Docstoc

cacing Tambang dan T.trihiura

Document Sample
cacing Tambang dan T.trihiura Powered By Docstoc
					CACING TAMBANG
(HOOKWORM)
1.   Necator americanus       Manusia
2.   Ancylostoma duodenale  Manusia
3.   Ancylostoma braziliense  kucing, anjing
4.   Ancylostoma caninum  anjing, kucing
5.   Ancylostoma ceylanicum anjing, kucing
Necator americanus dan Ancylostoma duodenale

    Dulu disebut cacing tambang, karena ditemukan
     pada buruh tambang di Eropa.
    Hospes  Manusia
    Penyakit  nekatoriasis dan
                 ankilostomiasis
    Distribusi Geografik
      Daerah katulistiwa, pertambangan dan perkebunan.
      Prevalensi di Indonesia sekitar 40%
Morfologi dan Daur Hidup
 Hidup di rongga usus halus dgn mulut melekat pada
  mukosa dinding usus.
 Necator americanus
   Menyerupai huruf S
   Mulut mempunyai sepasang benda khitin
   Panjang C.betina kurang lebih 1 cm
   Bertelur kira-kira 9000 / hari/ ekor
   Panjang C. jantan kurang lebih 0,8 cm.
Mulut Necator americanus
Mulut N.americanus
Mulut N. americanus
Larva rhabditiform
Larva filariform
              N. americanus         A. duodenale

Morfologi     S                     C
              1 psg. benda kitin    2 ps gigi
telur         9000/hr/ekor          28000/hr/ekr

Cara infeksi L.fil.menembus kulit   L.fil.menembus kulit &
                                    Tertelan larva
patogenitas An.hipo.mikro           Anemia hipokrom
              0.005-0.01 cc/hr/e    mikrositer
                                    0.08-0.34 cc
Ancylostoma duodenale
 Menyerupai huruf C
 Mulut mempunyai 2 pasang gigi
 Cacing betina bertelur 10.000/hari/ekor
Mulut A. duodenale
A.duodenale
Telur Cacing Tambang
  Bentuk oval,60 x 40 m, dinding tipis, jernih,berisi 4-8 sel
  Dikeluarkan dengan tinja
  Menetas dalam waktu 1 – 1,5 hari
   larva rhabditiform , 3 hr kemudian  larva filariform
 Cara Infeksi : larva filariform menembus kulit
                larva A. duodenale dapat masuk
                tubuh melalui mulut
Patologi dan gejala Klinis
1.        Stadium larva :
     1.     Pada kulit  ground itch
     2.     Pada paru  pneumonitis ringan
2.        Stadium dewasa:
           Tergantung : a) spesies dan jumlah cacing
                        b) keadaan gizi (Fe dan protein)
           Anemia hipokrom mikrositer
           Tiap ekor cacing menyebabkan kehilangan darah:
              N. americanus  0,005 – 0,1 cc / hari
              A. duodenale  0,08 – 0,34 cc/hari
 Ruam yang menonjol dan terasa gatal (ground itch)
  bisa muncul di tempat masuknya larva pada kulit.
  Demam, batuk dan bunyi nafas mengi (bengek) bisa
  terjadi akbiat berpindahnya larva melalui paru-paru.
 Cacing dewasa seringkali menyebabkan nyeri di perut
 bagian atas.
 Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya
 kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat
 perdarahan usus.
 Kehilangan darah yang berat dan berlangsung lama,
 bisa menyebabkan pertumbuhan yang lambat, gagal
 jantung dan pembengkakan jaringan yang meluas
 pada anak-anak.
Diagnosis
 Menemukan telur dalam tinja segar
 Diagnosa spesies  biakan tinja Harada –Mori


Pengobatan
  Pirantel pamoat, Mebendazol
 Epidemiologitinggi di daerah pedesaan,
 Di Indonesia insidens
  khususnya perkebunan.
 Kebiasaan defekasi di tanah dan pemakaian tinja sebagai
  pupuk
 Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva : tanah gembur
  (pasir, humus) dengan suhu optimum : N. americanus 28°
  – 32 ° C
            A. duodenale 23 ° – 25 ° C
Cacing Tambang Binatang
 Spesies dan Hospes :
    Ancylostoma braziliense : kucing , anjing
    Ancylostoma caninum : anjing, kucing
    Ancylostoma ceylanicum: anjing , kucing.


 Penyakit : cutaneous larva migrans(CLM)
           atau creeping eruption
 Penyebaran Geografik: tropik dan subtropik
Morfologi :
  A. braziliense : 2 pasang gigi yang tidak sama
   besar, panjang cacing jantan 4,7 – 6,3 mm, c.betina 6,1-
   8,4 mm.
  A. caninum : 3 pasang gigi; panjang cacing jantan 10
   mm, betina 14 mm.
  A. ceylanicum : 2 pasang gigi tidak sama besar
      Tidak dapat menjadi dewasa pada manusia.
Mulut A.caninum
Patologi dan gejala klinis
 Larva tidak menjadi dewasa pada manusia.
 Menyebabkan creeping eruption,creeping disease atau
 cutaneous larva migrans.

Diagnosis
 Gambaran klinis khas pada kulit
 Biopsi
Creeping Eruption (Migrasi Larva
Kutaneus) adalah suatu infeksi cacing
tambang pada kulit.

Infeksi biasanya menyerang kaki,
tungkai, bokong atau punggung.

Terowongan cacing tambang tampak
sebagai ruam yang menyerupai
benang kusut.

Timbul rasa gatal yang hebat.
Bermain Pasir Sebabkan Infeksi Cacing Tambang


PERNAH melihat seorang anak dengan penyakit kulit yang yang
menjalar seperti terowongan di kaki? Jika diperhatikan setiap hari,
terowongan tersebut semakin panjang berwarna merah dan terasa
gatal. Jika pernah, waspadalah! Karena bisa jadi anak tersebut
terkena infeksi hewan parasit seperti cacing tambang.

Adapun jenis cacing tambang yang menyebabkan infeksi ini di
antaranya bernama Ankylostoma braziliense dan Ankylostoma
caninum. Cacing jenis ini hidup dalam hewan seperti anjing dan
kucing.

Menurut dokter umum Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB)
dr Fajar Rudy Qimindra, di kalangan medis penyakit ini terkenal
dengan istilah cutaneous larva migrans.

Artinya, ada migrasi larva di kulit (cutan=lapisan kulit). Nama lainnya
dermatosis linearis migrans ataupun sandworm disease. Dari
namanya dapat diketahui bahwa beberapa penderita terserang
penyakit ini ketika berhubungan dengan pasir.

”Istilah lainnya juga disebut creeping eruption (CE). Istilah ini
digunakan karena pada pada invasi larva cacing tambang ini, akan
timbul kelainan pada kulit berupa erupsi peradangan berbentuk
lurus atau berliku-liku yang menonjol di atas permukaan kulit,”
Pengobatan
 Chlorethyl spray
 Albendazol, dosis tunggal 400 mg 3 hari berturut-
 turut. Anak <2 th salep albendazol
 2%
Trichuris trichiura
(cacing cambuk)
   Hospes : Manusia
   Penyakit : trikuriasis
   Distribusi Geografis : kosmopolit
   Morfologi dan Daur Hidup:
     Bagian anterior langsing spt cambuk, bag. posterior
      gemuk.
     Cacing betina : lk. 5 cm, ujung ekor membulat
     Cacing jantan : lk. 4 cm, ujung ekor melingkar.
 Habitat : colon ascendens, caecum dgn bag. anterior
  masuk ke dalam mukosa.
 Telur : 50-54 m,
   menyerupai tempayan dengan penonjolan jernih di
    kedua kutub.
   Menjadi matang kira-kira 3-6 minggu di tanah lembab
    dan teduh.

 Cara infeksi: tertelan telur
Patologi dan Gejala Klinis

 Infeksi ringan : tanpa gejala
 Infeksi berat, terutama pada anak
    Ditemukan cacing di seluruh colon dan rektum
    Prolapsus rekti
    Sindroma disentri dan anemia.
Hanya infeksi yang berat yang menyebabkan gejala berupa
nyeri perut dan diare.

Infeksi yang sangat berat menyebabkan perdarahan usus,
anemia, penurunan berat badan dan peradangan usus
buntu (apendisitis).

Kadang rektum menonjol melewati anus (prolapsus rektum)
atau prolapsus recti, terutama pada anak-anak atau wanita
dalam masa persalinan.
 Diagnosis :
 Menemukan telur dalam tinja



 Pengobatan :
 Mebendazol, albendazol dan oksantel pamoat

 Mebendazol tidak boleh diberikan kepada wanita
 hamil karena bisa membahayakan janin yang
 dikandungnya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2782
posted:10/17/2010
language:Malay
pages:39