Docstoc

ASKEP RABIES 1

Document Sample
ASKEP RABIES 1 Powered By Docstoc
					                                           BAB I
                                       PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
          Rabies merupakan penyakit virus akut dari sistem saraf pusat yang mengenai semua
mamalia dan ditularkan oleh sekresi yang terinfeksi biasanya saliva. Sebagian besar pemajanan
terhadap rabies melalui gigitan binatang yang terinfeksi, tapi kadang aerosol virus atau proses
pencernaan atau transplantasi jaringan yang terinfeksi dapat memulai proses penyakit.
          Secara umum, penularan rabies terjadi diakibatkan infeksi karena gigitan binatang.
Namun rabies juga dapat menular melalui beberapa cara antara lain melalui cakaran hewan,
sekresi yang mengkontaminasi membrane mukosa, virus yang masuk melalui rongga
pernapasan, dan transplantasi kornea. Virus rabies menyerang jaringan saraf, dan menyebar
hingga system saraf pusat, dan dapat menyebabkan encephalomyelitis (radang yang mengenai
otak dan medulla spinalis)
          Kematian karena infeksi virus rabies boleh dikatakan 100% bila virus sudah mencapai
sistem saraf pusat. Dari tahun 1857 sampai tahun 1972 dari kepustakaan dilaporkan 10 pasien
yang sembuh dari rabies namun sejak tahun 1972 hingga sekarang belum ada pasien rabies yang
dilaporkan hidup. Prognosis seringkali fatal karena sekali gejala rabies telah tampak hampir
selalu kematian terjadi 2-3 hari sesudahnya sebagai akibat gagal nafas/henti jantung ataupun
paralisis generalisata. Berbagai penelitian dari tahun 1986 hingga 2000 yang melibatkan lebih
dari 800 kasus gigitan anjing pengidap rabies di negara endemis yang segera mendapat
perawatan luka, pemberian VAR dan SAR, mendapatkan angka survival 100%.
         Tidak ada terapi untuk penderita yang sudah menunjukkan gejala rabies; penanganan
hanya berupa tindakan suportif dalam penanganan gagal jantung dan gagal nafas.Walaupun
tindakan perawatan intensif umumnya dilakukan, hasilnya tidak menggembirakan.perawatan
intensif hanyalah metode untuk memperpanjang dan bila mungkin menyelamatkan hidup pasien
dengan mencegah komplikasi respirasi dan kardiovaskuler yang sering terjadi. Oleh karena itu
diperlukan tindakan penanganan yang efektif dan efisien baik penanganan profilaksis pra
pajanan maupun penanganan pasca pajanan.Sehingga akibat buruk akibat virus ini dapat
diminimalkan. Berbagai penelitian dari tahun 1986 hingga 2000 yang melibatkan lebih dari 800
kasus gigitan anjing pengidap rabies di negara endemis yang segera mendapat perawatan luka,
pemberian VAR dan SAR, mendapatkan angka survival 100%.4

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum
        Untuk dapat menjelaskan penyakit rabies mulai dari definisi, etiologi, epidemiologi,
perjalanan penyakit hingga penanganan dan prognosis dari penyakit ini.
1.2.2 Tujuan Khusus
        1) Untuk Melengkapi tugas mata kuliah Epidemiologi Keperawatan
        2) Memenuhi nilai standar yang ada dikampus STIKES Darul Azhar Batulicin
        3) Bahan pembelajaran seminar
        4) Memperdalam permasalahan dan menghubungkannya dengan promosi kesehatan




1
                                           BAB II
                                   KONSEP DASAR PENYAKIT



2.1 Pengertian
         Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang
disebabkan oleh virus rabies, dan ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies terutama
anjing, kucing, dan kera.
         Klasifikasi
         Order : Mononegavirales
         Famili : Rhabdoviridae
         Genom : Lyssavirus
         Spesies : Rhabdovirus (Virus Rabies)
Rabies adalah suatu penyakit infeksi virus akut pada susunan saraf pusat pada manusia dan
mamalia yang selalu fatal, yang ditularkan langsung kepada manusia dari hewan yang
terinfeksi.melalui gigitan atau kulit yang terluka yang terpapar dengan air liur hewan itu.
Penyakit ini tergolong Zoonosis.Hewan penular yang paling sering adalah anjing (90%), sehingga
di Indonesia disebut juga penyakit Anjing Gila. Hewan lain yang bisa menularkan adalah kucing,
kera, raccoon, dan kelelawar. Diseluruh dunia penyakit ini menyebabkan lebih dari 30.000 orang
meninggal setiap tahunnya.

2.2 Etiologi
Adapun penyebab dari rabies adalah :
      Virus rabies.
      Gigitan hewan atau manusia yang terkena rabies
      Air liur hewan atau manusia yang terkena rabies.
Kuman penyebabnya adalah golongan Virus genus Lyssa-virus, famili Rhabdoviridae yang
berbentuk seperti peluru dengan diameter 75 - 80 nm.Virus ini masuk kedalam aliran darah
manusia lewat luka gigitan hewan terinfeksi melalui air liur (saliva). Virus bergerak dari luka
gigitan melalui serabut saraf menuju ke otak, yang kemudian akan menyebabkan terjadinya
peradangan otak (ensefalitis), iritasi dan pembengkakan yang akan menyebabkan timbulnya
gejala-gejala penyakit.




1
2.2.1 Struktur
        Virus rabies atau Rhabdovirus merupakan salah satu virus yang mempunyai sifat
morfologik dan biokimiawi yang lazim dengan virus somatis vesikuler sapi dan beberapa virus
hewan, tanaman, dan serangga. Virus rabies dan jenis virus lainnya terdiri dari dua komponen
dasar, yaitu sebuah inti dari asam nukleat yang disebut genom dan yang mengelilingi protein
yang disebut kapsid.
                                                                  Rhabdovirus      merupakan
                                                                  partikel berbentuk batang
                                                                  atau peluru berdiameter 75
                                                                  nm x panjang 180 nm.
                                                                  Partikel dikelilingi oleh
                                                                  selubung selaput dengan
                                                                  duri yang menonjol yang
                                                                  panjangnya 10 nm, dan
                                                                  terdiri dari glikoprotein
                                                                  tunggal.

                                                             Genom beruntai tunggal, RNA
                                                     negative-sense (12 kb; BM 4,6 x 106) yang
                                                     berbentuk linear dan tidak bersegmen.
                                                     Sebuah virus rabies yang lengkap diluar
                                                     inang (virion) mengandung polimerase
                                                     RNA. Komposisi dari virus rabies ini adalah
                                                     RNA sebanyak 4%, protein sebanyak 67%,
                                                     lipid sebanyak 26%, dan karbohidrat
                                                     sebanyak 3%. Rhabdovirus melakukan
                                                     replikasi dalam sitoplasma dan virion
                                                     bertunas dari selaput plasma. Karakter
                                                     yang menonjol dari
                                                     Rhabdovirus ini merupakan virus yang
                                                     bersusun luas dengan rentang inang yang
                                                     lebar. Virus ini merupakan jenis virus uang
                                                     mematikan. Kapsid melindungi genom dan
juga memberikan bentuk pada virus.

2.3 Patofisiologi
       Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi
kepada hewan lainnya atu manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan.Virus akan
berpindah dari tempatnya masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak,
dimana mereka berkembangbiak.
       Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf menuju ke kelenjar liur dan masuk ke
dalam air liur.Banyak hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia. Yang paling sering
menjadi sumber dari rabies adalah anjing;




1
                                                        Semua hewan berdarah panas rentan
                                                        dengan Rabies. Penyakit Rabies secara
                                                        alami terdapat pada:
                                                               Anjing
                                                               Kucing
                                                               Kera
                                                               Kelelawar
                                                                Karnivora Liar




         Pertama-tama, virus rabies ini akan melekat atau menempel pada dinding sel inang.
Virus rabies melekat pada sel melalui duri glikoproteinnya, reseptor asetilkolin nikotinat dapat
bertindak sebagai reseptor seluler untuk virus rabies. Kemudian secara endositosis virus
dimasukan ke dalam sel inang. Pada tahap penetrasi, virus telah masuk kedalam sel inang dan
melakukan penyatuan diri dengan sel inang yang ia tempati. Lalu terjadilah transkripsi dan
translasi. Genom RNA untai tunggal direkam oleh polymerase RNA terkait, virion menjadi lima
spesies mRNA. mRNAs monosistronik ini menyandi untuk lima protein virion.
         Genom ini merupakan cetakan untuk perantara replikatif yang menimbulkan
pembentukan RNA keturunan. RNA genomik berhubungan dengan transkriptase virus,
fosfoprotein dan nukleoprotein. Setelah enkapsidasi, partikel berbentuk peluru mendapatkan
selubung melalui pertunasan yang melewati selaput plasma. Protein matriks virus membentuk
lapisan pada sisi dalam selubung, sementara glikoprotein virus berada pada selaput luar dan
membentuk duri. Setelah bagian-bagian sel lengkap, sel virus tadi menyatukan diri kembali dan
membentuk virus yang baru. Setelah itu virus keluar dari sel inang dan menginfeksi sel inang
yang lainnya.
         Keseluruhan proses dalam siklus hidup virus rabies ini terjadi dalam sitoplasma. Virus
rabies membelah diri dalam otot atau jaringan ikat pada tempat inokulasidan kemudian
memasuki saraf tepi pada sambungan neuromuskuler dan menyebar sampai ke susunan saraf
pusat. Virus membelah diri disini dan kemudian menyebar melalui saraf tepi ke kelenjar ludah
dan jaringan lain. Kepekaan terhadap infeksi dan masa inkubasinya bergantung pada latar
belakang genetik inang, strain virus yang terlibat, konsentrasi reseptor virus pada sel inang,
jumlah inokulum, beratnya laserasi, dan jarak yang harus ditempuh virus untuk bergerak dari
titik masuk ke susunan saraf pusat. Terdapat angka serangan yang lebih tinggi dan masa inkubasi
yang lebih pendek pada orang yang digigit pada wajah atau kepala. Virus rabies menghasilkan
inklusi sitoplasma eosinofilik spesifik, badan Negri, dalam sel saraf yang terinfeksi. Adanya inklusi
seperti ini bersifat patognomonik rabies tetapi tidak terlihat pada sedikitnya 20% kasus. Karena
itu, tidak adanya badan Negri tidak menyingkirkan diagnosis rabies. (Lihat Gambar)
         hewan lainnya yang juga bisa menjadi sumber penularan rabies adalah kucing,
kelelawar, rakun, sigung, rubah.Rabies pada anjing masih sering ditemukan di Amerika Latin,
Afrika dan Asia, karena tidak semua hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi untuk penyakit
ini.Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas atau rabies jinak.Pada rabies buas, hewan
yang terkena tampak gelisah dan ganas, kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada rabies jinak,


1
sejak awal telah terjadi kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total.Meskipun sangat-sangat
jarang, rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara yang tercemar.Telah dilaporkan 2 kasus
yang terjadi pada penjelajah yang menghirup udara di dalam goa dimana banyak terdapat
kelelawar.

2.4 Penularan dan Penyebaran
    Diseluruh dunia, anjing merupakan hewan yang paling berisiko untuk menularkan rabies
kepada manusia.Di Amerika dan Inggeris sudah meluas dan ekstensif program vaksinasi
terhadap hewan piaraan.




    Inggeris telah berhasil mengeradikasi rabies, dan tidak diizinkan membawa hewan piaraan
ke Inggeris sebelum menjalani karantina 6 bulan.
        Di Indonesia, rabies diduga telah lama ada, namun laporan resmi ditulis pertama kali
oleh Penning di Jawa Barat, tahun 1889. Peraturan tentang rabies telah ada sejak tahun 1926
(Hondsdolsheid Ordonansi Nomor 451 dan 452), diikuti oleh Staatsblad 1928 Nomor 180, SK
Bersama Tiga Menteri (Pertanian, Kesehatan, dan Dalam Negeri) tahun 1978, dan Pedoman
Khusus dari Menteri Pertanian (1982). Sebelum Perang Dunia II, selain Jawa Barat rabies hanya
ditemukan di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Pada 1945-1980,rabies ditemukan di Jawa
Tengah dan Jawa Timur (1953), Sulawesi Utara (1956), Sumatera Selatan (1959), Lampung
(1969), Jambi dan Yogyakarta (1971), DKI Jaya dan Bengkulu (1972), Kalimantan Timur (1974),
Riau (1975), dan Kalimantan Tengah (1978). Ambon, Flores, Palangkaraya, dan Papua adalah
sebagian daerah endemik rabies.
        Tahun 1960, Prof AA Ressang, mantan guru besar Kesehatan Masyarakat Veteriner UI
(sekarang IPB), mengungkapkan bahwa rabies adalah "the Incurable Indonesian Wound" (luka
Indonesia yang tidak kunjung sembuh) dalam jurnal Com.Vet 4:1. Ungkapan di atas ternyata
masih berlaku sampai kini. Dari data pada penulis, tahun 1997 sampai 2003 dilaporkan lebih dari
86.000 kasus gigitan tersangka Rabies (rata-rata 12.400 kasus pertahun) dan yang terbukti
Rabies 538 orang (rata-rata 76 kasus pertahun). Di Medan, yang diketahui penulis sepanjang
tahun 2007, ditemukan lebih dari 60 kasus gigitan anjing yang tersangka rabies.



1
2.5 Manifestasi Klinis
    Ada 4 stadium:
             pertama, Stadium prodromal, biasanya 1 - 4 hari dengan demam yang tidak
                begitu tinggi, nyeri pada daerah bekas gigitan, rasa lesu. Gejala ini tidak spesifik,
                sama seperti pada penyakit lainnya.
             Stadium kedua disebut Ensefalitis akut (peradangan otak) yg timbul setelah
                beberapa hari setelah timbul gejala prodromal dengan kejang, halusinasi, kejang
                pada otot pinggang, dan otot anggota gerak, keluar air mata yang berlebihan,
                dan sekresi air liur juga berlebihan.
             Stadium ketiga disebut Disfungsi batang otak, tejadi gangguan saraf pusat
                berupa : pandangan double (diplopia), kelumpuhan saraf muka, hidrofobia, yaitu
                bila penderita diberi air minum, pasien menerimanya oleh karena haus, tetapi
                kehendak ini dihalangi oleh spasme/kejang yang hebat dari otot tenggorokan,
                kontraksi otot faring dan otot pernafasan sehingga pasien merasa takut
                terhadap air.
             Stadium keempat, Stadium Koma dan terjadinya kematian atau sembuh, tapi
                hampir seluruh pasien berakhir dengan kematian.
                                                               Gejala biasanya mulai timbul
                                                      dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi,
                                                      tetapi masa inkubasinya bervariasi dari 10
                                                      hari sampai lebih dari 1 tahun. Masa
                                                      inkubasi biasanya paling pendek pada
                                                      orang yang digigit pada kepala, tempat
                                                      yang tertutup celana pendek, atau bila
                                                      gigitan terdapat di banyak tempat.Pada
                                                      20% penderita, rabies dimulai dengan
                                                      kelumpuhan pada tungkai bawah yang
                                                      menjalar ke seluruh tubuh. Tetapi penyakit
                                                      ini biasanya dimulai dengan periode yang
                                                      pendek dari depresi mental, keresahan,
tidak enak badan dan demam.
         Keresahan akan meningkat menjadi kegembiraan yang tak terkendali dan penderita
akan mengeluarkan air liur. Kejang otot tenggorokan dan pita suara bisa menyebankan rasa sakit
luar biasa.

         Kejang ini terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan
dan pernafasan. Angin sepoi-sepoi dan mencoba untuk minum air bias menyebabkan
kekejangan ini.Oleh karena itu penderita rabies tidak dapat minum.Karena hal inilah, maka
penyakit ini kadang-kadang juga disebut hidrofobia (takut air).
Gejala infeksi rabies dapat timbul beberapa hari bahkan lebih dari satu tahun setelah
gigitan.Gejala pertama yang khas adalah rasa kejang pada daerah sekitar luka gigitan/tempat
masuknya virus.Sering kali gejala ini diikuti oleh demam, sakit kepala, sakit otot, hilang nafsu
makan, nausea dan kelelahan.
Seiring berjalannya infeksi akan timbul gejala-gejala lainnya berupa:


1
    Keresahan berlebihan
    Gerakan berlebihan atau agitasi]
    Halusinasi
    Agresivitas
    Pikiran-pikiran yang tidak normal
    Otot gemetar
    Kejang-kejang
    Kelemahan/kelumpuhan sebagian anggota tubuh
    Reaksi kepekaan berlebihan terhadap cahaya, suara, sentuhan dan air
    Produksi air liur yang berlebihan
    Kesulitan berbicara
Pada tahap terparah infeksi seiring menyebarnya virus ke seluruh tubuh, maka timbul gejala
sebagai berikut:
3 Pengelihatan ganda
4 Kesulitan pergerakan otot-otot muka
5 Abnormalitas pergerakan diafragma dan otot-otot pernapasan
6 Kesulitan menelan dan produksi air liur berlebihan, menyebabkan timbulnya busa pada
   mulut
7 Kelumpuhan seluruh tubuh
8 Kematian

2.6 Diagnosa Banding
        Rabies harus difikirkan pada semua penderita dengan gejala neurologik, psikiatrik atau
laringofaringeal yang tak bisa dijelaskan, khususnya bila terjadi di daerah endemis atau orang
yang mengalami gigitan binatang pada daerah endemis rabies.
        Penderita rabies harus dibedakan dengan rabies histerik yaitu suatu reaksi psikologik
orang-orang yang terpapar dengan hewan yang diduga mengidap rabies. Penderita dengan
rabies histerik akan menolak jika diberikan minum (pseudohidropobia) sedangkan pada
penderita rabies sering merasa haus dan pada awalnya akan menerima air dan minum, yang
akhirnya menyebabkan spasme laring.
        Tetanus dapat dibedakan dengan rabies melalui masa inkubasinya yang pendek, adanya
trismus, kekakuan otot yang persisten diantara spasme, status mental normal, cairan
serebrospinal biasanya normal dan tidak terdapat hidropobia.Ensefalitis dapat dibedakan
dengan metode pemeriksaan virus dan tidak dijumpai hidropobia.
        Rabies paralitik dapar dikelirukan dengan Syndroma Guillain Barre transverse myelitis,
japanese ensefalitis, herpes simpleks ensefalitis, poliomielitis atau ensefalitis post vaksinasi.
Pada poliomielitis saat timbul gejala neurologik sudah tidak ada demam, dan tidak ada gangguan
sensorik. Ensefalitis post vaksinasi rabies terjadi 1 :200 – 1:1600 pada vaksinasi nerve tissue
rabies vaccine, dibedakan dengan mulai timbulnya gejala cepat, dalam 2 minggu setelah dosis
pertama. Pemeriksaan neurologik yang teliti dan pemeriksaan laboratorium berupa isolasi virus
akan membantu diagnosis.
            1. Intoksikasi obat-obatan
            Keracunan obat-obatan dapat memperlihatkan gejala yang mirip dengan rabies
            misalnya koma (intoksikasi obat hipnotik), pupil midriasis dan anisokor (intoksikasi
            atropin atau morfin), kejang (intoksikasi amfetamin), hambatan pada pusat napas


1
           (intoksikasi insektisida), hingga henti jantung (intoksikasi antidepresan trisiklik dan
           digitalis).Seluruh gejala ini dapat ditemukan pada rabies jika virus telah menyerang
           susunan saraf pusat.Anamnesis yang cermat dan teliti diperlukan untuk
           membedakan kedua kelainan ini.
           2. Ensefalitis
           Rabies sendiri dapat menyebabkan ensefalitis karena virus sehingga gejala yang
           muncul sangat mirip misalnya prilaku yang tidak normal, perubahan kepribadian,
           kejang, sakit kepala, dan fotofobia.Alergi terhadap vaksin rabies juga dapat
           menyebabkan ensefalitis.Anamnesis mengenai riwayat digigt hewan, kontak dengan
           saliva, serta bepergian ke daerah endemik rabies dapat menegakkan diagnosis.
           3. Tetanus
           Seperti rabies, tetanus juga dapat menyebabkan demam, nyeri dan parestesia di
           sekitar luka dan kejang.Akan tetapi kejang pada tetanus sifatnya tonik dan adanya
           kontak dengan hewan liar dapat membedakan keduanya.
           4. Histerikal pseudorabies
           Reaksi berlebihan karena digigit hewan yang terjadi segera setelah penderita kontak
           dengan hewan sedangkan pada rabies tidak demikian karena adanya masa inkubasi.
           5. Poliomielitis
           Mirip dengan rabies tipe paralitik akan tetapi pada poliomyelitis terdapat demam
           dan kelumpuhan yang bersifat asimetrik, arefleksi, dan atrofi otot (gejala LMN).

        Diagnosa banding dalam kasus pasien suspek rabies pada umumnya karena infeksi dari
virus seperti herpesvirus, enterovirus, dan arbovirus.Virus yang sangat penting untuk dijadikan
diagnosa banding adalah herpes simpleks tipe 1, varicella-zooster dan enterovirus seperti
coxsackievirus, echovirus, poliovirus, dan enterovirus manusia 68 hingga 71.Faktor epidemilogik
seperti cuaca, lokasi geograpi, umur pasien, riwayat perjalanan, dan pajanan yang mungkin
untuk tergigit binatang dapat membantu menolong penegakan diagnosa.

2.7 Komplikasi
    Berbagai komplikasi dapat terjadi pada penderita rabies dan biasanya timbul pada fase
koma.Komplikasi neurologik dapat berupa peningkatan tekanan intrakranial; kelainan pada
hipotalamus berupa diabetes insipidus, sindrom abnormalitas hormon antidimetik (SAHAD);
disfungsi otonomik yang menyebabkan hipertensi, hipotensi, hipertemia/hipotermia, aritmia
dan henti jantung.Kejang dapat lokal maupun generalisata dan sering bersamaan dengan aritmia
dan gangguan respirasi.Pada stadium prodromal sering terjadi komplikasi hiperventilasi dan
alkalosis respiratorik, sedangkan hipoventilasi dan depresi pernafasan terjadi pada fase
neurologik akut. Hipotensi terjadi karena gagal jantung kongestif, dehidrasi dan gangguan
otonomik.

2.8 Penanganan luka
        Pengobatan lokal luka gigitan adalah faktor penting dalam pencegahan rabies.Luka
gigitan harus segera dicuci dengan sabun, dilakukan debridemen dan diberikan desinfektan
seperti alkohol 40-70%, tinktura yodii, atau larutan ephiran 0.1%.luka akibat gigitan binatang
penular rabies tidak dibenarkan untuk dijahit kecuali bila keadaan memaksa dapat dilakukan




1
jahitan situasi. Profilaksis tetanus dapat diberikan dan infeksi bakterial yang berhubungan
dengan luka gigitan perlu diberikan antibiotik.

2.8.1   Profilaksis pasca – paparan
        Dasar vaksinasipost- exposure (pasca paparan) adalah neutralizing antibody terhadap
virus rabies dapat segera terbentuk dalam serum setelah masuknya virus kedalam tubuh dan
sebaiknya terdapat dalam titer yang cukup tinggi selama setahun sehubungan dengan
panjangnya inkubasi penyakit.neutralizing antibody tersebut dapat berasal dari imunisasi pasif
dengan serum antirabies atau secara aktif diproduksi oleh tubuh oleh karena imunisasi aktif.
Secara garis besar ada 2 tipe vaksin anti rabies (VAR) yaitu ;
            1) Nerve Tissue Vaccine (NTV) yang dapat berasal dari otak hewan dewasa seperti
                kelinci, kambing, domba dan monyet atau berasal dari otak bayi hewan mencit
                seperti Suckling Mouse Brain Vaccine (SMBC);
            2) Non Nerve Tissue Vaccine yang berasal dari telur itik bertunas (Duck Embryo
                Vaccine = DEV) dan vaksin yang berasal dari biakan jaringan seperti Human
                Diploid Cell Vaccine (HDCV) dan Purified Vero Cell Rabies Vaccine(PVRV).

        Pada luka gigitan yang ringan pemberian vaksin saja sudah cukup tetapi pada semua
kasus gigitan yang parah adn semua gigitan binatang liar yang biasanya menjadi vektor rabies,
kombinasi vaksin dan serum anti rabies (SAR) adalah yang paling ideal dan memberikan proteksi
yang jauh lebih baik dibandingkan dengan vaksin saja. SAR dapat digolongkan dalam golongan
serum homolog yang berasal dari manusia (Human Rabies Immune Globulin = HRIG) dan serum
heterolog yang berasal dari hewan.
        Cara vaksinasi pasca paparan yang dilakukan pada paparan yang ringan berupa
pemberian VAR secara intramuskuler pada otot deltoid atau anterolateral paha dengan dosis 0.5
mL pada hari 0, 3, 7, 14, 28 (regimen Essen/rekomendasi WHO), atau pemberian VAR 0.5 mL
pada hari 0, 7, 21 (regimen Zagreb/rekomendasi Depkes RI). Karena mahalnya harga vaksin, di
Thailand digunakan regimen yang dinamakan Thai Red Cross Intradermal (TRC- ID), dengan
pemberian dosis 0.1 mL intradermal 2 dosis pada hari 0, 3, 7 kemudian 1 dosis pada hari 28 dan
90. Pada orang yang sudah mendapat vaksin rabies dalam waktu 5 tahun terakhir, bila digigit
binatang tersangka rabies, vaksin cukup diberikan 2 dosis pada hari 0 dan 3, namun bila gigitan
dikategorikan berat, vaksin diberikan lengkap. Pada luka gigitan yang parah, gigitan leher ke
atas, pada jari tangan dan genitalia diberikan SAR 20 IU per kilogram berat badan dosis tunggal.
Cara pemberian SAR adalah setengah dosis infiltrasi pada daerah luka dan setengah dosis
intramuskuler pada tempat yang berlainan dengan suntikan SAR, diberikan pada hari yang sama
dengan dosis pertama SAR.

2.8.2   Profilaksis pra-pemajanan
        Individu dengan resiko kontak dengan virus rabies tinggi-dokter hewan, penyelidik gua,
pekerja laboratorium dan pelatih binatang-sebaiknya mendapat profilaksis pra-pemajanan
dengan vaksin rabies. Wisatawan yang akan berkunjung ke daerah-daerah endemis seperti
Meksiko, Thailand, Filipina, India, Sri Lanka dianjurkan mendapatkan pencegahan pre- exposure.
Vaksin anti rabies diberikan dengan dosis 1 mL secara intramuskuler pada hari ke 0, 7, dan 28
lalu booster setelah 1 tahun dan tiap 5 tahun. Efek samping/komplikasi vaksinasi.




1
         Vaksin anti rabies di samping memberikan perlindungan terhadap rabies juga dapat
memberikan macam-macam reaksi negatif pada tubuh manusia yaitu reaksi lokal, berupa
bengkak, gatal-gatal, eritema dan rasa sakit pada tempat suntikan serta reaksi umum berupa
panas, malaise, mual muntah, diare dan mialgia. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemberian
kompres lokal pad tempat suntikan, anti histamin dan antipiretik.
         Komplikasi neurologi yang cukup berbahaya adalah ensephalomielitis dengan gejala
sakit kepala mendadak, panas, muntah, paresis, paralisis, parestesia, kaku kuduk, ataksia dan
kejang.Komplikasi ini biasanya terjadi pada vaksinasi dengan NTV yang berkaitan dengan protein
myelin yang bersifat ensefalitogenik dan terjadi hipersensitivitas terhadap jaringan saraf.Pada
pemakaian DEV dapat pula terjadi reaksi alergi terhadap protein telur bagi orang yang
hipersensitif.Pada keadaan ini vaksinasi harus dihentikan dan penderita diberikankortikosteroid
dosis tinggi lalu diturunkan dosisnya secara bertahap.Pada pemberian HDCV dapat terjadi gejala
seperti sindroma Guillain Barre, namun sangat jarang.Pada vaksin generasi baru (PRCV) tidak
pernah dialporkan lagi komplikasi ensefalomielitis.
         SAR dapat memberikan efek samping berupa reaksi anafilaksis dan serum
sickness.Reaksi anafilaksis ditangani dengan pemberian adrenalin dan serum sickness diatasi
dengan pemberian kortikosteroid dan antihistamin.
         Dosis booster HDCV disertai demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi pada sekitar 20%
resipien. Lebih dari 6% yang menerima booster HDCV IM mengalami reaksi mirip- kompleks
imun yang ditandai dengan urtikaria, arthritis, nausea, vomitus, dan kadang-kadang angiodema.
Reaksi-reaksi ini akan sembuh sendiri dan tampaknya dihubungkan dengan adanya β-
propriolakton-albumin serum manusia yang berubah dalam vaksin dan timbulnya antibodi IgE
terhadap antigen ini. Individu yang bekerja pada area resiko tinggi sebaiknya mendapat
pengukuran antibodi secara periodik, dan dosis booster dianjurkan untuk mereka dengan titer
antibodi yang rendah.Mereka dengan resiko yang sangat rendah dapat memilih untuk tidak
menerima dosis booster rutin tapi hanya menerima imunisasi aktif dengan substansi yang mana
saja.

2.9 Prognosis
         Kematian karena infeksi virus rabies boleh dikatakan 100% bila virus sudah mencapai
sistem saraf pusat. Dari tahun 1857 sampai tahun 1972 dari kepustakaan dilaporkan 10 pasien
yang sembuh dari rabies namun sejak tahun 1972 hingga sekarang belum ada pasien rabies yang
dilaporkan hidup. Prognosis seringkali fatal karena sekali gejala rabies telah tampak hampir
selalu kematian terjadi 2-3 hari sesudahnya sebagai akibat gagal nafas/henti jantung ataupun
paralisis generalisata. Berbagai penelitian dari tahun 1986 hingga 2000 yang melibatkan lebih
dari 800 kasus gigitan anjing pengidap rabies di negara endemis yang segera mendapat
perawatan luka, pemberian VAR dan SAR, mendapatkan angka survival 100%.

2.10 Pemeriksaan Fisik
     Palpasi : Apakah ada kaku kuduk atau tidak?
                   Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ?
                   Adakah pembesaran lien dan hepar ?
     Auskultasi : Adakah suara napas tambahan ?
                   Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ?
                   Adakah bunyi tambahan ?


1
                  Adakah bradicardi atau tachycardia ?
                  Peristaltik usus ?
     Perkusi : Apakah ada distensi abdomen?
                  Infeksi     :    Amati    bentuk     dada    klien,   bagaimana       gerak
                   pernapasan,frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi Intercostale ?
                 Adakah tanda rhisus sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah ada gangguan
                   nervus cranial ?

    2.a.1 Pemeriksaan Penunjang
    1. Elektroensefalogram ( EEG ) : dipakai unutk membantu menetapkan jenis dan fokus dari
        kejang.
    2. Pemindaian CT : menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dri biasanya untuk
        mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
    3. Magneti resonance imaging ( MRI ) : menghasilkan bayangan dengan menggunakan
        lapanganmagnetik dan gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah –
        daerah otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT.
    4. Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasi kejang yang
        membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolik atau alirann
        darah dalam otak.
    5. Darah rutin : dapat ditemukan peningkatan leukosit (8000 – 13000/mm3) dan
        penurunan hemoglobin serta hemtokrit.
    6. Urinalisis : dapat ditemukan albuminuria dan sedikit leukosit.
    7. Mikrobiologi : Kultur virus rabies dari air liur penderita dalam waktu 2 minggu setelah
        onset.
    8. Histologi : dapat ditemukan tanda patognomonik berupa Negri bodies (badan inklusi
        dalam sitoplasma eosinofil) pada sel neuron, terutama pada kasus yang divaksinasi dan
        pasien yang dapat bertahan hidup setelah lebih dari 2 minggu.
    9. Serologi : Dengan mendeteksi RNA virus dari saliva pasien dengan menggunakan
        polymerase chain reactions (PCR).
    10. Cairan serebrospinal : dapat ditemukan monositosis sedangkan protein dan glukosa
        dalam batas normal.

    2.a.2   Uji laboratorium
            1. Pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler.
            2. Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematocrit.
            3. Panel elektrolit.
            4. Skrining toksik dari serum dan urin.
            5. GDA
            6. Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl)
            7. BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi
                 nepro toksik akibat dari pemberian obat.
            8. Elektrolit : K, NaKetidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang,
            9. Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
            10. Natrium ( N 135 – 144 meq/dl.



1
b.     Tindakan Pengobatan
     1) Jika segera dilakukan tindakan pencegahan yang tepat, maka seseorang yang digigit
         hewan yang menderita rabies kemungkian tidak akan menderita rabies. Orang yang
         digigit kelinci dan hewan pengerat (termasuk bajing dan tikus) tidak memerlukan
         pengobatan lebih lanjut karena hewan-hewan tersebut jarang terinfeksi rabies. Tetapi
         bila digigit binatang buas (sigung, rakun, rubah, dan kelelawar) diperlukan pengobatan
         lebih lanjut karena hewan-hewan tersebut mungkin saja terinfeksi rabies.
     2) Tindakan pencegahan yang paling penting adalah penanganan luka gigitan sesegera
         mungkin. Daerah yang digigit dibersihkan dengan sabun, tusukan yang dalam disemprot
         dengan air sabun. Jika luka telah dibersihkan, kepada penderita yang belum pernah
         mendapatkan imunisasi dengan vaksin rabies diberikan suntikan immunoglobulin rabies,
         dimana separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan.
     3) Jika belum pernah mendapatkan imunisasi, maka suntikan vaksin rabies diberikan pada
         saat digigit hewan rabies dan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28. Nyeri dan pembengkakan di
         tempat suntikan biasanya bersifat ringan. Jarang terjadi reaksi alergi yang serius, kurang
         dari 1% yang mengalami demam setelah menjalani vaksinasi.
     4) Jika penderita pernah mendapatkan vaksinasi, maka risiko menderita rabies akan
         berkurang, tetapi luka gigitan harus tetap dibersihkan dan diberikan 2 dosis vaksin (pada
         hari 0 dan 2).
     5) Sebelum ditemukannya pengobatan, kematian biasanya terjadi dalam 3-10 hari.
         Kebanyakan penderita meninggal karena sumbatan jalan nafas (asfiksia), kejang,
         kelelahan atau kelumpuhan total. Meskipun kematian karena rabies diduga tidak dapat
         dihindarkan, tetapi beberapa orang penderita selamat. Mereka dipindahkan ke ruang
         perawatan intensif untuk diawasi terhadap gejala-gejala pada paru-paru, jantung, dan
         otak. Pemberian vaksin maupun imunoglobulin rabies tampaknya efektif jika suatu saat
         penderita menunjukkan gejala-gejala rabies.

     2.b.1   Vaksinasi
             2.b.1.1     Pasca Paparan (Post exposure)
             Secara garis besar ada 2 tipe Vaksin Anti Rabies (VAR), yaitu :
                 a) Nerve Tissue Vaccine (NTV) yang dapat berasal dari otak hewan dewasa
                     seperti kelinci, kambing, domba dan monyet, atau bersal dari otak bayi
                     hewan mencit, seperti Suckling Mouse Brain Vaccine (SMBV).
                 b) Non Nerve Tissue Vaccine yang berasal dari telur itik bertunas (Duck Embryo
                     Vaccine = DEV) dan vaksin yang berasal dari biakan jaringan seperti Human
                     Diploid Cell Vaccine (HDCV) dan Purified Vero Cell Rabies Vaccine (PVRV)
             2.11.1.2    Vaksinasi Pra Paparan (Pre exposure)
             Untuk menghindari infeksi virus rabies, disamping memberikan VAR setelah digigit
             hewan tersangka rabies, pencegahan lebih dini juga dapat dilakukan dengan
             memberikan suntikan yang sama, tetapi dengan waktu, cara, dan dosis yang
             berbeda melalui profilaksis para paparan. Individu yang berisiko tinggi untuk kontak
             dengan virus rabies, seperti dokter hewan yang bertugas menghadapi hewan
             berisiko, petugas kebun binatang, petugas karantina hewan, penangkap binatang,
             petugas laboratorium yang bekerja dengan virus rabies, dokter dan perawat yang




1
            menangani penderita rabies, wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis rabies
            seperti Meksiko, Thailand, Filipina, India, dan Sri langka.

c.     Pencegahan
             Untuk mencegah infeksi pada penderita yang terpapar dengan virus rabies melalui
     kontak ataupun gigitan binatang pengidap atau tersangka rabies, harus dilakukan perawatan
     luka gigitan yang adekuat dan pemberian vaksin anti rabies dan immunoglobulin.Vaksinasi
     perlu juga diberikan kepada individu yang berisiko tertular rabies.
         Langkah-langkah untuk mencegah rabies bisa diambil sebelum terjangkit virus atau
     segera setelah terjangkit. Sebagai contoh, vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang yang
     berisiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu :
              Dokter hewan.
              Petugas laboratorium yang menangani hewan-hewan yang terinfeksi.
              Orang-orang yang menetap atau tinggal lebih dari 30 hari di daerah yang rabies
                  pada anjing banyak ditemukan.
              Para penjelajah gua kelelawar.
              Vaksinasi memberikan perlindungan seumur hidup. Tetapi kadar antibodi akan
                  menurun, sehingga orang yang berisiko tinggi terhadap penyebaran selanjutnya
                  harus mendapatkan dosis buster vaksinasi setiap 2 tahun.
     dapat dilakukan dengan cara:
     f. Vaksinasi secara teratur anjing, kucing, kera dan binatang peliharaan lainnya yang
         berpotensi menularkan rabies melalui gigitan, dan melakukan recording vaksinasi
     g. Mengendalikan tingkah laku hewan peliharaan terutama anjing penjaga dari orang yang
         asing bagi hewan tersebut agar tidak terprovokasi untuk menggigit dengan merantainya,
         kecuali bila memang orang asing tersebut bermaksud tidak baik
     h. Tidak membiarkan hewan peliharaan berkeliaran di luar rumah
     i. Penertiban hewan-hewan liar dengan mengurangi jumlah populasi hewan liar
     j. Tidak memasukkan hewan berisiko penular rabies tanpa izin di daerah yang bebas rabies
     k. Bangkai hewan terinfeksi harus dikremasi/dibakar atau dikubur sedalam-dalamnya
         setelah didiagnosa positif.
     l. Vaksinasi kepada orang yang berisiko tinggi tertular rabies seperti dokter hewan,
         paramedis hewan, petugas lab yang menangani hewan terinfeksi, orang yang menetap
         selama 30 hari atau lebih di daerah tertular rabies serta para penjelajah alam dan gua
         kelelawar

d.     Penanganan Luka
             Pengobatan yang segera terhadap luka gigitan adalah faktor penting dalam
     pencegahan rabies.Luka gigitan harus segera dicuci dengan sabun, dilakukan pembersihan
     luka dan diberi desinfektan seperti alkohol, yodium, atau lainnya.Luka robek akibat gigitan
     hewan yang tersangka rabies tidak dibenarkan dijahit, kecuali keadaan memaksa, dapat
     dilakukan jahitan sementara.Diberikan juga ATS profilaksis dan antibiotik untuk infeksi
     bakteri pada luka.
             Jika seseorang digigit atau memiliki luka yang terkena air liur atau cairan tubuh
     hewan baik yang dicurigai menderita rabies ataupun tidak, harus dilakukan langkah-langkah
     pencegahan infeksi sebagai berikut:




1
       Cuci luka gigitan atau yang terkena cairan tubuh hewan tersebut dengan sabun atau
        deterjen pada air yang mengalir selama sepuluh menit atau lebih. Dianjurkan untuk
        menggunakan air bersih, kemudian dibalut dengan perban
       Segera bawa ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan lebih
        lanjut.
       Jika berada di daerah yang jauh dari fasilitas kesehatan, luka dicuci selama mungkin dan
        tidak boleh dijahit karena akan memperbanyak ujung-ujung syaraf yang terbuka sebagai
        tempat masuknya virus kedalam sistem syaraf. Gunakan antiseptik.
       Melapor kepada Dinas Peternakan atau Dinas Kesehatan setempat dan hewan yang
        dicurigai sebaiknya dipisahkan dan dikarantina untuk diobservasi selama setidaknya 30
        hari untuk mengetahui apakah terinfeksi rabies atau tidak.




1
                                          BAB III
                            KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
                                PADA PASIEN DENGAN RABIES

I. PENGKAJIAN
     A. Pengkajian mengenai:
       a) Status Pernafasan                                   j)   porsi makanan dihabiskan
       b) Peningkatan tingkat pernapasan                      k)   status gizi
       c) Takikardi                                           l)   Status Neurosensori
       d) Suhu      umumnya     meningkat                     m)   Adanya tanda-tanda inflamasi
          (37,9º C)                                           n)   Keamanan
       e) Menggigil                                           o)   Kejang
       f) Status Nutrisi                                      p)   Kelemahan
       g) kesulitan      dalam    menelan                     q)   Integritas Ego
          makanan                                             r)   Klien merasa cemas
       h) berapa berat badan pasien                           s)   Klien kurang paham tentang
       i) mual dan muntah                                          penyakitnya

    B. Pengkajian Fisik Neurologik :
       a. Tanda – tanda vital
            Suhu
            Pernapasan
            Denyut jantung
            Tekanan darah
            Tekanan nadi
    C. Hasil pemeriksaan kepala
            Fontanel : menonjol, rata, cekung
            Bentuk Umum Kepala
    D. Reaksi pupil
            Ukuran
            Reaksi terhadap cahaya
            Kesamaan respon
    E. Tingkat kesadaran
            Kewaspadaan : respon terhadap panggilan
            Iritabilitas
            Letargi dan rasa mengantuk
            Orientasi terhadap diri sendiri dan orang lain
            Afek
            Alam perasaan
            Labilitas
    F. Aktivitas kejang
            Jenis
            Lamanya
    G. Fungsi sensoris
            Reaksi terhadap nyeri


1
            Reaksi terhadap suhu
    H. Refleks
            Refleks tendo superfisial
            Reflek patologi

3    Diagnosa Keperawatan
       1) Gangguan pola nafas berhubungan dengan afiksia
       2) Gangguan pola nutrisi berhubungan dengan penurunan refleks menelan
       3) Demam berhubungan dengan viremia
       4) Cemas (keluarga) berhubungan kurang terpajan informasi
       5) Resiko cedera berhubungan dengan kejang dan kelemahan
       6) Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka

4    Intervensi
       No. Dx. Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
       1. Gangguan pola nafas berhubungan dengan afiksia
           Setelah diberikan tindakan keperawatan, diharapkan pasien bernafas tanpa ada
           gangguan, dengan kriteria hasil :
                pasien bernafas,tanpa ada gangguan.
                pasien tidak menggunakan alat bantu dalam bernafas
                respirasi normal (16-20 X/menit)
                  a. Obsevasi tanda- tanda vital pasien terutama respirasi
                  b. Beri pasien alat bantu pernafasan seperti O2.
                  c. Beri posisi yang nyaman.
                  d. Tanda vital merupakan acuan untuk melihat kondisi pasien.
                  e. O2 membantu pasien dalam bernafas.
                  f. posisi yang nyaman akan membantu pasien dalam bernafas.

       2. Gangguan pola nutrisi berhubungn dengan penurunan refleks menelan.
          Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi pasien
          terpenuhi, dengan kriteria hasil :
               pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan
                 /dibutuhkan.
                 a. Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien.
                 b. Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan.
                 c. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur.
                 d. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
                 e. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.
                 f. Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter.
                 g. Ukur berat badan pasien setiap minggu.
                        i. Untuk menetapkan cara mengatasinya.
                       ii. Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan
                           pasien.
                      iii. Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan
                           makanan


1
                      iv. Untuk menghindari mual
                       v. Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi.
                      vi. Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan
                             diharapkan intake nutrisi pasien meningkat.
                     vii. Untuk mengetahui status gizi pasien
    3. Demam berhubungan dengan viremia.
       Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan demam pasien teratasi, dengan
       criteria hasil :
             Suhu tubuh normal (36 – 370C).
             Pasien bebas dari demam.
                a. Kaji saat timbulnya demam.
                b. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam
                c. Berikan kompres hangat
                d. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter.
                          I.    untuk mengidentifikasi pola demam pasien.
                         II.    Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum
                                pasien.
                        III.    dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan dan
                                mempercepat penurunan suhu tubuh.
                        IV.     Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi.
    4. Cemas (keluarga) berhubungan kurang terpajan informasi tentang penyakit.
       Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan tingkat kecemasan keluarga
       pasien menurun/hilang,dengan kriteria hasil :
             Melaporkan cemas berkurang sampai hilang
             Melaporkan pengetahuan yang cukup terhadap penyakit pasien
             Keluarga menerima keadaan panyakit yang dialami pasien.
                a. Kaji tingkat kecemasan keluarga.
                b. Jelaskan kepada keluarga tentang penyakit dan kondisi pasien.
                c. Berikan dukungan dan support kepada keluarga pasien.
                          I.    Untuk mengetahui tingkat cemas,dan mengambil cara apa yang
                                akan digunakan
                         II.    informasi yang benar tentang kondisi pasien akan mengurangi
                                tingkat kecemasan keluarga.
                        III.    Dengan dukungan dan support,akan mengurangi rasa cemas
                                keluarga pasien.
    5. Resiko cedera berhubungan dengan kejang dan kelemahan.
       Setelah diberikan tindakan keperawatan, diharapkan pasien tidak mengalami
       cedera,dengan kriteria hasil :
             Klien tidak ada cedera akibat serangan kejang
             klien tidur dengan tempat tidur pengama
             Tidak terjadi serangan kejang ulang.
             Suhu 36 – 37,5 º C , Nadi 60-80x/menit, Respirasi 16-20 x/menit
             Kesadaran composmentis
                a. Identifikasi dan hindari faktor pencetus




1
    b. tempatkan klien pada tempat tidur yang memakai pengaman di ruang
       yang tenang dan nyaman.
    c. anjurkan klien istirahat
    d. sediakan disamping tempat tidur tongue spatel dan gudel untuk
       mencegah lidah jatuh ke belakng apabila klien kejang.
    e. lindungi klien pada saat kejang dengan :
           I.   longgarakn pakaian
          II.   posisi miring ke satu sisi
         III.   jauhkan klien dari alat yang dapat melukainya
         IV.    kencangkan pengaman tempat tidur
          V.    lakukan suction bila banyak secret
    f. catat penyebab mulainya kejang, proses berapa lama, adanya sianosis dan
       inkontinesia, deviasi dari mata dan gejala-hgejala lainnya yang timbul.
    g. sesudah kejang observasi TTV setiap 15-30 menit dan obseervasi keadaan
       klien sampai benar-benar pulih dari kejang.
    h. observasi efek samping dan keefektifan obat.
    i. observasi adanya depresi pernafasan dan gangguan irama jantung.
    j. lakukan pemeriksaan neurologis setelah kejang
    k. kerja sama dengan tim :
           I.   pemberian obat antikonvulsan dosis tinggi
          II.   pemeberian antikonvulsan (valium, dilantin, phenobarbital)
         III.   pemberian oksigen tambahan
    l. pemberian cairan parenteral
    m. pembuatan CT scan
             1. Penemuan faktor pencetus untuk memutuskan rantai penyebaran
                virus rabies.
             2. empat yang nyaman dan tenang dapat mengurangi stimuli atau
                rangsangan yang dapat menimbulkan kejang
             3. efektivitas energi yang dibutuhkan untuk metabolisme.
             4. lidah jatung dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas.
    n. Tindakan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya cedera
       fisik.dokumentasi untuk pedoman dalam penaganan berikutnya.
           I.   tanda-tanda vital indikator terhadap perkembangan penyakitnya
                dan gambaran status umum klien.
    o. efek samping dan efektifnya obat diperlukan motitoring untuk tindakan
       lanjut.
       i.kompliksi kejang dapat terjadi depresi pernafasan dan kelainan irama
       jantung.
    p. kompliksi kejang dapat terjadi depresi pernafasan dan kelainan irama
       jantung.
    q. untuk mengantisipasi kejang, kejang berulang dengan menggunakan obat
       antikonvulsan baik berupa bolus, syringe pump.




1
     6. Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka
        Setelah diberikan tindakan keperawatan 3X24 jam diharapkan tidak terjadi tanda-
        tanda infeksi.
        Kriteria Hasil:
         Tidak terdapat tanda tanda infeksi seperti:
                 o Kalor,dubor,tumor,dolor,dan fungsionalasia.
         TTV dalam batas normal
            a. Kaji tanda – tanda infeksi
            b. Pantau TTV,terutama suhu tubuh
            c. Ajarkan teknik aseptik pada pasien
            d. Cuci tangan sebelum memberi asuhan keperawatan ke pasien.
            e. Lakukan perawatan luka yang steril.
                    I.  a.Untuk mengetahui apakah pasian mengalami infeksi. Dan untuk
                        menentukan tindakan keperawatan berikutnya.
                   II.  Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahuikeadaan umum
                        pasien. Perubahan suhu menjadi tinggi merupakan salah satu tanda –
                        tanda infeksi.
                  III.  Meminimalisasi terjadinya infeksi
                  IV.   Mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
                   V.   Perawatan luka yang steril meminimalisasi terjadinya infeksi.

5   Evaluasi
         Dx 1 :
        o pasien tidak mengalami gangguan dalam bernafas
        o pasien tidak menggunakan alat bantu dalam bernafas.
         Dx 2 :
        o Pasien tidak mengalami gangguan dalam makan dan minum.
        o Pasien bisa menelan dengan baik. Pasien tidak mengalami penurunan berat badan.
         Dx 3 :
        o Suhu pasien normal (36-370C)
        o Pasien tidak mengeluh demam
         Dx 4 :
        o Keluarga pasien tidak cemas lagi.
        o Keluarga pasien bisa memahami kondisi pasiendan ikut membantu dalam
            pemberian pengobatan.
         Dx 5 :
        o Pasien tidak mengalami cedera.
        o Pasien tidak mengalami kejang
         Dx 6 :
        o Tidak ada tanda – tanda infeksi seperti : kalor,dolor,tumor,dubor,dan fungsionalasia.
        o Luka pasien terjaga dan teraway




1
                                          BAB IV
                                  PENUTUP DAN KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

    1. Rabies merupakan penyakit virus akut dari sistem saraf pusat yang mengenai semua
       mamalia dan ditularkan oleh sekresi yang terinfeksi biasanya saliva.
    2. Sebagian besar pemajanan terhadap rabies melalui gigitan binatang yang terinfeksi, tapi
       kadang aerosol virus atau proses pencernaan atau transplantasi jaringan yang terinfeksi
       dapat memulai proses penyakit.
    3. Distribusi rabies tersebar di seluruh dunia dan hanya beberapa negara yang bebas rabies.
    4. Di Indonesia sampai akhir tahun 1977 rabies tersebar di 20 provinsi dan 7 provinsi.
       dinyatakan bebas rabies adalah Bali, NTB, NTT, Maluku, Irian Jaya dan Kalimantan Barat.
       Data tahun 2001 menunjukkan terdapat 7 provinsi yang bebas rabies adalah Jawa tengah,
       Jawa timur, Kalimantan Barat, Bali, NTB, Maluku dan Irian Jaya.
    5. Infeksi terjadi biasanya melalui kontak dengan binatang seperti anjing, kucing, kera,
       serigala, kelelawar dan ditularkan ke manusia melalui gigitan binatang atau kontak virus
       (saliva binatang) dengan luka pada host ataupun melalui membran mukosa.
    6. Manifestasi klinis rabies dapat dibagi menjadi 4 stadium: (1) prodromal non spesifik, (2)
       ensefalitis akut yang mirip dengan ensefalitis virus lain. (3) disfungsi pusat batang otak
       yang mendalam yang menimbulkan gambaran klasik ensefalitis rabies, dan (4) jarang,
       sembuh.
    7. Tidak ada terapi untuk penderita yang sudah menunjukkan gejala rabies; penanganan
       hanya berupa tindakan suportif dalam penanganan gagal jantung dan gagal nafas.
       Walaupun tindakan perawatan intensif umumnya dilakukan, hasilnya tidak
       menggembirakan.perawatan intensif hanyalah metode untuk memperpanjang dan bila
       mungkin menyelamatkan hidup pasien dengan mencegah komplikasi respirasi dan
       kardiovaskuler yang sering terjadi.
    8. Kematian karena infeksi virus rabies boleh dikatakan 100% bila virus sudah mencapai
       sistem saraf pusat.




1
                                        DAFTAR PUSTAKA




Anonim, 2006, Rhabdoviruses, www.tulane.edu, diakses tanggal 3 Februari 2008.
Anonim, 2006, Penyakit Anjing Gila, www.jakarta.go.id, diakses tanggal 3 Februari 2008.
Anonim, 2007, The Big Picture Book of Viruses: Rhabdoviridae, www.virology.net, diakses tanggal 3
          Febuari 2008
Anonim, 2007, Rhabdoviridae, www.wikipedia.org, diakses tanggal 3 Februari 2008
Anonim, 2007, Rabies, www.wikipedia.org, diakses tanggal 3 Februari 2008
Elcamo, E. I., 1997, Fundamentals of Microbiology, The Benjamin Cummings Publishing Company,
          New York
Irga, 2008, Rabies, www.inwanashari.blogspot.com, diakses tanggal 29 April 2008
Jawelz,E., et. al., 1986, Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
          Jakarta.
Rohiman dan Nurtjahjo, 1985, Vaksin Anti-Rabies (Human Diploid Cell) dan Kegunaannya Bagi
          Manusia, Medika Jurnal Kedokteran Farmasi, Jakarta
BETZ CECILY L, SOWDEN LINDA A. (2002). BUKU SAKU KEPERAWATAN PEDIATRI. JAKARTA : EGC.
Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F. Jakarta : EGC.
Arjatmo T.(2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta : gaya baru
Kejang Pada Anak. www. Pediatrik.com/knal.php
Lynda Juall C, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Penerjemah Monica Ester,
EGC, Jakarta
Marilyn E. Doenges, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerjemah Kariasa I Made, EGC,
Jakarta
Santosa NI, 1989, Perawatan I (Dasar-Dasar Keperawatan), Depkes RI, Jakarta.
Suharso Darto, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, F.K. Universitas Airlangga,Surabaya.




1

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:6334
posted:10/28/2010
language:Indonesian
pages:21