Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Parasit Malaria

VIEWS: 4,004 PAGES: 46

  • pg 1
									PARASIT MALARIA

         Oleh :
dr. NURHAYATI. M.Biomed
HOSPES

• Spesies Plasmodium pada manusia
  1.   Plasmodium   vivax
  2.   Plasmodium   falciparum
  3.   Plasmodium   malariae
  4.   Plasmodium   ovale
• Spesies Plasmodium pada kera :
1. Plasmodium cynomolgi ~ P. vivax
2. Plasmodium knowlesi ~ P. falciparum &
                         P. malariae.
3. Plasmodium brasilianum ~ P. malariae
• Pada Chimpanse :
    Plasmodium rodhaini ~ P. malariae
DISTRIBUSI GEOGRAFIS

• 64o L.U. (Archangel,Rusia) – 32o L.S. (Cor-
  doba,Argentina).
• 400 m di bawah permukaan laut (L.Mati) –
  2600 m di atas permukaan
  laut(Cochabam-ba, Bolivia).
• Di Indonesia tersebar di seluruh
  kepulauan, terutama di KTI.
Daur hidup

• Pada manusia daur hidup terjadi 2 fase
1. Di hati (fase jaringan/eksoeritrositik):
  (i) Pre-eritrositik(ekso-eritrositik primer)
  (ii) Skizogoni eksoeritrositik Sekunder
2. Eritrosit :
  (i) Skizogoni eritrositik
  (ii) Gametogoni :
Siklus Hidup
Skema fase jaringan

• Pada P. vivax dan P. ovale:
  sporozoit  skizogoni P.E.skizogoni E.E.

                skizogoni E.    Skizogoni E.

              Malaria Primer    Relaps
• Pada P. falciparum dan P. malariae :
  sporozoit  skizogoni P.E.

                 skizogoni E.

                Demam Primer dan
                rekrudesensi
SKIZOGONI JARINGAN PADA
MALARIA
Spesies       Fase pra-    Besar     Jumlah
              eritrosit    skzon     merozoit
P. vivax      6-8 hari     45 mikron 10.000

P.            5,5-7 hari   60 mikron 40.000
falciparum
P. Malariae   12-16 hari   45 mikron 2.000

P. Ovale      9 hari       70 mikron 15.000
Cara infeksi

1. Alami melalui gigitan nyamuk Anopheles
     betina yangmengandung sporozoit.
2. Induksi
  •   Tidak sengaja : transfusi atau kongenital
  •   Disengaja : untuk pengobatan berbagai
  •   Penyakit spt. lues dan sindrom nefrotik
      (sebelum PD II).
Patologi dan gejala klinis

• Proses patologi malaria terjadi pada siklus
  eritrositik.
• Gejala klinis :
  – Triad :
     • Demam periodik,
     • Splenomegali, dan
     • Anemia.
Demam :

• Berhubungan dengan pecahnya eritrosit yg
    mengandung skizon dan keluarnya merozoit
    yang masuk ke aliran darah (sporulasi)
•   Tergantung kepada jumlah parasit (pyroge-nic
    level, fever treshold)
• Sifat demam intermiten, remiten atau kon-tinua.
• Dimulai dengan gejala prodromal berupa lesu,
    sakit kepala, anoreksia, mual dan muntah.
Trias Malaria

• Khas t.d. 3 stadium (trias malaria) :
  (1) Menggigil (15 menit – 1 jam)
  (2) Puncak demam (2-6 jam)
  (3) Berkeringat (2-4 jam).
Splenomegali

• Akibat kongesti
• Limpa menjadi hitam
• Bila menahun konsistensi limpa menjadi
   keras
Anemia

• Jenisnya anemia hemolitik, normokrom
  dan normositik.
• Disebabkan oleh :
  (1) Penghancuran eritrosit .
  (2) Reduced survival time
  (3) Diseritropoiesis .
Diagnosis
 (1) Menemukan parasit dalam sediaan darah
     tepi secara mikroskopis :
    • Setelah pemulasan Giemsa
    • Pulasan jingga akridin : teknik QBC dan
       Kawamoto.
(2) Deteksi parasit tanpa mikroskop :
  (1) Dipstick : secara imuno-enzimatik (immuno-
      enzymatic detection of parasite specific
      histidine –rich protein II).
  (2) Deteksi asam nukleat :
     (1)Hibridisasi DNA atau RNA berlabel yang
         sensitifitasnya dapat ditingkatkan dengan
         PCR.
     (2)Tanpa label radioaktif.
Kekebalan pada Malaria
(1) Kekebalan bawaan (alami)  sifat genetik
  (1) Manusia tidak dapat diinfeksi oleh parasit
      malaria pada burung atau bin. Mengerat.
  (2) Orang Negro di Afrika Barat terhadap P.
      vivax karena mempunyai golongan darah
      Duffy (-).
  (3) Orang yang engandung HbS heterozigot,
      orang dengan beta thalassemia dan HbF.
  (4) Orang dengan defisiensi G-6 PD pada
      eritrositnya.
(2) Kekebalan didapat :
  – Aktif dan pasif, kekebalan kongenital dan
  – Kekebalan residual.
PENGOBATAN & PENCEGAHAN

(1) Skizontosida jaringan :
  (1) Skizontosida jaringan primer :
    # Membasmi parasit ra-eritrositik, sehingga mence-
      gah masuknya parasit ke dalam eritrosit
    # Sebagai profilaksis kausal.
  (2) Skizontosida jaringan sekunder :
    # Membasi parasit daur ekso-eritrositik sekunder.
    # Untuk pengobatan radikal sebagai anti relaps.
(2) Skizontosida Darah
    # membasmi stadium eritrositil yang ber-
       hubungan dengan penyakit akut disertai
       gejala klinis.
    # membunuh bentuk seksual eritrositik P.
       vivax, P. ovale dan P. malariae
       (gametosida).
(3) Gametosida
    # menhancurkan bentuk seksual,
       termasuk gametosit P. falciparum.
    # mempengaruhi perkembangan parasit
      malaria dalam nyamuk.
    # juga bersifat sporontosida.
(4) SPORONTOSIDA
 # Mencegah / menghambat gametosit dalam
    darah tumbuh membentuk ookista dan
    sporozoit dalam nyamuk Anopheles.
 # Mencegah transmisi penyakit malaria.
 # Anti sporogonik.
OBAT ANTI MALARIA

• 9 golongan obat anti malaria :
  (1) alkaloid Cinchona (kina)
  (2) 8-aminokuinolin (primakuin)
  (3) 9-aminoakridin (mepakrin)
  (4) 4-aminokuinolin (klorokuin, amodia-
        kuin)
  (5) biguanid (proguanil, klorproguanil)
(6) Diamino pirimidin (pirimetamin, trimeto-
    prim).
(7) Sulfon & sulfonamid (sulfadoksin)
(8) Antibiotika (tetrasiklin, doksisiklin, mino-
    siklin, klindamisin)
(9) Kuinolin metanol dan fenantren metanol
    (meflokuin).
• KEGUNAAN OBAT ANTI MALARIA :
1. Profilaksis : profilaksis kausal, profilaksis
   klinis (supresif).
2. Kuratif (terapeutik)  skizontosida.
3. Pencegahan transmisi gametosida.
KLASIFIKASI BIOLOGI OBAT
ANTI MALARIA
      SKIZONTOSIDA            GAMETOS SPORONT
                                IDA    OSIDA
    JARINGAN        DARAH
PRIMER SEKUND
         ER
Proguanil Primakuin Kina      Primakuin Primakuin
Pirimeta-           Klorokuin Kina      Proguanil
min                 Amodia- Klorokuin
                    kun       Amodia-
                              kuin
RESISTENSI PARASIT MALARIA
TERHADAP KLOROKUIN
Resistensi terjadi karena :
(1) Parasit tidak mempunyaitempat untuk
    mengikat klorokuin sehingga obat tidak dapat
    dikonsentrasi dalam sel darah merah.
(2) Plasmodium yang resisten mempunyai jalur
    biokimia untuk mengadakan sintesa asam
    amino, sehingga menghindari pengaruh
    klorokuin.
(3) Mutasi spontan di bawah tekanan obat.
EPIDEMIOLOGI MALARIA

1. Faktor parasit :
  •   Kesinambungan produksi gametosit dari
      hospes manusia.
  •   Sifat-sifat spesifik spesies maupun strain
  •   Pola resistensi terhadap obat anti malaria.
(2) Faktor Manusia :
  – Derajat kekebalan
  – Faktor genetik
  – Faktor gizi
• Beberapa faktor genetik yang bersifat
   protektif terhadap malaria:
  1.   Golongan darah Duffy negatif
  2.   HbS yang menyebabkan sickle cell anemia
  3.   Thalaseemia (alfa dan beta)
  4.   Hemoglobinopati (HbF dan HbE)
  5.   Defisiensi G6PD
  6.   Ovalositosis (di PNG dan juga Irian Jaya).
(3) Faktor Nyamuk:
  – Kepadatan vektor dekat pemukiman manusia.
  – Antropofilik
  – Frekwensi mengisap darah
  – Lamanya sporogoni
  – Lamanya hidup nyamuk untuk sporogoni ke-
    mudian menginfeksi jumlah yang berbeda
    me-nurut spesies.
(4) Faktor Lingkungan :
  – Lingkungan fisik : suhu, kelembaban, curah
    hujan, ketinggian, angin, sinar matahari, arus
    air dan kadar garam.
  – Lingkungan Biologik :
     • Tanaman bakau, lumut, ganggang dll.
     • Adanya predator : ikan kepala timah (Panchax
       spp.), gambusia, nila, mujair, dll.
     • Hewan ternak yang dikandangkan dekat rumah.
(5) Lingkungan sosial budaya
  – Kebiasaan berada di luar rumah sampai larut
    malam
  – Tingkat kesadaran masyarakat
  – Kegiatan-kegiatan manusia yang
    mengakibatkan perubahan lingkungan yang
    menguntungkan penularan malaria.
  – Peperangan.
  – Pariwisata/mobilisasi manusia.
PENILAIAN SITUASI MALARIA
• Dengan surveilance epidemiologi melalui:
  – PCD (passive case detection) atau
  – ACD (active case detection)
• Parameter dalam kegiatan rutin malaria :
  – API (annual aparasite incidence)
  – ABER(annual blood examination rate)
  – SPR(slide positivity rate)
  – PF(parasite formula).
SURVEI MALARIOMETRIK
• Parameternya adalah:
(a) PR : persentase penduduk positif malaria
    pada saat tertentu.
(b) Spleen Rate (SR): persentase penduduk
    (umur2-9 tahun) yang limpanya membe-sar.
© AES(average enlarged spleen): rata-rata
    pembesaran limpanya dapat teraba.
   = jumlah limpa yang membesar pada tiap
    ukuran limpa (Hacket) x pembesaran limpa
    pada suatu golongan umur tersebut.
Derajat pembesaran limpa
(klasifikasi Hacket)
H-0 : limpa tidak teraba (pd inspirasi maksimal)
H-1 : limpa teraba pada inspirasi maksimal
H-2 : limpa teraba pada pertengahan arcus costae
       dan umbilicus.
H-3 : limpa teraba di bawah garis horisontal
      melalui umbilicus
H-3 : limpa teraba di bawah garis horisontal perte-
      ngahan umbilicus-symphisis
H-4 : limpa teraba. H-5 : teraba di bawah garis
      H4.
Tingkat endemisitas malaria

• Tingakt endemisitas malaria di suatu
     daerah berdasarkan SR pada kelompok
     umur 2-9 tahun :
1.   Hipoendemik : SR 10%
2.   Mesoendemik : SR 11% -50%
3.   Hiperendemik : SR 50%
4.   Holoendemik : SR > 75%
     (dewasa:25%)
KLB

• Faktor-faktor yang menyebabkan terjadi-
     nya epidemik (KLB), yaitu meningkatnya:
1.   Kerentanan penduduk,
2.   Carrier (penderita infektif),
3.   Jumlah dan umur vektor penular,
4.   Efektivitas dari vektor setempat dalam
     menularkan malaria.
“Malariogenic potential”
• Yaitu kemungkinan masuknya penderita malaria
    ke daerah dimana dijumpai adanya vektor
    malaria.
•   Dipengaruhi oleh :
    – Receptivity: adanya vektor malaria dalam jumlah
      besar dan adanya faktor-faktor ekologis yang
      memudahkan penularan.
    – Vunerability : suatu daerah malaria atau
      kemungkinan masuknya sseorang atau sekelompok
      penderita malaria dan/atau vektor yang telah
      terinfeksi.
Asal-usul malaria :
•   Indigenous : bila transmisi terjadi setempat.
•   Imported : bila berasal dari luar daerah.
•   Introduced : kasus II nya berasal dari kasus impor.
•   Induced    : dari transfusi darah atau suntikan, se-
                    ngaja/tidak disengaja.
•   Relaps      : rekrudesensi (kambuh dlm 8 mgu)/
                    rekurensi (kambuh dlm > 24 mgu)
•   Unclassified : asal usulnya tidak diketahui atau su-
                      lit dilacak.
MALARIA BERAT

• Malaria falsiparum berat adalah penyakit
 malaria dengan P. falciparum stadium
 asek-sual ditemukan di dalam darahnya,
 disertai salah satu bentuk gejala klinis di
 bawah ini (WHO,1990) dengan
 menyingkirkan penyebab lain (infeksi
 bakteri atau virus) :
  – Malaria otak dengan koma (unarousal coma),
  – Anemia normositik berat,
• Gagal ginjal,
• Edema paru-paru,
• Hipoglikemia,
• Shock,
• Perdarahan spontan /DIC(disseminated
 intravascular coagulation),
• Kejang umum yang berulang,
• Asidosis,
• Malaria hemoglobinuria (blackwater fever).
    Manifestasi klinis lainnya (pada kelompok atau di
    daerah tertentu):
•   Gangguan kesadaran (rousable)
•   Penderita sangat lemah,
•   Hiperparasitemia,
•   Ikterus(jaundice),
•   Hiperpireksia.
Kelompok resiko tinggi
• Kelompok resiko tinggi untuk malaria berat
a) di daerah hiper/holoendemik:
   –   Anak kecil umur >6 bulan
   –   Wanita hamil
(b) Di daerah hipo/mesoendemik :
   –   Anak-anak dan orang dewasa
© lain-lain :
   –   Pendatang (transmigran)
   –   Pelancong (travelers)
Patofisiologi malaria berat

1) Sludging hypothesis,
2) Permeability hypothesis,
3) Mechanical hypothesis :
  a) Mekanisme penurunan deformabilitas
     eritrosit,
  b) Cytoadherence
4) Immunological hypothesis.

								
To top