alga

Document Sample
alga Powered By Docstoc
					TUGAS MAKALAH
BIOLOGI LAUT



                   MAKROALGAE

                 (EUCHEMA SERRA)




                RIDHA NIRMALASARI

                    H 411 04 004




      LABORATORIUM LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
                  JURUSAN BIOLOGI
  FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
              UNIVERSITAS HASANUDDIN
                     MAKASSAR
                        2006
                                      BAB I
                                 PENDAHULUAN


       Sponges adalah organisme dengan struktur tubuh yang tidak terlalu
kompleks dibandingkan dengan semua organisme bersel banyak            (multiseluler)
lainnya. Sponges umumnya terdiri atas suatu jaringan di lapisan luar (cortex) dan
lapisan dalam yang berserabut dipenuhi dengan irisan-irisan silika atau kalsium
karbonat. Banyak jenis sponges yang ditemui di habitat kering tubuhnya dipenuhi
jaringan hidup bluegreen algae. Pada beberapa jenis sponges jaringan algae ini
menyerupai hamper 100% kebutuhan nutrisinya. Diperkirakan terdapat sebanyak
10.000 spesies sponges di laut. Identifikasi sponges sering mengalami kesulitan
karena spesies yang sama seringkali menunjukkan bentuk yang berbeda,
tergantung pada kondisi habitatnya. Di tempat yang tenang dan terlindung, spesies
yang sama akan dapat berbeda bentuknya bila berada di tempat yang berarus kuat
di luar terumbu.
       Dalam kalsifikasinya, sponges termasuk filum Porifera, kelas Calcarea
(Calcareous sponges); Demospongiae (horn sponges); Sceleropongiae (Corallina
atau tropical sponges) dan Hexactinellida (glass sponges).
       Umumnya sponges adalah golongan hermaprodit dan berkembang biak
secara internal. Hasil pembuahan berbentuk larva kemudian dilepas dengan bebas
dalam air dan melekat pada suatu substrat atau obyek yang keras (sessile) dan
tumbuh sampai menjadi dewasa. Beberapa individu sponges berbiak secara asexual
dengan cara fragmentasi, badannya terbawa arus air ke lokasi lain dan tumbuh
menjadi sponges dewasa.
       Sponges merupakan hewan primitive dengan struktur tubuh yang sederhana.
Sponges terbentuk dari rangka internal berupa spikula dari zat kapur (CaCO 3) atau
silica (H2Si3O7) dan serat spongin yang memiliki spikula keras atau kandungan pasir
untuk membentuk struktur tubuhnya. Karena struktur tubuhnya yang berbeda-beda,
maka dilakukan pengidentifikasian terhadap salah satu jenis sponges, yakni
Callyspongia.
                                  BAB II
                                    ISI


 Morfologi Callyspongia sp
          Callyspongia sp merupakan salah satu spesies dari sponges yang
   tubuhnya terbentuk dari rangka internal berupa spikula. Karena Callyspongia
   termasuk ke dalam kelas Calcarea, maka dapat dipastikan bahwa spikulanya
   tersusun dari zat kapur (CaCO3). Selain itu, adapula yang menyatakan
   bahwa Callyspongia memiliki rangka yang kuat yang terbuat dari protein,
   sering disebut spongin.
          Sama seperti sponges pada umumnya, Callyspongia juga memiliki
   ratusan bahkan ribuan pori-pori yang mampu menyerap air ke dalam
   tubuhnya, selain itu, terdapat pula lubang yang berfungsi sebagai saluran air.
   Pada Callyspongia juga dijumpai adanya sistem saluran (canal system)
   sebagai jalan masuknya air ke dalam tubuh untuk memperoleh makanan dan
   mengeluarkan sisa pencernaan keluar tubuh.
          Pada Callyspongia dijumpai sistem saluran tipe sikon, yakni air yang
   diserap melalui ostium – rongga paragaster – apopil – prosopil – osculum.
   Tipe saluran ini adalah bersifat kompleks dibanding type ascon. Dengan jalan
   ini, Callyspongia dapat menyerap air ke dalam tubuhnya dengan waktu yang
   singkat. Sponges (Callyspongia) dapat mengontrol air yang dipompa
   melewatinya dan berhenti sewaktu-waktu.
          Mengenai warnanya, banyak para peneliti yang belum dapat
   mengungkap kandungan apa yang sebenarnya yang terkandung pada
   Callyspongia. Namun, ada yang berpendapat bahwa pada keelokan warna
   tersebut mengandung racun alami. Warna yang dimiliki bisa jadi merupakan
   semacam pelindungan terhadap bahaya sinar matahari yang langsung.
   Beberapa jenis dari Callyspongia jiga melakukan symbiosis dengan algae,
   hal ini dapat dilihat dari warna-warna yang berbeda pada setiap spesies.




 Anatomi Callyspongia sp
                 Callyspongia termasuk ke dalam       hewan primitive dengan
          struktur tubuh yang sederhana. Selain itu, Callyspongia juga
          digolongkan ke dalam hewan multiseluler. Sel-selnya berukuran
          besar dan berdiri sendiri. Sel-selnya bukan dalam bentuk jaringan
          atau organ. Sehingga tidak memiliki muara, sistem pencernaan
         ataupun sistem sirkulasi. Spesies Callyspongia hidup secara soliter,
         pada coral yang keras dan tidak berkoloni.
                  Callyspongia termasuk ke dalam kelas yang karakteristiknya
         ditandai dengan adanya spikula yang terbuat dari kalsium karbonat.
         Jika melihat salah satu bagian spikula yang dimiliki oleh Callypongia
         dibawah mikroskop, maka akan dilihat suatu tanda yang menyerupai
         lambing mercedez-benz.
                  Sponges (Callyspongia) makan dengan cara menyaring air
         laut (filter feeding). Mereka memompa air laut melalui pori-pori tubuh
         dan menyaring plankton, bakteri serta detritus untuk dimakan.


 Sistematik
         Kingdom        : Animalia
         Phyum          : Porifera
         Class          : Calcarea
         Subclass       : Calcaronea
         Ordo           : Leucosoleniidae
         Family         : Callysponiidae
         Genus          : Callyspongia
         Spesies        : Callyspongia sp


                        Sumber :
                                Barnes, Invertebrate Zoology,1996.
                                http://en.wikipedia.org/wiki/calcareaous_sponge
                                    BAB III
                                  PENUTUP


-   Kesimpulan
    Adapun      kesimpulan yang dapat ditarik, setelah membuat dan mencari
    literatur mengenai sponges, khusunya spesies Callyspongia, adalah sebagai
    berikut :
        o   Callyspongia merupakan hewan berpori yang digolongkan ke dalam
            kelas Calcarea.
        o   Skeleton Callyspongia terbuat dari spikula yang tersusun dari zat
            kapur (CaCO3).
        o   Callyspongia memiliki tipe saluran air sicon.
        o   Hidup soliter pada coral (karang) yang keras.
        o   Mempunyai fungsi ekologi dan ekonomi yang sangat penting.


-   Saran
            Sebaiknya dilakukan perlindungan-perlindungan terhadap ekosistem
    terumbu karang.
                                      BAB I
                                PENDAHULUAN


       Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dari pada daratan, oleh
karena itu Indonesia dikenal sebagai Negara maritime. Perairan laut Indonesia kaya
akan berbagai biota laut baik flora maupun fauna. Demikian luas serta keragaman
jasad-jasad hidup di dalam yang kesemuanya membentuk dinamika kehidupan di
laut yang saling berkesinambungan.
       Pada tahun belakangan ini, perhatian terhadap biota laut semakin meningkat
dengan munculnya kesadaran dan minat setiap lapisan masyarakat akan pentingnya
lautan. Menurut Bengen (2001) laut sebagai penyedia sumber daya alam yang
produktif baik sebagai sumber pangan, tambang mineral, dan energi, media
komunikasi maupun kawasan rekreasi atau pariwisata. Karena itu wilayah pesisir
dan lautan merupakan tumpuan harapan manusia dalam pemenuhan kebutuhan di
masa akan datang.
       Salah satu sumber daya laut yang cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan
adalah lamun, dimana secara ekolois lamun mempunyai beberapa fungsi penting di
daerah pesisir. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh
dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Menurut
Nybakken (1988), biomassa padang lamun secara kasar berjumlah 700 g bahan
kering/m2, sedangkan produktifitasnya adalah 700 gkarbon/m2/hari. Oleh sebab itu
padang lamun merupakan lingkungan laut dengan produktifitas tinggi.
       Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji
satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Jadi sangat
berbeda dengan rumput laut (algae). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia
kecuali di daerah kutub. Lebih dari 52 jenis lamun yang telah ditemukan. Di
Indonesia hanya terdapt 7 genus dan sekitar 15jenis yang termasuk ke dalam 2
famili yaitu ; Hydrocharitaceae (9 marga, 35 jenis) dan Potamogetonacea (3 marga,
15 jenis). Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain :
Thalassia hemprichii, enhalus acoroides, Halophila ovalis, cymodoceae serulata dan
Thalassiadendron ciliatum.
Dari beberapa jenis lamun, Thalasiadendron ciliatum mempunyai sebaran yang
terbatas, sedangkan Halophila spinulosa tercatat di daerah Riau, Anyer, Baluran,
Irian Jaya, Moti dan kepulauan Aru.
         Lamun merupakan bagian dari beberapa ekosistem dari wilayah pesisir dan
lautan perlu dilestarikan, memebrikan kontribusipada peningkatan hasil perikanan da
pada sector lainnya seperti ariwisata. Oleh karena itu perlu mendapatkan perhatian
khusus     seperti    halnya   ekosistem   lainnya   dalam   wilayah   peisisir   untuk
mempertahankan kelestariannya melalui pengelolaan secara terpadu. Secara
langsung     dan     tidak   langsung   memberikan   manfaat   untuk    meningkatkan
perekonomian terutama bagi penduduk di wilayah pesisir.
         Mengingat pentingnya peranan lamun bagi ekosistem di laut dan semakin
besarnya tekanan gangguan baik olehaktifitas manusia maupun akibat alami, maka
perlu diupayakan usaha pelestarian lamun melalui pengelolaan yang baik pada
ekosistem padang lamun.
                                        BAB II
                                          ISI


       Lamun hidup di perairan dangkal yang agak berpasir sering dijumpai terumbu
karang, lamun umumnya membentuk padang yang luas di dasar laut yang masih
dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya.
Padang lamun merupakan ekosistem yang sangat tnggi produktifitas organiknya.
Ke dalam air dan pengaruh pasang surut serta struktur substrat mempengaruhi zona
sebagian jenis lamun dan bentuk pertumbuhannya.
       Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai substrat yang
berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang khas lebih sering ditemukan
di substrat Lumpur berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu
karang.
       Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya,
dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem ini hidup
berabekaragam biota laut seperti ikan, Crustacea, mollusca (Pinna sp, Lambis sp,
Strombus sp), Ekinodermata (Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp,
Linckia sp) dan cacing (Polichaeta).
       Ciri-ciri umum Hydrocharitaceae yaitu memiliki anggota dengan bentuk daun
seperti pita, bulat, memiliki pelepah, daun penumpu, rhizome beruas dengan
panjang 5 – 40 mm, pada rhizome terdapat akar, ada yang tunggal dengan diameter
2 – 5 cm, panjang 15 cm atau lebih, berbulu, memiliki fibrous bistle.
Sistematik
Regnum                 : Plantae
Divisio                : Spermatophyta
Subdivisio             : Angiospermae
Class                  : Monocotyledoneae
Subclass               :      -
Ordo                   : Helobiae
Subordo                :      -
Family                 : Hydrocharitaceae
Genus                  : Thalassia
Spesies                : Thalassia hemprichii


                       Sumber        : http://tomoutou.net/702_04212/fahruddin.htm.
                                                Den hartog (1970)
                                                The seagrass of the world


          Padang lamun merupakan habitat bagi beberpa organisme laut. Hewan yang
hidup pada padang lamun ada berbagai penghuni tetap ada pula yang bersifat
sebagai pengunjung. Hewan yang datang sebagai pengunjung biasanya untuk
memijah atau mengasuh anaknya seperti ikan. Selain itu, ada pula hewan yang
dating mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang
makan lamun Syringodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii.
          Di daerah padang lamun, organisme melimpah, karena lamun digunakan
sebagai perlindungan dan persembunyian dari predator dan kecepatan arus yang
tinggi dan juga sebagai sumber bahan makanan yang baik daunnya daunnya
maupun epifit atau detritus. Jenis-jenis Polichaeta dan hewanhewan nekton juga
banyak didapatkan pada padang lamun. Lamun juga merupakan komunitas yang
sangat produktif sehingga jenis-jenis ikan dan fauna invertebrata melimpah di
perairan ini. Lamun juga memproduksi sejumlah besar bahan organik sebagai
substrat untuk alga, epifit, mikroflora dan fauna.
       Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang
paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai peraan penting dalam
menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup d laut dangkal. Menurut hasil
penelitian diketahui bahwa peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal
sebagai berikut :
   -   Sebagai produsen primer
       lamun mempunyai tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan
       dengan ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem
       terumbu karang.
   -   Sebagai habitat biota
       Lamun memberikan tempat perlindungan dan           tempatmenempel berbagai
       hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga. Di samping itu, padang lamun (seagrass
       beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalan dan makan
       dari berbagai jenis ikan herbivore dan ikan-kan karang (coral fishes).
   -   Sebagai pengangkap sedimen
       Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yan disebabkan oleh arus
       dan ombak, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Di samping itu,
       rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat sediment, sehingga
       dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan. Jadi padang lamun
       yang berfungsi sebagai penangkap sediment dapat mencegah erosi.
   -   Sebagai pendaur zat hara
       Lamun memegang penting dalam pendauran bebagai zat hara dan elemen-
       elemen yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang
       dibutuhkan oleh alaga epifit.
       Lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh
masyrakat baik secara tradisional maupun secara modern.
Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk :
   -   Digunakan untuk kompos dan pupuk
   -   Cerutu dan mainan anak-anak
   -   Dianyam menjadi keranjang
   -   Tumpukan untuk pematang
   -   Mengisi kasur
   -   Ada yang dimakan
   -   Dibuat jarring ikan
Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk :
   -   Penyaring limbah
   -   stabilizator pantai
   -   Bahan untuk pabrik
   -   Makanan
   -   Obat-obatan
   -   Sumbe rbahan kimia
                                       BAB III
                                   PENUTUP


       Sebagai sumber daya pesisir, ekosistem padang lamun memiliki multi fungsi
untuk menunjang sistem kehidupan dan berperan penting dalam dinamika pesisir
dan laut, terutama perikanan pantai sehingga pemeliharaan dan rehabilitasi
ekosistem lamun merpakan salah satu alasan untuk tetap mempertahankan
keberadaan ekosistem tersebut.
       Ekosistem lamun sangat terkait dengan ekosistem di dalam wilayah pesisir
seperti mangrove, terumbu karang, estuaria dan ekosistem lainnya dalam
menunjang keberadaan biota terutama pada perikanan serta beberapa aspek lain
seperti fungsi dan social ekonomi. Hal ini menunjukkan keberadaan ekosistem
lamun adalah tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan ekosistem sekitarnya,
bahkan sangat dipengaruhi aktifitas darat. Namun, akhir-akhir ini kondisi padang
lamun semakin menyusut oleh adanya kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas
manusia.
       Sebagai upaya konservasi dan kelestariannya dalam            rangka tetap
mempertahankan     lingkungan    dan    penggunaan   yang   berkelanjutan,   maka
dikembangkan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai pihak untuk membuat
solusi tepat dalam mempertahankan fungsi ekologis dari ekosistem.
                              DAFTAR PUSTAKA


Den hartog, C., 1970, The Seagrasses of the world. Dalam: Azkab, M. H, 1999,
      Pedoman Invetarsasi. Lamun . Oceana 1 : 1-16.

Fortes, M.D., 1989, Seagrasses : a resource unknown in the Asean region. Iccarm
       Education, manila, Phlippines.

Kikuchi, T and J.mPeres., 1997, Consumer ecology of seagrass beds. Dalam:
       Azkab, M.H, 1999

http://tomoutou.net/702_04212/fahruddin.htm.
                                      BAB I
                                PENDAHULUAN


       Alga merupakan kelompok organisme yang bervariasi, baik bentuk, ukuran
mayupun komposisi senyawa kimianya. Alga ini ada yang berbentuk uniseluler
(contoh Chlorococcus sp), berkoloni (Volvox sp), benang atau filamen (contoh
Spyrogyra sp) serta bercabang atau pipih (contoh Ulva sp, Sargassum sp, Euchema
sp).
       Ciri umum alga adalah tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati. Tubuh
seperti ini dinamakan thalus. Itulah sebabnya alga tidak dapat digolongkan sebagai
tumbuhan (plantae). Di dalam sel alga terdapat berbagai plastida yaitu organel sel
yang mengandung zat warna (pigmen). Palstida yang terdapat pada alga terutama
kloroplas mengandung pigmen klorofil yang berperan penting dalam proses
fotosintesis. Sehingga alga bersifat autotrof karena dapat menyusun sendiri
makanannyaberupa zat organic dan zat-zat organik.
       Adapun pigemen-pigmen lai yang terdapat di dalam sel-sel alga adalah :
      Fikosianin    : pigmen warna biru
      Xantofil      : pigmen warna kuning
      Kariten       : pigmen warna keemasan
      Fikosantin    : pigmen warna pirang
      Fikoeritrin   : pigmen warna merah


       Kebanyakan alga merah (Rhodophyceae) hidup di dalam air laut, terutama
dalam lapisan-lapisan air yang dalam, yang hanya data dicapai oleh cahaya
bergelombang pendek. Hidupnya sebagai bentos, melekat pada suatu substrat
dengan benang-benang pelekat atau cakram pelekat. Tallus bermacam-macam
bentuknya, tetapi pada golongan yang sederhana pun telah bersifat heterotrofik.
Jaringan tubuh belum bersifat sebagai parenkim, melainkan hanya merupakan
plektenkim.
                                        BAB II
                                          ISI


       Spesies Euchema serra merupakan alga merah             (Rhodophyceae) yang
mengandung klorofila dan d, pigmen karoten, xantofildan fikeritrin. Selain itu dinding
selnya terdiri atas selulosa dan pektin yang berlendir
       Sebagai hasil aimilasi terdapat sejenis karbohidrat yang disebut tepung
floride yang juga merupakan hasil polimerisasi glukosa, berbentuk bulat, tidak larut
dalam air, seringkali berlapis-lapis, jika dibubuhi yodium berwarn kemerah-merahan.
Tepung ini sifanya lebih dekat kepada glikogen, dan tidak terdapat dalam
kromatofora, melainkan pada permukaannya. Selain tepung floride terdapat juga
floridosida (senyawa gliserin dan galaktosa) dan tetes-tetes minyak. Pirenoid
kadang-kadang juga terdapat. Selain beberapa perkecualian, Rhodophyceae selalu
bersifat autotrof. Yang heterotrof tidak mempunyai kromatofora dan hidup sebagai
parasit pada ganggang yang lain.
       Perkembangbiakan dapat secara aseksual, yaitu dengan pembentukan
spora, dapat pula secara seksual (oogami). Baik spora maupun gametnya tidak
mempunyai bulu cambuk, jadi tidak dapat bergerak aktif.
Morfologi dan anatomi Euchema serra
       Thallus ada yang masih sederhana , tetapi umumnya hampir selalu
bercabang-cabang dengan beraturan dan mempunyai beranekaragam bentuk,
seperti benang, lembaran-lembaran. Percabangannya menyirip atau menggarpu.
Pembiakan seksual berlangsung sebagai berikut. Dari sel-sel ujung cabang-cabang
talus, terbentuk dua anteridium yang masing-masing terdiri atas satu sel saja dan
berasal dari penonjolan sel ujung. Tiap anteridium menghasilkan satu gamet jantan
yang oleh karena tidak dapat bergerak tidak dinamakan spermatozoid tetapi
sprematium. Gametangium betina dinamakan karpogonium, karpognium terdapat
pada ujung cabang-cabang lain daripada cabang-cbang thalus yang mempunyai
enteridium. Suatu karpogonium terdiri atas satu sel panjang, bagian bawahnya
membesar seperti botol, bagian atasnya berbentuk gada atau benang dan
dinamakan trikogin. Inti terlur terdapat pada bagian dasar yang membesar tadi.
Spermatium secara pasif (oleh air) akhirnya sampai pada trikogn, melekat pada
trikogin, dan setelah dinding perlekatan terlarut, seluruh protoplas spermatium
masuk ke dalam karpogonium. Setelah jadi pembuahan bagian bawah karpogonium
lalu membuat sumbat, dan dengan sumbat itu menjadi terpisah dari trikogin. Zigot
tidak mengalami waktu istirahat, melainkan dari bidang sampingnya lalu membentuk
sel-sel yang merupakan benang-benang yang dinamakan benang sporogen. Dalam
sel-sel ujung benang itu terbentuk sato spora, masing-masing dengan satu inti dan
satuplastida dan dinamakan karpospora. Karpospora akhirnya keluar dari sel-sel
terminal benang sporogen sebagai protoplas telanjang dan tidak mempunyai bulu
cambuk. Karpospora itu mula-mula berkecambah menjadi suatu protalium yang
akhirnya tumbuh menjadi individu baru dengan alat-alat generatif. Mengingat bahwa
spora tidak dapat bergerak, hingga kemudian terjadinya pembuahan itu sedikit,
maka untuk meniadakan kepincangan itu terbentuk banyak sekali spora.
       Jadi disini kita dapat melihat pula adanya pergiliran keturunan, tetapi
gametofit dan sprofit yang di sini berupa benang-benang sporogen tidak terpisah.
Sporofit yang berupa benang dan hanya terdiri atas beberapa sel itu hidup sebagai
parasit pada gametofitnya.
       Peristiwa     seperti   diuraikan   di   atas   terdapat   anatara   lain   pada
Batrachospermum moniliforme. Pembelahan reduksi terjadi pada zigot, jadi baik
gametofit maupun sporofit bersifat haploid, dan hanya zigot saja yang merupakan
fase yang diploid.
Sistematik
Divisio         : Plantae
Subdivisio      : Thallophyta
Class           : Algae
Subclass        : Florideae
Ordo            : Nemastomales
Subordo         :         -
Family          : Rhodophyllidaceae
Genus           : Euchema
Spesies         : Euchema serra
                          Sumber       : Taksonomi Tumbuhan I
                                        Gembong Tjitrosoepomo
Fungsi Euchema serra
          Jenis alga merah ini umumnya memiliki thallus sederhana dan kenyal,
melekat pada substrat keras berwarna kemerahan yang menempati habitat yang
lebih dalam jika dibandingkan dengan alga hijau dan alga coklat. Senyawa
karaginan yang dikandung alga merah ini membuat jenis atau spesies ini menjadi
komoditas ekonomi yang penting sehingga banyak dibudidayakan di Indonesia.
          Adapaun manfaat Euchema serra dalam bidang ekonomi adalah :
    Bahan baku industri kosmetik : sabun, bahan cream, shampoo,pencelup
          rambut dan pembersih muka.
    Industri farmasi : suspensi, emulsiter, stabilizer, bahan tablet atau kapur,
          bahan peluntur, mediapertumbuhan jamur dan bakteri.
    Industri makanan : agar-agar, mentega dan saos.
                                 BAB III
                                PENUTUP


-   Kesimpulan
    Adapun     kesimpulan yang dapat ditarik, setelah membuat dan mencari
    literatur mengenai maroalgae, khusunya spesies Euchema serra, adalah
    sebagai berikut :
       o    Euchema serra merupakan kelompok alga merah (Rhodophyceae)
            yang mengandung senyawa karaginan.
       o    Memiliki thallus ada yang masih sederhana , tetapi umumnya hampir
            selalu   bercabang-cabang   dengan   beraturan   dan   mempunyai
            beranekaragam bentuk, seperti benang, lembaran-lembaran.
       o    Percabangannya menyirip atau menggarpu.
       o    Hidup dalam perairan yang cukup dalam.
       o    Mempunyai fungsi ekologi dan ekonomi yang sangat penting.


-   Saran
            Sebaiknya dilakukan perlindungan-perlindungan terhadap ekosistem
    makroalgae.
                               DAFTAR PUSTAKA


http://www.naturia.per,sg/cj survev/vegetative/photos/Thalassia%hemprichii.gif.
http://wwwe – dukasi.net/modul_online/Mo_134.htm.
http://massbay.mit.du/exotic spesies/ exoticmaps/ images /bonham 5.jpg.
Gembong, T., 2003, taksonomi Tumbuhan, Gadjah mada university Press,
     Yoyakarta

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:2808
posted:10/17/2010
language:Malay
pages:20