Sayyid Quthub

Document Sample
Sayyid Quthub Powered By Docstoc
					           Perjuangan dan Pemikiran Dakwah Sayyid Quthub
                 (Ideolog Gerakan Kebangkitan Islam)
                                         Oleh
                                     Zulfa Jamalie1

                                       ABSTRAK

    Salah seorang tokoh yang menjadi pelopor gerakan Islam di Mesir adalah Sayyid
    Quthub, penulis tafsir Fii Zhilalil Quran. Ia tidak saja terkenal karena kealiman,
    kepiawian, dan produktivitasnya menulis, namun juga perjuangan dan dakwahnya.
    Dakwah menegakkan sistem Islam bagi Quthub adalah sesuatu yang harus
    diperjuangkan, apapun resikonya, penjara bahkan tiang gantungan sekalipun.
    Sebab dakwah merupakan jalan dan metode untuk mengajak umat manusia
    memasuki sinar Islam, sekaligus menjadikan mereka sebagai khaira ummatin.
    Karena itu dakwah harus dilaksanakan secara sistematis dan teratur sesuai dengan
    kaidah-kaidah perjuangan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Orasi
    ilmiah, militansi dakwah, dan berbagai karya tulis (buku) yang dihasilkannya
    telah memberikan warna tersendiri bagi gerakan-gerakan dakwah Islam, bahkan ia
    dianggap tokoh yang paling penting dalam perumusan ideologi kebangkitan
    Islam. Menurut simpulan Sayyid Quthub, umat Islam tidak akan bisa bangkit dan
    berjaya, kecuali dengan menjadikan sistem Islam sebagai satu-satunya sistem
    yang mengatur kehidupan mereka, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah
    Swt.

    Kata-kata kunci : Perjuangan dakwah, kebangkitan Islam, dan Sayyid Quthub.


A. Pendahuluan
       Pada abad ke-20 Masehi telah lahir beberapa orang tokoh pemikir dan pejuang
Islam, yang gagasan-gagasan mereka berdampak luas bagi orang-orang yang hidup
sezaman maupun bagi orang-orang yang ada sesudahnya. Tulisan-tulisan mereka
memperoleh kedudukan yang utama dalam memberikan pandangan tentang Islam dan
solusi berbagai masalah menurut perspektif Islam secara menyeluruh, yaitu sintesa
yang diperlukan untuk mengantisipasi         perubahan sosial yang sangat cepat yang
menyertai dampak modernisasi dan westernisasi dengan tantangannya yang langsung
terhadap institusi-institusi yang ada, demikian tulis John L Esposito dalam bukunya
Voice of Resurgent Islam.2

       1
        Penulis adalah dosen tetap Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin
       2
        John L Esposito (ed.), Voice of Resurgent Islam, terjemahan Bakri Siregar, Dinamika
Kebangkitan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1987), h.68.
       Di antara para pemikir yang cukup penting peranannya bagi perkembangan
dan gerakan kebangkitan Islam tersebut adalah Sayyid Quthub.3 Ia tidak saja terkenal
karena kealiman, kepiawian, dan produktivitasnya menulis selaku seorang da’i
militan, corong utama dakwah dan penerangan Ikhwanul Muslimin, serta penerus
Hasan al-Banna. Tetapi, ia juga kaya dengan pemikiran di bidang dakwah, jihad,
tafsir Quran, sosial, pemerintahan, ekonomi, dan lain-lain yang gaung dan
pengaruhnya tidak saja bergema di Mesir, tetapi juga sampai keberbagai pelosok
dunia Islam, bahkan sampai ke dunia Barat.
       Selama hidupnya Quthub telah mencurahkan perhatian dan pemikirannya
untuk memperjuangkan dakwah Islam di bawah panji-panji organisasi Islam
Ikhwanul Muslimin Mesir. Sebagai seorang pemikir Islam dan da’i militan yang
berdakwah lewat amal perjuangan dan goresan pena, sosok Quthub mempunyai peran
yang sangat penting dalam membimbing, mengarahkan, dan membina masyarakat.
Karya tulis dan surat kabar harian yang diterbitkannya mempunyai dampak yang luas
bagi masyarakat, sedangkan ide, gagasan, dan pemikirannya selalu ditunggu dalam
berbagai konferensi dan lokakarya. Quthub juga membina dan mengkader generasi
muda Islam lewat pengajiannya.
       Sebagai seorang intelektual muslim ia telah memberikan konstribusi
pemikirannya terhadap hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan umat, baik bidang
politik, ekonomi, kemasyarakatan dan pemerintahan, lebih-lebih lagi bidang agama.
Bahkan sejak pelaksanaan hukuman matinya di Kairo pada tahun 1966, konsep
pemikiran dan tulisan-tulisannya memberi ide dan mengilhami banyak gerakan
pembaharuan di seluruh dunia Islam dan mampu menyulut citra serta komitmen kaum
muslimin untuk lebih giat bekerja dan berjuang mencapai tujuan Islam dalam
kehidupan mereka. Karena itulah Quthub dianggap sebagai salah seorang perumus
ideologi kebangkitan Islam, di mana perumusan pemikiran Islamnya mempunyai
dampak yang sangat penting terhadap kebangkitan dan kemajuan umat. Quthub
adalah penerus perjuangan mujahid dakwah yang telah mendahuluinya.


       3
           selanjutnya akan ditulis dengan Quthub saja.
        Quthub memulai kiprahnya dengan menjadi penulis diberbagai media massa
yang terbit di Mesir. Ia kemudian menjadi pemimpin dan menerbitkan majalah Al-
Fikrul Jadied. Di samping itu, berbagai karya tulisnya tentang dakwah dan Islam
telah pula dimuat dalam berbagai majalah yang terbit pada masa itu. Tulisan-
tulisannya mempunyai pengaruh yang amat luas dalam masyarakat, karena mampu
mendorong mereka kembali kepada ajaran Islam.
        Peranan Quthub semakin penting ketika ia masuk dan bergabung ke dalam
organisasi Ikhwanul Muslimin pimpinan Hassan al-Banna, bahkan kemudian ia
dipercaya menjabat ketua bagian dakwah dan penerangan pada organisasi tersebut.
Sehingga kemudian aktivitasnya semakin dipenuhi oleh amal dakwah dan perjuangan
untuk membina umat, baik dakwah secara tertulis maupun dakwah secara lisan,
bahkan jihad mempertahankan dakwah dan menegakkan ajaran Islam.
        Sebagai seorang juru dakwah Quthub telah menyediakan rumah dan
meluangkan waktunya untuk menerima kedatangan para ulama, intelektual, politisi,
serta masyarakat luas umumnya. Pertemuan itu digunakannya untuk bermudzakarah
(berdialog) secara langsung tentang berbagai masalah keislaman dengan mereka.
Bahkan rumahnya juga berfungsi sebagai wadah dalam membina dan membimbing
masyarakat Islam serta generasi muda untuk menjadi kader dan pejuang dakwah
Islam (kaderisasi).
        Quthub juga populer sebagai seorang penulis (sastrawan) yang produktif dan
handal, ia bahkan dikenal sebagai seorang orator ulung yang sering menyampaikan
orasi dakwahnya diberbagai konferensi dan seminar, baik yang diadakan di Mesir,
Suriah, Lebanon, Arab Saudi maupun negeri-negeri Islam lainnya.
        Sejumlah karya tulis Quthub telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa.
Tafsirannya tentang Alquran yakni tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjadi sangat terkenal
karena gaya bahasanya yang jernih, pendekatan yang didaktis, dan pengajarannya
yang memikat. Wajar jika Zainab al-Ghazali al-Jabili4 mengakui bahwa:


        4
        Zainab al-Ghazali al-Jabili adalah ketua umum Jamaah Muslimat Mesir, yang kemudian
bergabung dengan organisasi Ikhwanul Muslimin di bawah pimpinan Hassan al-Banna dan hidup
sezaman dengan Sayyid Quthub. Beliau wafat pada hari Rabu, 3 Agustus 2005 dalam usia 88 tahun.
       Sayyid Quthub adalah seorang ahli tafsir Alquran dan seorang juru dakwah
   yang terkenal, seorang ilmuwan yang cerdas, menguasai metode dan dalil-dalil
   yang kuat dan akurat. Teguh pada keyakinan yang menjadi dasar dan pegangan
   hidupnya, terutama keyakinan akan kebenaran dan kemenangan umat Islam
   sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah Swt.5

        Begitu juga menurut Fallah al-Fasi, seorang cendikiawan Islam dan ulama
besar dari Maroko:

        Sayyid Quthub adalah seorang yang kuat kepribadian agamanya, luas
   ilmunya, seorang mujahid yang bersih, seorang yang amat mencintai kebaikan,
   seorang yang mempunyai hati subur, suci dan berjiwa bening. Dia menginginkan
   kebaikan untuk semua orang. Di samping itu dia adalah seorang alim yang besar,
   berjiwa kritis dan mufassir Alquran serta mendalami persoalan masyarakat slam
   dengan pandangan yang luas.6

        Tulisan-tulisan Quthub yang tersebar keberbagai negara dan dunia Islam
tersebut telah memberi pengaruh yang luas terhadap kehidupan masyarakat Islam,
berisi dan menghendaki agar umat kembali kepada ajaran Islam secara kaffah dan
telah mengilhami banyak gerakan pembaharuan di seluruh dunia Islam serta mampu
mensupport citra dan komitmen kaum muslimin untuk tetap survive, sehingga mereka
termotivasi untuk lebih giat berusaha guna mendukung terwujudnya tujuan Islam
dalam kehidupan masyarakat. Bagi Quthub tidak ada jalan lain untuk keluar dari
berbagai problema yang ada, kecuali kembali kepada ajaran Islam secara menyeluruh
dan totalitas.
        Melalui dakwahnya Quthub berjuang untuk kejayaan islam dan melalui
tulisan-tulisannya yang telah dibukukan, Sayyid Quthub menyampaikan berbagai
gagasan dan pandangannya mengenai sistem Islam, baik yang berkenaan dengan
hakikat Islam, ciri-ciri Islam, metode dan strategi dalam memperjuangkan dakwah
Islam. Pandangan dan pemikiran sekaligus nilai-nilai perjuangan amal dakwah
Sayyid Quthub inilah yang hendak dipotret dan sajikan dalam tulisan ini.


        5
           Zainab al-Ghazali al-Jabili, Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin, (Jakarta: Gema Insani
Press, 1980), h.177.
         6
           Lihat Agus Hakim, “Sayyid Quthub Ironi Ulama Pejuang”, Majalah Panji Masyarakat,
Nomor 308, Edisi 1 Desember 1980, h.17.
B. Biografi Singkat Sayyid Quthub
     1. Kelahiran
        Secara pasti tanggal dan bulan kelahiran Quthub tidak diketahui. Berbagai
tulisan yang membicarakan sejarah hidupnya tidak pernah menyebutkan tanggal dan
bulan kelahirannya. Tulisan-tulisan tersebut hanya mengemukakan tempat dan tahun
kelahiran tokoh ideolog kebangkitan Islam dan penggerak Ikhwanul Muslimin ini.
        Menurut John L Esposito, Quthub dilahirkan di desa Qaha di propinsi Asyut,
putra Al-Hajj Quthub bin Ibrahim, seorang petani terhormat yang relatif berada dan
menjadi anggota Partai Nasionalis.7 Dalam buku Ensiklopedi Islam (3) dikatakan
bahwa Quthub adalah seorang tokoh intelektual terkemuka di Mesir pada zamannya,
dilahirkan pada tahun 1906 di desa Qaha, yakni suatu daerah yang termasuk dalam
wilayah propinsi Asyut Mesir.8
        Agus Hakim menjelaskan bahwa Quthub dilahirkan dari kalangan keluarga
yang taat dan terpelajar, ia tertua di antara empat bersaudara, yakni Muhammad
Quthub, Hamidah Quthub, dan Aminah Quthub. Mereka semua dikenal sebagai
orang-orang terpelajar yang aktif serta berjuang dalam organisasi Ikhwanul
Muslimin, dan ikut menderita akibat rezim Gamal Abdul Nasser.9
        Berdasarkan beberapa pendapat di atas, jelas bahwa Quthub lahir dari
kalangan keluarga terpelajar yang taat pada agama Islam, di mana ayahnya adalah
seorang pemimpin atau guru agama di desanya, sedangkan ibunya adalah seorang
wanita saleh yang taat beribadah.



     2. Pendidikan



        7
          John L. Esposito, op. cit., h.68.
        8
          Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jilid 3, (Jakarta: Departemen Agama RI, 1993), h.1038.
Hal senada juga dikemukakan oleh beberapa penulis lainnya, seperti Munawir Sjadzali, Islam and
Governmental System, (Jakarta: INIS, 1991), h.101; Ali Gharisah, Metode Pemikiran Islam, (Jakarta:
Gema Insani Press, 1991), h.114 dan M. Laily Mansur, Pemikiran Kalam dalam Islam, (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1994), h.140.
        9
          Agus Hakim, op. cit., 17.
       Quthub mulai pendidikan formalnya di sekolah dasar yang ada di desa
kelahirannya pada usia enam tahun dan kemudian tamat pada usia sepuluh tahun.
       Di samping belajar di sekolah formal ia juga memperoleh pendidikan awalnya
dari seorang ustadz yang ada di kampung halamannnya serta dari orang tuanya
sendiri yang dikenal sebagai guru agama, sehingga pendidikan agama diberikan
kepadanya secara ketat. Tidaklah mengherankan jika kemudian pada usia sepuluh
tahun ia sudah hapal Alquran. Pendidikan yang telah diberikan oleh orangtuanya
tersebut sangat membekas di hatinya, sehingga dengan jelas digambarkannya dalam
bukunya Masyahidul Qiyamah fil Qur’an (Hari Kiamat Menurut Alquran) dan At-
Tashwirul Fanny fil Qur’an.10
       Pada usia tigabelas tahun, oleh orangtuanya ia dikirim ke Khalwan (Kairo)
untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah. Di kota inipun ia menunjukkan
kesungguhan dan kecerdasan yang tinggi, sehingga pada akhirnya ia berhasil lulus
dengan nilai yang memuaskan.
       Selanjutnya Quthub meneruskan lagi pendidikannya ke Perguruan Tinggi
masuk Tajhiyah Darul Ulum,11 menekuni bidang Sastra dan Islam. Di sinilah ia mulai
berkenalan dan menjadi akrab dengan kepustakaan Barat dan sebagaimana intelektual
muda lainnya waktu itu ia tumbuh sebagai seorang pengagum sekaligus kritikus Barat
yang tajam.
       Setelah tamat dari Perguruan Tinggi Darul Ulum dan memperoleh gelar
sarjana dalam bidang pendidikan dan pengajaran, maka pada tahun 1933 ia langsung
diangkat menjadi inspektur pada Departemen Pendidikan dan Pengajaran Mesir.12
Sewaktu aktif di departemen inilah Quthub mendapat tawaran dan tugas belajar ke
Amerika Serikat untuk memperdalam pengetahuannya tentang pendidikan.
       Selama dua tahun ia berada di Amerika Serikat, namun ia tidak hanya
mengkhususkan diri menekuni suatu kurikulum tertentu akan tetapi juga melakukan
studi lapangan dan observasi terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan organisasi

       10
           Sayyid Quthub, Masyahidul Qiyamah fil Qur’an, terjemahan Abdul Aziz, Hari Akhir
Menurut Alquran, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), h.i.
        11
           M. Laily Mansur, op. cit., h.141.
        12
           Ibid., h.141.
dan administrasi pendidikan, karena itulah ia membagi waktu studinya antara
Wilson’s Teacher’s College di kota Washington DC, Greely College di Coloraddo
dan Stanford University di California, sampai akhirnya meraih gelar doktor di bidang
pendidikan.13
       Selama menetap di Amerika ia juga sempat mengunjungi banyak kota-kota
besar di sana, termasuk di Inggeris, Swiss, Italia dan Jerman. Pengamatannya
terhadap denyut jantung kehidupan modern di negara-negara Barat dan Eropa yang
sekulerisme dan materialisme mendorong dan menjadikannya semakin yakin bahwa
Islamlah satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan kehidupan umat manusia dari
segala paham yang menyesatkan.
       Setelah menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar doktor pada tahun
1950, Quthub kembali ke Mesir dengan membawa pelajaran dan pengalaman yang
sangat berharga untuk disumbangkan kepada masyarakat. Namun ia tidak
menyelesaikan tugasnya pada Departemen Pendidikan dan Pengajaran Mesir, karena
ia lebih condong dan tertarik untuk menjadi seorang sastrawan (penulis), ketimbang
menjadi seorang pegawai pemerintah, karena itulah kedudukan ini ia tinggalkan
sebelum masa pensiun. Ia kemudian lebih memfokuskan dirinya pada bidang tulis-
menulis. Di samping itu Sayyid Quthub juga bertugas sebagai sebagai tenaga
pengajar di almamaternya Darul Ulum.
       Perpaduan dari belajar secara formal di lembaga pendidikan Islam maupun
pendidikan Barat dengan belajar otodidak menjadikan Sayyid Quthub seorang sarjana
dan intelektual muslim yang diakui keluasan ilmu dan kealimannya, seorang
pemimpin dan mujahid Islam yang ulet dan gigih serta penerus dari generasi pejuang
yang telah mendahuluinya.
    3. Karya Tulis
       Quthub adalah seorang cendikiawan yang cerdas dan sangat berbakat,
sehingga ketika ia menuntut ilmu di perguruan tinggi Darul Ulum ia sangat akrab
dengan literatur dan kepustakaan Barat. Berbagai buku dan karya sastra pengarang
dari Barat telah dibacanya dengan seksama.

       13
            Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jilid 4, (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1993), h.145.
       Begitu bebas dari tugas-tugasnya sebagai seorang pegawai pemerintah, Sayyid
Quthub segera bergabung dengan kelompok pengarang Mesir ketika itu. Mengingat
bakat dan kecerdasannya, maka dalam waktu relatif singkat ia sudah termasuk dalam
jajaran penulis Mesir terkemuka, seperti Thaha Husien, Abbas Mahmud al-Aqqad,
Musthafa Sadiq Rifa’i, dan lain-lain.14
       Quthub sangat tertarik dengan kesusasteraan Inggris dan banyak membaca
serta menelaah segala sesuatu yang dapat diperolehnya dalam bentuk terjemahan dari
karya-karya pengarang Inggris. Di samping itu pula ia adalah peserta aktif dalam
berbagai debat sastra dan sosial pada zamannya.
       Quthub mulai mengembangkan bakat menulisnya dengan membuat karangan
untuk anak-anak dengan meriwayatkan tentang perjalanan hidup para nabi dan
berbagai cerita lainnya dari sejarah Islam. Perhatiannya kemudian lebih meluas lagi
kepada cerita pendek, puisi, kritik sastra, dan artikel untuk majalah dan masalah-
masalah keislaman. Suatu yang menjadi ciri khas tulisan-tulisannya adalah kedekatan
dan keterkaitannya dengan Alquran.15
       Pada akhir tahun 1940-an, Quthub menulis dua buah buku dengan topik
Alquran seraya mengatakan pada pengantarnya, “Saya telah menemukan Alquran”.16
Buku tersebut adalah At-Tashawwirul Fanny fil Qur’an, buku ini Quthub
persembahkan untuk ibunya, sedangkan buku yang kedua adalah Masyahid al-
Qiyamati fil Qur’an, yang khusus ia persembahkan untuk ayahnya.
       Dalam pembahasan kedua buku ini Quthub bermaksud untuk menjelaskan
secara umum tentang berbagai bentuk ungkapan artistik dalam Alquran, ciri-ciri serta
karakteristiknya    dengan      menggunakan       metode      tashwir    (pelukisan     atau
penggambaran). Melalui metode tashwir, Quthub ingin menyajikan keindahan dan
keistimewaan Alquran serta mengarahkan umat kepada suasana Qurani, yaitu suasana
baru yang dapat dirasakan manusia sebagai hidangan lezat seperti suasana



        14
          M. Laily Mansur, loc. cit.
        15
          Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jilid 4, op. cit., h.146.
       16
          Sayyid Quthub, At-Tashawwirul Fanny fil Qur’an, terjemahan Chadidjah Nasution, Seni
Penggambaran dalam Alquran, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1981), h..1.
diturunkannya Alquran itu sendiri, sebagaimana yang telah ia gambarkan dalam
bukunya tersebut bahwa:
        Alquran adalah kitab mukjizat yang indah, yang paling berharga dalam
   keseluruhan kepustakaan umat manusia. Tak sedikit orang yang berusaha
   mengungkap dan menangkap kembali keindahan, mengembangkan penafsiran
   linguistik, sintaksis, kesejarahan, fikih, dan bahkan kisah-kisahnya. Juga dengan
   menonjolkan segi estetikanya, menguraikan karakteristik kesusasteraannya dan
   menggugah perasaan terhadap berbagai aspek keindahan Alquran. Hal-hal seperti
   itulah yang menjadi tujuan pokok saya dengan kepustakaan Alquran.17

        Kemudian, pada tahun 1948 Quthub menulis buku berjudul, Al-Adalah al-
Ijtimaiyyah fil Islam (Keadilan Sosial dalam Islam). Buku ini berisi pembahasan
tentang keadilan sosial yang menyangkut hak dan kewajiban manusia dipandang dari
sudut Islam. Dalam buku tersebut Quthub juga mengemukakan pendapatnya bahwa
Islam berbeda sekali dengan Kristen ataupun Komunisme. Islam memiliki ajaran-
ajaran sosial yang tersendiri, yakni yang ia namakan sebagai sosialisme Islam.
Sosialisme Islam inilah yang mencegah timbulnya pemisahan hubungan antara agama
dan masyarakat di satu sisi, dan atheisme di sisi lain. Islam memandang manusia
sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah antara kebutuhan rohani dan dorongan
jasmaniahnya, antara kebutuhan spiritual dan kebutuhan materialnya. Islam
memandang alam semesta dan kehidupan dengan kacamata integral yang tidak
beraneka dan tidak terpisah-pisah. Inilah titik persimpangan antara Kristen dan
komunisme dengan Islam.18
        Berbagai karya tulis Quthub juga lahir ketika ia berstudi di Amerika Ketika
meneruskan pendidikannya di Amerika. Dukungan publik Amerika terhadap Israel,
fenomena kebebasan seksual dan pelacuran dalam masyarakat Amerika ketika itu,
pemakaian alkohol secara bebas, pergaulan laki-laki dan perempuan yang tampa
batas, dan kerusakan moral lainnya yang telah ia saksikan, telah mendorong Quthub
untuk menuliskan karya-karyanya tentang Amerika dan kehidupan masyarakatnya,
antara lain adalah:

        17
           Sayyid Quthub, Masyahidul Qiyamah fil Qur’an, op. cit., h.xii.
        18
           Sayyid Quthub, Al-Adalah al-Ijtimaiyyah fi al-Islam, terjemahan Afif Mohammad, Keadilan
Sosial dalam Islam, (Bandung: Pustaka Salman ITB, 1984), h.34.
1. Adimierul Amerikanis wa Qadhiyyatu Falsthien (Sikap Mental Orang Amerika
   dan Masalah Palestina), artikel ini dimuat dalam majalah Al-Risalah edisi 694,
   tanggal 21 Oktober 1946.
2. Amerika Latie Raaitu fi Mizanil Qiyamil Insaniyyah (Amerika di mata Saya
   Menurut Timbangan Nilai-Nilai Kemanusiaan, artikel ini terdiri dari tiga seri, seri
   yang pertama dimuat dalam majalah Al-Risalah edisi 957 tanggal 5 Nopember
   1951, seri kedua dalam majalah Al-Risalah edisi 595 tanggal 9 Nopember 1951,
   dan seri ketiga dalam majalah Al-Risalah edisi 961 tanggal 3 Desember 1951.
3. Islam Model Amerika, artikel ini dimuat dalam majalah Al-Risalah edisi 991 tahun
   1952.
4. Aduwwunal Awwal ar-Rajulul Abyadh (Musuh Kita yang Utama adalah Orang
   Kulit Putih, artikel ini dimuat dalam majalah Al-Risalah edisi 1009 tanggal 3
   Nopember 1952.
5. Al-Alam Waladun Aaqin (Dunia Bagaikan Anak yang Sakit), tulisan ini berbentuk
   makalah yang kemudian dipublikasikan oleh majalah Al-Kitab.
6. Adhwaa min Ha’iid (Cahaya dari Jauh), makalah yang dipublikasi oleh majalah
   Al-Kitab.19

        Sekembalinya dari Amerika Serikat, Sayyid Quthub masuk dan bergabung
dalam organisasi Ikhwanul Muslimin pimpinan Dr. Hasan al-Hudhaibi (pengganti
Hasan al-Banna yang wafat tertembak). Pada masa ini Quthub lebih aktif dan
produktif lagi menulis tentang tema-tema keislaman secara lebih konsepsional
dibanding sebelumnya, dan lebih memfokuskan tulisannya pada kandungan isi
Alquran.20 Ia juga menjadi kritikus Barat yang sangat tajam.21
        Hampir dalam setiap tulisan dan buku yang dikarangnya Quthub selalu
menonjolkan dan mengusulkan Islam sebagai suatu alternatif yang paling tepat dan
sesuai dibanding dengan sistem-sistem yang lain. Sisa hidupnya pun diabadikannya
dengan menekankan isi, cakupan, dan metode Islam. Tulisan-tulisan dengan tema ini
telah memberikan efek yang jelas dan kuat kepada kaum muslimin sezamannya, akan
isi, ideologi, dan kandungan perasaan yang menyokong pembaharuan dan revivalisme
Islam.22
        Dengan menulis hampir dalam semangat dialog, pada tahun 1959 dalam salah
satu tulisannya Quthub menyatakan:
        19
            Sholah Abdul Fatah al-Kholidi, Sayyid Quthub Mengungkap Amerika, (Surabaya: Sarana
Ilmiah Press, 1990), h.8.
         20
            John L Esposito (ed.), op. cit., h.70.
         21
            John L Esposito, Ancaman Islam : Mitos atau Realitas, (Bandung: Mizan, 1994), h.141.
         22
            Ibid.
        When Islam alone is recognized as the sole saviour from the disastrous
   dangers toward which humanity is heading, at tracted by the glittering of material
   civilization. And when it is recognized that Islam alone is capable of offering
   humanity the system which coordinates and harmonizes its progress in material
   innovation and spiritual exaltition. And when it is recognized that Islam alone can
   establish a realistic system of life, achieving such coordination and harmony that
   has never been experienced by humanity throughhout all history except under
   Islamic rule.23

        Quthub sendiri mencapai puncak kejayaannya dalam bidang kritik sastra
(penulisan) pada pertengahan tahun empatpuluhan, hingga banyak orang mengakui
kelebihannya sebagai guru,24 sebagaimana kekaguman dan pengakuan Thaha Husien
dan Abbas Mahmud al-Aqqad.25
        Pada masa ini cukup banyak karya tulisnya berupa artikel dan makalah yang
tersebar dalam berbagai majalah, seperti majalah Al-Risalah, Al-Tsaqafah, dan
sebagainya. Demikian pula buku-bukunya tentang kritik sastra telah cukup terkenal di
kalangan orang banyak, seperti Quthub wa Syakhsiyyat dan An-Naqdul Adaby
Ushuluhu wa Manahijuh.26 Ia dikenal sebagai penulis yang sangat produktif, bahkan
beberapa karyanya ditulis ketika mendekam dalam penjara Mesir yang dingin dan
pengap, seperti buku Hadza al-Din (Inilah Islam), Ma’alim fith-Thariq (Petunjuk
Jalan), dan Fii Zhilalil Quran (Di Bawah Naungan Alquran). Lebih dari itu, sebelum
dihukum gantung iapun sempat menyelesaikan buku yang berjudul Limadza
Taaddamuni (Mengapa saya dihukum Mati).
        Dari bakat dan kecerdasannya tersebut telah lahir karya tulis tidak kurang
duapuluh empat buah buku, sejumlah artikel, dan makalah yang disajikan dalam
forum seminar. Selama hidupnya ia banyak menulis artikel untuk majalah terutama
majalah Ar-Risalah, Ats-Tsaqafah, Al-Liwa, Al-Kitab, Al-Iman, Al-Shihab, Al-
Azhar, dan lain-lain yang terbit di masanya serta sejumlah makalah yang membahas
persoalan-persoalan populer dan aktual yang diperdebatkan oleh kalangan intelektual


        23
           Sayyid Quthub, Islam The Religion of The Future, (New Delhi: Markazi Maktaba Islami,
Bazar Chitli Qaber, t.th.), h.125.
        24
           Sholah Abdul Fatah al-Kholidi, op. cit., h.17.
        25
           Agus Hakim, op. cit., h. 18
        26
           Ibid., h.18.
dan cendikiawan Mesir ketika itu, termasuk tulisan-tulisannya selama tinggal di
Amerika. Adapun karya-karya Sayyid Quthub itu antara lain adalah:
a. Buku:
   1. Al Adalah al-Ijtimaiyyah fil Islam*
   2. Ma’arakat al Islam wa al-Rasmaliyah
   3. Al Islam wa Salamul Alami*
   4. Nahwa Mujtama Islami
   5. Khashaishu al-Tashawwuril Islami wa Muqawamatuhu*
   6. Al Islami wa Muqilat al-Hadharah
   7. Hadza al-Din*
   8. Al Mustaqbal li Hadza al-Dien*
   9. Ma’alim fith-Thariq*
   10. Dirasat Islamiyah*
   11. Fii Tarikh wa Fikratu wa Manhaju*
   12. Fiqih Da’wah*
   13. Al Jihadu fii Sabilillah*
   14. Muqawamatuhu al Tashawuril Islami*
   15. Ma’arakatuna Ma’a al-Yahud
   16. Fii Zhilalil Qur’an* (Tafsir)
b. Beberapa kumpulan Essei:
   1. Tafsir Ayat Riba*
   2. Tafsir Surah asy-Syuura
   3. Qissah al-Da’wah
   4. Ma’arakatuna Ma’a al-Yahud
   5. Islam aw La Islam27
   6. Fii al-Tarikh Fikrah wal Manhaj*
c. Karya dalam bentuk artikel yang terbit dibeberapa majalah dengan topik-topik
   keislaman dan hal-hal hangat yang dibicarakan di kalangan intelektual Mesir pada
   saat itu antara lain dalam majalah Al-Risalah, Al-Liwa, Al-Jaddid, Al-Dakwah,
   Al-Kitab, Al-Iman, Al-Azhar, Al-Shihab, Ats-Tsaqafah, dan lain-lain.28
        Dari sekian banyak judul karya tulis tersebut, karya monumental dan paling
terkenal yang telah ditulis oleh Quthub adalah Tafsir Fii Zhilalil Quran, yang disebut
the most remarkable works of prison. Sebab selain berisi tafsiran terhadap Alquran
secara luas dengan menggunakan gaya bahasa yang jernih, pendekatan yang didaktis,




        27
           Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jilid 3, op. cit., h.1039.
        28
           Sholah Abdul Fatah, op. cit., h.17. Sepengetahuan penulis karya tulis Sayyid Quthub yang
diberi tanda * sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
dan pengajarannya yang memikat, teristimewa tafsir ini ditulis dan diselesaikannya
ketika masih mendekam dalam penjara29 selama lebih kurang sepuluh tahun.

C. Perjuangan dan Pemikiran Dakwah Sayyid Quthub
   1. Perjuangan Dakwah
         Setelah Hassan al-Banna wafat, dan Ikhwanul Muslim dianggap sebagai
organisasi terlarang, pada tahun 1952 seiring dengan pecahnya revolusi di Mesir,
Ikhwanul Muslimin pun mulai aktif kembali, sehingga tampillah tiga orang pemimpin
dari pergerakan ini yakni Hasan al-Hudaibi (ketua), Dr. Abdul Kadir Audah
(sekretaris), dan Sayyid Quthub selaku kepala Biro Khusus yang bertanggungjawab
menyusun semua gerakan Ikhwanul Muslimin merangkap Kepala Departemen
Pendidikan, Penerangan dan Dakwah.30
         Karenanya, selama dekade tahun 1950-an ini Quthub tampil sebagai
pembicara dan penyuara dominan bagi akidah Islam dan gagasan Ikhwanul Muslimin
yang paling berpengaruh, di samping Hasan al-Hudhaibi dan Dr. Abdul Kadir Audah
setelah wafatnya Imam Hasan al-Banna. Komitmen, kecerdasan, militansi dan gaya
bertuturnya yang pasih membuat dirinya tampil sebagai pembicara yang efektif,
terlebih dalam konteks konfrontasi rezim dan organisasi yang bertentangan dengan
Islam.
         Sejak menjabat sebagai Ketua Biro Khusus bagian dakwah dan penerangan
masyarakat dalam organisasi Ikhwanul Muslimin, Quthub pun makin sibuk dengan
aktivitas dan dakwahnya, sehingga selama tahun 1953 Quthub sering menghadiri
berbagai konfrensi ataupun seminar dakwah dan Islam di Suriah dan Yordania, serta
sering pula memberikan ceramah tentang akhlak sebagai prasyarat kebangkitan Islam.




         29
           Sedikit tokoh dan intelektual Islam yang tetap berkarya, apalagi menghasilkan karya tulis
dalam bentuk tafsir Quran, ketika mendekam dalam penjara. Tafsir Alquran Fii Zhilalil Quran tulisan
Sayyid Quthub ini adalah satu di antaranya. Selain Quthub, Ibn Taimiyah, Abu al-A’la al-Maududi
juga menyelesaikan tafsir mereka ketika mendekam dalam penjara. Tak ketinggalan, Prof. Dr. Hamka
juga menyelesaikan tafsir Al-Azhar-nya ketika dalam penjara.
        30
           Zainab al-Ghazali al-Jabili, op. cit., h.42.
       Di samping kegiatan dakwah dan penerangan, Quthub juga disibukkan oleh
pembinaan dan pengkaderan dakwah serta pengkajian Islam. Zainab al-Ghazali al-
Jabili menegaskan:
        Kami menghimpun para pemuda untuk mengkaji tentang Alquran, akidah,
   fikih, hadits dan lain-lain, merenungi hukum-hukumNya dan meresapi perintah-
   Nya yang mengatur tingkah laku manusia. Kami juga mendidik, membentuk,
   menyiapkan, dan menanamkan akidah tauhid dalam jiwa para pemuda dan
   menempa keyakinan mereka terhadap Islam dalam rangka menyiapkan calon-
   calon da’i yang siap pakai untuk terjun mengumandangkan dakwah keadilan
   dan kebenaran di bawah bimbingan dan petunjuk Al-Imam Sayyid Quthub.31

       Secara lebih khusus Quthub juga melayani para tamu dari berbagai lapisan
masyarakat (ulama, intelektual, politisi, dan sebagainya) yang datang ke rumahnya,
baik untuk silaturrahmi, berdialog, bertanya tentang Islam, tukar pikiran tentang
dakwah, maupun minta bimbingan dan pengarahan darinya. Terlebih-lebih para
pemuda yang berkumpul mengadakan pertemuan di rumahnya untuk mengkaji dan
membahas masalah-masalah Islam.
        Para pemuda berkumpul dan bertemu di rumah saya, kadang-kadang
   seminggu sekali, dua minggu sekali, dan bisa pula tiap tiga minggu sekali atau
   sebulan sekali. Saya bersama mereka mepelajari sejarah gerakan Islam, masalah
   atheisme, zionisme, dan salibisme terhadap Islam, serta memberikan sedikit
   pengetahuan tentang situasi-situasi di kawasan Islam dalam sejarah modern.
   Kadang-kadang kami mengomentari peristiwa dan berita di radio, secara khusus
   saya juga menugaskan mereka untyuk mempelajari buku-buku Islam dan
   dakwah.32

       Pada bulan Juli 1954 Quthub diserahi jabatan untuk memimpin redaksi
Harian Ikhwanul Muslimin. Hal ini dilakukan untuk memenuhi keperluan komunikasi
dan penerangan dakwah mereka secara luas dan agar dapat menyentuh seluruh
lapisan masyarakat tentang ide dan pemikiran Islam yang akan mereka sampaikan.
Akan tetapi baru dua bulan usianya, harian ini ditutup dan dicabut izinnya atas
perintah Presiden Gamal Abdul Nasser, karena dianggap mengancam perjanjian
antara Mesir-Inggris pada waktu itu.

       31
        Ibid., h.19.
       32
        Sayyid Quthub, Li Madza A’damuni, terjemahan Ahmad Djauhar Tanwiri, Mengapa Saya
Dihukum Mati, (Bandung: Mizan, 1993), h.61.
       Pada tahun 1955 semua pemimpin dan sebagian besar anggota Ikhwanul
Muslimin ditangkap dan di penjara, di antaranya adalah Quthub sendiri, dengan
tuduhan bahwa Ikhwanul Muslimin telah berkomplot dan mengkoordinir semua
anggotanya untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah, sehingga akhirnya pada
tanggal 13 Juli 1956 Quthub dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dengan kerja paksa
oleh pengadilan pemerintah. Ia ditahan dibeberapa penjara di Mesir hingga
dibebaskan pada pertengahan tahun 1964.
       Tapi penjara tidak membuat perjuangan Quthub surut. Di dalam penjara
Quthub tetap aktif menulis dan mencurahkan pemikirannya untuk umat. Ia berhasil
menyelesaikan dan merevisi tiga belas jilid pertama tafsir Alquran Fi Zhilalil Qur’an
dan menulis buku Hadza al-Din serta Mustaqbal li Hadza al-Din.33 Bahkan, selama
di penjara pula Quthub terus melaksanakan dakwah, ia                    selalu berusaha untuk
mengenalkan dan menonjolkan Islam sebagai agama yang hak dan benar.
       Seorang tentara penjara ingin bertobat dan memahami Islam yang sebenarnya,
  karena melihat anggota Ikhwanul Muslimin yang dipenjara dan disiksa tahan
  menderita dengan kesabaran yang luar biasa. Saya meminta kepadanya agar ia
  pergi menemui Al-Ustadz Sayyid Quthub untuk minta bimbingan dan petunjuk
  darinya.34

       Adalah kewajiban saya membimbing dan mengarahkan para pemuda kepada
  konsep akidah dan ajaran Islam secara benar, saya pun telah menyebutkan
  sejumlah buku dan sebagiannya saya bawa ke penjara untuk mereka kaji dan
  telaah. Saya menganjurkan buku-buku tersebut agar mereka baca semampu
  mungkin. Dari sini akhirnya terbentuklah kelompok di penjara Al-Qonathir yang
  mengkaji dan mempelajari Islam penuh dengan semangat.35

       Pemikiran Quthub yang reakresioner, tajam dan bermuara kepada Alquran
dengan menonjolkan akidah Islam sebagai satu-satunya agama yang lurus dan benar,
melalui karya-karya yang ditulisnya tidak saja berpengaruh di Mesir, tetapi
pengaruhnya menyebar keberbagai negara dan dunia Islam. Tafsirnya Fi Zhilalil
Qur’an pada masa itu disiarkan secara rutin pada salah satu radio di Saudi Arabia,
bahkan menurut salah seorang pejabat di Suriah mengatakan tafsir ini sebagai senjata
       33
          Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jilid 3, op. cit., h.1040.
       34
          Zainab al-Ghazali al-Jabili, op. cit., h.162.
       35
          Sayyid Quthub, Li Madza A’damuni, op. cit., h.41.
                                                    36
rahasia revolusi Ikhwanul Muslimin di negara itu.        Karya-karyanya juga tersebar ke
Pakistan, Iran, Irak, Lebanon, Yordania dan lain-lain. Di Amerika tulisan-tulisan
Quthub ini terkenal dan menjadi referensi missi Muslim Amerika yang merasa bahwa
                                                                            37
dakwah dan keterpusatannya pada Alquran sangat tepat untuk diterapkan.
       Tulisan-tulisan Quthub tidak hanya mendapat perhatian dari kalangan
masyarakat luas, tetapi secara khusus juga dari para pejabat pemerintah (politisi),
intelektual, ulama, dan sarjana muslim.
       Setelah sepuluh tahun menjalani hukuman, maka pada pertengahan tahun
1964 Quthub dibebaskan dari penjara oleh Presiden Gamal Abdul Nasser atas
permintaan pribadi Presiden Irak Abdul Salam Arief yang pada waktu itu secara
khusus mengadakan kunjungan muhibbah ke Mesir untuk membawa dan mendukung
permohonan pembebasan Quthub oleh ulama dan intelektual Irak di samping juga
rasa simpatinya.
       Mestinya Quthub beristirahat setelah sepuluh tahun di penjara, apalgi selama
itu ia hidup dengan hanya sebelah paru-paru, akan tetapi karena dorongan iman dan
cita-cita perjuangan, kembali ia menggoreskan penanya, sehingga dari pemikirannya
yang tajam lahirlah sebuah buku yang berjudul Ma’alim fit Thariq yang sangat
terkenal dan menarik perhatian orang banyak. Karena pengaruh bukunya yang
terakhir ini Quthub kembali ditangkap dengan tuduhan hendak melakukan coup
deetat berdasarkan ungkapan-ungkapan yang dituangkannya dalam buku tersebut.
       Pada hari Minggu tanggal 22 Agustus 1966 dari Mahkamah Militer di Kairo
keluarlah vonis hukuman mati bagi Quthub dan dua orang temannya, yakni
Muhammad Yusuf Hawasyi dan Abdul Fatah Ismail.38 Keputusan ini ia terima
dengan kebesaran hati dan lapang dada, sebagaimana yang telah ia gambarkan dalam
bukunya Li Madza A’damuni (mengapa saya dihukum mati):
      Pada akhirnya inilah kata-kata seorang laki-laki yang akan menghadap Allah
  Swt dengan perasaan yang ikhlas, dan akan melanjutkan dakwahnya sampai detik


       36
          John L Esposito (ed.), op. cit., h.68.
       37
          Ibid., h.67.
       38
          M. Laily Mansur, op. cit., h.142.
   yang terakhir, semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada orang yang mengikuti
   petunjuk Allah.39

        Berita vonis hukuman mati bagi Quthub dengan cepat tersebar dan
mendatangkan rasa simpatik yang begitu besar dari berbagai kalangan. Permohonan
untuk kebebasan bagi dirinya datang dari berbagai pemimpin dunia Islam, terjadinya
sejumlah pemboikotan dan demonstrasi. Bahkan Organisasi Amnesti Internasional
memandang proses peradilan terhadap dirinya samasekali tidak mendasar dan
bertentangan dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan.40
        Akan tetapi Pemerintah Mesir tetap pada keputusannya, sehingga pada tanggal
29 Agustus 1966 Quthub akhirnya di eksekusi di tiang gantungan, dan dimakamkan
secara rahasia di salah satu pemakaman di Kairo.41
        Menurut John L Esposito, karena komitmennya yang kuat terhadap Islam
seperti juga Hasan al-Banna, ia tetap dikenang sebagai seorang mujahid yang syahid
dalam membela Islam.42
   2. Pemikiran Dakwah
      a. Karakteristik Islam sebagai Agama Dakwah
        Islam adalah akidah yang fitrah, tempat bersumbernya tingkahlaku dalam
masyarakat dan menjadi sistem kehidupan manusia yang praktis dan sempurna.
Mencakup segala aspek dan kegiatan manusia dalam kehidupannya, baik kehidupan
keluarga, kemasyarakatan maupun bernegara. Ia menentukan hukum dan peraturan-
peraturan yang berhubungan dengan bidang kehidupan tersebut.
        Islam merupakan agama yang universal, lengkap, dan mengayomi dalam
segala aspeknya, baik hubungan antar makhluk, hubungan dengan Khalik maupun
hubungan dengan alam lingkungan telah diatur oleh Islam dengan lengkap dan
sebaik-baiknya. Islam dengan segala kefitrahan dan kelebihan ajarannya telah
menyerukan dan menunjukkan kepada manusia jalan keselamatan bagi kehidupan

        39
           Sayyid Quthub, Li Madza A’damuni, op. cit., h.117.
        40
           Asy-Syabab al-Muslim, Pengadilan Terhadap Ikhwanul Muslimin, (Bandung: Pustaka
Salman ITB, 1984), h.55.
        41
           M. Laily Mansur, op. cit., h.142.
        42
           John L Esposito (ed.), op. cit., h.140. lihat juga, Maryam Jameelah, Para Mujahid Agung,
Bandung: Mizan, 1984), h.148.
mereka di dunia dan di akhirat, tidak ada juru selamat yanglain yang mampu
menyelamatkan hidup manusia kecuali agama Islam.
          Dengan keutuhan dan kekomplitan ajarannya, Islam mampu membuktikan
diri sebagai juru selamat sejati. Bukti-bukti historis di masa lampau menunjukkan hal
tersebut dimana Islam menjadi juru selamat dunia di zaman jahiliyah ketika berbagai
api kesesatan membakar dan menyiksa bangsa-bangsa di dunia Barat dan Timur
dengan menurunkan agama.
          Sebagai agama dakwah, Islam memiliki karakteristik dan ciri-ciri istimewa,
sehingga mudah diterim aoleh manusia dan diakui ketinggian serta kemuliaan ajaran
yang disampaikannya.
       Gambaran citra Islam mempunyai ciri-ciri khas yang istimewa, yang lain dari
semua gambaran citra keagamaan yang ada. Yaitu ciri-ciri khusus yang membuat
gambaran citra Islam itu memiliki keperibadian yang independen, tidak dikaburkan
oleh gambaran citra lain, dan tidak pula berasal dari gambaran citra yang lain.43

          Menurut Quthub karakteristik yang dimiliki oleh agama Islam dimaksud
adalah:        kerabbanian,   kekonstanan,      keuniversalan,      keseimbangan,       keaktifan,
                                 44
kerealitasan, dan ketauhidan.
          1) Kerabbanian
          Kerabbanian atau ketuhanan adalah ciri pokok gambaran citra Islam dan
merupakan sumber semua ciri khusus yang lain. Ciri ini merupakan gambaran citra
akidah yang diwahyukan dari Allah Swt sebagai satu-satunya sumber, tidak berasal
dari sumber lain. Itulah yang membedakan gambaran citra Islam dengan konsep lain
dari pemikiran manusia soal ketuhanan, hakikat alam semesta, dan wujud manusia.
Ciri ini jugalah yang membedakan gambaran citra Islam dengan kepercayaan-
kepercayaan syirik yang muncul dari berbagai macam perassan, khayalan, angan-
angan, dan gambaran citra manusia.



          43
            Sayyid Quthub (12), Khashaishu al-Tashawwuril Islami wa Muqawamatuhu, terjemahan
Abu Laila dan Muhammad Toher, Ciri Khusus Citra Islam dan Landasan Dasarnya, (Bandung: Al-
Ma’arif, 1988), h.57.
         44
            Sayiid Quthub (19), Karakteristik Konsepsi Islam, terjemahan Muzakkir, (Bandung: Pustaka
Salman ITB, 1990), h.52.
       Sumber dari konsep rabbani adalah Alquran, konsep ini seluruhnya datang
dari sisi Allah sebagai karunia dan rahmat dari-Nya, yang sesuai dengan fitrah
manusia. Oleh sebab itu tentu saja konsep ini adalah konsep yang bebas dari
kekurangan, kebodohan, hawa nafsu, dan kekurangan lainnya yang biasa menyertai
setiap perbuatan manusia.


       2) Kekonstanan
       Konsep rabbani adalah hidayah yang diberikan kepada manusia sebagai
karunia dan rahmat Allah, di mana sebagai ciri khusus pokok Islam ia memunculkan
ciri-ciri khusus yang lainnya, yakni kekonstanan atau gerak dalam lingkaran yang
tetap dan pada poros yang tetap pula.45
       Citra rabbani dan nilai-nilainya merupakan ketetapan yang tak berubah
(konstan). Ia tidak berubah dan tidak berkembang di saat berubahnya gejala-gejala
kehidupan yang nyata, dan di saat berubahnya bentuk-bentuk kondisi praktis. Walau
demikian tidak berarti membuat jumud dan beku gerak pemikiran dan kehidupan.
Akan tetapi merupakan kebolehan, bahkan motivasi bagi akal pikiran dan kehidupan
supaya bergerak maju, namun harus tetap berada dalam lingkaran dan dasar yang
tetap, yakni kerabbanian.
       Gerak maju (kedinamisan) merupakan suatu sifat dan ciri dari citra konsep
Islam, bahkan juga merupakan sifat yang               dimiliki oleh segala makhluk ciptaan
Tuhan di alam semesta.
       3) Keuniversalan
       Konsepsi Islam yang ketiga adalah keuniversalan, artinya Islam berdiri atas
dasar bahwa seluruh yang ada adalah ciptaan Allah. Iradat Allah menghendaki bahwa
semuanya itu ada, maka adalah ia, dan Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan
kepadanya hukum-hukum yang menggerakannya.
       Sifat menyeluruh yang menjadi ciri khusus konsepsi Islam ini tercermin
dalam berbagai macam bentuk. Salah satu di antaranya yang paling menonjol adalah
mengembalikan semua persoalan alam wujud ini, baik mengenai awal terjadinya,

       45
            Sayyid Quthub, Khashaishu al-Tashawwuril Islami wa Muqawamatuhu, op. cit., h.105.
gerak setelah ada, semua yang timbul di dalamnya, semua penyusutan dan
perkembangannya, perubahan-perubahannya, kepengurusan dan pengaturannya
kepada kehendak dan kuasa Allah yang telah menciptakan alam semesta dan seisinya,
dan sebagainya menurut ukuran tertentu dan atas kehendak-Nya semata-mata.
       Intinya, konsepsi Islam mempunyai sifat yang sempurna, universal luas,
cermat, mendalam dan serasi, yang menjadi pembeda dengan konsepsi yang lain. Hal
ini ditegaskan Allah dalam Alquran surah al-Furqan ayat 1 dan al-Anbiyaa ayat 107.
       4)Keseimbangan
       Islam telah mengatur dan memberikan keseimbangan dalam kehidupan
manusia secara menyeluruh, baik hubungannya dengan Allah, dengan sesama
manusia maupun hubungannya dengan alam semesta dan makhluk yang lainnya.
       Hubungan manusia dengan Tuhan diatur secara jelas dan terang, bahwa Allah
sebagai Khalik dan manusia sebagai makhluk. Allah juga telah memikulkan
kewajiban-kewajiban yang serba jelas ke pundak manusia sesuai dengan kemampuan
dan kesanggupannya, serta perintah untuk menjauhi segala larangan-Nya.
       Hubungan dengan sesama manusia juga telah diatur dengan keseimbangan
pula, antara individu dan masyarakat. Di samping menjamin hak-hak asasi individu
Islam juga membangkitkan rasa tanggungjawab sosial dalam diri manusia, mengatur
kehidupan manusia dalam segala aspeknya, dan menyerukan untuk memberi andil
membina kesejahteraan masyarakat.
       Sedangkan dalam hubungannya dengan alam semesta, Islam menjelaskan
bahwa alam merupakan sumber kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhannya
sekaligus sumber pengetahuan manusia untuk pengenalan terhadap Tuhannya. Karena
itulah menjadi kewajiban manusia untuk mengatur, mengelola, dan memanfaatkannya
dengan sebaik-baiknya selaku khalifah fil ardi.
       5)Keaktifan
       Dalam konsep Islam manusia berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa dan
Kuasa dalam suatu hubungan yang aktif. Begitu pula dengan akidah Islam yang
memiliki sifat aktif dan berpengaruh, di mana jika ia menyentuh hati nurani maka
iapun bergerak untuk mewujudkan maknanya dalam bentuk yang nyata serta
menterjemahkannya dalam realitas kehidupan. Itulah sebabnya akidah bagi umat
Islam adalah sebuah kekuatan yang aktif.
        Perasaan keyakinan (iman) dan pekerjaan (amal) adalah dua hal yang saling
berkaitan, karena itu iman yang hanya berupa kesadaran dalam rasa atau konsep
dalam pikiran tanpa penerapan dalam realitas kehidupan adalah hampa. Tidak ada
pula iman yang hanya berupa upacara ritual tanpa diserta usaha untuk menyesuaikan
dan menundukkan diri dan seluruh sistem kehidupan kepada sistem Allah.
        6)Kerealitasan
        Konsep Islam berhubungan dengan manusia yang nyata, yang mempunyai
komposisi dan eksistensi khusus untuk menjadi khalifah di bumi, yang menjalankan
kekhalifahannya secara aktif dan dinamis, yang membuat dan mengolah alam serta
mengelola kehidupan di bumi dengan baik pula.
        Jadi karena yang dituju adalah manusia yang nyata dan konkrit, maka sistem
yang digariskan oleh Islam bagi manusia juga sistem yang realitas dan dinamis.
Yakni suatu sistem yang batas-batasnya sesuai dengan taraf kemampuan manusia
yang realistis, sehingga dengan sistem yang sesuai dengan kemampuan dan fitrah
dirinya, seorang muslim akan mudah melaksanakan segala apa yang telah digariskan
dan ditentukan Islam menuju pengabdian yang sempurna dan derajat yang tinggi di
sisi Allah Swt.
        Jelas, bahwa Islam adalah agama realitas, agama untuk kehidupan, agama
untuk   bergerak,   berusaha,   bekerja,   berproduksi,   untuk   pertumbuhan   dan
perkembangan.
        7)Ketauhidan
        Tauhid merupakan landasan utama bagi gambaran konsep Islam, karena
tauhid merupakan hakikat terpokok di dalam akidah Islam, di samping tauhid sebagai
salah satu ciri khusus konsep Islam. Karenanya, Tauhid merupakan ciri khuusus yang
sangat menonjol pada setiap agama Allah yang dibawa oleh setiap Rasul-Nya
        Setiap orang muslim mesti mengakui dan meyakini bahwa Allah adalah satu-
satunya Tuhan yang berhak disembah dan dimintai pertolongan. Seorang muslim pun
harus     menghadapkan        peribadatan,   permohonan,   harapan,   ketakutan   serta
ketakwaannya hanya kepada Allah semata.
       Di antara ketentuan-ketentuan tauhid menurut Islam adalah bahwa dalam
segala gerak harkat kehidupan sehari-hari manusia tidak mengidentikkan Tuhan
dengan apapun juga, dan tidak melekatkan ciri-ciri khusus atau sifat-sifat ketuhanan
kepada apaun yang selain Allah Swt. Semuanya itu sama sekali tidak boleh terselip
dalam keyakinan, dalam citra, dalam hati, dan dalam perasaan.46

         Ketauhidan merupakan nikmat dan karunia Allah yang sangat besar,
karenanya ia harus disebarkan dan diserukan kepada seluruh umat manusia agar
mereka dapat merasakan nikmat tersebut dengan baik dan sempurna, dan tetap berada
di bawah sistem dan hukum yang telah ditetapkan-Nya.
        b. Konsep Tentang Dakwah
         Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw diturunkan Allah Swt
untuk menyelamatkan dan menunjukkan jalan lurus yang harus dilalui oleh manusia.
Di dalam sejarah tidak pernah ditemui suatu kehidupan yang harmonis dan serasi
dimanapun dan kapanpun, kecuali ketika manusia berada di bawah naungan Islam,
sebagaimana yang telah dibentuk dan dibina oleh Rasulullah Saw, oleh sebab itu
Islam adalah nikmat dan rahmat dari Allah Swt yang harus disebarkan diseluruh
permukaan bumi agar manusia dapat mengetahui dan mengenal jalan lurus yang telah
diridhai-Nya, dan agar mereka dapat marasakan nikmat dan karunia yang telah
diberikan itu dengan baik dan sempurna.
      Akidah tauhid (Islam) adalah nikmat Ilahi yang dikaruniakan kepada semua
  hamba-hamba-Nya, oleh karena itu aqidah tauhid wajib diratakan kepada segenap
  umat manusia oleh orang-orang yang telah menerimanya. Nikmat itu pula yang
  harus diratakan kepada segenap umat manusia oleh orang-orang yang
  memperolehnya, dan setelah mereka sendiri mengenyam kelezatannya dan setelah
  puas menerima apa yang telah diridhai Allah bagi mereka.47

         Bermula dari sini, menurut Quthub kepada umat Islam dibebankan kewajiban
untuk melaksanakan seruan dakwah dalam kehidupan mereka, baik dakwah yang
seruannya diarahkan keluar:


         46
              Ibid., h.300.
         47
              Ibid., h.316.
       Sesungguhnya agama ini merupakan suatu proklamasi kemerdekaan dan
   kebebasan yang secara umum membebaskan manusia diatas permukaan bumi ini
   dari perbudakan sesama manusia, terhadap makhluk bahkan terhadap hawa
   nafsunya sendiri, dan yang demikian dilakukan dengan memproklamasikan bahwa
   Tuhan itu hanyalah Allah.48
Maupun dakwah yang seruannya diarahkan ke dalam:
        Hai orang-orang yang beriman masuklah kedalam Islam secara
   keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan, sesungguhnya
   syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Seruan ini menghendaki kita memasrahkan
   diri kepada Allah secara total, menyerahkan diri dalam bentuk penyerahan total,
   dan agar orang-orang yang beriman menerimanya dengan ikhlas dan
   menyesuaikan kata hati serta arah kesadarannya dengan kehendak Allah, sejalan
   dengan bimbingan Nabi dan Dien-Nya tanpa ada keraguan sedikitpun.49

        Dengan demikian menurut Quthub ada dua tugas dakwah yang harus
diketahui dan didakwahkan oleh juru dakwah khususnya dan umat Islam umumnya:
        Pertama, berusaha untuk membebaskan manusia dari perbudakan selain
kepada Allah, yang terdiri dari bermacam-macam tuhan, atau khayalan-khayalan
yang menakutkan atau kesenangan syahwat yang menghinakan. Dalam pembebasan
ini pertama-tama harus diusahan pembebasan dan perbersihan jiwa manusia dan
mempersiapkannya untuk menerima kehidupan yang tinggi yang dituntut oleh Islam.
        Kedua, usaha pembinaan dan pemantapan iman terhadap umat Islam sendiri
sehingga mereka tidak ragu-ragu untuk memasrahkan dan meyerahkan diri secara
totalitas kepada Allah, dengan kata lain mereka masuk Islam secara kaffah
(keseluruhan). Selanjutnya pula menurut Quthub jika tugas dakwah ini dapat
dilaksanakan dengan baik, maka akan terwujud empat kedamaian dalam kehidupan
manusia sebagai realitas dari watak dan ciri agama Islam, yakni kedamaian dalam
jiwa dan hati nurani, kedamaian bersama akal dan rasionya, kedamaian bersama
keluarga, masyarakat dan kehidupannya, serta kedamaian di langit dan di bumi
(dunia).50



        48
             Sayyid Quthub, Ma’alim fit Tharieq, (Beirut: The Holy Koran Publishing House, 1980),
h.69.
        49
             Ibid., h.10.
        50
             Asy-Syabab al-Muslim, op. cit., h.55.
        Tugas dakwah merupakan suatu kewajiban yang dipikul oleh setiap orang
Islam sesuai dengan kemampuan yang ada pada diri mereka. Jika tugas dakwah dapat
dilaksanakan dengan baik, maka menurut Quthub akan terwujud empat kedamaian
dalam kehidupan manusia, sebagai realisasi dari watak dan ciri ajaran Islam, yakni
kedamaian dalam jiwa dan hati nurani, kedamaian bersama akal dan rasionya,
kedamaian bersama keluarga, masyarakat dan kehidupannya, serta kedamaian di
langit dan kedamaian di bumi (dunia).51
        Tugas dakwah adalah tugas yang suci dan mulia, yang telah dibebankan Allah
kepada kaum muslimin, sebab pada hakikatnya dakwah adalah:
1. Dakwah itu mulia dalam segala pengertiannya, mulai di dalam kitab-kitabNya
   yang ditinggikan dan disucikan, yang diwakili oleh para duta dari alam tertinggi,
   yang menyampaikan kepada orang-orang pilihan di bumi, sedangkan mereka juga
   mulia dan berbakti.
2. Dakwah itu mulia, suci di dalam segala apa yang berhubungan dengannya dan
   seluruh sentuhannya yang dekat maupun yang jauh.
3. Dakwah itu mulia, tidak melayani orang-orang yang menentang, yaitu orang-orang
   yang menampakkan dirinya serba cukup, maka mereka tidak perlu lagi kepada
   dakwah, tetapi dakwah ini hanya bagi orang yang menyadari kemuliaannya dan
   berkeinginan untuk mensucikan diri dengannya.52

        Sedangkan mengenai tujuan dari pelaksanaan aktivitas dakwah, menurut
Quthub juga ada dua. Pertama untuk membebaskan seluruh manusia dipermukaan
bumi dari segala perhambaan selain kepada Allah dan kedua untuk meyakinkan serta
memantapkan keimanan dan keislaman kaum muslimin, agar mereka masuk kedalam
Islam secara kaffah.
        Dakwah itu sendiri ditujukan secara luas kepada seluruh umat manusia, di
manapun mereka berada.
1. Dakwah ditujukan kepada seluruh umat manusia pada umumnya dan kepada umat
   Islam pada khususnya agar menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan
   sesuatu, dan tidak menjadikan sesembahan atau Tuhan, selain Allah.
2. Dakwah ditujukan kepada orang yang bersedia menerima Islam sebagai agamanya,
   memurnikan keyakinannya, hanya mengakui Allah sebagai Tuhannya,

        51
            Sayyid Quthub, Islam and Universal Peace, (Washington: American Trust Publication,
1977), h.10.
         52
            Sayyid Quthub, Fi Zhilalil Qur’an, terjemahan Bey Arifin dan Jamaluddin Kafie, Di Bawah
Naungan Alquran, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), h.92.
   membersihkan dirinya dari penyakit nifak dan selalu menjaga amal peerbuatannya
   agar tidak bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya
3. Dakwah ditujukan kepada seluruh penduduk bumi ini untuk mengubah sistem
   pemerintahan yang zalim yang dipimpin oleh orang zalim, yang hanya berbuat
   kerusakan di permukaan bumi, memindahkan kepemimpinan, baik secara teoritis
   maupun praktis dari tangan mereka ke tangan orang yang beriman kepada Allah
   dan kepada hari akhirat serta menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan tidak
   sombong..53

        Dengan demikian jelas bahwa dakwah mempunyai tujuan yang universal bagi
kehidupan manusia di muka bumi, akan tetapi walau begitu hakikatnya adalah satu,
yakni untuk merealisasikan pengabdian secara totalitas kepada Tuhan.54
        Karena itu, dakwah harus dilaksankan secara luas pula. Menurut Quthub
perjuangan dakwah secara global memiliki empat sifat atau prinsip, yakni
faktualisme, dinamisme, kontinyu, dan berdasarkan norma syariat.55
        Dalam konteks ini tentu saja gerakan dakwah tidak cukup hanya dengan
dakwah yang bersifat umum, namun harus dibarengi oleh tempat-tempat pendidikan
untuk mendidik umat menurut konsep dan sistem pendidikan Islam. Tujuannya untuk
meningkatkan eksistensi umat, menghadapkan umat pada konsekuensi tempat
kembalinya, dan memberi perasaan kepada umat agar selalu condong kepada hukum-
hukum Allah.56
        Seluruh aktivitas dakwah itu sendiri akhirnya, menurut Quthub harus
bermuara kepada Alquran sebagai “kitab dakwah”. Alquran adalah sumber rujukan
dasar dan referensi otentik tentang apa dan bagaimana seharusnya aktivitas dakwah
dilaksanakan.
        Alquran merupakan kitab dakwah yang memiliki ruh pembangkit, yang
bertugas sebagai penguat, yang berperan sebagai penjaga, penerang, dan penjelas.
Alquran merupakan suatu undang-undang dan konsep-konsep global dan merupakan
tempat kembali satu-satunya bagi para penyeru dakwah dalam mengambil rujukan,

        53
           Ibid., h.95.
        54
           lihat QS. Adz-Dzariyat 56. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya
mereka menyembah-Ku”.
        55
           Sayyid Quthub, Di Bawah Panji-Panji Islam, terjemahan Ahmadie Thaha dan Anwar
Wahdi Hasi, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), h.34.
        56
           Sayyid Quthub, Fiqih Dakwah, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), h.1.
dalam melakukan kegiatan dakwah, dan dalam menyusun suatu konsep gerakan
dakwah.57
      c. Jihad dalam Gerakan Dakwah
         Banyak sementara orang yang mengatakan bahwa agama Islam disebarkan
dengan pedang dan kekerasan (perang) melalui konsep yang disebut dengan jihad.
Sehingga timbul pandangan bahwa Islam adalah agama kekerasan atau paksaan.
Anggapan ini dengan mudah diterima oleh orang-orang awam yang tidak mempunyai
pengetahuan tentang Islam secara mendalam. Sementara, para orientalis Barat sengaja
membesar-besarkannya dengan motif untuk menyuramkan citra Islam dan agar
orang-orang tidak tertarik dengan Islam, sampai akhirnya membenci dan memusuhi
Islam.
         Padahal, sejarah sendiri mencatat bahwa jihad dengan peperangan yang terjadi
di masa Rasulullah Saw tidaklah bermotifkan penyiaran Islam, tetapi merupakan
upaya umat Islam untuk membela kesucian dan kehormatan agamanya. Prinsipnya,
Islam tidak disebarkan dengan pedang, akan tetapi umat Islam siap berperang kapan
dan di manapun berada apabila kesucian dan kehormatan Islam telah diinjak dan
dinodai. Prinsip ini diakui oleh Thomas W Arnold dalam bukunya The Preaching of
Islam, dan menyatakan bahwa orang masuk Islam melalui hubungan persahabatan,
perdamaian, dan tolerasi umat Islam yang baik, bukan melalui kekerasan.58
         Secara umum, jihad bagi umat Islam berarti mengorbankan tenaga dengan
segala kemampuan yang ada untuk mencapai suatu maksud dan (perjuangan).59
Dengan kata lain, jihad berarti meluangkan segala usaha dan berupaya sekuat tenaga
menanggung kesulitan di dalam memerangi musuh serta menahan agresinya.60
         Berbeda dengan pengertian biasa, jihad menurut Quthub adalah gerakan yang
dilakukan dalam rangka membebaskan manusia di permukaan bumi ini dari segala
perbudakan, kemudian menggantikannya dengan kedaulatan dan kekuasan Tuhan.


         57
           Sayyid Quthub, Fi Zhilalil Qur’an, op. cit., h.396.
         58
           Thomas W Arnold, The Preaching of Islam, terjemahan A. Nawawi Rambe, (Jakarta:
Widjaya, 1979), h.47.
        59
           Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Jilid III, (Bandung: Al-Ma’arif, 1993), h.50.
        60
           A. Hasjmy, Nabi Muhammad sebagai Panglima Perang, (Jakarta: Mutiara, 1981), h.40.
Artinya, hanya Tuhan saja yang patut dijadikan Tuhan, karena Tuhan sajalah yang
memiliki alam semesta ini.
       Sesungguhnya agama ini merupakan suatu proklamasi kemerdekaan dan
  pembebasan, yang secara umum membebaskan manusia di atas permukaan bumi
  ini dari perbudakan sesama manusia, juga dari perbudakan hawa nafsunya sendiri
  yang sekaligus juga dapat dianggap sebagai perbudakan manusia terhadap
  manusia. Yang demikian ini dilakukan dengan memproklamasikan bahwa Tuhan
  itu hanyalah Allah, Tuhan semesta Allah. Dan sesungguhnya dengan
  memproklamasikan bahwa Tuhan hanyalah Allah, penguasa alam semesta, berarti
  adalah suatu revolusi totalitas terhadap kekuasaan manusia dalam segala rupa dan
  bentuknya, dalam segala aturan dan keadaannya, dan terhadap segala
  pembangkangan manusia di permukaan bumi dalam semua bentuknya.61

       Proklamasi kemerdekaan ini menurut Quthub berarti merebut kembali
kekuasaan Allah yang telah dirampas oleh manusia, kemudian mengembalikan
kepada ketetapan dan sistem Allah, sebab orang-orang yang telah merampas dan
merebut kekuasaan Allah itu

E. Kesimpulan

       Sebagai seorang pemikir Islam yang berjuang untuk membela kebangkitan
ideologi Islam Sayyid Quthub dan syahid dalam perjuangan dakwah, ia senantiasa
dikenang melalui sejarah dan karya tulis yang telah ditinggalkannya. Sayyid Quthub
telah meninggalkan warisan yang berharga bagi umat Islam khususnya berupa
sejumlah karya tulis yang akan selalu bergema bagi perkembangan dan kebangkitan
dunia Islam.
       Tidak diragukan lagi, dari berbagai gerak langkah dan perjuangannya Sayyid
Quthub telah dikenal sebagai salah seorang pemimpin Ikhwanul Muslimin, seorang
pejuang Islam, pengarang ternama, pujangga dan sastrawan, seorang da’i, seorang
mufassir Alquran, dan ulama intelektual yang luas ilmunya.
       Dakwah bagi Quthub adalah sebuah gerakan untuk meratakan nikmat Islam
dan Iman kepada seluruh umat manusia, di manapun mereka berada. Dengan
keunggulan dan karakteristik yang dimilikinya, manajemen dakwah yang baik, serta


       61
            Sayyid Quthub, Ma’alim fit Tharieq, op. cit., h.69.
diperjuangkan dengan baik pula, maka dakwah akan membuahkan hasil yang baik
pula.


       Kepustakaan
Daftar Kepustakaan

Al-Jabili, Zainab al-Ghazali. 1980. Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin. Jakarta:
        Gema Insani Press.

Arnold, Thomas W. 1979. The Preaching of Islam, terjemahan A. Nawawi Rambe.
       Jakarta: Widjaya.

Esposito, John L (ed.). 1987. Voice of Resurgent Islam, terjemahan Bakri Siregar,
       Dinamika Kebangkitan Islam. Jakarta: Rajawali Press.

---------. 1994. Ancaman Islam : Mitos atau Realitas. Bandung: Mizan.

Gharisah, Ali. 1991. Metode Pemikiran Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Hakim, Agus. “Sayyid Quthub Ironi Ulama Pejuang”, Majalah Panji Masyarakat, Nomor
      308, Edisi 1 Desember 1980.

Hasjmy, A. 1981. Nabi Muhammad sebagai Panglima Perang, Jakarta: Mutiara.

Jameelah, Maryam. 1984. Para Mujahid Agung. Bandung: Mizan.

Kholidi, Sholah Abdul Fatah. 1990. Sayyid Quthub Mengungkap Amerika. Surabaya:
        Sarana Ilmiah Press.

Mansur, M. Laily. 1994. Pemikiran Kalam dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Muslim, Asy-Syabab. 1984. Pengadilan Terhadap Ikhwanul Muslimin.              Bandung:
      Pustaka Salman ITB.

Sjadzali, Munawir. 1991. Islam and Governmental System. Jakarta: INIS.

Quthub, Sayyid. 1974. Islam The Religion of The Future. New Delhi: Markazi Maktaba
      Islami, Bazar Chitli Qaber.

---------. 1977. Islam and Universal Peace, Washington: American Trust Publication.

---------. 1984. Al-Adalah al-Ijtimaiyyah fil Islam, terjemahan Afif Mohammad, Keadilan
          Sosial dalam Islam. Bandung: Pustaka Salman ITB.

---------. 1984. Di Bawah Panji-Panji Islam, terjemahan Ahmadie Thaha dan Anwar
          Wahdi Hasi. Surabaya: Bina Ilmu.
---------. 1985. Fii Zhilalil Qur’an, terjemahan Bey Arifin dan Jamaluddin Kafie, Di
          Bawah Naungan Alquran. Surabaya: Bina Ilmu.

---------. 1987. Masyahidul Qiyamah fil Qur’an, terjemahan Abdul Aziz, Hari Kiamat
          Menurut Alquran, Jakarta: Pustaka Firdaus.

---------. 1980. Ma’alim fit Tharieq, Beirut: The Holy Koran Publishing House.
---------. 1988. Ciri Khusus Citra Islam dan Landasan Dasarnya, terjemahan Abu Laila
          dan Muhammad Toher. Bandung: Al-Ma’arif.

--------. 1990. Khashaaishut Tashawwuril Islami wa Muqawwamatuh, terjemahan
         Muzakkir, Bandung: Pustaka Salman ITB.

---------. 1993. Li Madza A’damuni, terjemahan Ahmad Djauhar Tanwiri, Mengapa Saya
          Dihukum Mati. Bandung: Mizan.

---------. 1995. Fiqih Dakwah, Jakarta: Pustaka Amani.

Sabiq, Sayyid. 1993. Fiqih Sunnah, Jilid III. Bandung: Al-Ma’arif.

Tim Penyusun, 1993. Ensiklopedi Islam, Jilid 3, Jakarta: Departemen Agama RI.

Tim Penyusun, 1994. Ensiklopedi Islam, Jilid 4, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:587
posted:10/26/2010
language:Malay
pages:29