Docstoc

kriminologi

Document Sample
kriminologi Powered By Docstoc
					Kriminologi
Crime = kejahatan

logos = ilmu

Kriminologi adalah ilmu tentang kejahatan. Merupakan ilmu pengetahuan yang
sifatnya empiris dan faktual yang yang mengungkapkan kenyataan-kenyataan/fakta-
fakta yang terjadi dalam masyarakat. Kriminologi adalah suatu pengetahuan empiris
yang mempelajari dan mendalami secara ilmiah masalah-masalah kejahatan dan
orang yang melakukan kejahatan. Ilmu lain yang mempelajari kejahatan mirip
dengan kriminologi adalah kriminalistik.

Penologi

Perkembangan Kriminologi
Asal usul dan perkembangan kriminologi
Paul W Tappan bahwa crime fundamental subject matter of criminology:

   1. The nature, prevelence, and causation of crime (sifat, perkembangan dan
      sebab akibat kejahatan);
   2. The procedure and major problems in the administration of justice (prosedur
      dan permasalahan pokok dalam peradilan);
   3. The methods of correctional treatment (metoda-metoda dalam perlakuan
      terhadap narapidana).
E.H. Sutherland, kriminology: a body of knowladge regarding crime as social
phenomenon. (kumpulan pengetahuan yang membahas kejahatan sebagai suatu
gejala sosial). Menurut sutherland luas lingkup kriminologi, meliputi hubungan yang
erat antara:

   1. Processe of making laws, dibahas oleh sosiologi hukum pidana ( sociology of
      criminal law).
   2. Processes of breaking laws , dibahas oleh etiologi kejahatan dan psykologi
      sosial dan tingkah laku kriminal.
   3. Reacting toward the breaking laws, dibahas oleh sosiologi pemidanaan dan
      pemenjaraan (the sociology of punishment and corection).
Hermann menheim dalam bukunya “comparative criminologi 1965”:

   1. Kriminologi dalam arti sempit : mempelajari kejahatan dalam arti yuridis.
    2. Kriminologi dalam arti luas : mempelajari kejahatan dan penologi /
       penghukuman.
Stephen schafer dalam bukunya “ theory of criminology”, kriminologi mempelajari:

    1. Usaha menjelaskan sebab musabab tingkah laku kriminal
    2. Rehabilitasi kriminal
    3. Efisiensi sistem pemidanaan
W.A. Bonger kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan mempelajari
kejahatan dalam arti seluas-luasnya.

    1. Dalam arti luas : mempelajari kejahatan dan pathologi sosial.
    2. Dalam arti sempit : mempelajari kejahatan menurut batasan undang-undang.
Pengertian dan Ruang lingkup kriminologi

   Studies of crime and criminal behavior
   What is a crime
   Who is the criminal
   Why people commit crime
   What is the reactions to crime
   Victim
Pentingnya mempelajari kriminologi

    1. Ingin mempelajari hukum (pidana) secara utuh dan komprehensif.
    2. Kriminologi mempelajari kejahatan lebih kepada fakta-fakta empiris.
Hubungan Kriminologi dan Hukum Pidana
Enschede, membedakan ilmu hukum pidana kepada :

    1. Ilmu hukum pidana normatif (normative strafrechtswetenschap) ; mempelajari
        hukum pidana dan hukum acara pidana
    2. Ilmu hukum pidana yang faktual (fietelijks strafrechtswetenschap). Meliputi
        kriminologi, kriminalistik, psikiatri, psikolog porensik, sosiologi hukum pidana.
Menurut Enschede hukum pidana memuat dua hal:

    1. Syarat-syarat untuk memungkinkan penjatuhan pidana (tentang perbuatan
       yang dilarang, orang yang melanggar larangan itu, dan tentang pidana yang
       diancamkan kepada si pelanggar).
    2. Pidana/ sanksi.
Van Bemmelen, hukum pidana terdiri dari :

   Dalam arti luas: hukum pidana mencangkup kriminologi dan kriminalistik
   Dalam arti sempit : hukum pidana yang hanya mempelajari semua peraturan
    perundang-undangan yang tertulis sifatnya
Hukum pidana mempunyai dua segi:

    1. Diharapkan untuk melindungi masyarakat dari orang seorang yang
       menggunakan pidana sebagai sarana secara tidak benar. Jadi menjamin
       hak-hak dan kepentingan terhadap kejahatan dan penjahat;
    2. Melindungi warga masyarakat dari campur tangan penguasa yang sah.
Fungsi kriminologi terhadap hukum pidana adalah:

    1. Meninjau secara kritis hukum pidana yang berlaku beserta
       penyelenggaraannya.
    2. Memberikan rekomendasi guna perbaikan-perbaikan /pembaharuan.
       (kriminalisasi, dekriminalisasi, depenalisasi).
Mengapa demikian, karena:

    1. Tidak semua perbuatan yang tercela dalam pandangan masyarakat itu diatur
       dalam hukum pidana, atau
    2. Ada perbuatan-perbuatan yang diatur dalam hukum (pidana) tetapi tidak
       dianggap tercela oleh masyarakat.
Kelemahan-kelemahan hukum pidana

    1. Karena perkembangan masyarakat dan perkembangan konsepsi pemikiran
       masyarakat tentang perbuatan yang dianggap baik dan tidak baik selalu
       berubah-ubah
    2. Bahwa KUHP secara normatif terikat oleh asas legalitas.
Hubungan kriminologi dengan ilmu-ilmu sosial
Aspek bio-psikologi

   Psikologi
   Psikiatri
   Endokrinologi
Aspek sosial

   Sosiologi
   Antropologi
   Psi. Sosial
   Ilmu Politik
   Ilmu Ekonomi
Aspek normatif

   Ilmu Hukum
   Ilmu Etika
   Ilmu Agama




Manfaat Kriminologi
Manfaat pribadi

   Setiap orang cenderung berbuat jahat
   Kejahatan mrpk perb. Melawan hk shg neg. Menjatuhkan pidana
   Penghalusan perbuatan tingkah laku seseorang
Manfaat sosial

   Mencegah kerugian sosial yg lebih besar
Manfaat ilmu pengetahuan

   Mendorong pengembangan ilmu Kkriminologi
Kejahatan
Pengertian Kejahatan
Metoda pendekatan dalam mengkaji masalah kejahatan (Hermann Mannheim)


Deskriptif : melakukan observasi dan pengumpulan fakta tentang kejahatan dan
pelaku kejahatan.

    1. Bentuk tingkah laku yg kriminal
    2. Bagaimana kejahatan itu dilakukan
    3. Frekwensi kejahatan menurut tempat dan waktu yg berbeda
    4. Fakta : usia, jenis kelamin, dan ciri-ciri lain dari pelaku
    5. Perkembangan karier seseorang pelaku (sejak usia berapa melakukan
       kejahatan dan bagaimana perkembangannya).
Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :

    1. Fakta-fakta tidak dapat dikumpulkan secara random, melainkan harus
       dilakukan secara selektif yang didasarkan pada hipotesa-hipotesa ilmiah.
       Agar fakta yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan dan berguna, maka
       peneliti terlebih dahulu harus dapat menetapkan apa yang menjadi obyek
       dari pengumpulan data tersebut.
    2. Fakta-fakta tanpa suatu penafsiran, evaluasi dan pengertian secara umum,
       fakta tersebut tidak berarti.
Pendekatan sebab akibat /causal

   Penafsiran terhadap fakta - fakta dapat dipergunakan untuk mengetahui causa,
    baik dalam kasus-kasus yang bersifat umum maupun individual. Usaha tersebut
    dinamakan etiologie kriminal (etiology of crime).
   Konsepsi causa/sebab akibat berbeda menurut pendekatan hukum dengan
    pendekatan kriminologi.
Pendekatan hukum berkaitan dengan masalah pertanggungjawaban pidana;
sedanagkan kriminologi berkaitan dengan motivasi, pisik, psikis, sosial dan budaya.
Untuk menentukan sesuatu yang paling dominan dalam hukum ada standard;
sedangkan dalam kriminologi tidak ada, kalaupun ada standar, sifatnya tidak
langsung.

Pendekatan normatif Untuk menemukan hukum yg berlaku dalam kriminologi, serta
usaha percobaan untuk merumuskan suatu causal nexus/korelasi secara statistik
antara faktor-faktor tertentu dengan kejahatan.

What is a crime …?

   Legal definition = tindak pidana : political constructed ( kejahatan & pelanggaran)
Criminological/sociological definition : Sociologically constructed :

   Kejahatan menurut persepsi publik
   Mala inse vs mala prohibita
Labeling ( of the cjs personnel )

   That may very from state to state, time to time.
Pendekatan yuridis (Sutherland). Kejahatan merupakan suatu perbuatan yang
melanggar UU. Ia berpendapat bahwa jika suatu perbuatan jahat tidak diatur dalam
uu tidaklah perbuatan itu termasuk kejahatan, dengan alasan bahwa seolah-olah
semua perbuatan yang dilakukan manusia merupakan kejahatan.

Pendekatan sosiologis (Thorstensellin). Kejahatan adalah perbuatan yang
melanggar norma-norma dalam masyarakat, tanpa mempersoalkan apakah
bertentangan dengan uu atau tidak.

Pendekatan yuridis sosiologis (Bonger). Kejahatan adalah perbuatan yang sangat
a sosial yang memperoleh tantangan dengan sadar dari negara berupa pemberian
penderitaan (hukuman penderitaan).

Pendekatan Psikologis (Hoefnagels). Melihat kejahatan dilihat dari dua konsepsi:

   Stigma
   Seriousness (emotional concept): Public opini, dalam hal ini ada dua:
       Keseriusan dari suatu tindak pidana/kejahatan akan meningkat apabila
        frekwensi kejahatan kurang (incidental criminality).
       Keseriusan dari suatu tindak pidana/kejahatan akan berkurang apabila
        frekwensi kejahatan meningkat (multiple criminality).
Stigmatisasi: suatu proses tentang krisis kepribadian individu. Krisis: suatu
ketidaksepakatan antara saya ini dengan pandangan masyarakat terhadap diri saya.
Example: Seorang napi yang baru keluar dari lp.

Stigma 1: Stigma mulai menekan konsep diri pribadi (self concept) pelaku kejahatan.
Stigma 2: Stigma merubah konsep diri pribadi (self concept) pelaku kejahatan.
Stigma 3: Stigma menghapus konsep diri pribadi (self concept) pelaku kejahatan.
Stigma 4: Stigma memaksa konsep diri pribadi (self concept) pelaku kejahatan
dengan pola kriminal. Stigma 5: Stigma memaksa pola kriminal sebagai konsep diri
pelaku kejahatan.

Prinsi-prinsip surface reaction:

    1. Semakin banyak petugas dan lembaga yang terlibat dalam penanganan suatu
       kasus, semakin besar kemungkinan terjadi stigmatisasi pada pelaku
       kejahatan.
    2. Semakin sedikit petugas dan lembaga yang terlibat dalam penanganan suatu
        kasus, semakin kecil kemungkinan terjadi stigmatisasi pada pelaku
        kejahatan.
Bentuk dan klasifikasi kejahatan
Dalam sistem hak civil law :

   Ada perbedaan antara kejahatan dan pelanggaran
   Kejahatan berat dan kejahatan ringan
   Dolus dan culpa
Dalam sistem hukum common law tidak dikenal pembedaan kejahatan dan
pelanggaran. Konsekwensinya dikenal klasifikasi kejahatan.

Secara klasik:

    1. Felonies ( kej. Berat )
    2. Misdemeanors ( kejahatan ringan )
    3. Trason ( kejahatan thp negara )
Modern :

    1. Offences triable only on indictment
    2. Offences triable only summarily
    3. Offences triable either way
Klasifikasi kejahatan atas dasar motivasi (crime by motivation)

    1. Economic crimes
    2. Sexual crimes
    3. Political crimes
    4. Miscellaneous crimes (kejahatan diluar ketiga klasifikasi di atas)
Klasifikasi atas dasar tujuannya (crimes from statistical)

    1. Crimes against the person
    2. Crimes against the property
    3. Crimes against public decency, public order and public of fear


Bentuk       kejahatan konvensional/tradisional           kejahatan inkonvensional
             *Kejahatan kelas bawah/ blue collar crime    *white collar crime/kerah putih/top hat/new
                                                          dimention crime

Keterangan      Kejahatan yang seringkali tampak nyata
                 di masy.                                    sukar dideteksi sec. dini, jrg tersentuh hk

                Yg mjd oby pek. Penegak hk                  jarang ditemukan di kep.
                   paling tinggi dlm ctt stat (crime rate)
                *mereka yg berstatus kls bawah                *mereka yg berstatus kls atas
Pelakunya
                   individu                                     individu/ klp tertentu
Jenis           kejahatan yg yg diatur dlm kuhp               diatur di luar kuhp
Modus
                dilakukan sec. sederhana/konvensional         dilak. Tanpa kekerasan menggunakan cara modr
operandi
Motivasi        *lebih sederhana                              *ekonomi, kekuasaan, politik
Korban          *individu/ kelompok tertentu                  *lebih besar, klp/masy umum/negara

White collar crime

Hisorical background

   Edward A. Roos, ST. Tingkah laku semacam wcc
   Edwin H Sutherland, mengungkapkan secara tegas dimuka umum istilah wcc
Perbedaan pendapat roos dengan sutherland: Roos: menceritakan ttg tindakan-
tindakan ilegal yg dilakukan oleh kaum bisnis dan tdk menyebutkan secara tegas
wcc. Sutherland: ingin merubah teori klasik dan tdk bermaksud mempengaruhi
badan legislatif dan kaum politisi.

Sutherland menganggap bhw teori ttg tl. Kriminal dihubungkan dgn Kemiskinan
ternyata tdk valid, dgn alasan :

        1. Generalisasi yg dilandaskan atas sampel tertentu tanpa memperhatikan wcc;
        2. Generalisasi yg menyatakan bhw kej. Hub erat dgn kemiskinan, tdk berlaku
           thp wcc;
        3. T. Konvensional ttg. Tl kriminal tdk menjelaskan ttg diri mrk yg temsk gol.
           Miskin.
Pengaruh i. Pencuri profesional White collar crime

terhadap keduanya sutherland berpendapat : Bagi keduanya kegiatan ilegal
merupakan bagian yg tdk terpisahkan dari pekerjaan sehari-hari. Bagi keduanya tdk
terdapat adanya kehilangan harga diri krn kegiatan yg ilegal tsb. Bagi keduanya
dipersyaratkan adanya latihan/mengikuti instruksi/ketrampilan tertentu 4. Perbedaan
keduanya terletak pada self conseption of the violators

pengaruh ii. Sutherland mempergunakan istilah wcc u/ mendukung sepenuhnya tori
Diferential assosiation (da), yaitu teori ttg tingkah laku manusia yg Mencoba
menjelaskan bukan hanya tingkah laku wcc, tp seluruh tingkah Laku kriminal.

Tipe perbuatan yang dapat digolongkan kedalam wcc: Dalam bidang bisnis. Catatan
keuangan yg tidak benar Manipulai dalam bursa saham Suap dalam dunia bisnis
Suap thp pejabat, baik langsung /tdk langsung Soal periklanan dan masalah
penjualan Penipuan pajak, dana- dana sosial

Dalam bidang kedokteran. Jual beli obat terlarang dan narkotik ilegal Abortus
Pelayanan terhadap dunia kriminal Laporan dan kesaksian palsu Ahli palsu

secara umum kejahatan wcc dapat dikelompokan kedalam” Kejahatan-kejahatan yg
dilakukan oleh kalangan profesional dalam melakukan profesinya; Kejahatan-
kejajahatan yg dilakukan oleh pemerintah atau aparatnya dan tindakan abuse of
fower yg termasuk pelanggaran thp hak-hak warga negara; Kejahatan korporasi.

kejahatan korporasi ad. Tindakan-tindakan korporasi yg dapat dikenakan sanksi ,
baik pidana, perdata maupun administrasi, yg berupa ilegal abuse of economic
power.

seara konseptual kejahatan yg menyangkut korporasi dapat berupa: Kejahatan
korporasi dalam usahanya mencapai tujuan korporasi untuk memperoleh
keuntungan; Korporasi yg bertujuan semata-mata untuk melakukan kejahatan;
Kejahatan terhadap korporasi.

Data kejahatan yang dilaporkan/dideteksi masyarakat Kurangnya pengetahuan
masyarakat terhadap kejahatan korporasi Aspek perundang-undangan Filosofi
tujuan pengaturan ( terhadap korporasi untuk perbaikan/ganti rugi, kejahatan
konvensional untuk penghukuman) Kurangnya pengetahuan aparat Status sosial
pelaku Kejahatan yang menjadi perhatian publik/press belum berimbang

Hal- hal yg mendorong berkembangnya korporasi : Meningkatnya kebutuhan akan
modal dalam jumlah yg besar; Perubahan dalam pola kepemilikan (dari kebendaan
ke hak); Terjadinya pemindahan dari pribadi ke kolektif; Kegiatan ekonomi
konsentrasi ke pasar internasional; Semakin meluas dan berkuasanya kekuasaan
koporasi dalam kehidupan ekonomi sosial; Kurang responsif dari para pembuat
kebijakan dalam mengantisipasi akibat hukum yg timbul dari adanya perubahan
dalam masyarakat; Korporasi dirasakan sebagai tempat jutaan orang
menggantungkan hidupnya, bahkan menjadi sumber pendapatan negara.

Kesusilaan

   Manuia sebagai perorangan
   Titik berat pd sikap batin
   Penilaian dr dalam ke luar
   Tdk puas hanya dgn tingkah laku lahiriah
   Bersifat mengikat krn sesuai dg kehendak (rasa susila) kita
Hukum
   Manusia sbg mahluk sosial
   Titik berat pd perbuatan individu
   Penilaian dr luar ke dalam
   Puas dgn tl lahiriah
   Bersifat mengikat krn ada “paksaan” dr luar (tdk sesuai dgn kehendak kita)
   Skema i
          Menjelaskan bhw semua pelanggaran thp hk pidana adalah pelanggaran thp
          norma kesusilaan. Mereka yg berpandangan dmk aalah yg memandang
          kejahatan adalah dosa dan kekuasan penguasa adalah yg diberikan kepada
          mereka.
   Skema ii
   Menjelaskan bhw tdk seluruh pelanggaran hk pidana adalah pelanggaran thp norma
   kesusilaan, sebagian kecil dari perbuatan pelanggaran hk pidana bukan mrpk
   pelanggaran thp norma kesusilaan.
   Skema iii
   Menjelaskan bhw hanya pelanggaran hk. Pidana yg bersifat serius yg diangap
   merupakan pelanggaran thp norma kesusilaan.
   Skema iv
   Menjelaskan bhw pelanggaran thp hk pidana bukan merupakan atau sama sekali
   tidak ada hubungannya dgn pelanggaran thp norma kesusilaan.
   Mereka yg tergolong pada kelompok iv ini adalah mereka yg memandang:

1. Hk. Pidaan hanya sbg alat teknis agar masy. Dapat berfungsi.
2. Tiap individu atau klp harus atau diperbolehkan memiliki norma-norma dan nilai-nilai
   sendiri terlepas dari hk. Pidana
   Mereka yg tergolong pada kelaompok iv ini adalah mereka yg memandang:

1. Hk. Pidana hanya sbg alat teknis agar masy. Dapat berfungsi.
2. Tiap individu atau klp harus atau diperbolehkan memiliki norma-norma dan nilai-nilai
   sendiri terlepas dari hk. Pidana.
    Kelompok iv. Ini dibedakan dalam tingkatan sbb:

   Mereka berpendapat bahwa norma-norma yg dianut tidak boleh bertentangan dgn
    hk.pidana.
   Mereka yg berpendapat bhw norma-norma yg dianut boleh bertentangan dgn hk.
    Pidana.
   Mereka yg lebih suka memiliki norma-norma yg bertentangan dengan/melanggar hk.
    Pidana.
    Pendapat/kritik Heofnagle ttg. Hubungan norma kesusilaan dengan hk. Pidana

    Keberatan pertama ditujukan kpd pandangan yg mengidentifikasi sebagian atau
    seluruh norma kesusilaan adalah bagian dari hk. Pidana. Jika pandangan tsb dianut
    oleh mereka/penguasa yg menjalankan tugas adm peradilan pidana, dikhawatirkan
    bhw norma-norma klp dari mana penguasa berasal akan mempengaruhi bentuk
    penentuan nasib klp lain. Terutama dlm hk. Pidana yg bersifat memaksa. Keberatan
    kedua ditujukan kpd pandangan yg memisahkan sama sekali norma kesusilaan dan
    hk. Pidana. Pandangan tsb justru menentang konsepsi ttg masyarakat dimana
    norma-norma kesusilaan yg positive (positive morality) diapandang sbg sesuatu yg
    bersifat alami oleh kelompok dalam masy.

    Hoefnagle berpendapat bhw penilaian seseorang tmsk didalamnya penilaian atas
    nilai-nilai yg pada gilirannya akan memberikan dasar-dasar kesusilaan thp semua
    faktor-faktor yg mempengaruhi kehidupan seseorang (faktor sosial/physyk).

    pandangan g hendak memisahkan norma-norma kesusilaan dari hk.pidana adalah
    bersifat amoral (mereka yg memisahkan norma mereka dgn “positive morality” yg
    berkembang dalam masy. Dgn tujuan membawa hubungan antara individu kearah
    hukum terlepas dari norma kelompoknya.

    Who is criminal …. ?
   People committing violation of law
   People committing violation of social norms
   People processed in the cjs
   People punised by the court
   People in the prison
    Klasifikasi penjahat berdasarkan penelitian lombroso
    Born criminal yaitu pelaku kejahatan berdasarkan doktrin atavisme; Insane criminal
    yaitu orang-orang yg tergolong kedalam kelompok ideot, embisil atau paranoid;
    Occasional criminal atau criminaloid yaitu pelaku ejahatan berdasaran pengalaman
    yg terus menerus hingga mempengaruhi pribadinya; Criminals of passion yaitu
    pelaku kejahatan yg melakukan tindakannya karena marah, cinta atau karena
    kehormatan.

    Sutherland

    Mengelompokan pelaku kejahatan kedalam tiga kelompok:

   Kelompok 1, lebih berorientasi kepada uu. Penjahat adalah setiap orang yang
    melanggar uu.
   kelompoh 2, memandang penjahat adalah orang yang lemah, lemah sosial,
    ekonomi, politik sebagai lawan dari orang-orang yang kuat dan punya kekuasaan
    dan tidak pernah tersentuh dan dicap sebagai penjahat.
   Kelompok 3, memandang penjahat adalah orang yg memiliki tingkah laku yang
    dinyatakan oeh uu sebagai kejahatan, dan seorang disebut penjahat jika ia secara
    nyata diakui bahwa ia telah melakukan tingkah laku dalam lingkup perbuatan
    kejahatan tertentu.
    Hoefnagles

    Bertitik tolak dari teori surface reaction, maka membedakan anggota masyarakat
    sbb:

   Pada saat ini bukan penjahat ( the non offenders of the moment)
   Dulu pernah jadi penjahat sekarang tidak lagi ( the not longger offenders/ex
    offenders)
   Orang yang belum kelihatan potensi sebagai penjahat ( the not yet offenders)
   Warga masyarakat yang taat pada hukum (the norm abeding citizen )
    Romli Atmasasmita

   Akan menjadi penjahat ( the non offenders of the moment )
   Bekas penjahat ( the not longer offenders )
   Aktif sebagai penjahat ( the not yet offenders )
   Warga yang taat pada hukum ( the norm ebiding citizen )
    Ruth s cavan Dilihat dari aspek perbuatan, penjahat dapat dikelompokan kedalam 9
    jenis tipe :

   The casual offenders
   The occasional criminal
   The episodic criminal
   The write collar criminal
   The habitual criminal
   The profesional criminal
   Organized crime
   The mentaly abnormal criminal
   The nonmalicious criminal
    Sejarah perembangan teori-teori kriminologi
    Dua bentuk pendekatan yg menjadi landasan lahirnya teori-teori kriminologi :

   Spiritualisme
   Memfokuskan perhatiannya pada perbedaan antara kebaikan yg datang dari
    tuhan/dewa dan keburukan yg datang dari setan.
   Landasan yg paling rational bhw pada periode sebelumnya kejahatan dianggap sbg
    permasalahan antara korban dan kel. Korban dgn pelaku dan keluarganya.
    Selanjutnya terjadi upaya pembalasan, dengan konsep perangtanding. Dan ada
    suatu kepercayaan kebenaran aan selalu menang dan kejahatan akan mengalami
    kebinasaan.
   Model pembuktian kesalahan pd masy. Primitif, al: menceburkan ssorg kedalam
    sungai dengan cara mengikatannya dalam batu besar. Kalau tdk bersalah tuhan
    akan menolong, kalau bersalah tuhan akan memberi penderitaan.
   Kelemahan aliran ini penjelasan tida dapat dibuktikan secara ilmiah.
   Naturalisme
   Perembangan naturalisme yg muncul dari perkembangan ilmu alam stlh abad
    pertengahan menyebaban manusia mencari model penjelasan yg lebih rational dan
    mampu membuktikan secara ilmiah.
    Aliran klasik
    Titik berat konsep aliran klasik :

   Manusia sebagai mahluk yang berkehendak bebas (free will)
   Manusia sebagai mahluk yang rational
   Hedonisme, dalam berprilaku dipandu oleh dua hal penderitaan dan kesenangan.
   Menjunjung tinggi hak asasi individu dan perlindungan hukum terhadap individu/
    kesamaan di depan hk.
   Menetapkan aturan-aturan beban pembuktian dan masalah kesaksian dalam hukum
    pidana/asas legalitas.
   Dalam pemidanaan menganut determinate santencing (penjatuhan hukuman yg
    sudah ditentukan )
    Pelopor aliran klasik antara lain Cesare becaria dan jeremy bentham.

    Aliran klasik sesungguhnya tidak membicarakan tentang tingkah laku manusia,
    tetapi bagaimana hukum secara khusus melindungi hak individu dan masyarakat
    dengan tujuan dapat mencegah adanya tingkah laku kejahatan.

    Dalam hal pemidanaan mempunyai dua justifikasi (j. Bentham):

   Special deternce / pencegahan khsus
   General deternce/ pencegahan umum
    Pokok-pokok aliran klasik:

   Keberadaan masyarakat di dunia memiliki kehendak bebas/free will, dan masyarakat
    memiliki pilihan berdasarkan rationalitasnya.
   Masyarakat memiliki hak asasi, diantaranya hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak
    atas kekayaan.
   Pemerintah dibentuk oleh masyarakat untuk melindungi hak-hak tersebut, dan
    eksistensinya dilandasi oleh oleh perjanjian sosial antara yang memerintah dengan
    yang diperintah.
   Anggota masyarakat akan dengan suka rela menyerahkan hak asasinya kepada
    negara, jika dipandang perlu dengan tujuan untuk keuntungan semua anggota
    masyarakat.
   Untuk memelihara hak tersebut, pembentuk uu diwajibkan melahirkan uu yang
    menetapkan bagaimana menetapkan prosedur pelanggaran hukum dipidana dan
    menetapkan pula tingkah laku apa yg dianggapa merupakan pelanggaran.
   Jehatan merupakan pelanggaran terhadap perjanjian sosial, oki kejahatan adalah
    pelanggaran moral ( a moral offence againts society)
   Hukuman dibenarkan hanya jika ditujukan untuk memelihara, mengamankan
    perjanjian sosial tersebut. Oki tujuan hukuman sesungguhnya adalah mencegah
    pelangaran hukum masa yg akan datang.
   Aliran klasik berpendapat bahwa seemua orang memiliki hak yang sama. Oki harus
    diperlakukan sama di muka hukum.
    Aliran neo klasik
Pada dasarnya bertolak pada pemikiran mazhab klasi, namun alairan neo klasik
menghendaki adanya pembaruan pemikiran. Hal tersebut karena pada
kenyataannya pemikiran mazhab klasik menimbulkan ketidak adilan. Pemberlakuan
code penal terhadap pelaku kejahatan tidak memperhatikan aspek mental dan
kesalahan. Walaupun tidak didasaran pada pemikiran ilmiah, namun aspek kondisi
pelaku dan lingkunganya mulai diperhatikan.
Aliran positifis
Pokok-pokok aliran positif

Kehidupan manusia berkembang dari hubungan sebab akibat. Kejadian dalam dunia
menunjukan keteraturan dan dapat dijelaskan melalui suatu observasi yg sistematis.
Masalah sosial seperti kejahatan dapat diatasi melalui studi sistematis tentang
tingkah laku manusia. Hanya melalui aplikasi science manusia menjadi sempurna
atau sekurang-kurangnya keadaannya menjadi lebih baik. Tingkah laku kriminal
adalah hasil dari ketidak sempurnaan yg mungkin ada di dalam diri seseorang atau
muncul dari faktor sosial di luar individu. Kondisi yg abnormal dapat duketemukan
melalui perbandingan terhadap mereka yg normal. Sekali abnormality dikermukakan
adalah kewajiban kriminologi untuk membantu memperbaikinya. Treatment sangat
disukai individu, sehingga ia dapat kembali menjadi normal dan juga bagi
masyarakat dapat terlindungi.

Tujuan penjatuhan pidana terhadap penjahat bukan penghukuman tetapi
melaksanakan suatu perlakuan atau pembinaan.

Filosofi aliran positive adalah pentingnya percobaan, dan pengalaman yang
sistematis menunjukan bahwa manusia itu bertanggung jawab terhadap nasibnya
sendiri. Aliran positive beranggapan manusia dan pemikirannya berkembang secara
perlahan-lahan (t. Evolusi). Prilakunya dipengaruhi oleh determinisme biologi dan
determinisme cultural( pengaruh sosail, budaya dan lingkungan dimana seseorang
hidup).

Tokoh : cesare lombroso, enrico ferri, rafael garopalo, dll.

Aliran positive memberikan pengaruh terhadap perkembangan kriminologi.
Pengaruh biologi dapat dilihat teori yang dikemukakan lombroso dengan biologi
criminalnya. Pengaruh cultural antara lain teori yg dikemukakan lacasagne, g.tarde
dengan teori peniruannya, suthetland dengan llearning theoarinya, sellin dengan
culture conflict, merton dengan teori anomie, dan chohen dengan teori delinquent
sub culture.
Lombroso
pelopor lahirnya mazhab positivis


T. Born criminal lahir dari ide yg diilhami oleh t. Darwin tentang evolusi manusia. Ia
membantah sifat free will yg dimiliki manusia.

T. Atavisme sebagai pembuktian adanya sifat hewani pd diri manusia yg diturunkan
nenek moyang. Gen tsb dapat muncul sewaktu-waktu dgn munculnya sifat jahat pd
manusia modern. Manusia jahat dapat ditandai dari sifat-sifat fisiknya. (hasil rekam
medis terhadap 3000 tentara. ( dahi dan rahang yg menonjol, hidung bengkong,
mata cekung, dll.) Atas dasar penelitian tsb, ia mengelompokan penjahat kedalam 4
golongan.

Kritik terhadap lombroso

Kritik terhadap teori lombroso muncul bersamaan dengan pesatnya perkembangan
ilmu-ilmu alam di eropa hususnya di prancis. Lacassagne, kejahatan merupakan
suatu jenis penyakit yg disebaban oleh uman, namun berembangnya kuman tetap
digantungkan pd kondisi manusiaya. Manuvrie, ia setuju terhadap generalisasi yg
dilakukan lombroso bhw kejahatan ada pengaruh dari gen nenek moyang. Namun
anggapan kebiadaban nenek moyang hanya diukur oleh keadaan kebudayaan
searang. Dengan demikian kejahatan dan penjahat akan ditentukan oleh
kebudayaan yg menjadi tolak ukurnya. Kejahatan lebih banyak disebabkan oleh
milieu. Tarde. Menurut antopolog, prilaku jahat seseorang sesungguhnya timbul dari
hukum imitasi atau peniru perilaku orang lain.

Ketiga teori tersebut menolak t. Born criminal. Enrico ferri sebagai murid lombroso
menengahinya dgn merangkum semua teori di atas.

T. Lain yg menitik beratan pd kondisi individu penjahat

T. Psikis, dimana kejahatan dihubungkan dengan kondisi kejiwaan seseorang.
Berdasaran hasil ts iq, penjahat adalah orang yg memiliki keterbelakangan
mental/bodoh dengan memiliki iq dibawah 100. Namun dalam perkembangannya t.
Ini tidak memiliki kebenaran.

T. Yg menyatakan bahwa penjahat memiliki bakat yg diwariskan oleh orang tuanya.
Namun pada kenyataannya seorang anak yg memiliki karekter orang tuanya bukan
hanya dimiliki oleh anak kandung, melainkan dimiliki pula oleh anak hasil adopsi
atau anak angkat.

T. Psikopat. T. Ini mencoba nencari sebab-sebab kejahatan bukan dari intellegentia,
melainkan dari kondisi jiwa yg abnormal. Seorang penjahat terkadang tidak memiliki
kesadaran atas kejahatan yg telah diperbuatnya sbg akibat gangguan jiwa.
    T. Kejahatan sebagai gangguan kepribadian. Prilaku yg dikategorikan sebagai crime
    without victim.

    Sebab kejahatan sebagai pengaruh sosial budaya dapat digolongkan kedalam 4
    kelompok besar

   Kelompok teori yg menghubungkan kejahatan dengan kondisi ekonomi;
   Kelompok ygt melihat kejahatan sebagai perilaku yg dipelajari secara normal;
   Kelompok teori yg melihat konflik kelompok sebagai sebab musebab kejahatan;
   Kelompok teori yg disebut teori kritis atau modern.
    Perbedaan aliran klasik dengan positive
    Klasik
    Titik berat : hukum pidana
    Individu : human being yg memiliki freewill, karena ia mahluk yg rational, punya akal,
    dan bebas memilih. Jika ia meemilih kejahatan, maka ia sudah dipikirkan dan
    dipertimbangkan akibat perbuatannya. Faktor individu sangat dominan.
    Positive
    Titik berat : human behaviour
    Individu : pemikirannya sebab akibat. Individu tidak bebas melainkan tetap
    dipengaruhi oleh faktor ekternal dan selalu melihat individu sebagai hasil sebab
    akibat.
    Aliran kritis/ mazhab kritikal
    Sebagai pengaruh dari pendekatan terhadap kejahatan yg didasarkan pada
    paradigma interaksionis serta teori labeling, maka muncul aliran kritis.

    Dalam mengkaji masalah phenomena kejahatan aliran ini lebih menitik beratkan
    kepada proses-proses sosial yg mendasari dan mempengaruhi lingkungan dimana
    manusia hidup. Penomena kejahatan adalah sebagai kontruksi sosial. Aliran
    kriminologi kritis bukan hanya mempelajari orang-orang yg didefinisikan sebagai
    penjahat, akan tetapi mempelajari juga perilaku dari agen-agen kontrol sosial ( para
    penegak hukum). Kejahatan dan ciri-ciri pelaku terutama ditentukan oleh bagaimana
    undang-undang disusun dan dijalankan. Penanggulangan kejahatan bukan melalui
    penegakan hukum sebagaimana aliran klasik, juga bukan mencari causa melalui
    penelitian ilmiah sebagaimana aliran positive. Melainkan dapat dilakukan melalui
    masyarakat yg lebih demokratis (mengurangi proses konflik yg tdk wajar dan
    mengurangi proses diskriminalisasi) dengan pendekatan yg lebih manusiawi. Pada
    pelanggar pemula mengurangi labeling yg dapat menimbulkan krisis jati diri.
    Alasan munculnya aliran kritis
1. Perkembangan masyarakat yg sangat pesat telah menghasilkan peregeseran-
   pergeseran dan perubahan-perubahan kepentingan, nilai-nilai serta struktur yg
   banyak berpengaruh kepada sosok kejahatan.
2. Sifat dari hukum itu sendiri yg terbukatermasuk penegakannya yg merupakan
   kongkritisasi dari negara hukum. Untuk itu perlu dikaji seberapa jauh asas-asas
   hukum sep. Persamaan didepan hukum, perlindungan tersangka,korban serta
   masyarakat dapat dinikmati oleh pencari keadilan.
3. Dengan melakukan kajian terhadap bekerjanya hukum akan diketahui hambatan-
   hambatan dan permasalahan-permasalahan yg muncul.
4. Dengan melakukan kajian terhadap proses pembuatan uu, akan memberikan
   pemahaman sec. Komprehensif, shg dapat diketahui tujuan serta kepantingan
   dibalik uu.
5. Hal-hal tsb tidak ditemukan didalam kedua teori sebelumnya.
   Tipologi ajaran-ajaran sebab-sebab kejahatan menurut
   sutherland




1. Klasik 1775 Hedonisme Metode: KURSI SANDAR LENGAN (ARM- CHAIR)
2. Kartografik 1830 ECOLOGY, CULTUR, KOMPOSISI PENDUDUK. Metode: PETA-
   PETA STATISTIK
3. SOSIALIS 1850 DETERMINISME EKONOMI Metode: STATISTIK
4. TYPOLOGY
1. LOMBROSO (1875), TYPE MORFOLOGIS, BORN CRIMINAL. Metode: KLINIS,
   STATISTIK
2. MENTAL TES (1905), KELEMAHAN PIKIRAN. Metode: KLINIS, TES, STATISTIK.
3. PSYCIATRIS (1905). PSYKOPATHY Metode: KLINIS, STATISTIK.
5. SOSIOLOGIS (1915). PROSES-PROSES KLP DAN SOSIAL (GROUP AND SICIAL
   PROCESS) Metode: KLINIS, STATISTIK.
    Perkembangan studi kejahaan

1. Sebelum lombroso sebelum munculnya ilmu kriminologi, yg diwakili oleh para ahli
   pikir/filsuf ( plato, aristoteles, thomas van aquino, montesque, beccaria dll).
2. Masa lombroso masa lahirnya ilmu kriminologi, yg dipelopori lombroso (mazhab
   italy)
3. Pasca lombroso sesudah lombroso. Pengembangan teori-teori kriminologi yg dirintis
   lombroso dkk
    Teori kriminologi klasik

   Mazhab italy / antropologi/biologi
   Penjahat sejak lahir sudah mempunyai tipe tersendiri (born criminal type)
   Memiliki ciri-ciri fisik tertentu ( tengkorak asimetris, rahang bawah panjang, hidung
    pesek, rambut janggut jarang, tahan sakit)
   Tanda-tanda bukan penyebab, melainkan pengenal kepribadian yg cenderung
    dalam hal criminal behaviour yg dibawa sejak lahir atau atavisme.
   Karena kepribadian tyersebut maka mereka tidak dapat terhindar untuk melakukan
    kejahatan kec. Lingkungan dan kesempatan tidak memungkinkan.
    Konsepsi tersebut ditentang oleh charles goring, dengan mengadakan penelitian
    membandingkan orang yg dianggap penjahat dan bukan penjahat. Dan hasilnya
    tidak ada perbedaan yg mencolok.

   Aliran sosiologi.
    aliran ini telah dimlai dengan catografic shhool. Aliran ini memberikan interprestasi
    kepada kejahatan sebagai a function of environtment.

    lacasagne, yang mengembangkan teori lingkungan sebagai penyebab orang
    melakukan ejahatan. Ia terinspirasi leh pemikiran ilmu kedokteran dari louis paster,
    dimana orang jahat diibaratkan sebagai tubuh yg lemah dan berada di tempat yg
    penuh dengan bibit penyakit sehingga menyebabkan tubuh menjadi sakit.

    tarde, seorang ahli psikologi mengembangkan suatu teori yg memberi tekanan
    kepada imitasi didlam sebab musebab kejahatan. Kejahatan bukan gejala
    antropologi melainkan dikuasai oleh peniruan.

    Aliran bio sosiologi
    enrico ferri, mencoba mengembangkan kelemahan teori lombroso dengan
    menggabungkan aliran bakat dan lingkungan. Menurutnya kejahatan merupakan
    resultante dari sifat jahat yg dimiliki seseorang dengan kondisi lingkungan. Namun
    demikian fakor yg menentukan adalah bakat jahat.

    w.a. bonger, kejahatan itu disebabkan karena sifat jahat ditambah dengan
    lingkungan. Namun demikian, ada dua lingkungan yg mempengaruhi. Lingkungan
    semenjak kecil hingga dewasa dan lingkungan pada saat akan melakukan ejahatan.
    Periode pasca lombroso
    Pada masa ini merupakan masa perkembangan teori kriminologi. Hal ini muncul
    sebagai akibat kelemahan teori lombroso dengan dasar teori bakatnya. Namun
    demikian teori – teori yg muncul merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori
    dasar pada masa lombroso.

    Kretsmer (jrm) dlam teorinya menghubungkan antara pelaku kejahatan dengan ciri
    pisik dan perangai. Begitu juga sheldon, bahwa tingkah laku manusia ada
    hubungannya dengan bentuk badannya.

   orang gemuk pendek/endomorph adalah tipe manusia suka bersosial dan punya
    falsapah hidup yg mudah.
   orang kurus dan lemah lembut/ ektomorph, bersifat sensitif, mudah marah dan tidak
    begitu sosial.
   orang yg tegap dan badan kuat/mesomorph, mudah resah, besar tenaga dan tidak
    sensitif. Tipe ini yg punya potensi untuk jadi penjahat.
    Beberapa teori yg berkembang antara lain:

1. T. Ekologis, yg menghubungkan antara kejahatan dengan kepadatan dan mobilitas
    penduduk.
2. T. Culture conflict (thorten sellin), yg menghubungkan antara kejahatan dengan
   sistem nilai dalam suatu darah.
3. T. Faktor economic ( crime and economic condition )
4. T. Defrential assosiation
5. T. Anomie
6. T. Subculture
    Differential association

1. Kejahatan itu dipelajari bukan diwariskan
2. Kejahatan itu dipelajari dalam lingkungan pergaulan yg intim
3. Kejahatan itu dipelajari melalui suatu proses komunikasi
4. Yang dipelajari adalah motivasi, juga tekanik melakujkan kajahatan.
   Orang lebih suka melakukan kejahatan/ melanggara uu, karena :

1. Frekwency : seringnya individu bergaul dengan kelompok tertentu
2. Duration : lama inya individu tersebut dalam kelompok
3. Priority : masa lampau seseorang
4. Intensity : bagaiaman sikap orang terhadap norma yang dianut kelompoknya.
   Kelemahan teori ini adalah :

1. Seolah-olah orang yg bergaul dengn org jahat penjahat
2. Seolah-olah manusia tdk punya kepribadian
   Titik berat t. Da : bahwa kejahatan berakar dari masyarakat dan merupakan
   pencerminan dari organisasi masyarakat itu sendiri.

   Tingkah laku kriminal itu dipelajari, tidak diwariskan. Tingkah laku kriminal dipelajari
   dalam hubungan dengan interaksi orang lain dalam st. Proses komunikasi. Bagian
   terpenting dri mempelajari tl kriminal, timbul dalam st. Hubungan / klp yg intim
   Didalam mempelajari tl. Kriminal seseorang akan mempelajari teknik melakukan
   kejahatan dan motivasi/dorongan-dorongan. Dorongan-dorongan itu dipelajari dari
   penafsiaran org itu terhadap ket. Uu; apakah menyukai melanggara uu atau tdk
   menyukai melanggar uu. Seseorang menjadi jahat krn org itu lebih suka melanggar
   uu drpd mentaati uu. Pergaulan yg berbeda-beda tergantung dari frekwensi lamanya
   wkt yg dipergunakan untuk bergaul satu sama lain, masa lampai dan intensitas.
   Proses mempelajari tl kriminal juga pola tl non kriminal meliputi semua mekanisme
   yg terjadi pada proses-proses mempelajari hal-hal tsb.

   Teori sosiologi yg menerangkan kejahatan dan sebab-sebab kejahatan

   t.   Condax norm ( conflict norma )
   t.   Defferentsial accosiation
   t.   Culture tranmission
   t.   Anomie




   File:Teori umum ilmu sosial terhadapperilaku jahat.png

   Pendekatan ilmu sosial terhadap kejahatan 1. Teori tentang motivasi
   mempersoalkan tentang : 1) mengapa orang melakulan kejahatan 2) mengapa ada
   orang yg tidak melakukan kejahatan pertanyaan pertama dijelaskan dengan “strain
   theory”, teori ini menjelaskan bahwa dalam masyarakat terdiri dari berbagai
kebutuhan, namun dalam kenyataanya beberapa anggota masyarakat tidak berhasil
mencapai cita-cita sesuai dengan keinginannya. titik berat teori ini bhw kejahatan
dipandang sbg st. Adaptasi. Shg tidak dipandang sbg sst yg baik atau buruk
melainkan sbg sst yg normal. pelopor teori ini didasarkan pad konsep teori anomie.
Tokohnya durkheim dan robert merton.

Pertanyaan kedua dijelaskan oleh “social control theory” mnrt teori ini kita memilih
mentaati norma karena kita suka oleh keterikatan dalam masyarakat ( social bonds).
Ada 4 unsur dalam sosial bond ( hirschi ) : Attachment Comitment Involvement Belief
�dikotomi klasifikasi teori, misalnya : Konsensus vs konflik Klasikal vs positivistik
Struktural vs prosesual Sosiologis vs biologis

makro   vs   mikro


Klasifikasi teori kriminologi

Klasik Legal status (keadaan legal) Government structure (struktur pemerintahan)
The right of human (hak asasi manusia) Struktur The way society orginezed and its
effect on behavior (pengaruh aneka ragam lemb. Kemasy. Thp hub. Masy).
Konsensus Agresment among people (kesepakatan antara angg. Masyarakat)
Shared common values (gagian dari nilai-nilai kebiasaan)


Positif Pathology of criminal (sebab-sebab kejahatan) Treatment (pembinaan)
Correction of criminal with in individual (perbaikan thp pelaku kejahatan) Proses How
people become criminal ( mengapa orang menjadi penjahat) Konflik Litle agrement
(tidak ada kesepakatan) People hold conflicting values (pengaruh konflik nilai thp
masyarakat)


� Theory of criminology Macro theories Explain social structure and its effects (
struktur sosial dan dampaknya)

Micro theories Explain how people become criminal ( bagaimana orang bisa jadi
penjahat)

Brigding theories How social structure comes about and how people become
criminal ( bagaimana struktur sosial dan bagaimana orang menjadi penjahat)

Bagaimana di indonesia ?
kriminologi sedikit sekali manjadi bahasan yang serius dalam wacana
akademik, padahal cukup ngetop dalam pembicaraan warung kopi


Pengembangan teoritis sangat miskin, terutama oleh komunitas hukum ( conflicting
paradigm between law and criminology) Penelitian juga sama miskinnya Padahal
sangat diperlukan untuk menunjang pengembangan hukum pidana dan spp !

Kecenderungan pendekatan dalam kriminologi di indonesia

konservatif untuk kasus kejahatan kekerasan


Eknomi, untuk kasus klejahatan ekonomi Radical conflict untuk kasus kejahatan
politik Ekologis untuk kejahatan kolektif, juvenile delinquency

Secara umum pendekatan sosial terhadp masalah kejahatan
Reaksi masyarakay terhadap kejahatan


Reaksi masyarakat : Sikap spontan dan emosional yg diberikan anggota masyarakat
thp masalah kejahatan yg timbul di masyarakat.

Reaksi masyarakat karena ada sst yang mengancam terhadap kehidupannya.
Bentuknya : menghindar , usaha untuk memberantas, pembalasan.

Macam-macam reaksi masyarakat : Resmi (tanggapan yg didasarkan atas hukum yg
berlaku, berupa spp) Tidak resmi (tanggapan masyarakat diluar pengaruh aturan
resmi)

Kedua reakksi tersebut perlu mendapat perhatian secara khusus

Dua aspek reaksi masyarakat


Aspek positif. Reaksi masyarakat melalui pendekatan-pendekatan kemasyarakatan
sesuai dgn latar belakang terjadinya kejahatan. Didasarkan atas kerjasama dgn
aparat keamanan / penegak hukum. Tujuan penghukuman adalah pembinaan dan
penyadaran atas si pelaku. Mempertimbangkan dan memperhatikan sebab-sebab
dilakukannya kejahatan.

2. Aspek negatif Reaksi masyarakat serta merta atasa dasar luapan emosi.
Didasarkan atas ketentuan lokal yg berlaku pad masyarakat Lebih bersifat
pembalasan,penderitaan, paksaan, dendam. Sedikit mempertimbangkan dan
memperhitungkan latar belakang dilakukannya kejahatan.
Landasan reaksi masyarakat


1. Landasan presfektif hukum/yuridis special prefention dan general prefention
Landasan prsfektif sosiologis. hukuman diberikan kepada si pelaku atas dasar
ketentuan mores kelompok. ( durkheim: penghukuman bukan untuk membunuh
masa depan, ttp berusaha untuk menghidupkan kembali semangat jiwa agar kembali
menjadi warga masyarakat yg wajar. Landasan presfektif psikologis. ( obyektyif,
subyektif dan sosiologis)

Kerugian akibat kejahatan

File:Kerugian akibat kejahatan.png

Konsepsi kriminologi penanggulangan kejahatan


Punitif/penghukuman/punishment Perlakuan /treatment

2 justifikasi punishment: Akibat yg diberikan atas kewenangan kelompok terhadap
tindakan anggota kelompok. Hukuman merupakan suatu bentuk penderitaan yg
mendapat pengakuan ssi nilai yg dimiliki

Penolakan terhadap metode hukuman: Merupakan bentuk isolasi terhadap individu
yg dianggap sbg musuh masyarakat. Pengalaman penderitaan yg membuat orang
enggan kembali ke masy. Hukuman dapat menghapus atitude/sikap seseorang
Sering memberikan kepada pelaku keadaan semena-mena Pada umumnya tidak
memebrikan dorongan yg konstruktif
Clemmer:�semakin lama seseorang berada dalam penjara, semakin berkuranglah
ketaatan seseorang terhadap pola-pola tingkah laku yg baik; dan semakin kuatnya
ketaatan orang ybs terhadap apa yg disebut “inmate code” yg berlaku dlam penjara
tsb.


Dua sistem crime prevention: Cara moralistik Abolionistik ( memberantas
penyebabnya)

Sutherland and cressey: Metode untuk menangulangi pengulangan/ prevention
Metode untuk mencegah the first crime/reformation

Perlindungan terhadap kejahatan sbg suatu jaminan kepastian keamanan apabila :


Ada usaha untuk mengubah penjahat dengan cara-cara yg berguna Mengasingkan
mereka yg tidak dapat diubah/diperbaiki Mengasingkan mereka dari perkembangan
dunia kejahatan Menghilangkan lingkungan sosial yg mendorong kejahatan
Prevention of delinquency and crime�(ruth s cavan)


Memperhatikan jenis-jenis pelaku atas kejahatan yg dilakukannya; Melibatkan para
ahli bidang pendidikan dan psykiatris Tidak mengabaikan gejala-gejala yg nyata dan
tindakan nyata dari kejahatan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:10399
posted:10/25/2010
language:Indonesian
pages:28