Perdarahan postpartum

Document Sample
Perdarahan postpartum Powered By Docstoc
					… KHUSUS BUAT TEMAN2
KELOMPOK 1…..                  PSIK KELAS 3B

TOLONG DIBACA…. !!!
                                KELOMPOK 1
 KARENA, QT PRESENTASI
MAKALAH INI HARI SELASA      Hermansyah. H
…
                           Reza narisma. W

                             Irna muharania
Oc … /   ?
                               Idham Khalid

                                    Hanifah

                                    M. Deni                         …..Maaf ….. untuk kalangan
                                                                    sendiri, tidak di perjual
                                       Irka                         belikan,,,,




                          KATA PENGANTAR
                                      

                                1
                                                       http://tanyo-nursingbooks.blogspot.com
       Assalamu`alaikum warah matullahi wabarakatuh

       Segala puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat      Allah SWT. Shalawat
beserta salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammmad saw dan para ahli
keluarga beliau sekalian. Amin

       Asuhan pada ibu hamil dengan komplikasi postpartum, perdarahan infeksi dan depresi
post partum merupakan materi dan bahan dalam mata kuliah keperawatan dewasa yang harus
dipelajari oleh mahasiswa keperawatan. Karena Asuhan pada ibu hamil dengan komplikasi
postpartum akan sangat di perlukan saat para mahasiswa berada di klinik, maupun ketika sudah
masuk kedunia kerja.

       Saya sebagai penyusun yakin bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangannya. Oleh , karena itu kami mengharapkan kritik konstruktif dan saran, sehingga isi
dari makalah kami ini lebih sempurna.

       Akhirnya, kepada Allah jualah semuanya dikembalikan, dengan iringan do`a semoga
makalah dapat dijadikan sumbangan dalam upaya mencerdaskan mahasiswa khususnya
mahasiswa stikes cnd langsa. Amin.




                                                                 Langsa 16, september 2010




                                                                         Penyusun




                                             2
                                    DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR              …………………………………………………………………….             i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………                       ii

PERDARAHAN POSTPARTUM                   ……….…..…………………………………..      1


INFEKSI PERDARAHAN POSTPARTUM           ………………………………………….……..       6
Jenis-jenis infeksi post partum     …………………………………………..…….…..        9

DEPRESI POST PARTUM         ……………………………………………………………………              13


Faktor – faktor penyebab depresi postpartum       ………………………………………   17


Askep Depresi postpartum          ………………………………………………………….           22

DAFTAR PUSTAKA              ……………………………………………………………………..            25




                                              3
PERDARAHAN POSTPARTUM

        Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah anak
lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta. Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam
kala IV lebih dari 500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir (Prof. Dr. Rustam Mochtar,
MPH, 1998). Haemoragic Post Partum (HPP) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam
pertama setelah lahirnya bayi (Williams, 1998). HPP biasanya kehilangan darah lebih dari 500 ml selama
atau setelah kelahiran (Marylin E Dongoes, 2001).


Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:


       Early Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
       Late Postpartum : Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir


    Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi perdarahan post
partum :


    1. Menghentikan perdarahan.
    2. Mencegah timbulnya syok.
    3. Mengganti darah yang hilang.Frekuensi perdarahan post partum 4/5-15 % dari seluruh
        persalinan.


Berdasarkan penyebabnya :
    1. Atoni uteri (50-60%).                                 4. Laserasi jalan lahir (4-5%).
    2. Retensio plasenta (16-17%)                            5. Kelainan darah (0,5-0,8%).
    3. Sisa plasenta (23-24%).
Penyebab umum perdarahan postpartum adalah:
    1. Atonia Uteri                                          3. Penyakit darah
    2. Retensi Plasenta.                                     4. Sisa Plasenta dan selaput ketuban
    5. Trauma jalan lahir.




                                                    4
                                                                             … BACA YG BETUL……

                                                                             ITU KAN TULISANNYA
ASKEP PERDARAHAN POSTPARTUM ( HEMORAGIA)                                     PENGKAJIAN , BUKAN
                                                                             PENGAJIAN …….. KALO
                                                                             PENGAJIAN SAMA USTAT SANA ..
Pengkajian
                                                                             .?…HEHEHE
Pada kasus perdarahan postpartum seharusnya dilakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan dan lebih
difokuskan pada :

1. Aktivitas atau istirahat, dengan melaporkan kelelahan berlabian.
2. Sirkulasi. Kehilangan darah pada kelahiran umumnya 400 – 500 ml (kelahiran per vagina), 600 – 800
   ml ( kelahiran seksio caesarea) meskipun kehilangan darah sering diabaikan. Riwayat anemia kronis,
   defek koagulasi kogenital atau insedental, serta idiopatik trombositopenia purpura.
3. Integritas ego. Cemas , ketakutan, dan khawatir.

Perdarahan postpartum awal ( sampai 24 jam setelah kelahiran )

   1. Sirkulassi
      a. Perubahan TD dan nadi ( mungkin tidak terjadi sampai kehilangan darah bermakna )
      b. Perlambatan pengisian kapiler.
      c. Pucat, kulit dingin/lembab.
      d. Pendarahan vena gelap dari uterus dan secara eksternal ( plasenta tertahan ).
      e. Dapat mengalami perdarahan per vagianna berlebihan, rembesan dari insisi caesarea atau
          episiotomi, seperti : rembesan kateter intra vena, injeksi intra maskuler atau kateter
          urinarius, perdarahan gusi ( tanda – tanda koagulasi intra vaskuler diseminata ).
      f. Hemoragi berat atau gejala syok diluar proporsi jumlah kehilangan darah ( inversi uterus).
   2. Eliminasi .
       Kesulitan berkemih dapat menunjukan hematoma dari porsi vagina.
   3. Nyeri/ketidaknyamanan.
       Sensasi nyeri terbakar /robekan (laserasi), nyeri vulva/vagina/pelvis/ punggung berat
       (hematoma), nyeri uterus lateral, nyeri panggul ( hematoma kedalam ligamen luas), nyeri tekan
       abdominal ( atonia uterus, fragmen plasenta tertahan ), nyeri abdominal ( inversi uterus ).
   4. Keamanan
        a. Laserasi jalan lahir : darah merah terang sedikit menetap (mungkin tersembunyi ) dengan
            uterus keras, uterus berkontraksi dengan baik,robekan terlihat pada labiya mayor/minor dari
            muara vagina keperineum, robekan episeotomi luas, ekstensi epieiotomi kedalam kubah
            vagina atau robekan pada serviks.
        b. Hematoma: uni lateral, penonjolan masa tegang berfluktasi pada muara vagina atau
            meliputi labiya mayor, keras, nyeri pada sentuhan perubahan warna kemerahan atau
            kebiruan unilateral kulit perineum atau bokong ( hematoma abdominal setelah kelahiran
            caesarea mungkin asimptomatik, kecuali perubahan pada tanda vital ).
   5. Seksualitas
        a. Pembesaran uterus lunak dan menonjol, sulit dipalpasi, perdarahan merah terang dari
            vegina ( lambat atau tersembunyi ), bekuan – bekuan besar dikeluarkan dari masase uterus
            ( atonia uterus ).
        b. Uterus kuat, kontraksi baik atau kontraksi parstial dan agak menonjol ( fragmen – fragmen
            plasenta yang tertahan ).
        c. Fundus uterus terinversi mendekat pada kontak atau menonjol melalui os. Eksternal (
            inversi uterus ).

                                                  5
         d. Kehamilan baru dapat mempengaruhi hiperdistensi uterus gestasi multipelpolihidramnion,
            makrosomia ) abrupsi plasenta, plasenta previa.

Perdarahan postpartum lambat ( 24 – 28 hari setelah kelahiran )

    1. Sirkuasi
           a. Rembesan kontinu atau rembesan tiba – tiba.
           b. Kelihatan pucat.
    2. Nyeri/ketidaknyamanan
           a. Nyeri tekan uterus ( fragmen – fragmen plasenta tertahan ).
           b. Ketidaknyamanan vagina
    3. Keamanan
           a. Lokia berbau busuk (infeksi )
           b. Ketuban pecah dini
    4. Seksualitas
           a. Tinggi fundus badan uterus gagal kembali pada ukuran dan fungsi sebelum kehamilan
                (subinvolusi )
           b. Leukore mungkin ada
           c. Terlepasnya jaringan

Pemeriksaan diagnostik

1. Golongan darah menentukan RH, ABO, dan pencocokan silang.
2. Jumlah darah lengkap menunjukan penurunan Hb/Ht dan peningkatan jumlah sel darah putih
   (perpindahan kekiri dan peningkatan laju sedimentasimenunjukkan infeksi ).
3. Kultur uterus dan vagina mengesampingkaninfeksi postpartum.
4. Urinalitas : memastiakn kerusakan kandung kemih
5. Profil koagulasi : peningkatan degradasi kadar produk fibrin/produk split fibrin ( FDP/FSP), penurunan
   kadar fibrinogen masa tromboplastin parstial (APTT/PTT) masa protrombin memanjang KID.
6. Sonografi : menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan.

Diagnosis keperawatan

    1.   Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan vaskular yang berlebihan.
    2.   Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan hipovolemia.
    3.   Resiko penurunan curah jantung yang berhubungan dengan sirkulasi.
    4.   Ganguan yang berhubungan dengan intake O2 yang rendah.
    5.   Nyeri yang berhubungan episiotomi.
    6.   Resiko tinggi terjadinya infeksi yang berhubunga dengan adanya trauma jalan lahir.
    7.   Ganguan pola eliminasi urine yang berhubungan dengan pengeluaran renin.

Intervensi keperawatan

    1. Diagnosis 1 : kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan cairan yang berhubungan
       dengan kehilangan vaskular berlebihan ditandai dengan asidosi, sianosis, takipnea, dispnea, dan
       syok hipovolemik.
       Tujuan : volume cairan adekuat.


                                                   6
   Kriteria hasil : tanda-tanda vital dalam batas normal, pengisian kapiler cepat ( kurang dari 3
   detik), sensorium tepat, input dan output cairan seimbang, serta berat jenis urine dalam batas
   normal.
   Intervensi
   a. Kaji dan catat jumlah, tipe, dan sisi pendarahan.timbang dan hitung pembalut. Simpan
        bekuan dan jaringan untuk dievaluasi oleh dokter.
        Rasiaonal : Perkiraan kehilangan darah, aterial versus vena, dan adanya bekuan-bekuan
        membantu diagnosis serta menentukan kebutuhan penggantian ( satu gram peningktan
        berat pembalut sama dengan kurang lebih 1 ml kehilangan darah ).
   b. Kaji lokasi uterusdan derajat kontraktilitas uterus. Dengan masase. Penonjolan uterus
        dengan satu tangan sambil menempatkan tangan kedua tepat simfisi pubis.
        Rasional : Derajat kontrktilitas uterus membantu dalam dignosis banding.
        Peningkatan kontraktilitas miometrium dapat menurunkan kehilangan darah. Penempatan
        satu tangan diatas simfisis pubis mencegah kemungkinan inversi uterus selama masase.
   c. Perhatikan hipotensi dan takikardi, perlambatan pengisian kapiler atau sianosis dasar kuku,
        serta membran mukosa dan bibir,
        Rasional : Tanda-tanda menunjukan hipovolemik dan terjadinya syok. Perubahan tekanan
        tidak dapat diideteksi samapai volume cairan telah menurun hingga 30-50%. Sianosis adalah
        tanda akhir dari hipoksia.
   d. Pantau masukan keluaran : perhatikan berat jenis urine.
        Rasioanal : Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansi kehilangan cairan volume
        perfusi/sirkulasi adekuat tunjukan dengan keluaran 30-50%. Sianosi adalah tanda akhir dari
        hipoksia.
   e. Pantau masukan keluaran : perhatikan berat jenis urine.
        Rasioanal : Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansikehilangan cairan.volume
        perfusi/sirkulasi adekuat ditunjukan dengan haluran 3-50 ml/jam atau lebih besar.
   f. Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis.
        Rasional : Meningkatkan relakasi,menurunkan ansietas,dan kebutuhan metabolik.

2. Diagnosis 2 : perubahnan perfusi jaringan yang berhubungan dengan hipovolemia ditandai
   dengan pengisian kapiler lambat,pucat, kulit, dingin, atau lembab, penurunan produksi ASI.
   Tujuan : perfusi jaringan kembali normal.
   Kriteria hasil : TD, nadi darah arteri, Hb/Ht dalam batas normal,pengisian kapiler cepat,fungsi
   hurmonal normal menunjukan dengan suplai ASI adekuat untuk laktasi dan mengalami
   menstruasi normal.

   Intervensi
   a. Perhatikan Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan darah.kaji status nutrisi, tinggi, dan berat
       badan.
       Rasional : Nilai bandingan membantu menentukan beratnya kehilangan darah.status nutrisi
       sebelumnya dari kesehatan yang buruk meningkatkan luasnya cedera karenakekurangan o2.
   b. Pantau tanda vital, dan durasi episode hipovolemik.
       Rasional : Luasnya keterlibatan hipofisis dan dihubungkan dengan derajat dan durasi
       hipotensi.peningkatan frekuensi pernafasan dapat menunjukan upaya untuk mengatasi
       asidosis metabolik.
   c. Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan prilaku.


                                              7
           Rasioanal : Perubahan sensorium adalah indikator di hipoksia, sianosis tanda lanjut, mungkin
           tidak tampak sampai kadar po2 turun dibawah 50 mmHg.
        d. Kaji warna dasar kuku mukosa mulut, gusi, dan lidah serta perhatikan suhu kulit.
           Rasioanal : Pada kompensasi vasokonstriksi dan pirau organ vital, sirkulasi pada pembuluh
           darah perifer diturunkan yang mengakibatkan sianosis dan suhu kulit dingin.
        e. Kaji payu dara setiap hari, perhatikan ada atau tidaknya laktasi dan perubahan ukuran payu
           dara.
           Rasional : Kerusakan hipofisis anterior menurunkan kadar prolaktin, mengakibatkan tidak
           adanya produksi ASI, dan akhirnyya menurunkan jaringan kelenjar payudara.

        Kalaborasi

 a. Pantau kadar pH
    Rasional: Membantu dalam mendiagnosis derajat hipoksia jaringan atau asidosis yang diakibatkamn
    oleh terbentuknya asam laktat dari metabolisme anaerobik.
 b. Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan
    Rasional : Memaksiamalkan ketersedian oksigen untuk transpor sirkulasi kejaringan.


Implementasi keperawatan

        Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan, mencakup
tindakan mandiri dan kalaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan keperawatan berdasarkan analisis
dan kesimpulan perawat, dan bukan atas petunjuk tenaga kerja kesehatan lain. Tindakkan kolaborasi
adalah tindakan keperawatan yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas
kesehatan lain.

Evaluasi keperawatan

Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepadahasil dan tujuan yang hendak dicapai.



INFEKSI PERDARAHAN POSTPARTUM


        Infeksi adalah berhubungan dengan berkembang-biaknya mikro-organisme dalam tubuh manusia
yang disertai dengan reaksi tubuh terhadapnya (Zulkarnain Iskandar, 1998 ). Infeksi pascapartum (sepsis
puerperal atau demam setelah melahirkan) ialah infeksi klinis pada saluran genital yang terjadi dalam 28
hari setelah abortus atau persalinan (Bobak, 2004).


Etiologi
        Infeksi ini terjadi setelah persalinan, kuman masuk dalam tubuh pada saat berlangsungnya
proses persalinan. Diantaranya, saat ketuban pecah sebelum maupun saat persalinan berlangsung
sehingga menjadi jembatan masuknya kuman dalam tubuh lewat rahim. Jalan masuk lainnya adalah dari
penolong persalinan sendiri, seperti alat-alat yang tidak steril digunakan pada saat proses persalinan.


                                                      8
                 Infeksi bisa timbul akibat bakteri yang sering kali ditemukan didalam vagina (endogenus) atau
     akibat pemaparan pada agen pathogen dari luar vagina (eksogenus) (Bobak, 2004). Namun biasanya
     infeksi i
                 ni tidak menimbulkan penyakit pada persalinan, kelahiran, atau pascapersalinan. Hampir 30
     bakteri telah diidentifikasi ada disaluran genital bawah (vulva, vagina dan sevik) setiap saat (Faro 1990).
     Sementara beberapa dari padanya, termasuk beberapa fungi, dianggap nonpatogenik dibawah
     kebanyakan lingkungan, dan sekurang-kurangnya 20, termasuk e.coli, s. aureus, proteus mirabilis dan
     clebsiela pneumonia, adalah patogenik (Tietjen, L; Bossemeyer, D, & McIntosh, N, 2004).


                 Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan seperti eksogen (kuman datang
     dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri).
     Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak
     patogen sebagai penghuni normal jalan lahir. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain
     adalah :
1.       Streptococcus haemoliticus anaerobic
     Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat. Infeksi ini biasanya eksogen (ditularkan dari
     penderita lain, alat-alat yang tidak suci hama, tangan penolong, infeksi tenggorokan orang lain).
2.       Staphylococcus aureus
     Masuknya secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit
     dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. Kuman ini biasanya menyebabkan infeksi
     terbatas, walaupun kadang-kadang menjadi sebab infeksi umum.
3.       Escherichia Coli
     Sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan
     endometriurn. Kuman ini merupakan sebab penting dari infeksi traktus urinarius
4.       Clostridium Welchii
     Kuman ini bersifat anaerob, jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Infeksi ini lebih sering
     terjadi pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong oleh dukun dari luar rumah sakit.


     Cara terjadinya infeksi pasca partum
         Infeksi dapat terjadi sebagai berikut :
     1. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi
         membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa
         sarung tangan atau alat-alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari
         kuman-kuman.



                                                           9
2. Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung
    atau tenggorokan dokter atau petugas kesehatan lainnya. Oleh karena itu, hidung dan mulut petugas
    yang bekerja di kamar bersalin harus ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran
    pernafasan dilarang memasuki kamar bersalin.

3. Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman-kuman patogen, berasal dari penderita-penderita dengan
    berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara kemana-mana termasuk kain-
    kain, alat-alat yang suci hama, dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau
    pada waktu nifas.

4. Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan
    pecahnya ketuban.

Faktor predisposisi
        Beberapa      faktor   dalam   kehamilan   atau   persalinan   yang   dapat   menyebabkan   infeksi
pascapersalinan antara lain :
1. Anemia
    Kekurangan sel-sel darah merah akan meningkatkan kemungkinan infeksi. Hal ini juga terjadi pada
    ibu yang kurang nutrisi sehingga respon sel darah putih kurang untuk menghambat masuknya
    bakteri.
2. Ketuban pecah dini
    Keluarnya cairan ketuban sebelum waktunya persalinan menjadi jembatan masuknya kuman keorgan
    genital.
3. Trauma
    Pembedahan, perlukaan atau robekan menjadi tempat masuknya kuman pathogen, seperti operasi.
4. Kontaminasi bakteri
    Bakteri yang sudah ada dalam vagina atau servik dapat terbawa ke rongga rahim. Selain itu,
    pemasangan alat selama proses pemeriksaan vagina atau saat dilakukan tindakan persalinan dapat
    menjadi salah satu jalan masuk bakteri. Tentunya, jika peralatan tersebut tidak terjamin
    sterilisasinya.
5. Kehilangan darah
    Trauma     yang menimbulkan perdarahan dan tindakan manipulasi                yang berkaitan dengan
    pengendalian pendarahan bersama-sama perbaikan jaringan luka, merupakan factor yang dapat
    menjadi jalannya masuk kuman.




                                                     10
Manifestasi klinis
        Rubor (kemerahan), kalor (demam setempat) akibat vasodilatasi dan tumor (benngkak) karena
eksudasi. Ujung syaraf merasa akan terangsang oleh peradangan sehingga terdapat rasa nyeri (dolor).
Nyeri dan pembengkan akan mengakibatkan gangguan faal, dan reaksi umum antara lain berupa sakit
kepala, demam dan peningkatan denyut jantung (Sjamsuhidajat, R. 1997).


Patofisiologi
        Reaksi tubuh dapat berupa reaksi lokal dan dapat pula terjadi reaksi umum. Pada infeksi dengan
reaksi umum akan melibatkan syaraf dan metabolik pada saat itu terjadi reaksi ringan limporetikularis
diseluruh tubuh, berupa proliferasi sel fagosit dan sel pembuat antibodi (limfosit B). Kemudian reaksi
lokal yang disebut inflamasi akut, reaksi ini terus berlangsung selama menjadi proses pengrusakan
jaringan oleh trauma. Bila penyebab pengrusakan jaringan bisa diberantas, maka sisa jaringan yang
rusak disebut debris akan difagositosis dan dibuang oleh tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan.
Bila trauma berlebihan, reksi sel fagosit kadang berlebihan sehingga debris yang berlebihan terkumpul
dalam suatu rongga membentuk abses atau bekumpul dijaringan tubuh yang lain membentuk flegman
(peradangan yang luas dijaringan ikat). (Sjamsuhidajat, R, 1997 ).


Jenis-jenis infeksi post partum
1. Infeksi uterus
a. Endometritis
        Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari rahim). infeksi ini dapat terjadi
sebagai kelanjutan infeksi pada serviks atau infeksi tersendiri dan terdapat benda asing dalam rahim
(Anonym, 2008). Endometritis adalah infeksi yang berhubungan dengan kelahiran anak, jarang terjadi
pada wanita yang mendapatkan perawatan medis yang baik dan telah mengalami persalinan melalui
vagina yang tidak berkomplikasi.
        Infeksi pasca lahir yang paling sering terjadi adalah endometritis yaitu infeksi pada endometrium
atau pelapis rahim yang menjadi peka setelah lepasnya plasenta, lebih sering terjadi pada proses
kelahiran caesar, setelah proses persalinan yang terlalu lama atau pecahnya membran yang terlalu dini.
Juga sering terjadi bila ada plasenta yang tertinggal di dalam rahim, mungkin pula terjadi infeksi dari luka
pada leher rahim, vagina atau vulva.
        Tanda dan gejalanya akan berbeda bergantung dari asal infeksi, sedikit demam, nyeri yang
samar-samar pada perut bagian bawah dan kadang-kadang keluar dari vagina berbau tidak enak yang
khas menunjukkan adanya infeksi pada endometrium. Pada infeksi karena luka biasanya terdapat nyeri
dan nyeri tekan pada daerah luka, kadang berbau busuk, pengeluaran kental, nyeri pada perut atau sisi
tubuh, gangguan buang air kecil. Kadang-kadang tidak terdapat tanda yang jelas kecuali suhu tunbuh



                                                    11
yang meninggi. Maka dari itu setiap perubahan suhu tubuh pasca lahir harus segera dilakukan
pemeriksaan.
        Infeksi endometrium dapat dalam bentuk akut dengan gejala klinis yaitu nyeri abdomen bagian
bawah, mengeluarkan keputihan, kadang-kadang terdapat perdarahan dapat terjadi penyebaran seperti
meometritis (infeksi otot rahim), parametritis (infeksi sekitar rahim), salpingitis (infeksi saluran tuba),
ooforitis (infeksi indung telur), dapat terjadi sepsis (infeksi menyebar), pembentukan pernanahan
sehingga terjadi abses pada tuba atau indung telur (Anonym, 2008).
        Terjadinya infeksi endometrium pada saat persalinan, dimana bekas implantasi plasenta masih
terbuka, terutama pada persalinan terlantar dan persalinan dengan tindakan pada saat terjadi
keguguran, saat pemasangan alat rahim yang kurang legeartis (Anonym, 2008). Kadang-kadang lokia
tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiametra dan
dapat menyebabkan kenaikan suhu. Uterus pada endometritis agak membesar, serta nyeri pada
perabaan dan lembek.
        Pada endometritis yang tidak meluas, penderita merasa kurang sehat dan nyeri perut pada hari-
hari pertama. Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu
dan nadi menurun dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali. Lokia pada
endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya
berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokia yang sedikit dan tidak berbau. Untuk
mengatasinya biasanya dilakukan pemberian antibiotik, tetapi harus segera diberikan sesegera mungkin
agar hasilnya efektif. Dapat pula dilakukan biakkan untuk menentukan jenis bakteri, sehingga dapat
diberikan antibiotik yang tepat.
b. Miometritis (infeksi otot rahim)
        Miometritis adalah radang miometrium. Sedangkan miometrium adalah tunika muskularis uterus.
Gejalanya berupa demam, uterus nyeri tekan, perdarahan vaginal dan nyeri perut bawah, lokhea berbau,
purulen. Metritis akut biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak
brerdiri sendiri akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas yaitu merupakan lanjutan dari
endometritis. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang dapat menimbulkan metritis
akut. Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltarsi sel-
sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat tromboflebitis dan kadang-kadang dapat
terjadi abses.


        Metritis kronik adalah diagnosa yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan
uterus lebih besar dari bisa, sakit pnggang, dan leukore. Akan tetapi pembesaran uterus pada multipara
umumnya disebabkan oleh pemanbahan jaringan ikat akibat kehamilan. Terapi dapat berupa antibiotik
spektrum luas seperti amfisilin 2gr IV per 6 jam, gentamisin 5 mg kg/BB, metronidasol mg IV per 8 jam,
profilaksi anti tetanus, efakuasi hasil konsepsi.

                                                    12
c.   Parametritis (infeksi daerah di sekitar rahim).
         Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di dalam lig latum. Radang ini biasanya
unilatelar. Tanda dan gejala suhu tinggi dengan demam tinggi, Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan
peritoneum, seperti muntah. Penyebab Parametritis yaitu :
a. Endometritis dengan 3 cara yaitu :
     1. Percontinuitatum : endometritis → metritis → parametitis
     2. Lymphogen
     3. Haematogen : phlebitis → periphlebitis → parametritis
           b. Dari robekan serviks
           c. Perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD )


2. Syok bakteremia
         Infeksi kritis, terutama yuang disebabkan oleh bakteri yang melepaskan endotoksin, bisa
mempresipitasi syok bakteremia (septic). Ibu hamil, terutama mereka yang menderita diabetes mellitus
atau ibu yang memakai obat imunosupresan, berada pada tingkat resiko tinggi, demikian juga mereka
yang menderita endometritis selama periode pascapartum.
         Demam yang tinggi dan mengigil adalh bukti patofisiologi sepsis yang serius. Ibu yang cemas
dapat bersikap apatis. Suhu tubuh sering kali sedikit turun menjadi subnormal. Kulit menjadi dingin dan
lembab. Warna kulit menjadi pucat dan denyut nadi menjadi cepat. Hipotensi berat dan sianosis
peripheral bisa terjadi. Begitu juga oliguria.
         Temuan laboratorium menunjukkan bukti-bukti infeksi. Biakan darah menunjukian bakteremia,
biasanya konsisten dengan hasil enteric gram negative. Pemeriksaan tambahan bisa menunjukkan
hemokonsentrasi, asidosis, dan koagulopati. Perubahan EKG menunjukkan adanya perubahan yang
mengindikasikan insufisiensi miokard. Bukti-bukti hipoksia jantung, paru-paru, ginjal, dan neurologis bisa
ditemukan.
         Penatalaksanaan terpusat       pada     antimicrobial,   demikian   juga   dukungan   oksigen   untuk
menghilangkan hipoksia jaringan dan dukungan sirkulasi untuk mencegah kolaps vascular. Fungsi
jantung, usaha pernafasan, dan fungsi ginjal dipantau dengan ketat. Pengobatan yang cepat terhadap
syok bakteremia membuat prognosis menjadi baik. Dan morbiditas dan mortilitas maternal diturunkan
dengan mengendalikan distrees pernafasan, hipotensi dan DIC (Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004).


3. Peritonitis
     Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga ditemukan bersama-
sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada
sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis.



                                                        13
        Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Gejala-gejalanya
tidak seberapa berat seperti pada peritonitis umum. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan
umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bisa terdapat pertumbuhan abses. Nanah yang biasanya
terkumpul dalam kavum douglas harus dikeluarkan dengan kolpotomia posterior untuk mencegah
keluarnya melalui rektum atau kandung kencing.
   Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat. Suhu
meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka
penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin; terdapat
apa yang dinamakan facies hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi.


4. Infeksi saluran kemih
        Infeksi saluran kemih (ISK) terjadi pada sekitar 10% wanita hamil, kebanyakan terjadi pada
masa prenatal. Mereka yang sebelumnya mengalami ISK memiliki kecenderungan mengidap ISK lagi
sewaktu hamil. Servisitis, vaginitis, obstruksi ureter yang flaksid, refluks vesikoureteral, dan trauma lahir
mempredisposisi wanita hamil untuk menderita ISK, biasanya dari escherichia coli. Wanita dengan PMS
kronis, trutama gonore dan klamidia, juga memiliki resiko. Bakteriuria asimptomatik terjadi pada sekitas
5% nsampai 15% wanita hamil. Jika tidak diobati akan terjadi pielonefritis pada kira-kira 30% pada
wanita hamil. Kelahiran dan persalinan premature juga dapat lebih sering terjadi. Biakan dan tes
sensitivitas urin harus dilakukan di awal kehamilan, lebih disukai pada kunjungan pertama, specimen
diambil dari urin yang diperoleh dengan cara bersih. Jika didiagnosis ada infeksi, pengobatan dengan
antibiotic yang sesuai selama dua sampai tiga minggu, disertai peningkatan asupan air dan obat
antispasmodic traktus urinarius.


5. Septicemia dan piemia
        Pada septicemia kuman-kuman yang ada di uterus, langsung masuk ke peredaran darah umum
dan menyebabkan infeksi umum. Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-
kuman dari darah. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena diuterus serta sinus-sinus
pada bekas tempat plasenta. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uterine, vena hipogastrika, dan/atau
vena ovarii (tromboflebitis pelvika). Dari tempat-tempat thrombus itu embolus kecil yang mengandung
kuman-kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus masuk keperedaran darah umum dan dibawa
oleh aliran darah ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak, jantung, dan sebagainya,
dan mengakibatkan terjadinya abses-abses ditempat-tempat tersebut. Keadaan ini dinamakan piemia.
        Kedua-duanya merupakan infeksi berat namun gejala-gejala septicemia lebih mendadak dari
piemia. Pada septicemia, dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah. Sampai tiga hari postpartum
suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar antara 39 - 40°C,
keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat (140 - 160 kali/menit atau lebih). Penderita

                                                     14
meninggal dalam enam sampai tujuh hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi seperti
piemia.
             Pada piemia, penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri, dan suhu agak
meningkat. Akan tetapi gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah
kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Suatu ciri khusus pada piemia
ialah       berulang-ulang     suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil, kemudian diikuti oleh
turunnya suhu. Ini terjadi pada saat dilepaskannya embolus dari tromboflebitis pelvika. Lambat laun
timbul gejala abses pada paru-paru, pneumonia dan pleuritis. Embolus dapat pula menyebabkan abses-
abses di beberapa tempat lain.


Komplikasi
          Peritonitis (peradangan selaput rongga perut)
          Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul), dengan resiko terjadinya emboli
           pulmoner.
          Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam darah. Syok toksik
           bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang berat dan bahkan kematian.


Pencegahan dan penanganan


      1. Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan
             kelemahan serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu.
      2. Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu.
      3.     Koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati-hati
             karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. Kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk
             dalam jalan lahir. Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama/menjaga supaya
             persalinan tidak berlarut-larut.
      4.     Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin.
      5. Perlukaan-perlukaan           jalan     lahir   karena   tindakan     baik    pervaginam   maupun
             perabdominam      dibersihkan,     dijahit sebaik-baiknya   dan menjaga sterilitas.
      6. Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti
             dengan tranfusi darah.
      7. Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker; yang
             menderita infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin.
      8. Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama.
      9. Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang
             baik, apalagi bila ketuban telah pecah.

                                                          15
DEPRESI POST PARTUM


        Manusia dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari berbagai permasalahan, baik yang
tergolong sederhana sampai yang kompleks. Semua itu membutuhkan kesiapan mental untuk
menghadapinya. Pada kenyataannya terdapat gangguan mental yang sangat mengganggu dalam hidup
manusia, yang salah satunya adalah depresi. Gangguan mental emosional ini bisa terjadi pada siapa saja,
kapan saja, dari kelompok mana saja, dan pada segala rentang usia. Bagi penderita depresi ini selalu
dibayangi ketakutan, kengerian, ketidakbahagiaan serta kebencian pada mereka sendiri. Hadi (2004),
menyatakan secara sederhana dapat dikatakan bahwa depresi adalah suatu pengalaman yang
menyakitkan, suatu perasaan tidak ada harapan lagi.


        Kartono (2002), menyatakan bahwa depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang
disertai dengan melemahnya kepekaan terhadap stimulus tertentu, pengurangan aktivitas fisik maupun
mental dan kesulitan dalam berpikir, Lebih lanjut Kartono menjelaskan bahwa gangguan depresi disertai
kecemasan, kegelisahan dan keresahan, perasaan bersalah, perasaan menurunnya martabat diri atau
kecenderungan bunuh diri. Trisna (Hadi, 2004), menyimpulkan bahwa depresi adalah suatu perasaan
sendu atau sedih yang biasanya disertai dengan diperlambatnya gerak dan fungsi tubuh. Mulai dari
perasaan murung sedikit sampai pada keadaan tidak berdaya. Individu yakin tidak melakukan apa pun
untuk mengubahnya dan merasa bahwa respon apa pun yang dilakukan tidak akan berpengaruh pada
hasil yang muncul.


        Individu yang mengalami depresi sering merasa dirinya tidak berharga dan merasa bersalah.
Mereka tidak mampu memusatkan pikirannya dan tidak dapat membuat keputusan. Individu yang
mengalami depresi selalu menyalahkan diri sendiri, merasakan kesedihan yang mendalam dan rasa putus
asa tanpa sebab. Mereka mempersepsikan diri sendiri dan seluruh alam dunia dalam suasana yang gelap
dan suram. Pandangan suram ini menciptakan perasaan tanpa harapan dan ketidakberdayaan yang
berkelanjutan (Albin, 1991).


        Depresi menurut Kaplan dan Sadock (1998), merupakan suatu masa terganggunya fungsi
manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan
pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan
tidak berdaya, serta gagasan bunuh diri. Sebagian perempuan menganggap bahwa masa masa setelah
melahirkan adalah masa masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara
emosional. Gangguan–gangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan,
dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam
durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulan bulan atau
bertahun tahun lamanya.

                                                  16
          Kehamilan merupakan salah satu penyebab stres yang berat dalam kehidupan seorang wanita.
Hal ini dapat memperparah gangguan psikologis yang telah diderita sejak sebelum hamil, namun dapat
juga mengganggu keadaan mental seorang ibu hamil yang sebelumnya sehat secara psikologis. Khawatir
akan kesehatan janin, perawatan bayi, perubahan gaya hidup setelah melahirkan, dan takut akan nyeri
saat melahirkan adalah beberapa contoh penyebab terjadinya depresi pada ibu setelah melahirkan.
Mereka yang berisiko tinggi mengalaminya ialah para ibu yang mengalami permasalahan rumah tangga,
kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat depresi sebelumnya, dan biasanya berstatus sosio-ekonomi
rendah.


          Selain itu, menurunnya kadar estrogen, progesteron, dan kortisol, yang diketahui berperan dalam
adaptasi manusia terhadap stress, dalam 48 jam setelah melahirkan berperan dalam menimbulkan
terjadinya depresi. Delapan puluh lima persen wanita mengalami gangguan mood atau suasana hati
setelah melahirkan. Sebagian besar dari mereka mengalami apa yang disebut dengan baby blues,
sedangkan kurang lebih 10-15 % mengalami depresi pasca persalinan atau yang dikenal dengan istilah
postpartum depression.


          Secara umum sebagaian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan.
Clydde (Regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah dan
terutama mudah frustasi serta emosional. Gangguan mood selama periode postpartum merupakan salah
satu gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. Menurut DSM-
IV, gangguan pascasalin diklasifikasikan dalam gangguan mood dan onset gejala adalah dalam 4 minggu
pascapersalinan. ada 3 tipe gangguan mood pascasalin, diantaranya adalah maternity blues, postpartum
depression dan postpartum psychosis (Ling dan Duff, 2001).


          Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Paltiel (Koblinsky dkk, 1997), bahwa ada 3
golongan gangguan psikis pascasalin yaitu postpartum blues atau sering disebut juga sebagai maternity
blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara. Postpartum depression yaitu depresi
pasca persalinan yang berlangsung sampai berminggu – minggu atau bulan dan kadang ada diantara
mereka yang tidak menyadari bahwa yang sedang dialaminya merupakan penyakit. Postpartum
psychosis, dalam kondisi seperti ini terjadi tekanan jiwa yang sangat berat karena bisa menetap sampai
setahun dan bisa juga selalu kambuh gangguan kejiwaannya setiap pasca melahirkan.


          Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Pitt (Regina dkk, 2001),
depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan,
mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk berhubungan
intim dengan suami). Masih menurut Pitt (Regina dkk, 2001) tingkat keparahan depresi postpartum
bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu mengalami “kesedihan sementara” yang

                                                    17
berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau maternity
blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2
keadaan ekstrem tersebut terdapat kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang
disebut neurosa depresi atau depresi postpartum.


        Menurut Duffet-Smith (1995), depresi pascasalin bisa berkaitan dengan terjadinya akumulasi
stres. Ada stres yang tidak dapat dihindari, seperti operasi. Depresi adalah pengalaman yang negatif
ketika semua persoalan tamapak tidak terpecahkan. Persoalan juga tidak akan terpecahkan dengan
berpikir lebih positif, tetapi sikap itu akan membuat depresi lebih dapat dikendalikan.


        Masih menurut Duffet-Smith, faktor kunci dalam depresi pasca persalinan adalah kecapaian yang
menjadi kelelahan total. Kepercayaan diri ibu dapat luntur jika ibu merasa tidak mampu menanganinya
dan menjadi frustasi karena kelemahan fisiknya. Inwood (Regina dkk, 2001) menghubungkan fenomena
depresi postpartum dengan gangguan perasaan mayor seperti kesedihan, perasaan tidak mampu,
kelelahan, insomnia dan anhedonia. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Sloane dan Bennedict (1997),
depresi postpartum merupakan tekanan jiwa sesudah melahirkan, mungkin seorang ibu baru akan
merasa benar – benar tidak berdaya dan merasa serba kurang mampu, tertindih oleh beban tanggung
jawab terhadap bayi dan keluarganya, tidak bisa melakukan apapun untuk menghilangkan perasaan itu.
Depresi pascalahir dapat berlangsung sampai 3 bulan atau lebih dan berkembang menjadi depresi lain
yang lebih berat atau lebih ringan. Gejalanya sama saja tetapi disamping itu ibu mungkin terlalu
memikirkan kesehatan bayinya dan kemampuannya sebagai seorang ibu (Wilkinson, 1995).


        Monks dkk (1988), menyatakan bahwa depresi postpartum merupakan problem psikis sesudah
melahirkan seperti labilitas afek, kecemasan dan depresi pada ibu yang dapat berlangsung berbulan –
bulan. Sloane dan Bennedict (1997) menyatakan bahwa depresi postpartum biasanya terjadi pada 4 hari
pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus 1 – 2 minggu.


        Llewellyn–Jones (1994), menyatakan bahwa wanita yang didiagnosa secara klinis pada masa
postpartum mengalami depresi dalam 3 bulan pertama setelah melahirkan. Wanita yang menderita
depresi postpartum adalah mereka yang secara sosial dan emosional merasa terasingkan atau mudah
tegang dalam setiap kejadian hidupnya.


        Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi postpartum adalah gangguan
emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10 hari pertama masa setelah melahirkan dan
berlangsung terus – menerus sampai 6 bulan bahkan sampai satu tahun.




                                                    18
Faktor – faktor penyebab depresi postpartum


        Cycde (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa depresi postpartum tidak berbeda secara
mencolok dengan gangguan mental atau gangguan emosional. Suasana sekitar kehamilan dan kelahiran
dapat dikatakan bukan penyebab tapi pencetus timbulnya gangguan emosional. Nadesul (1992),
penyebab nyata terjadinya gangguan pasca melahirkan adalah adanya ketidakseimbangan hormonal ibu,
yang merupakan efek sampingan kehamilan dan persalinan. Sarafino (Yanita dan Zamralita, 2001), faktor
lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya gejala ini adalah masa lalu ibu tersebut, yang mungkin
mengalami penolakan dari orang tuanya atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi
terhadap perpisahan, dan ketidakpuasaan dalam pernikahan.


        Perempuan yang memiliki sejarah masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini,
kepribadian dan variabel sikap selama masa kehamilan seperti kecemasan, kekerasan dan kontrol
eksternal berhubungan dengan munculnya gejala depresi. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh
Llewellyn–Jones (1994), karakteristik wanita yang berisiko mengalami depresi postpartum adalah : wanita
yang mempunyai sejarah pernah mengalami depresi, wanita yang berasal dari keluarga yang kurang
harmonis, wanita yang kurang mendapatkan dukungan dari suami atau orang–orang terdekatnya selama
hamil dan setelah melahirkan, wanita yang jarang berkonsultasi dengan dokter selama masa
kehamilannya misalnya kurang komunikasi dan informasi, wanita yang mengalami komplikasi selama
kehamilan.   Pitt (Regina dkk, 2001), mengemukakan 4 faktor penyebeb depresi postpartum sebagai
berikut :


a. Faktor konstitusional.


    Gangguan post partum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetri pasien yang meliputi
    riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan
    sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita primipara lebih umum menderita
    blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya
    memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia akan menjadi bingung
    sementara bayinya harus tetap dirawat.


b. Faktor fisik


    Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu
    pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor
    penting. Perubahan hormon secara drastis setelah melahirkan dan periode laten selama dua hari
    diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat berpengaruh pada keseimbangan.


                                                  19
     Kadang progesteron naik dan estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan
     faktor penyebab yang sudah pasti.


c.   Faktor psikologis.


     Peralihan yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” pada akhir kehamilan menjadi dua individu yaitu
     ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan Kennel (Regina dkk, 2001),
     mengindikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan
     baik antara ibu dan anak.


d. Faktor social


     Paykel (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering
     menimbulkan depresi pada ibu – ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan. Menurut
     Kruckman (Yanita dan zamralita, 2001), menyatakan terjadinya depresi pascasalin dipengaruhi oleh
     faktor :


     1. Biologis. Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon
         seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa
         nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat.
     2. Karakteristik ibu, yang meliputi :


         a. Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang
         perempuan untuk melahirkan pada usia antara 20–30 tahun, dan hal ini mendukung masalah
         periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh seorang ibu. Faktor usia perempuan yang
         bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali dikaitkan dengan kesiapan mental
         perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu.


         b. Faktor pengalaman. Beberapa penelitian diantaranya adalah pnelitian yang dilakukan oleh
         Paykel dan Inwood (Regina dkk, 2001) mengatakan bahwa depresi pascasalin ini lebih banyak
         ditemukan pada perempuan primipara, mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala yang
         berkaitan dengan bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat
         menimbulkan stres. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Le Masters yang melibatkan suami
         istri muda dari kelas sosial menengah mengajukan hipotesis bahwa 83% dari mereka mengalami
         krisis setelah kelahiran bayi pertama.




                                                   20
        c. Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan
        konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja atau
        melakukan aktivitasnya diluar rumah, dengan peran mereka sebagai ibu rumah tangga dan orang
        tua dari anak–anak mereka (Kartono, 1992).


        d. Faktor selama proses persalinan. Hal ini mencakup lamanya persalinan, serta intervensi medis
        yang digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin besar trauma fisik yang ditimbulkan
        pada saat persalinan, maka akan semakin besar pula trauma psikis yang muncul dan
        kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi pascasalin.


        e. Faktor dukungan sosial. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan
        dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang.


Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab depresi postpartum adalah faktor
konstitusional, faktor fisik yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, faktor psikologi,
faktor sosial dan karakteristik ibu.


    1. Gejala – gejala depresi postpartum


        Depresi merupakan gangguan yang betul–betul dipertimbangkan sebagai psikopatologi yang
paling sering mendahului bunuh diri, sehingga tidak jarang berakhir dengan kematian. Gejala depresi
seringkali timbul bersamaan dengan gejala kecemasan. Manifestasi dari kedua gangguan ini lebih lanjut
sering timbul sebagai keluhan umum seperti : sukar tidur, merasa bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi,
hingga pikiran mau bunuh diri. Menurut Vandenberg (dalam Cunningham dkk, 1995), menyatakan bahwa
keluhan dan gejala depresi postpartum tidak berbeda dengan yang terdapat pada kelainan depresi
lainnya. Hal yang terutama mengkhawatirkan adalah pikiran – pikiran ingin bunuh diri, waham–waham
paranoid dan ancaman kekerasan terhadap anak–anaknya.


        Hal senada juga diungkapkan oleh Ling dan Duff (2001), bahwa gejala depresi postpartum yang
dialami 60 % wanita hampir sama dengan gejala depresi pada umumnya. Tetapi dibandingkan dengan
gangguan depresi yang umum, depresi postpartum mempunyai karakteristik yang spesifik antara lain :


a. Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi – mimpi yang menakutkan, individu
    itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.
b. Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan
    dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.




                                                  21
c.   Phobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan
     atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu yang melahirkan
     dengan bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat kelahiran yang dijalaninya. Ibu yang
     menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi yang bermacam–macam. Keadaan ini dimulai dengan
     perasaan syok dan tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi. Wanita yang pernah mengalami
     bedah Caesar akan melahirkan dengan bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa
     membuat rasa takut terhadap peralatan peralatan operasi dan jarum (Duffet-Smith, 1995)
d. Kecemasan. rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu
     yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.
e. Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri dan
     pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar
     bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya sendiri
     sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang
     lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan sensitivitas ibu (Santrock, 2002).
f.   Perubahan mood. Menurut Sloane dan Bennedict (1997), menyatakan bahwa depresi postpartum
     muncul dengan gejala sebagai berikut : kurang nafsu makan, sedih – murung, perasaan tidak
     berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik,
     sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam kehendak, tidak
     mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang lain.


         Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan
menangis terus serta mengotori kain yang baru diganti. Hal ini menimbulkan kecemasan dan perasaan
bersalah pada diri ibu walau jarang ditemui ibu yang benar–benar memusuhi bayinya. Menurut Nevid dkk
(1997), depresi postpartum sering disertai gangguan nafsu makan dan gangguan tidur, rendahnya harga
diri dan kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi atau perhatian. Kriteria diagnosis spesifik depresi
postpartum tidak dimasukkan di dalam DSM-IV, dimana tidak terdapat informasi yang adekuat untuk
membuat diagnosis spesifik. Diagnosis dapat dibuat jika depresi terjadi dalam hubungan temporal
dengan kelahiran anak dengan onset episode dalam 4 minggu pasca persalinan. Menurut DSM IV,
simptom–simptom yang biasanya muncul pada episode postpartum antara lain perubahan mood, labilitas
mood dan sikap yang berlebihan terhadap bayi. Wanita yang menderita depresi postpartum sering
mengalami kecemasan yang sangat hebat dan sering panik.


         Meskipun belum ada kriteria diagnosis spesifik dalam DSM-IV, secara karakteristik penderita
depresi postpartum mulai mengeluh kelelahan, perubahan mood, memiliki episode kesedihan, kecurigaan
dan kebingungan serta tidak mau berhubungan dengan orang lain. Selain itu, penderita depresi
postpartum memiliki perasaan tidak ingin merawat bayinya, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi


                                                    22
atau dirinya sendiri atau keduanya. Gejala depresi pascasalin ini memang lebih ringan dibandingkan
dengan psikosis pascasalin. Meskipun demikian, kelainan–kelainan tersebut memiliki potensi untuk
menimbulkan kesulitan atau masalah bagi ibu yang mengalaminya (Kruckman dalam Yanita dan
Zamralita, 2001). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gejala–gejala depresi postpartum
antara lain adalah trauma terhadap intervensi medis yang dialami, kelelahan, perubahan mood,
gangguan nafsu makan, gangguan tidur, tidak mau berhubungan dengan orang lain, tidak mencintai
bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.


        Baby blues atau postpartum blues adalah suatu gangguan psikologis sementara yang ditandai
dengan memuncaknya emosi pada minggu pertama setelah melahirkan. Suasana hati yang paling utama
adalah kebahagiaan, namun emosi penderita menjadi labil.


        Gejala yang dapat muncul yaitu insomnia, sering menangis, depresi, cemas, konsentrasi
menurun, dan mudah marah. Penderita dapat menangis selama beberapa jam dan kemudian kembali
normal, tapi menangis lagi pada hari berikutnya. Seluruh gejala terbilang ringan dan berlangsung selama
beberapa jam hingga hari, lalu hilang secara spontan dalam waktu 2 minggu pertama setelah melahirkan
sehingga baby blues tidak mempengaruhi kemampuan ibu dalam mengasuh anak. Pengobatan umumnya
tidak menyertakan obat–obatan, hanya berfokus pada pemberian dukungan dan penentraman hati, serta
terus memantau tanda–tanda gejala bertambah parah.


        Postpartum depression berhubungan dengan depresi yang dialami wanita selama kehamilan,
single parent, konsumsi rokok dan atau obat–obatan terlarang selama masa kehamilan, muntah–muntah
hebat selama kehamilan, menderita suatu penyakit selama kehamilan, kelainan psikologis lain
sebelumnya yang mempengaruhi, dan adanya riwayat postpartum depression terdahulu.


        Penderita mengalami gejala yang muncul sepanjang hari, setiap hari, selama minimal 2 minggu,
dimulai saat minggu ke-4 pasca persalinan ,tapi ada pula yang dimulai 3 bulan setelah persalinan.
Gejala–gejalanya berupa depresi, sering menangis, murung, insomnia, mudah lelah, gangguan napsu
makan, kecenderungan bunuh diri, dan sering berpikir tentang kematian. Kecemasan sangat menonjol
pada keadaan ini akibat ibu terlalu khawatir bahkan seringkali terobsesi pada kesehatan dan
kesejahteraan bayinya. Ibu mungkin menganggap bayi sebagai beban baginya, namun dapat juga
sebaliknya memiliki perasaan takut yang berlebihan bahwa ia akan membahayakan bayinya.


        Keadaan ini sangat mempengaruhi kemampuan ibu untuk mengurus dirinya sendiri dan bayi.
Hubungan ibu dan anak tidak terjalin dengan baik sehingga dapat mempengaruhi perilaku anak (sulit
tidur dan makan, cepat marah, hiperaktif), perkembangan kognitif terlambat, gangguan emosi dan
kemampuan sosialisasi yang buruk, serta mudah depresi. Jika tidak diobati, keadaan ini akan bertambah

                                                   23
parah dalam waktu 6 bulan sehingga harus segera dikenali dan ditangani. Penatalaksanaan dapat
dilakukan dengan pemberian dukungan moril dan obat anti depresi. Jika keadaan membaik setelah 6
minggu, konsumsi obat dilanjutkan hingga 6 bulan untuk mencegah terjadinya kambuh. Akan tetapi jika
respon pengobatan buruk atau terjadi kambuh, segera hubungi psikiater.


        Obat anti depresi akan menembus ASI, dan kadarnya di dalam ASI berbeda untuk tiap obat. Ada
obat yang memiliki kadar sangat rendah atau bahkan tidak terdeteksi dalam ASI sehingga tidak
menimbulkan efek samping pada bayi. Namun ada juga yang dapat membahayakan bayi, maka ibu tidak
dianjurkan memberikan ASI.


    Pencegahan terbaik adalah dengan mengurangi faktor risiko terjadinya gangguan psikologis pada ibu
hamil dan ibu pasca persalinan. Hal–hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi faktor risiko, yaitu :


1. Pemberian dukungan dari pasangan, keluarga, lingkungan, maupun profesional selama kehamilan,
    persalinan dan pasca persalinan dapat mencegah depresi dan mempercepat proses penyembuhan.
2. Mencari tahu tentang gangguan psikologis yang mungkin terjadi pada ibu hamil dan ibu yang baru
    saja melahirkan sehingga jika terjadi gejala dapat dikenali dan ditangani segera.
3. Konsumsi makanan sehat, istirahat cukup, dan olahraga minimal 15 menit per hari dapat menjaga
    suasana hati tetap baik.
4. Mencegah pengambilan keputusan yang berat selama kehamilan.
5. Mempersiapkan diri secara mental dengan membaca buku atau artikel tentang kehamilan dan
    persalinan, serta mendengarkan pengalaman wanita lain yang pernah melahirkan dapat membantu
    mengurangi ketakutan.
6. Menyiapkan seseorang untuk membantu keperluan sehari–hari (memasak, membersihkan rumah,
    belanja, dll)
7. Jika berisiko tinggi mengalami gangguan psikologis, jalani pengobatan profilaksis dan terapi
    psikologis selama kehamilan untuk mencegah atau menghilangkan depresi.


Askep Depresi postpartum

Pengkajian

        Identifikasi awal dari faktor resiko untuk depresi postpartum akan memudahkan perawat dalam
memberikan      langkah-langkah    mencegah.sehingga      gangguan      depresi   dapat   dicegah      dan
diminimallisasi.latar blakang depresi pospartum,gangguan efektif keluarga atau depresi yang tidak
berhubungan dengan kehamilan dapat dihubungkan masalah potensial. Faktor resiko lain seperti status
sosial ekonomi yang rendah, masalah perkawinan, orang tua tunggal dengan dengan sistem pendukung



                                                    24
yang rendah, serta ambivalen atau fikiran negatif tentang peran sebagai orang tua. Latar blakang child
abuse, kekecewaan terhadap diri sendiri, perasaan tidak mampu menjadi ibu, dan stres baru.

       Selama priode postpartum, perawat juga bisa mengkaji tanda prediksi awal kebiasaan ibu
interaksi dengan bayinya seperti kurangnya kehangatan dan perhatian, ambivalensi terhadap kehamilan
dan kelahiran, gangguan tidur, menangis,kesedihan, kecemasan, kurang tertarik, dan kurang kasih
sayang terhadap bayi.

Diagnosis keprerwatan

1. Koping individu tidak efektif yang berhubungan daengan stres kelahiran, konsep dari negatif, dan
   sistem pendukung yang tidak adekuat.
2. Gangguan interaksi sosial yang berhungan dengan depresi berat.
3. Koping keluarga yang tidak efektif, ketidaknyamanan yang berhubungan dengan depresi mental dan
   efek pada keluarga.
4. Resiko mencedrai diri sendiri dan bayi yang berhubungan dengan psikosis postpartum.
5. Perubahan peran orang tua yang berhubungan dengan postpartum blues, perasaan yang tidak
   adekuat, delusi, dan halusinasi
6. Perubahan proses keluarga yang berhungan dengan depresi maternal.

Intervensi keperawatan

   2. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan stres kelahiran, konsep diri negatif,
       sistem pendukung yang tidak adekuat, ditandai dengan :

       Data objektif

           a. Ansietas ataun depresi, kelelahan, dan insomnia.
           b. Ketidakmampuan menyelesaikan masalah dan tugas.
           c.   Perubahan komunikasi dan interaksi sosial.
           d. Tingkah laku destrutif terhadap diri sendiri dan orang lain.
           e. Bimbang atau tidak yakin dengan keputusasaan yang diambil.

       Data subjektif

            a. Pengungkapan ketidak mampuan untuk melakukan koping.
            b. Mengungkapkan rasa kurang percaya diri.
            c. Mengeluh nyeri pada leher.




                                                  25
       Kriteria hasil :

           a. Ibu menunjukan kewaspadaan dari koping.
           b. Ibu menunjukan kemampuan menyelesaikan masalah.
           c.   Ibu menunjukan kemampuan memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan ekspresi
                perasaan.
           d. Ibu menunjukan kemampuan mengambil keputusan dan kepuasan terhadap pilihan.

       Intervensi mandiri :

           a. Tetapkan hubungan terapeutik terhadap ibu.
                Rasional : ibu munkin merasa lebih bebas dalam konteks hubungan ini.
           b. Kaji munculnya koping positif, misalnya tehnik relaksi, keinginan untuk meng ekspresikan
                perasaan.
                Rasional : jika iindividu memiliki kemampuan koping yang berhasil dilakukan pada masa
                lampau mungkin dapat digunakan sekarang untuk mengatasi ketegangan untuk
                mengontrol individu.
              Rasional : menginformasikan mengenai masalah keluarga akan membatu dalam
              mengambangkan rencana keperawatan.
           c. Kaji tidakan terdekat sekarang ini dan bagai mana mereka diterima ibu.
              Rasional : sebagai orang terdekat mungkin berusaha membantu, namun tidak
              dipersepsikan sebagai bantuan oleh ibu.
           d. Sertakan orang terdekat dalam pemberian informasi, pemecahan masalah, dan
              perawatan ibu sesuai dengan kemungkinan.
              Rasional : informasi dapat mengurangi perasaan tanpa harapan dan tidak berguna.
              Keikut sertaan dalam perawatan akan meningkatkan perasaan kontrol dan harga diri.
           e. Dorong pencarian bantuan sesuai dengan kebutuhan memberikan informasi mengenai
              orang dan institusi yan tersedia bagi mereka.
              Rasional : izin untuk mencari bantuan sesuai kebutuhan dan membuat mereka memilih
              untuk mengambil keuntungan dari apa yang tersedia.


Implementasi keperawatan

        Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan, mencakup
tindakan mandiri dan kalaborasi.Tindakan mandiri adalah tindakan keperawatan berdasarkan analisis dan
kesimpulan perawat, dan bukan atas petunjuk tenaga kerja kesehatan lain. Tindakkan kolaborasi adalah
tindakan keperawatan yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas
kesehatan lain.

Evaluasi keperawatan

Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang hendak dicapai.



                                                 26
DAFTAR PUSTAKA                                             Klik tulisan biru
                                                           itu kalo lap top
                                                           mu terhubung
                                                           dengan internet
     http://tanyo-nursingbooks.blogspot.com
     http://tanyona.blogspot.com
     http://nursingkeperawatan.blogspot.com
     http://tanyoona.co.cc
     http://tanyona.co.cc
     http://www.emedicine.com/med/topic3408.htm

     http://www.shvoong.com/medicine-and-health/gynecology/1808485-avoid-postpartum-
      depression/
     Williams Obstetrics 22nd ed. Edited by F. Gary Cunningham … [et al.] 2005 McGraw-Hill
      United States of America
     Caregiver support for postpartum depression. KL Ray. Cochrane Rev Abstract. 2007;
      ©2007 The Cochrane Collaboration




                                           27
                                       Klik tulisan biru
                                                            itu kalo lap top
                                                            mu terhubung
                                                            dengan internet
      http://tanyo-nursingbooks.blogspot.com
      http://tanyona.blogspot.com
      http://nursingkeperawatan.blogspot.com
      http://tanyoona.co.cc
      http://tanyona.co.cc
      http://www.emedicine.com/med/topic3408.htm

      http://www.shvoong.com/medicine-and-health/gynecology/1808485-avoid-postpartum-
       depression/
      Williams Obstetrics 22nd ed. Edited by F. Gary Cunningham … [et al.] 2005 McGraw-Hill
       United States of America
      Caregiver support for postpartum depression. KL Ray. Cochrane Rev Abstract. 2007;
       ©2007 The Cochrane Collaboration




                                            27