Docstoc

12. Skripsi Fatmasari

Document Sample
12. Skripsi Fatmasari Powered By Docstoc
					                                   BAB I


                             PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


      Pembelajaran keterampilan berbahasa merupakan salah satu kompoen

dalam pengajaran bahasa, khusunya Bahasa Indonesia. Dalam pembelajaran

keterampilan berbahasa tercakup empat aspek yang harus diperhatikan dan

diajarkan secara terpadu. Keempat aspek yang dimaksud yaitu keterampilan

menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Keempat aspek ini sama

pentingnya dalam pengajaran keterampilan berbahasa.

      Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang paling dominan

digunakan dalam aktifitas manusia, termasuk dalam proses belajar mengajar

yaitu aspek keterampilan menyimak. Aspek keterampilan menyimak

merupakan salah satu sub komponen dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia

yang harus diajarkan dan dilatih siswa melalui tingkat pendidikan dasar sampai

tingkat perguruan tinggi.

      Melihat tuntutan ini dalam kurikulum Bahasa Indonesia, maka tidak ada

alas an bagi guru Bahasa Indonesia untuk tidak mengaplikasikan keterampilan

menyimak di dalam kelas.
      Penerapan pembelajaran keterampilan menyimak pada siswa tingkat

pendidikan dasar tentu mengalami berbagai hambatan dan rintangan.

Hambatan dan rintangan pembelajaran menyimak yang dialami di tingkat

Madrasah Ibtidaiyah (MI) sangat menarik untuk dikaji secara mendalam hal ini

disebabkan titik tumpuan utama pencapaian peningkatan prestasi belajar siswa

sangat dipengaruhi tingkat kepekaan siswa dalam menyimak, semua mata

pelajaran yang dipelajari oleh siswa di sekolah membutuhkan keterlibatan

menyimak.

      Pembelajaran keterampilan menyimak memerlukan dukungan sarana

dan prasarana yang memadai. Begitu pula dengan kreatifitas guru mengajar

harus memperhatikan pencapaian pengajaran keterampilan menyimak itu

sendiri dalam hal ini guru dituntut menguasai dan menerapkan berbagai

metode belajar mengajar yang bervariasi.

      Pencapaian pembelajaran keterampilan menyimak harus memerlukan

dukungan dan perhatian pemerintah, kepala sekolah dan masyarakat umum

termasuk orang tua siswa. Guru hanya bertindak sebagai aktor pembelajaran di

kelas. Oleh karena itu, dalam pencapaian keterampilan menyimak di sekolah

tidak menutup kemungkinan guru dan siswa menemukan berbagai problem.

Berdasarkan uraian ini penulis sangat tertarik mengkaji sebuah judul penelitian
yaitu : “Problematik pembelajaran menyimak siswa kelas III MI Darul

Rasyidin Balang Ajia Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros”.


B. Rumusan Masalah


      Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah

dalam penelitian ini yaitu “problematik apakah yang dialami guru dan siswa

kelas III Madrasah Ibtidaiyah Darul Rasyidin Balang Ajia Kecamatan

Simbang, Kabupaten Maros dalam pembelajaran keterampilan menyimak?”


C. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1. Tujuan penelitian

      Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi data dan

informasi yang lengkap tentang problematik pembelajaran keterampilan

menyimak pada siswa kelas III MI Darul Rasyidin Balang Ajid, Kecamatan

Simbang, Kabupaten Maros.


2. Manfaat penelitian

a. Manfaat praktis

      1. Sebagai bahan pertimbangan bagi penentu kebijakan di bidang

         pendidikan     dalam   upaya    menyediakan     berbagai   sarana
          pembelajaran, khususnya dalam pengajaran Bahasa Indonesia

          ditingkat pendidikan dasar.

      2. Untuk memacu peningkatan keterampilan menyimak siswa kelas III

          MI Darul Rasyidin Balang Ajia, Kecamatan Simbang, Kabupaten

          Maros.


b. Manfaat teoritis

   1. Agar dapat memberikan masukan dalam peningkatan mutu pengajaran

      Bahasa Indonesia, khusunya pada MI Darul Rasyidin Balang Ajia,

      Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

   2. Untuk dapat meningkatkan kreatifitas guru dalam pembelajaran

      keterampilan menyimak pada siswa kelas III MI Darul Rasyidin Balang

      Ajia, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
                                  BAB II


            TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR


A. Tinjauan Pustaka


1. Pengertian menyimak


      Batasan pengertian menyiak telah dikemukakan oleh para ahli bahasa

dalam kamus besar Bahasa Indonesia dipaparkan bahwa menyimak adalah

memperhatikan, mendengarkan dan memahami isi informasi atau pembicaraan

yang disampaikan oleh pembicara atau orang lain (KBBI, 2001).

      Sedangkan menurut Tarigan (1987, 28) menyimak adalah suatu proses

kegiatan mendengarkan lambing-lambang lisan dengan penuh perhatian,

pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi,

menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasu yang telah

disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.

      Berdasarkan batasan pengertian menyimak yang dikemukakan di atas,

maka dapat dipertegas bahwa aktifitas menyimak berbeda dengan mendengar.

Menyimak sudah tentu memahami dengan baik isi pesan atau informasi yang

disampaikan oleh orang lain dan mampu menceritakan belum tentu informasi
tersebut. Sedangkan mendengar belum tentu memahami seluruh isi informasi

yang disampaikan oleh orang lain, apalagi mampu menceritakan ulang.


2. Tahap-tahap menyimak

      Menyimak merupakan guna suatu rangkaian proses yang dilakukan

secara bertahap. Menurut Tarigan (1987: 30) bahwa tahap-tahap menyimak

dapat dilihat dari segi perbedaan maksud dan tujuan, yaitu sebagai berikut:

      a. Mendengarkan bunyi kata-kata tetapi tidak memberikan reaksi
         kepada ide-ide yang diekspresikan.
      b. Menyimak sebentar-sebentar yaitu memperhatikan sang pembaca
         sebentar-sebentar.
      c. Setengah menyimak yaitu mengikuti diskusi atau pembicaraan hanya
         mengikuti dengan maksud kesempatan untuk mengekspresikan ide
         sendiri.
      d. Menyimak secara pasif dengan sedikit respon yang kelihatan.
      e. Menyimak secara sempit, dalam hal ini makan atau permaknaan
         yang penting pudar dan lenyap karena sang penyimak menyeleksi
         butir-butir yang biasa, yang berkenaan ataupun yang sesuai padanya
         yang dapat disetujuinya.
      f. Menyimak serta membentuk asosiasi dengan butir-butir yang
         berhubungan dengan pengalaman-pengalaman pribadi seseorang.
      g. Menyimak suatu laporan untuk menangkap ide-ide pokok dan unsur-
         unsur penunjang, atau mengikuti petunjuk-petunjuk.
      h. Menyimak secara kritis, seorang menyimak dengan memperhatikan
         nilai-nilai kata emosional dalam suatu iklan yang disiarkan lewat
         media.
      i. Menyimak secara apresiatif dan kreatif dengan responsi mental dan
         emosional sejati yang matang.

      Selain tahap-tahap menyimak yang diutarakan di atas, sekelompok ahli

bahasa menyimpulkan tahap-tahap menyimak yang lain, yaitu :
      a.   Isolasi
      b.   Identifikasi
      c.   Integrasi
      d.   Inspeksi
      e.   Interpretasi
      f.   Interpolasi
      g.   Introspeksi (Tarigan, 1987: 33)

      Ketujuh tahap menyimak pada dasarnya belum mencakup seluruh ajaran

kegiatan menyimak, tetapi sudah mengemukakan suatu metode bagi telaah

perilaku menyimak. Begitu pula merupakan suatu petunjuk bagi pemecahan

masalah yang kadang-kadang timbul dalam proses menyimak, mencermati

ketujuh langkah-langkah menyimak ini, maka semakin jelaslah bagi kita

bahwa menyimak yang baik tidak hanya merupakan mendengar pasif tetapi

suatu kegiatan atau aktifitas yang menuntut partisipasi, keikutsertaan dan

keteralibatan sang penyimak.


3. Ragam menyimak

      Ditinjau dari berbagai aspek, maka ragam menyimak secara garis besar

dapat diklasifikasikan sebagai berikut 1) menyimak ekstensi, dan 2)menyimak

intensif. Ragam menyimak dilihat dari aspek ekstensif, yaitu;

      1. Menyimak sosial
      2. Menyimak sekunder
      3. Menyimak estetik, dan
      4. Menyimak pasif
      Sedangkan menyimak intensif dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu:
      1. Menyimak kritis
      2.   Menyimak konsentrif
      3.   Menyimak kreatif
      4.   Menyimak eksploratif
      5.   Menyimak interogatif, dan
      6.   Menyimak selektif (Tarigan, 1987: 55)


4. Proses menyimak


      Menyimak pada hakikatnya merupakan suatu rangkaian proses yang

berstruktur. Proses menyimak yang dimaksud, yaitu :

      1. Mendengarkan: pada tahap ini manusia baru mendengarkan segala

           sesuatu yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau

           pembicaraannya.

      2. Memahami: setelah manusia mendengarkan, maka ada keinginan

           untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang

           disampaikan oleh sang pembicara.

      3. Menginterpretasi: menyimak yang baik, cermati dan teliti tentu

           belum merasa puas kalau hanya mendengarkan dan memahami isi

           ujaran   sang pembicara.    Menyimak ingin menafsirkan atau

           mengiterpretasian isi dan butir-butir terdapat baik secara tersurat

           maupun secara tersirat.

      4. Mengevaluasi:       setelah   memahami     serta   menafsirkan    isi

           pembicaraan, sang penyimak memulai menilai dan mengevaluasi
          pendapat serta gagasan sang pembicara, dimana keunggulan dan

          kelemahan sang pembicara.

      5. Menanggapi: hal ini merupakan proses akhir dalam kegiatan

          menyimak sang penyimak menyambut, menyerap serta menerima

          gagasan atau ide yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam

          ajaran atau pembicaraanya. Akhirnya sang penyimak dapat

          menyimpulkan dan menanggapi apa yang disimaknya.


5. Kendala menyimak efektif

      Aktifitas menyimak sebagai rangkaian proses tidak selamanya

berlangsung dengan baik dengan mengalami suatu rintangan. Rintangan atau

hambatan yang dialami seseorang dalam aktifitas menyimak tentu berbeda-

beda antara satu dengan yang lainnya. Namun, secara umum dapat diuraikan

sebagai berikut:

      1. Adanya rasa takut terhadap sesuatu baik bersumber dari pembicara

          maupun yang lainnya rasa takut ini menyebabkan seseorang

          penyimak   tidak   berpusat   perhatiannya   terhadap   apa   yang

          didengarkannya. Akhirnya, tidak memahami apa yang dibicarakan.

      2. Kurangnya konsentrasi terhadap pembicara. Menyimak suatu

          informasi tentu sangat memerlukan pemusatan perhatian dan pikiran.
         Hal ini agar apa yang disampaikan oleh pembicara dapat dipahami

         dengan    baik,   mulai   dari    awal   pembicaraan   sampai   akhir

         pembicaraan.

      3. Kurangnya kesungguhan melibatkan diri. Menyimak yang baik

         harus    sungguh-sungguh         mengikuti   pembicaraan   sehingga

         keterlibatan fisik dan psikis betul-betul berlangsung dengan baik

         pula tanpa ada kesungguhan untuk melibatkan diri tentu mustahil

         dapat menyimak dengan baik.

      4. Ketakutan terhadap berbagai pertanyaan, penyimak terkadang salah

         praduga untuk mengikuti alur berhubungan dengan pembicaraan itu

         penyimak seperti tidak mau pusing untuk terbebani berbagai

         pertanyaan. Oleh karena itu, harus berprasangka positif terhadap

         pembicara dan isi pembicaraan.


6. Upaya menyimak tepat guna


      Menjadi seorang penyimak yang baik, harus menyadari betapa

pentingya seseorang memahami berbagai informasi sehigga kaya dengan

berbagai pengalaman. Untuk mencapai semua ini, maka banyak cara yang

dapat dilakukan berikut ini akan dipaparkan beberapa upaya agar dapat

menjadi penyimak yang tepat guna, yaitu sebagai berikut:
      1. Dikembangkan suatu kemauan atau kesedian menyimak.

      2. Lakukan aktifitas menyimak dengan waktu yang lebih lama.

      3. Biasakan keseringan dalam menyimak.

      4. Melakukan aktifitas menyimak dengan penuh aspek.

      5. Kembangkan aktifitas menyimak disertai dengan umpan balik.

      6. Menyimak tanpa selalu disertai dengan penilaian.

      7. Melakukan aktifita menyimak dengan penuh ketenangan.

      8. Melakukan kegiatan menyimak sambil menganalisis berbagai

         informasi yang diperoleh.

      9. Biasakan menyimak tanpa membela diri sehingga perasaan wajar

         selalu muncul dalam diri.

      10. Menyimak tanpa disertai dengan berbagai prasangka negatif

         terhadap suatu informasi yang diperoleh.

      11. Gunakan berbagai fasilitas yang dapat memperlancar aktifitas

         menyimak seseorang.


7. Mengatasi kendala menyimak


      Kurangnya perhatian kepada sang pembicara ataupun terhadap isi

pembicaraannya merupakan kendala bagi penyimak yang efektif, siswa selaku

peserta didik di sekolah tidak mustahil mengalami berbagai kendala dalam
menyimak, sementara menyimak itu sendiri merupakan kunci utama untuk

meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam pendidikan atau seluruh aspek

kehidupan manusia.

       Kendala yang dialami seorang siswa dalam menyimak tentu ada yang

bersumber dalam diri siswa itu sendiri yang biasa disebut sebagai sumber

internal, dan dari luar siswa itu sendiri yang biasa disebut sebagai sumber

eksternal, kedua suber kendala dalam menyimak seyogyanya diatasi sedini

mungkin hal ini karena dapat mempengaruhi perhatian keseriusan siswa dalam

aktifitas belajarnya.

       Salah satu cara untuk mengatasi kendala menyimak yang dialami oleh

siswa, yaitu :

       1. Menjauhkan sifat eosentris dalam kegiatan menyimak karena sifat

          ini mengurangi perhatian kepada pembicara.

       2. Tidak enggan turut berpartisipasi dan terlibat dengan orang lain

          dalam kegiatan diskusi yang melibatkan kita sebagai pembicara

          maupun sebagai penyimak.

       3. Tidak takut kuatir kalau komunikasi lisan dapat mengubah pendapat

          dan pikiran sang penyimak.

       4. Tidak malu dalam meminta penjelasan dari pembicara atau orang

          lain mengenai hal yang belum kita pahami.
      5. Tidak terlalu lekas merasa puas dengan penampilan luar bagi sang

         pembicara yang perlu adalah pikiran, pendapat, gagasan dan

         konsepnya mengenai sesuatu.

      6. Tidak membuat pertimbangan yang gegabah terhadap makna sesuatu

         yang dikemukakan oleh sang pembicara.

      7. Menghindari semaksimal mungkin kebingungan terhadap makna

         suatu kata baru atau istilah yang baru dikenal.


8. Saran dalam meningkatkan keterampilan menyimak


      Aktifitas menyimak tentu harus selalu mendapatkan perhatian untuk

ditingkatkan. Hal ini terbukti metode hasil temuan dalam penelitian para ahli

bahasa bahwa dalam aktivitas manusia berkisar 85% dimanfaatkan untuk

kegiatan menyimak dan hanya berkisar 15% untuk aktifitas lain yang tidak

memerlukan menyimak.

      Perlu dipahami bahwa dalam aktifitas menyimak menuntut adanya

perhatian, pikiran, pengalaman, penafsiran dan imajinasi dari sang penyimak.

Sang penyimak harus mampu memproyeksikan diri mereka ke dalam pikiran

sang pembicara dan isi pembicaraan sang penyimak tidak hanya harus

memusatkan perhatinnya pada kata-kata yang diucapkan, tetapi hanya harus

memusatkan perhatiannya pada kata-kata yang diucapkan, tetapi nada ucapan
sang pembicara dan lambing-lambang nonverbal harus pula diperhatikan, para

penyimak yang tanggap akan lebih mudah menangkap dan memahami ide-ide

pembicara dan perasaan yang dialami oleh pembicara.

      Berdasarkan hal di atas, untuk meningkatkan keterampilan menyimak

ada beberapa saran yang perlu dipertimbangkan, yaitu:

      1. Bersikap positif terhadap pembicara dari isi pembicaraan.

      2. Bertindak responsif terhadap pembicara dari situasi yang ada.

      3. Mencegah segala gangguan-gangguan yang kemungkinan dapat

         muncul untuk mengganggu aktifitas menyimak seseorang.

      4. Bersikap tanggap terhadap isi pembicaraan dari orang lain.

      5. Berusaha     tanggap   terhadap   isi   pembicaraan   yang      sedang

         berlangsung.

      6. Memahami berbagai petunjuk baik yang bersifat verbal maupun

         nonverbal.

      7. Mengorganisasikan kembali ide-ide yang diperoleh dari pembicara.


9. Pembelajaran keterampilan menyimak

      Keterampilan menyimak merupakan salah satu komponen dalam

keterampilan berbahasa yang harus diajarkan di tingkat pendidikan dasar

sampai tingkat pendidikan tinggi. Pembelajaran          menyimak      ditingkat
pendidikan dasar (MI) berbeda dengan tingkat pendidikan menengah atas dan

perguruan tinggi. Perbedaan ini harus dicermati oleh guru agar pembelajaran

menyimak dapat berlangsung dengan baik dalam mencapai tujuan yang

diterapkan.

      Pembelajaran keterampilan menyimak di tingkat pendidikan dasar (MI)

dinyatakan secara eksplisit dalam kurikulum yang berlaku, bahkan

keterampilan menyimak merupakan suatu pokok bahasan tersendiri yang

diajarkan dan latihkan secara tuntas di kelas. Penerapannya diserahkan kepada

guru masing-masing dengan memilih dan menggunakan berbagai pendekatan

dan metode yang ada.

      Memperhatikan kondisi pembelajaran di sekolah, tidak mustahil guru

dan siswa mengalami berbagai problem dalam pembelajaran menyimak. Setiap

problem pembelajaran seyogyanya di atasi sedemikian rupa untuk mencapai

kualitas pembelajaran sehingga mutu pendidikan dapat meningkat.

      Keterampilan menyimak sebagai salah satu komponen pembelajaran,

memiliki materi yang jelas sebagai bahan ajar, metode pengajaran menyimak

dan penilaian serta umpan balik dalam pembelajaran menyimak. Semua

kompnonen ini harus diperhatikan secara seksama oleh guru mata pelajaran

Bahasa Indonesia di sekolah, baik ditingkat pendidikan dasar maupun

menengah.
B. Kerangka Pikir

      Keterampila menyimak sebagai salah satu komponen dari keterampian

berbahasa perlu mendapat perhatian secara serius, khusunya bagi kalangan

guru di sekolah.

      Pembelajaran keterampilan menyimak ini harus diajarkan seimbang dan

terpadu dengan keterampilan berbahasa lainnya seperti keterampilan berbicara,

membaca dan menulis.

      Penerapan pembelajaran keterampilan menyimak di tingkat pendidikan

dasar (MI) mengalami berbagai problematik, baik yang dialami oleh guru

maupun siswa sebagai peserta didik. Problematik dalam pembelajaran

menyimak ini merupakan fokus perhatian utama dalam pelaksanaan penelitian

ini. Berdasarkan semua ini, maka diperjelaskan melalui bagan berikut.


                      Pengajaran Keterampilan
                             Berbahasa


    Membaca            Menyimak          Menulis          Berbicara



      Guru           Problematik          Siswa


                       Temuan

                          Gambar 1. Kerangka Pikir
                                   BAB III


                       METODELOGI PENELITIAN


A. Lokasi dan Waktu Penelitian


1. Lokasi penelitian

      Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Darul Rasyidin

Balang Ajia, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Sekolah ini termasuk

pinggiran kota Kabupaten Maros yang kondisinya masih tergolong alamiah.


2. Waktu penelitian

      Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan, mulai dari bulan Juni

sampai dengan bulan Juli 2010.


B. Variabel dan Desain Penelitian


1. Variabel penelitian

      Variabel dalam penelitian ini pada dasarnya menggunakan variabel

tunggal atau satu variabel, yaitu problematik pembelajaran menyimak.

Variabel inilah yang dikaji secara mendalam dan dideskripsikan lebih lanjut.
2. Desain penelitian

         Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yag bersifat kualitatif.

Oleh karena itu, penelitian ini harus didesain sedemikian rupa untuk

memperoleh suatu data atau temuan yang didesain akurat. Untuk memperole

data yang akurat memerlukan instrument dalam bentuk angket, wawancara,

dan pengamatan lansung. Data yang diperoleh melelaui instrumen ini akan

dianalisis atau dideskripsikan lebih lanjut sebagai suatu temuan.


C. Definisi Operasional


         Supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam penelitian ini, maka perlu

dijelaskan berbagai konsep yang berhubungan dengan variabel penelitian ini,

yaitu:

         1. Problematik yaitu suatu permasalahan yang terjadi belum mendapat

            suatu solusi atau pemecahan.

         2. Pembelajaran yaitu suatu proses, cara, atau tindakan menjadikan

            seseorang mengetahui suatu disiplin ilmu tentu (KBBI, 2001).

         3. Menyimak yaitu memperhatikan, mendengarkan dan memahami isi

            informasi atau pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara atau

            orang lain (KBBI, 2001).
D. Populasi dan Sampel


1. Populasi

      Ali (1985: 54) mengemukakan bahwa populasi adalah keseluruhan

objek penelitian baik berupa manusia, benda, peristiwa, maupun gejala yang

terjadi. Berdasarkan hal itu, dalam penelitan ini yang dijadikan populasi adalah

seluruh siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Darul Rasyidin Balang Ajia,

Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros tahun pelajaran 2009-2010.


2. Sampel

      Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel

total. Artinya bahwa seluruh jumlah populasi semuanya dijadikan sebagai

sampel total. Hal ini berpatokan pada pendapat Arikunto (1992: 70) bahwa

“Apabila subjek penelitian kurang dari 100 orang maka lebih baik diambil

semua sebagai sampel penelitian sehingga menjadi penelitian populasi

sebaliknya apabila subjeknya di atas 100 orang maka dapat diambil antara 10%

- 15% atau 20% - 25% dari jumlah populasi.


E. Teknik Pengumpulan Data


      Instrumen penelitian ini pada dasarnya adalah alat untuk mengumpulkan

data di lapangan. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan yaitu:
1. Angket

      Angket yang digunakan dibagi atas dua bagian satu bagian yang

diperuntukkan untuk siswa dan satu bagian untuk guru yang mengajar di kelas

III Madrasah Ibtidaiyah Darul Rasyidin Balang Ajia, Kecamatan Simbang,

Kabupaten Maros. Angket ini masing-masing berjumlah 10 nomor pertanyaan.


2. Format wawancara

      Format wawancara diperuntukkan untuk guru yang mengajar di kelas

Madrasah Ibtidaiyah Darul Rasyidin Balang Ajia, Kecamatan Simbang,

Kabupaten Maros.


3. Pengamatan lansung

      Peneliti secara lansung melihat kondisi yang sebenarnya di lapangan

yang berhubungan dengan penerapan penyimak dan problematik.

      Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara

membagikan angket yang telah disediakan, kemudian memberikan petunjuk

langsung kepada siswa. Setelah selesai diisi dan akan dikumpul untuk diolah,

tidak terlepas dari itu peneliti langsung mewawancarai guru dan siswa sebagai

sumber data. Begitu pula peneliti menyaksikan secara langsung hal yang

dialami oleh siswa dan guru yang berhubungan dengan kegiatan menyimak.
F. Teknik Analisis Data


         Data yang diperoleh di lapangan akan dianalisis dengan menggunakan

teknik     statistik   deskriptif   dalam   bentuk   prestasi   menyimak   dengan

menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Ali (1985: 184) yaitu sebagai

berikut:

                        Persentase (%) =

         Keterangan

         n = Nilai-nilai yang diperoleh

         N = Jumlah Total Nilai

         Data yang berhubungan dengan wawancara dan pengamatan akan

dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan akhirnya disimpulkan menjadi

suatu temuan.
                                 BAB IV


              HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian


      Data dalam penelitian ini akan dianalisis sesuai dengan prosedur yang

telah ditentukan pada bab terdahulu. Adapun data yang dianalisis adalah data

hasil wawancara dengan guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia dan

data hasil angket siswa. Data tersebut menggambarkan problematik

pembelajaran menyimak pada siswa kelas III MI Darul Rasyidin Balang Ajia,

Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.


1. Hasil pengamatan langsung

      Masalah yang diamati pada penelitian ini adalah

      1. Penguasaan metode. Sesuai dengan analisis data, teknik atau metode

         yang diterapkan dalam pembelajaran menyimak sifatnya masih

         monoton (kurang bervariasi), sehingga pada saat proses belajar

         mengajar berlangsung, masih ada siswa yang kurang aktif dalam

         mengikuti pelajaran. Karena metode yang diterapkan tersebut kurang

         bervariasi akhirnya berdampak pada siswa sendiri.
2. Penguasaan materi. Sesuai dengan analisis data, guru masih kurang

   menguasai materi pelajaran. Agar tercapai tujuan pembelajaran yang

   efektif, guru harus lebih meningkatkan cara mengajarnya dengan

   lebih memperdalam materi yang akan dibahas. Guru biasanya

   kurang menguasai materi, karena kurangnya buku-buku yang

   dijadikan pegangan atau buku-buku penunjang dalam mengajarkan

   keterampilan menyimak. Di samping itu, guru yang mengajar bahasa

   Indonesia tidak sesuai dengan disiplin ilmu.

3. Kurikulum dan penerapannya. Sesuai dengan analisis data,

   kurikulum yang digunakan di sekolah tersebut terlalu padat,

   sehingga tidak mampu menampung aspirasi, bakat, minat dan

   perhatian siswa.

4. Kegiatan belajar mengajar. Sebelum materi pelajaran dimulai, guru

   memperhatikan kelas, jumlah siswa yang mengikuti plajaran, karena

   pada saat peniliti mengadakan observasi, masih ada siswa yang

   kurang aktif dalam menerima pelajaran, khususnya aspek menyimak.

   Keaktifan siswa dalam menerima pelajaran merupakan modal utama

   dalam mencapai tujuan pembelajaran. Karena tanap hal ini maka

   guru tidak dapat mengetahui tercapai tidaknya tujuan yang telah

   digariskan, apalagi jika dikaitkan dengan aspek menyimak yang
         banyak menuntut praktik dan latihan untuk dapat berbicara yang

         baik dan dengan menggunakan bahasa bahasa Indonesia yang baik

         dan benar.


2. Hasil wawancara dengan guru

      Wawancara dilakukan sesuai dengan daftar pertanyaan dan disesuaikan

dengan keadaan pada saat itu. Berikut ini hasil wawancara peneliti dengan

guru bidang studi bahasa Indonesia kelas III MI Darul Rasyidin Balang Ajia

Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

      Hasil wawancara dengan guru bidang studi bahasa Indonesia, dalam

hubungannya dengan kelengkapan buku paket siswa. Menurut tenaga pengajar

mata pelajaran bahasa Indonesia, siswa kurang memiliki buku paket sehingga

muncul salah satu kendala yang mempengaruhi keterampilan berbicara bahasa

Indonesia, selain itu juga tingkat kekerapan siswa dalam membaca buku di

perpustakaan masih kurang.

      Mengenai kegemaran siswa terhadap pembelajaran keterampilan

berbicara, menurut guru mata pelajaran bahasa Indonesia, siswa kadang-

kadang menyenangi pembelajaran keterampilan berbicara, sesuai dengan

materinya.
       Mengenai waktu yang telah disediakan untuk bidang studi bahasa

Indonesia kelas VIII setiap minggunya. Menurut guru bidang studi, waktu ini

sudah cukup untuk mengajarkan ketermpilan berbicara.

       Wawancara dengan guru bidang studi bahasa Indonesia, diperoleh data

mengenai kendala-kendala dalam pembelajaran keterampilan berbicara di kelas

VIII SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep dihubungkan dengan kurang

aktifnya siswa dalam kegiatan berbicara (bertanya, menjawab, mengemukakan

pendapat, dan diskusi) umumnya disebabkan karena :


a. Merasa malu; malu ini terdiri atas :

       1. Malu kepada teman, dengan alasan bahwa teman belajar lebih pintar,

          teman lebih berpengalaman, dan sebagainya.

       2. Malu mengeluarkan kata-kata, dengan alasan bahwa pembicara

          tersebut mengalami gangguan psikis seperti gugup, tidak jelas jika

          berbicara atau seringanya mengalami kesalahan jika menyebut

          huruf, dan sebagainya.

       3. Malu jika mengalami kesalahan, dengan alasan bahwa apa yang

          dibicarakan oleh pembicara tersebut tidak sesuai dengan apa yang

          dikehendaki oleh guru.


b. Merasa takut; takut ini terdiri atas :
      1. Takut membuat kesalahan

      2. Takut ditertawakan

      3. Takut berhenti di tengah pembicaraan karena kehilangan jalan

         pikiran

      4. Takut karena tidak menguasai tema

      5. Takut mendapat kritikan

      6. Takut jika pembicaraanya tidak dapat dimengerti

      7. Takut jika dibandingkan dengan pembicara lain yang lebih pintar

      8. Takut mengecewakan pendengar, dalam hal ini guru, sehingga akan

         mendapat nilai rendah.


c. Kurang rasa percara diri, karena ada perasaan gugup, bimbang dan kaku

   dalam setiap diberi kesempatan untuk berbicara di depan kelas.

      Masalah lebih banyak bersumber dari diri siswa, yaitu hal-hal yang

berkaitan dengan faktor psikis siswa, walaupun faktor eksternal ada, namun

sangat kecil pengaruhnya terhadap ketidakaktifan siswa dalam kegiatan

berbicar bila hal itu dibandingkan dengan faktor eksternal. Faktor dalam diri

siswa yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar sehingga kurang aktif

terutama dalam kegiatan berbicara adalah adanya perasaan kurang percara diri,

perasaan malu, kurang pengalaman, dan perasaan takut. Sedangkan faktor
eksternal yaitu, dipengaruhi oleh dialek daerah atau bahasa Ibu dan keadaan

lingkungan keluarga dan masyarakat umum yang kurang mendukung. Kedua

faktor tersebut menjadi masalah bagi siswa. Dngan adanya masalah yang

dihadapi siswa dalam kegiatan berbicara, maka sasaran yang ingin dicapai

pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek berbicara, yaitu siswa mampu dan

terampila menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi pada situasi

yang resmi dan formal, kurang berjalan dengan baik.


3. Hasil angket siswa

       Hasil penelitian membuktikan bahwa masih banyak masalah yang

dihadapi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep dalam

berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar, informasi tentang priblematik

pembelajaran keterampilan berbicara di SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten

Pangkep ini dapat diketahui melalui pertanyaan dan informasi siswa. Data

tentang pertanyaan dan informasi siswa tersebut dapat dilihat pada tabel

berikut ini.
1. Untuk mengetahui apakah siswa menyenangi mata pelajaran Bahasa
   Indonesia

Tabel 1. Kesenangan siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia

 No         Informasi siswa              Frekuensi        Persentase (%)
  1          Sangat Senang                   8                  53
  2             Senang                       7                  47
  3            Ragu-ragu                     0                   0
  4          Tidak Senang                    0                   0
  5      Sangat Tidak Senang                 0                   0
              Jumlah                        15                 100
Sumber : Hasil Analisis Angket Siswa, 2010

       Berdasarkan tabel di atas, mengenai kesenangan siswa terhdap materi

pelajaran bahasa Indonesia di sekolah menunjukkan bahwa 8 orang dengan

persentase 53% yang menyatakan sengat senang mata pelajaran bahasa

Indonesia, 7 orang dengan persentase 47% responden yang menyatakan senang

terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia, 0 atau 0% responden yang

menyatakan ragu-ragu, tidak senang dan sangat tidak senang terhadap

pembelajaran Bahasa Indonesia di MI Darul Rasyidin Balang Ajia, Kecamatan

Simbang, Kabupaten Maros.

       Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa kelas III MI

Darul Rasyidin Balang Ajia, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros lebih

banyak yang menyenangi mata pelajaran Bahasa Indonesia dibandingkan

pelajaran lain.
2. Untuk mengetahui siswa lebih tertarik mempelajari materi pelajaran lain
   dari pada materi pelajaran bahasa Indonesia.

Tabel 2. Ketertarikan Siswa terhadap Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
         dengan Mata Pelajaran yang Lain

 No         Informasi siswa              Frekuensi        Persentase (%)
  1          Sangat Senang
  2             Senang
  3            Ragu-ragu
  4          Tidak Senang
  5      Sangat Tidak Senang
              Jumlah                        15                 100
Sumber : Hasil Analisis Angket Siswa, 2010



3. Materi apakah yang paling Anda senangi dari pelajaran Bahasa Indonesia?
    Menulis
    Membaca
    Menyimak
    Menyimak
4. Bagaimana tanggapan Anda tentang materi menyimak di sekolah?
    Sulit
    Sangat Sulit
    Mudah
    Sangat Mudah
5. Saya kurang aktif dalam kegiatan keterampilan menyimak (bertanya,
   menjawab, menggunakan pendapat, dan diskusi) karena kurangnya
   kesungguhan melibatkan diri.
    Sangat setuju
    Setuju
    Ragu-ragu
    Tidak Setuju
    Sangat tidak setuju
6. Saya juga kurang aktif alam menyimak karena saya merasa takut:
    Sangat setuju
    Setuju
    Ragu-ragu
    Tidak Setuju
    Sangat tidak setuju
7. Saya kurang aktif dalam menyimak karena kurang konsentrasi terhadap
   pembicara:
    Sangat setuju
    Setuju
    Ragu-ragu
    Tidak Setuju
    Sangat tidak setuju




8. Saya kurang aktif dalam pembelajaran keterampilan menyimak karena saya
    takut terhadap berbagai pertanyaan, penyimak terkadang salah praduga
    untuk melibatkan alur berhubungan dengan pembicaraan itu:
     Sangat setuju
     Setuju
     Ragu-ragu
     Tidak Setuju
     Sangat tidak setuju
9. Bagaimana tanggapan Anda terhadap guru yang mengajarkan keterampilan
    menyimak di sekolah ?
     Sangat menarik
     Menarik
     Kurang menarik
     Tidak menarik
10. Saya kurang aktif dalam kegiatan keterampilan menyimak karena saya
    tidak memiliki buku paket:
     Sangat setuju
     Setuju
     Ragu-ragu
     Tidak Setuju
     Sangat tidak setuju
1)

B. Pembahasan
      Berdasarkan analisis data yang dikemukakan pada bagian sebelumnya,

pada bagian ini akan dibahas tentang problematik yang dihadapi siswa pada

kelas VIII SMP Negeri 2 Baloci dalam pembelajaran keterampilan berbicara

bahasa Indonesia.

      Hasil analisis data membuktikan bahwa, masih ada beberapa

problematik atau masalah yang dihadapi siswa khususnya siswa kelas VIII

SMP Negeri 2 Baloci Kabupaten Pangkep, masalah-masalah tersebut yaitu :

    1) Siswa dipengaruhi oleh dialek atau bahasa pertama

      Berdasarkan analisis data, siswa kurang aktid dalam pembelajaran

keterampilan berbicara bahasa Indonesia karena dipengaruhi oleh dialek

daerah atau bahasa pertama. Hal ini disebabkan kerana pengaruh lingkungan,

yaitu siswa lebih serig menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Indonesia

dalama berkomunikasi. Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya siswa

dibiasakan   untuk   senantiasa   berbahasa    Indonesia   baku   pada    saat

berlangsungnya proses belajar mengajar.


    2) Adanya rasa malu, rasa takut, dan kurang percara diri

      Siswa kurang aktif dalam pembelajaran keterampilan berbicara di kelas

karena adanya rasa malu, rasa takut, dan rasa kurang percara diri. Ketiga hasl

tersebut muncul karena siswa kurang dilatih dalam berbicara di depan umum,
metode yang digunakan guru sifatnya masih monoton, dan kurang motivasi

dan bakat yang tertanam dalam diri siswa. Oleh karena itu untuk mengatasi

masalah tersebut, dalam rangka meningkatkan pembelajaran keterampilan

berbicara sebaiknya siswa dibiasakan untuk berani tampil berbicara di depan

kelas, dengan jalan banyak memberikan latihan dan praktik guru sebaliknya

menerapkan berbagai macam metode, agar siswa terlatih dan mahir dalam

berbicara.

         Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa, faktor yang

mempengaruhi siswa sehingga kurang aktif dalam pembelajaran keterampilan

berbicara adalah adanya faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal

yaitu faktor yang berasal dari luar siswa. Misalnya siswa kurang dilatih dalam

berbicara di depan umum, penerapan metode yang digunakan guru masih

monoton. Faktor internal siswa yaitu, kurangnya motovasi dan bakat dalam diri

siswa.



                                    BAB V

                                  PENUTUP

A. Kesimpulan

         Bedasarkan   hasil   penelitian   yang   diperoleh,   maka   penulis

menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor yag mempengaruhi pembelajaran
keterampilan berbicara bahasa indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 2

Balocci, Kabupaten Pangkep.

      Dipengaruhi oleh dialek daerah atau bahasa pertama, adanya perasaan

takut dan malu pada saat berbicara di depan kelas, adanya perasaan kurang

pengalaman, adanya perasaan kurang percaya diri, karena merasa gurgup,

bimbang, dan kaku setiap mereka berbicara di depan kelas, tingkat kekerapan

siswa membaca buku mengenai keterampilan berbicara di perpustakaan masih

kurang, dan lingkungan keluarga dan masyarakat umum yang kurang

mendukung.


B. Saran

      Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian di atas, maka penulis

mengajukan saran sebagai berikut:

1. Sebaiknya siswa diberikan latihan dan praktik untuk mengvaluasi

   kemampuan meraka dalam berbicara yang baik dan benar.

2. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa baku.

3. Sebaiknya siswa diberikan arahan supaya memanfaatkan buku-buku di

   perpustakaan khusunya buku mengenai keterampilan berbicara.



C. Saran
                           DAFTAR PUSTAKA



Achsin, Amir dan Basang, Jerang. 1985. Pengajaran Menyimak. Ujung
          Pandang: IKIP Ujung Pandang.

Ali, Muhammad. 1985. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi.
          Bandung: Aksara.

Alwi, Hasan, dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: P3G
           Depdikbud.

Arikunto. 1992. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas. 2001. KBBI. Jakarta: Balai Pustaka.

Dwiyanti. 1996. Pandai Berbahasa Indonesia. Balitbang: Dua Tujuh.

Hastuti, Sri. 1997. Strategi Belajar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Nurhadi. 1997. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar Baru.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa
          Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Slamento. 1992. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhi. Jakarta:
           Rineka Cipta.

Sulardi, dkk. 1988. Menyimak. Depdiknas bagian Proyek Pengetahuan Guru
            SLTP Setara D.III.

Suwarno. 1992. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tarigan, Henry, Guntur. 1987. Menyimak (sebagai suatu Keterampilan
          Berbahasa). Bandung: Angkasa.

________. 1987. Menyimak (Sebagai suatu keterampilan berbahasa).
          Bandung: Angkasa.
Lampiran

                          PEDOMAN WAWANCARA
                          (daftar pertanyaan untuk guru)


1. Apakah setiap siswa memiliki buku paket?
2. Apakah siswa kurang aktif dalam pembelajaran keterampilan menyimak karena
   tidak memiliki buku paket ?
3. Apakah alokasi waktu yang diperlukan untuk pembelakaran keterampilan
   menyimak cukup memadai?
4. Apakah    dalam    menyimak     siswa   mempunyai       nada   menyimak   yang
   menyenangkan?
5. Apakah siswa kurang aktif dalam menyimak karena takut dan malu ditertawai?
6. Kendala-kendala apa sajakah yang dihadapi siswa dalam pembelajaran
   keterampilan menyimak?
                                 ANGKET SISWA

Petunjuk I
Angket ini bertujuan untuk mengumpulkna data tentang kesulitan (problematika)
yang Anda hadapi serta hal yang dianggap mempuengaruhi kesulitan Anda dalam
menyimak. Untuk itulah, Anda diharapkan memberi jawabn yang sejujurnya
sehingga penelitian diperoleh secara seobjektif mungkin.


Petunjuk II
1. Tulislah Nama, NIS, dan kelas Anda.
2. Angket ini bukan ujian bagi Anda, melainkan untuk kepentingan peneliti.
3. Pilihlah jawaban yang tepat sesuai dengan keadaan Anda dengan memberi tanda
   checklist (√).
4. Anda tidak perlu bekerjasama dalam mengisinya.
5. lingkarilah salah satu jawaban yang menurut Anda benar.
6. Jika ada yang kurang jelas tanyakan kepada peneliti.



Nama :
NIS :
Kelas :

11. Saya sangat menyenangi mata pelajaran Bahasa Indonesia
     Sangat setuju
     Setuju
     Ragu-ragu
     Tidak Setuju
     Sangat tidak setuju
12. Saya lebih tertarik mempelajari materi pelajaran lain dari pada materi pelajaran
    bahasa Indonesia.
     Sangat setuju
     Setuju
     Ragu-ragu
     Tidak Setuju
     Sangat tidak setuju
13. Materi apakah yang paling Anda senangi dari pelajaran Bahasa Indonesia?
     Menulis
     Membaca
     Menyimak
     Menyimak
14. Bagaimana tanggapan Anda tentang materi menyimak di sekolah?
     Sulit
     Sangat Sulit
     Mudah
     Sangat Mudah
15. Saya kurang aktif dalam kegiatan keterampilan menyimak (bertanya, menjawab,
    menggunakan pendapat, dan diskusi) karena kurangnya kesungguhan melibatkan
    diri.
     Sangat setuju
     Setuju
     Ragu-ragu
     Tidak Setuju
     Sangat tidak setuju
16. Saya juga kurang aktif alam menyimak karena saya merasa takut:
     Sangat setuju
     Setuju
     Ragu-ragu
     Tidak Setuju
     Sangat tidak setuju
17. Saya kurang aktif dalam menyimak karena kurang konsentrasi terhadap
    pembicara:
     Sangat setuju
     Setuju
     Ragu-ragu
     Tidak Setuju
     Sangat tidak setuju




18. Saya kurang aktif dalam pembelajaran keterampilan menyimak karena saya takut
    terhadap berbagai pertanyaan, penyimak terkadang salah praduga untuk
    melibatkan alur berhubungan dengan pembicaraan itu:
     Sangat setuju
     Setuju
     Ragu-ragu
     Tidak Setuju
     Sangat tidak setuju
19. Bagaimana tanggapan Anda terhadap guru yang mengajarkan keterampilan
    menyimak di sekolah ?
     Sangat menarik
     Menarik
     Kurang menarik
     Tidak menarik
20. Saya kurang aktif dalam kegiatan keterampilan menyimak karena saya tidak
    memiliki buku paket:
     Sangat setuju
     Setuju
     Ragu-ragu
     Tidak Setuju
     Sangat tidak setuju

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:779
posted:10/22/2010
language:Indonesian
pages:38