Tarekat Sammaniyah di Negeri Banjar

Document Sample
Tarekat Sammaniyah di  Negeri Banjar Powered By Docstoc
					                                                                              1




      MELACAK JEJAK PEMBAWA TAREKAT SAMMANIYAH
                    DI TANAH BANJAR

                               Zulfa Jamalie
            (Dosen Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin)


                                  ABSTRAK
      Dalam perkembangannya di Kalimantan Selatan tasawuf atau tarekat
      jelas tidak diragukan lagi peranannya dalam membimbing, membina
      dan mendidik jiwa-jiwa manusia muslim yang paripurna dan memiliki
      nilai-nilai kerohanian yang tinggi. Sehingga ulama-ulama besar Banjar
      dahulu dikenal tidak hanya sebagai ulama syariat, lebih daripada itu
      mereka juga dikenal sebagai ulama tasawuf. Salah satu dari aliran
      tasawuf dalam bentuk tarekat yang mereka bawa adalah tarekat
      Sammaniyah. Tapi sayangnya sedikit sekali catatan dan data-data
      tertulis yang mengungkapkan tentang sejarah perjalanan tarekat ini di
      Kalimantan Selatan. Padahal diyakini keberadaan tarekat ini
      memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola kehidupan
      masyarakat Islam Banjar. Karenanya perlu untuk ditelusuri kembali.
      Berdasarkan hasil penelusuran terhadap sejumlah literatur didapatkan
      data bahwa para ulama yang mula-mula membawa dan
      menyebarluaskan tarekat Sammaniyah di tanah Banjar ada tiga, yakni
      Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Muhammad Nafis bin
      Idris al-Banjari dan Syekh Abdul Wahab Bugis.

      Kata-kata kunci: Tasawuf, tarekat, Sammaniyah.


A. Pendahuluan
      Tasawuf merupakan salah satu ilmu yang cukup berkembang dalam dunia
Islam, seiring dengan berkembangnya kehidupan sosial masyarakat Islam. Pada
intinya tasawuf merupakan kesadaran fitrah yang mengarahkan jiwa dengan benar
kepada amal dan kegiatan yang sungguh-sungguh untuk menjauhkan diri dari
kehidupan dunia yang dilarang dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan,
serta untuk mendapatkan perasaan berhubungan yang erat dengan wujud yang mutlak
(Tuhan). Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan maka seseorang harus mampu
membersihkan dirinya dari segala sifat, tindakan yang kotor, dan mazmumah
                                                                                 2




(tercela), kemudian menghiasi diri dengan segala sifat dan perangai yang karimah
(mulia). Karena itu maka seseorang yang ingin mencapai hakikat yang tinggi di
hadapan Allah Yang Maha Suci, maka ia harus mampu mensucikan rohaninya
sebersih-bersihnya, yang dalam tradisi sufi biasa dilakukan melalui tiga tahapan,
yakni tahalli, takhalli dan tajalli.
        Tradisi pembersihan rohani untuk mendekatkan diri kepada Allah inilah yang
dilestarikan oleh tarekat. Salah satunya adalah tarekat Sammaniyah, yang dalam
beberapa tahun terakhir berkembang secara pesat, khususnya di Martapura,
Banjarmasin dan sekitarnya serta Kalimantan Selatan umumnya.
        Sementara diyakini bahwa tarekat ini memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap pola kehidupan masyarakat Banjar, mulai zaman permulaan masuk dan
berkembangnya agama Islam di daerah ini, zaman perjuangan, hingga sekarang.
Namun sayangnya bahan-bahan tertulis yang mengungkap secara akurat ulama yang
pertamakali membawa masuk tarekat ini di tanah Banjar masih minim. Karena itulah
perlu untuk dilacak dan diteliti kembali guna memperkaya khazanah bahan tertulis
yang sudah ada. Inilah permasalahan dan tujuan yang menjadi fokus utama dalam
tulisan ini.


B. Sejarah Perkembangan Tasawuf Menuju Tarekat
        Sementara itu dalam sejarah perkembangannya yang cukup panjang tasawuf
telah mengalami pasang surut. Setidak-tidaknya dalam catatan sejarah, perkembangan
tasawuf tersebut dapat dibagi menjadi lima periode penting:
        Pertama periode permulaan, periode ini dimulai sejak masa Rasulullah dan
para sahabat, baik sebelum beliau diangkat menjadi Rasul maupun masa sesudahnya.
Di mana pada masa itu bibit-bibit kehidupan tasawuf telah dilakoni oleh Nabi
Muhammad SAW dan para sahabatnya sendiri. Fakta sejarah telah menunjukan
bahwa pribadi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulangkali
melakukan tahanuts dan khalwat di Gua Hira. Di samping untuk mengasingkan diri
dari masyarakat kota Mekkah yang sedang mabuk memperturutkan hawa nafsu
keduniaan, tahannuts dan khalwat tersebut juga dilakukan beliau untuk mencari
                                                                                      3




ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh liku-liku problema kehidupan,
berusaha untuk memperoleh petunjuk dan hidayah Allah dan mencari hakikat
kebenaran yang dapat mengatur segala-galanya dengan baik. Sehingga dalam situasi
yang demikian pada akhirnya beliau menerima wahyu pertama dari Allah SWT.
       Sebelum diangkat dan sesudah diangkat menjadi rasulpun, Muhammad SAW
tetap memperlihatkan perilaku, moral yang mulia, beliau mendapat gelar al-Amin
karena kejujurannya, berlaku sederhana, sabar, tawakkal, istiqomah, zuhud, sajaah
(berani) dan lain-lain. Sehingga ketika Aisyah ra. ditanya bagaimana sesungguhnya
akhlak Nabi, beliau menjawab dengan tegas bahwa akhlak Nabi adalah al-Qur’an,
sebagaimana difirmankan Allah SWT:
                                                (4 :     )
       Artinya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) mempunyai budi pekerti
yang tinggi/mulia” (QS. Al-Qalam 4).
       Prilaku dan akhlakul karimah yang telah diperlihatkan oleh Nabi SAW telah
menjadi contoh tauladan bagi para sahabat, sehingga figur seperti khulafaurrasyidin,
Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa’id bin Amr adalah contoh dari sekian banyak para
sahabat yang mengikuti jejak kehidupan tasawuf Rasulullah. Bahkan pada masa Nabi
ini dikenal pula sekelompok sahabat yang disebut Ahlussuffah, mereka terbiasa hidup
di masjid Madinah dan menjadikan serambi masjid sebagai tempat pertemuan
mereka. Mereka juga dikenal sebagai orang-orang yang menyediakan seluruh
waktunya untuk berjihad dan berdakwah serta meninggalkan usaha-usaha yang
bersifat duniawi. Istilah tasawuf sendiri disinyalir berasal dari perkataan shuffah atau
shuffatul masjid yang dihubungkan dengan aktivitas dan kehidupan mereka di
serambi masjid tersebut.
       Kedua periode keemasan, periode ini ditandai dengan munculnya sejumlah
sufi besar yang telah menyumbangkan pemikiran dan gagasannya tentang tasawuf
dari generasi tabi’in dan bermunculannya pusat-pusat pengajaran tasawuf. Di antara
nama sufi besar yang cukup populer pada masa ini adalah Hasan al-Basri (21-110 H),
ia dikenal sebagai seorang zahid yang termasyhur, pencetus aliran tasawuf etika,
bahkan dialah yang mula-mula dikenal memperbincangkan berbagai masalah yang
                                                                                  4




berkaitan dengan hidup kerohanian, tentang ilmu akhlak yang erat hubungan dengan
mensucikan jiwa dan membersihkan hati dari dari sifat-sifat tercela. Tokoh lainnya
yang juga populer adalah sufiah Rabiah al-Adawiyah (96 – 185 H) pencetus aliran
tasawuf estetika dengan gagasan utama cinta atau mahabbah kepada Allah.
Kemudian Sofyan Tsauri (97-161 H), Rabi’ bin Haitam, Jabir bin Hayyan, Kulaib
ash-Shidawi, Manshur bin Ammar dan lain-lain.
       Adapun kota-kota yang menjadi pusat pengajaran tasawuf antara lain adalah
di kota Basrah dipelopori oleh Hasan al-Basri, di Kuffah dipelopori oleh Rabi’ bin
Hisyam, Jabin bin Hayyan, Manshur bin Ammar dan Abul Atahiyah, di kota Irak
dipimpin oleh Sa’ad bin Musayyab dan sebagainya.
       Masa keemasan ini terus berlanjut dan melahirkan banyak tokoh-tokoh
terkenal lainnya yang berjasa besar terhadap peletakan dasar-dasar paham tasawuf,
seperti misalnya Ma’ruf al-Karakhy yang dipandang sangat berjasa dalam meletakan
dasar-dasar tasawuf, Abul Hasan Surri Assaqthy, Zun Nun al-Misri dan lain-lain.
       Ketiga periode suram, boleh jadi periode ini dimulai dari munculnya gagasan
tasawuf Abu Yazid al-Bustami (200-261 H) yang telah memperkenalkan ajaran
tasawuf berbeda dari para sufi pendahulunya. Abu Yazid dianggap sufi yang pertama
kali menampilkan konsep al fana dan al baqa dengan pengertian khas tasawuf secara
mendalam ––hilangnya kesadaran akan eksistensi diri pribadi sehingga dia tidak
menyadari lagi akan jasad kasarnya sebagai manusia, kesadarannya menyatu ke
dalam iradat Tuhan–– sekaligus aliran tasawuf Kesatuan Wujud atau Ittihad.
Pemikiran tasawuf Abu Yazid al-Bustami diteruskan oleh sufi Abu Mansur Husien
al-Hallaj (244-309 H), dengan pemikiran tasawufnya al-Hulul, yaitu ketuhanan
(lahut) menjelma ke dalam diri insan (masut), karenanya manusia mempunyai sifat-
sifat ke-Tuhanan dalam dirinya, demikian pula sebaliknya Tuhan mempunyai sifat
kemanusiaan dalam diri-Nya.
       Karena itu setidak-tidaknya ada tiga alasan utama atau faktor penyebab
kenapa tasawuf mengalami masa kesuraman, pertama karena paham tasawuf yang
dilontarkan oleh Abu Yazid al-Bustami atau al-Hallaj berbeda dengan paham tasawuf
sebelumnya, sehingga menimbulkan konflik dan terpecahnya pemahaman masyarakat
                                                                                     5




terhadap tasawuf, ada kelompok yang pro dengan paham tasawuf baru mereka dan
ada pula yang kontra. Kedua dari lisan para sufi tersebut telah keluar perkataan-
perkataan ganjil yang dikenal dengan nama Syathohat. Kata-kata syathohat yang
keluar dari sufi tersebut yang sangat populer antara lain adalah dari mulut Abu Yazid
al-Bustami: “Taubatunna siminzunnabihi wataubati min qauli laailahaillah”, yang
berarti orang bertaubat dari dosanya, akan tetapi aku (Abu Yazid) bertaubat dari
ucapan puja tiada Tuhan selain Allah.1 Syathohat yang keluar dari mulut Husien
Mansur al-Hallaj: “Ana al-Haq”, yang berarti Aku adalah kebenaran, dan juga “Aku
adalah rahasia yang benar, bukanlah yang maha benar itu aku, tetapi aku hanyalah
                         2
satu dari yang benar”.       Syathohat yang keluar dari mulut Al Junaid bahwa:
“seseorang yang menempuh jalan tasawuf tidak akan sampai pada maqam atau
derajat hakikat jika belum sanggup menghadapi tuduhan zindiq dari orang lain”. 3
       Pasca hukuman pancung terhadap al-Hallaj dan syathohat Abu Yazid al-
Bustami mengakibatkan orang-orang takut dengan tasawuf, sehingga perkembangan
dunia tasawuf sempat suram beberapa kurun waktu lamanya. Terlebih-lebih dengan
adanya larangan dari penguasa untuk mengembangkan dan mempelajari tasawuf yang
dianggap sebagai ilmu haram.
       Keempat periode kebangkitan, dengan dikenalkannya dan dihalalkannya
kembali masyarakat untuk belajar ilmu tasawuf oleh Hujjatul Islam Imam al-Gazali.
Beliau memperkenalkan ilmu tasawuf pada tingkat ma’rifat sebagai ilmu yang positif
untuk dipelajari. Al-Gazali menyatakan bahwa ajaran tasawuf itu sebenarnya tidak
membuat orang jauh dari Islam atau keluar dari Islam atau menyeleweng dari dasar
ajaran Islam kalau hanya sampai ke tingkat tertentu yang disebut ma’rifat. Kebesaran
nama al-Gazali telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan
kembali tasawuf di masa-masa sesudahnya. Ulama-ulama syariat yang pada mulanya
takut kepada tasawuf pada akhirnya dikenal juga sebagai ahli tasawuf, sehingga pada
akhirnya tasawuf yang merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan tidak
hanya dipelajari oleh para sufi dan ulama, akan tetapi juga oleh masyarakat Islam.
       Kelima periode kelembagaan, pada periode inilah pengajaran dan pengamalan
tasawuf dimulai atau lebih bersifat kelembagaan yang dikenal dengan istilah tarekat.
                                                                                     6




Timbulnya lembaga tasawuf ini dipicu oleh adanya keinginan para ulama Islam untuk
melestarikan kehidupan rohani ala tasawuf yang telah dijalankan oleh para sufi besar.
Akhirnya lahirlah berbagai nama lembaga tasawuf atau tarekat pada abad ke 12 dan
berkembang pesat mulai abad ke 14. Di samping itu pula masuk dan berkembangnya
Islam di berbagai daerah di Indonesia, sebagaimana diasumsikan banyak para ahli
lebih didominasi oleh tarekat atau melalui pendekatan tasawuf,4           yang dibawa
langsung oleh ulama-ulama pribumi setelah mereka mukim dan belajar di Mekkah,
Madinah atau Mesir, dibanding pemikiran tasawuf individu.
         Periode kelembagaan inilah yang menjadi topik inti permasalahan dalam
tulisan ini, sebab sebagai salah satu ilmu yang cukup berkembang di Kalimantan
Selatan tasawuf menarik untuk terus dikaji dan dikupas. Terlebih-lebih manakala
melihat peranannya dalam membimbing, membina dan mendidik jiwa-jiwa manusia
muslim yang paripurna, memiliki nilai-nilai kerohanian yang tinggi, dan berakhlak
mulia.


C. Tarekat
          Menurut bahasa tarekat berarti jalan menuju kebenaran, ilmu kebajikan
agama, persaudaraan dalam kebaktian pada kerohanian.5 Abu Bakar Atjeh
menyatakan bahwa tarekat adalah jalan, petunjuk dalam melaksanakan suatu ibadat
sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi dan dikerjakan oleh
sahabat     serta   tabi’in,   turun-temurun   sampai   kepada   guru-guru,   sambung-
menyambung dan rantai-berantai.6 Di samping itu pula lebih jauh menurut Usman
Said tarekat dapat diartikan sebagai suatu metode praktis untuk menuntun
(membimbing) seorang murid secara berencana dengan jalan pikiran, perasaan dan
tindakan, terkendali terus-menerus kepada suatu rangkaian dari tingkatan-tingkatan
(maqomat) untuk dapat merasakan hakikat yang sebenarnya.7
          Menurut keyakinan sufi, seseorang tidak akan sampai kepada hakikat tujuan
ibadah, sebelum menempuh atau melaksanakan jalan ke arah itu. Tarekat adalah
jalan, cara, metode dan sistem menuju kepada Tuhan. Menurut Sjechul Hadi Permono
kata tarekat mengalami perkembangan, sehingga mempunyai dua pengertian.
                                                                                  7




Pertama, tinjauan pada abad IX dan X M tarekat berarti cara pendidikan, akhlak, dan
jiwa bagi mereka yang berminat menempuh hidup sufi. Pengertian ini lebih
mendekati suatu teori, suatu pendidikan khusus, karena pada tarekat pendidikan
akhlak batin dengan melalui tingkatan-tingkatan pendidikan tertentu (maqomat dan
ahwal). Namun walau demikian ia tetap umum, karena belum merupakan suatu sekte
tertentu, belum merupakan suatu kekeluargaan, mu’asyarah tersendiri. Kedua,
sesudah abad XI M tarekat tersebut mempunyai pengertian sebagai suatu gerakan
yang lengkap untuk memberikan riyadhah-riyadhah rohani dan jasmani bagi
sekelompok orang (murid).8
        Dalam pengertian ini tarekat sudah merupakan suatu kekeluargaan,
mu’asyarah tersendiri yang didirikan menurut aturan-aturan dan perjanjian-perjanjian
tertentu.
        Berdasarkan beberapa definisi di atas jelaslah bahwa pada prinsipnya tarekat
adalah metode, cara, sistem tingkah laku (sirah) atau suluk yang khusus dilakukan
oleh orang-orang sufi yang berjalan menuju kepada Allah, dengan menempuh secara
sungguh-sungguh maqomat (stasiun-stasiun) dan mendaki ahwal (keadaan).
        Sementara itu nama-nama tarekat dimaksud biasanya disandarkan pada nama
para pendirinya. Di Indonesia tarekat yang dianggap sahih dan dapat diterima
dikelompokkan sebagai tarekat mu’tabarah. Di antaranya adalah tarekat Qadiriyah
yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani (1077-1166M), tarekat Rifaiyah oleh
Ahmad bin Ali Abul Abbas (wafat 1106 M), tarekat Naqsabandiyah oleh Muhammad
bin Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhari (717-791 H), tarekat Sammaniyah oleh Syekh
Muhammad Samman al-Madani (1718-1775 M), tarekat Khalwatiyah oleh
Zahiruddin (wafat 1397 M), tarekat al-Haddad oleh Sayyid Abdullah bin Alawi bin
Muhammad al-Haddad, tarekat Khalidiyah oleh Syekh Sulaiman Zuhdi al Khalidi,
dan lain-lain. Di antara tarekat ini yang cukup pesat perkembangannya di Tanah
Banjar (Kalimantan Selatan) adalah tarekat Sammaniyah.h Muhammad Abdul Karim
Samman al- Madani.
        Syekh Samman adalah seorang ulama dan sufi terkenal yang mengajar di
Madinah. Dia mulanya dibaiat menjadi pengikut berbagai tarekat di samping tarekat
                                                                                   8




Khalwatiyah (terutama Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Syadziliyah), dan memadukan
berbagai unsur dari tarekat-tarekat tersebut menjadi cabang tarekat Khalwatiyah yang
khas dan berdiri sendiri, yang disebut dengan tarekat Sammaniyah. Murid
Indonesianya yang paling ternama adalah Syekh Abdus Samad al-Palimbani, yang
umumnya dianggap sebagai orang pertama yang membawa dan memperkenalkan
tarekat Sammaniyah di Nusantara, terutama Sumatera dan daerah sekitarnya.
       Di Indonesia tarekat Sammaniyah pertama kali tersebar dan memberikan
pengaruh yang luas di Aceh, Kalimantan serta mempunyai pengaruh yang dalam di
Palembang dan daerah lainnya di Sumatera. Demikian pula di Jakarta sangat besar
pengaruhnya di kalangan penduduk dan daerah-daerah sekitar ibukota.9
       Ciri-ciri tarekat ini menurut Abu Bakar Atjeh antara lain adalah zikirnya yang
keras-keras dengan suara yang tinggi dari pengikutnya sewaktu melakukan zikir laa
ilaha illallah, di samping itu juga terkenal dengan ratib Samman yang hanya
mempergunakan perkataan Hu, yaitu Dia Allah.10 Menurut Snouck Hurgronje, bahwa
Syekh Samman disamping ada ratib Samman lebih populer lagi di Aceh dengan
Hikayat Samman, ratib Samman inilah yang kemudian berubah menjadi suatu macam
permainan rakyat yang terkenal dengan nama seudati (tarian).11 Ajaran-ajaran yang
disampaikan oleh Syekh Samman antara lain adalah: memperbanyak shalat dan zikir,
berlemahlembut kepada fakir miskin, jangan mencintai dunia, menukarkan akal
basyariah dengan akal rubbaniyah, dan tauhid kepada Allah dalam zat, sifat dan
af’al-Nya.12


D. Ulama Pembawa Tarekat Sammaniyah
       Tesis kuat yang berkembang selama ini menyatakan bahwa tarekat
Sammaniyah ini adalah tarekat pertama yang masuk dan berkembang di Kalimantan
Selatan. Asumsi ini diperkuat oleh tiga alasan penting.
       Pertama, umumnya ratib yang dibaca dan diamalkan oleh masyarakat Islam
Banjar dari dulu hingga sekarang lebih di dominasi oleh ratib Sammaniyah. Hal ini
terbukti dari adanya empat jenis ratib yang umumnya diamalkan masyarakat Banjar
                                                                                   9




yang selaras dengan ratib Samman. Kenyataan ini memberikan petunjuk bahwa ratib
Samaan tersebut sudah sangat populer dan diketahui oleh masyarakat luas.
          Kedua, lebih daripada itu boleh jadi bahwa baratib baamal dan baratib
bailmu melalui praktik wirid untuk memperoleh bekal ilmu guna menghadapi
Belanda yang dilakukan oleh Penghulu Abdul Rasyid dan pengikutnya ketika terjadi
pemberontakan pada bulan Oktober 1861 di Telaga Itar Kelua dan meluas ke daerah
sekitarnya (Banua Lima) adalah ratib yang biasa dibaca dan diamalkan oleh para
pengikut tarekat Sammaniyah, walaupun untuk itu belum ditemukan data-data yang
akurat.

          Ketiga, nilai dan ajaran tarekat Sammaniyah memberikan pengaruh yang luar
biasa terhadap perjuangan umat Islam di daerah ini ketika melawan penjajah
Belanda,13 terutama kepada para peristiwa pertempuran di berbagai daerah se Banua
Lima. Seperti pertempuran di Sungai Malang Amuntai, perlawanan di daerah
Martapura, peristiwa Amuk Hantarukung di Kandangan yang dikomandoi oleh dua
orang kakak beradik, Bukhari dan Santar adalah pengikut tarekat murid dari Gusti
Muhammad Seman yang biasa melakukan zikir dan membaca wirid-wirid tertentu.14
Begitu juga dengan      gerakan Datu Aling (di Muning Rantau) dan pengikutnya,
bahkan para pahlawan perang Banjar seperti P. Antasari juga termotivasi oleh
pengaruh ajaran tarekat.      Karena itu adagium perjuangan dan ucapan haram
manyarah, waja sampai kaputing, boleh jadi adalah manifestasi dari nilai-nilai ajaran
tasawuf atau tarekat dimaksud.
          Sementara itu ulama yang dianggap cikal bakal dan berjasa besar membawa
serta mengembangkan tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan menurut asumsi
penulis ada tiga orang. Ulama yang pertama adalah Syekh Muhammad Arsyad bin
Abdullah al-Banjari, dengan alasan sebagai berikut:
          Pertama, adanya kemiripan adab dan tatacara berzikir yang umumnya
dilakukan oleh pengikut tarekat Sammaniyah dengan materi isi risalah Kanzul
Ma’rifah yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Menurut Asywadie
Syukur risalah Kanzul Ma’rifah tersebut memuat tentang tatacara zikir dan adab
berzikir.15 Sebelum berzikir lebih dahulu bersuci dari najis dan hadas, mengucapkan
                                                                                  10




istigfar, berpakaian yang berwarna putih, ditempat yang sunyi sepi, sebelumnya
mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Duduk bersila, menghadap ke arah kiblat dan
meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut lalu mengucapkan dzikir yang
berbunyi laa ilaha illallah dengan menghadirkan maknanya dalam hati. Berikutnya
kalau zikir dalam bentuk ini telah mantap beralih lagi kelafal lain dengan hanya
menyebut Allah, Allah, Allah, ––dan seterusnya–– dan zikir yang seperti ini dapat
dilaksanakan di sepanjang waktu dan keadaan sehingga pada setiap nafas yang ke
luar diisi dengan zikir. Pada saat menyebut kata hu pada setiap akhir kalimat tauhid,
dipanjangkan sedikit sambil merasakan bahwa dirinya lenyap, begitu pula dengan
ingatannya, selain kepada Allah (ma siwallah) dan kulliyah (jati dirinya) karena
berada di dalam ke-esaan zat Allah yang nantinya akan memperoleh jazbah (tarikan)
Allah. Inilah perolehan jiwa yang paling utama yang semuanya itu hasil kasyaf.
       Risalah Kanzul Ma’rifah ini belum pernah dicetak dan dipublikasikan secara
luas, hanya disalin oleh murid-muridnya yang terpercaya, salinan kitab ini juga
pernah dihadiahkan kepada salah seorang sultan Aceh.16
       Walaupun berdasarkan hasil penelitian dari beberapa orang ulama dinyatakan
bahwa kitab Kanzul Ma’rifah tersebut lebih bercorak khalwatiyah dan tidak murni
Sammaniyah seperti sekarang ini, maka hal inipun dapat dimaklumi. Sebab Syekh
Samman sendiri mulanya dibaiat sebagai pengikut tarekat Khalwatiyah yang bercorak
Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Syadziliyah. Karena itu wajar jika kitab tulisan Syekh
Muhammad Arsyad tersebut lebih mirip dengan ajaran tarekat Khalwatiyah dibanding
tarekat Sammaniyah seperti sekarang, yang telah berdiri sendiri.
       Kedua, kitab tasawuf Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Kanzul Ma’rifah
tersebut belum pernah dicetak dan tidak pernah dipublikasi secara luas, sehingga
gambaran yang lengkap tentang konsepsinya di bidang tasawuf tidak diketahui secara
pasti. Namun sebagaimana pengakuan dari Karel A. Steenbrink bisa diduga bahwa
sebagai pembawa tarekat Sammaniyah tasawufnya tidak akan jauh berbeda dengan
yang diajarkan oleh temannya Abdussamad al-Falimbani, yang mengikuti paham
tasawuf yang agak moderat menurut aliran al-Gazali.17
                                                                                11




       Ketiga, menurut Zafry Zamzam,18 Martin van Bruinessen,19 selama lebih
kurang tigapuluh tahun belajar di Mekkah Syekh Muhammad Arsyad telah pula
berguru ilmu tasawuf secara langsung kepada Syekh Muhammad Ibn Abdul Karim
Samman al-Madani dan mendapatkan ijazah khalifah dalam Tarekat Sammaniyah.
Gelar ini merupakan bukti yang kuat, izin sekaligus pengakuan dari gurunya bahwa
Syekh Muhammad Arsyad berhak untuk mengajarkan tarekat Sammaniyah,
kemudian sebagaimana dinyatakan dalam Hikayat Syekh Muhammad Samman, Syekh
Muhammad Arsyad disebutkan sebagai salah seorang muridnya. Dengan gelar itu
pula secara moralitas Syekh Muhammad Arsyad dianggap orang yang paling
bertanggungjawab terhadap keberadaan dan perkembangan tarekat Sammaniyah di
Tanah Banjar. Sebagaimana ditegaskan Azyumardi Azra Syekh Muhammad Arsyad
al-Banjari dianggap sebagai ulama yang bertanggungjawab atas tersebarnya tarekat
Sammaniyah di Kalimantan. 20
       Keempat, apabila dilakukan penelusuran maka terlihat bahwa di antara ulama-
ulama keturunan-keturunan dari syekh Muhammad Arsyad, adalah juga penganut
tarekat Sammaniyah. Zuriat beliau yang sekarang aktif mengembangkan tarekat
Sammaniyah adalah “Guru Sekumpul” (Al Allamah K.H.Muhammad Zaini Abdul
Ghani), yang belajar dari keturunan beliau yang lain, yakni “Guru Bangil” (Al
Allamah K.H. Syarwani Abdan) hingga pada saat sekarang ini perkembangan tarekat
Sammaniyah semakin luas.
       Walaupun demikian, Martin van Bruinessen tetap meyakini bahwa
keberadaan tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan adalah berkat perjuangan
Syekh Muhammad Nafis al-Banjari.21 Karena dalam karya-karya Syekh Muhammad
Arsyad yang telah diterbitkan, tidak ada yang menyinggung dan mengisyaratkan
secara khusus tentang tarekat Sammaniyah. Boleh jadi keyakinan Martin van
Bruinessen ini disebabkan karena ia belum pernah membaca risalah Kanzul Ma’rifah
yang belum dicetak dan publikasinya terbatas sebagaimana dijelaskan di atas.
       Ulama kedua sesudah Syekh Muhammad Arsyad yang berjasa dan dianggap
sebagai pembawa tarekat Sammaniyah adalah Syekh Muhammad Nafis bin Idris al-
Banjari, sebagaimana keyakinan dan pengakuan Martin van Bruinessen di atas. Lebih
                                                                                 12




jauh ada beberapa alasan signifikan mengapa Syekh Muhammad Nafis al-Banjari
diasumsikan sebagai ulama kedua yang berjasa mengembangkan tarekat Sammaniyah
di Tanah Banjar.
       Pertama, dalam bidang ilmu tasawuf dan tarekat ketika belajar di Mekkah,
Syekh Muhammad Nafis telah berguru kepada Syekh Abdullah Ibn Hijazi al-
Syarkawi al-Misri, Syekh Siddiq Ibn Umar Khan, Syekh Muhammad Ibn Abdul
Karim Samman al-Madani, Syekh Abdurrahman Ibn Abdul Aziz al-Maghribi dan
Syekh Muhammad Ibn Ahmad al-Jauhari. Karena itu sebenarnya di bidang ilmu
tasawuf dan tarekat menurut Ahmadi Isa, Syekh Muhammad Nafis seguru dengan
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Abdussamad al-Falimbani.22
       Kedua, dalam kitab tasawufnya Al Durr al Nafis fi Bayan Wahdat al Af’al wa
al Asma’ wa al Sifat wa al Zat, Zat al Taqdis, yang berintikan tauhid dalam struktur
yang sistematis, pokok-pokok ajaran tasawuf, dengan mengutamakan tauhidul sifat,
zat dan af’al dan ditulisnya pada tahun 1200 H atau 1785 M ketika masih belajar di
Mekkah, termaktub pengakuannya bahwa Syafi’i adalah mazhab fiqihnya, Asy’ari
i’tiqad tauhid atau ushuluddinnya, Junaidi ikutan tasawufnya, Qadariyah tarekatnya,
Satariyah pakaiannya, Naqsabandiyah amalnya, Khalwatiyah makanannya dan
Samaniyah minumannya.23
       Ketiga, sebagaimana Syekh Muhammad Arsyad yang mendapatkan ijazah
khalifah dalam tarekat Sammaniyah, maka Syekh Muhammad Nafis pun diakui oleh
gurunya menguasai ilmu tasawuf dan tarekat yang diajarkan kepadanya dengan baik,
sehingga dia diberi gelar oleh gurunya sebagai Syekh Mursyid.24 Gelar ini merupakan
pengakuan bahwa ia boleh mengajarkan tasawuf dan tarekat kepada orang lain.
Ketinggian ilmu tasawuf yang dimiliki oleh Muhammad Nafis juga terlihat dari gelar
yang diberikan kepadanya, sebagaimana tercantum pada halaman pertama kitab
Durrun Nafis yang ditulisnya, yakni Maulana al Allamah al Fahhamah al Mursyid ila
Tariq al Salamah al Syekh Muhammad Nafis Ibn Idris al-Banjari.
       Keempat, setelah kembali ke Banjarmasin pada tahun 1210 H/1795,25 pada
masa kerajaan Banjar diperintah oleh Sultan Tahmidillah (Raja Islam Banjar XVI,
1778-1808 M) Syekh Muhammad Nafis lebih mengarahkan dakwahnya ke daerah
                                                                                 13




Kelua (Kabupaten Tabalong) dan sekitarnya yang masih kosong dan memerlukan
pembinaan keagamaan. Mengapa Syekh Muhammad Nafis lebih mengarahkan
perjuangan dakwahnya di daerah Kelua dan sekitarnya? Karena Kelua adalah daerah
penting di pedalaman Kalimantan Selatan, jantung penyebaran Islam dan kunci
masuk menuju daerah Kalimantan Timur, dan merupakan daerah kosong dari
perjuangan dakwah. Di samping itu boleh jadi pula bahwa dijadikannya Kelua
sebagai pusat gerakan dakwahnya, disebabkan oleh ketidaksenangan Muhammad
Nafis terhadap Belanda yang waktu itu sudah mulai ikut campur dan menguasai pusat
kerajaan Islam Banjar.26
       Berkat perjuangan Syekh Muhammad Nafis, pada abad XVIII dan abad XIX
daerah Kelua dikenal sebagai pusat penyiaran Islam di bagian Utara Kalimantan
Selatan dan memiliki andil dalam gerakan-gerakan penyebaran Islam sampai kepada
masa perjuangan merebut kemerdekaan.27 Kemudian jika pada akhirnya Kelua
melahirkan pejuang-pejuang Islam yang memiliki semangat tinggi untuk mengusir
penjajah Belanda boleh jadi salah satu faktor pembangkitnya adalah melalui
pendekatan tasawuf dan tarekat. Sehingga dalam sejarah pergerakan dan perjuangan
umat Islam di Tanah Banjar,     pemerintah Belanda pernah melarang beredar dan
dipelajarinya kitab Durrun Nafis oleh masyarakat Banjar. Hal ini adalah salah satu
siasat politik Belanda, karena Belanda paham betul bahwa apabila orang sudah
mempelajari ilmu tasawuf secara lurus dan mantap, maka orang tersebut tidak takut
mati dan berjuang waja sampai kaputing memerangi penjajah yang dianggap kafir.
       Sedangkan ulama ketiga yang juga penulis asumsikan sebagai pembawa
tarekat Sammaniyah, atau paling tidak mempunyai andil terhadap perkembangannya
di Tanah Banjar, terutama daerah Tanah Laut dan Kotabaru, Pagatan dan sekitarnya
adalah Syekh Abdul Wahab Bugis. Walaupun data-data yang mengungkapkan
tentang keberadaan dan peranan tokoh ini masih minim, namun ada beberapa alasan
yang bisa dijadikan dalil kuat yang menunjukkan hal tersebut.
       Pertama, Syekh Abdul Wahab Bugis adalah menantu dari Syekh Muhammad
Arsyad, sehingga ketika ia menyelesaikan belajarnya di Mekkah dan bersama-sama
pulang dengan teman-temannya yang disebut sebagai empat serangkai yakni Abdus
                                                                                  14




Samad al-Falimbani, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari serta Syekh Abdurrahman
Mishri, ia tidak pulang ke daerah asalnya Bugis (Sulawesi Selatan), tetapi ikut Syekh
Muhammad Arsyad al-Banjari ke Banjarmasin/Martapura.28 Karena itu rasional
sekali jika dikatakan ia ikut membantu Syekh Muhammad Arsyad menyampaikan
dakwah ke tengah masyarakat dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya
selama di Mekkah.
       Sementara, hasil perkawinannya dengan anak Syekh Muhammad Arsyad yang
bernama Syarifah melahirkan dua orang anak, masing-masing bernama Fatimah dan
Muhammad Yasin. Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis ini adalah cucu
perempuan pertama Syekh Muhammad Arsyad             yang telah mewarisi ilmu-ilmu
keislaman dari kakeknya, ialah yang sebenarnya telah menyusun kitab fikih
berbahasa Melayu yang sangat populer, yakni Parukunan dengan memakai nama
paman beliau Mufti H. Jamaluddin.29
       Zafri Zamzam menjelaskan bahwa Syekh Abdul Wahab Bugis baru pula ke
kampung halamannya di Sidenring Pangkajene (Makasar) sesudah Syarifah wafat dan
kedua anaknya sudah dewasa.30 Lebih jauh menurut Abu Daudi, Syekh Abdul Wahab
Bugis sebenarnya tidak pulang ke daerah asalnya tetapi meninggal lebih muda dari
Syekh Muhammad Arsyad dan dikuburkan di pemakamam Bumi Kencana
Martapura. Selanjutnya oleh Syekh Muhammad Arsyad kubur beliau, bersamaan
dengan isteri-isteri dan anak beliau yang telah meninggal terdahulu, yakni kubur
Tuan Bidur, Tuan Bajut serta Aisyah kemudian dipindahkan ke desa Karangtangah
Kecamatan Martapura pada hari Selasa, 2 Rabiul Awal 1208 H (1793 M).31
       Kesimpulannya, jika Syekh Abdul Wahab Bugis seguru dengan Syekh
Muhammad Arsyad dan pernah mengkaji tasawuf atau tarekat yang sama yakni
Sammaniyah, bahkan mendapatkan pula ijazah sebagai khalifah bersama-
sama dengan temannya yang lain             yang dikenal dengan sebutan empat
             32
serangkai,        maka tidak mustahil ketika ia berada di Tanah Banjar, iapun ikut
menyebarkannya. Sebab tidak mungkin Syekh Abdul Wahab berdiam diri, tanpa
mengamalkan ilmunya ke tengah-tengah masyarakat, sedangkan ia adalah ulama.
                                                                               15




       Kedua, menurut Martin van Bruinessen tokoh pertama yang membawa masuk
tariqat Khalwatiyah-Sammaniyah di Sulawesi Selatan adalah Syekh Yusuf Makassar
dan Syekh Yusuf Bogor.33 Informasi ini memberikan petunjuk bahwa Syekh Abdul
Wahab Bugis tidak pulang ke Sulawesi Selatan untuk menyebarkan ilmunya,
sebagaimana yang dilakukan oleh rekannya Syekh Abdus Samad al- Falimbani dan
dianggap sebagai pembawa pertama tarekat Sammaniyah di daerahnya Sumatera
(Palembang dan sekitarnya). Karenanya petunjuk ini menguatkan kembali asumsi
bahwa ia lebih banyak mengamalkan ilmunya di Kalimantan Selatan, walaupun data
yang merujuk ke sana masih sedikit. Karenanya untuk lebih mengetahui tentang
sejarah hidup dan keberadaan tokoh ini perlu penelitian yang lebih mendalam.


E. Penutup
       Berdasarkan uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa ulama yang mula-
mula membawa dan menyebarkan tarekat Sammaniyah di Tanah Banjar tercatat ada
tiga orang, yakni Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Muhammad Nafis bin
Idris al-Banjari dan Syekh Abdul Wahab Bugis.
       Hasilnya, perkembangan tasawuf terutama tarekat Sammaniyah di Tanah
Banjar yang memiliki akar sejarah cukup panjang telah menjadi bagian hidup dari
masyarakat Banjar. Karenanya mulai dari masuknya Islam ke wilayah, sampai masa
perjuangan fisik hingga pembangunan sekarang diyakini bahwa tasawuf dan tarekat
tetap eksis dan survive dalam menjaga kerohanian masyarakat.
       Terakhir, hal yang lebih penting dan menarik lagi untuk menjadi bahan
renungan adalah bahwa informasi yang berkembang dan data sejarah yang berserakan
tentang keberadaan atau jejak sejarah perkembangan tasawuf atau tarekat
Sammaniyah di Kalimantan Selatan pada masyarakat Banjar khususnya perlu untuk
dikaji dan diteliti kembali secara lebih mendalam dan komprehensif. Sehingga
informasi, dan data-data yang mengetengahkan tentang keberadaan dan sejarah
perkembangan tarekat ini menjadi lebih jelas dan valid untuk menjadi pengetahuan
dan warisan ilmu kepada generasi mendatang.
                                                                                    16




END NOTE
        1
            Harun Nasution, Perkembangan Ilmu Tasawuf di Dunia Islam, Departemen
Agama RI, Jakarta, 1986, h.21.
        2
            Ibid.
        3
            Haderani. HN, Durrun Nafis Permata yang Indah, Al Ikhlas, Surabaya, 1999,
h.57.
        4
            C. Snouck Hurgronje, Islam di Hindia Belanda, terjemahan. S. Gunawan,
Jakarta: Bhratara, 1973, h.2.
        5
            Usman Said, Pengantar Ilmu Tasawuf, Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi
Agama, IAIN Sumatera Utara, 1981, h.258.
        6
            Abu Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tasawuf, Ramadhani, Solo, 1979, h.47.
        7
            Usman Said, Op. Cit., h.258.
        8
            Sjechul Hadi Permono, “Kedudukan Tarekat dalam Syariat Islam”, dalam
Majalah Nahdlatul Ulama Aula, Nomor 10 Tahun XIII Oktober 1991, h.32.
        9
            Usman Said, Op. Cit., h.286.
        10
             Abu Bakar Atjeh, Op. Cit., h.340.
        11
             C. Snouck Hurgronje, dalam Usman Said, Pengantar Ilmu Tasawuf, Proyek
Pembinaan Perguruan Tinggi Agama, IAIN Sumatera Utara, 1981, h.286.
        12
             Abu Bakar Atjeh, Op. Cit., h.339.
        13
             Wahyudin, “Peran Ajaran Tarekat Sammaniyah dalam Gerakan Perjuangan
Melawan Penjajahan di Kal-Sel”, Makalah Seminar, disampaikan pada tanggal 11
Oktober 2002, LK3 dan Serambi Ummah Banjarmasin, h.6.
        14
             Yusliani Noor, “Sejarah Perjuangan Umat Islam Kalimantan Selatan dari
Pasca Kesultanan Banjar Hingga Zaman Reformasi Indonesia Tahun 1998”, Makalah
Seminar, disampaikan pada tanggal 10 Oktober 2001, PPIK IAIN Antasari
Banjarmasin, h.7. (lihat pula Sjamsuddin, Helius, Islam dan Perlawanan di
Kalimantan Selatan dan Tengah pada Abad 19 dan Awal Abad 20, Pusat Studi dan
Pengembangan Borneo, Yogyakarta, 2000, h.11-12.
        15
             M. Asywadie Syukur Syukur, “Perkembangan Ilmu Keislaman di
Kalimantan”, Makalah Seminar, disampaikan pada seminar On Islamic references in
                                                                                        17




the Malay World di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, tanggal 2-6 Agustus
2001, h.23.
       16
            Zafry Zamzam, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai Ulama Juru
Dakwah dalam Sejarah Penyiaran Islam di Kalimantan Abad ke-13H/18 M dan
Pengaruhnya di Asia Tenggara, Karya, Banjarmasin, 1974, h.12. (lihat pula Idwar
Saleh, Sejarah Bandjarmasin, KPPK. Balai Pendidikan Guru, Bandung, 1958).
       17
            Karel S. Streenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-
19, Bulan Bintang, Jakarta, 1989, h.96.
       18
            Zafry Zamzam, Op. Cit., h.6 dan 12.
       19
            Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat Tradisi-tradisi
Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, 1999, h.66.
       20
            Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara
Abad XVII dan XVIII, Mizan, Bandung, 1994, h.253.
       21
            Martin van Bruinessen, Op. Cit., h.66.
       22
            Ahmadi Isa, Ajaran Tasawuf Muhammad Nafis dalam Perbandingan, PT.
Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2001, h.28 (lihat pula Zafri Zamzam, Op. Cit., h.6 dan
13.
       23
            M. Laily Mansyur, Kitab ad-Durrun Nafis Tinjauan atas Suatu Ajaran
Tasawuf, Hasanu, Banjarmasin, t.th. h.2.
       24
            Abdullah Hawas, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di
Nusantara, Al Ikhlas, Surabaya, t.th., h.109 (lihat pula Ahmadi Isa, Op. Cit., h.29).
       25
            Ahmadi Isa, “Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dan Kitabnya al-Durr al-
Nafis”, Makalah Seminar, Disajikan pada diskusi keislaman oleh LK3 dan Serambi
Ummah Banjarmasin Post, tanggal 24 Juli 2000.
       26
            Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam di Indonesia, Dirjend Pembinaan
Kelembagaan Agama Islam Proyek Peningkatan Sarana dan Prasarana PTA, Jakarta,
1992/1993, h.777.
       27
            Ibid.
       28
            Zafry Zamzam, Op. Cit., h.7.
                                                                                      18



       29
            Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Tuan Haji Besar,
Sekretariat Madrasah Sultan al-Ulum Dalam Pagar, Martapura, 1996, h.111.
       30
            Zafry Zamzam, Op. Cit., h.14.
       31
            Informasi secara tertulis tentang hal ini penulis dapatkan dalam buku catatan
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang diperlihatkan oleh Abu Daudi ketika
penulis bersilaturrahmi ke rumah beliau dan berziarah ke makam Syekh Abdul
Wahab Bugis di desa Karang Tengah Martapura, karena itu data ini lebih kuat dari
yang dikatakan oleh Zafri Zamzam bahwa Syekh Abdul Wahab Bugis pulang ke
daerah asal beliau dan meninggal di sana. Kemudian oleh Abu Daudi catatan ini telah
dimuat dalam bukunya yang berjudul Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-
Banjari Tuan Haji Besar, Op. Cit., h.61.
       32
            Ibid., h.31
       33
            Martin van Bruinessen, Op. Cit., h.286


                                  DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Hawas, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara,
      Surabaya: Al Ikhlas, t.th.
Atjeh, Abu Bakar, Pengantar Ilmu Tasawuf, Solo: Ramadhani, 1979.
Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad
       XVII dan XVIII, Bandung: Mizan, 1994.
Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat Tradisi-tradisi Islam
       di Indonesia, Bandung: Mizan, 1999.
Daudi, Abu, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Tuan Haji Besar.
      Martapura: Sekretariat Madrasah Sultan al-Ulum Dalam Pagar, 1980.
Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam di Indonesia, Jakarta: Dirjend Pembinaan
       Kelembagaan Agama Islam Proyek Peningkatan Prasarana dan Sarana PTA,
       1992/1993.
Haderani. HN, Durrun Nafis Permata yang Indah, Surabaya: Al Ikhlas, 1999.
Hurgronje, C. Snouck, Islam di Hindia Belanda, terjemahan. S. Gunawan, Jakarta:
      Bhratara, 1973.
Isa, Ahmadi, Ajaran Tasawuf Muhammad Nafis dalam Perbandingan, Jakarta: PT.
       Rajagrafindo Persada, 2001.
                                                                               19




……………, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dan Kitabnya al-Durr al-Nafis,
   makalah disajikan pada diskusi keislaman oleh LK3 dan Serambi Ummah
   Banjarmasin Post, tanggal 24 Juli 2000.
Mansyur, M. Laily, Kitab ad-Durrun Nafis Tinjauan atas Suatu Ajaran Tasawuf,
      Banjarmasin: Hasanu, t.th.
Maskuri, M. Ilham, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dalam Perkembangan Islam
      di Kalimantan Selatan (Tinjauan Sejarah Pembaharuan Wacana Relegio-
      Intelektual), makalah disajikan pada diskusi keislaman oleh LK3 dan Serambi
      Ummah Banjarmasin Post, tanggal 24 Juli 2000.
Permono, Sjechul Hadi, Kedudukan Tarekat dalam Syariat Islam, dalam Majalah
      Nahdlatul Ulama Aula, Nomor 10 Tahun XIII Oktober 1991.
Said, Usman, Pengantar Ilmu Tasawuf, Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama:
       IAIN Sumatera Utara, 1981.
Saleh, M. Idwar, Sejarah Bandjarmasin, Bandung: KPPK. Balai Pendidikan Guru,
       1958.
Sjamsuddin, Helius, Islam dan Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Tengah pada
      Abad 19 dan Awal Abad 20, Yogyakarta: Pusat Studi dan Pengembangan
      Borneo, 2000.
Streenbrink, Karel S., Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19,
       Jakarta: Bulan Bintang, 1989.
Syukur, M. Asywadie, “Perkembangan Ilmu Keislaman di Kalimantan, makalah
      disampaikan pada seminar On Islamic references in the Malay World”,
      Makalah Seminar, disampaikan pada tanggal 2-6 Agustus 2001, Bandar Sri
      Begawan, Brunei Darussalam.
Wahyudin, “Peran Ajaran Tarekat Sammaniyah dalam Gerakan Perjuangan Melawan
     Penjajahan di Kal-Sel”, Makalah Seminar, disampaikan pada tanggal 11
     Oktober 2002, Banjarmasin: LK3 dan Serambi Ummah. Banjarmasin Post.
Yusliani Noor, “Sejarah Perjuangan Umat Islam Kalimantan Selatan dari Pasca
       Kesultanan Banjar Hingga Zaman Reformasi Indonesia Tahun 1998”,
       Makalah Seminar, disampaikan pada tanggal 10 Oktober 2001, Banjarmasin:
       PPIK IAIN Antasari.
Zamzam, Zafry, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai Ulama Juru Dakwah
     dalam Sejarah Penyiaran Islam di Kalimantan Abad ke-13H/18 M dan
     Pengaruhnya di Asia Tenggara, Banjarmasin: Percetakan Karya, 1974.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3644
posted:10/26/2010
language:Indonesian
pages:19