah purana yang beragam ini juga akan
   membentuk karakter seseorang untuk dapat menerima perbedaan.

Samarinda, 2 Juni 2010

Mengetahui

Bagian Penyiaran TVRI Kaltim                      Narasumber




………………………..                                       I Gede Adnyana, S.Ag

                                                  NIP. 197605112003121003




                                       6

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:2580
posted:10/29/2010
language:Indonesian
pages:6