Madihin sebagai Media Dakwah

					       MADIHIN, KESENIAN TRADISIONAL MASYARAKAT BANJAR
                  SEBAGAI MEDIA DAKWAH ISLAM

                                      Oleh: Zulfa Jamalie1

                                              Abstrak

               Secara turun menurun dalam masyarakat Banjar telah hidup dan
       berkembang berbagai kesenian atau budaya rakyat, diantara sekian banyak
       budaya yang sampai sekarang tetap survive dan berkembang tersebut adalah
       kesenian Madihin. Sebagai kesenian asli madihin mempunyai akar yang
       kuat untuk terus diterima oleh masyarakat. Terlebih lagi manakala melihat
       fungsinya yang tidak hanya sebagai media hiburan, akan tetapi juga sebagai
       media pendidikan dan informasi pembangunan.Penggarapan madihin
       sebagai media dakwah Islam, terutama yang bersifat lokal masih minim
       sekali, oleh karena itu kajian yang mendalam dan modifikasi terhadap
       pemanfaatan madihin sebagai media rakyat (Folk Media) dibidang dakwah
       urgen diperlukan sebagaimana halnya kesenian Ludruk dari Jawa Timur
       yang tetap eksis dan survive. Sehingga di samping bisa digunakan sebagai
       penyampaian pesan-pesan keagamaan. Sekaligus pula berfungsi sebagai
       media hiburan dan pendidikan.

       Kata-kata Kunci: madihin, kesenian, tradisional, media, dakwah.

A. Pendahuluan
        Jika dilihat dari bentuk dan jenisnya maka madihin sebagai kesenian tradisional
masyarakat Banjar dapat digolongkan kepada jenis sastra lama yang berbentuk puisi atau
pantun. Akan tetapi walaupun demikian madihin sendiri mempunyai karakteristik yang
cukup unik, sebab ia merupakan perpaduan dari tiga unsur seni, yakni seni suara
(syair/lagu), seni musik dan seni gerak (mimik).
        Dalam masyarakat Banjar sendiri kesenian madihin sebagai suatu permainan
sudah lama tumbuh dan berkembang. Di mana tumbuh dan berkembangnya seiring
dengan perkembangan berbagai bentuk kesenian dan sastra Banjar yang lainnya, yang
umumnya disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut oleh para tokoh yang memang
mempunyai keahlian khusus dalam menyajikan sastra secara turun-temurun, sehingga
dalam berbagai kesempatan mereka menyampaikan kisah, hikayat, dongeng dan
sejenisnya, dalam hal ini termasuk kesenian madihin.
        Dalam masyarakat Banjar menurut Sunarti para penutur tersebut dikenal dengan
berbagai istilah, sesuai dengan kesenian yang mereka geluti (kuasai), mereka
berfungsi sebagai komunikator dalam berbagai kegiatan kesenian Banjar, diantaranya
adalah:



       1
           Dosen Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin.

                                                  1
1.  Palamutan, seorang tukang cerita yang khusus mempunyai kemampuan menyajikan
    kisah lamut, palamutan menguasai jalan cerita, cara penyampaian dan improvisasi-
    improvisasi yang menarik.
2. Pamadihinan, ialah penutur khusus yang menyampaikan bentuk puisi, syair atau
    pantun madihin.
3. Panyairan, yakni penutur khusus puisi syair, sekaligus penyampaian cerita dalam
    bentuk syair.
4. Paaliran, yang dikenal sebagai pawang buaya, mereka secara khusus menguasai
    mantra-mantra untuk berburu dan menangkap buaya.
5. Tabib, merupakan tokoh penting dalam masyarakat desa sebagai tempat untuk
    meminta pertolongan dalam berbagai hal, terutama dalam pengobatan penyakit, baik
    secara fisik maupun secara mental.
6. Pamandaan, adalah seorang penutur cerita sekaligus menjadi pelaku dalam
    pertunjukan mamanda.
7. Pajapinan, ialah penutur pantun-pantun, lagu japen dan sering pula membawakan tari
    japen.
8. Tukang kisah, merupakan penutur cerita rakyat yang mempunyai banyak
    perbendaharaan kisah yang banyak.
9. Dadalang, sama dengan dalam pengertian umum, yaitu seorang laki-laki penutur
    cerita wayang kulit Banjar, mereka bisanya menguasai bahasa Jawa kuno dan bahasa
    Banjar dengan baik.
10. Gandut, yakni tokoh perempuan yang khusus membawakan lagu-lagu dari bait-bait
    atau syair pantun erotis dalam pertunjukkan bagagandutan (sejenis ledek, tayub,
                1
    ronggeng).

        Tokoh-tokoh di atas mempunyai kedudukan dan fungsi khusus dalam memainkan,
mengembangkan dan melestarikan kesenian-kesenian tradisional masyarakat Banjar,
seperti halnya pemadihin yang berperan penting terhadap permainan madihin.
       Adapun tujuan utama dari pelaksanaan kegiatan kesenian madihin sebagai suatu
permainan yang paling sering ditampilkan dalam masyarakat Banjar pada dasarnya
menurut Sunarti lebih lanjut adalah sebagai:
1. Hajat atau haul, merupakan tradisi yang berurat-berakar dalam masyarakat Banjar
   secara turun-temurun, yang dilakukan sesudah maksud tercapai sebagai tanda
   syukur kepada Tuhan.
2. Sarana hiburan, sehingga sering dihubungkan dengan peristiwa kelahiran,
   perkawinan, khitanan, peringatan hari besar atau menyambut tamu yang penting di
   desa yang bersangkutan.
3. Pemberi semangat kerja, disamping hiburan madihin juga diberikan dalam rangka
   untuk lebih menumbuhkan dan mendorong semangat masyarakat dalam bekerja,
   karena ia juga sering ditampilkan ketika musim tanam padi dimulai, atau sesudah
   panen.
4. Tujuan magis, hal ini dilakukan sebagai sarana untuk menyampaikan hajat kepada
   Tuhan Yang Esa sehingga melalui madihin disampaikan mantra-mantra tertentu
   kepada penguasa alam dengan sesajen yang telah ditentukan.


                                         2
5. Tujuan didaktis, yakni untuk mendidik pribadi anak-anak dan muda-mudi, biasanya
   disajikan oleh orang tua pada kesempatan tertentu. Materi untuk mencapai tujuan
   ini ialah kisah-kisah tentang datu, mite, sage dan fabel yang sebagian besar
                                                      2
   ceritanyanya mengandung humor dan unsur didaktis.

       Perkembangan berikutnya pada saat sekarang ini permainan madihin hanya
mempunyai tiga tujuan pokok, yakni sebagai sarana mendidik masyarakat, sebagai sarana
hiburan sekaligus sarana untuk mendorong dan memotivasi masyarakat untuk
meningkatkan prestasi atau etos kerjanya, dalam rangka ikut berpartisipasi dalam
kegiatan pembangunan. Sedangkan tujuan magis tidak dilaksanakan lagi sebab dianggap
sebagai sesuatu yang bersifat syirik, karenanya dalam pergelarannyapun tidak diperlukan
lagi sesajen atau piduduk tertentu sebagai prasyarat yang biasanya harus dipenuhi
sebagaimana pada masa awalnya.
       Karena permainan madihin merupakan sesuatu yang telah lama tumbuh dan
berakar dalam masyarakat Banjar serta karakteristik yang dimiliki, maka di bawah ini
akan diuraikan bagaimana kesenian madihin dapat digunakan sebagai media dalam
rangka kegiatan dakwah Islam.

B. Tinjauan Latar Belakang Budaya Kesenian Madihin
     1. Asal Kata Madihin
Ada pendapat yang menyatakan bahwa kata madihin berasal dari bahasa Banjar, yaitu
papadahan atau mamadahi yang berarti memberi nasihat. Pendapat ini boleh jadi
disandarkan pada materi madihin, di mana hampir semua isi dari pantun atau syair
                                                                       3
dinyanyikan oleh seorang pemadihin mengandung nasihat-nasihat tertentu. Nasihat-
nasihat tersebut bisa berkenaan dengan masalah-masalah keagamaan, kemasyarakatan,
pendidikan, pembangunan dan lain-lain sesuai dengan keinginan dari penyelenggara
                    4
kesenian Madihin. Tema Madihin yang berkenaan dengan pembangunan tersebut dapat
dilihat pada tulisan Jumberi berikut:

    Bahasa daerah Banjar                          Bahasa Indonesia

    Kita sakalian handaklah maju                  Kita semua hendaklah maju
    Guna kabaikan sianak cucu                     Untuk kebaikan anak dan cucu
    Pawaris kita ganarasi baru                    Pewaris kita generasi baru
    Zaman wayah ini zamannya                      Zaman sekarang zamannya
    Indonesia baru                                Indonesia baru
    Zaman pambangunan saling                      Zaman pembangunan saling
    mambantu                                      membantu
    Semua masyarakat haruslah tahu                Semua masyarakat harus tahu
    Agar tercapai adil dan makmur                 Agar tercapai adil dan makmur
    nang kita tuju                                yang kita kehendaki
                                  5
    Samua rakyat haruslah bersatu                 Semua rakyat harus bersatu




                                          3
        Seorang tokoh pamadihinan Utuh Sahiban menyatakan bahwa madihin berasal
dari kata madihan, yang mungkin karena perubahan bunyi dari kata madah, sehingga dari
kata madah itu selanjutnya berubah menjadi madihin karena pengaruh dialek atau
                 6
pengaruh bunyi. Sementara itu selaras dengan pendapat di atas, sejarawan Kalimantan
Selatan, Syamsiar Seman dalam tulisannya tentang Kesenian Lamut dan Madihin sebagai
Media Tradisional yang Komunikatif dan disampaikan dalam forum rapat koordinasi
Sosiodrama Propinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 23-25 Mei 1981 di Banjarmasin
berpendapat bahwa, nama madihin berasal dari kata madah, yakni sejenis puisi lama
dalam sastra Indonesia atau yang biasa dinamakan dengan pantun, karena dalam kesenian
madihin seorang pemadihin biasanya menyanyikan syair-syair yang berasal dari kalimat
                        7
akhir bersamaan bunyi. Misalnya seperti yang terlihat pada materi madihin tulisan M.
Thaha, berikut:

       Memang bujur ujar sampian
       Balajar itu jangan handak saurangan
       Balajar itu suatu kewajiban
       Sagan kita sabarataan
       Supaya hidup kaina nyaman


              Banyak baisi ilmu pangatahuan
              Gasan mahadapi parubahan zaman
              Karana banyak cubaan atawa tantangan
              Baik sakarang apalagi di masa dapan
              Makanya Balajar baik basasamaan
              Supaya nang bungul batambah kapintaran
              Jangan nang bungul batambah kabungulan
                                                  8
              Nang tapintar dapat mangambangakan

    2. Riwayat Kesenian Madihin
Asal mula riwayat adanya kesenian madihin pada masyarakat Kalimantan Selatan sulit
dipastikan. Ada yang menyatakan bahwa kesenian madihin berasal dari Kecamatan
Paringin, Kabupaten Hulu Sungai Utara, sebab dahulu tokoh madihin Dulah Nyangnyang
lama bermukim di Paringin dan mengembangkan kesenian madihin di sana, sehingga
akhirnya madihin teersebar luas dan dikenal oleh masyarakat di seluruh propinsi
                    9
Kalimantan Selatan.
        Ada yang berpendapat bahwa madihin asli berasal dari daerah Kalimantan Selatan
sendiri, yakni dari kampung Tawia Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai
Selatan. Dari kampung Tawia inilah kemudian tersebar ke seluruh wilayah propinsi
Kalimantan Selatan, bahkan sampai ke Kalimantan Timur. Karena itu wajar jika pemain
kesenian madihin yang terkenal dan tersebar pada umumnya berasal dari kampung Tawia,
                                        10
salah satunya adalah Dulah Nyangnyang.
       Di samping dua pendapat di atas tentang asal-usul kesenian madihin, sebagian
sejarawan ada juga yang berpendapat bahwa kesenian madihin sebenarnya berasal dari

                                             4
utara Kalimantan Selatan yang berbatasan dengan negara Malaysia (Malaka). Pendapat ini
diperkuat dengan adanya dan persamaan bentuk gendang tradisional yang dimainkan dan
syair yang dinyanyikan dalam kesenian madihin dengan syair yang dinyanyikan dan
dipakai oleh orang-orang dari tanah semenanjung Malaka dalam mengiringi irama
                         11
tradisional Melayu asli.

     3. Perkembangan Kesenian Madihin
        Pada mulanya kesenian madihin dibawakan hanya oleh seorang pemain saja, yang
disebut dengan pemadihin dan hanya ditampilkan pada saat upacara-upacara tertentu
dalam masyarakat Banjar, sehingga dalam setiap pelaksanaan madihin harus dilengkapi
berbagai peralatan yang umumnya disyaratkan dalam suatu upacara. Perlengkapan
tersebut antara lain adalah:
1. Tilam (kasur) berukuran kecil untuk tempat duduk pemain madihin
2. Piduduk (sesajen) yang berisikan nasi ketan putih dengan inti kelapa gula merah,
   telor ayam 3 biji, pisang mahuli atau pisang emas serta berbagai jenis kue khas
   daerah Banjar seperti apam (warna merah dan putih), cucur, kakoleh dan lain-lain
3. Perapian dengan dupa (yang berfungsi untuk mengasapi tarbang/rebana agar lebih
   baik) dan minyak baboreh
4. Terbang (rebana) berukuran kecil dan babun (gendang) yang telah diukupi oleh asap
   dupa sebagai alat musik yang akan mengiringi syair yang dilagukan oleh pemain
   madihin
                                                             12
5. Pemain harus memakain pakaian adat khas daerah Banjar.

        Namun pada perkembangan berikutnya dan sekarang ini kesenian madihin bisa
dimainkan oleh dua orang pemadihin (duet) maupun oleh beberapa orang secara
berkelompok (beregu), tiap kelompok bisa terdiri dari dua orang atau tiga orang pemain,
bahkan bisa lebih. Kemudian para pemainnya pun tidak terbatas atau didominasi oleh
para pria saja, namun para wanitapun juga bisa memainkannya, sehingga jika dimainkan
secara berkelompok akan terjadi semacam perlombaan balas pantun atau syair yang seru.
       Di samping itu pula madihin tidak lagi dianggap sebagai suatu bagian dari upacara
yang harus dilengkapi oleh persyaratan-persyaratan tertentu, misalnya sesajen dengan
berbagai jenis makanan. Akan tetapi sudah dianggap sebagai sarana hiburan yang
menyenangkan bagi masyarakat, sehingga baik penyelenggara ataupun pemain madihin
tidak perlu menyiapkan perlengkapan yang rumit sebagaimana halnya pelaksanaan suatu
upacara.
        Kesenian madihin ini sangat digemari oleh masyarakat di Kalimantan Selatan,
baik orang-orang tua, remaja ataupun anak-anak, sebab isi syair yang dinyanyikan sarat
dengan nasihat-nasihat yang bermanfaat dan selalu diselingi oleh humor-humor segar.
Mengingat kesenian ini selalu dapat mengikuti perkembangan situasi dan kondisi pada
saat ditampilkan, termasuk dalam memenuhi selera penontonnya, maka sampai
sekarangpun madihin tetap eksis, melekat dan diterima oleh masyarakat Banjar secara
                                          13
luas sebagai bentuk kesenian tradisional.


                                           5
       Pada masa sekarang ini kesenian madihin berperan dalam membantu pemerintah
untuk menyebarluaskan hasil-hasil pembangunan. Bahkan kesenian madihin telah pula
diikutkan pada festival budaya Islam di Masjid Istiqlal tahun 1991, dan temu budaya
Melayu di Riau tahun 1992, ditampilkan di TVRI dalam acara HUT TVRI tahun 1992,
kemudian ditampilkan lagi pada acara jumpa seniman dan tokoh TVRI tanggal 14
Desember 1992, dan terakhir ditampilkan oleh seorang pemadihin muda (Ahmad
Sya’rani, Alumni Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin) di TVRI Pusat di Jakarta
dalam Acara Dua Jam Saja pada tahun 1999.
       Dengan demikian jelaslah bahwa kesenian madihin sebenarnya sudah menasional,
karena ia tidak hanya akrab dan dikenal oleh masyarakat Banjar umumnya, akan tetapi
juga sudah dikenal oleh di luar komunitas masyarakat Banjar.

     4. Fungsi Kesenian Madihin
        Fungsi utama kesenian madihin pada waktu dulu adalah sebagai bagian dari
upacara adat masyarakat Banjar dan untuk menghibur raja atau pejabat istana, sehingga
syair dan pantun yang dinyanyikan berisikan puji-pujian maupun sanjungan kepada raja
                           14
dan pejabat istana lainnya. Hal ini selaras dengan pendapat yang menyatakan bahwa
madihin berasal dari kata madah yang berarti kata-kata pujian.
Kemudian pada perkembangan selanjutnya kesenian madihin berfungsi menjadi sarana
nadzar atau hajat sebagai ungkapan rasa syukur. Misalnya bagi orang tua yang anaknya
baru sembuh dari rasa sakit, fungsi ini pada tahun 1980-an masih terdapat di beberapa
                                                                    15
daerah Kalimantan Selatan, yakni Marabahan, Kabupaten Barito Kuala.
Pada masa sekarang ini madihin berfungsi ganda, di samping berfungsi sebagai sarana
untuk menghibur masyarakat, madihin juga berfungsi sebagai media pendidikan kepada
masyarakat dan media penyampaian pesan-pesan pembangunan yang dilakukan oleh
pemerintah. Misalnya tentang masalah keluarga berencana, pertanian, pendidikan,
                          16
kesehatan, dan lain-lain.
     5. Pergelaran Kesenian Madihin
Kesenian madihin pada umunya dipergelarkan pada waktu malam hari, tetapi sekarang ini
juga sering dipergelarkan pada siang hari, di lapangan terbuka maupun dalam sebuah
gedung tertutup. Waktu pergelaran biasanya berkisar antara 2 sampai 3 jam. Pergelaran
kebanyakan dilakukan di arena terbuka, yang terletak di halaman rumah atau lapangan
yang luas. Hal ini tentunya dimaksudkan agar dapat menampung jumlah penonton yang
         17
banyak. Tempat pergelarannya hanyalah panggung yang sederhana dengan ukuran kira-
kira 4 X 3 meter. Selain di tempat terbuka kesenian madihin sering pula dipergelarkan di
dalam rumah yang cukup besar, bahkan sekarang ini madihin juga dipertunjukkan di
gedung-gedung tertentu dan kantor-kantor yang disediakan oleh pengundang.
Menurut kebiasaan kesenian madihin dibawakan oleh 2 sampai 4 orang pemadihin.
Apabila pergelaran ditampilkan oleh dua pemadihin, maka kedua orang pemain tersebut
seolah-olah beradu atau bertanding, saling menyindir atau kalah-mengalahkan melalui
syair dan pantun yang mereka bawakan. Apabila dibawakan oleh 4 orang pemadihin
(misalnya 2 orang pria dan 2 orang wanita), maka mereka membentuk pasangan satu


                                           6
orang wanita dalam satu kelompok, atau kelompok yang satu terdiri atas 2 orang laki-laki
dan kelompok yang satunya lagi 2 orang wanita.
Kesenian madihin ditampilkan oleh pemainnya dengan cara memukul tarbang (rebana)
sambil mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa daerah Banjar. Setiap kalimat dalam
setiap bait diakhiri dengan kata atau suku kata yang sama bunyinya, misalnya bunyi/huruf
a, huruf i, huruf o, huruf u dan lain-lain, sebagaimana halnya syair atau pantun yang pola
persajakannya aa.
Adapun isi pesan yang terkandung di dalam kalimat-kalimat tersebut bisa menyangkut
semua aspek kehidupan, sesuai dengan kehendak pemain dan tema pesanan atau
permintaan panitia penyelenggara, karena itu ia bisa menyangkut masalah pendidikan,
kesehatan, pembangunan, agama, ataupun masalah-masalah yang lainnya. Ciri khas yang
selalu ada dalam materi penyampaian madihin tersebut adalah nasihat atau papadahan,
dan kadang-kadang juga humor. Syair-syair yang disampaikan tersebut tanpa dipersiapkan
terlebih dahulu (berupa catatan tertulis) namun disampaikan oleh pemadihin secara
spontanitas sesuai dengan improvisasi (daya imajinasi) mereka, karena itulah suasana
pergelaran madihin terlihat aktual dan komunikatif dengan penonton yang
             18
menyaksikan.
Dalam memainkan madihin seorang pemain bisa duduk di atas kursi maupun di atas
panggung yang telah disediakan, biasanya mereka memakai pakaian daerah khas Banjar
yakni baju taluk balanga atau baju khas daerah Banjar Sasirangan, memakai kopiah atau
laung (penutup kepala) dan celana panjang serta sarung antara pinggang sampai lutut,
sebagaimana halnya pakaian adat khas masyarakat Melayu. Akan tetapi pada masa
sekarang ini pakaian khas Melayu seperti di atas tidak lagi menjadi kebiasaan pemadihin,
mereka lebih senang dengan pakaian bebas tetapi cukup sopan. Kecuali pada acara-acara
penting, misalnya menghibur tamu-tamu gubernur, pejabat pemerintah, menghibur
penonton pada acara pisah-sambut pejabat suatu instansi atau kantor, turis-turis lokal dan
mancanegara yang berkunjung, festival kesenian rakyat dan lain-lain.
     6. Struktur Pergelaran Kesenian madihin
Dalam pergelaran kesenian madihin terlihat adanya struktur pergelaran yang terdiri dari:
1. Pembukaan
Pembukaan diawali dengan memukul tarbang tanpa diikuti oleh nyanyian berupa syair-
syair dan pantun. Setelah dirasa cukup baru diikuti dengan nyanyian berupa syair-syair
dan pantun yang isinya menyampaikan salam pembukaan dan penghormatan kepada para
penonton, juga diungkapkan bayangan dari ide atau pikiran yang akan disampaikan
melalui kesenian madihin tersebut. Sebagai contoh berikut ini adalah kutipan syair
pembuka kesenian madihin yang dipentaskan dalam memperingati HUT Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu:

  Bahasa daerah Banjar                       Bahasa Indonesia
  Ilahi...................................   Ilahi.......................................
  Barmula kita mambikin angka                Kita awali dengan membuat angka
  Kartas putus di laci mija                  Kertas putus di laci meja
  Asallah mula kita mardika                  Awalnya kita merdeka


                                             7
  Tujuh belas Agustus                             Tujuh belas Agustus sembilan
                           19
  sambilan balas ampat lima                       belas empat lima

Berdasarkan isi syair di atas sudah dapat diduga, bahwa ide atau pemikiran yang akan
disampaikan nanti adalah hal-hal yang berkenaan dengan hari Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia yang penuh dengan cerita perjuangan dan pengorbanan rakyat ketika
terjadi revolusi melawan penjajah.
        Pembawaan syair atau pantun dalam pembukaan di atas sering pula disebut
dengan istilah mambunga (pengantar/pembukaan awal), sebagaimana halnya dalam
permainan pencak silat yang biasanya dibuka dengan memperagakan bunga-bunga pencak
terlebih dahulu oleh seorang pesilat sebelum masuk kepada jurus yang sebenarnya.

2. Penyampaian Ide atau Gagasan Pikiran
       Setelah pembukaan berakhir, diteruskan lagi dengan penyampaian ide atau
gagasan pokok. Penyampaian gagasan pikiran ini dijalin melalui kalimat-kalimat
berbentuk syair dan pantun. Isi dan temanya sesuai dengan permintaan panitia
penyelenggara. Apabila gagasan masalah diserahkan kepada pemain, maka pemadihin
akan menyampaikan isi dan tema sesuai dengan situasi dan kondisi tempat pergelaran
                           20
kesenian madihin tersebut.
Sebagai contoh pergelaran kesenian madihin yang diadakan pada bulan Maulid (Rabiul
Awal), dan dilaksanakan di daerah pertanian, maka ide yang akan disampaikan oleh
pemadihin bisa berkenaan dengan perilaku kehidupan Nabi Muhammad Saw, yang
diselaraskan dengan usaha pertanian. Dengan cara yang demikian, maka pergelaran
kesenian madihin dapat menyentuh hati para petani yang menyaksikannya, sehingga
madihin dapat menjadi media yang komunikatif.

3. Penutup
       Untuk berhenti sementara atau akan mengakhiri pergelaran kesenian madihin,
maka pemain biasanya menyampaikan salam penutup. Pengungkapannya juga melalui
syair atau pantun yang bervariasi sesuai dengan improvisasi dari pemadihin dengan
melihat situasi dan kondisi yang ada.

C. Madihin sebagai Media Dakwah
       Dakwah merupakan suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengajak orang lain
kepada kebenaran, mengerjakan perintah, menjauhi larangan agar memperoleh
                                                    21
kebahagiaan di masa sekarang dan yang akan datang. Dengan kata lain menurut Thoha
Yahya Omar dakwah Islam adalah mengajak umat manusia dengan cara bijaksana kepada
jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemashlahatan manusia dan
                                            22
kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat. Karena itu pada intinya pertama, dakwah
merupakan proses penyelenggaraan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan
sadar dan sengaja. Kedua, usaha atau aktvitas yang diselenggarakan itu berupa mengajak
orang untuk beriman dan mentaati Allah swt atau memeluk agama Islam dan amar ma’ruf
nahi munkar, yakni perbaikan dan pembangunan masyarakat untuk kemakmuran dan
kesejahteraan hidup mereka serta pemberantasan sumber dan tindak kejahatan. Ketiga,

                                          8
proses penyelenggaraan usaha tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yakni
                                                                  23
kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai oleh Allah Swt.
       Berhasilnya tidaknya kegiatan dakwah ditentukan oleh lima komponen dakwah,
yakni subyek dakwah (da’i), obyek dakwah (mad’u), massege dakwah (materi), metode
dakwah (strategi dan teknik), media dakwah dan logistik dakwah (dana, alat-alat
pendukung).
        Media dakwah sebagai salah unsur yang cukup penting untuk tercapainya tujuan
dakwah pada dasarnya adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk
mencapai tujuan dakwah, karena itu ia dapat berupa barang (material), orang, tempat,
                                 24
kondisi tertentu dan sebagainya. Dari sekian banyak media yang dapat dipergunakan
                                                                                    25
untuk kegiatan dakwah tersebut lebih jauh menurut Asmuni Syukir adalah seni budaya.
Pendekatan terhadap masyarakat atau obyek dakwah melalui seni budaya secara real telah
dirintis dan dilakukan oleh para walisongo ketika menyebarkan Islam di pulau Jawa, di
mana seni budaya yang dipakai untuk kegiatan dakwah oleh walisongo ketika itu adalah
wayang kulit, lagu (syair/pantun). Dari seni budaya ini kemudian berkembang lagi
melalui ludruk, ketoprak dan sebagainya.
        Di Banjarmasin pun telah hidup berbagai kesenian dan budaya masyarakat Banjar
yang secara spesifik juga bisa digunakan sebagai media dakwah yakni kesenian
tradisional madihin. Kenapa kesenian ini bisa digunakan sebagai media dakwah?
Alasannya adalah:
        Pertama, Sebagai salah satu kesenian rakyat yang bersifat tontonan madihin telah
telah lama hidup dan berkembang secara luas di Banjarmasin dan daerah-daerah
sekitarnya, bahkan sampai ke propinsi tetangga Kalimantan Timur dan Tengah. Kesenian
madihin sudah sejak dulu dipakai sebagai salah satu media komunikasi antara pihak
kerajaan (raja atau pejabat istana) dengan rakyatnya. Sehingga sangat relevan jika
madihin dikatakan sebagai salah satu kesenian rakyat yang sangat komunikatif bagi
                                         26
masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.
       Kedua, di samping karena nilai pendidikan dan nasihat-nasihat yang terkandung di
dalamnya, masyarakatpun merasa terhibur melalui musik pengiring dan lelucon sebagai
penyeling yang disampaikan oleh pemadihin dalam syair atau pantun yang dibawakannya.
       Ketiga, sebagai sarana komunikasi, kesenian madihin telah memenuhi unsur-
unsur utama yang harus terpenuhi untuk terjadinya interaksi dalam suatu proses
komunikasi. Dengan kata lain bahwa madihin sebagai kegiatan komunikasi memiliki
keselarasan dengan dakwah yang juga merupakan aktivitas komunikasi, sehingga kalau
dalam dakwah Islam ada subyek (dai), obyek (mad’u), dan pesan dakwah (materi), maka
dalam madihinpun ada unsur-unsur tersebut, yakni:
1. Unsur Komunikator atau Pemain
        Pemain madihin yang disebut dengan pemadihin adalah unsur utama dalam
kesenian ini,karena ia adalah sebagai komunikator. Dalam kesenian madihin unsur
pemain ini meliputi: usia pemain, jenis kelamin pemain, kemampuan pemain dalam hal
suara (vokal), bersyair, berlagu, berimprovisasi dan memukul tarbang (rebana).


                                           9
2. Unsur Komunikan atau Penonton
       Unsur ini meliputi semua lapisan masyarakat, sebab kesenian madihin cocok
dengan semua golongan, baik kelompok orangtua, kelompok pemuda atau remaja
maupun kelompok anak-anak. Karena seorang pemadihin adalah mereka yang memang
pandai menyesuaikan situasi dan kondisi, isi dan tema materi dengan para penonton yang
menghadirinya. Di samping itu pula adanya humor segar sebagai sebagai salah satu
kelebihan dan daya tarik kesenian madihin sekarang, telah menyebabkan ia diterima oleh
seluruh lapisan masyarakat dengan baik.
3. Unsur Massage (isi pesan)
       Materi yang disampaikan oleh seorang pemadihin pada dasarnya meliputi seluruh
unsur kehidupan, yang jelas apa yang disampaikan oleh mereka sesuai dengan tema
kegiatan acara dilaksanakan. Karena itu isinya bisa berkenaan dengan masalah
pembangunan, kesehatan, pendidikan, agama dan lain-lain
        Itulah sebabnya secara efektif kesenian atau permainan madihin dapat digunakan
sebagai media komunikasi, terutama dalam menyampaikan tema-tema keagamaan
(dakwah) kepada masyarakat luas. Tema yang dimaksud di samping mengandung nilai-
nilai dakwah, secara tidak langsung juga bisa disinergikan dengan nilai-nilai memberikan
pendidikan atau dalam rangka memberi informasi kepada khalayak, dan juga bersifat
memberikan hiburan (entertainment), karena humor-humor segar yang selalu diselipkan
oleh pemadihin dalam penyampaian pesan dan isi materinya.
        Keempat, Sebagaimana dimaklumi bahwa sasaran atau mereka yang menjadi
obyek dari kegiatan dakwah umumnya bersifat heterogen sehingga masing-masing obyek
memiliki sifat dan karakteristik yang unik, karenanya mereka akan lebih mudah untuk
didekati dengan media-media yang mempunyai unsur-unsur permainan dan hiburan
(entertainment) yang mudah, murah dan meriah, serta mencakup seluruh unsur lapisan
masyarakat, seperti halnya madihin.
        Kelima, Menurut Ochoa permainan merupakan sarana komunikasi dan proses
dialogis yang efektif di antara warga masyarakat, karenanya ia bisa digunakan sebagai
sarana interaktif, sarana untuk memotivasi warga agar lebih bisa aktif dan bisa
memerankan fungsinya sebagai anggota masyarakat, sarana mentranspormasikan
keterampilan kognitif dan efektif, sarana untuk mengenalkan penggunaan huruf dan
angka bagi kenyataan hidup di masyarakat serta sebagai sarana untuk membangun rasa
                                    27
percaya diri dari warga masyarakat. Karena itu kesenian madihin dalam konteks ini
memiliki fungsi urgen dan dapat digunakan sebagai sarana untuk mentranspormasikan
nilai-nilai keislaman kepada masyarakat luas, sebagaimana yang diperintahkan dalam
Qur’an surat an-Nahl 125.
      Keenam, jika diamati dengan seksama jelaslah bahwa materi atau massage yang
disampaikan dalam permainan madihin bisa diisi dengan nilai-nilai agama dan edukatif
yang dapat ditransmisikan secara luas dan diadopsi oleh masyarakat, misalnya tema
madihin tentang Membangun Keluarga Sakinah Sejahtera, Menuntut Ilmu, Bersyukur,
Maulid Nabi dan lain-lain.


                                          10
       Ketujuh, di samping itu hal yang terpenting dari perlunya madihin digunakan
sebagai media dakwah adalah bahwa kesenian ini dapat mendorong aktivitas dan
kegairahan masyarakat dalam melaksanakan dan mengamalkan ajaran agama.
        Proyek Pendidikan Non Formal Universitas Massachusets Amerika Serikat di
Ecuador dalam buku Non Formal Education in Ecuador 1971-1975 mengajukan tentang
kriteria-kriteria pokok media yang dapat dipergunakan untuk memotivasi kehidupan
masyarakat diberbagai bidang, yang salah satunya adalah kehidupan beragama, yaitu:
1. Media berupa kesenian daerah (bersifat lokal) merupakan satu budaya yang telah
   dikenal dan berakar di masyarakat
2. Media tersebut mampu menumbuhkan motivasi, karena menyenangkan untuk
   digunakan dan menarik perhatian
3. Media tersebut harus memiliki relevansi dengan situasi masyarakat yang menjadi
   obyek dan sejauh mungkin berkaitan dengan budaya setempat, karenanya materi yang
   disampaikanpun harus memiliki kaitan dengan apa yang menjadi masalah hidup
   sehari-hari masyarakat
4. Media tersebut memungkinkan masyarakat untuk ikut serta aktif dan berpartisapasi di
               28
   dalamnya.

        Berdasarkan kenyataan di atas jika dianalisis lebih jauh lagi, maka jelaslah bahwa
kesenian madihin sudah memenuhi unsur-unsur atau kriteria-kriteria yang cukup baik
dari Proyek Pendidikan Non Formal Universitas Massachusets Amerika Serikat untuk
diterapkan dalam rangka menyampaikan dakwah Islam kepada masyarakat, yaitu :
1. Memenuhi dan merupakan faktor budaya, baik dari segi meliputi bahasa, tradisi,
   pakaian dan lain-lain, sehingga ia mempunyai akar sejarah yang kuat untuk diterima
   secara luas oleh masyarakat.
2. Tingkat partisipasi dan motivasi masyarakat untuk terlibat dalam kesenian madihin
   tersebut cukup memungkinkan, sehingga dialog yang terjadi antara da’i dengan mad’u
   tidak hanya bersifat monolog, akan tetapi bisa terjadi multi arah manakala da’i yang
   pemadihin bisa memberikan respon atau rangsangan kepada obyek dakwahnya dengan
   baik. Persis seperti pergelaran musik, yang memungkinkan penonton untuk ikut
   bernyanyi.
3. Tingkat kegunaan dari kesenian madihin pada masyarakat tidak hanya berhenti pada
   kegiatan tersebut sebagai sarana hiburan semata, akan tetapi adanya usaha mereka
   untuk menerapkan materi-materi yang telah didapat dan disampaikan pemadihin
   (misalnya materi atau penyampaian pesan tentang agama dan membangun/membina
   keluarga sejahtera).
4. Kesenian madihin sangat cocok dan digemari oleh seluruh lapisan masyarakat Banjar
   di seluruh propinsi Kalimantan Selatan, baik orang tua, pemuda maupun anak-anak,
   bahkan penyebarannya sampai kepada propinsi Kalimantan Timur dan Tengah.
5. Karena memadukan berbagai unsur seni, yakni vokal, mimik, musik dan irama (lagu)
   serta tingkat variasi yang cukup tinggi, maka kecil kemungkinan timbulnya rasa bosan
   dalam kesenian madihin, terlebih-lebih lagi manakala pemadihin mampu memberikan
   improvisasi humor seperti yang biasa dilakukan oleh pelawak John Tralala.
6. Kesenian madihin merupakan bagian dari budaya masyarakat Banjar dalam
   mengekspresikan seni suara, gerak, musik dan lagu (syair).

                                           11
       Berdasarkan kecenderungan tersebut, maka kesenian madihin perlu untuk
dikembangkan menjadi model atau media kegiatan dakwah Islamiyah yang dirancang
khusus. Sebab sebagaimana di katakan oleh Moch. Saperi Kadir, di samping nilai estetika
yang dikandungnya, madihin juga memiliki nilai-nilai spiritual yang mampu
                                                           29
mempengaruhi dan menyentuh perasaan para penontonnya. Tinggal memodifikasi dan
menyesuaikannya dengan aktivitas dan materi dakwah, serta ketentuan-ketentuan yang
telah ada agar dapat diterapkan menjadi perangkat-perangkat yang bersifat agamis dan
edukatif dalam rangka membantu masyarakat mengadakan refleksi terhadap apa yang
dihadapi, mengembangkan kemampuan konseptual, menjabarkan konsep-konsep agama
ke dalam aktivitas yang bersifat praktis dan akhirnya menerapkannya ke dalam tindakan
nyata.

D. Penutup
        Berdasarkan penjelasan yang telah penulis uraikan di atas dan sesuai dengan
kriteria-kriteria pokok yang telah disarankan oleh para ahli, maka dapatlah disimpulkan
bahwa kesenian madihin sebagai salah satu kesenian tradisional masyarakat Banjar
mempunyai karakteristik yang cocok untuk digunakan sebagai media dalam kegiatan
dakwah Islamiyah. Sebab di samping berbagai kelebihan yang dimilikinya kesenian
madihin juga sudah dikenal, tumbuh dan berakar dalam masyarakat Banjar.
        Karena itu hal terpenting dalam rangka penggunaan kesenian madihin sebagai
media dakwah adalah perancangan dan pemodifikasiannya, agar sesuai dengan
karakteristik materi dakwah itu sendiri.

END NOTE:
       1
       Sunarti, Sastra Lisan Banjar, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1978, h.7.
       2
           Ibid., h.8.
       3
        Saberi Mat’ali, Riwayat Singkat Kesenian Madihin, Makalah dalam Sarasehan
Kesenian Madihin Tanggal 16-17 September 1992 di Banjarmasin, (dalam Tesis M.
Thaha, Universitas Negeri Malang, 1993, h.19).
       4
        Popen, Madihin Kesenian yang Komunikatif bagi Masyarakat Banjar. Makalah
disampaikan dalam Forum Rapat Koordinasi Sosiodrama Propinsi Kalimantan Selatan
pada tanggal 23 - 25 Mei 1981 di Banjarmasin, (dalam Tesis M. Thaha, Universitas
Negeri Malang, 1993, h.19).
       5
        Ismail, Jumberi, Sejarah Kesenian Madihin Kandangan. Kantor Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Hulu Sungai Selatan: Proyek Pengembangan
Kebudayaan Propinsi Kalimantan Selatan, 1977, h.11. (dalam Tesis M. Thaha,
Universitas Negeri Malang, 1993).
       6
         Moch. Saperi Kadir, Sastra Lisan Tradisional Madihin. Makalah pada Sarasehan
Kesenian Madihin Tanggal 18 September 1992 di Taman Budaya Propinsi Kalimantan
Selatan, h.2.


                                          12
          7
        Syamsiar Seman, Kesenian Lamut dan Madihin sebagai Media Tradisional yang
Komunikatif, Makalah dalam Forum Rapat Koordinasi Sosiodrama Propinsi Kalimantan
Selatan pada tanggal 23 - 25 Mei 1981 di Banjarmasin (dalam Moch. Saperi Kadir, h.2.)
          8
        M. Thaha, Kesenian Madihin sebagai Media Bimbingan Kosensling di Sekolah,
Tesis, Universitas Negeri Malang, 1993, h.143-144.
          9
              Saberi Mat’ali, Op. Cit., h.20.
     10
          Ibid., h.20.
     11
          Ibid., h.21.
     12
      Saleh, Adat-Istiadat Kebudayaan Propinsi Kalimantan Selatan, Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1978, h.133.
     13
          M. Thaha, Op. Cit., h.21.
     14
          Moch. Saperi Kadir, Op. Cit., h.4.
     15
          Ibid., h.5.
     16
          Ibid., h.5.
     17
          Ibid., h.2.
     18
          Ibid., h.7.
     19
          Ibid., h.2.
     20
          Ibid., h.3.
     21
          Barmawie Umary, Azas-Azas Ilmu Dakwah, Ramadhani, Solo, 1987, h.45.
     22
          Thoha Yahya Omar, Ilmu Dakwah, Widjaya, Jakarta, 1976, h.1.
     23
          A. Rosyad Shaleh, Management Dakwah Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1990,
h.9-10.
     24
          Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, Al Ikhlas, Surabaya, 1983,
h.163.
     25
          Ibid., h.168.
     26
          Popen, Op. Cit., h.9.
     27
      Ochoa, Nonformal Education in Ecuador 1971-1975, Universitas Massachusets,
Amerika Serikat, 1971, h.27.
     28
          Ibid., h.29.
     29
          Moch. Saperi Kadir, Op. Cit., h.6




                                                13
                               DAFTAR PUSTAKA

Ismail, Jumberi. 1977. Sejarah Kesenian Madihin Kandangan. Kantor Departemen
       Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Hulu Sungai Selatan:       Proyek
       Pengembangan kebudayaan Propinsi Kalimantan Selatan.
Kadir, Saperi. 1992. Sastra Lisan Tradisional Madihin. Makalah dalam Sarasehan
       Kesenian Madihin Tanggal 18 September 1992 di Taman Budaya Propinsi
       Kalimantan Selatan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan
       Selatan.
Mat’alie, Saberi. 1992. Riwayat Singkat Kesenian Madihin. Makalah dalam Sarasehan
       Kesenian Madihin Tanggal 16-17 September 1992 di Budaya Propinsi Kalimantan
       Selatan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan.
Ochoa. 1971. Nonformal Education in Ecuador 1971-1975. Universitas Massachusets
      Amerika Serikat.
Omar, Thoha Yahya. 1976. Ilmu Dakwah. Jakarta: Widjaya.
Popen. 1981. Madihin Kesenian yang Komunikatif bagi Masyarakat Banjar. Makalah
       disampaikan dalam Forum Rapat Koordinasi Sosiodrama Propinsi Kalimantan
       Selatan pada tanggal 23 - 25 Mei 1981 di Banjarmasin.
Rosyad Shaleh, A. 1990. Management Dakwah Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Saleh.. 1978. Kesenian Daerah Propinsi Kalimantan Selatan. Pusat Pembinaan dan
       Pengembangan Bahasa Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Seman, Syamsiar. 1981. Kesenian Lamut dan Madihin sebagai Media Tradisional yang
      Komunikatif. Makalah disampaikan dalam Forum Rapat Koordinasi Sosiodrama
      Propinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 23 - 25 Mei 1981 di Banjarmasin.
Sunarti. 1978. Sastra Lisan Banjar. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Jakarta:
       Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Syukir, Asmuni. 1983. Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam. Surabaya: Al Ikhlas.
Thaha, M. 1993. Kesenian Madihin sebagai Media Bimbingan Kosensling di Sekolah,
       Tesis, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.
Umary, Barmawie. 1987. Azas-Azas Ilmu Dakwah. Solo: Ramadhani.




                                         14

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1908
posted:10/24/2010
language:Indonesian
pages:14