Docstoc

Menjaga Bahasa Indonesia

Document Sample
Menjaga Bahasa Indonesia Powered By Docstoc
					                                  “Menjaga Bahasa Indonesia”
                            :Refleksi Peringatan Bulan Bahasa 2010




                                        Sofyan Zaibaski
                            Penulis: Guru SMA Negeri 2 Kota Jambi


cinta…
aku cinta Indonesia
indonesiaku yang aku cinta
aku cinta bahasa
bahasaku
yang aku cinta
demi cinta
aku jaga bahasa
berbekal lima vocal
dan duapuluh satu konsonan
aku jaga cintaku
berakar dari huruf menjadi suku kata
dari suku kata menjadi kata
kata menjadi frase
frase ke kalimat
aku jaga rasa cintaku
demi cintaku
indonesia
bahasaku
akan slalu kujaga
                      Zaibaski, 281010

      “Kami poetra poetri Indonesia, menjoenjoeng tinggi bahasa persatoean, bahasa
                    Indonesia”(Soempah Pemoeda, 28 Oktober 1928)

A. Pendahuluan
     “Oh gitu yah? Whatever! Gw ga pusing”, “Masa sih? Actually I didn’t know about that
before“, “Gilak! Are you serious?“, “Oh my gosh, really?“, “Sumpe loh! You gotta be kidding
me!“, “Ya gitu-gitu lah, something like that” “Gak gitulah yau”, Tapi gak gini-gini juga kale”.
       Ungkapan keinggris-inggrisan dan plesetan-plesetan tersebut di atas, sedang
menggejala dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sering diucapkan oleh public pigure, di TV,
di forum-forum resmi atau di mana saja, dan bahkan tanpa kita sadari diucapkan oleh
teman-teman kita sendiri. Tanpa kita sadari pula, bahwa kita adalah korban dari akibat
kelatahan supaya dikatakan modern atau tidak mau dikatakan ketinggalan zaman.
       Patut kita sadari, bahwa kita lahir, tumbuh, besar, bersekolah, dan mencari makan di
bumi pertiwi yang bernama “Indonesia”. Kita adalah 100% warga negara Indonesia tulen.
Tapi mengapa kita sering lupa atau pura-pura lupa, tidak tahu atau pura-pura tidak tahu,
bahwa kita tidak bisa mencintai bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional negara
ini? Padahal kita patut bangga dan berbesar hati, bahwa bahasa Indonesia adalah simbol
kebanggaan bangsa. Patut disyukuri, jauh sebelum bangsa ini merdeka, para generasi muda
Indonesia dengan gagah beraninya berikrar untuk menjadikan bahasa Indonesia menjadi
satu-satunya bahasa yang harus dijunjung untuk persatuan bangsa dan tanah air Indonesia.
Lalu, bagaimana peran kita selaku generasi muda dalam “menjaga” bahasa Indonesia
sebagai kebanggaan nasional? Alat pemersatu bangsa? Alat perekat budaya dan etnis di
bumi tercinta ini? Di tengah lalu-lalang arus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
berbaurnya budaya asing yang kebablasan “bak gado-gado”.
       Kita patut bersedih manakala penggunaan bahasa Indonesia di kalangan generasi
muda tidak lagi membanggakan. Bahasa Indonesia dianggap tidak “gaul”. Bahasa Indonesia
menjadi “anak tiri” di tengah-tengah penuturnya sendiri. Bahasa Indonesia diasingkan di
buminya sendiri. Bahasa Indonesia tidak lagi dianggap sebagai sesuatu perekat bagi
pergaulan generasi muda. Bahkan di sekolah, di kampus atau di forum-forum resmi dengan
leluasanya menggunakana bahasa mereka sendiri yang dianggap lebih “gaul” atau modern.
       Kondisi sebagaimana dipaparkan di atas, merupakan salah satu dari sekian banyak
keprihatinan yang kita rasakan terhadap sikap generasi muda terhadap bahasa Indonesia.
Mereka menganggap bahwa bahasa Inggris lebih keren, dibanding dengan bahasa Indonesia,
sehingga mereka berusaha sebanyak mungkin memakai bahasa Inggris dalam berbagai
kesempatan. Mereka juga menggunakan lebih banyak bahasa gaul atau sekarang bahasa
“alay” dalam setiap setiap kesempatan biar dikatakan tidak ketinggalan zaman.
       Pada sisi lain, coba kita lihat anak-anak kecil di kota besar yang bersekolah di sekolah
internasional. Kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi mereka
berkomunikasi dengan bahasa Inggris secara lancar. Lalu, siapakah yang akan mengawal dan
menjaga bahasa Indonesia ke depan? Akan seperti apakah nasib bahasa Indonesia di tahun-
tahun mendatang?
       Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh
suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkornunikasi, dan mengindenfikasi diri
(Chaer, 2000:1). Menurut pendapat ini dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah berupa
bunyi yang digunakan oleh rnasyarakat untuk berkornunikasi. Keraf (1991:1) mengatakan,
bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antaranggota masyarakat terdiri atas dua bagian
utama yaitu bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Menurut pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap yang merupakan
alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa bentuk dan makna.
       Menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bukanlah tanpa alasan. Jauh
sebelum bangsa ini bernama “indonesia”, sebagian besar penduduk yang bermukim di
wilayah antara India sampai Australia yang disebut bangsa Melayu, sudah menggunakan
bahasa yang memiliki kemiripan satu sama lainnya, yakni bahasa Melayu. Penggunaan
bahasa Melayu menjadi “lingua franca” di wilayah yang oleh Logan (1850) disebut
“indonesia” merupakan cikal bakal lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mampu
memberikan kekuatan luar biasa dalam mempersatukan bangsa Indonesia yang multi etnis,
agama, dan budaya. Kekuatan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional menjadi lebih
kokoh setelah dalam undang-undang dasar negara, salah satu pasalnya memuat tentang
kedudukan bahasa Indonesia, yakni Bab XV Pasal 36 UUD 1945.


B. Bahasa Indonesia vs Bahasa Gaul
       Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang berfungsi sebagai alat komunikasi
mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Kebenaran berbahasa akan berpengaruh
terhadap kebenaran informasi yang disampaikan. Berbagai fenomena yang berdampak
buruk pada kebenaran berbahasa yang disesuaikan dengan kaidahnya, dalam hal ini
berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
       Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis
terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu
pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama.
Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus
dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa
seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari
sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan
menjadi tidak baik.
         Berbahasa yang baik menempatkan pada kondisi tidak resmi atau pada pembicaraan
santai tidak mengikat kaidah bahasa di dalamnya. Ragam berbahasa seperti ini
memungkinkan munculnya gejala bahasa baik interferensi, integrasi, campur kode, alih kode
maupun bahasa gaul.
         Dewasa ini pemakaian bahasa Indonesia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun
dunia film mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal
dengan bahasa gaul. Interferensi bahasa gaul kadang muncul dalam penggunaan bahasa
Indonesia dalam situasi resmi yang mengakibatkan penggunaan bahasa tidak baik dan tidak
benar.
         Bahasa gaul merupakan salah satu varian dari bahasa Indonesia sebagai bahasa
untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul
dikenal sebagai bahasanya para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem
dalam pergaulan sebagai preman. Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan
bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari
semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa
nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
         Dewasa ini, bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia
menjadi bahasa gaul. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul merupakan dialek bahasa
Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu.
Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian
mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan
kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.
         “Bahasa gaul? Gw banget!” itulah slogan yang seringkali diucapkan para remaja
masa kini di Indonesia. Ditengarai bahasa gaul tidak hanya mewabah di kalangan remaja
saja, tetapi sering juga digunakan oleh para orang tua jaman sekarang. Bahasa gaul adalah
bahasa yang senantiasa berkembang sebagai bahasa pergaulan (www.wikipedia.org). Selain
itu dalam situs Lubis Grafura (lubisgrafura.wordpress.com/) menyatakan bahwa bahasa gaul
merupakan variasi bahasa non-resmi yang memiliki karakteristik yang biasanya berupa
singkatan dan kosa kata. Jadi dapat ditarik kesimpulan yang dimaksud dengan bahasa gaul
ialah variasi bahasa yang senantiasa berkembang, bersifat sementara, dan biasanya berupa
singkatan dan kosa kata baru. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya variasi
bahasa, meliputi tempat, waktu, situasi, dan pemakainya.
       Jika ditinjau dari sisi manfaat, bahasa gaul hanya dapat memberikan manfaat pada
komunitas tertentu saja, yakni kalangan anak muda untuk kelancaran berkomunikasi di
lingkungan mereka. Apakah bahasa gaul memberikan dampak yang merugikan bagi
perkembangan bahasa Indonesia? Faktanya sekarang: bahasa gaul dapat merusak sikap
moral positif generasi muda akan kecintaannya terhadap bahasa Indonesia. Generasi mudah
sudah jarang menggunakan bahasa Indonesia yang formal. Bahasa gaul dapat digunakan
untuk hal-hal yang kurang terpuji, misalnya memprovokasi atau sejenisnya. Bahasa gaul
dapat menggeser kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah. Sehingga tidak heran
kalau banyak bahasa daerah yang terancam punah karena penuturnya sudah sangat sedikit.
Akibat buruk yang lain dari penggunaan bahasa gaul ini adalah generasi muda semakin
berkurang kecintaannya terhadap bahasa Indonesia. Tidak menjunjung tinggi bahasa
persatuan dan merasa malu berbahasa formal. Lebih parah lagi, bahwa generasi muda akan
lupa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dari etika berbahasa, kebiasaan
menggunakan bahasa gaul akan mengidikasikan prilaku yang kurang sopan.
       Jika terus menerus digunakan, bahasa gaul akan menghilangkan tata bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Menurut hasil survei, kini untuk mencari orang-orang yang
benar-benar murni menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sudah jarang sekali.
Kini sudah banyak yang tidak lagi memperdulikan bahasa yang selama ini menjadi
kebanggaan bangsa Indonesia yang memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa persatuan, bahasa
Indonesia. Apakah kita mau bahasa persatuan bukan lagi bahasa Indonesia melainkan
bahasa gaul? Dimana letak rasa cinta terhadap tanah air? Dimana lagi kita pegang dan
pertahankan janji yang diikrarkan para pemuda Indonesia dari Sabang sampai Marauke
dalam perjanjian tertulis Sumpah Pemuda?
       Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Jika bahasa gaul terus menerus
digunakan secara berlebihan di Indonesia, kita lihat saja manakah yang lebih unggul bahasa
gaul atau bahasa Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Jangan heran jika mungkin
nantinya bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa yang tidak asli karena penuturnya terus
menerus menggunakan bahasa gaul. Jangan heran juga jika mungkin suatu saat bahasa
Indonesia dipatenkan oleh negara lain seperti kasus-kasus lainnya.




C. Peran Media Massa
          “Saat ini banyak media massa yang masih ikut berperan merusak bahasa Indonesia.
Ini tentunya sangat memprihatinkan. Maka itu kami meminta agar media massa juga ikut
berperan menjaga bahasa Indonesia,” (Mara Untung, dosen Jurusan Bahasa Indonesia,
Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Medan). Lebih jauh
Untung mengatakan, dari hasil kajian yang dilakukan Jurusan Bahasa Indonesia Unimed
menunjukkan peningkatan yang tajam terhadap perusakan bahasa Indonesia oleh media
massa. Kondisi ini dikatakannya dipicu oleh persaingan antarmedia untuk menarik perhatian
publik.
          Kondisi yang terjadi di Medan sebagaimana dipaparkan di atas, tak jauh berbeda di
dengan di Jambi. Media massa cetak dan elektronik di daerah ini seakan berlomba-lomba
“melacurkan” bahasa Indonesia dengan sesuka hatinya. Jika kita mau jujur mengamati
bahasa tulis dan bahasa tutur dari media massa yang ada, kita mestinya malu melihat prilaku
penggunaan bahasa Indonesia yang carut-marut. Padahal, sebagai penyuara dan perantara,
media massa seharusnyalah menjadi senjata di garda paling depan untuk menjaga dan
memperjuangkan bahasa Indonesia supaya tetap eksis dan bermartabat di kalangan
penuturnya. Penggunaan kata yang tidak baku, penggunaan kalimat yang tidak terstruktur
baik, belum lagi penggunaan ejaan yang serampangan, adalah menu setiap hari yang harus
kita saksikan dalam media massa yang ada di depan kita. Kalau sudah begini apa yang harus
kita lakukan? Adalah tugas generasi muda        dan kita bersama untuk tetap “menjaga”
keutuhan bahasa Indonesia.
   ”Apabila fenomena demikian terus dibiarkan bahkan semakin dilegalisasi, maka ke depan
    bahasa Indonesia akan semakin terpuruk, yang lebih berbahaya lagi akan tercerabutnya
    generasi penerus dari akar budaya bangsa. Oleh karena itu, mendesak pemerintah untuk
 mengeluarkan kebijakan untuk membudayakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan
   benar secara menyeluruh, terutama di lembaga swasta dan instansi. Inilah wujud menjaga
                                martabat bahasa Indonesia”


D. Aku Cinta Bahasa Indonesia, Seberapa Sering Aku Menulis?
       Hasil beberapa penelitian, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSM,
masyarakat kita belum memiliki kecintaan membaca dan menulis, yang dapat diteladani
anak-anak (baca: peserta didik). Padahal, disadari atau tidak, kebiasaan membaca dan
menulis itu menjadi modal dasar untuk mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar
(Cox 1987), dan Chall, Jacobs dan Baldwin (1990). Disadari atau tidak, melalui aktivitas
menulis kelangsungan bahasa Indonesia akan terpelihara dengan baik. Akar dari kegiatan
menulis adalah membaca, logika dasarnya adalah, jika seseorang banyak membaca, maka
dapat dipastikan ia akan dapat menulis dengan baik. Semakin banyak ilmu yang diserapnya
(melalui membaca), makan semakin banyak pula ide yang akan ia tuangkan dalam bentuk
tulisan. Sebagaimana diungkakan Gol A Gong (2010), ”Siapapun Anda, apa pun Anda, jika
tidak membaca di masa akan datang Anda akan kalah”.
       Kegagalan benjaga kemartabatan banahasa Indonesia sekarang ini semakin kentara.
Dalam beberapa kebijakannya, pemerintah mewajibkan bahasa Inggris menjadi bahasa
pengantar untuk beberapa mata pelajaran pada sekolah-sekolah yang disebut ”bertaraf
internasional”. Jika sudah seperti ini, mau dibawa kemanakah bahasa Indonesia? Secara
terang-terangan bahasa Indonesia ”dimarjinalkan” keberadaannya. Padahal, pada sisi dan di
dunia lain, bahasa Indonesia mendapat tempat yang terhormat.
       Bahasa Indonesia dipelajari di negara asing. Di Ferny Grove State School di Brisbane,
Queensland, Australia, bahasa Indonesia cukup diminati sehingga diajarkan sejak SD, SMP,
hingga SMA. Bahkan, untuk ”menjaga” keberlangsungan hidup bahasa Indonesia di Australia,
22 April 2010 yang lalu, Balai Bahasa Indonesia (BBI) diresmikan berdiri, yang berada di
Perth, Australia Barat (http://sungkowoastro.blogspot.com).
       Menulis    merupakan     aktivitas   produktif.   Melalui   menulis   orang    dapat
mengekspresikan ide-idenya dengan kata-kata. Aktivitas menelurkan kata-kata menjadi
rangkaian yang harmonis sampai membentuk suatu karya yang bermanfaat bagi orang lain
inilah membuat bahasa terjaga keutuhannya. Penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan
benar dalam semua unsurnya, akan menjadikan bahasa Indonesia lebih terjaga dan
bermartabat di mata penuturnya.
       Verba valent, scripta manent. Secara bebas, pepatah latin ini, kita artikan: perkataan
akan cepat hilang, sedangkan tulisan akan tetap abadi. Jika diterjemahkan, maka hasil
kreativitas menulis akan jauh lebih bermanfaat bagi manusia lainnya karena sifatnya yang
abadi. Bandingkan dengan berbicara? Ketika orang berbicara, seketika itu juga akan
berangsur hilang. Kecuali jika pembicaraan tersebut ditulis.
       Pada dasarnya menulis itu adalah sebuah komunikasi. Interaksi yang “taktiktuk
tiktok” namun disampaikan dengan cara-cara sistematis dan tercatat dengan sangat kreatif
dan kaya akan pemaknaan. Untuk merumuskannya dalam bentuk tulisan setidaknya seorang
penulis didukung oleh kekuatan-kekuatan tertentu, yaitu pengetahuan, pengalaman dan
keinginan untuk menyatakan ”diri”. Inilah awal bagi kita untuk menjaga bahasa. Sebuah
tulisan yang baik dan komunikatif adalah yang mampu menjaga komunikasi antara penulis
dengan pembaca. Semakin sering menulis, maka akan semakin baik bahasa tulisan. Dengan
demikian akan semakin terjaga martabat bahasa.
       Lalu bagaimana supaya menulis itu gampang? Berikut ini beberapa trik untuk menulis
yang disarikan dari beberapa sumber bacaan. 1) Menulis dengan sepenuh hati. Menulislah
dengan sepenuh hati tanpa ada perasaan terpaksa. Anda tidak akan mengalami kesulitan
dalam mencari kata-kata. Mengalir saja, tulis semua yang ingin anda tulis. Jadi, anda dapat
menulis apa saja yang anda sukai supaya jiwa anda terasa masuk dalam tulisan. Selain itu,
tulisan anda juga tidak terkesan dipaksakan. 2) Menulis yang bermanfaat. Setiap orang yang
membaca tulisan Anda tidak akan mendapatkan kehampaan. Mereka punya hal-hal baru
yang bermanfaat dan setiap pembaca dapat menerapkan manfaat ini untuk kepentingan
mereka. Jadi, kita harus menulis sesuatu yang berguna untuk orang banyak. Berikanlah
informasi sebanyak mungkin supaya pembaca tidak merasa sia-sia membaca hasil tulisan
Anda. 3) Cari solusi untuk persoalan orang lain. Kenali calon pembaca lalu analisis kesulitan
dan kebutuhan pembaca. 4) Jangan hanya menulis tentang diri sendiri. Berbagi apa yang
anda alami tapi juga bagikan apa yang dipelajari banyak orang. Jangan hanya membicarakan
diri                                      anda                                       sendiri.
5) Sentuhlah pembaca anda. Coba buat interaksi dengan semua pembaca anda. Caranya
bagaimana? Buatlah komunikasi baik secara langsung maupun tak langsung dengan
pembaca. 6) Buatlah headline yang menarik. Headline atau judul tulisan jadi salah satu
faktor penentu banyak atau tidaknya pembaca yang tertarik. Kenapa? Karena siapapun yang
ingin membaca, tentunya ia akan membaca judul terlebih dahulu. Betapapun menariknya
content tulisan, bila judulnya tidak menarik hati pembaca, maka akan sia-sia saja. 7) Fokus
terhadap hal yang penting saja. Tulislah content dan berinteraksi dengan pembaca dengan
baik. Jika hal ini diperhatikan, maka pembaca akan memberikan penilaian yang baik.
       Ketujuh kiat di atas adalah bukan jimat. Tetapi, setidak-tidaknya akan memberikan
peluang bangi kita, khususnya generasi muda untuk “menjaga” harkat dan martabat bahasa
Indonesia. Di tengah keterpurukan dan keterasingan seperti saat ini, kita harus dapat
menjaga dan membangkitkan semangat “menjunjung” tinggi bahasa Indonesia.




DAFTAR RUJUKAN


Badudu, JS. 1995. Inilah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Jakarta: PT. Gramedia
        Pustaka Utama.
Bloom, L.& Lahey, M., 1978. Language Development and Language Disorders. New York:
        John Wiley & Sons.
Chall, J.S., Jacobs, V.A.,& Baldwin, L.E. 1990. The Reading Crisis. Why Poor Children Fall
        Behind in Reading. Cambridge: Harvard University Press.
Gong, Gol A. 2010. Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Nggak Meledak. Serang-Banten: Gong
        Publishing.
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi, Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende-Flores: Nusa
        Indah.
Kuncoro, Mudrajat. 2009. Mahir Menulis, Kiat Jitu Menulis Artikel Opini, Kolom dan Resensi
        Buku. Jakarta: Erlangga.
Santoso, K.B. 1990. Problematika Bahasa Indonesia, Sebuah Analisis Praktis Bahasa Baku.
        Jakarta: Rineka Cipta.
Suparno dan M. Yunus. 1986. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.
http://www.anneahira.com/pengertian-budaya-lokal.htm, diundu Minggu, 10 Oktober 2010.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1238
posted:10/28/2010
language:Indonesian
pages:9