sang maha cinta
Document Sample


NOVEL
SANG MAHA CINTA
By:
M. Arief Wahyudi el-Syukri
Kutorehkan tinta cinta
Dalam Novel perdana
Teruntuk sang Bunda
Dan untuk menebar
Nilai-nilai Islam
Di alam semesta
1
SINOPSIS NOVEL
“SANG MAHA CINTA”
Ini adalah novel tentang keharmonisan keluarga. Mereka pindah dari kampung
menuju ibu kota dan bisa sukses mengadu nasib di Jakarta. Seorang ibu dan dua orang
anak. Sang Ayah telah menceraikan Istrinya semenjak anak-anak masih balita bahkan
masih dalam kandungan. Sang ibu harus berjuang keras untuk tetap mempertahankan
hidupnya meski tanpa kehadiran suami. Namun dia tetap tegar dan mampu menghidupi
anak-anaknya. Bahkan kehidupan mereka bisa berjalan dengan begitu harmonis
ditengah kejamnya kota metropolitan seperti Jakarta.
Ini juga novel tentang cinta, tapi bukan cinta yang mengajak kemaksiatan pada
Tuhannya. Sebut saja Fajar. Seorang laki-laki yang hafal al-Qur’an. Laki-laki yang cuek
dan nggak peduli dengan wanita, apalagi sampai menjalin hubungan pacar. Itu mustahil
baginya. Seseorang yang pada awalnya cuek dan nggak peduli dengan sosok wanita,
tapi setelah mengenal gadis yang bernama Naela Salsabila malah justru punya rasa
kagum yang luar biasa.
Kekagumannya semakin lama semakin besar dan berubah menjadi rasa cinta yang
luar biasa. Bahkan kuliah dan skripsinya pun berantakan. Karena tak kuat menanggung
rasa, Fajar pun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan kagumnya pada
gadis itu. Bahkan nekad untuk menikahinya meski ibu dan adiknya telah melarang.
Ini adalah novel kekecewaan. Kecewa karena tak bisa meraih cinta yang menjadi
dambaan jiwa. Dialah gadis muallaf dari Amerika. Sosok gadis yang peduli dan sangat
kuat menjaga ajaran Islamya. Tidak seperti gadis-gadis lain yang ada di Amerika. Tanpa
disadari cewek bule itu menaruh hati kepada Fajar secara diam-diam. Teman sekaligus
tetangga yang baik hati itu malah sempat bunuh diri ketika mendengar bahwa orang
yang dicintainya justru mencintai wanita lain yang juga masih teman kuliahnya.
Tak sekadar kisah keharmonisan keluarga dan cinta, tapi juga ada jalinan
persahabatan antara Alya, Cintya dan juga Naela. Lalu bagaimanakah kisah keluarga
Fajar dalam berjuang untuk mempertahankan kehidupannya yang telah mengalami
broken home ditengah hiruk pikuk ibu kota? Bagaimana pula kisah cintanya dengan
Naela Salsabila? Berhasilkah dia melangsungkan akad suci? Lalu bagaimanakah kisah
gadis cantik dari Amerika tentang cintanya yang begitu tragis dan memilukan? Siapakah
2
sebenarnya gadis dari Amerika itu? Bagaimana pula kisah persahabatan antara mereka
semua? Mampukah Fajar bangkit dari keterpurukan cintanya?
Novel ini tak hanya bercerita tentang perjuangan untuk mempertahankan
keharmonisan keluarga, tapi juga persahabatan dan cinta yang penuh dengan lika-
likunya. Kisah keluarga yang begitu harmonis. Kisah persahabatan yang selalu
melahirkan keakraban. Kisah percintaan yang sangat komplek dan memilukan. Begitu
rumit dan membingungkan. Penuh dengan tangis dan kesedihan. Kisah cinta yang
mengajarkan untuk lebih mengutamakan cinta Allah dari pada cintanya manusia.
Selamat membaca, semoga bermanfaat. Amin.
3
DAFTAR ISI
1. Denting waktu fajar...................................................................................... 7
2. Gadis cantik dari Amrik............................................................................... 14
3. Tentang dia.................................................................................................... 24
4. Di puncak Monas........................................................................................... 37
5. Siapa gadis bernama indah itu?...................................................................... 46
6. Pesta ulang tahun............................................................................................ 55
7. Mimpi dik Alya............................................................................................. 72
8. Telfon dari Ummi........................................................................................... 80
9. Air mata.......................................................................................................... 91
10. Datangnya sang Ayah.................................................................................... 98
11. Syair sang pengamen...................................................................................... 106
12. Senandung cinta............................................................................................. 118
13. Penantian........................................................................................................ 127
14. Belenggu nafsu............................................................................................... 137
15. Surat dari Naela.............................................................................................. 146
16. Doa cinta......................................................................................................... 153
17. Bunuh diri....................................................................................................... 168
18. Curahan hati.................................................................................................... 178
19. Derita Cintya................................................................................................... 193
20. Keakraban di Restoran.................................................................................... 204
21. Cerita Ummi................................................................................................... 216
22. Sebuah harapan............................................................................................... 228
23. Kepulangan Cintya......................................................................................... 245
24. Hari yang mendebarkan.................................................................................. 254
25. Niat suci.......................................................................................................... 259
26. Keromantisan di alam pedesaan...................................................................... 267
27. Langit Jakarta menangis.................................................................................. 280
28. Sang juara........................................................................................................ 287
29. Sang Maha Cinta............................................................................................. 290
4
UNTAIAN KATA DARI PENULIS
Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah Tuhan yang telah menciptakan
cinta. Hanya kepada-Nya kita mengaharap kasih dan cinta-Nya dan seyoginya pula kita
hanya menaruh rasa cinta yang besar kepada-Nya. Dialah Sang Maha Cinta, Dialah
yang telah menciptakan kasih dan cinta di hati hamba-hambanya.
Sering kali kita tak menyadari bahwa apa yang kita rasakan dalam hati sebagai
cinta sejatinya adalah nafsu belaka. Di sisi lain kita begitu yakin bahwa itu adalah cinta.
Tapi apakah kita tidak sadar dan berfikir bahwa cinta sejati itu selalu dan hanya
mengajak pada kebaikan dan ridho Tuhan. Sedangkan nafsu sejati hanyalah selalu
mengajak pada kemaksiatan dan menjerumuskan manusia ke dalam jurang setan.
Nafsu yang terbungkus cinta. Itulah yang sering ada dalam diri manusia.
Mencintai wanita bukan atas dasar cinta karena Allah, tapi lebih karena ingin pacaran
dan meraih kesenangan belaka. Ironisnya, dengan bangga kita selalu menganggap
bahwa itu adalah cinta. Kita besikeras mengatakan itulah cinta. Tanpa wujudnya
kesadaran bahwa apa yang ada di dalamnya hanya menjurus pada kemaksiatan.
Ketemuan, berduan di tempat sepi, kencan bareng, pegangan tangan, bergandengan,
bahkan sampai ciuman. Padahal wanita itu bukan keluarganya, bukan muhrimnya,
bukan pula saudaranya.
Tanpa mendasarkan pada nilai-nilai islam, kita telah berdalih cinta hanya untuk
mendapat kesenangan bersama wanita. Apabila isi dari interaksi dengan wanita itu tak
lain dan tak bukan hanyalah kemaksiatan, lalu di manakah letak cinta yang sejatinya
suci dan selalu mengajak pada keridhoan Ilahi?
Nafsu yang berkedok cinta. Inilah barangkali ungkapan yang sedikit tepat bila
melihat realita di atas. Nafsu yang kita klaim sebagai cinta yang sejatinya menipu diri
sendiri. Meski demikian adanya, orang tetap bersikeras menyatakan dan mengatakan
bahwa itulah cinta.
Bagaimanakah kita tetap ngotot mengatakan bahwa itu cinta, sedangkan di
dalamnya banyak aturan-aturan islam yang kita langgar, bahkan cenderung menjauhkan
dari apa yang diinginkan oleh Sang Maha Cinta yaitu Allah Azza Wajalla??
Tak sepantasnya kita mengotori kesucian cinta dengan segala jenis kemaksiatan.
Tak seharusnya kita merendahkan nilai cinta dengan terus mengedepankan nafsu demi
5
nilai-nilai
kesenangan. Cinta yang sejati harulah kita junjung dengan mengedepankan nilai
.
Ilahi. Mencintai wanita bukan untuk berpacaran dan mencari kesenangan, tapi
bagaimana cinta itu mampu mendekatkan diri pada Allah yang telah menciptakan rasa
cinta di hati kita.
Novel ini mengajak pembaca ke arah itu agar bisa meraih cinta sejati. Yaitu
Cinta.
cintanya Allah Sang Maha Cinta. Cinta yang tak terbungkus oleh nafsu belaka. Cinta
senang yang
yang tak sekedar bersenang-senang pada wanita yang tak halal baginya. Jikalau kita bisa
menaruh cinta yang begitu besar pada wanita, maka mampukah kita menaruh cinta yang
lebih besar pada Allah Azza Wajalla yang telah memberi banyak cinta pada kita
bersama
semua??!! Mari merenung bersama-sama!!
Jakarta, 05 Februari 2010
f el-Syukri
M. Arief Wahyudi el
6
1
DENTING WAKTU FAJAR
Fajar nan indah mulai tampak diruang cakrawala. Berjuta bintang memancarkan
cahayanya. Menemani eloknya wajah purnama yang menyinari jagad raya. Terlihat
sangat indah, seindah sang penciptanya. Warna malam yang hitam sedikit demi sedikit
mulai pudar. Angin berhembus lirih menerobos setiap ruangan. Suara gemersik pohon
terdengar melambai-lambaikan dedaunan. Suara binatang-binatang malam pun saling
bertautan. Malam bak simponi yang mengalun dengan indahnya meramaikan suasana.
Mereka semua seakan mengumandangkan tasbih, tahmid, dan takbir untuk memuji yang
kuasa. Malam yang sunyi kini sirna dan berganti dengan fajar bening yang siap
menyongsong datangnya pagi dengan sinar benderang dari mentari.
Mataku terbelalak menatap suasana cantik itu. Menerawang keluar angkasa lewat
kaca jendela. Satu jam yang lalu, aku sudah terbangun dalam keheningan malam untuk
menghadap sang Kuasa dengan menyebut asma agung-Nya. Waktu subuh pun tiba.
Sayup-sayup adzan dari menara-menara masjid menggema di seantero ibu kota Jakarta.
Memanggil hati manusia yang di dalamnya ada hasrat untuk selalu meramaikan masjid
dengan sholat berjama’ah. Mereka akan selalu menuruti perintah tuhannya dan tak
mungkin akan mengabaikannya, karena cinta yang telah mendarah daging dalam dada
kepada Allah semata. Itulah janji setia mereka, para hamba Allah yang akan tetap
memuji tuhannya dalam kondisi bagaimanapun juga. Tak kenal kantuk dan lelah yang
selalu hinggap di tubuh dan di mata. Mereka akan tetap jadi hamba yang setia untuk
selamanya sampai kelak bisa mengecup indahnya surga.
Memang, waktu subuh adalah waktu yang terbilang paling berat bagi kebanyakan
orang. Meskipun hanya sekedar untuk menjalankan kewajiban sholat subuh yang hanya
dua raka’at saja, tidak ada lima belas menit lamanya, tetapi banyak orang yang ogah dan
malas. Mereka lebih memilih untuk terus menikmati tidur dengan selimut yang masih
terasa hangat dibadan dan mengabaikan suara adzan.
Alangkah ironisnya, apabila para binatang dan makhluk yang lainnya disepertiga
malam seperti ini mau dan terus bersenandung dengan tasbihnya, tahmidnya, dan
takbirnya. Ayam bertasbih dengan kokoknya. Anjing bertasbih dengan gonggongannya.
Pepohonan bertakbir dengan lambaian daun-daunnya. Dan burung-burung pun
7
bertahmid dengan kicauannya. Mereka semua bertasbih dan bertahmid memuji
tuhannya disepertiga malam yang begitu diutamakan. Akan tetapi manusia yang di
ciptakan lebih sempurna dari mereka malah enak-enakan tidur di atas kasur yang
empuk. Ironis sekali!!
Walau bagaimanapun beratnya, aku harus melawan setiap kantuk yang
menyerangku. Aku harus bangun sebelum para ayam jantan memekikkan suaranya
membangunkan manusia. Aku tak mau kalah dengan binatang ternak itu. Kalau aku
memang mengatakan cinta pada Allah yang telah menciptakan fajar, aku harus
membuktikan kata cintaku dengan bangun kemudian bertahajud. Tidak hanya sekedar
berkata aku cinta Allah, tapi juga harus dengan bukti nyata untuk selalu setia
menjalankan perintah-perintah-Nya. Bukan cinta namanya kalau kita masih cuek dan
ogah serta malas untuk menjalankan perintah-Nya. Aku harus bangun memenuhi
panggilan-Nya. Dan ini adalah bukti cinta pertamaku yang harus aku tancapkan kuat di
lubuk hatiku. Cinta pada Sang Maha Cinta pemilik dunia beserta isinya.
Usai sholat subuh berjama’ah di masjid, aku terus membaca al-Qur’an yang telah
kuhafal. Kegiatan ini rutin aku lakukan setiap hari untuk menjaga hafalan al-Qur’anku.
Tidur sehabis subuh adalah kebiasaan yang tak patut dan tak pantas aku lakukan. Juga
tak layak dilakukan oleh semua orang. Itu sama saja dengan membuang anugerah tuhan
yang sangat berharga. Jangan sampai aku melakukannya.
“Fajar! Kemari Nak!” suara lembut seorang wanita memanggilku.
“Baik Ummi.” Jawabku pelan.
“Adikmu sudah bangun belum?” Tanya beliau.
“Masih tidur Um.”
“Bangunkan. Cepat!”
“Iya Um.”
Kuletakkan al-Qur’an sejenak. Melangkah kekamar sebelah. Kuketuk pintu.
“Dik Alya, bangun Dik!” kataku memanggil dik Alya. Tak ada jawaban. Kubuka
pintu dengan perlahan. Dia masih tidur.
“Bangun Dik! Kamu belum sholat kan?” tanyaku padanya.
“Alya lagi nggak sholat Kak.” suaranya terdengar parau.
“Kamu sakit Dik! Kapan? Kenapa nggak cerita?”
“Alya demam Kak. Sejak tadi malam.” Suaranya lemah.
8
Aku keluar memanggil ummi lalu kembali lagi kekamar adikku. Tangan ummi
memegang keningnya.
“Badan kamu panas Al.” lirih ummi.
“Kenapa nggak cerita ke ummi?!”
“Tadi malam ummi sudah tidur lebih awal. Alya nggak berani mengganggu
istirahat ummi.”
“Kalau begitu kita ke dokter ya. Kuliahnya absen dulu.” Ummi menawari. Dik
Alya langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manja.
Di rumah ini kami tinggal bertiga. Aku, dik Alya dan ummi Latifah. Terkadang
ada mbak Lina. Dia anaknya bu Ida. Dia masih ada hubungan saudara dengan kami. Dia
sering membantu di rumahku, tapi tidak selalu tinggal di sini, karena dia harus
membantu ibunya. Dia baru ke rumah kalau ada perlu atau ummi sedang bepergian.
Kami adalah keluarga miskin yang berasal dari desa kecil. Kami mencoba
mengadu nasib dengan pindah ke ibu kota. Sudah delapan tahun ummi tinggal di sini.
Kami tinggal di Jakarta selatan tepatnya di Ciputat. Secara administaratif Ciputat sudah
tidak masuk lagi dalam wilayah DKI Jakarta, tapi masuk ke propinsi Banten. Di dekat
kampus UIN Syahid, dimana aku dan dik Alya menimba ilmu di situ. Aku mengambil
bidang study Tafsir Hadits sedangkan dik Alya mengambil jurusan Kedokteran.
Ketika baru berada di Jakarta, kami tidaklah seindah seperti yang kurasakan
sekarang ini. Dahulu, waktu baru pertama kali di Jakarta, ummi berjualan nasi keliling.
Dengan menawarkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Atau membawanya ke kosan
mahasiswa. Pernah juga berjualan di pinggir-pinggir jalan. Dagangan ummi juga pernah
jadi korban penggusuran oleh pemerintah setempat. Semuanya ludes, karena di luluh
lantahkan oleh para perampok-perampok yang legal. Ummi harus mencari alternatif
usaha lain. Usaha yang satu gagal, dia beralih dengan usaha yang lain. Pindah dari satu
tempat ke tempat yang lain.
Begitulah awal perjuangan ummiku di Jakarta ini. Berjuang sendiri tanpa ada
yang menemani. Berjuang untuk mencari sesuap nasi. Berjuang untuk mencari rejeki
yang halal dari Ilahi. Berjuang untuk diri sendiri dan demi memikirkan anak-anaknya
yang ada di desa supaya tidak terputus dari sekolahnya. Berjuang agar anak-anaknya
bisa terus menuntut ilmu untuk memajukan bangsa. Perjuangan yang sulit dan penuh
dengan duri-duri. Jatuh bangun ummi menjalani hidupnya agar tetap survive. Berjuang
9
menghadapi kejamnya ibu kota. Perjuangan yang tidak semua orang bisa dan mampu
untuk menjalani dan menghadapi. Butuh pengorbanan dan niat yang kuat dari lubuk
hati. Sehingga kesuksesan bisa di raih di suatu hari nanti.
Alhamdulillah! Ummi bisa menjalani cobaan demi cobaan dengan baik. Semua
usaha pernah ummi coba. Yang terakhir ummi mencoba membikin baju yang di jahit
sendiri, karena ummi sudah bisa menjahit sewaktu masih dirumah. Ummi mencoba
menjadi penjahit kecil-kecilan. Banyak orang yang cocok dengan baju buatan ummi.
Akhirnya banyak juga langganannya. Semakin lama usaha ummi semakin besar. Dan
sampai sekarang, ummi sudah mempunyai dua konveksi. Ada dua tempat. Satu di
Kalibata dan satunya lagi di Tangerang. Semuanya sudah diserahkan pada anak buah
ummi masing-masing. Yang di Kalibata dipegang oleh bu Ida dan anaknya. Yang di
Tangerang dipegang oleh pak Amin.
Ummi mempercayakan semua usahanya kepada mereka, karena masih ada
hubungan kerabat dengan kami di desa. Karyawan ummi pun banyak yang dari desa.
Ummi lebih percaya pada orang-orang desa dari pada orang-orang kota. Kebanyakan
juga perempuan. Kenapa? karena ummi ingin mengangkat derajat mereka dan juga
menolong orang-orang yang datang dari desa agar tidak jadi gelandangan di kota
Jakarta.
Itulah rejeki yang di berikan oleh Allah kepada keluarga kami. Kami hanya bisa
berusaha dan terus berusaha sambil berdoa. The man purpose the god dispose. Begitulah
kata pepatah bijak yang selalu aku ingat. Semuanya Allah yang memberikannya. Kami
sangat mensyukurinya.
Aku baru menyusul ummi ke Jakarta sekitar empat tahun yang lalu. Meski
sekarang keluargaku bisa dibilang mampu, aku tidak serta merta dengan seenaknya
sendiri menggantungkan biaya kuliahku dari ummi. Setiap hari senin sampai jum’at aku
mengajar di sebuah Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) yang ada di masjid Al-Fatah
dekat rumahku. Dan setiap hari Ahad sore aku ikut mengajar di Lembaga Kajian Islam
(LKI). Lembaga itu milik ustadz Bashori al-Amin. Beliau seorang muballig besar yang
cukup dikenal dan disegani oleh masyarakat ibu kota, bahkan se-Indonesia. Beliau
sering memberi ceramah-ceramah di televisi. Apalagi waktu puasa, banyak sekali
jobnya. Beliau cukup familier di masyarakat Jakarta, terlebih dengan kawula muda.
Sehingga banyak dari mereka yang bersimpati padanya. Beliau lebih di kenal dengan
10
Dai muda gaul, karena sering bersama anak-anak muda. Kebetulan aku sangat dekat
dengan beliau. Dan hal itulah yang membuat diriku merasa enak ketika bergaul dengan
beliau.
Semasa kecil beliau sangat nakal. Beliau menjadi preman di kampung tempat
tinggalnya. Pernah di penjara selama satu setengah tahun lamanya gara-gara kasus
penipuan. Namun akhirnya beliau insyaf dan sadar dengan sifatnya. Waktu di penjara
beliau menghafal al-Qur’an dan banyak belajar Islam lebih dalam. Keluar dari penjara
beliau mondok di Jawa Timur. Itulah masa-masa hitam beliau. Seorang Dai mantan
preman yang sekarang sifat premannya sudah lenyap dan bersih, berganti dengan
cahaya putih yang selalu di nanti oleh masyarakat Jakarta.
Selain kegiatan di atas aku juga masih punya satu kegiatan lagi yaitu menulis.
Satu kegiatan yang menjadi semangat hidupku dan juga membantu kuliahku. Kegiatan
yang sudah mendarah daging mulai sejak kecil dulu. Menulis cerita fiksi adalah
kesukaanku. Di sela-sela kuliah, aku selalu mengisi dengan kegiatan itu.
Sedangkan adikku baru tahun kemarin pindah ke Jakarta. Setelah lulus dari
Madrasah Aliyah dia tidak ingin melanjutakan kuliah. Dia ingin membantu kakek dan
nenek saja di rumah. Dia lebih suka tinggal di desa bersama mereka. Alasannya cukup
simpel. Dia tak ingin terkena dampak dari kejamnya ibu kota. Namun aku memaksanya.
“Kamu harus meneruskan kuliah Dik. Jangan berhenti sampai lulus Madrasah
Aliyah saja.” Desakku waktu itu.
“Alya nggak suka tinggal di Jakarta Kak. Jakarta itu kejam! Sungguh kejam! lebih
kejam dari binatang buas yang selalu menerka mangsanya. Aku tak ingin hidup di sana.
Biar aku hidup di desa saja, membantu kakek dan nenek. Alya lebih suka begitu. Karena
di rumah lebih damai suasananya dari pada di Jakarta.” Ucapnya menolakku.
“Jangan berpikir bodoh seperti itu Dik. Itu sama saja kalah sebelum berusaha dan
mencoba. Kita harus berjuang mengubah diri kita sendiri. Mencari ilmu, meraih cita-cita
mulia. Karena hanya orang yang kaya ilmulah yang akan di angkat derajatnya oleh
Allah. Ummi nggak rela kalau Dik Alya di rumah saja dan tidak meneruskan menuntut
ilmu. Ummi masih mampu membiayai Dik Alya. Jangan sia-siakan kesempatan emas
ini Dik. Karena masih banyak orang yang ingin kuliah, tapi mereka tidak mampu. Kita
harus bersyukur karena Allah memberi rejeki lebih pada kita. Kalau kita tidak
11
mempergunakan dengan baik rejeki dari Allah, itu sama saja tidak mensyukuri nikmat-
Nya. Pokoknya Dik Alya harus kuliah.”
“Alya tahu Kak! Tapi hidup di sana itu susah. Biaya serba mahal. Susah kak,
susah! Banyak orang terlantar di kota metropolitan itu. Kalau soal kuliah, Alya ‘kan
bisa kuliah di sini. Tidak harus ke Jakarta ‘kan kak!” Ia terus menolak. Aku terus
memaksanya. Dengan berat hati akhirnya adikku mau mengikuti juga.
Aku memang tak ingin adikku hanya lulus Madrasah Aliyah saja lalu mencari
kerja atau berdiam diri di rumah. Harta bisa di cari kapan saja. Namun ilmu susah di
dapat bila kita sudah tua. Aku juga tak ingin adikku seperti teman-teman di desa yang
langsung menikah ketika lulus sekolah. Malah ada yang baru lulus Ibtidaiyah atau MTs
langsung menikah. Mereka punya alasan yang sangat sederhana. Anak cewek tidak
perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh akhirnya nanti akan kembali mengurus anak dan
memasak di dapur. Begitulah alasan mereka.
Sebenarnya aku paling risih ketika mendengar orang-orang di kampungku berkata
seperti itu. Apa jadinya wanita negeri ini, apabila manusianya berpikiran seperti itu.
Bukankah wanita adalah murobbi. Pendidik bagi anak-anaknya kelak. Bagaimana
mungkin anaknya bisa pintar kalau orang tuanya saja bodoh dan tak berpendidikan?!
Selain alasan diatas, biaya juga menjadi penghalang bagi mereka. Untuk alasan
yang satu ini mungkin bisa di benarkan, karena untuk biaya kuliah di negeri ini memang
harus merogoh kantong dalam-dalam. Entah kenapa pendidikan di sini masih begitu
mahalnya. Banyak sekali anak yang tak bisa sekolah gara-gara tak mampu membiayai.
Alhasil mereka pun dengan amat terpaksa ngamen dijalanan dan menjadi anak-anak
yang terlantar.
Ironis bukan!!
Anak-anak yang seharusnya berada di bangku sekolah malah justru berkeliaran di
jalan-jalan guna mencari uang. Mencari sebutir nasi untuk mengisi perutnya agar bisa
menyambung hidup di hari esoknya. Mustahil negara ini masyarakatnya bisa pintar
kalau pendidikannya masih mahal dan akan terus mahal. Padahal pendiddikan di luar
negeri banyak yang geratis.
Mengingat itu semua, rasanya aku ingin jadi warga negara asing saja agar bisa
geratis di bangku kuliah. Di Indonesia geratis hanya ada dalam kampanye para calon-
12
calon pejabat negara. Yang sama sekali hanya omong kosong belaka dan tiada pernah
ada buktinya.
Itulah keluargaku. Meski kami punya segalanya, hal itu tidak membuat kami
berlaku semaunya. Kami tetap sederhana dan besikap apa adanya seperti waktu masih di
desa dulu. Di rumah ada motor dan juga mobil. Namun untuk pergi ke kampus aku
memilih jalan kaki saja. Jaraknya lima ratus meter lebih dari rumahku. Kawasan yang
betul-betul ramai oleh lalu lalang mahasiswa dan mahasiswi. Kami lalui itu dengan
memanfaatkan fasilitas yang telah di berikan oleh Allah padaku. Kaki. Ya, dengan
berjalan kaki. Itu jauh lebih menyehatkan.
Sebelum kuliah aku dan adikku harus membantu ummi. Dik Alya membantu
masak di dapur dan aku bersih-bersih rumah. Menyapu halaman dan mengepel lantai.
Itu rutin setiap hari. Tidak usah menunggu komando dari ummi. Sudah otomatis kami
jalani. Jangan sampai tidak membantu. Kami berdua sudah berjanji untuk saling setia
menemani ummi.
Ummi hanya seorang diri di sini. Sejak aku kecil, ummi sudah diceraikan
suaminya. Aku tak tahu sebab yang pasti, karena perceraian itu terjadi pada saat aku
masih balita. Aku hanya bisa menebak kalau ayahku mencintai wanita lain. Setiap aku
bertanya pada ummi, beliau selalu menjawab tidak usah mengungkap masa lalu. Yang
lalu biarlah berlalu. Dengan jawaban seperti itu, aku pun urung untuk menanyakan hal
yang lebih panjang lagi. Takut mengganggu pikiran ummi. Entahlah, apa salah ummiku
sehingga ayah tega menceraikannya? Beliau sosok wanita yang perhatian pada
keluarganya. Pada ayah dan juga anak-anaknya.
Dari sinilah janji setia untuk selalu menemani ummi terucap antara aku dan
adikku. Kami harus selalu membantunya untuk meringankan beban hidupnya.
Walaupun ummi seorang diri, tapi beliau tampak santai saja menjalani hidupnya. Tak
pernah ada raut sedih dan susah di wajahnya. Beliau selalu menampakkan wajah yang
ceria dan gembira. Ummi terlihat bersahaja dengan sikap dan tingkah laku bijaknya.
Itulah ummiku. Sosok perempuan yang sangat ramah, perhatian dan banyak kasih
sanyangnya.
***
13
2
GADIS CANTIK DARI
AMRIK
Jam tuju lewat lima menit aku bersiap untuk kuliah. Hari Selasa ini aku masuk
jam setengah delapan. Sebenarnya aku sudah tidak ada mata kuliah. Akan tetapi aku
ingin mengulang untuk mata kuliah yang nilainya kurang baik. Terutama pada semester
awal dulu. Aku banyak tidak masuk karena sakit. Sekarang ini aku terfokus dengan
bimbingan skripsi.
Setelah makan pagi bersama ummi dan adikku, aku langsung bergegas keluar.
Wajah dik Alya tampak pucat. Senyum manisnya yang biasa aku lihat kali ini tiada.
Keceriaan yang biasa ditampakkan pun ikut sirna. Setiap menstruasi dia selalu
mengalami sakit seperti itu. Entah kenapa? Sudah sering periksa ke dokter, tapi hasilnya
sama saja. Tak ada perubahan yang berarti. Semoga cepat sembuh dan tidak terjadi apa-
apa dengannya.
Aku selalu berangkat lebih awal untuk pergi ke kampus. Bagi diriku, lima belas
menit lebih awal jauh lebih baik ketimbang satu menit terlambat. Kalau pas waktunya
mepet baru pakai motor. Menurutku enak jalan kaki. Hitung-hitung sambil olah raga
pagi dan mengurangi polusi. Lebih menyehatkan bukan? Sebelum berangkat aku
pamitan sama ummi. Kucium tangannya sebagai rasa hormatku padanya. Kubuka pintu
dengan untaian doa. Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah Walaa Khaula Walaa Quwwata
Illaa Billaa Hil ‘Aliyyil ‘Adzim. Begitu kaki melangkah sampai teras rumah, sinar
mentari langsung menyapa tubuhku dengat hangat. Sehangat segelas teh yang baru saja
aku nikmati bersama ummi. Kupandang sejenak pahlawan pagi itu. Tampak gagah
sekali. Aku memuji kebesaran Allah. “Robbanaa Maa Kholaqta Haadzaa Baatilaa....1”
Baru beberapa langkah di jalan, ada suara lembut yang memangil namaku. Suara yang
tidak asing lagi bagiku.
“Fajar! Fajar!” suaranya terdengar halus.
Kuhentikan langkahku dan menengok kebelakang. Seorang gadis berwajah Indo
berusaha mengejarku. Ia tampak berbinar.
“Where is Alya?” tanyanya dengan berbahasa inggris.
1
Ya tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,,,,, (QS. Ali Imran: 191)
14
“Sakit.” Aku menjawab dengan bahasa kebanggaanku sendiri yaitu bahasa
Indonesia.
“She was sick! Why?” herannya.
“Sudah ke dokter?” lanjutnya.
“Belum. Rencananya nanti.”
Gadis Indo itu adalah Cintya. Nama panjangnya Cintya Charoleena. Dia teman
sekelas dik Alya. Dia adalah teman sekaligus tetangga yang baik hati. Dia wanita
berdarah Amerika dan Indonesia. Dia terlahir dari pasangan George Robert Stone dan
Nyonya Elissa. Ayahnya asli Amerika, sedangkan ibunya dari Lubuk Linggau,
Palembang, Sumatera Selatan. Ayahnya seorang aktifis Gereja yang sangat masyhur di
kalangan tempat tinggalnya. Hampir tiga tahun yang lalu dia pindah ke Indonesia. Dia
tinggal di rumah pamannya yang berada tepat di samping rumahku yaitu om Taufik dan
tante Linda. Mereka adalah adik dari ibunya yang tinggal dan bekerja di Jakarta.
Cintya gadis bule yang baik dan rendah hati. Dia sering bermain ke rumahku dan
belajar dengan dik Alya. Terkadang juga ikut membantu ummiku memasak di dapur. Ia
sering meminta tolong padaku untuk memperbaiki komputernya yang rusak. Setelah itu
dia selalu memberikan sesuatu sebagai ganti tenagaku. Aku sering menolaknya, tapi dia
terus memaksaku. Kalau aku masih tak mau menerimanya dia langsung memanggil
tantenya dan menyuruhku untuk menerima pemberiannya. Aku sendiri heran dengan
sifatnya. Dia selalu saja memberi perhatian yang lebih padaku. Rasanya aku seperti
mempunyai dua adik yang sama cantiknya. Alya dan Cintya. Keduanya sama-sama
mempunyai senyum yang sangat manis sekali. Bedanya, kalau Alya adik kandungku
sendiri, sedangkan Cintya adalah teman sekaligus tetangga yang begitu baik pada
keluarga kami.
Sejak kecil Cintya adalah penganut Kristen Katolik dan sangat rajin pergi ke
Gereja bersama ayahnya. Ayahnya menikah dengan ibunya yang beragama Islam.
Pernikahan lintas agama. Namun sayang, sekarang ibunya telah mengikuti agama
suaminya. Cintya bilang kalau sekarang ini sudah tidak cocok lagi dengan kedua orang
tuanya sekaligus agama yang di anutnya. Setiap pulang dari Gereja ia tak pernah
menemukan kepuasan batin dengan apa yang dilakukannya. Aku mengetahui hal ini
ketika tanpa sengaja bertemu di Taman Mini Indonesia Indah. Pertemuan yang tidak
kami sengaja.
15
“Hei, kamu yang tinggal disebelah rumahku ya?” sapanya ramah.
“Iya benar.” jawabku datar.
“Namaku Cintya. I’m from Amerika. Sekarang tinggal di sini. In your country
Indonesia. Pasti kau sudah kenal om dan tanteku?”
“Iya, aku sudah kenal baik dengan mereka. Mereka adalah tetanggaku yang paling
baik di Jakarta ini.”
“Kenapa ingin pindah ke Indonesia? Bukankah tinggal di negara super power itu
jauh lebih enak?” lanjutku menanyainya.
“Aku pindah kesini karena ingin belajar Islam. Aku tahu bahwa Indonesia adalah
negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Jadi aku akan merasa lebih nyaman
tinggal di sini sambil belajar Islam dan meneruskan studiku. Sejak kecil aku tak kenal
Islam. Meski mamaku dulunya adalah Islam, namun aku tak pernah di ajarinya. Malah
dia terkesan cuek dengan agamanya. Sekarang mamaku malah berpindah agama
mengikuti ayahku.
Ketika masuk Islam aku tidak memberi tahu ayahku. Akan tetapi lama-lama
ayahku tahu, ternyata putrinya telah pindah agama lain. Langsung saja ayah marah dan
menyuruhku untuk kembali ke agama semula. Aku tidak mau. Aku bersikeras tidak
mau. Dia memarahiku dan terus memarahiku. Aku tak tahan dengan perlakuan ayahku.
Aku pun lari dari rumah dan tinggal di rumah temanku. Hingga akhirnya aku
memutuskan untuk pindah ke Indonesia bersama pamanku.”
“Setahuku masyarakat Amerika itu sangat menghormati perbedaan agama. Bebas
memeluk agama apa saja. Lalu kenapa ayahmu seperti itu?”
“Iya benar. Mungkin ayahku tidak termasuk dari orang yang kau sebutkan itu.
Dan itulah yang aku sesalkan. Dia tidak bisa menghargai kebebasan agama anaknya
sendiri di negara yang sangat menjunjung tinggi tentang kebebasan.”
“Bagaimana ceritanya kamu bisa menjadi seorang muslimah, sedangkan
keluargamu seperti itu?”
“Ceritanya begini, mulai dari kecil aku hidup di tengah nuansa Katolik yang
kental dibawah bimbingan ayahku. Aku dibesarkan dalam keluarga Kristen yang sangat
taat. Ayahku sendiri adalah seorang aktifis Gereja. Ayahku senantiasa memberi petuah
Kristen saat membesarkanku. Dia berusaha keras mengajariku nilai-nilai Kristen.
16
Namun beranjak dewasa, aku melihat ada kontradiksi dengan apa yang telah aku anut.
Aku pun mulai mencari kebenaran dengan mendalami berbagai agama termasuk Islam.”
“Memasuki usia 12 tahun aku semakin tahu. Aku merasa agama yang kuanut
semakin jauh dari hidupku. Tapi aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku
terus mencari dan mencari. Siapa tuhanku yang sebenarnya? Aku terus berdoa agar
ditunjukkan pintu kebenaran itu. Jujur, aku benar-benar bekerja keras untuk hal itu. Aku
selalu dihantui dengan segudang pertanyaan di kepalaku. Kenapa ada manusia di dunia?
Apa tujuan manusia diturunkan? Pikiranku begitu komplek saat itu. Bagaimana manusia
dan bumi di ciptakan? Bagaimana semua itu terjadi? Tentu ada Maha Pencipta dibalik
semua itu. Seperti benda pastilah ada desainernya. Atau ketika seseorang berjalan-jalan
di pantai, pasti ada jejak kaki atau sandal di pasir. Orang yang melihat itu pasti akan
menduga bahwa ada orang yang baru saja melewati jalan itu.”
“Memasuki usia 19 tahun, itulah saat-saat kritis dalam masa pencarianku. Aku
banyak mengadakan perjalanan ke berbagai tempat guna melihat aneka budaya
setempat. Ini juga bagian dari proses pencarian tuhan. Kuamati ajaran Taoisme, Budha,
Yahudi, Freemasonry, Hindu, Animisme, serta banyak yang lain. Tentu saja ajaran
Kristen juga jadi bahan pembanding. Aku juga mempelajari Islam melalui literatur yang
ada. Saat itu hanya satu dua halaman saja yang kupelajari. Sekilas saja, aku tidak begitu
tertarik mempelajarinya lebih jauh. Aku mengamati Islam menyembah Allah, lalu Nabi
Muhammad. Itu saja. Lalu mereka shalat lima kali sehari. Kenapa lima kali sehari?
Ketika itu aku mulai berpikir. Ah, masa sampai segitu banyaknya. Kapan mereka pergi
kerja atau kuliah. Kalau begitu harus terus ibadah setiap saat. Begitulah kata hatiku saat
itu.”
“Waktu berlalu, aku kembali ke Amerika lagi. Usiaku sudah 20 tahun. Aku masih
belum puas dengan semua agama yang telah aku pelajari. Waktu terus berjalan hingga
akhirnya aku memutuskan untuk kuliah dan diterima di jurusan kedokteran di
Universitas Colorado. Menjadi dokter memang impianku sejak lama. Aku harus pindah
dari Michigan ke Colorado. Tak apa-apa demi masa depan. Saat mau pergi kuliah, aku
menggunakan bus umum Greyhound dari Michigan ke Colorado. Perjalanan sedikit
panjang dan membosankan. Syukurnya sepanjang perjalanan itu aku punya teman
ngobrol dengan seorang pemuda di dalam bus. Anak muda itu duduk persis di samping
17
kananku. Ternyata dia juga hendak ke Colorado untuk melanjutkan kuliah di jurusan
tehnik.
“May I knew your self.” Sapaku waktu itu.
“Oh, of course. I’m Ahmad. I’m from Afrika. I’m a moslem.”
Pemuda itu menjawab dengan santai seperti sudah kenal dengan diriku. Yang
membuat aku tertarik dan gembira adalah saat dia menyebutkan moslem, meski aku
tidak menanyakannya. Sebuah kebetulan besar bagiku karena aku ingin belajar tentang
Islam.
“Could you told me about Islam.” Pintaku. Kemudian dia pun menjawab dengan
santai. “Islam itu hanya percaya satu Tuhan yaitu Allah. Dan Muhammad utusan-Nya.
Nabi Muhammad itu adalah Nabi terakhir dan tidak akan ada Nabi lagi setelahnya.
Kalau ada orang yang mengaku sebagai Nabi, itu pasti Nabi palsu.”
Kami pun mulai akrab dan ngobrol ke sana kemari untuk menghilangkan rasa
jenuh di perjalanan. Dari perbincangan itu, aku merasa telah melihat secercah kebenaran
dalam Islam. Ahmad pun memberi sebuah buku kecil berisi tentang Islam. Aku
membaca salah satu bagian dari buku itu yang berbunyi. “Tak ada satu pun yang patut
disembah kecuali Allah. Allah satu dan tak bersekutu. Satunya Allah tidak terdiri dari
beberapa bagian, sehingga tidak bisa di bagi lagi menjadi beberapa bagian. Dia Maha
terpuji. Dialah yang Maha Berkuasa atas segala-galanya.”
Dari situlah awal aku melihat Islam. Islam adalah agama yang sedikit lebih masuk
akal dan mudah dimengerti dari sekian agama yang pernah aku pelajari. Aku membaca
kembali buku yang diberikan Ahmad dan menemukan kalimat. “Dengan nama Allah,
tak ada sesuatu pun yang bisa memberikan manfaat dan madharat baik di dunia maupun
di akherat kecuali dengan seizin Allah. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Seketika itu juga aku menoleh pada Ahmad dan bertanya. “Bagaimana caranya menjadi
seorang muslimah.”
Dia memberi tahu, kalau aku harus bersyahadah dulu. Dia bilang, “setiap yang
mau masuk Islam harus mengucap dua kalimah syahadah.” Asyhadu Allaa Ilaaha
Illallah. Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasuulullah. Aku lalu dituntun untuk
mengucap kalimat Syahadah. Aku pun bersyahadah saat itu juga. Ya, mengucapkan
kalimat syahadah di dalam bus Greyhound, antara Michigan dan Colorado. Semua
penumpang memandangiku aneh. Aku cuek saja. Dan saat itu juga, aku telah menjadi
18
seorang muslimah dengan tuntunan syahadah dari Ahmad. Subhanallah! Setelah
berbincang-bincang hanya sekitar dua puluh menit aku telah menjadi seorang muslimah.
Dengan serta merta aku membatalkan perjalananku ke Colorado. Aku tidak
melanjutkan kuliah di kedokteran. Aku putuskan untuk menghabiskan waktu guna
mempelajari agama yang baru kukenal. Lalu aku pun ikut temanku pindah ke Utah. Di
sana aku menemukan banyak orang muslim. Mereka sangat gembira serta
menyambutku dengan hangat dan mengenalkanku pada komunitas muslim setempat.
Di sanalah aku menghabiskan waktu untuk mempelajari Islam secara serius dan
sungguh-sungguh. Aku banyak mengenal Islam dari membaca buku-buku yang di
berikan oleh Ahmad. Aku juga sering membaca terjemahan al-Qur’an. Itu aku lakukan
secara sembunyi-sembunyi di rumah. Setiap pulang dari Utah, aku selalu di tanya oleh
ayahku. Aku bilang belajar di rumah teman. Karena aku takut bila ayahku tahu. Pasti
dia akan marah dan langsung mengusirku. Apalagi dia seorang aktifis Gereja. Pasti akan
merasa tidak layak bila putrinya menganut agama lain. Dan ternyata benar, aku terkena
amarahnya.”
Pertemuan itu membuat diriku terkagum-kagum dengan sosok Cintya. Dia
bercerita banyak tentang kisahnya mengenal Islam ditengah-tengah keluarga yang tidak
mendukung Islam. Hidayah Allah memang tak mengenal tempat dan waktu. Sampai-
sampai membuat gadis Amerika itu bersyahadat di atas Bus Kota. Masya Allah! Itu
hidayah Allah.
Kecantikan Cintya saat itu sempat menawan hatiku sejenak. Ya, katanya dia
seorang Kristen yang baru mengenal Islam, tapi dia mau memakai jilbab. Di Indonesia
ini saja atau di Jakarta ini, orang yang mengaku Islam dari kecil sampai besar banyak
yang tak mau memakai jilbab. Malah banyak yang dengan sengaja memakai pakaian
yang ketat dan terbuka termasuk juga teman-teman kampusku. Tapi kenapa Cintya
mau? Aneh kan! Tapi itu bagus dan patut di acungi jempol. Karena keherananku
padanya, aku memberanikan diri untuk bertanya tentang hal itu.
“Apa yang mendorongmu untuk memakai hijab ini?” tanyaku sedikit ragu.
“Hatiku sendiri.”
“Maksudmu apa?”
“Ya, aku ibaratkan tubuh manusia itu seperti makanan. Aku sering melihat
makanan-makanan yang dijual di jalanan. Tidak ada tutupnya dan terbuka selebar-
19
lebarnya. Banyak lalat yang hinggap pada makanan itu. Debu yang berterbangan dan
juga kotoran-kotoran yang lain menempel di situ. Aku tak ingin tubuhku terbuka seperti
makanan yang ada di jalanan itu. Aku tak ingin debu-debu jalan menempel di tubuhku.
Kalau aku membuka tubuhku, itu sama saja membiarkan kotoran dan lalat-lalat
menempel di badanku. Aku tak mau hal itu menimpaku. Dan tentunya wanita lain pun
tak akan mau. Untuk itulah aku pakai hijab ini. Aku harus menutup rapat tubuhku agar
tidak ada lalat yang menghampiri tubuhku. Memakai jilbab itu sebagai rasa syukurku
pada Allah yang telah menciptakan kesempurnaan tubuhku. Kalau aku tak memakainya
berarti kurang mensyukuri nikmat yang telah di berikan Allah padaku. Kenapa? Karena
diluar sana banyak wanita yang ingin berjilbab, tapi tidak bisa karena di larang oleh
pejabat negaranya. Sedangkan di sini, kita punya kebebasan untuk itu, tapi malah
banyak yang tidak mau. Itu kan aneh.” Jelasnya panjang lebar.
“Kalau dalam kitab suci umat muslim ada perintah untuk menutup aurat, aku pikir
itu pas banget. Itu berarti al-Qur’an sangat care pada wanita. Sangat memperhatikan
dampak jeleknya bagi wanita yang suka membuka-buka tubuhnya. Seperti yang aku
bilang tadi banyak kotoran dan lalat yang menghinggapinya. Tak hanya lalat beneran,
tapi juga lalat yang berwajah manusia. Tapi sayang, al-Qur’an yang selalu membela
kehormatan wanita malah banyak dicuekkan oleh pemeluknya sendiri.” lanjutnya.
Kekagumanku semakin bertambah mendengar obrolan Cintya. Tidak hanya cantik
tapi juga cerdas. Logikanya pas banget. Tepat sekali. Ia tak faham hukum al-Qur’an tapi
tingkah lakunya banyak yang sesuai dan mencerminkan perintah al-Qur’an. Memang
benar kalau tubuh wanita yang terbuka di ibaratkan seperti makanan yang ada di
jalanan. Mudah sekali terkena kotoran. Mudah sekali tercemar debu dan polusi
kendaraan. Mudah sekali lalat menempel.
Saat itu, aku seperti menemukan sosok malaikat yang menjelma sebagai Cintya.
Dia sosok muallaf yang masih kurang pengetahuannya tentang agama, namun telah
banyak mempraktekkan ajaran Islamnya. Tidak seperti wanita-wanita di sini. Di negeri
ini, di Jakarta ini, di kampus yang aku saksikan ini. Mereka semua mengaku Islam dari
kecil, tapi sedikit sekali mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam yang di anutnya. Mereka
justru banyak mengikuti gaya kehidupan glamour orang barat. Mengikuti budaya-
budaya barat yang sekarang marak ditayangkan di televisi. Mereka lebih bangga meniru
gaya hidup orang-orang barat ketimbang mengikuti ajaran-ajaran Islam sendiri yang
20
jauh lebih sopan dan bermoral. Kalau ada orang yang sedikit mengikuti ajaran Islam
malah ditertawakan. Aneh sekali orang-orang Islam zaman sekarang ini.
Mungkin ada benarnya kalau ada anggapan yang mengatakan bahwa orang barat
adalah biang kerok rusaknya moral remaja kita. Terutama dalam berpakaian dan
pergaulan. Mungkin Cintya hanyalah satu dari ribuan gadis Amerika yang berjuang
keras mencari jati diri muslimahnya. Itulah Cintya. Gadis catik dari Amrik yang sedang
berjuang untuk menjadi muslimah sejati di negeri ini.
Aku terus mempercepat jalanku. Cintya berusaha mengimbangi langkahku. Dia
terus bertanya tentang dik Alya, layaknya seorang wartawan yang selalu saja
mengajukan pertanyaan. Bisa telat kalau aku terus meladeninya. Aku terus berjalan
meninggalkannya.
“Kak Fajar, wait me please! aku jalan bareng siapa?” teriaknya memanggilku
kakak.
Aku jadi tambah heran. Sejak kapan aku punya adik seperti dia hingga harus
memanggilku kakak.
“Jalan saja sama semut.” candaku.
“Enak saja, what did you say! memangnya aku semut apa!”
Wajah Cintya kulihat memerah. Mungkin akan bertambah merah bila aku sama
sekali tidak menghiraukannya.
“Cepat!” pintaku.
Kulihat dia tersenyum. Ia tampak senang sekali. Entah aku tidak tahu apa yang
ada dalam hatinya sampai dia bersikap seperti itu. Kasihan juga dia. Biasanya dia selalu
pergi dengan adikku, tapi kali ini adikku sedang sakit. Bila tidak mepet seperti ini, aku
tak akan jalan bareng dengannya. Aku merasa canggung dan tak nyaman berjalan
dengan seorang wanita yang bukan muhrimku sendiri. Di sekolahku dulu antara laki-
laki dan perempuan dipisah. Jadi, jarang sekali berbaur dengan wanita. Laki-laki masuk
pagi dan perempuan masuk siang.
Lulus Ibtidaiyah aku langsung disuruh mondok oleh kakekku. Di pesantren yang
cukup terkenal di Jawa Timur. Selama 6 tahun aku berada di pondok. Belajar kitab
kuning sekaligus menghafal al-Qur’an. Aku berharap, semoga dengan al-Qur’an, aku
termasuk orang yang bisa mendapat syafaatnya kelak. Karena al-Qur’an akan datang
kelak pada hari kiamat untuk memberikan syafaat bagi para pembacanya.
21
Di pondok pun aku jarang sekali berinteraksi dengan anak cewek. Paling pas lagi
ikut rapat organisasi, makan di dapur, atau ketemu putrinya abah Yai ketika sowan2 di
ndalemnya3. Itu pun tanpa sengaja. Sampai sekarang aku masih merasa canggung untuk
berbaur dengan wanita. Ngomong dengan mereka kalau ada perlu saja. Atau pas waktu
diskusi dan mengikuti rapat organisasi. Bila aku pikir-pikir, sifatku ini memang terlalu.
Bagaimanapun juga aku tak bisa terlepas dan menghindar dari wanita. Karena tuhan
yang telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Yang paling penting aku bisa
mengambil sisi positif dari interaksi itu. Semoga saja aku bisa terhindar dari hal yang
tercela saat berkumpul dengan wanita.
Kami terus berjalan. Sampai di gerbang kampus jam setengah delapan kurang
lima menit. Aku teringat dik Alya. Kuambil amplop kecil dari tasku. Kuberikan pada
Cintya. Kalau aku mengantar sendiri itu artinya aku harus berjalan ke gedung paling
belakang dan kemudian kembali lagi ke depan. Itu sama saja membuang waktu.
Kampus ini cukup luas. Gedung Fakultasku ada di depan dan Fakultas dik Alya ada
dibelakang. Bila surat ijin itu kutitipkan pada Cintya bisa menghemat tenagaku.
“Jangan lupa.” ucapku sambil menyodorkan surat.
“Ok. Ta-ta brother.” jawabnya sambil tersenyum.
Aku melangkah meninggalkan Cintya. Cewek itu masih sempat-sempatnya
berteriak dan mengatakan “thank a lot Kak Fajar”. Dia memang benar-benar nekad.
Orang-orang yang ada disekitarnya memandang dengan tatapan heran. Apa nggak ada
waktu lagi untuk mengucapkan kata itu.
Aku bergegas naik lewat tangga menuju lantai lima. Liftnya rusak, terpaksa harus
pakai tenaga manual. Dengan berlari, aku menaiki lift. Ceks…ceks…ceks…dan….
Bruuuk.......!!!!
Aku menabrak seorang mahasiswi yang akan turun. Beberapa buku yang di
pegang jatuh ke lantai. Kami bertatapan mata. Wajahnya kulihat cantik merona. Aku
jadi bingung lalu mengalihkan pandanganku. Aku mengambil bukunya yang jatuh lalu
memberikannya.
“E…e… maaf Mbak, nggak sengaja.” Kataku gugup. Aku tak mau berkata lebih
banyak lagi. Segera kutinggalkan wanita itu.
“Sory Mbak.” Ucapku lagi sambil lari menaiki tangga.
2
Berkunjung.
3
Rumah kyai.
22
Sampai dikelas aku belum melihat dosen yang mengajar. Alhamdulillah aku
belum terlambat. Karena terlambat lima menit saja aku akan disuruh keluar. Itu sesuai
kontrak kuliah diawal masuk dulu. Dosennya memang terkenal rajin. Karena kerajinan
itu akan membawa kesuksesan. Begitu kata dosennya. Namun bagi mahasiswa yang
nggak suka, pasti mereka akan menyebutnya dosen killer. Tapi memang benar, bahwa
kerajinan itu akan mengantarkan pada kesuksesan.
***
23
3
TENTANG DIA
Sehabis kuliah, aku langsung ke rumah Prof. Dr. Abdullah Ridwan. Beliau Doktor
lulusan Ummul Quro University, Saudi Arabia. Beliau salah satu dari ulama’ hadits di
negeri ini. Beliau punya pondok yang kusus mengkaji kitab-kitab hadits. Beliau juga
mengajar mata kuliah ilmu hadits. Dan sekarang menjadi dosen pembimbing skripsiku.
Orangnya keras dan tak pilih kasih. Namun selama ini aku bisa mengambil hatinya. Aku
sering berkunjung ke rumahnya. Berdialog dengannya. Aku berusaha menjadi murid
pilihannya. Dekat dengan beliau membuatku merasa sifat kerasnya hilang. Berubah
menjadi kehalusan yang menyejukkan. Sebenarnya kekerasan hanya tampak diluarnya
saja. Sedangkan hatinya sangat lembut.
Dulu ketika aku baru mengenalnya, aku beranggapan bahwa beliau orang yang
tempramental. Gampang sekali meledak emosinya ketika mengajar di kelas. Tapi lama-
kelamaan anggapan itu sirna. Mahasiswa yang tak kenal mungkin akan punya pikiran
yang sama sepertiku. Bahkan banyak dari mereka yang menjuluki beliau the lion of
kampus. Aku sering tertawa dalam hati mendengar istilah itu. Tapi tak apalah karena
yang berkata seperti itu hanya mereka yang tak tahu kelembutan hati beliau.
Aku sangat senang bisa jadi murid pilihannya. Semester lima dulu aku di suruh
menjadi asisten dosen beliau. Karena prestasiku yang lumayan memuaskan. Sebagian
temanku ada yang iri hati padaku. Mereka juga heran kenapa aku bisa dekat dengan
beliau. Shofi teman satu kelas sering berdebat tentang hal ini.
“Kamu kok bisa punya hubungan yang begitu dekat dengan dosen itu.” Ucapnya
sinis.
“Maksud kamu Prof. Ridwan?” kataku balik bertanya.
Dia menganggukkan kepala.
“Yang paling penting itu menjaga sikap kawan. Punya sikap rendah hati, jujur dan
selalu berbuat yang positif.” Jelasku santai.
“Tapi banyak mahasiswa yang nggak suka. Soalnya kalau ngasih nilai pelit
banget.” ucapnya.
Aku tersenyum mengejeknya seraya berkata, “Nilai anaknya saja yang memang
jelek. He-he-he.”
24
“Kalau menilai orang itu jangan dilihat dari luarnya saja. Selidiki dulu sedetail
mungkin. Setelah itu baru komentar. Sifat manusia itu kan beragam. Ada yang sifat
luarnya baik, tapi dalamnya tidak baik. Ada yang sifat luarnya jelek, tapi dalamnya
baik. Ada yang kesemuanya baik. Nah, sekarang terserah pada diri kita, mau bersikap
yang mana. Kalau aku pilih yang luar dalam baik semua. He…he…he…” cetusku
sambil tertawa.
“Huh, sok tau kamu.”
“Emang tau beneran kan! he..he..he..! Ya sudahlah teman, nggak perlu kita
panjang lebarkan masalah ini, oke.”
Ternyata teman-teman yang lain juga banyak yang bersikap seperti itu. Kenapa
ya, sekarang ini banyak mahasiswa yang sentimen sama dosennya? Terkadang ada yang
sampai bermusuhan gara-gara nilai. Kalau memang nilainya jelek masa’ minta yang
bagus? Bukankah seorang murid itu wajib dan kudu menghormati gurunya agar ilmu
yang di dapatnya bermanfaat. Begitu ilmu yang aku dapat dari kitab ta’limul muta’allim
saat ngaji di pondok dulu. Satu buku yang mengajarkan etika seorang pelajar.
Menurutku buku ini wajib di ajarkan di sekolah-sekolah biar para pelajar di dunia ini
punya tingkah laku yang sopan dan bermoral. Tapi terkadang memang tingkah laku
gurunya sendiri yang tidak sesuai norma yang berlaku. Makanya harus seimbang.
Seorang guru juga harus punya sikap yang patut dan layak di tiru. Agar murid bisa
berbuat hormat padanya. Bagaimana mungkin seorang murid mau menghormati
gurunya, jika moral guruya sendiri nggak benar. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini.
Seorang guru sering sekali menyiksa muridnya. Bahkan melakukan tindakan asusila.
Kasihan juga pak Ridwan. Hatinya sehalus sutera, kenapa harus mendapat
perlakuan seperti itu. Sesuatu yang tidak sebanding dengan realita yang ada hanya di
sebabkan ketidaktahuan secara mendalam. Bagaimanapun beliau, aku tetap salut
padanya. Beliau juga hanya diam saja dengan perlakuan anak didiknya. Seolah tidak
terjadi apa-apa. Dan memang tidak ada apa-apa. Baliau sangat baik hati. Luarnya seperti
singa dalamnya seperti sutera. Beliau begitu perhatian denganku. Seperti anaknya
sendiri. Tapi tidak mudah bisa dekat dengan beliau. Harus melalui rintangan panjang
dan berliku. Kalau sudah bisa dekat dengannya barulah segalanya akan dipermudah
olehnya. Ada ikatan cinta antara kami berdua. Cinta yang hadir dari hatiku teruntuk
sang guru yang halus hatinya.
25
***
Aku pulang jam tiga sore. Selesai bimbingan tadi, aku kembali ke kampus untuk
mencari bahan pustaka di perpustakaan sampai jam dua tiga puluh menit. Sejak dari
pagi perutku belum kemasukan apa-apa. Rasanya keroncongan. Tenggorokan terasa
sangat kering. Haus sekali. Aku mengelus-elus perutku sendiri. Cuaca hari ini sangat
panas. Tubuhku penuh dengan keringat. Haus-haus begini paling enak memang minum
es. Di samping kampus ada pedagang kaki lima yang berjajar. Aku ingin menikmati es
rumput laut kesukaanku. Kulihat sudah ada dua orang yang sedang menikmati minuman
segar itu.
“Esnya satu pak.” Pintaku pada penjual es yang sudah agak tua.
“Maaf, sudah habis.” Jawabnya santun.
Aku menghela nafas panjang. Terpaksa harus menunggu sampai rumah. Saat
bertanya dengan penjual es tadi, tanpa sengaja aku melihat dua wanita yang sedang
asyik menikmati es segar itu. Sepertinya cewek itu adalah orang yang tadi pagi aku
tabrak ketika naik tangga. Aku ingin menyapanya, tapi kuurungkan. Menyapa wanita
yang belum aku kenal bukanlah kebiasaanku.
Kulihat jam di HP. Pukul 15 lewat 13 menit. Aku harus buru-buru. Jam empat
nanti aku harus mengajar di TPA masjid al-Fatah. Mulai awal kuliah, aku sudah diminta
untuk ikut mengajar oleh pak Sahal yang merupakan imam Masjidnya. Aku kenal beliau
karena sering shalat berjama’ah di masjid. Dari perkenalan itu beliau tahu kalau aku
hafal al-Qur’an. Maka dari itu, beliau memintaku untuk mengajar anak-anak. Setiap
habis subuh, aku pun sering semaan4 hafalan al-Qur’an dengan beliau di masjid. Aku
senang bisa berinteraksi dengan anak-anak TPA. Bisa berbagi ilmu. Meski finansial
yang diberikan padaku tidak seberapa. Itu tak mengapa. Aku sendiri tak pernah
memikirkan besar kecilnya hal itu. Yang terpenting bagi diriku adalah kepercayaan
yang diberikan pak Sahal padaku dan bisa mengamalkan ilmuku. Itu jauh lebih besar
dan berarti dari pada menghitung jumlah finansial yang diberikan. Bagiku upah dari
Allah jauh lebih utama dan berharga dari pada upah dari manusia. Berapapun jumlahnya
aku wajib dan kudu mensyukuri.
4
Saling menyimak bacaan al-Qur’an dengan hafalan.
26
Sejak masuk kuliah aku memang bertekad untuk tidak bergantung pada ummiku.
Aku tak ingin membebankan biaya kuliahku pada beliau. Aku harus bisa membiayai
sendiri. Aku ingin mandiri dan berusaha sendiri. Alhamdulillah, aku bisa melakukan hal
itu. Dengan kegiatan menulis, aku sering mengirimkan karyaku ke sebuah majalah dan
koran. Di pondok dulu, aku sudah menerbitkan lebih dari lima puluh buku. Sampai saat
ini sudah tak terhitung banyaknya. Buku-buku tentang remaja dan novel. Aku senang
bisa berbagi ilmu lewat tulisanku. Tujuan utamaku adalah berbagi dan mengamalkan
ilmuku. Hanya itu. Tak pernah terbesit dalam hatiku keinginan untuk menjadi terkenal.
Tak pernah terbesit dalam pikiranku bahwa karyaku akan menjadi best seller. Aku tak
ingin terkenal. Aku tak butuh semua itu. Niatku cuma satu yaitu menebar ilmu lewat
tulisanku. Aku ingin apa yang aku tuliskan bermanfaat bagi diriku dan orang lain. Aku
ingin orang lain bisa mengambil manfaat dari apa yang aku tuliskan. Aku ingin manfaat
itu bisa kuambil kelak setelah aku tiada. Aku ingin bisa menikmati pahala dari ilmu
yang bermanfaat itu. Aku ingin merasakan pahala itu mengalir terus di sisiku. Akan
kuubah dunia dengan penaku. Itulah tekad kuatku.
Sekarang ini aku sedang menyelesaikan novel yang berjudul Tersenyumlah
Indonesiaku. Judulnya tidak sama dengan isinya. Judulnya tersenyum, tapi isinya penuh
dengan tangis. Novel yang bercerita tentang penderitaan rakyat kecil di negeri ini yang
selalu menjadi korban penggusuran oleh pemerintahnya sendiri. Aku terinspirasi dari
banyaknya berita yang menyajikan tentang hal yang menurutku sangat amat memilukan.
Aku ingin menyuarakan pada semua orang, terutama para pejabat negeri, bahwa betapa
perih dan pedihnya kehidupan mereka.
Dengan usaha menulis, aku berjuang keras untuk membantu ummi dan adikku.
Seorang penulis wanita dari Maroko yaitu Fatima Mernisi mengatakan bahwa, menulis
itu lebih baik dari pada operasi pengencangan kulit. Usahakan menulis setiap hari.
Niscaya kulit kamu akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang
luar biasa. Dari saat kita bangun tidur, menulis meningkatkan aktifitas sel. Dengan
coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata akan segera lenyap, dan
kulit-kulit akan segar kembali. Menulis itu juga bisa menjernihkan pikiran dan
mengatasi trauma, menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih
positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik.5
5
Dr. James W. Pannebaker.
27
Tubuhku rasanya capek sekali. Belum makan seharian. Ditambah jalan kaki
sekitar lima ratus meter dari jalan raya menuju rumahku dengan cuaca matahari yang
begitu teriknya. Badan ini semakin bertambah lelah. Aku mencela diriku sendiri.
Kenapa tak mau pakai motor saja kalau mau bepergian. Itu salahku sendiri. Tapi tak
tahu. Aku tetap menikmati hal itu. Aku lebih suka jalan kaki. Sampai di gerbang rumah,
kulihat Cintya berdiri di depan halaman rumahnya. Tampaknya ia sengaja menunggu
kepulanganku. Ia tersenyum melihatku. Aku biasa saja.
“Jam segini baru pulang?” Sapanya.
“Iya, habis bimbingan skripsi di rumah dosen.” Jawabku lesu.
“You look very tired?”
Aku hanya tersenyum menanggapi omongannya. “Maaf ya Cintya, aku masuk
rumah dulu.”
Aku tinggalkan Cintya. Di dalam rumah ada ummi yang sedang membaca buku.
Kuhampiri dan kucium tangannya. Aku langsung ke kamar mengambil handuk lalu
mandi. Makan masih aku tunda.
“Keadaan dik Alya gimana Um?” Tanyaku pada ummi dari dalam kamar.
“Sudah baikan?”
“Kata dokter sakit apa?”
“Seperti biasa.”
Aku langsung faham dengan jawaban ummi. Setiap kali datang bulan, dik Alya
selalu begitu. Mulanya sakit perut kemudian merambah demam. Kadang-kadang sampai
muntah-muntah.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Tadi ustadz Bashori mencarimu.”
“Memangnya ada apa Um?”
“Mana Ummi tahu. Mungkin disuruh menterjemah buku.”
“Nanti biar aku telfon saja beliau Um.”
Usai mandi rasanya segar kembali. Meski perut masih kosong tanpa makanan. Air
memang bagian dari kehidupan. Bisa kita bayangkan sendiri andaikan dunia ini tanpa
air. Baru air keruh sedikit saja susahnya minta ampun. Bagaimana kalau hilang sama
sekali. Itulah ni’mat Allah yang sangat besar, namun kebanyakan manusia tidak mau
28
berterima kasih. Berlaku seenaknya saja sesuai dengan kemauan dirinya. Banyak air
yang terbuang sia-sia tanpa ada manfaanya.
Rasa lelahku mungkin akan ikut hilang kalau bertemu dengan murid-muridku
nanti. Bertemu dengan murid-muridku adalah sesuatu yang paling aku tunggu-tunggu.
Rasannya bahagia sekali bisa berkumpul dengan anak-anak seusia mereka. Lucu dan
menggemaskan. Aku jadi ingat dua keponakanku yang ada di desa. Muna dan Luna.
Sekarang sudah umur tiga dan empat tahun. Sebentar lagi akan masuk taman kanak-
kanak. Aku jadi kangen dengan mereka. Sudah dua tahun aku tidak pulang ke desa
menjenguk keluarga kakek.
Masih ada lima belas menit untuk pergi ke masjid al-Fatah. Mungkin anak-anak
sudah menungguku. Ada suara lantunan al-Qur’an dari HPku. Tanda sms masuk. Dari
Cintya. Kubaca sambil jalan.
“Fajar, could you help me now.”
“Bantu apa?”
“My computer was broken.”
“Kalau sekarang nggak bisa. Aku mau ngajar. Mungkin besok.”
“No at all. Thank a lot.”
“Sama-sama.”
Selama ini Cintya selalu menggunakan bahasa inggris jika berbincang denganku,
tapi aku tetap membalasnya dengan bahasa Indonesia. Tinggal di negeri sendiri harus
pakai bahasa sendiri. Biar Cintya juga bisa bahasa Indonesia.
Sambil berjalan aku membalas pesan Cintya. Kalau hanya sekedar berurusan
dengan komputer tak ada yang sulit bagiku. Padahal aku tak pernah kursus komputer.
Aku hanya belajar dari buku-buku yang erat kaitannya dengan komputer. Semua aku
pelajari ketika masih di pondok dulu. Aku ingin menepis anggapan banyak orang bahwa
anak pesantren bukanlah anak yang gagap dan bodoh akan kemajuan teknologi. Aku
ingin membuktikan bahwa anak santri itu punya nilai plus. Pesantren sekarang tak
hanya berkutat pada ilmu agama saja, tapi juga semuanya. Umum dan agama. Semua
seimbang. Karena dua-duanya bisa kita dapatkan, maka di situlah nilai plusnya bagi
anak santri. Beda dengan mereka yang tidak pernah tahu akan dunia pesantren.
Jadi, jangan pernah mengatakan kalau anak pesantren itu kuper dan nggak kenal
dengan yang namanya teknologi. Lebih ironis lagi sekarang malah banyak pesantren
29
yang dituduh sebagai sarang teroris. Apakah benar demikian?! Sungguh tolol dan nggak
bisa melihat dengan mata hati bagi orang yang punya anggapan begitu. Itu hanya siasat
manusia-manusia bejat yang tidak suka dengan pesantren. Mereka ingin menghancurkan
citra pesantren dengan membuat segala macam cara. Membiayai seseorang untuk
melakukan tindakan teror yang mengatasnamakan pesantren. Dasar manusia tak tahu
diri. Bisanya hanya merusak Islam saja. Kalau ada yang ngomong pesantren adalah
sarang teroris itu hanyalah omong kosong dari orang yang tidak suka dengan kehadiran
pesantren dan ingin menghancurkannya.
Betapa besarnya andil pesantren dalam kemerdekaan negara ini. Apakah pantas
jika pesantren dikatakan sebagai sarang teroris? Sangat tidak pantas! Tidak ada teroris
di pesantren. Kalau ada teroris, lalu identitasnya adalah pesantren atau mengaku berasal
dari pesantren, itu hanya rekayasa orang yang ingin menghancurkan pesantren. Sekali
lagi aku katakan tidak akan ada teroris di pesantren. Pesantren itu tempat mengaji dan
mencari ilmu. Dan bukan tempat membuat dan merakit bom. Yang ada di pesantren
hanyalah para penuntut ilmu guna memajukan bangsa ini. Jangan rusak citra pesantren
dengan berkata dan beranggapan seperti itu. Itu tindakan orang tolol dan gila.
Aku mengajar anak-anak sampai jam setengah enam. Mengajari baca tulis al-
Qur’an, doa-doa harian, percakapan ringan bahasa arab dan inggris serta yang lain.
Mereka tampak bersemangat, meski ada juga sebagian murid yang tidak memperhatikan
pelajaran. Mereka malah lari-lari dengan teman lain. Dinasehati juga tak mempan.
Mengajar anak-anak memang susah. Perlu kesabaran dan usaha keras untuk membentuk
perilaku dan tabiat baik mereka. Tahu akan kebutuhan psikologi mereka. Mereka adalah
tunas-tunas bangsa. Harus diarahkan ahklak dan moralnya dengan mengajari etika
sopan santun dalam bertindak dan berkata. Siapa yang harus mendidik mereka bila tidak
kita semua. Agar kelak menjadi manusia yang berahlak mulia dan bisa memimpin
bangsa ini dengan ahlak yang mulia pula.
Selesai mengajar aku tidak langsung pulang. Menuggu sholat magrib beserta
anak-anak. Berjamaah harus di tanamkan dalam jiwa mereka sejak dini agar nanti bisa
menjadi kebiasaan yang baik bagi diri mereka sendiri. Kebiasaan itu ada dua. Baik dan
buruk. Kalau dari kecil terbiasa melakukan hal yang buruk maka sampai besar pun akan
terbiasa melakukan hal tersebut. Kalau sejak dini mereka diajari hal-hal yang positif,
maka sampai besar mereka pun akan punya kebiasaan yang baik pula. Itulah kebiasaan.
30
Seseorang akan bertindak sesuai dengan kebiasaannya masing-masing. Dari kecil
biasa bohong, sampai besar pasti akan selalu berbohong. Dari kecil biasa berbuat
sesuatu yang baik dan bermanfaat pasti mereka pun akan terbiasa melakukan sesuatu
yang baik. Mereka yang sudah terbiasa dengan perbuatan jelek tidak akan bisa merasa
bersalah dengan kejelekan yang telah di lakukan, walaupun kejelekan itu banyak sekali.
Akan tetapi orang yang sudah terbiasa melakukan kebaikan semenjak dari kecil, mereka
akan merasa sangat bersalah dan menyesali perbuatannya, walaupun kejelekan itu
sedikit sekali. Mereka akan langsung tersadar bahwa dirinya telah menyimpang dari
kebaikan dan akan segera mengganti dengan perbuatan yang baik. Sebagaimana kata
Rasulullah “Ikutilah olehmu perbuatan yang jelek dengan perbuatan yang baik karena
perbuatan yang baik itu akan menghapus perbuatan yang jelek.”
Sekarang ini manusia sudah terbiasa dengan kejelekan. Korupsi misalnya. Kenapa
pemimpin kita masih suka korupsi? Karena sudah terbiasa. Suka membohongi
rakyatnya. Suka tidak jujur. Itu semua terjadi karena kebiasaan mereka. Mereka diajari
korupsi oleh para pendahulunya. Akhirnya sampai sekarang pun korupsi terus berjalan.
Kenapa tidak ada yang merasa jera dengan hukum yang ada? Karena terbiasa. Kenapa
kebiasaannya jelek seperti itu yang mereka lakukan? Karena watak yang sudah
mendarah daging dalam jiwa. Kebiasaan jelek yang sudah menyatu dengan hati. Kenapa
tidak juga bisa berubah? Karena kebiasaan itu memang sulit dirubah. Ditambah lagi
dengan penegakan hukum yang lemah. Perubahan kebaikan hanya ada dalam omong-
omong kosong. Tidak pernah dibuktikan dengan tindakan nyata. Itulah kebiasaan jelek
yang sudah membudaya di negeri kita. Maka dari itu anak-anak kita harus dibiasakan
berperilaku baik.
Itulah pentingnya menanamkan kebiasaan baik pada anak-anak usia dini. Segala
kebaikan kita ajarkan. Pantang mengajarkan kejelekan. Dengan begitu mereka akan jadi
manusia yang berahlak mulia dan selalu menebar kebajikan dalam memimpin dunia.
Seperti itulah yang selalu aku ajarkan pada murid-murid kecilku di TPA. Aku tak ingin
mereka mati dalam kejelekan. Aku ingin mereka selalu hidup dengan kebajikan.
Sehingga dunia ini akan terpenuhi dengan kehadiran manusia-manusia yang selalu
menebar kebaikan.
31
Sehabis jamaah shalat Maghrib dengan anak-anak, aku baru pulang. Rasa lelah
makin kurasa. Makan belum sempat. Di meja makan ada banyak kue dan aneka
makanan. Tidak biasanya ummi membuat masakan seperti ini.
“Wah, enak sekali. Dari siapa ya?” Batinku.
“Siapa Um yang memberi makanan sebanyak ini, mau syukuran ya?” Tanyaku
pada ummi yang baru keluar dari kamarnya.
“Buat kamu.” Jawab ummi santai.
Aku jadi bengong mendengar jawaban ummi. Ngapain juga ummi menyiapkan
makanan sebanyak ini. Aku kalau makan tidak pernah banyak. Secukupnya saja. Meski
merasa sangat lapar tetap saja makanku sedikit. Aku tak ingin memenuhi perutku
dengan makanan.
“Kue sebanyak ini buat siapa Um?” tanyaku lagi.
“Ya buat kamu.”
“Maksud ummi apa, bercanda ya? Makanan ini dari siapa? Buat apa beli makanan
sebanyak ini? Kalau nggak ada yang makan ‘kan mubadzir Um. Mubadzir itu temannya
setan?”
“Dari Cintya Kak. Itu buat Kakak. Katanya dari om Taufik dan tante Linda.”
Cetus dik Alya dari dalam kamar.
“Cintya! Untuk apa dia memberi makanan sebanyak ini?” Heranku.
Keponakan om taufik itu memang baik sekali dengan keluarga kami. Sering
memberi makanan. Perhatian Cintya padaku memang terlalu. Sudah sering aku bilang
nggak usah ngasih makanan, tapi omonganku bagaikan angin yang lalu. Tak di
hiraukan. Kami sudah mencegahnya, tapi dia tetap saja melakukan. Sebenarnya kami
tak ingin diberi sesuatu dari orang lain. Justru yang ingin kami lakukan adalah selalu
memberi pada orang lain. Bukan di beri. Kami merasa tak pantas menerima pemberian
dari orang lain. Ada penerima yang lebih berhak dariku. Bukankah lebih baik jika
makanan ini di berikan kepada orang yang lebih membutuhkan saja. Diluar sana banyak
sekali orang yang tidak bisa makan.
Aku lebih suka memberi dari pada diberi. Aku lebih suka ngasih dari pada
dikasih. Aku lebih suka diminta dari pada meminta. Itu semua karena aku ingin bisa
berbagi dengan sesama. Berbagi dengan orang yang lebih membutuhkan. Berbagi
dengan mereka yang masih dalam kekurangan. Membagikan sebagian rejeki yang sudah
32
Allah berikan padaku. Aku ingin hidup di dunia ini untuk memberi sebanyak-
banyaknya. Dan bukan menerima sebanyak-banyaknya. Karena memberi itu jauh lebih
baik dari pada menerima. Kata baginda Nabi Muhammad “tangan yang diatas itu lebih
baik dari pada tangan yang dibawah.” Tangan di atas berarti memberi dan tangan di
bawah berarti menerima. Dan itu semua yang ingin aku lakukan dalam hidupku. Aku
tak ingin diberi, tapi ingin bisa memberi pada orang lain sebanyak-banyaknya dengan
apa yang aku miliki agar rejeki bisa barokah dan bermanfaat bagi diri sendiri. Harta
yang bisa dinikmati oleh manusia setelah meninggalkan dunia adalah harta yang telah
diberikan atau dinafkahkan pada orang lain. Jangan takut kurang atau habis. Allah itu
kaya. Manusia bisa kaya itu karena Allah dan bukan karena usahanya. Kalau kita mau
membagi rejeki yang kita miliki pada orang lain akan di lipatgandakan tuju ratus kali
lipat. Ini jauh lebih besar dari pada bunga yang di berikan saat kita menaruh uang di
bank. Lebih baik kita menabung di bank Allah dari pada banknya manusia. Lebih baik
kita berinvestasi di saham-saham Allah. Bunganya lebih besar dan berlipat ganda. Bank
Allah itu berupa masjid. Orang-orang miskin. Dan masih banyak yang lain.
Menabunglah di bank-bank tersebut. Berinvestasilah di saham-saham Allah. Dengan
niat yang tulus dari hati yang paling dalam. Jangan takut harta kita habis. Justru akan
semakin bertambah banyak. Itu janji dari Allah. Janji Allah pasti benar. Tidak akan di
ingkari.
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji.
Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.6”
Itu semua bisa kita lakukan kalau dalam jiwa kita ada benih iman yang menancap
kuat dalam hati. Iman yang selalu menyuruh untuk berbuat kebajikan dijalan Allah.
Iman yang selalu mengajak untuk saling berbagi pada sesama. Pada mereka yang lebih
membutuhkan. Bukan iman keropos yang bersifat kikir dan egois. Tak mau peduli dan
memikirkan orang yang ada di bawah kita. Hanya menumpuk-numpuk harta sendiri dan
mengumpulkannya sampai mati. Apa gunanya menumpuk harta sebanyak-banyaknya
padahal harta tidak akan dibawa ketika meninggalkan dunia. Harta tak akan kita bawa
ke dalam kubur. Justru akan jadi malapetaka ketika kita tak bisa memanfaatkannya saat
6
QS. Al-Baqarah: 261
33
masih hidup di dunia. Hanya menumpuk dan terus menumpuk tanpa mau bersedekah
sedikitpun pada orang yang lebih membutuhkannya.
Mungkin niat Cintya selalu memberikan sesuatu padaku adalah bersedekah.
Saling berbagi dan memberi. Entahlah, aku doakan saja, semoga rejekinya selalu
diberkahi allah. Aku terima saja untuk menghormati pemberiannya. Tapi aku tak mau
diberi terus menerus. Aku harus mencegahnya. Pemberiannya selalu berlebihan.
Semoga itu jadi amal sodaqohnya yang tidak akan pernah terputus pahalanya.
Aku menikmati pemberian Cintya. Perutku sudah lapar sekali. Tak ada yang tak
enak. Semuanya enak. Makanan dari Cintya menjadi obat lapar bagi perutku. Ummi
ikut menikmatinya. Dik Alya juga. Kami makan bersama merasakan lezatnya makanan
pemberian Cintya yang juga merupakan rejeki dari Allah semata. Kami merasakan
nikmatnya makan bersama. Kumpul dalam satu hidangan lezat yang belum tentu orang
lain bisa menikmatinya. Ini nikmat Allah yang wajib aku syukuri agar tidak hilang
nantinya. Karena yang bersyukur akan ditambah dan yang kufur akan dikurangi.
“Tetangga sebelah kita memang baik banget ya Um. Coba semua orang Indonesia
seperti Cintya, pasti tidak ada orang miskin di dunia. Tidak ada yang miskin karena
yang kaya selalu berbagi pada yang miskin. Kita jadi merasa nggak enak sendiri karena
selalu diberi.” Kataku pada ummi.
“Bukan cuma sama Kak Fajar saja, tapi juga sama teman-teman di kampus.”
Sahut dik Alya.
“Luar biasa Dik ya. Aku salut dengan keramahan Cintya.”
“Cintya memang gadis yang ramah. Ummi tahu sikap gadis itu. Dia selalu curhat
sama Ummi. Dia teman sekaligus tetangga yang baik bagi kalian. Kita harus bisa
mempertahankan hubungan yang harmonis ini. Jangan sampai ada permusuhan antara
kita. Apalagi Cintya, paman dan tantenya seorang muslim. Itu artinya mereka punya dua
hak. Hak untuk dihormati sebagai saudara sesama muslim dan hak sebagai tetangga.”
“Baginda Nabi selalu mengajarkan, barang siapa yang beriman pada Allah dan
hari akhir hendaklah ia selalu menghormati tetangganya. Nabi juga mengajarkan pada
kita untuk mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. Saudara
yang di maksud disini tidak hanya saudara senasab atau yang masih punya hubungan
darah. Akan tetapi lebih luas lagi. Saudara sesama Islam. Semua orang Islam di dunia
ini adalah saudara.”
34
“Kalau saja mereka mau mengamalkan apa yang disabdakan baginda Rasul
tentunya tidak akan ada permusuhan di dunia ini. Akan tetapi kebanyakan dari mereka
tidak tahu atau sudah tahu, tapi tidak mau mengamalkan ajaran beliau. Jadinya umat
Islam saling bertengkar antara yang satu dengan yang lain. Permusuhan sesama Islam
banyak terjadi. Sangat disayangkan kalau sesama Islam bertengkar. Yang rugi kita
sendiri. Dan mereka yang tidak suka dengan Islam akan bertepuk tangan dan tertawa
gembira.”
“Inilah pentingnya saling menghormati. Pentingnya melestarikan dan terus
memupuk persaudaraan agar Islam bisa bersatu tanpa memandang atribut masing-
masing. Kalau Islam bersatu pasti akan memunculkan kekuatan yang super dan mampu
mengalahkan yang lain. Bersatu Islam teguh dan kuat. Bercerai dan saling bertengkar
Islam akan runtuh. Ummi sendiri tidak ingin seperti itu. Maka dari itu, kita harus
memulai dari diri kita sendiri dengan melakukan hal kecil yaitu menghormati tetangga
yang sudah berlaku baik pada kita.”
Ummi banyak memuji Cintya. Semua kebaikannya diceritakan oleh ummi. Ummi
tahu banyak tentang dia. Tentang pribadinya. Karena Cintya begitu akrab dengan ummi.
Selalu saja bercerita dan curhat pada Ummi. Nasehat ummi pada kami kudengar
panjang lebar. Kalimatnya sangat berarti bagiku dan mungkin bagi semua orang yang
mendengarnya. Ummi memang selalu bijak dan membuat hati anak-anaknya bergetar.
Aku selalu terkagum-kagum dibuatnya. Senang sekali punya ibu seperti beliau. Beliau
tetap tegar meski tanpa ayah. Tak pernah sekalipun mukanya tampak bersedih atas
ketidakharmonisan pernikahannya. Ummi pun sering menasehati kami berdua, “besok
kalau menikah pilihlah orang yang selalu mengajak pada kebaikan. Jangan melihat kaya
dan cantiknya serta kedudukannya. Semua itu tak penting. Apa artinya kaya, kalau hati
dan jiwanya miskin. Miskin dari kebaikan. Apa artinya cantik di wajah kalau hatinya
busuk. Lebih busuk dari bangkai binatang. Apa artinya kedudukan atau jabatan, kalau
semua itu akan membuat hatinya buta dan menumbuhkan kesombongan.”
Begitulah nasehat ummi pada kami. Kami tersenyum saja mendengarnya. Untuk
urusan yang satu ini, aku memang agak takut. Bukan berarti aku tak berani menikah.
Bahkan aku ingin menikah diusia muda. Memang, banyak hal yang harus dipikirkan
untuk menempuh jalan tersebut. Jangan hanya memikirkan enaknya hubungan suami
35
istri saja. Tapi tanggung jawab besar yang harus dipikul oleh seorang suami sebagai
pemimpin keluarga.
Banyak yang gagal dalam berumah tangga karena mereka minim ilmu dan lebih
mementingkan diri sendiri. Aku nanti mau menikah setelah lulus kuliah atau bagaimana,
aku belum begitu memikirkannya. Tapi aku sudah punya niat untuk nikah diusia muda.
Semoga saja bisa. Kalau memang waktunya sudah datang pasti akan terlaksana.
Mungkin lebih baik menikah muda. Biar tidak menambah-nambah dosa dengan wanita
yang bukan muhrimnya. Selain meminimalisir dosa, menikah juga lebih menjaga
pandangan, dan menentramkan hati serta menyempurnakan separuh agama. Benarlah
kata Nabi akan hal ini.
“Wahai para pemuda, barang siapa diantara kamu sekalian sudah mampu untuk
melakukan pernikahan maka menikahlah. Karena hal itu lebih menjaga pandangan dan
memelihara kemaluanmu. Dan barang siapa yang belum mampu maka berpuasalah
karena sesunggguhnya puasa itu adalah penangkalnya.7”
Semoga saja aku bisa memperoleh istri seperti apa yang diharapkan ummi.
Keharmonisan rumah tangga adalah dambaan semua manusia. Istri cantik sholehah juga
hasrat seorang pemuda. Cantik luar dan dalam. Untuk mengarungi hidup ini agar bisa
menggapai kebahagiaan dunia dan akheratnya.
***
7
Hadist Bulugul Maram. Bab nikah.
36
4
DI PUNCAK MONAS
Ketika aku sedang membaca buku di teras, Cintya datang ke rumah. Baru sampai
di depan gerbang, dia sudah mengeluarkan suaranya.
“Hi Fajar!” ucapnya sambil tersenyum manis.
“Did you forget something?” lanjutnya. Aku bingung mendengar pertanyaannya
itu.
“Kemarin aku minta tolong ke kamu!” lanjutnya lagi. Aku memikirkan sesuatu.
Aku mengingatnya.
“Oh, maaf Cin. Aku lupa.” Kataku.
“Have you free time now?”
“Ya, tentu. Tunggu sebentar. Kamu masuk dulu.”
“Thank.”
Setelah itu aku ke rumah Cintya. Rasanya nggak enak kalau aku harus ke sana
sendiri. Om Taufik dan tante Linda pasti masih di kantornya. Aku takut ada apa-apa
kalau harus berdua dengan Cintya. Aku mengajak dik Alya. Aku tak ingin nanti ada
omongan orang lain yang tak enak di dengar telinga.
Di rumahnya ternyata sepi. Mungkin om Taufik dan istrinya baru pulang jam
empat nanti. Biasanya tante Linda lebih awal. Sekarang baru jam dua lebih sepuluh
menit. Aku tak tahu kalau seandainya ke rumah Cintya sendiri tanpa dik Alya. Mungkin
pikiran diotakku dan juga Cintya akan berbeda. Setan dan nafsu akan dengan mudah
memperdaya kami berdua. Dan selanjutnya juga tak akan pernah tahu apa yang akan
terjadi. Memang alangkah lebih nyaman dan baiknya bila seorang perempuan itu selalu
ada mahram yang mendampinginya. Hal itu bisa menjaga hal-hal yang tidak di
inginkan.
Aku jadi teringat kisah Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha. Salah satu cerita dari berjuta
kisah sejarah. Seorang wanita ingin memperkosa seorang laki-laki, karena dia tidak
tahan melihat ketampanan seorang Yusuf. Saking gantengnya, jari tangan kita pun tak
akan terasa jika teriris pisau. Karena Nabi Yusuf menolak, Zulaikha pun memaksanya
seraya menarik sarungnya. Sebelum sempat terjadi apa-apa, datanglah ayah Zulaikha.
37
Lalu terjadilah perdebatan. Zulaikha menuduh kalau Nabi Yusuf ingin memperkosanya.
Allah pun tak tinggal diam. Di jadikanlah bayi yang ada dalam kamar tesebut berbicara.
“Yusuf berkata, “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya) dan
seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya. Jika baju gamisnya
koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.
Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta dan Yusuf
termasuk orang-orang yang benar.8”
Sampai di rumah Cintya, aku langsung menuju ke depan komputer untuk
memperbaikinya. Aku lupa tak membaca CD programnya. Terpaksa harus balik ke
rumah lagi. Kembali ke rumah Cintya, beberapa kue dan minuman yang lezat sudah
tersaji di atas meja. Seperti itulah perlakuan Cintya pada kami. Terkadang malah lebih
dari itu.
Sementara aku memperbaiki komputernya, dia berbincang pada dik Alya. Obrolan
yang terdengar asyik. Aku mendengar obrolannya. Kerena tidak jauh dari tempat di
mana aku duduk. Sesekali mereka tertawa kecil di tengah perbincangannya. Mereka
sangat kompak dan serasi. Cintya sempat menanyakan pada dik Alya apa kegiatannya
kalau ada di kampung. Juga menanyakan tentang diriku. Dik Alya menjawab sedikit
saja. Tampaknya dia tahu kalau aku memang nggak suka bila kegiatanku di ketahui oleh
orang lain. Dik Alya langsung mengalihkan pembicaraan. Dia balik bertanya bagaimana
kehidupan Cintya waktu masih di Amerika. Cintya menjelaskan dengan panjang lebar.
Dia bercerita kalau hidup di Amerika itu memang tidak mudah, apalagi bagi seorang
yang menyandang setatus muslimah seperti dirinya. Cintya bercerita banyak tentang
dirinya dan tentang Amerika.
Tak terasa selama satu setengah jam aku ada di rumah Cintya. Aku dan dik Alya
minta pulang. Di halaman rumah kami bertemu dengan tante Linda yang baru keluar
dari mobil taxi. Barang bawaannya banyak sekali. Melihat aku dan dik Alya pulang, dia
langsung memberi sesuatu.
“Ini buat kalian.” Kata tante Linda.
Aku hanya melihatnya.
“Jangan bengong Fajar. Ayo terima. Tak baik menolak rejeki.” Paksanya.
8
QS. Yusuf: 26-27.
38
Satu kantong plastik diterima dik Alya. Isinya buah segar. Aku jadi merasa nggak
enak. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas pemberiannya. Tidak ada yang bisa
kami perbuat kalau sudah dipaksa, kecuali mengucapkan kalimat tersebut.
Keluarga tante Linda sangat baik terhadap kami. Belum pernah aku menemukan
orang seperti keluarganya tante Linda. Sangat dermawan. Kalau ada tarikan sumbangan,
dari manapun itu, pasti dia tidak tanggung-tanggung untuk memberi dalam jumlah yang
tidak sedikit alias banyak sekali. Semoga hal itu akan menjadi amal yang tidak akan
terputus pahalanya. Karena apabila anak adam sudah meninggalkan dunia maka hanya
ada tiga perbuatan yang pahalanya tidak akan pernah putus. Pertama, amal jariyah.
Kedua, ilmu yang bermanfaat dan ketiga, anak sholeh yang selalu mendoakan orang
tuanya.
***
Ini hari sabtu. Dik Alya mengajak ke Monas malam ini. Aku tak tahu harus
bagaimana dengan ajakannya. Nanti siang aku harus mengajar di Lembaga Kajian Islam
seperti biasa. Monumen Nasional atau yang lebih di kenal dengan Monas adalah salah
satu icon kota Jakarta. Tugu Peringatan Nasional ini dibangun diareal seluas 80 hektar
pada tahun 1960. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan
konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961
oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli
1975. Dia menjadi salah satu simbol kebanggaan bagi masyarakat ibu kota. Menjadi
tempat berwisata dan pusat pendidikan yang menarik bagi warga Jakarta dan sekitarnya.
Begitu juga yang datang dari luar kota. Sangat strategis, karena letaknya dipusat kota
Jakarta. Monas selalu ramai dikunjungi wisatawan untuk melihat keindahan kota Jakarta
dari puncaknya. Menambah wawasan sejarah Indonesia diruang diorama, ataupun
menikmati segarnya hutan kota seluas kira-kira 80 hektar ditengah kota Jakarta.
Menginjakkan kaki ke Jakarta, tapi tidak mengunjungi monas rasanya kurang begitu
lengkap.
Inilah salah satu kebanggaan bagi warga ibu kota Jakarta. Monumen Nasional
adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang
perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda. Dan juga
39
untuk melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945
agar bisa membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan
mendatang.
Bentuk tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Merupakan batu obeliks yang
terbuat dari marmer yang berbentuk lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas
budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu
dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir disetiap rumah
penduduk pribumi Indonesia. Tugu ini menjulang setinggi 132 meter. Ada juga yang
mengatakan 137 meter dihitung dengan tinggi ruang yang ada di bawah tanah 5 meter.
Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala
obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg. Obor atau
lidah api yang menyala-nyala ini merupakan simbol semangat perjuangan rakyat
Indonesia yang tak pernah padam dalam meraih kemerdekaan. Konon pada saat
Indonesia merayakan 50 tahun kemerdekaannya pada tahun 1995 sejumlah pengusaha
Indonesia menyumbangkan sejumlah emas, sehingga berat total emas yang melapisi api
kemerdekaan dipuncak monas menjadi 50 kilogram. Pelataran puncak dengan luas
11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Dari pelataran puncak tugu Monas,
pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta.
Di dalam bangunan Monumen Nasional juga terdapat sebuah ruangan yang luas
yaitu Museum Nasional dan aula untuk bermeditasi. Tingginya 8 meter. Museum ini
menampilkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini adalah 80x80
m. Pada keempat sisi museum terdapat 12 diorama (jendela peragaan) yang
menampilkan sejarah Indonesia dari zaman kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa
Indonesia hingga G30S PKI.
***
Dari puncak Monas kami memandangi wajah Jakarta. Di sampingku ada Dik Alya
serta orang-orang yang sedang menikmati pemandangan wajah gelap Jakarta dari
puncak Monumen Nasional ini. Di bawah sana, tampak sepasang muda-mudi yang
sedang berduaan menikmati kemesraan yang sejatinya telah menipu mereka. Mereka
tidak sadar, milik siapakah wanita yang sedang ada di sampingnya itu?! Apakah mereka
40
pernah berpikir, halalkah wanita yang sedang ada di sisinya itu?! Sadarkah mereka
kalau besok akan ada hari di mana mulut mereka ditutup sedemikian rapatnya?! Hari di
mana semua anggota badan memberikan kesaksian nyata. Hari di mana kita tak bisa
mengelak sedikit pun dari apa yang telah kita lakukan di dunia ini. “Pada hari ini Kami
tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi
kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin:
65)
Di sini, di Monas ini, mereka bermesraan dengan sepasang wanita yang bukan
muhrim. Di sini, di malam ini, mereka tidak sadar bahwa kemesraan itu akan
dipertanggung jawabkan kelak di akherat sana. Di sini, di saat ini, mereka bisa dan
dengan sepuasnya bermesraan bersama pacarnya. Namun pernahkah mereka berpikir
bahwa besok pagi masih bisa merasakan kemesraan itu?! Masih bisakah mereka
bermesraan dengan pacarnya kelak di hari yang abadi itu?! Di hari yang tak semua
manusia bisa kembali lagi ke dunia. Tahukah mereka kalau besok pagi masih bisa
bersama dengan sang kekasihnya?!
“Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami
yang datang di malam hari, padahal mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk
negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami di pagi hari ketika mereka
sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang
merugi.9”
Kulihat kemesraan di antara muda-mudi itu begitu terasa. Aku sendiri merasa iri
dengan mereka. Mungkin mereka merasa bahwa tak ada yang melihat dan mencatatnya.
Sadarkah mereka bahwa Allah selalu memperhatikan apapun yang mereka lakukan
berdua?! Sadarkah mereka bahwa ada sang pencatat amal perbuatan yang selalu setia
mengawasi mereka?!
Kulihat wajah Jakarta di malam hari. Dari puncak monas ini. Kupandangi sudut-
sudut ibu kota. Kulihat ruas-ruas jalan disepanjang Jakarta. Lampu di jalan-jalan dan
gedung-gedung bertingkat tampak indah sekali. Udara terasa lebih sejuk meski
bercampur dengan polusi. Di jalan-jalan masih ada mobil yang berjubel dengan
berbagai macam jenisnnya. Mulai dari mobil pribadi, angkutan umum dan tak
9
QS. Al-A’raaf: 97-99.
41
ketinggalan pula kendaraan bermotor. Mereka seperti gerombolan semut yang sedang
merangkak.
“Kak lihat, mobil-mobil itu seperti semut-semut kecil.”
“Iya Dik. Kapan ya Dik Jakarta nggak macet.”
“Mungkin dalam mimpi kali Kak Jakarta nggak macet.” Cetus dik Alya dengan
tawa lirih.
“Kok begitu!”
“Iya, soalnya Alya pernah mimpi begitu. Jakarta sangat indah tanpa kemacetan.”
“Kamu ini bisa saja Dik. Dunia mimpi kamu bawa-bawa.” Lirihku.
“Tapi Jakarta tetap indah Kak meski kemacetan di mana-mana. Buktinya setiap
orang selalu saja ingin ke Jakarta. Kalau nggak indah masa mereka mau. Nggak
mungkin kan? Meski kehidupan di sini susah, orang juga tetap banyak yang pergi ke
sini. Mungkin hanya Alya yang tidak mau ke Jakarta. Hidup di desa lebih enak dan
menyenangkan. Coba Kak Fajar dulu nggak maksa Alya, pasti aku nggak bakalan ada di
sini.”
Meski malam hari, kemacetan masih terjadi di man-mana. Terlihat berantakan
seperti mainan anak-anak yang tercecer. Disinilah letaknya. Di ibu kota Jakarta. Aku
melihat transportasi semrawut tak karu-karuan. Mulai dari jalannya juga para
pengemudinya. Dalam keadaan macet masih ada juga pengendara motor yang ugal-
ugalan. Tak tahu diri. Tidak siang tidak malam suasana Jakarta sama saja. Macet dan
banyak polusi.
Betul apa kata Dik Alya tadi. Pemandangan Jakarta sangat jauh berbeda dengan
pemandangan di kampungku. Tak ada kata macet di sana. Polusi kendaraan pun tiada.
Bahkan untuk kendaraan pribadi, jari tangan kita tak kan habis utuk menghitungnya
dalam sehari. Masih sangat asri dan berseri. Pepohonan di jalan masih sangat rindang.
Hamparan sawah yang hijau menambah kesejukan udara. Benar-benar sejuk dan
terbebas dari polusi. Membuat mata betah untuk terus memandangnya.
Lalu sampai kapankah kemacetan ibu kota bisa di atasi? Nggak tahu kan? Sama,
aku juga nggak tahu. Sudah bosan. Setiap hari melihat macet dan polusi. Nggak ada
selesai-selesainya. Nafasku terasa sesak merasakan macetnya jalan ibu kota. Semua
warga juga sudah stress merasakan kemacetan kota.
42
Dari puncak tugu Monas ini, aku menikmati pemandangan seluruh penjuru kota
Jakarta. Di arah selatan mataku menangkap kokoh dan tegaknya Gunung Salak di
wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ke arah utara ada laut yang membentang luas
dengan pulau-pulau kecil berserakan. Tampak lampu kerlip-kerlip di tengah lautan.
Mungkin para nelayan yang sedang pulang dari melaut atau justru baru saja pergi
melaut untuk mencari ikan. Sementara ke arah Barat, Bandara Soekarno-Hatta terlihat
ramai oleh pesawat yang sedang landing dan take off.
“Alya, dengan siapa di sini?” suara perempuan kudengar di sampingku sedang
menyapa dik Alya. Dik Alya terkaget.
“Cintya! Aku dengan Kakakku. Kamu sama siapa?”
“Tante dan omku. Tapi mereka ada di bawah.”
Cintya tersenyum setelah melihatku. Aku menganggukkan kepala. Aku kembali
memandangi ruwetnya jalan ibu kota. Cintya berbincang dengan Adikku. Tak tahu topik
apa yang sedang dibicarakan.
“Kak kita turun yuk.” Ajak dik Alya.
“Kita ngobrol saja di bawah saja, tante Linda telah menunggu kita.” Ikut Cintya.
Kami turun lewat lift yang ada. Kami berempat ngobrol di pelataran Monas.
Sambil menikmati udara malam dan makanan kecil yang dibeli oleh Cintya. Kami
seperti keluarga kecil yang begitu harmonis. Mula-mula kami ngobrol soal kegiatan
masing-masing. Kemudian Cintya mengajakku bicara tentang Jakarta. Kami bercerita
ke sana-kemari. Dan CIntya becerita tentang Amerika.
Kata Cintya, Amerika Serikat adalah negara dengan tingkat kehamilan remaja
tertinggi di dunia. Angka statistik yang terus naik setiap tahun itu membuat beberapa
lembaga kesehatan mengkritik pemerintahan. Pemerintah Amerika dinilai salah
mengalokasikan dana KB. Sehingga jumlah kehamilan pada remaja Amerika
meningkat. Program KB yang dibuat oleh pemerintah dinilai tidak efektif dan hanya
menghamburkan uang negara. Cecile Richards, Presiden KB Amerika Serikat,
mengungkapkan lebih dari US$ 1 miliar telah dihamburkan selama satu dekade untuk
mendukung program KB. Namun uang sebanyak itu tidak mampu menekan angka
kehamilan pada remaja dan tidak sanggup mengurangi berbagai penyakit kelamin.
Kajian terbaru dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC)
menunjukkan angka kehamilan pada remaja Amerika telah melonjak tajam selama 15
43
tahun terakhir. Sementara pada 2005 tingkat kehamilan pada remaja mencapai 40,5
kehamilan untuk setiap seribu remaja wanita. Angka statistik itu menurut CDS
merupakan yang terbesar sejak 1991, di tengah gencarnya pendidikan kontrasepsi,
penggunaan kondom, pencegahan AIDS dan penyakit kelamin. Secara persentase,
tingkat kehamilan pada remaja terutama terjadi pada perempuan Afro-Amerika. Pada
kelompok ini, tingkat kelahiran telah meningkat 5 persen dengan rasio 63,7 kehamilan
untuk setiap seribu remaja wanita.
The Guttmacher Institute, lembaga yang menekuni masalah kebijakan kesehatan
seksual menyebutkan, tiga dari remaja wanita Amerika tidak pernah menerima
pendidikan tentang pembatasan kelahiran. Penelitian Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) tentang kesehatan dikalangan remaja menunjukkan bahwa, negara-negara maju
memiliki remaja terbanyak yang aktif secara seksual. Dan Amerika Serikat merupakan
negara dengan tingkat kehamilan remaja tertinggi di dunia dengan 1 juta remaja wanita
yang hamil setiap tahun. Sebagian besar (95 persen) kehamilan itu merupakan
kehamilan yang tidak diharapkan dan berakhir dengan pengguguran.
“Remaja Amerika itu sangat akrab dengan pergaulan bebas. Pergaulan terhadap
lawan jenis tidak memiliki batas yang jelas. Negara pun mendukung budaya itu,
sehingga tidak ada hak bagi orang tua untuk melarang aktivitas kebebasan anak-anak
mereka. Budaya ini memiliki andil yang cukup besar dalam penularan penyakit seksual.
I always see my friend with her boyfriend kissing and hugging. Berciuman dan
bermesraan adalah hal yang biasa di lakukan oleh para remaja.” ucapnya.
“Bagaimana dengan dirimu?” tanya dik Alya.
“No. I don’t interest it. Meski waktu itu aku belum masuk Islam, tapi aku memang
sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dilakukan oleh teman-temanku. Aku juga
sering di ajak teman-temanku untuk melakukan hal itu. Ke kafe, diskotik dan tempat-
tempat hiburan malam lainnya.”
“Lalu?”
“I rejected hardly. Sekali lagi aku katakan, aku sangat tidak tertarik dengan hal
itu. Aku juga sering diajak ke tempat-tempat judi oleh teman-temanku. Di sana ada dua
tempat judi yang sudah dilegalkan oleh pemerintah Amerika. Reno dan Las Vegas.
Sudah sejak tahun 1931 kota Reno telah melegalkan judi.”
44
Kami pun ngobrol dengan Cintya tentang pergaulan remaja di Amerika. Dalam
sebuah survey tentang kehidupan sex remaja yang digelar oleh sexsmarter.org yang
melibatkan sekitar 1051 laki-laki dan perempuan, diperoleh hasil sebagai berikut. Paling
tidak 65% siswa telah mendapatkan pendidikan tentang penyakit menular seksual
maupun kontrasepsi dalam pelajaran di kelas. Dan 25% siswa belum pernah sama sekali
mendapatkan pendidikan tentang hal tersebut. Hampir 60% siswa akan mendiskusikan
tentang pengalaman seksualnya dengan partner sexnya terutama ketika berkaitan
dengan intercourse 10 . Tiga puluh empat persen laki-laki dan 24% perempuan
mengatakan bahwa pengalaman seksual pertama mereka dilakukan tanpa rencana alias
mendadak. Dan biasanya terjadi lebih cepat dari yang mereka rencanakan. Dalam
survey ini, 18% perempuan mengaku masih perawan, sedangkan pria hanya 34% saja
yang masih perjaka. Dua per tiga perempuan yang disurvei (sekitar 60%) dan hampir
90% laki-laki tahu bagaimana menggunakan kondom. Dan 40% wanita akan menolak
berhubungan apabila pihak laki-laki tidak menggunakan kondom. Enam puluh enam
persen perempuan memiliki komitmen untuk melanjutkan hubungan ketahap lebih
serius misalnya, melalui pertunangan maupun perkawinan. Namun hanya 38% laki-laki
yang berpikir sama. Satu per tiga laki-laki (33%) dan 1/5 perempuan (19%)
beranggapan, jika seorang wanita berpakaian seksi merupakan sebuah ajakan untuk
berhubungan sex.
Mendengar cerita Cintya, aku merasa miris sekali. Para remaja banyak yang
melakukan hubungan sex diluar nikah. Dan kebanyakan hal itu dilakukan suka sama
suka. Gadis di sana banyak yang hamil dan menjadi ibu diusia muda. Hampir tak ada
kasus pemerkosaan di Amerika. Ya, memang tak ada pemerkosaan di sana karena
semua dilakukan suka sama suka. Pas banget kan. Tak bisa kubayangkan, andaikata hal
itu ada dan terjadi di Indonesia. Huh! Baru mendengar saja sudah ngeri, bagaimana
kalau terjadi sungguhan. Jangan sampai ya!
***
10
Hubungan kelamin.
45
5
SIAPA GADIS BERNAMA
INDAH ITU?
Pulang dari Monas jam sembilan lebih. Aku langsung beranjak ke kamar mandi.
Mengambil air wudhu untuk sholat Isya’. Aku tidak langsung tidur meski badan terasa
capek. Malam ini aku harus melanjutkan novelku yang berjudul Tersenyumlah
Indonesiaku. Setiap kali aku mengetikkan kata-kata dalam komputer, aku selalu terharu
dan kadang meneteskan air mata. Aku tak tega melihat para pedagang kaki lima
digusur-gusur, dirampas, dan dihancurkan gerobak dagangannya. Aku jadi heran dengan
ulah pejabat sekarang ini. Sudah nggak bisa ngasih pekerjaan, eh yang sudah bisa kerja
malah dihancurkan. Maunya apa mereka. Kok tega-teganya merampok harta rakyatnya
yang memang sudah miskin. Persis seperti apa yang pernah dialami ummiku dulu.
Dagangannya ludes. Tak bisa melawan dan berbuat apa-apa.
Apa yang bisa aku lakukan untuk melawan mereka. Apa bedanya mereka dengan
pencuri atau perampok yang menggasak harta para korbannya? Gara-gara mereka
dagangan para PKL hancur. Padahal dagangan mereka adalah harta satu-satunya. Kalau
digusur berarti sama dengan merampok hartanya karena menghilangkan harta benda
mereka. Kejam sekali!
Mereka berdagang untuk mencari nafkah keluarganya. Membiayai anak-anaknya
agar bisa sekolah dan menjadi orang pintar. Kalau pintar juga untuk kebaikan negara ini
sendiri. Kenapa harus dirampas hak mereka. Patutkah menomersatukan estetika kota
lalu membuat kesengsaraan dimana-mana?! Pantaskah menomorsatukan keindahan kota
lalu merampok harta rakyatnya. Rakyat kecil sudah susah, kenapa harus ditambah
susahnya. Di mana hati nurani mereka? Apa nggak kasihan pada rakyat kecilnya?
Memang keindahan kota itu penting, tapi lebih penting mana dengan kehidupan rakyat
kecilnya? Kalau rakyatnya yang jadi korban itu sama saja bohong. Menghianati
rakyatnya. Menjadi seorang pemimpin ‘kan untuk memakmurkan dan mensejahterakan
rakyatnya dan bukan kotanya. Kenapa yang terjadi malah sebaliknya?! Sebagai orang
kecil, kita memang hanya bisa menerima perlakuan para pejabat yang tak berhati nurani
itu. Biarlah rakyat kecil sengsara, kehidupannya amburadul dan tak terurus sedemikian
46
rupa, asalkan para pejabatnya sejahtera dan befoya-foya serta pesta pora dengan uang
rakyatnya. Itukah yang diinginkan oleh para pejabat negeri ini?! Sungguh ironis!
Semoga akhir tahun nanti novel ini bisa diterbitkan. Mengukir satu kisah dalam
goresan tinta sastra untuk mengetuk hati nurani para pemimpin negara agar lebih bisa
memikirkan nasib rakyatnya dan menomorduakan kepentingan yang lain. Setengah dari
pemasukan yang aku terima akan kuberikan pada sebuah yayasan yang mengurus anak-
anak jalanan. Sisanya bisa untuk biaya kuliah dik Alya atau aku tabung untuk
meneruskan kuliah S2ku di New York sana. Aku ingin sekali belajar di negara super
power itu. Tertarik untuk mengetahui ragam budaya yang ada di sana. Bermacam etnik
dan agama. Bermacam suku dan bangsa. Para emigran muslim yang ada di sana.
Bagaimana nasibnya?
Baru beberapa halaman mengetik, ada suara HP menjerit. Bukan dari HPku. Lama
tidak diangkat. Aku keluar mengambilnya. Baru kupegang sudah mati.
“Satu panggilan masuk tak terjawab.” Tulisan ini terpampang di layar HP Dik
Alya. Aku melihatnya. Penelfonnya adalah Naela Salsabila. Deretan nomor cantik
menemaninya. 0812 9000 9999. Sebentar kemudian HP menjerit lagi. Tanda sms
masuk. Aku tak berani membukanya. Siapa tahu ini hal pribadi. Kuberikan saja pada
adikku. Kuketuk pintu kamarnya.
“Masuk saja Kak.” Suaranya terdengar malas. Pasti orangnya sudah tidur.
“Kenapa nggak diambil?”
“Sudah ngantuk Kak, malas keluar.”
“Ada satu pesan.”
“Siapa kak?”
“Belum kubuka.” Kusodorkan Hp itu pada Dik Alya.
“Siapa Dik?” Tanyaku.
“Teman kampus Kak.”
“Pasti cowok.” Tebakku.
“Bukan.”
“Perhatian banget kayaknya.” Cetusku.
“Emm… siapa ya kak!” Dik Alya malah senyam-senyum sendiri. Aku jadi
penasaran dibuatnya.
“Kalau yang telfon tadi siapa?”
47
“Itu dia orangnya Kak.” Jawabnya girang, meski matanya sudah terlihat ngantuk.
“Namanya cantik kan! Secantik orangnya. Semanis senyumnya. Sepandai
otaknya. De-el-el pokoknya.” Lanjutnya. Sepertinya kantuk dik Alya hilang. Dia malah
terus memuji anak itu. Entah, malaikat atu siapa? Padahal selama ini dia tidak pernah
memuji orang lain. Yang sering ia puji adalah dirinya sendiri.
Aku melangkah keluar. Bosan mendengar celotehan dik Alya. Kalau diladenin
nggak akan selesai-selesai. Memang adikku yang satu ini kalau lagi ceria sedikit saja,
ngomongnya suka ngelantur ke mana-mana. Apa yang ada di otaknya keluar semua.
Mungkin bisa jadi juara kalau mau ikutan lomba cerita. Aku pun sering digodanya.
“Kak…!!”
“Apa lagi?”
“Mau kukenalkan sama orangnya nggak?”
Aku tak merespon dan langsung keluar. Tiba-tiba telfon rumah berdering. Lelaki
tua dari sebrang memberiku salam. Kujawab.
“Wa’alaikum salam.”
“Ini siapa.” Tanyaku.
Ia menyebutnya dengan nama Abdullah Salam. Aku langsung teringat nama itu.
Aku telah samar dengan suaranya yang semakin tua. Beliau adalah kakekku yang ada di
desa sana.
“Ya Allah kakek!” Ucapku girang.
“Pripun kabare? Wonten nopo dalu-dalu telfon mriki?11” Lanjutku menanyainya.
Aku berbincang dengan kakekku memakai bahasa jawa. Kami ngobrol agak lama
dalam telfon. Beliau memberi tahu kalau nenek sedang sakit. Beliau meminta ummi
agar segera pulang ke kampung. Selesai bicara aku langsung memberi tahu ummi kalau
nenek sakit.
Itulah keluarga kakekku. Mereka hidup di desa. Desa kecil yang bernama
Blingoh. Letaknya di kecamatan Keling, kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Di desa itulah
kami semua lahir dan dibesarkan. Tanahnya asri dan sepi dari polusi. Suasana yang
ramah dan bebas dari huru-hara manusia.
Kakek selalu mengajariku untuk selalu berbahasa krama. Atau istilah jawanya
boso kromo. Bahasa jawa yang halus. Sangat tidak pantas dan tidak cocok apabila
11
Bagaimana kabarnya? Ada apa malam-malam telfon kesini.
48
bahasa tersebut dipakai untuk marah. Karena kehalusannya. Orang nggak mungkin
marah dengan bahasa tersebut. Setiap kali berbincang, beliau pasti menggunakan bahasa
itu. Sejak dari kecil aku selalu diajari bahasa itu. Satu bahasa yang jadi cirikhas orang-
orang di desaku dalam percakapan sehari-hari. Bahasanya terasa lebih halus
didengarkan oleh telinga dibanding dengan bahasa manapun di dunia. Tak ada yang
lebih halus melebihi halusnya boso kromo. Ada tingkat kesopanan yang berbeda-beda.
Bagaimana anak yang lebih muda berbicara dengan orang yang lebih tua. Semua ada
tingkat kesopanan masing-masing. Begitu juga sebaliknya. Tidak seperti bahasa
Indonesia, Inggris, Arab atau bahasa yang lain. Itulah boso kromo, bahasa yang
kehalusannya bisa melunakkan hati orang yang diajak bicara. Kalau di rumah, aku
sering menggunakan bahasa tersebut. Termasuk juga saat berbincang sama ummiku di
sini.
Kakekku sewaktu kecil hidup miskin dengan keluarganya. Beliau ditinggal mati
orang tuanya yang ikut perang melawan penjajahan belanda. Setelah menginjak usia
dewasa beliau mempunyai semangat yang besar sekali untuk merubah hidupnya.
Merubah kemiskinannya. Merubah segalanya. Beliau punya dua anak. Semuanya
cewek. Yang satu ibuku dan satunya lagi Mbak Nora yang ikut tinggal bersama kakek
di desa.
Mulanya beliau ikut bekerja untuk bercocok tanam di sawah orang lain. Sedikit
demi sedikit hasilnya dikumpulkan demi meraih cita-citanya. Ia rela memberi makan
anak-anaknya dengan gaplek12. Termasuk ummiku sendiri. Beliau jarang makan nasi,
paling mewah adalah nasi jagung atau bahkan hanya makan ketela rebus saja. Dengan
kerja kerasnya, kakekku akhirnya bisa membeli sawah sendiri. Semakin lama sawah
kakek semakin luas hingga sekarang ini. Hasil panennya pun melimpah. Kakek tak lupa
memberikan zakatnya. Itu harus dilaksanakan. Zakat adalah untuk membersihkan jiwa
kita sendiri. Tidak akan mengurangi harta yang kita berikan pada orang lain karena itu
memang bukan milik kita, tapi milik mereka yang berhak menerimanya.
Waktu masih kecil sebelum di pondok, aku sering ikut ke sawah bersama kakek.
Mencari ikan-ikan kecil bersama teman-teman sebaya dan kecek13 di kali14. Mengirim
makanan untuk kakek. Ketika perut sudah mulai lapar, kami makan bersama di sebuah
12
Ketela yang di keringkan terlebih dahulu sampai menjamur lalu di masak.
13
Bermain air.
14
Sungai kecil di sawah.
49
gubuk kecil yang ada dipinggir sawah. Makan bersama dalam satu wadah. Hanya nasi
putih dengan lauk sambal. Meski begitu nikmatnya melebihi ayam panggang. Ada tawa
dan canda dalam gubuk reyot kami waktu itu. Kami sungguh bahagia, seperti orang
kaya yang tinggal dalam istana, bahkan lebih dari itu.
Kemiskinan kami waktu itu bukanlah neraka dunia bagi keluarga, akan tetapi hal
yang bisa membuat diri kami memacu semangat untuk menjalani hidup yang lebih baik
dan berarti. Selalu ada kebahagiaan yang menyertai kami walaupun dalam keadaan yang
serba kekurangan. Bagi kami kebahagiaan bukan datang dari kekayaan dan harta benda
semata. Kalau memang kekayaan dan harta benda adalah sumber kebahagian, sudah
barang tentu tidak akan ada canda tawa di antara kami waktu itu. Tapi buktinya, kami
masih merasakan bahagia dan bisa tertawa. Kebahagiaan yang kami rasa bahkan
melebihi orang-orang kaya yang hidup di dalam istana megah dan berjaya. Itu nyata dan
kami rasakan bersama keluarga.
Justru banyak sekali jerit tangis yang timbul pada orang kaya. Orang-orang kaya
yang tinggal dalam rumah mewah dengan segala problematika hidupnya. Mikir ini.
Mikir itu. Mau tidur nggak bisa karena memikirkan hartanya. Takut kalau dirampok
atau dicuri orang. Rebutan harta antara yang satu dengan yang lainnya. Saling bunuh
gara-gara berebut harta. Itu adalah satu bukti nyata bahwa kebahagiaan tidak ditentukan
oleh miskin atau kaya. Tinggal dirumah mewah atau hanya gubuk reyot ditengah sawah.
Orang melarat atau pejabat. Tapi kebahagiaan itu bisa hadir jika kita mampu menjalani
hidup dengan bijaksana. Menjalani dengan sebaik-baiknya. Selalu berusaha untuk
menerima apa saja yang telah diberikan oleh Allah pada kita. Selalu berterima kasih atas
pemberian Allah. Tidak berkeluh kesah. Selalu melihat ke bawah dalam urusan dunia.
Karena dibalik penderitaan kita ada orang-orang yang lebih berat penderitaannya.
***
Malam semakin larut. Tingkah dik Alya tadi membuat hatiku merasa kesal. Dia
seperti sengaja mempermainkan perasaanku. Aku jadi penasaran dibuatnya. Dari kamar
sebelah dik Alya terdengar berbincang lewat HP. Mungkin cewek yang disebut tadi
menelfon kembali.
50
“Eh, ada yang penasaran sama kamu. Pokoknya ada.” Dengan sedikit tawa dik
Alya mengeluarkan kalimat itu. Sepertinya, dia memang ingin mengerjaiku.
“Awas ya dik, kalau berani macam-macam sama aku. Ceria sedikit saja sudah
berlagak seperti itu, nggak ingat apa, waktu sakit kemarin.” Hatiku mengerutu sendiri.
Aku merasa kesal dengan sikapnya. Dia senyam-senyum sendiri dihadapanku.
Siapa sebenarnya cewek itu? Baru kali ini aku penasaran dengan sebuah nama wanita
yang katanya cantik. Jangankan hanya nama! Andaikan bertemu dengan orangnya pun,
aku tak akan mau mempedulikannya. Apa kelebihan cewek itu, hingga harus dipuji-puji
dik Alya. Seperti super star saja. Jangan-jangan dik Alya hanya mengada-ngada biar aku
penasaran. Biar aku memikirkannya. Atau dia sengaja bohong padaku. Ah, tak mungkin
dia bohong. Itu bukan sifat adikku.
Besok saja akan aku tanyakan padanya. Aku ingin tahu siapa sebenarnya cewek
yang bernama indah itu. Aku tak ingin dibuat penasaran. Aku paling benci dengan yang
namanya penasaran. Sekarang waktunya tidur. Sudah jam 23.10. Kucoba tuk
memejamkan mata. Tapi tak bisa. Aku teringat sikap dik Alya. Menjengkelkan,
menggemaskan, mengesalkan. Senyam-senyum sendiri seperti baru dapat hadiah mobil
saja. Aku masih terus teringat nama cantik itu. Orangnya seperti apa dan bentuknya
bagaimana? Anganku terbang keangkasa membayangkan sosok wanita yang tak nyata.
Apa gerangan yang terjadi hingga aku harus memikirkan hal ini? Ini bukan sifatku. Aku
tak pernah terpikir seorang wanita. Apalagi ini hanya sebuah nama. Nama yang aku
sendiri tak kenal orangnya. Aku merasa ada kekuatan yang muncul dari nama itu. Lalu
memanggil hatiku. Entahlah, apa yang akan terjadi dengan hal ini selanjutnya. Aku tak
ingin terlena hanya memikirkan sebuah nama cantik jelita.
Satu nama cantik yang aku kenal selama ini adalah Allah semata. Ya, Allah
adalah nama cantik yang tiada duanya. Nama cantik yang aku sendiri belum pernah
bertemu dengan-Nya, namun sudah ada ikatan batin yang luar biasa. Sudah ada cinta
yang memikatnya. mengapa aku mencintai-Nya padahal aku belum pernah bertemu
dengan-Nya? Kenapa aku selalu merindukan dan berharap bisa bertemu kelak? Itulah
nama cantik Allah yang selalu memikat hatiku. Nama yang selalu aku patri dan sebut
dalam relung jiwaku. Dalam setiap detik nafasku. Dalam setiap kerdipan mataku. Nama
Allah akan selalu terukir dalam hatiku. Begitu juga nama-nama cantik lainnya yang
51
terkumpul dalam Asmaul Husna.15 Yang selalu kusebut dalam setiap doa usai sholatku.
Nama-nama cantik yang selalu menjadi pelipur laraku di saat gundah gulana
menyerangku.
Malam ini ada nama cantik baru yang sedang menghiasi hatiku. Salsabila adalah
nama yang cantik. Ingin rasanya aku ke kamar dik Alya lalu memarahinya. Tapi
tampaknya dia sudah tidur. Kalau begitu kukirim pesan saja padanya. Nanti kalau tidak
dibalas bagaimana? Ya sudah aku telfon saja. Kupencet nomor dik Alya. Lama tak di
angkat. Akhirnya diangkat juga.
“Belum bobok ‘kan dik.”
“Ada apa lagi kak, sudah malam, aku sudah tidur!” Jawabnya terdengar malas.
“Aku teringat omongan dik Alya terus.”
“Omongan yang mana?”
“Cewek yang tadi kamu kenalkan padaku.”
“Ya Allah Kakak! Alya ‘kan cuma bercanda. Masa dipikir sampai segitunya.
Mendingan mikir skripsi Kak biar cepat kelar.”
“Ini ‘kan gara-gara kamu juga.”
“Tidak biasanya kakak begitu. Aneh banget. Ngapain mikir cewek segala. Kakak
‘kan nggak pernah mikir soalcewek. Sudahlah Kak lupakan saja. Selamat tidur. Ngantuk
banget. Night brother.”
Dik Alya mematikan HPnya. Kutelfon lagi tapi tak bisa. Ia tak mau diganggu.
Aku masih didera penasaran. Penasaran untuk pertama kalinya pada seorang wanita.
Kucoba mengalihkan anganku untuk melupakan nama itu. Kubiarkan terbang kealam
bebas. Memikirkan kejadian alam semesta. Ada tumbuhan, hewan, bulan, bintang
matahari, planet-planet, gunung serta lautan yang begitu luasnya. Besar sekali tanda
kekuasaan tuhan yang ada di alam ini. Tak satu pun yang bisa menandingi ciptaan-Nya.
Siapa yang bisa menumbuhkan tanaman? Menjadikan daun-daun yang hijau menjadi
kuning lalu layu dan jatuh ke tanah. Menjadikan buah-buahan menjadi masak?
Menjalankan matahari dari timur menuju barat. Planet-planet beredar pada tempatnya
masing-masing dan tidak ada yang pernah tabrakan seperti mobil. Tidak seperti buatan
manusia, meski sudah dikasih jalan sendiri-sendiri, tapi masih terjadi tabrakan di mana-
15
Nama-nama yang bagus yang di miliki Allah, jumlahnya sembilan puluh sembilan.
52
mana. Tidak bisa teratur seperti jalannya matahari, bulan serta planet-planet ciptaan
Allah itu.
Manusia mana yang mampu menciptakan alam itu. Sangat amat mustahil bisa
menciptakan semua itu. Benda-benda langit tidak bisa berjalan dengan sendirinya.
Mereka pun tidak terjadi dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakan dan
mengaturnya. Tak ada benda yang wujud di dunia ini tanpa ada penciptanya. Makanan
yang ringan saja ada yang membuatnya apalagi langit dan bumi. Mustahil bila ada yang
mengatakan benda itu ada dengan sendirinya. Lalu siapa? Manusiakah? Patung-
patungkah? Berhalakah? Mereka semua tak bisa dan tidak akan mungkin bisa membuat
itu semua. Bila mereka semua tidak mungkin bisa menciptakan dunia dan seisinya,
artinya ada yang lebih berkuasa. Siapa dia? Allah. Kenapa Allah? Ya, karena manusia
tak bisa. Berhala pun demikian. Mahluk yang lain juga tak ada yang mampu. Hanya
Allah yang mampu dan serba bisa serta selalu berkuasa.
Di alam segede ini memang harus ada Sang Pencipta karena di dalam kehidupan
nyata ada benda-benda yang tercipta. Semua yang tersaji di alam raya ini adalah bukti
bahwa Allah itu Wujud (ada). Atau ditunjukkan melalui orang-orang yang berkumpul
dan beribadah. Kita pun musti mengikuti agama yang meyakini hanya satu tuhan.
Karena jika ada lebih dari satu tuhan, secara otomatis akan sangat komplek dan akan
terjadi chaos antara sesama tuhan. Mereka akan saling berebut bila mau membikin
sesuatu. Akan saling bertengkar bila tidak ada kecocokan antara satu dengan yang lain.
Kalau tuhan bertengkar itu artinya tuahn lemah dan tak bedaya. Sama seperti manusia.
Kalau sama berarti bukan tuhan. Tuhan harus bediri sendiri dan tak membutuhkan yang
lain. Begitulah logikanya.
Hatiku bergetar memikirkan ciptaan Yang Maha Dahsyat itu. Sungguh besar
tanda-tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan pada manusia. Itulah gunanya
memikirkan ciptaan Allah. Tafakkaruu Fii Kholqillaahi Walaa Tafakkaruu Fillaahi.
Pikirkanlah kalian semua apa yang diciptakan Allah dan janganlah kalian memikirkan
Allah. Jadi pikirkan kejadian alam semesta, niscaya akan bisa menambah keyakinan kita
akan kebesaran Allah. Dengan bertafakkur akan dapat menambah dan menguatkan
keimanan kita. Hatiku bergetar memikirkan kejadian alam semesta. Betapa besar dan
agungnya kekuasaan Allah. Segera kutata hatiku dengan lantunan ayat-ayat al-Qur’an.
Ketentraman merasuki jiwaku. Sesaat kemudian mataku terpejam. Lalu gelap.
53
Dalam gelap aku bertemu seorang wanita cantik. Aku mengucapkan salam pada
wanita itu. Tapi dia cuek dan tidak menghiraukanku sama sekali. Dia tak mau
menjawab salamku. Aku terbangun kaget. Kubaca istigfar berulang kali. Memohon
perlindungan pada Allah dari godaan syaiton.
Siapa wanita yang aku temui dalam mimpi itu? Aku tak kenal dan tak tahu. Tapi
anehnya aku mengucapkan salam padanya. Bahkan terkesan mencari perhatian darinya.
Padahal dia sangat cuek dan tidak mau memperhatikanku. Mimpi aneh! Aku tidak tahu
apa artinya. Aku tak ingin menafsirkan mimpiku pada sesuatu yang jelek. Semoga tidak
terjadi apa-apa denganku. Dan semoga saja artinya bagus. Mimpi ketemu dengan wanita
cantik. Aku memberi salam padanya. Tapi dia tak mau menjawab salamku. Aneh. Aneh
sekali.
***
54
6
PESTA ULANG TAHUN
Bel rumah berbunyi. Dik Alya keluar membukakan pintu. Lalu masuk lagi.
“Cintya um!” Katanya sedikti berbisik.
“Suruh masuk dong Al!” sahut ummi.
Ummi keluar menemui Cintya. Beliau berbincang di ruang tengah. Dik Alya ke
belakang membuatkan minuman.
“Fajar ada bunda?” Tanya Cintya pada ummiku. Aku mendengar perbincangan
mereka dari kamar.
“Memangnya ada perlu apa?”
“Begini bunda, tanteku akan mengadakan pesta ulang tahun nanti malam. Mereka
menyuruhku untuk mengajak keluarga bunda.”
Mendengar kalimat dari CIntya, aku langsung keluar. Dik Alya datang membawa
minuman.
“Di mana pestanya Cin?” Sahut dik Alya sambil menyodorkan minuman.
“Boleh kan um Alya ikut.” Lanjut dik Alya memelas.
“Boleh saja.”
“Asyik!” Cetus dik Alya.
“Wah, harus menyiapkan kado yang banyak Cin!” Candaku.
“Nggak usah mikir itu. Tanteku cuma minta kalian bisa ikut. Itu sudah merupakan
kebanggaan buat kami.”
“Kak Fajar bisa ikut kan?” Tanya dik Alya.
“Aku pikir-pikir dulu. Kalau nggak ada kegiatan pasti akan aku usahakan.”
“Harus ikut Kak. Demi Alya. Please!” dik Alya merengek seperti anak kecil yang
sedang minta mainan.
“Iya Fajar. Sekali ini saja. Demi menghormati undangan tanteku dan demi
menyenangkan hati orang lain. You should join us, Ok!” sahut Cintya.
“Besok aku bimbingan ke dosen Dik, dan malam ini aku harus meneruskan
skripsiku.” Jelasku.
“Kalau Kakak nggak ikut, Alya juga nggak.” Ucap dik Alya kesal.
55
“Kalian ‘kan sudah begitu baik pada kami, jadi nggak enak kalau kalian nggak
ikut bersama kami.” Ucap Cintya.
“Please Kak, hormati Cintya. Untuk yang satu ini jangan ditolak. Sekali lagi demi
Alya. Adikmu tercinta.” Dik Alya terus memaksaku dengan segala rayuannya.
“Sudah jangan bertengkar! Begitu saja di ributkan, kayak anak kecil saja kalian.
Ikutlah, demi kebaikan.” Ummi menasehati kami.
Kalau ummi yang bicara pasti kami nyerah dan mengikutinya. Demi kebaikan
biarlah aku ikut saja.
“Kalau begitu aku pulang dulu ya, jam tuju malam kalian harus sudah siap.” Pinta
Cintya lalu pamitan pulang. Dia mencium tangan ummi layaknya anak sendiri.
Selama ini Cintya begitu akrab sama ummi. Sering curhat pada ummi kalau
sedang ada masalah. Pokoknya seperti anaknya sendiri. Dik Alya tampak girang sekali.
Dia sangat gembira. Dia memang jarang sekali keluar rumah. Kalau tidak ada keperluan
yang sangat penting, dia lebih sering di rumah menemani ummi. Ummi pun sering
menasehati agar anak cewek jangan suka keluar rumah. Kalaupun terpaksa keluar
rumah harus ditemani oleh muhrimnya. Hal itu lebih menjaga dirinya. Nggak baik kalau
keluar sendirian. Apalagi malam-malam. Ummi nggak suka kalau ada anak cewek
keluyuran ke mana-mana. Bergaul bebas dengan semua orang. Seperti kebanyakan
cewek sekarang ini. Pergi berdua bersama cowok. Entah apa saja yang mereka lakukan.
Etika yang jauh dari ajaran Islam.
Memang remaja zaman sekarang ini banyak yang tak mempedulikan nilai-nilai
Islam meski mereka mengaku Islam. Kenapa ya, kebanyakan mereka seperti itu?
Seharusnya ‘kan kita bangga menjalankan ajaran Islam. Bukannya malah ikut-ikutan
budaya yang telah merusak citra Islam. Paling-paling satu atau dua yang masih teguh
dengan pendirian Islamnya. Termasuk juga teman-teman mahasiswiku di kampus.
Katanya mahasiswi di kampus Islam, tapi pakainnya banyak yang tidak mencerminkan
Islam. Masih banyak yang berbusana ketat sehingga lekuk tubuhnya bisa dilihat. Meski
mereka berjilbab, namun sepertinya jilbab itu tidak dilakukan sepenuh hati. Ada
keterpaksaan dari luar yang mengharuskan mereka untuk berjilbab. Kalau diluar
kampus malah banyak yang lepas jilbabnya. Jalan sama cowok berduaan. Gandeng-
gandengan. Pegang-pegangan tangan. Padahal mereka bukan muhrimnya. Apa jadinya
kalau anak-anak Islam seperti itu? Siapa yang akan mempertahankan nilai-nilai Islam
56
kalau bukan orang Islam sendiri? Siapa yang akan mengaplikasikan ajaran Islam kalau
bukan kita sendiri?
Maka dari itulah, ummi selalu menanamkan pada kami tentang nilai-nilai Islam.
Termasuk dalam pergaulan dengan lingkungan sekitar. Jangan bergaul dengan
sembarang orang. Anak cewek jangan suka kumpul bareng dengan anak cowok. Itu
berbahaya. Bahaya banget pokoknya! Ummi tidak hanya sekedar menanamkan, tapi
juga mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kami keluar dari jalur itu
ummi langsung menegur. Sifat inilah yang aku salut dari ummiku.
Aku sempat geleng-geleng kepala melihat kegirangan adikku. Harap maklum
karena dia jarang keluar, maksudnya ummiku memang selalu membatasi jam keluarnya
Dik Alya. Beliau takut dengan keadaan lingkungan kota Jakarta. Bagaimanapun
kondisinya, Jakarta selalu memberi ruang dan kesempatan untuk berbuat kejahatan
terhadap wanita. Dari situlah kekuatiran ummiku untuk mencegah Dik Alya agar tidak
suka keluyuran malam-malam. Dia senang sekali diajak pergi ke pesta. Merayuku
dengan segala macam jurus handalannya. Aku jadi teringat masalah kemarin yang
sempat terlupakan. Aku teringat siapa gadis yang bernama indah itu?
“Apa maksud Dik Alya senyum-senyum sendiri kemarin?” tanyaku padanya
mengingat wanita itu.
“Apaan kak, memangya Alya gila senyum-senyum sendiri!” Jawabnya sewot.
“Soal wanita itu.”
“Ya Allah, jadi kakak masih memikirkan hal itu! Jangan-jangan kakak…! Kata-
kata dik Alya menggantung.
“Ummiii..! Kak Fajar lagi jatuh....!” lanjutnya berteriak pada ummi. Tapi aku
langsung melempar bantal yang ada di sofa kewajahnya sebelum kalimatnya usai. Kami
saling lempar bantal. Ummi tak menghiraukan anak perempuannya itu. Keterlaluan
sekali Dik Alya sampai berteriak-teriak segala. Nggak baik wanita mengumbar suara.
“Oke Kak, Alya akan cerita yang sebenarnya. Supaya Kakak nggak penasaran
lagi. Dengarkan baik-baik Kak. Alya ‘kan sudah bilang kalau dia teman satu kelas.
Teman Cintya juga. Anaknya memang cantik. Manis. Enak dipandang. Santun tutur
katanya. Indah pribadinya dan nggak banyak gaya. Masih banyak sifat-sifat lain yang
nggak bisa Alya ceritakan. Anaknya cerdas Kak. Dia pernah jadi wakil kampus untuk
mengikuti percaturan mahasiswi di Malaysia. Dia selalu dapat cumlaude di setiap
57
semesternya. Selalu dapat juara jika ikut lomba. Pernah juara satu lomba pidato
Nasional. Dan masih banyak lagi prestasinya. Tapi nggak banyak yang tahu akan
prestasi gemilangnya. Ia sendiri juga nggak ingin dikenal banyak orang. Dia nggak suka
terkenal. Apalagi dengan cowok. Dia cuek banget kalau bicara soal cowok. Nggak
penting katanya. Lebih penting mikir belajar dan kuliahnya. Ya, begitulah Kak sifatnya.
Itulah Naela Salsabila. Sudah puas ‘kan Kak dengan cerita Alya.”
Dik Alya bercerita dengan gayanya yang mirip seperti pembawa acara
infotainmen di televisi. Matanya sambil berkedip-kedip seperti bintang mau jatuh.
Gayanya memang menjengkelkan. Aku langsung menyubit tangannya. Dia menjerit dan
mengaduh. Aku tak peduli. Siapa suruh dia berlagak seperti itu.
“Kamu memang nggak ada habis-habisnya ngerjain aku ya dik!” Ujarku.
“Alya harus bagaimana Kak Fajar sayang! Alya sudah ceritakan semuanya. Apa
lagi yang Kakak minta? Dia juga pernah kesini Kak.” Cetusnya.
“Terus!”
“Terus… Apanya yang terus Kak?” Dik Alya semakin bergaya dihadapanku. Aku
semakin jengkel dibuatnya.
“Aku nggak pernah lihat.”
“Yeee.. Nggak usah Ge-Erlah Kak. Dia kesini hanya mengambil bukunya yang
aku pinjam. Sudahlah Kak. Capek berdebat dengan Kakak terus. Nggak ada selesainya.
Kalau ingin tahu orangnya datang saja kerumahnya. Atau ke Fakultasku. Nanti biar
Alya kenalin sama orangnya. Berani nggak?!” ujar dik Alya panjang lebar sambil
melempar bantal kembali ke arahku lalu pergi ke kamarnya.
Aku seperti orang tolol berdebat dengan adikku tentang hal yang tak berguna. Aku
bingung merasakan diriku. Cewek itu memang aneh. Kenapa aku harus memikirkannya.
Aku belum pernah bertemu dengannya. Aku merasa ada sesuatu yang hinggap dalam
hatiku lewat satu nama cantik yang dimilikinya.
Apakah aku lagi...! Ah, itu mustahil. Nggak mungkin. It’s very immpossible for
me. It’s nonsent. Aku orang yang anti jatuh cinta. Meski dengan orang yang sudah aku
kenal. Apa lagi ini belum kenal. Tapi aku ingin tahu siapa sebenarnya gadis yang
sifatnya begitu sempurna diceritakan oleh adikku. Sekedar ingin tahu saja, bagaimana
sebenarnya cewek itu. Atau mungkin melihat fotonya. Andaikan rumahnya ada
disampingku, aku tak perlu penasaran seperti ini. Aku betul-betul orang yang paling
58
penasaran di dunia pada saat ini. Nama itu indah. Mungkinkah seindah sifat dan
perilakunya. Seindah hati dan karakternya. Salsabila adalah satu kata yang ada dalam al-
Qur’an. Aku sangat suka keindahannya. Dia adalah satu mata air yang ada dalam surga.
“Dalam surga itu mereka di beri segelas minuman yang campurannya adalah
jahe yang di datangkan dari sebuah mata air yang di namakan Salsabila. Mereka di
kelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila melihat mereka, kamu
mengira mereka adalah mutiara yang bertaburan. Apabila kamu melihat surga niscaya
kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka
memakai sutra halus yang hijau dan sutra tebal. Di pakaikan pada mereka gelang yang
terbuat dari perak. Dan tuhan mereka memberikan minuman yang bersih.16”
***
Jam setengah tuju malam Cintya memanggil kami berdua dan mengajak ke
rumahnya. Mobil Jazznya warna pink yang anggun sudah siap meluncur untuk
mengantarkan kami ke pesta. Dik Alya keluar bersama Cintya. Aku masih di dalam
kamar. Kusuruh mereka pergi dulu. Sebentar kemudian aku keluar. Ada yang hampir
aku lupa. Aku belum pamitan sama ummi. Pergi ke manapun aku harus selalu pamitan
sama ummi. Sampai di halaman rumah, dik Alya dan Cintya masih setia menuggu.
“Lama banget kak.” Dik Alya kesal. Aku hanya tersenyum.
“Never mind Al, yuk kita cabut.” Tukas Cintya.
Aku melihat selintas penampilan Cintya. Terlihat anggun dan mempesona.
Pakaiannya tampak berkelas dan mahal harganya. Ada bau parfum wangi yang aku
cium dari tubuhnya. Ada lipstick yang menghiasi bibirnya. Ia tampak lebih menawan.
Pakaiannya tampak berkelas. Sangat berbeda dengan hari biasa ketika mau berangkat
kuliah. Rambutnya tetap terbungkus rapi oleh jilbab warna merah muda dengan bunga-
bunga kecil warna putih. Semakin anggun saja Cintya. Seperti artis Holiwood. Dengan
jilbabnya, Cintya seperti bukan cewek dari Amerika. Aku jadi salut dengan
penampilannya. Dia selalu memelihara tubuhnya supaya tertutup. Dia tak mau ada lalat-
lalat berwajah manusia yang akan hinggap di tubuhnya. Alasan itu yang selalu aku ingat
dari mulutnya. Dik Alya juga tak kalah cantiknya meski penampilannya sangat
16
QS. Al-Insan: 17-21.
59
sederhana sekali. Tak ada make up di wajahnya. Cantiknya alami dan tak perlu dipoles
lagi.
Soal penampilan, kami memang bukan orang yang menomorsatukan pakaian atau
berdandan. Buat kami asal cocok dan sopan. Tidak perlu yang mahal-mahal. Dik Alya
juga tak pernah memakai pakaian yang ketat dengan lekuk tubuh yang bisa dilihat.
Meski berada di rumah, aku sendiri jarang melihat rambutnya terbuka. Dia memang
wanita yang punya prinsip kuat dalam menjaga pribadinya. Bila Cintya tak ingin
tubuhnya dihinggapi debu dan lalat, maka dik Alya pun tak ingin ada lelaki iseng yang
akan berbuat jahil pada dirinya gara-gara pakaian yang terlalu ketat. Tentulah sedikit
berbeda, karena Cintya gadis metropolitan dunia, sedang dik Alya hanya gadis kampung
yang numpang di Jakarta. Bila pakaiannya Cintya sedikit berkelas dan mahal harganya
itu maklum adanya.
Kedua wanita itu punya prinsip yang sama meski cara pikirnya berbeda. Sama-
sama ingin melindungi tubuhnya dari hal yang tak diinginkannya. Tidak seperti remaja-
remaja sekarang ini yang dengan bangga memperlihatkan keseksian tubuhnya dengan
pakaian yang super mini. Sampai-sampai banyak bagian tubuhnya yang bisa terlihat.
Tak ada rasa sungkan dan canggung sedikit pun dalam mempertontonkan auratnya.
Tampak begitu pede berjalan kesana kemari. Berlenggak-lenggok. Bergoyang-goyang
dengan pakaian terbuka. Tak merasa berdosa dengan penampilannya itu. Tak pernah
merasa dengan kemaksiatannya itu.
Aku jadi heran dengan tingkah-tingkah mereka. Apa maunya mereka?
Kebanyakan dari mereka mengaku muslimah, kenapa juga pakaiannya seperti itu? Itu
jauh dari Islam dan hanya merusak nilai-nilai Islam. Kalau mereka ingin buka-bukaan
mbok ya jangan kumpul sama manusia. Kumpul saja dengan mereka yang ada di kebon
binatang. Jadi sama-sama nggak berbusana. Sama telanjangnya. Kan sudah pas dan
cocok banget. Bener nggak?!
Apa bedanya manusia telanjang dengan binatang? Kayaknya nggak beda jauh?
Malah sekarang banyak binatang yang sudah memakai pakaian. Eh, manusianya malah
dibuka-buka bahkan telanjang. Kalau binatang telanjang itu pantas, karena dia nggak
punya akal. Kalau manusia telanjang?! Mereka dikaruniai oleh Allah akal sehat dan hati
nurani yang bisa dipergunakan untuk berpikir. Kenapa masih banyak yang berlaku
seperti itu. Dimana akal sehat mereka? Sudah matikah? Atau memang tak berfungsi?!
60
Kalau binatang telanjang masih bisa dijual dengan harga berjuta-juta rupiah. Tapi kalau
manusia yang telanjang, siapa yang mau membelinya? Diobral saja mungkin nggak
bakalan laku. Kalaupun laku itu hanya mereka, orang-orang yang sama nggak punya
akal. Kalau kenyataan seperti itu, apa masih mau wanita suka membuka dan
mempertontonkan auratnya? Nggak kan....!! Kalau masih mau, lalu apa bedanya dengan
mereka yang hidup di kebon binatang...?! Kasihan banget mereka! Menjual diri hanya
dengan harga 50 ribu, 100 ribu. Segitu rendahkah derajat wanita sekarang ini?!
Kami berjalan menuju mobil Cintya. Melihat keanggunan Cintya, aku jadi terpikir
teman dik Alya yang aku perdebatkan kemarin. Aku membayangkan gadis itu adalah
Cintya. Mungkin aku tak perlu lagi penasaran bila gadis itu memang Cintya. Ah, aku
harus membuang jauh-jauh pikiranku itu.
Di depan rumah, om Taufik telah menunggu. Tante Linda tak nampak batang
hidungya di situ. Mungkin sudah pergi tempat pesta terlebih dahulu. Aku duduk di
depan dengan om Taufik, sedangkan Cintya di belakang dengan adikku. Kami
berangkat jam tuju tepat. Dari belakang, aku medengar dik Alya berbincang tentang
sesuatu hal dengan Cintya. Tidak begitu aku perhatikan. Aku memilih berbincang
dengan om Taufik. Awalnya aku ingin menanyakan tentang keluarga Cintya, tapi
kuurungkan. Akhirnya kami berbincang tentang pekerjaannya di kantor. Siapa tahu
setelah lulus nanti aku bisa bergabung di perusahaan om Taufik.
Dia bercerita kalau pekerjaannya baik-baik saja. Om Taufik seorang atasan yang
jujur dan tegas. Pernah suatu ketika ada karyawannya yang berusaha menyelewengkan
dana perusahaannya. Mengetahui hal tersebut, dia langsung tegas mengeluarkannya. Dia
tak ingin di kantornya ada koruptor yang ingin menghancurkan karirnya. Dia tak
pandang bulu. Apakah masih kerabat dekat atau bukan. Anak pejabat atau konglomerat.
Semuanya akan ditindak dengan tegas. Tidak seperti para pejabat di negeri ini yang tak
berani menindak tegas terhadap mereka yang nyata-nyata bersalah. Kalau orang melarat
akan dengan mudah dan langsung saja dijebloskan ke dalam penjara. Tapi kalau
keluarga pejabat atau para konglomerat sulit dan tak bisa mengadilinya. Andai saja
pemimpin negeri ini sikapnya seperti om Taufik pasti rakyatnya akan sejahtera. Nggak
ada koruptor. Nggak ada uang negara yang masuk ke perut pejabat dengan jalan
korupsi.
61
Hampir satu jam kami berada di mobil. Sebenarnya setengah jam sudah nyampai,
tapi macetnya itu yang bikin lama. Biasa, nggak Jakarta namanya kalau nggak ada
macet. Jarak yang dekat saja bisa lebih dari satu jam, apalagi yang jauh. Om Taufik
menghentikan mobilnya tepat di depan gedung bertingkat yang bertuliskan Santika.
Turun dari mobil kami langsung disambut oleh para pelayan hotel yang cantik-cantik.
Kami langsung naik ke lantai sepuluh dengan lift yang ada. Sampai di tempat tante
Linda menyambut kedatangan kami. Sudah ada banyak orang disitu. Ruangannya
terhias dengan menawan. Meja-meja bundar dan kursi terhias dengan indah. Ada balon
warna-warni yang menggantung di langit-langit ruangan. Di bagian depan ada kue besar
yang di atasnya ada angka 35. Ada beberapa alat musik di situ. Benar-benar sebuah
pesta besar dan meriah. Tante Linda mempersilahkan kami duduk. Kami berdua
mengikuti Cintya. Mengambil tempat duduk yang paling depan.
“Disini saja duduknya.” Ajak Cintya
Aku duduk di dekat dik Alya. Di hadapanku ada Cintya. Om Taufik dan tante
Linda masih sibuk menyambut tamu yang datang. Sebentar kemudian menghampiri
kami. Lalu ada dua orang yang datang. Mereka membawa makanan dan minuman.
Menu makanan yang tidak biasa kulihat di rumah. Semuanya asing. Aku tak berselera
untuk menikmatinya. Sepertinya mewah dan mahal sekali. Aku tak pernah makan
makanan yang mewah seperti ini. Bagiku makanan mewah atau bukan itu sama saja
karena hasil yang di keluarkan juga sama.
Tante Linda menawarkan makanan padaku. Aku tersenyum dan hanya menikmati
minumannya saja. Kutawarkan pada dik Alya, dia menggelengkan kepala. Itu tandanya
tidak ada selera juga terhadap makanan yang di sajikan. Entahlah, mungkin kami yang
terlalu kampungan atau bagaimana, hingga tak mau menikmati makanan yang
kelihatannya lezat sekali. Kami memang sama sekali tak berselera.
“Jangan cuma dilihatin saja Fajar.” Ucap Cintya.
“Kurang enak ya.” Sahut tante Linda.
“Bukan tante. Kami sudah makan di rumah.” Jawabku santai.
Di tengah percakapan itu seorang laki-laki menghampiri kami. Dia berbincang
pada om Taufik dengan berbahasa Inggris. Setelah itu berkenalan denganku.
“Hello, I’m William from America.” Ucapnya sambil menjabat tanganku.
“I’m Fajar. Glad to meet you.” Balasku.
62
“She is your baby.” Tanyanya melihat dik Alya yang duduk di sampingku.
“Yap, she is my baby.” Jawabku dengan mengeluarkan senyuman. Dik Alya pun
tersenyum mendengar perkataanku. Tapi kelihatannya bule itu tidak tahu kalau aku
sedang bercanda. Mungkin dia pikir dik Alya adalah kekasihku sungguhan. Aku
memang sengaja mengatakan dik Alya kekasihku agar dia tidak berani menggangunya.
Kalau aku mengatakan dia adik kandungku pasti dia akan berusaha mendekatiku dengan
maksud dan tujuan tertentu. Aku tidak mau itu terjadi. Dik Alya harus terjaga dari laki-
laki manapun yang tidak di kenal.
“Hi, glad to meet you. You’re the sweet girl.” Ujarnya seraya menjulurkan tangan
kearah dik Alya. Dik Alya hanya tersenyum dan tidak menyalaminya. Aku bangga
punya adik seperti dia. Kuat menjaga kesuciannya. Dalam hati aku bergumam sendiri.
Ternyata benar apa yang aku pikirkan tadi. Di lihat dari omongannya dia berusaha akrab
dengan adikku. Memuji kecantikannya lagi. Laki-laki, di manapun memang begitu.
Suka mengeluarkan kata-kata gombal pada wanita.
Makanya jadi cewek harus hati-hati. Jangan mau diajak berjabatan tangan dengan
sembarang cowok yang bukan muhrimnya. Diajak jalan bareng juga jangan mau. Nggak
tahu kan maksud mereka apa. Itu lebih menyelamatkan diri sendiri. Dari pada harus
ikut-ikutan, tapi nggak tahu tujuannya. Itu namanya plin-plan. Nggak punya pendirian.
Mau saja diajak sembarang orang. Jadi cewek yang mengaku muslimah itu jangan
murahan. Jaga tuh citra Islamnya biar jadi wanita yang mulia. Apa nggak mau jadi
wanita mulia yang bisa menjaga kesuciannya? Mau kan? Nah makanya jaga diri dari
sembarang laki-laki. Jangan malah menjual diri dengan harga yang murah meriah
seperti main-mainan.
Setelah berbincang sejenak, bule itu meninggalkan kami. Sebelum pergi ia sempat
membisikkan sesuatu pada Cintya. Tidak begitu jelas suaranya.
“Dia calonnya Cintya ya om.” Gurauku pada om Taufik setelah bule itu pergi. Ia
tersenyum seraya berkata.
“Tanya saja sama orangnya Fajar supaya lebih jelas.”
“Kayaknya cocok om. Sama-sama Amerika. Nanti kan bisa kembali ke sana.”
Ucapku menggoda Cintya. Dia terlihat memerah wajahnya. Bertambah cantik.
“It’s not real for me. Aku ke sini niatnya belajar tentang Islam dan bukan ingin
menikah atau nyari pacar.” Ujarnya membela.
63
Kami terus berbincang. Ternyata bule itu masih punya hubungan dekat dengan
papanya Cintya. Dia seorang mahasiswa Fakultas kedokteran di New York University.
Katanya dia ingin mengadakan penelitian di Jakarta.
Di bagian depan, seorang laki-laki dengan memakai jas hitam sedang bersiap
memberikan sambutannya. Dia meminta keluarga om Taufik untuk ikut ke depan.
Cintya mengajak kami berdua, tapi kami menolaknya. Tamu yang hadir diminta berdiri.
Aku dan dik Alya tetap duduk. Dengan bersama-sama mereka menyanyikan lagu Happy
birthday. Disertai alunan musik dan tepuk tangan. Kami berdua tidak mengikuti apa
yang mereka lakukan. Tampak keceriaan menghiasi mereka semua. Tante Linda dan
Cintya menebar senyuman yang sangat mempesona. Dengan gaun pestanya Cintya
terlihat lebih cantik dibanding tantenya. Mungkin karena Cintya tetap terbungkus kain
jilbab yang terlihat ramah dan anggun. Sedangkan tante Linda tidak mengenakan jilbab
di kepalanya. Rambutnya yang panjang seperti menyapa semua tamu yang hadir di situ.
Persis seperti bintang iklan sampho yang cantik jelita. Tante Linda seperti gadis yang
mesih berumuran ABG saja.
Kami hanya memandangi mereka dari tempat duduk. Cintya melihat kearah kami
dengan senyuman yang aku tidak tahu maksudnya. Setelah nyanyian selesai tante Linda
meniup lilin yang terhias di atas kue ulang tahun lalu memotongnya dan langsung
menyuapkan pada om Taufik. Tante Linda memberi ciuman mesra pada suamminya dan
juga Cintya. Tampak sangat romantis. Semakin terasa romantis dengan suasana malam
yang indah dan alunan musik mesra. Melihat hal itu hati kecilku memberontak. Kenapa
harus dengan acara semewah ini untuk sekedar memperlihatkan keromantisan keluarga.
Penuh dengan kemewahan. Itulah orang kaya yang selalu bisa berbuat apa saja sesuai
dengan hartanya.
Mulai dari kecil hingga segede ini, aku dan adikku tidak pernah merayakan ulang
tahun dengan pesta mewah, meski kami juga mampu melakukan hal itu. Bagi kami
ulang tahun adalah moment untuk mengintrospeksi diri. Dengan bertambahnya umur
berarti sisa hidup yang kita jalani semakin bertambah sedikit. Ulang tahun adalah saat
untuk merenungkan jiwa kita. Memikirkan diri kita. Menghitung-hitung amal perbuatan
kita. Apa saja yang telah kita perbuat selama tahun-tahun sebelumnya! Perbuatan
baikkah atau justru perbuatan jelek? Bermanfaat untuk orang lain atau justru tak
berguna sama sekali dan hanya mementingkan kesenangan duniawi.
64
Apakah bisa kita merenungkan jiwa dengan berpesta pora? Apakah bisa seseorang
mengintrospeksi dirinya sedang mereka ada dalam kesenangan dunia? Kenapa harus
selalu kesenangan dunia yang kita nomorsatukan? Yang sangat sedikit manfaatnya baik
bagi diri sendiri maupun orang lain.
Oh dunia
Keindahan mayamu
S’lalu menipu manusia
Ironisnya
Mereka tak banyak
Yang menyadarinya
Terus tergoda dan
Terkesima
Aku semakin bosan dengan suasana di dalam ruangan. Aku mengajak dik Alya
keluar, tapi dia tidak mau. Dia bisa menikmati suasana ruangan ini, namun aku tak bisa.
Aku keluar sendiri. Menikmati angin malam di lantai sepuluh hotel ini.
“Fajar! ngapain ngelamun sendiri.” Suara Cintya membuatku kaget.
“Nggak Cin, lagi menikmati angin malam di sini.”
“You’re very strange, buat apa cari angin!”
“Maksudnya sedang menikmati pemandangan hotel ini. Aku kan nggak pernah
merasakan gedung-bedung bertingkat seperti ini Cintya.”
“Oo begitu.”
Cintya terus mengajakku bicara. Namun aku tidak menghiraukan ucapannya.
Mataku tertuju pada indahnya suasana malam dari gedung bertingkat ini. Menikmati
pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Nun jauh di sana kulihat Hotel
Indonesia memancarkan cahaya. Seolah sedang menyapaku dengan sorot lampunya. Di
dalam hotel-hotel berbintang yang aku saksikan itu, mungkin para pelayannya sedang
sibuk melayani para pengunjung yang ada. Mereka semua seolah-olah sedang
berlomba-lomba menggapai langit nan tinggi.
Bagaimanapun jua buatan manusia itu kecil. Meski dinamakan gedung pencakar
langit tetap saja masih kalah dengan langit itu sendiri. Coba bayangkan, langit segitu
tinggi dan lebar tanpa ada tiang penyangga. Nggak roboh. Kok bisa ya?! Hebat bukan!
Itulah ciptaan Allah Sang Maha serba bisa. Allah sang pencipta langit dan bumi dan apa
65
yang ada di antara keduanya. Sedangkan buatan manusia, baru dua atau tiga tingkat saja
kadang sering kali miring dan roboh.
Kualihkan pandanganku naik ke langit. Bintang-bintang bertebaran menghiasi
cakrawala. Tiada hiasan yang paling indah menandingi hiasan ciptaan Allah itu. Cintya
masih juga memandangiku. Mungkin dia heran dengan apa yang kulakukan. Tak
menghiraukan dan tak mau menghadap ke arahnya.
“Fajar, kamu diajak ngobrol tapi malah cuek.” Ucapnya dengan ekspresi wajah
cemberut.
“Iya Cin, maaf. Aku juga lagi ngobrol.” Jawabku sambil mengalihkan
pandanganku kearahnya. Mata kami bertemu. Ada senyum keakraban di antara kami.
“Ngelamun begitu di bilang ngobrol. Yang ngajak ngobrol aku, dan kamu cuek
begitu saja. Itu namanya nggak menghormati orang lain. Diajak ngobrol itu ya lihat
orangnya. Masa yang dilihat malah langit.” Cerocosnya sedikit kecewa.
“Aku lagi ngobrol dengan sang pencipta langit Cintya. Jadi ngobrolnya pakai hati.
Mulutnya diam. Ini namanya tafakkur. Merenungkan ciptaan Allah dan kebesarannya.
Itu sama saja ngobrol dengan Allah. Agar hati kita selalu terkoneksi dengan Allah. Agar
sinyal yang ada di hati kita semakin bertambah kuat. Tidak hilang dari ingatan Allah.”
Kataku diplomatis.
Cintya terdiam sejenak mendengar ucapanku. Dengan sorot mata tajam dia
memandangiku. Terus memandang dan memandang kearahku. Mungkin heran dengan
kata-kataku.
“Maaf kalau begitu Fajar. Aku beruntung ketemu orang seperti kamu. Kamu
selalu mengingatkan aku pada Allah. Pada kebaikan. Aku beruntung bisa belajar lebih
dalam tentang Islam di Indonesia ini. Semoga kita tetap bersama. Tak kan ada
perpisahan untuk selamanya.”
“Maksud kamu Cin?”
“Ya, aku ingin kita tetap bisa bersama. Belajar bersama dengan dirimu.”
“Kebersamaan itu lambat laun pasti akan sirna Cin. Kebersamaan kita juga akan
berakhir nantinya. Hanya kebersamaan dengan Allah yang tidak akan pernah berakhir.
Hanya Allah yang akan abadi menyertai kita. Kapanpun dan di manapun kita berada. Di
dunia ini nggak ada yang abadi kecuali Allah semata.”
66
“Thank a lot Fajar. Aku memang mendapat banyak ilmu di saat bersamamu.
Benarlah kata pepatah, bergaul dengan penjual minyak akan terkena bau wanginya.
Makanya aku nggak ingin ada perpisahan antara kita. Aku ingin selalu mencium
wanginya ilmu darimu.”
Aku dan Cintya terus berbincang. Ada keakraban yang mengalir begitu saja lewat
obrolan kecil. Entahlah aku merasakan sesuatu dengan kata-kata Cintya. Kebersamaan
apa yang dimaksud? Aku tidak akan merasa berat untuk belajar bersama dengannya.
Sampai kapanpun. Mengamalkan ilmu yang aku punya padanya. Semoga tuhan
meridloinya.
Dari dalam ruangan kami mendengar alunan musik nan indah. Disertai nyanyian
yang terdengar begitu romantis. Namun tiba-tiba di kagetkan dengan suara lantang dari
seorang wanita. Lantang sekali. Aku yang masih berbicara dengan Cintya segera
mengajaknya masuk. Ternyata benar. Seorang wanita bertubuh langsing dengan rambut
pendek dan make up wajah yang begitu menawan sedang memaki-maki seorang
pelayan. Ternyata pelayanan itu dengan tanpa sengaja menumpahkan minuman ke
bajunya.
“Kalau jalan pakai mata dong! Buta ya?” Ucap wanita itu dengan nada kasar.
“Ma.. maaf tante, nggak sengaja.”
Perempuan itu tak mau begitu saja memaafkannya. Dia masih terus memaki.
Suaranya bertambah lantang melebihi anjing menggonggong. Ia mengusap bajunya
yang basah dengan tisu. Lalu orang yang menumpahkan minuman tadi melangkah
meninggalkannya.
“Hei dasar orang buta! Dungu ya! Jangan pergi dulu, urusan kita belum selesai!”
Pemuda tadi menghentikan langkahnya. Dengan muka yang sangat marah dan
kesal, wanita itu langsung menyiramkan sisa minuman yang masih ada di gelas ke
wajah pemuda itu. Rupanya dia juga tak mau kalah. Dia mulai naik pitam. Memasang
muka seperti serigala yang akan menerka mangsanya. Tanpa basa-basi dia langsung
melempar piring yang masih berisi makanan ke tubuh wanita itu. Dan....
Pyaaaaaaarrrr…!! Pecahan piring dan gelas tercecer di mana-mana.
“Memangnya anda saja yang bisa marah!!” Pelayan itu berkata dengan suara yang
tak kalah lantangnya.
67
Suasananya bertambah panas. Seorang laki-laki bertubuh kekar yang berada di
samping wanita berdiri. Mungkin suaminya. Dia lalu menarik kerah baju pelayan itu
dan langsung memukul wajahnya. Mereka berdua saling adu pukul. Orang-orang yang
ada di sekitar kemudian melerainya. Aku ikut mendekatinya.
“Maaf Pak, bapak ini ‘kan tidak sengaja menumpahkan minumannya. Jadi kenapa
harus ada perkelahian seperti ini.” Kataku dengan suara halus mencoba ikut melerai.
“Iya Pak, sayang sekali kalau hanya masalah sepele harus berakhir dengan
pertengkaran.” Sahut adikku.
Ucapan kami berdua tak dihiraukan. Dan sialnya aku terkena damprat serta
sentuhan kasar tangannya.
“Heh anak ingusan, nggak usah ikut campur! Ini urusan kami berdua! Kalian itu
siapa, berani melerai orang besar seperti kami! Tampang orang kampung begitu! Mau
aku masukkan penjara ya!” Laki-laki itu tampak sangat marah dan ingin memukuli
pelayan itu.
Om Taufik mendekati laki-laki itu lalu berbisik. Sebentar kemudian, merah
wajahnya agak pudar. Aku tak bisa berbuat lebih banyak lagi. Orang kalau sedang
marah hatinya sulit sekali untuk bisa dinasehati. Andai aku terus membela dan
menasehatinya pasti marahnya akan semakin memuncak. Tentulah di sini bukan seperti
di Mesir atau negara Arab lainnya yang bisa menggunakan shalawat Nabi untuk melerai
perkelahian. Jika aku tetap bershalawat Nabi untuk melerai mereka, pastilah aku akan
terkena damprat yang kedua kalinya. Amarah yang tak terkendali seringkali membawa
malapetaka bagi siapa saja. Andaikan wanita tadi mau mengatakan tiga kata saja “baik
aku maafkan” tentulah tidak akan ada keributan seperti ini. Tak ada pecahan gelas dan
piring yang tercecer. Tak ada aliran darah yang keluar dari wajah pelayan akibat
pukulan keras. Kalau sudah seperti itu barulah terasa kerugiannya. Yang punya hotel.
Pihak catering. Keluarga om Taufik dan tante Linda. Semua pihak ikut rugi. Kenapa
orang begitu beratnya memberi maaf atas kesalahan orang lain. Padahal ketika bersalah
mereka pun ingin segera di maafkan.
Kata maaf memang berat. Cuma empat buruf saja, tapi sangat amat berat untuk
diucapkan dan diberikan pada orang lain. Kenapa berat? Karena hati kita kosong.
Hampa. Kosong dan hampa dari kebaikan. Memaafkan adalah kebaikan. Tapi kita tak
mau berbuat kebaikan lebih banyak. Akhirnya kita tak mau memaafkan kesalahan orang
68
lain. Kita miskin kebaikan. Fakir untuk berbuat hal yang baik. Padahal Kita nggak suka
kalau orang berbuat jahat pada diri kita. Kita selalu ingin mendapatkan perlakuan baik
dari orang lain. Tapi anehnya kita enggan melakukan kebaikan pada orang lain. Kita
mau yang enaknya saja.
Al-Qur’an telah memberi tuntunan yang baik dan bijaksana pada kita semua
mengenai perihal marah dan amarah. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
tuhanmmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang di sediakan
untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya,
baik di waktu luang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan.17”
***
Kami pulang dari pesta jam 11.45 malam. Di dalam mobil kami tak banyak
bicara. Karena sudah merasa ngantuk sekali. Sampai di rumah aku langsung
merebahkan tubuhku di atas kasur. Besok lusa ummi akan pulang kampung menjenguk
mbah yang sakit. Sebenarnya aku ingin ikut, tapi tak bisa. Aku tak punya banyak waktu.
Lagian tugas skripsi juga belum beres. Rencananya ummi akan tinggal selama dua
minggu di desa. Aku jadi teringat ayah. Ia sedang berbuat apa dengan istri barunya. Ah
ayah, kau sosok yang baik, tapi juga jahat. Karena tega meninggalkan keluarga.
Ada kerinduan yang merasuk dalam diriku pada sosok seorang ayah. Dari kecil
aku telah ditinggalkan. Aku pernah menyuruh ummi untuk menikah lagi, tapi beliau
tidak mau. Katanya trauma dengan perceraiannya. Andaikan saja ummi dulu mau
menikah lagi pasti aku dan beliau tidak kesepian. Tidak perlu banting tulang kesana-
kemari mencari nafkah buat keluarga. Aku dan dik Alya pasti akan selalu mendapat
perhatiannya. Ummi begitu menikmati kesendirianya. Beliau terlihat tegar untuk hidup
sendiri bersama anak-anaknya. Aku salut pada bundaku. Aku ingin kelak seperti bunda
yang selalu tegar menghadapi segala masalahnya.
Oh bunda
Kau tak hanya orang tua
17
QS. Ali-Imran: 133-134.
69
yang selalu mengarahkan hidupku
tapi juga sahabat bagi anak-anakmu
Kau selalu kuharap dan kurindu
Kau penyejuk hati
Yang bertabur kasih dan cinta suci
Oh bunda
Kaulah tempatku berteduh
Kucari bila gelisah melanda jiwa
Kunanti bila gundah merasuki hati
Kau tak pernah lelah menyertaiku
Segala duka dan cita tercipta
Dalam keutuhan keluarga
Oh Bunda
Bila waktu berpisah tiba
akan kurelakan kau pergi
Ketiadaanmu di sisiku
Bukanlah beban bagi jiwaku
Karena kasih yang kau persembahkan
Jauh lebih berharga
Dari pada hadirmu di sisiku
Oh bunda
Sesuatu yang terindah
Akan selalu tercipta
Antara kita bertiga
Aku, Bunda dan dik Alya
Aku meneteskan air mata mengingat puisi jelek yang aku tulis untuk ummiku.
Bagaimana andaikan beliau nanti pergi untuk selama-lamanya. Siapa yang mengurus
dik Alya. Aku harus bisa menjaga adikku satu-satunya. Aku ingin jadi anak sholeh dan
berbakti pada orang tua yang bisa mengalirkan pahala lewat untaian doa bila kelak
beliau tiada.
70
***
71
7
MIMPI DIK ALYA
Bus yang mengantar ummi ke desa sudah melesat jauh dari pandangan mata kami.
Sebenarnya ummi bisa lebih cepat naik pesawat untuk pulang kampung. Tapi beliau
takut dengan keamanan pesawat. Pesawat sekarang banyak yang jatuh. Nanti kalau
ummi jatuh bersama pesawat malah tidak bisa melihat anak-anaknya lagi. Begitulah
kata ummi. Dia takut karena sering melihat berita di televisi tentang pesawat yang jatuh.
Satu bulan saja diberita TV telah menyiarkan empat pesawat yang jatuh. Nggak
kebayang kan? Masak pesawat kayak mainan anak-anak yang sering jatuh.
Ekspresi lambaian tangan kami menyambut kepergian ummi. Mata dik Alya
sesaat memerah lalu perlahan ada air yang mau jatuh dari kelopak matanya. Aku
mengelus kepala dik Alya yang terbungkus dengan jilbab. Antara kami ada ikatan cinta
yang begitu dalam dengan sang bunda. Sehingga bila salah satunya tiada yang lain akan
merasa kesepian dan kehilangan. Mungkin begitulah yang dirasakan dik Alya saat ini.
Secara tiba-tiba kesedihan itu muncul sendiri dengan kepergian sang bunda yang selalu
menyertai kami.
“Sejak kapan Alya punya air mata!” Kataku heran melihat mata merah adikku.
“Setahuku Alya itu orangnya periang, ceria, murah senyum, suka bercanda. Sudah
mahasiswa masa masih kayak anak kecil saja, malu tau!” Lanjutku menggodanya. Dia
langsung menyeka air mata dengan kain jilbabnya. Kesedihan itu berubah jadi
senyuman yang manis sekali.
“Nah begitu. Itu namanya baru Alya. Cantik dan ceria. Kalau senyum kan enak di
pandang mata. Itu baru adikku.” Cetusku.
“Huh dasar. Gombal. Memangnya Alya makanan apa, dibilang enak.” Ujar dik
Alya dengan wajah cemberut.
“Baru saja dibilang kalau cemberut itu jelek, eh malah cemberut lagi.” Kataku
terus menggodanya. Mukanya memerah. Mungkin kesal dengan ucapanku.
Kami berdua memang sering bertengkar gara-gara hal yang sepele. Pokoknya ada
saja yang selalu membuat kami begitu. Kalau aku tak mau mengalah dik Alya pasti
mengadu ke ummi atau ngomel-ngomel sendiri. Kalau sudah begitu kami baru selesai
bertengkarnya. Bahkan kalau perasaan kami lagi bete sekali malah sampai cubit-cubitan
72
segala. Melempar bantal, guling dan apa saja yang terpegang oleh tangan. Sama persis
dengan film kartun Tom and Jerry. Bahkan lebih dari itu. Ummi pun sering bercerita
kalau sewaktu kecil kami memang selalu bertengkar. Setiap hari pasti berantem. Entah
itu gara-gara rebutan makanan atau yang lainya. Kalau dik Alya kalah pasti menangis
dan mengadu pada ummi. Tak lama kemudian kami pun segera baikkan lagi. Begitu
berulang kali. Sampai ummi merasa kesal. Namun ummi tak pernah memarahi kami
dengan membentaknya. Kata ummi anak kecil bertengkar itu biasa dan wajar saja.
Mulai dari kecil hingga kuliah di sini, kami masih saja seperti itu. Masalahnya
hanya hal-hal kecil dan sepele. Tak ada bosan-bosannya kami beradu mulut. Herannya
aku selalu merasa rindu dan cemas bila dik Alya tak ada di rumah. Aku merasa harus
selalu menjaga adikku. Seolah pertengkaranku dengan adikku yang sering terjadi setiap
hari bukanlah jurang perpisahan antara kami, akan tetapi malah membuat kami saling
merindu dan menyayangi. Membuat kami bertambah dekat dan semakin akrab. Bila dik
Alya lagi sedih hatiku pun merasakan kesedihan itu. Begitu juga sebaliknya. Kami
saling curhat bila ada suatu masalah. Saling menolong antara sesama. Antara adik dan
kakak. Mungkin pertengkaran itu hanya diluar saja. Di dalam hati ada berjuta cinta dan
kasih sayang yang tercurahkan. Satu sifat yang mencerminkan keharmonisan keluarga.
Satu keakraban yang begitu dalam. Aku sangat menyayangi dan mencintai dik Alya.
Cinta yang tumbuh dari seorang kakak pada adiknya yang cantik jelita nan manis
senyumnya serta semerbak bau harumnya. Semanis buah kurma dan seharum puspita
surga.
***
Kini hanya ada dua penghuni di rumahku. Aku dan dik Alya. Sejak ditinggal
ummi pergi, kami harus berbagi tugas. Dik Alya memasak dan aku membersihkan
rumah. Mengepel lantai mulai dari kamar sampai halaman rumah. Tiada ummi pun
kami selalu melakukan hal itu tanpa harus dikomando.
Kebersihan itu sebagian dari iman. Itulah konsep yang diajarkan Islam pada
umatnya. Kebersihan itu banyak sekali manfaatnya. Lingkungan jadi enak dipandang
mata. Semakin banyak melakukan kebersihan, berarti iman sesorang semakin tebal.
Semakin sedikit kebersihannya berarti semakin keropos dan tipis imannya. Islam punya
73
berjuta konsep akan hal itu, namun sayang umat Islam hanya berhenti pada peta
konsepnya saja, tapi tak ada praktek dalam kehidupannya.
Sekarang banyak orang yang mengaku beriman, tapi jarang yang mau
memperhatikan kebersihan. Hal itu disebabkan ketidaksadaran hati mereka sendiri.
Meski kita hafal betul dalil tentang kebersihan, namun masih sulit untuk mau
mengaplikasikan dalil itu. Padahal banyak orang yang tidak hafal dan tidak tau dalil
kebersihan, tapi mereka mau peduli dan sangat memperhatikan kebersihan
lingkungannya. Mereka banyak yang sadar akan pentingnya kebersihan, sedangkan kita
banyak yang tidak sadar akan pentingnya kebersihan meski dalil itu kita hafal diluar
kepala.
Kita mengira kalau kebersihan itu hanya tugas pembantu rumah tangga, petugas
kebersihan yang tiap hari nyapu di jalanan dan mengangkut sampah, kebersihan itu
tugasnya cleaning servis super market, hotel, restaurant dan rumah sakit. Maka ketika
kita melihat rumah kotor langsung saja ngome-ngomel sama pembantu. Apa nggak
kasihan sama pembantunya? Sudah kerja berat, eh masih juga diomelin majikannya.
Memangnya pembantu itu tempat omelan apa! Seharusnya para majikan atau bos-bos
itu sadar diri! Sudah untung ada pembantu yang mau bekerja untuknya.
Kebersihan itu bukan cuma tugasnya pembantu, kita semua juga bertanggung
jawab atas kebersihan rumah yang kita tempati. Kebersihan itu tugas seluruh umat
manusia tanpa terkecuali. Tidak pembantu, tidak bos pokoknya semua wajib bersih-
bersih. Mentang-mentang jadi majikan atau bos besar dengan seenaknya sendiri
menyalahkan pembantu.
Bukan hanya membersihkan badan atau muka doang, tapi juga lingkungan di
sekeliling kita agar bisa terbebas dari kuman penyakit yang akan menyerang keluarga.
Kebersihan itu manfaatnya untuk kita sendiri. Selain dapat pahala, kita juga akan
merasakan lingkungan yang nyaman, bebas kotoran serta enak dipandang. Berjuta nilai
positif akan terwujud lewat kebersihan. Kenapa harus ogah?! Nggak usah nunggu
pembantu atau tukang sampah datang. Kita bisa melakukan sendiri kapanpun waktunya.
Manfaatnya juga buat kita sendiri. Kita bisa membayangkan kalau seandainya mereka
semua nggak ada yang mau bersih-bersih. Siapa yang rugi kalau bukan diri kita sendiri.
Dan yang pasti negara ini juga ikut rugi karena kotoran sampah yang terus menumpuk.
Bisa-bisa entar dijuluki negara sampah. Jangan sampai ya!
74
Para petugas kebersihan menurutku adalah pahlawan. Namun sayang sekali, kita
sering kali meremehkan dan menganggap rendah dengan pekerjaan yang digeluti
mereka. Padahal bersih-bersih adalah pekerjaan yang sangat mulia. Tidak sepatutnya
kita melecehkan mereka. Justru mereka itu lebih terhormat dari pada majikan atau bos
yang kerjanya cuma bisa nyuruh doang, tapi tak bisa melaksanakan. Mereka jauh lebih
berharga dari pada kita yang hanya bisa melototin orang yang lagi nyapu di jalanan.
Mereka semua yang seharusnya mendapat penghargaan bintang kehormatan dari
pemerintah. Tapi kenyataannya apa? Boro-boro dikasih penghargaan, gaji saja cuma
cukup buat makan. Terkadang malah ada yang dengan sukarela dan senang hati
membersihkan dan menyapu jalanan tanpa dibayar. Aduh, bagaimana sih para petinggi
negara ini. Mbok iya, mereka itu dihargai. Paling tidak mendapatkan gaji yang pantas.
Nggak usah dikasih perhargaan, mereka juga sudah senang kalau gajinya mencukupi.
Kita memang tak bisa menghormati orang yang punya andil dan berjasa besar terhadap
kebersihan lingkungan. Sering kali para petugas kebersihan itu malah dilecehkan.
Dihina dan dicemooh. Dianggap pekerjaan yang menjijikkan. Padahal kalau tidak ada
mereka, sampah pun akan terus bertumpuk dan tak ada yang mau membersihkan.
Namun selama ini, kita tak bisa dan tak mampu menghargai mereka semua, padahal
mereka telah berbuat hal yang sangat besar manfaatnya.
Tanpa hadirnya sang bunda rumah terasa sepi. Biasanya kita selalu bercengkrama
di ruang tengah. Namun kali ini....!!
“Dik Alya!” Teriakku memanggilnya. Tak ada jawaban. Aku mendekat ke depan
pintu kamarnya. Sepi. Kuketuk beberapa kali. Sunyi.
“Dik, Adik!” lanjutku.
Masih juga tak ada respon darinya. Kubuka pintu yang tak terkunci. Kulihat dia
sudah tertidur pulas. Buku-buku tercecer di kasurnya. Mungkin selesai belajar. Sebagian
ada yang tertindih badannya. Aku merapikan buku-bukunya. Kututupkan selimut di
badannya. Matanya tampak terpejam rapat. Semoga ia sedang mimpi indah. Kutaruh
buku-bukunya di meja belajar. Di mejanya ada beberapa lembar foto yang tercecer.
“Kok berantakan semua.” Ucapku dalam hati.
Aku melihat foto itu satu persatu. Semuanya cewek. Mungkin teman kampusnya.
Semuanya juga tak ada yang kukenal. Cuma satu yang kelihatannya pernah kulihat
wajahnya. Memakai pakaian warna merah. Wajahnya putih merona. Ya, aku pernah
75
melihat cewek ini. Tapi dimana? Tak kuingat juga. Hatiku berdesir kuat. Rasa
penasaranku semakin menggeliat. Siapa cewek ini? Seperti wanita yang pernah aku
tabrak di tangga dulu saat aku buru-buru masuk kuliah. Sepertinya memang iya. Kutatap
sorot matanya yang tajam. Pipinya yang merona kupandangi penuh rasa. Pikiranku
melayang. Hatiku berkelit sendiri. Ini bukan manusia, tapi malaikat nyata. Bidadari
surga. Andaikan semua laki-laki di jagad raya ini melihatnya, mereka semua akan
terbelalak matanya. Andai tangan mereka memegang pisau tajam lalu jarinya teriris dan
mengeluarkan darah, mereka tak ‘kan merasakan sakit dikarenakan begitu elok dan
cantiknya paras wajah gadis ini.
Subhanallah. Maha besar Allah yang telah menciptakan kecantikan pada wanita
ini. Aku ingin memandangi terus. Aku ingin mengambil foto ini dan kusimpan di
kamarku. Tanganku bergetar memegangnya. Seperti bertemu malaikat. Dadaku semakin
bergetar. Ada sesuatu yang berdesir kuat di hatiku. Aku melamunkan wanita ini. Ada
kekuatan yang telah menyihir hatiku. Aku terus melamun.
Dari mulut dik Alya ada suara lirih yang menyadarkan lamunanku. Langsung
kurapikan foto-foto itu. Yang satunya aku ambil. Besok saja aku akan bilang sama dik
Alya. Aku mendekati adikku. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Matanya masih
terpejam. Dia menggigau.
“Ummi..ummii..ummiiii..ummiiiii…!” Suaranya pelan, keras lalu keras sekali.
Dik Alya menjerit. Aku kaget. Mukanya berkeringat.
“Kenapa Dik, kenapa? Ada apa?” tanyaku penuh rasa cemas.
“Ummi Kak, Ummi!” Katanya sedikit terisak. Aku mendekatinya.
“Iya, Ummi kenapa?”
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah menangis. Dia mendekap di
tubuhku. Aneh. Ditanya, tidak menjawab malah menangis.
“Tenang Dik, tenang! Ini hanya mimpi!” Kataku menghiburnya. Dengan terisak
dik Alya berusaha berbicara.
“Ummi Kak! Ummi…! Di dalam bus Ummi merengek minta tolong, tapi tak ada
satu pun orang yang mau menolong. Alya takut kalau terjadi sesuatu pada Ummi. Dik
Alya malah sesenggukan. Keringat di wajahnya bertambah banyak. Ada ketakutan yang
menghinggapi dirinya.
76
“Tidaaaak..!” Teriaknya dengan suara keras. Tangisnya semakin menjadi. Dia
takut kalau kehilangan umminya. Aku memeluknya erat-erat dan berusaha
menghiburnya.
“Istigfar Dik, istigfar. Itu cuma mimpi.” Lirihku menasehatinya. Tangisnya sedikit
reda. Aku mengambil air lalu meminumkannya.
“Alya nggak ingin Ummi pergi Kak. Alya nggak ingin kehilangan ummi.” Kata
dik Alya dengan mengusap air matanya.
“Kita berdoa saja Dik, semoga ummi baik-baik saja dan selamat sampai tujuan.
Bisa kembali dan berkumpul lagi bersama kita. Jangan berpikiran yang jelek-jelek.
Mimpi buruk itu datangnya dari setan. Mintalah perlindungan pada Allah. Dik Alya
tidur lagi saja. Dan ingat! Berdoa dulu sebelum tidur. Baca shalawat yang banyak. Baca
surat Ihklas tiga kali. Surat an-Naas dan sal-Falaq. Semoga Allah selalu melindungi kita
dengan untaian doa itu. Itu doa yang diajarkan oleh baginda Nabi kepada ummatnya
setiap mau tidur.” Aku menasehatinya panjang lebar.
Dik Alya meraih selimutnya untuk kembali membaringkan tubuhnya. Aku masih
berada didekatnya. Matanya memandangiku. Bibirnya bergerak membaca doa, tak lama
kemudian matanya yang indah kembali tertutup. Masih ada sisa air mata di pipinya.
Aku mengusapnya dengan kain selimut yang membungkus badannya. Aku
merenungkan mimpi dik Alya. Apa yang terjadi dengan ummi diperjalanan sampai dik
Alya bermimpi seperti itu. Aku teringat sabda Nabi tentang mimpi. Bahwasanya mimpi
yang baik itu datang dari Allah dan mimpi yang buruk itu datangnya dari syaiton. Kalau
kita bermimpi buruk, Nabi menyuruh kita agar meludah ke arah kiri dan meminta
perlindungan pada Allah.
Semoga tidak terjadi apa-apa dengan ummi. Niat kepergian ummi adalah untuk
bersilaturrahmi dengan orang tuanya. Semoga Allah meridloi dan menjaganya.
Silaturrahmi adalah perintah agama. Bersilaturrahmi itu bisa memanjangkan umur dan
memperbanyak rejeki, begitu kata baginda Nabi. Kita semua dianjurkan untuk
melakukan hal mulia itu kepada sanak saudara kita. Tidak terlalu sering dan tidak terlalu
jarang. Yang sedang saja. Karena hal itu bisa menambah rasa rindu dan cinta antar
sesama. Sehingga akan lahir persatuan dalam keluarga. Kita harus bisa menjaga
silaturrahmi. Jangan sampai memutuskan hubungan persaudaraan apalagi sampai
bermusuhan segala. Barang siapa memutuskan tali persaudaraan, maka orang tersebut
77
tidak akan mencium bau surga. Sekarang banyak sekali hal itu terjadi. Orang tua
bermusuhan dengan anaknya sendiri. Kakak dengan adiknya. Antara saudara bertengkar
sendiri. Saling mementingkan diri sendiri. Tidak ada yang mau mengalah demi
keutuhan keluarga dan saudara.
Di sinilah pentingnya bersilaturrahmi. Berkunjung pada sanak saudara kita.
Tujuannya satu yaitu memupuk dan menumbuhkan eratnya tali persaudaraan agar tidak
saling bermusuhan. Dengan begitu kita bisa bersatu. Dengan bersatunya keluarga berarti
telah menyatukan bangsa juga. Menyatukan warga negara yang akhirnya akan
membawa dampak kebaikan pada bumi Indonesia. Jangan bertengkar melulu dengan
saudaranya sendiri. Saudara se-Islam dan se-negara. Kita pupuk terus persaudaraan.
Yang untung juga diri kita sendiri dan tetunya bangsa dan negara ini. Kita memulai dari
hal yang paling kecil yaitu bersilaturrahmi dengan sanak saudara kita. Inilah ahklak
yang mulia yang selalu dijunjung tinggi oleh Islam dan dianjurkan pada ummatnya.
Namun kebanyakan mereka jarang yang mau melakukannya.
***
Malam semakin larut. Kucoba untuk menghubungi Mbak Lina agar besok pagi
kesini. Di rumah tidak ada orang. Kupencet nomornya dan langsung tersambung.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam. Ada apa Mas malam-malam begini telfon.”
“Sory Mbak nggangu sebentar, belum tidur kan Mbak?”
“Belum Mas, memangnya ada apa?”
“Aku cuma minta Mbak Lina supaya besok pagi-pagi kesini. Bisa ya Mbak.”
“Baik Mas. Insya Allah besok pagi aku ke rumah.”
“Terima kasih Mbak. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dik Alya sudah terlelap kembali. Aku keluar meniggalkannya. Di kamar aku
membuka lagi foto gadis itu. Ya Allah, siapa gadis cantik ini? Bisakah aku bertemu di
alam nyata? Bisakah aku memilikinya? Ya Allah apakah engkau meridloi perasaan yang
ada dalam hatiku sekarang ini? Ampuni hambamu yang lemah ini. Yang belum bisa
mencintaimu mengalahkan cinta yang lainnya. Aku belum bertemu dengan gadis ini,
78
tapi ada cinta yang masuk diruang hampa dalam hatiku. Ijinkan aku mencintainya.
Meski rasanya aku tak pantas melakukan hal ini. Hanya engkau pencipta segala cinta.
Bila kau memang telah menciptakan cinta di hatiku, aku pun tak kan bisa mengelaknya.
Hanya ridlo dan rohmat-Mu yang selalu kuharap dan nanti.
***
79
8
TELFON DARI UMMI
Sekitar jam enam pagi, ketika aku sedang membersihkan lantai, Mbak Lina datang
kerumah. Bersamann dengannya telfon rumahku berdering. Dia ingin menggantikanku
mengepel lantai, tapi aku menyuruhnya untuk mengangkat telfon saja.
“Telfon dari ibu Mas. Biar saya saja yang mengepel lantai.” pintanya.
Kuserahkan tugasku pada mbak Lina lalu mengangkat gagang telfon. Suara
lembut seorang wanita yang sudah sangat aku kenal menyapaku dari sebrang. Aku
langsung menjawabnya dengan riang.
“Kami baik-baik saja Um. Gimana kabar Kakek dan Nenek Um?”
“Alhamdulillah semua sehat. Tapi sekarang Mbahmu lagi di rumah sakit. Beliau
terkena virus flu burung dari ayam-ayam tetangga yang mati mendadak. Sebenarnya
pemerintah setempat sudah pernah meminta warga untuk menyembelih ayam-ayamnya,
tapi mereka tak mau. Kemarin ada korban yang meninggal. Doakan saja beliau masih di
beri umur panjang oleh Allah.”
“Kami selalu berdoa untuk beliau Um, semoga lekas sembuh. Kami berdua
mencemaskan Ummi.”
“Memang ada apa?”
“Itu Um, Dik Alya tadi malam mimpi tentang Ummi. Kami sedikit kuatir sama
Ummi.”
“Ummi baik-baik saja. Sekarang mana Alya?”
“Di kamar, sebentar aku panggilkan.”
Gagang telfon kuletakkan. Aku ke kamarnya dik Alya. Dia sedang merapikan
buku-bukunya yang semalam tercecer.
“Dik, telfon dari Ummi.” Ucapku.
Dengan wajah yang terlihat kurang bersemangat dia bangkit dari tempat tidurnya
lalu ke depan menerima telfon. Setelah berbincang agak lama dik Alya kembali ke
kamar.
“Dik Alya sudah tahu kalau Ummi baik-baik saja, kenapa masih kuatir? Pekerjaan
dapur juga sudah digantikan Mbak Lina, jadi kamu nggak perlu repot-repot masak.”
“Aku masih teringat mimpi tadi malam Kak.”
80
“Sudahlah Dik, itu ‘kan hanya mimpi. Tadi ummi sudah bilang kalau beliau baik-
baik saja. Mendingan kamu bantu Mbak Lina biar bisa lupa dari mimpi itu. Kalau Dik
Alya sendiri di kamar malah akan teringat terus.”
Dik Alya masih tampak tak bersemangat. Wajahnya lesu. Meski sering membantu
ummi di dapur dik Alya masih merasa ogah kalau disuruh masak. Padahal sudah di
temani Mbak Lina, tapi tetap saja dia merasa ogah. Di selalu beralasan repotlah,
susahlah, dan alasan yang lainnya. Aku sering menggodanya dengan berkata begini
“Pintar masak disayang suami lho dik. Dik Alya itu calon ibu rumah tangga. Jadi, repot
atau nggak, ya harus dijalani.” Aku tertawa selesai mengucapkan kalimat itu. Kontan
saja dia langsung marah dan langsung meninggalkan masaknya.
Sebenarnya aku juga sudah sering membantunya. Sekedar mengiris bawang
merah atau bawang putih serta cabe pasti bisa. Yee, kalau cuma ngerjain hal itu, anak
kecil juga bisa. Tapi benar, perihal masak-memasak aku sudah nggak asing lagi.
Soalnya dulu waktu di pondok sering masak. Meski rasa masakannya nggak karuan.
Yang penting bisa dimakan. He..he..he.. Masakan favorit waktu itu adalah sambal
terong. Yah, cuma sambal terong. Ya nggak apa-apa, maklum anak pondok serba
pengiritan. Menu seperti itu juga sudah paling istimewa buat kami. Yang penting bisa
dimakan dan membuat perut kenyang. Kami tak pernah memperhatikan gizinya.
Apalagi sampai memikirkan empat sehat lima sempurna. Anak pondok tidak kenal itu
semua. Apa saja asal halal pasti dilahap.
***
Aku menunggu dik Alya dihalaman rumah. Dia minta diantar ke kampus. Aku
menyuruhnya untuk membawa motor sendiri, tapi dia tidak mau. Lebih enak diantar
katanya. Pulangnya juga minta dijemput. Adikku yang satu ini memang aneh. Ada saja
yang menjadi keinginan hatinya. Kalau lagi bete, melakukan hal sekecil apapun pasti
selalu menyuruhku. Dasar gadis manja. Untung hari ini aku tidak ada kuliah. Kalau
ingin ke kampus paling ke perpustakaan. Tapi hari ini aku ingin ke rumah Prof. Ridwan.
Mau meminjam buku.
“Cepat Dik! Nggak usah dandan segala! Mau kuliah atau mau pesta! Lama sekali”
Teriakku memanggilnya. “Mau kuliah pakai dandan segala, nggak usah make up juga
81
sudah cantik. Cewek memang serba merepotkan. Tapi tak biasanya dik Alya dandan.”
Ucapku dalam hati.
“Oke Kak. Alya sudah siap.”
Kami membawa motor menelusuri Gang Cinta. Cintya yang biasa berpapasan
dengan kami, kali ini tak tampak batang hidungnya. Mungkin sudah diantar pamannya
dengan mobil. Jalanan sudah ramai dengan lalu lalang mahasiswa. Ada yang
mengendarai mobil, motor, dan juga jalan kaki.
Sampai di depan gerbang kampus kami berpisah. Dik Alya dihampiri dua
temannya. Yang satu memakai kerudung putih dan berkaca mata. Satunya lagi pakai
jilbab abu-abu. Dia tidak berkaca mata. Aku tidak mengenalnya, jadi tidak begitu
kupedulikan. Sebelum aku meniggalkan dik Alya aku mendekatinya dan berkata lirih.
“Pulang jam berapa nanti Dik?”
“Agak awal mungkin Kak.”
“Langsung pulang ya, hati-hati di rumah.”
“Baik Kak, Kakak juga ya.”
Aku langsung memarkirkan motor di tempat parkir lalu menuju perpustakaan
Fakultasku. Saat berjalan dari parkir motor aku melihat prof. Dr. Ridwan yang baru
keluar dari mobilnya. Oh ya, kebetulan aku ingin meminjam buku di rumah beliau
untuk tambahan refrensi skripsi. Di perpustakaan utama nggak ada. Mungkin ada, tapi
sedang dipinjam mahasiswa lain. Sekalian aku ingin berbincang dengan Mas Alex yang
baru pulang dari Jepang tiga bulan yang lalu.
“Assalamualaikum.” Kuucapkan salam pada beliau dan menjabat tangannya.
“Saya mau silaturrahmi ke rumah bapak nanti sore. Ada perlu sama Mas Alex.”
Lanjutku.
“Boleh saja, kalau begitu nanti pulang bareng saya saja.”
“Baiklah Pak. Terima kasih.”
Setelah berbincang sejenak aku meninggalkan beliau. Lalu menuju ruang tercinta
yaitu perpustakaan. Perpustakaan adalah rumah kedua bagiku. Tanpa itu pikiran ini
kering karena tak memakan buku. Masuk ruang lift kupencet tombol empat. Dalam
sekejab sudah sampai di samping ruangan yang kumaksud. Inilah hebatnya teknologi
zaman sekarang. Hanya dengan menekan tombol angka saja, kita akan sampai ke tempat
yang dituju. Tidak salah ruangan. Aku tidak habis pikir. Sebuah ruangan kecil yang di
82
lengkapi dengan tombol angka bisa naik turun mengantar seseorang menuju lantai yang
diinginkan.
Sampai di lantai empat para mahasiswa tampak berlalu lalang memasuki kelas.
Aku langsung masuk ke perpustakaan. Pemandangan di dalam masih sepi. Orang-orang
yang mau mengisi nutrisi otak juga masih sedikit. Di dalam, aku ketemu dengan
seorang cewek satu kelas yang sedang mencari-cari buku di rak. Dia juga sedang
mencari bahan skripsi. Kami satu dosen pembimbing. Namanya Dewi. Dewi Astuti.
Cewek kelahiran Banjarmasin itu selalu saja bisa membuat orang yang di sampingnya
tertawa. Wajahnya memang lucu. Di tambah lagi sifat latahnya. Dia orang yang paling
tenar di kelasku. Bukan karena prestasiya, tapi karena ceriwis dan latahnya. Aku sempat
bercanda sejenak dengannya, tapi dengan serta merta petugas Perpus langsung
mengingatkan kami berdua. Kami sadar karena perpustakaan memang harus steril dari
huru-hara suara.
Ngomong-ngomong soal kelas, kelasku bisa dibilang paling unik dan favorit.
Penghuninya beraneka ragam. Dari aktifis sampai artis. Dari anak konglomerat sampai
anak orang melarat. Dari kalangan elit hingga mahasiswa yang super pelit. Dari yang
cantik jelita hingga yang tampan rupawan. Pokoknya semuanya ada. Yang paling
pendiam dan yang amat sangat cerewet juga ada. Terbilang paling lengkap populasi
penduduknya. Saking cerewetnya, teman-teman kelas sering memanggilnya dengan
Miss fussy. Dan Dewi itulah yang mendapat gelar istimewa tersebut.
***
Aku menunggu Prof. Dr. Ridwan didekat parkir mobil. Seorang laki-laki
berseragam satpam mendekatiku. Di dadanya ada papan nama yang bertuliskan Sukardi.
Dia salah satu petugas keamanan yang ada di kampus ini. Setiap pagi selalu bersiaga di
posnya. Aku sudah sangat mengenalnya. Kami saling menyapa bila bertemu. Aku sering
ngobrol dengannya dalam suatu kesempatan. Pertama kali aku mengenalnya sewaktu
mau daftar kuliah dulu. Aku menanyakan tempat pendaftarannya. Dia mengantarku ke
tempat yang aku maksud. Kami sempat berdialog dan berkenalan waktu itu. Sejak saat
itu pula aku sering menyapa bila melihatnya berjaga di pos. Yang selalu aku ingat
adalah gaya bercandanya. Setiap kami ngobrol pasti ada canda tawa. Dia tidak seperti
83
satpam-satpam lain yang galak seperti harimau. Sehingga dia akrab dengan para
mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini.
Suatu malam, aku pernah bertemu di kedai kopi. Pertemuan yang tak disengaja.
Kami saling bercerita sambil menikmati secangkir kopi susu. Sruput demi sruput,
nikmat sekali. Aku bercerita tentang kuliahku dan dia bercerita tentang keluarganya.
Terutama anak pertamanya. Namanya Emil. Gadis cantik dan lugu. Pak Kardi dan
istrinya sangat mencintainya. Karena mereka berdua adalah orang yang rendah
pendidikannya, maka Pak Kardi ingin agar anaknya bisa sekolah yang tinggi biar kelak
mampu mengangkat derajat orang tuanya. Namun apa mau dikata. Fakta berbicara lain.
Emil malah dikeluarkan dari sekolahnya menjelang ujian akhir kelas tiga SMU. Ada
cowok yang mencintainya. Emil diajak kencan oleh cowok itu. Emil dipaksa untuk
melayani nafsu bejatnya. Dia sempat memberikan perlawanan, tapi cowok itu tetap
memaksanya. Akhirnya terjadilah musibah besar. Sekarang Emil sudah punya anak dari
hubungan gelap itu. Sedangkan cowok yang telah menghamilinya kabur keluar negeri.
Habis manis sepah dibuang. Begitulah kiranya pepatah yang paling tepat untuk
menggambarkan hal tersebut. Pak Kardi dan istrinya hanya bisa meratapi nasib yang
menimpa anaknya tanpa mampu berbuat apa-apa. Mereka ingin menuntut cowok itu,
tapi apa daya, mereka hanya orang kecil, miskin, dan bodoh yang tak mampu berbuat
banyak untuk melawan hukum. Makanya jadi cewek jangan suka kencan dengan
cowok. Kalau sudah seperti Emil baru tahu rasa. Bener nggak! Sudah dapat dosa,
sengsara lagi. Karena menanggung malu. Nggak usah pakai kencan-kencan segala.
Lebih baik kencan sama keluarga. Lebih aman dan tentram.
Aku merasa sedih mendengar cerita pak Kardi. Aku membayangkan bagaimana
kalau hal itu menimpa adikku. Tidak akan pernah kubiarkan ada orang yang berani
menyentuh kesucian dik Alya. Akan aku lawan sampai titik darah penghabisan.
Siapapun pelakunya. Seenaknya sendiri laki-laki memperdaya kelemahan perempuan.
Dengan semaunya sendiri memperkosa anak orang. Sungguh biadap orang seperti itu.
Moral binatang yang tidak patut ada dalam jiwa manusia. Yang lebih ironis lagi
tindakan hukum yang begitu lemahnya. Banyak dari laki-laki bermoral binatang lepas
dari jeratan hukum. Para gadis yang lemah harus menanggung luka yang begitu
dalamnya. Melahirkan anak tanpa kehadiran seorang ayah. Malu dan malu sekali.
84
Sudah seperempat jam aku menunggu Prof. Ridwan. Belum nongol juga. Terik
matahari semakin panas. Aku berlindung di bawah rindangnya pohon dekat tempat
parkir. Pak Kardi yang melihatku sendirian mengajakku bicara. Tetap dengan gaya
candanya.
“Mas Fajar nunggu siapa?” Sapanya.
“Jangan-jangan sedang nungu pacarnya ya.” Lanjutnya dengan senyum canda.
“Alah, Bapak ini bisa saja kalau bercanda.”
“Terus ngapain panas-panas begini berdiri sendirian di parkir mobil? Kalau nggak
karena orang yang disayang, ya nggak mungkinlah.” Aku tahu kalau kata-katanya itu
hanya bermaksud mengerjaiku.
“Sudahlah Pak, bapak ini nggak usah keterlaluan candanya. Entar juga tahu
sendiri siapa yang datang. Nah, itu orangnya. Apa bapak masih mau bilang kalau beliau
itu pacar saya.” Ujarku ketika melihat Prof. Dr. Ridwan berjalan dari arah depan dengan
menenteng tas hitamnya.
“Mas Fajar akrab juga ya sama pak Ridwan? Ternyata beliau itu orangnya ramah
bener lho mas.”
“Dari dulu memang begitu Pak.”
“Bapak kira nggak seperti itu Mas, karena banyak mahasisiwa yang sinis pada
beliau. Eh ternyata dugaan itu salah. Bapak sering dikasih sesuatu sama beliau lho
Mas.”
“Itu namanya rejeki Pak. Harus bersyukur sama Allah. Tapi itulah manusia Pak.
Jangan pernah menilai orang lain dari luarnya saja. Kalau melihat luarnya nggak ramah
jangan langsung divonis pemarah. Karena sekarang ini banyak orang yang luarnya
kelihatan baik, tapi ternyata malah memanfaatkan kebaikan itu dengan kejahatan. Saya
pergi dulu Pak. Salam buat keluarga bapak. Pak kardi hati-hati.”
“Iya mas, hati-hati juga. Salam juga buat Pak Ridwan Mas. Terima kasih atas
pemberiannya kemarin. Semoga dibalas oleh Allah dengan yang lebih banyak.”
“Oke Pak. Beres pokoknya.”
***
85
Rasa sejuk terasa di dalam mobil. Aku teringat dik Alya yang ada di rumah
sendirian. Aku ingin mengirim pesan padanya untuk mengetahui keadaannya. Kuambil
HP di kantong saku celana. Baru kupegang sudah berdering terlebih dahulu. Pesan
masuk dengan berbahasa Inggris. Bukan dari Cintya. Dari dokter muda William yang
kemarin bertemu dipesta ulang tahun.
“Hi, do you at home?”
Aku membalas.
“Tidak. Ada yang bisa kubantu?”
“I need your hand.”
Bule itu mau minta tolong apa padaku? Apa dia mau membicarakan tentang
penelitiannya. Apa hubungannya denganku? Aku tidak tahu menahu urusan kedokteran.
Atau mau minta tolong sama dik Alya? Kenapa tidak dengan Cintya saja, dia juga anak
kedokteran. Hatiku bertanya-tanya sendiri. Aku tak jadi mengirim pesan ke dik Alya.
Aku telfon saja.
“Assalamualaikum! Lagi ngapain Dik?”
“Nonton TV Kak.”
“Baik-baik saja di rumah?”
“Iya kak. Alya baik-baik saja. Sebentar lagi Cintya juga ke sini.”
“Mbak Lina masih di situ.”
“Sudah pulang Kak, tadi ditelfon ibunya, katanya ada hal penting.”
“Ya sudah hati-hati di rumah ya. Assalamualiakum.”
“Waalaikum salam Kak.”
Pikiranku lega mengetahui keadaaan dik Alya. Tapi aku merasakan hal yang tidak
enak dengannya. Pikiranku tertuju pada dirinya. Aku mencoba menenangkan diriku.
Kuucapkan kalimat-kalimat toyyibah dalam hati. Dengan menyebut asma-asma Allah.
Karena Dialah sebaik-sebaik penjaga mahkluknya. Kubuang jauh-jauh pikiran
negatifku.
Melihat diriku yang tampak gelisah, Pak Ridwan menanyaiku.
“Kamu kenapa Fajar? Lagi mikir apa?”
“Nggak Pak, cuma ingat adik di rumah.”
“Memangnya ada apa dengan adikmu, dia kan sudah besar. Bisa jaga diri.”
86
“Benar juga Pak, tapi bagaimanapun juga dia itu cewek, anak cewek itu lemah,
jadi aku sedikit kuatir saja.”
“Sepertinya kamu adalah kakak yang perhatian. Perhatian kamu besar sekali
padanya. Seperti memperhatikan anak yang masih TK saja. Kalau bapak yang punya
anak seperti kamu pasti akan bangga sekali, karena mau menjaga dan peduli sama
saudaranya. Zaman sekarang ini jarang sekali ada anak muda yang punya perhatian
lebih seperti kamu Fajar. Malah mungkin sudah tidak ada.”
Aku hanya tersungging mendengar kalimat Pak Ridwan. Hanya biasa dan tidak
ada rasa bangga dengan pujiannya. Dan memang tidak ada yang harus aku banggakan
dalam diriku ini.
“Itu amanat dari ummi Pak. Yang besar memang seharusnya menyayangi yang
kecil. Dan yang kecil menghormati yang besar. Dengan begitu insya Allah akan tercipta
keharmonisan keluarga yang penuh kasih sayang.” Jawabku menanggapi kalimat beliau.
“Kamu benar juga. Baginda Nabi memang sudah mengajarkan ahklak seperti itu.
Yang tua menaruh kasih sayang pada yang muda dan yang muda menaruh hormat pada
yang tua. Kasih sayang dan cinta memang harus selalu kita tumbuhkan di mana saja kita
berada dan kepada siapa saja. Tidak hanya dalam keluarga, tapi juga pada seluruh umat
manusia. Karena hanya dengan kasih dan cintalah akan terwujud sebuah kedamaian dan
persatuan. Dengan cinta pula kita bisa selalu melihat sisi positif dan kebaikan orang.
Dengan begitu tidak akan terjadi pertengkaran dan pertumpahan darah akibat dari
kebencian yang ada di hati orang. Dengan memperhatikan dan peduli pada adikmu
berarti kamu telah memberi contoh yang baik pada semua orang di dunia ini. Andaikan
semua mahasiswa di kampus sifatnya seperti dirimu, dunia ini akan bisa damai dan
tentram. Rasanya bapak tidak rugi punya mahasiswa kesayangan seperti kamu.”
“Memang sudah sepantasnya Pak, mulai saat ini kita saling menunjukkan cinta
dan kasih pada siapapun agar tercipta masyarakat yang damai dan tentram. Tak ada
permusuhan yang disebabkan sifat benci dan dendam. Sudah saatnya kita tunjukkan
sikap hormat menghormati dan toleransi yang tinggi agar tiada lagi kerusuhan yang
berakibat pada kerugian semua pihak. Mungkin ini juga berkat usaha ummi Pak, dalam
mendidikku sewaktu masih kecil. Beliau mengajarkan kasih sayang pada keluarganya.
Andaikan ummi tidak mendidikku menjadi anak yang ramah dan santun, pastilah aku
tidak akan bertemu dengan Profesor Ridwan seperti sekarang ini.”
87
“Pikiran kamu tidak salah lagi. Sikap seperti itulah yang wajib dan seharusnya
kita tunjukkan pada semua orang.”
Tak terasa perbincangan kami di dalam mobil mengalir begitu saja. Aku banyak
mendapat kalimat-kalimat bijak dari Prof. Ridwan yang menyentuh hati dan
menyadarkan diriku sendiri. Hingga akhirnya kami sampai di depan rumah bertingkat
warna krem. Di halaman rumah tampak sepi. Tidak ada satpam yang berjaga di situ. Di
depan pagar rumah, Pak Ridwan membunyikan klakson mobilnya. Seorang wanita
datang membukakan gerbang. Dia adalah pembantu rumahnya. Setiap aku ke situ pasti
dia yang selalu membukakan gerbangnya. Mobil parkir di garasi. Kami berdua turun
lalu masuk rumah. Suasana di dalam sepi.
“Kok sepi sekali Pak, nggak ada orang di rumah?” tanyaku pada beliau.
“Anak-anak bapak di rumah semua.”
“Mas Alexnya?”
“Mungkin di taman belakang.”
“Kalau Wiwinnya?”
“Mungkin di ruang perpustakaan.”
Kedekatanku dengan Prof. Ridwan memang telah menciptakan keakraban
tersendiri. Dengan istri beliau, kedua anaknya dan juga pembantunya. Semuanya akrab
seperti anaknya sendiri. Hal sekecil apapun selalu saja kami obrolkan. Dari yang
sifatnya sekedar basa basi, sampai hal-hal yang penting.
Beliau tinggal berempat dalam keluarga. Dengan istrinya Bu Anita dan kedua
anaknya. Istri beliau seorang Muballigoh di kota metropolitan ini. Beliau sering mengisi
acara televisi setiap habis subuh. Mas Alex baru lulus dari Jepang dua bulan yang lalu
dan Wiwin masih duduk di bangku SMU. Bila ke sini aku sering ngobrol dengan anak-
anaknya. Saling cerita tentang pengalaman belajarnya masing-masing. Mas Alex pernah
bercerita tentang pengalamannya ketika baru pertama kali menginjakkan kakinya di
tanah negeri Sakura. Ia sangat terkagum-kagum dengan keadaan di sana. Bagaimana
mungkin negara yang kedua kota besarnya yaitu Nagasaki dan Herosima pernah dibom
oleh sekutu, sekarang ini tampak begitu berjaya dibelahan dunia. Mungkin kalau kota
itu dahulu tidak dijatuhi bom oleh sekutu, Indonesia belum merdeka sampai saat ini kali
ya. He..he..he.. ya nggak jugalah. Kemerdekaan Indonesia itu kan rahmat Allah semata.
Kita harus banyak bersyukur lho.
88
Mas Alex pernah bercerita tentang jalan-jalannya ke suatu tempat yang bernama
Unzen Park. Di tempat tersebut ia dapat melihat pemandangan puncak gunung Unzen
dari Nita Pass. Ia berjalan melintasi jalan setapak yang berliku dan dipenuhi dengan
kepulan asap yang berasal dari bebatuan dan pepohonan yang ada di sekitarnya. Dia
juga bercerita tentang Unzen Jigoku. Unzen adalah nama gunung berapi seperti halnya
merapi yang masih aktif hingga kini. Jigoku artinya neraka atau hell. Nama ini memang
aneh. Tidak sesuai dengan tempatnya yang tampak cantik menawan. Lanskepnya berupa
areal yang cukup luas dengan lubang-lubang kecil yang mengeluarkan asap putih
berbau belerang. Baunya tajam dan menusuk hidung. Benar-benar pemandangan yang
tak bisa dijumpai di negeri sendiri. Mas Alex sering bercerita padaku tentang keanehan-
kenaehan yang ada di Jepang. Bercerita kesana-kemari dengan begitu asyiknya.
Mendengar semua cerita-ceritanya, aku jadi ingin menjelajah dan kelilign dunia.
Lain lagi ceritanya kalau aku kumpul sama adiknya yaitu Wiwin. Dia orangnya
suka banget lama-lama baca buku di ruang perpustakaan miliknya sendiri. Tak heran
kalau ayahnya membuatkan perpustakaan kusus di rumah. Koleksi bukunya juga
banyak sekali. Tidak kalah dengan yang ada di kampus. Beliau selalu mengajarkan pada
anak-anaknya budaya membaca termasuk si Wiwin itu yang memang suka sekali
melahap buku-buku yang ada. Karena dengan membaca kita bisa tahu segalanya. Tanpa
mau membaca manusia akan gelap hidupnya.
Tradisi membaca memang harus digalakkan. Bagi siapa saja baik pelajar maupun
masyarakat umum. Tidak hanya sekedar membaca tulisan yang ada di buku saja, tapi
juga bisa membaca lingkungan sekitar. Membaca suasana dan keadaan yang ada di
sekeliling kita. Sehingga kita bisa peka dan sadar dengan apa yang sedang terjadi di
lingkungan kita. Dengan kesadaran, kita akan bisa bertindak yang positif. Tindakan
yang positif akan bisa merubah lingkungan kita menjadi baik. Itu kalau kita peka dan
bisa membaca keadaan dan suasana yang timbul di lingkungan kita. So, membaca itu
wajib bagi kita. Apalagi wahyu yang pertama turun adalah berkaitan dengan membaca.
“Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.
89
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”18
***
18
QS. Al-Alaq: 1-5.
90
9
AIR MATA
Dari rumah Prof. Dr. Ridwan aku tidak langsung pulang. Aku ingin ke pasar
Senen membeli buku di tempat langgananku. Salah satu tempat penjualan buku yang
paling terkenal murahnya di Jakarta ini. Harganya jauh lebih murah bila dibanding
dengan yang ada di Gramedia. Aku tak ingin menghilangkan waktu keluarku kali ini.
Setiap kali bepergian, aku berusaha untuk tidak mengunjungi satu tempat saja. Sayang
rasanya. Sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlewati. Begitu kiranya kata
pepatah. Kulihat buku-buku yang ada. Banyak sekali koleksinya. Oh ya, dik Alya
pernah minta dibelikan buku psikologi anak. Kuambil satu. Aku sendiri membeli tiga
buku. Semuanya berhubungan dengan Tafsir.
Dari Senen aku langsung pulang. Sebelum pulang aku menyempatkan diri untuk
shalat Ashar di masjid terdekat. Takut waktunya nanti habis. Masuk masjid terasa sejuk
sekali. Aura tenang merasuk ke seluruh jiwaku. Kumatikan HP biar tidak mengganggu
kekhusyu’an shalatku. Hati dan pikiran jadi ikut tenang. Entah kenapa, setiap kali
memasuki rumah Allah pasti rasanya lebih tenang dan tentram. Pokoknya, hawa yang
ada memberikan aura tersendiri dibandingkan dengan tempat-tempat selain masjid. Di
situlah aku merasa betapa hebatnya rumah Allah. Selalu saja memberikan kesejukan di
hati.
Usai shalat langsung keluar dari masjid. Ketika aku membuka HP sudah ada dua
sms yang menghiasinya. Benarlah apa yang aku lakukan tadi. Dengan mematikan HP
sebelum shalat. Andaikan waktu shalat tadi HP hidup, pastilah akan terganggu dengan
suara deringnya. Aku paling benci kalau sedang shalat kemudian HP bertulalit. Sangat
terganggu sekali. Selain mengganggu shalat diri sendiri juga mengganggu shalatnya
orang lain yang ada di kanan dan kiri.
Di zaman sekarang ini banyak orang yang memang tak tahu diri dan tidak sadar
diri. Dahulu, orang kalau shalat selalu membawa tasbih dan kayu siwak. Tapi sekarang,
orang shalat yang dibawa adalah kontak mobil atau motor dan HP. Masih mending
kalau HPnya dimatikan agar tidak mengganggu orang yang sedang shalat. Kebanyakan
orang sekarang memang sepertinya ingin menghilangkan kekhusyu’an shalatnya. Waktu
shalat HP tidak dimatikan akhirnya ditengah-tengah orang menjalankan shalat ada suara
91
HP berdering. Siapa yang tidak terganggu?! Padahal sudah ada perintah yang
terpampang di tembok dengan tulisan besar untuk mematikan HP. Eh, masih juga nggak
sadar dan nggak tahu diri. HPnya masih juga dihidupkan.
Aku sering kali menyaksikan kejadian itu saat shalat jum’at di masjidku. Rasanya
benci dan terganggu sekali. Tidak diganggu saja, shalat kita belum tentu bisa khusyu’,
apalagi ada gangguan suara HP, pasti akan bertambah tidak khusyu’. Mbok iya, kalau
mau shalat HP itu dimatikan. Cuma sebentar saja! Berapa lama kita shalat? Paling lama
juga lima menit, mungkin malah nggak ada. Shalat itu menghadap Sang Maha Besar,
kenapa nggak bisa meninggalkan hubungan dengan manusia sebentar saja, agar kita bisa
tenang saat berhadapan dengan Sang Maha Kuasa. Cuma mematikan Hp 5 menit saja.
Klik. Apa susah dan beratnya?! Mana yang lebih penting antara hubungan Allah dengan
manusia? Tidak mematikan HP, itu sama dengan mementingkan manusia. Kalau kita
mematikan HP, maka kita bisa shalat dengan lebih tenang dan tidak terganggu.
Bukankah itu jauh lebih baik, daripada suara HP yang cuma mengganggu orang shalat.
Barangkali selama ini kita memang kurang memperhatikan shalat. Sehingga tak
bisa meraih makna shalat yang hakiki yaitu mencegah dari perbuatan-perbuatan yang
keji dan mungkar. Meski kita sudah shalat setiap hari, tapi masih sering maksiat juga.
Karena shalat kita belum benar. Hanya gerakan lahiriyah saja, sedangkan hati kita
belum ikut mendirikan shalat. Pikiran kita masih lari dan terbayang hal-hal yang
berkenaan dengan duniawi. Belum bisa khusyu’ dan mentadabburi makna dari bacaan-
bacaan dan juga gerakan-gerakan shalat. Dan mungkin juga karena HP di atas itulah
yang membuat shalat kita tidak khusyu’. Alhasil shalat yang kita laksanakan kurang
maksimal. Tidak berbobot dan tidak berkualitas. Sehingga shalat itu belum mampu
mencegah diri kita sendiri dari melakukan kemaksiatan dan kejahatan.
Lho, kok ceritanya malah ngelantur tentang HP. Iya, soalnya kalau pas lagi shalat
banyak HP yang bertulalit, jadi aku merasa terganggu. Ya sudah, kita balik lagi baca
dua smsnya dik Alya yang sudah masuk di HPku sejak tadi. Apa isinya ya. Nih lihat
saja.
“Kak, cepat pulang, please!”
Dua sms yang isinya sama dikirim oleh dik Alya. Pikiranku jadi cemas.
Kegelisahan pun ikut menyerangku. Mengapa dik Alya memintaku untuk segera pulang.
92
Dik Alya kenapa? Ya Allah lindungilah kami dari sesuatu yang tidak kami inginkan.
Aku berdoa dalam hati. HPku kembali bertulalit.
“Kak! Tolong cepat pulang ya, Alya sendirian!”
Satu lagi pesan dik Alya masuk. Isinya sama. Memintaku segera pulang.
Sepertinya ada kesedihan dalam dirinya. Aku nggak tega memikirkannya. Dia terus
merengek lewat pesan singkat. Dia sendirian di rumah. Ummi nggak ada. Hanya aku
satu-satunya kakak yang bisa di mintai tolong. Katanya Cintya mau main ke rumah.
Kenapa dia? Kalau terjadi apa-apa kenapa tidak menelfonku?! Aku harus segera pulang.
Sampai dipinggir jalan langsung dapat bus. HPku bertulalit lagi. Panggilan dari Cintya.
“Fajar ya! Come back soon! Your sister!” Suara Cintya terdengar tergesa-gesa
seperti mengisyaratkan sesuatu telah terjadi pada adikku.
“Baiklah, aku sedang dalam perjalanan! Dik Alya kenapa?”
“Nanti saja ceritanya.” Klik. Cintya memutuskan HPnya. Aku belum selesai
ngomong. Dalam bus aku terlihat sangat gelisah. Aku menengok ke kanan-kiri. Para
penumpang ada yang menatapku aneh. Masa bodoh. Ketika turun dari bus, aku
langsung lari. Hampir saja sebuah mobil sedan mencium tubuhku. Aku terkena omelan
dari supirnya.
“Hei..!! gila ya...!!” teriak sopirnya.
Tak kurespon. Aku terus berlari menelusuri gang cinta. Di jalan aku bertemu
dengan Sofi.
“Gelisah sekali kamu, kenapa?” Sapanya.
“Apa yang terjadi denganmu?” Lanjutnya lagi.
“Aku tak apa. Sory ya Sof, aku buru-buru.” Jawabku sambil terus jalan
meninggalkan Sofi.
“Ada apa?” Dia masih menanyaiku dengan teriak.
“Adikku!” Teriakku menjawabnya.
Memasuki rumah kuucapan salam. Tak ada yang menjawabnya. Tampak sepi.
Ruang tengah sedikit berantakan. Dari dalam kamar ada suara perempuan menyisakan
tangis. Kuhampiri. Aku mendapati dik Alya sedang menahan tangisnya. Ia mendekap di
dekat Cintya. Jilbabnya acak-acakan. Melihat kedatanganku, dia memandangiku lalu
mendekat. Dia menubrukku dan jatuh dipelukanku. Tangisnya mengeras. Perasaanku
93
semakin tak tentu. Aku ingin ikut menangis. Kutekan perasaanku agar tidak ikut
menangis. Adikku sendiri malah semakin keras tangisnya.
“Kak Fajar ke mana? Kenapa meninggalkan Alya sendiri!” Dengan sesenggukan
dik Alya berkata lirih.
Suaranya terdengar serak dan parau. Aku tak bisa berkata apa-apa.
Tenggorokanku kering. Lidahku tercekat. Tak mampu mengucapkan satu kata pun.
Mataku berkaca-kaca. Perlahan butiran lembut mulai menetes. Aku tak bisa
menahannya. Dik Alya terus sesenggukan. Kami larut dalam pelukan dan isak tangis.
Aku merasakan tubuh dik Alya hangat. Air matanya mengalir deras, membuat bajuku
basah. Kulihat Cintya. Dia termenung memikirkan sesuatu lalu memandangi kami
berdua. Suasana hening dan haru. Kutuntun adikku duduk di kasur. Dia tak lagi berkata-
kata. Masih sesenggukan dan berurai air matanya. Wajahnya basah oleh air mata. Kedua
matanya merah dan sembab. Ada warna merah lebam dibagian pipinya yang putih.
Sepertinya bekas pukulan. Cintya keluar. Aku mengikutinya.
“Apa yang telah terjadi di rumah ini Cin?” Tanyaku padanya.
Cintya terdiam lalu memandangiku dengan sorot mata tajam. Sebentar kemudian
suaranya keluar.
“Tadi aku ke sini sekitar jam setengah tiga. Ketika sampai di depan rumahmu, aku
mendengar Alya teriak-teriak minta tolong. Aku langsung masuk dan…!” Cintya tidak
meneruskan kalimatnya.
“Dan apa Cin?” Sahutku.
“Aku tak percaya ketika melihat Alya di kejar-kejar William. Dia memaksa-
maksa Alya. Adikmu berusaha untuk melawan dan menampar wajah bule itu. Tapi hal
yang sama juga dilakukan oleh William. Alya jatuh karena pukulannya lalu bule itu
menarik jilbab Alya sampai robek. Kemudian bule itu…! Dia…” Cintya menghentikan
ceritanya. Seolah tak berani menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Darahku naik.
Emosiku meledak. Aku terus memaksa Cintya untuk bercerita.
“Dia memperkosa adikku Cin? Tanyaku dengan suara keras.
“Bukan Fajar, bukan! Aku hanya melihat bule itu mencium pipi Alya. Kontan saja
Alya langsung meludahi wajahnya. Dan seketika itu juga wajah adikmu langsung
ditampar dengan keras. Aku nggak tega melihat Alya teraniaya. Aku langsung
berteriak-teriak minta tolong. Mendengar teriakanku dia langsung menghentikan
94
aksinya. Sebelum lari dia sempat mengancamku supaya jangan bercerita pada siapapun.
Aku tak menyangka kalau dia bakal melakukan perbuatan itu. Tadi pagi dia memang
ada di rumahku. Namun siang hari dia sudah pergi lagi, entah ke mana aku tidak begitu
memperhatikannya.”
Aku seperti terlempar mendengar cerita Cintya. Aku termangu-mangu mendengar
semuanya. Sejak aku mau pergi ke rumah Prof. Ridwan, aku sudah merasakan hal yang
tidak enak di hati. Kenapa aku tidak bisa memahami perasaan yang menyergapku.
Kalau saja aku tahu akan ada hal seperti ini yang akan menimpa dik Alya pastilah aku
tidak akan keluar rumah. Cukup berdiam diri di rumah dan bercanda ria dengan dik
Alya. Betapa bodohnya diriku.
“I’m sorry Fajar. Kalau sejak siang tadi, aku sudah ada di sini, belajar dengan
Alya, mungkin tidak akan ada kajadian itu.” Ucap Cintya menyesalkan dirinya.
“Itu bukan salahmu Cin, yang penting dik Alya selamat.” Jawabku.
Suasana menjadi hening dan sunyi. Kami berdua terdiam tanpa kata-kata. Saling
berpandangan mata. Menyesalkan apa yang baru saja terjadi. Suara isak tangis dik Alya
masih terdengar dari kamarnya. Dik Alya mungkin merasa terancam jiwanya. Aku
geram sekali. Ingin rasanya aku berlari mengejar laki-laki itu lalu menghajarnya.
Berani-beraninya laki-laki bule itu menodai dik Alya. Pantas saja, dulu ketika bertemu
dipestanya tante Linda dia memuji kecantikan dik Alya.
Sungguh pria kurang ajar. Awas! Tak akan kubiarkan dirinya berkeliling Jakarta
lagi. Akan aku jebloskan ke dalam penjara demi membela dik Alya. Aku harus berbuat
sesuatu agar dik Alya merasa aman lagi. Agar tidak ada korban lain yang lebih parah
yang akan menimpa gadis-gadis remaja yang tak bersalah. Aku harus bicara pada
hukum. Bercerita pada negara ini, kalau perlu pada dunia internasional. Apabila di
penjuru dunia, manusia seperti laki-laki itu masih banyak berkeliaran kesana kemari,
masih ada manusia-manusia bermoral binatang seperti dia, maka selamanya dunia tidak
akan bisa aman. Apalagi bagi wanita seperti adikku. Lemah dan mudah saja diperdaya
oleh laki-laki hidung belang yang moralnya lebih hina dari pada binatang.
Hukum harus menjeratnya dan mengadili seadil-adilnya. Jangan sampai bule itu
lolos dari jerat hukum sebagaimana yang banyak terjadi diluar negari. Jangan sampai
yang salah malah tertawa dan yang teranianya malah semakin menderita. Ini namanya
pelecehan. Pelecehan seperti itu tidak bisa dibenarkan oleh siapapun. Apabila dibiarkan
95
akan semakin merajalela. Dengan senangnya negara-negara asing menodai wanita-
wanita Indonesia. Memangnya wanita di negara ini mainan apa? Hingga dengan
mudahnya diperlakukan dengan rendah. Kita itu punya kehormatan dan harga diri. Jadi
jangan seenaknya melecehkan wanita Indonesia.
Sama seperti nasib tenaga kerja wanita kita. Yang ada di Arab Saudi, Malaysia
dan negara asing lainnya. Mereka semua pergi dari rumah berniat mencari nafkah untuk
memperbaiki ekonomi keluarganya, namun sampai di tempat tujuan malah di perkosa
dan dianiaya. Fenomena yang amat memilukan. Katanya negara Islam, tapi kenapa para
majikannya tega menodai pembantunya. Pembantu dianggapnya budak yang boleh di
perlakukan semaunya. Huh, dasar negara yang nggak punya hati. Nyadar bo! Hari gini
sudah nggak ada perbudakan. Jadi jangan anggap pembantu wanita itu sebagai budak.
Meski sudah separah itu, toh para petinggi negeri ini tidak bisa berbuat banyak. Tak bisa
membela rakyatnya yang teraniaya di negara orang lain. Sampai kapan rakyat kita akan
terus teraniaya? Di negara sendiri atau di negara orang lain sama saja teraniaya.
***
Cintya pulang, aku kembali menghampiri dik Alya di kamar. Kedua tangan dik
Alya memegangi pipinya yang merah. Betapa sakitnya dia. Aku merasakan hal itu.
Bagaimana kejiwaannya? Akankah dia trauma? Aku harus terus mendampinginya.
Tuhan pasti masih bersama kami. Allah masih cinta dan sayang pada kami. Dia masih
selalu melindungi kami. Karena dik Alya masih diberi keselamatan dari kelakuan
manusia bejat itu. Segala puji bagimu Allah. Engkau telah menyelamatkan adikku.
“Kamu nggak apa-apa Dik?”
“Cuma ini Kak.” Jawabnya sambil memegangi pipinya yang sakit.
“Ummi kapan pulang Kak?”
“Dik Alya sabar. Allah selalu menyertai orang yang bersabar dalam menghadapi
musibah. Nanti aku akan telfon ummi agar cepat kembali.” Aku menghiburnya.
“Kak Fajar janji, nggak akan meninggalkan Alya sendiri.”
“Iya Dik. Kakak janji tidak akan meningalkan Dik Alya sendiri. Aku akan
melindungi Dik Alya tercinta. Kita akan berjuang sama-sama menghadapi hidup ini.
Jangan takut dan trauma dengan kejadian ini. Kita harus terus memohon perlindungan
96
pada Allah. Melakukan hal yang terbaik. Berpikir positif dan membuang jauh yang
negatif. Kakak yakin ummi akan bangga dengan kita berdua. Kita harus bisa
menyenangkan hati ummi. Membuatnya selalu gembira dan tersenyum ria.”
Aku terus menghibur dik Alya dengan nesehat-nasehatku. Sebagai ganti ummiku.
Ada ketenangan yang merasuk dalam jiwanya. Semoga ummi cepat pulang. Kata-kata
ummi yang halus dan lembut pasti akan menambah kesejukan hati dik Alya. Ummi
memang selalu berperilaku halus dan lembut. Sehalus orangnya, selembut tabiatnya
sebagaimana nama Latifah yang di sandangnya.
***
97
10
DATANGNYA SANG AYAH
Sehabis shalat subuh di masjid al-Fatah ummi menelfonku. Beliau meminta
dijemput di terminal Lebak Bulus. Segera aku luncurkan mobil menuju terminal untuk
menjemput ummi. Beliau bersama Mbak Nora dan kedua anaknya yang kelihatan lucu
sekali. Muna dan Luna. Aku langsung menggendongnya dan mengajak bermain.
Kemarin ummi mengabarkan, kalau nenek meninggal dunia. Innaalillaahi Wainnaa
Ilaihi Raaji’un. Kami bersedih karena tak bisa ke desa dan menyaksikan kepergian
beliau. Hanya yang kami persembahkan, semoga segala amal baiknya diterima oleh
Allah swt. Di balas dengan balasan yang jauh lebih baik.
Dik Alya mendekati ummi dan menceritakan apa yang telah kami alami selama
beliau meninggalkan rumah. Termasuk ulah laki-laki bule yang mau menodai kesucian
dik Alya. Ummi menghibur dan menasehati kami supaya lebih berhati-hati dan menjaga
diri. Mbak Nora yang mendengarkan cerita dik Alya merasa merinding dibuatnya.
Di zaman akhir seperti ini memang rawan terjadi tindakan-tindakan asusila,
apalagi tempatnya di kota metropolitan seperti Jakarta. Sudah barang tentu sangat rawan
sekali. Benarlah kalau ummi selalu melarang dik Alya untuk keluar diwaktu malam.
Para pelaku tidak pernah memandang siapa korbannya. Mereka itulah manusia yang
berahlak binatang. Binatang yang berwajah manusia. Mereka itulah manusia yang kalah
melawan hawa nafsunya. Hawa nafsu lebih mendominasi jiwanya dari pada akal sehat
dan hati nuraninya.
Benarlah apa yang pernah disabdakan oleh baginda Nabi, bahwasanya akan ada
peperangan yang lebih besar dan lebih dahsyat setelah perang Badar yaitu perang
melawan hawa nafsu. Barang siapa yang mampu mengalahkan nafsu yang bersarang
dalam dirinya maka hati nurani dan akal sehatlah yang akan menuntunnya menuju jalan
kebaikan. Itulah jiwa yang tenang yang selalu ada dalam jalan tuhan.
“Wahai jiwa yang tenang.
Kembalilah pada tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhoi.
Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hambaku.
Dan masuklah kedalam surgaku.19”
19
QS. Al-Fajr: 27-30
98
Akan tetapi manusia yang kalah melawan nafsunya, amarahlah yang akan
mempengaruhi dan menggerakkan jiwa dan hatinya pada kejelekan dan kemaksiatan.
Kebanyakan dari kita kalah melawan hawa nafsu. Sehingga tak sedikit yang terjerumus
kedalam jerat setan. Semua itu karena nafsu yang telah menguasai diri dan hati manusia,
sehingga mereka berbuat sesuai apa kata nafsunya. Hati nurani dan akal sehat telah
tertutup rapat oleh nafsu setan.
***
Tepat jam 09.25 pagi, ada ketukan pintu beberapa kali. Tak ada yag mau
membuka. Ummi masih istirahat di kamarnya karena baru kembali dari desa. Mbak
Nora dan kedua anaknya sedang keluar jalan-jalan. Dik Alya entah ke mana. Tak ada
yang membuka pintu. Suara ketukannya bertambah keras karena lama tak dibuka. Aku
melangkah keluar kamar untuk membuka pintu. Kupegang grendel pintu. Klek.
Perlahan pintu terbuka. Dan betapa kagetnya diriku melihat sosok pria yang sedang
berdiri di depan pintu. Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi dan tampak berwibawa.
Dengan segera aku menutup pintu lagi, namun dengan sigap laki-laki itu mencegahnya.
“Anakku, ijinkan ayah masuk Nak.” Laki-laki itu memelas.
Dia adalah ayahku. Aku masih mengingat wajahnya. Aku punya fotonya.
Ternyata dia masih mengingat diriku dan mengaku sebagai ayahku. Dengan berat hati
aku mempersilahkan masuk. Sebenarnya, masih ada rasa sedikit benci di hatiku karena
beliau yang telah meninggalkan keluarganya sejak aku masih kecil. Tapi apa boleh buat,
beliau ke sini berniat untuk silaturrahmi. Itu artinya dia seorang tamu. Aku wajib
menghormati seorang tamu. Karena barang siapa yang beriman pada Allah dan hari
akhir hendaklah ia menghormati tamunya. Begitu sabda baginda Nabi Muhammad saw.
Aku ke belakang mengambilkan minuman untuk ayah. Ternyata dik Alya baru saja
keluar dari kamar mandi.
“Buat siapa Kak?” tanyanya melihat aku membawa nampan berisi minuman.
“Lihat saja, di depan ada siapa.”
“Huuh Kak Fajar! Apa sih Kak beratnya jawab pertanyaan!” Ucap dik Alya
sewot.
99
“Dik, kasih tahu Ummi.” Kataku setengah berbisik lalu keluar membawa air
minum.
Setelah menunggu lama ternyata ummi tak mau keluar menemui ayah. Tidak tahu
apa alasannya. Kami berdua yang menemani ayah ngobrol di ruang tamu. Ayah
menanyakan keadaaan kami. Kami menjawab baik-baik saja. Beliau juga bertanya
tentang study kami berdua. Dik Alya menjawab lancar-lancar saja. Dan aku
menjawabnya sedang proses skripsi. Dia menyatakan penyesalannya karena telah
meninggalkan kami sejak kecil. Dalam hati aku berkata “paling juga pura-pura. Di
mana-mana yang namanya penyesalan itu datang di belakang.” Dia juga meminta kami
agar mau tinggal bersamanya. Dengan tegas aku menolaknya. Kami tak mau tinggal
dengan orang yang telah berkianat pada ummi. Lagian kami juga sudah besar, sudah
bisa cari uang sendiri. Jadi untuk apa tinggal bersamanya.
“Maaf Yah Ummi nggak ada.” Kataku.
Mendengar ucapanku dik Alya langsung menatapku heran. Mungkin hatinya
bertanya kenapa kakaknya bohong. Aku tidak berbohong. Maksud dari jawabanku
adalah ummi memang tidak ada di ruang tamu. Jadi benar? Memang ummi nggak ada di
ruang tamu. Yang ada cuma kami bertiga, sedangkan ummi ada di kamarnya. Jadi aku
tidak berbohong.
“Di mana?” Tanya ayah.
“Sebenarnya Ummi tak mau bertemu dengan Ayah. Beliau masih istirahat karena
baru saja kembali dari desa.” Jawab dik Alya tegas.
“Mungkin Ummi tak ingin menambah beban pikirannya.” Ucapku meneruskan
jawaban dik Alya.
Ayah terdiam sejenak. Kami pun sedikit merasa tidak enak dengan kata-kata yang
kami keluarkan.
“Aku menyesal telah meninggalkan kalian semua dan menikah dengan wanita
lain. Sekarang Ayah baru tahu kalau wanita yang aku nikahi telah menipu ayah.
Ternyata wanita itu hanya ingin menguasai harta bendaku saja. Aku sangat menyesal
telah menceraikan Ummimu sekian tahun lamanya. Dia adalah wanita sholehah, penuh
perhatian dan sangat sayang pada keluarganya. Sedangkan wanita yang ayah nikahi
adalah seorang penipu. Sekarang dia telah meninggalkan ayah setelah mendapat banyak
kekayaanku.”
100
Ayah menjelaskan panjang lebar. Beliau begitu memperlihatkan penyesalannya.
Matanya terlihat berkaca-kaca. Kami berdua hanya diam mendengar apa yang di
ceritakannya. Tak mau menanggapi sepatah kata pun. Dalam hati aku tak
mempercayainya. Siapa suruh tergoda dengan wanita penipu seperti istrinya. Aku
merasa benci dengannya. Meskipun benci, aku harus tetap menghormatinya
Bagaimanapun juga aku adalah darah dagingnya.. Aku tak ingin bermusuhan dengan
siapapun juga.
Ayah memang termasuk salah satu dari sekian banyak laki-laki yang tak
bertanggung jawab atas keluarganya. Acap kali keluarga hancur gara-gara perceraian
antara keduanya. Tergoda dengan wanita lain yang justru ingin menipunya. Perceraian
memang halal, tapi sangat dibenci oleh Allah. Suami yang baik tak sepantasnya
menceraikan istri. Kasihan anak-anaknya. Selalu jadi korban. Tak tahu menahu
masalahnya, tapi terkena getahnya.
Permasalahan memang akan selalu muncul ditengah-tengah keluarga dengan
beragam bentuknya. Dua hati tidak akan mungkin bisa bersatu. Di satu sisi mungkin
bisa sama, akan tetapi di sisi lain pasti akan bertentangan dan berbeda. Makanya salah
satu harus ada yang mau mengalah demi keutuhan keluarga. Apapun masalah yang
menimpa keluarga pasti ada jalan keluarnya. Yang terjadi sekarang ini justru saling
menomorsatukan ego masing-masing. Ingin menang sendiri. Sikut sana sikut sini.
Saling menuduh begini dan begitu. Akhirnya terjadilah perang keluarga dan korbannya
adalah anak-anaknya.
Aku sendiri merasa miris kalau mendengar kisah perceraian yang banyak di
ekspose di televisi. Perceraian sepertinya hal yang sudah biasa dan di sengaja. Bercerai
kemudian menikah lagi. Bercerai lagi dan menikah lagi. Begitu seterusnya berulang
kali. Seperti mempermainkan sesuatu yang sakral dalam agama yaitu pernikahan.
Menikah seperti sebuah permainan yang dengan mudahnya dilakukan berkali-kali.
Bercerai lalu menikah lagi. Sepertinya tidak memikirkan dampak yang terjadi pada
anak-anaknya. Sehingga anak yang belum tahu apa-apa harus menjadi korban akibat
ego dari masing-masing pasangan.
Aku sangat menyesalkan perceraian ayah. Apalagi dia sangat jarang sekali
mengunjungi kami. Ketika masih di desa, beliau juga tak pernah mengunjungi kami.
Baru kali ini selama kami berada di Jakarta. Entah dari mana dia tahu tempat kami.
101
Mugkin dia baru sadar atas tipuan wanita yang jadi istri keduanya. Apakah dia mau
mengajak ummi menikah lagi. Gila! Ummi tak mungkin mau menerimanya. Ummi
sudah cukup enjoy dengan kesendiriannya. Ummi tak ingin lagi dikhianati oleh suami
seperti ayah.
“Dari mana ayah tahu tempat kami?” Tanya dik Alya.
“Kakek kamu yang memberi tahu.” Jawabnya singkat.
“Sebenarnya, aku kesini mau ketemu Ummimu, tapi kalau dia tidak mau menemui
ya sudah. Tak apa-apa.” Lanjutnya dengan nada yang sedikit kecewa.
“Maafkan ummi Yah, mungkin beliau memang tak berniat dan sama sekali tak
ingin menemui orang yang telah mengkhianati dirinya. Maafkan kami juga, karena kami
tak mungkin meninggalkan ummi. Kami tak mungkin ikut dengan ayah. Itu mustahil
kami lakukan. Karena ummi yang sudah membesarkan kami. Jadi amat sangat bersalah,
jika kami harus meninggalkan beliau.” Ucapku tegas.
“Alya juga begitu Yah. Dari kecil Ayah sudah tidak mempedulikan kami, untuk
apa sekarang ayah menginginkan kami. Ayah itu sudah mengkhianati keluarga. Menipu
dan membohongi kami.” Sahut dik Alya. Sepertinya dia marah. Lalu semuanya terdiam
dan menunduk. Kami berdua seperti menghakimi ayah di ruang tamu ini. Mata ayah
memerah dan perlahan keluarlah butiran kecil yang turun menuju pipinya. Dik Alya
terlihat menyesal dengan kata-katanya yang baru saja keluar.
“Maafkan Alya Yah, Alya memang benci sama Ayah. Tapi sebenarnya Alya
sayang. Alya hanya kasihan dengan ummi. Kami masih sayang dan menghormati ayah.
Kami juga kangen punya Ayah lagi. Karena dari kecil Alya tidak pernah merasakan
kasih sayang dari seorang Ayah. Tapi kami lebih bahagia tinggal bersama ummi meski
tanpa kehadiran seorang ayah. Kami sudah bahagia dan akan terus bahagia bersama
ummi.” Kata-kata dik Alya terbata-bata. Suaranya terdengar serak. Kemudian dia
berdiri dan mendekati ayah. Lalu ayah memeluknya.
“Maafkan ayahmu Nak, karena telah melukai hati kalian dan juga ummimu.
Semoga kedatanganku ini bisa menghapus dosaku pada ummimu. Sekali lagi maafkan
ayah.”
Dik Alya masih berada dalam pelukan ayah. Aku jadi terharu melihatnya.
Ternyata dik Alya sangat merindukan sosok seorang ayah. Andaikan saja dahulu tidak
ada perceraian antara ayah dengan ummi, mungkin kehidupan dalam keluargaku akan
102
terasa lebih indah. Ada curahan kasih sayang yang datang dari sang ayah dan ibu. Tapi
itu hanya mimpi karena orang yang diharapkan kini telah meninggalkan kami sejak
masih kecil.
***
Jam 11.05 ayah kembali dari rumahku tanpa bisa menemui ummi. Dia tinggal di
mana, aku juga tidak menanyakan. Aku hampir lupa kalau hari ini adalah hari jum’at.
Aku di minta untuk memberikan khutbah shalat jum’at di masjid al-Fatah oleh ustadz
Sahal. Jauh-jauh hari aku telah menyiapkan tema khutbahku. Dulu ustadz Sahal
menyuruhku untuk menyampaikan khutbah jum’at setiap sebulan sekali, namun aku
menolaknya. Sekarang ini, aku disuruh mengganti khotib yang tidak bisa hadir.
Sebenarnya aku masih keberatan kalau disuruh mengisi khutbah jum’at. Bukan karena
tidak bisa berpidato di atas mimbar, akan tetapi tanggung jawab dan konskuensi dari apa
yang aku sampaikan dalam khutbahku. Ketika seseorang mengatakan Ittaqullah dalam
khutbahnya, berarti dia juga harus bisa menjalankan apa yang telah diucapkan sendiri
sebelum berpesan pada orang lain di atas mimbar.
Usai shalat Jum’at Pak Sahal memberi amplop padaku. Dan seperti itulah tradisi
yang ada di sini. Sedikit-sedikit ngasih amplop. Ini dan itu ngasih amplop. Jadi khotib
atau imam shalat sering kali dikasih amplop. Aku jadi heran dengan dunia ini. Segala
sesuatu memang harus selalu menghasilkan uang? Berdakwah atau menyebarkan ajaran
Islam haruskah diukur dengan uang? Berdakwah seperti bekerja? Yang ironis lagi
terkadang malah sampai ada yang memasang tarif segala. Memberikan ceramah,
mengisi pengajian dari satu tempat ke tempat lain dipilih yang honornya besar. Kalau
honornya kecil tidak mau datang. Hal seperti itu banyak terjadi. Sebenarnya mereka itu,
ulama’ sungguhan atau jadi-jadian? Muballig sungguhan atau sekedar bisa ngomong ke
sana-kemari di atas mimbar? Ulama’ itu pewaris Nabi, kalau di saat berdakwah masih
mengharapkan upah dari umatnya, apa kata mereka?! Bukankah para Nabi dulu ketika
berdakwah, menyeru pada kaumnya sama sekali tidak pernah meminta dan berharap
upah sepeser pun dari kaumnya.
Nabi Nuh, Hud, Sholeh, Luth, Syuaib, Musa dan lainnya. Mereka semua adalah
para pedakwah sejati yang tidak pernah meminta upah sepeser pun dari kaumnya.
103
Bahkan sering kali kaumnya selalu mendustakan, mengejek, mencela dan berusaha
membunuhnya. Meski demikian, mereka tetap tidak pernah mengharapkan upah dari
kaumnya. Tidak lupa pula dalam ingatan kita akan dakwah baginda Nabi Muhammad
saw. Betapa beliau selalu mendapat perlawanan sengit dari kaum kafir. Beliau tak luput
dari ejekan, hinaan, cercaan dan makian yang bertubi-tubi. Beliau diludahi, dilempari
kotoran unta dan hinaan-hinaan yang lain. Meskipun begitu apa pernah beliau meminta
upah dari ummatnya?! Tidak pernah? Meski para utusan itu berdakwah pada kaumnya
selalu didustakan dan mendapat perlawanan, sekali lagi mereka tak pernah
mengharapkan dan meminta upah dari kaumnya.
“Wahai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu terhadap seruanku ini.
Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu
memikirkannya.20”
Nah, jelas sekali ayatnya. Meski selalu didustakan, mereka tetap saja terus
berdakwah dan menyeru pada kaumnya untuk beriman pada Allah. Tulus dan ikhlas.
Tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk memperoleh uang dan upah apapun dari
kaumnya. Yang mereka harapkan hanyalah supaya kaumnya itu mau mengikuti seruan
dan dakwah mereka. Hanya ridlo Allah yang mereka harapkan. Dan bukan amplop yang
berisi uang tebal.
Sekarang bagaimana dengan kita yang mengaku para pewaris Nabi? Bagaimana
dengan mereka yang di anggap sebagai ulama’ pewaris ilmu Nabi? Apa bisa meniru
dakwahnya para Nabi? Apa bisa berdakwah, memberikan ceramah, mengisi pengajian
kesana kemari tanpa diberi upah dari orang yang mengundangnya? Kalau tidak bisa
patutkah dikatakan sebagai pewaris Nabi? Lalu apa yang kita warisi dari para Nabi itu?
Sedangkan kita sendiri tak bisa meniru sifat-sifat mereka. Kebanyakan bertolak
belakang dengan sifat mereka. Mereka tulus dan ikhlas dengan dakwahnya. Sedangkan
kita kikir dan mengharapkan uang dari kaumnya. Kalau yang berdakwah selalu seperti
itu, bagaimana mungkin yang di dakwahi mau mengikuti dakwahnya. Mustahil mereka
mau mengikuti apa yang diserukan oleh mereka. Bukan tidak mungkin mereka malah
lari dari seruannya. Ini terbukti. Zaman akhir ini banyak orang yang lari dari ulama’.
Tidak mau mengikuti apa yang di fatwakan oleh para ulama’ atau para kyai. Bahkan
banyak yang memusuhinya. Kenapa begitu? Karena tidak ada ketulusan yang ada dalam
20
QS. Hud: 51.
104
diri kita dalam berdakwah. Keikhlasannya sekarang sudah banyak yang tergantikan oleh
materi.
***
105
11
SYAIR SANG PENGAMEN
Setiap Ahad pagi, kami selalu bercengkerama di ruang tengah. Aku, ummi dan dik
Alya. Saling curhat dan bertukar pikiran. Berdiskusi dan bermusyawarah tentang suatu
masalah. Setelah itu aku menonton TV. Kupilih chanel satu persatu. Tak ada yang
menarik. Di RCTI ada Doraemon. Filmnya mengisahkan tentang makhluk bumi yang
tak lagi ramah pada lingkungan. Tayangan robot kucing dari jepang itu memang asyik
untuk dinikmati. Di TPI ada Tom & Jerry. Aku menyaksikan kedua tokoh kartun itu
sedang kejar-kejaran. Teryata si kucing ingin menangkap si tikus yang lincah. Lama tak
tertangkap. Hingga akhirnya si kucing malah terkena perangkap sendiri. Tom terperosok
ke dalam lubang. Jerry tertawa geli mengejeknya. Aku ikut tertawa melihat
pertengkaran kedua tokoh kartun itu. Dari adegan itu, aku merasakan hal yang sama
dengan apa yang sering aku lakukan dengan dik Alya ketika sedang bertengkar. Film itu
tampak lucu dan menggemaskan. Tak hanya membuat pikiran jadi fresh karena lucunya,
tapi juga bahasanya inggrisnya yang bagus. Aku sering dapat istilah-istilah baru dari
dialognya. Ini kartun yang bagus.
Ketika sedang asyik-asyiknya menonton, dik Alya malah menyahut remot yang
aku pegang. Dia menggantinya dengan acara sinetron bertemakan cinta. Kontan saja
aku menyahutnya kembali. Dik Alya melawanku. Kami saling berebut remot. Kejar-
kejaran. Saling melempar bantal. Persis dengan adegan yang diperagakan Tom & Jerry
barusan. Ummi yang melihat tingkah polah kedua anaknya diam saja. Mungkin sudah
bosan. Begitu juga Mbak Nora. Kedua anaknya menirukan adegan kami. Dia sempat
geleng-geleng kepala melihat kami seperti anak kecil. Kami baru berhenti ketika ummi
mengangkat suara untuk menasehati kami.
“Maafkan Alya um.” Dik Alya berkata dengan penuh tunduk. Sambil
menggendong dik Muna.
“Kalian itu sudah besar masih saja seperti anak kecil. Apa nggak malu sama
kedua anakku ini. Kalau Muna dan Luna pantas melakukan hal itu.” Mbak Nora
menyindir kami.
“Maafkan kami berdua Mbak. Kami memang sering seperti ini. Mungkin sudah
terbiasa dari kecil. Tapi nggak lama kok. Entar juga baikan lagi.”
106
Mbak Nora menggelengkan kepalanya lagi. Merasa heran dengan tingkah kedua
keponakannya. Dik Alya beralih mengajak bermain kedua anaknya Mbak Nora. Aku
memang tak suka kalau dik Alya mengganti dengan acara sinetron. Sangat sedikit nilai
pendidikannya. Ceritanya selalu sama. Selalu mengajari pacaran. Itu-itu saja, terlihat
membosankan. Anak sekolah diajari pacaran dan ciuman! Memangnya anak-anak didik
kita mau dibawa ke mana? Moralnya mau diarahkan ke mana? Apa untuk bermesraan
dengan sang pacar! Apa pantas anak sekolah diajari seperti itu? Mereka yang masih
kecil-kecil juga diajari pacaran. Sinteron kita selalu saja mengajarkan hal itu, mesra-
mesraan antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya. Nggak ada yang lebih bermutu.
Remaja kita cenderung dijejali dengan tontonan yang berbau maksiat melulu. Kapan
majunya kalau anak-anak kita tiap harinya dikasih makanan seperti itu?!
***
Masalah yang kemarin menimpa dik Alya telah aku bicarakan dengan pak
Ridwan. Kami berdua telah melaporkan ke kepolisian. Tapi belum tahu hasilnya seperti
apa. Apakah ditangani secara serius atau tidak. Belum tahu. Mungkin hanya
dininabobokan. Semoga saja pemuda bule itu bisa dijerat oleh hukum. Kalau tidak pasti
dia akan terus berkeliaran di Jakarta ini dan mencari korban-korban yang lain. Kasihan
para wanita yang tidak berdaya.
***
Ahad siang aku bersiap untuk pergi ke Lembaga Kajian Islam (LKI) yang
letaknya dekat dengan Taman Mini Indonesia Indah. Di sebuah bangunan yang cukup
luas milik ustadz Bashori. Di situ aku membimbing anak-anak untuk belajar tafsir al-
Qur’an.
Aku mengenal ustadz Bashori untuk pertama kalinya ketika mengundangnya
dalam acara Ramadlan yang diadakan di kampusku. Waktu itu aku terpilih sebagai
ketua panitia. Dari situlah aku berkenalan dengan beliau. Karena sering berkomunikasi
dan bertanya-tanya tentang kuliahku, akhirnya hubungan kami semakin dekat. Lama
kelamaan beliau menawariku untuk ikut mengajar di lembaganya.
107
Ketika bersiap-siap keluar rumah aku mendengar suara ketukan pintu. Kubuka.
Seorang wanita berwajah manis dan ceria berdiri di hadapanku.
“Assalamuaalikum. Mau ketemu Alya ada?” sapanya halus.
Aku terdiam sejenak lalu menjawab.
“A... ada. Silahkan masuk.” Jawabku sedikit gugup.
“Terima kasih.”
Aku kembali ke kamar dan memanggil dik Alya. Dia keluar menemui temannya.
Di kamar aku memikirkan teman dik Alya itu. Aku merenung sendiri membayangkan
gadis itu.
“Sepertinya aku pernah melihat cewek ini, tapi dimana ya.” Batinku.
Aku masih terus memikirkan di mana aku menemui gadis ini.
“Dimana ya?” batinku lagi.
Aku masih belum bisa mengingatnya. Kucoba mengingat-ngingat lagi. Tidak
ketemu juga. Mungkin memoriku lagi eror. Ya Allah, kenapa aku jadi memikirkan
wanita ini. Kenapa diriku merasa aneh seperti ini? Aku tak kenal wanita ini. Kenapa ada
perasan aneh tentang dirinya? Hatiku terus berkelit sendiri. Aku jadi malu untuk keluar
dari kamarku. Tak enak kalau bertatap muka dengan gadis itu. Aku merasa bingung.
Aneh merasakan diriku sendiri. Apakah wanita itu mengenalku? Sedangkan di sini aku
sendiri telah memikirkannya. Bagaiamana aku harus keluar kamar. Kalau dik Alya tahu
perasaanku pasti akan menggodaku.
Aku berkaca di depan cermin kamarku. Menatap wajahku dalam-dalam. Aku
menemukan sesuatu yang tersimpan dibalik sorot mataku. Aku menemukan sesuatu
yang tersimpan dibalik wajahku. Apakah Allah mengijinkan perasaan yang ada dalam
hatiku sekarang ini. Pantaskah aku memikirkannya? Pantaskah aku menghadirkan rasa
yang baru saja hadir di dadaku? Pantaskah aku menyimpan perasaan ini untuk gadis
secantik dan semanis dia?
“Subhanallah. Astagfirullah. Ampuni dosa hambamu ini ya Allah. Jaga perasaan
ini. Tak sepantasnya aku berpikir seperti ini.”
Aku memberanikan diri untuk keluar kamar dengan hati yang berdebar. Di ruang
tengah kujabat tangan ummi. Aku berpamitan dengan beliau.
“Tangan kamu dingin banget kenapa?” tanya ummi.
108
Aku diam saja dan hanya tersenyum. Di ruang tamu mataku langsung bertatapan
dengan mata temannya dik Alya. Hatiku semakin berdebar. Dia menyunggingkan
senyumnya ke arahku. Manis sekali. Dik Alya memandangiku. Sepertinya dia tahu apa
yang aku rasakan saat ini.
“Kak, mau ke mana? Tanya adikku.
“Seperti biasa.” Jawabku singkat.
Aku berusaha menguasai perasaanku sendiri melihat wanita yang ada di depan dik
Alya. “Aku berangkat dulu dik.” Lanjutku sambil meluncur keluar.
“Kak, tunggu!” dik Alya berteriak memanggilku. Aku menghentikan langkah
kaki. Dia mendekatiku kemudian berbisik. “Kak Fajar tahu itu siapa?”
“Memang siapa?” heranku.
“Dia adalah perempuan yang pernah kak Fajar tanyakan.”
“Lalu?”
“Dia itu Naela Kak.”
Cess....!
“Naela! Itukah gadis yang selama ini membuat penasaran hatiku?!” gumamku.
Aku seperti tersiram air salju mendengar kata Naela. Aku merasakan getar cinta
lewat kata-katanya. Aku merasakan rindu mendengar nama Naela disebut dik Alya.
Hatiku seperti tersiram embun pagi mendengar kalimat dik Alya. Inikah wanita yang
selama ini aku pikirkan. Wanita yang kukenal dari HP dik Alya. Dan saat ini fotonya
ada dalam genggaman tanganku. Aku merasakan keanehan dalam diriku. Aku terus
memikirkannya. Semenjak kenal namanya, wanita itu terus terbayang dalam otakku.
Hatiku berbicara sendiri. Bertanya-tanya sendiri.
“Subhanallah. Astagfirullah.” Aku beristigfar dalam hati. Lalu segera beranjak
keluar rumah. Sekilas, aku melihat wajah manis teman dik Alya. Karena mobilnya
dibawa oleh Pak Amin untuk membeli bahan-bahan kain. Motornya juga dipakai sama
Mbak Lina. Dengan amat terpaksa aku harus naik angkutan bus.
Menelusuri gang cinta, aku selalu terpikir tentang wanita itu. Wajahnya
berkelebatan dihadapanku. Sampai di depan kampus, bus yang kutunggu belum nongol
juga. Bus 510 warna kuning. Nanti aku akan turun di Pasar Rebo lalu berganti angkutan
dan turun di depan masjid at-Tien. Sebenarnya aku merasa sangat amat tidak nyaman
naik bus 510 untuk pergi ke sana. Selalu saja berdesak-desakan. Terkadang lebih parah
109
dari itu. Sampai tidak bisa bergerak karena saking penuh dengan penumpang. Bus ini
terkenal dengan bus copet. Karena momen desak-desakan itulah para copet akan dengan
mudah mengambil barang orang. Teman saya pernah kehilangan tiga handphone ketika
naik bus itu. Tasnya sampai robek tanpa dia sadari.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua. Udara di jalanan panas bercampur
polusi. Ini yang paling aku benci. Aku sangat malas untuk keluar rumah di waktu siang.
Karena polusi di jalan hanya menambah sesak dadaku saja. Kalau tidak karena
tanggung jawab yang diberikan oleh ustadz Bashori. Kalau tidak karena cinta ilmu,
tentu saja aku tidak akan keluar rumah. Lebih enak tinggal di kamar dan menulis
sesuatu di komputerku sambil mendengarkan musik dan menikmati es jus. Rasanya
segar sekali.
Setelah dua puluh menit menunggu akhirnya datang juga. Perlahan bus berhenti.
Diiringi ankutan-angkutan kecil yang ada di belakangnya. Tak ada penumpang yang
turun. Aku langsung masuk. Masih ada tempat duduk yang kosong satu. Sebuah
kebetulan. Waktu siang biasanya sudah penuh sesak. Bahkan berjubel. Bus yang satu ini
memang terkenal dengan sesak dan penuh dengan penumpang. Tapi aku heran, kenapa
armada busnya tidak di tambah-tambah oleh pihak yang bersangkutan.
Bus yang aku naiki mulai merangkak. Aku masih terpikir teman dik Alya tadi.
Bus terus melaju. Meski kondisi jalanan penuh dengan kendaraan, supir berusaha
menerobos celah-celah jalan yang kosong agar bisa mendahului yang lain. Ini masih
biasa saja, terkadang dalam keadaan macet, sopir malah ugal-ugalan mendahului
kendaran lain. Gila ‘kan! Begitulah tidak nyamannya naik kendaraan umum di Jakarta.
Makanya tak heran kalau banyak orang yang lebih memilih menggunakan kendaran
pribadi. Alhasil bertambah banyaklah kendaraan di jalanan. Akhirnya kemacetan terjadi
di mana-mana.
Walupun jalannya dilebarkan sepuluh kali lipat, pasti juga akan terus macet! Coz,
masalahnya bukan jalan, melainkan kendaraannya yang sudah terlalu buuanyak sekali.
Setiap pabrik berlomba-lomba memproduksi kendaraan. Konsumen beramai-ramai
membeli dengan harga murah dan proses mudah. Meski katanya lagi krisis ekonomi
kayak begini, tapi masyarakatnya malah beramai-ramai membeli mobil atau motor?
Heran! Aneh bin ajaib. Katanya krisis, tapi banyak yang bisa beli mobil atau motor. Apa
110
nggak kebalik namanya?! Aduh, malah mau beli motor segala! Ya sudah kita balik lagi
ke dalam bus 510 tadi.
Dalam otakku, wajah wanita itu masih selalu berkelebatan. Entah kenapa? Aku
seperti tersihir dengannya. Sepanjang bus memutar rodanya, tak ada penumpang yang
turun, terus bertambah sampai berjubel. Cucuran keringat membasahi tubuh para
penumpang. Dalam suasana penuh sesak seperti itu, biasanya masih akan ada para
pengamen yang berusaha masuk untuk meramaikan suasana.
Sampai di pasar Jum’at bus berhenti dengan perlahan. Tak ada penumpang yang
turun, malah bertambah banyak yang naik. “Merapat ke tengah, tolong merapat ke
tengah.” Begitu pinta sang kondektur bus. Gila! Kondekturnya memang benar-benar
gila. Penumpang sudah tak bisa bergerak karena penuh sesak. Tapi masih juga
menaikkan penumpang.
“Dasar bus serakah!” lirihku dalam hati.
Dua orang dengan gitar di tangannya ikut memasuki bus. Bus kembali memutar
rodanya. Kedua pengamen tadi mulai memetik senar gitar dan memekikkan suaranya.
Di antara para penumpang pastilah ada yang merasa terhibur dengan nyanyian dari
pengamen itu. Namun tak sedikit pula yang merasa terganggu dengan aksi mereka.
Ketika para penumpang sedang berkipas-kipas menghilangkan keringatnya, kedua
pengamen itu malah tampak asyik melantunkan nyanyian dan bertepuk tangan. Aku
menyaksikan seorang ibu yang sedang berdiri didekat pengamen, mulutnya berkomat
kamit mengucapkan sesuatu. Apa mungkin dia sedang menggerutu karena ulah
pengamen itu. Aku tidak tahu. Tapi kayaknya memang begitu, karena mimik wajahnya
memperlihatkan rasa tidak suka dan terganggu.
Kudengarkan suara pengamen itu dengan seksama. Nyaring. Hampir menyamai
musisi band papan atas. Lagunya lucu dan unik.
Wahai para penumpang
Tolong siapin ratusan
Kalau nggak ada ratusan
Kasih saja ribuan
Kalau nggak punya ribuan
Kasih saja senyuman
Kalau masih gak punya
111
Itu namanya kebangetan21
Begitulah kiranya yang bisa aku tangkap dari lagu ciptaan musisi jalanan itu. Aku
tertawa sendiri dalam hati mendengar lagu itu. Mungkin bisa dibilang kreatif dan puitis.
Cukup efektif untuk mengetuk hati para penumpang agar mau menyisihkan duitnya bagi
mereka.
“Mengapa mereka tidak buat rekaman saja? Enak bisa dapat duit banyak. Tak
perlu susah payah begini. Enak saja, memang gampang rekaman. Ya gampanglah,
rekam saja sendiri pakai tape recorder, setelah itu dicopy yang banyak, terus diedarkan
ke toko-toko. Bereskan. Entar kalau nggak laku gimana? Yah, belum usaha sudah
nyerah dulu. Namanya juga usaha, laku nggak laku, ya dijalankan saja. Siapa tahu ada
produser yang mendengarnya, terus mau menawarkan rekaman, untung kan? Betul
nggak?” Aku berdebat dalam hati sendiri.
Kalau aku renungkan, lagu pengamen tadi sama dengan apa yang tersirat disalah
satu ayat al-Qur’an. Meski kemungkinan besar mereka tidak tahu. Coba simak ayat
berikut ini. Surat al-Baqarah ayat 263. “Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu
jauh lebih baik dari pada bersedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan
(perasaan si penerima). Dan Allah maha kaya lagi maha penyantun.”
Nah, salah satu bentuk tindakan dan perkataan yang baik adalah tersenyum atau
meminta maaf karena tak bisa memberi uang pada mereka. Kata Nabi, tersenyum itu
sama dengan bersedekah. Kalau begitu senyum saja terus ya, agar bisa bersedekah terus
menerus, asalkan jangan kebablasan senyumnya, entar di bilang orang gila lagi.
He..he..he..
Syair pengamen itu memang tepat. Kalau penumpangnya nggak mau ngasih uang
ratusan cukuplah tersenyum atau minta maaf. Itu jauh lebih baik dari pada menghardik
atau mengusirnya. Sekarang ini banyak terjadi. Pengamen, pengemis dan para peminta-
minta yang ada di jalanan dihardik, diusir dan dimaki-maki, terkadang malah sampai di
marahi, sudah begitu nggak mau ngasih uang. Padahal mereka yang bersifat begitu
adalah orang kaya. Masa orang kaya cuma ngasih seratus perak doang nggak mampu.
Itu namanya bukan kaya, tapi miskin. Jauh lebih miskin dari pada orang yang miskin.
Kalau nggak mau ngasih ya sudah, jangan diusir, dihardik atau dimaki-maki. Diam saja
atau bilang, Maaf mas, pak, dik, bu, nggak punya recehan. Beres kan!
21
Dikutip dari lagu pengamen jalanan.
112
Kalimat di atas jauh lebih bagus ketimbang memarahi dan memaki-maki. Meski
kalimat tersebut adalah bohong belaka. Di mana bohongnya? Iya bohong. Lawong
punya uang banyak di dompet bilang nggak ada. Itu sama saja bohong! Kalau memang
nggak mau ngasih yang jujur saja, nggak usah nagsih. Cukup diam dan nggak usah
peduli. Nggak usah pakai bohong segala dengan berkata nggak punya recehan.
Kayaknya memang nggak punya hati ya! Coba pikir! Ngasih uang seratus perak
beratnya seberapa!! Untuk makan saja ratusan ribu langsung habis seketika. Lenyap
dalam sekejab dan masuk ke dalam perut. Beli pakaian dengan harga jutaan juga
mampu. Lha ini, cuma ngasih seratus perak, masa nggak mampu. Lucu! Nggak mampu
beneran atau memang terlalu amat sangat pelit sekali! Nanti kalau nggak mampu
beneran baru tahu rasa!! Kita semua telah diingatkan sama al-Qur’an tentang hal ini.
“Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah kamu menghardiknya. Dan
tehadap nikmat tuhanmu hendaklah kamu selalu menyebut-nyebutnya.22” Jelas banget
ayatnya.
Usai menyanyikan lagu, salah satu dari penumpang tadi membuka kantong plastik
yang bertuliskan relaxa. Mulai dari yang paling depan ia menyodorkan plastiknya pada
para penumpang. Ada yang memberi. Ada yang diam dan tak peduli. Ada pula yang
seolah berpura-pura tidur agar tidak di mintai. Beragam banget sifat manusianya. Ada
pahala datang malah pura-pura tidur. Ada tiket masuk surga malah cuek. Lebih tertarik
dengan tiket sepak bola.
Ia terus menyodorkan kantongnya kearah penumpang satu demi satu. Sampai
dihadapanku, aku merogoh saku celana. Tidak kutemukan uang logam. Adanya ribuan.
Pas buat ongkos pulang nanti. Tak apalah, aku masukkan satu lembar saja. Soalnya
nanti akan ada pengamen lagi. Ongkos pulang itu urusan nanti. Pasti ada gantinya.
Rejeki itu harus dibagi-bagi meskipun cuma sedikit. Yang penting pengamen itu bisa
senang. Kalo pas kebetulan nggak ada, cukup tersenyum dan berkata “maaf mas”. Pasti
mereka lewat dan memakluminya. Tapi selama ini aku berusaha membawa uang
recehan untuk kuberikan pada setiap pengamen. Mereka itu orang-orang susah. Lebih
susah dari diriku. Aku selalu bertekad untuk bisa berbagi rejeki pada siapa saja. Tak
perlu melihat siapa yang kita beri. Apakah pernah memberi sesuatu sama kita atau
nggak. Niatnya memberi ya memberi. Tak usah pandang bulu.
22
QS. Adh-Dhuha: 10-11.
113
Aku jadi teringat acara reality show “tolong” yang disiarkan oleh salah satu
setasiun televisi swasta. Acara itu yang selalu membuatku untuk bisa berlaku
dermawan. Ceritanya begini. Ada seorang anak perempuan kecil yang berpakain lusuh
berjalan ke sana-kemari menawarkan satu kantong plastik kecil yang berisi ikan.
Harganya lima puluh ribu. Mahal amat! Iya, soalnya anak yang menjual ikan itu butuh
uang. Katanya ibunya sakit dan rencananya uang itu untuk beli obat ibunya.
Kebetulan ada mobil berhenti. Anak itu langsung menghampiri ketika
pengemudinya turun dari mobil. “Bu mau beli ikan ini nggak?” Ucap anak kecil itu
menawarkan ikannya dengan nada memelas.
“Berapa?” Tanya sang ibu.
“Lima puluh ribu.”
“Ikan segini lima puluh ribu. Mahal banget.” Kata pemilik mobil.
“Tapi, Ibu saya sakit Bu.” Tukasnya.
“Nggak ah nggak!” Perempuan itu menolak. Kemudian pergi meninggalkannya.
Terpaksa anak kecil itu pergi dengan wajah kecewa. Ia berjalan lagi dan
menawarkan ikannya. Kali ini ia bertemu dengan penjual nasi keliling.
“Mau membeli ikan saya Bu? Ibu saya lagi sakit, saya nggak punya uang untuk
beli obat!” Katanya dengan nada sedih.
“Berapa Nak?” Tanya sang penjual nasi.
“Lima puluh ribu saja.”
Penjual nasi diam membisu. Tak satu katapun keluar dari mulutnya. Dia
memandangi anak itu dengan penuh rasa iba.
“Baiklah Nak, ini uangnya, aku doakan semoga ibumu cepat sembuh ya.”
Begitulah kata si penjual nasi.
Anak itu langsung terlihat gembira. Kemudian team “tolong” datang menghampiri
ibu yang menjual nasi. Dan memberikan uang sepuluh kali lipat dari uang yang telah di
berikan kepada anak itu. Betapa gembiranya ibu sang penjual nasi. Tidak disangka-
sangka dia bisa mendapatkan uang yang banyak.
Kalau kita memikirkan kejadian nyata di atas, tentunya tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin seoarang ibu yang hanya menjual nasi keliling mau membeli
sekantong ikan dengan harga lima puluh ribu. Sedangkan dia sendiri juga begitu
susahnya berkeliling untuk mencari uang dengan menjual nasi. Belum tentu sehari dapat
114
lima puluh ribu. Dan kenapa pula ibu yang mengendarai mobil mewah tadi tidak mau
membelinya. Padahal sudah barang tentu dia punya uang berjuta-juta di kantongnya
atau di ATMnya.
Itulah bukti kalau berderma tidak harus kaya harta. Tapi harus kaya hati seperti
sang penjual nasi tadi. Ibu yang berjualan nasi keliling tadi mempunyai kekayaan hati
dan ketulusan untuk menolong orang yang sedang dalam kesusahan, meskipun dia
sendiri juga merasakan kesusahan yang sama. Sehingga dia pun mau memberikan
uangnya. Karena untuk kebaikan dan menolong orang lain. Berbeda dengan ibu yang
mengendarai mobil mewah. Meskipun dia kaya harta namun miskin hatinya. Tak punya
rasa sosial. Tak punya ketulusan untuk menolong dengan sesama. Sehingga dia pun tak
mau membeli ikan yang ditawarkan oleh anak tadi. Baginya setiap uang yang keluar
dari kantongnya harus ada materi lain yang sebanding dengan uang yang di
keluarkannya. Dan ia akan merasa merugi untuk mengeluarkan uang lima puluh ribu
hanya dengan ikan yang sedikit. Karena dia berpikiran untung dan rugi. Yang dia pikir
hanya dari segi materi. Sedangkan penjual nasi tadi memandang dari ketulusan hati.
Rasa ingin menolong dengan anak yang sedang dalam kesusahan. Itulah bedanya orang
yang kaya harta dengan orang yang kaya hati dan jiwa.
Bus terus melaju. Sampai didekat gerbang masuk pintu tol kedua pengamen tadi
mendekat ke pintu depan. Mungkin akan turun. Memasuk pintu tol, supir bus tampak
mengerim. Perlahan bus berhenti. Supirnya menerima tiket dan menyodorkan uang pada
penjaga tol. Pengamen tadi tampak meloncat saat turun dari bus. Aku melamunkan
pengamen itu. Enak sekali jadi mereka. Naik dan turun dari bus nggak usah bayar. Tapi
malah dibayar. Rasanya aku ingin bergabung dengan mereka.
Lamunanku semakin meluas. Kenapa musisi jalanan di negara ini begitu banyak!
Terkadang anak-anak yang masih usia sekolah dasar juga ikut-ikutan. Di jalan, di
angkutan, di bus banyak sekali berkeliaran. Bukankah seharusnya mereka berada di
dalam bangku sekolah?! Tapi dengan santainya mereka memasuki bus demi bus,
angkutan demi angkutan untuk mengais rupiah. Kenapa mereka tak mau masuk
sekolah?! Apakah tak punya biaya atau memang sengaja?! Dan kenapa pula yang sudah
dewasa tak mau bekerja?! Mereka lebih memilih mengamen di jalan. Benarkah tidak
ada lowongan atau memang tak punya bekal ijazah untuk memasuki lapangan
115
pekerjaan? Kenapa begitu susahnya mencari kerja di negeri sendiri?! Sehingga banyak
rakyat yang harus hengkang ke luar negeri hanya demi rupiah.
Ah Indonesiaku!
Begitu banyak anak-anakmu yang jadi pengangguran dan berkeliaran di jalan.
Mengapa kau tak melindungi dan memelihara mereka? Tidak menciptakan lapangan
kerja yang mudah dimasuki. Mereka semua adalah orang-orang miskin yang tak
mampu. Bukankah kata undang-undangmu, “orang-orang miskin dan anak-anak
terlantar di pelihara oleh negara.” Tapi nyatanya masih banyak yang terlantar di sana-
sini. Anak-anak yang seharusnya berada di sekolah malah berkeliaran di jalan-jalan.
Demi mengais rupiah untuk mengisi perutnya.
Kenapa negeriku ini? Ada apa dengan tanah airku? Kau itu kaya. Semua manusia
mengakui bahwa bumi pertiwimu melimpah ruah. Mulai dari emas permata sampai
yang belum pernah tersentuh oleh manusia. Pokoknya komplit. Tapi kenapa rakyatmu
banyak yang miskin? Bahkan membeli beras untuk makan saja tidak mampu. Katanya
negara agraris, tapi harga beras masih mahal. Kekayaanmu hanya membuat kaya para
pejabatmu, akan tetapi kemiskinan meraja lela pada rakyatmu. Ada rakyat kecil yang
sudah bisa mencari nafkah dengan berdagang malah kau gusur dan kau hancurkan. Tak
bisa ngasih lapangan kerja pada mereka malah kau porak-porandakan. Bukankah itu
namanya menambah kemiskinan. Aku heran menyaksikan tingkah polah para
petinggimu. Estetika kotamu lebih dipentingkan dari pada kesejahteraan rakyat kecilmu.
Sampai kapan semua itu akan terus menimpa rakyat kecilmu?!!
Lamunanku terus mengangkasa. Memikirkan nasib rakyat kecil negeri ini. Aku
baru tersadar ketika bus yang aku naiki bercericit. Para penumpang yang berdiri tampak
bergoyang-goyang dan berpegangan kuat. Ternyata di depan ada mobil yang berhenti
mendadak. Untung tidak terjadi tabrakan. Bus terus melaju dengan kencang. Berhenti
ketika keluar dari tol. Banyak penumpang yang turun. Banyak sekali. Bus menjadi
kosong. Tempat duduk juga banyak yang kosong. Memang bus akan kembali kosong
setelah keluar dari tol.
Ada seorang wanita naik. Dia tampak begitu seksi. Memakai rok mini dan atasan
U can see. Tampak ketat. Bagian perutnya sedikit terlihat. Nyaris telanjang seperti
binatang. Tanpa sengaja mataku memandang wanita itu. Segera kualihkan keluar.
Menikmati pemandangan di jalan. Aku terbayang akan keseksian wanita itu. Kemolekan
116
tubuhnya. Bahkan sampai memikirkan hal-hal yang tidak pernah aku lihat. Nafsu mulai
menyererangku. Kucuri pandang lagi keindahan wanita itu. Lekuk tubuhnya terlihat
semua. Aku segera mengingat tentang pandangan mata yang kianat. Nabi pernah
berkata, “Wahai Ali, jangan kau ikuti pandangan yang pertama dengan pandangan
yang kedua. Kamu hanya boleh pada pandangan yang pertama. Adapun pandangan
yang kedua tidak boleh.23”
Tanpa sadar, aku telah dikhianati oleh mataku sendiri dengan memandang wanita
seksi itu. Aku telah diselimuti oleh nafsuku. Memang tak akan ada asap yang mengepul
bila tak ada api menyala. Penampilan wanita itu ibarat bara api. Dan nafsu yang tiba-
tiba muncul dari diriku adalah asap akibat dari bara api dari wanita itu. Andaikan wanita
itu berbusana lebih sopan, tentulah tidak akan keluar nafsu dari orang lain. Di sinilah
pentingnya seorang wanita agar mau menutup auratnya. Agar tidak mengundang nafsu
manusia yang memandangnya.
Kualihkan pandanganku kearah luar. Membayangkan hal lain. Hingga terlupa dari
wanita itu. Bus terus melaju. Sebentar lagi akan sampai pasar Rebo. Aku bersiap untuk
turun. Penumpang yang lain juga banyak yang bersiap-siap. Termasuk wanita seksi itu.
Bus berhenti. Para penumpang bergantian untuk turun. Aku turun. Berganti angkutan
yang melewati Taman Mini. Angkutan 40 warna merah.
***
Butuh 25 menit untuk menempuh tempat yang kutuju. Sebenarnya 10 menit sudah
sampai. Tapi yang bikin lama bukan perjalanannya, melainkan angkutan di sini harus
menunggu sampai penumpang penuh. Lima belas menit para penumpang menunggu
angkutan jalan. Aku turun di depan sebuah bangunan yang cukup besar dan luas. Di
pintu gerbang utama ada tulisan besar pondok pesantren Darul Muttaqien.
***
23
H.R. Ahmad Dawud, Atturmudzi.
117
12
SENANDUNG CINTA
Sebelum pulang dari LKI aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah
ustadz Bashori. Beliau menyuruhku menerjemah kitab berbahasa Arab. Setelah Isya’
aku baru pulang. Menikmati suasana malam di jalanan. Sepanjang perjalanan aku selalu
teringat dan terbayang teman dik Alya. Aku terus memikirkannya. Tak bisa kusirnakan.
Aku terus mengingat wanita itu. Dia selalu ada dalam pikiranku. Kini fotonya aku
simpan di kamarku.
Sampai di rumah tubuhku terasa capek dan lelah. Aku rebahkan tubuhku di kasur.
Mataku pedih dan semakin ngantuk. Belum ada jam sepuluh. Kubuka buku yang di
berikan ustadz Bashori. Judulnya Al Mawaaqif Allatii Fiihaa Mazaha An-Nabiyyu.
Tempat-tempat bercandanya Nabi. Buku ini bercerita tentang etika bercanda menurut
Rasulullah. Beliau membeli buku ini satu tahun yang lalu ketika pergi umroh. Di
Indonesia mungkin tidak ada. Aku sangat menyukai buku ini. Bahasa arabnya ringan
dan mudah difahami. Di dalamnya mengajarkan bagaimana tata cara seseorang dalam
bercanda. Syarat-syarat bercanda dan juga hal-hal lain yang erat hubungannya dengan
canda. Salah satu isinya yang telah aku baca adalah, bahwasanya bercanda itu tidak
boleh menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain. Tidak menggunakan kata-kata
yang kotor atau jorok. Tidak menyebabkan pertengkaran. Dan tidak menggunakan
kalimat yang menjelek-jelekkan atau menghina orang lain. Aku sangat setuju kalau
nantinya buku ini diterbitkan lalu disebar luaskan ke seluruh Indonesia.
Siapa yang tidak pernah bercanda? Semua orang pasti pernah dan sering
melakukannya. Bercanda memang boleh-boleh saja asalkan jangan sampai keterlaluan
hingga ada orang yang sakit hati akibat dari bercandanya yang keterlaluan. Sekarang
banyak sekali orang yang tak merasa bahwa bercandanya telah melukai dan menyakiti
hati orang lain. Meski demikian mereka dengan santainya mengatakan “sory hanya
bercanda, tak usah di ambil hati.” Ini namanya keterlaluan. Ada orang lain yang sakit
hati, tapi nggak tahu dan nggak merasa kalau dirinyalah yang telah menyakitinya.
Di sinilah pentingnya menjaga lidah. Kata pepatah, lidah itu lebih tajam dari
pedang. Meski di atas namakan canda, bukan berari boleh seenaknya berbicara. Kalau
118
mau melawak juga jangan seenaknya. Ngomong ceplas-ceplos tanpa aturan. Lucu
boleh, tapi jangan sampai kalimat itu menyakiti atau menyinggung hati orang lain.
Buku ini memang pas banget kalau diterbitkan. Agar kita bisa menjaga lidah
dalam berkata dan bercanda. Baru membacanya sedikit, dik Alya memanggilku.
Kupersilahkan masuk. Dia membawa bingkisan.
“Ini buat Kakak.” Dia berkata sambil menyodorkan bingkisan itu.
“Apa Dik? Dari siapa?”
“Biasa Kak, siapa lagi kalau bukan tetangga sebelah.”
Dik Alya langsung keluar dari kamarku. Tak ada kalimat basa-basi yang keluar
dari mulutnya seperti biasanya. Mungkin sudah ngantuk kali. Untuk kesekian kalinya
aku menerima sesuatu dari Cintya. Sudah dibilang nggak usah memberikan sesuatu
padaku. Tetap saja dia melakukan hal itu. Laranganku seperti perintahku. Kali ini lebih
mengherankan. Pakai bingkisan segala. Dilipat dengan pita warna pink. Tampak mewah
dan mahal.
Akhir-akhir ini ada saja hal yang membuat hatiku gelisah. Tadi siang ketemu
dengan teman dik Alya. Aku masih selalu mengingatnya. Sekarang giliran Cintya yang
menambah gelisah dalam hatiku. Akhir-akhir ini aku merasa bingung dengan diriku
sendiri. Setiap kali ada wanita, aku selalu memikirkannya. Mulai dari foto yang aku
dapat dari dik Alya. Dan tadi siang ketemu orangnya. Sekarang Cintya. Tingkah laku
Cintya yang over perhatiannya memenuhi memori otakku. Semuanya aku pikirkan.
Huh! Pusing! Aku seperti dipermainkan oleh perasaanku sendiri. Dipermainkan oleh
wanita dan cinta. Setahuku hanya ada dua wanita yang selama ini ada dalam hidupku.
Ummi dan dik Alya. Cuma itu saja. Nggak ada yang lain. Tapi sekarang, aku merasakan
ada wanita baru yang muncul dalam hidupku. Semenjak aku mengenal nama Naela
Salsabila dari HP dik Alya. Dan tadi ketemu dengan orangnya. Ya Allah, aku tak ingin
terganggu dengan hadirnya seorang wanita.
Hatiku terus berbicara sendiri. Pikiranku kosong. Melayang ke mana-mana.
Kupandangi langit-langit kamarku. Warnanya seperti awan di langit biru. Ada dua ekor
cecak yang saling kejar-kejaran. Mau apa mereka? Mungkin ingin memadu kasih
berdua. Ah, aku tidak tahu bahasa binatang. Andaikan Nabi Sulaiman masih hidup akan
kutanyakan padanya, karena hanya beliaulah yang punya mu’jizat mampu berbicara
119
dengan binatang. Kupandangi terus tingkah kedua cecak itu. Aku tersenyum sendiri
melihat ulah mereka. Lalu...
“Bruuk…!” Mereka berdua jatuh ke lantai. Kemudian lari ke belakang almari.
Mungkin malu padaku.
Di sampingku bungkusan mungil dari Cintya masih utuh. Besok akan aku berikan
pada dik Alya lagi. Aku tak ingin membukanya. Aku tak tertarik mengetahui isinya.
Biar ku kirim pesan saja pada Cintya. Kutulis kalimat demi kalimat di layar HPku.
“Hei Amerika, apa maksudnya kado ini?”
Tak ada respon dari gadis Amerika itu. Kukirim pesan lagi. Kutunggu. Dia
membalas. Kami berbincang lewat sms.
“Sudahlah lupakan saja, aku hanya ingin berbuat baik pada orang lain seperti
yang sering kau katakan padaku.”
“Jangan begitu. Kau menambah pusing pikiranku. Itu namanya membuat orang
lain susah.”
“Mana mungkin niat berbuat baik bikin susah. How it can be?!”
“Buktinya aku selalu susah kalau kamu memberikan sesuatu padaku.”
“Kalau begitu maafkan aku. Aku tak bermaksud begitu. Sorry. Forgive me. Thank
you for all. Aku hanya ingin berbuat baik padamu. Aku ingin berlomba-lomba dalam
kebaikan. Hanya itu. Dan tak lebih. Titik.”
Aku masih memikirkannya. “Ah bodoh sekali diriku. Untuk apa memikirkan
sesuatu yang nggak penting sama sekali.” Batinku.
Aku berikan saja kado ini pada dik Alya. Kakiku melangkah menuju kamarnya.
Dik Alya menolak. Aku memaksanya. Akhirnya dia mau menerima. Aku tak ingin
pusing menyimpan benda orang yang membuatku terus terpikir. Aku kembali dari
kamar dik Alya. Tapi rasanya ada yang mengganjal di otakku. Oh iya, aku teringat akan
foto temannya. Dia belum tahu kalau foto-foto itu aku ambil. Aku masih menyimpannya
rapat-rapat. Kuambil foto itu di almari. Kulihat dan kupandang. Aku terbelalak dengan
hati yang tak percaya.
“Inikah wajah Naela. Wajah yang tadi siang aku temui. Wajah yang telah
membuat hatiku bergetar. Subhanallah! Wajah aslinya lebih cantik dari foto ini.”
Desisku dalam hati. Aku langsung ke kamarnya dik Alya lagi.
“Dik, bisa bicara sebentar!” Kataku padanya.
120
“Mau bicara apa Kak?” Tanyanya heran. Kedua matanya melotot memandangiku
aneh. Memang aneh. Karena tidak biasanya aku ngomong dengan menawarkan terlebih
dahulu. Tapi ini urusannya lain. Masalah wanita yang tak pernah aku alami sebelumnya.
Aku tak ingin ummi mengetahui hal ini. Suasana malam tampak sepi. Namun suara deru
mobil masih banyak sekali di jalan raya. Kupegang tangan dik Aya. Kuajak dia keluar.
“Mau ke mana Kak!” tanyanya melihat tingkah anehku. Aku tak menghiraukanya.
Aku memang sedikit memaksa. Kami berbincang di teras rumah.
“Dik, jangan bilang ummi ya.” Kataku setengah berbisik.
“Jangan bilang apa Kak, Alya nggak faham.”
Tingkahku seperti anak kecil yang sedang menyembunyikan sesuatu. Takut bila
ketahuan orang lain.
“Ini soal wanita Dik.” Aku ragu-ragu mengucapkannya.
“Apa! Wanita!” Dik Alya terheran-heran.
“Siapa?” Lanjutnya.
Aku teridam sejenak. Tak berani berkata. Merasa malu pada adikku sendiri.
“Kemarin aku mengambil foto ini.” Jelasku. Dia tersentak lalu berkata.
“Jadi, Kakak yang mengambil, pantes saja Alya cari-cari nggak ada.” Dik Alya
berdecak kaget melihat foto yang ada di tanganku.
“Sorry Dik. Aku tak sengaja melihat foto ini di kamar. Kemudian aku ambil saja
dan aku simpan. Mau ngomong, tapi belum sempat.”
“Ini satu-satunya foto Naela yang aku punya Kak. Jadi jangan diambil. Inilah
Naela Kak. Orang yang selalu aku ceritakan.”
“Buat apa Kak Fajar mengambil foto ini?”
“Nggak! Aku cuma merasa penasaran saja kemarin. Dan sekarang merasa aneh
setelah tadi siang melihatnya di alam nyata.” Aku berusaha menyembunyikan perasaan
kagumku.
“Tapi jujur saja Dik. Sampai sekarang ini, aku malah jadi memikirkannya. Aku
jadi bingung sendiri. Aku harus bagaimana?”
Mendengar ucapanku dik Alya langsung memasang wajah curiga.
“Jadi, Kak Fajar su…!”
“Sssst…!” Aku menutup mulut dik Alya dengan jari tanganku.
121
“Kakak suka sama anak ini? Bagaimana mungkin? Ketemu juga baru tadi siang!
Itu saja nggak sengaja. Apalagi sampai punya perasaan cinta. Itu nggak mungkin!”
“Makanya, aku merasa aneh dengan perasaanku sendiri. Tapi ini nyata Dik. Aku
terus terpikir olehnya.”
“Bagaimana kalau Naelanya tahu. Pasti dia tak percaya. Seingatku hanya sekali,
Naela pernah tanya Kak Fajar. Waktu Alya bilang ada yang penasaran sama dirinya.
Tadi siang dia ngomong kalau Kak Fajar pernah menabrak dirinya waktu di kampus.
Entah, Kak Fajar ingat atau nggak.”
“Iya Dik aku ingat. Sekarang aku harus bagaimana? Aku tak ingin ummi
mengetahui hal ini.”
“Nggak usah dipikirkan Kak. Buat apa mikir Naela. Lebih baik mikir kuliah agar
cepat kelar. Nanti Kakak sendiri yang kecewa atau sakit hati kalau Naela nggak
tanggap. Soalnya dia itu tipe cewek yang nggak peduli dengan yang namanya cowok.
Cuek banget sama cowok. Nggak mau berurusan dengan cinta, apalagi sampai pacaran.
Nggak bakalan. Kuliah Kak Fajar bisa berantakan. Buanglah jauh-jauh rasa itu. Ada hal
yang lebih penting yang harus Kakak pikirkan.” Dik Alya menasehatiku panjang lebar.
Hati ini rasanya memberontak dengan saran adikku. Aku tak setuju. Aku ingin
maju. Cinta sudah terlanjur beku dalam hatiku. Dan sulit untuk mencair lagi. Hatiku
semakin gontai. Kenapa harus ada cinta di hati ini? Kenapa harus ada perasaan yang
begini? Apakah ini seperti apa yang pernah aku impikan dulu? Menyapa seorang wanita
cantik. Aku memberikan salam. Dia tidak mau menjawab, bersikap cuek dan tak peduli.
Ah, mimpi lagi mimpi lagi. Apa artinya mimpi. Aku pernah membaca buku Tafsir
Mimpi. Dalam buku itu sang penulis Ibnu Sirin mengatakan, “Jika seseorang bermimpi
kepada wanita dan memberi salam kepadanya kemudian dia menjawab salam itu, maka
dia akan menikahi wanita itu. Tapi jika tidak menjawab berarti tidak.” Itu berarti bukan
jodohnya. Entahlah, hanya Allah yang Maha Serba Tahu.
***
Heningnya malam menambah kesunyian dalam hatiku. Aku tak tahu bagaimana
menyikapi perasaan yang kini membelenggu jiwaku. Aku semakin merasa bodoh
dengan apa yang menimpa diriku. Cinta! Aku hanya mengenal cinta dari dan untuk
122
ibuku serta dik Alya. Tak ada yang lain. Aku tak ingin hancur oleh cinta. Tak ingin
tertipu oleh cinta yang fana. Di hatiku hanya ada Allah dan Rasulnya semata. Meski aku
belum pernah bertemu dengan-Nya namun telah ada cinta semenjak aku terlahir di
dunia. Ikrar cinta sejati. Janji cinta untuk selalu menyembah-Nya hingga tubuh serta
jiwa raga akan kembali menghadap-Nya.
Sekarang ada cinta baru yang mengikat hati dan pikiranku. Ingatanku terus tertuju
pada gadis yang bernama indah itu. Ada kerinduan yang menyeruak dalam qolbuku.
Ada rindu untuk bertemu. Bukan rindu pada gadis itu, tetapi rindu untuk berdoa, rindu
untuk selalu berharap pada Sang Pemberi Cinta agar gadis itu dianugerahkan pada
pemuda yang miskin dan kering akan cinta sepertiku. Doa dan harapan yang akan selalu
aku panjatkan saat bangun disepertiga malam.
Aku tak mampu lagi menahan gelegat perasaanku. Aku harus berbuat sesuatu.
Tapi bagaimana? Apakah aku harus datang ke rumahnya atau menemui gadis itu di
kampus lalu mengatakan bahwa aku mencintainya. Kemudian mengajaknya menikah.
Apakah seperti itu? Mungkin hal itu tak salah. Tapi bodoh. Amat sangat bodoh sekali.
Aku ini siapa? Aku tak kenal dia dan keluarganya. Apakah akan tetap nekad melakukan
hal itu? Atau lewat perantaraan orang lain saja. Siapa? Dik Alya? Aku tak tahu. Aku
semakin benci dengan diriku sendiri. Bodoh! Bodoh sekali.
Malam, bisakah kau membantuku tuk menghilangkan gundah gulanaku. Bisakah
kau menuliskan kata cinta untukku pada gadis itu. Perlahan ada hasrat yang
menyuruhku untuk menggerakkan jari jemariku. Kuambil pena dan selembar kertas
hampa. Aku akan mencoba meneteskan indahnya tinta cinta, meski tak tahu maknanya.
Kesunyian malam akan menyaksikan apa yang aku torehkan pada kertas kosong ini.
Semoga kalimat cinta yang agung bisa mengobati kehampaan hatiku. Kucoba tuk
menggerakkan jari jemariku. Menjatuhkan huruf demi huruf. Kata demi kata. Kalimat
demi kalimat. Lalu terciptalah deretan kata-kata indah. Indahnya senandung cinta ini
akan aku persembahkan hanya untuk gadis yang indah namanya.
Teruntuk
Gadis yang indah namanya
Naela Salsabila
123
Kuhaturkan salam padamu. Salam terindah seindah namamu yang telah melekat
dalam jiwaku sebelum aku bertemu dengan dirimu. Ijinkan aku meneteskan tinta,
berenang dalam samudra kata-kata tuk berkelana mencari cinta. Lewat rangkaian kata-
kata indah yang aku sendiri tak tahu maknanya.
Sungguh sangat mengherankan bagiku. Bagaimana mungkin, hatiku didera cinta
pada seorang wanita, padahal aku belum pernah bersua dengannya. Bagaimana
mungkin rindu yang begitu kuat terus menghujam dalam dada. Bagaimana mungkin
ada rasa cinta di hatiku sedangkan kau berada jauh di sana. Bagaimana mungkin ada
tali cinta yang mengikat pikiranku dengan begitu eratnya.
Cintaku hadir di saat aku melihat nama indah yang kau miliki. Sejak saat itu pula,
ada getaran yang merasuk dalam jiwaku. Aku merasa ada sesuatu yang menyusup
dalam dada. Dan mungkin itulah yang dinamakan cinta. Tanpa aku sadari, rasa itu
singgah diruang kosong jiwaku lalu menetap di dalamnya.
Maafkan aku bila harus mengusik ketenangan jiwamu. Aku tak pernah
membayangkan bila dalam hatiku akan ada cinta yang menyiksa dan membuat hati
pilu. Aku tak ingin merana hanya karena memikirkan gadis yang tak nyata sepertimu.
Lahirnya cinta suciku bukan dari pandangan mata. Juga bukan lewat tatapan muka.
Bahkan cintaku hadir sebelum kita bersua. Cintaku memang misteri yang wujudnya
bisa mengguncang dunia ini. Aneh kurasa, tapi nyata adanya.
Wahai gadis yang indah namanya.
Sebenarnya, insan lemah sepertiku tiada pantas mengharapkan cinta suci darimu.
Namun apa daya bila tuhan memang berkehendak untuk menebar benih cinta di hatiku.
Kini benih cinta itu tumbuh subur dan menjulang tinggi disekujur badanku. Saat cinta
bersemi, hatiku diliputi dengan besarnya rasa rindu. Rindu yang mengusik ketenangan
hati dan mencabik-cabik jiwa raga ini. Aku tak tahan lagi menanggung rindu yang
membalutku. Aku tak kuat lagi merasakan cinta yang kian membeku.
Sungguh, aku tiada berdaya bila tuhan memang telah menaruh cinta dalam telaga
hatiku. Keindahan cintaku melebihi indahnya taman surga. Aku mencium bau wangi
yang menusuk hidungku dikala semua orang sedang memujimu. Aku melihat keindahan
yang terpancar dari wajah semumu. Aku merasakan kebahagiaan yang tiada pernah
bisa aku ungkapkan padamu. Nama yang indah, cantik, mempesona laksana puspita
124
taman surga. Semerbak harumnya nan elok dipandang mata. Nama yang kau punya itu
adalah Naela Salsabila.
Nama indahmu selalu terbayang dalam benakku.
Alangkah bertambah indahnya bila aku bisa meraih cinta sucimu.
Elok rupamu selalu kupandang walau hanya dalam angan.
Lewat bayang semu yang terus terlintas dalam otakku.
Aku memang takjub, kenapa bisa mencintai gadis yang tidak pernah kutahu.
Salahkah aku bila harus menggoreskan tinta cinta padamu?
Ataukah diri ini terlalu bodoh hingga harus mencintai sosok tak nyata sepertimu?
Lalu aku harus bagaimana dengan cinta yang telah bersemi di hati?
Sedangkan aku sama sekali tak pernah meminta dan mengharapkannya.
Aku sudah tak mampu memendam dan menyembunyikan rasa itu.
Bila hatimu merasa tersinggung atas kelancanganku,
Ijinkanlah aku tuk sekedar melukiskan cinta dengan deretan kata-kata.
Lambat laun, aku akan berusaha tuk melenyapkan cinta itu.
Akan tetapi masih terbesit dalam hatiku, semoga suatu saat nanti tuhan akan
menebar benih cinta dalam hatimu untukku.
Wahai gadis yang menyejukkan jiwa.
Bila tuhan berkenan, ijinkanlah aku tuk mengikat dirimu dalam ikatan suci yang
di ridloi. Merasakan indahnya hidup bersamamu. Merenda masa depan yang cerah dan
berseri denganmu. Aku tak ingin mendambakan cinta semu yang lahir dari kejinya
nafsu. Aku tak ingin mengagungkan kemesraan yang menipu. Aku hanya ingin
merasakan cinta suci darimu. Cinta yang diridloi. Cinta yang dihargai dan dihormati.
Sebagaimana cinta yang telah dianugerahkan pada kekasih Allahu Robbi. Cinta abadi
yang akan kita bawa hingga menapak jalan ke surga nanti. Merasakan kenikmatan
yang berlipat ganda bersama para bidadari.
Wahai gadis yang menggetarkan jiwa.
Mungkin langit dan bumi tidak akan mengijinkan bila kita berdua memadu kasih
di dunia. Bulan dan bintang pun tak ‘kan merestui ikatan cinta antara kita. Lautan dan
gunung juga tak ‘kan percaya bila aku bisa merasakan manisnya cinta dengan seorang
gadis cantik dan mempesona. Semua binatang melata di jagad raya ini akan tersenyum
sinis mencela cinta yang sedang aku alami. Dan semua makhluk yang ada di seantero
125
mayapada pasti akan menertawakan kisah cinta yang saat ini bertahta di hati seorang
pemuda.
Biarlah cinta akan menyiksa jiwaku sendiri tanpa seorang pun yang tahu. Biarlah
rindu akan terus mengoyak tulang-belulangku hingga akhir hayatku. Kamar mungil
inilah yang akan mengukir dan menjadi saksi bisu atas cinta yang menimpaku. Aku tak
‘kan pernah berharap kau membalas cintaku. Biarlah semuanya akan berjalan sesuai
kehendak yang maha tahu. Mungkin tuhan sedang mengujiku dengan tumbuhnya cinta
itu. Saat ini tuhan hanya menebar benih cinta di hatiku untukmu. Tuhan belum
menciptakan benih cinta di hatimu untukku. Aku sendiri berharap cinta ini segera pergi
meninggalkanku. Semoga menjadi kisah cinta abadi yang akan terukir dalam relung
jiwaku. Kisah cinta dari seorang pemuda kepada gadis yang indah namanya, yang
tiada pernah ia bersua dengannya.
Kata cinta yang kutorehkan dalam kertas ini tiada lain hanyalah rentetan doa
yang selalu kupanjatkan pada Sang Kuasa Pemilik segala Cinta. Semoga anugrah dan
cintanya selalu tercurah untuk kita semua. Amin.
Dari
Sang pemuja cinta
Fajar As-Syukry
Aku lipat kertas cinta ini. Akan aku titipkan surat ini pada dik Alya untuk di
berikan pada Naela. Apapun yang terjadi aku siap menanggung resikonya. Semoga
tuhan meridhoinya.
***
126
13
PENANTIAN
Wajah manis itu adalah Naela Salsabila. Gadis yang ketika disebut namanya
hatiku bergetar merasakan bahagia. Secara tak sengaja aku mengenalnya dari adikku.
Mulai dari namanya yang indah mempesona, merambah pada cerita-cerita tentang
pribadinya. Sejak mengenal namanya, aku selalu membayangkan sosok gadis yang tak
nyata seperti dirinya. Dari situlah hadir satu rasa yang tiada terkira.
Kini foto mungilnya ada dalam genggaman tanganku. Selalu kupandangi dengan
rasa cinta yang menderu. Aku selalu tertarik dan ingin tahu lebih jauh tentang gadis itu.
Aku selalu menanyakannya pada dik Alya tentang gadis itu. Aku tak kuasa
memendamnya. Hingga akhirnya terciptalah surat cinta. Dari surat itu aku berharap bisa
meraih cintanya. Tapi apa kenyataannya?! Hari demi hari. Minggu demi minggu dan
bulan pun berlalu. Surat cinta yang kunanti tak kunjung datang jua. Penantian yang
memilukan. Aku tergugu dan menangis pilu. Kenapa harus ada cinta di hatiku. Dari
mana cinta itu? Dari mana rindu itu? Cinta misteri yang tidak banyak aku ketahui.
Kenapa tuhan musti menanam benih cinta di hatiku, bila akhirnya aku harus menelan
pahitnya rasa cintaku.
Aku bagai berjalan di atas kerikil tajam yang siap melukai dan menyakiti.
Dengan senyuman, aku mencoba untuk menahan rasa sakit yang ada di hati, namun
senyumku sirna oleh air mataku sendiri. Bahkan aku tak mampu mendiamkan tangisku.
Aku terlalu bodoh berhadapan dengan cinta dan wanita. Tapi aku masih percaya bila
tuhan pasti memberi kekuatan padaku. Mungkin sebuah keindahan akan bisa
kudapatkan setelah berbagai macam rintangan. amin.
***
Hingga detik ini, sosok gadis misterius itu masih saja menghiasi hatiku. Aku
menyebutnya misterius karena telah mencintainya sebelum bertemu dengannya. Setelah
bertemu, cinta itu semakin bertambah besar. Cinta tulusku tumbuh tanpa lewat tatapan
muka, juga bukan karena pandangan pertama. Aku sendiri heran dan selalu bertanya-
tanya. Kenapa cinta sebesar ini bisa menerobos pori-pori hatiku tanpa lewat pertemuan
127
terlebih dahulu. Kenapa rinduku pada gadis itu terlalu menggebu, padahal aku tak
pernah berjumpa dengannya. Itu misteri. Itu keajaiban yang datang dari Sang Pemilik
Cinta. Tak pernah kupikirkan dan kualami sebelumnya. Ini ujian yang berat sekali.
Lebih berat dari pada menanggung beban seratus ton.
Kenapa ini terjadi? Satu hal yang tak bisa diterima oleh akal sehat manapun.
Mungkin kalau jatuh cinta pada pandangan pertama itu wajar dan biasa. Tapi diriku,
telah jatuh cinta pada wanita sebelum bertemu dengannya. Aneh sekali! Berjuta kata
kutorehkan lewat tinta untuk melukiskan perasaanku, namun semua itu belum mampu
menggambarkan besarnya cinta yang kurasa. Mungkin tidak ada kata-kata yang mampu
untuk melukiskan kisah cintaku. Tak cukup satu hari, satu minggu, satu bulan untuk
memikirkannya. Hal itu terbukti hingga beberapa bulan ini aku masih tak mampu
melupakan sosok yang tak nyata. Merenung dan memikirkannya serta berhasrat tuk bisa
bersua dengannya. Skripsiku terganggu karena selalu dihantui oleh bayang semu gadis
itu. Hafalan al-Qur’anku juga terganggu. Sudah beberapa hari aku tidak menyentuh al-
Qur’an. Itu disebabkan pikiranku yang terus terisi oleh wanita misteri itu. Aku juga
minta ijin untuk tidak mengajar di TPA dan di LKI. Otakku terus dihantui oleh gadis
itu.
Di kamar mungil inilah tempat di mana aku meratapi nasip cintaku. Sederet
lamunan panjang tercipta dalam benak qolbuku. Sesekali ummi dan adikku masuk lalu
menanyakan sesuatu padaku.
“Kak dipanggil Ummi!” Suara bening dik Alya membuyarkan lamunanku. Aku
tersentak dan sadar seperti baru terbangun dari tidur panjang.
“Iya, sebentar dik.” Jawabku.
“Kita tunggu di ruang tengah ya.”
“Ok. Kakak segera keluar.”
Aku segera mencuci muka yang tampak kusam dan lelah, lalu keluar memenuhi
panggilan ummi. Kenapa aku tidak menceritakan masalah ini pada ummi. Bukankah
beliau sosok yang santun dan murah senyum pada siapapun. Pasti beliau bisa
membantuku. Kenapa aku hanya membicarakan masalahku pada dik Alya saja. Padahal
ummi orangnya sangat bersahabat dengan anak-anaknya. Aku takut dan malu. Aku tak
ingin ummi tahu tentang cintaku. Beliau belum tahu kalau saat ini aku sedang
128
memikirkan seorang wanita. Atau mungkin dik Alya malah sudah bercerita sama ummi
terlebih dahulu.
Hatiku terus berbicara sendiri. Ketika aku keluar dari kamar, ummi sepertinya
sudah tahu permasalahanku. Benar, dik Alya sudah cerita sama ummi. Semoga ummi
tidak memarahiku. Mereka berdua sedang menonton TV di ruang tengah. Aku berusaha
tersenyum pada ummi. Aku mencium tangannya sebagai rasa hormatku pada beliau.
Ada kebahagiaan yang selalu mengalir lewat ciuman tangan beliau.
“Lama amat Kak!” Dik Alya mengomel.
“Iya maaf, begitu saja cemberut.”
“Nggak usah bertengkar. Ummi nggak ingin melihat kalian bertengkar. Sudah
dewasa masih kayak anak kecil saja.” Kalimat ramah ummi menyela kami.
“Iya um, dik Alya yang memulai.” Aku membela diri.
“Enak saja menyalahkan Alya, sudah tahu kalau kakak yang salah. Dipanggil
ummi nggak keluar-keluar. Nyuekin orang tua itu dosa tau’!” Cerocos dik Alya.
“Baru saja ummi selesai menasehati, eh masih juga nggak bisa diam. Ummi nggak
habis pikir dengan sikap kalian. Mau sampai kapan begitu terus?” sahut Ummi.
Pokoknya ada saja yang membuat kami berdua saling bertengkar kecil. Tapi
semuanya hanya ekspresi luar. Di dalamnya nggak ada permusuhan. Kita berdua tetap
damai. Saling mencinta dan merindu.
“Ummi nggak ingin melihat kalian bertengkar lagi seperti anak kecil.”
“Baik um.”
“Alya juga um.” Dik Alya mengikuti kata-kataku.
“Ummi nggak ingin mendengar ucapan-ucapan kalian. Buktikan saja dengan
tindakan nyata. Karena orang yang hebat itu selalu bertindak sebelum berkata, dan
berkata selaras dengan tindakannya.” Nasehat ummi keluar lagi.
“Makasih nasehat bijaknya um.” Ucap kami bebarengan.
Lalu kami terdiam sejenak. Aku memikirkan sesuatu. Ingin bercerita tentang
perasaanku pada ummiku, tapi rasanya tak enak dengan beliau. Dari mana aku harus
mulai bercerita. Rasa cintakku yang membuncah tak bisa aku diamkan terus menerus.
Ummi orang yang bijak dan pasti nasehatnya akan bijak pula. Aku harus membicarakan
hal ini padanya.
129
Aku seperti tidak mengenal ummi saja. Ada kebodohan yang menumpuk-numpuk
dalam diriku karena cinta. Cinta memang begitu. Sering kali membuat orang bertindak
bodoh dan menutup akal sehatnya. Seperti yang sedang aku alami saat ini. Aku masih
menunggu dik Alya agar mau berbicara terlebih dahulu tentang masalahku.
Meski aku sudah sadar kalau ummi orangnya ramah, tapi masih juga tak berani
mengungkapkan perasaanku sendiri. Mereka semua adalah keluargaku sendiri. Apa
yang aku takutkan. Aku harus membeberkan semua masalahku pada ummi. Dengan
berbincang suatau masalah berarti mengurangi beban dalam otakku. Agar tidak
bertambah stress. Bermusyawarah dalam satu masalah itu jauh lebih baik daripada
memendamnya sendiri. Musyawarah adalah perintah al-Qur’an. Bila aku mau
bermusyawarah berarti sama dengan menjalankan perintah al-Qur’an. Semoga Allah
meridloi dan memberi jalan kemudahan. Amin.
Aku mulai menata diri. Kutarik nafas panjang. Bersiap tuk menceritakan semua
yang aku hadapi pada ummi. Aku harus mulai dari sekarang. Mumpung lagi ada
kesempatan.
“Fajar ingin menyampaikan sesuatu pada ummi.” Aku berkata ragu.
“Kalau kamu punya masalah jangan di pendam sendiri. Ummi nggak pernah
mencela jika kalian mau membicarakan masalah pribadi. Ummi malah nggak suka kalau
kalian punya masalah dipendam sendiri. Ummi lebih suka kalau kalian terbuka sama
ummi. Apapun masalahnya.” Ummi memberi penjelasan.
“Tapi masalahnya lain Um.” Sahutku.
“Iya Nak, ummi sudah tahu masalahmu. Alya sudah cerita sama ummi.” Ummi
berkata pelan dengan sorot mata tajam menuju kearahku. Aku menundukkan kepala.
“Apa yang kamu harapakan dari cinta yang ada di hatimu? Apa kamu ingin seperti
remaja-remaja sekarang ini? Mereka mencintai wanita lalu saling ketemu, pacaran dan
kencan bareng. Begitu?” Lanjut ummi.
“Tentu saja tidak Um.”
“Ingat Nak! Cinta itu suci. Jangan kau kotori dengan pacaran dan pergi kencan.
Orang yang suka pacaran dan kencan itu nggak punya cinta. Yang mereka punya
hanyalah nafsu yang menguasai dirinya. Ummi jadi heran dengan muda-mudi sekarang
ini. Mereka semua banyak yang membuat istilah baru yaitu pacaran Islami. Itu sama
saja dengan menghianati diri sendiri. Pacaran Islami itu nggak ada. Yang ada dalam
130
Islam adalah pernikahan. Itu adalah istilah baru yang di ciptakan para remaja agar tetap
bisa berpacaran, tapi tetap dalam koredor Islam. Itu namanya menyalahgunakan simbol
Islam. Apakah yang dinamakan pacaran Islami itu, kalau mau kencan pakai baju koko.
Masuk rumah pacarnya mengucapkan assalamualikum. Mau ciuman baca bismillah dan
sehabis kencan baca alhamdulillah. Seperti itukah?! Itu gila namanya. Islam sama sekali
tak pernah mengajarkan perilaku seperti itu. Islam tak kenal pacaran. Islam hanya
mengenal pernikahan bagi muda-mudi yang sudah saling mencintai. Pacaran dengan
istrinya sendiri. Itu yang halal. Itu yang asyik. Itu pacaran yang diperbolehkan Islam.
Bahkan harus dilakukan.”
“Ujung-ujungnya pacaran hanya akan mendekatkan kita pada perzinaan.
Pertemuan, jalan bareng, pegangan tangan, bergandengan, mesra-mesraan lalu ciuman
dan seterusnya. Sehingga setan akan membujuk mereka untuk melakukan perbuatan
yang hina. Setan akan tertawa renyah karena berhasil menjerumuskan manusia dalam
kemaksiatan. Semua hal di atas hanyalah sarana untuk mendekati zina. Kalau mendekati
saja tidak boleh apalagi sampai melakukannya. Pacaran itu jerat-jerat setan untuk
menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan keji.” Ummi menasehati panjang lebar.
“Fajar harus bagaimana Um?”
“Kalau menikah bagaimana Kak!” Cetus dik Alya tanpa beban.
Kami berdua tidak ada yang menanggapi. Dik Alya ada-ada saja pikirannya. Asal
ngomong saja. Memang gampang nikah?!
“Nak, mencintai wanita itu tak ada yang melarangnya. Setiap insan yang berakal
pasti punya cinta. Itu normal dan wajar. Laki-laki itu memang dihiasi dengan rasa cinta
pada seorang wanita. Namun ummi tak ingin kamu seperti layaknya muda-mudi
sekarang. Mereka kenalan dengan wanita, saling pandang lalu tersenyum, menyapa,
berbicara, kemudian janjian untuk ketemu dan kencan bersama. Itu semua yang ummi
tidak ridlo. Itu jauh dari kebaikan yang dijarkan Islam. Ummi tak ingin anaknya
terjebak dalam kemaksiatan. Ummi tak ingin kalian semua bersebrangan dengan Islam.
Ummi hanya ingin yang selaras dan senada dengan nilai Islam. Kalau memang sudah
cinta, menikahlah segera. Nggak usah berpacaran segala. Itu hanya menebar
kemaksiatan dan menambah-nambah dosa. Nggak ada sisi positifnya, karena itu hanya
kesenangan yang menipu manusia. Itu bukan cinta, tapi hanya nafsu belaka. Ingat itu
Nak!”
131
Kami berdua terdiam. Aku merenungkan nasehat ummi. Apa yang dikatakan
ummi memang benar. Tapi masalahnya, apa aku bisa menikah sekarang? Apa Naela
mau diajak menikah? Aku masih kuliah dan dia juga. Lalu aku harus bagaimana...?!
***
Sejak surat cintaku terkirim pada Naela, aku semakin terus terpikir padanya. Aku
selalu bertanya tentang gadis itu pada dik Alya. Semua aku tanyakan. Aku selalu ingin
mengetahui tentang gadis yang telah menawan hatiku sebelum aku bertemu dengannya.
Betapa cinta ini tak bisa kusirnakan dari lubuk hati. Dan alangkah kejamnya gadis itu.
Tak satu kata pun keluar dari mulutnya untuk memberi jawaban atas suratku. Kami
memang tak pernah bertemu, tapi paling tidak dia bisa nitip surat sama dik Alya. Gadis
itu memang terlalu atau sengaja ingin menyakitiku. Atau ingin memberi pelajaran
padaku bahwa apa yang telah aku lakukan adalah tindakan bodoh dan konyol yang tak
sepatutnya dilakukan oleh seorang mahasiswa sepertiku. Aku tak tahu jalan pikirannya.
Aku juga tak mengerti apa yang akan di lakukannya pada diriku. Aku hanya bisa
menanti dan menunggu jawaban darinya. Sebuah penantian yang sangat menyebalkan.
Setiap kali aku tanyakan pada dik Alya, dia selalu bilang sibuk dengan tugas kuliahnya.
Sehingga tak bisa membalas suratku.
“Mana surat dari Naela Dik.” Tanyaku padanya.
“Dia sibuk Kak. Tak punya banyak waktu.” Jawab dik Alya.
Kenapa dia begitu? Sedetik pun tak punya waktu tuk sekedar menjawab apa yang
telah aku uatarakan padanya. Sedangkan aku setiap waktu selalu memikirkannya. Gadis
itu sungguh terlalu dan membuatku pilu.
***
Yang kini kupandangi adalah foto mungil gadis itu. Sorot matanya yang tajam dan
senyum manisnya yang begitu menawan telah membuatku mabuk kepayang. Mungkin
hanya dengan foto inilah aku bisa melepas rindu. Gadis itu tidak tahu kalau foto
mungilnya selalu dipandangi oleh seorang pemuda. Bahkan mungkin dia tak kan pernah
132
berpikir sejauh itu. Dia yang terlalu atukah aku yang memang bodoh dengan
tindakanku?
Rupanya dik Alya juga menurut saja dengan apa yang aku pinta. Aku bertanya
dengan detail tentang gadis itu. Dik Alya pun dengan setia mau menceritakannya. Aku
tak tahu apa yang ada di hati adikku. Mungkin setuju atau hanya kasihan pada diriku.
Aku tetap tak percaya bila di hatiku ada cinta yang begitu besar pada gadis yang tak
pernah aku temui. Heran berjuta keheranan. Takjub dengan sekenario tuhan. Ini cinta
dari Sang Maha Cinta yang menancap kuat dalam relung jiwa seorang pemuda.
“Kak, ngapain sendirian di sini?” Suara dik Alya membuatku kaget. Aku hanya
diam dan membisu di atas kursi teras ruamahku.
“Alya bisa nebak apa yang sedang berputar dalam otak Kakak.”
“Apa?”
“Pasti mikir Naela.”
“Sok tahu kamu!” kesalku.
“Yang di tangan kakak itu apa? Fotonya Naela ‘kan? Nggak salah lagi berarti
Alya.”
“Sudahlah Dik. Memang dik Alya mau jadi tukang ramal. Pakai nebak-nebak
pikiran orang segala.”
“Sory ya Kak. Alya paling benci dengan yang namanya ramalan. Jangan sampai
percaya dan membenarkan ramalan. Dosa tau’! Pokoknya Alya nggak bakal percaya
sama hal itu.”
“Makanya jangan sok tahu dengan apa yang ada dipikiran orang lain.”
“Iya-iya. Maafkan Alya Kak.” Ucapnya memelas sambil duduk di kursi. Lalu
melanjutkan bicaranya.
“Terus, Kak Fajar ngapain di sini? Nanti malah sakit kak. Masuk angin. Ini sudah
malam. Mending tidur. Apa manfaat bergadang sampai malam? Untuk apa melamunkan
Naela terus? Pikirlah Kak! Itu sama saja dengan membuang-buang waktu. Ummi paling
nggak suka dengan sifat seperti itu. Kakak sendiri yang sering bilang, kalau kita harus
memanfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain. Hidupmu
sebelum matimu. Waktu luangmu sebelum sempitmu. Mudamu sebelum tuamu.
Kayamu sebelum miskinmu. Sehatmu sebelum sakitmu. Hadits Nabi ini yang sering
diucapkan ummi pada kita. Ummi selalu mengingatkan dengan kalimat berharga ini bila
133
kita selalu menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tak berguna. Ya, seperti kakak saat ini.
Hanya bengong dan melamun sendiri. Memikirkan seseorang yang sama sekali tidak
pernah memikirkan Kak Fajar. Rugi besar Kak! Ngapain mikir gadis itu? Toh dia nggak
pernah mikir Kakak. Pikir yang realistis Kak!”
Dik Alya terus nyerocos tanpa henti. Seperti seorang polisi yang sedang
mengintrogasi tahanannya. Aku sadar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh adikku.
Tapi satu hal yang mendasar tentang cinta adalah selalu memikirkan sosok yang di
cintainya. Meski gadis itu sama sekali tak pernah memikirkan diriku. Aku tetap saja
memikirkannya. Dik Alya tidak tahu dan tak bisa merasakan kalau di hatiku ada cinta
yang menyesakkan dada. Menghujam kuat bagai akar pohon yang menancap ke bumi.
“Kakaaak....!! Dinasehati malah bengong! Nggak dengar apa kata Alya tadi..!!”
Suara dik Alya kembali memekakkan telingaku. Ada kekesalan diraut mukanya. Tapi
anehnya wajah dik Alya malah bertambah cantik dan manis dengan akting marahnya.
Itu yang membuatku senang untuk menggodanya. Sama seperti waktu masih kecil dulu.
Aku sering mencubit pipinya, terkadang sampai nangis. Lalu kami segera baikan dan
bercanda lagi. Satu keakraban yang ada antara kakak dan adik. Lucu dan
menggemaskan.
“Kalau kakak masih cuek dengan Alya. Lebih baik Alya tidur saja. Buat apa
memperhatikan orang yang suka melamun sendiri!” Kekesalan dik Alya kembali
menyerang. Dia langsung beranjak dari duduknya. Sebelum sempat berdiri aku segera
mencegahnya.
“Jangan pergi dulu Dik. Kakak ingin ngobrol sama dik Alya.” Ucapku
mencegahnya.
Dia pun urung untuk pergi dan kembali menempati kursinya. Mendampingiku
berteman malam yang semakin melahirkan kesunyian. Kami diam. Sorot mata kami
saling pandang. Tak ada isyarat apa-apa dengan pandangan mata kami berdua. Ingin
bicara, tapi tak ada kata-kata yang pas untuk dikeluarkan.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sangat berarti lewat nasehat-nasehat dik
Alya yang baru saja diucapkan. Aku merasa haru dengan ucapannya. Dia bisa
memberikan nasehat seperti itu padaku, mengapa aku malah berpikir dan bertindak
bodoh serta menyengsarakan diri sendiri? Aku seperti tak ada artinya dibanding dengan
dik Alya saat ini. Aku tak berguna. Tak bisa memberi contoh yang baik pada adiknya.
134
Padahal adikku bisa menasehati dengan bijaksana. Hati nurani ini rasanya malu pada
dik Alya. Sedih. Aku terenyuh. Perlahan hatiku syahdu. Ingin menangis. Suaraku
sedikit parau. Sebentar lagi terisak. Kupandangi terus wajah cantik dik Alya. Dia pun
heran padaku.
“Kak Fajar kenapa?” Tanyanya lirih.
“Nggak, kakak bangga sama dik Alya. Nasehat adik bagus sekali. Kakak
terenyuh. Dulu kakak yang sering menasehati dik Alya. Tapi saat ini, aku tak bisa
melakukan apa yang pernah aku katakan pada dik Alya. Aku salut dengan dik Alya.
Aku ini memang kakak yang tak bisa memberi teladan pada adiknya. Semoga dik Alya
tidak seperti aku. Jangan meniru orang bodoh seperti kakak ya.” Kalimatku sedikit
terisak. Karena merasakan keharuan yang ada. Kami terus berpandangan. Aku menatap
tajam bola mata dik Alya. Terlihat bening dan bersinar bak purnama di malam hari.
Bulatnya juga tak beda.
“Kak Fajar ngomong apa? Alya bisa begini juga karena kakak. Alya tidak
menyalahkan Kak Fajar. Alya cuma ingin menasehati Kak Fajar. Kalau Kakak yang
bertindak melenceng, Alya yang akan memberi nasehat. Begitu juga sebaliknya. Kita
saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Itu yang selalu disuruh ummi Kak.
Agar kita tetap rukun dan bersatu. Saling mengasihi dan menyayangi. Itu yang ingin
Alya lakukan.”
Ada butiran bening keluar dari bola mataku mengiringi kalimat dik Alya. Tak bisa
kutahan. Air mata haru dan bahagia yang keluar karena kehalusan tutur katanya.
“Kak Fajar menangis? Kenapa?” dik Alya memandangiku heran.
“Tangis ini untuk dik Alya yang selalu setia padaku. Aku tak ingin kehilangan dik
Alya.”
“Alya juga tak ingin kehilangan Kak Fajar. Alya ingin selalu bersama.”
Kami diam dan saling berpandangan. Kemudian keluarlah pertanyaan dari
mulutku yang tanpa sengaja, “Apa yang dik Alya tahu tentang cinta?”
“Kakak ngomong apa?”
“Kakak sedang bicara tentang cinta Dik. Ada cinta di antara kita berdua dalam
keluarga. Cinta yang tidak akan pernah putus oleh apapun yang akan menimpa kita.”
“Alya tak pernah merasakan cinta Kak. Yang Alya rasakan selama ini adalah
cintanya Allah, ummi dan kakak. Lalu…..!” Dik Alya menghentikan kalimatnya.
135
“Lalu apa?”
“Lalu, cinta… cinta dari ayah yang sampai saat ini masih Alya harapkan
kehadirannya. Bukan hanya buat Alya, tapi juga buat ummi dan kita berdua.”
Aku tercengang mendengar dik Alya menyebut kata ayah. Benarkah selama ini
dia selalu merindukan sosok seorang ayah?
“Apa yang dik Alya tahu tentang ayah?”
“Alya tak tahu menahu tentang ayah. Alya rindu ayah. Alya ingin punya ayah.
Alya butuh kasih sayang dari seorang ayah. Kemarin Alya memang bertemu seorang
ayah, tapi bukan ayah seperti itu yang Alya inginkan. Alya ingin ayah yang selalu
mengasihi dan menyayangi. Aku hanya tahu boneka warna pink yang setia menemani
tidur Alya setiap malam. Kata ummi, boneka itu pemberian ayah. Sebagai kenang-
kenangan saat ayah mau meninggalkan kita. Hanya itu yang aku tahu Kak. Lalu apa
yang kakak ketahui tentang beliau?”
Aku berpikir sejenak mendapat pertanyaan dari mulut dik Alya. Aku tak bisa
menjawab karena juga tak tahu banyak tentang beliau.
“Sama Dik, kakak juga nggak banyak tahu tentang beliau. Setip aku bertanya pada
ummi, beliau pasti menjawab dengan kalimat “lupakan saja.” Begitu seterusnya setiap
kali aku menanyainya.”
Kami larut dalam keheningan. Malam semakin hening. Sama heningnya dengan
suasana yang kini kami rasakan berdua. Aku tak menyangka kalau kami akan di
ingatkan oleh sosok seorang ayah. Dari dulu aku tak mau berandai-andai tentang sifat
beliau. Aku tak ingin membuat prasangka apapun padanya. Karena sebagian prasangka
adalah dosa. Meski kenyataannya beliau telah meninggalkan keluarganya. Biarlah
hanya kami berdua yang merasakan sepinya hidup tanpa hadirnya seorang ayah.
Semoga tak ada lagi anak yang ditinggal ayahnya agar bisa merasakan indah dan
bahagianya tinggal bersama keutuhan keluarga.
***
136
14
BELENGGU NAFSU
Berangkat ke kampus kujalani dengan langkah gontai. Aku sama sekali tak
bersemangat. Pikiranku masih selalu tertuju pada gadis itu. Hari ini aku berencana
mengajukan skripsiku ke dosen pembimbing kedua di kampus. Dengan pembimbing
satu yaitu Pak Ridwan sudah beres. Kemarin yang dicoret-coret sudah aku perbaiki.
Semoga saja nanti bisa langsung beres. Kalau ternyata banyak salah dan dicoret-coret,
aku harus mengoreksi dari awal lagi. Pasti akan bertambah susah dan memusingkan.
Apalagi hari-hari ini aku sedang tidak bisa konsentrasi dengan tulisanku. Yang ada di
benakku selalu saja gadis manis teman dik Alya itu.
Gundah gulana
yang menyentuh jiwa
telah memporak-porandakan
segala asaku
Menerka lagkahku
semakin terjal adanya
sakit, sulit, dan menambah derita
apa lagi yang akan kurasa
aku tak tahan
Dayaku semakin layu
“Kenapa aku menyiksa diriku sendiri dengan terus memikirkannya? Kenapa aku
tak menemui dan pergi saja ke kelasnya agar bisa ngobrol dengannya? Aku tak berani.
Itu bukan sikap dan watakku. Jangankan sengaja menemui dirinya untuk berbicara,
pertemuan yang tak kami sengaja pun aku sulit untuk berbicara. Bagaimana aku bisa
menghindar darinya? Bagaimana aku bisa membelokkan pikiranku yang selalu tertuju
padanya? Aku tak tahu, aku tak tahu!” Hatiku terus berbicara.
Saat berangkat ke kampus, aku tak menyentuh makanan sama sekali. Aku sama
sekali tak berselera untuk makan. Perut ini kosong tanpa sebutir makanan dan setetes
air. Dugaanku ternyata benar. Saat bimbingan skripsiku banyak yang dicoret-coret oleh
dosen pembimbing. Aku sempat di marahi. Pikiranku bertambah pusing. Penyebab itu
137
semua adalah pikiranku yang selalu tertuju pada gadis cantik Naela. Ummi sempat
mewanti-wanti diriku untuk makan. Aku tetap tak mau makan.
Jam 3 sore aku baru pulang. Sebelum pulang aku mampir ke warnet. Setelah itu
ke perpustakaan untuk mencari tambahan data skripsi. Dua jam aku di perpustakaan
utama. Pulang dari perpustakaan jam lima lebih sepuluh menit. Kemarin aku sudah ijin
sama Pak Sahal untuk tidak mengajar anak-anak TPA.
Keluar dari perpustakaan pikiranku pusing sekali. Aku sempat mau jatuh. Aku
duduk sebentar di halaman perpustakaan. Banyak mahasiswa yang memandangiku.
Masya Allah! Tubuh ini rasanya lesu dan letih sekali. Perut keroncongan dan dahaga
menyerang tenggorokan. Meski begitu, aku sama sekali tak berselera untuk menyentuh
makanan. Seperti menyiksa diri sendiri. Pikiran pusing karena skripsi dicoret-coret dan
dimarahi dosen.
Aku merasa tak kuat lagi berjalan menuju rumah. Kutelfon dik Alya agar mau
menjemputku. Tapi HPnya tidak aktif. Telfon ke rumah juga tidak ada yang
mengangkat. Pandangan mataku kabur. Aku tak punya tenaga yang bisa menggerakkan
badan. Di tambah gundah gulana yang semakin menyelimuti jiwa. Rindu menderu
semakin menyiksa hatiku. Cinta ini begitu kejam padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa
lagi dengan perasaan cinta di hatiku. Perempuan yang tinggal di hatiku sedikit pun tak
mau meresponku. Aku seperti bukan manusia yang diacuhkan begitu saja. Aku bagai
mayat hidup yang mondar mandir di jalan raya.
Kupaksakan untuk berjalan. Kepalaku bertambah pusing. Berat sekali. Sampai di
rumah badanku bertambah lesu. Sebenarnya, tadi pagi mau membawa motor, tapi sudah
keburu dibawa pergi dik Alya sama temannya. Kepalaku terasa nyut-nyut. Berbagai
pikiran menyerbu tanpa henti. Seperti runcingnya ujung paku yang menancap kuat di
kepala. Membuka pintu saja rasanya tak kuat. Masuk rumah hampir jatuh lagi.
Pandanganku semakin buram. Remang-remang. Tidak bisa melihat dengan jelas. Di
depan pintu kamar aku tak lagi bisa melihat. Aku jatuh terkulai menabrak pintu. Sempat
kudengar suara dik Alya berteriak memanggilku kakak. Setelah itu gelap. Tidak tahu
apa yang terjadi padaku.
***
138
Dengan perlahan mataku terbuka. Aku memandang ke atas ada warna abu-abu.
Aku melihat kekanan dan kiriku, masih ada komputer dan buku-bukuku. Aku masih
berada di kamarku. Tak ada siapa-siapa di sisiku. Aku ingin berdiri, tapi nyaris tak
punya tenaga untuk mengangkat tubuhku. Aku merasakan sakit di perutku. Kakiku
seperti kram. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Masih terasa segar
ingatanku. Aku tak berselera makan karena memikirkan gadis itu. Lalu jatuh di depan
pintu saat pulang dari perpustakaan kampus.
Pintu kamar terbuka. Ummi masuk dengan membawa makanan dan minuman.
Ummi memintaku untuk makan. Aku masih tak berselera meski perut ini sudah kosong
tanpa terisi apa-apa. Ummi memaksaku. Aku tak bisa menolaknya. Ummi menyuapkan
sesendok nasi ke mulutku. Persis seperti anak kecil berumur dua tahun.
“Fajar kenapa um?” aku memaksa bersuara untuk memastikan kalau diriku baik-
baik saja.
“Besok lagi jangan bertindak bodoh ya Nak, tidak makan seharian itu sama saja
membunuh dirimu sendiri. Kamu pikir itu tindakan terpuji apa!” Ucap ummi dengan
nada kecewa atas tindakanku. Aku hanya menunduk mendengar ucapan ummiku. Aku
masih memikirkan wanita teman di Alya. Ummi kembali menasehatiku dengan tegas.
“Kamu pikir dengan terus memikirkan wanita, itu bisa membuat dirimu bahagia,
begitu?! Dimana akal sehatmu? Tanpa sadar kamu telah menghancurkan masa depanmu
sendiri. Dimana nasehat-nasehat yang selalu ummi berikan padamu? Hati nuranimu
sudah mati atau masih hidup? Kamu punya al-Qur’an. Dimana hafalan al-Qur’anmu?
Al-Qur’an juga mengajarkan cinta, tapi tidak cinta yang seperti kamu lakukan saat ini.
Seharusnya kamu bisa menerapkan apa yang telah diajarkan al-Qur’an. Tidak hanya
sekedar hafal dan selalu dibaca saja. Yang lebih penting adalah mengetahui isinya lalu
mengamalkan dalam perilaku sehari-hari.” Suara ummi tegas. Beliau seperti
mengisyaratkan kemarahan padaku, namun nadanya tetap halus dan lembut.
“Maafkan Fajar Um, maafkan anak ummi yang satu ini. Fajar memang terlalu.
Entah kebodohan dari mana yang sekarang ini sedang menimpaku. Mungkin ini cobaan
Um.” Ucapku membela diri. Aku tetap menunduk. Tidak berani memandangi ummi.
“Kalau sudah tahu ini cobaan kenapa masih memikirkannya? Ummi bisa maklum,
apa yang sedang ada dalam pikiran kamu. Tapi jangan terlalu. Sampai menyiksa diri
sediri seperti ini. Ummi nggak suka kamu bertindak bodoh seperti anak kecil. Cinta ya
139
cinta, tapi jangan sampai melukai diri sendiri. Kalau mencintai seseorang itu
sewajarnya. Bisa saja orang yang kamu cintai malah jadi musuhmu. Begitu juga benci.
Kalau membenci orang juga sewajarnya, karena boleh jadi orang yang kamu benci itu
jadi kekasihmu. Seperti itulah ahklak yang di ajarkan oleh baginda Rasul. Segala
sesuatu yang terbaik adalah tengah-tengah saja. Membeci jangan terlalu dan mencintai
juga jangan terlalu. Allah bisa saja mengubah rasa cintamu menjadi benci yang amat
besar pada wanita itu. Dan juga bisa mengubah rasa benci menjadi sayang yang teramat
dalam.”
“Siapapun pasti akan selalu tertarik dengan lawan jenisnya. Wanita suka pada
laki-laki dan begitu sebaliknya. Ummi teringat akan satu syair yang memuji tentang
wanita. Wanita itu adalah bunga yang tercipta untuk seorang pria. Dan mereka pasti
berhasrat untuk mencium bau wangi dari bunga itu.24”
“Ummi pernah membaca buku yang menjelaskan bahwasanya para ahli ilmu jiwa
membagi perasaan menjadi tiga bagian. Yang pertama, ada seseorang melihat bunga
yang indah di taman. Dia melihat keindahan itu lalu tertarik padanya. Yang kedua,
timbullah rasa cinta, kagum dan berhasrat untuk memetik dan memiliki bunga itu. Yang
ketiga, dari rasa kagum dan cinta itulah ada hasrat yang mendorong untuk memetiknya.
Islam selalu mengajarkan pada kita semua bahwa untuk mencapai tujuan yang
baik harus disertai dengan jalan yang baik pula. Tentu saja orang yang mencintai dan
ingin memiliki bunga di taman itu wajar dan tidak di larang. Namun ingatlah! Bila
seseorang ingin melangkahkan kaki untuk memetik bunga yang ada di taman pasti akan
ada yang menegurnya. Jangan petik bunga itu karena bukan milikmu!”
“Perumpamaan yang ummi jelaskan sama seperti dirimu yang melihat wanita
cantik seperti Naela. Punya paras menawan dan menarik hati setiap orang. Kamu
merasa tertarik dan mencintainya. Lalu timbul hasrat untuk memiliknya. Rasa kagum,
cinta, tertarik dan ingin memilikinya adalah wajar dan normal. Namun ada tetapinya.
Pencegahan awal itu lebih baik. Ummi tak ingin kamu tercebur dalam kemaksiatan.
Jangan terus menerus menuruti cinta itu. Karena boleh jadi itu hanyalah nafsu yang
mendorong hatimu untuk mencelakai dirimu. Jangan siksa dirimu dengan terus
memikirkannya. Apa gunanya memikirkan cinta yang fana. Itu hanya akan merugikan
dirimu. Cintamu tak perlu kamu agung-agungkan. Tak perlu kamu puja-puja. Tak perlu
24
Terjemahan syair dari kitab Minhatul Qudsiyyah.
140
kamu besar-besarkan. Ada banyak hal yang lebih bermanfaat dari apa yang sedang
kamu pikirkan. Ada berjuta kegiatan positif yang bisa membelokkan pikiranmu dari
gadis manis itu. Sekali lagi ummi mengingatkanmu! Jangan bodoh dan tolol! Suatu saat
nanti gadis yang kamu nanti akan datang sendiri. Kamu akan merasakan indahnya cinta
yang terikat oleh ikatan suci. Saat ini tugasmu adalah belajar dan belajar. Sebentar lagi
kuliahmu selesai. Lebih baik fokus pada tugas skripsimu. Jadi jangan kecewakan ummi.
Nggak usah memikirkan dan melamunkan tentang wanita itu lagi. Masih panjang jalan
yang harus kamu lalui. Isi dan penuhi dengan hal yang bermanfaat. Agar dikemudian
hari, kamu bisa menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.”
“Kamu bisa menulis. Menerjemah buku. Jadi kegiatan itu mungkin bisa
mengalihkan pikiranmu. Banyak yang bisa kamu lakukan untuk mengalihkan
pikiranmu. Dengan menulis kamu bisa berbagi ilmu pada masyarakat luas. Tapi ingat!
Jangan pernah menulis hal yang negatif dan tak berguna. Tulisan itu harus yang positif
agar banyak bermanfaat bagi dirimu dan juga orang lain. Kalau kamu menulis tentang
cinta jangan pernah mengajarkan pacaran atau ciuman antara laki dan perempuan.
Karena hal itu bukan cinta, tapi kemaksiatan, nafsu dan tipuan setan belaka. Itu nafsu
yang mengatasnamamakan cinta. Selamanya setan akan menghiasi sesuatu yang hitam
kelam menjadi sesuatu yang indah dan menarik hati. Pacaran itu sesuatu yang hitam
kelam, tapi banyak orang yang melakukan dan menganggapnya indah. Karena mereka
semua telah tertipu oleh setan yang telah memoles hal tersebut menjadi tampak indah.
Barang siapa yang tidak waspada akan terperanjat oleh tipu daya dan rayuannya. Tapi
manusia yang selalu waspada juga akan tetap terus digoda.”
Nasehat ummi begitu panjag lebar. Sangat berharga bagiku. Aku tidak berani
menyela kata-katanya. Aku terharu dan meneteskan air mata. Aku sungguh telah
melakukan tindakan yang bodoh dan tolol. Apa gunanya aku memikirkan Naela? Untuk
apa aku harus menyengsarakan diriku dengan melamun dan merenungkan dirinya?
Untuk apa aku harus membuang-buang waktu hanya sekedar memikirkan dan
melamunkan gadis itu? Semua itu tiada guna. Sama sekali tak berguna. Aku sungguh
terlena dengan perasan cinta yang telah membuatku sengsara. Aku harus bangkit. Aku
harus berubah. Aku harus belajar tentang cinta agar bisa melupakan dan menjauh dari
Naela sejauh-jauhnya. Aku tak ingin bergelut dengan cinta yang fana. Aku ingin meraih
141
cinta yang sejati. Dan cinta sejati hanya datang dan pergi untuk sang Ilahi. Cinta sejati
hanya akan membawa ridlo Ilahi.
Bila aku memikirkan Naela belum tentu dia memikirkanku. Bila aku mencintainya
belum tentu dia mencintaiku. Kalau begitu, kenapa aku harus memikirkannya sampai
pingsan dan sakit. Padahal bila aku mencintai Allah sudah pasti Dia mencintaiku.
Bahkkan tanpa kupinta pun Allah akan selalu mengalirkan cinta pada hamba-hambanya.
Inilah kebodohanku. Inilah ketololanku. Mencintai manusia itu banyak kecewanya
karena manusia banyak yang tak punya cinta. Namun mencintai Allah pasti akan
bahagia karena Allah selalu melimpahkan cintanya kepada manusia. Karena cinta dan
kasih sayang Allah begitu banyak dan melimpah ruah.
Aku harus bisa memenej perasaan yang hadir di hatiku. Tidak semua rasa harus
kuturuti. Nasehat ummi dan dik Alya sudah cukup banyak. Cintaku pada Naela tak
perlu aku besar-besarkan lagi. Belum tentu dia akan jadi teman hidupku. Aku boleh
terus mencintainya, namun cinta itu tak harus memiliki dan berada di sampingnya. Cinta
yang tulus tak akan pernah mengharapkan balasan dari orang yang dicintai. Karena rasa
cinta itu sendiri lebih penting dari pada wujudnya sosok yang dicintai.
Cinta yang kurasa adalah ujian dari Sang Maha Cinta. Boleh jadi aku mencintai
Naela, tapi itu jelek akibatnya. Aku tak perlu menarik benang merah yang lebih panjang
untuk menyambung cintaku. Karena gadis itu juga tak pernah peduli dan punya simpati
padaku. Mungkin tuhan tidak mengijinkan aku untuk memiliki Naela. Secara tidak
langsung Allah telah menyelamatkan diriku dari kemaksiatan dan tipu daya setan.
Memang sangat berat melupakan cinta yang sudah mendarah daging dalam jiwa.
Semoga aku bisa menghindar dari cinta yang kini seakan memasungku. Aku ingin
mendapatkan cinta suci yang diridloi. Sesuci embun pagi yang tercipta dari Sang Maha
Suci. Terima kasih kuucapkan pada-Mu Allah yang telah menyelamatkan dan
menyadarkan diriku dari tipu daya nafsu. Engkaulah pemilik cinta. Akan kutebarkan
cinta di hatiku pada-Mu. Akan kupersembahkan cintaku untuk-Mu dan untuk para
kekasih-Mu.
Cinta yang kurasa memang tidak sama dengan apa yang di alami oleh khalayak
remaja. Cintaku bukan sembarang cinta. Cintaku adalah persembahan agung dari Sang
Maha Cinta. Cinta yang terukir dalam dada. Cinta yang lahir dari keheningan jiwa raga.
Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk gadis jelita, juga bukan untuk gadis yang selama
142
ini kudamba. Cintaku mengalir dari Sang Maha Cinta dan akan tertuju padanya. Cinta
yang sarat akan keagungan dengan sebutan asma suci-Nya.
Wahai Sang Maha Cinta
Belokkan hatiku
Untuk menebar cinta
Padamu dan kekasihmu
Wahai sang pemilik cinta
Hiasi hatiku
Dengan menyebut asma sucimu
Hingga raga ini ‘kan abadi
Bertahta di surgamu
Yang penuh kasih dan cintamu
***
Dalam keadaan masih terbaring dik Alya masuk ke kamarku. Betapa kagetnya
diriku karena Cintya dan tante Linda juga ikut masuk. Kenapa dik Alya nggak minta ijin
dulu padaku, kalau mereka berdua akan ke sini. Ummi sudah keluar dari kamarku.
Alangkah malunya diriku, bila tadi Cintya melihatku di suapi nasi oleh ummi. Sorot
mata Cintya memandangiku penuh rasa iba. Aku tak tahu maksud tatapan matanya.
“Kamu sakit Fajar?” tanyanya dengan nada cemas.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Tak perlu dijawab karena dia
sudah menyaksikan keadaanku sendiri.
“Kata Alya kamu jatuh tak sadarkan diri.” Lanjutnya.
Cintya terus memberikan pertanyaan padaku. Sampai-sampai pertanyaan yang
nggak penting pun keluar dari mulutnya. Aku merasa itu bagian dari sifat perhatiannya.
Tidak hanya pada diriku, tapi pada semua orang dia selalu perhatian. Aku hanya
tersenyum saja menaggapi hal tersebut.
“Kamu sakit apa Fajar sampai tak sadarkan diri?” tante Linda ikut menanyaiku.
“Mungkin terlalu banyak melakukan aktifitas di kampus tante.” Jawabku singkat.
Aku tak ingin mereka berdua tahu kalau pingsanku gara-gara memikirkan seorang
wanita.
143
“Aku membawa buah-buahan buat kamu Fajar. Semoga cepat sembuh.” Ucap
Cintya memperhatikanku.
“Terima kasih Cin. Aku merepotkanmu.”
“No at all. Yang penting kamu cepat sembuh.”
“Sekali lagi terima kasih. Kamu begitu baik padaku. Semoga kebaikanmu selalu
dibalas dengan yang lebih dari itu.”
“Kalau begitu kami pamit dulu Fajar. Jaga diri baik-baik.” Ucap tante Linda.
“Take care your self. Jangan sampai nggak makan seharian.” Ikut Cintya.
Mereka berdua lalu keluar beserta dik Alya. Sebelum keluar Cintya tersenyum
dengan begitu ramahnya. Dia tampak perhatian sekali. Itulah sifatnya selama ini. Ia
lebih perhatian pada keluargaku daripada tantenya sendiri.
Setelah mereka keluar, beberapa menit kemudian dik Alya masuk ke kamarku
lagi. Dia membawa alat pengukur tensi darah dan stetoskop. Dik Alya lalu memeriksa
darahku. Mendengarkan detak jantungku dengan stetoskopnya. Lalu berkata.
“Darah Kakak rendah sekali. Denyut jantung Kakak juga lemah.” Ucap dik Alya
memperhatikanku. Tak rugi rasanya aku mengajak dik Alya kuliah di Jakarta. Semoga
dia bisa menjadi dokter yang hebat. Yang selalu tulus menolong pasiennya. Tanpa
mengharap upah darinya. Ummi pasti bangga.
“Kak, tadi Cintya sempat ngobrol sama Alya.”
“Lalu?”
“Dia bertanya, sebenarnya kakak sakit apa.”
“Terus?”
“Aku bercerita seperti apa yang aku lihat tadi. Kakak pulang kuliah lalu jatuh di
depan pintu dan tak sadarkan diri. Tapi dia tak percaya begitu saja. Pasti ada penyebab
awalnya. Karena dia terus mendesak aku ceritakan saja yang sebenarnya. Soalnya Alya
nggak ingin bohong.”
“Reaksi Cintya bagaimana?”
“Kalau Alya lihat, Cintya biasa-biasa saja.”
“Alhamdulillah kalau begitu?”
“Cintya perhatian banget sama kita Kak ya.”
“Cintya memang begitu Dik. Kamu tahu sendiri. Dia memang perhatian sekali.
Bukan cuma pada keluarga kita, tapi juga kepada semua orang.”
144
“Memang benar Kak. Alya tahu kalau dia cewek yang punya perhatian tinggi pada
semua orang. Satu kelas hanya dia yang punya sifat begitu. Mungkin malah satu
kampus. Gadis Amerika itu memang aneh.”
Mendengar cerita dik Alya, pikiranku jadi tertuju pada Cintya. Setiap kali ketemu
pasti selalu memberikan kesan pada perhatiannya. Tak ada gadis yang perhatiannya
setinggi dia. Dia selalu begitu pada semua orang. Itulah uniknya gadis dari Amerika.
Itulah ramahnya wanita cantik jelita dari Amerika. Orang-orang Indonesia masih kalah
ramahnya dengan dia. Aku menaruh simpati karena sifatnya itu.
***
145
15
SURAT DARI NAELA
Malam hari, ketika aku sedang mengetik novel, Ustadz Bashori menelfonku.
Beliau menanyakan tentang kegiatan mengajarku. Aku masih minta ijin untuk tidak
masuk karena fokus pada skripsi yang hampi selesai. Aku tidak menceritakan
keadaanku yang sebenarnya. Aku tak ingin beliau tahu. Kalau terpaksa beliau harus
mengetahui apa yang sedang menimpaku, biarlah beliau tahu dengan sendirinya. Tak
lama kemudian dik Alya mengetuk pintu kamar. Dia masuk dengan membawa sesuatu
yang tergenggam di tangannya.
“Kak, tahu nggak apa yang aku pegang?” ucapnya menyapaku.
Aku malas meladeninya. Aku tak memperhatikan dirinya. Aku terus mengetik.
Karena bulan depan novel harus sudah masuk ke penerbit. Mas Aldi, teman baikku dan
sekaligus promotorku telah meminta novelku untuk di terbitkan.
“Kalau nggak mau ya sudah, Alya buang saja suratnya Kak. Yang rugi bukan
Alya. Buat apa surat cinta, bikin pusing kepala orang saja.” Kata dik Alya dengan nada
kecewa dan sinis karena aku tak memperhatikanya.
“Surat cinta! Dari siapa?” tanyaku bengong.
“Siapa lagi kalau bukan cewek yang selama ini hinggap di hati Kak Fajar.” Cetus
dik Alya kesal.
“Masa’?” Bantahku tak percaya. Karena penasaran aku pun langsung
memintanya.
“Kalau aku menyebut nama Naela langsung semangat.” Sinisnya.
“Sudahlah, mana suratnya?”
“Huh dasar!” katanya sambil menyodorkan surat.
Hatiku bertanya-tanya ketika menerima surat dari dik Alya. Kira-kira apa isinya?
Apakah ini balasan suratku yang dulu? Apa maksudnya? Apakah dia menyukaiku? Ah,
mustahil! Atau justru isinya adalah ungkapan benci karena sikapku yang telah lancang
padanya. Kenapa tidak dari dulu dia mau membalas suratku, ketika aku selalu
menunggu balasan darinya. Kenapa baru sekarang dia membalasnya? Kenapa dia mau
membalasnya ketika aku sudah bisa sedikit melupakan dirinya?
146
Saat ini aku memang sudah bisa manjauh dari gadis itu. Dengan datangnya surat
ini, berarti dia telah membuka ingatanku kembali. Aku benci dengannya. Aku benci
gadis itu. Aku benci hal ini karena aku tak ingin lagi memikirkan seorang wanita. Tapi
dia malah datang dengan suratnya. Aku tak ingin lagi ada kekecewaan yang
menghampiri diriku lewat surat ini.
“Buka... tidak.. buka... tidak!” hatiku ragu.
Jantung berdetak kencang. Aku kembali teringat gadis manis itu. Padahal aku
sudah cukup tenang dengan kesibukan menulis novel dan skripsiku. Kenapa dia harus
mengisi hati dan pikiranku? Sampai kapan sandiwara dunia ini akan selesai? Aku pikir
dia tak akan pernah peduli, apalagi sampai mau membalas suratku. Dulu aku memang
selalu mengharapkan balasan suratnya. Namun setelah apa yang aku harapkan itu tak
kunjung datang, aku pun kecewa. Setelah aku sudah sedikit lupa darinya, dia malah
membalas suratku. Secara otomatis dia telah mengingatkanku kembali akan kisah cinta
yang pernah aku alami. Kini dia telah menghiasi hatiku lagi dengan suratnya.
Semoga aku tak terlalu memikirkan isi dari surat ini. Masa bodoh dengan apa
yang terjadi. Perlahan kubuka dan kubaca.
Teruntuk yang
Sedang dirundung cinta
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kuterima salam terindah darimu, dari seorang pemuda yang telah mengagungkan
cinta dengan seagung-agungnya. Memuja cinta dengan sebesar-besarnya lewat deretan
kata-kata manis dan mempesona laksana butiran mutiara yang berkilau menyilaukan
pandangan mata. Sungguh aku tertegun dengan indahnya rangkaian bahasa cintamu.
Hatiku bergetar kuat kala membaca isi hatimu. Mulutku tercekat saat membaca kalimat
manismu. Puja dan pujiku, kupersembahkan teruntuk Sang Maha Cinta yang telah
meneteskan selaksa cinta yang begitu besarnya dalam hatimu.
Kuakui bahwa diriku tak ‘kan mampu menandingi bahasa cinta yang telah kau
torehkan dalam kertas cintamu. Aku tak bisa menuliskan kata cinta melebihi kata
cintamu. Aku tak kuasa menciptakan sederet kata manis melebihi manisnya kata
cintamu. Aku tak mampu melakukan semua hal itu karena aku bukanlah wanita yang
147
bisa mencipta kalimat cinta. Aku bukanlah gadis yang bisa meneteskan kata-kata
manis.
Maafkan aku bila cinta pernah hadir dalam hatimu. Aku tak pernah tahu bila kini
ada jiwa yang hancur karena cinta dan sakit karena rindu. Aku tak ingin kau terus
tersiksa dan merana hanya karena mengharap uluran cinta dari seorang gadis yang tak
nyata sepertiku. Kau telah menghadirkan diriku dalam hatimu tanpa pernah kau tahu
bagaimana akhir dari semua itu. Kau telah menyakiti dan melukai dirimu sendiri
dengan cinta yang telah kau cipta di hatimu. Cinta yang memang tiada pernah kau
pinta dan tak pernah pula aku memberikannya.
Cintamu memang misteri yang hadirnya mengguncang seluruh isi jagad raya ini.
Bagaimana mungkin cinta yang begitu besar bisa tumbuh dan menancap kuat dalam
hatimu, sedangkan diriku jauh di sampingmu. Tak pernah bersua dan bertatapan mata.
Aneh kurasa tapi ini nyata hadirnya dalam hati seorang pemuda.
Aku merasa bahwa cinta yang tumbuh di hatimu adalah cobaan dari Yang Maha
Cinta. Apakah kau sabar dengan cobaan yang diberikan, ataukah kau akan menuruti
apa kata hawa nafsumu. Apapun yang menimpa setiap insan di alam raya adalah ujian
dari Sang Kuasa, termasuk yang kini sedang kau dera. Bila kau punya janji cinta setia
pada Tuhan Yang Esa, kembalikanlah cintamu pada Sang Pemberi Cinta. Aku tak
mampu memberikan cinta padamu karena tuhan memang belum menitahkan cinta di
hatiku untukmu. Aku tak punya cinta untukmu. Aku tak punya rindu yang harus
kutuangkan di hatimu. Bila kau merasa bahwa cintamu tak patut kau puji dan kau
agungkan, aku pun merasa hal yang sama. Sehingga tak perlu menghadiahkan cinta
pada seorang pemuda sepertimu.
Aku setuju bahwa cinta dua sejoli memang tak pantas dan tak seharusnya dipuja
karena itu bukanlah cinta, tapi hanya nafsu belaka. Cinta sejati dan abadi hanyalah
milik mereka yang sudah terikat dalam satu ikatan suci dan selalu tertuju untuk Tuhan
Yang Maha Suci. Dirimu telah sadar akan hal itu. Jika kau tak ingin lebih tersiksa dan
tersakiti dengan perasaanmu sendiri, janganlah kau turuti semua kata nafsumu.
Pendamlah cintamu, tidurkanlah rindumu, karena aku yakin Sang Pemilik Cinta akan
memberikan cinta-Nya padamu. Dan suatu saat nanti cinta yang kau damba pasti akan
datang jua.
148
Seandainya kau memang mengharapkan cinta suci dariku lewat ikatan
pernikahan, maka janganlah kau usik diri ini. Aku ini bukan siapa-siapa yang patut kau
sapa dengan kata cinta. Aku juga bukan gadis yang pantas mendapatkan pujian manis.
Aku ini hanya hamba Allah yang tak pernah tahu akan dihadiahkan untuk siapa
nantinya.
Aku sangat berharap, setelah ini tiada lagi orang yang tersakiti. Sakit karena
rindu dan menderita karena cinta. Sungguh, aku tak tega melihat dirimu menderita
karena cinta. Untuk itu aku harus menjauh darimu. Menghilang dari kejaran cintamu
agar dirimu tak lagi mengharapkan uluran cinta dariku. Persembahkanlah cintamu
untuk yang telah menciptakan cinta di hatimu, tuangkanlah rindumu untuk yang telah
menumbuhkan rindu di hatimu. Semua itu tak lain dan tak bukan hanyalah Allah Sang
Maha Cinta. Aku yakin kau akan merasakan cinta yang lebih manis dari segala-
galanya. Yaitu bercinta pada Allah Sang Maha Cinta.
Wahai pemuda yang dirundung cinta.
Kata-katku ini tak lain hanyalah permintaan maaf dari hati yang terdalam atas
cinta yang tak bisa kupersembahkan untukmu. Semoga tuhan mengampuniku dan juga
dirimu. Maafkan aku atas segala salah dan khilafku. Aku memang tak mampu
memberikan cinta untuk dirimu, bila suatu saat nanti kita bersua, semoga Tuhan akan
memberikan cinta-Nya pada kita semua. Salam rindu dan cinta yang teramat indah dari
Sang Maha Cinta untukmu.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Dari
Gadis yang miskin Cinta
Naela Salsabila
Hatiku gerimis setelah membaca suratnya. Mataku murung. Langit pun kulihat
ikut murung karena menaruh kasihan padaku. Sinar bulan yang baru saja menampakkan
gemerlap cahaya seolah-olah terpejam lagi. Berjuta bintang di langit seakan menangis
memikirkan cintaku. Semua menangis karena merasa iba pada diriku. Kupejamkan
mataku meratapi semua itu. Kini apa yang bisa kuharapkan dari cinta yang selama ini
149
kudamba. Cinta yang begitu tulus kini pudar bersama air mata. Tetes demi tetes. Bagai
embun pagi yang membasahi bumi.
Kini gadis itu kembali menanam benih luka di hatiku setelah aku sedikit lupa
darinya. Kenapa harus ada cinta bila akhirnya hanya membawa derita? Kenapa harus
ada rindu bila akhirnya hanya menyisakan rasa pilu? Aku benci cinta. Aku benci Naela.
Aku benci rindu. Aku benci gadis itu. Aku benci diriku. Mengapa cinta yang begitu
tulus tak mampu mengetuk hati dan jiwanya? Seperti sia-sia saja hidup tanpa kasih dan
cinta.
Hari-hari berlalu
Kujalani dengan rasa sendu
Tak lagi berarti
Sepi menyayat hati
Hari-hari kulalui
Merana karena cinta
Dalam relung jiwa
Semua hanya nafsu belaka
***
Kulihat jam di layar komputerku. Di situ tertulis angka 22:44 masih ada suara TV
di ruang tengah. Mungkin dik Alya masih menontonnya. Apa yang baru saja aku baca
masih menghiasi hati dan pikiranku. Terpikir dan terbayang. Kini aku sadar dan bisa
mengambil pelajaran. Betapa bodohnya aku mengharapkan kasih dan cinta manusia.
Betapa tololnya diriku menanti cinta dari seorang wanita. Betapa ruginya diriku
mengharapkan kasih manusia. Betapa malangnya diriku menanti uluran cinta manusia.
Semua itu hanya menghadirkan duka. Membawa derita dan luka. Menyisakan sakit dan
kecewa. Kenapa aku tak sadar dari dulu? Astagfirullah! Astagfirullah! Aku telah
berdosa. Ampuni hambamu ini ya Allah. Hidupkan kembali hati nuraniku. Bangkitkan
kembali pikiran suciku. Jauhkan aku dari wanita itu. Dan dekatkan aku pada al-
Qur’anku. Kembalikan jiwa ini tuk selalu menaruh hati pada al-Qur’an.
Sungguh betapa jiwa ini telah dikuasai oleh nafsu yang selalu membelenggu
jiwaku. Mengaharap kasih dan cinta manusia memang banyak membawa kecewa dan
150
derita. Karena manusia itu miskin dan tak punya cinta. Ketika mengharapkannya pasti
akan sedikit sekali bisa meraih cintanya.
Berbeda dengan Allah yang begitu luas kasih sayang serta cintanya. Betapa kita
tak kan pernah bisa menghitung bahwa kasih sayang Allah sudah begitu banyaknya. Itu
semua adalah bukti dan tanda kasih sayang dan cinta Allah yang begitu besar dan tak
terhingga. Allah memberi apa yang tidak kita minta. Dan pemberian itu begitu banyak
dan melimpah pada diri kita. Bahkan kita cenderung tak mau berterima kasih padanya.
Kita lebih banyak mengingkarinya. Terkadang malah cuek dengan kasih sayang dan
cinta yang diberikan Allah. Allah begitu memperhatikan dan mencintai, meski
kebanyakan manusia tidak mencintai-Nya setulus hati. Cinta kita pada Allah hanya
sebatas di mulut saja, belum bisa merasuk ke dalam relung hati. Makanya kita
cenderung tidak memperhatikan Allah dan cuek dengan segala perintahnya.
“Alhamdulillah.” Kuucapkan kalimat mulia itu. Betapa Allah telah
menyelamatkan diriku dari hawa nafsu. Kini aku bisa tersadar dengan cintaku yang
semu. Semua itu berkat cinta dan kasih Allah yang diberikan padaku. Semoga aku lebih
bisa mencintai Allah dari pada mencintai manusia. Semoga cintaku pada Allah lebih
besar dari pada cintaku pada manusia. Cukuplah sampai di sini cerita cintaku pada
sosok gadis yang tak nyata itu. Aku tak ingin menyiksa dan menyakiti diriku sendiri
dengan cinta semu. Maha Suci Allah. Karena kini, aku telah terbangun dari
ketidakberdayaanku gara-gara cinta yang hanya membawa derita. Surat ini akan jadi
saksi atas kesadaranku dari sakit jiwa karena wanita. Semoga aku tak lagi mengejar
wanita. Akan aku pusatkan pikiranku untuk al-Qur’an dan skripsiku.
Waktu semakin malam. Ada panggilan yang masuk ke HPku. Mas Aldi rupanya.
Aku angkat.
“Halo. Mas Aldi ya?” Sapaku padanya.
“Bagaimana novelnya, sudah jadi belum?”
“Oh ya, sudah Mas.”
“Terus kapan bisa aku terima naskahnya?”
“Secepatnya Mas.”
“Ok. Aku tunggu ya.”
“Iya Mas, secepatnya akan saya kirim.”
Klik. “Tut..tut..tut..”
151
Ini baru berita gembira. Mungkin ini salah satu kegembiraan yang dirasakan oleh
penulis apabila tulisannya bisa di terbitkan. Perjalanan panjang, berpikir, berimajinasi,
menghayal, melamun, meramu kata-kata, menyampaikan pesan, dan sebagainya dan
sebagainya. Pada malam hari ini, aku seperti mendapatkan mutiara. Semoga berita
gembira ini bisa menghapus luka yang sedang menemaniku. Luka cinta yang membawa
derita. Mendengar kabar dari Mas Aldi, aku langsung berjingkrak dari tempat tidur dan
langsung menghadap ke depan layar komputer lagi. Malam ini target editan selesai dan
besok bisa langsung aku kirim lewat email pada Mas Aldi. Alhamdulillah. Segala puji
hanya bagi-Mu Allah.
Bicara soal menerbitkan buku, aku jadi teringat akan kisah pertama kalinya saat
menerbitkan bukuku. Aku bingung mau menerbitkan di mana. Tak punya kenalan orang
yang bekerja di penerbit. Kemudian aku memutuskan untuk langsung mengirimkan
naskah ke penerbit yang ada di Yogyakarta. Yang aku kirim adalah kumpulan cerpenku.
Namun apa yang terjadi, tulisanku ditolak oleh penerbit. Kemudian aku edit lagi dan
aku perbaiki, terus aku kirim ke penerbit lain. Alhamdulillah masih ditolak juga. Ada
sedikit kecewa, tapi tak mengapa. Akhirnya aku memutuskan untuk memfoto copy
sendiri, lalu menyebarkan keteman-teman pondok. Tahun berikutnya aku mencoba lagi
ke penerbit yang lain, alhamdulillah bisa di terima. Sekarang mereka malah yang
meminta tulisanku untuk di terbitkan.
Itulah sekelumit cerita tentang perjuangan untuk menebar ilmu lewat tulisan.
Gagal sekali tak boleh putus asa dan menyerah. Rintangan itu bagian dari kehidupan
manusia. Kalau tak ada rintangan pasti tak ada pula kesuksesan. Karena orang yang
sukses bukanlah orang yang sepi dari rintangan, melainkan orang yang selalu dapat
menghadapi bermacam rintangan dan mengubahnya menjadi sebuah kesuksesan.
***
152
16
DOA CINTA
Hati ini masih merasa sunyi dan sepi. Semakin bertambah sunyi dengan suasana
malam yang seolah terbungkus kain hitam nan gelap. Semakin bertumpuk-tumpuk.
Dengan suratnya, Naela kembali mengusik ketenangan jiwaku. Rindu yang telah sirna,
kini kurasa semakin membara. Cinta yang telah pudar, kini malah semakin menyebar.
Sampai kapan semua ini akan berakhir? Sampai kapan semua yang kurasa akan hilang?
Aku sudah tak berdaya dengan cinta yang kurasa. Aku tak ingin terus berduka
karenanya. Cintaku adalah dukaku dan rinduku adalah deritaku. Semuanya akan terus
menggangguku. Kuliahku, belajarku, dan yang terpenting adalah hafalan al-Qur’anku.
Aku tak ingin semua itu terjadi. Itu berbahaya. Cita-cita yang mulia bisa kandas dan
gagal ditengah jalan karena cinta yang tiada guna. Aku harus bangkit dari
keterpurukanku. Aku sudah terlalu dalam memikirkan gadis itu. Akal sehatku terbang
melayang tanpa bisa dikendalikan. Entah, bagaimana cinta yang menimpaku bisa
sehebat itu.
Sampai jam sebelas malam ini hatiku masih tertuju pada gadis yang mempunyai
nama indah itu. Pikiranku selalu terikat dengan bayang-bayang cantik wajahnya. Ia
seperti berkelebat-kelebat di depan kedua mataku. Bisikan mesranya seperti sedang
mengalun di daun telingaku. Aura jiwanya telah menggodaku, merayuku, serta
memeluk erat tubuhku. Jiwa ini memang benar-benar lumpuh oleh tipu daya cintanya.
Subhanallah! Masya Allah! Betapa dahsyatnya cintaku. Aku sungguh terpanah oleh
busur cinta yang fana.
Siapa yang mampu menghidupkan lagi hati nurani dan akal sehatku? Hidup dari
mati karena cinta. Hidup dari ketidakberdayaan karena menahan rindu. Ya allah
tuhanku! Ini cinta atau nafsu? Aku ingin menjauhinya, tapi tak berdaya. Aku ingin lari
darinya, tapi terus dikejar oleh perasaan cinta. Aku ingin meleburnya, menguburnya
dalam-dalam. Aku memang harus memendamnya rapat-rapat. Tak perlu lagi aku simpan
dalam memoriku otakku.
Malam ini aku harus bangun untuk bertahajud ria memohon pada yang kuasa agar
cintaku bisa sirna untuk selamanya. Alarm HP kusetting tepat pada jam tiga. Semoga
153
bisa bangun tepat pada waktunya. Kupejamkan mata, tapi masih juga tak bisa. Kepala
ini terasa penuh dengan kalimat cinta. Deretan kata cinta terus memenuhi otakku.
“Astagfirullah.” Hatiku terus mengucapkan lafal ini agar bisa tenang. Aku tak bisa
tenang. Pikirank masih sama. Suara pintu kamarku berbunyi. Dik Alya mengetuknya.
“Kak sudah bobok? Boleh masuk nggak?” Pintanya halus.
“Silahkan.”
“Bagaiman kondisi Kakak, sudah baik?”
“Dik Alya bisa melihat sendiri, bagaimana keadaan Kakak sekarang.” Jawabku
tak bersemangat sambil tiduran di kasur. Dik Alya mendekatiku.
“Kak Fajar, Kak Fajar! Bodoh dipelihara! Apa gunanya memikirkan wanita itu
terus. It’s unusefull brother. Sama sekali tak berguna. Tak cukupkah nasehat-nasehat
yang selama ini diberikan oleh ummi. Kenapa Kakak masih juga seperti ini. Pikir
dengan akal sehat Kak. Hati nurani Kak Fajar ke mana? Alya benci Kak! Benci karena
melihat Kakak bertindak bodoh dan tolol seperti ini. Kecerdasan Kakak hilang berganti
dengan ketololan karena wanita. Akal sehat juga lenyap karena memikirkan wanita.
Hati nurani Kakak mati dan tak berfungsi karena wanita. Semuanya tertutup oleh nafsu
yang menguasai jiwa. Sadar Kak! Sadar sesadar-sadarnya.”
“Maafkan kalau Alya harus marah Kak! Tapi Alya kasihan dengan Kak Fajar.
Kakak tak bisa belajar dan konsen sama kuliahnya. Dahulu Kakak yang selalu memberi
semangat pada Alya ketika aku nggak mau diajak kuliah di Jakarta. Karena semangat
Kakak yang membara, Alya pun ikut termotivasi untuk kuliah di sini. Tapi sekarang,
apa yang Kakak lakukan? Tindakan bodoh dan tolol yang selalu menyertai Kak Fajar.
Di mana al-Qur’an yang sudah melekat dalam hati Kak Fajar. Kenapa nggak mampu
menuntun jiwa Kakak yang sedang sakit? Itu semua karena Kakak lebih memilih nafsu.
Benar ‘kan!”
Aku hanya diam mendengarkan kata-kata dik Alya yang membara. Seperti ada
malaikat yang menyetir bibir manisnya untuk menasehatiku.
“Sadarlah Kak! Sadar dengan apa yang telah Kakak lakukan.” Kata-kata dik Alya
kembali meluncur.
“Dik Alya boleh marah. Akan kuterima dengan lapang hati.” Tukasku.
“Sebenarnya Alya bukan marah. Alya justru sayang sama Kak Fajar.
Kemarahanku ini adalah bukti cintaku. Bagiku kemarahan adalah lambang cinta sejati.
154
Karena Alya nggak ingin Kakak menderita. Alya nggak tega melihat kondisi Kakak
yang seperti ini. Alya nggak rela kalau Kakak bodoh. Bodoh yang dibuat-buat sendiri.”
“Aku juga ingin seperti apa yang dik Alya katakan. Melupakan Naela. Melupakan
cinta, dan terbebas dari itu semua. Tapi jujur, hati ini masih terus terpikir dan terbayang
olehnya. Meskipun aku tak pernah menginginkannya. Semua itu seperti mesin otomatis
yang menggerakkan jiwaku. Sekarang aku cuma ingin bagaimana bisa terbebas dari
perasaan yang membelenggu jiwaku.”
“Alya sudah bilang sama Kak Fajar. Buanglah nama cewek itu dari hati Kakak.
Bagaimana Kak Fajar bisa lupa kalau terus memikirkannya. Itu mustahil!”
“Andaikan bisa, pasti aku sudah melakukannya Dik. Terima kasih atas semua
nasehatnya. Mulai detik ini, malam ini, aku akan menghidupkan lagi hati nuraniku, akal
sehatku dan jiwaku yang telah sakit. Aku pasti bisa bangkit dengan kekuatan yang
tersirat dari nasehat-nasehat dik Alya. Terima kasih atas perhatiannya. Kakak juga cinta
dan sayang sama dik Alya.”
Sesaat kami terdiam. Ada suara langkah kaki menuju kamarku. Mungkin ummi
mendengar kata-kata dik Alya yang memang terdengar keras. Baru kali ini aku
mendengar suara dik Alya melantun keras. Ya, kali ini saja. Dari kecil hingga besar
yang sering aku dengar adalah halus dan lunak persis seperti ummi.
“Alya! Malam-malam begini ngapain di dalam kamar Kakakmu!” Ucap ummiku.
“Ummi dengar suara kamu keras sekali, bertengkar ya?” Lanjutnya.
“Nggak Um. Kata siapa kita lagi bertengkar!”
“Aku cuma ingin ngobrol sama Kak Fajar. Tadi hanya menasehati Kak Fajar.
Alya benci Um, ternyata Kak Fajar masih juga memikirkan wanita itu. Dengan terpaksa
Alya bicara keras, biar Kak Fajar sadar dengan apa yang dilakukannya. Aku nggak
ingin kalau satu-satunya Kakakku menderita karena cinta.” Ujar dik Alya memberi
penjelasan.
“Ummi tahu, tapi bisa dilakukan dengan suara pelan. Kamu itu anak cewek, nggak
baik bersuara lantang kayak tadi. Cewek itu lebih enak kalau suaranya halus dan lunak.”
“Iya-iya um, maafkan Alya. Alya khilaf.” Jawab dik Alya dengan muka cemberut.
Ummi mendekatiku seraya berkata dengan kelembutan suaranya.
155
“Fajar, sekali lagi ummi berharap padamu. Kalau ternyata ucapan Ummi masih
tak mampu mempengaruhi jiwamu dan menyembuhkan cintamu, maka kamu bukanlah
anak yang selama ini berada dalam didikan ummi.”
Hatiku bergetar mendengar kehalusan tutur bahasa ummiku. Aku merasakan ada
hawa sejuk yang merasuk ke dalam tubuhku.
“Insya Allah Um, Fajar selalu berharap doa Ummi. Aku yakin pasti bisa
melupakan gadis itu.” Kataku yakin.
“Sekali lagi Ummi katakan padamu dan juga Adikmu. Pergunakanlah akal sehat
dan hati nuranimu dalam menjalankan sesuatu. Jangan jadi manusia yang ingkar akan
nikmat Allah. Allah telah menganugerahkan akal sehat dan hati nurani pada kalian
semua. Kalau kalian tidak menggunakan dengan baik, itu sama saja ingkar dengan
nikmat Allah.”
“Fajar harus bagaimana Um. Saat ini aku memang telah dibuat bodoh oleh cinta.
Cinta memang sering membuat manusia bodoh dan tak bisa berpikir dengan sempurna
termasuk diriku sendiri.”
“Kamu sendiri yang telah membuat kebodohan itu. Kamu tak mau menerima
nasehat Ummi. Kesadaranmu telah tertutup nafsu. Kalau kamu mau menggunakan akal
sehatmu tentu tidak akan begini. Kamu telah sadar bahwa apa yang kamu lakukan itu
tak berguna. Tapi kamu tetap saja menjalaninya. Ummi sudah menasehati berkali-kali,
kamu tetap saja tak berubah. Itu jelas kalau dirimu telah dikuasai nafsu.”
“Yang telah menciptakan cinta di hatimu adalah Allah. Kenapa kamu tidak
melampiaskan cinta itu pada Tuhan yang telah menciptakan cinta di hatimu. Kenapa
kamu malah memusingkan diri dengan terus memikirkan wanita itu. Bukankah Allah
lebih dari segala-galanya. Allah punya cinta, kasih dan sayang yang sangat besar. Kalau
kamu memang sadar sesadar-sadarnya, pasti tidak akan pernah melakukan hal ini lagi.
Malu pada Allah. Malu pada diri sendiri. Malu pada Ummi dan Adikmu. Mulai detik
ini, malam ini, buanglah jauh-jauh pikiranmu dari wanita itu.”
Aku termenung mendengar ucapan ummi. Tak berani menyela sepatah kata. Dik
Alya juga diam. Aku mendekat dan memeluk Ummi. Ingin rasanya aku menangis
sejadi-jadinya. Menumpahkan segala apa yang aku alami dihadapan ummi. Ingin
rasanya aku memukuli diri sendiri. Menampar wajahku. Aku sudah kehilangan jati
diriku. Sosok Fajar yang sekarang bukan lagi seperti Fajar yang dulu. Yang selalu
156
memberi motivasi dirinya sendiri. Adiknya dan juga orang lain. Aku pasti bisa untuk
berpaling dari memikirkan Naela. Diriku telah disetir oleh nafsu. Nafsu yang telah
membelenggu jiwa. Aku harus keluar dari jerat nafsu ini. Aku tak boleh terus tenggelam
dalam nafsu yang merugikan dan mencelakakan diriku sendiri. Tak ada kata yang tak
bisa.
Wahai jiwa yang gundah
Jangan teruskan kegundahanmu
Demi cinta yang fana
Wahai jiwa yang resah
Jangan teruskan keresahanmu
Hanya tuk nafsu
Yang mencelakakan dirimu
***
Jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh. Suasana malam bertambah sunyi.
Sesunyi isi hatiku yang dirundung duka dan derita. Ini saatnya aku harus hidup kembali.
Hidup dari kebodohan yang telah aku buat sendiri. Aku harus bangkit. Bangkit dari
keterpurukan diriku karena cinta yang menipu. Aku harus memohon pada Allah. Aku
harus kembalikan semua masalah ini pada-Nya. Aku harus menghadirkan Allah di
hatiku. Harus kuukir dan kupatri agar tidak lepas dari hatiku. Aku harus menghapus
wanita itu dari file otakku. Semua program harus kuinstall ulang. Yang tak berguna
harus kudelet dan kuformat.
Ini saatnya tidur. Sesulit apapun harus kupejamkan mataku supaya terlelap.
Keinginan mimpi untuk bertemu Naela harus kulenyapkan dari hati. Aku membaca
Istigfar sebanyak-banyaknya. Memohon ampun pada Allah seraya berdoa semoga
ingatanku pada Naela segera sirna. Aku membaca Sholawat Nabi dalam hati sebanyak
mungkin. Ini sebagai doa dan juga rasa cintaku pada baginda Rasulullah. Semoga
dengang Shalawat itu kelak bisa mendapat syafaatnya di hari yang tak seorang pun bisa
memberi pertolongan. Dini hari nanti aku harus bisa bangun untuk bertahajud.
Mendekat sedekat-dekatnya pada Allah Yang Esa.
157
“Dan pada sebagian malam bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan
bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.25”
Mata baru terpejam sedetik, Handphoneku berbunyi. Aku tersentak dengan
suaranya. Panggilan masuk dari Cintya. Aku merasa tak perlu mengangkatnya. Tapi hati
ini berkata lain. Akhirnya aku menjawab panggilannya.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam.” jawabku.
“Belum tidur? I’m sorry disturb your self.”
“Ada perlu apa malam-malam begini telfon?”
“I need your hand.”
“Insya Allah kalau aku bisa.”
“Can you translate my arabic book? Aku sangat berharap kamu bisa dan mau.”
“Kalau boleh tahu judulnya apa?”
“Al-Mahabbah Fi al-Qur’an.”
Aku terdiam sejenak memikirkan judul buku yang disebutkan Cintya. Aku pernah
membaca buku itu. Tapi di mana? Memori bergerak-gerak mencari file yang terpendam
dalam otakku. Belum ketemu. Mungkin di perpusnya Prof. Dr. Ridwan.
“Baiklah. Insya Allah.”
“Aku butuhnya satu atau dua hari ini. Bisa?”
“Kalau untuk minggu-minggu ini aku tak bisa.”
“Kamu kenapa? Sakit lagi ya?”
“Oh, nggak. Sudah baik.” Aku tak mau beterus terang tentang Naela. Jangan
sampai Cintya tahu akan hal ini.
“Tapi aku butuhnya sekarang. Ini penting banget. Penting sekali untuk diriku. Aku
sangat butuh buku ini. Karena aku tak bisa bahasa arab, makanya aku minta tolong sama
kamu. Aku sudah mencoba sendiri untuk menerjemah dengan kamus, tapi masih
kesulitan.” Cintya sedikit memaksa.
“Aku tahu Cin. Tapi untuk saat ini aku sama sekali nggak bisa. Maaf banget.
Bukannya aku nggak mau menolong kamu, tapi waktunya yang nggak memungkinkan.
Skripsiku belum beres. Lain kali pasti akan kubantu secepatnya. Ok.”
25
QS. Al-Isra’: 79.
158
“Ok. Thank.” Ucap Cintya lesu. Nada suaranya seperti ada kekecewaan. Dia
mematikan HPnya tanpa memberi ucapan salam seperti awalnya.
Aku bisa memaklumi apa yang dirasakan olehnya. Dalam hatiku kecilku aku
merasa menyesal karena tak bisa menolong Cintya. Aku merasa bersalah kenapa tadi
tidak bilang iya. Aku memang selalu merasa menyesal bila tak bisa membantu orang
lain. Siapapun orangnya. Baik yang pernah menolongku atau pun yang tidak. Apalagi
Cintya, orang yang selalu membantu keluargaku dan perhatian padaku.
Aku ingin mengejek diriku sendiri, kenapa tak bisa menyenangkan hati orang lain.
Sedangkan hatiku juga ingin selalu disenangkan orang lain. Kenapa aku menolak
Cintya. Bukankah menolong dirinya itu pahala. Bukankah kalau aku mengiyakan
permintaan Cintya, bisa sedikit melupakanku dari mengingat Naela? Bisa mengalihkan
pikiranku darinya. Aku benar-benar bodoh. Dan yang telah membuat kebodohan ini
adalah cinta pada Naela.
“Ah, bodoh sekali diriku! Kenapa pahala ditolak begitu saja.” Aku mencela diriku
sendiri.
Andaian kondisi jiwaku tidak sedang resah, pasti aku akan mengiyakan
permintaan Cintya. Resahku karena terpikir wanita. Susahku karena cinta tak terbalas
olehnya. Gadis yang bernama Naela memang selalu dan akan selalu mengikat hati dan
pikiranku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ketika ada hal baru yang masuk ke
dalam diriku, aku sama sekali tak tertarik dengan hal itu. Pikiranku hanya satu, yaitu
tertuju pada Naela. Aku berdebat dangan diriku sendiri.
Semoga kekecewaan Cintya tidak terlalu berlebihan. Masih ada kesempatan untuk
esok hari. Ada hari, minggu dan bulan berikutnya. Aku bisa menerjemah buku yang di
minta Cintya setelah keadaanku membaik. Paling tidak bisa sedikit melupakan Naela.
Kenapa Cintya harus meminta secepat itu? Kenapa nggak dari kemarin. Ah, itulah
salah satu sifat manusia. Apa yang jadi keinginannya selalu ingin dipenuhi dengan
segera. Hatiku masih terus berdebat tentang Cintya. Tak ada endingnya bila aku tak
mengalihkan pikiranku ke hal lain. Aku terpikir Cintya lagi. Bila Cintya memang benar-
benar kecewa dan marah karena aku tak mau menrjemah bukunya, aku akan sangat
merugi. Aku akan sangat bersalah padanya. Aku harus mengirim pesan padanya.
Memberi tahu kalau besok akan segera menerjemahkan buku yang diminta. Dengan
159
menerjemah, aku bisa mengalihkan pikiranku yang selalu tertuju pada Naela. Kukirim
pesan pada Cintya.
“Cin, belum tidur kan? Baiklah, aku siap menerjemah bukumu besok.”
Aku menunggu balasan darinya. Tak ada balasan. Kutunggu sepuluh menit lagi.
Tak ada balasan. Aku mengirim lagi sms yang sama. Masih tidak dibalas juga. Lalu
kutelfon, tapi tidak aktif. Mungkin dia sudah tidur dan tak mau diganggu.
Malam sudah mencapai puncaknya. Aku ingin memejamkan mata mulai dari jam
sembilan tadi. Ketika di kamarku masih ada ummi dan dik Alya. Tapi sampai sekarang
jam 12 lebih, aku belum juga bisa memejamkan mata. Pikiranku masih tertuju pada
Naela yang telah menyihir hatiku. Di tambah lagi Cintya. Masalah satu belum selesai
sudah datang masalah baru. Apakah hidup ini memang harus penuh masalah? Mungkin
begitu. Karena kehidupan dunia memang tempat ujian bagi manusia. Aku berdoa dalam
hati.
“Oh tuhan, kuatkan hambamu yang tiada berdaya. Engkau yang kuasa, engkau
yang perkasa.”
Aku pasti bisa menghadapi semuanya. Aku harus menyelesaikan dengan tuntas
masalahku. Kalau aku lari dari masalah sama saja dengan menambah masalah baru. Aku
tak ingin masalahku bertumpuk-tumpuk. Pusing! Pusing sekali! Kalau aku terus
memikirkannya akan setres dan depresi. Kalau sudah begitu aku sendiri yang rugi. Aku
harus kembali seperti sosok Fajar yang dulu. Fajar yang selalu mempunyai semangat
untuk berjuang dalam hidupnya. Fajar yang semangatnya selalu menyala-nyala. Fajar
yang selalu mengindahkan nasehat-nasehat dari umminya. Fajar yang selalu
menyongsong pagi mengiringi munculnya mentari. Aku bisa. Aku pasti bisa.
Aku harus memejamkam mata. Kulantunkan al-Qur’an dalam hati. Kubaca surat
Yasin yang merupakan hatinya al-Qur’an. Semoga Allah menurunkan ketenangan
dalam hatiku. Kejernihan dalam berpikir dan bertindak. Kebaikan disemua perilakuku.
Kubaca terus dalam hati sampai akhirnya jiwa ini terlelap. Menikmati nyenyaknya tidur.
Tidur nyenyak adalah ni’mat Allah. Banyak orang yang mengeluh karena tak bisa tidur
akibat dari berbagai macam problem kehidupan yang menghinggapinya. Biasanya kalau
sulit tidur aku membaca al-Qur’an. Dengan membaca beberapa ayat saja pasti mata ini
terasa ngantuk.
160
Dulu waktu masih di pondok, teman-teman sering bilang begini, “kalau membaca
al-Qur’an pasti ngantuk, kenapa ya!” Aku sendiri juga sering merasakan hal itu. Ketika
mau menghafal malam hari, baru membaca sebentar, rasa kantuk pasti datang. Akhirnya
memilih tidur. Itulah salah satu cobaannya. Kalau diikuti terus memang tiada akhirnya.
Ada orang yang nggak bisa tidur gara-gara banyak masalah. Ada juga yang
tidurnya sampai kelewatan dan membuang-buang waktu hanya untuk tidur. Sayang
banget kalau hidup kita hanya habis untuk tidur. Tanpa ada guna sama sekali. Tuhan
telah menurunkan ni’mat yang berupa tidur. Gunanya adalah untuk istirahat. Itulah
kenapa Allah menciptakan siang dan malam. Siang untuk mencari rizki dengan bekerja
dan malam untuk istirahat dengan tidur.
“Dan sebagian rahmat-Nya, dia menjadikan untukmu malam dan siang, supaya
kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-
Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.26”
Di zaman sekarang ini banyak sekali orang yang merubah hidupnya. Siang
dijadikan malam dan malam dijadikan siang. Kerja dengan lembur dan tak kenal waktu
hanya untuk mencari uang.
Tidur itu seperti orang mati. Kita tak sadarkan diri. Tak tahu apa yang terjadi di
sekeliling kita. Bahkan ketika ada binatang kecil seperti nyamuk yang menggigit kita
pun tidak sadar. Baru sadar kalau ada rasa sakit dan bintik merah di kulit. Tidur itu
kelengahan manusia dan kelengahan itulah yang sering digunakan oleh binatang mungil
untuk menghisap darah manusia.
Betapa cerdiknya binatang kecil itu. Memanfaatkan kelengahan manusia untuk
menyantap darah. Ternyata manusia yang punya badan besar, punya tangan, dan kaki
masih kalah dengan nyamuk. Dia tampak cerdas karena menunggu saat manusia terlelap
dalam tidur untuk dapat menikmati darahnya. Bahkan bisa membunuh dengan
gigitannya. Salah satunya adalah demam berdarah. Ukuran nyamuk itu sangat kecil, tapi
bisa menjadikan manusia tak berdaya sama sekali dengan gigitannya. Inilah bukti
kekuasaan Allah dalam penciptaan mahkluknya.
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau
yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin
bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhannya, tetapi mereka yang kafir mengatakan:
26
QS. Al-Qashash: 73.
161
Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan? Dengan perumpamaan itu
banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang
yang diberi petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang
fasik.27”
Mungkin kita bisa sadar dengan melihat nyamuk yang sangat kecil ukurannya di
banding badan manusia. Betapa lemahnya manusia! Betapa tak berdayanya dia! Betapa
kecilnya! Betapa kerdilnya! Karena dengan gigitan binatang sekecil itu bisa sakit
sampai sedemikian rupa dan tak bisa berbuat apa-apa. Itu semua kekuasaan Allah yang
tak akan pernah bisa ditandingi manusia.
Bicara soal nyamuk, aku jadi teringat satu syair berbahasa arab yang pernah aku
baca dalam kitab Minhatul Qudsiyyah saat masih duduk di bangku MTs dulu. Artinya
begini, “sekali-kali janganlah pernah engkau meremehkan anak kecil dalam berdebat
tentang suatu masalah, karena sesungguhnya nyamuk itu kecil, tapi dia bisa
mengalirkan darah dari mata harimau.” Kita bisa berpikir betapa hebatnya nyamuk.
Betapa dahsyatnya kekuatan yang diberikan oleh Allah pada binatang mungil itu.
Harimau yang terkenal buas pun bisa kalah dan mampus oleh gigitan nyamuk.
Kalau manusia mau berkaca pada diri sendiri pasti akan sadar dengan sesadar-
sadarnya bahwa dia sangat lemah. Kalau dengan nyamuk saja kita kalah dan bisa jatuh
sakit dengan gigitannya, pantaskah kita berlaku sombong di dunia ini? Patutkah kita
membangga-banggakan diri sendiri? Merasa besar, merasa mampu, merasa paling
berkuasa. Sungguh amat sangat celaka bagi manusia yang menyombongkan diri sendiri.
Tiada manusia yang berlaku sombong di dunia ini yang selamat. Pelajaran nyata
bisa kita ambil dari kisah Fir’aun. Fir’aun adalah simbol kesombongan bagi umat
manusia sedunia dengan mengaku sebagi Tuhan. Akhirnya dia pun tenggelam ke dalam
lautan. Itu semua pelajaran bagi manusia. Allah mengabadikan jasadnya agar tetap utuh.
Menurut sejarah, setelah Fir'aun tenggelam, mayatnya terdampar di pantai. Di temukan
oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat
di musium Mesir. Itu adalah pelajaran bagi manusia agar tidak berlaku sombong seperti
Fir’aun. Kesombongan pasti akan berakhir dengan kehancuran. Tapi sayang, hanya
sedikit orang yang mau mengambil pelajaran ini.
27
QS. Al-Baqarah: 26.
162
“Maka pada hari ini, Kami selamatkan badanmu (fir’aun) supaya kamu dapat
menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya
kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.28”
Untuk menerangkan betapa kecilnya manusia, aku meminjam istilah yang pernah
dipakai oleh seorang sastrawan sekaligus Kyai dari Rembang, Jawa Tengah yaitu Gus
Mus. Kita semua tahu seberapa besarnya kacang hijau. Bayangkanlah bahwa planet
bumi ini besarnya seperti sebutir kacang hijau. Lalu kita bagi menjadi lima benua. Ada
Asia, Amerika, Australia, Afrika, dan Eropa. Dari benua Asianya, kita bagi menjadi
beberapa bagian. Ada Asia Tenggara dan seterusnya. Dari Asia Tenggara, kita bagi lagi
menjadi beberapa bagian. Ada Indonesia dan negara-negaran yang lain. Dari Indonesia,
kita bagi lagi menjadi beberapa pulau. Ada Jawa, Sumatera dan pulau-pulau lain. Dari
pulau Jawa, kita bagi menjadi beberapa kota. Ada Jakarta, Bandung dll. Dari Jakarta,
kita bagi lagi menjadi kabupaten kemudian kecamatan lalu desa. Dari desa, kita bagi
lagi menjadi beberapa Rt/Rw. Di dalam RT atau RW ada beberapa rumah penduduk.
Dari rumah penduduk ada mahkluk yang bernama manusia.
Setelah pembagian selesai silahkan dibayangkan. Mungkinkah sebutir kacang
hijau yang ukurannya sebegitu kecilnya mampu dibagi menjadi beberapa bagian seperti
di atas. Mungkin baru dibagi menjadi lima benua saja, sudah tidak cukup. Apalagi
sampai beberapa pulau, kota atau desa. Manusia nyaris tak bisa mendapat bagian dari
bulatnya kacang hijau. Kalau terpaksa dibagi manusia akan mendapat bagian yang lebih
kecil dari kuman, yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Itu gambaran betapa
kecilnya manusia. Sangat amat kecil sekali alias cuuuuilik buuuuanget. Setelah
merenungkan perumpamaan di atas, masihkah kita akan berlaku sombong?! Merasa
besar! Dan merasa mampu!
Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua
Hilang dan pergi meninggalkan dirimu
Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari29
28
QS. Yunus:92.
29
Di kutip dari lagunya Opick yang berjudul bila waktu t’lah berakhir.
163
Dengan perumpamaan kacang hijau di atas, akal sehat dan hati nurani yang
berfungsi pasti kita akan bisa sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa manusia itu sangat
kecil. Tapi bagi mereka yang hati nuraninya mati, akan tetap dalam kesombongan.
Meskipun ayat-ayat Allah yang diperlihatkan sudah begitu banyak. Dan kesombongan
mereka sudah barang tentu akan membawa kecelakaan bagi dirinya sendiri selamanya.
Naudzu billahi min dzalik.
Tepat jam 03.00 alarm HPku bernyanyi. Aku sedikit kaget dan langsung
terbangun. Aku segera menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhku. Namun ada
bisikan dari dalam hati.
“Bangunlah nanti saja, malam masih panjang, selimut masih terasa hangat.”
Dengan bisikan itu aku pun merasa bimbang untuk bangun. Selimut memang
masih terasa hangat dan akan sangat enak sekali bila aku meneruskan tidur. Dengan
segera hati nuraniku berbisik.
“Bangunlah segera! Jangan kau turuti hawa nafsu itu. Jangan kau buang waktumu
hanya untuk menikmati tidur. Bangunlah dan bertahajudlah!”
Lalu ada bisikan lagi yang keluar.
“Ayolah tidur lagi, sebentar saja! Kamu masih bisa bertahujud menjelang subuh.
Nikmatilah kehangatan selimutmu.”
Dengan bisikan ini, aku jadi semakin ingin meneruskan tidurku. Mataku masih
terasa ngantuk. Hembusan udara dari luar juga terasa dingin. Aku menyelimuti tubuhku
dengan selimut yang tadi sudah aku lepas. Dan beranjak tidur lagi. Hati nuraniku
berbisik lagi. Dia tak mau begitu saja dikalahkan oleh bisikan setan.
“Wahai manusia, celakalah engkau bila menuruti bisikan nafsumu. Selamanya
nafsu akan menyuruh agar kamu terpulas dalam tidur. Lalu subuh datang dan kamu
tidak jadi bertahajud sesuai yang telah kamu niatkan.”
Bisikan datang silih berganti. Hati ini semakin bertambah bimbang antara bangun
dan tidak. Bangun! Tidur! Bangun! Tidur! Mata ini rasanya masih gantuk sekali dan
ingin kembali tidur. Tapi kalau kembali tidur, tidak jadi shalat tahajud yang sudah aku
rencanakan dari tadi.
Tidak! Aku harus bangun. Aku harus bertahajud. Aku tak akan membiarkan setan
dan nafsuku tertawa ria karena melihat kekalahanku. Apabila hatiku terus bimbang dan
ragu sampai waktu subuh tiba pun akan terus begitu. Dan tidak jadi menjalankan shalat
164
tahajud. Ini penyakit kejiwaan. Bila dituruti, selamanya akan begitu. Tidak jadi bangun.
Hingga waktu habis pun akan tetap terpulas dalam tidur. Setan akan tertawa dan
gembira karena kemenangannya.
Aku beristigfar pada Allah berkali-kali. Memohon ampun dan perlindungan dari
segala tipu daya setan dan nafsu. Aku segera teringat sabda Nabi mengenai orang yang
tidur. Pada saat orang tidur akan ada tiga ikatan yang mengikat jiwanya. Ikatan yang
pertama akan lepas bila dia mau mengucapkan kalimat toyyibah untuk memuji Allah di
saat terbangun dari tidur. Misalnya Alhamdulillah dll. Ikatan yang kedua akan terlepas
apabila dia mau berwudlu. Dan ikatan yang ketiga akan terlepas apabila dia mau
menjalankan shalat tahajud. Apabila seseorang mau melakukan hal itu, maka akan
menjadi orang yang giat lagi rajin.
Aku segera beranjak dari tidurku. Kantuk di mata masih melekat. Udara dingin
menyentuh kulitku. Aku harus bisa mengalahkan nafsuku. Jangan sampai mereka semua
tertawa karena kelemahanku. Kuambil air wudlu kemudian shalat.
“Allahu Akbar.” Kuucapkan Takbiratul Ihram seraya mengangkat kedua
tanganku.
Baru merasa tenang sebentar, wajah Naela yang cantik berkelebatan di depan
mukaku. Bayangan Cintya juga ikut hadir dalam pikiranku. Subhanallah! Allahu Akbar!
Begitu hebatnya tipu daya setan memperdaya manusia. Ketika hati ini mengingat Allah,
setan selalu saja mengalihkan pada hal-hal lain untuk merusak kekhusyu’an shalat. Aku
merasa setan tertawa di belakangku. Segera kuingat Allah dengan bacaan Takbir. Setan
pun rasanya mundur. Tapi dia tak berhenti sampai di situ saja. Usaia shalat, kubaca
aurad30 satu demi satu. Tak ketinggalan pula hafalan al-Qur’anku. Godaan setan pun
datang lagi. Kali ini dia berlagak menjadi penasehat dengan berbisik, “Kamu hebat
manusia, karena sudah bisa shalat tahajud di saat orang lain terlelap tidur. Kamu bisa
beribadah kepada Allah dengan baik. Kamu hebat sudah bisa menjadi hamba Allah
yang sholeh.”
Setiap kali menjalankan shalat tahajud, aku selalu merasakan godaan yang
bermacam-macam. Menyaksikan bisikan hati seperti itu, aku segera membaca ta’awudz.
Meminta perlindungan pada Allah. Membaca Istigfar sebanyak mungkin. Aku
merasakan perang dengan setan. Begitu cerdiknya dia menipu manusia. Dia akan
30
Bacaan-bacaan dzikir.
165
tertawa dan senang apabila manusia tidak mau beribadah, namun juga sebaliknya. Dia
akan selalu menggoda yang tekun beribadah. Selamanya manusia akan terus digangu
oleh setan dan hawa nafsunya sendiri.
Kupanjatkan doa diwaktu tahajud. Doa diwaktu tahajud selalu terkabulkan. Sang
Pengabul Doa selalu turun disepetiga malam untuk mendengarkan permintaan hamba-
hambanya. Aku ingin menyenandungkan satu doa. Doa cinta yang kini kurasa. Kuingin
bisa mereguk cinta. Cinta sejati dan abadi. Pada Allah dan Rasul Sang Kekasih Pujaan
Hati.
Ya Allah!
Engkau yang telah menebar benih cinta dalam hatiku. Engkau juga yang telah
mengalirkan rindu dalam jiwaku. Engkau yang telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sangat sempurna. Dan kesempurnaan itu ada di wajah Naela Salsabila
yang saat ini sedang kurindu dan kucinta.
Ya Allah!
Aku tak berdaya dengan cinta yang Kau cipta. Hatiku terpanah dan tertawan
olehnya. Tidur lelapku sirna karena teringat padanya. Air mataku mengalir karena
memikirkannya. Mata hatiku benar-benar tertusuk oleh busur panah yang keluar dari
kelopak mata Naela Salsabila.
Ya Allah!
Engkau tuhan yang punya berjuta cinta. Kenapa kau menciptakan cinta di hatiku
hanya untuk gadis itu? Kenapa kau hasratkan rinduku untuk gadis itu? Sedangkan dia
hanya diam membisu. Kenapa Kau tak menciptakan cinta di hati gadis itu? Mengapa
Kau tak menaruh rindu di hati wanita itu? Kini sejarah percintaan manusia akan
mencatat satu luka dan derita jiwa.
Ya Allah!
Engkau yang telah menorehkan cinta di hatiku. Apalah arti semua cinta yang kini
kurasa, bila tanpa hadirmu di hatiku. Apa arti wanita cantik jelita seperti Naela
Salsabila, bila diriku tak bisa dekat dengan-Mu. Apa arti rinduku pada gadis itu, bila
dalam jiwaku tak ada kerinduan yang mendalam untuk-Mu. Sungguh nista hambamu
ini, bila terus memupuk cinta dan rindu pada wanita. Aku sungguh merindukan dan
telah tenggelam dalam samudera cintanya. Ingin bercerita tentang cinta hari demi hari
padanya. Aku sungguh terlena akan kehadiran cinta pada sosok wanita. Namun
166
sesalnya, aku tak pernah terlena mencintai dan merindukan-Mu. Cintaku pada-Mu
hanya biasa-biasa saja. Padahal engkau selalu menurunkan cinta dan kasih sayang-Mu
padaku. Sungguh inilah kebodohanku.
Wahai Sang Pemberi Cinta!
Sirnakan wanita itu dari memori otakku. Lenyapkan kerinduanku pada wanita itu.
Karena itu hanya nafsu yang menyengsarakan diriku. Nafsu yang berkedok cinta dan
bertahta dalam benakku. Aku ingin segera berpaling dari nafsu itu. Berpaling dari
memikirkan gadis itu. Kini aku hanya ingin bercinta dengan-Mu. Bercinta dengan para
Rasul-Mu. Ciptakanlah cinta di hatiku untuk-Mu. Hadirkanlah rindu di hatiku untuk
bertemu dengan-Mu dan Rasul-Mu.
Aku terus bersenandung dalam doa. Memohon dan berharap dengan doa cinta.
Semoga aku bisa melupakan Naela Salsabila. Aku terlarut dalam keheningan sepertiga
malam. Sunyi dan tenang. Tak ada huru-hara manusia. Sedikit demi sedikit ada
kerinduan yang menyusup dalam hatiku. Rindu pada Sang Pencipta. Rindu untuk terus
bisa menjalankan tahajud dan bermunajad pada-Nya. Perlahan aku merasakan
kenikmatan bercinta. Bercinta pada Sang Maha Cinta. Bercinta dengan menyebut
asma-asma-Nya yang sangat mulia. Kenikmatan karena bisa mendekat pada Allah Azza
Wa Jalla. Mendekat sedekat-dekatnya. Bahkan lebih dekat dari jarak antara darah dan
kulitku sendiri.
***
167
17
BUNUH DIRI
Ini adalah akhir bulan Desember. Tak terasa hari berganti hari, minggu demi
minggu dan bulan begitu cepat berlalu. Musim hujan kini telah tiba. Dari berbagai berita
televisi yang aku saksikan, beberapa daerah sudah ada yang dilanda banjir. Di jawa
timur, di sumatera dan diberbagai daerah lain. Di Jakarta, banjir tidak terlalu besar
seperti tahun lalu. Hanya dibeberapa daerah dekat pantai yang terkena banjir gara-gara
luapan air pasang.
Saat ini mungkin desaku sedang diguyur hujan lebat. Aku teringat akan banjir
yang melanda tiga tahun yang lalu, tepatnya bulan Februari. Hujan turun setiap hari.
Jalan-jalan desa yang biasanya tidak pernah tersentuh banjir, saat itu juga tergenang air
sampai setinggi lutut orang dewasa. Namun tidak sampai terjadi banjir yang besar
seperti yang pernah melanda Jakarta. Karena di desaku masih banyak sekali daerah
serapan air. Sungai-sungai kecil juga masih banyak. Jadi masih selamat dari banjir. Dan
semoga tetap aman untuk selamanya.
Aku tak bisa membayangkan andaikan Jakarta diguyur hujan selama seminggu
penuh. Mungkin seluruh penduduk Jakarta akan tenggelam. Baru hujan sehari saja
banjir sudah melanda di mana-mana. Itulah Jakarta yang selalu punya cerita tentang
banjir disetiap tahunnya. Tempat resapan air sudah berubah menjadi jalan-jalan beraspal
dan juga gedung-gedung bertingkat. Ada sungai, tapi malah dijadikan tempat
pembuangan sampah oleh masyarakatnya.
Minggu depan sudah memasuki tahun baru. Tahun baru semangat baru. Begitulah
kalimat yang sering aku dengar dari orang-orang. Apa benar begitu? Aku tak tahu pasti.
Seperti tahun-tahun yang telah lewat, warga Jakarta selalu mengadakan pesta kembang
api dan konser musik besar-besaran untuk menyambut datangnya tahun baru.
Tempatnya di Monas. Ya, Monas. Monumen Nasional. Salah satu tempat yang menjadi
kebanggaan warga Jakarta. Banyak acara-acara besar diselenggarakan di situ.
Aku pernah mendengar celotehan teman kampusku yang asli penduduk Jakarta.
Dia anak Betawi tulen. Kalimatnya begini “kalau anda pergi ke Jakarta dan tidak
menginjakkan kaki ke Monas, maka sama saja anda pergi ke negara Perancis dan tidak
menginjakkan kaki di menara Eifel. Karena Monas adalah Eifelnya Indonesia.” Dalam
168
hati aku tertawa geli mendengar pernyataannya. Benarkah begitu? Tentunya jauh
berbeda. Karena Eifel masuk dalam the big five keajaiban dunia dan sudah terkenal di
mana-mana. Lha kalau Monas? Penduduk sendiri saja mungkin banyak yang nggak
tahu. Kenapa? Karena tidak pernah di kenalkan kepada anak-anak sekolah lewat buku-
buku pelajaran.
Di sinilah pentingnya mengenalkan tempat-tempat bersejarah atau budaya-budaya
yang kita miliki pada masyarakat luas. Kalau nggak, sudah pasti tak akan ada yang
mengenal budaya dan tempat wisata Indonesia tercinta. Jangan-jangan, sepuluh atau dua
puluh tahun yang akan datang, anak cucu kita sudah nggak ada yang kenal sama
budayanya sendiri atau tempat-tempat bersajarah yang ada di negari ini. Gara-gara
nggak ada yang mau peduli dan mengenalkannya. Lambat laun, apa yang kita miliki
akan sirna atau mungkin malah diakui dan diambil oleh negara lain. Itu akibat dari tidak
adanya rasa peduli dengan apa yang kita miliki. Kalau sudah diambil orang barulah kita
ribut sendiri mengurusnya.
Biasanya, masyarakat Jakarta begitu antusias dengan pesta kembang api yang di
selenggarakan di Monas. Dari luar Jakarta pun banyak sekali yang ingin menyaksikan
pesta pergantian tahun itu. Dua tahun yang lalu aku juga pernah pergi ke Monas
menyaksikan pesta pora untuk menyambut datangnya tahun baru itu. Nggak ada niat
sebenarnya. Aku hanya lewat tanpa sengaja. Terjebak kemacetan di jalan sehabis pulang
dari rumah teman.
Kenapa ya, setiap kali pergantian tahun harus dengan pesta pora seperti itu? Apa
nggak ada acara yang lebih bermanfaat? Pesta kembang api hanya hura-hura dan buang-
buang uang saja. Jutaan rupiah terbuang sia-sia hanya untuk membeli kembang api.
Bukankah lebih baik digunakan untuk hal yang bermanfaat. Misalnya, mengadakan
kegiatan sosial. Karena diluar sana masih banyak sekali orang-orang yang sengsara
karena ekonominya. Dengan kegiatan sosial berarti bisa membantu mereka. Atau
pengenalan budaya-budaya bangsa dan tempat-tempat wisata. Atau kegiatan lain yang
lebih bermanfaat untuk kemajuan bangsa ini. Daripada sekadar pesta musik dan
kembang api yang tak ada gunanya. Tak ada manfaatnya. Hanya foya-foya. Hanya
senang-senang belaka. Itu sama saja memubadzirkan sesuatu. Sungguh sayang dan amat
disayangkan.
169
“....Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan. Dan syaitan
itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya31.”
***
Di luar, hujan jatuh dengan begitu lebatnya. Dari sore hingga malam ini belum
juga ada tanda-tanda reda. Suara petir terus berteriak-teriak. Cahaya kilat terus
berkedip-kedip. Angin berhembus dengan begitu kencangnya. Dari berita televisi ada
sebuah baliho besar ambruk menimpa sebuah warung kecil dipinggir jalan.
Mengakibatkan dua korban luka-luka. Di beberapa daerah, di kawasan Jakarta Utara
banyak rumah roboh karena tiupan angin puting beliung. Para nelayan banyak yang
mengeluh akibat tidak bisa melaut. Alhasil mereka banyak yang tidak bisa memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
Di daerah Ciputat sendiri ada musibah jebolnya Situ. Seperti tsunami kecil.
Karena hujan yang terus mengguyur. Jebolnya situ membuat air melahap apa saja yang
dilewatinya. Bangunan rumah penduduk setempat banyak yang hancur dan tinggal
puing-puingnya. Korban banyak yang meninggal dunia. Para penduduk banyak yang
kehilangan rumah dan juga sanak saudara. Dalam hati, aku selalu berdoa semoga Allah
selalu memberi keselamatan pada keluargaku.
Menurut perkiraan BMG cuaca buruk seperti itu masih akan terus berlangsung
untuk beberapa minggu ke depan. Hujan lebat disertai angin kencang juga masih akan
mengguyur Jakarta. Sebagian penduduk yang berada di kawasan rawan banjir mulai
merasa was-was. Sebagian dari mereka ada yang sudah pindah ke rumah saudaranya.
Tapi sebagian yang lain memilih untuk tetap tinggal di rumah. Karena sudah terbiasa.
Alhamdulillah kawasan yang aku tempati bukan daerah yang rawan banjir. Musim
hujan memang banyak membuat resah para warga Jakarta, terutama yang tinggal di
daerah rawan banjir. Tapi itu belum seberapa bila kita mau menengok sejarah masa lalu.
Ada banjir bandang yang menimpa kaum Nabi Nuh. Seluruh dunia kebanjiran. Bisakah
kita membayangkan, seandainya banjir seperti itu terjadi lagi di masa sekarang.
31
QS. Al-Isra’: 26-27.
170
Bagaimana nasib kita? Baru banjir dibeberapa daerah saja, kita sudah pontang-panting
ke sana-ke mari. Apalagi sampai banjir sedunia.
Itu semua adalah musibah dan cobaan yang diberikan oleh Allah pada umat
manusia. Setiap musibah pasti ada pelajaran bagi kita semua. Agar bisa lebih mendekat
pada Yang Kuasa. Agar mau berpikir bahwa kita juga ikut andil dengan apa yang telah
terjadi. Membabat hutan. Saluran-saluran air dijadikan perumahan. Membuang sampah
sembarangan. Ladang pertanian diaspal menjadi jalan raya. Akhirnya resapan air
menjadi berkurang. Semua itu adalah ulah kita yang bisa menyebabkan terjadinya banjir
di mana-mana. Meski demikian masih banyak manusia yang tidak sadar. Manusia masih
juga merusak bumi. Dan akhirnya banjir pun semakin menjadi. Semakin besar dari
tahun ke tahun.
Meskipun baru jam tuju lewat sepuluh menit, akan tetapi suasana malam sudah
terlihat sangat gelap. Hujan semakin menjadi-jadi. Menusuk-nusuk jantung bumi
Jakarta. Suara petir menggelegar begitu kerasnya. Aku kaget. Dik Alya yang ada di
sampingku juga merasakan hal yang sama. Dia merasa takut dengan suara gelegar petir
yang menyambar-nyambar. Kami bertiga masih berkumpul di ruang tengah. Suasana
malam ramai dengan suara rintik hujan yang menderu-deru dan gelegar petir yang
membuat orang ketakutan. Lalu lalang manusia di jalan sepi. Malam benar-benar
mencekat dan sunyi sekali.
Di saat sunyi seperti ini, pikiranku teringat pada sosok tetangga yang baik hati dan
penuh perhatian. Sudah beberapa hari ini, aku tidak melihatnya melintasi rumahku.
Biasanya dia selalu mengirim sms pada dik Alya, tapi untuk beberapa hari ini tidak. Dik
Alya juga tidak tahu, karena Cintya jarang masuk kuliah. Setiap ditelfon selalu ada
jawaban “Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk atau di luar jangkauan area.” Begitu
seterusnya.
Ummi juga tidak tahu apa yang sedang terjadi dengannya. Kalau ada sesuatu
kenapa dia tidak memberi kabar pada kami. Padahal setiap punya masalah, Cintya pasti
curhat ke ummi. Ummi yang tahu segalanya tentang Cintya. Om Taufik dan tante Linda
juga sama. Tidak ada yang memberi kabar sesuatu kepada kami. Kenapa Cintya jarang
masuk kuliah? Apa yang telah menimpanya?
Sebenarnya dik Alya sudah mengajakku untuk ke rumah Cintya. Tapi hujanlah
yang membuat kami berdua malas untuk keluar rumah. Sejak aku sakit kemarin, dia
171
jarang sekali ke rumahku. Biasanya hampir tiap hari belajar dengan dik Alya. Aku
menyuruh dik Alya untuk menghubungi Cintya. Siapa tahu HPnya aktif. Tapi dik Alya
malah menyuruhku untuk menghubungi sendiri.
“Nih telfon sendiri.” Ucapnya sambil menyodorkan HP. Dia memusatkan
perhatiannya pada diktat mata kuliah. Sedangkan ummi sibuk membaca majalah dari
tadi. Aku memencet nomor Cintya. Jawabannya masih sama. Nomor yang anda tuju
tidak dapat dihubungi.
Aku beranjak ke kamar mengambil HPku. Ada banyak sekali panggilan tak
terjawab. Sepuluh kali. Nomornya tidak kukenal. Aku memikirkan seseorang. Entah,
siapa yang menelfonku? Nomornya saja nggak ada namanya. Kucoba untuk menelfon
balik nomor itu. Tidak bisa masuk. Jawabannya selalu nomor yang anda hubungi sedang
sibuk atau di luar jangkauan area. Aku keluar kamar dan menanyakakn nomor itu pada
dik Alya. Dia juga tidak tahu. Dik Alya menyuruhku untuk mengirimkan pesan
singkatke nomor itu. Siapa tahu nanti dibalas. Aku menuruti apa kata dik Alya. Kutulis
pesan singkat.
“Maaf, ini siapa? Ada hal penting denganku. Bls.”
Kukirim sampai tiga kali agar dia mau membalas. Setelah beberapa menit HPku
bernyanyi. Aku pikir balasan dari nomor tadi, ternyata tidak. Satu panggilan masuk dari
tante Linda.
“Wa’alaikum salam tante.” Aku menjawab salam seorang wanita yang ada di
dalam HP.
“Tante minta tolong sama kamu Fajar.” Ucapnya dengan sedikit terisak.
Aku berpikir sejenak. Kenapa tante linda menangis? Apa yang membuat tante
Linda menangis?
“Baik tante, bisa. Tante kenapa?” Jawabku tergagap.
Dik Alya dan ummi terheran dengan suaraku. Mereka berdua memandangiku dan
memperhatikan pembicaraanku.
“Antar Cintya ke rumah sakit, sekarang juga! Cepat!”
“Rumah sakit! Cintya kenapa tante?” kagetku.
“Tidak cukup untuk menjelaskan. Cintya dalam bahaya. Cepat Fajar! Soalnya
Suami saya belum pulang dari kantor. Jadi mobilnya nggak ada. Tante tunggu ya. Cepat
Cintya dalam bahaya!”
172
Tante Linda langsung mematikan HPnya. Suaranya terdengar begitu resah dan
gelisah.
“Ada apa Kak?” Tanya dik Alya heran.
“Kita harus tolong Cintya.”
“Kenapa dia Kak?”
“Nanti saja penjelasannya. Cintya dalam bahaya katanya. Kita harus mengantar ke
rumah sakit sekarang juga.”
Aku langsung bergegas mengeluarkan mobil menuju rumah Cintya. Dik Alya dan
ummi mengikutiku. Kami tersentak melihat Cintya tergeletak di lantai dengan
berlumuran darah. Tante Linda berlinang air matanya. Tanpa basa basi, kami langsung
membawa Cintya ke dalam mobil. Aku mengendari mobil sendiri di depan. Tante Linda
dan dik Alya memegangi Cintya di belakang. Sementara ummi tidak ikut ke rumah sakit
karena harus menjaga rumah. Besok mungkin beliau akan langsung menjenguknya.
Tante Linda terus terisak sambil memegangi tubuh Cintya.
Kami menikmati perjalanan dalam hujan yang terus mengguyur. Di sertai
kesedihan yang mendera. Meski hujan begitu lebat, kami harus tetap pergi memenuhi
permintaan tante Linda. Kami adalah tetangga yang sudah seperti keluarga sendiri. Jadi,
alangkah tidak baiknya bila kami tidak menolongnya. Apalagi hubungannya dengan
orang sakit. Dengan nyawa seseorang. Menolong orang yang sedang sakit hukumnya
adalah wajib bagi kita semua.
Aku mengendarai mobil dengan cepat. Aku takut kalau nyawa Cintya tidak
tertolong gara-gara darahnya habis karena terus mengalir dari tangannya. Langit tampak
gelap. Mungkin segelap hati kami yang telah di rundung duka. Dik Alya matanya
berkaca-kaca. Aku masih bertanya-tanya, apa yang baru saja dilakukakn oleh Cintya.
Dalam perjalanan, kami tak saling menyapa. Tante Linda lebih banyak meneteskan air
mata. Mulut dik Alya tampak komat-kamit membaca doa. Semoga tuhan masih
menyelamatkan gadis cantik dari Amerika.
***
Cintya dirawat di rumah sakit Fatmawati. Di ruang VIP No. 219A. Ruangan
rumah sakit yang terlihat mewah. Lebih mewah dari kamarku. Di kamar mewah ini,
173
kami bertiga menyaksikan sosok Cintya yang tak berdaya. Aku terus melafalkan doa
untuk Cintya. Matanya dik Alya terlihat merah memandangi temannya yang tak
berdaya. Tante Linda masih saja berlinang air matanya. Dia terus memeluk dan
menciumi pipi Cintya. Meski yang diciumi tak tahu apa yang telah dilakukannya.
“Jangan tinggalkan tante sayang! Jangan tinggalkan tante!” Begitulah kalimat
tante Linda berulang kali kudengar.
Ada suara HP bertulalit dari dalam tas. Tante Linda mengangkat lalu berbicara
lewat HP. Tangannya mengusap air mata yang terus berlinang. Dia berusaha
menghentikan tangisnya.
“Iya. Di ruang VIP nomor 219A.” Ucapnya singkat lalu memasukkan HP ke
tasnya. Tante Linda terisak lagi.
“Kenapa kamu melakukan hal ini sayang? Maafkan tante karena tak bisa menjaga
dirimu dengan baik. Maafkan tante sayang. Tante bersalah.”
Dengan tangis lirihnya, tante Linda tampak menyesali diri sendiri. Apakah dia
yang telah melukai Cintya? Tidak tahu. Aku belum menanyakan apa yang sebenarnya
terjadi. Tak enak rasanya kalau harus memaksanya bercerita sekarang. Aku semakin tak
kuasa mendengar tante Linda terus terisak dan menciumi pipi Cintya yang tak berdaya.
Dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Kuajak dik Alya keluar ruangan. Tak lama
kemudian om Taufik datang dengan langkah terburu-buru.
“Cintya di mana Fajar?” Tanyanya gelisah.
“Di dalam om.”
Tanpa banyak omong, dia langsung masuk ke ruangan. Tiba-tiba aku mendengar
suara orang bertengkar dari dalam ruangan.
“Seharusnya kamu bisa menjaganya dengan baik!”
“Jangan menyalahkan saya dong Mas. Saya ‘kan sudah berusaha untuk memberi
perhatian padanya.”
“Kalau kamu mau memperhatikannya, pasti tidak akan terjadi seperti ini.”
Perang mulut kayaknya semakin seru. Aku memberanikan diri untuk masuk.
Dan….! Aku tersentak setelah mendapati om Taufik dan tante Linda saling beradu
mulut.
“Maaf, ada apa ya Tante? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Cintya?” Tanyaku
pelan.
174
Mereka berdua terdiam dan saling pandang. Tak faham apa yang sedang mereka
perdebatkan. Lalu tante Linda mengajakku keluar kamar. Sepertinya mereka tak ingin
aku mengetahui apa yang sedang mereka pertengkarkan.
“Sebenarnya Cintya kenapa tante?”
“Tante sendiri nggak tahu, apa masalah yang dihadapi Cintya Fajar.”
“Sejak pagi, dia sudah marah-marah sama tante. Entah apa permasalahannya.
Setiap kali aku tanya, dia hanya diam dan tak mau becerita. Aku juga heran kenapa dia
berlaku begitu. Padahal kami selalu ingin memperhatikannya dengan lebih. Tapi
kayaknya dia malah selalu menghindar dari kami berdua.”
“Puncak kemarahannya tadi sore. Tiba-tiba dia marah-marah sama saya tanpa tahu
apa penyebabnya. “Aku benci tante! I’m very hate you! Nggak bisa ngerti dengan
Cintya. Tak bisa memperhatikan Cintya. Aku benci pada semua. Aku ingin mati di sini.
Tak ada gunanya hidup. Semua orang sudah tak peduli denganku. Semua orang sudah
benci padaku. Aku ingin mati saja. I want to die here!”
“Kira-kira seperti itu kata-katanya. Dari pagi sampai sore, dia juga nggak makan.
Sudah aku bujuk, tapi masih juga nggak mau. Dia mengunci diri di kamarnya. Aku tak
bisa masuk karena dia tak mau membukakan pintu. Tante menggedor-gedor pintu, dia
tetap tak mau membukakan. Sampai malam, dia masih seperti itu. Tante sampai
berteriak-teriak untuk memanggil Cintya, tapi dia sama sekali tak peduli. Tante panik
dan takut. Aku langsung menelfon suamiku dan memberi tahu apa yang sedang di
lakukan oleh Cintya. Biasanya kalau Cintya berlaku seperti itu, pasti ada masalah yang
mengganggu dirinya. Namun dia nggak pernah mau bercerita dengan tante atau pun
dengan suamiku. Kalaupun mau hanya sedikit saja. Aku sudah mendesak agar dia mau
bercerita, tapi dia lebih memendam permasalahan yang sedang di hadapi.”
“Sampai waktu isya’ tiba, dia masih mengurung diri di kamar. Saat tante
mengajak shalat jamaah, dia tetap tak mau mempedulikan panggilanku. Setelah shalat,
aku semakin panik dengan keadaannya. Aku terus memanggil-manggil namanya, tapi
dia tetap diam sambil terisak. Lama kelamaan tangisnya hilang kemudian tidak bersuara
sama sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk mematahkan gerendel pintu dengan palu.
Dengan sekuat tenaga, aku memukul gerendel pintu dan langsung terbuka. Betapa
kagetnya tante setelah melihat tubuh Cintya telah berlumuran darah. Dan seketika itu
juga aku menelfonmu untuk membawanya ke rumah sakit.”
175
“Kenapa tante nggak memberi tahu kami sebelum itu.”
“Itulah yang aku sesalkan Fajar.”
“Kalau kami tahu, sudah pasti akan langsung membantu Tante.” Selaku.
“Tante merasa nggak enak karena selalu membebani kamu dan keluargamu.”
“Kamikan sudah menganggap Cintya seperti keluarga sendiri Tante. Jadi kalau
ada permasalahan, kami siap membantu. Tante sudah kenal lama dengan kami. Kita
sudah seperti satu keluarga. Kalau ada salah satu yang sedang terkena masalah, kami
pun akan selalu siap membantu. Sudah seharusnya sesama tetangga, sesama saudara
saling mengulurkan tangannya.” Jelasku.
“Tante sangat berterima kasih sama kamu Fajar. Seharusnya memang seperti itu.
Tapi tante juga bingung harus berbuat apa pada saat itu. Panik dan kuatir dengan
keadaan Cintya. Sehingga tak bisa berpikir dengan bijaksana. Lagian hujan juga begitu
lebatnya. Jadi saya juga malas keluar. Sekali lagi terima kasih atas kebaikanmu Fajar.
Semoga saja umur Cintya masih panjang.”
Dalam hati aku sangat menyesalkan sikap tante Linda. Bukankah selama ini aku
dan keluargaku selalu terbuka untuk menerima siapa saja yang membutuhkan bantuan.
Kami tidak pernah merasa enggan untuk membantu orang lain. Apalagi Cintya yang
sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Sudah pasti akan kami bantu. Apapun
permasalahannya. Sesama tetangga memang harus saling membantu. Menolong dan
menghormati. Sebagaimanan ajaran baginda Nabi, kalau kita hendaknya selalu
menghormati tetangganya.
***
Duka Cintya adalah duka keluarga kami juga. Ada ikatan batin yang sudah
menempel di hati kami. Kami begitu akrab. Dia begitu baik. Pantaskah kami bila tak
mau peduli dan menolongnya. Sesal di dadaku tiada guna. Apa yang baru saja aku
saksikan adalah diluar kendali manusia. Celaka sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi
bubur. Tak perlu ada yang disalahkan. Menyalahkan orang lain sama saja membuat
masalah baru. Itu bukan hal yang bijaksana.
Sungguh tega
Kau melakukannya
176
Itu tercela
Dan membawa luka
Itu binasa
Dan mendapat murka
Sungguh berani
Kau melukai diri sendiri
Itu nista
Dan membawa derita
Bunuh diri! Kau jahat sekali Cintya. Tak memberi tahu kami. Tak mau berbicara
dengan ummi. Maafkan kami bila selalu salah. Maafkan kami bila masih tak bisa
mengerti akan keinginanmu. Semoga Allah masih menyelamatkanmu. Mengampunimu.
Memaafkanmu. Menyadarkanmu. Dan kamu bisa kembali lagi dengan kami dan
keluargaku.
***
177
18
CURAHAN HATI
Fajar yang dulu bening kini tiada. Berganti rintik hujan yang membasahi alam
semesta. Bintang dan rembulan yang menampakkan cahayanya, kini redup tertutup
mendung tebal. Angin lirih, suara nyaring binatang lalu kokok ayam pun ikut sirna.
Semua berganti cahaya kilat dan petir yang menggelegar diruang angkasa. Yang
membuat kulit manusia merinding mendengar kuasa Tuhan itu. Hati kami sekeluarga
memikirkan keadaan Cintya yang sedang dirawat di rumah sakit. Kami semua cemas
dan kuatir dengan kesehatannya.
“Apa yang terjadi dengan Cintya ya Um, sampai tega melukai dirinya seperti itu?”
Tanyaku pada ummi.
“Ummi juga tak tahu pasti. Terakhir dia kesini masih baik-baik saja. Tetap ramah
dan masih membantu ummi. Ngobrol dengan ummi dan juga Alya. Tidak ada tanda-
tanda kesedihan yang tersirat di wajahnya. Cintya selalu terbuka pada ummi. Setiap ada
masalah pasti cerita apapun masalahnya. Entahlah apa yang sebenarnya terjadi. Tapi
ummi ingat kata-kata Cintya waktu itu, “Aku ingin cerita sama ummi, tapi malu.”
Begitu katanya.” Entahlah, apa yang membuatnya malu.”
“Fajar jadi merasa nggak enak sama Cintya Um. Aku merasa bersalah dengan apa
yang dilakukan Cintya.”
“Memang apa yang telah kamu perberbuat untuknya?”
“Malam itu, Cintya memberi kado Um. Katanya ucapan valentin. Terus aku
marah-marah sama dia. Sebenarnya nggak marah, maksudku cuma ingin menasehati.
Kalau valentine itu memang nggak pantas dirayakan oleh remaja-remaja Islam. Itu
hanyalah tipu daya orang barat untuk merusak moral remaja Islam. Terus kemarin dia
minta tolong padaku untuk menerjemah buku bahasa Arab, tapi aku belum bisa
membantunya. Aku bilang lain waktu saja. Apa mungkin ada hubungannya dengan hal
itu Um. Mungkin saja dia kecewa denganku”
“Kita nggak usah berpikiran negatif. Yang penting dia masih selamat. Cintya
jangan sampai dibiarkan sendiri, harus ada yang menjaganya. Nanti dia bisa mencelakai
dirinya lagi. Kita juga harus ikut menjaganya, karena kita yang dekat dengannya. Harus
ada yang menasehatinya terus menerus, memberi motivasi dan semangat hidupnya.
178
Kelihatannya dia itu frustasi. Dia merasa tak berguna menjalani hidup ini. Mungkin saja
dia gagal untuk meraih sesuatu yang jadi harapan hatinya. Dia tak bisa meraih apa yang
jadi keinginannya. Biasanya orang yang frustasi dan bosan dengan hidupnya akan
melakukan perbuatan nekad seperti bunuh diri. Dia merasa tak sanggup lagi
menghadapi hidupnya. Ditambah lagi keimanan yang tipis dan lemah di hatinya. Cintya
kan gadis muallaf, meski dia sering belajar dari ummi dan juga kamu, itu belum cukup.
Dia itu cantik dan sholehah, jadi sayang sekali kalau harus mengakhiri hidupnya dengan
perbuatan yang tercela. Dia itu mutiara dalam lumpur. Kamu sendiri tahu, kalau orang
tuanya pengikut setia Gereja di Amerika. Tapi dia malah memilih Islam dan lari ke
Indonesia. Mengucapkan kalimat syahadah di dalam bus. Itu namanya hidayah dari
Allah. Tidak ada gadis bule yang seperti dia. Dia itu cerdas otaknya. Ummi salut
padanya, andaikan ummi punya menantu seperti dia, pasti ummi tidak menolak.” Ummi
berkata panjang lebar.
“Maksud Ummi apa? Ummi mau menjodohkan aku dengan Cintya?” Heranku.
“Bukan. Tapi dia memang sholehah. Ummi benar-benar salut. Budak yang
sholehah jauh lebih baik daripada gadis yang bukan muslim meski cantik dan kaya. Dan
Cintya bukan budak. Dia putri raja. Cantik dan kaya. Tidak hanya kaya harta, tapi juga
kaya hati dan kebaikan. Dia berusaha untuk mengejar ketertinggalannya dalam Islam.
Selalu belajar agar bisa mengetahui Islam lebih dalam. Jarang banget ada gadis bule
seperti dia. Yang mengaku Islam dari kecil saja, banyak yang nggak mau dan bahkan
tidak pernah belajar tentang agamanya sendiri. Namun Cintya malah besar sekali
keinginannya untuk mengetahui Islam secara mendalam. Apa kamu nggak salut dengan
dia?!”
“Ummi yakin, suatu saat nanti dia akan mampu menjadi motor penggerak bagi
remaja-remaja Islam yang akan datang karena kegigihannya dalam belajar Islam.
Semoga dia akan terus seperti itu. Apalagi waktu masih Kristen dulu, dia juga rajin
belajar tentang Islam dengan sembunyi-sembunyi. Dia benar-benar dapat petunjuk dari
Yang Maha Memberi Petunjuk. Dia punya kekuatan dahsyat yang bercokol kuat dalam
hatinya untuk meraih Islam yang sejati. Dia suka dinasehati dan suka meminta nasehat.
Hatinya lunak seperti air. Tidak keras seperti batu. Kalau dia melakukan kesalahan
sedikit saja dan dinasehati oleh orang lain, dia sangat senang sekali dan langsung
mengucapkan terima kasih.”
179
“Tidak seperti anak-anak remaja sekarang ini. Kalau dinasehati malah balik
menasehati. Ada juga yang marah-marah. Mereka merasa sok pintar dan merasa paling
benar, sehingga tidak mau menerima nasehat. Hatinya keras seperti batu bahkan lebih
keras dari batu. Itulah kesombongan orang-orang zaman sekarang. Coba kalau saja
remaja muslimah sekarang ini seperti Cintya, pasti Islam akan semakin maju. Kalau
orang Islam saat ini mau menjalankan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam, tentulah akan
sangat membanggakan bagi ummat Islam sendiri. Seperti gadis bule itu. Meski dia
muallaf, tapi sudah teguh menjaga ajaran Islamnya. Busananya juga sopan. Mau
menutup auratnya sehingga terlihat aman dan nyaman. Nggak seperti anak-anak cewek
sekarang ini. Sejak kecil sampai gede mengaku muslimah, namun jarang yang mau
menutup auratnya atau memakai jilbab. Boro-boro pakai jilbab, mereka tak mengenakan
busana yang ketat dan transparan saja sudah untung. Mereka malah bangga
memamerkan aurat tubuhnya. Memakai baju mini. Rok mini. Semua serba mini. Lekuk
tubuhnya bisa dilihat dengan jelas. Semua orang bisa menikmatinya. Waktu lagi nonton
TV aku merasa risih kalau melihat banyak wanita berpakaian seperti itu.”
Mendengar perkataan ummi yang seperti itu, dik Alya langsung ikut angkat bicara
dari dalam kamar.
“Iya um, Alya juga risih melihat mereka. Alya merasa malu sebagai seorang
wanita. Alya juga heran. Bahan kain di pasaran banyak sekali, kenapa harus membuat
yang mini? Kayak orang miskin saja. Baju anak kecil di pakai orang besar. Lucu! Sudah
dapat dosa karena mengumbar aurat, nggak maching lagi. Mbok iya, mereka yang selalu
membuka auratnya itu nyadar diri. Mikir kalau besok akan ada sebuah pertanggung
jawaban dihadapan Tuhan dengan apa yang telah dikenakannya. Mikir, kalau dia itu
muslimah. Nggak pantas membuka dan memamerkan auratnya. Eh, bukannya malu,
malah dipamer-pamerkan. Itu sama saja melecehkan dan merendahkan derajat para
wanita. Sebagai wanita yang dikaruniai oleh Allah berupa akal sehat seharusnya mereka
malu membuka auratnya.”
“Itulah orang yang terkena tipuan syaiton. Kenapa keindahan tubuh seorang
wanita harus diumbar dengan pakaian yang terbuka. Apa nggak malu derajat wanita
menjadi rendah? Mungkin di mata sebagian manusia dianggap sebagai busana yang
mewah dan sesuai dengan zamannya. Sudah zamannya atau trendnya. Akan tetapi di
mata Allah berpakaian terbuka sangatlah rendah. Meski demikian, malah semakin
180
marak para wanita mengumbar auratnya. Mereka bangga membuka dan
mempertontonkan bentuk tubuhnya dengan pakaian terbuka.” Ujar dik Alya.
Aku diam saja mendengar dik Alya berkomentar. Dalam hati aku merasa bangga
mempunyai adik sepertinya. Seharusnya wanita memang tak perlu mengumbar
keindahan tubuhnya. Ngapain kulit tubuh harus dipamerkan? Bukankah makanan kalau
dibuka akan banyak debu dan kotoran? Bukankah makanan kalau terbuka itu banyak
lalat yang hinggap? Bukankah makanan kalau terbuka di jalananan itu murahan dan
nggak ada harganya? Bukankah makanan yang terbuka itu rawan akan kuman penyebab
penyakit? Tentu kita nggak suka dengan makanan yang diperjualbelikan secara terbuka
di jalan-jalan. Kita pasti akan memilih makanan yang tertutup seperti yang dijual di mal
atau super market. Itu jauh lebih bagus dan berkualitas. Tubuh manusia juga seperti itu.
Kalau sering dibuka berarti juga murahan. Semakin banyak yang dibuka berarti semakin
murah dan rendah.
Ummi terus mensifati Cintya dengan sifat yang mengagumkan dan
menyenangkan. Sepertinya ummi tidak berlebihan dalam mensifati Cintya karena
memang seperti itulah yang aku lihat pada dirinya. Gadis muallaf yang teguh dan
bangga dengan Islamnya. Selama ini ummi memang sering memuji kebaikan Cintya
dari belakang. Ummi tidak pernah memuji secara langsung di depan orangnya. Katanya,
supaya tidak menimbulkan sikap sombong. Karena seringkali pujian itu menjadikan
orang yang di puji takabbur atau sombong. Bahkan sampai lupa diri.
Sekarang gadis cantik itu sedang terbaring lemas di rumah sakit. Wajah cerianya
mendadak berubah pucat. Matanya yang berbinar berubah jadi gelap. Matanya terus
terpejam seperti ada perekat yang menempelkan. Kami sekeluarga telah dibuat kaget
dengan ulahnya. Gadis yang tadinya halus dan ramah, tiba-tiba saja berubah seperti
penjahat yang siap menusuk-nusuk dirinya. Seperti srigala yang siap menerka
mangsanya. Tak kusangka dia akan berbuat seperti itu. Aku masih tak percaya saat mata
ini menyaksikan bahwa gadis yang terbaring lemas adalah Cintya. Aku masih
melamunkan keadaan Cintya. Apa masalah yang sebenarnya terjadi? Apakah gara-gara
aku marah atas kado valentinnya? Atau karena aku tidak mau menerjemahkan buku
yang dimintanya?
Ah Cintya, apakah aku harus memperlakukan dirimu seperti halnya adikku?
Mengusap air matanya saat menangis. Menjaganya bila sedang sendirian. Dan
181
memeluknya bila dia ketakutan. Tidak! Aku siapa dan kau siapa? Tapi menyelamatkan
nyawamu itu wajib. Kau dalam bahaya sekarang. Kau punya masalah yang bisa
memporak-porandakan hidupmu lalu mendorong untuk mengakhiri hidupmu.
Aku menyesal, mengapa tak bisa menolongmu saat kau dirundung musibah.
Masalahmu mungkin menyangkut diriku. Tapi aku tak tahu apa itu. Kenapa aku tak bisa
memperhatikan orang sebaik dan seramah kamu. Padahal kau begitu dekat dengan kami
termasuk diriku.
Aku terus berdebat dengan diriku. Nanti malam aku ingin menjenguknya. Aku
menyuruh dik Alya untuk memberi tahu teman-temannya agar mereka semua
menjenguk Cintya. Semoga Allah masih memberi umur panjang. Aku masih ingin
melihat senyumnya yang manis. Dari dalam kamar ada suara HP bernyanyi. Dik Alya
mengambilnya.
“Dari Om Taufik Kak.” Katanya sambil menyodorkan HP padaku.
“Mungkin kabar tentang Cintya, semoga dia tetap baik-baik saja.” Lanjutnya.
Aku mengangkat. Suara Om Taufik langsung menyapaku dari dalam HP.
“Iya Om. Sekarang juga? Baiklah.”
“Ada apa Kak?” Tanya dik Alya.
“Beliau memintaku untuk kerumahnya.
“Sekarang?”
“Iya sekarang.”
“Alya ikut Kak. Siapa tahu ini menyangkut Cintya. Aku ingin tahu keadaanya.
Teman-teman kampus banyak yang menanyakannya.”
“Terserah Dik Alya. Kita langsung ke sana. Beliau sudah menunggu.”
“Ijin Ummi dulu Kak.”
“Ya sudah buruan, aku tunggu di depan.”
“Baik Kak.”
Sampai di rumah Om Taufik aku masuk sendiri. Dik Alya menunggu di teras.
“Bagaimana keadaan Cintya Om?” ucapku membuka pembicaraan.
“Semoga dia tetap baik-baik saja. Doakan saja. Saya juga baru pulang dari rumah
sakit. Sekarang hanya istriku yang menemani.”
182
“Tanpa diminta, aku juga akan selalu mendoakannya Om. Cintya sudah kami
anggap seperti keluarga sendiri. Kalau dia sakit, kami juga merasakan hal yang sama.
Om Taufik meminta saya ke sini ada apa?”
“Om ingin berbicara soal Cintya dengan kamu Fajar. Kamu sudah kenal lama
dengan Cintya. Dia sering ke rumahmu. Membantu ibumu. Sebenarnya, dia lebih dekat
dengan keluargamu dari pada kami. Dia tidak pernah bercerita dengan kami kalau
sedang punya masalah. Dia lebih sering menceritakan masalahnya dengan ibumu. Dia
itu orang yang suka bersahabat dengan siapa saja. Kau pun akrab dengannya. Waktu di
Amerika dulu, banyak teman laki-laki yang mengungkapkan cinta padanya, namun
dengan tegas dia menolaknya karena dia nggak ingin ternodai oleh pacarnya.
Berhubungan sex dengan seorang pacar itu hal yang biasa di sana. Seorang pacar sering
kali memaksa pasangannya untuk melayani nafsunya. Cintya sangat menghindari hal
itu. Dia tak ingin ada satu pun laki-laki yang akan menghilangkan kegadisannya
termasuk dirimu. Karena itulah dia lari ke Indonesia. Setelah sampai di Indonesia, dia
mengenalmu tanpa sengaja.”
Mendengar kalimat om Taufik yang terakhir aku merasa sedikit terusik. Aku
merasa telah di tuduh menodai Cintya. Bagaimana mungkin ini terjadi. Bersentuhan saja
tidak pernah, apalagi sampai melakukan hal tercela. Itu dosa besar yang tidak pantas
dilakukan oleh manusia manapun. Apakah Cintya telah di perkosa? Siapa? Kapan?
Tidak! Itu tidak mungkin.
“Maksud om Taufik apa, saya kurang begitu faham?” Tanyaku pelan.
“Apa om Taufik menuduh saya menodai Cintya. Maaf om, jangankan menodai,
menyentuh saja tak pernah. Kalau om taufik meminta saksi atas kejadian ini, saya punya
saksi yang tidak bisa terbantahkan oleh siapapun. Saksi saya Allah dan malaikat
pencatat amal.”
“Maksud saya bukan begitu Fajar. Kamu jangan merasa telah melakukan
perbuatan itu. Aku percaya. Aku kenal siapa dirimu. Kamu tidak akan mungkin
melakukan hal keji itu. “
“Lalu maksud perkataaan om Taufik apa?”
“Ada satu hal yang tidak kau tahu tentang Cintya. Selama ini dia memang begitu
akrab dan dekat dengan keluargamu. Setiap punya permasalahan selalu ngomong sama
ibumu. Akan tetapi, untuk hal yang satu ini dia tidak berani bercerita pada siapapun.
183
Saya sendiri juga baru tahu setelah pulang dari rumah sakit tadi. Aku masuk ke
kamarnya. Segala isi almari dibuang keluar hingga semuanya berantakan. Aku
menemukan sesuatu. Dan sesuatu itu menyangkut masalah berat yang sedang di
hadapinya.”
“Ini masalah besar dalam hidupnya. Masalah ini bisa mengancam jiwa raganya.
Dia dalam keadaan bahaya. Dia dalam keadaaan darurat. Aku sendiri tak pernah
mengira bila dia akan punya masalah sebesar itu. Karena dia sama sekali tidak pernah
bercerita tentang apa yang dialaminya.”
“Apa yang sebenarnya terjadi Om? Kegadisannya Cintya hilang?”
“Tidak Fajar, tidak! Akan tetapi masalah yang di hadapi saat ini lebih berbahaya
dari itu semua, karena dia bisa mencelakai dirinya sendiri kapan saja dia mau dan di
mana saja dia berada.”
Aku semakin tidak tahu apa maksud dari ucapan Om Taufik. Sebenarnya apa
masalah Cintya? Apa yang menyebabkan dia mau mencelakai dirinya? Kalau dia
memang telah ternoda, siapa yang telah melakukannya? Kalau tidak, lalu apa? Aku
semakin resah, tak tenang memikirkannya. Dia itu gadis yang suci semoga selamanya
akan tetap terjaga kesuciannya.
“Baiklah Fajar, akan aku berikan sesuatu padamu. Biar kamu tahu sendiri masalah
besar yang dihadapi Cintya. Saya berharap kamu bisa membantu menyelesaikan
masalahannya. Begitu juga ibu dan adikmu, karena keluargamulah yang lebih dekat
dengan Cintya. Om sangat berharap dengan dirimu. Tunggu sebentar. Adikmu suruh
masuk saja, kasihan diluar sendirian.”
Om Taufik ke kamar mengambil barang yang dimaksud. Aku menyuruh dik Alya
masuk.
“Om Taufik cerita apa Kak? Bagaimana nasib Cintya?” Tanya dik Alya pelan.
“Entahlah, Kakak juga belum tahu pasti. Nanti kita akan tahu semuanya. Cintya
masih tak sadarkan diri di rumah sakit.”
Om Taufik kembali dengan membawa kardus kecil. Seperti kardus kue. Lalu
memberikan padaku. Aku tak melihat isinya. Nanti saja kalau sampai rumah akan aku
buka.”
“Sebaiknya kamu buka di rumah saja. Saya mau pergi lagi ke rumah sakit.
Kasihan istriku menunggu Cintya sendirian.”
184
“Baiklah Om, kalau begitu kami pamit pulang. Salam buat tante Linda.”
“Salam juga buat Cintya, semoga lekas sembuh. Mungkin besok Alya dan teman-
teman akan ke sana.” Sahut dik Alya.
“Kami pulang dulu, assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Kami pulang dengan hati yang was-was. Resah, penasaran, sedih, sesal, kecewa
dan merasa bersalah dengan apa yang menimpa Cintya. Apa isinya kardus ini. Akan aku
berikan kardus ini pada ummi. Biar ummi yang tahu lebih dulu, karena beliau yang
sering dicurhati perasaan Cintya.
Sampai di rumah, aku langsung menemui ummi dan memberikan kardus itu pada
beliau. Ummi ada di ruang tengah. Kami bertiga duduk bersama. Dik Alya
menghidupkan TV. Baru menyala langsung ada berita tentang pemerkosaan. Gadis di
bawah umur di perkosa oleh dua orang pemuda yang masih saudaranya sendiri.
Mendengar berita itu, pikiranku langsung tertuju pada Cintya. Benarkah Cintya telah
ternoda oleh manusia bejat? Kemudian ada juga berita yang membuatku kaget. Tiga
warga asing tertangkap di hotel saat sedang berpesta pora narkoba. Satu orang dari
Amerika dan yang dua dari Australia. Kagetnya lagi aku seperti mengenal wajah salah
satu pelakunya.
“Itu seperti William. Seorang bule yang katanya mau mengadakan penelitian di
Jakarta. Ternyata dia bandar narkoba. Pantas saja dia mau menodai dik Alya.” Aku
berkata dalam hati setelah memastikan bahwa laki-laki yang dari Amerika itu adalah
orang yang aku kenal saat menghadiri pesta ulang tahunnya tante Linda.
“Dik, laki-laki bule itu ternyata pengedar narkoba.” Kataku memberi tahu dik
Alya.
Dik Alya tampak murung. Mungkin teringat kejadian yang dulu menimpanya.
“Syukurlah Kak sudah tertangkap. Semoga dunia ini aman tanpa manusia-
manusia bejat seperti dia.” Katanya geram.
“Ya semoga saja tidak akan terjadi hal seperti itu lagi.”
Dengan ekspresi santai, ummi membuka isi kardus. Ternyata cuma sobekan-
sobekan kertas yang sudah lusuh. Dengan seksama ummi memandangnya. Lalu
mencocokkan kertas yang sesuai, kemudian membacanya satu persatu. Dik Alya tampak
asyik memindah-mindah chanel TV. Mataku memandangi layar TV. Lalu berpindah ke
185
wajah ummi. Bolak balik dengan perasaan tak tentu. Dik Alya juga tampak menunggu
apa yang akan diceritakan oleh ummi. Wajah ummi sedikit berubah tegang saat
membaca, namun tetap santai. Tidak seperti saya yang sejak tadi gelisah memikirkan
Cintya.
“Apa isinya Um?” Tanyaku penasaran.
Ummi diam saja dan terus melajutkan bacaannya. Dik Alya pun menayakan hal
yang sama sepertiku. Hatiku membayangkan harus berbuat apa untuk menolong Cintya.
Aku harus bagaimana dengan permasalahan yang dihadapi Cintya. Aku merasa
bersalah, karena hal ini ada hubungannya dengan diriku. Usai membaca, ummi
meletakkan kertas-kertas itu di atas meja lalu mengambil nafas panjang dan berkata.
“Akhir-akhir ini banyak orang yang ingin mengakhiri hidupnya hanya karena
frustasi. Merasa tidak mampu menanggung beban hidup yang begitu berat. Sekarang
juga banyak gadis di perkosa meski mereka tak bersalah apa-apa, akibatnya karena tak
kuat menanggung malu lalu bunuh diri. Hal ini sangat disayangkan sekali. Bukankah
bunuh diri adalah perbuatan yang sangat tercela dan dimurkai Allah. Apakah mereka
pikir setelah bunuh diri permasalahan akan selesai. Tidak! Mereka harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan Allah. Bukankah Allah sudah
menjelaskan dalam ayat-ayatnya bahwasanya Allah tidak akan membebani seseorang di
luar kemampuannya. La yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa. Itu artinya masalah
apapun yang menimpa manusia pasti ada jalan keluarnya dan mampu dihadapi. Hanya
saja orang cenderung mengikuti hawa nafsu dan akhirnya mengambil jalan pintas yaitu
bunuh diri.”
Ummi berkata sambil menghadap ke arahku. Dik Alya mengalihkan perhatiannya
pada ummi. Aku hanya memandangi kertas-kertas yang sudah robek. Belum tahu apa
isinya. Aku tak kuasa, andaikan dia memang telah dinodai oleh laki-laki lain. Kapan dan
di mana itu terjadi. Atau jangan-jangan….! Aku jadi teringat laki-laki bule tadi yang
telah ditangkap polisi. Laki-laki yang dulu pernah ketemu di hotel saat merayakan pesta
ulang tahun tante Linda. Laki-laki yang katanya masih saudaranya Cintya. Laki-laki
yang dulu juga pernah akan menodai dik Alya. Apakah benar laki-laki itu. Ah, aku tak
mau berprasangka buruk terhadap bule itu.
186
Pikiran dalam hatiku semakin tak tentu. Dik Alya tanpak bengong memikirkan
sesuatu. Karena penasaran dia pun mengambil satu kertas itu. Aku mengikutinya. Lalu
membaca dengan perlahan.
Sobekan pertama.
Curahan hatiku teruntuk pemuda Indonesia.
Di kamar mungil yang sangat aku cintai ini. Ditengah malam yang gelap gulita
ini. Dengan cahaya lilin yang bertabur keromantisan dan pesona. Kutuliskan sepatah
kata tentang sesuatu hal yang telah kualami. Tadi pagi untuk pertama kalinya, aku ikut
Tanteku ke tetangga sebelah untuk menjahitkan baju. Saat kami berada di dalam
rumah, ada seorang laki-laki yang keluar dari dalam kamar. Tanpa sengaja mataku
saling bertatapan dengannya. Akan tetapi dia terlihat begitu cuek dengan kehadiranku.
Dia hanya menyapa tanteku. Saat itu, aku tersenyum padanya, tapi dia sama sekali
tidak memperhatikanku dan tidak mau tersenyum. Aku ingin menyapanya dengan
ucapan assalamualikum, tapi entah kenapa, hati ini bergetar tak kuasa untuk
mengucapkan kalimat itu. Akhirnya kuurungkan saja.
Semenjak saat itu, aku selalu ingin tahu siapa sebenarnya laki-laki itu. Ingin
rasanya aku ke rumahnya sendiri lalu menemuinya, namun apa daya aku tak berani.
Aku hanya bisa bertanya pada tanteku sendiri. Namun apa yang aku tanyakan tentang
dirinya belum cukup untuk mengobati rasa penasaranku.
Ternyata adik kandungnya yang bernama Alya adalah teman kuliahku di Fakultas
kedokteran. Aku berusaha mendekatinya. Sedikit demi sedikit aku bertanya tentang
keluarganya dan juga kakaknya. Aku banyak tahu tentang laki-laki itu dari Alya. Fajar
adalah pemuda desa yang ramah dan cerdas. Dia selalu menghargai siapa saja. Meski
dia pemalu berhadapan dengan wanita, namun tak menghalanginya untuk berinteraksi
dengan teman-teman mahasiswi di kampus. Dia selalu menebar ilmu lewat kata-
katanya. Dia anak pesantren yang tidak kuper dan tidak gaptek akan teknologi
masakini. Tidak seperti anggapan orang-orang yang mengatakan bahwa anak
pesantren itu kuper dan tidak berpengalaman. Bahkan dia lebih tahu dan maju soal
teknologi dibanding teman-temannya. Dia seorang yang halus tingkah lakunya. Santun
dalam bertutur kata. Kaya dan dermawan. Aku sangat menyukai sifat laki-laki yang
seperti itu. Sifat laki-laki yang belum pernah aku temukan di Amerika negeri tercintaku.
187
Dari situlah aku selalu ingin mengetahui sisi lain dari kakaknya Alya. Aku tak
tahu harus bagaimana mengungkapakan hal ini padanya. Amat mustahil rasanya bila
aku menanyakan sendiri. Dia sangat tidak suka kalau ada wanita yang bukan muhrim
mendekatinya.
Sobekan kedua.
Di ujung Desember 2006
Tadi sore aku memberanikan diri untuk ke rumahnya. Saat itu ibunya yang
menyambutku. Aku bilang mau ketemu Alya, padahal sebenarnya aku ingin bertemu
kakaknya. Tapi sayang dia nggak ada. Kata Alya, setiap hari Ahad dan Sabtu, dia
mengajar di Lembaga Kajian Islam yang bertempat di Pondok Pesantern Darul
Muttaqien dekat Taman Mini. Terpaksa aku harus ngobrol dengan Alya. Waktu itu Alya
sedang membantu ibunya di dapur. Tak enak rasanya bila aku harus mengganggu
aktifitas Alya. Dengan senang hati aku menawarkan diri untuk ikut membantu di dapur.
Itulah untuk pertama kalinya aku memasak di dapur. Satu hal yang sama sekali belum
pernah aku lakukan dalam hidupku. Karena aku tak bisa memasak, aku pun hanya
menemani mereka sambil ngobrol dengan ibunya. Aku sedikit menyimpan rasa malu
dengan mereka karena tak bisa memasak. Ternyata keluarga Alya mempunyai sifat
yang halus dalam bertutur kata.
Sobekan ketiga.
Rasa maluku di tugu Monas
Tanpa sengaja aku bertemu dengan Fajar dan adiknya di taman Monas. Aku
mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Alya lalu dirinya. Namun apa yang
terjadi…! Aku merasa malu sendiri. Karena dia tidak mau menjabat tanganku. Itu
adalah rasa hormatnya untuk memuliakan martabat wanita. Karena dengan tidak
bersentuhan antara pria dan wanita yang bukan muhrim akan menciptakan rasa aman
dan lebih menjaga kesucian serta meninggikan dan mengangkat derajat wanita itu
sendiri. Aku tidak kecewa dengan sikapnya. Justru aku bangga dengan sifatnya yang
kuat menjaga prinsip Islam. Aku bertekad akan mencontoh dirinya.
Sobekan keempat.
188
15 Februari, di halaman rumah saat bulan purnama.
Kemarin malam aku memberi kado valentine kepada pemuda itu. Tak kusangka
dia justru memarahiku lewat sms. Dia menceritakan, dahulu kala ada seorang
pemimpin katolik yang bernama Valentine. Dia dihukum gantung oleh raja Claudius II
karena telah menikahkan pasangan muda-mudi secara diam-diam. Valentine juga
didapati telah jatuh hati pada gadis anak seorang sipir penjara ketika dia berusaha
menolong orang-orang Kristen melarikan diri dari penjara akibat penganiayaan.
Tragisnya sebelum ajal tiba, dia meninggalkan pesan dalam suratnya. Ada tiga kata
yang tertulis dalam suratnya dan menjadi populer sampai saat ini. “From your
Valentine”. Akhirnya paus Gelasius meresmikan tanggal 14 februari tahun 496 sebagai
hari untuk memperingati Valentine”.
Setelah mendengar ceritanya aku tersadar, kalau ternyata hari Valentine itu tak
ada hubungannya dengan kasih sayang dalam ajaran Islam. Itu hanyalah ritual untuk
menghormati kematian pastur. Sejak saat itu, aku berjanji tak akan lagi melakukannya.
Itu semua adalah tipuan bagi remaja Islam. Aku juga telah tertipu dengan hal itu.
Sobekan kelima.
20 juli ’07 dini hari di depan televisi.
Hampir satu bulan ini, laki-laki itu tidak pernah menampakkan muka. Kata
umminya dia pulang ke desa bersama Alya. Ada kerinduan yang mendalam karena tak
pernah melihat dirinya. Rindukku melebihi rindu pada orang tuaku di Amerika sana.
Bila aku tahu mereka akan menghabiskan liburan semester dikampungnya, aku pasti
akan ikut dengan mereka, biar aku tahu seperti apa suasana desa…?
Sobekan keenam.
Awal September yang resah.
Malam ini aku tak mampu memejamkan mata. Hatiku resah dan gelisah karena
memikirkan dirinya. Setelah malam ini aku tahu bahwa dia sedang sakit. Bukan karena
menderita sebuah penyakit, akan tetapi jatuh tak sadarkan diri beberapa lamanya. Dia
mencintai wanita yang masih teman kelasku sendiri. Dia memikirkan seorang wanita
yang sama sekali tak pernah ia temui. Meski demikian, cintanya begitu besar menancap
189
kuat di hati. Setelah aku tahu bahwa wanita yang ada di hatinya bukan diriku, Aku pun
kecewa. Aku frutasi dengan hidupku.
Sobekan ketuju.
Hujan yang membawa luka.
Rintik air yang terus menghujam membuatku terpikir akan si dia. Aku
merindukannya dan ingin selalu menelfonnya. Sejak seharian aku terus terpikir
olehnya. Aku marah dengan tanteku sendiri dan mengurung di kamar seorang diri. Aku
telah menelfon lebih dari sepuluh kali, namun dia tak mau mengangkat telfonku. Pasti
dia sedang memikirkan wanita yang di cintainya itu. Malam ini hatiku sungguh tertusuk
oleh perasaanku sendiri. Malam ini orang yang aku kasihi dan sayangi ternyata tak
sadar bila diri ini sangat rindu dan mencintainya. Aku benci dia. Aku benci hidup ini.
Aku ingin mati saja. Biar tak ada lagi derita yang mendera.
Gleg….!!!
Hati ini terasa tertusuk-tusuk duri usai membaca sobekan-sobekan kertas dari
Cintya. Lidah tercekat kaku. Jiwa ini bagai tersambar petir membacanya. Bingung dan
juga tak percaya. Kenapa Cintya seperti itu. Dia telah memendam sesuatu dalam hatinya
dengan begitu rapat, sehingga tak seorang pun tahu akan hal itu. Aku benar-benar tak
mengerti. Perhatian Cintya yang begitu lebih padaku, kuanggap sebagai hal yang biasa-
biasa saja, karena memang itulah sifat Cintya kepada semua orang. Apalagi dia memang
begitu akrab dengan keluargaku. Jadi terlalu berlebihan, andaikan aku mengartikan
perhatiannya sebagai rasa cinta yang begitu mendalam padaku. Tak ada tanda-tanda
apapun tentang rasa cintanya.
Dia memang terlalu. Tidak seharusnya berlaku seperti itu. Bukankah gadis Amrik
adalah gadis yang selalu ceplas-ceplos untuk mengungkapkan sesuatu. Dia selalu
bercerita kepada ummi tentang masalah apapun yang dialami. Mengapa dia tega
menyiksa diri sendiri. Andaikan saja dia mau menceritakan hal ini pada ummi, tentu
saja kejadiannya tidak separah ini. Dia itu gadis Amerika, tapi kenapa merasa malu
untuk mengungkapkan rasa cinta. Dia itu gadis Amerka, tapi kenapa pemalu seperti
gadis jawa. Tak seharusnya seperti itu.
Ternyata, telfon yang berulang kali itu adalah dari Cintya. Pantas saja dia marah
karena aku tak mengangkatnya. Dia malah berpikir kalau aku sedang bercinta dengan
190
Naela. Sungguh keterlaluan dirinya. Kenapa Cintya? Cemburukah dirimu?! Kecewakah
kamu? Betapa mudahnya dirimu terperdaya oleh sesuatu yang tak pasti. Mengapa kau
beranggapan bahwa aku tak mencintaimu atau memperhatikanmu. Sungguh kau tertipu
dengan hawa nafsumu. Sehingga mendorong dirimu untuk melakukan perbuatan tercela.
Sama seperti diriku dulu, saat terisi oleh wanita yang tak aku kenali. Namun aku tak
sampai mencelakai diriku sendiri.
Kenapa semua permasalahan harus berawal dari cinta. Dulu hatiku tertawan oleh
gadis yang bernama Naela hingga jatuh sakit karena memikirkannya. Tapi
alhamdulillah aku bisa cepat sadar dan kembali ke jalan semula. Sekarang Cintya
merasakan hal yang sama. Dia jauh lebih parah dari apa yang aku alami.
Cinta-cinta! Kau memang bisa membuat bahagia. Namun tak sedikit pula yang
gelap mata. Melakukan apa saja menuruti hawa nafsunya. Entahlah, Cintya. Apakah
yang kau alami itu cinta ataukah hanya nafsu belaka. Cinta sejati hanyalah akan
mengajak pada kebaikan hati, sedangkan nafsu sejati akan selalu mendorong manusia
untuk berbuat hal yang keji.
Apa yang bisa aku lakukan untuk gadis yang telah terbaring lemas di rumah sakit.
Andaikan waktu bisa di putar lagi, tak kan kubiarkan Cintya melukai dirinya. Andaikan
saja kemarin dia mau berkata bahwa dia mencintaiku, pastilah aku akan menerimanya.
Andai dia mengajak menikah pun, aku akan menurutinya. Aku menyesal telah
mencintai gadis yang tak kukenal seperti Naela. Kenapa aku tak mencintai Cintya dari
dulu. Kenapa Tuhan tidak menciptakan cinta di hatiku untuk gadis yang selalu
memperhatikanku. Kenapa malah Naela? Gadis yang tak kukenal tentang
kehidupannya. Itulah kuasa Tuhan. Yang berkehendak untuk menciptakan cinta di hati
manusia dan untuk siapa saja.
“Kita harus bagaimana um?” Tanyaku pada ummi dengan nada bingung.
“Yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa Cintya. Karena boleh jadi dia
akan nekad akan menghabisi dirinya sendiri lagi. Ummi pikir Cintya telah kehilangan
semangat hidupnya. Dia sangat kecewa dengan semua yang telah dilakukan. Dia tak
bisa lagi memaknai hidup dengan bijaksana. Baginya cinta adalah segalanya. Sehingga
dia akan nekad untuk berbuat apa saja bila tak bisa mendapatkannya.”
“Yang harus kita lakukan adalah memberi semangat hidupnya. Ummi yakin dia
pasti bisa. Cintya anak yang lembut hatinya. Mudah dinasehati oleh siapa saja.”
191
“Ummi benar. Cintya memang butuh semangat hidup. Alya akan mencoba untuk
terus memberi hiburan dan memotivasi dirinya. Aku juga akan mengajak teman-teman
kelas agar mau memberi dorongan semangat pada Cintya. Aku yakin Cintya pasti bisa
sembuh dari sakitnya.”
“Apapun usaha kalian, yang terpenting Cintya bisa cepat sembuh dan menemukan
semangat hidup kembali.”
“Pokoknya Alya akan berusaha demi Cintya Um.”
Hatiku penuh dengan rasa sesal. Kenapa tak mengetahui perasaan Cintya dari
dulu. Ummi juga menyesal mengapa tak mengetahui kalau Cintya punya rasa yang
begitu besar. Dik Alya apalagi. Dia teman ngobrol. Teman belajar. Dan teman bermain.
Kenapa juga tak bisa mengetahui hati Cintya yang telah dirundung cinta. Sebenarnya
dik Alya sudah menangkap rasa itu, tapi saya yang terlalu dungu karena tidak
memperhatikan omongan dik Alya. Aku sadar dengan sepenuh hati. Aku memang
benar-benar tak berani mengungkapkan cinta pada gadis itu. Aku sadar sesadar-
sadarnya, bila aku hanyalah seorang pemuda kampung yang kebetulan sukses hidup di
ibu kota. Sedangkan Cintya adalah gadis cantik dari Amerika yang biasa hidup dengan
kemewahan harta benda. Aku takut kalau tak bisa membuatnya bahagia. Hal inilah yang
telah memaksaku untuk tidak mengucapkan kata cinta padanya.
Betapa sesalnya diriku, setelah tahu bahwa dia benar-benar mencintaiku. Masih
bisakah aku mendengar kata cinta darinya, sedangkan dia telah terbaring lemas di
rumah sakit? Dia belum sadarkan diri sampai saat ini. Apakah ini ucapan cinta terakhir
darinya? Semoga saja, aku masih bisa mendengarkan Cintya mengucap kata cinta.
Semoga aku masih bisa menyaksikan senyuman manis darinya. Senyuman dari orang
yang mempunyai sifat perhatian yang sangat besar pada semua orang.
***
192
19
DERITA CINTYA
Dari bimbingan skripsi, aku langsung pergi ke rumah sakit menjenguk Cintya.
Ruang VIP kamar No. 219A yang aku tuju. Kamar yang cukup lengkap fasilitasnya.
Ruang berAC, ada TV, lemari Es dan sebagainya. Seperti hotel saja. Meskipun lengkap
seperti itu, pasti tak ada yang mau tinggal di situ. Siapa yang mau terbaring lemas dan
tak bedaya, meski ruangannya lengkap dan serba ada. Sampai di rumah sakit, aku
melihat tante Linda duduk termenung di samping Cintya. Matanya tampak merah
seperti kurang tidur. Raut mukanya masih penuh dengan kegelisahan. Melihat aku
masuk, dia memintaku untuk menunggui Cintya sejenak.
“Kebetulan kamu datang Fajar, tante minta tolong sebentar. Tante mau shalat
dhuhur sekalian makan siang.” Ucapnya dengan nada lemas.
“Baiklah tante.” Jawabku mengiyakan.
Kasihan beliau, sejak pagi menunggui Cintya sendiri. Belum ada yang
menggantikannya. Mungkin dia belum makan. Om Taufik masih di kantor. Dia baru
kembali nanti sore.
“Oh ya, kamu sudah makan belum? Kalau belum Tante belikan makanan!”
“Terima kasih tante, aku sudah makan.”
“Kalau ada apa-apa dengan Cintya langsung saja hubungi dokter.” Katanya lalu
keluar dari kamar.
“Baik Tante.”
Wajah cantik yang selalu memberi perhatian lebih padaku, kini sedang terbaring
lemas tak berdaya dihadapanku. Dia bagai pohon layu yang roboh diterpa angin
kencang. Di sampingnya ada air bening mengalir lewat selang infus. Tetes demi tetes.
Seperti embun di pagi hari. Di hidungnya ada selang yang mengalirkan gas oksigen
untuk membantu pernafasannya. Di jilbabnya masih ada bekas merah yang tak lain
adalah darahnya. Tepat di pergelangan tangan kanannya, kain putih membalut erat.
Penuh dengan bercak darah. Cintya benar-benar terkulai lemas bagai manusia tak
bernyawa. Entah, apa yang ada di alam bawah sadarnya. Bibirnya yang merah tertutup
rapat. Matanya yang berbinar sedikit pun tak bergerak. Hatiku bergumam sendiri
melihat pemandangan di kamar rumah sakit ini.
193
“Cintya, kenapa kau tega melakukan hal ini? Hanya karena cinta yang tak jelas
dan tak pasti. Kau tega mencelakai dirimu sendiri. Satu perbuatan yang sama sekali tak
layak bagi seorang muslimah sepertimu. Apa kamu pikir setelah bunuh diri semuanya
akan selesai.”
Hatiku berbicara sendiri seraya memandangi ketidakberdayaan seorang gadis
yang ada di hadapanku. Andaikan saja dia adalah dik Alya, pastilah sudah aku peluk,
aku cium dan aku pijat-pijat kakinya. Andaikan dia halal bagiku tentulah aku akan ikut
bersanding di sisinya.
“Kini kau tak tahu bila orang yang kau cintai ada di sampingmu. Orang yang
selalu kau perhatikan sedang menunggu dan menyaksikan ketidakberdayaanmu. Apakah
kau sedang menjerit dalam batinmu ataukah malah menangis tersedu-sedu? Atau justru
tak tahu dan tak merasakan apa yang kini dirasakan oleh orang yang ada di
sekelilingmu?”
“Kesedihan tidak hanya milik tantemu, tapi juga keluarga kami. Aku kecewa
dengan tindakan yang diluar kontrol akal sehatmu. Cukuplah dirimu saja yang
melakukan hal ini. Frustasi karena cinta sama sekali tak berguna. Itu bukan tindakan
gadis muslimah seperti dirimu. Seorang muslim sejati hanya akan menomorsatukan
cintanya pada Allah semata. Sehingga cinta pada manusia hanya bersifat sekedarnya.
Apalagi sampai mencelakakan diri sendiri.”
Hati ini terus menyesali apa yang dilakukan Cintya. Andaikan dia sadar dan tahu
bahwa aku ada di sampingnya, pasti akan sangat marah padaku. Tante Linda belum juga
datang. Lima belas menit lagi jarum jam menunjukkan pukul tiga sore. Keadaan Cintya
masih juga sama. Dia belum juga sadarkan diri sejak masuk rumah sakit.
Aku keluar meninggalkan Cintya. Di luar kamar, aku celingukan melihat ke kanan
dan ke kiri. Tante linda yang aku tunggu belum juga tampak batang hidungnya.
Pemandangan yang kulihat hanya orang-orang yang sedang mondar-mandir akan
menjenguk kerabatnya. Menjelang Maghrib suasana di rumah sakit tampak ramai sekali.
Mungkin setiap hari juga begini. Mulai dari anak-anak, muda-mudi, ibu-ibu, bapak-
bapak, dan juga nenek-nenek serta kakek-kakek. Semuanya komplit. Lebih komplit dari
keramaian di Mall. Tujuannya hanya satu yaitu menjenguk saudaranya yang sedang
terbaring lemas di kamar rumah sakit.
194
Itu semua menjadi bukti dan saksi, betapa setianya mereka dengan salah satu
keluarganya yang sedang sakit. Atau hanya sekedar menjenguk dan ingin tahu
bagaimana keadaan keluarga atau tetangganya. Tampak guratan kesedihan membalut
wajah-wajah mereka. Hanya anak kecil yang masih tetap dalam senyuman, karena
memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan lingkungan sekitar. Meski
demikian, mereka tetap setia menjadi teman bagi si sakit. Memberikan hiburan dan
semangat hidup agar cepat sembuh dari sakitnya.
Tampaknya mereka semua telah menjalankan apa yang jadi anjuran Islam yaitu
menjenguk orang yang sedang ditimpa musibah. Ketika ada orang sakit kita disuruh
menjenguknya. Ketika seseorang meninggal dunia, kita dianjurkan untuk berta’ziyah,
membacakan doa bagi si mayit. Tujuannya adalah menghibur, memberi rasa simpati dan
juga perhatian pada mereka yang sedang dirundung musibah.
Betapa ajaran Islam begitu mulia. Mengajarkan toleransi antar sesama. Saling
membantu dan memberikan kasih sayang. Memberikan perhatian dan juga rasa peduli
pada mereka. Begitu juga bagi yang terkena musibah. Ketabahan dan kesabaran menjadi
cobaan berat bagi mereka. Sabar adalah menerima dengan lapang dada akan musibah
yang dialami. Tidak mengeluh dan mengaduh. Tetap tegar dengan apa yang terjadi dan
menyerahkan semuanya pada Allah. Allah yang memberi sakit, dan pastilah Allah juga
yang akan menyembuhkannya.
Dan bagi orang yang sabar yaitu yang tidak banyak mengeluh ketika ditimpa
musibah baginya rahmat dan pahala yang besar di sisi Allah. Orang sabar adalah orang
yang apabila ditimpa musibah berkata “Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun”. Mereka selalu
yakin bahwa semuanya sudah tertulis oleh Allah. Apapun musibahnya semua pasti
sudah ditentukan oleh Allah. Adapun orang yang tidak mau bersabar biasanya selalu
bersedih, berkeluh kesah dan merasa susah apabila ditimpa musibah. Ada keluarga yang
meninggal dunia malah menjerit histeris. Itu keliru dan justru menjadi beban bagi orang
yang telah meninggal.
Ya, itulah sabar. Kata yang mudah diucapkan oleh semua orang, namun begitu
sulit untuk dilaksanakan. Karena sifat manusia yang memang banyak keluh kesahnya.
Banyak yang tidak mau bersyukur. Banyak yang tidak mau memahami apa yang telah
diberikan Allah. Padahal cobaan itu tidak hanya sakit atau terkena bencana atau
kecelakaan saja. Akan tetapi sehat itu juga cobaan, kaya itu juga cobaan. Apakah
195
dengan kesehatan itu, kita bisa mempergunakan untuk kebaikan atau tidak? Apakah
dengan kekayaan yang Allah berikan, kita bisa membelanjakan harta untuk kebaikan
atau tidak? Semua itu ujian dan cobaan bagi manusia di jagad raya. Kalau segala
kenikmatan yang telah Allah berikan pada kita, akan tetapi tidak mampu
mempergunakan nikmat dengan baik, maka hal itu juga telah membawa bencana dan
musibah yang sangat besar bahkan tanpa kita sadari. Andaikan manusia mau memahami
dan memikirkan hikmah dibalik musibah tentulah kita akan bisa menjalani dengan
sabar.
Hampir setengah jam aku duduk diluar kamar Cintya. Tante linda masih belum
juga kelihatan. Pemandangan yang aku lihat masih sama yaitu lalu lalang orang
berjalan. Malah semakin bertambah ramai. Ada seorang ibu yang keluar dari kamar
membawa anak kecilnya yang sedang menangis merengek-rengek minta jajan. Seorang
laki-laki agak tua berjalan dari arah depan dan duduk di dekatku.
“Lagi nunggu siapa dik?” Tanyanya padaku.
“Teman Pak. Kalau bapak sendiri lagi nuggu siapa?”
“Saya menunggu keluarga. Sudah tiga hari yang lalu dirawat di sini.”
“Kalau boleh tahu sakit apa Pak?” Tanyaku balik.
“Kepalanya terkena lemparan batu akibat tawuran pelajar beberapa hari yang
lalu.”
Hatiku tersentak mendengar jawaban Bapak itu. Namun tidak begitu
mengherankan. Memang seperti itulah tingkah polah pelajar kita saat ini. Dari rumah
bilang sama orang tua dan minta uang saku untuk berangkat ke sekolah, tapi sampai di
sekolah malah tawuran. Salah satu fenomena yang amat memilukan bagi dunia
pendidikan. Tidak murid, tidak guru sama saja. Kalau anak-anak yang selalu di didik
setiap hari masih seperti itu, lalu bagaimana dengan mereka yang sama sekali tak pernah
merasakan pendidikan di sekolah! Apakah lebih brutal atau lebih halus tingkahnya?
Perbuatan yang sama sekali tak layak dan pantas dilakukan oleh seseorang yang di
anggap terpelajar. Bagaimanakah nasib bangsa ini kelak kalau anak didiknya suka
tawuran? Bukankah mereka semua yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini. Kalau
yang dianggap terpelajar masih terus tawuran tentulah bangsa ini tak akan bisa lebih
maju, tapi semakin bertambah mundur.
196
Dari arah samping tante Linda kulihat sedang berjalan menuju arahku. Ada dik
Alya dan juga ummi yang mengikutinya. Aku menyalami tangan ummi.
“Maafkan tante Fajar, tadi sehabis makan langsung shalat Ashar di Musolla
kemudian ketemu sama Alya dan Ummimu. Kami ngobrol sebentar. Sekali lagi, tante
minta maaf karena membuat kamu lama menunggu.” Tante Linda menjelaskan.
“Nggak apa-apa tante, aku ada teman ngobrol di sini.”
“Bagaimana keadaan Cintya?”
“Tante masuk saja.”
“Baiklah, tante masuk dulu.”
Setelah tante Linda masuk, ummi memandangku dengan bahasa mata yang kalau
tidak salah mengingatkanku. Aku faham artinya.
“Maafkan Fajar Um, tadi tidak sempat memberi tahu Ummi, kalau sehabis dari
kampus langsung ke sini. Pulsanya habis, mau beli juga malas. Cari dik Alya di kampus
nggak ketemu. Jadi ya, langsung saja ke sini tanpa memberi tahu ummi terlebih
dahulu.” Jelasku.
“Yang penting kamu baik-baik saja.” Jawab ummi datar. Beliau sudah
memakluminya.
“Makanya, kalau pergi itu ijin sama ummi Kak, biar kami tidak cemas.” Cetus dik
Alya.
“Iya sayang, yang penting kita masih ketemu.”
“Kalau begitu, Ummi lihat Cintya di dalam, Fajar mau shalat Ashar.” Lanjutku
memberi saran ummi.
“Ikut aku Dik.” Ajakku pada dik Alya.
“Nggak mau, kayak anak kecil saja minta di antar.” Jawab dik Alya ketus.
“Ayolah dik, please...! Masa tega lihat aku jalan sendiri.” Kataku memaksanya.
Akhirnya dia mau menemaniku.
“Nah itu baru namanya adik yang perhatian.”
Usai shalat kami bertemu dengan tiga teman dik Alya yang juga teman Cintya.
Mely, Evi dan Rina. Kemudian mereka masuk melihat Cintya. Aku lebih memilih
duduk di luar saja. Rasanya tak enak bila aku harus ikut masuk, di dalam kaum hawa
semua.
197
Bapak yang tadi ngobrol denganku sudah tak ada di tempat. Mungkin harus
menunggu keponakannya lagi. Sebentar kemudian om Taufik datang dengan menenteng
kantong plastik. Mungkin saja isinya buah-buahan untuk Cintya.
“Kamu nggak ikut masuk Fajar?” Tanyanya padaku.
“Saya baru saja keluar om.” Jawabku santai.
“Om Taufik masuk saja, di dalam ada banyak orang.”
Selang beberapa menit setelah om Taufik masuk, seorang dokter datang. Sebelum
masuk, dia sempat menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearahku. Dokter itu
kelihatannya ramah sekali. Aku suka dokter yang ramah seperti dia. Di mana-mana
yang namanya keramahan memang selalu membawa kebaikan dan kedamaian, dan juga
di cintai banyak orang. Dalam hati, aku mengucapkan doa untuk kesembuhan Cintya.
Semoga dia cepat sadarkan diri dan pulih kembali seperti semula. Aku rindu akan
kebaikannya. Gadis seperti dia semoga diberi umur panjang dengan berbagai macam
kebaikan.
Hatiku terus mengucap doa. Tiga teman dik Alya tadi keluar. Ada warna-warna
kesedihan yang menempel di wajah mereka bertiga. Mereka tampak anggun dan
bersahaja dengan balutan jilbab panjangnya. Mereka menyapaku dengan senyum dan
anggukan kepala. Sangat kelihatan ramahnya. Mungkin sudah tahu kalau aku kakaknya
Alya, meski aku sendiri tidak mengenalnya. Mereka duduk di dekatku, tapi tidak
mengajakku bicara. Kedengarannya mereka bertiga sedang membicarakan kondisi
Cintya. Mereka merasa iba dengan apa yang telah menimpa Cintya. Tidak lama
kemudian dokter dan suster tadi keluar. Wajahnya tetap ramah seperti ketika mau
masuk tadi.
“Bagaimana keadaan Cintya Dok?” Tanyaku pada dokter itu. Dokternya
tersenyum lalu menjawab, “Insya Allah dia akan baik-baik saja dan segera sembuh.”
Katanya yakin.
Aku mengucapkan alhamdulillah dalam hati.
“Oh ya, siapa yang selama ini dekat dengan gadis itu?” Lanjutnya menanyaiku.
“Kebetulan dia sangat akrab dengan ibu saya Dok.”
“Sepertinya gadis itu sedang frustasi karena masalah yang dideritanya. Biasanya
orang yang frustasi tidak bisa menjalani hidup dengan bijaksana, selalu berbuat nekad.
Untung cepat ditangani, kalau tidak dia bisa meninggal karena kehabisan darah.
198
Sekarang harus ada yang memberi semangat hidupnya. Dan itu hanya bisa dilakukan
oleh orang yang paling dekat dengannya. Jangan sampai dia tinggal sendiri karena bisa
berbuat nekad lagi. Nyawanya harus diselamatkan. Dia harus selalu diawasi dan dijaga
agar tidak mencelakai dirinya. Dia itu gadis yang cantik dan sholehah, jadi sayang kalau
harus mengakhiri hidupnya dengan perbuatan yang tercela. Aku minta tolong padamu
agar bisa melakukan hal itu. Aku pikir kamu cocok untuknya.”
Dokter itu memberi nasehat yang panjang. Dia selalu tersenyum dibalik kata-
katanya. Seperti ada isyarat sesuatu dibalik senyumnya. Hatiku tak mau berandai-andai.
Hanya doa yang selalu aku panjatkan untuk kesembuhan Cintya. Andaikan aku halal
baginya pasti aku akan selalu di sampingnya. Menyuapinya. Mengelus kepalanya.
Mengusap air matanya. Dan menciumnya penuh dengan kasih sayang.
“Maksud dokter apa?” Tanyaku basa-basi.
“Ah kamu ini kayak anak kecil saja yang tak tahu soal wanita. Apa kamu nggak
mau dapat jodoh wanita cantik seperti dia? Semoga dia memang jodohmu.” Ucapnya
yakin.
Dalam hati aku berkata amin. Namun bukan karena kata-kata jodoh. Tapi aku
memang masih ingin selalu membimbingnya. Belajar bersama tentang Islam. Masih
banyak yang harus dia pelajari. Semoga suatu saat nanti, dia bisa berjuang untuk Islam
bersama gadis-gadis muslimah lainnya di Amerika. Semoga Islam semakin maju di sana
dan terus menyebar ke penjuru dunia.
“Ah, Dokter ini ada-ada saja. Terima kasih banyak Dok atas nasehatnya. Semoga
bermanfaat bagiku. Kalau soal jodoh itu urusan Allah. Kalau dia memang jodohku pasti
tidak akan di ambil orang. Benar kan dok?” Ucapku sambil tersenyum. Dokter itu ikut
tersenyum. Sesaat ada keakraban di antara kami. Seperti keluarga sendiri.
“Cintya sudah sadarkan diri Dok?” Tanyaku lagi.
“Baru saja. Namun keadaannya masih sangat lemah.”
“Kalau begitu aku masuk dulu Dok.”
“Silahkan. Jangan lupa nasehatku tadi.”
“Sekali lagi terima kasih Dok. Insya Allah aku akan menjalankan nasehat dokter.”
Hatiku mengucap Alhamdullillah. Cintya masih diberi kesempatan hidup di dunia
oleh Allah. Segala puji baginya. Dialah yang memberi sakit lalu menyembuhkan. Cintya
terlihat ingin menggerakkan kepala. Bulu matanya yang indah tampak bergerak-gerak.
199
Tante Linda tentunya orang yang paling senang saat ini. Sejak kemarin, dia selalu
meneteskan air mata. Memeluk dan menciumi keponakannya. Ummi dan dik Alya
memandangi Cintya dengan seksama. Kelopak mata Cintya dengan sangat lemah
terbuka dengan perlahan. Lalu memandang dengan tatapan kosong. Tante Linda
langsung mengelus dahinya. Dan mencium pipinya.
“Kamu sudah sadar sayang. Sudah sembuh sayang. Aku sangat
mencemaskanmu.” Ucap Tante Linda girang.
Cintya seolah tak faham apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia berusaha
menggerakkan bibir untuk mengucapkan sesuatu, tapi tak bisa. Ada senyum yang sangat
manis dari sorot matanya. Pucat di wajahnya seolah pudar dan sirna. Tangan Ummi
memegang wajah Cintya lalu mencium dengan penuh kasih sayang seperti anaknya
sendiri. Ya, ummilah sosok yang selama ini selalu di curhati oleh Cintya. Wanita yang
selalu akrab dengannya. Lebih akrab dari pada tantenya sendiri.
“Maafkan Cintya Bunda.” Suara Cintya terdengar lemah sekali.
Aku merasakan getar haru dalam hatiku. Air mata kesedihan yang keluar dari
mata Tante Linda berubah menjadi air mata kebahagiaan setelah mendengar
keponakannya bersuara.
“Kami semua telah memaafkanmu Nak. Kami semua sayang padamu. Kami
semua merindukanmu. Kami tak ingin kehilangan kamu. Kami semua mencemaskanmu.
Kami tak ingin kamu pergi. Kami semua sedih melihat kamu terbaring di sini.”
“Cintya memang bodoh Bunda. Bodoh sekali.” Ucapnya lirih. Matanya
mengalirkan air bening yang cantik.
“Kamu nggak perlu membodoh-bodohkan dirimu sayang. Kamu anak yang
cerdas. Cantik dan ramah. Kamu dikuasai oleh nafsu yang membelenggu jiwamu.
Sehingga harus melakukan perbuatan nekad. Bunuh diri itu dosa. Sangat dibenci oleh
Allah. Jangan pernah melakukan hal itu lagi. Masa depanmu masih terbentang luas.
Jangan pernah mencelakai diri sendiri. Kamu harus semangat. Kamu harus hidup lagi.
Bunda akan selalu bersamamu.”
Masya Allah. Kata-kata ummi selalu saja bisa menggetarkan jiwa orang yang ada
didekatnya. Di mana pun dia berada. Tak kusangka nasehat ummi akan sekuat dan
sehebat itu. Dari mata Cintya yang masih lemah keluar butiran bening yang menghiasi
pipi putihnya. Dia merasa betapa ummiku mampu membuat jiwanya bergetar. Nasehat
200
ummi langsung merasuk ke jantungnya kemudian menarik air matanya. Aku sendiri
rasanya juga ingin menangis mendengar nasehat itu. Dik Alya juga. Dia menggandeng
tubuh ummi. Seperti anak kecil. Anehnya tante Linda malah terisak keras. Tak kuasa
memandangi keadaan Cintya. Sesaat ruangan kamar terasa haru. Aku berusaha menepis
ari mataku.
Menyaksikan apa yang baru saja terjadi, aku mengucapkan doa dalam hati. Ya
Allah betapa besar karuniamu. Dalam kesedihan dan sakit yang kau berikan pada kami,
engkau masih menyisipkan butiran kebahagiaan. Kau kirim sosok ummi yang bisa
menggetarkan jiwa seseorang dengan kalimatnya. Mampu mengetuk hati manusia yang
keras. Pujiku pada-Mu ya Robbi. Engkaulah pelindung kami di dunia dan juga di
akherat.
Dalam keharuan itu, aku tak mampu berkata-kata. Aku ingin mengucapkan
sesuatu pada Cintya, namun kata-kataku telah terwakili oleh ummi semuanya. Dik Alya
yang biasa membuat suasana ramai saat ini pun ikut terdiam merasakan haru.
“Kalau nggak ada bunda mungkin Cintya sudah tak bisa lagi bertemu dengan
kalian.” Ucap cintya lemah.
“Kamu mau makan sayang? Dari kemarin kamu belum makan.” Sahut tante Linda
memanjakan Cintya.
Cintya terdiam dan tampak memikirkan sesuatu. Dia merasa ada yang kurang.
Ummiku segera menangkap bahasa wajahnya.
“Orang yang kamu cari ada di sini Nak.” Kata ummiku.
Pandangan Cintya bertemu dengan mataku. Ia terdiam seolah ingin mengatakan
sesuatu, namun tak berani. Aku pun bingung harus ngomong apa. Sesaat lamanya mata
kami bertatapan.
“Maafkan kami semua Cin.” Kataku singkat.
“Tidak. Itu semua adalah kebodohanku. Ketidaktulusanku dalam memperhatikan
orang lain. Perhatian yang aku berikan pada orang lain masih ada pamrih cinta. Aku
belum bisa tulus dalam memperhatikan orang. Sehingga ketika sesuatu yang aku
harapkan tidak bisa kuraih, aku pun kecewa. Itulah kebodohanku. Dan aku berjanji tidak
akan mengulangi lagi kebodohan ini.” Cintya berusaha menguatkan dirinya untuk
berkata lebih banyak. Aku tak tega melihatnya. Suaranya masih lemah. Dia
memaksakan diri untuk mengatakan hal itu padaku.
201
“Sudahlah Nak, kamu masih lemah, jangan memaksakan diri. Kamu nggak usah
menyalahkan dirimu. Kamu nggak bersalah. Nggak usah mikir soal ini. Jaga dulu
kesehatanmu. Biar cepat sembuh.” Ummi menasehati lagi.
“Iya sayang, kamu ini masih lemas. Jaga kondisi tubuhmu biar cepat pulih. Biar
cepat pulang.” Lanjut tante Linda.
“Ummi dan tantemu benar Cin. Jangan memikirkan yang nggak-nggak. Lebih
baik pikirkan kesehatanmu dulu. Itu yang lebih terpenting.” Ujar Dik Alya.
“Aku memang tidak tulus dengan perhatian yang selama ini aku berikan pada
orang lain. Aku mengharapkan cinta. Cinta dari orang yang aku perhatikan. Namun
sekarang aku sadar kalau semua itu salah. Perhatian yang tulus tidak akan pernah
mengharapkan apapun dari orang yang kita perhatikan. Pertolongan yang tulus dan
ikhlas juga tidak akan mengharapkan balasan dari orang yang kita tolong. Ketulusan
dan keikhlasan sejati tidak akan pernah mengharapakan sesuatu dari orang lain
meskipun hanya sekadar ucapan terima kasih. Kalau kita masih saja mengharapkan
balasan dari apa yang kita lakukan, itu namanya belum tulus dan ikhlas. Ketulusan sejati
hanya mengharapkan ridlo Ilahi. Keikhlasan sejati hanya berharap balasan Allah. Aku
ingin belajar lebih banyak lagi. Belajar untuk tulus dan ikhlas. Untuk melakukan itu aku
butuh kalian semua. Bunda Latifah, Alya dan semuanya.”
Ya allah, alangkah kuatnya gadis bule ini. Betapa lembut hatinya. Betapa lunak
jiwanya. Aku mulai terkesima dibuatnya. Cintya tampak semakin kuat. Seperti ada yang
menggerakkan bibirnya. Ada malaikat yang membimbingnya untuk mengatakan hal
bijak itu. Tulus dan ikhlas. Apakah ketulusan sejati itu? Bagaimanakah keikhlasan sejati
itu? “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan
keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan)
terima kasih. 32 ” Itulah ketulusan dan keikhlasan sejati. Tidak mengharapkan ucapan
terima kasih. Juga tidak mengharapkan balasan dari orang lain berupa apapun. Tidak
mengharapkan apapun kecuali ridho Allah semata. Hanya ridho dan balasan dari Allah
yang ada.
Cintya, apakah cinta itu masih tersimpan di hatimu? Aku tak tahu. Karena hanya
Allahlah yang bisa menciptakan cinta di hati manusia.
32
QS. Al-Insan: 9.
202
***
203
20
KEAKRABAN DI RESTORAN
Hampir dua minggu lebih Cintya dirawat di rumah sakit. Setiap hari, aku berusaha
menyempatkan diri untuk selalu menjenguknya. Sekedar ingin tahu bagaimana
perkembangan kondisi fisiknya. Hari pertama Cintya terlihat bagai manusia tak
bernyawa. Hari kedua masih sama. Hari ketiga juga tetap sama. Masih tak sadarkan diri.
Kesedihan begitu menyeruak menemaninya. Terutama bagi tante Linda.
Hari ini genap dua puluh hari Cintya dirawat di rumah sakit. Nanti sore katanya
sudah bisa pulang. Kondisinya sudah semakin membaik dari hari ke hari. Luka yang ada
di tangannya juga sudah semakin membaik. Semangat hidupnya sudah mulai ada. Itu
berkat ummiku yang selalu memberi motivasi. Aku tak tahu andaikan ummi tiada.
Akankah dia cepat sembuh seperti sedia kala atau tidak. Dia memang harus cepat
sembuh dan kembali seperti semula. Bisa berkumpul bersama keluarga. Aku yakin dia
pasti bisa memotivasi dirinya sendiri. Hati nurani dan akal sehatnya pasti masih
bercokol kuat dalam jiwanya. Dan hal itu yang bisa membantu untuk memulihkan
kejiwaanya.
Jam 15:30 sore, aku berangkat kerumah sakit. Sampai rumah sakit pukul 16:15.
Aku langsung menuju ke kamar di mana Cintya dirawat. Om Taufik dan tante Linda
sudah bersiap-siap untuk membawa Cintya pulang. Wajah Cintya masih tampak pucat,
tapi tetap cantik. Dia juga selalu setia dengan jilbabnya. Kami memang sudah
menganggap Cintya seperti keluaraga sendiri. Ummi yang selalu memberi perhatian
lebih padanya. Kalau terjadi sesuatu dengannya kami pun tak akan diam dan
membiarkan begitu saja.
Semestinya Cintya kurang cocok kalau disebut gadis Amerika. Dia lebih cocok
sebagai gadis jawa yang hidup di desa. Senyum ramahnya dan kecantikannya yang
membuat orang terpana. Cantiknya asli, tulen tanpa make up apapun. Ia lebih suka
tampil apa adanya dan tidak menggunakan rias yang menghiasi wajahnya. Katanya, dia
tidak mau kecantikannya rusak gara-gara dipoles dengan bermacam-macam bedak. Dia
benar-benar cewek megapolis yang tak banyak ulah dan neko-neko. Sederhana, tapi
tetap cantik mempesona. Mungkin aku akan merasa kehilangan bila ia akan pulang ke
negerinya.
204
“Jadi pulang sekarang Om?” Sapaku pada mereka.
“Iya. Kebetulan kamu datang, nanti bisa pulang bareng.” Ajak om Taufik.
“Kami ke sini memang sengaja mau ngantar Cintya om.” Sahut dik Alya.
“Alya sudah kangen sama Cintya.” Lanjutnya.
“Kita semua memang sudah merindukan kesehatan Nak Cintya.” Tukas ummiku.
Cintya hanya terdiam dan berusaha untuk tersenyum mendengar pembicaraan
kami. Tidak ada respon kata-kata darinya.
“Administrasinya sudah Om?” Tanyaku pada beliau.
“Alhamdulillah, sudah beres semua. Pokoknya kita tinggal pulang saja. Cintya
sudah rindu rumah. Semoga tidak akan kembali lagi ke sini untuk selamanya. Cukup
sekali ini saja.” Balas tante Linda.
Cintya menganggukkan kepalanya dan berusaha tersenyum kembali. Kami
langsung keluar menuju mobil. Alhmadulillah sore ini sedang tidak turun hujan. Namun
langit seolah berwajah muram terolesi mendung tebal yang siap menjatuhkan air
matanya. Semoga saja hujan tidak turun. Kalau toh harus turun hujan semoga Allah
menurunkan hujan yang membawa rahmat. Bukan hujan yang membawa bencana.
Ketika berada didekat mobil, tiba-tiba ada suara wanita yang berteriak memanggil
nama Cintya. Kami semua mencari dari mana asal suara tersebut. Dari arah selatan
seorang gadis dengan jilbab warna merah muda dan kembang mawar yang
menghiasinya tampak mempercepat langkah menuju mobil kami. Di belakangnya,
seoarang laki-laki yang tampak bersahaja mengikuti wanita itu. Aku pandangi dengan
seksama. Sepertinya aku mengenalnya.
“Laki-laki itu adalah Ustadz Bashori!” Gumamku dalam hati.
“Tapi cewek itu.....!” Otakku berputar memikirkan sesuatu.
Cewek itu langsung memeluk Cintya seperti ada kerinduan yang mendalam.
Sementara diriku menyaksikan pemandangan aneh dengan apa yang ada di depan
mataku. Gadis itu adalah Naela dan dia bersama Ustadz Bashori. “Ada urusan apa Naela
dengan beliau.” Aku terus bertanya-tanya dalam hatiku.
“Ada keluarga yang sakit ustadz?” Tanyaku heran.
“Nggak. Kebetulan lagi nggak ada kesibukan. Keponakanku ngajak ke rumah
sakit. Katanya mau menjenguk temannya. Tadi sudah mutar-muter di dalam. Kata
205
penjaganya, pasien yang dimaksud baru saja keluar. Dan ternyata Naela melihat kalian
masih di sini.” Jelas ustadz Bashori ramah.
“Keponakan! Siapa keponakan beliau?!” Aku masih berpikir heran.
“Kamu kapan bisa mengajar lagi Fajar. Anak-anak sudah kangen?” Ustadz
Bashori menanyaiku.
“Maafkan saya ustadz. Untuk beberapa hari ini, saya masih minta ijin. Lagi fokus
dengan skripsi”
“Itu keponakan Ustadz?” Tanyaku karena masih heran.
“Kalau iya kenapa?” Beliau malah balik bertanya.
“Heran saja ustadz. Karena saya tidak pernah melihatnya di rumah ustadz. Dan
ustadz pun tidak pernah cerita.”
“Dia memang jarang ke rumah. Ibu bapaknya tinggal di Bekasi. Kalau main
kerumahku paling waktu liburan saja.”
Rasa-rasanya beliau tidak tertarik dengan pertanyaanku tentang Naela. Aku ingin
bertanya lebih jauh, tapi kuurungkan saja. Nggak enak rasanya. Aku jadi teringat akan
kisah cintaku. Apakah beliau tahu? Semoga saja tidak. Mungkin Naela juga tidak
pernah bercerita tentang hal itu. Baguslah kalau memang begitu. Jadi nggak banyak
yang tahu tentang kisah cintaku yang sempat membuat pilu hatiku.
Ternyata gadis yang pernah aku cintai adalah keponakan dari seseorang yang
sudah begitu aku kenal kepribadiannya. Orang yang sudah banyak membantu diriku.
Orang yang sudah terlalu baik padaku. Kenapa dik Alya tak pernah cerita soal ini.
Padahal dia selalu bercerita banyak tentang Naela, tapi tak pernah menyangkut ustadz
Bashori. Aku sendiri tak pernah melihat batang hidungnya ketika sedang berkunjung ke
rumah beliau.
Kulihat Naela memandangi kami berdua. Lalu dia mendekat kearah adikku. Dia
bersalaman lalu berbincang dengannya. Ketika dia berbicara dengan adikku aku sempat
mengarahkan sorot mataku ke wajahnya. Cantik dan merona. Ada getar cinta lagi di
hatiku.
“Ah, tidak. Aku harus melupakannya. Masalah cinta harus kupendam rapat-rapat.”
Batinku.
Ustadz Bashori mendekati keluarga Cintya. Beliau bersalaman dengan om Taufik.
Dik Alya memandangiku. Tatapan matanya menasehatiku. Mungkin memintaku untuk
206
tidak memikirkan Naela. Lalu Cintya juga ikut-ikutan menatapku dengan tatapan mata
yang aku sendiri tidak tahu artinya. Bukan benci, bukan marah, karena dia masih
tersenyum manis kearahku.
Hatiku masih merasakan getar cinta yang dulu ada. Aku sendiri heran. Bila aku
ingin ketemu Naela secara sengaja pasti tak bisa, namun ketika tanpa sengaja malah bisa
ketemu dengannya. Apa yang terjadi andai ustadz Bashori tahu bila aku pernah menaruh
hati pada keponakannya itu.
Naela melihat kearahku dan menganggukkan kepalanya. Dia tampak bersikap
biasa saja. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa denganku. Padahal aku merasa ada getar
bahagia ketika dekat dengannya. Aku pun membalas anggukan kepalanya dengan
bahasa tubuh yang sama. Tak kusangka, ternyata dia mau menyapaku.
“Bagaimana kabarnya?” Sapanya lembut.
Hatiku bergetar.
“Ee.... alhamdulillah baik.” Jawabku singkat.
“Bagaimana sekripsinya?”
“Masih dalam proses.”
Ummiku langsung mengajak tante Linda masuk ke mobil. Langit terlihat akan
segera meneteskan air matanya. Sebelum masuk mobil, Naela kembali memeluk Cintya.
Aku mendengar Cintya meminta doa pada Naela. Dia mengiyakan. Om taufik siap
menggenjot mobilnya. Ummi, dik Alya, tante Linda, dan Cintya pulang bersama. Aku
tidak ikut bersama mereka. Karena mobil sudah penuh. Dalam sekejab mobil itu tak
tampak oleh mata. Langit hampir menangis. Matanya semakin sendu. Lalu lintas di
jalan masih ramai. Setengah jam lagi kumandang adzan maghrib akan menggema di
seantero kota.
“Kamu mau ke mana Fajar?” Tanya ustadz Bashori.
“Langsung pulang Ustadz.”
“Kenapa nggak ikut bareng mereka.” Sahut Naela.
“Kamu lihat sendiri mobilnya sudah penuh.”
“Kalau begitu ikut mobil kami saja. Kami cuma berdua. Lagian sebentar lagi
hujan.” Ustadz Bashori menawariku.
“Terima kasih tawarannya Ustadz. Saya naik bus kota saja.” Ucapku menolak.
207
Seandainya beliau tidak bersama keponakannya, pasti aku mengiyakan ajakannya.
Tapi kehadiran Naelalah yang mencegahku untuk tidak mengikuti ajakan ustadz
Bashori. Aku merasa tidak enak berada dalam satu mobil dengan cewek yang pernah
aku cintai itu.
“Ayolah Fajar, jangan menolak niat baik seseorang. Aku sudah mengenalmu. Apa
yang kamu sungkan dariku.” Beliau memaksaku untuk mengikutinya.
Aku hanya tersenyum menanggapi paksaan ustadz Bashori. Kalau memang beliau
memaksa, apa boleh buat. Soal Naela tak usah dipikirkan.
“Turutilah pamanku Fajar. Kita mau ke Ciputat. Jalan kita searah.” Ujar Naela
meyakinkanku.
Aku tersenyum lagi mendengar ucapan Naela. Aku merasa malu ada di
hadapannya. Kenapa begitu? Padahal dia bersikap biasa-biasa saja. Itulah sifatku yang
selalu malu menghadai seorang wanita.
***
Usai shalat maghrib di Masjid rumah sakit, kami langsung pulang. Aku duduk di
depan dengan ustadz Bashori. Naela duduk di belakang sendiri. Aku memandangi wajah
Naela dari kaca sepion yang ada di depan. Cantik dan anggun. Ada sehelai rambutnya
yang keluar dari jilbab merah mudanya. Aku jadi terpikir lagi tentang dirinya. Berada
satu mobil dengannya. Tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ini bukan keinginan
hatiku, akan tetapi suatu kebetulan. Tadi aku sudah menolak ajakan mereka berdua, tapi
terus dipaksa. Akhirnya aku ikut juga. Andaikan cinta yang pernah aku rasa akan hadir
lagi lewat pertemuan ini, aku tak tahu harus bagaimana. Semoga saja tidak. Aku tak
ingin menderita lagi gara-gara cinta. Let’s everything past. Yang dulu biarlah berlalu.
Tak perlu diungkap lagi permasalahan itu.
Air mata langit mulai menetes sedikit demi sedikit. Di depan, alat pembersih kaca
mobil bergerak ke kanan-kiri untuk menyingkirkan rintik-rintik air yang jatuh. Aku
melihat mulut Naela komat-kamit membaca sesuatu. Mungkin masih membaca
beberapa dzikirnya yang belum selesai. Sungguh mulia pribadinya. Sungguh sholehah
dirinya. Dalam keadaan bagaimanapun dan di mana pun selalu berdzikir dengan
lisannya. Seperti mesin yang otomatis geraknya. Selalu saja mengucapkan dzikir di hati
pada Sang Kuasa.
208
Tak kusangka gadis cantik ini adalah keponakan ustadz Bashori. Cantik seperti
bidadari surga yang selalu memuji Tuhannya. Dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.
Kapan dan di mana pun dia berada. Kalau tidak dengan mulutnya cukup dengan
hatinya. Mengagungkan ciptaan Tuhan dengan memikirkan apa yang ada di
sekelilingnya. Di waktu pagi, malam, maupun siang. Dalam keadaan duduk, berdiri
maupun terbaring. Mereka tak kenal lelah memuji Tuhannya. Sebagaimana malaikat
yang selalu setia dengan perintah Tuhannya.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata); “Ya Tuhan
kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, Maka
peliharalah kami dari siksa neraka.33”
Dalam hatiku ada keinginan untuk berbincang dengan Naela. Tapi aku tak berani.
Selama lima belas menit diperjalanan kami semua terdiam. Menelusuri jalan ibu kota di
tengah-tengah gerimis langit. Naela terlihat masih sibuk dengan bacaan dzikirnya. Dia
bersandar di kursi mobil seperti orang yang kelelahan. Ustadz Bashori mengendarai
mobil dengan pelan. Pemandangan di jalan dipenuhi dengan mobil-mobil yang
merayap. Semua kendaraan berjalan dengan pelan.
Pikiranku sendiri melayang ke mana-mana. Semuanya masuk ke dalam otakku.
Penuh sekali. Memikirkan setiap mobil yang ada di sekelilingku. Begitu padat.
Memikirkan hujan yang masih belum reda. Memikirkan keadaan di dalam mobil.
Kenapa kami tak saling menyapa? Pikiran yang paling aneh adalah kenapa aku bisa
berada dalam satu mobil dengan Naela? Kenapa aku tak berani untuk menyapa? Padahal
dia ada di dekatku. Dahulu, aku selalu punya keinginan untuk bisa selalu dekat dan
saling menyapa dengan Naela. Tapi sekarang ini, ketika aku sudah berada di dekatnya
malah tak berani. Perasaan apa ini?
“Kita makan dulu Paman.” Kelembutan suara Naela memecah keheningan di
dalam mobil.
“Iya.” Jawab ustadz Bashori singkat.
“Kamu mau Fajar?” Lanjutnya menanyaiku.
33
QS. Ali-Imran: 190-191.
209
Sebelum menjawab aku tersenyum ke arah beliau.
“Kamu ini bagaimana, di tanya malah senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan.....”
Belum sempat beliau meneruskan kalimatnya, ada suara lantunan al-Qur’an dari
HPnya. Lalu beliau berbicara sendiri.
“Di jalan. Dengan Naela. Insya Allah.”
Pembicaraan selesai. Beliau memasukkan HPnya ke dalam saku. Mungkin yang
menelfon adalah istri beliau. Istri yang sangat perhatian. Seperti itulah yang aku kenal
selama ini. Begitu baik dan ramah dengan setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya.
Aku sering terkesan dengan makanan yang disajikan oleh istri beliau saat berkunjung ke
rumahnya.
Menanyakan keadaan suami mungkin bagian dari bentuk perhatian seorang istri
yang baik. Dengan perhatian kecil seperti tadi, mungkin bisa membuat hati suami akan
merasa senang. Selalu menjalin komunikasi di mana pun mereka berada dan kapan pun
waktunya. Semakin banyak perhatian yang diberikan akan semakin harmonis hubungan
antara keduanya. Andaikan semua istri di dunia ini seperti Bu Kholida mungkin tidak
akan ada perceraian yang marak terjadi seperti sekarang ini.
“Kita berhenti di restoran depan paman.” Suara Naela kebali mengalun.
Ustadz Bashori seperti supir pribadi Naela saja. Selalu mengikuti apa kata
keponakannya. Sepertinya beliau sangat memanjakan Naela. Apakah memang begitu
beliau memperlakukan keponakannya? Naela juga terlihat seenaknya sendiri meminta
pamannya. Aku tidak tahu. Karena baru malam ini, aku mengetahui kalau Naela adalah
keponakan beliau. Aku tak tahu bagaimana pergaulan mereka sehari-harinya.
“Kamu ikut saja ya Fajar.” Kata ustadz Bashori.
“Baik ustadz.”
Ustadz Bashori membelokkan mobilnya dan menaruh di tempat parkir yang
tersedia. Di depan sebuah restoran kecil nan sederhana. Kami masuk dan langsung
duduk.
“Mau makan apa Fajar?” Ustadz Bashori menawariku.
“Apa saja ustadz asal halal.”
Naela melihat daftar menu yang disodorkan oleh pelayan resto, begitu juga ustadz
Bashori.
“Yang ini satu mbak. Terus ini dan ini.” Pesannya.
210
Aku melihat pemandangan aneh di dalam resto ini. Para pelayannya berbalut
jilbab. Aku heran dan baru sekarang ini menyaksikan ada sebuah resto yang pelayannya
berbalut jilbab. Bagus dan perlu di contoh oleh resto yang lain.
“Skripsimu bagaimana Fajar?” Ustadz Bashori menanyaiku lagi.
“Alhamdulillah ustadz. Insya Allah bulan september nanti akan wisuda. Doanya
saja ustadz.”
“Kapan bisa mengajar anak-anak lagi?”
“Insya Allah setelah sekripsinya beres.”
Di tengah perbincangan kami sang pelayan datang dengan membawa makanan
dan minuman. Kami berhenti berbicara. Lalu menikmati makanan yang ada. Salah satu
adab ketika makan adalah tidak berbicara sewaktu sedang menyantap makanan.
***
Dari restoran kami langsung pulang. Kami seperti satu keluarga baru. Rasa malu
pada Naela sejak dari rumah sakit, agak sedikit berkurang. Di restoran ada keakraban
yang menyeruak antara aku dan Naela. Kami bercakap-cakap panjang lebar. Ustadz
Bashori bertanya pada kami berdua.
“Oh ya, kalian satu kampus ya? Sudah saling kenal?”
“Sudah ustadz.” Jawabanku bersamaan dengan Naela. Pandangan kami pun
bertemu.
Aku dan Naela tidak menyinggung masalah yang pernah terjadi antara aku dan
dirinya. Ustadz Bashori juga bercerita tentang masa lalunya. Tentang awal pertemuan
dengan istrinya. Istri beliau adalah muridnya ketika masih di pondok. Beliau secara
diam-diam mencintainya. Setelah keluar kemudian diajak menikah. Satu pertanyaan
dari beliau yang membuatku kaget adalah “kalau selesai kuliah kamu punya rencana
nikah tidak?” Kontan saja aku tersentak mendengar pertanyaan itu. Naela yang
mendengar juga kaget. Aku tak menjawab dan hanya tersenyum. Lalu mengalihkan
perbincangan ke hal lain.
Di restoran itu aku bisa akrab dengan Naela. Aku terbawa dengan keramahan
ucapan-ucapan ustadz Bashori saat ngobrol bertiga. Anggapanku terhadap sifat Naela
yang begitu cuek dan tak peduli ternyata salah. Di restoran ini, Naela memperlihatkan
sifat yang ramah, akrab, menghargai orang lain. Pokoknya welcome banget. Kami
211
sempat berbincang berdua ketika ustadz Bashori meninggalkan kami saat beliau
bertemu dengan teman lamanya di resto itu.
“Boleh tanya sesuatu nggak?” Sapaku pada Naela.
“Kenapa nggak. Malu bertanya sesat di jalan. Sahutnya tersenyum.
“Tanya apa?” Lanjutnya.
“Masalah yang pernah menimpa kita dulu.” Ucapku agak ragu.
“Kenapa?”
“Maaf, kalau waktu itu aku terlalu lancang padamu. Aku seperti anak kecil
mengungkapkan perasaan itu. Sekarang jadi malu sendiri kalau mengingatnya.”
“Menurutku itu biasa dan wajar saja. Aku malah senang kalau ada orang selalu
terus terang. Memendam perasaan itu tidak baik. Bisa jadi penyakit. Misal saja marah.
Rasa marah kalau selalu dipendam dan terus menumpuk dalam hati itu juga tidak baik.
Suatu saat kemarahan itu bisa meledak. Itu berbahaya. Lebih baik marahnya di
keluarkan, akan tetapi jangan sampai menimbulkan perpecahan dan perkelahian.
Mungkin dengan mencurahkannya pada orang lain. Mencari sebab-sebabnya kenapa dia
marah.”
“Begitu juga dengan cinta. Cinta kalau di pendam juga tidak baik. Lebih baik
diungkapkan saja. Diterima atau nggak, itu urusan belakang. Banyak orang yang secara
diam-diam mencintai orang lain. Tidak berani mengungkapkan perasaannya. Akhirnya
bisa menyebabkan depresi dan setres berat, ketika tahu bahwa orang yang dicintai sudah
menjadi milik orang lain. Bahkan bisa nekad bunuh diri. Itu bahaya. Menurutku jalan
terbaik adalah bermusyawarah. Membicarakan segala masalah yang terjadi kepada
orang lain yang dianggap paling di percaya. Itu jauh lebih bagus dari pada hanya
memendam sendiri berlarut-larut. Apa yang pernah kamu lakukan padaku itu nggak
salah. Aku justru salut dengan bahasamu. Sepertinya kamu bisa jadi penulis besar.”
Naela memujiku.
“Dari mana kau tahu hal itu?” Tanyaku.
“Adikmu pernah cerita.”
Obrolan kami berhenti ketika melihat ustadz Bashori sudah kembali. Sebenarnya
aku ingin menanyakan tentang bagaimana perasaannya saat ini. Apakah ada perasaan
cinta kepadaku atau tidak. Tapi sayang, ustadz Bashori keburu datang. Dialog kami
berlanjut di mobil dalam perjalanan pulang.
212
“Pertanyaanku tadi belum di jawab Fajar.” Ustadz Bashori menagih jawabanku.
“Pertanyaan yang mana ustadz?”
“Pernikahan!”
“Yah, ustadz. Kayaknya nggak ada yang mau dengan saya. Saya pernah mencintai
seorang wanita sekali saja, tapi langsung ditolak. Setelah itu tak berani lagi untuk
mendekati wanita. Takut ditolak dan sakit hati.”
“O ya! Masa, kok nggak pernah cerita.”
“Malu Ustadz.”
“Kenapa harus malu Fajar. Jangan pernah malu untuk urusan yang benar.
Mencintai wanita kemudian mengajaknya menikah, itu bukan hal yang salah. Malah
justru di perintahkan dalam Islam. Tapi ingat! Jangan mencintai wanita lalu mengajak
pacaran. Itu yang dilarang. Pacaran itu bukan cinta. Itu hanya nafsu belaka. Sembilan
puluh persen remaja Islam telah terjebak dalam urusan pacaran. Masalah yang paling
mendasar adalah karena mereka tidak tahu ajaran Islam yang sesungguhnya. Meski
mereka mengaku Islam, tapi hanya kenal Islam sebatas kulitnya saja. Atau mungkin
tahu, tapi tidak mau menjalankannya. Ini yang bahaya. Karena sudah tahu, tapi tidak
mau menjalankan. Makanya saya selalu melarang Naela untuk urusan yang satu ini.
Kalau sekedar berteman di dalam kampus, dalam organisasi, itu tak apa-apa. Tapi kalau
sudah pacaran, jalan bareng, berduaan di tempat sepi. Kencan ke sana-kemari, itu tidak
akan aku relakan. Pacaran itu hanya akan menjurus pada kemaksiatan. Dan kemaksiatan
akan selalu menyengsarakan orang.” Jelas ustadz Bashori.
“Iya paman, Naela juga sudah nurut.” Sahut Naela dengan wajah cemberut.
Aku tidak habis pikir. Bagaimana kalau beliau tahu bahwa orang yang aku cintai
adalah keponakannya sendiri.
“Siapa wanita itu Fajar?” Tanya ustadz Bashori.
Aku diam dan terpikir sejenak. Apakah harus kuceritakan masalahku. Aku tak
berani. “Sekarang sudah tidak ustadz. Biarlah Allah yang akan memilihkan dan
mengirim bidadari padaku nanti.” Jawabku diplomatis.
Mobil terus melaju dengan pelan. Jam delapan tepat sampai di terminal lebak
bulus. Lurus ke selatan menelusuri jalan Ciputat Raya. Sampai di depan kampus UMJ
jalan tergenang air. Sepertinya hujan di sini begitu lebat. Sampai di depan kampus UIN
mobil berhenti.
213
“Mau di antar sampai rumah atau di sini Fajar?” Ustadz Bashori menanyaiku.
“Turun di sini saja ustadz, biar nanti jalan kaki.” Balasku.
“Apa nggak sekalian sampai depan rumah, di luar masih gerimis Fajar.” Naela
mencegahku turun.
“Tak apa Nel. Aku jalan kaki saja. Terima kasih sudah diajak makan.” Elakku.
Aku turun. Sebelum turun, aku menyalami ustadz Bashori. Kemudian
menganggukkan kepala ke arah Naela. Dia membalas dengan senyuman yang sangat
manis sekali. Ini pertama kali aku melihat dia tersenyum manis di hadapanku langsung
dari wajah aslinya. Lebih manis dari senyum yang ada di fotonya.
“Assalamualaikum ustadz.” Kataku sambil membuka pintu mobil.
Keluar dari mobil, air mata langit langsung menyentuh pipiku. Tes. Satu, dua dan
seterusnya. Tidak terlalu deras, hanya rintik-rintik saja. Dari jauh kulihat wajah Naela
tampak remang-remang di dalam mobil. Tampak kecantikan dan kelembutannya. Aku
menelusuri gang cinta menuju rumah. Ditemani rintik air yang jatuh dari cakrawala.
Menyirami bumi Jakarta. Terasa segar, sesegar bunga yang baru merekah
menampakkan keelokan warnanya. Dalam rintik hujan aku bersenandung.
Hujan....
Tahukah engkau
Bila hati ini
Dirundung cinta?
Cinta yang dulu
Meneteskan air mata
Tapi kini,,,
Ada rintik bahagia
Ataukah justru
Engkau tak tahu
Apa itu rindu
Dan cinta....?!
***
214
Sampai di rumah ummi dan dik Alya ada di depan televisi.
“Sampai jam segini baru sampai rumah, ke mana saja habis dari rumah sakit?”
Tanya ummiku memperhatikan.
“Fajar tidak ke mana-mana Um. Tadi pulang bareng sama Ustadz Bashori. Fajar
sudah menolaknya, tapi terus dipaksa. Kemudian diajak mampir ke restoran, jadi sampai
rumah jam segini.” Jelasku.
Ummi bisa memaklumi. Itulah bentuk perhatian ummiku. Telat pulang sedikit saja
pasti akan ditanya dari mana dan ke mana saja. Aku bangga punya Ibu yang selalu
perhatian.
“Tadi bareng Naela ya Kak?” Cetus dik Alya.
“Memang kenapa?”
“Cinta lama bersemi kembali. Ketemu sang pujaan hati. Benarkan Kak!” Ujarnya
menggodaku. Aku sudah tak heran dengan sikapnya. Kalau diladeni akan terus menjadi.
“Fajar ke kamar dulu Um.” Lanjutku meminta ijin pada ummi. Melangkah menuju
kamar. Sampai di samping dik Alya, kucubit tangannya dengan keras karena kesal. Dia
langsung menjerit.
“Kak Fajar! Sakit tau’!” Suaranya keras seperti bom meledak. Aku lari ke kamar
sambil berkata “siapa suruh berbuat usil.”
“Awas kamu Kak!” Dia berteriak lagi.
Dari kamar aku mendengar suara dik Alya berkata begitu. Tak kuhiraukan.
Kuambil air wudlu. Aku belum shalat Isyak. Usai shalat aku terlentang di kasur. Aku
memikirkan apa yang baru saja kualami malam ini. Bertemu dengan Naela sangatlah
berkesan di hati. Seakan menumbuhkan sisa-sisa cinta yang masih ada dalam dada.
Mungkinkah cinta itu akan kembali menghampiriku? Hanya waktu yang bisa menjawab
semua itu.
***
215
21
CERITA UMMI
Dua minggu telah berlalu saat Cintya pulang dari rumah sakit. Setelah sembuh,
dia sangat jarang berkunjung ke rumahku. Mengirim pesan pun tak pernah. Dia masih
belum kuliah.
“Cintya sudah lama nggak main ke sini ya Um? Atau mungkin kecewa dengan
kita. Sampai sekarang dia juga belum masuk kuliah. Di sms nggak pernah di balas.
Terang dik Alya pada ummi.
“Alya ingin kerumahnya Um.” Lanjutnya.
“Kalau begitu kamu ke rumahnya saja.” Balas ummiku.
“Teman-teman kelas banyak yang bertanya padaku. Naela juga.”
“Lalu apa jawaban kamu?”
“Karena Alya tidak tahu, ya diam saja Um.”
Aku mendengar omongan dik Alya dari dalam kamar saat sedang merevisi
sekripsi. Aku langsung keluar.
“Kita kerumah Cintya yuk Kak.” Ajak dik Alya.
“Aku lagi nulis Dik.”
“Yah kakak. Antar Alya sebentar saja. Please!”
“Aku mau ngetik sekripsi. Dik Alya bisa sendiri.”
“Ini sudah malam Kak.”
“Nggak apa-apa. Baru juga jam tuju. Siapa tahu Cintya lagi butuh dik Alya. Nanti
bisa bercerita sama dik Alya.” Saranku.
“Kalau begitu Alya pergi kerumah Cintya dulu um.” Katanya sambil nyelonong
keluar.
“Aku tunggu ceritanya Dik.” Teriakku.
Tak ada jawaban. Dik Alya sudah menghilang kesamping rumah. Komputer
masih aku biarkan hidup di kamar. Nanti saja aku teruskan mengetiknya. Aku ingin
ngobrol dengan ummi sambil menunggu dik Alya datang membawa kabar tentang
Cintya.
“Ummi pernah nggak jatuh cinta?” Tiba-tiba mulutku seperti ada yang menyetir
untuk mengeluarkan pertanyaan itu. Ummi tersenyum.
216
“Fajar serius Um. Jangan senyam-senyum. Pernah nggak ummi jatuh cinta? Atau
mungkin cerita cinta Ummi sama ayah dulu.”
Senyum ummi sesaat menghilang ketika mendengar kata ayah yang keluar dari
bibirku. Aku segera teringat kisah perceraian ummi. Aku sudah terlalu sering bertanya
tentang hal itu, tapi tidak pernah mendapat jawaban dari ummi secara pasti sampai detik
ini juga. Kalimat “lupakan saja dan lupakan saja” yang selalu aku dapat dari ummi
ketika bertanya tentang ayah. Meski aku terus mendesaknya, ummi tetap saja tak mau
bercerita tentang hal yang sebenarnya terjadi.
Ini kesempatan yang tepat untuk menanyakan hal itu lagi. Biar aku tahu jelas
permasalahannya. Biar aku tidak mengalami hal yang sama seperti ummi. Biar aku tidak
bercerai ketika nanti sudah punya istri. Karena belajar dari kasus yang dialami oleh
beliau. Dari cerita itu, aku bisa mendapat banyak ilmu dan bisa mengambil pelajaran
supaya mampu menjaga diri untuk tidak menceraikan istri.
Iya. Bagus. Ini kesempatanku. Jangan sampai ummi mengatakan “lupakan saja”.
Nggak ada alasan lagi untuk tidak menjelaskannya. Aku sudah dewasa. Aku berhak tahu
akan hal itu. Aku akan bilang ke ummi “bagaimana kalau nanti Fajar bercerai dengan
istrinya”. Mungkin dengan berkata seperti itu ummi akan mau membuka kisahnya.
Bagaimana pun juga beliau pasti tidak akan rela kalau anak-anaknya mengalami hal
yang sama seperti dirinya.
“Um, Fajar boleh tanya sesuatu nggak?” Tanyaku pelan sambil mendekati beliau
dan memegang tangannya. Ummi malah melongok. Heran. Ada apa denganku. Beliau
menatapku dengan wajah keheranan.
“Kamu ini kenapa, seperti bukan anak Ummi saja?” Ucapnya datar degan
pandangan mata yang tetap menuju kearahku.
“Tentang....” Aku sedikit ragu dengan ucapanku.
“Tentang apa? Cinta. Kamu sedang jatuh cinta lagi.” sahut ummi.
“Bukan Um, tapi tentang...”
“Cintya!” Potong ummi.
“Ayah Um!” Kataku lirih.
Ummi langsung terdiam dan memandangiku lekat-lekat.
“Iya Um, ayah. Aku ingin tahu tentang ayah yang sebenarnya. Apa masalahnya
sampai beliau tega meninggalkan kita semua. Apa salah ummi pada beliau? Apa ummi
217
tidak mentaati beliau sehingga beliau marah dan menceraikan ummi?” Lanjutku
mendesak ummi agar mau bercerita.
Ummi tetap diam dan tak mau menjawab. Seolah tak ada ucapan yang keluar dari
mulutku. Sementara dik Alya belum juga kembali dari rumah sahabatnya. Mungkin
mereka berdua sedang asyik bercerita tentang sesuatu. Atau mungkin saja sedang
membicarakanku. Nanti akan kutanyakan sama dik Alya. Aku merasa nggak enak kalau
harus ikut dik Alya ke rumah Cintya. Itu semua karena cinta. Cinta memang telah
membungkam mulut Cintya sehingga sulit untuk bicara dan mengungkapkan satu rasa
yang tersimpan dalam dada.
“Ayolah Um. Ummi cerita sama Fajar. Kenapa Ummi harus terus
menyembunyikan hal ini. Aku sudah dewasa Um. Aku ini pengganti ayah dan aku harus
tahu tentang beliau. Ummi nggak ingin kan kalau anak-anak ummi nanti mengalami
nasib yang serupa dengan Ummi.” Paksaku pada ummi seperti layaknya anak kecil yang
sedang menangis meminta es krim.
“Ummi sudah sering bilang, nggak usah mengingat hal itu. Lupakan saja.” Ucap
ummi seperti biasanya.
“Pasti ummi ngomong begitu. Fajar bosan mendengarnya. Mengapa ummi masih
juga nggak mau terus terang padaku. Memangnya Fajar ini bukan anak ummi? Ummi
nggak sayang sama Fajar? Kenapa harus disembunyikan Um? Fajar merasa seperti
orang lain yang bukan bagian dari keluarga ummi. Atau mungkin memang benar begitu
Um? Fajar ini siapa? Bukan anak kandung Ummi ya?!” Kalimatku seperti orang yang
tak sadar. Begitu menyala-nyala. Ada sebuah kemarahan yang menyulut hatiku.
Mungkin tanpa kusadari kata-kataku telah menusuk-nusuk jantung ummi.
Kalimatku keluar begitu saja. Tensiku naik. Aku terlihat marah sama ummi.
Mataku merah. Ada cairan yang akan mengalir. Aku merasa dianggap tak pantas
mengetahui dan mendengarkan satu masalah yang masih ada hubungannya dengan
diriku sendiri. Aku merasa seperti bukan anak kandung ummi. Aku merasa diriku
adalah orang lain yang bukan berasal dari rahim ummi yang selama ini selalu
menyayangiku dan mendidikku.
“Benar tidak kalau Fajar ini anak Ummi? Kenapa Ummi nggak mau cerita sama
Fajar? Kenapa Ummi terus menyembunyikannya? Kenapa Ummi selalu bilang lupakan
saja? Kenapa Um, kenapa?! Apa yang terjadi sebenarnya??”
218
Mataku berkaca-kaca. Suaraku sedikit terisak. Kesedihan membelenggu diriku.
Aku terus memaksa ummi agar mau menceritakan hal yang sebenarnya. Ummi tetap
biasa saja, tapi terlihat sedang memikirkan sesuatu. Lalu mendekatiku dan memelukku.
Kami berdua dalam pelukan. Aku meneteskan air mata dipangkuan ummi. Pelukan
ummi semakin erat. Suasana haru dan syahdu. Hening, diam, dan membisu. Tak ada
suara yang keluar dari kami berdua. Hanya suara tangis yang berusaha aku tahan sekuat-
kuatnya.
Diluar sana suara deru mobil menggema. Suara klakson saling bertautan satu
dengan yang lainnya. Wajah cakrawala tidak muram seperti hari kemarin. Ia terlihat
lebih cerah dengan sinar bintangnya yang mungil-mungil. Indah sekali. Keindahan itu
yang seolah menghibur hati kami saat ini. Ia menyapa dengan sinarnya dan seakan
membisikkan kata damai di hati kami. Tidak ada yang menandingi keindahan ciptaan
tuhan itu. Lampu-lampu yang berjajar di jalanan pun tampak indah dan gemerlap.
Namun keindahannya tak seberapa bila dibanding dengan kerlap-kerlip jutaan bintang
di langit sana. Elok dan sedap dipandang mata. Dialah Allah yang kuasa menciptakan
benda langit yang bersinar itu. Menjadi penghias malam dan pemandangan alam
semesta. Anggun dan keanggunan itu tidak akan pernah bisa ditandingi oleh buatan
tangan manusia.
Tubuhku masih dalam dekapan Ummi. Ada kehangatan dan kasih sayang yang
tercipta di antara kami. Tangisku sedikit reda.
“Maafkan ummi Fajar. Kamu tetap anak ummi yang paling aku cinta dan sayangi.
Begitu juga adikmu. Kalian semua anak kandung ummi yang dianugerahkan Allah
lewat rahim ummi. Kalian semua anak yang lahir dari hubungan halal dan diridloi.
Jangan pernah lagi mengatakan seperti ucapanmu tadi. Jaga omongan kamu dari kata-
kata jelek seperti tadi. Ummi nggak pernah mengajarkan bicara yang jelek dan tak
sopan seperti tadi. Yang ummi ajarkan adalah kehalusan tutur bahasa. Bukan omongan
kasar seperti yang baru kamu katakan. Kamu itu satu-satunya harapan ummi. Nggak ada
yang lain. Ayahmu sudah pergi meningalkan kita. Siapa yang akan menjaga Alya bila
ummi nanti tiada. Ummi selalu berharap dan berdoa agar kalian semua menjadi anak
yang kelak bisa mengalirkan pahala ketika ummi tiada. Menjadi anak yang sholeh dan
sholehah yang selalu berdoa untuk kedua orang tuanya.”
219
Suara ummi begitu halus dan langsung menyentuh hatiku. Meredakan
kejengkelanku. Menurunkan tensiku. Tutur katanya merasuk ke dalam urat syarafku.
Menciptakan kesejukan di hati dan kedamaian dalam jiwa raga ini. Aku seperti baru saja
mendengarkan Lukman Hakim yang sedang menasehati anaknya. Aku merasa beliau
masuk kedalam jiwa ummi lalu menasehati diriku dengan penuh kelembutan. Di mana
pun kelembutan selalu membawa kedamaian.
Oh ummi,
Untaian halus kata-katamu selalu mengalir lewat bibirmu. Ramahnya tegur
sapamu membawa kesejukan dalam hatiku. Kau laksana mutiara yang selalu
menebarkan cahaya. Kau bak intan permata yang kilaunya mampu menembus jiwa
raga.
Oh ummi,
Kau halus kurasa, lembut di jiwa, ramah di mata, damai dan selalu menebar
pesona. Kau santun dalam bertutur kata dan mampu mengalirkan butiran-butiran
bahagia.
Aku kembali terisak dalam dekapan ummi. Tak mampu berkata karena terharu
dengan kehalusan tutur kata sang bunda.
“Maafkan Fajar Um.” Ucapku.
“Lupakan semua itu. Yang perlu kau ingat adalah bahwa ummi sangat sayang
dengan kalian berdua. Nanti akan aku ceritakan semua, bila Alya sudah pulang. Supaya
kalian tahu siapa sebenarnya sosok ayahmu. Agar kelak bila kalian sudah berumah
tangga tidak mengalami hal yang sama seperti ummi.”
Dari teras rumah ada suara kaki berjalan. Dengan perlahan semakin mendekati
pintu. Dan gerendel pintu pun terbuka.
“Assalamualaikum. I’m coming.” Suara keras dik Alya memecah keheningan
antara aku dan ummi. Di mataku masih ada sisa air mata. Dik Alya terhenti langkahnya.
Ia menatapku heran. Aku segera mengusap sisa air mataku.
“Kak...! Kak Fajar kenapa?” Herannya.
“Kenapa menangis? Apa yang baru saja terjadi Um?” Lanjutnya pelan.
“Kenapa Um? Ada masalah apa?” Lanjutnya lagi.
Aku diam. Lalu ummi angkat bicara.
“Kamu ke sini sayang, duduk di samping ummi!” Kata ummi.
220
Dik Alya melangkah dengan wajah keheranan. Dia tetap memandangiku sambil
berjalan ke arah ummi.
“Kak Fajar kenapa Um?!” Tanyanya. Sepertinya dik Alya sudah tak sabar untuk
mengetahui apa yang baru saja terjadi.
“Jangan-jangan memikirkan cewek lagi. Jatuh cinta lagi.” Cetus dik Alya.
“Sudahlah kamu dengarkan saja, sekarang ummi mau cerita.
“Cerita apa Um?” Dik Alya memotong kalimat ummi.
“Kamu di suruh diam malah tanya terus.” Sahut ummi halus.
“Iya ummi, Alya diam, titik.”
“Ini tentang ayahmu.”
“Terus...” Dik Alya kembali memotong pembicaraan ummi.
Ummi geleng-geleng kepala menyaksikan anak perempuannya tidak
mengindahkan ucapannya. Kemudian beliau diam saja sambil memandangi dik Alya.
“Yah ummi, ayo Um teruskan. Kami siap mendengarkan.” Dik Alya terus
nyerocos.
“Sudah ngomongnya?!”
“Sudah um.” Dik Alya tersipu malu.
“Sebenarnya ayah kalian adalah sosok yang baik dan perhatian. Sebelum menikah
ummi tak pernah pacaran dengan beliau. Karena ummi anti pacaran. Pacaran hanya
akan merugikan seorang wanita. Kekekmu yang telah mempertemukan ummi dan
ayahmu. Beliau langsung menawari ummi menikah. Karena ummi tahu bahwa kakekmu
pasti sudah memilihkan laki-laki terbaik. Ummi pun langsung mau menerima. Ummi
sudah menanyakan bagaimana sifat dan perilakunya. Kakekmu bilang baik, sopan dan
rajin shalat. Ia berasal dari keluarga yang ekonominya berada. Pokoknya kekekmu
bilang dia adalah orang yang taat dalam agama. Karena ummi dulu memang ingin
menikah dengan orang yang taat agama, makanya ummi nurut saja sama kakekmu.
Sampai punya anak satu yaitu kamu Fajar, ayahmu tetap sayang dan perhatian sama
ummi.”
Aku dan dik Alya mendengarkan cerita ummi dengan seksama. Dik Alya
bersandar di badan ummi seperti anak kecil. Ummi terus menceritakan apa adanya.
“Ketika kamu baru berumur tiga tahun, ummi sudah mengandung lagi. Perhatian
ayahmu saat itu masih besar pada ummi. Ketika kandungan ummi semakin membesar,
221
sikap ayahmu sedikit berubah. Padahal ummi selalu menyambut ayahmu setiap pulang
dari kerjanya dengan perhatian yang lebih. Semakin lama ummi merasa ada yang aneh
dengan sikap ayahmu. Ummi mencoba untuk menanyakan hal itu secara baik-baik, tapi
ayahmu pura-pura tidak tahu. Akhirnya ummi membicarakan masalah itu pada
kakekmu. Selidik punya selidik ternyata ayahmu suka dengan wanita lain. Setiap aku
tanya dia hanya diam saja. Beliau ingin mengakui, tapi mungkin malu. Ketika
kandungan ummi menginjak tuju bulan setengah ayahmu mengatakan satu hal yang
membuat ummi kaget bukan main.”
“Apa itu Um?” Tanya dik Alya penuh selidik. Sementara aku hanya
mendengarkan dengan seksama apa yang keluar dari mulut ummi.
“Ayahmu ingin memadu ummi. Ia ingin menikahi wanita yang masih teman
kerjanya. Kata kakekmu wanita itu cantik dan kaya. Ummi tidak tahu dari mana
kakekmu tahu akan hal itu. Terus terang ummi tidak mau dimadu. Namun kelihatannya
ayahmu bingung dengan keputusan yang diambil sendiri. Sebenarnya ayahmu tidak
ingin menceraikan ummi, tapi wanita itu yang menyuruhnya untuk meninggalkan ummi.
Yang aku heran adalah ayahmu. Sikap setianya yang selalu terlihat akhirnya pudar gara-
gara wanita itu. Sepertinya ayahmu telah terperdaya dengan wanita itu dan terpaksa dia
meniggalkan kalian berdua dan ummi. Ummi sangat kecewa dan menyesal. Sebelum dia
pergi ummi selalu menasehati dan melarangnya, namun sepertinya hawa nafsu telah
menutup akal sehatnya.”
“Mungkin seperti itu lah yang ummi pikir. Ayahmu menikah karena kecantikan
dan harta wanita. Sedangkan waktu itu, ummi termasuk orang yang ekonominya rendah.
Kakek dan nenekmu belum kaya seperti sekarang ini. Masih bekerja sebagai buruh
sawah karena belum mempunyai sawah sendiri.”
“Walaupun ummi kecewa, namun ummi tak mau larut dalam kekecewaan dan
kemarahan. Ummi harus memikirkan kandungan ummi yang sudah tua dan sebentar lagi
akan melahirkan. Ummi tak ingin kandungannya terganggu. Ummi hanya bisa mengadu
pada Allah semata. Curhat sama Allah yang kuasa. Ayahmu yang tadinya bersikap
sopan dan menghargai orang lain berubah menjadi orang yang tak berperasaan. Teganya
dia meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil tuju bulan. Teganya dia melecehkan
seorang perempuan yang tidak bersalah apa-apa. Ummi hampir saja tak kuasa
menanggung beban itu. Melahirkan Alya tanpa seorang ayah. Mendidik dan
222
membesarkan kalian berdua tanpa ayah. Ummi rasanya frustasi. Mengapa ummi dulu
mau menikah dengan laki-laki pilihan kakekmu.”
“Kakek dan nenekmulah yang selalu membimbing ummi. Beliau selau menasehati
ummi dengan kata-kata yang selalu menggetarkan hati ummi. Kakekmu sendiri tidak
pernah marah dalam mengahadapi masalah yang terjadi. Karena kemarahan tidak akan
bisa menyelesaikan masalah. Sikap kakekmu begitu bijaksana. Dia menyerahkan semua
permasalahan pada Allah. Mungkin seperti itulah yang telah ditulis Allah dalam
kitabnya. Biarlah laki-laki itu yang akan menanggung semua perbuatannya.”
“Ummi segera sadar dan beralih haluan. Ummi harus mencurahkan perhatian pada
kandungan ummi. Kalau ummi terus menerus memikirkan masalah ummi, kasihan
kandungan ummi. Ummi selalu termotivasi oleh nasehat-nasehat bijak dari kakek dan
nenekmu. Keluarga ummi memang keluarga yang kecil dan miskin. Sedangkan keluarga
ayahmu adalah kaya. Orang yang kaya selalu bisa melakukan apa saja sesuai yang di
kehendakinya.”
“Sejak saat itu pula ummi selalu belajar dari permasalahan yang terjadi. Belajar
dari nasehat kakekmu yang sungguh sangat bijaksana. Selalu mengajarkan kesopanan
pada anak cucunya. Mengajarkan keramahan pada semua orang. Tidak pandang bulu
apakah dia pernah bersikap ramah pada kita atau tidak. Pernah berbuat baik pada kita
atau tidak. Pernah membantu kita atau tidak. Kakekmu tidak pernah memandang semua
itu. Beliau selalu menebar keramahan dan bersikap baik dan sopan. Meski ayahmu telah
menyakiti ummi, tapi kakekmu bilang, “semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Kita
tidak usah membalasnya dengan ikut menyakiti. Biarlah Allah yang akan membalas
semua yang telah dilakukannya.” Akhlak ini persis dengan akhlak Rasulullah ketika
beliau di dholimi oleh orang kafir Makkah. Beliau diludahi, dilempari kotoran hewan
unta. Meski demikian beliau tidak pernah marah. Malah sebaliknya. Mendoakan orang
yang telah berbuat dholim padanya. Menjenguk mereka pada waktu sakit. Itulah ahklak
yang sangat mulia yang harus ditiru oleh umat manusia sedunia termasuk kalian
berdua.”
“Dari situ ummi mendapat pelajaran yang sangat berharga, sehingga ummi
mampu mendidik anak-anak ummi seperti sekarang ini. Ummi selalu meniru kakekmu
dalam menghadapi berbagai masalah. Semoga kalian kelak bisa bersikap seperti beliau.
223
Dan mengajarkannya pada anak-anak kalian semua. Agar dunia ini akan dihuni oleh
manusia yang berahklak mulia karena didikan orang tuanya yang mulia.”
“Satu bulan berikutnya Alya lahir ke dunia. Alhamdulillah sehat. Nenekmu yang
selalu membantu ummi mengurus dan merawat Alya. Mengajarkan kasih sayang dan
kesopanan mulai sejak dini. Waktu itu ummi merasa hampa tanpa ayahmu. Rasanya
ingin mati saja karena tak kuat menanggung malu. Nenekmu mengingatkan ummi akan
kisah Maryam ketika mengandung bayi Nabi Isa tanpa seorang ayah. Ummi langsung
membesarkan hati dengan mengingat kisah wanita suci itu.
“Maryam berkata, bagaimana aku akan punya anak laki-laki padahal tak
seorangpun menyentuhku. Dan aku bukanlah seorang pezina. Jibril berkata,
demikianlah Tuhanmu berfirman. Hal itu adalah mudah bagi-Ku agar kami
menajadikan suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami. Dan itu adalah
suatu perkara yang telah di putuskan. Maka Maryam mengandungnya. Lalu
menyisihkan diri ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan, memaksanya
(bersandar) pada pohon kurma. Ia berkata, aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum
ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti lagi dilupakan. Maka Jibril menyerunya
dari tempat yang rendah, janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Tuhanmu telah
menjadikan anak sungai di bawahmu.34”
Ummi ingin seperti bunda Maryam. Sosok wanita yang mulia dan suci. Semoga
kelak bisa bertemu beliau di dalam surga. Saat mengandung, ummi juga selalu
membaca surat Maryam dengan harapan agar anak-anak ummi kelak mempunyai sifat
yang mulia seperti beliau.”
“Dari masalah ummi ada pelajaran bagi kalian semua. Dan juga bagi manusia di
jagad raya. Hadapilah semua masalah dengan bijaksana. Jangan ada kemarahan di
dalamnya. Seberat apapun dan serumit apapun pasti ada jalan keluarnya. Setiap orang
yang bertakwa pada Allah pasti akan dibuatkan jalan keluar untuknya. Jika ayahmu
telah menyakiti dengan meninggalkan ummi dan kalian, tentulah kita masih punya
Allah yang akan selalu bersama kita semua dan akan kekal kasih sayangnya. Kasih
sayang itu akan selalu dicurahkan pada hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa.
Rahmat dan kasih sayang-Nya akan selalu turun pada kita semua, karena sifat Allah
adalah ar-Rohman dan ar-Rohim. Sifat itu akan abadi di sisi-Nya. Tidak seperti manusia
34
QS. Maryam: 20-24.
224
yang banyak tidak sadar akan dirinya sendiri. Sekarang mengatakan cinta, tapi besoknya
benci. Bilang benci tapi sayang. Bilang cinta sampai mati, tapi malah menghianati.
Itulah sifat manusia.”
“Aku ingin kalian semua menjadi anak ummi yang selalu mencintai Allah.
Menyayangi Allah. Sehingga kalian juga akan dicintai dan diperhatikan Allah.
Mencintai Allah itu tidak hanya sekedar bilang cinta. Namun juga harus dibuktikan
dengan tindakan nyata. Selalu menjalankan perintahnya. Mengajak pada kebaikan dan
meninggalkan segala kemaksiatan. Kalau bilang cinta, tapi masih malas dalam
menjalankan perintah-Nya, itu namanya bohong belaka.”
“Letakkanlah cinta kalian pada Allah dan Rasulnya di atas cinta pada segenap
manusia. Dengan begitu, kita bisa merasakan manisnya iman. Jangan pernah meniru
sikap ayahmu. Tapi jangan pula kalian dendam padanya. Balaslah kejelekan itu dengan
kebaikan. Dan doakan agar sifat jeleknya hilang dan berubah menjadi sifat yang mulia.
Dengan bersikap begitu, kita bisa menciptakan dunia yang damai dan penuh dengan
kebaikan dan selamat dari siksaan.”
Ummi seperti penyiar radio yang terus berbicara sendiri tanpa ada potongan.
Kami seolah tenggelam dengan cerita dan nasehatnya yang begitu mendalam. Kata-kata
ummi bagai sihir yang menghipnotis para pendengarnya, sehingga kami tak berani
menyela sedikit pun. Ummi seperti penyiar televisi yang terus bercerita pada para
pemirsanya. Tanpa ada halangan apapun.
Dik Alya mendekap di tubuh ummi. Seperti anak kecil yang ketakutan. Tangan
ummi mengelus jilbabnya. Matanya tak berkedip sama sekali. Tatapan matanya kosong.
Mungkin pikirannya sedang melayang keangkasa mendengar apa yang baru saja di
ceritkan oleh ummi. Mungkin sedang membayangkan, andaikan dirinya mengalami
nasib yang sama seperti ummi. Apakah dia mampu menghadapinya? Hamil tua lalu di
ceraikan oleh suaminya! Astagfirullah! Alangkah kejamnya laki-laki itu! Betapa tak
punya hati nurani laki-laki itu! Bukankah menceraikan wanita dalam keadaan hamil
atau heid adalah haram bagi suami.
Mungkin dik Alya sedang merasakan kejadian hebat dalam hatinya. Kemudian
dengan perlahan air bening memenuhi mata indahnya. Tes...! Setitik demi setitik air
bening itu mengalir ke pipi lesungnya lalu jatuh ke jarinya. Tangan kanannya bergerak
225
lalu mengusap air mata dengan jilbabnya. Ummi memandangi lalu ikut mengusap
pipinya yang basah. Dekapan dik Alya semakin erat. Betapa sedihnya dik Alya.
“Menangislah Nak di pangkuan Ummi. Ummi sayang sama kamu. Ummi tak
ingin kehilangan kalian berdua.”
Suara ummi yang keluar menjadikan dik Alya semakin terisak. Aku ikut
merasakan kesedihan dik Alya. Namun juga bahagia atas ketabahan ummi. Begitu
kuatnya ummi. Begitu tabahnya ummi. Aku tak bisa membayangkan seandainya ummi
pada waktu itu akan mengakhiri hidupnya. Sekarang banyak ibu-ibu yang membunuh
anaknya sendiri. Gara-gara masalah yang ada dalam keluarga. Masalah ekonomi dan
lain sebagainya. Bagaimana kalau saat itu ummi menghabisi nyawanya sendiri dan juga
kandungannya. Mungkin aku tak punya adik seperti dik Alya. Dan aku akan hidup
sebatang kara karena ummi tiada.
Ternyata Allah masih mencurahkan kasih sayangnya pada diriku. Allah masih
menghendaki ummi hidup dan membesarkan anak-anaknya. Allah tak ingin menjadikan
ummi wanita tercela karena bunuh diri. Allah masih menjaga ummi lewat nasehat-
nasehat dari kakekku dan juga ayat-ayat yang ada dalam al-Qur’an.seperti surat
Maryam.
Sungguh al-Qur’an telah memberi pelajaran yang sangat berguna bagi manusia.
Manusia yang mau menggunakan akal sehat dan hati nuraninya. Berjuta ayat telah di
tunjukkan oleh Allah di dunia. Baik ayat qouliyyah (ada dalam al-Quran) maupun ayat
kauniyyah (berupa alam semesta, kejadian manusia, dan masih banyak lagi). Manusia
yang hatinya hidup pastilah bisa dan mau mengambil pelajaran itu. Akan tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kebanyakan manusia tidak mau berpikir tentang
hal ini. Kebanyakan manusia tidak mau mengambil pelajaran itu. Dan kebanyakan
manusia melalaikan hal itu.
Kini tampaklah kasih sayang Allah dalam keluargaku. Ummi dan dik Alya masih
diberi umur panjang. Keluarga kami masih utuh sampai sekarang. Andaikan Allah tidak
menurunkan kasih sayang pada kami, tentulah aku tidak bisa merasakan kebahagiaan
dalam keluargaku. Andaikan ummi tidak mencurahkan kasih dan cintanya pada kami
berdua, tentulah kami akan bercerai berai. Tak ada keharmonisan rumah tangga.
Sungguh, keutuhan keluargaku adalah nikmat yang besar dari tuhanku. Kasih sayang
yang tercipta dalam keluarga adalah rahmat dan anugerah dari Allah Yang Maha
226
Mencintai. Andaikan kita menghitung nikmat Allah yang telah diberikan, niscaya tak
kan mampu menentukan banyaknya. Karena sudah terlalu banyak nikmat Allah yang di
berikan pada manusia.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.
Dan bagi orang-orang yang takut saat menghadap tuhannya ada dua surga.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.
Kedua surga itu mempunyai pohon-pohon dan buah-buahan.”35
Mengingat itu semua, aku ikut meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan,
tapi air mata bahagia atas utuhnya keluarga. Betapa agungnya nikmat Allah. Betapa
banyaknya kasih sayang Allah. Dalam hati aku terus berdoa supaya kasih sayang yang
telah diberikan pada keluargaku tidak hilang dan tetap untuk selamanaya. “...Ya
Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu. Yang telah engkau
anugerahkan padaku dan kedua orang tuaku. Dan untuk mengerjakan amal shaleh
yang engkau ridloi. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan
hamba-hamba-Mu yang shaleh.36”
Aku berdoa dengan doa yang pernah di ucapkan oleh Nabi Sulaiman atas nikmat
yang telah di berikan padanya. Yaitu berupa kekayaan yang sangat melimpah. Istana
yang megah. Menjadi raja. Bisa menundukkan jin, angin, bisa berbicara dengan
binatang. Semut, burung hud-hud. Semua itu nikmat yang sangat besar yang telah di
anugerahkan pada beliau. Nikmat yang sudah terlalu amat banyak. Nikmat yang tak
mungkin bisa di kalkulasi oleh otak manusia.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.
Tiada balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula.37”
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.
Maha agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia.38
***
35
QS. Ar-Rahman: 45-48.
36
QS. An-Naml: 19.
37
QS. Ar-Rahman: 59-60.
38
QS. Ar-Rahman: 77-78.
227
22
SEBUAH HARAPAN
Senandung al-Qur’an menggema dari kantong sakuku. Satu tanda masuknya
pesan di HPku. Nada dering itu terdengar lebih sejuk di telinga. Memang, aku lebih
memilih nada dering berupa lantunan al-Qur’an dari pada lagu-lagu lainnya. Lebih enak
di dengar dan menentramkan jiwa. Kubuka dan kubaca.
“Kak, kalau nggak ada kesibukan tolong jemput Alya. Aku tunggu di lantai dasar
Fakultas kedokteran.”
Aku membalas.
“Ada perlu apa minta di jemput segala?”
Lima menit kemudian.
“Pokoknya penting, please!”
Biasanya kalau dalam keadaan bete dan banyak masalah dik Alya pasti minta di
jemput. Terkadang aku juga di marah-marahi kalau tidak mau mengikuti perintahnya.
Kebetulan, aku baru saja dari gedung akademik pusat untuk mengurus nilai. Sebentar
lagi wisuda, maka nilaiku harus sudah beres semua mulai dari semester satu. Kalau
tidak, aku tak bisa mengikuti sidang skripsi. Salah satu persyaratan sidang adalah daftar
nilai sudah lengkap semua.
Dari gedung akademik aku langsung menuju ke tempat yang di maksud dik Alya.
Di depan gedung akademik aku melihat kerumunan para mahasiswi. Tidak tahu sedang
apa mereka. Sementara di halaman Student Center (SC) ada stand buku yang berjajar.
Hanya beberapa mahasiswa saja yang sedang melihat-lihat buku di stand itu. Mungkin
tak begitu lengkap koleksi bukunya sehingga hanya sedikit yang berniat membeli buku.
Atau mungkin mereka malah sekedar melihat-lihat saja.
Mahasiswa memang sering mendirikan stand buku di halaman SC. Meski
tempatnya kecil, tapi memang itulah usaha mereka untuk menambah pemasukan. Paling
tidak cukup untuk makan seharian. Di saat sulit seperti sekarang ini banyak ide-ide
kreatif yang muncul dari otak-otak mahasiswa. Menjual buku di halaman kampus.
Menjual mie ayam, bakso, nasi goreng. Ikut bekerja di kantin kampus, di Mc donald’s
dan lain-lain. Menjual makanan dipinggir jalan yang ada di samping kampus. Bukan
jalan raya, sehingga tidak memacetkan kendaraan yang lewat. Banyak juga para
228
pedagang kaki lima yang berjajar menjual aneka ragam makanan. Tempatnya memang
strategis. Terletak disebuah gang dan berada tepat di samping kampus. Gang yang
menjadi rute utama bagi para mahasiswa yang pergi dan pulang ke kampus. Penuh
dengan kost-kostan mahasiswa. Sehingga setiap hari pasti ramai oleh lalu lalang para
mahasiswa.
Setiap saat warung para PKL itu pasti ramai. Tak perlu bayar mahal. Semuanya
serba murah. Pagi, siang, malam makannya di pinggir gang itu. Mungkin para PKL
yang berjualan di situ sudah ada sejak kampus ini baru berdiri. Semoga saja tidak di
gusur-gusur oleh pemerintah setempat sebagaimana yang sudah sering terjadi. PKL
untung mahasiswa juga untung. Nggak perlu mencari tempat makan yang jauh. Hemat
uang dan tenaga. Itu semboyannya. Makan nggak perlu yang mahal dan enak. Yang
penting perut ini bisa kenyang. He…he…he..
Kalau pedagang kaki lima di dekat kampus terkena gusuran, wah, mungkin para
mahasiswa siap berperang melawan para penggusurnya. Selain menyengsarakan
penjual, juga membuat sengsara mahasiswa. Kalau nggak ada yang jual makanan di situ
repot juga. Harus makan ke mana? Enak saja main gusur-gusur. Nggak mikir apa?
Mereka dapat penghasilan dari mana? Dapat uang makan dari mana? Sudah nggak bisa
memberi kerjaan, eh yang sudah bisa kerja malah di gusur-gusur. Susah ya jadi orang
kecil. Selalu jadi tindasan!
Aku melangkah menuju Fakultas dik Alya. Fakultas kedokteran yang letaknya di
gedung paling belakang. Baru beberapa langkah, aku melihat tiga orang mahasiswi yang
berada tidak jauh dari tempat aku berdiri. Aku tidak melihat wajahnya, tapi rasanya aku
kenal dengan salah satu di antara mereka.
“Sepertinya itu dik Alya. Pakaiannya sama. Jalannya juga mirip.” Kataku dalam
hati. Dengan yakin aku mendekati mereka. Lalu dengan suara keras aku memanggilnya.
“Dik Alya! Tunggu!” Teriakku memanggilnya. Kontan saja ketiga mahasiswi itu
langsung membelokkan badan ke arahku. Dan…
Upps…..! Aku terbengong melihatnya. Aku langsung menepuk mulutku sendiri
melihat ketiga cewek itu. Ternyata aku salah orang.
Aku mengaduh dalam hati lalu kuiringi Istigfar berkali-kali. Anak yang aku
anggap dik Alya melotot ke arahku. Wajahnya tampak keheranan karena memang tak
kenal denganku.
229
“Kasihan banget, masih muda sudah pikun.” Aku mendengar salah satu di antara
mereka berbisik.
“Iya, musti pakai kaca mata kuda kali biar jelas. Sahut teman yang satunya lagi.
“Ma… maaf mbak. Sory nggak sengaja. Aku pikir adik saya.” Kataku tergagap.
Aku langsung nyelonong menjauh dari ketiga cewek tadi. Mahasiswi yang ada di
dekat mereka terlihat tersenyum mengejek setelah melihat kejadian yang menimpaku.
Dari kantong saku. Lantunan al-Qur’an berbunyi lagi. Dik Alya memanggil. Kuangkat.
“Jadi jemput Alya nggak Kak?” Nada suaranya terdengar memaksa.
“Cepat! Sudah lama kutunggu!” Lanjutnya.
“Sebentar lagi sampai cantik!” Cetusku.
Tut…tut…tut… belum selesai bicara dia sudah mematikan HPnya terlebih
dahulu. Hatiku jadi kesal. Di depan baru saja terkena sial gara-gara ketemu tiga cewek.
Eh, sekarang adiknya sendiri yang marah-marah.
“Aku ini kenapa? Selalu ada hal aneh yang menimpaku.” Aku ngomong sendiri
sabil terus berjalan. Berat rasanya melangkahkan kaki dengan cuaca yang panas. Kalau
bukan karena adikku sendiri, mugkin tak akan kuturuti.
Sampai di depan Fakultas kedokteran aku menengok ke sana kemari, mencari
wajah cewek yang kucari yaitu adikku sendiri. Ada tiga wanita yang duduk di kursi.
Aku melihat dik Alya. Dia tersenyum melihatku. Pintar sekali aktingnya. Tadi di HP
tampak marah. Sekarang senyam-senyum. Siapa yang hatinya nggak luluh melihat
senyum manis dik Alya. Aku ingin mendekat, tapi kuurungkan. Dari kejauhan aku
melambaikan tangan memanggil dik Alya. Dia tidak mau, tapi malah menyuruhku
untuk menghampirinya. Aku hanya berdiri di tempat. Aku kesal karena tiga wanita yang
aku temui di depan tadi.
“Maunya enak sendiri. Memangnya aku ini budak apa.” Hatiku menggerutu lagi.
Sudah empat kali aku menggerutu. Pertama, di gedung akademik, karena
mengurus nilai dipersulit. Kedua, saat bertemu dengan tiga cewek yang kuanggap
adikku. Ketiga, dik Alya terdengar marah-marah diHpnya. Dan sekarang ini yang
keempat. Dalam beberapa menit saja rasanya dosa sudah bertumpuk-tumpuk. Aku
beristigfar berkali-kali dalam hati. Aku tak pernah mengalami hal yang seperti ini.
Mudah sekali terperdaya oleh nafsu dan amarah. Aku tetap berdiri di tempat. Tidak
230
memperhatikan dik Alya. Kutujukan mataku kearah motor-motor mahasiswa yang di
parkir dengan rapi. Dik Alya mendekat.
“Kak, maafkan Alya. Tadi sudah marah-marah sama Kak Fajar.”
Aku diam saja. Dik Alya mendekatiku lebih dekat lagi. Tepat dihadapanku.
Namun aku sama sekali tak mau menghiraukannya.
“Alya ngaku salah Kak. Maaf ya.” Katanya lagi.
Ekpsresiku tetap sama.
“Kalau Kak Fajar marah, Alya pulang saja.”
“Terus aku ada apa aku di suruh ke sini.” Sahutku.
“Alya kan sudah minta maaf Kak! I’m sory brother. Aku memang banyak salah.
Selalu merepotkan Kak Fajar. Selalu buat jengkel. Sekali lagi Alya minta maaf. Mau
kan?” Dik Alya merengek.
“Sebenarnya ada yang ingin ketemu dengan Kak Fajar.”
“Siapa?”
“Naela.”
“Untuk apa? Apa nggak salah anak itu mau ketemu denganku.” Aku tak percaya.
“Sory Dik, aku nggak bisa. Aku nggak ingin hal yang pernah menimpaku terulang
lagi.” Tolakku.
Dengan wajah kecewa dik Alya memandangiku. Pandangan kekecewaan terus ia
perlihatkan ke arahkku. Sinar matahari ikut menyaksikan perseteruan antara kakak dan
adik. Sinarnya sudah berjalan di atas kepala manusia. Kami berteduh dibalik daun-daun
pohon. Terasa sejuk. Hembusan udara dari dedaunan itu tampak membelai-belai
rambutku. Meski cuaca panas begini, nikmat Allah selalu turun pada manusia.
Udara yang segar adalah nikmat Allah yang tak pernah bisa kita hitung
banyaknya. Dari situ kita bisa bernafas. Menghirup segarnya udara. Geratis tanpa bayar
sepeser rupiah. Coba bayangkan! Apabila Allah menjual udara pada manusia. Setiap
detik kita harus membeli untuk pernafasan. Mampukah kita melakukannya? Sudah pasti
tidak mampu.
Itulah nikmat Allah yang sangat besar. Dia menggeratiskan udara bagi manusia
untuk dihirup sepuas-puasnya. Sebanyak-banyaknya. Allah tidak pernah meminta uang.
Semua serba geratis diberikan pada manusia. Namun sesalnya manusia banyak yang
tidak bersyukur. Banyak yang ingkar padanya. Manusia memang benar-benar ingkar
231
pada nikmat-Nya. Bagaimana tidak ingkar coba. Betapa segarnya kita menghirup udara.
Betapa menyejukkan tubuh manusia. Betapa enaknya digunakan untuk bernafas. Namun
apa yang dilakukan manusia? Mencemari udara yang sejuk dengan aneka ragam polusi.
Segala jenis kendaraan beramai-ramai mengotori udara yang sejuk. Menyebarkan polusi
di mana-mana. Hingga udara yang kita hirup menjadi tercemar. Tidak bersih lagi untuk
tubuh. Tidak baik lagi untuk kesehatan. Menghirup udara terasa menyesakkan dada.
Udara yang sejuk kini berubah jadi panas. Langit yang biru berubah jadi suram. Semua
itu akibat dari ulah tangan manusia yang menciptakan pencemaran lingkungan berupa
polusi udara lewat berbagai macam kendaraan.
Pohon-pohon yang selalu setia menemani orang berteduh malah ditebang. Hutan
dibabat. Di sulap menjadi pemukiman, hotel bertingkat, perkantoran, gedung-gedung
pencakar langit. Hutan kita semakin habis karena ulah manusia. Akhirnya terjadilah
dengan apa yang di sebut Global Warming (pemanasan global).
Seperti itulah ulah tangan-tangan manusia di bumi ini. Tak bisa melestarikan
bermacam nikmat yang telah diberikan Allah, tapi malah merusaknya. Hutan di babat
habis tanpa memikirkan dampaknya. Mereka hanya mencari untungnya. Kalau ada
kerusakan tak mau bertanggung jawab. Akhirnya terjadi banjir di mana-mana. Benarlah
apa kata al-Qur’an, bahwa kerusakan-kerusakan yang ada di laut dan di darat memang
disebabkan oleh ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.
Panas matahari berusaha menerobos lewat daun-daun dan menyapa kulitku.
“Kak, kita duduk di sana saja. Di sini panas.” Ajak dik Alya memelas.
Aku memenuhi ajakannya. Di sebuah kursi panjang di lantai paling dasar kami
duduk. Di situ sudah ada Naela dan temannya. Dia tersenyum kearahku. Aku duduk di
dekat dik Alya. Tampak para mahasiswa mondar-mandir kesana kemari. Ada yang baru
mau masuk. Ada yang mau pulang karena sudah tidak ada mata kuliah. Kami diam
sejenak dan akhirnya Naela membuka pembicaraan.
“Sebelumnya aku minta maaf, karena telah menggangu waktumu. Begini Fajar,
bulan depan saya akan mengadakan sebuah acara yang menurutku sangat penting. Dan
untuk itulah aku butuh pertolonganmu. Jadi dengan segala hormat, saya berharap kamu
bisa membantu.”
Setiap kali ada di dekat Naela aku selalu merasakan getaran cinta yang sudah
hilang. Aku masih saja tak bisa bersikap biasa bila berada didekatnya.
232
“Insya Allah kalau aku mampu.” Jawabku pelan.
“Kalau boleh tahu apa acaranya, sepertinya penting banget.” Lanjutku.
Belum sempat dia menjawab pertanyaanku, sudah ada seorang mahasiswi yang
memanggil-manggil namanya.
“Mbak…! Mbak Naela..! Aku sudah muter-muter ke sana-kemari mencari mbak
lho, ternyata ada di sini tho. Ayo ikut aku mbak!” Ucap mahasiswi itu dengan wajah
girang.
Aku dan dik Alya memandangi dengan penuh keheranan.
“Memangnya ada apa?” Lirih Naela.
“Sudah, pokoknya ikut aku saja. Ini sangat penting mbak. Very penting mbak.”
Katanya dengan bahasa yang campur aduk seperti itu.
Cewek itu sama sekali tak menghiraukan kami yang ada di dekatnya. Dia
memegang tangan Naela dan langsung menggelandang dengan paksa. Naela berusaha
menolak, tapi cewek itu terus memaksa. Tubuhnya yang besar membuat Naela tak bisa
lagi menahan tarikan tangannya. Naela diperlakukan seperti tawanan polisi. Aneh
sekali. Tanpa pembicaraan yang jelas langsung main paksa. Ternyata ada juga
mahasiswi yang seperti itu.
“Tunggu May, tunggu sebentar. Aku ada sedikit urusan dengan temanku.” Ucap
Naela tegas. Dia tak mau diperlakukan seenaknya sendiri. Akhirnya cewek itu
melepaskan cengkraman tangannya.
“Ada apa? Ceritakan dulu biar jelas.” Lanjut Naela.
“Itu Nel, dosen kesayangan kamu, Prof. Dr. M. Akhlis. Kamu diminta untuk
menemuinya segera. Katanya penting banget. Cepetan, entar beliau keburu pulang. Ini
penting banget. Kalau tidak kamu bisa rugi.” Ujar cewek itu.
Aku dan dik Alya saling berpandangan melihat ekspresi aneh dari teman Naela.
Kami kira ada hal yang lebih penting dari apa yang telah di katakannya itu. Eh, ternyata
cuma di suruh menemui dosen. Bisa saja dia membuat kejutan. Sampai membuat kami
tergeleng-geleng kepala.
“Aku minta maaf ya. Nanti kita bicara lewat telfon saja. Sekali lagi aku minta
maaf, karena telah menyita waktu istirahat kalian berdua.” Ucap Naela sesal lalu
menghilang bersama temannya tadi.
“Aku bilang juga apa Dik, percuma kan aku ke sini.” Kataku pada dik Alya.
233
“Alya juga nggak tahu Kak kalau ternyata begini. Tapi benar kak, katanya Naela
ingin ngomong hal penting. Tidak tahu apa itu. Kita pulang saja kalau begitu. Kak Fajar
bawa motor kan? Alya ikut ya.”
Kami langsung melangkah pulang. Di gerbang kampus kami bertemu dengan
Cintya. Aku menghentikan motor. Dik Alya turun lalu berjabatan tangan dengan Cintya.
Aku berusaha tersenyum ke arahnya namun dia terlihat tak bersemangat.
“Mau pulang bareng kita Cin?” Ajak dik Alya.
“Kalian pulang dulu. Aku menunggu tanteku. Sebentar lagi datang.” Jawabnya
lemas.
“Eh Cin, ummi sudah kangen sama kamu, main ke rumah ya.”
“Aku juga kangen sama ummimu. Kapan-kapan saja aku ke rumah. Sekarang lagi
malas keluar.” Jawab Cintya tak bersemangat.
Aku sedang menyaksikan dua cewek yang sama cantik saling berdialog. Yang
satu terlihat ceria, namun yang satunya lagi tampak tak bersemangat. Aku jadi terpikir
akan Cintya. Sakit yang pernah menimpanya itu gara-gara diriku. Mungkin saja dia
akan terus berusaha menghindar dariku.
Dik Alya terus mengajaknya bicara. Aku hanya diam dan menyaksikan kedua
gadis cantik itu ngobrol. Cintya lebih banyak diam. Kalau dik Alya tidak tanya pasti dia
diam. Setelah beberapa saat tante Cintya datang. Kami berpisah dan pulang.
***
Usai makan siang aku menanyakan tentang Cintya pada dik Alya.
“Kenapa tadi siang Cintya kelihatan murung Dik?” Tanyaku pada dik Alya.
“Mungkin lagi capek Kak.” Jawab dik Alya datar.
“Pada saat di kelas, apakah juga seperti itu?”
“Nggak Kak.”
“Kemarin malam waktu kerumahnya, dik Alya ngobrol apa?” Tanyaku lagi.
“Oh iya Kak. Aku lupa mau ngomong soal Cintya. Katanya dia mau kembali ke
Amerika. Rencananya akhir semester nanti.”
“Apa?!” Kataku kaget mendengar ucapan dik Alya.
“Iya. Cintya mau pulang ke negaranya.”
234
“Masa’. Terus kuliahnya bagaimana?” Ucapku tak percaya.
“Ya pindah ke sana.”
“Kalau dia pulang, berarti kita akan kehilangan tetangga yang baik hati.”
“Alya juga merasa kehilangan dengan kepulangannya. Kemarin dia bilang,
seenak-enakanya hidup di negara orang lain, lebih enak hidup di negeri sendiri.
Meskipun banyak masalah yang harus dihadapi. Setelah di Amrik nanti, dia tidak akan
tinggal dengan orang tuanya. Dia akan membeli rumah sendiri. Di kawasan yang
banyak penduduk muslimahnya. Dia ingin menjadi aktifis Islam di sana.” Dik Alya
berkata panjang lebar.
“Baguslah kalau dia punya niat seperti itu. Dia pantas jadi aktifis Islam. Semoga
saja dia berhasil. Tapi alangkah lebih baiknya kalau kuliahnya di selesaikan terlebih
dahulu. Nanti kalau sudah lulus baru pindah ke sana.” Ujarku.
“Semoga Cintya sukses menyebarkan Islam di Amerika kak. Kita doakan saja.”
***
Malam berikutnya, aku merasa kehilangan mendengar cerita dik Alya akan
kepergian Cintya. Apakah dia memang betul-betul akan meninggalkan Indonesia? Aku
seolah merindukan perhatian Cintya. Keakrabannya. Diskusi tentang Islam. Jilbab. Dan
lain sebagainya. Sekarang ini dia seperti orang lain yang tidak mengenal kami. Tak
akrab dengan kami. Sudah tak mau lagi berkunjung ke rumah kami. Curhat dengan
ummi. Membantu ummi. Dia seperti asing bagi kami.
Hatiku seperti hampa meski dia belum pergi meninggalkan negeri ini. Negeri
tempatnya mengenal Islam lebih dalam. Negeri yang dia menemukan petunjuk untuk
belajar Islam lebih banyak. Kini, aku baru sadar bila perhatiannya begitu penting bagi
diriku. Perhatiannya telah menciptakan kerinduan tersendiri di hatiku. Perhatiannya
telah menumbuhkan sebuah harapan. Kenapa aku tak faham dari dulu akan maksud dan
tujuannya selalu memperhatikanku. Perhatian yang lebih sering kali menumbuhkan
cinta yang begitu besar dan kuat. Sehingga sulit untuk dilupakan. Saat aku sadar bahwa
dia mencintaiku, justru dia malah akan pergi meninggalkanku. Apakah cinta itu masih
ada di hatinya? Masih bisakah aku mendengar lagi kata cintanya?
235
Mungkin dikertas itulah ungkapan akhir dari cintanya. Sakit itulah yang membuat
cintanya pergi. Hati nuraninyalah yang telah membuang cinta di dadanya. Akal
sehatnyalah yang melarang dirinya untuk menumbuhkan cinta itu. Aku hanya bisa
berangan-angan dalam pikiranku. Aku terus berkelana dalam anganku. Tenggelam
dalam khayalanku. Dari samping rumah tiba-tiba ada suara lirih yang mengalun indah.
Milik siapa..?! Dia melantunkan lagu cinta. Terdengar sangat romantis. Nyanyian
itu seolah menyapaku. Mengajakku bernyanyi di malam sunyi. Di saat aku duduk di
teras sendiri. Berteman udara malam yang membelai-belai mesra tubuhku.
Itu adalah suara Cintya yang sedang menyanyikan lagu cintanya salah seorang
artis seksi dari negaranya. Semakin lama suaranya terdengar merdu. Merdunya
menggema di telingaku. Dia seperti tak mau kalah dengan penyanyi aslinya. Aku tahu
persis lagu yang sedang di nyanyikan itu. Sewaktu masih kecil dulu, aku suka
mengoleksi lagu-lagu berbahasa Inggris. Sebenarnya aku tak suka lagu barat, tapi aku
punya tujuan sendiri yaitu belajar bahasa Inggrisnya. Mengartikan syair-syairnya. Jadi
bukan sekedar menikmati keindahan lagunya. Karena belajar bahasa inggris lewat lagu-
lagu barat sepertinya cocok buat diriku. Kudengar suara Cintya semakin indah. Tiba-
tiba suara ummi mengagetkanku.
“Malam-malam begini ngapain di luar sendiri.”
“Menikmati angin malam Um, sejuk rasanya.”
“Apa nggak sebaiknya tidur. Sudah larut malam.”
Aku diam saja dan tak mau banyak berkata. Aku memang lagi ingin sendiri.
“Ummi tahu nggak, kalau Cintya akan pulang ke Amrik.” Kataku mengalihkan
pembicaraan.
“Belum tahu.”
“Tadi siang dik Alya ngomong, katanya Cintya akan kembali ke negaranya.”
“Kuliahnya sudah selesai?”
“Belum Um.”
“Lalu?”
“Mungkin pindah ke sana. Di Amerika kan banyak universitas yang lebih
berkualitas.”
“Bagus kalau begitu.”
“Jadi ummi senang kalau Cintya pindah.”
236
“Bukan begitu. Itu hak Cintya. Mau di Amerika, mau di Indonesia, itu terserah
dia. Hak kita apa mencegahnya.”
“Ummi benar juga. Tapi….”
“Tapi apa? Kamu nggak rela dia pulang ke negaranya.”
“Aku takut Um.”
“Takut kenapa?”
“Dia pindah ke Indonesia karena Islam. Kalau dia pindah lagi ke sana, bagaimana
nasibnya? Di sana pergaulan begitu bebas. Glamour. Dia akan mudah terombang-
ambing. Kalau dia pindah agama bagaimana? Kalau dia menikah dengan orang yang
tidak muslim bagaimana? Terus dia mengikuti agama suaminya. Itu semua yang aku
tidak rela Um.”
“Sekarang banyak sekali orang melepas agama demi cinta pada kekasihnya.
Keluar dari Islam karena kekasihnya bukan Islam. Sekarang juga banyak orang yang
menikah lintas agama. Lagi-lagi alasannya adalah cinta. Bukankah cinta Allah itu harus
di atas segala cinta. Bukankah budak wanita yang muslimah dan budak pria yang
muslim, itu jauh lebih baik dari pada wanita atau laki-laki yang bukan muslim.”
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin itu lebih baik dari pada wanita yang musyrik
walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
(laki-laki, dengan wanita-wanita yang mukmin) sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya budak (laki-laki) yang mukmin itu jauh lebih baik dari pada orang yang
musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka itu mengajak ke neraka sedangkan Allah
mengajak ke surga dan ampunan dengan izinnya. Allah menerangkan ayat-ayatnya
pada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.39”
“Ini jelas um. Apakah dengan cinta mereka akan menyekutukan dan keluar dari
agama Allah. Cinta macam apa itu? Itu lebih tepat dikatakan sebagai nafsu dan bukan
cinta. Karena cinta akan selalu tertuju pada ridlo Allah. Apa Ummi rela kalau Cintya
yang sudah seperti keluarga sendiri akan mengalami hal seperti itu? Padahal kita di sini
telah banyak menanamkan nilai-nilai Islam pada gadis cantik itu. Ummi nggak rela
kan?”
39
QS. Al-Baqarah: 221.
237
Ummi terdiam sejenak memikirkan kalimat panjangku. Aku memang sudah
merasa kehilangan dengan gadis yang dulu selalu memperhatikanku. Dia harus pergi
meninggalkan Indonesia. Aku sepertinya tak rela. Tapi apa hakku untuk melarangnya?
Dia sudah dewasa. Sudah bisa menentukan nasibnya sendiri. Untuk apa aku
mencegahnya? Mengapa aku harus memikirkan kepergiannya?
Aku merasa aneh dengan diriku. Ada perasaan yang menyapa setelah mendengar
kabar bahwa dia akan meninggalkan Indonesia. Ada rasa yang menyusup ke hati setelah
aku membaca curahan hatinya dalam kertas itu. Ada kerinduan yang merayu setelah dia
sembuh dari sakitnya. Ada hasrat untuk tetap selalu bersama. Belajar bersama. Diskusi
bersama. Itu semua datang dengan tiba-tiba setelah dik Alya bercerita bahwa sebentar
lagi dia akan hengkang dari bumi Indonesia tercinta.
Aku teringat dengan ucapan dokter yang ramah waktu di rumah sakit dulu. Dokter
yang memeriksa Cintya, “kau harus terus membimbingnya. Saya pikir kamu cocok
untuknya. Semoga Allah mempertemukanmu di dalam cinta yang diridloi.” Kata-kata
dokter itu menghiasi otakku. Benarkah gadis itu jodohku? Hanya tuhan yang tahu.
Salahkah aku bila suatu saat mengungkapkan rasa cinta dan kagumku padanya? Lalu
mengajaknya menikah. Nanti kalau ditolak bagaimana? Seperti Naela dulu. Aku akan
sakit lagi. Aku trauma. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku sudah bertekad untuk
tidak mengungkapkan kata cinta setelah aku ditolak oleh Naela. Karena aku tak ingin
lagi tersiksa oleh cinta yang fana. Ah, cinta lagi, cinta lagi.
Tapi apa salahnya berusaha. Usaha untuk mencari jodoh. Sekedar mengucap kata
cinta padanya. Kalau dia mau, ya langsung menikah. Nggak usah berpacaran. Itu tak
ada dalam kamus pribadiku. Lebih baik pacaran sesudah menikah. Di jamin halal
seratus persen. Dua ratus persen deh. Suer. Nanti kalau dia tidak mau ya sudah. Berarti
bukan jodohku.
Ini tidak salah. Apa salahnya usaha. Manusia itu hanya bisa berusaha, Allah yang
menentukan. The man purpose the god disposes. Mumpung Cintya belum pergi
meninggalkan negeri ini. Semoga cintanya masih ada seperti dulu. Tapi bagaimana
caranya? Aku tak bisa kalau harus mengungkapkan secara langsung di hadapannya.
Mungkin bisa lewat ummi atau dik Alya. Apapun hasilnya serahkan semua pada Allah.
Terus berdoa pada Allah biar diberi kemudahan dalam berbagai hal. Karena hanya
Allahlah yang maha mengabulkan dan memenuhi doa hambanya. Terus berdoa jangan
238
sampai ada rasa bosan. Kalau belum dikabulkan terus saja berdoa. Kalau masih belum
terkabulkan juga, jangan berhenti berdoa. Karena Allah justru benci dengan hambanya
yang tidak mau meminta dan berdoa. Tapi sebaliknya, Allah akan senang apabila kita
selalu berdoa dan meminta. Kalau doa kita belum terkabulkan di dunia, kelak di akherat
akan kita jumpai. Ini pasti. Karena janji Allah pasti benar. “Dan apabila hamba-hamb-
Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah) bahwasanya aku adalah dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon pada-Ku. Maka
hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.40”
Hatiku terus berkelit dan berdebat sendiri. Memikirkan perasaan dalam hati yang
selalu silih berganti. Berubah-ubah dari waktu ke waktu.
“Kita berdoa saja pada Allah, semoga keimanan dalam hati Cintya tidak hilang.
Cintya masuk Islam atas petunjuk Allah, semoga Allah selalu memberi petunjuk
padanya. Menunjukkam ke jalan yang benar dan di ridloi. Menjaga kesucian dirinya.
Hanya doa yang bisa kita lakukan untuknya bila dia memang jadi pulang ke Amerika.
Semoga dia menjadi wanita muslimah yang mampu berjuang di Amerika. Mengajak
orang-orang untuk masuk Islam dengan kelembutan sikapnya. Pasti dia mampu
berperan banyak untuk negaranya. Orang Islam di sana akan semakin banyak dan
akhirya menjadi negara Islam. Kalau Amerika menjadi negara Islam, kita sendiri yang
untung.” Ucap ummi yakin.
Mendengar kalimat ummi yang terakhir, aku jadi teringat gurauanku yang dulu
pernah aku ucapkan pada Cintya. “Aku ingin melanjutkan kuliah di Amerika. Lalu
menikah di sana. Tidak usah pulang ke Indonesia. Ummi dan dik Alya kuajak tinggal di
sana. Berjuang bersama menyebarkan Islam. Kalau perlu presiden Amerika aku ajak
masuk Islam. Kalau presiden Amerika Islam, tidak akan ada lagi penyerangan terhadap
negara-negara Islam seperti Irak, Palestina, Afganistan dll.”
Aku tertawa dalam hati mengingat gurauanku itu. Bisakah aku melakukun hal itu?
Apakah mungkin Amerika menjadi negara Islam? Tapi apa yang tak mungkin di dunia
ini? Segalanya pasti mungkin. Tak ada yang tak mungkin dengan bantuan Allah. Anak
petani saja bisa jadi presiden. Presiden kita yang ke dua. Presiden palestina, almarhum
Yasir Arafat. Mereka mereka semua adalah petani. Nabi besar kita dulunya siapa?
40
QS. Al-Baqarah: 186.
239
Beliau adalah pengembala kambing. Namun dengan izin Allah diangkatlah beliau
menjadi manusia paling mulia di dunia. Beliau mampu merubah masyarakat jahiliyah
menjadi masyarakat Islam yang gilang-gemilang. Segalanya itu mudah bagi Allah.
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata,
jadilah! Maka terjadilah ia. 41 ” Andaikan Allah berkehendak menjadikan Amerika
menjadi negara muslim pasti terjadi. Segalanya mudah bagi-Nya.
Memang benar apa kata ummi. Kalau Amerika jadi negara Islam kita juga yang
untung. Karena dia pasti akan membela negara-negara yang mayoritas penduduknya
muslim. Dan tak ada lagi negara Islam yang akan menjadi sasaran rudalnya.
“Aku tetap merasa ada sesuatu yang hilang dengan kepergian Cintya Um.” Kataku
lagi.
“Kamu seperti anak kecil saja. Dahulu ketika Cintya mencintaimu,
memperhatikanmu, kamu tidak menyadarinya. Sekarang ketika dia mau kembali ke
negaranya kamu merasa kehilangan.”
“Entahlah Um, sekarang aku baru merasa akan perhatian yang dulu diberikan oleh
Cintya. Sekarang dia tidak lagi bersikap seperti itu. Itu yang membuat diriku merasa
hampa. Dia yang dahulu sering membantu Ummi, sekarang sudah tidak lagi. Sering
belajar dengan dik Alya, sekarang juga nggak. Sering minta tolong, sekarang nggak.
Dia telah menjauh dari kita. Meninggalkan rumah kita. Kita tak tahu apa yang akan di
perbuat olehnya.”
Mulutku terus berbicara tanpa henti. Seperti air mengalir dari sumbernya. Kalimat
demi kalimat keluar begitu saja. Tanpa aku pikirkan. Seperti ada yang menyetirnya.
“Kalau ngomong itu hati-hati. Belum tentu apa yang kamu katakan sekarang
benar adanya. Jangan asal bicara. Pikirkan terlebih dahulu. Ummi tak pernah mengajari
kamu seperti itu. Jangan pernah bicara seperti itu lagi di depan ummi. Ummi nggak suka
mendengar pembicaraan kamu yang seperti itu. Cintya itu gadis yang baik. Hati dan
pikirannya pasti baik. Belum tentu dia berpikiran seperti apa yang kamu pikirkan. Kamu
jangan berpikir yang nggak-nggak. Dia baru sembuh dari sakitnya. Mungkin belum
begitu sehat. Dia butuh istirahat yang banyak. Menenangkan pikiran dan jiwanya.
Kejiwaan seseorang akan sulit sembuh bila tidak ada yang mendampingi terus menerus.
41
QS. Yasin: 82.
240
Memberikan semangat padanya. Sama seperti kamu dulu saat mencintai Naela.”
Nasehat ummi panjang lebar.
Aku tersipu malu mendengar cibiran ummi. Aku sama sekali tak bermaksud
berpikiran jelek pada Cintya. Hanya saja aku merasakan kekecewaan yang mendalam
pada diriku sendiri karena tak mau peduli dengan orang lain yang telah memberi
perhatian padaku. Aku marah pada diriku sendiri. Aku malu pada diriku sendiri. Tak
seharusnya aku bersikap seperti itu. Tak seharusnya aku mengabaikan perhatian yang di
berikan Cintya.
Angin malam mebelai-belai kami berdua. Hatiku masih berkelana tentang Cintya.
Suaranya yang mengalun indah sudah tiada. Sunyi. Hanya deru mobil di jalan yang
masih tampak ramai. Lampu-lampu jalan nun jauh di sana terlihat berkelap-kelip seolah
menyapa diriku.
“Kamu jangan berpikiran negatif tentang Cintya. Mulai sekarang jangan lagi
memelihara pikiran yang negatif. Gantilah dengan pikiran dan perasaan yang positif,
maka segalanya akan ikut positif. Alangkah baiknya kalau kamu ikut membantu
memulihkan jiwannya. Itu lebih bagus dari pada harus berpikiran yang nggak-nggak
tentang dirinya. Sudah malam Ummi mau tidur.”
“Aku ingin cerita sesuatu pada Ummi.” Lirihku sambil memegang tangan ummi
yang akan beranjak masuk.
“Cerita apa lagi? Besok pagi saja, ummi sudah ngantuk.”
“Sekarang saja Um. Besok malah lupa. Begini Um. Cintya pernah mencintaiku,
jadi maksudku….” Aku menghentikan ucapanku.
“Aku ingin membalas cintanya. Siapa tahu dia masih mencintaiku.” Kataku pelan
sambil menundukkan kepala.
“Nak, kalau bertindak jangan gegabah. Jadi orang jangan tergesa-gesa. Ingat!
Tergesa-gesa datangnya dari setan. Kalau memutuskan sesuatu dipikir secara matang.
Dengan bermusyawarah. Kalau perlu shalat Istikhoroh. Meminta petunjuk sama Allah.
Nanti kalau sudah yakin baru diputuskan. Ummi sudah ngantuk mau tidur dulu. Kamu
tidur sana. Nggak baik bergadang sampai larut malam.”
Setelah menasehatiku dengan halus, ummi langsung masuk. Ummi benar. Jangan
tergesa-gesa memutuskan sesuatu. Jangan gegabah. Bisa jadi apa yang aku rasakan itu
241
hanya nafsu. Harus dipikirakan lebih dalam lagi biar hasilnya bisa memuaskan hati.
Mendapatkan ridlo ilahi. Amin.
***
Menjelang tidur HPku menjerit. Lantunan ayat al-Qur’an melengking menambah
kesejukan hati. Satu panggilan masuk dari nomor yang tidak aku kenal. Cantik
nomornya. Sepertinya aku pernah melihat nomor ini. Kuangkat.
“Assalamualaikum. Halo siapa ya?” Sapaku pada orang yang ada di jauh sana.
“Ini Fajar?” Dia malah balik bertanya.
“Iya. Ini siapa?” Tanyaku lagi.
“Keponakan ustadz Bashori.”
Aku langsung teringat satu nama.
“Naela ya, ada apa malam-malam begini telfon?”
“Aku cuma ingin bilang, kamu di minta paman untuk menemuinya. Kalau ada
waktu luang tolong temui segera. Katanya penting.”
“Kemarin katanya mau minta tolong sama saya, memang ada perlu apa?”
“Oo itu, sebenarnya juga ingin bicara soal ini, tapi nggak jadi.”
“Katanya mau mengadakan acara penting.”
“Acaranya aku tunda karena ada hal mendadak yang harus aku kerjakan. Sory
kalau kemarin mengganggu waktumu.”
“Oo, tak apa. Sama-sama.”
“Jangan lupa ya. Segera temui beliau. Aku takut dimarahi kalau kamu nggak
segera menemuinya. Soalnya ini amanah dari beliau. Sory kalau mengganggu tidurmu.
Assalamualaikum. Selamat tidur. Semoga mimpi indah.”
“Wa’alaikum salam.” Klik. Mati.
Aku langsung teringat ucapan ustadz Bashori sewaktu ketemu di rumah sakit.
Sudah lama aku tak mengajar di LKI. Anak-anak sudah kangen padaku. Kemarin beliau
telfon dan memintaku untuk berkunjung ke rumahnya. Tapi maklum aku suka kelupaan.
Kegiatan kecil kalau tidak aku tulis dalam kalenderku pasti banyak lupanya. Apalagi
pikiranku sedang disibukkkan dengan permasalahan Cintya. Jadi ingatnya Cintya terus.
Minggu depan rencananya aku ingin kembali mengajar. Beliau juga memintaku untuk
242
menterjemah buku lagi. Katanya bukunya tebal. Harus siap tenaga dan pikiran. Tapi
aneh. Kenapa harus lewat Naela bila hanya menyuruhku untuk menerjemah buku.
Kenapa tidak langsung menelfonku. Jalan pikiran orang memang beda-beda.
Sebelum tidur, aku ingin mengetahui keadaan Cintya. Semoga dia belum tidur.
Mulai sekarang aku ingin memperhatikannya. Kupencet nomor Cintya. Tidak diangkat.
Kuulangi lagi. Diangkat.
“Assalamualaikum.”
Suara halusnya mendahuluiku memberi salam. Kujawab dengan salam balik.
Kami berbincang lewat HP.
“Belum tidur?” Tanyaku basa-basi.
“Not yet.”
“Jangan lupa! Berdoalah yang banyak biar nanti mimpi indah. Baca shalawat
sebanyak-banyaknya biar bisa mimpi ketemu Rasulullah.”
“Waah, terima kasih. Doa sebaik itu semoga dikabulkan oleh Sang Pemberi
Mimpi.” Suara Cintya sepertinya mengeluarkan senyuman.
“Eh, ummi sudah kangen berat sama kamu.”
“O ya. I’m sory, I can’t visit to your home. Aku masih ingin sendiri di rumah.
Biar kesehatanku normal kembali. Apalagi tante Linda sendirian. Aku disuruh
menemaninya. Kebetulan om Taufik lagi keluar kota untuk tugas kantor.”
“Begitu ya.”
“Yap.”
“Boleh dengar suaramu nyanyi nggak.” Tanyaku sedikit bercanda.
“Ah kamu ini bisa saja. Memangnya aku penyanyi apa.”
“Tadi aku mendengar suaramu. Merdu sekali! Lebih merdu dari penyanyi
aslinya.” Ucapku memuji.
“Kamu salah dengar kali. Itu bukan suaraku.”
“Gadis yang baik memang nggak pernah mengakui kebaikannya. Dan itulah
dirimu. Good luck for you.”
Kami terus berbincang. Keceriaan mengalir dalam percakapan kami. Apa yang
ada dalam pikiranku ternyata salah. Dia tidak seperti apa yang aku bayangkan selama
ini. Cintya memang gadis yang baik. Benar-benar baik.
“Salam buat bunda Latifah. I miss her so much. Begitu juga Alya.”
243
“Baiklah, nanti saya sampaikan. Jangan lupa pesanku tadi. Berdoa dan baca
shalawat yang banyak. Itu untuk kesembuhanmu. Semoga selalu dalam lindungan
Allah.”
“Sama-sama. Kamu juga. Thank for all. Assalamualikum.”
Percakapan kami usai. Suasana malam semakin larut. Semoga perhatian Cintya
benar-benar tulus untukku. Semoga ketulusan selalu menyertainya. Aku tak mau
berharap lebih jauh lagi pada Cintya. Dia itu gadis Amerika. Sudah barang tentu punya
selera yang tinggi sekali. Aku hanya bisa berdoa. Semua hanya Allah yang menentukan.
Tidak usah berandai-andai akan hal yang indah. Jalani saja apa adanya. Dengan usaha
keras diimbangi doa pada Tuhan yang Maha Rahman dan mengasihi kita semua. Amin.
***
244
23
KEPULANGAN CINTYA
Sebelum Cintya pulang ke Amerika, aku ingin menulis surat untuknya. Sebagai
ucapan terima kasih yang tak terhingga atas segala perhatiannya. Namun, aku juga
berharap agar dia mau tetap tinggal di Indonesia. Semoga dengan suratku, dia mau tetap
berada di sini dan belajar lagi. Semoga dia mau membatalkan kepulangannya dan masih
terus tinggal di sini. Agar aku masih bisa berdiskusi dengannya. Malam ini juga aku
harus menulis surat itu. Nanti akan aku titipkan sama dik Alya. Aku tak berani
memberikan sendiri. Aku malu padanya. Karena dulu dia mencintaiku dan aku tidak
mengetahuinya.
Untuk Cintya
Gadis metropolitan
Dari Amerika
Assalamu’alaikum.
Salam takjub untukmu, semoga kau tetap berada dalam naungan cinta Allah Sang
Maha Cinta. Rasa terima kasih, kuucapkan atas segala perhatian tulusmu. Hanya
dengan ketulusanlah semua akan berjalam dengan ridlo Tuhan. Semoga perhatian dan
cinta di hatimu itu tulus. Karena ketulusan akan membawa kepuasan jiwamu. Aku salut
atas semua kebaikanmu. Dan aku selalu berharap kau bisa melakukan hal itu pada
semua orang di sekelilingmu. Aku hanya bisa berharap kepada Sang Maha Cinta agar
dia tetap menaruh ketulusan cinta di hatimu. Karena dalam ketulusan dan keikhlasan
tak ‘kan ada kesengsaraan dan kekecewaan. Satu yang jadi harapanku, semoga kau
tetap semangat untuk berjuang demi cinta pada Islammu.
Tak mudah bagimu tuk menjalankan ketulusan, karena setiap kebaikan tentulah
tersimpan beragam ujian. Namun yakinlah, bahwa dibalik ketulusan Allah selalu
membalas lebih atas semua kebaikanmu. Kebaikan selalu saja di kelilingi hal yang
membosankan oleh karena itu berat untuk dilakukan. Sedangkan kejelekan selalu saja
di kelilingi oleh kesenangan karena itu ringan untuk di kerjakan. Namun kesenangan itu
245
tentulah hal yang menipu. Dan yang membosankan itu adalah ujian bagi hati yang suka
akan kebajikan.
Ketulusan cinta di hatimu tentulah hal yang luar biasa bagi dirimu. Kau mampu
menciptakan itu karena keramahan jiwamu. Kau mampu menanamkan sesuatu yang
belum tentu orang lain bisa melakukan hal itu. Sebenarnya, ketulusan cinta juga ada
dalam hatiku. Namun tak mudah bagiku untuk mengungkapkan perasaanku. Aku
menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa aku hanyalah pemuda kampung yang
kebetulan sukses mengadu nasib di ibu kota. Aku takut bila kata cinta terucap dari
mulutku lalu kau marah dan menghinaku.
Seperti anggapan banyak orang, bahwa anak petani kere tak pantas
mengharapkan uluran cinta dari anak raja sepertimu. Pemuda kampung tak
sepantasnya menanti cinta dari gadis cantik metropolitan Amerika. Semua orang pasti
akan mencela bila ikatan cinta terjadi di antara kita berdua. Namun ternyata itu adalah
anggapan yang sama sekali salah. Aku yakin bahwa cinta tidak pernah mengenal tahta
dan harta. Orang yang mencintai karena harta itu bukanlah cinta. Orang yang merindu
karena tahta itu juga bukan cinta. Itu semua hanya nafsu belaka yang akan segera sirna
dengan lengsernya tahta dan lenyapnya harta benda.
Bagiku cinta adalah anugerah Sang Maha Cinta. Dia akan menurunkan di hati
siapa saja yang dikehendakinya. Tanpa memandang harta dan tahta. Namun yang di
pandang adalah hati yang mulia. Wanita-wanita yang baik perilakunya tentulah akan
dianugerahi laki-laki yang baik pula. Wanita-wanita yang buruk tingkah lakunya akan
dianugerahkan pada laki-laki yang sepadan dengan mereka. Karena laki-laki yang baik
hanyalah untuk wanita-wanita yang baik. Dan wanita-wanita yang baik juga hanya
untuk laki-laki yang baik. Dan wanita yang keji hanyalah untuk laki-laki yang keji, dan
laki-laki yang keji juga hanya untuk wanita yang keji.
Aku tahu bahwa di hatimu pernah ada cinta untukku. Namun sayangnya kau tak
mau mengungkapkan rasa yang telah menyiksa dirimu. Cinta di hatimu adalah
anugerah Tuhanmu. Tak sepantasnya kau kotori dan kau nodai dengan bunuh diri. Satu
yang jadi harapanku, semoga Allah masih menaruh cinta itu di hatimu. Sehingga kau
bisa berbuat baik pada semua orang dengan cinta tulusmu. Aku bingung dengan
perasaanku. Ingin mengungkapkan cintaku padamu, namun aku selalu ingat perbedaan
yang mencolok antara kita berdua. Sehingga keberanian yang ada dalam diriku lenyap
246
dan pergi. Dan sampai sekarang, aku belum mampu bercerita tentang cintaku. Meski
aku pernah mengungkapkan cinta pada orang lain. Namun aku merasa bahwa cinta itu
hanyalah nafsuku.
Andaikan cinta di hatimu telah tiada, maka cinta Allah akan menyatukan kita
semua. Andaikan kau menjauh dariku, maka cinta yang ada di hatiku jauh lebih
berharga dari pada wujudnya dirimu di sisiku. Cinta sejati tak kan pernah
mengharapkan kehadiran orang yang di cintai. Karena cinta itu sendiri lebih berharga
dari pada orangnya. Semoga di antara kita tak ‘kan ada rasa sakit dan kecewa.
Maafkan aku karena tak bisa memahami cintamu. Aku titipkan salam cinta dan
rindu yang tulus untukmu. Aku ucapkan beribu terima kasih atas perhatian lebihmu.
Semoga ketulusan selalu menyertaimu. Semoga keikhlasan akan selalu mendamaikan
jiwa sucimu. Di dunia sampai di akherat nanti. Maafkan aku yang telah menyakitimu.
Wassalamu’alaikum.
Dari
Fajar As-Syukry
Surat itu kumasukkan dalam amplop dan kuberikan pada dik Alya untuk di
berikan pada Cintya. Saat memberikannya, aku sedikit bimbang. Dik Alya bertanya
padaku tentang surat itu.
“Isinya apa Kak?”
Aku menjawab.
“Ucapan terima kasih atas semua perhatian Cintya. Semoga Cintya tidak jadi
pulang. Aku tak ingin dia pulang ke Amerika sebelum waktunya.”
“Maksud Kak Fajar apa?”
“Ya begitu Dik. Sudahlah, berikan saja surat ini pada Cintya. Nanti dik Alya juga
akan tahu sendiri isinya.”
“Baiklah kalau begitu nanti akan kuberikan. Semoga dia tidak jadi pulang.”
***
247
Akhirnya ujian akhir semester pun tiba. Para mahasiswa semakin sibuk untuk
mempersiapkannya dengan belajar. Selama dua minggu ujian berlangsung. Setelah itu
liburan selama kurang lebih satu bulan. Saat itulah mungkin Cintya akan meninggalkan
tanah ibu kota. Surat yang telah aku berikan padanya belum ada reaksi apa-apa. Jangan-
jangan dia marah. Atau tak mau peduli lagi. Atau tak butuh diriku lagi karena kecewa.
Atau surat yang kutitipkan pada dik Alya belum diberikan ke Cintya. Semoga pikiran
negatifku sirna. Harus aku buang jauh-jauh pikiran seperti ini.
Tiba-tiba dik Alya datang dari kampus dengan wajah tergesa-gesa.
“Kak Fajar, sore ini Cintya akan take off ke Amrik. Aku baru saja mendapat sms
darinya”
Aku kaget mendengar omongan dik Alya.
“Yang benar dik. Itu nggak mungkin. Dia belum pamitan sama ummi. Belum
ngomong sama kita semua. Masa’ dia akan pergi begitu saja tanpa mau memberi tahu
kita. Surat yang kemarin sudah dikasihkan ke Cintya belum?”
“Maaf Kak. Kemarin waktu Alya ke rumahnya dia nggak ada. Kata tante Linda
sedang mengurus tiket keberangkatan. Di kampus juga nggak ada. Terpaksa aku
kasihkan sama tante Linda. Tapi aku tidak tahu, apakah sudah diberikan ke Cintya atau
belum.”
“Itu dia masalahnya Dik. Kenapa malah diberikan tante Linda? Kenapa tidak
langsung pada Cintya? Pasti dia belum membacanya. Bagaimana kalau tante Linda
lupa? Atau tidak diberikan pada Cintya.”
“Maafkan Alya Kak. Itu terpaksa. Habisnya aku juga nggak bisa ketemu dengan
Cintya meski sudah bolak-balik ke rumahnya. Lagian apa hubungannnya surat itu sama
kepulangan Cintya. Seberapa pentingnya surat itu?”
“Memang tidak ada hubungannya, tapi kalau dia sudah membaca mungkin akan
mengurungkan niatnya.”
“Dia berangkat jam berapa?”
“Katanya jam empat sore. Sekarang baru jam dua. Kita masih bisa ke rumahnya.”
“Kalau begitu kita ke sana sekarang.”
Kami langsung ke rumah tante Linda. Saat ini ummi tak ada di rumah. Dia sedang
pergi ke Tangerang mengurus konveksinya. Kami hanya berdua. Sampai di rumahnya,
248
pintunya masih terbuka. Itu tandanya masih ada orang di dalamnya. Tante Linda
langsung keluar ketika melihat kami terburu-buru di depan rumahnya.
“Ada apa Fajar, kalian kelihatan tergesa-gesa begitu?!” Tanyanya.
“Cintya masih di rumah tante?” Tanyaku balik.
“Maaf, dia baru saja berangkat ke bandara sama suamiku.”
“Kenapa dia nggak mau pamitan sama kita tante.”
“Bukannya tadi sudah ke rumah kalian.” Herannya.
“Belum tante. Dia cuma nagsih tahu lewat sms saja.” Sahut dik Alya.
“Memangnya ada hal penting yang mau kalian sampaikan sama Cintya?”
Aku menenangkan diriku sejenak untuk menjelaskan maksudku ke sini. Aku ingin
menanyakan perihal surat yang diberikan sama dik Alya.
“Begini tante, tante masih ingat nggak kalau kemarin dik Alya pernah ngasih surat
ke tante?”
Tante Linda diam sejenak dan mencoba mengingat-ingatnya.
“Iya tante. Surat buat Cintya yang aku kasih kemarin.” Sahut dik Alya.
“Oh iya, maafkan tante Fajar. Tante lupa. Soalnya banyak urusan. Sehingga hal
kecil sering kali terlupakan. Sekali lagi maafkan tante.”
Aku mengerutkan kening mendengar jawaban tante Linda. “Yah, sayang.”
desisku.
“Suratnya masih ada Tante?”
“Sebentar saya cari dulu ya.”
Alhamdulillah surat itu masih utuh di tangan tante Linda.
“Kami masih bisa mengejar Cintya Tante? Sebenarnya kami nggak ingin Cintya
pulang. Kami sudah mencegahnya, tapi dia nggak mau. Kenapa tante juga nggak
mencegah Cintya. Sebagai orang yang dekat, kami merasa kehilangan dengan
kepergianya.” Ucapku panjang.
“Kami sudah melakukan seperti apa yang kamu lakukan Fajar. Tapi tetap saja. Itu
kemauan Cintya sendiri.”
“Saya ingin bicara dengan Cintya tante. Untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi
dari sini. Tante ikut kami ke bandara ya. Semoga dia belum berangkat.”
Aku langsung bergegas membawa mobil. Dengan dik Alya dan tante Linda.
Untung mobilnya tidak di bawa ummi. Aku mengendarai mobil dengan kencang.
249
“Semoga Cintya belum berangkat Tante.” Ucap dik Alya.
“Semoga saja.” Jawabnya santai.
Mobil melaju kencang. Kendaraan demi kendaraan aku lalui. Sampai di bandara
Sukarno Hatta kami turun dengan tergesa-gesa. Ketika mau masuk kami di cegah oleh
satpam. Akhirnya tidak jadi. Sudah pukul setengah empat. Cintya take off jam empat.
Semoga saja kedatanganku belum terlambat. Dik Alya melobi satpam. Saya
mendekatinya. Tante Linda juga. Kami bernego. Sekali, tidak boleh. Kami mencoba
lagi. Masih tidak boleh. Tante Linda menelfon Cintya dan memberi tahu kalau aku dan
dik Alya ada diluar sedang menunggunya. Tante Linda memintanya keluar sebentar
saja.
“Cintya....!!” Teriak dik Alya setelah melihatnya dari arah depan. Dia menengok
ke arah kami. Aku bilang sama satpam yang berjaga di depan pintu, mau ngomong
sebentar sama Cintya. Di ijinkan. Kami masuk tak jauh dari pintu. Aku ingin membuka
pembicaraan dengannya, tapi aku merasa sungkan. Dik Alya sepertinya tahu maksudku.
Dia lalu mendekati Cintya dan berbicara.
“Cin kamu nggak jadi pulang ke Amrik kan?” Ucap dik Alya pelan. Cintya diam.
Dia tampak ragu dengan tindakannya.
“Kami memintamu supaya jangan pulang ke Amrik Cin. Kita masih bisa belajar
bersama. Aku masih ingin bersahabat denganmu. Aku masih ingin menjalani hari-
hariku bersamamu Cin. Kakakku juga ingin agar kamu tidak meningggalkan Indonesia.
Kemarin dia sempat memberikan sesuatu padamu, tapi tante Linda lupa
memberikannya.”
“Aku harus pulang Al. Ini untuk kebaikanku sendiri. Aku tak ingin tersiksa di
negara orang lain.” Jawab Cintya pelan.
“Tapi Cin.....”
“Tapi apa Al, sudahlah lupakan semuanya. Aku tak ingin membahas hal itu lagi.
Aku sudah melupakan semuanya. Aku harus pergi sekarang. Para penumpang yang lain
sudah memasuki pesawat. Nanti bisa ketinggalan. Saya tetap menganggap kalian
sahabat yang baik. Terima kasih karena telah membimbing saya selama tinggal di
Indonesia. Salam buat kalian semua dan bunda Latifah. Maaf karena aku tak bisa
menemuinya.” Cintya berpaling lalu melangkah meninggalkan kami. Tante Linda dan
dik Alya hanya bisa memandangi.
250
“Cin...! Tunggu aku!” Teriakku.
Dia menoleh kearahku. Aku mendekatinya. Lalu mengambil surat yang kemarin
di bawa tante Linda.
“Terimalah.” Ucapku sambil memberikan surat itu.
“Sebelum kamu pergi tolong baca dulu isinya.” Lanjutku.
“Saya harus pergi Fajar. Thank for your attention.”
“Bacalah dulu Cintya.”
“I’m sorry. Aku bisa ditinggal pesawat Fajar. Aku akan membacanya nanti di
pesawat. Thank you so much.”
“Tolonglah Cin baca dulu, dengan surat ini kami berharap kamu tidak jadi pulang
ke Amrik. Ayolah.” Tukas dik Alya.
“Tante juga berharap kamu tidak jadi pulang sayang.” Sahut tante Linda.
Akhirnya Cintya membuka surat yang aku kasihkan. Kemudian membacanya
tanpa suara. Aku memandangi mulutnya yang bergerak-gerak membaca kata demi kata
dalam kertas itu. Bagaimana perasaannya aku tidak tahu.
“Sory Fajar, saya tetap harus pulang ke Amrik. Terima kasih atas suratmu ini.
Aku tahu maksudmu. Tapi aku tak ingin sengsara dengan kebodohan yang pernah aku
lakukan. Aku tak ingin menuruti nafsu yang hanya akan membawa sial. Terima kasih
banyak atas perhatianmu. Saya hanya bisa berdoa semoga cinta Allah akan selalu
menyertai kita semua.”
“Kamu mau membatalkan kepulanganmu nggak Cin?” Pintaku memelas.
“No Fajar. Jangan paksa aku hanya karena cinta yang tak pasti. Aku tak ingin
sengsara lagi. Aku harus pulang. Aku harus berangkat sekarang.”
“Demi persahabatan kita Cintya. Demi Islam yang sedang kau cari selama ini.”
Dik Alya menyahut.
“Demi Tante juga sayang. Aku ingin kamu jangan meninggalkan Tante.” Tante
Linda mengikuti.
Aku merenung sejenak. Memikirkan kata-kata yang pas untuk mencegah
kepulangan cintya.
“Kamu harus jujur Cintya. Keberangkatan ini bukan keinginanmu kan? Kamu
nggak ingin pulang kan Cin? Kamu masih ingin di Indonesia kan? Kamu pulang itu ada
keterpaksaan kan Cintya! Jujurlah. Kamu itu gadis yang selalu jujur.”
251
Dia menatap wajahku. Memandangi dik Alya lalu Tante Linda. Seolah wajahnya
berbicara. Membenarkan kata-kataku kalau dia pulang itu adalah keterpaksaan yang
harus dilakukan.
“Kamu nggak yakin Cin? Aku tahu kalau kamu masih ingin tinggal di sini. Kamu
pulang itu terpaksa Cin.”
“Jangan paksa aku Fajar. Apa hakmu untuk memaksu pulang ke negaraku
sendiri.” Tolaknya.
“Aku faham dengan perasaanmu Cin. Tapi kalau kamu terpaksa, untuk apa
kembali ke Amerika.”
“Itu kemauanku sendiri Fajar. Aku nggak terpaksa.”
“Baiklah kalau kamu tetap akan pulang. Tapi ingat, ketidaktulusan akan
menyisakan kekecewaan. Seperti yang aku katakan dalam kertas itu. Sampai di Amerika
kamu pasti akan kecewa dan marah karena kamu terpaksa kembali ke sana. Aku yakin
kamu nggak sepenuh hati.”
“Baiklah Cintya, aku mohon agar kamu tidak kembali ke Amrik. Bukan demi
cinta Cintya, tapi demi ilmu dan Islam yang sedang kamu pelajari. Kamu cinta Islam?
Kamu masih ingin belajar tentang Islam di sini? Lupakanlah urusan Cinta. Kita sama-
sama pernah menderita karena cinta. Aku tak ingin di antara kita ada derita lagi. Kita
utamakan niat. Niat kamu ke sini adalah untuk mencari ilmu di bumi Indonesia. Niat
belajar tentang Islam untuk bekal di masa depan. Agar kelak Islam akan mengalami
kemajuan. Ini pintaku Cintya. Please, don’t leave our country Indonesia.”
“Apa yang dikatakan Fajar benar sayang. Lebih baik kamu tetap tinggal di sini.
Niat kamu ke sini adalah untuk belajar Islam. Utamakan niatmu dan tinggalkan urusan
cinta. Kamu masih mau tinggal di sini sama tante kan? Kamu pasti bisa sayang.”
“Saya juga berharap seperti itu Cin. Lupakan urusan cinta. Demi persahabatan
kita. Aku berharap kamu mau membatalkan kepergianmu ke Amerika.” Kata dik Alya
mantap.
“Apa yang bisa aku lakukan sebagai seorang muallaf. Aku tak bisa apa-apa. Aku
mudah menyerah. Aku mudah frustasi. Aku benci dengan diriku sendiri. Lebih baik aku
pulang dan hidup di negara sendiri dari pada harus memendam derita di negeri orang.
Aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian.”
252
“Kamu ngomong apa Cintya. Cintya yang kukenal bukan seperti kamu sekarang
ini. Aku tahu sifat kamu. Kamu itu kuat, pandai, cerdas. Apa yang kamu katakan itu
bohong. Tidak benar. Kamu itu orang yang punya misi ke depan. Kuat perjuangannya.
Aku percaya itu.” Dik Alya kembali angkat suara.
“Dik Alya benar Cin. Jangan bohongi dirimu dengan sikap yang bodoh. Aku tidak
pernah menemukan kebodohan dalam dirimu. Aku selalu melihat kepandaian yang ada
dalam dirimu.” Ucapku meyakinkan.
“Tapi kalau kamu sudah yakin dan mantap dengan kepergianmu, kami tak bisa
lagi mencegahmu. Itu semua hakmu. Kami berdoa, semoga kamu bisa berjuang demi
Islam di sana. Kamu pasti bisa.” Lanjutku.
“Aku juga akan selalu mendoakamu Cin. Kamu pasti bisa berjuang demi
memajukan Islam di sana. Good luck for you.” Dik Alya mengikuti.
Cintya tiba-tiba memeluk dik Alya. Sempat terucap kata dari mulut Cintya.
Mungkin dia memang tak ingin pulang ke negaranya. Dari arah belakang om Taufik
memegang pundak Cintya. Rupanya belia yang akan mengantar ke Amerika.
“Sayang, yuk kita sudah terlambat.” Ucap om Taufik sambil menganggukkan
kepala. Cintya tidak merespon. Ia memilih diam.
“Kalau kamu nggak yakin, kita kembali saja ke rumah. Om juga tahu kalau kamu
hanya terpaksa pulang ke Amerika. Kamu di sana nggak punya siapa-siapa. Orang tua
kamu sudah tidak lagi peduli dengan kamu. Lebih baik kamu tinggal di sini saja. Orang-
orang di sekitarmu akan selalu menyayangimu.”
Tante Linda memeluk Cintya sambil berkata, “Kita kembali saja ke rumah sayang.
Kamu akan bahagia tinggal bersama orang-orang yang mencintai dan menyayangimu.
Dan itu tidak bisa kamu dapatkan di Amerika. Yakinlah dengan kami. Tante akan
memberi perhatian lebih padamu.”
Kami semua memandangi Cintya. Dia terdiam. Di wajahnya tersirat rasa malu
pada kami semua. Dia tidak ingin pulang ke Amerika. Sorot matanya mengatakan iya.
“Kalau begitu mari kita pulang saja.” Om Taufik mengajak. Kami semua
menganggukkan kepala. Kemudian pulang bersama.
***
253
24
HARI YANG MENDEBARKAN
Tugas yang melelahkan itu akhirnya bisa aku selesaikan juga. Tinggal revisi
sedikit saja. Kemudian menyerahkan kembali ke dosen pembimbing untuk di koreksi
ulang. Semuanya ada lima bab. Seratus ratus lembar. Spasi satu setengah. Dengan font
Time New Roman. Setelah semuanya beres, aku akan mengajukan tes munaqosah.
Setelah munaqosah aku bisa langsung daftar wisuda yang telah aku rencanakan awal
bulan september. Kira-kira satu setengah bulan lagi.
Perjuangan yang melelahkan. Mulai dari mengajukan judul. Dua kali baru di
terima. Temanku malah ada yang sampai lima kali, masih juga belum di terima. Apa
kesalahannya kurang begitu jelas. Hanya membuat judul saja sulit sekali. Mencari
bahan-bahan skripsi di perpustakaan. Dimarahi saat bimbingan dengan dosen, hingga
membuat kepala pusing tuju keliling. Sampai-sampai tulisan skripsiku mau kurobek-
robek gara-gara dicorat-coret oleh dosen berulang kali. Rasanya frustasi. Bolak-balik ke
kampus hanya mencari bahan bacaan untuk menambah bahan skripsi. Pergi ke
perpustakan LIPIA, PTIQ dan universitas al-Azhar untuk mencari bahan. Dengan
keadaan tubuh yang terasa greges-greges tetap aku paksakan. Memaksa tubuh meski
dalam keadaan meriang dan batuk. Demi meraih kesuksesan dan keberhasilan. Dalam
kondisi tertentu terkadang kita memang harus sedikit memaksa pada diri sendiri.
Alhamdulillah semua berjalan dengan baik-baik saja. Perjuangan yang baik akan
membawa kebaikan pula. Setiap langkah menuju kebaikan akan menghasilkan
kegembiraan. Setiap rasa lelah dan capek yang menyertaiku semoga bisa melenyapkan
dosa-dosaku. Semuanya tidak ada yang sia-sia. Ternyata rasa lelah itu membawa hasil
tersendiri. Kini saatnya memikirkan test munaqosah. Belajar giat. Semoga aku
mendapat penguji yang mudah. Biar nilainya mudah. Yang aku lakukan saat adalah
berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapi test itu. Setidaknya aku punya hasrat
dan cita-cita agar bisa mencapai cumlaude. Semoga bisa tercapai. Amin.
***
254
Sidang yang menentukan kini datang. Hari ini aku dan keempat temanku
menghadapi ujian yang mendebarkan. Aku, Sofi, Rena, Dewi dan Nanang. Kami semua
merasa berdebar menghadapi ujian ini. Setiap anak yang menghadapi dosen untuk
munaqosah pasti merasa nervous. Takut kalau tidak bisa lulus. Kami berlima merasakan
itu semua. Kami mencoba membuka lembaran-lembaran skripsi untuk mempelajari
ulang. Menduga-duga pertanyaan apa yang akan diajukan oleh sang penguji skripsi.
Akhirnya waktu mendebarkan tiba. Ica dan Nanang memasuki ruang sidang. Tubuh
kami terasa dingin. Kami juga heran dengan apa yang kami rasakan saat ini. Sampai se-
nervous ini. Semoga saja aku bisa lancar menghadapi ujian ini. Satu jam lebih kami
menunggu mereka berdua.
Ketika keluar kami menyaksikan wajah mereka berdua seperti dirundung duka.
Tak tahu apa yang terjadi dengan mereka di dalam ruang sidang tadi. Mungkin terlalu
sulit menghadapi sang penguji. Tiba giliranku masuk. Jantungku berdetak cepat. Aku
menarik nafas panjang untuk sedikit menghilangkan rasa nervousku. Aku berusaha
menenangkan diriku dengan shalawat dan pujian pada Allah. Semoga aku diberi
kelancaran. Satu orang penguji aku hadapi. Berbagai pertanyaan dilontarkan.
Alhamdulillah aku bisa menguasai. Berganti dengan penguji yang satunya. Meski
dengan hati yang terus berdebar, aku tetap bisa menjelaskan setiap apa yang diajukan
oleh sang profesor itu. Air keringat mengaliri tubuhku karena nervous. Hari ini benar-
benar mendebarkan bagiku selama ada di kampus tercinta. Hari ini benar-benar hari
bersejarah bagiku. Alhamdulillah semuanya lancar. Ini pertolongan Allah. Di mana pun
pertolongan Allah selalu turun bila kita mau mengingatnya. Keluar dari ruang sidang
jam sepuluh. Di luar aku melihat dik Alya. Dia tersenyum mengembang sambil
menatapku. Ternyata dia sedang menungguiku saat sidang tadi. Aku membalas senyum
ke arahnya.
“Gimana Kak munaqosahnya? Lancar?” Tanyanya.
“Alhamdulillah Dik.”
“Hasilnya gimana?”
“Semoga saja bagus. Kita pulang dulu yuk, aku capek. Hasilnya biar aku tanyakan
sama temanku nanti sore. ”
Teman-teman yang aku temui juga bertanya tentang hal itu. Di tangga kami
bertemu dengan Naela. Ternyata dia juga ingin menghadiri sidangku tadi, tapi sudah
255
terlambat datangnya. Dia bertanya tentang sidangku. Aku menjawab lancar-lancar saja.
Dia mengucapkan selamat. Aku berterima kasih atas ucapannya.
“Boleh main kerumah nggak?” tanya Naela pada dik Alya.
“Sekarang kita juga mau pulang Nel, mau bareng?” Dik Alya menawari.
“Nanti saja aku ke sana, sekarang mau ngurus nilai di akademik.”
“Ya sudah, aku tunggu ya Nel.”
“Ok. Sampai ketemu. Bye-bye Alya.”
“Salam buat kakakmu.”
“Baiklah. Nanti aku sampaikan”
Sepertinya Naela memendam sesuatu dengan ucapannya itu. Aku jadi menaruh
harapan padanya. Sampai saat ini aku masih belum juga bisa bersikap biasa bila berada
dihadapannya, padahal dia terlihat biasa-biasa saja berada di depanku. Yang paling aku
heran, sikapnya semakin terlihat akrab denganku. Dia sering mengirim salam padaku
lewat dik Alya. Sebulan ini aku juga sering bertemu saat dia bermain ke rumahku. Aku
tidak tahu apa arti dari sikapnya. Yang terpenting aku jangan sampai terlena lagi dengan
mencintainya. Aku tidak mau hal yang dulu pernah menimpaku terulang lagi. Aku tak
ingin sengsara lagi dengan perasaan cinta yang pernah aku alami bersama Naela.
Tapi sepertinya sikap Naela akhir-akhir ini membuat hatiku berdesir lagi.
Harapan-harapan itu muncul seiring dengan sikap ramahnya yang selalu sering
menyapaku. Baik itu lewat sms atau pun kirim salam lewat dik Alya. Atau tanpa sengaja
bertemu di kampus. Atau di perpustakaan. Bahkan kemarin sore tanpa sengaja kami
bertemu di sebuah rumah makan kecil yang letaknya tak jauh dari kampus. Cendol Luis
namanya. Sekitar seratus meter dari kampus ke arah selatan. Aku sedang makan di
dalam sendirian. Tiba-tiba dia datang sendirian juga. Aku mencoba menghindar dari
pandangannya. Aku berpura-pura tidak melihatnya. Namun apa yang dia lakukan? Aku
kaget saat dia menyapaku dengan panggilan Kak.
“Kak Fajar! Sendiri?” Sapanya waktu itu.
“Iya.” Jawabku malu.
Naela memperlihatkan sifatnya yang sangat ramah seperti ketika di restoran saat
pulang dari rumah sakit bersama pamannya ustadz Bashori. Bahkan lebih ramah lagi.
Ketika aku ke kasir mau membayar, dia malah mencegahku. Aku sudah memaksa agar
256
dia tidak membayar, tapi dia terus memaksaku. Aku jadi malu sendiri. Bukan aku yang
membayar makanannya, tapi malah sebaliknya.
Sejak kejadian itu aku sering terpikir lagi akan sosok dirinya. Sosok gadis yang
aku selalu berusaha untuk bisa melupakannya. Namun sampai saat ini terkadang
namanya masih selalu melintas di hatiku. Wajahnya masih terbayang di otakku. Sulit
untuk bisa menyirnakan sama sekali. Apalagi dik Alya juga terkadang masih cerita soal
dirinya. Sikapnya sekarang seperti bukan Naela yang dulu pernah menyengsarakan
diriku. Cuek, tak tanggap, tak peduli, tak mau tahu. Aku sendiri tak habis pikir, apa lagi
yang akan diperbuat olehnya. Dia memang gadis misteri. Banyak teman cowok yang
menyukai dan juga telah mengucapkan cinta padanya, namun dia selalu menolaknya.
Dan aku salah satu orangnya. Banyak orang yang menaruh simpati pada gadis manis itu,
namun dia sediri bersikap cuek dan nggak mau peduli dengan yang bersimpati.
Saat ini, aku merasakan sikap cuek Naela hilang dan menjadi keramahan yang
bisa meluluhkan hati siapa saja. Dia memang wanita misteri yang tak bisa diduga-duga
dengan sikap dan wataknya itu. Dia memang misteri yang tak seorang laki-laki pun bisa
meraih hati dan cintanya. Tak tahu jalan pikirannya. Tak tahu arah tindakannya. Naela
Salsabila memang benar-benar gadis misteri.
***
Menjelang maghrib Shofi menelfonku. Dia memberi kabar tentang hasil
munaqosah tadi pagi. Pengumumannya bisa di lihat di jurusan. Dia memberi tahu kalau
aku mendapatkan cumlaude. Dari empat orang hanya dua yang bisa mendapatkan
cumlaude. Yang lain dapat jayyid dan jayyid jid. Aku tidak langsung memberi tahu
ummi. Semoga ummiku bisa bangga dengan apa yang telah aku raih.
Aku langsung sujud syukur. Aku sedikit tak percaya dengan berita gembira ini.
Allah yang telah menetapkannya. Ini nikmat yang sangat luar biasa.
***
Menjelang adzan maghrib, Naela datang ke rumah. Saya pikir dia hanya basa-basa
ketika ngomong sama dik Alya tadi pagi. Aku ketemu dia di depan pintu ketika mau
257
pergi ke masjid untuk shalat jamaah. Kami saling menyapa, tapi hanya sebentar saja.
Sehabis maghrib aku kembali ke rumah. Naela sudah tidak ada.
“Kak, dapat salam dari Naela.” Kata dik Alya memberi tahu.
“Ada perlu apa dia ke sini.” Kataku menanyainya.
“Cuma main saja Kak.”
“Kayaknya Naela sekarang berubah ya Dik. Sikapnya tak sama dengan yang
dulu.”
“Berubah bagaimana?”
“Dia perhatiansekali. Padahal dulu cuek banget.”
“Sudahlah Kak, jangan berharap dia lagi. Apa yang dulu pernah Kakak
alami itu bisa menjadi pelajaran di kemudian hari. Jangan sampai kak Fajar menyiksa
diri sendiri lagi. Yang suka sama Naela itu bayak sekali. Tapi Naela juga begitu, cuek
dan nggak peduli.”
Apa yang dikatakan dik Alya ada benarnya. Bukankan apa yang telah
menimpaku sudah cukup untuk dijadikan pelajaran dalam menjalani hidup ini. Tapi aku
merasakan sikap Naela berubah. Dia seperti perhatian dan memberikan harapan padaku.
Aku jadi terpikir olehnya. Aku sering mengingat sikapnya waktu bertemu di rumah
makan kemarin.
Ada hasrat dalam hatiku untuk menikahinya. Aku ingin mengikat dirinya dalam
ikatan suci. Aku ingin ngomong langsung sama orang tuanya. Siapa tahu orang tuanya
setuju. Atau mungkin bisa lewat ustadz Bashori. Oo, ya benar, aku bisa mengungkapkan
hal ini lewat beliau. Semoga saja beliau mendukungku. Karena beliau pernah
menanyaiku tentang hal ini. Beliau selalu memberi saran agar menikah di usia muda.
***
258
25
NIAT SUCI
Jam dua siang, aku meluncur ke kawasan Taman Mini untuk mengajar di LKI.
Agar tidak telat aku membawa mobil sendiri. Aku sudah kangen dengan anak-anak.
Rasanya tidak enak kalau harus absen lagi. Sudah ditelfon ustadz Bashori berulang kali.
Setelah mengajar, aku diajak ke rumah ustadz Bashori. Di dalam rumahnya
tampak ramai. Seperti baru saja ada syukuran. Keluarganya berkumpul semua. Aku
bertanya pada beliau, ternyata benar. Ketika aku sedang ngobrol dengan beliau seorang
wanita yang masih berwajah muda datang menghampiri kami. Ustadz Bashori
mengenalkan wanita itu padaku. Namanya Nisa’. Lengkapnya tidak tahu.
Saya pikir dia masih gadis, ternyata dia adalah ibunya Naela. Pantas saja
wajahnya mirip. Terutama pipi lesungnya. Tak kalah cantik dengan anaknya yang
pernah aku cintai. Wanita itu sempat bertanya-tanya padaku. Apa kegiatanku selama ini.
Aku menjelaskan apa adanya. Tidak aku kurangi dan tidak aku tambahi. Aku
menceritakan semua apa yang menjadi rutinitasku seharian. Mengajar TPA, dan
kegiatan-kegiatan lain termasuk mengajar di LKI ini. Beliau tampak memperthatikanku,
aku tak tahu maksudnya. Beliau pun berbasa-basi denganku. Pertanyaan-pertanyaan
yang tidak penting pun diajukan. Aku jadi malu menjawabnya. Anehnya aku selalu
menjawab apa adanya. Apa pun aku ceritakan. Padahal aku tidak suka kalau ada orang
lain tahu kegiatanku sehari-hari.
“Kapan kamu wisuda Fajar.” Tanya ustadz Bashori saat kami berkumpul di ruang
tamunya.
“Sebentar lagi ustadz. Insya Allah awal September ini.”
“Kemarin hasil munaqosahmu bagaimana?”
“Alhamdulillah lancar.”
“Apa rencanamu setelah ini.”
“Aku ingin S2 ditimur tengah ustadz, tapi masalahnya ummi mencegahku. Beliau
nggak ingin aku pergi jauh-jauh. Kata ummi, belajar di mana saja itu sama, tergantung
usaha kita, mau sungguh-sungguh atau tidak.”
“Kamu nggak ingin menikah Fajar?”
259
“Ustadz ini selalu saja menanyakan tentang nikah. Saya dulu pernah bilang, nggak
ada wanita yang mencintai saya. Pernah mencintai wanita sekali, tapi langsung ditolak.”
“Karena kamu nggak sungguh-sungguh Fajar. Kalau kamu memang benar-benar
mencintai seseorang, langsung ngomong dan ajaklah menikah. Lebih bagus menikah
muda Fajar. Agar tidak banyak melakukan kemaksiatan. Kalau kamu sudah mampu
kenapa tidak.”
Aku jadi heran dengan ustadz Bashori. Akhir-akhri ini beliau selalu saja
menanyaiku tentang nikah. Aku bingung menjawabnya. Tak bisa menentukan hal itu
dengan pasti. Karena tak ada wanita yang benar-benar mencintaiku dan aku juga
mencintainya.
“Nanti kalau sudah waktunya juga akan datang sendiri ustadz.” Begitu jawabku
pada beliau.
***
Saat perjalanan pulang dari rumah ustad Bashori, aku terpikir pertanyaan-
pertanyaan ibunya Naela dan juga pertanyaan-pertanyaan ustadz Bashori. Mereka
seakan memaksaku untuk segera melakukan akad suci itu. Memang tidak ada yang lebih
baik bagi seorang pemuda kalau sudah mampu kecuali segera melakukan akad suci.
Dari pada pacaran malah menambah-nambah dosa saja, bukanlah lebih baik menikah.
Lebih suci dan diridhoi.
Aku terpikir Naela lagi. Sikapnya yang perhatiannya akhir-akhir ini. Tak beda
jauh dengan ibunya yang baru saja kutemui di rumah ustadz Bashori. Ibunya lebih
perhatian. Haruskah aku ngomong langsung sama ibunya tentang niatku. Kata-kata
ustadz Bashori seperti mengisyaratkan begitu. Itu yang aku tangkap dari perkataan
beliau.
Sepertinya nama Naela masih juga belum bisa sirna dari hatiku. Sepertinya
perhatian Naela telah membuatku yakin untuk menikahinya. Meski aku belum tahu, dia
mau diajak menikah atau tidak. Naela masih saja menimbulkan kerinduan tersendiri di
hatiku. Pantaslah kalau aku selalu menyebutnya gadis misteri. Cinta yang lain tak bisa
menggantikan cintaku pada Naela.
260
Mungkin ustadz Bashori ada benarnya. Dari pada aku harus memendam rasa cinta
yang hanya akan membawa luka, lebih baik aku berterus terang pada ibunya Naela.
Sebelum aku pulang ke desa, aku harus bicara sama ustadz Bashori. Semoga usahaku
untuk mencari jodoh tak sia-sia. Semoga aku sudah punya pendamping di hari wisuda
nanti. Niat tulus dari hati semoga bisa terkabul oleh Sang Pencipta Cinta.
Tapi kenapa harus dengan Naela. Bukankah aku sudah trauma dengan yang dulu
pernah kualami. Bukankah sifat cueknya yang telah membuatku sakit hati. Mungkin
perubahan sikapnya yang telah menghilangkan sakit itu. Keramahannya yang telah
membuatku terpikir kembali. Perhatiannya yang telah menumbuhkan sisa-sisa cinta
yang masih tersimpan di dada.
Kuterdiam
Bukan berarti cintaku hilang
Cintaku belum mati
Cintaku terus bersemi
Rinduku belum sirna
Rinduku terus mendera
Seiring darah mengalir
Cinta dan rinduku menyusup
Di antara urat nadi
Dan akan setia menemani
***
Pagi hari, aku pergi ke rumah ustadz Bashori. Aku ingin bicara perihal
keponakannya. Aku sudah memberi tahu ummi dan juga dik Alya. Mereka
menyerahkan semua padaku.
“Ummi hanya bisa berdoa, kalau gadis itu memang jodohmu pasti Allah akan
meridhoi.” Begitu kata beliau.
Sampai di rumah ustadz Bashori, beliau menyambutku dengan ramah. Aku
memberanikan diri untuk langsung berbicara mengenai maksud dan tujuanku kemari.
“Tumben Fajar, pagi-pagi datang kemari.”
261
“Iya ustadz, ada hal penting yang ingin saya bicarakan.”
“Apa itu?” Tanya beliau heran.
“Naela ustadz.”
“Ada apa dengan Naela?”
“Saya ingin bicara langsung dengannya, tapi takut terjadi hal yang tidak
kuinginkan. Aku bahwa ustadz orang yang tepat untuk diajak bicara tentang ini, maka
aku memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang jadi niatku. Sebenarnya wanita
yang dulu pernah aku cintai adalah keponakan ustadz sendiri.”
Beliau kaget mendengar perkataanku. Aku diam sejenak.
“Benar ustadz. Saya pernah jatuh cinta sama keponakan ustadz sendiri. Kalau
memang keluarga ustadz Bashori mengijinkan, aku berniat menikahinya.”
Ustadz Bashori tampak memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian dia tersenyum
kearahku.
“Kenapa kamu tidak bicara langsung sama ibunya kemarin.”
“Lebih enak sama ustadz saja. Nanti ustadz bisa langsung bicara sama ibunya.
Ustadz kan tahu. Kalau urusan cinta, saya itu bodoh dan tolol sekali.”
“Ya sudah kalau begitu, nanti malam kita langsung ke rumahnya. Ibunya Naela
juga menanyakan hal yang sama tentang dirimu sejak kemarin bertemu kamu. Kalau
saya sendiri setuju-setuju saja. Saya pikir ibunya Naela juga begitu. Dia salut dengan
dirimu. Ibunya Naela tertarik dengan pribadimu. Tapi semua terserah pada Naela. Saya
tak bisa memutuskan dan memaksa.”
***
Di rumah, aku membicarakan hal ini pada ummi. Aku meminta doa serta
ridhonya. Tanpa ridho ummi, aku tak berani melaksanakan hal sakral ini.
“Bagaimana menurut Ummi?” Tanyaku pada beliau.
“Kalau kamu memang sudah yakin, ummi pasti ridho. Niat kamu itu demi
kebaikan, jadi tak ada salahnya. Kalau kamu memang merasa mampu, kenapa tidak. Itu
jauh lebih baik. Agar kamu tidak terjerumus ke dalam hal yang tidak di ridhoi Allah.
Semoga perjuanganmu selalu berhasil.”
262
“Saya berharap orang yang aku cintai mau menerimaku Um. Ibunya dan ustadz
Bashori sudah setuju.”
“Tapi apa nggak menunggu wisuda kamu dulu.”
“Fajar ingin waktu wisuda nanti sudah punya pendamping hidup Um. Ustadz
Bashori juga memberi saran begitu.”
“Ya sudah kalau begitu, Ummi pasti mendoakanmu.”
Sore harinya, ustadz Bashori datang ke rumahku. Beliau bersama istrinya. Kami
pergi ke rumah Naela. Aku merasakan keresahan yang luar biasa. Aku merasakan
kegundahan yang menusuk jiwa. Semenjak kenal dengan nama indah yang dimiliki oleh
Naela, aku selalu saja terlena dengan cinta. Sebelum aku pergi bersama ustadz Bashori
aku kembali meminta ijin pada ummi.
“Semoga tuhan meridhoimu. Ummi yakin kamu sudah mampu. Kalau itu memang
pilihanmu, ummi akan selalu berdoa semoga kebaikan selalu menyertaimu.”
“Fajar pamit dulu Um.”
Kami berangkat sehabis ashar. Sampai di rumah Naela sekitar jam enam. Setelah
usai shalat magrib di masjid, kami baru ke rumah Naela. Ibunya menyambut kamu
dengan hangat dan ramah. Aku lebih banyak diam di dalam rumah. Ustadz Bashori
yang berbicara. Termasuk yang mengutarakan niatku untuk menikahi Naela.
“Kemarin saya sudah memberi tahu sama dik Nisa’. Kalau kedatangan saya
kemari ingin mengutarakan niat salah satu santri saya.” Kata ustadz Bashori pada
adiknya yang merupakan ibunya Naela.
“Saya juga sudah faham Mas. Tapi semuanya terserah Naela. Siapa yang tak mau
punya menantu pintar dan sholeh seperti Fajar.” Balas Bu Nisa’.
Mendengar perkataannya, aku tersipu malu dihadapan ustadz Bashori. Untung tak
ada Naela di ruang tamu ini. Semoga dia mau menerima niat suciku. Rupanya ustadz
Bashori telah membicarakan hal ini sebelumnya pada Bu Nisa’.
“Apa kamu sudah mantap dengan niatmu Fajar?”
“Bismillah saya mantap dengan niat suci ini Bu.”
“Baiklah kalau begitu. Tapi semuanya terserah Naela. Apakah dia mau atau tidak.
Karena aku belum bicara pada Naela. Setiap diajak bicara, dia selalu menghindar sama
ibu. Kalau ibu setuju saja, dari pada nanti menjerumuskan kalian pada kemaksiatan
alangkah lebih baiknya bila ada ikatan suci yang mengikat kalian berdua.”
263
Aku mulai merasakan hawa dingin dalam tubuhku. Aku merasa was-was dengan
perasaanku. Detak jantungku semakin cepat. Seperti yang biasa kurasa disaat dekat
dengan Naela. Aku selalu merasa seperti apa yang kurasakan saat ini. Ibu Nisa’
memanggil anaknya, namun orang yang dipanggil sepertinya tidak mengindahkan
panggilan itu. Akhirnya Bu Nisa’ masuk ke dalam dan keluar lagi dengan gadis manis
yaitu anaknya. Naela duduk di samping ibunya.
Di hadapanku ada ustadz Bashori dan juga istrinya. Aku benar-benar malu ada di
sekeliling keluarga mereka. Keringat dingin benar-benar kurasakan di malam ini. Belum
pernah aku merasakan hal seperti ini. Dan yang membuat ini semua adalah anaknya Bu
Nisa’. Bukan lantaran kecantikannya, bukan pula karena pesona jiwanya. Tapi karena
diriku yang seolah tetap nekad untuk mengutarakan niat suci itu. Niat suci untuk
menikahinya.
“Fajar, orang yang kau cintai sekarang ada di hadapanmu. Andaikan dari dulu
saya tahu bahwa Naela ini adalah perempuan yang kamu cintai, maka saya akan segera
menyuruh kalian untuk menikah. Sekarang apa yang kamu rasakan Fajar?” Tanya
ustadz Bashori.
Aku hanya tersenyum tanpa kata-kata. Tapi sepertinya beliau tahu apa yang aku
sembunyikan.
“Nel, Fajar ini pemuda yang ulet. Tidak mudah menyerah. Tekun dan banyak
berusaha. Pintar dan juga sholeh. Saya sudah setuju andaikan kamu menikah
dengannya. Ummimu juga sangat setuju. Tapi sekali lagi, kami semua menyerahkan
urusan ini padamu. Kami tak mau memaksamu. Karena pernikahan tanpa didasari rasa
cinta, kalian sendiri yang akan merasakan akibatnya. Kami tidak mau hal itu terjadi
dengan kalian berdua yang akhirnya akan terjadi perceraian. Menurut kamu sendiri
bagaimana Nel?” Tanya ustadz Bashori berterus terang.
“Pamanmu benar Nel. Dari pada kamu terjerumus ke dalam hal yang tidak ummi
inginkan alangkah baiknya jika ada ikatan suci di antara kalian berdua. Ummi sudah
rela.”
Kami semua menunggu jawaban dari Naela. Namun wanita itu malah terdiam
lama. Sepertinya dia bingung ingin menjawab apa. Atau memang tidak mau
menerimanya. Dia tetap terdiam meski di tanya umminya berulang kali.
“Kalau kamu diam berarti mau Nel.” Kata umminya.
264
“Benar. Karena diam itu isyarat dari kata iya.” Sahut ustadz Bashori dengan
senyum. Istrinya pun ikut mengiyakan. Mereka semua seakan mendukungku. Tapi tak
tahu dengan Naela.
“Bukannya Naela nggak mau Ummi.” ucap Naela sesaat.
“Naela minta maaf. Sebenarnya Naela mau menerima hal ini. Naela sangat
menghargai keputusan ummi dan juga paman sebagai pengganti Abah. Dulu abah
memang berpesan sebelum meninggal, kalau Naela sudah siap, segeralah menikah agar
tidak menambah kemaksiatan dengan berikhtilat pada kaum laki-laki. Dan insya Allah
Naela bisa menjaga diri dari hal itu. Naela minta maaf pada ummi dan juga paman atas
keputusan Naela terutama kepada Fajar. Sekali lagi maaf sekali. Bukannya tidak mau,
tapi mungkin waktunya yang kurang tepat. Naela mau fokus pada kuliah dulu Um.
Nanti kalau sudah selesai insya Allah akan secepatnya menjalankan apa yang di
pesankan sama Abah dulu.”
Ustadz Bashori dan Bu Nisa’ memandangiku setelah mendengar apa yang jadi
keputusannya Naela. Mereka berdua sudah mendukungku untuk melangsungkan niat
suci ini, tapi apa mau dikata. Mereka juga tidak bisa memaksa anaknya. Mereka berdua
ada benarnya. Menikah tanpa didasari cinta, kita sendiri yang akan menanggung
akibatnya. Mungkin perceraian.
Mendengar keputusan Naela, keringat dinginku berubah menjadi kepahitan yang
luar biasa. Untuk kesekian kalinya, aku harus menelan pahitnya cinta pada Naela. Sosok
wanita yang selalu aku kejar cintanya, namun sampai sekarang aku tak jua bisa
mendapatkannya. Untuk kesekian kalinya aku harus merasakan dalamnya kekecewaan
karena Naela yang tak pernah mau menerima cinta. Aku harus berbuat apa lagi untuk
meraih cinta itu. Niat suci ini seakan sia-sia adanya. Kenapa niat suciku justru di tukar
dengan sakit hati. Aku memang harus sadar diri. Aku memang harus bisa mengaca pada
diri sendiri. Aku ini siapa? Sekali lagi aku hanya pemuda kampung yang kebetulan
sukses mengadu nasib di ibu kota. Tak seharusnya mengulurkan cinta pada sosok
wanita cantik yang masih keturunan kyai.
Tapi aku yakin seyakin-yakinnya bahwa cinta tidak mengenal itu semua. Cinta tak
pernah mengenal tahta. Cinta adalah milik Sang Maha Cinta. Dan akan diberikan bagi
hamba yang selalu memohonnya.
265
Entahlah, kenapa cintaku selalu menyisakan kecewa dan membawa luka. Apakah
aku ini ditakdirkan untuk selalu mencintai? Dan bukan dicintai. Aku ini tak punya cinta.
Jiwaku ini miskin akan cinta. Biarlah cintaku sepenuhnya akan kuberikan pada Allah
Azza Wajalla. Lalu kapankah aku bisa meraih cinta yang kudamba? Semoga Allah akan
segera menghadiahkannya.
***
266
26
KEROMANTISAN DI ALAM
PEDESAAN
Menjelang wisuda, aku dan dik Alya berencana untuk pulang ke desa. Semoga
aku bisa mengobati rasa kecewaku karena penolakan Naela di kampung halamanku.
Kebetulan dik Alya lagi liburan semester. Kami sudah kangen sama keluarga kakek.
Sekaligus nanti akan berziarah ke makam nenek. Sudah lebih dari dua tahun aku tidak
ketemu.
Kalau memang mau, kami bermaksud untuk mengajak Cintya. Karena dia tak jadi
kembali ke Amerika. Dari dulu dia selalu mengajak berlibur ke desaku, tapi tak pernah
jadi. Cintya ingin sekali melihat sekaligus mengetahui pemandangan desa yang di rasa
sangat asri dan berseri. Sebuah pemandangan yang tidak akan pernah bisa ditemukan di
negaranya. Dia sangat mengimpikan suasana seperti itu. Tak heran bila dia selalu saja
mengajak dik Alya. Karena bertahun-tahun dia hidup dalam hiruk pikuk kota
megapolitan yang penuh dengan keramaian.
Apa yang terucap dari mulut Naela tadi malam masih terngiang di telingaku.
Betapa jiwa ini tak pantas mengharapkan seorang gadis cantik dan manis seperti
dirinya. Mungkin aku bukan levelnya. Aku bukan orang yang ditakdirkan untuk bisa
mendidik Naela dalam sebuah hubungan keluarga. Tuhan tidak mengijinkan aku untuk
hidup bersama Naela.
Itu semua harus aku telan bersama sirnanya cintaku pada Naela. Aku memang
hanya bisa berusaha, tapi hasil dari semua itu ada di tangan Allah semata. Tak
seharusnya aku selalu mengikuti kehendak dalam hatiku. Sehingga aku tidak akan
menelan pahitnya cintaku. Kenapa harus rasa kecewa yang kuterima bila ingin merajut
cinta yang suci. Tak selamanya niat yang baik dan tulus itu mendapatkan kebaikan pula.
Tak selamanya manusia bisa meraih apa yang jadi harapannya. Sebagaimana angin
yang bergerak juga tak sesuai dengan kehendak perahu.42
Tapi alhamdulillah. Apa yang kucintai belum tentu baik buat diriku. Semoga
Tuhan telah menyiapkan bidadari yang lebih cantik dari Naela. Bidadari yang justru
lebih pengertian dari pada Naela. Bidadari yang lebih perhatian padaku. Bidadari yang
42
Syair ini di kutip dari kitab Minhatul Qudsiyyah.
267
mempunyai cinta dan kasih yang sangat besar terhadapku. Sehingga cinta itu bisa abadi
dan aku bawa sampai ke surga nanti.
“Nak, percayalah sama Allah. Pasti Dia akan memberi bidadari yang lebih baik
dari Naela. Allah pasti sudah menyiapkan bidadari untukmu dari surga-Nya.
Percayalah.” Ucap ummi menghiburku.
“Maafkan Fajar Um karena tidak mau mengindahkan nasehat Ummi. Seharusnya
Fajar memikirkan hal itu dengan matang. Tapi....”
“Sudahlah, menyalahkan diri sendiri tak ada gunanya. Setiap masalah yang kau
hadapi pasti ada pelajaran yang berharga buat dirimu. Hal itu bisa kau jadikan
pertimbangan untuk melangkah dihari berikutnya.”
“Baiklah um, sekarang Fajar semakin tahu dengan hakekat kehidupan. Sekarang
aku bisa mengambil pelajaran, kalau kita mencintai manusia belum tentu orang yang
kita cintai juga menaruh perasaan cinta pada diri kita, bahkan terkadang yang kita
dapatkan adalah kekecewaan dan sakit hati yang bisa menimbulkan permusuhan.
Karena cinta ditolak, maka dia tega membunuh orang yang telah menolak cintanya.
Tapi kalau kita mencintai Allah, sudah pasti Allah akan mencintai kita, bahkan tanpa di
minta pun cinta dan kasih sayang Allah selalu tercurah untuk kita semua. Itu pelajaran
yang bisa saya ambil atas kejadian ini Um.”
“Baguslah kalau begitu. Kamu harus bisa berpikir lebih matang. Terus apa
rencanmu setelah ini.” Tanya ummi.
“Saya tidak tahu Um, sekarang Fajar ikut apa kata Ummi saja. Ummi yang jauh
lebih tahu.” Jawabku lesu.
Sementara dari kamarnya dik Alya langsung saja memotong pembicaraan kami.
“Um, Cintya kuajak liburan ke desa ya, biar Alya punya teman di sana. Dulu
Cintya mau ikut ke sana, tapi tak pernah jadi. Kemarin dia nggak jadi balik ke Amrik.”
Ucap dik Alya pada ummi.
“Bagus itu. Supaya dia kenal dengan suasana desa kita.” Jawab ummi singkat.
“Kapan pulang.” Lanjutnya.
“Mungkin besok Um.”
“Sebaiknya kamu telfon dulu kakekmu biar beliau tahu kalau kamu mau berlibur
di sana.”
“Baik Um, nanti Alya telfon Kakek.”
268
“Ummi sudah tahu hasil ujian skripsinya Kak Fajar belum? Katanya dapat
cumlaude Um. Aku pasti bisa lebih baik dari Kak Fajar.”
“Alhamdulillah, itu semua berkat usaha yang sungguh-sungguh. Tanpa itu semua
kesuksesan tidak akan bisa diraih. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan
mendapatkannya.”
Aku mendengar omongan dik Alya yang terlihat bangga. Dalam hati aku tidak
henti-hentinya mengucapkan Alhamdulillah pada Allah yang telah memberi nikmat
begitu besar padaku. Kesuksesan yang aku raih bukanlah dari usahaku semata, tapi
berkat nikmat Allah. Semoga saat pulang ke desa nanti, kakek akan senang
mendengarnya.
***
Dik Alya sudah memberitahu kakek kalau kami mau berlibur di desa untuk
beberapa hari bersama Cintya.
“Cintya jadi ikut dik?” Tanyaku pada dik Alya.
“Tadi sudah Alya sms Kak. Insya Allah besok dia mau ikut. Dia ingin sekali ke
sana Kak. Ingin tahu suasana desa. Untung dia nggak jadi pulang ke Amrik.” Dik Alya
gembira.
Aku teringat Cintya lagi. Bagaimana perasaannya. Aku sadar dan faham dengan
keputusannya. Semoga itu yang terbaik baginya. Aku senang karena berhasil membujuk
dirinya agar tidak kembali ke negaranya.
Liburanku kali ini, hanya ingin mengabarkan pada kakekku bahwa sebentar lagi
cucunya wisuda. Sebenarnya, aku juga bisa memberi kabar lewat telfon, tapi aku sudah
kangen dengan suasana desaku. Aku ingin bertemu dengan kakekku sekaligus berziarah
ke makam nenek. Aku belum pernah sama sekali. Berkat usaha kakek, aku bisa seperti
ini. Bisa kuliah di kota metropolitan ini. Di kota Jakarta yang banyak di impikan oleh
setiap orang desa.
Dulu, aku tak percaya bisa meneruskan kuliah. Apalagi di Jakarta yang biaya
hidupnya bisa dua kali lipat dari desa. Tapi kami selalu yakin bahwa di dunia ini tidak
akan pernah ada sejarahnya bahwa orang yang menuntut ilmu mati karena kelaparan.
Tidak ada dalam sejarah bahwa orang yang sedang menuntut ilmu terkena busung lapar
269
karena tak punya biaya untuk makan. Keyakinan itu aku tancapkan kuat dalam hati
bahwa Allah itu kaya. Dia yang akan mencukupi semuanya. Apalagi menuntut ilmu.
Tidak hanya biaya yang dicurahkan oleh Allah, tapi segalanya telah dicurahkan untuk
kita tanpa diminta. Derajat dan martabat kita. Bahkan para malaikant pun akan
membentangkan sayapnya untuk orang yang sedang menuntut ilmu di jalan Allah. Bila
keyakinan seperti itu sedikit saja hilang dari hatiku, maka yang terjadi akan berbeda.
Karena apa yang kita yakini itulah yang akan terjadi.
Semoga kakek bisa bangga dengan apa yang telah di raih cucunya. Sebagai hadiah
dihari tuanya. Karena anak yang shaleh dan shalehah juga harapan setiap orang tua.
Orang tua mana yang tidak senang bila anak-anaknya menjadi orang yang berhasil dan
mempunyai akhlak yang bagus. Tidak hanya membanggakan di dunia saja, tapi juga di
akherat kelak.
***
Hari Ahad kami berangkat. Aku, dik Alya dan Cintya. Kami pulang dengan
pesawat terbang lewat bandara Sukarno Hatta. Kami berangkat jam sepuluh pagi. Ummi
ikut mengantarkan kami sampai di bandara.
“Hati-hati kalian. Semoga selamat sampai tujuan. Kakekmu telah menunggu
kalian semua di desa.” Ucap ummi tulus.
Kami pamitan sama ummi. Kucium tangan beliau. Dik Alya mengikuti lalu
Cintya.
“Saya pergi dulu Bunda.” Ucap Cintya dengan senyum mengembang sambil
mencium tangan ummi.
“Jaga diri Cintya. Semoga betah di sana.” Balas ummi.
Kami berpisah dengan ummi. Perjalanan di udara kurang lebih satu jam. Turun di
bandara Ahmad Yani Semarang. Kemudian naik bus jurusan Jepara. Sampai di rumah
jam tiga sore. Kakek menyambut kami dengan keramahan yang luar biasa. Keadaan
rumah agak sepi karena nenek sudah tiada. Aku memeluknya lalu diikuti dik Alya.
Kakek mempersilahkan kami duduk.
“Ini siapa Al, cantik sekali. Kayaknya bukan orang Indonesia.” Tanya kakek
dengan berbahasa jawa.
270
“Ini teman Alya Kek.”
“Namanya siapa Neng?” Tanya kakekku pada Cintya dengan berbahasa jawa juga.
Cintya terlihat bingung dan nggak ngeh. Dek Alya lalu menyahut.
“Your name.” Katanya.
“Cintya.” Jawabnya sambil tersenyum. Mungkin dia merasa lucu mendengar
bahasa kami. Terdengar kaku. Maklum, itulah bahsa halus yang di gunakan kakek,
bahasa krama. Bahasa Indonesia jarang, hampir tidak pernah. Apalagi bahasa inggris,
mungkin tidak tahu menahu sama sekali. Tapi kalau bahasa Jepang malah faham.
Soalnya waktu zaman penjajahan Jepang dulu, beliau sering ngomong dengan orang
Jepang. Jadi faham bahasanya. Aku sering mendengar cerita tentang kekejaman Jepang
dari beliau.
“Dari mana asalnya.”
“Amerika Kek.”
“Ooo… Pantas saja wajahnya bukan seperti orang Indonesia. Sudah lama tinggal
di Indonesia?”
“Sama dengan Alya Kek.”
“Semoga saja kamu tidak bersikap seperti presidenmu yang suka menyerang
negara lain ya Neng.”
Aku melihat ekspresi Cintya. Dia tersenyum mendengar ucapan kakekku.
Mungkin dia bertanya pada dirinya sendiri, darimana kakekku tahu tentang hal itu.
Jangan salah, kalau soal berita atau informasi kakek selalu mengikuti dari telivisi.
Kemudian berkata, “Kakek bisa saja. Aku tidak seperti itu kek. Aku tak ingin menyakiti
banyak orang yang tak bersalah dengan berperang.”
“Cintya itu ramah sekali Kek. Jadi tak mungkin kalau dia sama dengan
presidennya yang suka nyerang negara-negara Islam.” Dik Alya membela.
“Ooo begitu ya. Baguslah. Tapi maaf ya Neng, mungkin rumah kakek tidak
sebagus dengan rumah yang Neng tempati. Ini hanya gubuk reyot. Sedangkan rumah
Neng mungkin istana raja. Maklum sudah tua. Buat apa rumah bagus dan mewah. Nanti
kalau mati juga nggak dibawa.”
“Sama saja Kek. Malah ini lebih bagus. Lebih tenang. Tidak ada suara bising
kendaraan. Aku sangat suka dengan suasana yang seperti ini.” Balasnya diplomatis.
271
“Anggap saja rumah sendiri Cin. Jangan malu-malu ya. Kakek itu orangnya baik
banget. Sama seperti Ummi. Apalagi dengan tamu. Beliau sangat menghormati
tamunya. Melebihi raja.” Tukas dik Alya.
“Iya Cin. Anggap saja rumah sendiri. Seperti di Jakarta.” Ikutku.
***
Pagi harinya, Cintya mengajak dik Alya jalan-jalan keliling kampung. Udara yang
terasa sejuk seakan membelai-belai mereka berdua. Karena di rumah kakek nggak ada
kendaraan bermotor, dik Alya pun menggunakan sepeda biasa. Cintya membonceng di
belakang. Aku melihat kedua gadis cantik lewat kaca jendela.
“Kamu yang depan Cin.” Kata dik Alya.
“I can not ride bicycle Al.” Jawab Cintya.
“Nanti aku ajari. Ayolah!”
“Really! I can not do it.”
“It’s no at all Cin.”
Maklum kalau Cintya nggak bisa memakai sepeda karena sering mengendarai
mobil mewah. Tapi akhirnya Cintya mau juga setelah dipaksa dik Alya. Ternyata dia
bisa. Selangkah dua langkah. Tapi akhirnya Cintya terjatuh dari sepeda.
“Oh my god!” Teriaknya.
“Cin! Kamu baik-baik saja.” Kata dik Alya.
“I’m Ok. It’s never mind.” Desisnya.
“Sory Cin. Sudahlah kalau begitu, aku yang depan. Kamu bonceng saja di
belakang.”
Dik Alya mengelus kaki Cintya yang baru saja terkena tanah. Mungkin sakit
karena jatuh dari sepeda. Mereka berdua seperti kakak beradik yang sangat akrab. Dik
Alya kembali mengendarai sepedanya. Cintya membonceng di belakang. Dia keluar dari
halaman rumah. Tak tahu entah ke mana.
“Kak, Alya keluar dulu sama Cintya.” Teriaknya.
“Hati-hati ya.” Balasku.
Perasaan cinta hadir lagi menghiasai hatiku bersamaan dengan pemandangan yang
aku lihat di halaman rumah. Andaikan saja dia mau menikah denganku, aku akan
272
langsung bicara sama kakek untuk meminta restu darinya. Akan tetapi sepertinya cinta
sejati tidak akan memihak pada kami berdua. Cintya sudah pada keputusannya. Ia tak
ingin lagi tersakiti oleh cinta yang tak pasti.
Semuanya sudah berlalu. Waktu yang berlalu tidak akan bisa diputar mundur.
Biarkan semua itu akan terkenang dalam hatiku. Dan juga hatinya. Biarkan cinta itu
akan mengalir dalam persahatan. Itu lebih indah. Walau lambat laun akan terpisah, tapi
cinta tetap tak kan bisa dipisah. Selamanya akan tetap ada. Abadi dalam hati. Meski
tanpa ada kebersamaan.
Inilah hakekat cinta yang tulus. Cinta yang tak akan pernah mengharapkan
kehadiran dari orang yang di cintai. Cinta yang hanya mengharap ridlo Ilahi.
Sebagaimana yang pernah di katakan oleh beliau baginda Nabi, bahwasanya dua orang
sahabat yang saling mencintai. Kemudian mereka berpisah (bukan karena pertengkaran
lho) melainkan karena Allah atau untuk berjuang dalam kebaikan, maka mereka
termasuk salah satu dari tuju golongan yang kelak pada hari kiamat akan mendapatkan
tempat berteduh, di saat tiada seorang pun yang bisa memberi tempat berteduh.
***
“Insya Allah sebentar lagi Fajar akan wisuda Kek.” Ceritaku pada kakek di
belakang rumah. Beliau tersenyum.
“Itu nikmat Allah namanya. Kamu bisa seperti sekarang ini bukanlah karena
usahamu semata. Itu pertolongan Allah yang telah diberikan padamu. Jangan bangga
dengan gelar dunia yang kamu dapatkan dari kuliah. Gelar dunia tidak ada artinya kalau
kita tak punya moral dan etika.” Jawabnya menasehatiku.
“Iya Kek. Semoga Fajar sadar akan hal itu.”
“Di dunia ini banyak orang yang punya gelar Doktor dan Profesor, tapi
kelakuannya tidak sama dengan gelarnya. Besok kalau kamu jadi Profesor atau Doctor
jangan begitu. Gelar dunia itu tak penting. Tak akan kita bawa kalau mati. Yang lebih
penting adalah akhlak dan tingkah laku yang mulia.”
Nasehat kakek sangat berarti. Aku mengangguk-nganggukan kepala. Memang
benar apa yang baru saja dikatakan oleh kakek. Begitu banyak orang menyandang gelar
Doktor dan Profesor, tapi terkadang kelakuannya jauh lebih buruk dari pada orang yang
273
tak punya gelar sama sekali. Karena mereka hanya punya gelar dunia saja yang
diberikan oleh sesama manusia. Mereka tak punya gelar yang diberikan oleh Allah yaitu
gelar Mu’minin dan Muttaqin. Makanya banyak orang yang bergelar Profesor, tapi
masih suka korupsi. Mencuri uang negara. Meski pada kenyataannya mereka juga sudah
kaya. Punya harta yang melimpah dan mobil mewah. Tapi tetap saja uang negara di
embat.
Lho, katanya Profesor. Kenapa tindakannya seperti itu. Bukankah seharusnya
Profesor itu memberi contoh yang baik dalam bertindak sebagaimana gelar yang telah
disandangnya. Seharusnya memang begitu, tapi kenyataannya banyak Profesor yang tak
punya moral. Itu dikarenakan mereka tak punya gelar Iman dan Takwa. Gelar yang jauh
lebih penting dari sekadar Profesor atau Doktor.
***
Puncak gunung itu terlihat anggun sekali. Tampak sejengkal di depan pandangan
mata kami. Begitu gagah tegak berdiri. Ketinggiannya seolah menyentuh langit dunia.
Dialah Sang Maha Agung yang telah berkuasa menciptakannya. Gunung tegak berdiri
sebagai tiang bumi. Hal itu menjadi pemandangan khas di daerah pedesaanku. Setiap
pagi para penduduknya turun untuk pergi ke pasar. Ada yang berjalan kaki menelusuri
jalan setapak. Ada juga yang naik truk.
Namun seiring perkembangan zaman sudah sedikit sekali yang berjalan kaki.
Sejak subuh mereka sudah mulai bertebaran di pasar untuk mencari rejeki. Sebelum
orang bangun mereka sudah terbangun lebih dulu. Bangun di pagi hari memang jauh
lebih baik dari pada meneruskan tidur.
Melihat pemandangan seperti itu, Cintya tampak heran. Orang-orang kecil di desa
selalu bekerja keras untuk mencari sesuap nasi guna memenuhi perutnya. Tak peduli
meski harus banting tulang ke sana-kemari. Padahal hasil yang didapat tidaklah
seberapa. Yang penting cukup dan barokah. Semua itu dilakukan demi perjuangannya
menghidupi anak istri. Tanpa begitu, mereka tidak kan bisa hidup. Lebih berat
dibanding dengan orang kota. Tinggal duduk manis dengan pakaian rapi, mereka sudah
bisa menghasilkan uang. Bahkan jutaan rupiah pun bisa didapat hanya dalam hitungan
detik saja.
274
Sebenarnya, hidup di dunia tidak perlu kaya, itu kata Cintya. Yang terpenting bisa
selalu tercukupi kebutuhannya. Orang yang kaya belum tentu cukup, tapi orang yang
cukup pasti kaya. Lebih kaya dari pada para konglomerat yang masih selalu merasa
kurang dengan harta yang telah dimilikinya. Karena mereka tidak bisa mensyukuri
nikmat yang diberikan oleh Allah. Sedangkan orang desa selalu bisa mensyukuri
nikmatnya. Meski yang didapat itu kecil, mereka masih bisa berbagi dengan yang lain.
Dengan tetangga sebelahnya. Masak sedikit, tapi dibagi dengan tetangganya. Meski
hanya kuahnya saja.
Mereka begitu akrab dengan sesama. Saling membantu. Bergotong royong tanpa
harus mengeluarkan upah. Satu kebersamaan yang sulit sekali kita dapati di masyarakat
perkotaan. Bahkan mungkin sudah tak bisa. Segala sesuatu diukur dengan uang.
Melakukan hal sekecil apapun harus menghasilkan uang. Kalau tidak ada uang tidak
mau melakukan. Tidak ada rasa saling menolong. Tidak ada gotong royong. Semu
berjalan sendiri-sendiri dan jarang berinteraksi.
“Sekarang kamu bisa lihat sendiri Cin kehidupan di desa seperti apa. Semua serba
sederhana. Tak berlebihan. Dan memang tak ada sesuatu yang di gunakan untuk
berlebih-lebihan.” Kataku menjelaskan.
“Sudah lama saya menginginkan kehidupan seperti ini. Penuh kebersamaan.
Penuh keakraban. I like it. I love it Fajar.”
“Andai saya jadi orang desa pasti sudah menjadi bunga desa. Benar kan?”
Katanya memuji diri sendiri.
“Tentu saja. Karena kamu cantik dan kaya. Baik lagi. Pemuda mana yang tidak
tertarik dengan wanita sepertimu Cintya.”
“Bukan begitu maksudku Fajar.”
“Lalu?”
“Andaikan aku bisa membeli tanah di sini, aku akan membuat rumah di sini. Dan
menjadi penduduk sini. Menurut kamu bagaimana?”
“Memangnya kamu betah tinggal bersama orang-orang kampung. Jangan-jangan
baru sebulan sudah ingin pindah. Keinginan kamu selalu aneh-aneh Cin. Sejak aku
mengenalmu, kamu seperti bukan gadis Amerika yang punya selera tinggi. Seleramu
seperti layaknya orang desa. Selalu biasa-biasa saja. Padahal kamu bisa berbuat apa saja
275
sesuai harta benda yang kamu miliki. Aku jadi heran dengan pribadimu Cin. Dari dulu
kamu selalu membuatku bingung.”
“Apapun yang kamu katakan aku tak peduli Fajar. Aku merasa damai dengan
kehidupan seperti ini. Tidak seperti apa yang pernah aku rasakan di Amerika. Aku
benar-benar tertekan dengan keluargaku dan juga lingkunganku. Di sini aku merasa
aman dan bahagia. Hidup di tengah orang-orang asing yang bukan dari keluargaku
sendiri. Aku benar-benar nyaman hidup di sini. Penuh dengan kesederhanaan dan
keakraban.”
“Bukankah kamu pernah bilang bahwa se-enak-enaknya hidup di negara orang
lebih enak hidup di negara sendiri meski banyak penderitaannya.”
“Itu dulu Fajar.”
“Apa bedanya dulu dengan sekarang.”
“Of course. It’s different. Karena aku ingin berubah dan mengubah hidupku
sendiri. Dan yang bisa merubah itu semua adalah....”
“Allah Cintya.” Sahutku.”
“Bukan Fajar.” Elaknya.
“Siapa?!”
“Orang yang ada di sampingku.”
“Maksudmu.”
“Ya, aku banyak belajar dari dirimu. Kesederhanaanmu. Kedermawananmu. Dan
masih banyak lagi. Kamu telah mengajari banyak hal dalam hidupku. Sehingga aku
ingin berubah dan mengubah diriku menjadi lebih baik. Tanpa dirimu, aku tidak bisa
begini. Aku sudah pulang ke Amerika dan aku tidak tahu akan seperti apa nantinya di
sana. Mungkin aku bisa saja kembali ke agamaku yang dulu, mengikuti ayah dan ibuku.
Atau mungkin saja, aku akan terjerumus ke dalam hitamnya pergaulan sex bebas.
Untung kamu datang ke bandara dan mencegahku untuk pulang. Andaikan kamu nggak
datang pasti aku sudah pulang. Dan aku akan merasakan kesengsaraan di tengah-tengah
orang yang membenciku.”
“Jangan berkata begitu Cintya. Kesengsaraan itu hanya milik orang-orang yang di
hatinya tidak ada ketulusan dan keikhlasan dalam melakukan segala hal. Termasuk
dalam urusan cinta. Cinta yang tak tulus juga akan menyisakan kesengsaraan dan
kekecewaan.”
276
“You are right. I can aware it. Sekarang aku hanya ingin menumpuk cintaku pada
Allah. Cukuplah cinta Allah yang ada di hatiku. Itu jauh lebih membahagiakan dari
pada mengharap cintanya manusia yang belum pasti bisa diraih. Benar kan Fajar.”
“Ya, aku juga menyadari itu. Dahulu ketika aku mencintai Naela juga merasakan
kecewa dan sengsara. Karena cinta itu tidak didasarkan atas cinta pada Allah.”
“Kalau tidak karena dirimu, aku juga tidak bisa menemukan hal bijak ini Fajar.
Kalau memang Tuhan menciptakan cinta pasti kita bisa bersama. Kalau tidak, cinta kita
juga tidak akan bersatu.
“Niat kita ke Jakarta untuk mencari ilmu Cin, bukan mencari cinta. Semoga kita
bisa mengutamakan apa yang jadi niat utama. Kalau bisa mendapatkan cinta yang kita
damba belum tentu bisa mendapatkan ilmu yang kita cari. Tapi kalau ilmu sudah kita
dapatkan pastilah cinta yang kita damba akan ikut bersamanya. Tak usah kuatir dengan
hal itu karena semua sudah di gariskan oleh Tuhan.”
“Kini saatnya kita berjuang bersama-sama mencari ilmu demi kemajuan Islam.
Seperti cita-cita besarku. Aku ingin membuat Islam jaya di Amerika. Aku ingin
mengislamkan Amerika. Aku ingin berjuang untuk Islam di Amerika. Aku yakin pasti
bisa.” Kata-kata Cintya besemangat.
“Saya selalu mendoakan kamu Cin, pasti kamu bisa. Tuhan akan meridhoi
hambanya yang berjuang untuk agamanya.”
***
Usai makan malam, aku berbincang sama kakekku. Aku memberi tahu tentang
niatku menikahi gadis, tapi ditolak.
“Memangnya siapa tho Le perempuan yang kamu sukai itu?” Tanya kakekku
halus.
“Dia teman dik Alya Kek. Sudah lama aku suka padanya. Aku juga pernah sakit
gara-gara memikirkannya.”
“Memangnya seperti apa tho orangnya. Sampai kamu jatuh sakit gara-gara
memikirkannya? Apa orangnya seperti malaikat?”
277
“Betul Kek, dia seperti malaikat. Dia begitu mengagumkan Kek. Andaikan tangan
kakek teriris pisau, pasti tidak akan terasa bila menyaksikan kecantikannya wanita itu.
Lebih pantas disebut sebagai bidadari surga.”
“Wualah cuma gitu tho Le. Itu namanya kamu tertipu dengan dunia. Itulah salah
satu tipuan dunia yang banyak menipu manusia di jagad raya. Meskipun banyak
menipu, tapi kebanyakan manusia tidak bisa menyadarinya. Dia terus saja bergelimang
dengan wanita. Wanita di mana saja sama. Cantik ataupun tidak, rasanya pasti sama.
Semuanya ibarat ketela yang dihias dengan warna-warni. Ada yang merah, hijau,
kuning dan lain sebagainya. Semua rasanya pasti sama meskipun warnanya beda-beda.
Karena bahannya sama.”
“Begitu juga wanita. Apakah putih, atau hitam, kuning pasti rasanya sama. Karena
Allah membuatnya dari bahan yang sama. Dari setetes air yang menjijikkan. Itu yang
harus kamu ingat agar tidak tertipu dengan wanita. Wanita yang warnanya cantik
mempesona belum tentu hatinya juga ikut cantik mempesona. Malah sekarang ini
banyak yang terbalik. Seperti di televisi-televisi itu. Wajahnya cantik-cantik, tapi apa
yang kamu lihat. Banyak yang nggak punya moral agama. Pakaiannya dibuka-buka.
Pakaian yang harusnya dipakai anak kecil malah dipakai untuk orang dewasa. Akhirnya
tubuhnya banyak yang terbuka. Itu nggak punya malu namanya. Moralnya nggak sesuai
dengan kecantikannya. Apa kamu mau seperti itu tho Le.”
“Ya tentu saja tidak Kek.”
“Makanya jangan mau tertipu dengan kecantikan wajah wanita. Yang penting
moral dan etika dalam kehidupannya sehari-hari. Kakek doakan kamu dapat jodoh yang
sholehah. Cepat menikah agar kakek bisa melihat cucunya sebelum meninggalkan
dunia.”
“Nanti kalau sudah waktunya juga dapat Kek. Sekarang memang belum
waktunya, makanya gadis yang aku kejar-kejar nggak mau menerimaku.”
Dalam hati aku sebenarnya tertawa mendengar omonganku sendiri. Mengejar satu
wanita saja tak bisa. Malah banyak membawa kecewa dan sakit hatiku. Mungkin Naela
memang bukan jodohku. Tapi aku masih merasa aneh. Meski aku selalu merasa tersakiti
oleh tingkah polah Naela, aku masih selalu saja ingin mendapatkan cintanya. Meski aku
selalu kecewa dengan sikapnya, aku masih ingin selalu mengejarnya. Itulah misterinya
gadis manis keponakan ustadz Bashori. Yang sampai detik ini, aku belum bisa
278
memastikan apakah bisa melupakannya. Aku hanya bisa berdoa pada Sang Maha Cinta
disetiap sujudku. “Wahai Sang Maha Cinta, alangkah indahnya jika aku bisa menikah
dengan gadis yang bernama Naela Salsabila. Tumbuhkanlah cinta di hatinya untukku,
agar aku bisa merasakan cintanya. Agar kami bisa bersatu dalam ikatan suci yang Kau
ridloi.”
***
279
27
LANGIT JAKARTA MENANGIS
Wajahku masih terbalut duka yang mendalam. Keceriaan yang aku peroleh saat
sidang munaqosah berganti sendu dan muram. Keindahan cakrawala juga ikut sirna,
mereka semua menampakkan kemurungannya. Semua itu tak lain dan tak bukan karena
cinta yang tak bisa kuraih. Aku harus bisa menekan perasaanku sendiri. Aku harus bisa
memotivasi diriku sendiri. Semua yang kulakukan adalah kehendak dan niatku sendiri.
Kalau memang Naela tidak mau menerima, aku pun harus berlapang dada. Akan aku
hapus cinta itu. Akan kualihkan cinta itu. Sudah berkali-kali aku harus tenggelam dalam
samudra cintanya seorang Naela. Aku tak boleh terlena lagi ke dalam lautan asmaranya.
Aku harus bisa meninggalkan cinta untuk Naela. Aku harus segera menghindar dari
panah asmaranya. Cukup sampai di sini saja. Aku akan fokus untuk membantu ummiku.
Aku harus lebih memperhatikannya. Aku akan beralih memperhatikan ummi dan dik
Alya. Beliau sudah semakin tua, meski wajahnya tampak cantik dan muda.
Akhir-akhir ini ummi semakin sibuk dengan pekerjaannya. Karena banyak sekali
tawaran untuk membuat pakaian. Setiap hari karyawannya kerja lembur. Terkadang
ummi juga ikut. Kemarin, saat aku menelfon ke rumah beliau terdengar batuk-batuk.
Aku menasehati agar beliau istirahat saja dan pekerjaannya diserahkan pada Bu Ida.
Tapi beliau masih maksa. Bolak balik ke sana-kemari bersama Pak Amin. Modar-
mandir ke sana-kemari mengurus bisnisnya yang semakin besar dan terus banyak
tawaran dari relasinya. Aku juga tak habis pikir, kenapa konveksi ummi semakin ramai,
padahal umur ummi semakin menua. Secara otomatis tenaganya pun berkurang.
Dua minggu lagi aku akan wisuda. Sesuai dengan tanggal yang telah di tetapkan
oleh pihak Universitas. Yaitu tanggal 04 September. Mungkin sekitar 600 wisudawan
dan wisudawati akan berkumpul di Auditorium Utama dalam acara besar itu.
Keinginanku untuk punya pendamping hidup saat wisuda ternyata kandas. Aku harus
memendam keinginan itu. Aku berencana mengajak Kakek ke Jakarta agar bisa
menyaksikan cucunya wisuda.
Ahad lusa, kami akan kembali ke Jakarta. Tapi ada yang aneh dengan Gadis dari
Amerika. Dia tidak mau kembali ke Jakarta. Dia lebih suka tinggal di desaku, di rumah
kakekku. Katanya enak sekali. Asri, damai dan tentram. Tidak ada huru-hara sama
280
sekali. Tidak ada kemacetan yang menyesakkan dada. Dia jauh lebih menikmati
kehidupan pedesaan. Alam pedesaan dirasa lebih cocok oleh gadis Amrik itu. Entahlah,
sihir apa yang telah menawan hatinya. Menurutku biasa-biasa saja. Tapi bagi gadis
Amerika seperti Cintya, hal itu dianggapnya sebagai hal yang luar biasa.
“Kamu benar Cin nggak ingin comeback ke Jakarta, di sini kamu akan tinggal
sama siapa?” Tanyaku pada Cintya.
“Tidak bisakah kita tinggal lebih lama lagi di sini Fajar.” Ucapnya balik
menanyaiku.
“Tapi urusanku bukan hanya di kampung ini saja Cin. Sejak kapan kamu seperti
anak kecil begitu?”
“Sejak aku menemukan kedamaian hati di kampung ini. Di kampung yang tidak
pernah aku temui lagi setelah ini. Di kampung yang tidak pernah bisa aku temukan
selain di sini. Di kampung yang orangnya ramah-ramah dan baik hati. Ya, di sinilah
kedamaian itu aku dapatkan. Kedamaian yang telah lama aku impikan.”
“Suatu saat kita bisa ke sini lagi Cin. Kamu bisa menikmati pemandangan indah
ini lagi.”
“Belum tentu Fajar. Kesempatan itu datangnya cuma sekali.”
“Kalau begitu terserah kamu. But we must come back to Jakarta tomorrow.”
***
Kami akan kembali ke Jakarta nanti sore. Aku ingin naik pesawat, tapi kakek
tidak mau. Alasannya sama seperti ummi. Takut jatuh, karena pesawat di negara ini
semakin amburadul. Dalam sepekan saja di televisi telah memberitakan dua kecelakaan
pesawat terbang. Apa nggak parah namanya.
Sekitar jam sembilan pagi HPku menjerit keras. Nomor Bu Ida menghiasi layar
HP. Kuangkat.
“Assalamu’alaikum Mas Fajar.” Beliau memberi salam.
“Wa’alaikum Salam, ada apa Bu?” Tanyaku.
“Itu mas, anu.. anu...” Jawabnya gugup.
“Anu apa Bu, yang jelas.”
“Itu Mas.. ibu.. Bu Latifah di rumah sakit.”
281
“Rumah sakit! Memang ada apa Bu?! Apa yang terjadi dengan Ummi!” Kagetku.
“Ibu Latifah kecelakaan. Kondisinya sangat parah.”
“Apa..!!! Kecelakaan..!” Ucapku keras.
“Bagaimana bisa terjadi Bu? Bagaimana ceritanya?” Lanjutku.
“Ceritanya nanti saja Mas. Kalau bisa Mas Fajar langsung ke Jakarta sekarang
juga. Soalnya kondisinya sangat kritis. Assalamualaikum Mas.”
“Wa’alaikum Salam.”
Deg...!! Kakiku terasa kaku. Tak bisa melangkah. Aku termenung sejenak
memikirkan nasib ummi. Ingin rasanya aku menjerit. Berteriak memanggil ummi.
Melihat ekspresiku dik Alya langsung mendekat.
“Kenapa Kak?” Tanyanya heran.
“Ummi Dik.” Jawabku lemas.
“Iya tahu, kenapa Ummi Kak.”
“Bu Ida telfon, katanya ummi di rumah sakit. Kecelakaan dik.”
“Apa!!” Dik Alya tersentak kaget. Wajahnya sendu dan lemas. Sesaat kemudian
pipinya langsung teraliri air mata. Dik Alya terisak untuk kesekian kalinya.
“Bagaimana mungkin ini terjadi Kak.” Lanjutnya sambil sesenggukan.
Mendengar tangis dik Alya, aku berusaha menguatkan diriku. Aku tak boleh
tenggelam dalam tangis. Ini cobaan. Apapun bisa menimpa manusia kapan dan di mana
saja. Semoga ummi baik-baik saja.
“Sabar Dik ya. Ummi pasti baik-baik saja. Ummi pasti akan kembali seperti
semula. Berdoa saja sama Allah. Aku akan ke Jakarta sekarang juga. Tiket bus buat
saya bisa diganti oleh Mbak Nora. Semoga aku masih bisa mengejar keberangkatan
pesawat dari Semarang. Ya, semoga saja masih bisa.” Kataku pada dik Alya. Dia masih
sesenggukan.
Aku langsung memberi tahu kakek dan Cintya atas berita duka ini. Mereka semua
kaget dan tak percaya.
“How it can be!” Kata Cintya. Matanya terlihat memerah. Ingin mengeluarkan air
mata. Namun dia bisa menahan.
Setelah memberi tahu kakek dan Cintya, seketika itu juga aku langsung berangkat
ke Semarang. Mereka bertiga akan berangkat nanti sore. Alhamudlillah aku bisa
mendapatkan tiket pesawat yang berangkat jam 13.45 siang. Di dalam pesawat aku di
282
rundung oleh kesedihan. Wajah ummi berkelebatan di depanku. Kubayangkan wajah
ummi yang sudah semakin menua. Kubayangkan wajah ummi yang selalu tersenyum
ramah. Semuanya terbayang dalam hati dan pikiranku. Akankah beliau meninggalkan
kami untuk selama-lamanya. Aku mengusap air mataku. Seorang ibu-ibu yang ada di
sampingku menyapa.
“Kamu kenapa dik menangis?” Tanya ibu itu ramah.
Aku tersenyum ke arah ibu itu. Senyuman yang aku paksakan.
“Tak apa-apa Bu.” Jawabku
“Jangan bohong Nak. Kebohongan itu tidak akan membawa keselamatan.”
Aku tersadar dengan ucapan ibu itu. “Maaf Bu. Saya sedang mengejar ibu saya
yang sedang kritis di rumah sakit. Beliau kecelakaan.”
“Saya doakan, ibu kamu selamat ya.”
“Terima kasih banyak Bu.”
Sampai di rumah, adzan isyak sedang berkumandang. Aku langsung shalat dan
memohon pada Allah atas keselamatan ummiku. Sehabis shalat, aku langsung bergegas
ke rumah sakit. Di rumah tidak ada mobil. Aku membawa motor. Sampai di rumah sakit
aku bertemu dengan Mbak Lina. Matanya terlihat merah seperti habis menangis. Juga
Bu Ida. Beliau sedang terisak. Melihat kedatanganku mereka semua terdiam.
“Ummi mana Mbak?” Tanyaku sama Mbak Lina.
Dia malah diam. Dan hanya memandangiku. Lalu Bu Ida juga ikut
memandangiku. Mereka semua terdiam. Tak tahu apa yang terjadi.
“Di mana Ummi Mbak?”
“Ibu Mas...! Ibunya Mas Fajar... telah tiada ” Ucap Mbak Lina sambil terisak.
“Innalillaahi Wainna Ilaihi raji’un.” Lirihku.
Tubuhku semakin layu mendengarnya. Tak kuat berdiri dan menahan badan ini.
Aku ingin terjatuh ke tanah. Badanku lemas sekali mendengar kabar ini. Aku masuk ke
dalam dan menemukan sosok bunda yang telah terbujur kaku tertutup kain putih.
Kusingkap kain itu. Wajah ummi kupandangi. Aku mencium sesaat. Tubuhku semakin
lemas. Aku meneteskan air mata di wajah ummi. Semoga dia tahu bila anaknya sedang
menangis di wajahnya. Aku menumpahkan tangis lirih di badan ummi yang telah tak
bernyawa. Kubaca doa dan istigfar berulang kali untuk beliau.
283
“Qul Lay Yushiibanaa Illaa Maa Kataballahu Lanaa Huwa Maulaanaa
Wa’alallahi Falyatawakkalil Mu’minuun. 43 ” (Sekali-kali tidak akan menimpa kami
melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan
hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.)
“Kenapa harus secepat ini Um. Kenapa aku tak bisa menemani Ummi. Maafkan
aku Um bila punya banyak salah.”
Kenapa beliau harus pergi ketika aku tak ada di rumah. Kenapa aku tak bisa
menyaksikan kepergian beliau. Salahkah aku pada ummiku. Berdosakah aku pada
bundaku. Kini sosok peramah yang ada di depanku tak lagi bisa menasehatiku. Sosok
bijak yang ada dihadapanku tak lagi bisa kudengar kata-kata bijaknya untuk selama-
lamanya.
Sementara, di kamar sebelah seorang laki-laki yang sudah aku kenal sedang
terbujur lemas. Diaah pak Amin.
“Maafkan saya Mas. Karena telah membuat ibu Mas Fajar tiada.”
“Sudahlah Pak, jangan menyalahkan diri. Tak ada yang salah. Ini cobaan bagi
kita. Semoga kami bisa tulus menerimanya.”
“Sebenarnya, pagi itu saya sudah melarang Bu Latifah pergi bersamaku ke
Tangerang Mas. Beliau juga dalam keadaan sakit. Saya sudah meminta Bu Ida untuk
menggantikannya. Tapi beliau tetap memaksa. Di jalan tol saya menghentikan mobil
karena darurat. Ban depan kempes. Saya sudah berhenti di lajur yang paling kiri. Pada
saat saya mengganti ban depan, tiba-tiba dari belakang ada mobil truk yang oleng lalu
menabrak mobil kami. Saya pun terpental. Mobilnya rusak parah. Ibu yang saat itu ada
di dalam mobil pun ikut melayang bersama mobilnya karena di tendang oleh truk itu.
Mungkin saja pengemudinya ngantuk. Kepalanya bercucuran darah. Orang-orang yang
ada langsung melarikan ke rumah sakit. Namun Allah berkehendak lain. Nyawa ibu tak
tertolong lagi. Saya minta maaf Mas atas kejadian ini.”
“Sudahlah Pak, pak Amin istirahat saja. Semoga Pak Amin lekas sembuh dan bisa
bekerja lagi. Kita ikhlaskan saja kepergian Ummi. Semoga Allah mengampuni segala
dosanya.”
***
43
QS. At-Taubah: 51.
284
Pagi hari kedatangan kakek dan dik Alya serta Cintya disambut dengan cucuran
air mata. Baru kali ini aku melihat air mata kakek meleleh dihadapan anaknya. Anak
yang sangat dicintainya. Anak yang punya sikap bijak seperti sikapnya. Kini tak ada
lagi yang bisa kami lakukan lagi teruntuk bunda tercinta kecuali doa. Dik Alya terisak
lirih di tubuh sang bunda yang telah tak bisa menggerakkan badannya. Aku mengelus
pundaknya. Dia terus sesenggukan dihadapan bundanya.
“Sudah Dik, kita tak boleh larut dalam kesedihan. Hapuslah air mata dik Alya.
Kita berdoa saja untuk kebaikan bunda.” Ucapku lirih.
“Iya Kak. Semoga Ummi bahagia di sana. Semoga Ummi baik-baik saja di sana.
Semoga Ummi bisa memetik segala kebaikan yang telah dilakukan di dunia ini. Semoga
rahmat Allah selalu untuknya.”
Kami semua begitu terpukul. Di saat beliau kritis, kami tak ada di sampingnya.
Kami tak bisa menemaninya di saat Allah mengambilnya. Padahal kemarin saya sudah
bilang kalau sebentar lagi akan wisuda. Ummi akan menyaksikan hari di mana anak
kesayangannya di wisuda. Tapi kini apa yang terjadi?! Kabar yang menggembirakan itu
tak lagi bisa dirasakan oleh ummi. Aku masih teringat betul apa yang dikatakan oleh
ummi sebelum pulang ke desa.
“Ummi bangga punya anak seperti kamu Fajar. Pasti ummi akan menyaksikan
hari wisudamu nanti.”
Itu kata-kata ummi yang aku ingat. Waktu itu aku begitu yakin bahwa sebentar
lagi ummi akan menyaksikan anaknya wisuda. Aku yakin bahwa ummi akan bangga
melihatku. Tapi kini apa yang bisa di rasa oleh ummi? Semoga hati ini bisa ikhlas dan
tulus setulus-tulusnya mengiringi kepergian ummi. Semoga ummi damai di sana. Di
alam yang kita sendiri belum bisa merasakannya. Semoga bunda Maryam mendatangi
dan menghiburnya kemudian mengajaknya menuju taman surga. Amin.
Kini aku dan dik Alya hanya bisa memandangi gundukan tanah merah di tanah
pemakaman ini. Tak tahu apa yang sedang dirasakan ummi di alam sana. Kutaburkan
bunga di atasnya, teriring ucapan doa dan istigfar untuk sang Bunda. Semoga ampunan
Allah selalu turun untuk sang Bunda yang telah tiada. Kutermenung di depannya
berteman air mata. Dik Alya masih terisak lirih di sampingku. Kakek dan keluarga om
Taufik serta Cintya hadir juga. Begitu juga keluarga ustadz Bashori dan teman-teman
285
kampus. Dan masih banyak lagi. Mereka semua menyaksikan kesedihan kami. Dan juga
berusaha untuk menghibur hati kami. Kakek juga tak henti menasehati kami. Ketabahan
dan kesabaran itu akan membawa kedamaian pada jiwa sang Bunda.
Bunda
Kini kau pergi
Tanpa seijin kami
Akan kami relakan kepergianmu
Menghadap sang Ilahi
Karena kepergianmu
Bukanlah beban bagi jiwa kami
Cinta dan kasihmu
Akan abadi di hati ini
Hari ini langit Jakarta sendu. Mengiringi tangisan kami yang ditinggal oleh sosok
tercinta yang selalu mengeluarkan kalimat bijaknya. Menemani kesedihan kami yang
telah ditinggal ummi untuk selamanya. Selamat tinggal ummi. Semoga kau
mendapatkan kebahagiaan di alam sana.
***
286
28
SANG JUARA
Sejak kepergian sang Bunda rumah kami terasa sepi sekali. Jauh sebelum ummi
pergi, aku sudah mengaharapkan akan kedatangannya dihari wisudaku. Hari ini adalah
hari yang membahagiakan bagiku, namun masih ada yang terasa kurang. Ummi tak bisa
menyaksikan kebahagiaan ini. Kesedihan itu masih sangat terasa di hati kami. Akankah
kebahagiaan ini akan terkubur bersama jasad ummiku.
Ah, tidak! Aku harus bisa meraih harapanku. Membahagiakan orang tua dan juga
adikku. Meski hari ini, ummi tak bisa menyaksikan kebahagiaan anaknya, semoga saja
ummi bisa melihatku wisuda dari alam sana. Alam yang aku sendiri tidak tahu seperti
apa warnanya.
Hari ini, di mana seharusnya ummi ada di sampingku, namun sepertinya Tuhan
tak mengijinkannya. Hari ini semoga ummi merasakan bahagia sebagaimana
kebahagiaan yang telah aku rasa. Hari ini, di mana sekitar enam ratus mahasiswa dan
juga mahasiswi akan meraih gelar sarjana. Hari ini, di mana para mahasiswa dan juga
mahasiswi akan mengakhiri segala aktifitas di kampus tercinta. Setelah segala suka dan
duka terlewati bersama civitas akademika. Hari ini, di mana semua orang tua diundang
hadir untuk menyaksikan anak-anaknya. Hari ini, di saat semua bisa merasakan bahagia
bersama keluarganya, namun aku masih merasakan kesedihan yang luar biasa. Semoga
kesedihan itu akan segera pergi dari jiwa kami. Akan segera pergi bersamaan dengan
bahagianya hari ini.
Acara wisuda itu dimulai jam tuju pagi. Di awali dengan upacara pelepasan
mahasiswa. Setelah itu digedung Auditorium Utama. Sekitar enam ratus wali murid
datang ke acara itu. Mungkin hanya diriku yang masih terbalut kesedihan. Kakeklah
yang menggantikan ummiku untuk hadir. Memasuki Auditorium, hatiku bedecak
gembira dan tak percaya. Aku melihat wajahku terpampang disebuah layar yang ada di
pojok depan. Itulah tandanya aku mendapatkan predikat lulusan terbaik di antara sekian
banyak mahasiswa. Aku mengucek mataku, memastikan apakah itu memang benar
gambarku. Benar! Aku tersenyum dalam hati seraya memuji pada sang Ilahi. Kakek
tidak mengetahui hal itu. Beliau baru tahu setelah dibacakan pengumuman tentang
mahasiswa yang mendapat predikat terbaik. Di wajahku ada senyum mengembang
287
untuk hadirin semua. Namun kesedihan itu belum bisa hilang dari hatiku. Alhamdulillah
kuucapkan dalam hati atas kesuksesan ini. Di balik kesedihanku Allah selalu saja
menurunkan kebahagiaan dalam bentuk lain. Itulah bukti kasih sayang dan nikmat Allah
yang tak ‘kan pernah hilang dariku.
Acara wisuda selesai jam dua belas siang. Diluar, aku disambut oleh dik Alya dan
keluarga om Taufik.
“Selamat Kak ya. Kakak hebat.” Ucap dik Alya girang. Aku mengelus jilbabnya
seraya berkata, “Dik Alya harus bisa seperti ini.”
“Congratulation.” Kalimat Cintya keluar mengikuti adikku. Dia terlihat gembira
menyaksikan diriku. Sampai-sampai dia tak sadar mengulurkan tangannya untuk
menjabat tanganku. Aku pun menatapnya.
“Forgive me Fajar, I’m forget it.” Ucapnya malu.
Kami berfoto bersama. Di halaman Auditorium Utama ramai oleh para mahasiswa
yang sedang mengekspresikan kegembiraannya bersama keluarga. Berfoto bersama
mereka. Hanya aku sendiri yang masih terlihat dirundung duka. Dalam kesempatan itu
ustadz Bashori datang bersama keponakannya. Ustadz Bashori mengucapkan selamat
padaku.
“Kamu pantas mejadi juara. Kamulah sang juara.” Begitu katanya.
Aku jadi teringat akan penolakan Naela atas niat suciku untuk menikahinya. Dia
terlihat malu memandangiku. Aku tak tahu apa yang dirasa. Hatiku sebenaranya masih
ada luka atas sikapnya. Tapi aku sudah memaafkannya. Itu bukan salahnya. Dia tak
pernah bersalah atas keputusannya.
“Selamat ya.” Naela mengikuti ucapan pamannya.
“Terima kasih.” Aku tersenyum ke arahnya.
Semoga moment ini bisa mengobati lukaku. Luka karena tak bisa meraih cinta.
Semoga acara yang menggembirakan ini, dibalik prestasiku ini, semuanya akan
menghapus duka yang telah membalutku. Duka karena ditolak oleh Naela dan duka atas
kepergian sang Bunda tercinta. Aku akan mengawali hidup baruku bersama dik Alya.
Aku tekadkan bulat untuk berjuang bersama dik Alya, meski tanpa asuhan orang tua.
Kami pasti bisa untuk menggapai masa depan hidup yang lebih cerah. Kami punya
semangat dan motivasi tinggi dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Allah pasti akan
selalu menyertai perjuangan kami. Kami punya cita-cita yang mulia. Kami punya
288
Himmatul Ulya. Yang akan selalu terpatri dalam lubuk hati kami. Sehingga bisa meraih
kesuksesan di masa depan nanti.
***
289
29
SANG MAHA CINTA
Cahaya terang itu kini telah sirna. Rumah kami telah kehilangan satu cahaya yang
sangat berharga bagi hidupku dan juga adikku. Ketiadaan ummi membawa luka dan
duka bagi jiwa ini. Apalah artinya kebahagiaan yang kurasa saat ini, bila orang yang
kusayang dan juga menyayangiku telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.
Kesedihan itu masih membalut wajah kami berdua. Kakek kemarin sudah pulang karena
tak kuat berlama-lama tinggal di Jakarta.
Kini, rumahku berkurang satu penghuni. Sosok yang selalu menyiapkan makan
pagi, siang dan malam kini tak kan bisa lagi kurasakan masakannya. Nasehat-nasehat itu
tak lagi bisa kudengar. Aku dan dik Alya akan meneruskan perjuangan ummi. Aku akan
terfokus untuk menggantikan usaha ummi. Aku akan mencurahkan perhatianku pada
adikku. Siapa yang akan menjaga dik Alya kalau bukan diriku. Di sini kami sudah tidak
punya siapa-siapa. Keluargaku tinggal Mbak Nora dan seorang kakek tua yang hidup di
desa.
Pagi hari Cintya datang membawa makanan. Di rumah kami belum ada apa-apa.
Dik Alya pun sepertinya malas untuk melakukan sesuatu. Karena teman sekaligus
ibunya telah tiada lagi di sampingnya.
“Ini buat kalian berdua. Dariku tante Linda. Dia memasak untuk kalian. Pasti
kalian belum makan. Iya kan?” Ucap Cintya.
“Terima kasih Cin.” Jawabku singkat.
“Alya ada?”
“Dik Alya masih di kamar Cin.”
“Oh, ya sudah kalau begitu. I’m comeback first. See you Fajar.”
“Terima kasih banyak Cin.”
“You’re welcome. Say hallo to your sister.”
Hatiku kembali dibuat terkesima menyaksikan kebaikan gadis Amerika itu. Tadi
dia bilang bahwa makanan ini dari tantenya. Tapi aku tak percaya. Aku yakin bahwa
dialah yang sengaja membuatkan makanan untukku dan juga dik Alya. Kebaikan apa
lagi yang akan aku terima darinya. Sungguh gadis dari Amerika itu punya ketulusan
yang luar biasa. Punya keikhlasan hati yang tidak dipunyai oleh gadis-gadis lain di
290
Amerika sana. Di Indonesia ini tak ada gadis seramah dia. Sepertinya tak sia-sia bila
aku selalu belajar bersama. Berbagi ilmu dengan dirinya.
Sungguh, dia seorang wanita yang mulia. Di saat semua orang banyak yang
mengumbar auratnya, dia justru berusaha untuk menutup rapat tubuhnya. Di saat
kebanyakan remaja Amerika terjerumus ke dalam bebasnya pergaulan sex, dia justru
tekun untuk belajar lebih dalam tentang Islamnya. Di saat kebanyakan para gadis di
dunia berlomba-lomba mencari kesenangan dunia, dia justru lebih tertarik untuk
mencari keridhoaan Allah dengan mendalami Islamnya. Gadis bule itu memang hebat
dan tiada duanya.
Hari ini dik Alya pergi kuliah dengan wajah yang lesu. Pikirannya masih
terselimuti dengan kepergian ummi. Kami berjanji untuk saling menjaga. Saling
melengkapi. Saling menasehati. Saling mencintai dan menyayangi. Itu janji kami
berdua. Janji antara adik dan kakaknya. Janji yang dulu pernah aku ucap bersama ketika
ummi masih ada.
Kucurahkan perhatianku untuk adikku. Aku meminta Mbak Lina untuk ikut
tinggal di rumahku. Untuk membantu kami berdua. Biar dia yang mengurus urusan
dapur. Agar dik Alya tidak merasa kerepotan sendiri. Untunglah orang yang ada di
sekeliling kami punya hati yang mulia. Dalam keadaan susah, mereka saling mengerti
untuk meringankan kesusahan itu. Aku harus bisa berjuang bersama adikku. Aku harus
menata hidupku sendiri. Menatap masa depan hidup ini. Semoga Allah selalu menyertai
kami berdua.
***
Setelah ummi tiada, aku memfokuskan diri untuk menggantikan posisi ummi.
Meneruskan bisnisnya. Membesarkan konveksinya. Untunglah aku punya tetangga yang
baik hati yaitu om Taufik yang juga seorang pengusaha sukses. Aku belajar banyak dari
beliau. Belajar untuk mengelola usaha yang dirintis oleh ummi. Alhamdulillah usaha itu
semakin maju. Atas inisiatifku, aku membuka lagi cabang konveksi yang berada di
Depok. Semua itu berkat dukungan pak Amin dan Bu Ida. Mereka adalah orang-orang
yang jujur dalam berusaha. Aku salut punya orang-orang seperti mereka. Disela-sela
291
kuliah dik Alya, aku menyuruhnya untuk ikut mengurusi usaha ummi. Itu sebagai ajang
pembelajaran untuk hari depannya.
“Kamu itu pemuda yang hebat Fajar. Saya salut dengan usaha kerasmu. Dalam
waktu singkat usahamu sudah meningkat tajam sedemikian rupa. Kamu lebih lincah dari
Ibumu.” Kata om Taufik ketika aku sedang berkunjung di rumahnya.
“Ini juga berkat om Taufik yang selalu mengajariku tentang bagaimana usaha
yang baik. Saya belajar banyak dari om Taufik.”
“Semoga kamu semakin sukses Fajar.”
“Amin om.”
“O ya, kamu sudah selesai kuliah, apa rencanamu setelah ini?”
“Yah, seperti yang om Taufik lihat sekarang. Aku akan fokus untuk meneruskan
usaha yang telah mati-matian dirintis oleh ummi. Sebenarnya aku ingin meneruskan S2
diluar negeri om, tapi berhubung ummi telah tiada akhirnya ya nggak jadi. Karena dik
Alya nggak ada yang menemani. Nanti siapa yang mengurus dia.”
“Kalau nggak salah, aku dengar-dengar kamu mau menikah ya? Sama siapa?
Kamu itu pemuda yang ulet dan cerdas Fajar, pasti banyak perempuan yang suka
dengan kamu. Benar kan?”
Dalam hati aku berpikir. Dari mana om Taufik tahu kalau aku mau menikah.
Siapa yang memberi tahu. Apakah ummi? Kapan?
“Seharusnya begitu om, tapi sayang, nggak jadi. Mungkin memang belum
waktunya.”
“Ah siapa bilang. Pasti kamu sendiri yang nggak mau. Kamu itu selalu
menghindar kalau ada perempuan yang menyukaimu. Benar nggak?” Om Taufik
mengelak jawabanku.
Aku merasa tersindir dengan omongan om Taufik. Aku tersenyum malu.
“Benarlah om, memang belum ada yang mau dengan saya.”
Sementara dari belakang tante Linda langsung menyahut pembicaraan kami.
“Kalau kamu mau, saya punya jodoh buat kamu Fajar. Tante punya kenalan,
orangnya cantik. Itu juga kalau kamu mau. Selera kamu mungkin selera tinggi, jadi
nggak mudah untuk mendapatkannya.” Cetusnya.
Aku tak bisa berkata apa-apa dengan omongan mereka. Ah, mereka seperti
sengaja membuka-buka luka cintaku. Mereka seperti pengganti ummiku. Kalau
292
memang waktunya menikah pasti akan datang sendiri. Aku memang ingin menikah
muda. Soal ekonomi insya Allah aku merasa sudah mampu. Aku sudah berusaha untuk
melamar wanita yang aku cintai yaitu Naela. Tapi aku harus menelan kepahitan cinta
darinya.
***
Siang hari, di ruang tengah, aku sedang bercanda dengan dik Alya. Di belakang
juga ada mbak Lina yang sedang membuat kue. Tiba-tiba HPku bertulalit. Mas Aldi
menelfon.
“Selamat ya Fajar atas prestasimu. Selamat atas wisudamu. Aku salut punya
teman mahasiswa seperti kamu.”
“Terima kasih banyak Mas. Oh ya, bagaimana novelku Mas.”
“Saya juga ingin memberi kabar itu. Novelnya sudah ada di pasaran.”
“Saya nggak dikasih tahu Mas.” Kagetku.
“Itu kejutan buat kamu. Oh ya, aku turut berduka cita atas meninggalnya Ibumu.
Waktu itu ingin ke rumah, tapi sedang banyak-banyaknya perkerjaan. Jadi tak bisa.
Sekarang aku ingin memberi kabar gembira lagi buat kamu.”
“Kabar gembira apa lagi Mas?”
“Pokoknya ada.”
“Ah Mas Aldi ini banyak basa-basinya, kabar gembira itu apa Mas?”
“Sabar Fajar.”
“Iya makanya cepetan Mas.”
“Begini Fajar. Kamu mendapat penghargaan sebagai penulis muda paling
produktif tahun ini. Bulan depan kamu diundang dalam acara penghargaan itu. Kamu
harus datang. Banyak juga tawaran dari sutradara yang akan memfilmkan novelmu.”
“Oh ya..! Masa..? Kenapa nggak pernah ada kabar apa-apa tentang hal ini padaku
Mas. Kenapa Mas Aldi yang menerima tawaran itu?”
“Itu memang disengaja biar kamu bisa merasakan kejutan. Justru aku yang
menawarkannya semua karyamu. Sebentar lagi, kamu akan menjadi orang terkenal di
negeri ini. Karyamu akan terpampang di mana-mana. Orang akan tahu bahwa kamu
293
penulis hebat dengan karya-karya fenomenal. Sekali lagi congratulation for your
succesfull.”
Aku bagai mendapat duren runtuh mendengar kabar dari Mas Aldi. Siapa yang
tidak menginginkan hal itu. Setiap orang pasti ingin sukses dan terkenal. Tapi sekali lagi
aku tegaskan, bahwa ini bukan sesuatu yang aku cari dalam hidupku. Menjadi orang
terkenal bukanlah tujuanku dalam setiap karyaku. Aku tak butuh terkenal. Itu hanyalah
secuil kesenangan dunia yang hanya sementara. Aku tak mau terlena dan tertipu
dengannya. Aku hanya ingin mengamalkan ilmuku disetiap tulisanku. Disetiap
mengawali tulisanku, aku selalu memohon pada Allah agar apa yang aku tulis
bermanfaat bagi diriku dan juga orang lain. Di dunia dan juga di akherat nanti. Karena
hanya ilmu yang bermanfaatlah yang tidak akan terputus pahalanya.
Ditengah-tengah bercandaku dengan dik Alya dan Mbak Lina, tante Linda datang
dengan senyuman mengembang. Dibalik senyumnya itu sepertinya dia mengisyaratkan
sesuatu.
“Silahkan masuk Tante. Sepertinya Tante ceria sekali hari ini. Seperti baru dapat
apa begitu.”
“Justru kedatangan saya ke sini ingin ngasih sesuatu buat kamu Fajar.”
“Memangnya apa Tante? Sesuatu itu apa? Makanan atau kue Tante.”
“Ah kamu. Tante ke sini bukan ingin memberi kue atau makanan, tapi mau ngasih
sesuatu yang kemarin aku tawarkan ke kamu.”
“Oo begitu. Terus maksud Tante Linda apa?”
“Begini Fajar. Saya merasa kalau kamu itu tipeorang yang nggak suka mendekati
wanita. Tapi Tante yakin sebenarnya banyak sekali perempuan yang mencintai kamu,
tapi kamu tidak menyukainya. Dan kedatangan tante ke sini ingin menjodohkan kamu
dengan seseorang. Semoga kamu suka.”
“Siapa yang Tante maksud?”
“Wanita itu sangat mencintaimu.”
“Ah tante ini. Pasti bercanda kan?!”
“Saya serius Fajar. Aku kenal dengan seorang wanita, dia sudah akrab denganku
dan juga suamiku. Setelah aku bercerita tentang dirimu ternyata dia suka. Aku sudah
menyuruhnya untuk ngomong langsung pada kamu, tapi dia tidak berani. Katanya takut
294
ditolak karena kamu tidak mencintainya. Kalau kamu siap, dia juga mau menikah
dengan kamu, meski saat ini dia juga masih kuliah.”
“Iya Tante, tapi siapa wanita itu?”
“Kalau kamu memang mau, tante akan memberi tahu siapa gadis itu. Jangan
kuatir, dia itu cantik dan sholehah. Tak kalah dengan gadis-gadis di Jakarta ini.”
Berita dari tante Linda membuat hatiku galau dan gundah. Dia tidak mau memberi
tahu siapa wanita itu. Namanya juga tidak. Bagaimana mungkin aku bisa memutuskan
dan langsung memberi jawaban. Aneh sekali tante Linda.
Sebelum pembicaraan selesai ada HP yang bertulalit. Tante Linda menerima
telfon. Dia berbicara sendiri dengan telfon seluler seri Nokia N70nya.
“Begini saja Fajar, Tante pulang dulu karena ada urusan mendadak di kantor. Tadi
saya di telfon. Besok malam, aku akan ke sini dengan orang yang aku maksud. Mungkin
kamu bisa pikir-pikir dulu.”
Setelah tante linda pulang aku langsung menceritakan apa yang dikabarkan tante
Linda pada dik Alya. Dia juga bingung.
“Menurut dik Alya bagaimana?” Tanyaku.
“Kita belum tahu orangnya Kak, bagaimana mungkin bisa langsung memutuskan.
Pernikahan itu perkara yang tidak main-main. Tidak gampang. Nanti malah kayak
Naela. Pikir yang matang dulu baru diputuskan.” Kalimat dik Alya seperti jelmaan dari
ummi. Ya, semoga saja dia bisa meniru sifat ummi.
Tante Linda memang aneh-aneh saja. Bisa saja membuat hati orang gundah. Siapa
wanita yang akan dikenalkan padaku. Katanya sudah begitu akrab. Apa karyawannya
om Taufik. Ah, hatiku dibuat penasaran oleh tante Linda. Padahal aku tak ingin
penasaran lagi dengan seorang wanita. Penasaranku cukup sekali saja yaitu dengan
perempuan cantik yang aku tak tahu banyak tentang dirinya. Yah, siapa lagi kalau
bukan nama indah yang aku kenal dari HPnya dik Alya. Naela Salsabila.
***
Malam ini aku menunggu kedatangan tante Linda untuk memastikan siapa wanita
yang katanya sudah begitu akrab itu. Hatiku gundah. Akankah aku menikah dengan
wantia itu. Akankah aku mengakhiri masa lajangku dengan perempuan yang akan
295
dikenalkan oleh tante Linda itu. Akankah aku akan memutuskan menikah dengan
wanita itu. Kapan dan di mana aku akan menjalani acara sakral itu.
Menjelang maghrib, teman-teman dik Alya banyak yang main ke rumah. Salah
satuya Naela. Mereka seperti kakak beradik berada di rumahku. Terlihat begitu
akrabnya. Eratnya persahabatan seolah membalut rapat di antara mereka. Ya, mereka
memang pantas merasakan hal itu. Menciptakan keakraban dan keharmonisan sesama
teman seperjuangan. Menciptakan jalinan persahabatan di antara mereka. Sahabat
adalah status yang paling nyaman bagi mereka.
Mendengar canda tawa teman dik Alya, aku jadi teringat puisi yang aku tulis
waktu di pondok dulu. Bersama teman-teman sekamar. Bercanda bersama saat
menjelang perpisahan. Aku, Husen, Ahmad, Sahal dan Jalal. Di sebuah kamar mungil di
pondok Jawa Timur dulu. Kami berlima menuliskan kata-kata untuk moment
perpisahan. Setiap orang harus bisa menulis satu bait. Paling tidak lima baris. Bisa atau
tidak bisa harus bisa membuat lima baris. Kemudian tulisan itu kami kumpulkan. Kata-
kata yang kurang enak aku edit. Mereka menyuruhku untuk mengeditnya. Itu sebagai
kenang-kenangan buat kami berlima kalau sudah berpisah. Aku selalu mengingatnya.
Begini bunyinya.
Sahabat....
Kuhaturkan salam untukmu
Salam kasih yang dalam
Atas segala ketulusanmu menyertaiku
Padamu kutaburkan cinta
Kasih dan sayang
Lewat ikatan persahabatan
Yang tak kan pernah lekang oleh zaman
Sahabat....
Kau tak hanya orang yang selalu
Mengarahkan hidupku
Tapi juga penyejuk jiwa
Yang bertabur kasih dan cinta
296
Kucari bila jiwa gelisah
Kunanti bila hati gundah
Kau tak pernah lelah menyertai kami
Tanpa rasa bosan dan benci
Dalam segala suasana
Dalam duka dan derita
Sahabat....
Di saat semua orang pergi
Kau hadir menyapaku
Mengusap air mataku
Meredakan tangisku
Menghilangkan dukaku
Menghibur jiwaku
Menebar senyummu
Membisikkan kalimat cinta
Yang bisa menghapus linangan air mata
Sahabat....
Kini waktu berpisah tiba
Demi damainya jiwa
Aku rela waktu ‘kan memisahkan kita
Perpisahan antara kita
Bukanlah beban bagi jiwa
Karena kasih yang kau persembahkan
Lebih beharga dari pada kehadiran jiwamu
Sahabat....
Segala suka cita t’lah tercipta
Antara kita bersama
Hal yang terindah akan ku persembahkan
Teruntuk sang sahabat setia
297
Begitulah kiranya puisi jelek yang kami buat sewaktu masih di pondok dulu.
Ramai dan juga lucu-lucu. Sama dengan apa yang sedang aku dengar di rumahku saat
ini. Yang ramai oleh canda tawa teman-teman dik Alya. Kudengar dari dalam kamar,
mereka saling akrab. Aku ingin bergabung dengan mereka untuk menghilangkan
gundaku. Tapi aku tak bisa bergabung dengan mereka, karena mereka semua kaum
hawa. Tak mungkin bagi diriku.
Di kamar, hatiku di hantui oleh perasaan yang tak tentu. Menanti kedatangan tante
Linda. Menanti wanita yang akan aku jadikan teman dalam hidupku. Bila aku cocok dan
mencintainya, insya Allah aku mau menikahinya. Asal dia benar-benar punya hati yang
selalu bisa terkoneksi dengan Allah Sang Pencipta. Wanita sholehah yang aku damba.
Kalau memang dia siap menikah, aku juga siap. Aku akan minta restu sama kakekku.
Jam 19:23 tante Linda datang. Dia bersama Cintya. Orang yang diceritakan
kemarin tidak kulihat bersamanya. Teman-teman dik Alya sudah pulang.
“Malam Fajar.” Sapanya.
“Wa’alaikum salam Tante.” Jawabku meski dia tak memberi salam. Sebagai
sesama muslim sudah sebaiknya hanya memberi salam dengan kalimat
“Assalamu’alaikum.” Mendengar jawabanku, Cintya tahu maksudku. Dia langsung
berkata Assalamu’alaikum Fajar. Aku memberi jawaban balik.
“Saya ke sini ingin menanyakan hal kemarin yang telah aku bicarakan dengan
kamu Fajar. Bagaimana pikiran kamu.”
“Orang yang Tante maksud mana?”
“Tenang Fajar. Dia ada di rumahku. Dia malu kalau ke sini.”
“Yah, tante ini gimana. Bagaimana aku bisa memutuskan kalau oranya nggak ada
di sini.”
“Saya hanya ingin tahu apakah kamu sungguh-sungguh atau tidak Fajar.”
“Maksud Tante?”
“Maksud saya, apa kamu memang sungguh-sungguh mau menikah atau tidak.”
“Tante tahu sendiri kalau ummi saya sudah tiada. Di sini dik Alya sendiri. Insya
Allah saya memang berniat untuk melaksanakan sunah Nabi itu. Saya sungguh-sungguh
Tante.”
298
Kalau begitu saya akan memanggil dulu perempuan yang aku maksud Fajar.
Harapan tante, kamu mau menerimanya.”
“Insya Allah Tante.”
Tante Linda diam. Dia tampak memikirkan sesuatu. Cintya sejak datang juga
terdiam. Satu kata pun tak keluar dari mulutnya. Hanya tersenyum saja.
“Begini Fajar, orang yang Tante maksud sudah ada di sini. Saya tidak perlu
memanggilnya lagi.”
“Maksud Tante?” Tanyaku semakin tak tahu apa yang di inginkan oleh tante
Linda.
“Sebenarnya, keponakan Tantelah orang yang saya maksud itu.”
“Tante bercanda.” Kataku tak percaya.
“Saya sungguh-sungguh Fajar.”
“Pasti Tante bercanda.” Aku tetap tak percaya.
“Yakinlah padaku Fajar. Saya sungguh-sungguh. Cintya masih mencintaimu. Dari
sejak mengenalmu sampai sekarang ini.”
Ces...!!!
Hatiku semakin gundah kurasa. Apa yang baru saja aku dengar itu bukan berita
gembira. Tapi lebih dari itu. Bagaimana aku harus mengambil sikap? Ummi telah tiada.
Aku teringat guyonan ummi sewaktu masih hidup dulu. “Ummi setuju kalau punya
menantu seperti Cintya.” Inikah isyarat ummiku. Begitu juga kata dokter yang merawat
Cintya waktu di rumah sakit. Aku harus memutuskan dengan siapa? Sekarang aku
hanya punya seorang adik dan seorang kakek yang sudah tua renta. Aku bingung harus
ngomong apa dihadapan tante Linda dan seorang wanita yang mencintaiku. Haruskah
aku menolaknya dan menyisakan luka di hati Cintya?! Lalu bagaimana aku harus
menerima?! Aku bingung bercampur dengan ribuan rasa tak percaya.
“Bagaimana Fajar?” Tanya tante Linda.
Aku diam tak memberi jawaban. Dalam otakku diliputi berbagai ragam
pertanyaan.
“Kalau kamu tidak bisa menerima, ya tak apa-apa Fajar, kami mohon diri saja.
Mungkin Cintya memang bukan wanita yang kau harapkan. Tante tahu, seleramu itu
tinggi. Dan mungkin Cintya tidak masuk dalam kategori wanita yang kau cari. Maafkan
299
kami atas kelancangan ini. Tidak seharusnya aku menjodohkan kamu dengan
keponakanku sendiri. Kami mohon pamit.”
Tante Linda berkata dengan nada kecewa. Sepertinya dia marah padaku. Aku tak
tahu harus bagaimana. Mereka berdua langsung beranjak dari tempat duduknya. Aku
tak mencegahnya. Hatiku berdebat sendiri tentang hal yang baru saja terjadi. Aku tak
bisa memutuskan sendiri. Tante Linda dan Cintya pun keluar dari rumahku.
“Cintya..! Tante Linda..! Tunggu sebentar!” Suara dik Alya tiba-tiba menjerit dari
dalam rumah. Aku kaget. Cintya dan tantenya menghentikan langkahnya.
“Cintya, please don’t comeback. Aku ingin bicara dengan kamu.” Pinta dik Alya.
Aku tak tahu apa yang ingin dibicarakannya. Mereka berbicara di teras rumah. Aku
malu pada mereka karena tak bisa memberi jawaban apa-apa.
“Aku mendengar apa yang tante Linda bicarakan dengan kakakku. Aku tahu
maksud tante Linda. Mungkin kakakku bisa menerima apa yang tante minta, tapi
mungkin dia bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Bukan karena tidak suka, tapi
karena masih ingat akan kepergian sang Bunda. Tante harap maklum. Mungkin kalau
bunda masih ada akan dengan mudah meminta nasehatnya.”
Aku diam saja mendengar kalimat dik Alya. Aku masih tak percaya kalau tante
mau menjodohkan aku dengan keponakannya. Aku tak percaya kalau Cintya mau
menikah denganku. Aku tak pecaya itu semua.
“Kak, bukankah Kak Fajar sudah punya niat untuk menjalankan sunah Nabi.
Kalau cinta yang kakak cari sudah di depan mata, apa yang harus dipikirkan lagi. Alya
tahu kalau di hati kak Fajar ada cinta untuk Cintya. Ummi sudah tiada Kak. Apa yang
Kakak tunggu dari orang yang sudah tiada. Kalau Kakak mau minta restu sama orang
tua, mintalah sama Kakek. Kakak bisa telfon sekarang juga.”
Aku semakin bingung dengan keputusan adikku sendiri. Sebenarnya tanpa mereka
pun aku sudah bisa memutuskan sendiri. Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya
adalah Cintya. Sebenarnya aku juga cinta dan mau menikah denganya. Namun Cintya
itu siapa? Dia biasa hidup mewah di tengah kota megapolitan seperti Amerika.
Sedangkan aku? Hanya berkutat di kampung saja.
“Fajar, niat Tante tulus padamu. Tante tahu bahwa Cintya sejak dulu
menyukaimu. Sampai sekarang dia pun masih menyimpan rasa itu. Dia itu tak berani
mengatakan langsung padamu. Dia takut kecewa dan sakit hati lagi. Makanya aku
300
merencanakan hal ini. Aku tahu kamu itu tak suka pacaran. Karena pacaran itu memang
hanya akan menambah-nambah dosa kalian. Bukankah lebih baik menikah dari pada
terus bermaksiat dengan pacaran. Saya yakin pada dirimu Fajar. Tante percaya padamu.
Makanya kamu juga harus yakin dengan dirimu sendiri. Kalau kamu memang keberatan
ya sudah, tak apa-apa. Masih banyak wanita lain yang mungkin kamu rasa lebih cocok
menjadi pendamping hidupmu.” Tante Linda terus ngomong. Sedangkan keponakannya
hanya terdiam saja. Aku juga diam.
“Kak, jangan diam!” Dik Alya terus memaksa. Dia menyuruhku untuk menelfon
kakek guna meminta doanya. Akhirnya aku menelfon kakekku untuk meminta doa dan
restu agar aku bisa mendapat berkah dari niat suci ini. Sekitar dua menit aku bicara
dengan kakek. Tanpa basa-basi. Aku langsung ngomong apa adanya. Beliau
mengijinkanku. Beliau mengucapkan selamat. Mungkin wanita itu memang jodohku.
Aku bahagia mendengarnya. Setelah itu aku kembali menghadap tante Linda.
“Bagaimana Kak?” Tanya dik Alya.
Aku berpikir sejenak untuk mengeluarkan kalimat yang tepat.
“Alya sendiri sudah pasti setuju Kak. Ummi pasti juga akan merestui. Aku tahu
Cintya. Dia wanita yang baik dan sholehah. Dia itu lain dari yang lain. Dia tidak seperti
kebanyakan wanita di Amerika yang suka membanggakan dunia.”
“Saya juga tahu Cintya Fajar. Dia memang aneh. Gadis Amerika, tapi lebih layak
di sebut sebagai gadis desa. Yang sangat kuat dan bangga dengan Islamnya. Aku tahu
persis itu Fajar.”
“Bagaimana Kak Fajar, jangan diam saja.”
“Atas doa kakek dan juga dorongan dari dik Alya serta niat dari hatiku yang
sangat tulus, bismillahirrahmanirrahim aku mau menikah dengan Cintya Tante.” Aku
berkata lirih. Mendengar kata-kataku orang yang ada dihadapanku langsung tersenyum
tak percaya. Senyum Cintya mengembang bahagia. Begitu juga tantenya. Dik Alya juga
ikut tersenyum gembira. Dia yang selalu memberi dukungan padaku.
Kini, Sang Maha Cinta datang juga membawa cinta suci-Nya. Akhirnya, cinta
yang tak pernah kudamba datang tanpa kusangka. Akan tetapi wanita yang selalu aku
kejar cintanya malah hanya menyisakan kecewa dalam dada. Ternyata cinta yang aku
cari selama ini memang untuk Cintya. Sang Maha Cinta telah menyatukan cinta kami
berdua. Sang Maha Cinta telah menciptakan cinta di hatiku dan juga di hati Cintya.
301
Sang Maha Cinta telah berkehendak menciptakan itu semua. Sang Maha Cinta telah
mengikat hati kami berdua. Semoga aku bisa bahagia mengarungi hidup bersama orang
yang kucinta. Semoga dia menjadi wanita yang selalu bisa memberi rasa nyaman dalam
keluarga.
Waktu berlalu seperti putaran roda, bahkan lebih cepat lagi. Setelah dirundung
duka, dalam sekejab aku bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Mendapat
penghargaan dari kampus atas lulusan terbaikku, kabar dari Mas Aldi, dan sekarang ini
hatiku sedang diliputi rasa kasih sayang dari Sang Maha Cinta. Besarnya nikmat Allah
kembali menghiasiku. Tak bisa kuhitung banyaknya. Dalam hati aku memuji Allah
seraya bedoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan
keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-
orang yang bertakwa.44”
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.45”
Seketika itu dik Alya mengeluarkan air mata. Bukan air mata duka, tapi air mata
bahagia atas apa yang dirasakan oleh kakak tercintanya. Saat itu, aku juga ikut
meneteskan air mata mengiringi dik Alya. Aku memeluknya. Kami diselimuti rasa
bahagia. Melihat tangis kami, Tante Linda dan Cintya terdiam heran lalu berkata,
“Kenapa kalian meneteskan air mata.....?”
Oh cinta....
Saat kukejar
Kau justru menghilang
Saat kutinggalkan
Kau justru datang
Menjemput hati
Selamat datang cinta
Selamat datang kasih
Semoga ‘ku kan s’lalu bahagia
Atas anugerah cinta
44
QS. Al-Furqan: 74.
45
QS. Ar-Rum: 21
302
Dari Sang Maha Cinta.
***
Jakarta, 05 February 2010
Hormat kami
f el-Syukri
M. Arief Wahyudi el
303
Related docs
Get documents about "