Aberasi kromosomal

Document Sample
Aberasi kromosomal Powered By Docstoc
					Aberasi Kromosom
Oleh Wildan Yatim

ABERASI artinya menyimpang. Aberasi kromosom ialah mutasi
besar yang menyebabkan jumlah atau struktur kromosom berubah.
Penyebab aberasi sama dengan mutasi gen, ada berupa bahan fisika
dan kimia, ada pula berupa bahan biologi. Cuma saja sinar
gelombang pendek yang non-radioaktif, yaitu sinar ultraviolet, tidak
sampai menyebabkan aberasi kromosom. Kebanyakan penyebab
aberasi itu ialah sinar radioaktif, bahan kimia residu insektisida dan
herbisida, asap pembakaran, dan virus.

Negeri kita dibombardir oleh pestisida, herbisida, dan obat apkiran
dari negara maju. Di kota besar penyebab aberasi ialah asap knalpot
kendaraan bermotor. Kendaraan itu demikian rapat memenuhi jalan
raya sehingga perjalanan jadi macet kronis, menyebabkan orang 3-5
x lipat lebih lama di jalan daripada di daerah pinggiran atau
pedesaan. Berarti 3-5 x lipat pula orang terpapar kepada pencemaran
oleh asap kendaraan itu.

Jalan raya dan trotoar centang perenang dan berdebu kronis, selokan
dan kali mampet, warna airnya hitam, tergenang abadi
bertahun-tahun. Jika hujan turun, air itu meluap ke halaman dan jalan
besar, dan setelah hari panas ia kering dan membentuk debu yang
beterbangan, lalu hinggap pada minuman dan makanan di jongko
pinggir jalan dan pasar. Itu semua mengandung bahan penyebab
aberasi, sehingga sel-sel tubuh penduduk kota besar banyak
mengandung kromosom aberrant.

Sedangkan di desa dan dusun sumber pencemar yang menciptakan
kromosom aberrant ialah residu pestisida dan herbisida, yang
memenuhi udara, air, dan tanah sawah, kebun, dan perkebunan
besar. Ada di antara residu itu yang bersifat mirip hormon estrogen,
yang dapat mengganggu perimbangan hormon tubuh para wanita. Ini
sama halnya kalau wanita itu sudah berumur 40 tahun plus, estrogen
dalam tubuhnya menurun sehingga mengganggu perimbangan
hormon secara keseluruhan dalam mengatur metabolisme dan
aktivitas sel.

***

Dapat dikatakan hampir semua penyakit kanker, baik darah, jaringan
lunak, maupun jaringan padat, ternyata mengandung aberasi
kromosom. Dapat dipahami kenapa di negara maju diagnosa klinis
terhadap sejenis kanker sering harus ditunjang oleh diagnosa
sitogenetika. Terutama dalam memperkirakan kelanjutan penyakit itu
serta kemungkinan untuk sembuh (prognosa), dan jenis terapi yang
tepat, harus ditunjang oleh analisa kromosom.

Analisis kromosom juga diperlukan untuk memeriksa yang berikut:
abortus berulang, kelainan kelamin dan perilaku seks, kelamin bayi
meragukan, anak laki yang lubang kencingnya di bawah titit, pelir
yang menyangkut di selangkangan, ketaksuburan (infertilitas)
pasangan suami-istri, terlambat haid, pertumbuhan terganggu,
kelainan jiwa-saraf, dan mental terbelakang.
Jumlah kromosom orang ialah 46 atau 23 pasang. Di antara yang 23
pasang itu sepasang adalah kromosom seks (gonosom), yang 22
pasang lagi kromosom biasa (autosom). Karena autosom banyak
maka untuk menandainya diberi nomor angka Arab: 1-22.
Penomoran itu mulai dari yang terpanjang/terbesar sampai yang
terpendek/terkecil.

Satu kromosom memiliki bagian-bagian berikut: 1) lengan; 2)
sentromer; 3) telomer. Lengan ada dua, atas dan bawah. Lengan
atas diberi simbol p, lengan bawah q. Pada kromosom no 1, 3, 19,
dan 20, kedua lengan sama panjang. Pada kromosom lain lengan p
lebih pendek dari pada q. Jika p dan q sama panjang kromosom itu
disebut metasentrik, jika lebih pendek disebut submetasentrik, dan
jika p sangat pendek disebut akrosentrik.

Menurut variasi lengan maka autosom dibedakan atas tujuh
kelompok yang diberi simbol dengan huruf besar: A-G. Kelompok A:
no 1-3, metasentrik besar; kel B: no 4-5, submetasentrik besar: kel
C: no 6-12, submetasentrik sedang; kel D: no13-15, akrosentrik
besar; kel E: no 16-18, submetasentrik kecil; kel F: no 19-20,
metasentrik kecil; dan kel G: no 21-22, akrosentrik kecil. Gonosom X
termasuk kel C; Y termasuk kel G. Pada umumnya panjang X
terletak antara no 5 dan 6, sesewaktu antara 6 dan 7, bahkan
sewaktu ada juga antara 7 dan 8. Sedangkan Y lebih besar/panjang
dari krom.21 tetapi lebih kecil daria krom15.
***

Terutama untuk diagnosa kanker kini ada teknik baru untuk membuat
sediaan kromosom yang disebut teknik pemitaan (banding
technique). Dengan teknik pewarnaan tertentu dengan kromosom jadi
memiliki pita. Sering juga pada tingkat pembelaan sel tertentu pita itu
berubah jadi titik tebal. Pita atau titik tebal itu dipakai sebagai
semacam tonggak kilometer, untuk menetapkan di mana persis
lokasi aberasi struktural yang terjadi pada suatu kromosom. Menurut
jauhnya dari sentromer pita itu dinomori, dengan memakai acuan
sentromer sebagai titik 0. Ada misalnya tertulis letak suatu onkogen
(gen penyebab kanker) pada 2q32. Itu maksudnya gen itu terletak
pada krom 2, lengan q, daerah pita 3, dan nomor pita 2.
Sentromer adalah kepala kromosom. Waktu terjadi pembelahan dan
pembiakan sel mikrotubul serat gelendong menggantung kromosom
pada sentromernya, di bagian yang disebut kinetokor. Mikrotubul ini
berperan menentukan untuk memisahkan kromosom anak untuk
pergi ke kutub berseberangan membina dua sel anak. Jika sentromer
kromosom sesaudara gagal berpisah pada tahap anafase, maka
kromosom sesaudara itu terdapat dalam satu sel, seperti terdapat
pada anak penderita sindroma karena kelebihan satu kromosom.
Jika kromosom patah dan ada fragmen yang tidak memiliki
sentromer maka fragmen itu tidak ikut arus pembelahan sel dan
pewarisan materi genetik kepada anak-cucu, dan sering jadi hancur.
Telomer terdapat pada bagian ujung-pangkal kromosom, bertindak
sebagai tudung atau perisai terhadap berbagai enzim. Selain itu
telomer berfungsi untuk melekatkan kedua ujung-pangkal kromatin
ke selaput inti, untuk menjaga integritas kromatin itu. Waktu DNA
kromatin mengganda jadi dua (membelah, replikasi) telomer lepas
dan hancur, dan kalau sudah selesai telomer kembali dibentuk,
dikatalisa oleh enzim telomerase. Enzim ini banyak terdapat pada
sel-sel embrio dan kanker, yang gunanya ialah untuk membikin
telomer kromatin kembali setelah replikasi DNA-nya selesai, setiap
pembelahan sel dimulai.

Sel-sel tubuh yang sudah dalam bentuk definitif, artinya tidak
membelah lagi dan sudah terdiferensiasi menjadi sel otot, sel
epidermis, sel saraf, sel darah, dan sebagainya, tidak lagi memiliki
telomerase. Karena itu untuk pembelahan sel perlu ada enzim itu
agar kromatin tetap utuh. Jika tidak ada kromatin digerogoti enzim,
sehingga pada tiap pembelahan sel berikut makin lama makin
pendek. Jika kromatin sudah terlalu pendek tiba waktunya mereka
tidak lagi mengandung cukup gen untuk memelihara kehidupan sel
sehingga ia jadi mati.

Enzim telomerase banyak terdapat pada sel embrio, jaringan
germinatif gonad (indung telur dan pelir), dan sel-sel germinatif
berbagai jaringan yang terus tumbuh (kulit air, bulu, kelenjar, dan
sumsum tulang). Sangat menarik, bahwa enzim ini banyak sekali
ditemukan dalam sel-sel kanker. Karena itu kini sedang dicari bahan
yang pas sebagai obat kanker yang sifatnya anti-telomerase,
sehingga kanker itu tidak meruyak (sitostatik).

***

Kurang atau lebih satu atau satu set kromosom biasanya
menyebabkan sel tidak bisa bertahan hidup. Satu set kromosom
dalam sel, disebut genom, pada orang berjumlah 23 dan dalam
keadaan rangkap dua sehingga jumlah kromosom itu 46. Ada embrio
yang terbentuk memiliki kromosom 69, itu berarti 3 set. Embrio itu
tidak bisa melanjutkan pertumbuhan lalu mati dan digugurkan.
Karena jumlahnya satu setengah kali lebih banyak dari biasa
menyebabkan kromosom jadi kecil-kecil, karena besar sel yang
tetap yang harus menampung kromosom satu setengah kali lebih
besar.

Abortus ini terjadi mungkin karena ada dua sperma membuahi satu
oosit. Bisa juga karena dalam proses pematangan oosit kromosom
anak sesaudara alpa pindah ke kutub berseberangan sehingga oosit
itu mengandung 46 kromosom, yang seharusnya 23 saja.
Sesungguhnya jarang sekali terjadi dua sperma membuahi oosit.
Karena segera setelah oosit sudah dimasuki satu sperma di sebelah
luar plasmalema telur segera terbentuk selaput pembuahan yang
mencegah masuknya sperma lain.

Kealpaan berpisahnya kromosom sesaudara menyebabkan tidak
seimbangnya kualitas dan kuantitas gen dalam menumbuhkan
berbagai karakter. Jika sel-sel embrio mengandung 23 kromosom
saja, berarti separuh dari normal, itu pun tidak akan bisa tumbuh
berlanjut dan pada awal pertumbuhan, sebelum tertanam dalam
rahim, sudah mati lalu digugurkan.

Bagaimana halnya jika kelebihan atau kekurangan jumlah kromosom
itu tidak berlaku bagi semua kromosom? Misalnya kelebihan atau
kekurangan pada satu kromosom saja. Pertumbuhan embrio bisa
berlanjut dan embrionya pun secara morfologi jika diamati dengan
ultra sonography (USG) adalah normal. Tetapi setelah lahir akan
kelihatan bahwa si bayi memiliki kelainan. Kelainan itu selalu ganda,
dan disebut sindroma. Kenapa kelainan itu banyak? Karena satu
kromosom itu mengandung ribuan gen.

Jika gen-gen pada satu kromosom itu berlebih, maka itu
menyebabkan berbagai karakter yang diatur oleh gen-gen itu jadi
tumbuh abnormal. Sebagai contoh ialah anak yang lahir berkariotipe
47,XY,+21. Itu artinya bahwa kromosom no. 21 kelebihan satu.
Dalam keadaan normal tiap kromosom ada dua atau sepasang,
disebut disomi.

Pada anak ini berarti kromosom no. 21 jadi trisomi, tiga helai. Anak
ini disebut menderita sindroma Down atau mongolisme. Disebut
mongolisme, karena kelopak matanya gembung, mirip anak
keturunan Mongoloid (Cina, Jepang, Korea, Mongolia, Eksimo,
Indian). Ada pula anak yang trisomi 13, disebut sindroma Patau. Ada
lagi ditemukan bayi trisomi 18, disebut sindroma Edwards. Kedua
sindroma belakangan jauh lebih parah dari pada sindroma Down
tetapi frekuensi jauh lebih kecil. Wajah pada umumnya buruk,
banyak yang sumbing dan langit-langit celah, mental terbelakang,
dan berumur pendek.

Khusus untuk sindroma Down kelainan lain yang ditemukan pada
penderita ialah, lidah sedikit menjulur disertai dengan mulut yang
suka menganga. Otot leher banyak yang lemah sehingga leher sulit
ditegakkan, kadang-kadang ada lipatan kulit pada kuduk. Telinga
agak kecil dan letaknya sedikit lebih rendah. Pada waktu belajar
berjalan, baru bisa beberapa bulan lebih belakangan dari bayi biasa.
Tinggi tubuh waktu dewasa lebih rendah sekitar 15-20 cm dari anak
muda lain. Tingkat kecerdasan atau IQ umumnya hanya sekitar 50.
Orang normal ber-IQ 120. Sehingga mereka jika sudah waktunya
sekolah harus dimasukkan ke sekolah luar biasa.

***

Tapi menurut pengamatan beberapa dokter anak belakangan ini, jika
jumlah populasi sel yang mengalami aberasi kromosom dalam tubuh
anak itu sedikit, justru anak itu memiliki IQ yang tinggi, lebih tinggi
dari anak biasa. Umumnya infertil (tidak subur), pada pria pelir sering
menyangkut pada selangkangan, sehingga azoospermia (tidak
menghasilkan sperma), dan umumnya tidak kawin. Wanita haid
kebanyakan terlambat atau tidak pernah sama sekali, namun ada
juga beberapa orang kawin dan melahirkan anak (biasanya mengidap
sindroma Down juga).

Umur umumnya pendek, meninggal karena kelainan jantung. Tetapi
tak jarang ada juga yang bisa hidup sampai umur 50-an. Frekuensi
sindroma Down ialah 1:700 penduduk, berarti ini adalah sejenis
kelainan genetik yang cukup menonjol di masyarakat. Di Amerika
Serikat saja biaya yang dikeluarkan pemerintah dan masyarakat
untuk pemeliharaan anak sindroma ini mencapai Rp 8 trilyun tiap
tahun.

Pewarisan materi genetik yang mutan sesuai dengan Hukum
Mendel, yang mengatakan bahwa dalam pembentukan gamet terjadi
segregasi dan asortasi bebas antara gen-gen sealel. Untuk mutasi
gen misalnya pada kedua orangtua terdapat dua gen yang memiliki
2alel: A-a dan B-b.

AaBb x AABb

Karena kromosom homolog (macam) selalu sepasang dalam tiap sel
tubuh maka gen juga selalu sepasang. Sebelah kromosom diterima
dari ibu, sebelah lagi dari ayah. Karena itu genotipe (susunan gen)
seseorang selalu ditulis sepasang untuk tiap gen. Di sini ada dua
gen A dan B dengan alel masing-masing a dan b.
* Dr Wildan Yatim, Laboratorium Biotek & Sitogenetika Balai
Kesehatan Univesitas Padjadjaran, Bandung.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:290
posted:10/17/2010
language:Indonesian
pages:5