Docstoc

Teknologi Informasi dan Komunikasi - DOC - DOC

Document Sample
Teknologi Informasi dan Komunikasi - DOC - DOC Powered By Docstoc
					                                BAB I
PENDAHULUAN


I.1. Latar Belakang

     Pada saat ini bangsa kita sedang dalam tahapan rekonstruksi
setelah mengalami krisis ekonomi, sosial, dan politik yang terburuk
pada tiga tahun terakhir ini. Kepercayaan masyarakat kepada
lembaga-lembaga formal amat tipis, bahkan kepercayaan antar
kelompok-kelompok dalam masyarakatpun terkikis. Sedangkan
gejala disintegrasi bangsa mengancam persatuan dan kesatuan
bangsa kita. Upaya rekonstruksi diharapkan dapat membawa bangsa
kita menjadi suatu masyarakat madani yang bersatu dalam negara
Republik Indonesia.

     Memasuki milenium ketiga, globalisasi yang semula merupakan
suatu kecenderungan telah menjadi suatu realitas, sedangkan
alternatifnya adalah pengucilan dari kancah pergaulan antar bangsa.
Globalisasi menuntut adanya berbagai macam standar, pengaturan,
kewajiban, dan sekaligus juga memberi hak kepada anggota
masyarakat global. Berbagai aturan dikenakan secara global
(misalnya, WTO, IMF, UN, dan lain-lain). Tuntutan berkompetisi, dan
sekaligus berkolaborasi, memaksa kita untuk terus menerus
meningkatkan daya saing bangsa kita, baik dalam pasar lokal,
regional, maupun dalam pasar global.

     Sementara itu, era reformasi memungkinkan kita untuk
menelaah dan memperbaiki dampak negatif dari sentralisasi yang
berlebihan di masa lalu. Pola sentralisasi selain mengabaikan inisiatif

                                                                      1
masyarakat, juga cenderung meniadakan proses pengambilan
keputusan yang didasarkan pada kriteria obyektif berdasarkan data
dan informasi. Setelah beberapa dasawarsa di bawah pemerintahan
tersentralisasi, kebijakan pucuk pimpinan seringkali menjadi satu-
satunya acuan yang harus diikuti. Akibatnya, keputusan lebih banyak
dilakukan atas dasar kesesuaian dengan kebijakan atasan daripada
berdasarkan     fakta     dan   informasi,   sehingga     informasi    yang
dikumpulkan dari lapangan menjadi kurang dihargai.

     Selain masalah-masalah tersebut di atas, perkembangan
teknologi juga memberikan tantangan tersendiri pada berbagai aspek
kehidupan sehari-hari. Salah satu teknologi yang berkembang pesat
dan perlu dicermati adalah teknologi informasi. Tanpa penguasaan
dan pemahaman akan teknologi informasi ini, tantangan globalisasi
akan menyebabkan ketergantungan yang tinggi terhadap pihak lain
dan hilangnya kesempatan untuk bersaing karena minimnya
pemanfaatan      teknologi      informasi.   Mengingat     perkembangan
teknologi     informasi    yang     demikian     pesat,    maka       upaya
pengembangan        dan      penguasaan      teknologi    informasi    yang
didasarkan pada kebutuhan sendiri haruslah mendapat perhatian
maupun prioritas yang utama untuk dapat menjadi masyarakat yang
lebih maju.




                                                                          2
II.2. Rumusan Masalah



Fokus masalah dalam makalah ini akan diarahkan kepada beberapa item
penting yaitu:

1. Apakah tujuan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi ?

2. Apa yang dimaksud dengan kebijakan nasional dalam bidang TIK ?

3. Apa sajakah aspek yang mengatur infrastruktur informasi dan

   komunikasi ?

4. Bagaimana mekanisme pendanaan untuk mengoptimalkan layanan

 informasi dan komunikasi sebagai pendorong tercapainya program

  pemberdayaan masyarakat ?




                                                                     3
                                BAB II


PEMBAHASAN


II.1.     Tujuan     Pengembangan        tekhnologi   informasi   dan
komunikasi


        Tujuan yang dimaksud di sini adalah hal-hal yang ingin
diwujudkan demi tercapainya visi dan mengemban misi yang sudah
dicanangkan terlebih dahulu. Walaupun perangkat keras dan piranti
lunak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari teknologi
informasi dapat digolongkan sebagai komoditi, namun teknologi
informasi lebih dianggap sebagai suatu wahana bagi sektor-sektor
produktif lain untuk berproduksi. Pendekatan yang digunakan dalam
penyusunan kerangka strategis ini haruslah dapat mencerminkan
fungsi yang diinginkan tersebut dengan memusatkan perhatian pada
kemampuan TI untuk memberikan dukungan kepada upaya untuk
mencapai visi.

        Atas dasar pemikiran itu, perumusan tujuan dilakukan menurut
penerapan teknologi informasi pada sektor-sektor strategis yang
dapat mendorong tercapainya visi yang dicita-citakan. Ketersediaan




                                                                    4
infrastruktur teknologi informasi harus dilihat sebagai suatu sarana
pendukung yang perlu dimanfaatkan secara optimal.

     Sektor-sektor yang dianggap strategis bagi tercapainya visi
adalah i) E-government for good governance, ii) E-commerce untuk
mendukung ekonomi kerakyatan, iii) TI berbasis masyarakat, iv) TI
untuk pendidikan , dan v) E-democracy. Dukungan yang dapat
diberikan oleh teknologi informasi haruslah diprioritaskan agar
pengembangan sektor-sektor strategis tersebut memberikan hasil
yang diharapkan. Keberhasilan dalam pengembangan sektor-sektor
strategis akan secara langsung mendukung, bahkan menjadi
prasyarat bagi tercapainya visi yang telah dirumuskan sebelumnya.




     Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari
ilmu pengetahuan          dan teknologi (IPTEK) secara umum adalah
semua      yang     teknologi     berhubungan       dengan     penyimpanan,
pengumpulan (akuisisi) pengolahan, pengambilan, penyebaran, dan
penyajian informasi (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006:
6). Tercakup      dalam         definisi     tersebut      adalah           semua
perangkat         keras, perangkat         lunak,   kandungan        isi,     dan
infrastruktur computer maupun (tele)komunikasi. Istilah TIK atau ICT
(Information and Communication              Technology),     atau    yang      di
kalangan negara Asia            berbahasa       Inggris    disebut     sebagai
Infocom,    muncul setelah berpadunya teknologi komputer (baik


                                                                                5
perangkat      keras maupun perangkat lunaknya) dan teknologi
komunikasi sebagai sarana        penyebaran       informasi    pada    paruh
kedua        abad       ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut
berkembang sangat pesat, jauh             melampaui           bidang-bidang
teknologi    lainnya.    Bahkan sampai awal abad ke-21 ini, dipercaya
bahwa bidang TIK masih akan terus pesat berkembang dan belum
terlihat titik jenuhnya sampai        beberapa     dekade       mendatang.
Pada tingkat global, perkembangan          TIK


telah    mempengaruhi       seluruh    bidang kehidupan umat manusia.
Intrusi TIK ke dalam bidang-bidang Membicarakan pengaruh TIK
pada berbagai bidang lain tentu memerlukan                 waktu      diskusi
yang     sangat     panjang.   Dalam makalah ini, kaitan TIK dengan
proses pembelajaran disoroti lebih dibanding dengan kaitannya
dengan bidang lain. Tanpa mengecilkan pengaruh TIK di bidang
lain, bidang pembelajaran mendapatkan            manfaat      lebih    dalam
kaitannya         dengan kemampuan TIK mengolah dan menyebarkan
informasi.




II.2. Perkembangan Tekhnologi informasi dan komunikasi


        Bila dilacak ke belakang, terdapat          beberapa          tonggak
perkembangan          teknologi yang secara nyata memberi sumbangan
terhadap eksistensi TIK saat ini. Pertama adalah temuan telepon

                                                                            6
oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian
ditindaklanjuti dengan penggelaran jaringan komunikasi dengan
kabel yang melilit seluruh daratan Amerika, bahkan                    kemudian
diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik Inilah infrastruktur
masif pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global.
Memasuki abad       ke-20,     tepatnya    antara        tahun     1910-1920,
terealisasi transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM
yang pertama      (Lallana,    2003:5).     Komunikasi           suara    tanpa
kabel segera berkembang pesat, dan kemudian bahkan diikuti
pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud
siaran televisi   pada       tahun     1940-an.     Komputer          elektronik
pertama beroperasi pada tahun 1943, yang kemudian diikuti
oleh tahapan       miniaturisai       komponen           elektronik      melalui
penemuanan informasi. transistor pada tahun 1947, dan rangkaian
terpadu     (integrated electronics) pada tahun1957. Perkembangan
teknologi elektronika, yang merupakan soko guru TIK saat ini
mendapatkan momen emasnya pada era perang dingin.


      Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok
Timur (eks Uni Sovyet) justru memacu perkembangan teknologi
elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik untuk
pengendali     pesawat     ruang      angkasa     maupun          mesin-mesin
perang. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan
rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor.
Mikroprosesor     inilah   yang      menjadi    'otak'     perangkat      keras
komputer, dan terus berevolusi sampai saat ini. Di lain pihak,
perangkat     telekomunikasi         berkembang     pesat         saat    mulai

                                                                               7
diimplementasi-kannya           teknologi      digital     menggantikan teknologi
analog       yang     mulai      menampakkan              batas-batas       maksimal
pengexplorasiannya.             Digitalisasi      perangkat            telekomunikasi
kemudian berkonvergensi dengan perangkat computer yang dari
awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital.
Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk
telepon seluler. Di atas infrastruktur telekomunikasi dan komputasi
inilah kandungan isi (content) berupa multimedia, mendapatkan
tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi-
komputasi-multimedia          inilah    yang     menjadi       cirri    abad     ke-21,
sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi
industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti „otot‟ manusia
maka       revolusi   Digital       (karena     konvergensi        Telekomunikasi-
komputasi-multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital)
menciptakan         mesin-mesin        yang     mengganti       (atau     setidaknya
meningkatkan kemampuan) 'otak' manusia. Indonesia                              pernah
menggunakan istilah telematika (telematics) untuk maksud yang
kurang lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini. Encarta
Dictionary            mendeskripsikan                    telematics            sebagai
telecommunication+informatics                   (telekomunikasi + informatika)
meskipun      sebelumnya         kata    itu    bermakna        science     of    data
transmission. Pengolahan informasi dan pendistribusiannya melalui
jaringan     telekomunikasi         membuka banyak                peluang        untuk
dimanfaatkan di        berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk
bidang      pendidikan.       Ide      untuk menggunakan               mesin-belajar,
membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-
proses yang sulit dideskripsikan, sangat menarik minat praktisi

                                                                                      8
pembelajaran.         Tambahan      lagi, kemungkinan untuk melayani
pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat, juga dapat
difasilitasi   oleh   TIK.   Sejalan dengan itu mulailah bermunculan
berbagai jargon berawalan e, mulai       dari   e-book,   e-learning,   e-
laboratory,     e-education,     e-library dan sebagainya. Awalan e-
bermakna       electronics     yang secara implisit dimaknai berdasar
teknologi elektronika digital.




                                                                         9
II.3. Kebijakan Nasional bidang TIK


     Menyadari pentingnya TIK sebagai bidang yang berperan besar
dalam       pembangunan       nasional,     Kementerian Negara Riset dan
Teknologi memberikan arahan sektor-sektor yang di prioritaskan
untuk dikembangkan melalui kegiatan riset, antara lain: infrastruktur
informasi, perangkat lunak, kandungan informasi                  (information
content),           pengembangan            SDM         dan kelembagaan,
pengembangan          regulasi    dan     standarisasi (Kementerian Negara
Riset dan Teknologi, 2006: 5).


Infrastruktur Informasi
    Infrastruktur     informasi     terdiri atas    beberapa aspek      yang
seluruhnya         harus    dibangun       secara    paralel    dan    saling
menunjang. Aspek pertama adalah jaringan fisik yang berfungsi
sebagai jalan       raya   informasi baik     pada tingkat jaringan tulang-
punggung maupun tingkat akses pelanggan. Jaringan tulang
punggung          harus    mampu        menghubungkan     seluruh      daerah
Indonesia sampai wilayah pemerintahan terkecil. Pada tingkat
akses pelanggan harus memungkinkan tersedianya akses yang
murah       dan    memadai       bagi   masyarakat    luas.    Aspek   kedua
menempatkan pada kemanfaatan sebesar-besarnya pengolaan

                                                                           10
sumber informasi bagi seluruh komponen masyarakat. Kondisi ini
dapat dicapai melalui diwujudkannya interoperabilitas sumber daya
informasi yang tersebar luas sehingga dapat dimanfaatkan secara
efisien   dan efektif oleh seluruh pemangku kepentingan. Aspek
terakhir adalah pengembangan perangkat keras, baik di sisi jaringan
maupun       di sisi terminal. Pengembangan ini harus dirancang
berdasarkan kebutuhan dan kondisi jaringan yang ada di Indonesia,
dengan mengadopsi         system terbuka dan menanamkan tingkat
kecerdasan     tertentu   untuk memudahkan integrasi sistem dan
pengembangannya di masa depan.




Perangkat Lunak
     Pengembangan perangkat lunak diarahkan pada realisasi
system aplikasi   yang mampu menunjang proses transaksi ekonomi
yang cepat dan aman, serta pengambilan keputusan yang benar dan
cepat. Harga yang terjangkau dan daya          saing pada tingkat
internasional merupakan salah satu criteria yang dipersyaratkan,
khususnya mendukung kebijakan subtitusi import.
     perangkat lunak system operasi dengan kehandalan tinggi dan
kebutuhan sumber daya memori maupun prosesor minimal serta
fleksibel terhadap perangkat keras maupun program applikasi yang
baru, merupakan prioritas yang harus di kembangkan. Program
applikasi juga perlu dikembangkan, terutama yang terkain dengan
sector perekonomian, indistri, pendidikan, maupun pemerintahan.

                                                                  11
      Dalam mempercepat pengembangan dan pemberdayagunaan
perangkat lunak, perlu pula ditinjau implementasi konsep open
source. Penerapan konsep open source ini diharapkan mampu
menggalakkan         industri     perangkat      lunak      dengan partisipasi
seluruh lapisan masyarakat tanpa melakukan pelanggaran hak cipta.
Kandungan informasi
   Kegiatan    pengembangan kandungan informasi (information
content)   bertujuan      melakukan      penataan,        penyimpanan,         dan
pengolahan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi
proses     pembangunan,            pengorganisasian,           pencarian,      dan
pendistribusian      informasi.    Kegiatan     riset    dan     pengembangan
kandungan informasi diawali dengan pemetaan berbagai potensi dan
informasi nasional beserta pemodelan proses information retrieval.
Dengan     demikian       implementasi        information       repository     dan
information   sharing           merupakan     salah     satu    factor    penentu
keberhasilan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Pemanfaatan       maksimal kandungan informasi yang tersebar                    di
seluruh    wilayah     Indonesia     dengan      potensi       lokal,    akumulasi
kekayaan seni dan budaya Indonesia yang beraneka                             ragam
dapat pula dieksploitasi sebesar-besarnya untuk menghasilkan
produk-produk seni budaya yang berbasis multimedia.


Pengembangan SDM
   Dalam      pengembangan           Sumber       Daya         Manusia       (SDM)
diperlukan upaya peningkatan kemandirian dan keunggulan, yang
salah satunya adalah dengan mengembangkan sistem pendidikan
dan   pelatihan      untuk      membentuk      keahlian        dan keterampilan

                                                                                12
masyarakat dan peneliti dalam bidang teknologi yang                         strategis
serta mengantisipasi timbulnya kesenjangan keahlian                         sebagaii
akibat        kemajuan       teknologi, khususnya teknologi informasi dan
komunikasi.
Pengembangan Regulasi dan Standarisasi
      Program       kajian     regulasi    meliputi    penyusunan          Undang-
Undang dan penyempurnaan berbagai kebijakan terkait bidang
teknologi       informasi,     komunikasi      dan         broadcasting.      Salah
satunya       adalah     penyempurnaan        Cetak        Biru Telekomunikasi
dan      UU     Telekomunikasi       No.    36/1999        yang     sudah      mulai
ketinggalan       dengan       perkembangan       teknologi         dan     tuntutan
masyarakat. Penyelesaian Rancangan UU tentang Informasi dan
Transaksi       Elektronik     dan    berbagai        UU     lain    yang     dapat
mendorong           pertumbuhan aplikasi IT sangatlah diharapkan
realisasinya pada tahun 2005-2025. Termasuk dalam kerangka
regulasi ini adalah mempercepat terlaksananya proses kompetisi
yang sebenar-benarnya dalam penyediaan jasa telekomunikasi
sehingga        dapat        memberikan      perbaikan         kondisi layanan,
kemudahan bagi pengguna jasa, serta harga yang ekonomis.
\




TIK dalam Pembelajaran
      Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di Indonesia telah
memilika sejarah yang cukup panjang inisiatif menyelenggarakan
siaran radio pendidikan dan televisi pendidikan sebagai upaya
melakukan penyebaran informasi ke satuan-satuan pendidikan yang

                                                                                  13
tersebar     di   seluruh         nusantara, merupakan             wujud      dari
kesadaran         untuk      mengoptimalkan pendayaguanaan teknologi
dalam membantu proses pembelajaran masyarakat. Kelemahan
utam siaran radio maupun televise pendidikan adalah tidak adanya
intraksi timbal-balik yang seketika. Siaran bersifat searah, dari
nara sumber belajar atau fasilitator kepada pembelajar. Introduksi
komputer      dengan       kemampuannya               mengolah     dan menyajikan
tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan                       movie)
memberikan        peluang         baru     untuk      mengatasi kelemahan yang
tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila televisi hanya mampu
memberikan        informasi         searah      (terlebih- lebih     bila   materi
tayangannya        adalah         materi      hasil     rekaman), pembelajaran
berbasis teknologi internet memberikan peluang berinteraksi baik
secara       sinkron      (real     time)      maupun       asinkron (delayed).
Pembelajaran           berbasis          Internet      memungkinkan terjadinya
pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa
pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di                 satu    tempat
yang     sama.     Pemanfaatan           teknologi      video conference     yang
dijalankan        berdasar           teknologi          Internet, memungkinkan
pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan
komputer. Selain aplikasi puncak seperti itu, beberapa peluang lain
yang lebih sederhana dan lebih murah juga dapat dikembangkan
sejalan dengan kemajuan TIK saat ini.




                                                                                14
Buku Elektronik
   Buku elektronik atau ebook adalah salah satu teknologi yang
memanfaatkan         komputer       untuk      menayangkan             informasi
multimedia     dalam bentuk yang         ringkas   dan dinamis. Ke dalam
ebook     dapat   diintegrasikan    tayangan       suara,    grafik,    gambar,
animasi, maupun movie sehingga informasi yang disajikan lebih kaya
dibandingkan dengan buku konvensional. Jenis                 ebook        paling
sederhana         adalah        yang        sekedar memindahkan            buku
konvensional      menjadi     bentuk     elektronik yang ditayangkan oleh
komputer. Dengan teknologi ini, ratusan buku dapat disimpan dalam
satu keping CD atau compact disk (kapasitas                 sekitar     700MB),
DVD atau digital versatile disk (kapasitas 4,7 sampai 8,5 GB),
ataupun flashdisk (saat ini kapasitas          yang tersedia sampai 4
GB). Bentuk yang lebih kompleks dan memerlukan rancangan
yang lebih cermat ada pada misalnya Microsoft Encarta dan
Encyclopedia Britannica yang merupakan ensiklopedi dalam format
multimedia.    Format       multimedia        memungkinkan                ebook
menyediakan       tidak     saja informasi tertulis tetapi juga suara,
gambar,     movie    dan     unsur multimedia        lainnya.         Penjelasan
tentang    satu     jenis     musik, misalnya, dapat disertai dengan
cuplikan suara jenis musik tersebut sehingga pengguna dapat
dengan jelas memahami apa yang dimaksud oleh penyaji.


E-learning
     Beragam definisi dapat ditemukan untuk e-learning. Victoria L.
Tinio, misalnya, menyatakan bahwa e-learning meliputi pembelajaran
pada semua tingkat, formal maupun nonformal yang menggunakan

                                                                              15
jaringan computer (intranet maupun ekstranet) untuk pengan taran
bahan      ajar,   intraksi,    dan/atau fasilitas        (Tinio,   tt:     4).    Untuk
pembelajarannya yang sebagian prosesnya berlangsung dengan
bantuan jaringan internet, sering disebut sebagai online learning.
Definisi    yang     lebih     luas     dikemukakan       pada      working        paper
SEAMOLEC, yakni e-learning adalahbpembelajaran nmelaluinjasa
elektronik (SEAMOLEC, 2003:1). Meski beragam definisi namun
pada dasarnya disetujui bahwa e-learning                  adalah      pembelajaran
dengan memanfaatkan teknologi                       elektronik sebagai            sarana
penyajian dan distribusi informasi. Dalam definisi tersebut tercakup
siaran radio maupun televisi pendidikan sebagai salah satu bentuk e-
learning. Meskipun per definisi radio dan televisi pendidikan adalah
salah satu bentuk e-learning, pada umumnya disepakati bahwa e-
learning mencapai bentuk puncaknya setelah bersinergi dengan
teknologi internet. Internet-based learning atau web-based learning
dalam bentuk paling              sederhana            adalah     web-site           yang
dimanfaatkan untuk menyajikan materi-materi pembelajaran. Cara ini
memungkinkan          pembelajar         mengakses        sumber          belajar yang
disediakan oleh nara sumber atau fasilitator              kapanpun dikehendaki.
Bila diperlukan, dapat pula disediakan mailing-list khusus                          untuk
situs      pembelajaran        tersebut        yang      berfungsi sebagai forum
diskusi. Fasilitas      e-learning           yang    lengkap     disediakan          oleh
perangkat lunak         khusus          yang        disebut    perangkat            lunak
pengelola pembelajaran                atau     LMS      (learning     management
system).      LMS mutakhir            berjalan      berbasis   teknologi          internet
sehingga dapat diakses dari manapun selama tersedia akses ke
internet (Hari Wibawanto, 2006). Fasilitas yang disediakan meliputi

                                                                                       16
pengolaan     siswa    atau    peserta      didik,   pengelolaan         materi
pembelajaran,    pengelolaan       proses        pembelajaran          termasuk
pengelolaan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan komunikasi
antara   pembelajar      dengan    fasilitator-fasilitatornya. Fasilitas     ini
memungkinkan kegiatan         belajar     dikelola    tanpa adanya tatap
muka langsung di antara pihak-pihak yang terlibat (administrator,
fasilitator, peserta didik atau pembelajar). 'Kehadiran'         pihak-pihak
yang terlibat diwakili oleh email, kanal chatting, atau melalui video
conference.


Aplikasi Lain
    Selain e-book dan fasilitas e-learning, berbagai aplikasi lain
bermunculan     (dan      kadang        saling    berintegrasi         sehingga
menimbulkan sinergi) sebagai dampak ikutan perkembangan TIK
terutama internet. E-zine dari kata e-magazine, merupakan bentuk
digital dari majalah konvensional. Penerbitan majalah berformat
digital memungkinkan ditekannya ongkos produksi (karena tidak
perlu mencetak) dan distribusi (karena sekali diupload ke server,
seluruh dunia bisa mengaksesnya). Pemutakhiran isinya juga
dapat dilakukan dengan sangat cepat sehingga perkembangan
mutakhir dapat disajikan dengan lebih cepat. Termasuk dalam
kategori e-zine ini adalah e-newspaper yang berfokus pada
berita terkini dan e-journal yang memfokuskan diri pada laporan
hasil-hasil penelitian. E-laboratory, merupakan bentuk digital dari
fasilitas dan proses-proses laboratorium yang dapat disimulasikan
secara   digital. Pada     dasarnya,     perangkat     lunak     ini     adalah
perangkat lunak animasi dan simulasi yang dapat dikemas dalam

                                                                             17
keping CD, DVD maupun                disajikan web-site sebagai web-based
pada application (perangkat lunak yang berjalan pada jaringan
internet).


      Blog     atau     weblog      adalah    perkembangan         mutakhir     di
bidang web-based               application.      Ide          semula       adalah
menyediakan fasilitas           electronic    diary     atau      buku     harian
elektronik     untuk remaja.        Pengguna          dapat     mengisi     buku
harian       tersebut semudah menulis email, mengunggah (upload) ke
server hanya dengan meng-klik ikon, dan hasilnya adalah tayangan
tulisan di layar browser. Pemakai internet di manapun berada
dapat melihat      publikasi      tersebut    dengan      mengakses        alamat
situs, misalnya:          http://hariwibawanto.wordpress.com.                 Dari
sisi kandungan isi, blok sekarang banyak berisi gagasan, ide,
dan opini pribadi tentang satu masalah yang menarik secara
subyektif. Meskipun akurasi informasi yang tersaji masih bisa
diperdebatkan, tetapi yang penting adalah blog memungkinkan
seseorang tanpa pengetahuan desain web-site dapat dengan
mudah        membuat     web-site      pribadi   dan     mengelola        maupun
memutakhirkan         isinya    dengan sangat mudah. Kemudahan                lain
adalah tersedianya banyak server blog gratis. Dalam konteks
pemanfaatannya bagi proses pembelajaran, kandungan isi blog
pembelajar misalnya, dapat menjadi umpan balik bagi fasilitator.




                                                                                18
Konteks Lokal: Universitas Negeri Semarang
   Salah satu syarat awal keterlibatan sivitas akademika dalam
dunia TIK modern adalah           computer literate atau melek komputer.
Pendekatannya bisa top-down (dari dosen turun ke mahasiswa)
atau sebaliknya bottom-up (dari mahasiswa naik ke dosen), atau dua-
duanya berjalan simultan. Pendekatan ketiga itulah yang secara
alami terjadi di Universitas Negeri Semarang (Unnes).               Penetrasi
budaya      masyarakat      informasi     yang ditularkan oleh perguruan
tinggi besar di Indonesia maupun luar negeri            telah   menjadikan
sebagian dosen melek komputer dan melek internet lebh dulu
dari rekan-rekannya yang lain. Aset inilah          yang    secara      alami
melalui    proses     interaksi    saling memerlukan, menjadi sarana
persebaran keterampilan (dan budaya) menggunakan komputer dan
internet. Penggarapan lebih serius dilakukan oleh UPT Sumber
Belajar dan      Media melalui kegiatan-kegiatan pelatihan produksi
multimedia, perancangan           situs     web, dan sebagainya, yang
berlangsung     sejak tahun 2000.           Dalam        kegiatan-kegiatan
pelatihan itulah dilakukan pengenalan pemanfaatan komputer
untuk     pembelajaran,    sehingga       menimbulkan      gairah     belajar-
mengajar dengan fasilitas komputer. Sejak itu, mulailah masing-
masing jurusan maupun program studi              menyediakan          fasilitas
laboratorium komputer maupun laboratorium produksi multimedia.
Kebutuhan      yang    mendesak terhadap        akses      internet     mulai
dilayani oleh warung internet yang          bekerjasama     dengan       UPT
Perpustakaan,       kemudian disusul oleh layanan serupa di jurusan
Fisika, Jurusan Ekonomi, dan Jurusan Teknik Elektro.



                                                                            19
     Menyadari pentingnya akses Internet dan fasilitas pembelajaran
berbasis TIK lainnya, maka pada tahun 2006, melalui program hibah
kompetisi    INHERENT           Unnes    berupaya       menyatukan jaringan-
jaringan komputer lokal yang ada di 8 fakultas dengan menggunakan
back-bone     serat    optik.    Upaya     itu    berhasil dilakukan setelah
Unnes memenangkan hibah INHERENT (Unnes, 2006). Penyatuan
jaringan local tersebut memungkinkan               dioperasikannya      sistem
informasi online yang mulai tahun 2007 dimanfaatkan sebagai
sarana heregistrasi, yudisium, dan pengisian KRS secara online.
Pengembangan selanjutnya adalah menyatukan beberapa kampus
Unnes yang berada dilokasi lain (misalnya: program pascasarjana di
Bendan ngesor dan PGSD di karanganyar) menjadi satu jaringan
dengan kampus pusat di Gunungpati. Sayangnya, keterbatasan
anggaran rutin yang disediakan Unnes menjadikan rencana-rencana
tersebut dapat dilaksanakan         dengan       mengandalkan     dana-dana
dari program hibah kompetisi.           Tim-tim yang dibentuk oleh Unnes
mendapat tugas berat untuk mengajukan dan mempertahankan
proposal yang        diajukan     ke     Direktorat     Pendidikan      Tinggi,
bersaing dengan ratusan perguruan                tinggi lain (negeri maupun
swasta), agar dapat didanai.
       Beberapa permasalahan yang ditengarai menjadi tantangan
pemanfataan     TIK     bagi     pembelajaran      di   Unnes   antara     lain
adalah: Adanya digital divide dalam konteks lokal Unnes sendiri.
Ada kesenjangan antara mahasiswa yang memperoleh kekayaan
informasi    lebih    dengan       mahasiswa        yang    memiliki    akses
informasi terbatas, baik akibat belum meratanya ketersediaan
fasilitas,   kurangnya          keterampilan       mengakses         informasi,

                                                                             20
kurangnya dukungan finansial, maupun oleh sebab-sebab lain
yang      belum     bisa diidentifikasi.    Kesenjangan digital             ini juga
terjadi pada level dosen dan sivitas akademika lainnya. Adanya
resistansi atau penolakan baik yang bersifat statik (berupa sifat
malas berubah dan malas belajar) maupun agresif (perlawanan,
karena menjadi pihak yang 'dirugikan'). Ketergantungan                         pada
sumber      dana     yang    berasal     dari    hibah kompetisi menjadikan
perkembangan TIK di Unnes tidak selalu berjalan sesuai skenario
ideal. Hal itu disebabkan setiap program hibah yang diluncurkan
Dikti senantiasa memiliki arah dan              fokus     sendiri,     dan     tidak
selalu bisa dikaitkan dengan implementasi TIK.




Peluang-peluang di Masa Depan

       Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi maupun Kurikulum
Tingkat     Satuan      Pendidikan,      termuat        mata   ajaran Teknologi
informasi         dan       komunikasi          untuk       SMP/MI          maupun
SMA/SMK/MA/MAK. Sampai saat ini belum ada lembaga Pendidikan
tenaga Kependidikan yang menghasilkan guru dengan spesialisasi
pengajar teknologi Informasi dan Komunikasi, Sebagian besar guru
TIK di lapangan adalah guru yang berasal dari bidang keahlian
kependidikan        lain     yang kebetulan         'bisa      mengoperasikan
komputer'          atau        bahkan sarjana-sarjana            komputer.       Ini
merupakan         peluang    bagi   LPTK seperti Unnes,              baik    dengan
membuka secara khusus program studi yang terkait dengan TIK


                                                                                  21
ataupun membekali calon guru dengan keterampilan TIK yang
memadai sehingga tidak gamang menghadapi penugasan sebagai
guru TIK. Ladang garapan lain yang seharusnya digarap LPTK
seperti Unnes     adalah    bidang      pemanfaatan         TIK    dalam
proses pembelajaran. Kiranya         program studi Kurikulum         dan
Teknologi Pendidikan (dengan penekanan pada frasa terakhir,
Teknologi Pendidikan) tepat untuk menggarap bidang tersebut.
Berikut adalah   sebagian     dari   daftar     panjang     bidang-bidang
yang seharusnya digarap Unnes sebagai LPTK: Kajian desain dan
implementasi bahan ajar multimedia; Kajian teori-teori belajar terkait
proses pembelajaran online; Kajian            eksploratif    pemanfaatan
jaringan   Internet   dalam      proses pembelajaran; Desain dan
implementasi perangkat lunak pembelajaran dengan berlandaskan
pada teori belajar mutakhir; Pemanfaatan secara kreatif aplikasi-
aplikasi   berbasis   internet yang telah ada menjadi alat bantu
pembelajaran; Kajian pemanfaatan chatting, blogging, maupun
teleconferencing pada proses pembelajaran,




                                                                       22
                               BAB III
Penutup
III.1. Kesimpulan

     Peranan pemerintah – dukungan pemerintah penting untuk
pengembangan infrastruktur dalam mengakomodasi kebutuhan antar
sektoral, menjamin adanya kompetisi yang sehat, membantu sektor
yang lemah, membantu daerah terpencil, atau yang kemampuannya
terbatas,   termasuk   pengembangan       dan     arahan   riset   yang
mendukung penguatan SDM dan industri lokal. Competitive and open
markets – mendukung penyediaan jasa TI secara terbuka dan
kompetitif; dimana peranan swasta didorong untuk mendukung
penyediaan jasa TI lebih murah melalui kompetisi yang sehat.
Infrastruktur hukum – adopsi dan penerapan peraturan atau hukum
yang sesuai dengan kondisi dan lingkungan Indonesia, untuk bidang
e-commerce, information act dan HAKI. Produk hukum ini mencakup
antara lain topik transaksi elektronis, keabsahan dokumen elektronis,
digital signature, dan kepastian hukum penyelesaian sengketa yang
timbul dalam kegiatan e-commerce. Insentif Investasi – pemerintah
melakukan kerjasama, koordinasi dan kemudahan dalam proses
investasi prasarana infrastruktur TI dengan prioritas insentif pada
investasi yang sejalan dengan visi misi dan strategi nasional. Industri
teknologi informasi – dukungan untuk melibatkan industri TI nasional
untuk terlibat secara aktif dalam pengembangan infrastruktur berupa
kebijakan dalam identifikasi sektor TI          yang potensial untuk
dikembangkan seperti “software development”, relokasi “IT services”




                                                                     23
(dukungan purna jual di tingkat nasional, regional, dan internasional)
ke dalam negeri dan lain-lain.
     Sebagai    institusi   yang   menghasilkan   guru   dan   tenaga
kependidikan lainnya, Unnes masih perlu membenahi dan terus
memperbaiki infrastruktur terkait teknologi imformasi dan komunikasi.
Perbaikan infrastruktur TIK ini merupakan keniscayaan,     mengingat
pesatnya   perkembangan TIK pada umumnya dan yang terkait
dengan proses pembelajaran pada khususnya. Selain perbaikan
infrastruktur, rekayasa sosial untuk mendekatkan sivitas akademika
dengan TIK perlu dilakukan mengingat bahwa adopsi teknologi
hanya      berhasil baik apabila disertai dengan penyesuaian-
penyesuaian budaya maupun kebiasaan yang dibawa serta oleh
teknologi tersebut.




                                                                    24
                          Daftar Pustaka




Hari     Wibawanto. 2006. Learning Management System. Handout.
       Disajikan


pada     Training on ICT in Instruction for Quality Improvement of
       Graduate Study di Universitas Udayana, Denpasar.
Kementerian Negara Riset dan Teknologi. 2006.            Buku     Putih.
       Penelitian Pengembangan dan Penerapan IPTEK Bidang
       Teknologi Informasi dan Komunikasi       Tahun      2005-2025.
       Jakarta: Kementerian Negara Riset dan Teknologi.
Lallana, Emmanuel C. 2003. The Information Age. Manila: e- Asean
       Task Force UNDP APDIP.
SEAMOLEC. 2003. e-Learning di Indonesia dan Prospeknya di Masa
       Mendatang.    Makalah.     Disajikan   pada    Seminar Nasional
       E-Learning perlu E-Library di Universitas Kristen Petra
       Surabaya pada 3 Februari 2003.
Unnes.     2006.    Laporan     Akhir   Pelaksanaan     Program    K-2.
Semarang: Unnes




                                                                     25